Anda di halaman 1dari 94

Karya Tulis Ilmiah PERBEDAAN PENGARUH PENGGUNAAN ARANG AKTIF TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG AKTIF KAYU DALAM

MENURUNKAN KADAR TSS DAN WARNA AIR LIMBAH PADA PROSES PENCELUPAN BENANG

OLEH : DWI NOPRI YANTI NIM. 20436

AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN PEMERINTAH PROPINSI SUMATERA SELATAN PALEMBANG 2012

PERBEDAAN PENGARUH PENGGUNAAN ARANG AKTIF TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG AKTIF KAYU DALAM MENURUNKAN KADAR TSS DAN WARNA AIR LIMBAH PADA PROSES PENCELUPAN BENANG

PENGESAHAN
Telah diuji dan dinyatakan lulus Oleh Team Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kesehatan Lingkungan Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan

Palembang,

Agustus 2012

Direktur Akademi Kesehatan Lingkungan Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan

(Kamsul, SST., M.Kes.) NIP.19640202 198403.1.001

Team Penguji : 1. Syafrida, SKM., M. Kes. 2. Zulkifli, ST. M.Si. 3. Sudarto, ST., Msi. : __________________ : __________________ : __________________

ii

Karya Tulis Ilmiah ini telah disetujui oleh pembimbing:

Pembimbing Materi

(Sudarto, ST., MSi.)

Pembimbing Teknis

(Zulkifli, ST., MSi.)


iii

BIODATA PENULIS

Nama Penulis NIM Tempat dan Tanggal Lahir Agama Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Email

: Dwi Nopri Yanti : 20436 : Baturaja, 21 November 1991 : Islam : Perempan : Mahasiswa : Jl. A. Yani Gg. Nusa Indah No.11A Sukaraya Kec. Baturaja Timur Kab. OKU Induk : dGirL_bLue@yahoo.co.id

Riwayat Pendidikan 1. TK (1996-1997) 2. SD (1997-2003) 3. SMP(2003-2006) 4. SMA (2006-2009) : TK Aisyiyah Bustanul Atfal 1 Baturaja (OKU Induk) : SD Negeri 3 Baturaja (OKU Induk) : SLTP Negeri 2 Baturaja (OKU Induk) : SMA Negeri 5 Baturaja (OKU Induk)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN Motto: Kebahagiaan yang paling sempurna adalah melihat orang tuaku dan orang yang ku sayangi bisa tersenyum akan keberhasilanku Apapun yang terjadi jangan dijadikan beban, Ketika hidup berubah menjadi semakin sulit, ubahlah dirimu menjadi semakin kuat, Senyum Semangat Selalu Keberhasilan bukan ditentukan oleh besarnya otak seseorang, melainkan oleh besarnya cara berpikir seseorang

Seiring rasa syukur ku pada Allah SWT. Karena setiap lembaran dan goresan tinta ini merupakan wujud dari keagungan dan kasih sayang yang diberikan Allah SWT kepada umat-Nya. Kedua orang tuaku tercinta dan tersayang (Muchtar Yono & Ratna Anita) yang setiap detik waktu penyelesaian karya ini merupakan hasil doa dan kerja keras ayah dan ibu. Terimakasih atas dukungan moril dan materilnya, setiap rupiah yang kutelan adalah setetes keringat orang tuaku. Betapa besar pengorbanan dan cintamu, tidak ada keluh kesah menerpa meski rintangan didepanmu. Kalian adalah harta yang paling berharga untukku.

AKADEMI KESEHATAN LINGKUNGAN PEMERINTAH PROPINSI SUMATERA SELATAN Karya Tulis Ilmiah, Agustus 2012 Dwi Nopri Yanti PERBEDAAN PENGARUH PENGGUNAAN ARANG AKTIF TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG AKTIF KAYU DALAM MENURUNKAN KADAR TSS DAN WARNA AIR LIMBAH PADA PROSES PENCELUPAN BENANG SONGKET (xii + 50 halaman + 7 tabel + 3 bagan + 7 lampiran) ABSTRAK Industri pencelupan merupakan industri yang menggunakan pewarna sintetis termasuk salah satu industri yang sangat banyak mengeluarkan limbah cair, apabila limbah tersebut dibuang ke badan lingkungan maka akan mengakibatkan meningkatnya kekeruhan air, mengandung bahan pencemar organik (COD, TSS) dan logam berat serta mengandung bahan pewarna yang dapat menganggu keseimbangan proses fotosintesis dan efek mutagenik serta karsinogen. Belum adanya IPAL pada beberapa industri di Kecamatan 15 ULU sebagai sentra produksi pencelupan benang songket dan kain tajung dapat mengakibatkan pencemaran pada badan sungai dan tanah sebagai tempat pembuangan limbah cair tersebut sehingga dibutuhkan alternatif pengolahan limbah cair. Salah satu metode pengolahan limbah cair adalah adsorpsi dengan menggunakan arang aktif . Pada penelitian ini, arang aktif yang digunakan adalah arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu Berdasarkan hasil uji awal laboratorium yang dilakukan oleh peneliti terhadap sampel dari air limbah industri pencelupan benang di Kecamatan 15 ULU, memiliki kandungan warna sebesar 930 TCU dan kandungan TSS sebesar 82,1 mg/L menunjukkan bahwa kandungan TSS melebihi baku mutu berdasarkan Pergub No.18 tahun 2005 tentang baku mutu limbah cair Industri tekstil pencelupan yaitu batas maksimum yang diperbolehkan sebesar 1,0 mg/L. Penelitian ini bersifat eksperimental study dengan tujuan untuk mengetahui kadar efektifitas penurunan kadar TSS dan warna air limbah pencelupan benang dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dengan masingmasing ketebalan yaitu 5 cm, 10 cm, 15 cm sebanyak 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menggunakan uji Paired Samples T-test terdapat perbedaan penurunan kadar TSS dan warna sebelum dan sesudah filtrasi serta dapat disimpulkan adsorpsi arang aktif dari tempurung kelapa lebih baik daripada dari kayu. Kepustakaan : 31 (2002-2012)

vi

KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Perbedaan Pengaruh Penggunaan Arang Aktif Tempurung Kelapa dan Arang Aktif Kayu dalam Menurunkan Kadar TSS Dan Warna Air Limbah Pada Proses Pencelupan Benang Songket. Penelitian ini disusun guna memenuhi syarat untuk pembuatan laporan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan mencapai gelar Ahli Madya Kesehatan Lingkungan (AMKL) pada sekolah tinggi jenjang Diploma III (D-3 AKL) Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan serta bimbingan kepada Bapak Kamsul, SST., M.Kes., selaku Direktur Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Selatan, Bapak Sudarto, ST., MSi. selaku Pembimbing Materi dan Bapak Zulkifli, ST., MSi. selaku Pembimbing Teknis yang telah memberikan masukan dan koreksi. Tidak lupa juga penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen-dosen dan staff Akademi Kesehatan Lingkungan, Kedua orang tuaku dan Saudara-saudaraku, serta teman-teman semuanya yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis berharap semoga Allah SWT memberikan imbalan pahala yang berlipat ganda atas jasa dan amal baik yang telah diberikan oleh semua pihak. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa/i AKL Pemerintah Daerah Palembang.

Palembang, Agustus 2012

Penulis

vii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN................................................................................. HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................... BIODATA PENULIS.............................................................................................. HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................. ABSTRAK ............................................................................................................... KATA PENGANTAR.............................................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................................. DAFTAR TABEL .................................................................................................... DAFTAR BAGAN................................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...................................................................................... B. Rumusan Masalah ................................................................................. C. Tujuan Penelitian .................................................................................. D. Hipotesis Penelitian .............................................................................. E. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ........................................ F. Manfaat Penelitian ................................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Air Limbah ........................................................................................... B. Total Suspended Solid (TSS)................................................................ C. Warna.................................................................................................... D. Adsorpsi ............................................................................................... E. Arang Aktif ........................................................................................... F. Penelitian Terkait .................................................................................. G. Kerangka Teori .. 7 15 17 18 19 23 24 1 3 4 5 6 6 i ii iii iv v vi vii viii x xi xii

viii

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Konsep.................................................................................. B. Kerangka Operasional........................................................................... C. Waktu dan Lokasi Penelitian ............................................................... D. Jenis dan Rancang Penelitian ............................................................... E. Bahan dan Specimen............................................................................. F. Teknik Sampling .................................................................................. G. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data........................................... H. Metode Analisa Data............................................................................. I. Definisi Operasional ............................................................................. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil ..................................................................................................... B. Pembahasan ......................................................................................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .......................................................................................... B. Saran .................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 49 50 33 40 25 26 27 27 27 28 29 31 31

ix

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Ketebalan dan Perlakuan Untuk Penurunan Kladar TSS dan Warna dengan Menggunakan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa dan Arang Aktif Dari Kayu Hasil Uji Sebelum Dilakukan Menggunakan Arang Aktif Penyaringan dengan 28

Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7

33 34 35 36 38 39 40

Hasil Uji Kadar TSS dan Warna Setelah Penyaringan dengan Menggunakan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Hasil Uji Kadar TSS dan Warna Setelah Penyaringan dengan Menggunakan Arang Aktif Dari Kayu Hasil Uji T-Test Kadar TSS Dan Warna Berdasarkan Ketebalan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Hasil Uji T-Test Kadar TSS Dan Warna Berdasarkan Ketebalan Arang Aktif dari Kayu Hasil Uji Beda Ketebalan Arang Aktif............................................ Hasil Uji Beda Jenis Arang Aktif.....................................................

DAFTAR BAGAN Halaman Bagan 2.1 Bagan 3.1 Kerangka Teori Penurunan Kandungan Phospat (PO4) Pada Air Limbah Rumah Tangga Dengan Menggunakan Karbon Aktif Kerangka Konsep Penurunan TSS dan Warna Air Limbah Pada Proses Pencelupan Benang Dengan Menggunakan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Dan Arang Aktif Dari Kayu Dengan Ketebalan 5 cm, 10 cm, 15 cm dan Dilakukan Pengukuran Sebanyak Tiga Kali Kerangka Operasional Penurunan TSS dan Warna Air Limbah Pada Proses Pencelupan Benang Dengan Menggunakan Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Dan Arang Aktif Dari Kayu 23 25

Bagan 3.2

26

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A
Lampiran B Lampiran C Lampiran D Lampiran E

Sertifikasi Hasil Pengujian Awal Kadar TSS dan Warna


Baku Mutu Limbah Cair untuk Kegiatan Industri Tekstil Teknik Sampling Air Limbah Cara Pengolahan Data Statistik dengan Menggunakan Komputer For Windows Sertifikasi Hasil Pengujian Kadar TSS dan Warna di Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Kota Palembang

Lampiran F

Hasil Perhitungan Statistik Efektifitas Penurunan Kadar TSS dan Warna Air Limbah Pencelupan Benang dengan Menggunakan Arang Akif dari Tempurung Kelapa dan Arang Aktif dari Kayu

Lampiran G

Gambar Peralatan dan Bahan Penelitian Efektifitas Penurunan Kadar TSS dan Warna Air Limbah Pencelupan Benang dengan Menggunakan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dan Arang Aktif dari Kayu

xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 36 Tahun 2009). Menurut Blum dalam Hartono (2010), derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu, faktor lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan dan keturunan. Keempat faktor tersebut saling terkait dengan beberapa faktor lain, yaitu sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistim budaya dan populasi sebagai satu kesatuan. Lingkungan mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap derajat kesehatan masyarakat. Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan salah satunya adalah limbah cair berasal dari industri. Limbah cair yang tidak dikelola akan menimbulkan dampak yang luar biasa pada perairan, khususnya sumber daya air. Kelangkaan sumber daya air di masa mendatang dan bencana alam seperti erosi, banjir, dan kepunahan ekosistem perairan akan sering terjadi. Alam memiliki kemampuan dalam menetralisir pencemaran yang terjadi apabila jumlahnya kecil, akan tetapi apabila dalam jumlah yang cukup besar akan menimbulkan dampak negatif terhadap alam karena dapat mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan sehingga limbah tersebut dikatakan telah mencemari lingkungan (Junaidi, 2006). Industri pencelupan atau pencucian tekstil termasuk salah satu industri yang sangat banyak mengeluarkan limbah cair. Namun penanganan dan pengolahan limbah cair pada industri yang termasuk berskala kecil umumnya kurang baik (Said, 2002). Saat ini penggunaan pewarna sintetis dalam industri tekstil sudah tidak dapat dihindari lagi, mengingat harganya yang murah, warnanya lebih tahan lama, dan pilihan warna yang lebih beragam jika dibandingkan dengan pewarna alami (Agustina dkk, 2011).

Di Indonesia, perkembangan produksi zat pewarna dapat diketahui data-data ekspor nasional. Berdasarkan Biro Pusat Statistik tahun 2000, perkembangan ekspor zat pewarna meningkat 44,9 % dari tahun 1996 sampai tahun 2000. Ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan zat pewarna baik untuk keperluan proses produksi pada Industri seperti tekstil maupun pada Industri lain yang memerlukannya. Banyaknya Industri-industri tekstil di Indonesia dalam satu sisi membawa peningkatan devisa, namun disisi lain menimbulkan masalah pencemaran lingkungan yang cukup besar. Keberadaan Industri tekstil di Indonesia tidak hanya dalam kategori Industri skala besar dan menengah, tetapi juga dalam skala kecil dan bahkan ada yang dalam skala rumah tangga (home Industri), seperti pewarnaan dan pencelupan jeans (Nugroho, 2005). Industri dibagi menjadi empat kelompok yaitu, Industri logam, Industri mesin, Industri kimia dan aneka Industri seperti Industri hasil hutan dan perkebunan serta Industri kerajinan (Badan Pusat Statistik, 2011). Di Palembang terdapat beberapa Industri kerajinan songket yang dapat ditemui di Kecamatan Ilir Barat II dan daerah 15 Ulu. Setiap peristiwa pembuatan kain songket pasti didahului oleh kegiatan pencelupan benang. Setiap pencelupan akan menghasilkan air limbah 40 liter/hari untuk satu stel limar dalam satu jenis warna, sedangkan warna yang dipakai bermacam-macam. Namun, pewarna sintetis memiliki sifat yang sulit terurai di alam. Apalagi umumnya industri kecil dan menengah maupun home industri banyak terdapat di daerah yang dekat dengan Sungai Musi. Sehingga apabila limbah tersebut dibuang ke badan air, maka akan mengakibatkan terjadinya perubahan kualitas air (Agustina dkk, 2011). Penurunan kualitas air, diantaranya ditunjukkan dengan meningkatnya kekeruhan air yang disebabkan adanya polusi zat warna, warna tersebut akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan proses fotosintesis, ditambah lagi adanya efek mutagenik dan karsinogen dari zat warna tersebut, membuatnya menjadi masalah yang serius (Agustina dkk, 2011). Menurut Nugroho (2005), air limbah yang dihasilkan oleh
2

industri pencelupan benang songket disamping mengandung bahan pencemar organik yang umum dinyatakan dalam COD, TSS dan logam-logam berat, juga mengandung bahan pewarna organik rantai panjang yang relatif sukar diolah dengan proses biologis biasa. Agar dapat mengurangi pencemaran maka harus dilakukan pengolahan terhadap limbah ini sebelum dibuang ke badan air. Salah satu alternatif pengolahan yang dilakukan adalah dengan adsorbsi. Secara teoritik, salah satu yang cukup familiar dan efisiensinya cukup tinggi dalam proses adsorpsi adalah memakai adsorben karbon/arang aktif (Jannatin, 2011). Bahan arang aktif yang biasa digunakan adalah limbah kayu, bambu, sekam padi, jerami padi, tongkol jagung, batang jagung, serabut kelapa, tempurung kelapa, tandan kosong dan cangkang kelapa sawit. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang air limbah pencelupan benang yang dibuat dalam bentuk karya tulis ilmiah berjudul Perbedaan Pengaruh Penggunaan Arang Aktif Tempurung Kelapa Dan Arang Aktif Kayu dalam Menurunkan Kadar TSS dan Warna Air Limbah Pada Proses Pencelupan Benang. B. Rumusan Masalah Industri tenun songket umumnya dilakukan dalam skala rumah tangga yang tidak dilengkapi dengan proses pengolahan limbah cair sehingga dikhawatirkan akan mencemari lingkungan. Berdasarkan hasil uji laboratorium, sampel dari air limbah pencelupan benang di Kecamatan 15 Ulu yang diperiksa di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan memiliki kandungan warna sebesar 930 TCU dan kandungan TSS sebesar 82,1 mg/l. Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan TSS melebihi baku mutu berdasarkan Pergub No.18 tahun 2005 tentang baku mutu limbah cair Industri tekstil pencelupan yaitu batas maksimum yang diperbolehkan sebesar 1,0 mg/l. Untuk kandungan warna tidak terdapat baku mutu, tetapi warna dapat mempengaruhi kenaikan dan penurunan parameter yang lain. Dari penelitian/hasil eksperimen Said (2008), menyatakan bahwa terdapat korelasi yang erat antara zat warna dengan nilai COD dengan artian penurunan
3

nilai COD selalu diikuti dengan turunnya intensitas warna dari air limbah demikian juga sebaliknya. Menurut Reynold dan Paul, 1995 dalam Jannatin 2011 menyatakan, Karbon aktif banyak terbuat dari material seperti kayu, serbuk gergaji, biji buah dan batok kelapa, batu bara, lignite, dan residu minyak tanah. Pembentukan karbon aktif ini terdiri dari karbonisasi dari padatan diikuti aktivasi menggunakan uap panas. Berdasarkan latar belakang yang ada, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut : Apakah ada pengaruh penggunaaan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu untuk menurunkan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya pengaruh penggunaan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam menurunkan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. 2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya perbedaan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang pada saat sebelum dan sesudah dengan berbagai ketebalan. b. Diketahuinya ketebalan optimum arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang dengan berbagai ketebalan. c. Diketahuinya perbedaan pengaruh penggunaan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. d. Diketahuinya pengaruh ketebalan dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu.
4

penyaringan dengan

menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu

D. Hypotesis Penelitian 1. Hypotesis Kerja (Hk) a. Ada perbedaan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang pada saat sebelum dan sesudah penyaringan dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dengan berbagai ketebalan. b. Ada perbedaan ketebalan optimum arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang dengan berbagai ketebalan. c. Ada perbedaan pengaruh penggunaan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. d. Ada pengaruh ketebalan dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu.

2. Hypotesis Null (Ho) a. Tidak ada perbedaan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang pada saat sebelum dan sesudah penyaringan dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu. b. Tidak ada perbedaan ketebalan optimum arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pencelupan benang dengan berbagai ketebalan. c. Tidak ada perbedaan pengaruh penggunaan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. d. Tidak ada pengaruh ketebalan dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu.
5

E. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian a. Air baku yang digunakan adalah air limbah industri pencelupan benang. b. Bahan aktivator yang digunakan dalam penelitian ini adalah arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu. c. Penelitian ini hanya membahas tentang hasil pengukuran penurunan kadar TSS dan warna air limbah industri pada proses pencelupan benang di Kecamatan 15 Ulu. 2. Keterbatasan Penelitian a. Penelitian ini hanya terbatas pada penurunan kadar TSS dan Warna. b. Dalam penelitian ini, pengukuran kandungan air limbah dilakukan oleh instansi lain yang tidak diketahui oleh si peneliti cara menelitinya lebih lanjut. F. Manfaat Penelitian 1. Untuk mengetahui adanya penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu. 2. Untuk mengetahui efektivitas penggunaan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. 3. Sebagai salah satu alternatif untuk memecahkan masalah kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Air Limbah 1. Pengertian Air Limbah Menurut Ehless dan Steel dalam Chandra (2007), air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung bahan-bahan atau zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta menganggu kelestarian lingkungan. Menurut Sugiharto (2008) air limbah (wastewater) adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta air buangan lainnya. Dengan demikian air buangan ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum. Menurut Notoadmodjo (2011), air limbah ini berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut : a. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekskreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dan umumnya terdiri dari bahan bahan organik. b. Air buangan industri (industrial wastes water) yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat zat yang terkandung didalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing masing industri, antara lain nitrogen, sulfida, amoniak, lemak, garam garam, zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pengolahan jenis air limbah ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit. c. Air buangan kotapraja (municipal wastes water) yaitu air buangan yang berasal dari daerah perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat tempat umum, tempat tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga.

2. Karakteristik Air Limbah Menurut Ginting (2008), karakteristik limbah perlu dilakukan agar dapat dipahami sifat-sifat tersebut serta konsentrasinya dan sejauh mana tingkat pencemaran dapat ditimbulkan limbah terhadap lingkungan. Dalam menentukan karakteristik limbah maka ada tiga jenis sifat yang harus diketahui yaitu : a. Sifat Fisik Sifat fisik suatu limbah ditentukan berdasarkan jumlah padatan terlarut, tersuspensi dan total padatan, alkalinitas, kekeruhan, warna, daya hantar listrik, bau dan temperatur. Sifat fisik ini beberapa diantaranya dapat dikenali secara visual tapi untuk mengetahui secara lebih pasti maka digunakan analisa laboratorium. 1) Padatan Dalam limbah ditemukan zat padat yang secara umum diklasifikasikan kedalam dua golongan besar yaitu padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel koloid dan partikel biasa. Jenis padatan terlarut maupun tersuspensi dapat bersifat organis maupun sifat inorganis tergantung dari sumber limbah. 2) Kekeruhan Sifat kekeruhan air dapat dilihat dengan mata secara langsung karena ada partikel kolloidal (8-10 mm) yang terdiri dari kwartz, tanah liat, sisa bahan-bahan, protein dan ganggang yang terdapat dalam limbah. 3) Bau Sifat bau dalam air limbah disebabkan karena zat zat organik yang telah terurai dalam air limbah, sehingga mengeluarkan gas gas seperti sulfida atau amoniak yang menimbulkan bau tidak enak, dan hal ini juga disebabkan adanya campuran dari nitrogen, sulfur, dan fosfor yang berasal dari pembusukan protein yang dikandung limbah. 4) Temperatur Limbah yang menpunyai temperatur yang panas akan mengganggu pertumbuhan biota tertentu. Temperatur yang dikeluarkan suatu limbah cair
8

harus merupakan temperatur alami. Temperatur berfungsi sebagai indikator aktivitas kimiawi dan biologis. Tingkat zat oksidasi lebih besar pada suhu tinggi dan pembusukan jarang terjadi pada suhu rendah. 5) Warna Warna dalam air limbah disebabkan adanya ion ion logam besi dan mangan (secara alami), humus, plankton, tanaman air dan buangan industri. Warna menimbulkan pemandangan yang jelek dalam air limbah meskipun warna tidak menimbulkan sifat racun. Limbah berwarna dapat ditemukan pada limbah tekstil, pabrik pembuatan alkohol, pabrik pembuatan cat dan pabrik pengolahan tepung tapioka. b. Sifat Kimia Karakteristik kimia air limbah ditentukan oleh biochemical oksigen demand (BOD), chemical oksigen demand (COD) dan logam logam berat yang terkandung dalam air limbah. 1) Biological Oksigen Demand (BOD) BOD adalah kebutuhan oksigen bagi sejumlah bakteri untuk menguraikan semua zat organik yang terlarut maupun sebagai tersuspensi dalam air menjadi bahan organik yang lebih sederhana. Nilai ini merupakan jumlah bahan organik yang dikonsumsi bakteri. Penguraian zat zat organis ini terjadi secara alami. Aktifnya bakteri menguraikan bahan organik maka habislah konsumsi oksigen. Dengan habisnya oksigen , maka biota lainnya yang membutuhkan oksigen menjadi kekurangan dan akibatnya biota tersebut tidak dapat hidup. Semakin tinggi angka BOD, maka semakin sulit bagi makhluklain air yang membutuhkan oksigen bertahan hidup. 2) Chemical Oksigen Demand (COD) COD adalah sejumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat zat anorganis dan organis sebagaimana pada BOD. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat anorganik. Pengukuran COD lebih menekankan kebutuhan oksigen akan kimia dimana senyawa yang diukur adalah bahan bahan yang tidak dipecah secara biokimia.
9

Adanya racun atau logam tertentu dalam limbah akan menghalangi pertumbuhan bakteri dan pengukuran BOD jadi tidak realistis. 3) Methan Gas methan terbentuk akibat penguraian zat zat organik dalam kondisi anaerob pada air limbah. Gas ini dihasilkan dari lumpur yang membusuk pada dasar kolam, tidak berdebu, tidak berwarna, dan mudah terbakar. Suatu kolam limbah yang menghasilakn gas metan akan sedikit sekali menghasilakn lumpur, sebab lumpur habis terolah menjadi gas methan dan air serta CO2. 4) Keasaman Air pH ditetapkan berdasarkan tinggi rendahnya konsentrasi ion hidrogen dalam air. Air buangan yang mempunyai nilai pH tinggi atau rendah menjadikan air sterildan sebagai akibatnya membunuh mikroorganisme yang diperlukan biota tertentu. Ait yang memiliki pH rendah membuat air menjadi korosif terhadap bahan bahan konstruksi besi yang kontak dengan air. 5) Alkallinitas Tinggi rendahnya alkalinitas air ditentukan air senyawa karbonat, garam garam hidroksida, kalsium, magnesium, dan natrium dalam air. Tingginya kandungan zat zat tersebut mengakibatkan kesadahan dalam air. Semakin tinggi kesadahan suatu air, maka semakin sulit air berbuih. 6) Lemak dan Minyak Kandungan lemak dan minyak yang terdapat dalam air limbah bersumber dari industri yang mengolah bahan baku mengandung minyak bersumber dari bahan proses klasifikasi dan proses perebusan. Lemak dan minyak merupakan bahan organis bersifat tetap dan sukar diuraikan oleh bakteri. Limbah ini membuat lapisan pada permukaan air sehingga membentuk selaput. Karena berat jenisnya lebih kecil dari air, maka minyak tersebut berbentuk lapisan tipis di permukaan air dan menutup permukaan yang mengakibatkan terbatasnya oksigen masuk dalam air. Pada sebagian lain minyak ini membentuk
10

lumpur

dan

mengendap

dan

sulit

menguraikannya. Minyak, lemak, dan oli dijumpai dalam bentuk larutan dengan struktur kimia yang berbeda beda. Reaksi dengan kimia pada suhu tertentu akan terdekomposisi dengan karbon, oksigen, dan hidrogen. 7) Oksigen terlarut Keadaan oksigen terlarut berlawanan dengan keadaan BOD. Semakin tinggi BOD maka semakin rendah oksigen terlarut. Keadaan oksigen terlarut dalam air dapat menunjukkan tanda tanda kehidupan ikan dan biota dalam perairan. Kemampuan air untuk mengadakan pemulihan secara alami banyak tergantung pada tersedianya oksigen terlarut. 8) Besi dan Magnesium Besi dan magnesium yang teroksidasi dalam air berwarna kecoklatan dan tidak larut mengakibatkan penggunan air menjadi terbatas. Air tidak dapat lagi dipergunakan untuk air rumah tangga, cucian, dan air industri. Dalam buangan limbah industri, kandungan besi berasal dari korosi pipa air mineral logam sebagai hasil reaksi elektro kimia yang terjadi pada perubahan 9) Klorida Klorida merupaka zat terlarut dan tidak menyerap. Khlor bebas berfungsi sebagai desinfektan, tapi dalam bentuk ion yang bersenyawa dengan ion natrium menyebabkan air menjadi asin dan dapat merusak pipa pipa instalasi. 10) Phospat Kandungan fosfat yang tinggi akan menyebabkan suburnya alga dan organism lainnya yang dikenal dengan nama eutrrophikasi. Fosfat yang banyak berasal dari bahan pembersih yang mengandung senyawa fosfat. Dalam industri penggunaan posfat terdapat pada ketel uap untuk mencegah kesadahan. Maka pada saat penggantian air ketel, buangan ini menjadi sumber fosfat. Pengukuran kandungan fosfat dalam air limbah berfungsi untuk mencegah tingginya kadar fosfat sehingga tumbuh tumbuhan dalam
11

air

yang

mengandung

padatan

larut

mempunyai

sifat

menghantarkan listrik dan ini mempercepat terjadinya korosi.

air berkurang jenisnya dan pada akhirnya tidak merangsang pertumbuhan tanaman air. Kesuburan tanaman air akan menghalangi kelancaran arus air. Pada danau suburnya tumbuhan air akan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut. 11) Sulfur Sulfat dalam jumlah besar akan menaikkan keasaman air. Ion sulfat dapat terjadi secara proses alamiah. Pada pembentukan sulfur oksida membutuhkan proses sintesa. 12) Nitrogen Nitrogen dalam air limbah pada umumnya terdapat dalam bentuk organic dan oleh bakteri berubah menjadi nitrogen amonia. Dalam kondisi aerobic bakteri dapat mengoksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat. 13) Amoniak Ammonia merupakan senyawa nitrogen yang menjadi NH4 pada pH rendah. Amonia dalam air limbah sering terbentuk karena adanya proses kimia secara alami. 14) Nitrit Nitrit merupakan bentuk nitrogen yang hanya sebagian teroksidasi. Nitrit tidak ditemukan dalam air limbah yang segar melainkan dalam limbah yang sudah lama. Nitrit tidak dapat bertahan lama dan merupakan keadaan sementara proses oksidasi antara amoniak dan nitrit. 15) Logam-Logam Berat dan Beracun Logam berat pada umumnya adalah metal metal seperti pada cadmium, air raksa, lead, chromium, iron, dan nikel. Metal lain yang juga terasuk metal berat adalah arsen, selenium, cobalt, mangan dan alumunium. 16) Phenol Phenol dalam air limbah tidak hanya terbatas pada (C6H5-OH) api bermacammacam campuran organik yang terdiri dari satu atau lebih gugus hidrolik. Phenol dengan konsentrasi 0,005/l dalam air minum menciptakan rasa dan bau yang bereaksi dengan klor yang membentuk klorophenol.
12

c. Sifat Biologis Bahan bahan organik dalam air terdiri dari berbagai macam senyawa. Protein adalah salah satu senyawa kimia organik yang membentuk rantai kompleks, mudah terurai, menjadi senyawa lain seperti asam amino. Bahan bahan seperti gula, pati, sellulosa, serat serat kayu adalah karbohidrat yang dapat terurai melalui enzim ataupun mikroba. Bahan yang mudah larut dalam air akan terurai menjadi enzim dan bakteri tertentu. (Ginting, 2008). Kandungan bakteri pathogen dan golongan organisme coli terdapat juga dalam air limbah tergantung dari mana sumbernya namun, keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air buangan (Notoadmodjo, 2011). 3. Hubungan Air Limbah dengan Lingkungan dan Penyakit Menurut Notoadmodjo (2011), sesuai dengan zat zat yang terkandung didalam air limbah, maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu dapat berpotensi menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain : a. Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama kolera, typhus abdominalis, disentri baciler. b. Menjadi media berkembangbiaknya mikroorganisme pathogen. c. Menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk atau tempat hidup larva nyamuk. d. Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap. e. Merupakan sumber pencemaran air permukaan, tanah dan lingkungan hidup lainnya. f. Mengurangi produktifitas manusia karena orang bekerja dengan tidak nyaman dan sebagainya. Untuk mencegah dan mengurangi akibat akibat buruk tersebut diatas diperlukan kondisi, persyaratan dan upaya upaya sedemikian rupa sehingga air limbah tersebut : a. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber air minum. b. Tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah.
13

c. Tidak menyebabkan pencemaran air untuk mandi, perikanan, air sungai, atau tempat tempat rekreasi. d. Tidak dapat dihinggapi serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor. e. Tidak terbuka kena udara luar (jika tidak diolah) serta tidak dapat dicapai oleh anak anak (Notoadmodjo, 2011). 4. Efek Buruk Air Limbah Menurut Sugiharto (2008), menjelaskan bahwa sesuai dengan batasan dari air limbah yang merupakan benda sisa, maka sudah tentu barang tersebut merupakan benda yang tidak terpakai lagi. Akan tetapi, tidak berarti bahwa air limbah tersebut tidak perlu dilakukan pengelolaan, karena apabila limbah ini tidak dikelola secara baik akan dapat menimbulkan gangguan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kehidupan yang ada. a. Terhadap kesehatan Air limbah sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat bahwa banyak penyakit yang dapat ditularkan melalui air limbah. Air limbah ini ada yang hanya berfungsi sebagai media pembawa saja seperti penyakit kolera, radang usus, hepatitis infektiosa, serta skhistosomiasis. Selain sebagai pembawa penyakit di dalam air limbah itu sendiri banyak terdapat bakteri pathogen penyebab penyakit seperti virus, vibrio kolera, Salmonella Typhosa, Salmonella Spp, Shigella Spp,Basillus Anthraksis, Brusella Spp, dll. b. Terhadap Kehidupan Biotik Dengan banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air limbah, maka akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen yang terlarut dalam air limbah. Dengan demikian akan menyebabkan kehidupan di dalam air yang membutuhkan oksigen akan terganggu, dalam hal ini kan menghambat perkembangannya. c. Terhadap Keindahan/ Estetika Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang perusahaan yang memproduksi bahan organik seperti tapioca, maka setiap hari akan dihasilkan
14

air limbah yang berupa bahan bahan organik dalam jumlah yang sangat besar. Disamping bau yang ditimbulkan, maka dengan menumpuknya ampas akan memerlukan tempat yang banyak dan mengganggu keindahan tempat di sekitarnya selain bau dan tumpukan ampas yang mengganggu, maka warna air limbah yang kotor akan menimbulkan gangguan pemandangan yang tidak kalah besarnya. Keadan yang demikian akan lebih parah lagi, apabila pengotoran ini dapat mencapai daerah pantai dimana daerah tersebut merupakan daerah tempat rekreasi bagi masyarakat sekitarnya. d. Terhadap Kerusakan Benda Apabila air limbah mengandung gas karbondioksida yang agresif, maka mau tidak mau akan mempercepat proses terjadinya karat pada benda yang terbuat dari besi serta bangunan yang air kotor lainnya. B. Total Suspended Solid (TSS) Total padatan tersuspensi (TSS) adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1 m) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 m. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. Padatan tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan melalui dua cara. Pertama, menghalangi dan mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan air, sehingga mengahambat proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air (Junaidi, 2006). Menurut Wikipedia terjemahan (2012), total padatan tersuspensi adalah kualitas air pengukuran biasanya disingkat TSS. TSS dari sampel air ditentukan dengan menuangkan volume terukur air (biasanya satu liter, tetapi kurang jika kepadatan partikel tinggi, atau sebanyak dua atau tiga liter untuk air yang sangat bersih) melalui pra-ditimbang filter dari sebuah ditentukan ukuran pori, maka dengan berat filter lagi
15

setelah pengeringan untuk menghilangkan air semua. Filter untuk pengukuran TSS biasanya terdiri dari serat kaca. Keuntungan berat badan adalah ukuran berat kering partikulat hadir dalam sampel air dinyatakan dalam satuan yang berasal atau dihitung dari volume air tersaring (biasanya miligram per liter atau mg / l). Meskipun kekeruhan dimaksudkan untuk mengukur kira-kira kualitas air properti yang sama seperti TSS, yang terakhir ini lebih bermanfaat karena memberikan berat aktual bahan partikulat hadir dalam sampel. Dalam situasi pemantauan kualitas air, serangkaian pengukuran TSS lebih banyak tenaga kerja intensif akan dipasangkan dengan pengukuran kekeruhan relatif cepat dan mudah untuk mengembangkan korelasi spesifik lokasi. Setelah memuaskan didirikan, korelasi dapat digunakan untuk memperkirakan TSS dari pengukuran kekeruhan lebih sering dibuat, menghemat waktu dan usaha. Karena pembacaan kekeruhan agak tergantung pada ukuran partikel, bentuk, dan warna, pendekatan ini membutuhkan perhitungan persamaan korelasi untuk setiap lokasi. Selanjutnya, situasi atau kondisi yang cenderung menangguhkan partikel yang lebih besar melalui gerakan air (misalnya, peningkatan aliran arus tindakan atau gelombang) dapat menghasilkan nilai yang lebih tinggi dari TSS belum tentu disertai dengan peningkatan yang sesuai pada kekeruhan. Hal ini karena partikel di atas ukuran tertentu (dasarnya apa pun lebih besar dari lumpur) tidak diukur dengan meter kekeruhan bangku (mereka menetap sebelum bacaan tersebut diambil), tetapi memberikan kontribusi besar terhadap nilai TSS. Meskipun TSS tampaknya menjadi ukuran langsung dari berat partikulat diperoleh dengan memisahkan partikel dari sampel air dengan menggunakan filter, itu menderita sebagai kuantitas didefinisikan dari kenyataan bahwa partikel terjadi di alam pada dasarnya adalah sebuah kontinum dari ukuran. Pada ujung bawah, TSS bergantung pada cut off-dibentuk oleh sifat dari filter yang digunakan. Pada ujung atas, cut-off harus mengesampingkan semua partikel terlalu besar untuk " ditangguhkan "dalam air. Namun, ini bukan ukuran partikel tetap tetapi tergantung pada tingkat energi dari situasi pada saat pengambilan sampel: air bergerak menunda partikel yang lebih besar daripada air yang tenang. Biasanya itu adalah kasus bahwa bahan tersuspensi tambahan yang disebabkan oleh pergerakan air yang menarik.
16

Masalah-masalah ini sama sekali tidak membatalkan penggunaan TSS; konsistensi dalam metode dan teknik dapat mengatasi kekurangan-dalam banyak kasus. Tapi perbandingan antara studi mungkin memerlukan pemeriksaan yang seksama terhadap metodologi yang digunakan untuk menetapkan bahwa studi sebenarnya mengukur hal yang sama. C. Warna Pada umumnya warna perairan dikelompokkan menjadi warna sesungguhnya dan warna tampak. Menurut Effendi (2003), warna sesungguhnya dari perairan adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan terlarut, sedangkan warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut, tetapi juga oleh bahan tersuspensi. Warna perairan timbul disebabkan oleh bahan organik dan anorganik, keberadaaan plankton, humus, dan ion-ion logam seperti besi dan mangan. Oksidasi besi dan mangan mengakibatkan perairan bewarna kemerahan dan kecoklatan atau kehitaman, sedangkan oksidasi kalsium karbonat menimbulkan warna kehijauan. Bahan-bahan organik seperti tanin, lignin dan asam humus dapat menimbulkan warna kecoklatan di perairan. Perairan yang berwarna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air, sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Untuk kepentingan estetika dan pariwisata, warna air sebaiknya tidak melebihi 15 unit PtCo, sedangkan untuk kepentingan air minum warna air yang dianjurkan adalah 550 unit PtCo. Pewarna sintetis memiliki sifat yang sulit terurai di alam. Sehingga apabila limbah tersebut dibuang ke badan air, maka akan mengakibatkan terjadinya perubahan kualitas air. Penurunan kualitas air, diantaranya ditunjukkan dengan meningkatnya kekeruhan air yang disebabkan adanya polusi zat warna, warna tersebut akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan proses fotosintesis, ditambah lagi adanya efek mutagenik dan karsinogen dari zat warna tersebut, membuatnya menjadi masalah yang serius (Agustina dkk, 2011).

17

D. Adsorpsi Adanya penurunan kadar limbah cair setelah melalui media saring karbon disebabkan adanya proses adsorbsi terhadap kadar limbah cair oleh karbon aktif. Adsorbsi terjadi karena adanya gaya tarik menarik yang lemah (Van der walls) antar partikel (Nayoan, 2006) Menurut Reynolds dan paul dalam Jannatin (2011), Adsorpsi adalah pengumpulan substansi pada permukaan adsorban berbentuk padatan, sedangkan absorpsi adalah perembesan dari pengumpulan sustansi ke dalam padatan. Adsorpsi diklasifikasikan menjadi dua yaitu adsorpsi fisik dan kimia. Adsorpsi fisik terutama dikarenakan oleh gaya van der waals dan terjadi bolak balik (reversible). Contoh dari adsorpsi fisik adalah adsorpsi oleh karbon aktif. Kinetika adsorpsi dapat dijelaskan sebagai tingkat perpindahan molekul dari larutan ke dalam pori-pori partikel, adsorban. Terdapat tiga mekanisme yang terjadi pada proses adsorpsi (Weber dalam Yuniarto, 1999) yaitu: 1. Molekul-molekul zat yang diserap dipindahkan dari bagian terbesar larutan ke permukaan luar dari adsorban. Fase ini disebut sebagai difusi film atau difusi eksternal. 2. Molekul-molekul zat yang diserap dipindahkan pada kedudukan adsorpsi pada permukaan adsorban ke bagian yang lebih dalam yaitu pada bagian pori. Fase ini disebut dengan difusi pori. 3. Molekul-molekul zat yang diadsorpsi menempel pada permukaan partikel. Faktor yang mempengaruhi adsorpsi fisik Menurut Cooney dalam Jannatin (2011), yaitu: 1. Suhu Pada umumnya, naiknya suhu menyebabkan berkurangnya kemampuan adsorpsi karena molekul dari adsorban mempunyai energi getaran lebih besar dan oleh karena itu, akan keluar dari permukaan. Semua aplikasi dari adsorpsi ini berada dibawah kondisi isoterm yaitu biasanya pada suhu ambien. Perlu diwaspadai bahwa kemampuan adsorpsi akan berkurang pada suhu yang tinggi.
18

2. Sifat pelarut Pelarut mempunyai pengaruh penting karena akan berkompetisi dengan karbon aktif dalam atraksinya terhadap solute. Jada adsorpsi dari solute organik akan lebih rendah dari pada adsorpsi pada zat cair lain. Bagaimanapun akan banyak pelarut dalam air, oleh karena itu tidak perlu dikhawatirkan terlalu jauh pelarut dalam air. 3. Area permukaan karbon Jumlah substansi yang karbon dapat serap, secara langsung terjadi pada area permukaan internal. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Pada penyerapan molekul besar, banyak dari area permukaan internal yang kemungkinannya tidak dapat terjadi. 4. Struktur pori dari karbon Struktur pori merupakan bagian penting dikarenakan diameter pori yang mempunyai range 10 sampai 100.000 A, kontrol ukuran molekul yang sesuai. E. Arang Aktif Menurut Djatmiko dalam Rumidatul (2006) Arang adalah suatu bahan padat yang berpori dan merupakan hasil pembakaran dari bahan yang mengandung karbon melalui proses pirolisis. Sebagian dari pori-porinya masih tertutup dengan hidrokarbon, ter dan senyawa organik lain. Komponennya terdiri dari karbon terikat (fixed carbon), abu, air, nitrogen dan sulfur. Arang aktif adalah suatu bahan hasil proses pirolisis arang pada suhu 600 900oC. Bahan arang aktif yang biasa digunakan adalah berasal dari limbah kayu dan bambu. Bahan lainnya yang dapat digunakan adalah dari limbah pertranian antara lain sekam padi, jerami padi, tongkol jagung, batang jagung, serabut kelapa, tempurung kelapa, tandan kosong cangkang kelapa sawit dan sebagainya (sinartani, 2011). Karbon aktif, atau sering juga disebut sebagai arang aktif, adalah suatu jenis karbon yang memiliki luas permukaan yang sangat besar. Hal ini bisa dicapai dengan mengaktifkan karbon atau arang tersebut. Hanya dengan satu gram dari karbon aktif, akan didapatkan suatu material yang memiliki luas permukaan kira-kira sebesar 500 m2 (didapat dari pengukuran adsorpsi gas nitrogen). Biasanya pengaktifan hanya bertujuan
19

untuk memperbesar luas permukaannya saja, namun beberapa usaha juga berkaitan dengan meningkatkan kemampuan adsorpsi karbon aktif itu sendiri. (Wikipedia, 2012) Menurut Suryono (2003), Arang aktif yaitu arang yang memiliki pori-pori terbuka sehingga punya daya adsorbs yang tinggi dan luas permukaannya antara 500 1500 m2/gr. Selain itu secara fisik dapat diketahui bahwa akan berbunyi nyaring jika dijatuhkan pada bidang permukaan yang keras dan jika dipecahkan bekas pecahannya berwarna hitam mengkilap seragam. Karbon aktif atau sering disebut sebagai arang aktif adalah arang yang telah mempunyai suatu tingkat daya serap tertentu terhadap bahan organik terlarut, warna, bau,rasa dan zat-zat lain (Panca, 2011). Menurut Said (2007), partikel-partikel arang aktif yang ditempatkan pada suatu tempat dan cairan yang akan diserap dialirkan melewati arang aktif tersebut sehingga terjadi proses penyerapan (adsorpsi) pada akhirnya arang aktif tersebut mendekati atau menjadi jenuh dan penyerapan yang dikehendaki tidak dapat berlangsung lagi. Hal itu terjadi karena arang aktif mempunyai ruang pori yang sangat banyak dengan ukuran tertentu. Pori-pori ini pada akhirnya akan jenuh dengan partikel-partikel sangat halus (molekul) dan menjebaknya disana. 1. Arang Aktif Dari Tempurung Kelapa Arang tempurung kelapa adalah arang yang dibuat dengan cara karbonisasi dari batok kelapa. Untuk mendapatkan tempurung kelapa yang baik maka proses karbonisasi harus berlangsung dengan kondisi atau suplai udara yang terbatas sesuai dan terkontrol. Tempurung atau batok kelapa yang baik berwarna hitam seragam dan jika dipatahkan atau dihancurkan maka pada pinggiran atau bekas patahannya akan terlihat mengkilap dan bila dijatuhkan diatas permukaan tanah atau benda keras akan berbunyi nyaring seperti logam. Tempurung kelapa jika dibandingkan dengan arang jenis lainnya, maka tempurung kelapa yang paling banyak mengandung fixed carbon (pengikatan karbonnya) (Aryafatta, 2008). Makin rendah kadar air, abu dan zat yang menguap maka makin tinggi pula kadar fixed carbonnya sehingga semakin baik pula mutu dari tempurung kelapa. Selain itu tempurung kelapa juga mempunyai daya serap dan absorben yang baik, karena tempurung kelapa sangat cocok untuk pengolahan air (Effendi, 2003).
20

Menurut Palungkun dalam Nayoan (2006), komposisi kimia tempurung kelapa mengandung 27,32 % selulosa, 18 21 % pentosan , 34 37 % lignin, zat ekstraktif 5 6% dan kandungan air untuk aranag aktif tempurung kelapa sebesar 2-5%. Sifat dari arang aktif yang dihasilkan tergantung dari bahan yang digunakan, misalnya tempurung kelapa menghasilkan arang yang lunak dan cocok untuk menjernihkan air (Panca, 2011). Absorbsi atau penyerapan zat zat oleh tempurung kelapa (karbon) penyerapannya bersifat selektif dan yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut saja. Bila dalam larutan ada lebih satu zat terlarut maka zat yang satu akan diserap lebih kuat dari zat yang lain. Karbon juga dapat mengabsorbsi racun dan mikroorganisme (Wikipedia, 2010). Penyediaan media tempurung kelapa a. Tempurung kelapa diambil dan dipilih yang keadaannya benar benar kering untuk memudahkan dalam proses pembakaran. Kemudian diletakkan secara tersusun diatas tungku pembakaran, lalu tempurung kelapa dibakar, dalam proses pembakaran ini perlu diperhatikan agar tempuurng kelapa terbakar menjadi abu. b. Apabila proses pembakaran telah merata, api dipadamkan dengan menggunakan air kemudian dijemur hingga kering, lalu setelah kering tempurung kelapa tersebut ditumbuk hingga ukurannya rata rata 1 mm. Untuk mendapatkan ukuran tempurung kelapa 1 mm sama halnya dalam melakukan pengayakan media pasir. Tempurung kelapa yang tertahan pada ayakan dengan diameter saringan 1 mm inilah yang diambil secukupnya untuk media saringan, semakain kecil ukuran tempurung kelapa maka semakin besar daya serapnya (Wikipedia 2010). Woodroof dalam Sembiring (2003), berpendapat bahwa bila tempurung kelapa dipanaskan pada temperatur yang cukup tinggi tanpa berhubung dengan udara, akan terjadi rangkaian penguraian dari senyawa-senyawa kompleks yang merupakan komponen utama tempurung. Dan dihasilkan tiga bentuk zat, yaitu padat, cair, gas. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil destilasi kering tempurung adalah kematangan/kekerasan tempurung, suhu, tekanan dan lama destilasi. Juga
21

udara mempunyai peranan dalam proses destilasi kering. Dengan persediaan udara terbatas, bahan baku hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi. Menurut Mifbakhudin (2010), keuntungan dari pemakaian arang aktif tempurung kelapa adalah : a. Pengoperasian mudah karena air mengalir dalam media karbon b. Proses berjalan cepat karena ukuran butiran karbonnya lebih besar c. Karbon tidak tercampur dengan lumpur sehingga dapat diregenerasi 2. Arang Aktif Dari Kayu Arang aktif dapat dihasilakan melalui komposisi kayu dan dapat digunakan sebagai adsorben warna dari larutan (Sembiring, 2003). Arang kayu adalah arang yang terbuat dari bahan dasar kayu. Arang adalah residu hitam berisi karbon tidak murni yang dihasilkan dengan menghilangkan kandungan air dan komponen volatil dari hewan atau tumbuhan. Arang umumnya didapatkan dengan memanaskan kayu, gula, tulang, dan benda lain. Arang yang hitam, ringan, mudah hancur, dan meyerupai batu bara ini terdiri dari 85% sampai 98% karbon, sisanya adalah abu atau benda kimia lainnya (wikipedia, 2012). Menurut Ketaren (1980), arang adalah bahan padat yang berpori-pori dan merupakan hasil pembakaran dari bahan yang mengandung unsur C. Sebagian besar dari pori-porinya masih tertutup dengan hidrokarbon, dan senyawa organik lain yang komponennya terdiri dari fixed carbon, abu, air, nitrogen dan sulfur. Kegunaan arang aktif semakin meluas di kalangan industri-industri, karena arang aktif merupakan adsorben yang baik. Umumnya arang aktif digunakan untuk menyaring/menghilangkan bau, warna, zat pencemar tertentu. Contohnya pada proses pembersihan air buangan arang aktif dapat digunakan untuk mengatur dan membersihkan air buangan dari pencemar, warna, bau dan logam berat tertentu. Menurut Hawley dalam Sembiring (2003), ada empat batasan dari penguraian komponen kayu yang terjadi karena pemanasan pada proses distilasi kering, yaitu :
22

a. Batasan A adalah suhu pemanasan sampai 200 oC. Air yang terkandung dalam bahan baku keluar menjadi uap, sehingga kayu menjadi kering, retak-retak dan bengkok. Kandungan karbon lebih kurang 60%. b. Batasan B adalah suhu pemanasan antara 200-280oC. Kayu secara perlahanlahan menjadi arang dan destilat mulai dihasilkan. Warna arang menjadi coklat gelap serta kandungan karbonnya lebih kurang 700%. c. Batasan C adalah suhu pemanasan antara 280-500oC. Terjadi karbonisasi sellulosa, penguraian lignin dan menghasilkan ter. Arang yang terbentuk berwarna hitam serta kandungan karbonnya meningkat menjadi 80%. Proses pengarangan secara praktis berhenti pada temperatur 400 oC. d. Batasan D adalah suhu pemanasan 500oC, terjadi proses pemurnian arang, dimana pembentukan ter masih terus berlangsung. Kadar karbon akan meningkat mencapai 90 %. Pemanasan diatas 700 oC hanya menghasilkan hydrogen. Menurut Fengel dalam Nayoan (2006), komposisi kimia kayu mengandung 37 40 % selulosa, 7 20 % pentosan, 17 30 % lignin, zat ekstraktif 3 8 % dan untuk kandungan air sebesar 5 13 %. F. Penelitian Terkait Said (2008), mengemukakan bahwa pengolahan limbah cair dapat dilakukan dengan metoda filtarsi dan adsorpsi arang aktif dari batubara. Dalam proses filtrasi, penyerapan senyawa kimia dapat berlangsung dengan baik. Dan intensitas warna dari limbah cair sangat jauh berkurang. Dan dari penelitian tersebut, didapatkan bahwa ada korelasi yang erat antara zat warna dengan nilai COD. Penurunan nilai COD selalu diikuti dengan turunnya intensitas warna dari limbah demikian juga sebaiknya. Menurut panelitian Nayoan (2006), setelah melalui penyaringan dengan karbon aktif tempurung kelapa, arang kayu, dan campuran karbon aktif tempurung kelapa dan kayu, kadar kekeruhan limbah cair industri tahu dapat diturunkan sampai pada batas kadar maksimal yang diperbolehkan.
23

G. Kerangka Teori Berdasarkan Rismiati (2010) yang menggunakan karbon aktif dari tempurung kelapa dan karbon aktif dari kayu sebagai bahan yang dapat menurunkan kandungan Phospat (PO4) pada air limbah rumah tangga maka kerangka teorinya dapat dilihat pada bagan 2.1 sebagai berikut : KERANGKA TEORI PENURUNAN KANDUNGAN PHOSPAT (PO4) PADA AIR LIMBAH RUMAH TANGGA DENGAN MENGGUNAKAN KARBON AKTIF (RISMIATI, 2010) -Proses pembuatan arang aktif - Jenis karbon aktif -Proses pengaktifan arang -Ketebalan karbon aktif
Bagan 2.1

Penurunan kandungan phospat pada air limbah rumah tangga

24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian tentang penurunan kadar TSS dan warna air limbah industri pada proses pencelupan benang dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu, dapat dilihat pada bagan 3.1 berikut ini :
Bagan 3.1 KERANGKA KONSEP PENURUNAN TSS DAN WARNA AIR LIMBAH PADA PROSES PENCELUPAN BENANG DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG AKTIF DARI KAYU DENGAN KETEBALAN 5 CM, 10 CM, 15 CM & DILAKUKAN PENGUKURAN SEBANYAK TIGA KALI

Air Limbah Industri Pencelupan Benang

Filtrasi dengan arang aktif

Arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 5 cm, 10 cm dan 15 cm

Arang aktif dari kayu dengan ketebalan 5 cm, 10 cm dan 15 cm

Penurunan TSS dan warna air limbah Industri pada proses pencelupan benang

B. Kerangka Operasional Dari kerangka konsep penelitian maka penulis menjelaskan cara kerja penelitian yang dilakukan dalam bentuk kerangka operasional sebagaimana dapat dilihat pada bagan 3.2 berikut ini : Bagan 3.2 KERANGKA OPERASIONAL PENURUNAN TSS DAN WARNA AIR LIMBAH PADA PROSES PENCELUPAN BENANG DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG AKTIF DARI KAYU Air Limbah Industri Pencelupan Benang

Uji Sebelum Perlakuan

Filtrasi dengan arang aktif dari tempurung kelapa

Filtrasi dengan arang aktif dari kayu

Ketebalan 5 cm

Ketebalan 10 cm Hasil penurunan TSS dan warna T-test

Ketebalan 15 cm

Ketebalan 5 cm

Ketebalan 10 cm Hasil penurunan TSS dan warna T-test

Ketebalan 15 cm

Pengaruh Ketebalan Arang Aktif Keterangan : Garis proses Garis uji : :


26

C. Waktu dan Lokasi Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian mengenai penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang ini, telah dilaksanakan pada bulan Juni Juli 2012. 2. Lokasi Penelitian Pengambilan sampel air limbah pencelupan benang dilaksanakan di Jln. Aiptu A Wahab Kecamatan 15 Ulu, sedangkan proses penyaringannya dilaksanakan di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan untuk pemeriksaan sampel di Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Palembang. D. Jenis dan Rancang Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimental study. Eksperimental study adalah kegiatan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu. Metode penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kadar efektif penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu. E. Bahan dan Specimen 1. Bahan Bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah air limbah pada proses pencelupan benang. 2. Specimen a) Arang aktif tempurung kelapa b) Arang aktif kayu berikut ini :
27

: ketebalan 5 cm, 10 cm dan 15 cm : ketebalan 5 cm, 10 cm dan 15 cm

Ketebalan dan perlakuan arang aktif pada air limbah dapat dilihat pada tabel 3.1

Tabel 3.1 KETEBALAN DAN PERLAKUAN UNTUK PENURUNAN KADAR TSS DAN WARNA DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DAN DARI KAYU No. 1 2 3 Arang aktif dari tempurung kelapa Sampel 1A Sampel 2A Sampel 3A Arang aktif dari kayu Sampel 1B Sampel 2B Sampel 3B Ketebalan Filtrasi 5 cm 10 cm 15 cm Perlakuan (kali) 3 kali 3 kali 3 kali

F. Teknik Sampling 1. Persiapan Alat dan Bahan a. Alat 1) Ember plastik ukuran 20 L 2) Stop kran ukuran 3) Pipa PVC ukuran dan 2 4) Turunan ukuran x 2 5) Elbow ukuran 2 6) dan sok drat ukuran b. Bahan 1) Kawat Kasa 2) Arang aktif dari tempurung kelapa dan kayu 3) Cup air mineral dan kantong plastik serta label dan alat tulis. 2. Pengambilan Sampel a. Sediakan jerigen air berukuran 10 L dan bersihkan. b. Ambil air limbah dan masukkan kedalam jerigen. c. Tutup hingga rapat. 3. Filtrasi Arang Aktif a. Siapkkan arang aktif pada pipa-pipa penyaringan sesuai dengan ketebalan b. Tutup rapat kran air penyaringan c. Masukkan air limbah hasil proses pencelupan benang ke dalam ember
28

d. Buka kran dan tampung air limbah yang keluar dari saringan dengan menggunakan cup air mineral. e. Masukkan air limbah yang telah ditampung tadi kedalam kantung plastik yang sudah diberi label, misal: ketebalan 10 cm pengulangan 1 ATK. f. Setelah semua air limbah di saring dan di masukkan ke dalam kantung plastik, air tersebut di bawa ke Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Palembang untuk dilakukan uji laboratorium. G. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Metode Pengumpulan data a. Sumber Data Penelitian yang dilakukan menggunakan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari industri pencelupan benang yang berlokasi di Jln. Aiptu A Wahab Kecamatan 15 Ulu dan didapatkan dari hasil pelaksanaan penelitian dengan penambahan ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. Data sekunder didapat dari hasil studi kepustakaan yaitu dengan menggunakan refrensi yang berhubungan dengan penelitian. b. Cara Pengumpulan Data Memperoleh data primer dengan melakukan eksperimen atau percobaan dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan kadar TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang. 2. Instrumen/Alat pengumpulan data Instrumen/alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah ember, stop kran, pipa PVC, turunan, sok, elbow, kawat kasa, mistar, wadah plastik (cup air mineral) dan alat-alat laboratoriun untuk uji TSS dan warna.
29

H. Metode Analisa Data Data yang didapatkan dari hasil penambahan ketebelan aktivator arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu serta pemeriksaan uji kadar TSS dan warna, dilakukan pengelompokan dalam bentuk kategori dan disajikan dalam bentuk tabulasi. Kemudian masing masing hasil filtrasi dan aktivator dengan ketebalan yang berbeda dilakukan pengujian secara statistik yaitu Paired-Sample T-Test untuk mengetahui perbedaan ketebalan arang aktif dengan jenis arang aktif yang digunakan. I. Definisi Operasional 1. Pengertian a) Air limbah industri adalah limbah dalam wujud cair yang dihasilkan oleh kegiatan industri pencelupan benang songket yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. b) TSS adalah padatan tersuspensi yang terkandung dalam air limbah industri pencelupan benang songket. c) Warna adalah kandungan warna yang terdapat dalam air limbah industri pencelupan benang songket. d) Arang aktif adalah tempurung kelapa dan kayu yang sudah dijadikan arang dan diaktifkan dengan larutan tertentu setelah itu baru dihaluskan. e) Arang tempurung kelapa adalah arang yang berbahan dasar tempurung kelapa yang telah dijadikan arang. f) Arang kayu adalah yang terbuat dari bahan dasar kayu yang telah dijadikan arang. g) Ketebalan arang aktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) 5 cm arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu 2) 10 cm arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu 3) 15 cm arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu 2. Alat, Bahan, dan Alat Ukur a) Alat 1) Ember plastik volume 20 L
30

2) Sok drat 3) Stop kran 4) Elbow 5) Turunan x 2 6) Pipa paralon/ PVC dan 2 7) Wadah Plastik (cup air mineral) b) Bahan 1) Arang aktif dari tempurung kelapa dan dari kayu 2) Air limbah pencelupan benang 3) Kawat kasa 4) Lem paralon 3. Cara kerja a) Persiapan penelitian 1) Menyiapkan air baku limbah pencelupan benang 2) Menyiapkan arang aktif dari tempurung kelapa dan dari kayu 3) Menyiapkan cup air mineral untuk menampung limbah pencelupan benang songket yang telah disaring. b) Pelaksanaan penelitian 1) Buat lubang pada bagian samping ember untuk memasang filtrasi, pasang sok drat pada lubang ember, pasang pipa PVC sepanjang 5 cm pada setiap sisi stop kran, dan sambungkan stop kran ke sok drat dan elbow, dengan menggunakan pipa PVC sepanjang 5 cm sambungkan ke turunan x 2. 2) Masukan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu ke dalam masing-masing pipa PVC 2 dengan ketebalan tertentu yaitu 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Lalau pasang pipa PVC 2 secara horizontal sepanjang 20 cm. Antara stop kran dan pipa beri lem agar kuat. 3) Letakkan wadah plastik (cup air mineral) pada bagian bawah pipa PVC untuk menampung air limbah hasil penyaringan.
31

4) Lalu masukkan air limbah pencelupan benang kedalam ember dan alirkan air limbah dengan cara memutar stop kran, lakukan pengukuran sebanyak 3 kali. 5) Setelah dilakukan penyaringan air tersebut dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan kadar TSS dan warnanya. 6) Catat hasil pemeriksaan yang dilakukan. c) Hasil ukur : Kadar TSS menggunakan satuan mg/l dan warna menggunakan satuan TCU d) Skala ukur : Ratio

32

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Dari hasil penelitian tentang ketebalan efektifitas arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam menurunkan kadar TSS dan warna air limbah pencelupan benang didapatkan bahwa terdapat perbedaan dari berbagai jenis arang aktif terhadap masing-masing ketebalan arang aktif. Selanjutnya data-data yang telah didapatkan dari hasil penelitian ini diolah secara statistik dengan menggunakan sistem komputerisasi for windows (dapat dilihat pada lampiran F) dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi sebagai berikut: 1. Uji Sebelum Penyaringan dengan Menggunakan Arang Aktif Berdasarkan uji laboratorium didapatkan hasil pengukuran kandungan TSS dan warna air limbah pada proses pencelupan benang sebelum disaring dengan menggunakan arang aktif yaitu arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu yang dapat di lihat pada tabel 4.1 sebagai berikut :
Tabel 4.1 HASIL UJI SEBELUM DILAKUKAN PENYARINGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF

No 1 2

Parameter yang di Uji TSS Warna

Batas Maksimum 1,0 mg/ L **

Hasil Uji 82,1 mg / L 930 TCU

Sumber: Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (2012)

Ket : **) tidak dipersyaratkan

Dari hasil uji laboratorium yang dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) didapatkan kadar TSS dan Warna air limbah pada proses pencelupan benang didapatkan yaitu 82,1 mg/l dan 930 TCU (Dapat dilihat pada lampiran A). Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan TSS melebihi baku mutu berdasarkan Pergub No.18 tahun 2005 tentang baku mutu limbah cair Industri tekstil pencelupan yaitu batas maksimum yang diperbolehkan sebesar 1,0 mg/l.

Untuk kandungan warna tidak terdapat baku mutu, tetapi warna dapat mempengaruhi kenaikan dan penurunan parameter yang lain. 2. Uji Setelah Penyaringan dengan Menggunakan Arang Aktif a. Uji Kadar TSS dan Warna Setelah Disaring Menggunakan Arang Aktif Tempurung Kelapa Berdasarkan uji laboratorium yang telah dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan didapatkan penurunan kandungan kadar TSS dan warna yang dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2 HASIL UJI KADAR TSS DAN WARNA SETELAH PENYARINGAN DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA Arang Tempurung Kelapa Sampel Parameter 5 cm 10 cm 15 cm TSS 43,2 33,9 24,3 Sampel 1 Warna 410 331 261 TSS 41,2 31,9 23,1 Sampel 2 Warna 428 348 260 TSS 36,4 29,9 21,2 Sampel 3 Warna 406 325 255 TSS 40,2 31,9 22,9 Mean Warna 414,7 334,7 258,7

No. 1 2 3

Sumber : Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (2012)

Dari hasil uji laboratorium pada proses pencelupan benang setelah dilakukan filtrasi dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa didapatkan hasil kadar TSS dan warna pengulangan pertama dengan ketebalan 5 cm sebesar 43,2 mg/l dan 410 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 33,9 mg/l dan 331 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 24,3 mg/l dan 261 TCU. Didapatkan hasil kadar TSS dan warna pengulangan kedua dengan ketebalan 5 cm sebesar 41,2 mg/l dan 428 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 31,9 mg/l dan 348 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 23,1 mg/l dan 260 TCU. Didapatkan hasil kadar TSS dan warna pengulangan ketiga dengan ketebalan 5 cm sebesar 36,4 mg/l dan 406 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 29,9 mg/l dan 325 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 21,2 mg/l dan 255 TCU (Dapat dilihat pada lampiran E).
34

Pada tabel 4.2 terlihat penurunan kadar TSS dan warna setelah filtrasi dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan penurunan TSS dan warna pada tiap ketebalan saringan arang aktif dari tempurung kelapa. Hal tersebut dikarenakan semakin tinggi ketebelan arang aktif, dapat menyebabkan semakin banyak kontak yang terjadi maka hasil yang diperoleh semakin baik. b. Uji Kadar TSS dan Warna Setelah Disaring Menggunakan Arang Aktif Kayu Berdasarkan uji laboratorium yang telah dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan didapatkan penurunan kandungan kadar TSS dan Warna yang dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut :
Tabel 4.3 HASIL UJI KADAR TSS DAN WARNA SETELAH PENYARINGAN DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF DARI KAYU No. 1 2 3
Sampel Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3

Parameter TSS Warna TSS Warna TSS Warna TSS Warna

Arang Kayu 5 cm 64,9 452 61,7 481 63,9 480 63,5 471 10 cm 62,4 444 59,6 466 61,6 463 61,2 457,7 15 cm 59,4 432 58,6 449 58,7 443 58,9 441,3

Mean

Sumber : Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (2012)

Dari hasil uji laboratorium yang dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) pada proses pencelupan benang setelah dilakukan filtrasi dengan menggunakan arang aktif dari kayu didapatkan hasil kadar TSS dan warna pengulangan pertama dengan ketebalan 5 cm sebesar 64,9 mg/l dan 452 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 62,4 mg/l dan 444 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 59,4 mg/l dan 432 TCU. Didapatkan hasil kadar TSS dan warna
35

pengulangan kedua dengan ketebalan 5 cm sebesar 61,7 mg/l dan 481 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 59,6 mg/l dan 466 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 58,6 mg/l dan 449 TCU. Didapatkan hasil kadar TSS dan warna pengulangan ketiga dengan ketebalan 5 cm sebesar 63,9 mg/l dan 480 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 61,6 mg/l dan 463 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 58,7 mg/l dan 443 TCU (Dapat dilihat pada lampiran E). Pada tabel 4.3 terlihat penurunan kadar TSS dan warna setelah filtrasi dengan menggunakan arang aktif dari kayu tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan penurunan TSS dan warna pada tiap ketebalan saringan arang aktif dari kayu. Hal tersebut dikarenakan semakin tinggi ketebelan arang aktif, dapat menyebabkan semakin banyak kontak yang terjadi maka hasil yang diperoleh semakin baik. 3. Uji Statistik Setelah Penyaringan Menggunakan Arang Aktif a. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Berdasarkan uji statistik yang digunakan untuk mengetahui uji beda ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini :
Tabel 4.4 HASIL UJI T-TEST KADAR TSS DAN WARNA BERDASARKAN KETEBALAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA TAHUN 2012 No 1 2 3 Variabel Tempurung Kelapa 5 cm dan 10 cm 10 cm dan 15 cm 5 cm dan 15 cm Parameter TSS Warna TSS Warna TSS Warna P Value 0,012 0,000 0,001 0,006 0,004 0,001

Sumber : Program aplikasi komputer SPSS for windows seri 16.0 (2012)

36

Arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 5 cm, arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 10 cm dan arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 15 cm. Hasil uji untuk kadar TSS dan warna dengan variabel arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 5 cm dan arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 10 cm memiliki nilai p value 0,012 untuk TSS dan 0,000 untuk warna, arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 10 cm dan arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value 0,001 untuk TSS dan 0,006 untuk warna, dan arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 5 cm dan arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value 0,004 untuk TSS dan 0,001 untuk warna. Nilai p value tersebut menunjukkan bahwa untuk arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 5 cm dan ketebalan 10 cm atau arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 10 cm dan ketebalan 15 cm atau arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 5 cm dan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value dibawah 0,05 sehingga memiliki perbedaan. Maka artinya ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar TSS dan warna pada air limbah pencelupan benang (Dapat dilihat pada lampiran F). Pada tabel 4.4 terlihat bahwa proses adsorpsi berjalan dengan baik. Terjadi penurunan nilai TSS dan warna yang siknifikan untuk ketebalan 5 cm, 10 cm dan 15 cm. Pada pengolahan limbah didapatkan bahwa untuk penurunan kadar TSS didapatkan ketebalan optimum yaitu 15 cm dan untuk penurunan warna dengan ketebalan 10 cm. b. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif dari Kayu Berdasarkan uji statistik yang digunakan untuk mengetahui uji beda ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini :
37

Tabel 4.5 HASIL UJI T-TEST KADAR TSS DAN WARNA BERDASARKAN KETEBALAN UNTUK ARANG AKTIF DARI KAYU TAHUN 2012 No 1 2 3 Variabel Kayu 5 cm dan 10 cm 10 cm dan 15 cm 5 cm dan 15 cm Parameter TSS Warna TSS Warna TSS Warna P Value 0.003 0.039 0.072 0.020 0.026 0.028

Sumber : Program aplikasi komputer SPSS for windows seri 16.0 (2012)

Arang aktif dari kayu dengan ketebalan 5 cm, arang aktif dari kayu dengan ketebalan 10 cm dan arang aktif dari kayu dengan ketebalan 15 cm. Hasil uji untuk kadar TSS dan warna dengan variabel arang aktif dari kayu dengan ketebalan 5 cm dan arang aktif dari kayu dengan ketebalan 10 cm memiliki nilai p value 0,003 untuk TSS dan 0,039 untuk warna, arang aktif dari kayu dengan ketebalan 10 cm dan arang aktif dari kayu dengan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value 0,072 untuk TSS dan 0,020 untuk warna, dan arang aktif dari kayu dengan ketebalan 5 cm dan arang aktif dari kayu dengan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value 0,026 untuk TSS dan 0,028 untuk warna. Nilai p value tersebut menunjukkan bahwa arang aktif dari kayu ketebalan 10 cm dan ketebalan 15 cm nilai p value untuk TSS di atas 0,05 sehingga tidak memiliki Perbedaan. Untuk arang aktif dari kayu ketebalan 5 cm dan ketebalan 10 cm atau arang aktif dari kayu ketebalan 10 cm dan ketebalan 15 cm atau arang aktif dari kayu dengan ketebalan 5 cm dan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value dibawah 0,05 sehingga memiliki perbedaan. Maka artinya ketebalan arang aktif dari kayu memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar TSS dan warna pada air limbah pencelupan benang (Dapat dilihat pada lampiran F). Pada tabel 4.5 terlihat bahwa proses adsorpsi berjalan dengan baik. Terjadi penurunan nilai TSS dan warna yang siknifikan untuk ketebalan 5 cm,
38

10 cm dan 15 cm. Akan tetapi, untuk penurunan TSS pada ketebalan 15 cm tidak siknifikan, keadaan ini disebabkan oleh arang aktif berada pada titik jenuh. Pada pengolahan limbah didapatkan bahwa untuk penurunan kadar TSS didapatkan ketebalan optimum yaitu 10 cm dan untuk penurunan warna 15 cm. c. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif Untuk mengetahui beda antara ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu maka dilakukan uji t-test dengan hasil penurunan kandungan TSS dan warna dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini: Tabel 4.6 HASIL UJI BEDA KETEBALAN ARANG AKTIF TAHUN 2012 No 1 2 3 Variabel 5 cm AATK dan 5 cm AAK 10 cm AATK dan 10 cm AAK 15 cm AATK dan 15 cm AAK
Parameter TSS Warna TSS Warna TSS Warna

P Value
0,009 0,027 0,002 0,004 0,000 0,001

Sumber : Program aplikasi komputer SPSS for windows seri 16.0 (2012)

Keterangan : AATK = Arang aktif Tempurung Kelapa AAK = Arang aktif Kayu Dari hasil uji yang telah dilakukan didapatkan bahwa untuk kadar TSS beda ketebalan antara arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 5 cm dan arang aktif dari kayu ketebalan 5 cm dengan p value 0,009 untuk TSS dan 0,027 untuk warna, arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 10 cm dan arang aktif dari kayu ketebalan 10 cm dengan p value 0,002 untuk TSS dan 0,004 untuk warna, arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 15 cm dan arang aktif dari kayu 15 cm dengan p value 0,000 untuk TSS dan 0,001 unuk warna. Maka dapat dimaknakan bahwa terdapat perbedaan penurunan kadar
39

TSS dan warna antara 3 ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu (Dapat dilihat pada lampiran F). d. Hasil Uji Beda Jenis Arang Aktif Untuk mengetahui beda antara arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu maka dilakukan uji t-test dengan hasil penurunan kadar TSS dan warna yang dapat dilihat pada tabel 4.7 sebagai berikut : Tabel 4.7 HASIL UJI BEDA JENIS ARANG AKTIF TAHUN 2012 Variabel Arang Aktif Tempurung Kelapa dan Arang Aktif Kayu Parameter TSS Warna P Value 0.015 0.081

Sumber : Program aplikasi komputer SPSS for windows seri 16.0 (2012)

Dari hasil uji yang telah dilakukan didapatkan bahwa antara arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu memiliki nilai p value 0,015 untuk TSS dan 0,081 untuk warna. Maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan penurunan kadar TSS yang dipengaruhi oleh jenis arang aktif dan tidak ada perbedaan untuk penurunan kadar warna yang dipengaruhi oleh jenis arang aktif (Dapat dilihat pada lampiran F). B. Pembahasan 1. Uji Sebelum Penyaringan dengan Menggunakan Arang Aktif Air limbah pewarna sintetis yang bersumber dari pabrik tekstil maupun tenun dapat mengakibatkan perubahan warna dan derajat keasaman badan penerima air. Limbah tersebut didominasi oleh pencemaran karena penggunaan zat warna sintetis dalam proses produksinya. Pewarna sintetis memiliki sifat yang sulit terurai di alam. Apalagi umumnya industri kecil dan menengah maupun home industri
40

banyak terdapat didaerah yang dekat dengan Sungai Musi. Sehingga apabila limbah tersebut dibuang ke badan air, maka akan mengakibatkan terjadinya perubahan kualitas air (Agustina dkk, 2011). Sampel yang diambil untuk uji laboratorium yang dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan diambil dari air limbah pencelupan benang di Kecamatan 15 Ulu. Air limbah tersebut melewati ambang batas/kadar maksimum yang ditetapkan oleh Pergub No.18 tahun 2005 dengan kadar maksimum 1,0 mg/l yaitu 82,1 mg/l untuk kadar TSS dan kandungan warna sebesar 930 TCU. Untuk kandungan warna tidak terdapat baku mutu, tetapi warna dapat mempengaruhi kenaikan dan penurunan parameter yang lain dan dapat menyebabkan terjadinya perubahan kualitas air yang ditunjukan dengan meningkatnya kekeruhan air yang disebabkan adanya polusi zat warna, warna tersebut akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan dan menganggu keseimbangan proses fotosintesis serta adanya efek mutagenik dan karsinogen dari zat warna tersebut. Penelitian yang dilakukan sengaja diambil sampel air limbah pencelupan benang yang kandungan TSS dan warna nya cukup tinggi. Masuknya padatan tersuspensi (TSS) ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. TSS yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan dengan cara menghalangi dan mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan air, sehingga menghambat proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air. Pada penelitian ini merupakan salah satu tahap awal pengolahan saja yang bersifat membuktikan apakah arang aktif tersebut dapat menurunkan kandungan TSS dan warna. Secara praktik dalam penelitian ini sudah membuktikan bahwa arang aktif tersebut dapat menurunkan kandungan TSS dan warna pada air limbah pencelupan benang.
41

2. Uji Setelah Penyaringan dengan Menggunakan Arang Aktif a. Uji Kadar TSS dan Warna Setelah Disaring Menggunakan Arang Aktif Tempurung Kelapa Arang tempurung kelapa adalah arang yang dibuat dengan cara karbonisasi dari tempurung kelapa. Tempurung kelapa jika dibandingkan dengan arang jenis lainnya, maka tempurung kelapa yang paling banyak mengandung fixed carbon (Aryafatta, 2008). Makin rendah kadar air, abu, dan zat yang menguap maka makin tinggi pula kadar fixed carbonnya sehingga semakin baik pula mutu dari tempurung kelapa Selain itu tempurung kelapa juga mempunyai daya serap dan absorben yang baik, karena tempurung kelapa sangat cocok untuk pengolahan air (Effendi, 2003). Menurut Mifbakhudin (2010), keuntungan dari pemakaian arang aktif tempurung kelapa adalah : 1) Pengoperasian mudah karena air mengalir dalam media karbon 2) Proses berjalan cepat karena ukuran butiran karbonnya lebih besar 3) Karbon tidak tercampur dengan lumpur sehingga dapat diregenerasi Berdasarkan uji kandungan TSS dan warna setelah penyaringan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dengan 3 kali pengulangan yang telah dilakukan yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa tiap ketebalan mengalami penurunan kandungan TSS dan warna pada arang aktif dari tempurung kelapa pengulangan pertama dengan ketebalan 5 cm nilainya sebesar 43,2 mg/l dan 410 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 33,9 mg/l dan 331 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 24,3 mg/l dan 261 TCU, pengulangan kedua ketebalan 5 cm sebesar 41,2 mg/l dan 428 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 31,9 mg/l dan 348 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 23,1 mg/l dan 260 TCU, pengulangan ketiga ketebalan 5 cm sebesar 36,4 mg/l dan 406 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 29,9 mg/l dan 325 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 21,2 mg/l dan 255 TCU.
42

Pada tabel 4.2 terlihat penurunan kadar TSS dan warna setelah filtrasi dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa tersebut diketahui bahwa terdapat perbedaan penurunan TSS dan warna pada tiap ketebalan saringan arang aktif dari tempurung kelapa yaitu 5 cm, 10 cm, 15 cm. Dari kesemua ketebalan tersebut menunjukan bahwa ketebalan arang aktif dengan penurunan kadar TSS dan warna tertinggi adalah pada ketebalan 15 cm, hal ini dikarenakan penyerapan yang terjadi sesuai dengan metode semakin tinggi ketebalan arang aktif, semakin banyak kontak yang terjadi maka semakin baik hasil yang diperoleh. Selain itu komposisi kimia dan bahan baku karbon aktif pun turut mempengaruhi kemampuan adsorbsi-nya karena semakin rendah kandungan air dalam bahan berarti daya serapnya akan semakin baik, sehingga jika dibandingkan dengan karbon aktif kayu yang kandungan airnya 5-13 %, dan karbon aktif tempurung kelapa lebih rendah kandungan airnya yaitu sekitar 2-5 %. Hal ini menunjukkan bahwa karbon aktif tempurung kelapa mempunyai daya serap lebih baik dibandingkan kayu. b. Uji Kadar TSS dan Warna Setelah Disaring Menggunakan Arang Aktif Kayu Arang aktif dapat dihasilkan melalui komposisi kayu dan dapat digunakan sebagai adsorben warna dan larutan Adanya penurunan kadar limbah cair setelah melalui media saring karbon disebabkan adanya proses adsorbsi terhadap kadar limbah cair oleh karbon aktif. Adsorbsi terjadi karena adanya gaya tarik menarik yang lemah (Van der walls) antar partikel (Nayoan, 2006) Berdasarkan uji kandungan TSS dan warna setelah penyaringan menggunakan arang aktif kayu dengan 3 kali pengulangan yang telah dilakukan yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa tiap ketebalan mengalami penurunan kandungan TSS dan warna pada arang aktif kayu pengulangan pertama dengan ketebalan 5 cm nilainya sebesar 64,4 mg/l
43

dan 452 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 62,4 mg/l dan 444 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 59,4 mg/l dan 432 TCU, pengulangan kedua ketebalan 5 cm sebesar 61,7 mg/l dan 481 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 59,6 mg/l dan 466 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 58,6 mg/l dan 449 TCU, pengulangan ketiga ketebalan 5 cm sebesar 63,9 mg/l dan 480 TCU, ketebalan 10 cm sebesar 61,6 mg/l dan 463 TCU, ketebalan 15 cm sebesar 58,7 mg/l dan 443 TCU. Hasil tersebut menunjukkan angka penurunan kadar TSS dan warna yang berbeda-beda, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor ketebalan arang aktif yang digunakan. Ketebalan arang aktif yang paling tinggi yang mempengaruhi penurunan kadar TSS dan warna yang paling banyak. Secara teoritis semakin tinggi ketebalan arang aktif maka semakin besar penurunan yang dihasilkan. Penurunan kadar TSS dan warna sebelum dan sesudah melalui media arang aktif menunjukkan bahwa penurunan tertinggi terjadi pada arang aktif dari tempurung kelapa. 3. Uji Statistik Setelah Penyaringan Menggunakan Arang Aktif a. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Penyerapan zat zat oleh tempurung kelapa (karbon) penyerapannya bersifat selektif dan yang diserap hanya zat terlarut atau pelarut saja. Bila dalam larutan ada lebih satu zat terlarut maka zat yang satu akan diserap lebih kuat dari zat yang lain. Secara uji statistik dengan menggunakan uji beda berpasangan (T-test Paired), untuk uji beda ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 5 cm dan arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 10 cm memiliki nilai p value TSS 0,012 dan p value warna 0,000, dan arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 10 cm dan arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 15 cm memiliki nilai p value TSS 0,001 dan p value warna 0,006, arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 5 cm dan arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 15 cm memiliki nilai p value TSS 0,004 dan p value warna 0,001.
44

Hasil tersebut menyatakan bahwa nilai p value dibawah 0,05, sehingga untuk arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 5 cm dan ketebalan 10 cm atau arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 10 cm dan ketebalan 15 cm atau arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 5 cm dan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value dibawah 0,05 sehingga memiliki perbedaan penurunan. Maka dapat disimpulkan bahwa arang aktif dari tempurung kelapa memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar TSS dengan ketebalan optimum 15 cm dan penurunan warna dengan ketebalan 10 cm. b. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif dari Kayu Arang aktif dapat dihasilakan melalui komposisi kayu dan dapat digunakan sebagai adsorben warna dan larutan. Penggunaan dengan ketebalan media arang aktif yang berbeda dalam penelitian ini didasarkan dari penelitian Oktaviany, bahwa semakin tebal media maka akan semakin baik kualitas air yang dihasilkan. Secara uji statistik dengan menggunakan uji beda berpasangan (T-test Paired), untuk uji beda ketebalan arang aktif dari kayu ketebalan 5 cm dan arang aktif dari kayu ketebalan 10 cm memiliki nilai p value TSS 0,003 dan p value warna 0,039, dan arang aktif dari kayu ketebalan 10 cm dan arang aktif dari kayu ketebalan 15 cm memiliki nilai p value TSS 0,072 dan p value warna 0,020, arang aktif dari kayu ketebalan 5 cm dan arang aktif dari kayu ketebalan 15 cm memiliki nilai p value TSS 0,026 dan p value warna 0,028. Hasil tersebut menyatakan bahwa nilai p value dibawah 0,05, sehingga untuk arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 5 cm dan ketebalan 10 cm atau arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 10 cm dan ketebalan 15 cm atau arang aktif dari tempurung kelapa dengan ketebalan 5 cm dan ketebalan 15 cm memiliki nilai p value dibawah 0,05 sehingga memiliki perbedaan penurunan. Akan tetapi untuk arang aktif dari kayu dengan ketebalan 10 cm dan arang aktif dari kayu dengan ketebalan 15 cm tidak memiliki perbedaan.
45

Maka dapat disimpulkan bahwa arang aktif dari kayu memiliki pengaruh terhadap penurunan kadar TSS dengan ketebalan optimum 10 cm dan penurunan warna ketebalan 15 cm. Partikel-partikel arang aktif yang ditempatkan pada suatu tempat dan cairan yang akan diserap dialirkan melewati arang aktif tersebut sehingga terjadi proses penyerapan (adsorpsi) pada akhirnya arang aktif tersebut mendekati atau menjadi jenuh dan penyerapan yang dikehendaki tidak dapat berlangsung lagi. Hal itu terjadi karena karbon aktif mempunyai ruang pori yang sangat banyak dengan ukuran tertentu. Pori-pori ini pada akhirnya akan jenuh dengan partikelpartikel sangat halus (molekul) dan menjebaknya disana. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa saja yang kontak dengan karbon tersebut, baik di air maupun di udara. Apabila dibiarkan di udara terbuka, maka dengan segera akan menyerap debu halus yang terkandung diudara (polusi). c. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif Secara teoritis, semakin tinggi ketebalan arang aktif maka semakin besar penurunan yang dihasilkan. Penggunaan arang aktif memberikan pengaruh terhadap penurunan kadar TSS dan warna air limbah pencelupan benang. Hal ini berkaitan dengan komposisi kimia pada bahan baku arang aktif. Adanya kandungan selulosa, pentosan dan lignin serta zat ekstraktif pada bahan arang aktif yang mempengaruhi kemampuan daya serap arang aktif. Semakin besar komposisi kimia tersebut semakin baik daya serap arang aktif. Hal ini terlihat pada penurunan kadar TSS dan warna sesudah penyaringan dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dibandingkan dengan arang aktif dari kayu. Secara uji statistika dengan menggunakan uji beda berpasangan (T-Test Paired), untuk beda ketebalan antara arang aktif dari tempurung kelapa ketebalan 5 cm dan arang aktif dari kayu ketebalan 5 cm dengan p value 0,009 untuk TSS dan p value 0,027 untuk warna, arang aktif dari tempurung kelapa
46

ketebalan 10 cm dan arang aktif dari kayu ketebalan 10 cm dengan p value 0,002 untuk TSS dan p value 0,004 untuk warna, arang aktif dari tempurung kelapa 15 cm dan arang aktif dari kayu 15 cm dengan p value 0,000 untuk TSS dan p value 0,001 untuk warna. Hasil uji statistik tersebut menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam penurunan kadar TSS dan warna pada ketiga ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dan ketiga ketebalan arang aktif dari kayu pada air limbah industri pencelupan benang. Maka dapat dimaknakan bahwa terdapat perbedaan penurunan kadar TSS dan warna antara 3 ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu. d. Hasil Uji Beda Jenis Arang Aktif Ditinjau dari komposisi kimiawi tempurung kelapa mengandung 27,32% selulosa, 18 21% pentosan, 34 37 % lignin, zat ekstraktif 5 6%, sedangkan komposisi kimiawi kayu mengandung 37 40% selulosa, 7 20 % pentosan, 17 30 % lignin, zat ekstraktif 3 8 %. Selain komposisi kimia, bahan baku karbon aktif pun turut mempengaruhi kemampuan adsorbsi-nya karena semakin rendah kandungan air dalam bahan berarti daya serapnya akan semakin baik, sehingga jika dibandingkan dengan karbon aktif kayu yang kandungan airnya 5-13 %, dan karbon aktif tempurung kelapa lebih rendah kandungan airnya yaitu sekitar 2-5 %. Kandungan selulosa amorf kering dapat menyerap air menjadi lebih lembut dan fleksibel. Kadar pentosan yang tinggi dapat menurunkan rendemen arang karena pentosan merupakan polimer yang rantainya lebih pendek di banding seluosa dan lignin. Lignin adalah bahan aromatik yang tidak larut pada hampir semua pelarut. Struktur kimia lignin cukup kompleks dan terdiri dari rantai panjang seperti selulosa. Zat ekstraktif adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti eter, alkohol, bensin dan air.
47

Secara uji statistika dengan menggunakan uji beda berpasangan (T-Test Paired), untuk uji beda jenis arang aktif antara arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu memiliki nilai p value 0,015 untuk TSS dan 0,081 untuk warna. Hasil uji statistik menyatakan bahwa ada perbedaan penurunan kadar TSS yang dipengaruhi oleh jenis arang aktif dan tidak ada perbedaan untuk penurunan kadar warna yang dipengaruhi oleh jenis arang aktif.

48

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dalam penelitian ini didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada perbedaan kadar TSS dan warna pada saat sebelum dan sesudah penyaringan dengan menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dengan berbagai ketebalan. Sebelum perlakuan TSS sebesar 82,1 mg/l dan warna sebesar 930 TCU, sesudah penyaringan TSS sebesar 22,9 mg/l dan warna sebesar 258,7 TCU. 2. Ketebalan optimum untuk arang aktif dari tempurung kelapa terhadap penurunan kadar TSS dengan ketebalan 15 cm dan penurunan warna dengan ketebalan 10 cm. Ketebalan optimum untuk arang aktif dari kayu terhadap penurunan kadar TSS dengan ketebalan 10 cm dan penurunan warna dengan ketebalan 15 cm. 3. Ada perbedaan pengaruh dari penggunaan jenis arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu terhadap penurunan kadar TSS dan tidak ada perbedaan pengaruh dari penggunaan jenis arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu terhadap penurunan warna. 4. Ada perbedaan pengaruh ketebalan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu terhadap penurunan kadar TSS dan warna dengan ketebalan 5 cm, 10 cm, 15 cm. B. Saran 1. Disarankan untuk menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu dalam menurunkan kadar TSS dan warna pada air limbah pencelupan benang. 2. Untuk melihat penurunan kadar TSS dan warna yang lebih baik tidak hanya menggunakan ketebalan arang aktif saja namun juga harus dilakukan pengukuran berat arang aktif dengan timbangan.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemampuan arang aktif dalam adsorpsi untuk mengetahui berapa debit air yang digunakan.

50

DAFTAR PUSTAKA Agustina Tuty E., dkk, Pengolahan Air Limbah Pewarna Sintetis dengan Menggunakan Reagen Fenton, Jurnal Rekayasa Sriwijaya, Palembang, 2011 Aryafatta, Meningkatkan Nilai Arang Tempurung Menjadi Karbon Aktif, http://aryafatta.wordpress.com/?s=tempurung+kelapa, 2008, diakses pada tanggal 28 April 2012 Badan Pusat Statistik, Palembang Dalam Angka Tahun 2011, Badan Pusat Statistik, Palembang, 2011 Cek Mala Songket, Palembang, 2012 Chandra, Budiman, Pengantar Kesehatan Lingkungan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2007 Departemen Kesehatan RI, Undang Undang No. 36 tentang Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2009 Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Direktori Perusahaan Industri Kecil dan Menengah Pangan Se-Sumatera Selatan, Dinas Perindustrian Perdagangan, Palembang, 2012 Efendi, Telaah Kualitas Air, Kanisius, Yogyakarta, 2003 Ginting, MS, Perdana, Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri, Yrama Widya, Bandung, 2008 Hartono, Bambang, Promosi Kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit, Rineka Cipta, Jakarta, 2010 Jannatin, Raditya Derifa dkk, Uji Efisiensi Removal Adsorpsi Arang Batok Kelapa Untuk Mereduksi Warna Dan Permanganat Value Dari Limbah Cair Industri Batik, Surabaya, 2011 Junaidi, Bima Patria Hatmanto, Analisis Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri Tekstil, Program Studi Teknik Lingkungan FT Undip, 2006 Mifbakhudin, Pengaruh Ketebalan Karbon Aktif Sebagai Media Filter Terhadap Penurunan Kesadahan Air Sumur Artetis, Universitas Muhamadiyah Semarang, 2010, https://:www.kopertis6.or.id/journal/index.php/eks/article/download/15/13, diakses pada tanggal 09 Agustus 2012 Nayoan, Christina Rony dan Noorce Christiani Berek, Perbedaan Efektifitas Karbon Aktif Tempurung Kelapa dan Arang Kayu Dalam Menurunkan Tingkat Kekeruhan Pada

Proses Filtrasi Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu, FKM Undana, Semarang, 2006 Notoadmodjo, Soekidjo, Kesehatan Masyarakat, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2011 Nugroho, Rudi dan Ikbal, Pengolahan Air Limbah Berwarna Industri Tekstil dengan AOPs, 2005 Panca, Ali, Penjernihan Air dengan Menggunakan Alat Filtrasi Sederhana, 2011, http://www.scribd.com/doc/86823295/FILTRASI, diakses pada tanggal 07 Juni 2012 Rismiati, Proses Penurunan Kandungan Phospat ( PO4) Pada Air Limbah Rumah Tangga Dengan Menggunakan Karbon Aktif Dari Jenis Tempurung Kelapa Dan Karbon Aktif Dari Jenis Kayu, Akademi Kesehatan Lingkungan, Palembang, 2010 Rumidatul, Alfi, Efektivitas Arang Aktif Sebagai Adsorben Pada Pengolahan Air Limbah, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2006 Said, Nusa Idaman, Pengolahan Air Limbah Industri Kecil Tekstil dengan Proses Biofilter Anaerob-Aerob Tercelup Menggunakan Media Plastik Sarang Tawon, Jurnal Teknologi Lingkungan, Palembang, 2002 Said, Muhammad, Pengolahan Limbah Cair dengan Metoda Filtrasi dan Adsorpsi, 2008 Sembiring, Meilita Triyana dan Sinaga, Tuti Sarma, Arang Aktif, Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, 2003 http://www.scribd.com/ciwingh/d/3627041-Arang-Aktif, diakses pada tanggal 30 April 2012 Sinartani, Arang Aktif Meningkatkan Kualitas Lingkungan, Badan Litbang Pertanian, 2011 Sugiharto, Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah, UI. Press, Jakarta, 2008 Suryono, Tri, Penggunaan Arang Tempurung Kelapa Sebagai Alternatif Pengganti Arang Aktif, Warta Limnologi, 2003 Wikipedia Bahasa Indonesia, Karbon Aktif, 2012, id.wikipedia.org/wiki/karbon_aktif, diakses pada tanggal 18 April 2012 _________________________, Pigmen, diakses pada tanggal 19 April 2012 2012, http://id.wikipedia.org/wiki/Pigmen, http://id.wikipedia.org/wiki/Teori

_________________________, Teori Brewster, Brewster, diakses pada tanggal 19 April 2012

_________________________, Warna, 2012, http://id.wikipedia.org/wiki/Warna, diakses pada tanggal 19 April 2012

Wikipedia Terjemahan, Jumlah Total Padatan Tersuspensi, http://translate.google.co.id, diakses pada tanggal 19 April 2012 Yuniarto, A., Studi Kemampuan Batu Bara Untuk Menurunkan Konsentrasi Surfaktan Dalam Larutan Deterjen Dengan Proses Adsorpsi, Tugas Akhir Teknik Lingkungan, Surabaya 1999, diakses pada tanggal 22 Juli 2011

Lampiran A

Lampiran B

LAMPIRAN C

TEKNIK SAMPLING DAN PEMERIKSAAN SAMPEL A. Teknik Sampling 1. Persiapan Alat dan Bahan a. Alat 1) Menyiapkan ember plastik ukuran 20 L, stop kran ukuran , pipa PVC ukuran dan 2, turunan ukuran x 2, elbow ukuran dan sok drat ukuran 2) Buat lubang pada bagian samping ember untuk memasang filtrasi, pasang sok drat pada lubang ember, pasang pipa PVC sepanjang 5 cm pada sisi stop kran, dan sambungkan stop kran ke sok drat dan elbow lalu pasang pipa PVC. b. Bahan 1) Siapkan kawat kasa berukuran 5 cm x 5 cm sebanyak delapan belas buah 2) Siapkan arang aktif dari tempurung kelapa dan arang aktif dari kayu bentuk granul/butiran 3) Masukkan masing-masing arang aktif tersebut kedalam pipa PVC dengan ketebalan 5 cm, 10 cm dan 15 cm. 4) Siapkan cup air mineral dan kantong plastik serta label dan alat tulis. 2. Pengambilan Sampel a. Sediakan jerigen air berukuran, bersihkan terlebih dahulu agar tidak ada bahan pengkontaminasi lain yang mempengaruhi kadar TSS dan warna. b. Ambil air limbah hasil proses pencelupan benang songket yang akan dibuang dan masukkan kedalam jerigen. c. Tutup hingga rapat jerigen yang telah terisi air limbah. 3. Filtrasi Arang Aktif a. Tutup rapat kran air penyaringan b. Masukkan air limbah hasil proses pencelupan benang songket ke dalam ember c. Buka secara perlahan kran air penyaringan agar air limbah mengalir ke saringan arang aktif.

d. Tampung air limbah yang keluar dari saringan dengan menggunakan cup air mineral. e. Masukkan air limbah yang telah ditampung tadi kedalam kantung plastik, ikat dan beri label, misal: ketebalan 5 cm pengulangan 1 f. Setelah semua air limbah di saring dan di masukkan ke dalam kantung plastik, air tersebut di bawa ke Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Palembang untuk dilakukan uji laboratorium. B. Pemeriksaan Sampel 1. TSS a. Persiapan Alat dan Bahan 1) Alat a) Desikator yang berisi silika gel b) Oven, untuk pengoperasian pada suhu 103 oC sampai dengan 105 oC c) Timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg d) Pengaduk magnetic e) Pipet volum 2) Bahan a) Kertas Saring (glass-fiber filter) dengan beberapa jenis: (1) Whatman Grade 934 AH, dengan pori (Particle Retention) 1,5m (Standar for TSS in water analysis) (2) Gelman type A/E, dengan ukuran pori (Particle Retention) 1,0 m (Standar filter for TSS/TDS testing in sanitary water analysis procedures) (3) E-D Scientific Specialities grade 161 (VWR brand grade 161) dengan ukuran pori (Particle Retention) 1,1 m (Recommended for use in TSS/TDS testing in water and wastewater) (4) Saringan dengan ukuran pori 0,45 m b) Air Suling

b. Persiapan Pengujian 1) Letakkan kertas saring atau cawan Gooch pada peralatan filtrasi. Pasang vakum dan qadah pencuci dengan air suling berlebih 20 mL. Lanjutkan penyedotan untuk menghilangkan semua sisa air, matikan vakum dan hentikan pencucian 2) Pindahkan kertas saring dari peralatan filtrasi ke wadah timbang aluminium. Jika digunakan cawan Gooch dapat langsung dikeringkan 3) Keringkan dalam oven pada suhu 103oC sampai dengan 105oC selama 1 jam, dinginkan dalam desikator kemudian timbang. 4) Ulangi langkah pada butir 3) sampai diperoleh berat konstan atau sampai perubahan berat lebih kecil dari 4% terhadap penimbangan sebelumnya atau lebih kecil dari 0,5 mg c. Prosedur Kerja 1) Lakukan penyaringan dengan peralatan vakum. Basahi saringan dengan sedikit air suling 2) Aduk contoh uji dengan pengaduk magnetic untuk memperoleh contoh uji yang lebih homogen 3) Pipet contoh uji dengan volume tertentu, pada waktu contoh uji diaduk denga penaduk magnetic 4) Cuci kertas saring atau saringan dengan 3 x 10 mL air suling, biarkan kering sempurna dan lanjutkan penyaringan dengan vakum selama 3menit agar diperoleh penyaringan sempurna. Contoh uji dengan padatan terlarut tang tinggi memerlukan pencucian tambahan 5) Pindahkan kertas saring secara hati-hati dari peralatan penyaring dan pindahkan ke wadah timbang aluminium sebagai penyangga. Jika digunakan cawan Gooch pindahkan cawan dari rangkaian alatnya 6) Keringkan dalam oven setidaknya selama 1 jam pada suhu 103oC sampai dengan 105oC, dinginkan dalam desikator untuk menyeimbangkan suhu dan timbang

7) Ulangi tahapan pengeringan, pendinginan dalam desikator dan lakukan penimbangan sampai diperoleh berat konstan atau sampai perubahan berat lebih kecil dari 4% terhadap penimbangan sebelumnya atau lebih kecil dari 0,5 mg d. Cara Kerja Alat 1) Hidupkan alat Spektroquant Nova 60A 2) Tekan MENU atau ENTER 3) Pilih PARAMETER METODE, kemudian tekan ENTER 4) Masukkan kode Metode yang akan digunakan dengan menekan tombol numeric 0 9 5) Tekan KONSENTRASI (tombolll [aaaling atas) 6) Masukkan kuvet berisi sampel 7) Tekan ENTER, pada display akan muncul PROSES PENGUKURAN 8) Hasil akan muncul pada display 2. Warna a. Persiapan alat dan bahan 1) Alat a) Tabung Nessler 50 mL; b) Neraca analitik; c) Labu ukur 100 mL. 2) Bahan a) Air suling; b) Larutan induk warna 500 unit Pt-Co; c) Larutan 1,246 g kalium kloro platina, k 2PtCl6 yang ekivalen dengan 500 mg logam platina dan 1,0 g kobal klorida, CoCl 2.6H2O yang ekivalen dengan 250 mg logam kobal; d) Larutan baku dengan unit warna 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, 60, 70.

e) Ambil secara kuantitatif larutan induk 500 unit Pt-Co masing-masing sebanyak 0,5 mL; 1,0 mL; 1,5 mL; 2,0 mL; 2,5 mL; 3,0 mL; 3,5 mL; 4,0 mL; 4,5 mL; 5,0 mL; 6,0 mL; 7,0 mL kemudian diencerkan dengan air suling menjadi 50 mL di dalam tabung Nesseler. b. Prosedur kerja 1) Masukan contoh ke dalam tabung Nessler 50 mL; 2) Tempatkan tabung Nessler ditempatkan pada alas yang berwarna putih; 3) Bandingkan warna contoh secara visual dengan larutan baku dimulai dari larutan baku paling encer; 4) Tetapkan warna contoh sesuai dengan skala warna larutan baku yang paling mendekati atau berada diantara dua skla larytan baku; 5) Apabila warna lebih dari 70 unit Pt-Co, dilakukan pengenceran langsung pada tabung Nessler.

Lampiran D CARA PENGOLAHAN DATA STATISTIK DENGAN MENGGUNAKAN KOMPUTER FOR WINDOWS A. Analisa 2 Mean (T-Test dependent) 1. Buka program SPSS 2. Klik variabel view 3. Ketik pada kolom name baris ke 1, contoh : T5AT 4. Pilih numeric pada variable type dan pilih 2 pada variable decimal 5. Ketik pada kolom label, contoh : TSS Arang Aktif Tempurung Kelapa 5 cm 6. Ketik pada kolom name baris ke 2, contoh : T5AK 7. Piliih numeric pada variable type dan pilih 2 pada variable decimal 8. Ketik pada kolom label, contoh : TSS Arang Aktif Kayu 5 cm 9. Klik data view 10. Ketik pada kolom T5AT sebanyak jumlah data yang didapatkan sesuai dengan value-nya 11. Ketik pada kolom T5AK sebanyak jumlah data yang didapatkan sesuai dengan value-nya. 12. Klik Analyze, Pilih Compare Means, Pilih Paired Samples T Test 13. Klik TSS Arang Aktif Tempurung Kelapa 5 cm, untuk variable 1 lalu masukan pada Paired Variabel dengan mengeklik tanda 14. Klik TSS Arang Aktif Kayu 5 cm, untuk variable 2 lalu masukan pada Paired Variabel dengan mengeklik tanda 15. Klik options, pilih Confidence Interval 95%, Pilih Continue 16. Klik OK

Lampiran E

Lampiran F

HASIL PERHITUNGAN STATISTIK EFEKTIFITAS PENURUNAN KADAR TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DAN WARNA AIR LIMBAH PENCELUPAN BENANG DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA (AAT.KELAPA) DAN ARANG AKTIF DARI KAYU (AA.KAYU)

1. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif dari Tempurung Kelapa a. Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Ketebalan 5 cm dan 10 cm T-Test
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS, 5 cm AAT.Kelapa TSS, 10 cm AAT.Kelapa Pair 2 Warna, 5 cm AAT.Kelapa Warna, 10 cm AAT.Kelapa 40.267 31.900 414.67 334.67 N 3 3 3 3 Std. Deviation 3.4948 2.0000 11.719 11.930 Std. Error Mean 2.0177 1.1547 6.766 6.888

Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS, 5 cm AAT.Kelapa & TSS, 10 cm AAT.Kelapa Pair 2 Warna, 5 cm AAT.Kelapa & Warna, 10 cm AAT.Kelapa 3 Correlation .973 Sig. .149

3
Paired Samples Test

.997

.053

Paired Differences Std. Mean Pair 1 TSS,5cm AAT.Kelapa TSS,10cm AAT.Kelapa Pair 2 Warna,5cm AAT.Kelapa Warna,10cm AATKelapa 8.3667 Deviation 1.6166 Std. Error Mean .9333 95% Confidence Interval of the Difference Lower 4.3509 Upper 12.3825 t 8.964 df 2 Sig. (2tailed) .012

80.000

1.000

.577

77.516

82.484

138.564

.000

b. Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Ketebalan 10 cm dan 15 cm T-Test


Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS, 10 cm AAT.Kelapa TSS, 15 cm AAT.Kelapa Pair 2 Warna, 10 cm AAT.Kelapa Warna, 15 cm AAT.Kelapa 31.900 22.867 334.67 258.67 N 3 3 3 3 Std. Deviation 2.0000 1.5631 11.930 3.215 Std. Error Mean 1.1547 .9025 6.888 1.856

Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS, 10 cm AAT.Kelapa & TSS, 15 cm AAT.Kelapa Pair 2 Warna, 10 cm AAT.Kelapa & Warna, 15 cm AAT.Kelapa 3 Correlation .992 Sig. .083

3
Paired Samples Test

.582

.604

Paired Differences Std. Deviati Std. Error Mean Pair 1 Pair 2 TSS,10cm AAT.Kelapa - TSS, 15 cm AAT.Kelapa Warna, 10 cm AAT.Kelapa Warna, 15 cm AAT.Kelapa 9.0333 on .4933 Mean .2848 Lower 7.8079 95% Confidence Interval of the Difference Upper t df 2 Sig. (2tailed) .001

10.2587 31.718

76.000 10.392

6.000

50.184

101.816 12.667

.006

c. Arang Aktif dari Tempurung Kelapa Ketebalan 5 cm dan 15 cm T-Test


Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS, 5 cm AAT.Kelapa TSS, 15 cm AAT.Kelapa Pair 2 Warna, 5 cm AAT.Kelapa Warna, 15 cm AAT.Kelapa 40.267 22.867 414.67 258.67 N 3 3 3 3 Std. Deviation 3.4948 1.5631 11.719 3.215 Std. Error Mean 2.0177 .9025 6.766 1.856

Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS, 5 cm AAT.Kelapa & TSS, 15 cm AAT.Kelapa Pair 2 Warna, 5 cm AAT.Kelapa & Warna, 15 cm AAT.Kelapa 3 Correlation .995 Sig. .066

3
Paired Samples Test

.513

.657

Paired Differences Std. Deviati Std. Error Mean Pair 1 Pair 2 TSS, 5 cm AAT.Kelapa - TSS, 15 cm AAT.Kelapa Warna, 5 cm AAT.Kelapa Warna, 15 cm AAT.Kelapa on Mean 1.1240 95% Confidence Interval of the Difference Lower 12.5639 Upper t df 2 Sig. (2tailed) .004

17.4000 1.9468

22.2361 15.481

156.000 10.440

6.028

130.065

181.935 25.880

.001

2. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif dari Kayu a. Arang Aktif dari Kayu Ketebalan 5 cm dan 10 cm T-Test
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS, 5 cm AAKayu TSS, 10 cm AAKayu Pair 2 Warna, 5 cm AAKayu 5cm Warna, 10 cm AAKayu 63.500 61.200 471.00 457.67 N 3 3 3 3 Std. Deviation 1.6371 1.4422 16.462 11.930 Std. Error Mean .9452 .8327 9.504 6.888

Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS, 5 cm AAKayu & TSS, 10 cm AAKayu Pair 2 Warna, 5 cm AAKayu 5cm & Warna, 10 cm AAKayu 3 Correlation 1.000 Sig. .019

.995

.061

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of Std. Mean Pair 1 Pair 2 TSS, 5 cm AAKayu - TSS, 10 cm AAKayu Warna, 5 cm AAKayu 5cm Warna, 10 cm AAKayu 2.3000 Deviation .2000 Std. Error Mean .1155 the Difference Lower 1.8032 Upper t df 2 Sig. (2tailed) .003

2.7968 19.919

13.333

4.726

2.728

1.594

25.073

4.887

.039

b. Arang Aktif dari Kayu Ketebalan 10 cm dan 15 cm T-Test


Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS, 10 cm AAKayu TSS, 15 cm AAKayu Pair 2 Warna, 10 cm AAKayu Warna, 15cm AAKayu 61.200 58.900 457.67 441.33 N 3 3 3 3 Std. Deviation 1.4422 .4359 11.930 8.622 Std. Error Mean .8327 .2517 6.888 4.978

Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS, 10 cm AAKayu & TSS, 15 cm AAKayu Pair 2 Warna, 10 cm AAKayu & Warna, 15cm AAKayu 3 Correlation .795 Sig. .415

.974

.146

Paired Samples Test Paired Differences Std. Mean Pair 1 TSS, 10 cm AAKayu TSS, 15 cm AAKayu Pair 2 Warna, 10 cm AAKayu Warna, 15cm AAKayu 2.3000 Deviation 1.1269 Std. Error Mean .6506 95% Confidence Interval of the Difference Lower -.4995 Upper 5.0995 t 3.535 df 2 Sig. (2tailed) .072

16.333

4.041

2.333

6.294

26.373

7.000

.020

c. Arang Aktif dari Kayu Ketebalan 5 cm dan 15 cm T-Test


Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS, 5 cm AAKayu TSS, 15 cm AAKayu Pair 2 Warna, 5 cm AAKayu 5cm Warna, 15cm AAKayu 63.500 58.900 471.00 441.33 N 3 3 3 3 Std. Deviation 1.6371 .4359 16.462 8.622 Std. Error Mean .9452 .2517 9.504 4.978

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 TSS, 5 cm AAKayu & TSS, 15 cm AAKayu Warna, 5 cm AAKayu 5cm & Warna, 15cm AAKayu 3 3
Paired Samples Test Paired Differences Std. Deviati Std. Error Mean Pair 1 TSS, 5 cm AAKayu - TSS, 15 cm AAKayu Pair 2 Warna, 5 cm AAKayu 5cm - Warna, 15cm AAKayu on Mean .7550 95% Confidence Interval of the Difference Lower 1.3516 Upper 7.8484 t 6.093 df 2 Sig. (2tailed) .026

Correlation .813 .948

Sig. .396 .207

4.6000 1.3077

29.667

8.737

5.044

7.963

51.370

5.881

.028

3. Uji Beda Ketebalan Arang Aktif a. Arang Aktif dari Tempurung Kelapa 5 cm dan Arang Aktif dari Kayu 5 cm T-Test
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS,5cm AAT.Kelapa TSS, 5 cm AAKayu Pair 2 Warna,5cm AAT.Kelapa Warna, 5 cm AAKayu 40.267 63.500 414.67 471.00 N 3 3 3 3 Std. Deviation 3.4948 1.6371 11.719 16.462 Std. Error Mean 2.0177 .9452 6.766 9.504

Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS,5cm AAT.Kelapa & TSS, 5 cm AAKayu Pair 2 Warna,5cm AAT.Kelapa & Warna, 5 cm AAKayu 3 Correlation .077 Sig. .951

.373

.757

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of Std. Mean Pair 1 TSS,5cm AAT.Kelapa TSS, 5 cm AAKayu Pair 2 Warna,5cm AAT.Kelapa Warna, 5 cm AAKayu -23.2333 Deviation 3.7434 Std. Error Mean 2.1613 the Difference Lower -32.5326 Upper -13.9341 t -10.750 df 2 Sig. (2tailed) .009

-56.333

16.258

9.387

-96.721

-15.945

-6.001

.027

b. Arang Aktif dari Tempurung Kelapa 10 cm dan Arang Aktif dari Kayu 10 cm T-Test
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS,10cm AAT.Kelapa TSS, 10 cm AAKayu Pair 2 Warna,10cm AAT.Kelapa Warna, 10 cm AAKayu 31.900 61.200 334.67 457.67 N 3 3 3 3 Std. Deviation 2.0000 1.4422 11.930 11.930 Std. Error Mean 1.1547 .8327 6.888 6.888

Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS,10cm AAT.Kelapa & TSS, 10 cm AAKayu Pair 2 Warna,10cm AAT.Kelapa & Warna, 10 cm AAKayu 3 Correlation .277 Sig. .821

.385

.748

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of Std. Mean Pair 1 TSS,10cm AAT.Kelapa TSS, 10 cm AAKayu Pair 2 Warna,10cm AAT.Kelapa Warna, 10 cm AAKayu -29.3000 Deviation 2.1166 Std. Error Mean 1.2220 the Difference Lower -34.5579 Upper -24.0421 t -23.977 df 2 Sig. (2tailed) .002

-123.000

13.229

7.638

-155.862

-90.138

-16.104

.004

c. Arang Aktif dari Tempurung Kelapa 15 cm dan Arang Aktif dari Kayu 15 cm T-Test
Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS,15cm AAT.Kelapa TSS, 15 cm AAKayu Pair 2 Warna,15cm AAT.Kelapa Warna, 15cm AAKayu 22.867 58.900 258.67 441.33 N 3 3 3 3 Std. Deviation 1.5631 .4359 3.215 8.622 Std. Error Mean .9025 .2517 1.856 4.978

Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 TSS,15cm AAT.Kelapa & TSS, 15 cm AAKayu Warna,15cm AAT.Kelapa & Warna, 15cm AAKayu 3 3
Paired Samples Test Paired Differences Std. Deviation 1.2858 Std. Error Mean .7424 95% Confidence Interval of the Difference Lower -39.2275 Upper -32.8392 t -48.538 df 2 Sig. (2tailed) .000

Correlation .719 -.319

Sig. .489 .793

Mean Pair 1 Pair 2 TSS,15cm AAT.Kelapa TSS, 15 cm AAKayu Warna,15cm AAT.Kelapa Warna, 15cm AAKayu -36.0333

-182.667

10.116

5.840

-207.796

-157.537

-31.276

.001

d. Hasil Uji Beda Jenis Arang Aktif T-Test


Paired Samples Statistics Mean Pair 1 TSS Arang Tempurung Kelapa TSS Arang Kayu Pair 2 Warna Arang Tempurung Kelapa Warna Arang Kayu 31.667 61.200 336.033 456.667 Paired Samples Correlations N Pair 1 TSS Arang Tempurung Kelapa & TSS Arang Kayu Pair 2 Warna Arang Tempurung Kelapa & Warna Arang Kayu 3 Correlation 1.000 Sig. .015 N 3 3 3 3 Std. Deviation 8.6524 2.3000 78.0085 14.8769 Std. Error Mean 4.9954 1.3279 45.0383 8.5892

.997

.048

Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Mean Pair TSS Arang 1 Tempurung Kelapa TSS Arang Kayu Pair Warna Arang 2 Tempurung Kelapa Warna Arang Kayu -1.2063E2 63.1833 36.4789 -277.5892 36.3226 -3.307 2 .081 -29.5333 6.3532 3.6680 -45.3156 -13.7511 -8.052 2 .015 Deviation Std. Error Mean Difference Lower Upper t df Sig. (2tailed)

Lampiran G

GAMBAR PERALATAN DAN BAHAN PENELITIAN EFEKTIFITAS PENURUNAN KADAR TSS DAN WARNA AIR LIMBAH PENCELUPAN BENANG DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG AKTIF DARI KAYU

Gambar 1 Arang Aktif dari Tempurung Kelapa

Gambar 2 Arang Aktif Dari Kayu

Gambar 3 Alat Ukur TSS

Gambar 4 Alat Ukur Warna

C6 B6

C5

C4

C3

C2

C1

B5

B4

B3

A6

B2

B1

A5

A4

A3

A2

A1

Gambar 5 Alat Filtrasi Arang Aktif KETERANGAN : A1, A2, A3 : Arang aktif dari Tempurung Kelapa dengan ketebalan 5 cm B1, B2, B3 : Arang aktif dari Tempurung Kelapa dengan ketebalan 10 cm C1, C2, C3 : Arang aktif dari Tempurung Kelapa dengan ketebalan 15 cm A4, A5, A6 B4, B5, B6 C4, C5, C6 : Arang aktif dari Kayu dengan ketebalan 5 cm : Arang aktif dari Kayu dengan ketebalan 10 cm : Arang aktif dari Kayu dengan ketebalan 15 cm