Anda di halaman 1dari 8

TUGAS 1 TEKNOLOGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN

EKOSISTEM

DOSEN: PRIMATA MARDINA M.Eng

NAMA NIM

: MELISA TRIANDINI M. : H1D109004

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROGRAM STUDI -TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU

2012

Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati yang membentuk sistem ekolog. Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Ekosistem sangat bervariasi dalam hal ukuran dapat berupa genangan air pada suatu lubang pohon hingga ke samudera luas.

1.

Susunan Ekosistem Suatu ekosistem berdasarkan susunan dan fungsinya tersusun dari beberapa

komponen sebagai berikut : a. Komponen Autotrof Autotrof berasal dari kata Auto yang berarti sendiri, dan trophikos yang berarti menyediakan makan. Pengertian dari Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan /mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau. b. Komponen Heterotrof Heterotrof berasal dari kata Heteros yang berarti berbeda, dan trophikos yang berarti makanan). Pengertian dari Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba. c. Bahan tak hidup (abiotik) Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. d. Pengurai (dekomposer) Pengertian dari Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan

melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.

2.

Tipe-tipe Ekosistem Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat,

dan ekosistem buatan. 2.1 Akuatik (air)

Ekosistem air tawar. Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.

Ekosistem air laut. Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar.

Ekosistem estuari. Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut.

Ekosistem pantai. Ekosistem sungai. Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah.

Ekosistem terumbu karang. Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai.

Ekosistem laut dalam. Kedalamannya lebih dari 6.000 m.

Ekosistem lamun. Lamun atau seagrass adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan

berbunga yang hidup di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal.

2.2 Terestrial (darat) Penentuan zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh temperatur dan curah hujan. Ekosistem terestrial dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan. Iklim sangat penting untuk menentukan mengapa suatu ekosistem terestrial berada pada suatu tempat tertentu. Pola ekosistem dapat berubah akibat gangguan seperti petir, kebakaran, atau aktivitas manusia.

Hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis terdapat di daerah tropik dan subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan 200-225 cm per tahun.

Sabana. Sabana dari daerah tropik terdapat di wilayah dengan curah hujan 40 60 inci per tahun, tetapi temperatur dan kelembaban masih tergantung musim.

Padang rumput. Padang rumput terdapat di daerah yang terbentang dari

daerah tropik ke subtropik. Ciri-ciri padang rumput adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun, hujan turun tidak teratur, porositas (peresapan air) tinggi, dan drainase (aliran air) cepat.

Gurun. Gurun terdapat di daerah tropik yang berbatasan dengan padang rumput. Ciriciri ekosistem gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar.

Hutan gugur. Hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki empat musim, ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun.

Taiga Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik, ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah.

Tundra Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi.

Karst (batu gamping /gua).

Kawasan

karst

mempunyai

ciri-ciri

yaitu,

tanahnya

kurang

subur

untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah longsor, bersifat rentan dengan pori-poriaerasi yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh pori-pori mikro. 2.3 Buatan Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah:

bendungan hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus agroekosistem berupa sawah tadah hujan sawah irigasi perkebunan sawit ekosistem pemukiman seperti kota dan desa ekosistem ruang angkasa.

3.

Ketergantungan Antar Komponen Biotik dan Abiotik Ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui

siklus materi, seperti: 3.1. Siklus Karbon Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan di antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer bumi. Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (termasuk freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermacam-macam.

3.2. Siklus Air Siklus air atau disebut juga sebagai siklus hidrologi merupakan sirkulasi air yang berkelanjutan antara lautan, atmosfer, biosfer, tanah dan batuan di geosfer. Siklus hidrologi air tergantung pada proses evaporasi dan presipitasi. Air yang terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air di lapisan atmosfer melalui proses evaporasi (penguapan) air sungai, danau, dan laut, serta proses evapotranspirasi atau penguapan air oleh tanaman. Uap air bergerak ke atas hingga membentuk awan yang dapat berpindah karena tiupan angin. Ruang udara yang terdapat akumulasi uap air secara kontinu akan menjadi jenuh. Oleh pengaruh udara dingin pada lapisan atmosfer, uap air tersebut mengalami sublimasi sehingga butiran-butiran uap air membesar dan akhirnya jatuh sebagai hujan. 3.3. Siklus Nitrogen Siklus nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah. Selain air hujan yang membawa sejumlah nitrogen, penambahan nitrogen ke dalam tanah terjadi melalui proses fiksasi nitrogen. 3.4. Siklus Fosfor Siklus fosfor, bersifat kritis karena fosfor secara umum merupakan hara yang terbatas dalam ekosistem. Tidak ada bentuk gas dari fosfor yang stabil. Oleh karena itu siklus fosfor adalah endogenic. Dalam geosfer, fosfor terdapat dalam jumlah besar dalam mineral-mineral yang sedikit sekali larut, seperti hidroksiapilit dan garam kalsium. 3.5. Siklus Sulfur Sulfur terdapat dalam bentuk sulfat organik. Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida atau hidrogen sulfida. Hidrogen sulfida ini seringkali mematikan makhluk hidup diperairan dan pada umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organic yang mati.

3.6. Siklus Oksigen Oksigen merupakan unsur yang vital bagi kehidupan di bumi ini. siklus ini berkaitan erat dengan siklus unsur lainnya, terutama dengan siklus karbon. Unsur oksigen menjadi yang terikat secara kimia melalui berbagai proses yang menghasilkan energi, terutama pada perubahan dan proses metabolik dalam organisme. Oksigen dilepaskan dari reaksi fotosintesis. Unsur ini secara cepat bersenyawa membentuk oksida-oksida, seperti dengan karbon dalam respirasi aerobik atau dengan karbon dan hidrogen dalam perubahan bahan bakar fosil. CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O Siklus oksigen disempurnakan atau diakhiri ketika unsur oksigen masuk kembali ke atmosfer dalam bentuk gas.

4.

Interaksi Antara Komponen Ekosistem Didalam ekosistem, komponen biotik dan abiotik merupakan komponen

pokok ekosistem yang dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Antara komponen biotik dengan abiotik saling mempengaruhi. Hubungan antarkomponen dalam ekosistem tersebut disebut hubungan ekologi. Sejalan dengan perubahan waktu, lingkungan selalu mengalami perubahan. Lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di luar individu. Jika suatu lingkungan mengalami perubahan maka ekosistem yang terdapat di situ akan mengalami perubahan juga. Perubahan lingkungan dapat terjadi secara alamiah dan perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. 4.1. Perubahan Ekosistem secara Alamiah Peristiwa-peristiwa berupa bencana alam dapat menyebabkan terjadinya perubahan ekosistem. Dengan peristiwa alam yang terjadi, ekosistem akan berubah secara drastis. Dalam sebuah ekosistem, jika salah satu makhluk hidup berkurang maka akan mempengaruhi keadaan makhluk hidup yang lainnya.

4.2.

Perubahan Ekosistem Akibat Perbuatan Manusia Manusia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah

satu cara untuk memenuhi kebutuhannya, manusia memanfaatkan alam dan lingkungannya. Namun pemanfaatannya secara berlebihan tanpa memikirkan akibatnya. Apa saja kegiatan manusia yang dapat menyebabkan perubahan ekosistem bahkan kerusakan ekosistem. a. Pencemaran. (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri. b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan. c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan. d. Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan) e. Perburuan liar. f. Merusak hutan bakau. g. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman. h. Pembuangan sampah di sembarang tempat. i. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS)