Anda di halaman 1dari 55

Aliran Murji'ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khowarij.

Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khowarij. Pengertian murji'ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.

Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok Murji'ah adalah: Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Ini merupakan sesuatu yang janggal dan sulit diterima kalangan Murjites sendiri, karena iman dan amal perbuatan dalam Islam merupakan satu kesatuan. Selama meyakini 2 kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.

Tokoh utama aliran ini ialah Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin 'Umar. Dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini terbagi menjadi kelompok moderat (dipelopori Hasan bin Muhammad bin 'Ali bin Abi Tholib) dan kelompok ekstrem (dipelopori Jaham bin Shofwan).

Murjiah adalah firqah sesat dalam Islam. Para ulama menjelaskan bahwa ada tiga hal pokok yang membedakan antara Murjiah dan Ahlus-Sunnah, yaitu :

1. Murjiah tidak memasukkan amal sebagai bagian dari iman, sedangkan Ahlus-Sunnah mengatakan iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. : : :

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Abbaas Muhammad bin Ishaaq Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Muhammad bin Sahl bin Askar : Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaaq, ia berkata :

Aku mendengar Maalik, Al-Auzaiy, Ibnu Juraij, Ats-Tsauriy, dan Mamar berkata : Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang *Diriwayatkan oleh Abu Ahmad Al-Haakim dalam Syiaar Ashhaabil-Hadiits no. 7; shahih].

: : : : : . : : . : :

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abis-Sariy Al-Asqalaaniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Abiz-Zarqaa, dari Sufyaan Ats-Tsauriy, ia berkata : Khilaf yang terjadi antara kami (Ahlus-Sunnah) dengan Murjiah ada tiga. (1) Kami berkata : iman itu perkataan dan perbuatan; sedangkan mereka berkata : iman itu perkataan saja, tanpa perbuatan. (2) Kami berkata : iman dapat bertambah dan berkurang; sedangkan mereka berkata : iman itu tidak bisa bertambah dan berkurang. (3) Kami berkata : (Dapat terjadi) kemunafikan; sedangkan mereka berkata : tidak ada kemunafikan *Diriwayatkan oleh Al-Firyaabiy dalam Shifatun-Nifaaq wa Dzammul-Munaafiqiin, no. 99; hasan].

Ini adalah inti aqidah Murjiah yang disepakati oleh seluruh pecahan-pecahannya.

Oleh karena itu Al-Barbahaariy rahimahullah berkata : . : ( ) Barangsiapa yang mengatakan : iman itu adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah maupun berkurang ; sungguh ia telah keluar dari (bidah) irjaa secara keseluruhan, dari awal hingga akhirnya [Syarhus-Sunnah, hal. 123, 161].

Ringkasnya bagi murjiah, seseorang yang telah beriman takkan bisa keluar lagi menjadi kafir sekalipun dia melakukan dosa-dosa yang menggiring kearah kekafiran.

2. Murjiah berpendapat bahwa setiap muslim yang telah merealisasikan pokok keimanan (ashluliimaan)-nya, maka telah sempurna keimanannya. Adapun Ahlus-Sunnah tidak dapat memastikan bahwa seorang muslim telah sempurna keimanannya tanpa menafikkan adanya pokok keimanan dalam dirinya.

: : : : . : :

Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Ahmad : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sahl bin Ayyuub : Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Bahr, ia berkata : Aku mendengar Sufyaan Ats-Tsauriy berkata : Murjiah menyelisihi kita dalam tiga hal : .. kami (Ahlus-Sunnah) berkata : Kami termasuk orang yang beriman dengan pengakuan (iqraar) kita, dan mereka berkata : Kami termasuk orang-orang yang beriman di sisi Allah *Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Hilyatul-Auliyaa, 7/29+.

Yaitu, mereka berkata bahwa mereka termasuk orang yang sempurna keimanan mereka di sisi Allah, wallaahu alam.

Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : . Telah berkata Murjiah baik golongan Jahmiyyahnya atau yang bukan golongan Jahmiyyahnya bahwa ia (orang yang melakukan maksiat) adalah mukmin yang sempurna keimanannya. Ahlus-Sunnah wal-Jamaah mengatakan ia adalah mukmin yang kurang keimanannya (akibat maksiat yang dilakukannya) *Majmuu Al-Fataawaa, 7/354].

3. Murjiah melarang pengucapan istitsnaa dalam keimanan, karena mereka menganggap hal itu sebagai keraguan dalam iman. Adapun Ahlus-Sunnah membolehkan istitsnaadalam (penafikan) kesempurnaan iman, dan di sisi lain melarang istitsnaa dalam ashlul-imaan.

Telah berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

: . .

Adapun madzhab salaf ashaabul-hadiits seperti Ibnu Masuud dan shahabat-shahabatnya, Ats-Tsauriy, Ibnu Uyainah, serta kebanyakan ulama Kuffah,.. Ahmad, dan yang lainnya dari kalangan imam-imam

sunnah, kesemuanya ber-istitsnaa dalam iman. Telah mutawatir khabar ini dari mereka *Majmuu AlFataawaa, 7/438].

. Mereka yang mengharamkan istitsnaa adalah kelompok Mujiah, Jahmiyyah, dan yang lainnya [idem, 7/429].

Keterangan : Yang dimaksud diatas adalah bahwa murjiah melarang perkataan semisal : Saya Muslim Insya Allah,karen menurut murjiah perkataa insya Allah ini adalah ragu-ragu , sedangkan Ahlu sunnah membolehkan perkataan ini selama bukan meragukan keimanannya

Telah berkata Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tentang istitsnaa : . : ( ) : ( ) Perkataan seseorang : Aku mukmin insya Allah, apabila tujuan/maksud dari ucapannya itu untuk bertabarruk (mencari barakah); atau ia berkata : imanku ada menurut kehendak Allah maka ini adalah benar tanpa ada isykaal di dalamnya. Boleh (untuk mengatakannya) *Al-Baabul-Maftuh, pertemuan no. 207, side A, menit 17, Tasjiilaat Al-Istiqaamah]

Termasuk Perkataan : Asy-Syahiid Fulaan. Secara dhaahir ucapan ini merupakan bentuk Pemastian terhadap amal dan iman. Jika maksud perkataan tersebut demikian, tentu saja tidak diperbolehkan. Namun jika yang dimaksudkan adalah sebagai doa agar Fulan tersebut termasuk orang-orang yang mati syaahid, maka selayaknya ia mengatakan dengan istitsnaa :Syahiid insya Allah.

Tambahan : Para takfiri yang semangatnya tinggi namun tanpa didasari ilmu dengan mantabs menuduh syaikh Albany, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin -Semoga Allah merahmati mereka semuanya- Murjiah, lantaran para ulama tersebut tak sejalan dengan pemikiran mereka yang radikal mengkafirkan secara serampangan, dan menghalalkan pemberontakan terhadap penguasa yang mereka tuduh menjadi kafir, mereka tak menyadarinya, bahwa diantara sifat-sifat murjiah ternyata sudah melekat pada mereka sendiri yaitu memberontak dan menghalalkan darah kaum muslimin..

Telah berkata Abdullah bin Thaahir rahimahullah mengenai Murjiah : . : :

Wahai Ahmad, kamu membenci mereka (Murjiah) tanpa didasari ilmu, sedangkan aku membenci mereka dengan dasar ilmu. Pertama, mereka (Murjiah) tidak memandang taat kepada penguasa; dan yang kedua mereka tidak memandang bahwa qadar adalah bagian dari iman *Aqidatus-Salaf AshhaabilHadits, hal. 68].

Seseorang berkata kepada Abdulloh ibnul-Mubarok: Apakah engkau menganut pemikiranMurjiah? Jawab beliau: Bagaimana mungkin aku penganut paham Murjiah sementara aku tidak menghalalkan darah kaum muslimin! *Al-Kitab al-Lathif: 17].

Selengkapnya tentang Murjiah gaya baru lihat disini : http://maktabahabuiram.blogspot.com/2012/01/murjiah-gaya-baru.html

Diringkas dari berbagai sumber diantaranya : [Sumber: Pandangan Tajam terhadap Politik, antara Haq dan Bathil jilid 1, (Madarikun Nazhar fisSiyasah), Syaikh Abdul-Malik Ramadhon al-Jazairi)

Khawarij Doktri-doktrin pokok khawarij antara lain : Khlifah/imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam, Khalifah tidak harus berasal dari keturunan arab. Dengan demikian setiap muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat,

Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat islam. Ia harus harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan zalim, Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Ustman) adalah sah, tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kekhalifahannya, Utsman dianggap menyeleweng. Khalifah Ali adalah sah tetapi setelah terjadi tahkim, ia dianggap menyeleweng. Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Al-Asyari juga dianggap menyeleweng dan telah kafir. Pasukan perang jamal yang melawan Ali juga kafir. Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Yang anarkis lagi adalah jika mereka orang muslim yang tidak mau membunuh orang kafir maka mereka itu harus dibunuh juga. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung maka ia wajib diperangi karena hidup dalam Negara musuh sedang golongan mereka sndiri dianggap berada dalam Negara islam. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng. Adanya waad dan waid (orang baik harus masuk surge dan orang jahat harus masuk neraka). Amar maruf nahi munkar. Memalingkan ayat-ayat Al-Quran yang tampak samar. Quran adalah makluk. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan. Murjiah Berkaitan dengan doktrin teologi murjiah, menurut W. Montgomery Watt merincinya menjadi : Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya di akhirat kelak. Penangguhan Ali untuk menduduki rangking keempat dalam peringkat Al-khalifah Ar-rasyidun. Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah. Doktrin-doktrin Murjiah menyerupai pengajaran para skeptic dan empiris dari kalangan helenis. Masih berkaitan dengan Murjiah, menurut harun Nasution menyebutkan 4 pokok doktrin : Menunda hukuman Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asyary yang terlibat dengan tahkim dan menyerahkannya kepada Allah pada hari kiamat kelak.

Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar. Meletakkan iman daripada amal. Memberikan penghargaan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat Allah. Sementara menurut Abu AlA la Al-Maududi menyebutkan dua doktrin pokok Murjiah : Iman adalah percaya kepada Allah dan rasul-Nya saja. Adapun amal/perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap seorang mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardukan dan melakukan dosa besar. Dasar keselamatan adalah iamn semata. Selama masih ada iamn di hati setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan atas seseorang untuk mendapatkan pengampunan, manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.

Syiah Doktrin yang dibawa kaum syiah pada umumnya adalah Konsep Usuludin yang mempunyai lima akar: Tauhid Tauhid adalah esa baik esensi maupun eksistensinya, keesaan tuhan adalh mutlak, jadi pada prinsipnya tuhan eksis dengan sendirinya tidak dibatasai ruang dan waktu, tuhanlah yang menciptakan segalanya, ruang dan waktu keesaan tuhan tidaklah murakkab, tuhan tidak membutuhkan sesuatu dan tiada sesuatupun yang menyamainya. Keadilan Segala sesuatu yang diciptakan tuhan adalh dengan keadilan tiada suatupun yang berisi ketidakadilan didalamnya, tuhan memberikan akal agar dapat merasakan antara yang baik dan buruk. Segala pemberian tuhan kepada manusia agar dapat memberikan manfaat bagi sesamanya dan dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Nubuwwah Rasul merupakan petunjuk hakiki utusan tuhan yang membawa risalahNya, memberikan ajaran tuhan, mengajarkan apa yang baik dan apa yang buruk, dlam keyakinan syiah itsna asyariyah 124.000 rasul diutus oleh Allah untuk menjadi rosulnya didunia sejak jaman nabi Adam hingga Muhammad. Kepercayaan mereka pada kiamat dan Kebenaran Al-Quran sangat kuat dan segalanya jauh dari tahrif dan, perubahan atau tambahan. Maad

Setiap muslim harus yakin akan adanay ahari pembalasan, hari kiamat pasti datangnya dan setiap makhluk akan ditanyakan tentang perbuatannya didunia kelak, mati hanyalah proses transit dari dari kehidupan dunia yang fana menuju kehidupan yang kekal. Imamah Imamah merupakan institusi yang dianugerahkan tuhan untuk memberikan petunjuk manusia yang dipilihdari keturunan Ibrahim yang dan didelegasikan kepada keturunan Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir. Syiah Itsna asyariyah percaya pada delapan cabang agama yaitu salat, puasa, haji, zakat, khumus (pajak seperlima penghasilan), jihad, al-amar bil maruf dan annahyu ani munkar.

Rujukan Nasution, Harun. 2007. Teologi Islam : aliran-aliran sejarah analisa perbandingan. UI-press. Jakarta Rozak, Abdul dan Anwar, Rosihon. 2007. Ilmu Kalam. Pustaka setia. Bandung

Aliran Khawarij muncul pertama kali sebagai gerakan politis yang kemudian beralih menjadi gerakan teologis, sehingga Khawarij menjadi aliran dalam teologi Islam yang pertama, kaum khawarij dikenal sebagai sekelompok orang yang melakukan pemberontakan terhadap imam yang sah yang diakui oleh rakyat (ummat). Oleh karena itu, istilah Khawarij bisa dikenakan kepada semua orang yang menentang para imam, baik pada masa sahabat maupun pada masa-masa berikutnya. Golongan utama yang terdapat dalam aliran Khawarij yakni: Sekte Al-Azariqoh dan Sekte Al-Ibadiah. Sedangkan Aliran Murjiah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana yang dilakukan oleh aliran Khawarij. Apa yang ada dalam pemikiran golongan ini adalah bahwa erbuatan bukan merupakan bagian dari iman, sebab iman adanya dalam hati. Sekalipun melakukan dosa besar, tidaklah akan menghapus iman seseorang, tetapi terserah Allah untuk menentukan hukumnya. Dalam perkembangan selanjutnya, golongan Murjiah pecah menjadi beberapa golongan kecil. Namun, pada umumnya Aliran Murjiah terbagi kepada dua golongan besar, yakni golongan moderat dan golongan ekstrim.

Kata Kunci: Teologi, Khawarij, Murjiah, Iman, Faham

A. Aliran Khawarij Istilah Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka yang keluar dari barisan Ali. Alasan mereka keluar, karena tidak setuju terhadap sikap Ali Bin Abi Thalib yang menerima arbirtrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan khalifah dengan Muawiyah Bin Abi Sufyan. Khawarij merupakan aliran dalam teologi Islam yang pertama kali muncul. Menurut Asy-Syahrastani, bahwa yang disebut Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah disepakati para jemaah, baik ia keluar pada masa sahabat Khulafaur Rasyidin, maupun pada masa tabiin secara baik-baik. Dermikian pula, kaum khawarij dikenal sebagai sekelompok orang yang melakukan pemberontakan terhadap imam yang sah yang diakui oleh rakyat (ummat). Oleh karena itu, istilah Khawarij bisa dikenakan kepada semua orang yang menentang para imam, baik pada masa sahabat maupun pada masa-masa berikutnya. Namun demikian, dalam tulisan ini nama Khawarij khusus diberikan kepada sekelompok orang yang telah memisahkan diri dari barisan Ali. Pengikut Khawarij, pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Kehidupannya di padang pasir yang serba tandus, menyebabkan mereka bersipat sederhana, baik dalam cara hidup maupun dalam cara berfikir. Namun, sebenarnya mereka keras hati, berani, bersikap merdeka, tidak bergantung kepada orang lain, dan cenderung radikal. Karena watak keras yang dimiliki oleh mereka itulah, maka dalam berfikir dan memahami agama mereka pun berpandangan sangat keras. Pada masa-masa perkembangan awal Islam, persoalan-persoalan politik memang tidak bisa dipisahkan dengan persoalan-persoalan teologis. Sekalipun pada masa-masa Rasulullah masih hidup, setiap persoalan tersebut bisa diselesaikan tanpa memunculkan perbedaan pendapat yang berkepanjangan di kalangan para sahabat. Setelah Rasulullah wafat, dan memulainya penyebaran Islam ke seluruh pelosok jazirah Arab dan luar Arab persoalan-persoalan baru pun bermunculan di berbagai tempat dengan bentuk yang berbeda-beda pula. Sehingga, munculnya perbedaan pandangan di kalangan ummat Islam tidak bisa dihindari. 1. Latar Belakang Kemunculan Aliran Khawarij muncul pertama kali sebagai gerakan politis yang kemudian beralih menjadi gerakan teologis. Perubahan ini terutama setelah mereka merujuk beberapa ayat Alquran untuk menunjukkan, bahwa gerakan mereka adalah gerakan agama. dan secara terorganisir terbentuk bersamaan dengan terpilihnya pemimpin pertama, Abdullah bin Wahab Al-Rasyibi, yang ditetapkan pada tahun 37 H. (658 M). Karena pertimbangan-pertimbangan politis, Fazlur Rahman memandang bahwa Khawarij tidak memiliki implikasi doktrinal yang menye-leweng, tetapi hanya seorang atau sekelompok pemberontak atau aktifis revolusi. Persoalan pergantian kepemimpinan ummat Islam (khalifah) setelah Rasulullah wafat, menjadi titik yang jelas dari semakin berlarut-larutnya perbedaan pendapat dan perselisihan di kalangan ummat Islam,

bahkan menjadi isu akidah yang serius, sehingga menyebabkan munculnya berbagai aliran teologi . Terpilihnya Ali sebagai khalifah, menggantikan Usman, pertentangan dan peperangan diantara ummat Islam tidak reda. Pada akhirnya, ada upaya perdamaian diantara yang bertikai tersebut. Dua tokoh tampil, masing-masing mengatasnamakan sebagai juru pendamai dan wakil dari pihak Ali dan Muawiyah, yakni Abu Musa Al-Asyari dan Amru bin Ash. Dalam sejarah Islam, usaha perdamaian itu dikenal dengan Majlis Tahkim, dalam persengketaan yang terjadi antara Ali dan Muawiyah pada perang Shiffin, suatu tempat di tepi Sungai Efrat, yang menyebabkan tampilnya Muawiyah sebagai khalifah. Hasil perdamaian tersebut, memunculkan kesepakatan bahwa Ali dipecat dari kursi kekhalifahan, dan Muawiyah ditunjuk sebagai penggantinya. Setelah Muawiyah diangkat menjadi khalifah inilah, maka muncul golongan-golongan politik dilingkungan ummat islam, yakni Syiah, Khawarij, dan Murjiah. Bermula dari persoalan politik, akhirnya berubah menjadi persoalan teologis, masing-masing saling menuduh dan mengeluarkan hukum dengan tuduhan-tuduhan kafir, dosa besar, dan lain-lain, sampai memunculkan persoalan sumber perbuatan manusia, apakah dari Tuhan atau dari diri manusia sendiri. 2. Faham-fahamnya Pada masa sebelum terjadinya perpecahan di kalangan Khawarij, mereka memiliki tiga pokok pendirian yang sama, yakni : Ali, Usman, dan orang-orang yang ikut dalam peperangan serta orang-orang yang menyetujui terhadap perundingan Ali dan Muawiyah, dihukumkan orang-orang kafir. Setiap ummat Muhammad yang terus menerus melakukan dosa besar hingga matinya belum melakukan tobat, maka dihukumkan kafir serta kekal dalam neraka. Membolehkan tidak mematuhi aturan-aturan kepala negara, bila kepala negara tersebut khianat dan zalim. Ada faham yang sangat fundamental dari kaum Khawarij yang timbul dari watak idealismenya, yaitu penolakan mereka atas pandangan bahwa amal soleh merupakan bagian essensial dari iman. Oleh karena itu, para pelaku dosa besar tidak bisa lagi disebut muslim, tetapi kafir. Demikian pula halnya, dengan latar belakang watak dan karakter kerasnya, mereka selalu melancarkan jihad (perang suci) kepada pemerintah yang berkuasa dan masyarakat pada umumnya. Sebenarnya, menurut pandangan Khawarij, bahwa keimanan itu tidak diperlukan jika masyarakat dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun demikian, karena pada umumnya manusia tidak bisa memecahkan masalahnya, kaum Khawarij mewajibkan semua manusia untuk berpegang kepada keimanan, apakah dalam berfikir, maupun dalam segala perbuatannya. Apabila segala tindakannya itu tidak didasarkan kepada keimanan, maka konsekwensinya dihukumkan kafir. Dengan mengutip beberapa ayat Alquran, mereka berusaha mempropagandakan pemikiran-pemikiran politis yang berimplikasi teologis itu, sebagaimana tercermin di bawah ini :

1. Mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar; sedangkan Usman dan Ali, juga orang-orang yang ikut dalam Perang Unta, dipandang telah berdosa. 2. Dosa dalam pandangan mereka sama dengan kekufuran. Mereka mengkafirkan setiap pelaku dosa besar apabila ia tidak bertobat. Dari sinilah muncul term kafir dalam faham kaum Khawarij. 3. Khalifah tidak sah, kecuali melalui pemilihan bebas diantara kaum muslimin. Oleh karenanya, mereka menolak pandangan bahwa khalifah harus dari suku Quraisy. 4. Ketaatan kepada khalifah adalah wajib, selama berada pada jalan keadilan dan kebaikan. Jika menyimpang, wajib diperangi dan bahkan dibunuhnya. 5. Mereka menerima Alquran sebagai salah satu sumber diantara sumber-sumber hukum Islam. 3. Sekte-sekte Munculnya banyak cabang dan sekte Khawarij ini diakibatkan banyaknya perbedaan dalam bidang akidah yang mereka anut dan banyaknya nama yang mereka pergunakan sejalan dengan perbedaan akidah mereka yang beraneka ragam itu. Asy-syakah menyebutkan adanya delapan firqah besar, dan firqah-firqah ini terbagi lagi menjadi firqah-firqah kecil yang jumlahnya sangat banyak. Perpecahan ini menyebabkan gerakan kaum Khawarij lemah, sehingga mereka tidak mampu menghadapi kekuatan militer Bani Umayyah yang berlangsung bertahun-tahun. Sekte-sekte Khawarij tersebut antara lain, alAzariqah, al-Ibadiah, al-Muhakkimah, al-Najdat, al-Jaridah, al-Sufriyah, dan Yazidiyah. Menurut Prof. Taib Thahir Abdul Muin, bahwa sebenarnya ada dua golongan utama yang terdapat dalam aliran Khawarij, yakni : a. Sekte Al-Azariqoh Nama ini diambil dari Nafi Ibnu Al-Azraq, pemimpin utamanya, yang memiliki pengikut sebanyak dua puluh ribu orang. Di kalangan para pengikutnya, Nafi digelari amir al-mukminin. Golongan al-azariqoh dipandang sebagai sekte yang besar dan kuat di lingkungan kaum Khawarij. Dalam pandangan teologisnya, Al-Azariqoh tidak menggunakan term kafir, tetapi menggunakan term musyrik atau politeis. Yang dipandang musyrik adalah semua orang yang tidak sepaham dengan ajaran mereka. Bahkan, orang Islam yang tidak ikut hijrah kedalam lingkungannya, dihukumkan musyrik. Karena kemusyrikannya itu, kaum ini membolehkan membunuh anak-anak dan istri yang bukan golongan Al-Azariqoh. Golongan ini pun membagi daerah kekuasaan, yakni dar al-Islam dan dar alkufur. Dar al-Islam adalah daerah yang dikuasai oleh mereka, dan dipandang sebagai penganut Islam sebenarnya. Sedangkan Dar al-Kufur merupakan suatu wilayah atau negara yang telah keluar dari Islam, karena tidak sefaham dengan mereka dan wajib diperangi. b. Sekte Al-Ibadiah

Golongan ini merupakan golongan yang paling moderat dari seluruh sekte Khawarij. Nama golongan ini diambnil dari Abdullah Ibnu Ibad, yang pada tahun 686 M. memisahkan diri dari golongan Al-Azariqoh. Adapun faham-fahamnya yang dianggap moderat itu, antara lain : Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukan pula musyrik, tetapi kafir. Orang Islam demikian, boleh mengadakan hubungan perkawinan dan hukum waris. Syahadat mereka diterima, dan membunuh mereka yang tidak sefaham dihukumkan haram. Muslim yang melakukan dosa besar masih dihukumkan muwahid, meng-esa-kan Tuhan, tetapi bukan mukmin. Dan yang dikatakan kafir, bukanlah kafir agama, tetapi kafir akan nikmat. Oleh karenanya, orang Islam yang melakukan dosa besar tidak berartyi sudah keluar dari Islam. Harta kekayaan hasil rampasan perang yang boleh diambil hanyalah kuda dan senjata. Sedangkan harta kekayaan lainnya, seperti emas dan perak, harus dikembalikan kepada pemiliknya. Daerah orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka, masih merupakan dar at-tauhid, dan tidak boleh diperangi.

B. Aliran Murjiah Aliran Murjiah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal ini dilakukan oleh aliran Khawarij. Aliran ini menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar, masih dianggap mukmin dihadapan mereka. 1. Faham-fahamnya Faham aliran Murjiah bisa diketahui dari makna yang terkandung dalam murjiah dan dalam sikap netralnya. Pandangan netral tersebut, nampak pada penamaan aliran ini yang berasal dari kata arjaa, yang berarti orang yang menangguhkan, mengakhirkan dan memberi pengharapan. Menangguhkan berarti menunda soal siksaan seseorang ditangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan, dia akan langsung masuk surga. Jika sebaliknya, maka akan disiksa sesuai dengan dosanya. Istilah memberi harapan mengandung arti bahwa, orang yang melakukan maksiat padahal ia seorang mukmin, imannya masih tetap sempurna. Sebab, perbuatan maksiat tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap keimanannya, sebagaimana halnya perbuatan taat atau baik yang dilakukan oleh orang kafir, tidak akan mendatangkan faedah terhadap kekufurannya. Mereka berharap bahwa seorang mukmin yang melakukan maksiat, ia masih dikatakan mukmin.

Berdasarkan itu, maka inti faham Murjiah adalah sebagai berikut : Iman ialah mengenal Allah dan Rasulnya, barangsiapa yang tidak mengenal bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya, ia mukmin sekalipun melakukan dosa. Amal perbuatan bukan merupakan bagian dari iman, sebab iman adanya dalam hati. Sekalipun melakukan dosa besar, tidaklah akan menghapus iman seseorang, tetapi terserah Allah untuk menentukan hukumnya. 2. Sekte-sekte Murjiah Kaum Murjiah pecah menjadi beberapa golongan kecil. Namun, pada umumnya Aliran Murjiah terbagi kepada dua golongan besar, yakni golongan moderat dan golongan ekstrim. Golongan Murjiah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan di hukum sesuai dengan besar kecilnya dosa yang dilakukan. Sedangkan Murjiah ekstrim, yaitu pengikut Jaham Ibn Sofwan, berpendapat bahwa orang Islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya dalam hati. Bahkan, orang yang menyembah berhala, menjalankan agama Yahudi dan Kristen sehingga ia mati, tidaklah menjadi kafir. Orang yang demikian, menurut pandangan Allah, tetap merupakan seorang mukmin yang sempurna imannya.

C. Penutup Demikianlah pembahasan aliran-aliran awal dalam pemikiran ilmu kalam, yang penulis hanya mengambil dua aliran saja yakni Aliran Khawarij dan Murjiah. Sebenarnya, kedua aliran ini pada awal kemunculannya lebih bercorak aliran politis. Namun, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pemikirannya, kedua aliran ini menjadi aliran teologis. Atau boleh dikatakan, bahwa kedua aliran ini merupakan aliran politis sekaligus aliran teologis.

Daftar Pustaka

Nouruzzaman Siddik, Syiah dan Khawarij, PLP2M, Yogyakarta, 1985 FazlurRahman, Islam, terjemah Indonesia oleh Ahsin Mohammad, Pustaka, Bandung, 1984 Zurkani Yahya, Teologi Al-Ghazali, Pendekatan Metodologis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996 Amir al-Najjar, Aliran Khawarij, Mengungkap Akar Perselisihan Ummat, terjemahan Afif Muhammad, Lentera, Bandung,1993

Harun Nasution, Teologi Islam, UI Press, Jakarta, 1972 Abu al-Ala al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, Evaluasi Kritis atas Sejarah Pemerintahan Islam, terjemahan Muhammad al-Baqir, Mizan, Bandung, 1996 (cet.VI Mustafa Helmi, Pengkafiran Sesama Muslim, Akar Historis Permasalahannya, Terjemahan Afif Muhammad, Pustaka, Bandung, 1986 Musthafa Muhammad Asy-Syakah, Islamu bi laa Madzaahib, al-Dar al-Masriyah al-Lubnaniyah, Kairo, 1987 Thahir Taib Abd Muin, Ilmu Kalam, Wijaya, Jakarta, 1981.

BAB I

PENDAHULUAN

Khawarij secara bahasa diambil dari Bahasa Arab khowaarij, secara harfiah berarti mereka yang keluar. Istilah khawarij adalah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam islam yang pada awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib lalu menolaknya. Pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, berpusat di daerah yang kini terletak di bagian negara Irak Selatan dan merupakan bentuk yang berbeda dari kaum sunni dan syiah.[1] Disebut atau dinamakan khowarij karena keluarnya merekan dari dinul islam dan pemimpin kaum muslimin. [2]

Awal keluarnya mereka adalah pada zaman pemerintahan kholifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi musyawarah antara dua utusan. Kedua utusan tersebut berkumpul dalam suatu tempat yang disebut Khouro (suatu tempat yang terdapat di daerah kuffah), oleh karena itu mereka disebut dengan sebutan Khoruriyyah. Dalam perundingan ini kemudian tejadilah suatu kesepakatan damai diantara kedua belah pihak atas sebuah perselisihan pendapat antara Muawiyah dan Ali mengenai permasalahan siapa yang harus bertanggung jawab atas pembunuhan Utsman sehingga menyebabkan perang Siffin. Dalam perjanjian damai ini, kaum khawarij menunjukkan jati dirinya dengan keluar dari

barisan Ali bin Abi Thalib dan menganggapnya Ali dan Muawiyah sebagai kafir, sehingga mereka merencanakan membunuh mereka berdua, namun hanya Ali yang berhasil mereka bunuh.

Secara umum, ajaran-ajaran pokok golongan ini adalah kaum muslimin yang berbuat dosa besar adalah kafir. Kemuidan, kaum muslimin yang terlibat dalam perang jamal, yakni perang antara Aisyiah, Thalhah, dan dan Zubair melawan Ali bin Abi Thalib dihukumi kafir. Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus dari keturunan Nabi Muhammad SAW dan tidak mesti keturunan Quraisy. Jadi, seorang muslim dari golongan manapun bisa menjadi kholifah asalkan mampu memimpin dengan benar.[3]

Dalam upaya kafir mengkafirkan ini, terdapat suatu golongan yang menolak ajaran kaum Khawarij yang mengkafirkan orang mukmin yang melakukan dosa besar. Sehingga mereka membentuk sautu golongan yang menolak ajaran pengkafiran tersebut, golongan ini disebut dengan golangan Murjiah.

Aliran Murjiah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal ini dilakukan oleh aliran Khawarij. Aliran ini menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar, masih dianggap mukmin dihadapan mereka.[4]

Faham aliran Murjiah bisa diketahui dari makna yang terkandung dalam Murjiah dan dalam sikap netralnya. Pandangan netral tersebut, nampak pada penamaan aliran ini yang berasal dari kata arjaa, yang berarti orang yang menangguhkan, mengakhirkan dan memberi pengharapan. Menangguhkan berarti menunda soal siksaan seseorang ditangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan, dia akan langsung masuk surga. Jika sebaliknya, maka akan disiksa sesuai dengan dosanya.

Istilah memberi harapan mengandung arti bahwa, orang yang melakukan maksiat padahal ia seorang mukmin, imannya masih tetap sempurna. Sebab, perbuatan maksiat tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap keimanannya, sebagaimana halnya perbuatan taat atau baik yang dilakukan oleh orang kafir, tidak akan mendatangkan faidah terhadap kekufurannya. Mereka berharap bahwa seorang mukmin yang melakukan maksiat, ia masih dikatakan mukmin.

Berdasarkan itu, maka inti faham Murjiah adalah, Iman ialah mengenal Allah dan Rasulnya, barangsiapa yang tidak mengenal bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya, ia mukmin sekalipun melakukan dosa. Amal perbuatan bukan merupakan bagian dari iman, sebab iman

adanya dalam hati. Sekalipun melakukan dosa besar, tidaklah akan menghapus iman seseorang, tetapi terserah Allah untuk menentukan hukumnya.[5]

Berdasarkan uraian secara umum mengenai latar belakang eksistensi aliran Khawarij dan Murjiah di atas, maka tim penulis tertarik untuk membahas mengenai apa dan bagaimana sebenarnya perkembangan kedua golongan tersebut dengan lebih terperinci pada Bab dan Sub Bab berikutnya.

Kemudian, guna menghindari terjadinya perluasan dan pelebaran masalah dalam pembahasan makalah ini, maka tim penulis menyusun batasan-batasan masalah sebagai berikut : Membahas apa latar belakang dan bagaimana asal-usul kemunculan golongan Khawarij dan Murjiah. Membahas apa sajakah doktrin-doktrin yang dianut oleh golongan Khawarij dan Murjiah. Membahas bagaimanakah perkembangan dan eksistensi sekte-sekte dari golongan Khawarij dan Murjiah dalam sejarah dunia Islam. Membahas lebih jauh serta memberikan kesimpulan akhir tentang perbandingan antara aliran Khawarij dan Murjiah.

Dengan demikian, berdasarkan Latar Belakang Masalah dan Batasan Masalah yang telah tim penulis uraikan di atas, maka tim penulis dapat merumuskan masalahnya sebagai berikut :

Bagaimanakah proses perkembangan dan eksistensi golongan khawarij dan murjiah, serta fahamfaham mereka dalam membentuk dua golangan yang berbeda.

BAB II

PEMBAHASAN

A. AL KHAWARIJ

Secara etimologis kata Khawarij berasal dari bahasa Arab kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak. Berdasarkan etimilogis pula, Khawarij juga berarti setiap muslim yang ingin keluar dari kesatuan umat islam.

Dalan terminologi Ilmu Kalam, yang dimaksud dengan Khawarij adalah suatu sekte atau kelompok atau aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidak sepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam perang siffin pada tahun 37 H/ 648 M dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khalifah.[6] Menurut Ibnu Abi Bakar Ahmad Al-Syahrastani, bahwa yang disebut Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang telah disepakati para jamaah, baik ia keluar pada masa khulafaurrasyidin, atau pada masa tabiin secara baik-baik.[7]

Pengikut Khawarij, pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab Badawi. Kehidupannya di padang pasir yang serba tandus, menyebabkan mereka bersifat sederhana, baik dalam cara hidup maupun dalam cara berfikir. Namun, sebenarnya mereka keras hati, berani, bersikap merdeka, tidak bergantung kepada orang lain, dan cenderung radikal. Karena watak keras yang dimiliki oleh mereka itulah, maka dalam berfikir dan memahami agama mereka pun berpandangan sangat keras.[8]

Pada masa-masa perkembangan awal Islam, persoalan-persoalan politik memang tidak bisa dipisahkan dengan persoalan-persoalan teologis. Sekalipun pada masa-masa Rasulullah masih hidup, setiap

persoalan tersebut bisa diselesaikan tanpa memunculkan perbedaan pendapat yang berkepanjangan di kalangan para sahabat. Setelah Rasulullah wafat, dan memulainya penyebaran Islam ke seluruh pelosok jazirah Arab dan luar Arab persoalan-persoalan baru pun bermunculan di berbagai tempat dengan bentuk yang berbeda-beda pula. Sehingga, munculnya perbedaan pandangan di kalangan ummat Islam tidak bisa dihindari.

1. Latar Belakang Kemunculan Khawarij

Awal mulanya kaum Khawarij adalah suatu gerakan kaum muslimin dalam bidang politik yang kemudian beralih pada bidang teologi. Mereka adalah orang-orang yang mendukung Sayyidina Ali. Akan tetapi akhirnya mereka membencinya karena dianggap lemah dalam menegakkan kebenaran, menerima tahkim yang sangat mengecewakan, sebagaimana mereka membenci Muawiyah karena melawan Sayyidina Ali sebagai khalifah yang sah. Mereka menyatakan konfrontasinya dengan fihak Muawiyah. Mereka juga menuntut agar Sayyidina Ali mengakui kesalahannya karena mau menerima tahkim. Jika Sayyidina Ali mau bertaubat, maka mereka bersedia untuk bergabung kembali kebarisan Ali untuk melawan Muawiyah. Namun bila tidak, orang-orang khawarij akan menyatakan perang kepadanya dan kepada Muawiyah.

Kemudian awal mula penyebab kemunculan kaum Khawarij adalah kekecewaan mereka terhadap keputusan Ali yang menerima tahkim yang sangat mengecewakan dan berbau kelicikan dari Muawiyah. Sehingga Sayyidina Ali mendapatkan kekalahan dalam perang Siffin. Namun karena Ali menerima perjanjian damai yang ditawarkan oleh pihak Muawiyah, maka Sayyidina Ali berbalik memperoleh kekalahan yang seharusnya mereka dapatkan dan telah berada di depan mata.

Ali sebenarnya telah mencium kelicikan di balik ajakan damai kelompok Muawiyah sehingga ia bermaksud untuk menolak permintaan itu. Namun karena desakan sebagian pengikutnya, terutama ahli qurra seperti Al-Asyat bin Qois, Masud bin Fudaki At-Tamami, dan Zaid bin Husein Ath-Thai, dengan sangat terpaksa Ali memerintahkan komandan pasukan perang untuk menghentikan peperangan.[9]

Setelah menerima ajakan damai tersebut, Muwiyah mengirimkan Amr bin Al-Asy sebagai utusannya untuk melakukan perundingan perdamaian. Demikian juga Ali yang mengirimkan Abdullah bin Abbas sebagai delegasi juru damainya, namun orang-orang Khawarij menolaknya. Mereka beralasan bahwa Abdullah bin Abbas berasal dari golongan Ali sendiri. Sehingga pada akhirnya Ali mengirimkan Abu Musa Al-Asyari sebagi delegasi juru damainya, dengan harapan dapat memutuskan perkara berdasarkan kitab Allah.[10]

Keputusan dari tahkim yang dilakukan oleh pihak Ali dan Muawiyah mengakibatkan diturunkannya Ali dari jabatan Khalifah, dan Muawiyah diangkat sebagai khalifah sebagai pengganti Ali. Hasil tahkim yang di umumkan ini tidak lepas dari adanya kecurangan dan tipu muslihat dari pihak Muawiyah yang menyelewengkan hasil kesepakatan tahkim yang dilakukan secara tertutup dari kaum muslimin. Dengan menerimanya Ali dengan hasil tahkim yang penuh dengan kecurangan dan mengecewakan ini, kontan membuat orang-orang Khawarij kecewa dan menyatakan diri untuk keluar dari barisan Ali karena menganggap Ali tidak menggunakan hukum Allah dalam mengambil keputusan. Sehingga menyebabkan sebutan kafir bagi Ali dan Muawiyah, serta mereka kontan memberikan pernyataan perang melawan keduanya.

Setelah orang-orang Khawarij menyatakan keluar dari golongan Ali, kemudian dengan jumlah pengikut sekitar 12.000 orang mereka pergi menuju Hurura. Oleh sebab itu mereka disebut juga dengan nama Hururiyah. Dalam perjalanan ke Hurura mereka dipandu oleh Abdullah Al-Kiwa. Dan di hurura inilah mereka melanjutkan perlawanan mereka terhadap Ali dan Muawiyah dengan mengangkat seorang pemimpin yang bernama Abdullah bin Shahab Ar-Rasyibi.[11]

2. Doktrin-doktrin Pokok Khawarij

Pada masa sebelum terjadinya perpecahan di kalangan Khawarij, mereka memiliki tiga pokok pendirian yang sama, yakni : Ali, Usman, dan orang-orang yang ikut dalam peperangan serta orangorang yang menyetujui terhadap perundingan Ali dan Muawiyah, dihukumkan orang-orang kafir.

Setiap ummat Muhammad yang terus menerus melakukan dosa besar hingga matinya belum melakukan tobat, maka dihukumkan kafir serta kekal dalam neraka.

Membolehkan tidak mematuhi aturan-aturan kepala negara, bila kepala negara tersebut khianat dan zalim.

Ada faham yang sangat fundamental dari kaum Khawarij yang timbul dari watak idealismenya, yaitu penolakan mereka atas pandangan bahwa amal soleh merupakan bagian essensial dari iman. Oleh karena itu, para pelaku dosa besar tidak bisa lagi disebut muslim, tetapi kafir. Demikian pula halnya, dengan latar belakang watak dan karakter kerasnya, mereka selalu melancarkan jihad (perang suci) kepada pemerintah yang berkuasa dan masyarakat pada umumnya.

Sebenarnya, menurut pandangan Khawarij, bahwa keimanan itu tidak diperlukan jika masyarakat dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun demikian, karena pada umumnya manusia tidak bisa memecahkan masalahnya, kaum Khawarij mewajibkan semua manusia untuk berpegang kepada keimanan, apakah dalam berfikir, maupun dalam segala perbuatannya. Apabila segala tindakannya itu tidak didasarkan kepada keimanan, maka konsekwensinya dihukumkan kafir.

Dengan mengutip beberapa ayat Al-Quran, mereka berusaha untuk mempropagandakan pemikiran-pemikiran politis yang berimplikasi teologis itu, sebagaimana tercermin di bawah ini : Mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar; sedangkan Usman dan Ali, juga orang-orang yang ikut dalam Perang Unta, dipandang telah berdosa. Dosa dalam pandangan mereka sama dengan kekufuran. Mereka mengkafirkan setiap pelaku dosa besar apabila ia tidak bertobat. Dari sinilah muncul term kafir dalam faham kaum Khawarij. Khalifah tidak sah, kecuali melalui pemilihan bebas diantara kaum muslimin. Oleh karenanya, mereka menolak pandangan bahwa khalifah harus dari suku Quraisy. Ketaatan kepada khalifah adalah wajib, selama berada pada jalan keadilan dan kebaikan. Jika menyimpang, wajib diperangi dan bahkan dibunuhnya. Mereka menerima Alquran sebagai salah satu sumber diantara sumber-sumber hukum Islam.[12] Khalifah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar, dan Ustman) adalah sah, tetapi setelah tahun ke-7 kekhalifahannya Utsman r.a. dianggap telah menyeleweng. Khalifah Ali adalah sah, tetapi setelah terjadi arbitras (tahkim) ia dianggap telah menyeleweng. Muawiyah dan Amr bin Al-Asy dan Abu Musa Al-Asyari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir.[13]

Selain pemikiran-pemikiran politis yang berimplikasi teologis, kaum Khawarij juga memiliki pandangan atau pemikiran (doktrin-doktrin) dalam bidang sosial yang berorientasi pada teologi, sebagaimana tercermin dalam pemikiran-pemikiran sebagai berikut : seorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim, sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis lagi, mereka menganggap seorang muslim bisa menjadi kafir apabila tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula,[14] Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka, bila tidak ia wajib diperangi karena dianggap hidup di negara musuh, sedangkan golongan mereka dianggap berada dalam negeri islam, Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng, Adanya waad dan waid (orang yang baik harus masuk kedalam surga, sedangkan orang yang jahat harus masuk neraka), Amar maruf nahi munkar, Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari tuhan, Quran adalah makhluk, Memalingkan ayat-ayat Al-Quran yang bersifat mutasyabihat (samar).[15]

Bila dianalaisis lebih mendalam, ternyata doktrin yang dikembangkan oleh kaum Khawarij dapat dikategorikan kedalam tiga kategori, yakni politik, teologi, dan sosial.[16] Dari ketiga doktrin tersebut, doktrin sentral aliran Khawarij adalah terletak pada bidang politik. Hal ini terbukti bahwa mereka memiliki pemikiran yang radikal dalam bidang politik. Namun, dari sifat yang radikal tersebut membuat mereka menjadi fanatik dalam manjalankan agama. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang Khawarij adalah orang yang bersifat keras dalam menjalankan ajaran agama. dapat diasumsikan pula bahwa orang Khawarij cenderung berwatak tekstualis yang menjadikan mereka menjadi bersifat fundamentalis. Namun berbeda pada pemikiran di bidang sosial, pemikiran yang cenderung bersifat tekstual dan fundamentalis cenderung tidak terasa. Jika teologis seperti ini benar-benar merupakan pemikiran Khawarij, maka dapat dismpulkan bahwa kaum ini adalah kaum yang berasal dari orang yang baik-baik. Hanya saja keberadaan mereka sebagai kelompok minoritas yang pendapat dan pemikirannya diabaikan bahkan dikucillkan oleh para penguasa yang membuat mereka menjadi bersikap ekstrim.[17]

3. Sekte-sekte Khawarij

Munculnya banyak cabang dan sekte Khawarij ini diakibatkan banyaknya perbedaan dalam bidang akidah yang mereka anut dan banyaknya nama yang mereka pergunakan sejalan dengan perbedaan akidah mereka yang beraneka ragam itu. Asy-syakah menyebutkan adanya delapan firqah besar, dan firqah-firqah ini terbagi lagi menjadi firqah-firqah kecil yang jumlahnya sangat banyak. Perpecahan ini menyebabkan gerakan kaum Khawarij lemah, sehingga mereka tidak mampu menghadapi kekuatan militer Bani Umayyah yang berlangsung bertahun-tahun. Menurut Syahrastani ada 8 sekte terbesar dalam Khawarij, Sekte-sekte Khawarij tersebut antara lain, Al-Muhakkimah, Al-Azariqoh, Al-Nadjat, AlBaihasiyyah, Al-Saalibah, Al-Ibadiah, Al-Sufriyah.[18]

Menurut Prof. Taib Thahir Abdul Muin, bahwa sebenarnya ada dua golongan utama yang terdapat dalam aliran Khawarij,[19] yakni :

a. Sekte Al-Azariqoh

Nama ini diambil dari Nafi Ibnu Al-Azraq, pemimpin utamanya, yang memiliki pengikut sebanyak dua puluh ribu orang. Di kalangan para pengikutnya, Nafi digelari amir al-mukminin. Golongan alazariqoh dipandang sebagai sekte yang besar dan kuat di lingkungan kaum Khawarij.

Dalam pandangan teologisnya, Al-Azariqoh tidak menggunakan term kafir, tetapi menggunakan term musyrik atau politeis. Yang dipandang musyrik adalah semua orang yang tidak sepaham dengan ajaran mereka. Bahkan, orang Islam yang tidak ikut hijrah kedalam lingkungannya, dihukumkan musyrik.

Karena kemusyrikannya itu, kaum ini membolehkan membunuh anak-anak dan istri yang bukan golongan Al-Azariqoh. Golongan ini pun membagi daerah kekuasaan, yakni dar al-Islam dan dar alkufur. Dar al-Islam adalah daerah yang dikuasai oleh mereka, dan dipandang sebagai penganut Islam sebenarnya. Sedangkan Dar al-Kufur merupakan suatu wilayah atau negara yang telah keluar dari Islam, karena tidak sefaham dengan mereka dan wajib diperangi.

b. Sekte Al-Ibadiah

Golongan ini merupakan golongan yang paling moderat dari seluruh sekte Khawarij. Nama golongan ini diambnil dari Abdullah Ibnu Ibad, yang pada tahun 686 M. memisahkan diri dari golongan Al-Azariqoh.

Adapun faham-fahamnya yang dianggap moderat itu, antara lain : Orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukan pula musyrik, tetapi kafir. Orang Islam demikian, boleh mengadakan hubungan perkawinan dan hukum waris. Syahadat mereka diterima, dan membunuh mereka yang tidak sefaham dihukumkan haram. Muslim yang melakukan dosa besar masih dihukumkan muwahid, meng-esa-kan Tuhan, tetapi bukan mukmin. Dan yang dikatakan kafir, bukanlah kafir agama, tetapi kafir akan nikmat. Oleh karenanya, orang Islam yang melakukan dosa besar tidak berartyi sudah keluar dari Islam. Harta kekayaan hasil rampasan perang yang boleh diambil hanyalah kuda dan senjata. Sedangkan harta kekayaan lainnya, seperti emas dan perak, harus dikembalikan kepada pemiliknya. Daerah orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka, masih merupakan dar at-tauhid, dan tidak boleh diperangi.

B. AL MURJIAH

Murjiah diambil dari kata irja atau arjaa yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arjaa mengandung pula arti memberi pengharapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pangampunan dan rahmat Allah SWT. Selain itu arjaa berarti pula meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu Murjiah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak.[20]

1. Asal-usul Kemunculan Murjiah

Aliran Murjiah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal ini dilakukan oleh aliran Khawarij.[21]

Aliran ini menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang melakukan dosa besar, masih dianggap mukmin dihadapan mereka.

Rohison Anwar dan Abdul Razak, dalam bukunya mengatakan bahwa ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murjiah. Teori pertama mengatakan bahwa gagasan irja atau arja dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari sektarianisme. Kelompok ini diperkirakan lahir bersamaan dengan kemunculan Syiah dan Khawarij.*22+

Dilain fihak, gagasan irja diperkirakan muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang dibawa oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiah sekitar pada tahun 695M. Dalam teori ini dikisahkan bahwa 20 tahun setelah kematian Muawiyah dunia islam dikoyak oleh pertikaian sipil karna telah terjadi perpecahan umat. Menanggapi hal ini Al-Hasan kemudian memberikan sikap politik sebagai upaya penanggulangan perpecahan uma islam tersebut, sehingga kemudian ia mengelak berdampingan dengan kelompok Syiah revolusioner yang dibawa oleh Al-Mukhtar, yang terlampau mengagungkan Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari kaum Khawarij yang menolak kekhalifahan Muawiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan dari pendosa.

Teori lain mengatakan bahwa ketika terjadi perseteruan antara Ali dan Muawiyah, dilakukan lah tahkim atas usulan Amr bin Asy, seorang kaki tangan Muawiyah. Pada saat itu kelompok ali terpecah menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang mendukung dan menentang Ali. Kelompok yang menentang Ali pada akhirnya keluar dan membentuk sebuah kelompok bernama Murjiah. Golongan yang keluar dari barisan Ali ini menganggap bahwa keputusan tahkim tidak berdasarkan hukum Allah, melainkan bertentangan dengan Al-Quran. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa melakukan tahkim itu dosa besar, dan pelakunya dapat dihukumi kafir. Pendapat ini ditentang oleh sekelompok sahabat yang kemudian disebut dengan Murjiah, yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah Allah akan mengampuninya atau tidak.[23]

2. Doktrin-doktrin Pokok Murjiah

Doktrin-doktrin aliran Murjiah bisa diketahui dari makna yang terkandung dalam murjiah dan dalam sikap netralnya. Pandangan netral tersebut, nampak pada penamaan aliran ini yang berasal dari kata arjaa, yang berarti orang yang menangguhkan, mengakhirkan dan memberi pengharapan. Menangguhkan berarti menunda soal siksaan seseorang ditangan Tuhan, yakni jika Tuhan mau memaafkan, dia akan langsung masuk surga. Jika sebaliknya, maka akan disiksa sesuai dengan dosanya.

Istilah memberi harapan mengandung arti bahwa, orang yang melakukan maksiat padahal ia seorang mukmin, imannya masih tetap sempurna. Sebab, perbuatan maksiat tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap keimanannya, sebagaimana halnya perbuatan taat atau baik yang dilakukan oleh orang kafir, tidak akan mendatangkan faedah terhadap kekufurannya. Mereka berharap bahwa seorang mukmin yang melakukan maksiat, ia masih dikatakan mukmin.

Berdasarkan itu, maka inti faham atau doktrin-doktrin Murjiah adalah sebagai berikut : Iman ialah mengenal Allah dan Rasulnya, barangsiapa yang tidak mengenal bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasul-Nya, ia mukmin sekalipun melakukan dosa. Amal perbuatan bukan merupakan bagian dari iman, sebab iman adanya dalam hati. Sekalipun melakukan dosa besar, tidaklah akan menghapus iman seseorang, tetapi terserah Allah untuk menentukan hukumnya.[24]

Rohison dan Abdul Rozak dalam bukunya mengatakan bahwa gagasan irja banyak diaplikasikan kedalam bidang politik dan teoligi. Dalam bidang politik kaum Murjiah banyak dikenal sebagai The Queietists (kelompok bungkam) karena sikap netral mereka pada permasalahan politik dan sikap mereka yang selalu diam dalam persoalan politik.

Dalam bidang teologi, pemikiran mereka cenderung mengacu kepada permasalahan iman, kufur, dosa besar, dosa ringan, tauhid, tafsir Al-Quran, eskatologi, pengampunan atas dosa besar,

kemaksuman nabi, ada yang kafir di generasi awal islam, tobat, hakekat Al-Quran, nama dan sifat Allah, serta ketentuan tuhan.

Berkaitan dengan doktrin teologi Murjiah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai berikut : Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskan di akherat kelak. Penangguhan Ali untuk menduduki rangking ke empat dalam peringkat Al-Khalifa Ar-Rasyidin. Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah. Doktrin-doktrin Murjiah menyerupai pengajaran (madzhab) para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis.[25]

Sementara itu Harun Nasution menyebutkan, bahwa Murjiah memiliki empat ajaran pokok, yaitu : Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asyari yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari kiamat kelak. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar. Meletakkan (pentingnya) iman dari amal. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.[26]

3. Sekte-sekte Murjiah

Kaum Murjiah pecah menjadi beberapa golongan kecil. Namun, pada umumnya Aliran Murjiah menurut Harun Nasutuion, terbagi kepada dua golongan besar, yakni golongan moderat dan golongan ekstrim.*27+

Golongan Murjiah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan di hukum sesuai dengan besar kecilnya dosa yang dilakukan. Sedangkan Murjiah ekstrim, yaitu pengikut Jaham Ibnu Sofwan, berpendapat bahwa orang Islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir, karena iman dan kufur tempatnya dalam hati. Bahkan, orang yang menyembah berhala, menjalankan agama Yahudi dan Kristen sehingga ia mati, tidaklah menjadi kafir. Orang yang demikian, menurut pandangan Allah, tetap merupakan seorang mukmin yang sempurna imannya.

Kelompok ekstrim dalam Murjiah terbagi menjadi empat kelompok besar, yaitu : Al-Jahmiyah, kelompok Jahm bin Syahwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui tuhan, sedangkan kufur tidak tahu tuhan. Sholat bukan merupakan ibadah kepada Allah, yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahui tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan. Yumusiah dan Ubaidiyah, melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini Muqatil bin Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik. Hasaniyah, jika seseorang mengatakan saya tahu Tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir.[28]

BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian yang telah penulis sajikan dalam bab pembahasan di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : Khawarij pada mulanya adalah suatu golongan yang pada awalnya muncul sebagai pendukung Ali, namun pada akhirnya keluar dari barisan Ali karena ketidak puasan mereka terhadap Ali yang menerima tahkim dari Muawiyah, sehingga Khawarij memberikan perlawanan dan menyatakan perang terhadap Ali dan Muawiyah, sehingga dengan keluarnya mereka dari golongan Ali maka mereka di juluki Khawarij (orang-orang yang keluar). Khawarij adalah satu golongan yang menghukumkan kafir bagi seorang muslim atau mukmin yang berbuat dosa besar, hal ini disebabkan karena mereka memiliki pemikiran dan pengetahuan yang praktis dalam dalam bidang politik, teologi, dan sosial yang dikarenakan mereka adalah keturunan bangsa Arab Badawi. Khawarij memiliki tiga poin pemikiran, yaitu pemikiran dalam bidang politik sebagai pemikiran sentral, teologis, dan sosial. Khawarij terbagi menjadi beberapa kelompok, namun mereka memiliki dua kelompok besar, yaitu AlAzariqoh dan Al-Ibadiah. Murjiah adalah kelompok yang menentang doktrin-doktrin pengkafiran yang dituangkan oleh kaum Khawarij, sekaligus secara langsung menjadi musuh besar Khawarij. Murjiah cenderung menangguhkan keputusan akan hukuman atas dosa-dosa besar di masa yang akan datang dan cenderung menyerahkannya kepada Allah apakah dosa tersebut akan diampuni atau tidak. Murjiah memandang terbalik dengan Khawarij bahwa orang muslim yang berbuat dosa besar tidak lah kafir namun masih memiliki kesempatan atau harapan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Perbedaan mendasar antara kedua golongan Khawarij dan Murjiah ialah tentang penghukuman kafir atau tidaknya mengenai apa yang telah dilakukan Ali dan Muawiyah serta orang orang-orang yang terlibat dalam tahkim dan perang Jamal.

B. PENUTUP

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Guna memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Ilmu Kalam Pendidikan Bahasa Inggris semester 3 tahun 2009.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi penulis dan juga pembaca. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan kreativitas penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Dalam penyusunan makalah ini tentu terdapat kesalahan, kekurangan serta kejanggalan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna menyempurnakan kekurangan dalam makalah ini di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

A. Nasir, Salihun. Pengantar Ilmu Kalam. Jakarta : Rajawali Pers. 1991.

Anwar, Rohison dan Abdul Rozak. Ilmu Kalam Untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung : Pustaka Setia. 2001.

Hamid, Syamsul Rijal. Buku Pintar Agama Islam: Edisi Senior. Bogor: Penebar Salam. 2002.

Harmonic, Ari dalam http//.metalisme.blog.friendster.com. Management Organisasi/ Aliran Murjiah. 2009.

Kafabih, Fateh dalam www.blog-efateh .blogspot.com. localhost : aliran murjiah. 2009.

Muchtar Ghozali, Adeng dalam www.http//wordpres.com. Kategori : Refleksi Spiritual/ khawarij dan Murjiah/ tebar cinta damai. 2009

Nata, Abuddin. Ilmu kalam, Filsafat, dan Tasawuf. Jakarta : Rajawali Pers. 1993.

Rasyidi, Badri. Sejarah Peradaban Islam Untuk Madrasah Aliyah Semester 1 dan 2. Bandung : CV Armico. 1987.

Shadr, Sayid Muhammad Baqir. Sejarah Islam Sejak Wafat Nabi SAW Hingga Runtuhnya Bani Umayah. Jakarta : Penerbit Lentera. 2004.

www.wikimedia.com. Kategori : Eskatologi Islam/Islam/Sejarah Islam. 2009. [1] Hamid, Syamsul Rijal. 2002. Buku Pintar Agama Islam:Edisi Senior. Bogor: Penebar Salam.Hal 283

[2] Ibid. Hal 283

[3] www.wikimedia.com. Kategori : Eskatologi Islam/Islam/Sejarah Islam. Dikutip : 23 oktober 2009.

[4] Adeng Muchtar ghozali dalam www.http//wordpres.com. Kategori : Refleksi Spiritual/khawarij dan Murjiah/ tebar cinta damai. Dikutip pada 23 Oktober 2009.

[5] Adeng Muchtar ghozali. op cit.. Dikutip pada 23 Oktober 2009

[6] Drs. Rohison Anwar, M.Ag. dan Drs. Abdul Razak, M.Ag. 2001. Ilmu Kalam. Bandung : Pustaka Setia. Hal. 49.

[7] Drs. Abuddin Nata, MA..1993. Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf. Jakarta : Rajawali Pers.Hal 29.

[8] Drs. Abuddin Nata, MA. op cit. Hal. 30.

[9] Drs. Rohison Anwar, M.Ag. dan Drs. Abdul Razak, M.Ag.. op cit. Hal. 50.

[10] Ibid. Hal. 50

[11] Drs. Rohison Anwar, M.Ag. dan Drs. Abdul Razak, M.Ag.. lop cit. Hal. 51

[12] Adeng Muchtar ghozali.lop cit.. Dikutip pada 23 Oktober 2009

[13] Drs. Rohison Anwar, M.Ag. dan Drs. Abdul Razak, M.Ag.. lop cit. Hal. 51.

[14] Ibid. Hal. 51.

[15] Drs. Rohison Anwar, M.Ag. dan Drs. Abdul Razak, M.Ag.. lop cit. Hal. 51.

[16] Ibid. Hal. 52.

[17] Ibid. Hal. 54.

[18] Drs. Abuddin Nata, MA. lop cit. Hal. 30.

[19] Adeng Muchtar ghozali.lop cit.. Dikutip pada 23 Oktober 2009

MURJIAH

1. Asa1-usul Kemunculan Murji'ah

Nama Murji'ah diambil dari kata irja atau arja'a yang bermakna penundaan, penangguhan. dan Pengharapan. Kata arja'a mengandung Pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu, arja'a berarti pula meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dan iman. Oleh karena itu Murjiah, artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing, ke hari kiamat kelak.[1]

Bagi kaum Murji'ah, orang yang melakukan dosa besar adalah tetap mukmin, soal dosa besar yang dilakukannya merupakan hak Tuhan untuk menentukannya di hari kemudian. Alasan mereka adalah bahwa orang yang melakukan dosa besar itu masih tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan (Rasul) Allah, atau dengan kata lain masih tetap mengucapkan dua kalimat syahadat yang menjadi dasar iman. Selanjutnya, kaum Muhajirin memberikan harapan bagi orang Islam yang melakukan dosa besar, dengan mengatakan bahwa mereka tidak kekal di dalam neraka aliran Murjiah menganggap iman lebih utama dari amal perbuatan

Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murjiah diantaranya :*2+

1. Teori yang mengatakan bahwa gagasan irja, yang merupakan basis doktrin Murjiah, muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh Al-Hasan bin Muhammad A1-Hanafiyah, sekitar tahun 695. Watt, penggagas teori ini, menceritakan hahwa 20 tahun setelah kematian Muawivah. pada tahun 680, dunia Islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Al-Mukhtar membawa faham Syiah ke Kufah dari tahun 685-687; Ibnu Zubayr mengklaim kekhalifahan di Mekah hingga yang berada di bawah kekuasaan Islam. Sebagai respon dari keadaan ini, muncul gagasan irja atau penangguhan (postponenment). Gagasan ini pertama kali digunakan sekitar tahun 695, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, dalam sebuah Surat pendeknya. Dalam Surat itu, Al-Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan mengatakan, "Kita mengakui Abu Bakar dan Umar, tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil pertama yang melibatkan Usman, Ali, dan Zubayr (seorang tokoh pembelot ke Mekah)." Dengan sikap politik ini. Al-Hasan mencoba mengulangi perpecahan umat Islam. la kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok syiah revolusioner yang terlampau menggunkan Ali dan para

pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui ke khalifahan Muawiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan dari sipendosa Usman.

2. Teori lain menceritakan bahwa ketika terjadi perseteruan antara Ali dan Muawiyah, dilakukanlah tahkim (arbitrasi) atas usulan Amr bin Ash, seorang kaki tangan Muawiyah. Kelompok Ali terpecah menjadi dua kubu. yang pro dan yang kontra. Kelompok kontra yang akhirnya menyatakan keluar dari Ali, yakni kubu Khawarij. Mereka memandang bahwa tahkim bertentangan dengan Al-Quran dalam pengertian, tidak bertahkim berdasarkan hokum Allah. Oleh karena itu, rnereka berpendapat bahwa melakukan tahkim itu dosa besar, dan pelakunya dapat dihukum kafir, sama seperti perbuatan dosa besar seperti zina, riba membunuh tanpa alasan yang benar, durhaka kepada orang tua, serta memfitnah wnita baik-baik. Pendapat ini ditentang sekelompok sahabat yang keudian disebut Murji'ah, yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan kepada Allah, apakah dia akan mengampuninya atau lidak.

2. Doktrin-doktrin Murji'ah

Adapun di bidang teologi, doktrin irja dikembangkan Murji'ah ketika menanggapi persoalan-persoalan teologis yang muncul saat itu. Pada perkembangan berikutnya, persoalan-persoalan yang ditanggapinya menjadi semakin kompleks sehingga mencakup iman, kufur, dosa besar dan ringan (mortal and venial sains), tauhid, tafsir AI-Quran, eskatologi, pengampunan atas dosa besar, kemaksuman Nabi hukuman atas dosa (punishment of sins), ada yang kafir (infidel) di kalangan generasi awal Islam, tobat (redress of wrongs), hakikat Al-Quran, nama dan sifat Allah, Beserta ketentuan Tuhan.

Berkaitan dengan doktrin teologi Murjiah, W. Montgomery, Watt merincinya sebagai berikut :[3]

a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskan di akhirat kelak.

b. Penangguhan Ali untuk menduduki ranking., keempat dalam peringkat AI-Khalifah Ar-Rasyidun.

c. Pemberian harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.

d. Doktrin-doktrin Murjiah menyerupai pengajaran (madzhab) para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis.

3. Sekte-sekte Murji'ah

Kemunculan sekte-sekte dalama kelompok Murji'ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) dikalangan pendukung Murji'ah sendiri. Dalam hal ini, terdapat problem yang cukup mendasar ketika para pengamat mengklasifikasikan sekte-sekte Murjiah sebagai berikut :[4]

a. Murjiah Moderat

Murjiah moderat berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal di dalam neraka, tetapi akan dihukum dalam api neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya, dan ada

kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya sehingga tidak akan masuk neraka sama sekali. Menurut Ash-Sahrastani Murjiah Moderat terbagi atas 5 (lima) bagian yaitu :*5+ Murji`ah-Khawarij Murjiah-Qadariyah Murjiah-Jabariyah Murjiah Murni Murjiah Sunni (tokohnya adalah Abu Hanifah').

B. Murji'ah Ekstrim

Menurut Murji'ah ekstrim, iman merupakan yang terpenting dalam beragama. Tetapi bagi mereka ini, yang dimaksud dengan iman ialah mengetahui Tuhan dan kufur ialah tidak tabu pada Tuhan. Iman dan kufur ini tempatnya dalam hati, bukan dalam bagian lain tubuh manusia.

Bertolak dari pengertian dan kedudukan iman di atas, Murji'ah ekstrim ini berpendapat bahwa, orang Islam yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya dengan lisan, tidaklah menjadi kafir. Bahkan sungguhpun ia menyembah berhala, menjalankan ajaran agama Yahudi atau agama Kristen dengan menyembah salib, menyatakan percaya kepada Trinitas, dan kemudian mati, dia bukanlah kafir, melainkan tetap mukmin yang sempurna imannya. Dengan demikian, perbuatan jahat banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang, dan sebaliknya pula, perbuatan baik tidak akan merobah kedudukan orang musyrik atau politeist dan atheist menjadi mukmin.[6]

Adapun Murjiah Ekstrim terbagi atas 4 (empat) kelompok yaitu :

a. Jahmiyah, kelompok Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman clan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.

b. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Salat bukan merupakan ibadah kepada Allah. Yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.

c. Yunusiyah dan Ubaidiyah melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, Muclatilbin Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik (politheist). Hasaniyah menyebutkan bahwa jika seorang mengatakan, "Saya tahu Tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, " maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan "Saya tuhu Tuhan mewajibkan naik haji ke Ka'bah, tetapi saya tidak tahu apukah Ka'bah di India atau tempat lain.

[1] Dr. Abdul Rojak, M.Ag. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Hlm : 56

[2] Dr. Abdul Rojak, M.Ag. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Hlm : 56-57

[3] Dr. Abdul Rojak, M.Ag. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Hlm : 58

[4] Dr. Abdul Rojak, MAg. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ilmu Kalam, Hlm : 59

[5] Dra. Hj. Masdalifah Daulay, Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, Untuk Kalangan Sendiri Hlm : 81

[6] Dra. Hj. Masdalifah Daulay, Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, Untuk Kalangan Sendi

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membahas tentang ajaranajaran dasar dari suatu agama yaitu setiap orang yang mendalami agamanya secara mendalam. Mempelajari ilmu kalam akan memberikan keyakinan yang kuat terhadap seseorang dengan berdasarkan pada Al-Quran dan Al-Hadits yang tidak mudah diombang-ambing oleh kemajuan zaman. Islam tidaklah sesempit yang dipahami pada umumnya, dalam sejarah terlihat bahwa Islam yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah dapat berhubungan dengan masyarakat luas. Akidah pada saat Rasulullah wafat telah melekat dengan kokoh dalam hati setiap muslim, mereka hidup dalam ikatan persatuan yang sangat kuat, penuh dengan kesucian dan kemuliaan. Namun, setelah itu mulai bermunculan bidah-bidah seperti bidahnya aliran Murjiah. Kemunculan Murjiah pada mulanya ditimbulkan oleh persoalan politik, tegasnya persoalan khilafah yang membawa perpecahan dikalangan umat Islam setelah Usman bin Affan terbunuh. Dalam makalah ini akan dibahas tentang sejarah, tokohtokoh, sekte-sekte, doktrin-doktrin dan implikasi pemikiran kalam Murjiah dalam kehidupan sehari-hari. Aliran Murjiah muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar. Setelah berkembangnya aliran ini banyak sekali para ulama yang menyatakan bahwa aliran ini sesat dan menyimpang dari ajaran agama.

2.

Rumusan Masalah

Apa pengertian dari kalam Murjiah? Bagaimana sejarah awal mula berkembangnya pemikiran kalam Murjiah? Apa dalil-dalil Pemikiran Kalam Murjiah? Apa saja doktrin-doktrin kalam Murjiah? Siapa pelopor pemikiran kalam Murjiah dan doktrin-doktrinnya? Apakah ada sekte-sekte pada kalam Murjiah? Bagaimana implikasi pemikiran kalam Murjiah dalam kehidupan sehari-hari? 3. Tujuan Pembahasan

Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah agar mahasiswa mengetahui: Pengertian dari kalam Murjiah; Sejarah awal mula berkembangnya pemikiran kalam Murjiah; Dalil-dalil Pemikiran Kalam Murjiah; Doktrin-doktrin kalam Murjiah; Pelopor pemikiran kalam Murjiah; Sekte-sekte kalam Murjiah; Implikasi pemikiran kalam Murjiah dalam kehidupan sehari-hari;

4.

Manfaat Pembahasan

Adapun manfaat pembahasan dalam makalah ini adalah selain sebagai bahan presentasi juga agar mahasiswa lebih mengetahui pemikiran-pemikiran kalam khususnya tentang pemikiran kalam Murjiah serta implikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Murjiah Murjiah diambil dari kata irja atau arjaa. Ada beberapa pendapat tentang arti arjaa, diantaranya ialah: a) Menurut Ibn Asakir, dalam uraiannya tentang asal-usul kaum Murjiah mengatakan bahwa arjaa berarti menunda. Dinamakan demikian karena mereka itu berpendapat bahwa masalah dosa besar itu ditunda penyelesaiannya sampai hari perhitungan nanti, kita tidak dapat menghukumnya sebagai orang kafir. b) Ahmad Amin dalam kitabnya Fajr al-Islam mengatakan bahwa arjaa juga mengandung arti membuat sesuatu, mengambil tempat-tempat dibelakang, dalam arti memandang sesuatu kurang penting. Dinamakan sesuatu kurang penting, sebab yang penting adalah imannya. Amal adalah nomor dua setelah iman.

c) Selanjutnya, Ahmad Amin juga mengatakan bahwa arjaa juga mengandung arti memberi pengharapan. Dinamakan demikian, karena di antara kaum Murjiah ada yang berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar itu tidak berubah menjadi kafir, ia tetap sebagai mukmin, dan kalau ia dimasukkan ke dalam neraka, maka ia tidak kekal didalamnya. Dengan demikian orang yang berbuat dosa besar masih mempunyai pengharapan akan dapat masuk surga. [1] d) Al Azhari menyebutkan perihal kata-kata Raja yang mempunyai arti takut yaitu apabila lafadz Raja bersama dengan huruf nafi.*2+ Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemikiran kalam Murjiah merupakan suatu aliran yang berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir, akan tetapi tetap mukmin. Dan urusan dosa besar yang telah dilakukan ditunda penyelesaiannya sampai hari kiamat.

B.

Sejarah awal mula pemikiran kalam Murjiah.

Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murjiah, diantaranya ialah: 1) Mengatakan bahwa gagasan irja atau arjaa dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan untuk menghindari sektarianisme. 2) Mengatakan bahwa gagasan irja atau arjaa, yang merupakan basis doktin Islam, muncul pertama kali sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad AlHanafiyah, sekitar tahun 695. Penggagas teori ini adalah Watt. Watt menegaskan teori ini menceritakan bahwa 20 tahun setelah kematian Muawiyah pada tahun 680 H, dunia Islam dikoyak oleh pertikaian sipil. Al-Mukhtar membawa faham syiah ke Kufah dari tahun 685-687 H. Ibnu Zubair mengklaim kekhalifahan yang ada di Mekah hingga yang berada di bawah kekuasaan Islam. Sebagai respon dari keadaan ini, muncul gagasan irja atau penangguhan. Gagasan ini pertama kali digunakan sekitar tahun 695 H oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin Muhammad Al-Hanafiyah, dalam sebuah surat pendeknya, dalam surat itu, Al-Hasan menunjukkan sikap politiknya dengan mengatakan,kita mengakui Abu Bakar dan Umar, tetapi menangguhkan keputusan atas persoalan yang terjadi pada konflik sipil pertama yang melibatkan Usman, Ali dan Zubair (seorang tokoh pembelot ke Mekah). Dengan sikap politik ini Al-Hasan mencoba menanggulangi perpecahan umat Islam. Ia kemudian mengelak berdampingan dengan kelompok Syiah revolusioner yang terlampau mengagungkan Ali dan para pengikutnya, serta menjauhkan diri dari Khawarij yang menolak mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan alasan bahwa ia adalah keturunan si pendosa Usman.[3] 3) Mengatakan bahwa munculnya aliran ini di latar belakangi oleh persoalan politik, yaitu persoalan khilafah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Muawiyah. Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan, yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan

Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij, dalam merebut kekuasaan, kelompok Muawiyah lalu membentuk Dinasti Umayyah. Syiah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syiah menentang Muawiyah karena menuduh Muawiyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung Muawiyah karena ia dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut terjadi saling mengafirkan. Di tengah-tengah suasana pertikaian ini muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murjiah. Bagi mereka sahabat-sahabat yang terlibat dalam pertentangan karena peristiwa tahkim itu tetap mereka anggap sebagai sahabatsahabat Nabi yang dapat dipercaya keimanannya. Oleh karena itu mereka tidak menyatakan siapa yang sebenarnya salah, tetapi mereka lebih baik menunda persoalan tersebut, dan menyerahkannya kepada tuhan pada hari perhitungan di hari kiamat nanti, apakah mereka menjadi kafir atau tidak.[4]

C. Dalil-dalil Pemikiran Kalam Murjiah r Dalil Alquran v Firman Allah:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu. *5+

v Firman Allah: Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah,sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya, sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.*6+

v Mereka layaknya Jahmiyyah yang telah memperhatikan pengumpulan nash yang menjadikan keimanan dan kekufuran seluruhnya terletak pada hati. Sebagaimana firman Allah: "Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan.*7+ "Kecuali orang-orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)."[8] "Allah telah mengunci mati hati mereka."[9] Juga masih banyak lagi ayat-ayat semisal yang secara dhahir dalam pengertian ini yang diambil oleh orang-orang Murjiah untuk digunakan sebagai penguat madzhab mereka meskipun sebenarnya ayatayat itu tidak cocok serta tidak sesuai dengan apa yang mereka maksudkan itu.

r Dalil Dari Sunnah Mereka berhujjah dengan sebagian hadits dan atsar, yang secara dhahir menunjukkan atas perintah untuk menjauhi syirik dan keberadaan iman dalam hati seseorang untuk menggapai kejayaan dan keridhaan Allah: v Rasululllah SAW bersabda: . . : Barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka ia akan masuk neraka, Ibnu Masud berkata: Saya katakan: "Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah maka ia masuk Jannah. *10+ v Dalam hadits qudsi Rasulullah SAW meriwayatkan dari Allah: Hai anak Adam, sesungguhnya jika kamu mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian menemui Aku tanpa berbuat syirik sedikit pun, sungguh Aku akan mendatangimu dengan maghfirah yang sebanding.*11+ v Nabi SAW bersabda:

Ya Allah, tetapkanlah hatiku pada dien-Mu.*12+ v Demikian juga dalam hadits yang mengisahkan tentang seorang budak perempuan yang ditanya oleh Rasullah SAW dengan sabdanya: Di mana Allah? Maka jawabnya: Di langit, Maka Rasullah SAW berkata kepada tuannya: Bebaskanlah dia karena dia adalah seorang Muminah.*13+ v Rasululllah SAW bersabda: Taqwa itu ada di sini, seraya menunjuk pada dadanya tiga kali.*14+ v Dan termasuk dalil mereka juga ialah tentang hadits syafaah dari Mushthafa SAW kepada beberapa kaum yang kemudian Allah mengeluarkan mereka sampai tiada sebiji atom atau sebiji gandum atau sebiji tepung pun iman yang tersisa dalam hatinya, Di dalamnya terdapat potongan sabda beliau SAW: Maka Allah berfirman, bahwa malaikat telah memberi syafaat, para Nabi pun memberi syafaat, demikian juga para mukmin dan tiada yang tertinggal kecuali pasti memberikan rahmatnya. Maka dikeluarkanlah satu kaum dari neraka yang mana mereka belum pernah melakukan sebuah kebajikan sama sekali kemudian mereka masuk sebuah tempat pemandian lalu dimasukkan ke dalam sebuah sungai yang berada di mulut syurga yang dinamai dengan Nahrul hayat. Lalu mereka keluar dari sungai tersebut seperti sebuah biji yang terbawa ombak...., sampai pada sabda beliau: Maka keluarlah mereka seperti permata, yang pada lutut mereka ada cincin yang bisa dikenal oleh penghuni syurga. Mereka itulah orang-orang yang Allah bebaskan dan masukkan ke dalam syurga tanpa amal dan tanpa kebaikan.*15+ Orang-oang Murjiah berdalil dengan hadits ini untuk menguatkan faham mereka dengan mengambil ungkapan dari hadits di atas: 1. Mereka sama sekali belum pernah berbuat amal baik.

2. Mereka adalah orang-orang yang Allah bebaskan, kemudian dimasukkan kedalam syurga tanpa sebuah amal yang mereka kerjakan . Kemudian orang Murjiah berkomentar, kalau saja mereka bisa masuk syurga tanpa amalan sedikit pun, lalu bagaimana kalau mereka punya amalan?. Maka jawabnya menurut mereka adalah bahwa mereka itu masih menyisakan tashdiq dan hal tersebut bermanfaat bagi mereka tanpa harus melihat pada amalan karena hakekat iman itu menurut Murjiah adalah tidak sampai pada amalan. v Dan termasuk syubhat yang mereka pergunakan juga ialah bahwa amalan bukan termasuk dalam iman, sesuai dengan pendapat mereka: 1. Kafir itu berlawanan dengan iman. Maka selama ada kekafiran, keimanan akan hilang dan demikian juga sebaliknya. 2. Ada banyak nash yang menerangkan tentang pemalingan amalan atas iman.

v Sedangkan dalil para pengikut Hanafi adalah: bahwasanya iman ialah perkataan dan itikad saja sedangkan amalan tidak termasuk di dalamnya, cukuplah amalan itu hanya sebagai bagian dari syariat

Islam yang apabila seseorang melakukan sebuah kemaksiatan maka berkuranglah syariat Islamnya dan amalan bukanlah termasuk tashdiq terhadap Islam. dalil mereka adalah: 1. Bahwa yang dimaksud iman secara bahasa ialah tashdiq saja, sedangkan amal badan tidak disebut sebagai bagian dari iman. 2. Andaikata amalan itu merupakan bagian dari iman dan tauhid niscaya wajib dihukum di saat tiada iman bagi orang yang kehilangan sebagian dari amalannya. Dan dalam hal ini Imam Abu Hanifah berkata dalam bukunya (Al Washiyyah): Amalan itu bukan merupakan bagian dari iman dan iman itu bukanlah amalan, dengan dalil bahwa banyak waktu yang mengangkat amalan dari seorang mukmin. Pada saat itu tidak boleh dikatakan bahwa imannya hilang. Maka seorang wanita yang haidh yang dicabut darinya kewajiban shalat, tidak boleh dikatakan bahwa imannya juga dicabut.*16+

D. Doktrin-doktrin Murjiah. Ajaran-ajaran pokok Murjiah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja atau arjaa yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis. Berkaitan dengan doktrin teologi Murjiah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai berikut: 1. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya di Akhirat kelak. 2. Penangguhan Ali untuk menduduki ranking keempat dalam peringkat Al-Khalifah Ar-Rasyidin.

3. Pemberian harapan (giving of hope) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah. 4. Doktrin-doktrin Murjiah menyerupai pengajaran (Madzhab) para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis.[17] Sementara itu, Abu Ala Al-Maududi menyebutkan dua doktrin pokok ajaran Murjiah, yaitu: 1. Iman adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardukan dan melakukan dosa besar. 2. Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat ataupun gangguan atas seseorang. Untuk mendapat pengampunan manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari Syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.[18] Berkaitan dengan doktrin teologi Murjiah menurut Harun Nasution menyebutkan ajaran pokoknya yaitu :

1. Menunda hukuman atas Ali, Muawwiyah, Amr bin Ash, dan Musa al Asy ary yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari akhir kelak. 2. 3. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar. Meletakkan pentingnya iman daripada amal.

4. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan di sisi Allah.[19] Dari doktrin-doktrin teologi Murjiah yang dikemukakan oleh W. Montgomery Watt, Abu Ala AlMaududi, Harun Nasution dapat kita simpulkan bahwa doktrin-doktrin Murjiah sebagai berikut: r Penangguhan hukum atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Musa al Asy ary yang terlibat tahkim r Iman itu adalah tashdiq ( pembenaran ) saja, atau pengetahuan hati atau ikrar. r Amal tidak masuk dalam hakekat iman dan tidak masuk dalam bagiannya. Mereka ( Murjiah ) berkata iman adalah membenarkan dalam hati atau membenarkan dalam hati dan di ungkapkan dengan lisan. Adapun amal, menurut mereka merupakan syarat kesempurnaan iman saja dan tidak masuk di dalam pengertian iman. Barangsiapa yang membenarkan dengan hatinya dan mengucapkan dengan lisannya, maka dia adalah seorang beriman yang sempurna imannya menurut mereka, walau dia telah meninggalkan perbuatanperbuatan yang berupa meninggalkan kewajiban, mengerjakan keharaman, dia berhak masuk surga meskipun belum beramal kebaikan sama sekali. Menetapkan atas hal itu ketetapanketetapan yang bathil, seperti : membatasi kekufuran dengan kufur takdzib (kufur bohong) dan menganggap halal hanya dengan hati.(Majmu Fatawa Al Lajnah Ad Daimah ) r Iman tidak bisa berkurang atau bertambah. r Orang yang bermaksiat dikatakan mukmin yang sempurna imannya. Sebagaimana sempurnanya tashdiq di akhirat kelak tidak akan masuk ke neraka. Bahkan perbuatan kafir dan zindiq tak sedikitpun membahayakan keimanan seorang muslim. r Manusia pencipta amalnya sendiri dan Allah tidak dapat melihatnya di akhirat nanti ( ini seperti faham mutazilah ). r Sesungguhnya imamah ( khalifah ) itu boleh datang dari golongan mana saja walaupun bukan dari Quraisy. r Iman adalah mengena Allah secara mutlak, dan bodoh kepada Allah adalah kufur kepada NYA

E.

Tokoh- tokoh Murjiah.

Beberapa buku dan keterangan para ulama menyatakan bahwa di antara tokoh-tokoh faham Murjiah adalah sebagai berikut :

r Jahm bin Shufwan, golongan Al-Jahmiyah, r Abu Musa Ash-Shalahi, golongan Ash-Shalihiyah r Yunus As-Samary, golongan Al-Yunushiyah r Abu Smar dan Yunus, golongan As-samriah r Abu Syauban, golongan Asy-Syaubaniyah r Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimasqy, golongan Al-Ghailaniyah r Al-Husain bin Muhammad An-Najr, golongan An-Najariyah r Abu Haifah An-Numan, golongan Al-Hanafiyah r Muhammad bin Syabib, golongan Asy-Syabibiyah r Muadz Ath-Thaumi, golongan Al-Muaziyah r Basr Al-Murisy, golongan Al-Murisiyah r Muhammad bin Karam As-Sijistany, golongan Al-Kalamiyah[20] Adapun pemimpin dari kaum Murjiah adalah Hasan bin Bilal al Muzni, Abu Salat as Samman (meninggal 152 H.) Tsauban, Dhirar bin Umar. Penyair mereka yang terkenal pada masa Bani Umayah adalah Tsabit bin Quthanah, yang yang mengarang sebuah syair tentang itiqad dan kepercayaan kaum Murjiah.*21+

F.

Sekte-sekte Murjiah.

Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murjiah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) dikalangan para pendukung Murjiah sendiri. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa Murjiah terbagi menjadi 11 bagian: 1. At Tarikah

Mereka mengatakan: Tidak ada kewajiban bagi seorang hamba kepada Allah selain hanya beriman saja. Barang siapa yang telah beriman kepada-Nya dan telah mengenal-Nya maka dia boleh berbuat sesukanya. 2. As Saibiah

Mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah membiarkan hamba-Nya untuk berbuat sesukanya. 3. Ar Rajiah

Mereka mengatakan: Kami tidak mengatakan taat bagi orang yang taat, dan juga tidak menyebut maksiat bagi orang yang melakukan perbuatan maksiat karena kami tidak mengetahui kedudukan mereka di sisi Allah. 4. Asy- Syakiah

Mereka mengatakan: Sesungguhnya ketaatan itu bukanlah dari iman. 5. Baihasyiah (nisbah pada Baihasy bin Haisham)

Mereka mengatakan: Iman itu adalah ilmu, barang siapa yang tidak mengetahui yang hak dan yang batil, juga tidak mengetahui halal dan haram maka dia telah kafir. 6. Manqushiah

Mereka mengatakan: Iman itu bertambah tapi tidak berkurang. 7. Mustatsniah

Mereka adalah orang-orang yang menafikan, atau istitsna (pengecualian) dalam hal keimanan. 8. Musyabbihah

Mereka mengatakan: Allah mempunyai penglihatan sebagaimana penglihatanku dan juga mempunyai tangan sebagaimana tanganku. 9. Hasyawiah

Mereka menjadikan hukum hadits semuanya adalah satu, dan menurut mereka orang-orang yang meninggalkan amalan sunnah sama halnya dengan orang yang meninggalkan amalan fardhu. 10. Dzahiriyah Mereka adalah orang-orang yang menafikan (tidak menggunakan) qiyas. 11. Bidiyyah Mereka adalah orang pertama yang memulai bidah pada ummat ini.*22+ Ghalib Ali Awwaji dalam firaq muashirah membagi Murjiah Itiqadiyah (secara keyakinan) menjadi beberapa bagian yang sangat banyak, akan tetapi yang beliau sebutkan hanyalah secara garis besarnya saja sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ulama Firaq:

1.

Murjiah sunnah

Mereka adalah para pengikut Hanafi, termasuk di dalamnya adalah Abu Hanifah dan gurunya Hammad bin Abi Sulaiman juga orang-orang yang mengikuti mereka dari golongan Murjiah Kufah dan yang lainnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mengakhirkan amal dari hakekat iman. 2. Murjiah Jabariyah

Mereka adalah Jahmiyyah (para pengikut Jahm bin Shafwan), Mereka hanya mencukupkan diri dengan keyakinan dalam hati saja .Dan menurut mereka maksiat itu tidak berpengaruh pada iman dan bahwasanya ikrar dengan lisan dan amal bukan dari iman. 3. Murjiah Qadariyyah

Mereka adalah orang yang dipimpin oleh Ghilan Ad Damsyiki sebutan mereka Al Ghilaniah 4. Murjiah Murni

Mereka adalah kelompok yang oleh para ulama diperselisihkan jumlahnya. 5. Murjiah Karamiah

Mereka adalah kawan-kawan Muhammad bin Karam, mereka berpendapat bahwa iman hanyalah ikrar dan pembenaran dengan lisan tanpa pembenaran dengan hati. 6. Murjiah Khawarij

Mereka adalah Syabibiyyah dan sebagian kelompok Shafariyyah yang tidak mempermasalahkan pelaku dosa besar.[23] Menurut Harun Nasution pemikiran kalam Murjiah dibagi menjadi dua sekte, yaitu: r Murjiah moderat Golongan ini berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar itu tidak menjadi kafir karenanya, dan tidak kekal dalam neraka. Orang tersebut akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang ia kerjakan. Bahkan apabila ia mengampuni dosanya itu ada kemungkinan ia tidak masuk neraka sama sekali. Jadi, menurut golongan ini orang Islam yang melakukan dosa besar itu masih tetap mukmin. Tokoh-tokoh yang termasuk dalam golongan murjah adalah Al-Hasan bin Muhammad.bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan beberapa ahli Hadits.[24] r Murjiah ekstrim Adapun yang termasuk kelompok ekstrim adalah Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-Yunusiyah, AlUbaidiyah, dan Al-Hasaniyah. Pandangan tiap-tiap kelompok itu dapat dijelaskan seperti berikut: 1. Jahmiyah, kelompok Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.

2. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Salat bukan merupakan ibadah kepada Allah. Yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahhui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa, dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan. 3. Yunusiah dan Ubaidiyah melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbutan jahat yang tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, mutaqil bin Sulaiman berpendapat bahwa perbutan jahat, banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik. 4. Hasaniyah, menyebutkan bahwa seseorang mengatakan, saya tahu tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak, apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan saya tahu tuhan mewajibkan naik haji ke Kabah, tetapi saya tidak tahu apakah kabah di India atau di tempat lain.*25+

G. Implikasi Pemikiran Kalam Murjiah dalam kehidupan sehari-hari Implikasi buruk pemikiran kaum Murjiah dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya: 1. Sebagai satu kebidahan, maka Murji`ah bila masuk dalam aqidah kaum muslimin dapat memporak-porandakan persatuan dan kesatuannya. Sebab kebidahan bila muncul dan berkembang dalam tubuh umat Islam akan menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka. Hal ini karena pelaku kebidahan akan membela kebid`ahanya, padahal Sunnah Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam pasti ada pendukung yang menegakkannya. Dengan demikian umat akan terpecah. 2. Membuat pemilik aqidahnya masuk dalam 72 golongan yang diancam masuk neraka dalam sabda Rasulullah Shallallahualahi Wasallam :

Sesungguhnya orang sebelum kalian dari ahli kitab telah berpecah belah dalam 72 golongan dan sungguh umat ini akan pecah menjadi 73 golongan; 72 golongan di neraka dan satu disyurga yaitu alJamaah (HR Abu Daud).

Membuat banyak hukum Islam yang hilang yang merupakan satu sebab hilangnya syariat dan membuat kerusakan pada keindahan Islam yang merupakan sebab orang berpaling dan tidak mengagungkan

syariat Allah. Ini merupakan salah satu dampak buruk kebidahan secara umum dan Murji`ah masuk didalamnya. 3. Telah berdusta atas nama Allah dan memiliki pemikiran yang telah dicela seluruh ulama. Imam alAjuri (wafat tahun 360H) menyatakan, Siapa yang memiliki pemikiran seperti ini (Irja`) maka telah berdusta atas nama Allah dan membawa lawannya kebenaran serta sesuatu yang sangat diingkari seluruh ulama, karena pemilik pemikiran ini menganggap bahwa orang yang telah mengucapkan La Ilaha Illa Allah maka dosa besar yang dilakukannya dan kekejian yang ia laksanakan tidak merusaknya sama sekali dan menurutnya orang yang baik dan takwa yang tidak melakukan sedikitpun hal-hal tersebut dengan orang yang fajir adalah sama. Ini jelas kemungkaran. Allah berfirman:

Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu (QS. Al-Jatsiaat: 21) dan firman Allah Taala :

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orangorang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat masiat? (QS. Shaad: 28). 4. Meyakini bahwa amalan tidak mempengaruhi imannya, sehingga banyak orang menyatakan bahwa yang penting adalah hatinya dalam berbuat kemaksiatan seakan-akan perbuatan tersebut tidak mempengaruhi keimanan dihatinya. Membuka pintu untuk orang-orang rusak melakukan kerusakan dalam agama dan tidak merasa terikat dengan perintah dan larangan syariat. Sehingga akan memperbesar kerusakan dan kemaksiatan dimasyarakat muslimin. Bahkan bukan tidak mungkin membuat mereka melakukan kekufuran dan kesyirikan dengan beralasan itu adalah amalan dan tidak merasa imannya berkurang dan hilang. Naudzubillahi min al-Dhalal! 5. Menghilangkan unsur jihad fisabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar.

6. Menyamakan antara orang shalih dengan yang tidak dan orang yang istiqamah diatas agama Allah dengan yang fasik. Sebab menurut versi mereka, amal shalih tidak mempengaruhi keimanan seseorang sebagaimana amal maksiat tidak mempengaruhi imam.[26] Pemikiran Murji`ah ini membuka pintu bagi orang-orang jelek dan rusak untuk lepas dari din al Islam dan tidak terikat dengan perintah dan larangan syariat, rasa takut dan khawatir dari Allah Taala. juga

menghilangkan sisi jihad fisabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar dan menyamakan antara yang shalih dengan yang thalih (tidak shalih), yang taat dengan yang maksiat dan yang istiqamah diatas agama Allah Taala dengan yang fasik yang lepas dari perintah dan larangan syariat selama amalan-amalan mereka tersebut tidak mempengaruhi iman seperti pernyataan versi mereka. Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, Para salaf terdahulu sangat keras pengingkaran mereka terhadap Murji`ah karena mereka mengeluarkan amalan dari iman dan tidak diragukan lagi bahwa pernyataan Murji`ah yang menyamakan iman manusia termasuk kesalahan yang sangat besar. Yang benar manusia tidak sama dalam tashdiq, cinta, takut dan ilmu bahkan berbeda-beda tingkatannya dari sisi yang banyak.*27+

Mewaspadai Faham Murjiah *28+ Faham Murjiah telah muncul dan berkembang pada beberapa abad yang lalu. Dan sekarang mungkin tidak ada orang yang berfaham Murjiah secara mutlak. Para ulama pun telah menjelaskan dan memperingatkan kepada umat atas kesesatan mereka. Namun bukan tidak mungkin bahaya laten Murjiah akan muncul kembali. Terbukti ada sebagian golongan dari kaum muslimin pada saat ini yang mempunyai beberapa pemikiran yang sama dengan Murjiah. Murjiah zaman sekarang walaupun mereka menyelisihi pendahulunya dalam penamaan iman dan definisinya saja, akan tetapi sesungguhnya mereka menyelarasi Murjiah dahulu pada banyak konsekuensi definisi iman tersebut. Mereka, walaupun mendefinisikan iman dengan definisi yang shohih dan memasukkan di dalamnya uacapan dan perbuatan disamping Itiqad ( keyakinan), pada hakikatnya masalahnya adalah mereka tidak mengkafirkan kecuali dengan Itiqad ( keyakinan ) saja. Hal ini bisa kita lihat dari pemahaman mereka dalam memandang perbuatan kufur. Mereka memandang bahwa perbuatan kufur tidak menjadikan pelakunya kafir, dan tidak membahayakan keimanannya. Orang yang melakukan kekufuran tetap disebut sebagai seorang mu'min yang sempurna selama hatinya tidak istihlal ( menganggap halal perbuatannya ). Karena mereka hanya membatasi kekufuran dalam Itiqad ( keyakinan ) atau juhud Qalbiy (pembangkangan ) atau istihlal ( menganggap halal perbuatannya) .

BAB III ANALISIS

Pemikiran kalam Murjiah merupakan salah satu aliran yang ditimbulkan akibat persoalan politik, tegasnya persoalan khilafah yang membawa perpecahan dikalangan umat Islam setelah Utsman bin Affan terbunuh. Kaum khawarij yang pada mulanya adalah penyokong Ali, tetapi kemudian hari berbalik menjadi musuhnya. Karena ada perlawanan dari golongan kwarij ini, maka penyokong-penyokong yang tetap setia kepada Ali bertambah keras dan fanatik dalam membela Ali, sehingga akhirnya muncullah golongan pendukung Ali yang dikenal dengan nama golongan Syiah. Kefanatikan golongan ini terhadap Ali bertambah keras, terutama setelah Ali dibunuh oleh Ibn Muljam dari golongan Khawarij. Dalam suasana pertentangan inilah maka timbul suatu golongan baru yang ingin bersifat netral, tidak mau turut dalam praktik kafir mengkafirkan, yang dikenal dengan golongan Murjiah. Banyak pendapat dari para ulama yang menyatakan bahwa aliran Murjiah ini adalah sesat. Karena beberapa pemikirannya yang salah satunya mengenai iman. Mereka menganggap iman itu adalah mengenal Tuhan dan Rasul-rasul-Nya saja. Jika kita sudah mengenal Tuhan dan Rasul-Nya maka itu sudah cukup, sudah menjadi mukmin. Mereka mengucapkan Syahadat cukup satu kali setelah itu apapun yang mereka lakukan meskipun mereka melakukan dosa besar, mereka tetap saja mukmin. Meskipun perbuatan itu menghina Allah dan Rasul-Nya. Orang yang telah iman dalam hatinya, tetapi ia kelihatan menyembah berhala atau membuat dosa-dosa besar yang lain, bagi kaum Murjiah orang ini masih mukmin. Bagi mereka amal itu adalah nomor dua, dan amal itu tidak mempengaruhi iman. Jika kita melakukan maksiat maka itu tidak mempengaruhi iman seseorang. Pemikiran seperti ini dapat merusak aqidah seseorang. Maka banyak para ulama menyatakan bahwa aliran Murjiah ini adalah sesat dan termasuk bidah.

Faham Murjiah telah muncul dan berkembang pada beberapa abad yang lalu. Dan sekarang mungkin tidak ada orang yang berfaham Murjiah secara mutlak. Para ulama pun telah menjelaskan dan memperingatkan kepada umat atas kesesatan mereka. Namun bukan tidak mungkin bahaya laten

Murjiah akan muncul kembali. Terbukti ada sebagian golongan dari kaum muslimin pada saat ini yang mempunyai beberapa pemikiran yang sama dengan Murjiah. Oleh karena itu, kita sebagai umat islam harus bisa memahami mana ajaran islam yang benar-benar sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW mana yang menyimpang dan kita juga harus terus berpegang teguh kepada Al-quran dan Al-hadits agar kita bisa tetap terus dijalan Allah.

BAB IV PENUTUP

A. SIMPULAN Murjiah diambil dari kata irja atau arjaa. Ada beberapa pendapat tentang arti arjaa, diantaranya ialah: a) Menurut Ibn Asakir, dalam uraiannya tentang asal-usul kaum Murjiah mengatakan bahwa arjaa berarti menunda. b) Ahmad Amin dalam kitabnya Fajr al-Islam mengatakan bahwa arjaa juga mengandung arti membuat sesuatu, mengambil tempat-tempat dibelakang, dalam arti memandang sesuatu kurang penting. c) Selanjutnya, Ahmad Amin juga mengatakan bahwa arjaa juga mengandung arti memberi pengharapan. d) Al Azhari menyebutkan perihal kata-kata Raja yang mempunyai arti takut yaitu apabila lafadz Raja bersama dengan huruf naf. Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemikiran kalam Murjiah merupakan suatu aliran yang berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir, akan tetapi tetap mukmin. Dan urusan dosa besar yang telah dilakukan ditunda penyelesaiannya sampai hari kiamat. munculnya aliran ini di latar belakangi oleh persoalan politik, yaitu persoalan khilafah (kekhalifahan). Setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, umat Islam terpecah kedalam dua kelompok besar, yaitu kelompok Ali dan Muawiyah. Kelompok Ali lalu terpecah pula kedalam dua golongan, yaitu golongan yang setia membela Ali (disebut Syiah) dan golongan yang keluar dari barisan Ali (disebut Khawarij). Ketika berhasil mengungguli dua kelompok lainnya, yaitu Syiah dan Khawarij, dalam merebut kekuasaan, kelompok Muawiyah lalu membentuk Dinasti Umayyah. Syiah dan Khawarij bersama-sama menentang kekuasaannya. Syiah menentang Muawiyah karena menuduh Muawiyah merebut kekuasaan yang seharusnya milik Ali dan keturunannya. Sementara itu Khawarij tidak mendukung Muawiyah karena ia

dinilai menyimpang dari ajaran Islam. Dalam pertikaian antara ketiga golongan tersebut terjadi saling mengafirkan. Di tengah-tengah suasana pertikaian ini muncul sekelompok orang yang menyatakan diri tidak ingin terlibat dalam pertentangan politik yang terjadi. Kelompok inilah yang kemudian berkembang menjadi golongan Murjiah. Bagi mereka sahabat-sahabat yang terlibat dalam pertentangan karena peristiwa tahkim itu tetap mereka anggap sebagai sahabat-sahabat Nabi yang dapat dipercaya keimanannya. Oleh karena itu mereka tidak menyatakan siapa yang sebenarnya salah, tetapi mereka lebih baik menunda persoalan tersebut, dan menyerahkannya kepada tuhan pada hari perhitungan di hari kiamat nanti, apakah mereka menjadi kafir atau tidak. Doktrin-doktrin Murjiah dapat disimpulkan sebagai berikut: r Penangguhan hukum atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Musa al Asy ary yang terlibat tahkim r Iman itu adalah tashdiq ( pembenaran ) saja, atau pengetahuan hati atau ikrar. r Amal tidak masuk dalam hakekat iman dan tidak masuk dalam bagiannya. r Iman tidak bisa berkurang atau bertambah. r Orang yang bermaksiat dikatakan mukmin yang sempurna imannya. r Manusia pencipta amalnya sendiri dan Allah tidak dapat melihatnya di akhirat nanti ( ini seperti faham mutazilah ). r Sesungguhnya imamah ( khalifah ) itu boleh datang dari golongan mana saja walaupun bukan dari Quraisy. r Iman adalah mengena Allah secara mutlak, dan bodoh kepada Allah adalah kufur kepada NYA Tokoh-tokoh aliran Murjiah adalah: Jahm bin Shufwan, Abu Musa, Ash-Shalahi, Yunus As-Samary, Abu Smar dan Yunus, Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Ad-Dimasqy, Abu Syauban, Al-Husain bin Muhammad An-Najr, Abu Haifah An-Numan, Muhammad bin Syabib, Muadz Ath-Thaumi, Muhammad bin Karam As-Sijistany, Basr Al-Murisy. Menurut Harun Nasution, sekte-sekte Murjiah dibagi menjadi dua golongan yaitu, golongan moderat dan golongan ekstrim. Ibnul Jauzi mengatakan bahwa Murjiah terbagi menjadi 11 bagian yaitu At Tarikah, As Saibiah, Ar Rajiah, Asy- Syakiah, Baihasyiah (nisbah pada Baihasy bin Haisham), Manqushiah , Mustatsniah, Musyabbihah, Hasyawiah, Bidiyyah, Dzahiriyah . Ghalib Ali Awwaji mengatakan bahwa Murjiah dibagi menjadi 6 bagian yaitu Murjiah sunnah, Murjiah Jabariyah, Murjiah Qadariyyah, Murjiah Murni, Murjiah Karamiah, Murjiah Khawarij. Implikasi buruk pemikiran kaum Murjiah dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya: 1. Sebagai satu kebidahan, maka Murji`ah bila masuk dalam aqidah kaum muslimin dapat memporak-porandakan persatuan dan kesatuannya. 2. Membuat pemilik aqidahnya masuk dalam 72 golongan yang diancam masuk neraka.

3.

Pemikiran Murjiah akan menimbulkan celaan dari banyak ulama.

4. Meyakini bahwa amalan tidak mempengaruhi imannya, sehingga banyak orang menyatakan bahwa yang penting adalah hatinya dalam berbuat kemaksiatan seakan-akan perbuatan tersebut tidak mempengaruhi keimanan dihatinya. 5. Menghilangkan unsur jihad fisabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar.

6. Menyamakan antara orang shalih dengan yang tidak dan orang yang istiqamah diatas agama Allah dengan yang fasik.

B.

SARAN

Umumnya orang berpikir, apabila mempelajari ilmu kalam itu akan menyebabkan seseorang menjadi sesat padahal Mempelajari pemikiran kalam sangat diperlukan untuk menambah wawasan kita terhadap agama yang kita anut sehingga menambah keyakinan kita akan agama kita. Oleh karena itu, menurut kami janganlah mudah terpengaruh terhadap pemikiran-pemikiran yang baru kita ketahui, apalagi pemikiran tersebut keluar dari pokok-pokok ajaran Islam (Al-Quran dan Al-Hadits). DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Siradjuddin. 1991. Iitiqad Ahlussunah Wal-Jamaah. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. Anwar, Rosihon dan Abdul Rozak. 2003. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia. Basri, Hasan dkk. 2007. Ilmu Kalam Sejarah dan Pokok Pikiran Aliran-Aliran. Bandung: Azkia Pustaka Utama. Hanafi.1987. Teologi Islam. Jakarta: Pustaka Al-husna. Nasution, Harun. 2002. Teologi Islam. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Nasution, Harun. 2009. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Nata, Abuddin. 1994. Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Rohanda. 2006. Ilmu Kalam dari Klasik sampai

Beri Nilai