Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

GANGGUAN OKSIGENASI: BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF

RUANG LAVENDER RSUD dr. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA

OLEH: ETI DWI HAPSARI, S. Kep.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2011

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Oksigen diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Fisiologi pernapasan meliputi oksigenasi tubuh melalui mekanisme ventilasi, perfusi dan transport gas pernapasan. Pengaturan saraf dan kimiawi menontrol fluktuasi dalam frekuensi dan kedalaman pernapasan untuk memenuhi perubahan kebutuhan oksigen jaringan (Potter dan Perry, 2005). Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme dan berguna untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel. Secara normal oksigen diperoleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernapas. Adanya kekurangan oksigen ditandai dengan keadaan hipoksia, yang jika dibiarkan lebih lanjut akan menyebabkan kematian. Pemberian terapi oksigen dalam asuhan keperawatan memerlukan dasar pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi masuknya oksigen dari atmosfir ke tingkat sel melalui alveoli paru dalam proses respirasi. Terjadinya sesak nafas merupakan dampak dari adanya penurunan curah jantung yang menuju paru-paru, sehingga proses pertukaran gas yang terjadi tidak berjalan dengan seimbang. Jika tidak ditangani dengan baik maka dapat menyebabkan gangguan dalam pemenuhan kebutuhan oksigen secara adekuat sehingga menimbulkan kelemahan (Smeltzer, 2002). 2. Tujuan Tujuan dari penulisan laporan pendahuluan ini adalah untuk: a. Mengetahui definisi, etiologi, factor predisposisi, patofisiologi, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, pathway dan pengkajian dari masalah bersihan jalan nafas tidak efektif. b. Mengetahui masalah keperawatan yang muncul berkaitan dengan bersihan jalan nafas. c. Mengetahui rencana asuhan keperawatan berkaitan dengan bersihan jalan nafas.

B. TINJAUAN TEORI

1. Pengertian Ketidakefektifan jalan nafas adalah ketidakmampuan untuk

membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran nafas untuk mempertahankan bersihan jalan nafas (NANDA, 2010). Bersihan jalan nafas tidak efektif dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami suatu ancaman yang nyata atau resiko pada status pernapasan sehubungan dengan ketidakmampuan batuk secara efektif (Edi, 2008).

2. Etiologi Etiologi dari bersihan jalan nafas tidak efektif menurut NANDA (2010) adalah: 1. Lingkungan Keadaan lingkungan yang dapat menyebabkan ketidakefektifan bersihan jalan nafas adalah lingkungan yang menyebabkan seseorang menjadi perokok pasif, menghisap asap polutan dan merokok. 2. Obstruksi Jalan Nafas Obstruksi jalan nafas dapat berupa spasme jalan nafas, mucus dalam jumlah berlebihan, eksudat dalam alveoli,materi asing dalam jalan nafas, adanya nafas jalan nafas buatan, sekresi yang tertahan/sisa sekresi dan sekresi dalam bronchi. 3. Fisiologis Faktor fisiologis dapat berupa alergik, asma, penyakit paru obstruktif menahun, hyperplasia dinding bronchial, infeksi dan disfungsi

neuromuskuler.

3. Faktor predisposisi Gangguan oksigenasi secara umum yang meliputi gangguan ventilasi, perfusi, dan transport gas pernapasan dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu: a. Faktor Fisiologis Factor fisiologis yang mempengaruhi oksigenasi diantaranya adalah perubahan kapasitas darah yang mengankut oksigen seperti anemia, peningkatan metabolisme seperti pada kehamilan dan demam (infeksi), dan perubahan gerakan dinding dada atau system saraf pusat. b. Faktor Perkembangan Tahap perkembangan dan proses penuaan tentunya akan memepengaruhi oksigenasi jaringan, misalnya bayi premature berisko terhadap kekurangan cairan surfaktan paru yang mempengaruhi kembang kempisnya paru. Bayi dan toddler berisiko mengalam infeksi saluran pernapasan. Anak usia sekolah dan remaja berisiko terhadap pajanan rokok dan asap rokok. Lansia tentunya akan megalami perubahan dan penurunan fungsi kardioplmonal. c. Perilaku Perilaku atau gaya hidup, secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi fungsi pernapasan meliputi nutrisi, latihan fisik, merokok, penyalahgunaan obat terlarang dan stress. d. Lingkungan Lingkungan juga menggagu oksigenasi, insiden penyakit paru lebih tinggi di daerah berkabut dan daerah perkotaan lebih sering insiden paru lebih tinggi. Selian itu tempat kerja juga dapat meningkatkan resiko untuk terkena penyakit pulmonal.

4. Patofisiologi Bersihan jalan napas tidak efektif dapat berhubungan dengan obstruksi trakeobronkial oleh sekret yang banyak, spasme jalan napas, benda asing atau

hal lainnya yang menyebabkan aliran udara ke paru terhambat. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penurunan ekspansi paru sehingga pasien sulit bernapas, yang dapat menyebabkan pemasukan oksigen berkurang sehingga pemenuhan kebutuhan oksigen tidak adekuat. Hal ini biasanya ditandai dengan: a. Perubahan kecepatan pernapasan b. Gangguan perkembangan dada c. Terdapat bunyi napas abnormal d. Batuk dengan atau tanpa ada sputum

5. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala ketidakefektifan bersihan jalan nafas menurut NANDA (2010) adalah sebagai berikut: a. Terdapat suara napas tambahan b. Perubahan frekuensi pernapasan c. Perubahan irama napas d. Sianosis e. Kesulitan bicara dan mengeluarkan suara f. Penurunan bunyi napas g. Dispnea h. Sputum dalam jumlah yang berlebihan i. Batuk yang tidak efektif j. Ortopnea k. Gelisah l. Mata terbuka lebar

6. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang terkait bersihan jalan nafas dapat berupa: a. Pemeriksaan sputum b. Analisa gas darah c. Pemeriksaan radiologi

d. Pemeriksaan tes kulit e. Electrocardiographi f. Scanning paru g. Spirometri

7. Pathway Etiologi (lingkungan, obstruksi jalan napas, fisiologi) Inflamasi saluran napas

Produksi mukus meningkat

Penyumbatan aliran udara

Pengembangan paru tidak optimal

Penurunan ventilasi alveolus

Jalan napas tersumbat

O2 menurun dan CO2 meningkat Pola napas tidak efektif Kerusakan pertukaran gas Bersihan jalan napas tidak efektif

8. Pengkajian Pengkajian keperawatan terkait bersihan jalan nafas tidak akan terlepas dari fungsi kardiopulmonar. Menurut Potter dan Perry (2005) pengkajian tersebut dapat meliputi :

a. Riwayat keperawatan berkaitan dengan fungsi kardiopulmonar normal klien dan fungsi kardiopulmonar saat ini. Kerusakan fungsi sirkulasi dan fungsi pernapasan pada masa yang lalu serta tindakan klien yang digunakan untuk mengoptimalkan oksigenasinya. b. Pemeriksaan fisik status kardiopulmonat klien, termasuk inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. c. Peninjauan kembali hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan diagnostik termsuk hitung darah lengkap, EKG dan pemeriksaan fungsi pulmonar, oksigenasi, AGD dan oksimetri nadi.

9. Diagnosa Keperawatan DS: pasien mengatakan sesak napas, sedikit batuk. Sesak napas sudaj sering terjadi, pasien menjelaskan bahwa pasien memiliki riwayat keturunan penyakit asma. DO: terdapat bunyi napas tambahan yaitu wheezing, bernapas dengan bantuan otot bantu pernapasan, terdapat retraksi dinding dada. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul berkaitan dengan masalah oksigenasi adalah sebagai berikut: a. Bersihan jalan napas tidak efektif b. spasme jalan napas b. Pola napas tidak efektif c. Kerusakan pertukaran gas

10. Rencana Asuhan Keperawatan Diagnosa Tujuan Intervensi dilakukan Airway Management: keperawatan 1. kaji status pernapasan Rasionalisasi 1. Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas 2. Perubahan pola pernapsan seperti tachipnea dan bradipnea dapat terjadi pada pasien akibat adanya stress dan infeksi akut. 3. Peninggian kepala pasien di tempat pada tidur memudahkan fungsi

Bersihan jalan Setelah napas efektif spasme napas tidak tindakan

b.d. selama 3 x 24 jam, jalan bersihan jalan napas

pasien terutama suara napas tambahan 2. kaji dan pantau frekuensi pernapasan, irama dan rasio ekspirasi dan inspirasi. 3. Tempatkan pasien

pasien kembali efektif dengan indicator: 1. Irama sesuai pernapasan yang

diharapkan (level 4) 2. Frekuensi pernapasan sesuai yang

posisi senyaman mungkin: semifowler 4. Atur intake untuk

pernapasan dengan menggunakan gravitasi. 4. Hidrasi membantu menurunkan

diharapkan (level 4) 3. Pengeluaran sputum

mengoptimalkan keseimbangan 5. Kolaborasi pemberian

kekentalan secret. 5. Beberapa penyebab obtruski jalan napas dikoreksi dengan cepat dengan terapi farmakologis yang tepat. 6. Untuk mengetahui respon tanda vital
tubuh pasien terhadap status pernapasannya.

lancar (level 3) 4. Bebas dari suara

medikasi yang sesuai. 6. Monitor TTV

napas tambahan (level 3)

DAFTAR PUSTAKA McCloskey dan Bulechek 2000. Nursing interventions classification (NIC). United States of America: Mosby. Meidean, JM. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of America: Mosby. NANDA Internasional. 2010. Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC. Potter dan Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC. Edi, Catur. 2008. Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas. Didapat dari URL: http://nursingart. blogspot.com [Diakses tanggal 10 Oktober 2011]. Smeltzer dan Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan medikal bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC.