Anda di halaman 1dari 21

BAB VIII

ANALISA KIMIAWI AIR FORMASI


8.1. TUJUAN PERCOBAAN 1. 2. 3. 4. Untuk mengetahui sifat air formasi apakah mengendap atau stabil. Mengetahui sifat fisik dan sifat kimia air formasi. Menghitung indeks stabilitas kalsium karbonat Menentukan pH alkalinitas, kandungan kalsium, magnesium, barium, sulfat, ferro, klorida 8.2. DASAR TEORI Air formasidisebut pula dengan oil field water atau connate water.Air formasi ini ada yang ikut terproduksi bersamasama minyak dan gas ayng disebut dengan intertial water.Air ini biasanya mengandung bermacam-macam garam dan asam, terutama NaCl sehingga merupakan air yang asam bahkan asam sekali. Air formasi hampir selalu ditemukan didalam reservoir hidrokarbon karena memang didalam suatu akumulasi minyak, air selalu menempati sebagian dari suatu reservoir, minimal 10% dan maksimal 100% dari keseluruhan pori. Air formasi diperkirakan berasal dari air laut yang ikut terendapkan bersamasama dengan endapan disekelilingnya, karena situasi pengendapan batuan reservoir minyak terjadi pada lingkungan pengendapan laut. Adapun sifat sifat air formasi : a. b. Sifat fisik yang meliputi : Kompresibilitas Kelarutan gas dalam air Viskositas air dalam formasi Berat jenis Konduktivitas Sifat kimia yang meliputi : Anion

64.

65.

Kation

Keberadaan air formasi akan menimbulkan gangguan produksi sumur, tetapi walau demikian keberadaan air formasi juga mempunyai kegunaan yang cukup penting yaitu : a. b. c. Untuk mengetahui penyebab korosi pada PERALATAN produksi Untuk mengetahui adanya scale formation. Untuk dapat menentukan sifat lapisan dan adanya suatu kandungan

suatu sumur.

yodium dan barium yang cukup besar, dan dapat juga digunakan untuk mengetahui adanya reservoir minyak yang cukup besar. Adapun kesulitan yang ditimbulkan karena adanya air formasi : a. b. c. d. e. Adanya korosi Adanya solid deposit Adanya scale formation Adanyaemulsi Adanyakerusakanformasi Untuk menganalisa air formasi secara tepat, dipakai klasifikasi air formasi yang digambarkan, secara grafis hal ini dimaksudkan untukmengidentifikas isifat air formasi dengancara yang paling sederhana tetapi dapat dipertanggungjawabkan, hanya kelemahannya tergantung pada spesifikasinya. Pengambilan sample air formasi dilakukan di kepala sumur dan / atau di separator dengan menggunakan penampung bertutup terbuat dari kaca atau plastic agar tidak terjadi kontaminasi dan hilangnya ion Hydrogen karena akan mempengaruhi kebasahan sample. Percobaan yang dilakukan adalah dengan menentukan pH, Alkalinitas, penentuan kandungan Kalsium, Magnesium, Barium, Sulfat, Ferro, Klorida, Sodium dan perhitungan indeks stabilitas kalsium karbonat. 8.2.1. PENENTUAN KALSIUM DAN MAGNESIUM

66.

Untuk menentukan kandungan Ca dan Mg perlu terlebih dahulu ditentukan kesadahan totalnya. 8.2.2. PENENTUAN ALAKALINITAS Alkalinitas dari suatu cairan biasa dilaporkan sebagai CO3-, HCO3-dan OH-, yaitu dengan menitrasi air sample dengan larutan asam yang lemah dan larutan indicator. Larutan penunjuk (indicator) yang digunakan dalam penentuan kebasahan CO3-dan OH- adalah Phenolphtalein (PP), sedangkan Methyl Orange (MO) digunakan sebagai indicator dalam penentuan HCO3-. 8.2.3. PENENTUAN KLORIDA Unsur ion baku ditentukan dalam air formasi ialah Cl, yang konsentrasinya lemah sampai pekat. Metode Mohr selalu digunakan dalam penentuan kadar klorit, tanpa perbaikan nilai pH. Cara pengujian dapat ditentukan untuk fluida yang bernilai pH antara 6 sampai 8.5 dan hanya ion SO yang sering mengganggu. Gangguan dapat diketahui dari warna setelah titrasi dengan larutan AgNO3 warna abu-abu sampai hitam. Bila hal ini dapat diketahui sebelumnya, ion ini dapat dihilangkan dengan cara mengasamkan contoh air yang akan diperiksa dengan larutan asam senyawa (HNO) dan dimasak selama 10 menit. setelah didinginkan, naikkan pH samapi 6 hingga 8.5 dengan NaOH., larutan buffer kesadahan total atau larutan buffer Calver, dan tidak sekali-sekali mengurangi pH dengan HC. 8.2.4. PENENTUAN SODIUM Sodium tidak ditentukan dilapangan, karena nilai sodium tidak dapat dianggap nilai yang nyata atau absolut. Perhitungannya ialah dengan pengurangan jumlah anion dengan jumlah kation dengan me/L.Kesadahan total tidak dimasukkan dalam jumlah perhitungan ini. Air formasi selain berasal dari lapisan lain yang masuk kedalam lapisan produktivitasnya yang disebabkan oleh : a. Penyemenan yang kurang baik b. Kebocoran casing yang disebabkan oleh:

67.

Korosi pada casing. Sambungan kurang rapat. Pengaruh gaya tektonik (patahan).

Pengambilan contoh air formasi sebaiknya dari kepala sumur dan atau separator dengan pipa plastic lentur jangan dari bahan tembaga (Cu) karena mudah larut. Peralatan harus bersih dari bekas noda dan di cuci alirkan dengan air formasi yang akan diambil. Alkalinitas C03HCO3, dan OH harus ditentukan ditempat pengambilan contoh, karena ion-ion ini tidak stabil seiring dengan waktu dan suhu. Untuk itu pH perlu diturunkan sampai 1 dengan asam garam. Penentuan kadar barium harus dilkukan segera setelah contoh diterima, karena unsure BaSO4 terbatas kelarutannya karena reaksi barium cepat dengan SO4, akan mengurangi konsentrasi barium dan akan menimbulkan kesalahan dalam penelitian. Selain denga barium ,SO4 juga cepat bereaksi dengan kalsium menjadi CaSO4 pada saat suhu turun. Untuk mengetahui air formasi secara cepat dan praktis digunakan sistem klasifikasi dari air formasi, hal ini dapat memudahkan pengerjaan pengidentifikasian sifat-sifat air formasi. Dimana kita dapat memplot hasil analisa air formasi tersebut, hal ini memeudahkan kita dalam korelasi terhadap lapisan lapisan batauan dari sumur secara tepat. Beberapa kegunaan yang paling penting dari analisa air formasi ini adalah: Untuk korelasi lapisan batuan Menentukan kebocoran casing Menentukan kualitas sumber air untuk proses water flooding

8.3. PERALATAN DAN BAHAN 8.3.1.PERALATAN: 1. Alat titrasi 2. Gelasukur

68.

3. 4. 5.

Kertaslakmus Pipet DR 1

8.3.2. BAHAN: 1. 2. 3. Sample air formasi Larutan indikator Larutan buffer

Gambar 8.1 Alat titrasi

Gambar 8.2Gelas ukur

69.

Gambar 8.3 Kertas lakmus

Gambar 8.4 Pipet tetes

Gambar 8.5 Larutan indicator

Gambar 8.6 Larutan buffer

8.4. PROSEDUR PERCOBAAN 8.4.1. PENENTUAN pH (ELEKTROLIT): 1. Denganmenggunakan pH paper strip dapat langsung menentukan harga pH dari sample setelah mencocokkan warna pada standar pH paper strip, maka diperlukan kejelian dalam memilih dan mencocokkan warna dari paper strip.

70.

2.

Dengan alat ukur elektrolit, kalibrasi alat sebelum digunakan dengan cara : isi botol dengan larutan Buffer yang telah diketahui harga pH-nya, masukkan elektroda pada botol yang berisi larutan buffer. Putar tombol kalibrasi sampai digit menunjukkan harga pH larutan buffer.

3.

Cuci botol dan elektrodanya sebelum digunakan untuk menguji sample dengan air destilasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi.

8.4.2. PENENTUAN ALKALINITAS 1. 2. Mengambil contoh air formasi 1 cc dan menambahkan larutan PP sebanyak 2 tetes. Mentitrasi dengan larutan H2SO4 0,02 N sambil digoyang. Warna akan berubah dari pink menjadi jernih. Bila larutan telah jernih, mencatat jumlah larutan asam tersebut sebagai Vp. 3. 4. Mentetesi dengan larutan MO sebanyak 2 tetes, warna akan berubah menjadi orange.. Mentitrasi kembali dengan H2SO4 0.02 N sampai ada perubahan warna menjadi merah / pink.Mencatat banyaknya larutan asam total yaitu : jumlah asam (2) + asam (4) sebagai Vm. 5. Perhitungan : Kebasahan P = Vp / banyaknya cc contoh air KebasahanM = Vm / banyaknya cc contoh air Penentuan untuk setiap ion dalam mili eqivalen (me/L) dapat ditentukan dari table berikut:
Tabel 8.1Hargakebasahansetiap ion

HCO3 P = 0 P = M

CO3 0 0

OH 0

M 20 0

20 P

71.

2P = M 2P < M 2P > M

0 20 ( M 2P ) 0

40 P 40 P 40 ( M P )

0 0 20 ( 2P M )

8.4.3. PENENTUAN KALSIUM DAN MAGNESIUM :


1.

Penentuan kesadahan total : Mengambil 20 ml air suling dan menambahkan 2 tetes larutan buffer kesadahan total dan 1 tetes larutan indicator. Warnanya harus biru asli (vivid blue) atau jernih sekali. Kalau terdapat warna kemerah-merahan, tetesi sedikit dengan larutan titrasi kesadahan total (1 ml = 2 epm) sambil digoyang hingga berwarna biru asli (jernih). Jangan sampai berlebihan, volume titrasi ini tidak dihitung. 2. 3. 4. Menambah 5 ml contoh air, warna akan berubah merah (bila kesadahan memang ada). Mentitrasi dengan larutan kesadahan total hingga warna kembali jernih. Mencatat volume tittrasi dan hitung kesadahan totalnya. Perhitunggan : Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm Volume titrasi 2 Kesadahan total, me / L = Volume contoh air Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm

Kesadahan total, me L =

1.

Volume titrasi x 20 Volume contoh air

PenentuanKalsium (Ca) : Mengambil 20 ml air suling, menambahkan 2 tetes larutan buffer calver dan 1 tepung indicator calcer II, warna akan berubah menjadi cerah. Bila warnanya kemerahan, titrasi dengan larutan kesadahan total sampai warna kemerahan hilang.

72.

2. 3.

Menambahkan 5 cc air yang dianalisa. Bila ada Ca warna larutan berubah menjadi kemerahan. Mentitrasi dengan larutan kesadahan total 20 epm, warna akan berubah jernih, mencatat volume titrasi. Penentuan Magnesium ( Mg ) :

Magnesium, me / L = ( kesadahan total, me / L ) ( kalsium, me / L ) 8.4.4. PENENTUAN KLORIDA 1. 2. Mengambil 20 ml air sample, menambahkan 5 tetes KcrO, warna akan menjadi bening. Mentitrasi dengan larutan AgNO3 1 ml = 0,001 g Cl sampai warna coklat kemerahan. Tunggu sampai warna tidak berubah lagi. Catat banyaknya AgNO3 yang dipergunakan. 3. Jika menggunakan AgNO3 0,001 N : ml titer 1000 ml contoh air 4. Jika menggunakan AgNO3 0,01 N : ml titer 10000 mlcontoh air

Kadar Cl, mg/L =

Kadar Cl, mg/L =

8.4.5. PENENTUAN SODIUM 1. Mengkonversikan harganya. mg/L anion dengan me/L dan menjumlahkan

73.

CO3 , mg / L HCO3 , mg / L SO4 , mg / L Cl , mg / L + + + + 35 .5 48 30 61


OH , mg / L 17

2.

Mengkonversikan harganya.

mg/L kation menjadi

me/L dan menjumlahkan

Ca ++ , mg / L Mg ++ , mg / L Fe ++ , mg / L Ba ++ , mg / L + + + 20 12 .2 18 .6 68 .7

3.

Kadar sodium ( Na ), mg/L = ( anion kation ) 23. Grafik hasil analisa air Hasil analisa air sering dinyatakan dengan bentuk grafik. Kita dapat menandai perbedaan dari contoh air dengan membandingkan dua macam contoh air (atau lebih) dari grafik tersebut. Metode yang umum digunakan adalah metode stiff. Metode ini dapat diplot secara logaritma atau normal antara konsentrasi kation pada sisi kiri titik pusat dan konsentrasi anion diplot pada sisi kanan pusat.

Tabel 8.2 Harga konsentrasi komponen

KOMPONEN Natrium Kalsium Magnesium Barium Klorida Sulfat Karbonat Bikarbonat Iron

KONSENTRASI Mg/L meL 1794 78.04 39 19 0 1248 645 280 1440 13 1.95 1.65 0 39.19 13.43 9.33 23.80 0.23

74.

8.4.6. PERHITUNGAN INDEX STABILITAS CaCO3 Air yang mengandung CO3 dalam bentuk apapun akan membentuk kerak atau korosi , tergantung pH dan suhu . Hal ini dapat diketahui dengan perhitungan indeks stabilitas air. CO3 yang terdapat didalam air tersebut mungkin akan tersebut sebagai asam arang (H2CO3), bikarbonat (HCO3), atau karbonat (CO3). Asam arang terdapat bila air tersebut terlalu jenuh dengan CO3, bikarbonat terdapat bila nilai pH air pada range 4 - 8.3, karbonat terdapat bila nilai pH air pada range 8.3 11. Rumus untuk menghitung indeksstabilitas CaCO3 adalah: SI = pH K pCa pAlk Bila indeks berharga 0, berarti air tersebut secara kimiawi seimbang. Bila indeks berharga positif, air tersebut mempunyai gejala membentuk endapan. Bila indeks berharga negative, air tersebut bersifat korosif. Nilai pH dan Konsentrasi ion Ca++, Mg++, Na++, CO-, SO4-, HCO3dimana: pH K = = Nilai pH pada pengukuran contoh air Tenaga ion (ditandai m) dan suhu

Tenaga ion ini terdapat pada grafik I. Jumlah tenaga ion didapat dengan mengalikan factor tiap - tiap ion dengan konsentrasi dalam air (dalam me/L atau mg/L) kemudian dijumlahkan. pCa pAlk = = Konversi ion Ca++ dalam mg/L, Konversi ion HCO3- dalam mg/L,

Setelah selesai perhitungan dapat digambarkan suatu kurva indeks stabilitas terhadap suhu agar diperhatikan gejala relative pada air dari segi segi sistemnya. Contoh permasalahan : Hitung indeks stabilitas air pada suhu 50, 77, 177, dan 158 oF dengan air pH 6.9
Tabel 8.3Indeks Stabilitas

75.

ION Ca++ Mg++ Na


++

me/L 12.0 20.4 295.5 253.5 41.7 13.8

mg/L 240 249 6769 9000 2000 841

ClSO4
3

HCO

Dengan menggunakan factor- factor yang terdapat pada grafik I, jumlah tenaga ion dapat dihitung sebagai berikut:

Tabel 8.4Perhitungan Tenaga Ion

ION Ca++ Mg++ Na++ ClSO4HCO3-

( me/L ) 12.0 20.4 295.5 253.5 41.7 13.8 Jumlah tenaga ion

*factor * 5 x 10-5 * 1 x 10-3 * 1 x 10-3 * 5 x 10-5 * 1 x 10-5 * 5 x 10-5

= ...me/L = 0.1476 = 0.012 = 0.0204 = 0.1268 = 0.0417 = 0.0069 = 0.3554

Setelah menggunakan ion dari air dapat dihitung, tentukan nilai K dari grafik I dimulai dari bawah grafik jumlah tenaga ion (), ikuti garis tegak lurus hingga bertemu dengan kurva suhu, kemudian baca nilai K ke sisi kiri.

Tabel 8.5 Harga Faktor K dan Suhu

SUHU 50 oF 77 oF 122 oF

Factor K 2.9 2.65 2.15

76.

156 oF

1.5

Grafik II digunakan untuk menentukan nilai pCa dan pAlk. Tentukan titik konsentrasi Ca++ pada nilai sebelah kiri grafik, tarik garis lurus hingga bertemu pada kurva kiri. Ikuti garis kebawah untuk menentukan nilai pCa. Cara yang sama untuk konsentrasi HCO3- dengan kurva kekanan dan ke bawah untuk pAlk. Setelah didapat harga pCa dan pAlk, maka hitung indeks stabilitas dengan rumus : Indeks stabilitas = pH K pCa pAlk SI/50 oF = 6.9 2.90 -2.2 -1.85 = -0.05 SI/77 oF = 6.9 2.65 -2.2 -1.85 = 0.20 SI/50 oF = 6.9 2.15 -2.2 -1.85 = -0.70 SI/50 oF = 6.9 1.50 -2.2 -1.85 = 1.35 KESIMPULAN : Air tersebut bergejala scalling pada suhu 54 oF keatas Air tersebut bergejala corrosive pada suhu 54 oF kebawah

8.5. HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN 8.5.1. HASIL ANALISA

Tabel 8.6.Tabulasi Konsentrasi Ion Anion dan Kation

Konsentrasi Anion Anion BM Mg/L Me/ L(*) Cl


35.5 96 60 61 17

24400 300 300 0 51

687,324 6.25 10 0 3

Konsentrasi Kation Kation BM Mg/ Me/L L Ca++ 40 40 2 Mg++ Fe+++ Ba++ Na+ 24 56 137 0 1000 0 53,571 -

SO42

CO32

HCO3 OH

77.

Anion Konversi mg/L ke me/L Kadar Sodium ( Na+ ) = = = =

706,574

Kation

55,571

((mg/L)* valensi/BM) Anion Kation ( 706,574 55,571 ) mg/l 651,003

Anion OHHCO32CO
23

Grafik 8.1 Diagram Stiff Davis


_

Kation Ba2+

0 0

Fe3+(101) Ca2+ (100) Mg2+ Na+ (102 )

SO42(10 ) Cl
2 -

10 9 8

7 6 5 4 3 2

1 0

1 2 3 4

5 6 7

8 9 1

Tabel 8.7. Perhitungan Indeks Stabilitas CaCO3

Ion

Konsentrasi Me/L 687,324

Faktor Koreksi Me/L 6 10 4

Ion strength Me/L x Koreksi 0,412 6,25 . 10 3 0,015 0 0,004 0 0,08 0,130 0,64725

Cl

SO4 2CO3 2HCO3 Ca 2+ Mg 2+ Fe 3+ Ba 2+ Na +

6,25 1 10 3 10 1,5 10 3 0 5 10 3 2 2 10 3 0 1 10 3 53,571 1,5 10 3 668,860 2 10 4 molar Ionic Strength

78.

Grafik8.2.Penentuan harga k pada CaCO3

79.

80.

Dari grafik diperoleh: Tenaga ion keseluruhan ( k, dari grafik 8.1. ) pada suhu: Pada temperatur 0 C Pada temperatur 20 C Pada temperatur 40 C Pada temperatur 60 C Pada temperatur 80 C Pada temperatur 100 C Harga pCa = 3,0 = 3,64 = 3,38 = 2,875 = 2,38 = 1,68 = 0,875 pAlk = 3,2

Harga indeks stabilitas CaCO3 ( SI ) = pH K pCa palk 8.5.2.PERHITUNGAN Konversi Satuan Anion : Cl- electron valensi Konversi mg/L ke me/L SO42- electron valensi Konversi mg/L ke me/L CO32- electron valensi Konversi mg/L ke me/L = -1 =
24400 x 1 = 687.324 me/L 35.5

= -2 =
300 x 2 96

= 6.25 me/L

= -2 =
300 x 2 60

= 10 me/L = -1 = 0 me/L

HCO3- electron valensi =


0 x1 61

Konversi mg/L ke me/L OH- electron valensi Konversi mg/L ke me/L

= -1 =
51 x 1 17

= 3 me/L

81.

Kation : Ca2+ electron valensi Konversi mg/L ke me/L Mg2+ electron valensi Konversi mg/L ke me/L Fe3+ electron valensi Konversi mg/L ke me/L = +2 =
40 x 2 40

= 2 me/L

= +2 =
0x2 24

= 0 me/L

= 3 =
1000 x 3 56

= 53.571 me/L

Ion Strength: Ion strenght = Me/L x Koreksi Cl: 687.324 x 6 x 10-4 = 0.412 = 6.25 x 10-3 = 0.015 = 0 = 4x10-3 = 0 = 0.08

SO42- : 6.25 x 1 x 10-3 CO32- : 10 x 1.5 x 10-3 HCO3- : 0 x 5 x 10-3 Ca2+ Mg2+ Fe3+ Ba2+ Na+ Nilai SI SI00C SI200C SI400C SI600C = 8 3.64 3.0 3.2 = 8 3.38 3.0 3.2 = 8 2.875 3.0 3.2 = 8 2.38 3.0 3.2 : 2 x 2 x 10-3 : 0 x 1 x 10-3 : 53.571 x 1.5 x 10-3 : negatif : 651.003 x 2 x 10-4

= 0.130

= -1.84 = -1.58 = -1.075 = -0.58

82.

SI800C T (0C) 0 20 40 60 80 100 SI1000C

= 8 1.68 3.0 3.2 pH 8 8 8 8 8 8 K 3.64 3.38 2.875 2.38 1.68 0.875 p Ca 3 3 3 3 3 3

= 0.12 p Alk 3.2 3.2 3.2 3.2 3.2 3.2 = 0.92 SI -1.84 -1.58 -1.075 -0.58 0.12 0.925

= 8 0.875 3.0 3.2

Tabel 8.8.HargaIndeksStabilitas

8.6. Pembahasan Dari data tabel 8.7 di atas, kemudian diplotkan ke dalam suatu grafik menjadi grafik seperti di bawah ini :
Grafik 8.3. Stabilitas indeks terhadap temperatur

83.

120 100 Temperatur (C) 80 60 40 20 0 -2 -1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5 Stabilitas indeks Temperatur

Pada data yang telah diberikan, diketahui bahwa pH = 8, pCa = 3.0, pAlkali = 3.2, dan k = 3.65. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa pada saat temperature 0
0

C didapatkan SI sebesar -1.85. SI ini didapatkan dari 8 3.0 3.2 3.64 dan Jika SI menunjukkan hasil yang positif berarti air formasi tersebut bersifat

didapatkan hasilnya 1.84. basa, maka pada temperatur tersebut akan cenderung untuk membentuk scale. Sebaliknya, jika SI menunjukkan hasil negatif berarti air formasi tersebut bersifat asam, maka pada temperatur tersebut air formasi akan cenderung untuk membentuk korosi pada alat-alat produksi, akan tetapi jika SI menunjukkan hasil nol (SI = 0) maka pada temperatur tersebut air formasi dalam keadaan setimbang dimana tidak terbentuk scale maupun korosi. 8.7. Kesimpulan 1. 2. Air dan garam hamper selalu terdapat dalam minyak bumi, sehingga Faktor faktor yang sangat berpengaruh dalam penentuan tingkat air formasi dapat menyebabkan korosif. pengendapan dan pelarutan dalam air formasi adalah pH, temperatur, serta total tenaga ion keseluruhan dari air formasi tersebut.

84.

3.

Harga SI yang sama dengan nol menunjukkan bahwa tidak ada

masalah pada produksi adalah sifat yang timbul dari air formasi yang bersifat setimbang, tidak membentuk korosi maupun scale. 4. Harga SI positif mempengaruhi masalah produksi, masalah yang timbul dari air formasi bersifat korosif. Apabila bernilai negatif, masalah yang timbul dari air formasi akan bersifat scale. 5. semakin tinggi suhu maka semakin rendah nilai k.