Anda di halaman 1dari 88

Kenali Bantu & Atasi Anak Berkebutuhan Khusus di sekitar Kita

Tri Gunadi, AMd. OT, S.Psi, S.Ked


Jl H Ismail No 15 B Komplek Taman Cilandak Jaksel 021-7659839

Email : klinik_yamet@yahoo.com Facebook: mr_busy2006@yahoo.co.id www.klinikanakyamet.multiply.com

Biodata : Tri Gunadi, AMd.OT, S.Psi, S.Ked


Dosen Vokasi Kedokteran OT Univ Indonesia Dosen College of Allied Educators Indonesia Direktur Klinik Tumbuh Kembang Anak YAMET Konsultan Klinik/Sekolah khusus (YKSI Duri, Harapan Bunda Dumai-padang, Miracle school, dll) Konsultan sekolah Inklusi (Nufa Bekasi, Al Jannah Cibubur, Lentera Insan Kelapa Dua, dll) Pengarang Buku Pembina Autism Care Indonesia Konsultan London Care for Autism Dll

Ciri anak yang tumbuh kembang optimal


1. Inguirers (pencari tahu) 2. Knowledgeable (berpengetahuan) 3. Thinker (pemikir) 4. Communicator 5. Principled (berprinsip) 6. Open minded (terbuka) 7. Risk taker (berani mencoba)
8. Well balance (seimbang)

9. Caring (penyayang)
10. Reflective (mampu mengaca

diri)

Anak bagaikan kertas putih, mau dijadikan warna apa?


Warna biru

Warna kuning

Warna hitam

Perilaku, ketertarikan, kecerdasan bukan hanya dihasilkan dari keturunan, secara teori:
Inate (diturunkan dari orang tua) hanya 30% Acquire (didapat dari lingkungan) dalam bentuk stmulasi sekitar 70 %
Gizi yang baik Gerak (aktif, sensori integrasi, brain gym, dll) Contoh/modeling/ imitasi/meniru perilaku dari lingkungan (orang tua, tante, om, kakek, nenek, pergaulan teman, dll) Pola asuh (pencemas, over protektif, dll) Permisif Otoriter Demokratis Budaya

Perlunya integrasi:
Orang tua Lingkungan rumah (om, tante, kakek, nenek, pembantu, dll) Teman bermain d rumah Sekolah (guru, teman disekolah, dll) Lingkungan lain (tempat les, dll)

Tangga tumbuh kembang anak


Kognitif
Verbal -wicara

akademis

Perkembangan oral motor

Perkembangan fine motor

Perkembangan gross motor

Sensori

Keseimbangan, raba Rasa sendi, visual, auditori Penciuman, pengecapan

Sosial Emosi Adaptasi Perilaku Percaya Diri Inisiatif Kreatif

Perkembangan motorik
Perkembangan Motorik Kasar Tengkurap Duduk Merangkak Berdiri Jalan Lari Loncat Lompat 1 kaki Usia pencapaian 2- 3 bulan 6 bulan 8 bulan 10-11 bulan 12 bulan 1,5 tahun 2 tahun 3 tahun 3,5 tahun 3 tahun 3,5 tahun

Perkembangan wicara
Perkembangan wicara Reflek vokalisasi Usia pencapaian 0 4 minggu

Babbling
Lalling

2 bulan
6 bulan

Echolalia
True speech

10 bulan
18 bulan

6 tingkat perkembangan emosi anak (greenspan 1998)


Perkembangan EMOSI Regulasi dan ketertarikan thd dunia Attachment dan engagement Interaksi resiprokal Komukasi thd affek Merepresentasikan affek Memunculkan symbolic emosional thiking Usia 0 3 bulan 3 6 bulan 6 9 bulan 9 18 bulan 18 30 bulan 30 48 bulan

What is that Special Need Children

reguler

Jenis diagnosa Grade keparahannya

Berkebutuhan

Apa itu anak dengan kebutuhan khusus?


Anak dengan kebutuhan khusus adalah : anak yang secara signifikan berbeda dalam berbagai dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuantujuan/kebutuhan dan potensinya secara maksimal.

ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)


Kognitif: Mental Retardasi Autis AD/HD Delayed Speech Learning Dificulties dll

Gangguan fisik: Cerebral Palsy Deleayed Developmental Spina Bifida Polio Dll

Fisik & kognitifnya: Global delayed Development Down Syndrome SID (sensory Integration Disorder)
www.themegallery.com Company Logo

Autis
Sebuah gangguan perkembangan pervasif (luas, kompleks dan berat) gejalanya muncul sebelum anak usia 3 tahun.

Progresi: sejak
awal memang sudah menunjukkan gejala autisme

Regresi :
pernah mencapai normal tapi sebelum usia 3 tahun perkembangan berhenti dan mundur/ muncul ciriciri autisme

Apa itu autis?


Asal kata auto = sendiri dan isme = aliran/senang. Bisa mengenai siapa saja, tanpa memandang ras , sosial, suku bangsa, ekonomi, dan pendidikan. Prevalensinya meningkat terus: bahkan survey 2002 terdapat ASD 60 per 10.000 anak Laki-laki : perempuan = 4:1 Kecerdasannya sangat bervariasi antara sangat rendah dan sangat tinggi.

Gangguan perkembangan nya dalam bentuk


Interaksi sosial Komunikasi dan bahasa Perilaku

Emosi

mindblindness

Kognisi Sensori Motor

Gangguan perkembangan interaksi sosial


Auto isme : Hidup dalam dunianya sendiri

gagalnya fase attachment sebagai gejala utama

Tidak menengok saat dipanggilt

Tidak ada kontak mata

Tidak peduli dg lingkungan

Menghind ar bila didekati

tidak mau bermain dengan anak sebaya

Gangguan perkembangan komunikasi & bahasa


Perkembangan wicara sangat lambat Software bicara tidak ada Kosa kata tidak berkembang Pemahaman tidak terbentuk Kurang turn taking communication Perspektive taking (kata ganti) Bila sudah bicara tidak mengerti arti kata
Pengucapa n kata tdk tepat, seolah olah sulit Bila sdh bicara lancar tdk utk komunikas i

Golden period

I <3tahun II <5tahun

III <7tahun
10% non verbal sd dewasa

Mengulang a2 kata & membeo

Tata bahasa terbalik balik

Gangguan perkembangan perilaku


Pola perilaku dan minat yang terbatas itu itu saja

Ada yang disertai dg hiperaktifitas dan hipoaktif

Excessive: Tidak terarah, semau sendiri Melakukan sesuatu berualang-ulang Handflapping, headrocking Putar2, ketok2 Stimulasi diri, Agresif & self injury Tantrum

Deficit: Melihat benda berputar lama Menyendiri Kurang dlm minat & motivasi Pasif & tdk tertarik

Gangguan perkembangan mindblindness


Teori of mind :

The sally anne experiment

kurang bisa membaca pikiran orang lain.

tidak mampu mengenali status mental diri dan orang lain

Gangguan perkembangan kognitif


Sosial reasoning yang rendah problem solving buruk tidak mampu membaca informasi kontekstual Walaupun rata-rata memori luar biasa, tapi cenderung tidak fungsional

fungsi eksekutif yang rendah

planning

organizing

self monitoring

cognnitive flexibility

Kesulitan dalam abstrak thiking Mereka berpikir secara konkret, baik dalam mengingat detail tentang subyek atau ketertarikan mereka. Gagal dalam memahami bahasa literal atau konsep kiasan dan sulit memahami bahasa perumpamaan.

Gangguan perkembangan emosi


Tidak membagi emosi dengan orang lain

Jenis gangguan emosi identifikasi

Meniru senyum sosial (bukan resiprokal, kurang tertarik dengan ekspresi wajah orang lain

kuantifikasi ekspresi kontrol

Cenderung lebih benyak menunjukka n emosi negatif

Ekspresi datar dan tidak menunjuk kan emosi

Tantrum /ngamuk kalau tdk dituruti

Sering kali tertawa, marah2 & menangis sendiri tanpa sebab

Ada rasa takut yang tidak wajar

Respon sensorik tidak terintegrasi


Kondisi sensori normal, anak dapat menampilkan perilaku normal
Kondisi sensori yang kurang, cenderung seeker (mencari) stimulus sensori

1. Keseimbangan 2. Raba 3. Proprioseptif (rasa sendi) 4. Visual 5. Auditory 6. Pengecapan 7. penciuman

Kondisi sensori yang berlebih, cenderung avoider (menghindar) terhadap stimulus sensori

24

Diagnosa

Diagnosa ditegakkan atas dasar gejala-gejala gangguan perkembangan diatas Terutama dlm bidang: interaksi sosial, komunikasi & perilaku

Diagnostik
Diagnostik awal:
Orang tua Guru
PAUD TK SD

Poster Leaflet M-CHAT modifikasi Check list

Kader

Diagnostik lanjutan
Dokter puskesmas Psikolog Dokter spesialis (dokter anak, psikiater, dll) www.themegallery.com

DSM IV R PPDGJ III ICD 10

NO 1 2 3

M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers) PERTANYAAN


Apakah anak anda menyukai diayun, ditimang ? Apakah anak anda memiliki rasa tertarik pada anak-anak lain ? Apakah anak anda menyukai memanjat, misalnya tangga ?

YA

NO

4
5

Apakah anak anda menyukai permainan ciluk ba ?


Apakah anak anda pernah bermain \\\\\\\sandiwara\\\\\\\, misalnya : Pura-pura bicara di telpon ? Menjadi tokoh tertentu ? Bicara pada boneka ? Apakah anak anda pernah menggunakan telunjuk untuk meminta sesuatu ? Apakah anak anda pernah menggunakan telunjuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu ? Dapatkah anak anda bermain dengan mainan kecil (mobil-mobilan/balok) dengan sewajarnya tanpa hanya memasukkannya ke dalam mulut, kutak kutik atau menjatuhkannya saja ?

6 7 8

www.themegallery.com

NO 9 10 11 12 13

M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers) PERTANYAAN


Apakah anak anda pernah membawa obyek/benda dan diperlihatkan pada anda ? Apakah anak anda melihat pada mata anda lebih dari 1 atau 2 detik ? Apakah anak anda sangat sensitif terhadap bunyi ? Apakah anak anda tersenyum pada wajah anda atau senyuman anda ? Apakah anak anda meniru anda ? (Misalnya bila anda membuat raut wajah tertentu, anak anda menirunya ?)

YA

NO

14
15 16 17

Apakah anak anda memberi reaksi bila namanya dipanggil ?


Bila anda menunjuk pada sebuah mainan di sisi lain ruangan, apakah anak anda melihat pada mainan tersebut ? Apakah anak anda dapat berjalan ? Apakah anak anda juga melihat pada benda yang anda lihat ?
www.themegallery.com

M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers)


NO 18 19 20 21 22 23 PERTANYAAN Apakah anak anda membuat gerakan-gerakan jari yang tidak wajar di sekitar wajahnya ? Apakah anak anda mencoba mencari perhatian anda untuk kegiatan yang sedang dilakukannya ? Apakah anda pernah berpikir bahwa anak anda tuli ? Apakah anak anda mengerti apa yang dikatakan orang lain ? Apakah anak anda terkadang menatap dengan tatapan kosong atau mondar-mandir tanpa tujuan ? Apakah anak anda melihat pada wajah anda untuk melihat reaksi anda ketika ia dihadapkan pada situasi yang asing atau tidak ia mengerti ? YA NO

www.themegallery.com

KETERANGAN Seorang anak berpeluang menyandang autis jika : 3 atau lebih dari pertanyaan M-CHAT dijawab TIDAK

DSM-IV Draft Criteria (Wenar, 1994)


Pandangan mengenai bentuk diagnostik dasar autisme, yaitu :
1. Qualitative impairment in social interaction (min. 2 ciri) 2. Qualitative impairment in communication, (min. 1 ciri) 3. Pengulangan yang terbatas dan stereotip dari bentuk tingkah laku (min. 1 ciri)

Dari DSM IV
Enam atau lebih gejala dari (1), (2), dan (3) dengan sedikitnya 2 dari (1), 1 dari (2) dan (3) 1. Gangguan kualitatif Interaksi Sosial
1.1 Gangguan yg jelas dalam perilaku non verbal mis : kontak mata, ekspresi tubuh, mimik wajah untuk mengatur interaksi sosial 1.2 Tidak bermain dg teman seumurnya dg cara yang sesuai. 1.3 Tidak berbagi kesenangan, minat atau kemampuan mencapai sesuatu dg orang lain tidak berbagi kesenangan dg orang tuanya, tidak ada minat 1.4 Kurangnya interaksi sosial timbal balik mis : berpartisipasi aktif dalam bermain, lebih senang main sendiri.

2. Gangguan kulitatif komunikasi 2.1 Keterlambatan/belum dapat mengucapkan kata tanpa disertai usaha kompensasi cara lain mis : mimik & bhs tubuh 2.2 Bila bisa berbicara, ada gangg kesanggupan memulai / mempertahankan komunikasi 2.3 Penggunaan bahasa yang stereotipik & berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti 2.4 Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan atau bermain meniru scr sosial yg sesuai dg umur perkembangannya.

3. Pola perilaku, minat, dan aktifitas yg terbatas berulang dan tidak berubah (stereotipik) 3.1 Minat yg terbatas, stereotipik dan menetap dan abnormal dalam intensitas dan fokus. 3.2 Keterikatan pada ritual yg spesifik tapi tidak fungsional scr kaku dan tidak fleksibel. 3.3 Gerakan motorik yg stereotipik dan berulang mis flapping tangan, jari, gerakan tubuh yg kompleks 3.4 Preokupasi terhadap bagian benda

Diagnosa
Tidak dibutuhkan pemeriksaan laboratorium atau radiologis utk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan laboratorium hanya merupakan pemeriksaan tambahan utk mengetahui metabolisme anak
Test rambut Test feces Test darah Test urin

Penyulit diagnosa

ASD
(Autistic Spectrum Disorder)

SID Sulit makan


Test darah

Sulit makan Ggn pencernaan

Food allergy

Gangguan perilaku
Byk jamur & bakteri

Leaky gut

Com pany Log o

www.themegallery.com

Keracunan merkury
Test Rambut

Keracunan mercury Sistem imun menurun

Food allergy

Gangguan perilaku

Dpt antibiotik

Leaky gut

Tumbuh jamur diusus


Com pany Log o

www.themegallery.com

Logam berat yang beracun

Zat zat kimia berbahaya


Predisposisi genetik

Gejala- gejala autisme

Kuman, virus, jamur

Zat zat alergen

Learning Disabilities ( kesulitan belajar )

Gangguan Belajar

www.themegallery.com

Developmental
Biasanya dialami anak anak usia playgroup & TK Kesulitan dlm perhatian, memori, persepsi dan kerusakan persepsi motorik selain kerusakan berfikir dan kekurangan bahasa.

Akademis
Disleksia Disgarfia Diskalkulia Dispraksia Disfasia Disorthografia Disnomia

IQ Normal Diatas rata2

Adalah mereka yang memiliki ketakmampuan belajar yang signifikan dibandingkan dgn mayoritas anak sebaya lainnya. Berbagai kesulitan pada kemampuan mendengarkan,membaca, matematika.

Gangguan belajar akademis :


Disleksia: kesulitan membaca, termasuk ketakmampuan mengeja dan menulis. Anak disleksia memiliki ciri pemrosesan informasi yang tidak efisien, kesulitan dalam working memory, kesulitan mengurutkan dan organisasi. misalnya mengeja huruf b jadi d, membaca susu jadi usus. Disgrafia: kesulitan menulis, termasuk penyimpangan kelancaran verbal dan menyatakan pikirannya dalam bentuk tulisan. misalnya menulis terbalik nama jadi mana, angka 6 jadi 9, dll. Diskalkulia: ketakmampuan untuk berpikir kuantitatif, misalnya tidak dapat membedakan tanda + dengan x. Dispraksia : Ceroboh dan kurang terampil misalnya sering menabrak ujung meja, tidak dapat menggunting garis lurus, dll.

KESULITAN BELAJAR YANG LAIN

Disphasia : kesulitan berbahasa verbal, berbicara dan berbagai kekurangan bahasa Kesulitan dalam mengeja kata (disorthographia); misalnya lambat dalam menulis huruf untuk dapat merangkai sebuah kata, sering memberikan jarak terlalu rapat atau terlalu lebar untuk setiap kata. Kesulitan untuk menggunakan kata yang tepat untuk sebuah benda (disnomia); misalnya tidak dapat menyebutkan kata meja untuk gambar meja yang ditunjukkan

Anak dengan kesulitan belajar ini, intelegensi intelektualnya pada umumnya di atas rata-rata, atau paling sedikit rata-rata, namun mereka memperlihatkan pola-pola kesalahan yang sering menunjuk pada kesulitan alam memproseskan stimuli auditory dan visual. Kesulitan untuk memproseskan stimuli auditory dan visual terkait dengan persepsi anak terhadap stimuli sensoris dan fungsi representasi sensori pada neuron tertentu.

AD/HD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas)
Hiperaktif Impulsif Innatensi

Tidak dapat duduk dengan tenang. Sering meninggalkan bangku tanpa alasan yang jelas. Berlari, memanjat tidak pada tempatnya (pada usia dewasa lebih ditunjukkan dengan sikap gelisah). Berkeinginan untuk selalu bergerak aktif. Cerewet.

Kemauan keras Emosi tinggi Tidak sabar/ antri Mengalami masalah dalam menunggu giliran. Sering memotong pembicaraan orang lain Menyerobot.

Tidak konsentrasi - fokus Tidak teliti atau sering ceroboh. Sering tidak mendengarkan pada saat diajak bicara. Tidak menyukai /menghindari tugas berfikir/ konsentrasi. Sering kehilangan; misalnya buku, pensil, penghapus,dll. Pelupa.

Penyebab AD/HD
Genetic MBD (minimal brain dysfunction), misal terjepit jalan lahir, hipoksia, anoksia, kejang dibawah 1 th, terjatuh /kepala terbentur di bawah 3 th Resiko meningkat pada ibu hamil diusia muda. Resiko pada ibu yang kelebihan EPA/DHA atau anak dengan konsumsi EPA/DHA berlebih

Tuna Netra
Setelah dilakukan berbagai upaya perbaikan terhadap kemampuan visual, ternyata ketajaman penglihatan tidak lebih dari 20/200 dan medan penglihatan tidak lebih dari 20 derajat. Batasan Tuna Netra dari sudut pandang pendidikan : Functional Vision bagaimana seseorang menggunakan penglihatannya dalam belajar (tampak pada anak yang low vision) Educationally Blind siswa yang terhambat secara total dalam functional vision sehingga harus memanfaatkan indra lain

Area yang terpengaruh :


perkembangan kognitif menjadi terganggu konsep spasial (ruang) terganggu sehingga anak mengalami gangguan wholepart, seperti memasang puzzle perkembangan bahasa terganggu Perabaan kepribadian

Strategi penanganan :
Pemanfaatan sensori yang lain, melatih kepekaan sensori yang lain, misalnya taktil/raba, pendengaran, dll. Penempatan dan kurikulum Pemilihan strategi pengajaran Menggunakan sisa penglihatan Ketrampilan mendengarkan Braille Orientasi dan mobilitas

Tuna Rungu
Tidak mampu mendengar dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi bunyian lain baik dalam derajat frekuensi dan intensitas. Keadaan dimana anak mengalami kehilangan sebagian atau seluruh pendengaran sehingga untuk berkomunikasi secara verbal sukar/tidak dapat sama sekali.

Klasifikasi :
Mulai terjadinya ketulian: prelingual deafness dan postlingual deafness Tingkat hilangnya pendengaran : Ringan (20-30dB) ambang batas Marginal (30-40dB)- jarak beberapa meter Sedang (40-60dB)-alat bantu dengar/indra Berat (60-75 dB)-tuli edukatif Parah (>75dB)-tanpa alat bantu

Pada masa dibawah satu tahun : refleks primitif tidak berkembang sesuai usia, kurang/tidak merespon stimulus suara, tidak merespon kudangan/panggilan, terlambat atau gagal perkembangan bicara, dll. Tidak mampu beri perhatian saat diajak bicara atau diinstruksikan. Sering gagal berespon berbicara. Minta pengulangan instruksi. Tegang/kerut dahi saat berbicara. Konsentrasi kurang. Menjawab yang tidak tepat atau Salah ucap. Suara terlalu lirih/ terlalu keras. Sulit mengulang kata atau lagu. Respon terhadap instruksi lambat. Bahasa yang digunakan anak tidak terstruktur. Sering mengalami masalah telinga, sakit tenggorokan, dan demam.

Karakteristik :

Apa yang harus dilakukan :


Diagnosa lebih awal sehingga bisa dilakukan intervensi sesegera mungkin. Evaluasi/ assessment ke ahli atau professional (dokter atau psikolog). Bimbingan Remedial, Terapi Wicara, dan Terapi Okupasi. Konseling Orangtua (informasi, bantuan, ketrampilan) Follow up dilakukan terus menerus untuk memantau perkembangan.

Intervensi Dini :
Cakupan bidang : bimbingan ortu dan membantu Sosial-emosional anak melalui orang tuanya. Kemampuan mendengar (bina persepsi bunyi & Irama) untuk mempersiapkan anak ke alat bantu mendengar. Kemampuan berbahasa/komunikasi anak. Kognitif/pengetahuan dengan menggunakan banyak sarana. Perlu kerjasama ahli, seperti : dokter THT, dokter spesialis rehabilitasi medis, psikolog, Terapis (Terapis Wicara, Terapis Okupasi, dll), dan ahli lainnya. Latihan : latihan pendengaran, oralism (bahasa bibir), manualism (bahasa tangan), komunikasi total (Komtal), dan teknologi.

Tuna Grahita
Keterbatasan dalam fungsi inteligensi (dibawah rata-rata) dan fungsi perilaku adaptif (komunikasi, merawat diri, ketrampilan sosial, kesehatan dan keamanan, fungsi akademis dll). Termasuk didalamnya anak dengan Down Syndrome dan anak dengan Retardasi Mental, hidrocephalus, microcephalus, makrocephalus.

Pengkategorian IQ
IQ >128 Mampu mencapai Sarjana yang genius Kategori Very superior

111-119
91-110 80-90 68-79 Sampai dengan 67

SMU yang genius


SMU tanpa masalah SD sampai kelas 6 SD sampai kelas 2 dan lambat Bukan sekolah biasa

Diatas rata-rata
Rata-rata Kurang dari rata-rata Borderline MR

Kategori IQ dibawah rata-rata


IQ 85-90 70-85 Label Slow learner Borderline

55-69
36-54 20-35 0-19

Mild MR
Moderate MR Severe MR Profound

Karakteristik :
Atensi yang terganggu, rentang atensi yang pendek, dan konsentrasi yang kurang. Ingatan yang tidak adekuat. Regulasi diri yang terganggu. Kemampuan berbahasa yang terganggu. Prestasi akademik yang dibawah rata rata anak normal. Perkembangan social yang mengalami gangguan. Motivasi diri yang kurang dalam keterlibatan dengan aktifitas.

Pendidikannya :
Readiness skills (ringan) : anak diajarkan membedakan visual-auditif, mengikuti perintah, mengembangkan bahasa, motorik kasar-halus, mengembangkan bantu diri anak tersebut, ketrampilan preakademik dan memfasilitasi interaksi dengan kelompok

Berat : materi dan kurikulum yang tepat, functional activities praktis, terapi terintegrasi (Fisioterapi, Terapi Wicara, Terapi Okupasi, dll), keterlibatan keluarga, lebih pada lingkungan terdekat, latihan ketrampilan gerakan, kemampuan warna, kemampuan bunyi, dan kemampuan bantu diri anak tersebut .

Tuna Daksa
Tergolong di dalamnya adalah anak-anak dengan gangguan fisik, masalah ortopedik, neurologis atau anak-anak dengan penyakit yang kronis. Kelainan Orthopedik : meliputi masalah dengan kelainan skeletal, hal ini bisa bersifat congenital. Gangguan neurologist : meliputi masalah dalam susunan syaraf pusat termasuk otak dan sumsum tulang belakang, dan berpengaruh pada kemampuan menggerak-kan, menggunakan, merasakan dan mengendalikan tubuh. Masalah kesehatan : masalah kesehatan yang kronis atau akut, dimana menyebabkan keterbatasan dalam kekuatan, vitalitas atau kewaspadaan. Contoh: asma, diabetes, tuberculosis, AIDS, dsbnya.

Cerebral Palsy
Anak cerebral palsy adalah anak yang mengalami gangguan dalam syaraf motorik dimana manifestasinya pada kelainan tonus otot anak, sehingga anak mengalami gangguan pada motorik dan ekstremitasnya.

Mengetahui jenis Cerebral Palsy-nya :


Dilihat dari jenis tonus ototnya : apakah jenis Spastik, apakah jenis dystonic, apakah jenis attetoid, apakah jenis ataxic, atau apakah jenis gabungan. Dilihat are ekstremitas apakah : monoplegi/monoparese : hanya satu ekstremitas saja yang mengalami gangguan. Diplegi : kedua ekstremitas yang terkena dan ekstremitas bawah lebih parah terganggunya. Tertraplegi/tetraparese : keempat ekstremitas yang terganggu Hemiplegi/hemiparese : kedua ekstremitas tapi hanya sebelah (kalau tidak sebelah kiri/kanan).

Epilepsi
Merupakan gangguan aktifitas listrik di otak yang menyebabkan kekejangan. Gangguan aktivitas pada sistem syaraf pusat yang sifatnya mendadak.

Tuna wicara
Hambatan dalam komunikasi verbal secara efektif sehingga pemahaman bahasa yang diucapkan berkurang, bisa juga terjadi gagap, lambat belajar bicara, gangguan suara, kata-kata yang tidak tepat, pemakaian bahasa yang tidak sesuai, ekspresi diri buruk, dan artikulasi buruk. Faktor penyebabnya diantara lain : tuna rungu, hambatan inteligensi (retardasi mental dan Down Syndrome), kecelakaan, autisme dan spektrumnya (rett syndorme, PDD, PDD NOS, dll).

Macam gangguan wicara


Gangguan Suara : Disfonia : ialah gangguan komunikasi yang disebabkan oleh kecacatan organic atau gangguan fungsi alat-alat produksi suara, untuk yang sama sekali tidak ada suara dinamakan afonia. Afonia Gangguan Bahasa : Disfasia : ialah gangguan komunikasi yang disebabkan oleh kerusakan otak, sehingga sulit memahami dan atau mengujarkan apa yang dirasakan atau dipikirkan. Kalau sama sekali sulit dinamakan afasia. Afasia Gangguan irama kelancaran (disritmia) : Stuttering (gagap). Clatering (cepat) Latah

Bulying
Definisi: perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

5 kategori bullying:
Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain) Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip) Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal). Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng). Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).

Kleptomania
Definisi: Ada hasrat berlebih untuk mengambil, atau mencuri sesuatu yang kecil dan mungkin tak berharga. Gangguan utamanya adalah gangguan penguasaan diri, jadi dalam pengkategorian gangguan jiwa ini dimasukkan dalam bagian gangguan penguasaan diri yang berarti orang ini tidak memiliki kemampuan untuk menguasai 'impulses'nya, tidak bisa menguasai dorongan-dorongan dari dalam dirinya.

Gangguan kecemasan
Gangguan kecemasan merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang sehingga menimbulkan perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan dalam jangka waktu yang cukup lama. Kecemasan dapat terjadi dalam berbagai situasi dan kondisi, termasuk didalamnya adalah ketakutan yang besar terhadap beberapa kondisi, yang kemudian dikenal dengan sebutan gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder (GAD)

Ciri perilaku pada anak


Menangis, marah (tantrum), berdiam diri, ketakutan, tergantung . Pemalu yang berlebih Menghindari interaksi dengan orang baru, dan merasa menderita dengan lingkungan sosial yang baru. Gangguan kecemasan umum pada anak ini biasanya terjadi dan menetap selama enam bulan dan berpengaruh pada perilaku seharihari baik di rumah, sekolah, atau dengan teman-temannya.

Gangguan Kecemasan Berpisah (Separation Anxiety Disorder)


Gangguan kecemasan berpisah ditandai dengan kegelisahan berlebihan mengenai jauh dari rumah atau terpisah dari orang atau kepada anak yang di sayangi. Penyebab
Anak mengalami deficit yang tidak terbantu dari awal, baik fisik maupun psikis. Orang tua yang gagal dalam membentuk fase attachment, bonding, dan kemandirian. Orang tua terlalu posesif dan over protektik

Underachievement children (anak yang berprestasi di bawah kapasitasnya)


Tidak adanya motivasi berprestasi, merasa tidak berharga, dan permasalahan dengan kejiwaan terhadap orang dewasa, terutama berkaitan dengan depressi Anak underachiever tidak mempunyai masalah dengan intelegensia, bahkan range dari normal sampai high superior. muncul terutama ketika anak mulai mendekati usia 6 tahun, ketika ia mulai bersaing dengan saudara atau teman-temannya.

Ciri-ciri anak underachiever


Motivasi yang rendah untuk berprestasi Tidak punya goal, tujuan, dan cita-cita. Self efficacy yang rendah (kemampuan dalam memprediksi untuk sukses atau tidaknya dalam sebuah tugas). Merasa tidak berharga. Depresi

Deteksi Dini: Orang Tua Guru Kader

Diagnostik: Psikolog dokter Jenis Terapi Dosis Program

Assessment Konsultan, case manager & TIM: Tingkah laku Sensori Integrasi Okupasi Terapi Terapi Wicara Fisioterapi Remedial

TERAPI: Tingkah laku Sensori Integrasi Okupasi Terapi Terapi Wicara Fisioterapi Remedial

Re evaluasi oleh Konsultan dan case manager

Selesai
Sekolah regular Kelas Transisi Sekolah Inklusi Sekolah khusus/ SLB Griya Rehabilitasi Home Schooling

Terus dengan program baru

www.themegallery.com

Puzzle penanganan ABK

Multidisiplin penatalaksanaan terpadu (dokterpsikiater-gastroenterolog- ahli alergi, psikolog, terapis, dll)

Terapi diet: CFGF Gula Buah berfenol

Farmako terapi : bukan penenang dan tidak menyebabkan ketergantungan

Deteksi dini (seawal mungkin)

Anak Berkebutuhan Khusus

Terapi : Sensori Integrasi Terapi Perilaku Terapi Okupasi Terapi wicara Terapi snoezelen BG, Remedial, dll

Pengeluaran logam berat (Detokxifikasi) Terapi Biomedis Hiperbarik dll

Pola asuh ( tegas, disiplin, konsisten, kasih sayang utuh, jadwal, pengurangan elektronik, reward punishment, dll)

Kerjasama dg pihak sekolah

Top terapi di US (diambil dari healtreshold.com)


1. Sensori Integrasi 2. ABA 3. Casein and gluten free diet 4. Essencial fatty acid (EFA) 5. PECS (picture exchange communication system) 6. Social stories 7. Speech and language patologist 8. Visual schedule 9. Vitamin A 10. Vitamin B6 and magnesium 11. Vitamin C

Top terapi di indonesia


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Sensori integrasi Behavior therapy/ ABA Okupasi terapi Terapi wicara Diet CFGF Remedial Floortime Snoezelen dan Music therapy Hiperbarik Intervensi biomedis PECS (picture exchange communication system) Glen doman AIT (auditory integration training) Dolphin therapy

Tingkat kebutuhan terapi


Terapi wajib bagi anak Berkebutuhan Khusus bila tidak diterapi yang tumbuh hanya fisiknya saja, perkembangan tidak terjadi (komunikasi, bahasa, emosi, perilaku, sensorik, dll)

Tingkat kebutuhan terapi


Sebenarnya seorang Anak Berkebutuhan Khusus idealnya mempunyai 3 terapis yang berbeda (boleh termasuk orang tua) untuk sarana generalisasi. Terapi dipantau oleh ahli nya, dilaksanakan secara simultan dan kontinyu baik di tempat terapi dan dirumah dan lingkungan sehari hari. Keteraturan jadwal sangat diperlukan untuk membentuk perilaku yang terkendali

Efektivitas terapi
Sedini mungkin pendeteksian Jenis terapi yang dipilih (sesuai dengan kebutuhan anak, misal: SI, BT, TW, OT, dll) Program terapi Jumlah jam terapi Tehnik terapis cara memberikan terapi Pola asuh orang tua Diet makanan alergi Konsumsi obat2an Kerjasama semua pihak (dirumah, ditempat terapi, di sekolah).

Kapan ABK berhenti terapi?


Sudah hilang masalah sensorik nya Sudah menguasai 500 konsep yang akan digunakan dalam berkomunikasi (konkret dan abstrak). Sudah mampu normal secara perilaku Sudah mampu komunikasi fungsional

Mempersiapkan ABK ke jenjang sekolah


Saat anak usia preschool seharusnya sudah selesai masalah Sensori dan perilaku. Usia pre school anak sudah bisa menjalani 2 hal: sekolah dan terapi. Meskipun kadang sekolah hanya bertujuan untuk mendapatkan manfaat sosialisasi karena yang menjadi fokus utama adalah terapi.

Pendidikan di Indonesia

Sekolah khusus Home schooling Griya Rehabilitasi

Syarat ABK sekolah umum


1. Komunikasi klasikal (verbal atau non verbal) 2. Gangguan perilaku sudah hilang (temper tantrum, teriak teriak, dll) 3. Gangguan emosi tidak ada 4. Tidak mendistraksi atau terdistraksi anak yang lain 5. Akademis
10/4/2012 84

Apa yang dilakukan bila 5 syarat tidak terpenuhi?

Education for all Sekolah inklusi menjadi jalan terbaik (sekolah siap, guru siap, sistem siap, kurikulum adaptasi siap, anak siap). Syarat anak sekolah sekolah inklusi hanya 3 teratas (komunikasi klasikal, perilaku, dan emosi). Kalau anak memang tidak diterapi dengan baik, dan hasilnya hanya untuk kemandirian , sebaiknya juga jangan paksakan anak sekolah disekolah umum atau pun inklusi, alternatifnya adalah sekolah khusus atau bahkan griya rehab.

Membantu ABK dalam belajar


1. Memahami gaya belajar anak 2. Memberikan struktur tugas dan jadwal yang jelas 3. Mengembangkan potensi anak secara maksimal 4. Menggunakan berbagai metode dalam belajar 5. Memanfaatkan minat dan obsesi anak

86

10/4/2012

Kesimpulan
Kenali sejak dini gangguan tumbuh kembang Lakukan penanganan yang tepat Berikan dasar yang kuat sebelum usia emas lewat Berjuang untuk kesuksesan anak berkebutuhan khusus tanpa lelah

www.friendster.com/klinikyamet

Email : klinik_yamet@yahoo.com Facebook : mr_busy2006@yahoo.co.id


Jl. H Ismail no 15B Komplek Taman Cilandak Jaksel tlp 0217659839 Cab Depok Jl Arjuna Raya no 8 Depok II Tengah Tlp 02177835245 Cab Pdk Kopi Jl. Pondok Kopi E1 no E1 No4A Tlp70913683 Cab bekasi Perum Bumi Anggrek Blok AA no 18-19 bekasi tlp 021-92295444 Cab Cibubur Perum Puri Sriwedari Blok N no 1 tlp 02144344366 atau 021-84303989 Cab Cirebon Jl Kalijaga no 58 tlp 0231-8228942 Cab Cikarang Jl Delta Mas Boulevard Ruko Palais de paris Blok I / 1 Cikarang Pusat tlp 021-89970588