Anda di halaman 1dari 5

Etika Bisnis Konstruksi di Indonesia

M. Indera Perdana (25011322), Asoka Setia Kusuma Jaya (25012070), dan Hardiansyah (25012034) Construction Management and Engineering, Bandung Institute of Technology, Indonesia

1.

Pendahuluan

Seiring dengan pertumbuhan bisnis industri konstruksi di Indonesia yang terus tumbuh hingga kisaran 8,6 % dari Produk Domestik Bruto Nasional atau setara dengan Rp. 52,3 Triliun pada triwulan II 2006 (BPS, 2006b), kasus kasus yang berhubungan dengan pelanggaran terhadap etika bisnis konstruksi juga semakin tumbuh di industri konstruksi Indonesia. Hasil survei yang dilakukan oleh Construction Management Association of America terhadap pemilik modal, arsitektur, kontraktor, subkontraktor dan pihak pihak yang terkait didalamnya mengatakan bahwa 61% dari keseluruhan transaksi telah tercemar oleh pelanggaran etika bisnis konstruksi. Indikasi umum yang terlihat adalah adanya konflik kepentingan dari masing masing pihak. Disatu sisi, penyedia jasa konstruksi dalam pelaksanaan kegiatan konstruksinya berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar besarnya, disisi lain pemilik modal juga berusaha untuk mendapatkan kualitas dan mutu yang lebih baik dari apa yang telah mereka bayar. Selain itu, kurangnya

transparansi dalam proses dan biaya tender, lemahnya kualitas dokumen tender dan hal terkait lainnya juga berdampak langsung terhadap pelanggaran etika bisnis konstruksi. Dengan kurangnya perhatian dan penerapan etika bisnis konstruksi di Indonesia oleh penyedia jasa konstruksi, pemilik modal, pemerintah sebagai regulator serta seluruh pihak yang terkait didalamnya, maka secara langsung mendorong berkembangnya pelanggaran pelanggaran terhadap etika bisnis konstruksi di Indonesia.

2.

Pengertian Umum Etika

Etika merupakan ilmu filsafat yang mempelajari tentang moralitas dan cara berpikir yang memandu kepribadian manusia. Di dalam etika tersirat bagaimana kita menilai suatu perbuatan apakah itu benar atau salah ( Ross cited in vee and Skitmore, 2003 ). Etika juga dapat didefinisikan sebagai : Akhlak, tabiat atau budi pekerti Cabang ilmu filsafat yang menitikberatkan pada nilai kusesilaan.

Tugas #1 Manajemen Bisnis Konstruksi

Perpaduan perilaku manusia sesuai dengan tata kesusilaan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakan dan lingkungannya.

Moralitas merupakan seperangkat standar atau aturan tentang apa yang benar dan salah, sedangkan prilaku merupakan cara seseorang dalam menanggapi suatu kondisi. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang suatu tindakan yang tidak etis, berarti tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak disepakai oleh prilaku moral. Seorang peneliti konstruksi bernama Ray pada tahun 1999 mengidentifikasi isu etika yang berkembang dalam industri konstruksi ke dalam 2 kategori yaitu ; etika individu dan etika profesi. Etika individu merupakan prinsip moral yang menilai kegiatan manusia apakah itu baik atau buruk. Sedangkan etika profesi menilai kegiatan tidak hanya berkonsentrasi pada individu tetapi juga terkait pada norma profesi.Etika profesi terkait dengan konsep konsep pelaksanaan dan ekspetasi dari publik seperti kompetensi dan tanggung jawab.

3.

Pengertian Etika bisnis

Etika bisnis merupakan prinsip prinsip moral atau seperangkat nilai moral yang diterapkan tidak hanya pada seluruh yang terkait dalam kegiatan bisnis tetapi juga kepada seluruh sektor publik, dalam industri konstruksi berupa para pemilik modal, konsultan perencana, kontraktor, konsultan pengawas dan pemerintah sebagai regulator. Didalam buku Konstruksi Indonesia 2030, Untuk Kenyamanan Lingkungan Terbangun The Finest Built Enviroment dengan Menciptakan Nilai Tambah secara Berkelanjutan Berdasarkan Profesionalisme, Sinergi dan Daya Saing, LPJKN, 2007, disebutkan bahwa permasalahan utama industri konstruksi nasional yaitu belum terwujudnya profesionalisme pelaku konstruksi. Salah satu penyebab utama belum terwujudnya profesionalisme pelaku konstruksi adalah mengenai belum adanya kode etik bisnis konstruksi. Kode etik merupakan aturan pelaksanaan , sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Etika bisnis di dunia pengguna, penyedia, dan para pihak yg terkait dengan barang/jasa menurut Keppres No 80 Tahun 2003 adalah: 1.Tertib, disertai tanggung jawab utk mencapai sasaran kelancaran dan kecepatan tercapainya tujuan pengadaan baraang dan jasa. 2.Bekerja profesional dan mandiri atas dasar kejujuran.

Tugas #1 Manajemen Bisnis Konstruksi

3.Tidak saling mempengaruhi untuk persaingan tidak sehat. 4.Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yg ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak. 5.Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yg terkait conflict of intererest. 6.Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dlm pengadaan barang/jasa. 7.Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yg secara langsung maupun tidak langsung merugikan negara. 8.Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan berupa apa saja kepada siapapun yg diketahui atau patut diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.

4.

Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Pelanggaran Etika Bisnis Konstruksi dan Isu Isu Pelanggaran Etika Bisnis Konstruksi di Indonesia.

4.1 Faktor yang mempengaruhi Pelanggaran Etika Bisnis Konstruksi Secara umum, terdapat beberapa faktor yanng menyebabkan terjadinya pelanggaran etika bisnis kontruksi di Indonesia yaitu : a. Budaya bisnis konstruksi Budaya buruk yang berkembang tidak hanya pada bisnis konstruksi namun pada bisnis lainnya adalah praktek korupsi, kolusi. Budaya buruk ini seolah sudah mendarah daging dalam praktek praktek bisnis yang dilakukan oleh para pelaku bisnis, baik pemilik modal, kontraktor, konsultan dan pihak terkaitnya. b. Buruknya kualitas dokumen pada proses tender. Buruknya kualitas dokumen tender seperti kurang jelasnya gambar, bill of quantity, penyelesaian konflik mendorong para pelaku konstruksi untuk saling mengalihkan resiko yang timbul kepada pihak lain. c. Lemahnya kualitas kontraktor dan perencana Bagi kontraktor lemahnya kualitas dalam mengestimasi biaya, resiko dan waktu mengakibatkan kurang akuratnya estimasi yang menyebabkan biaya, resiko dan waktu aktual yang dibutuhkan lebih besar dibandingkan data yang didapat pada perencanaan. Hal ini mendorong kontraktor melakukan tindakan yang melanggar etika bisnis konstruksi demi menutupi hal tersebut. Begitu

Tugas #1 Manajemen Bisnis Konstruksi

juga dengan konsultan perencana, kualitas yang tidak memadai dalam perencanaan berakibat kepada tindakan yang melanggar etika untuk menutupi hal tersebut. d. Kebijakan Pemilik Modal dan Pemerintah Sering sekali kebijakan yang diambil oleh pemilik modal dalam pengadaan bisnis konstruksi berdampak pada terjadinya tindakan yang melanggar etika oleh penyedia jasa konstruksi. Kebijakan kebijakan tersebut berupa ; penetapan pemenang tender berdasarkan harga termurah, sistem pembayaran yang memakan waktu terlalu lama, waktu penyelesaian proyek konstruksi yang terlalu cepat dan hal lainnya. Pemerintah juga berpartisipasi dalam kebijakan kebijakan yang berdampak pada tindakan yang melanggar etika bisnis konstruksi. Birokrasi yang menyulitkan, kenaikan harga bahan bakar minyak merupakan hal yang sering terjadi. 4.1 Isu Isu Pelanggaran Etika Bisnis Konstruksi Berikut ini merupakan isu isu yang berkembang terhadap pelanggaran etika bisnis konstruksi di Indonesia, yaitu ; a. Kolusi dalam proses tender. ; indikasi yang terlihat berupa ; kompensasi, komisi biaya tender, tawaran pemotongan biaya tender, biaya biaya tersembunyi dalam proses tender b. Suap yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan dalam bisnis konstruksi. ; indikasi yang terlihat berupa ; bujukan uang tunai, fasilitas dan hiburan c. Kelalaian dalam pelaksanaan bisnis konstruksi. ; indikasi yang terlihat berupa ; kualitas pekerjaan yang buruk, standar keselamatan yang tidak memadai d. Penipuan dalam pemakaian kualitas / mutu konstruksi. ; indikasi yang terlihat berupa ; pemakaian bahan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang diberikan. e. Ketidakjujuran dan ketidakadilan ; indikasi yang terlihat berupa ; pengaturan kontrak, pengaturan pemenang tender, birokrasi pemerintah.

Tugas #1 Manajemen Bisnis Konstruksi

5.

Kasus Kasus Pelanggaran Etika Bisnis Konstruksi di Indonesia

a. Kasus Korupsi Pusat Pelatihan dan Sekolah Olahraga Hambalang ; dikerjakan oleh KSO PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya, disubkontrakkan hingga beberapa lapis. Subkontraktor diketahui mencapai 17 perusahaan, termasuk PT Dutasari Citralaras, yang mensubkan lagi ke PT Bestido dan PT Kurnia Mutu. b. Kasus Korupsi Pembangunan Venue Pon XVIII Riau. ; melibatkan dua perusahaan BUMN yaitu PT. Pembangunan Perumahan dan PT. Wijaya Karya c. Kasus Suap Proyek Wisma Atlet ; melibatkan PT. Duta Graha dan beberapa wakil rakyat seperti Anas, Nazaruddin dan Angelina Sondakh d. Dan kasus-kasus lainnya..

6. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelum dapat ditarik kesimpulan : Kesadaran akan etika bisnis dalam industri konstruksi di kalangan pelaku konstruksi di Indonesia masih sangat rendah Faktor-faktor lingkungan di antara pelaku konstruksi kurang mendukung satu sama lain untuk beretika dengan baik Pada dasarnya manusia itu baik namun, persoalan beretika di berbagai aspek lingkungan adalah bukan masalah bisa atau tidak bisa tetapi mau atau tidak mau untuk saling menghormati kepentingan setiap pihak