Anda di halaman 1dari 1

Setengah dibawah Bulan puisi nyanyian malam Dalam malam, aku senantiasa bersendagurau dengan alam Setengah dibawah

Bulan Aku sedang merajut kekinian masa, sebagai wanita yang beranjak dewasa dan tak l agi muda. Sore yang semakin gelap dan terguyur helaian bulir air perlahan, hujan semakin deras. Meluruhkan egoku, ketidakpastianku, kepergianku, serta kekecewaa nku. Karena menyesali tiadalah guna, mengumpat tiadalah akhir, berteriak marah p un akan semakin menghabiskan waktu. Bulan di atas harus ku raih apapun kondisinya, aku harus terus berjalan, berlari mengejar semua ketinggalan-ketinggalan yang pernah ku lepaskan. Karena ketidakt ahuanku dan ketidakpedulianku. Setengah nafas aku berusaha, setengah jiwa aku me rasa.. Pahit dan lelah ku jalani sendiri. Aku harus mencari rezeki yang tak muda h dilalui, aku harus mendidik seorang anak hasil pergaulan bebas sekolah semasa dulu. Sekelebat kejadian dulu tergores dalam pikiran, membuatku sedih dan tak berdaya. Teriris jiwa.. pedih dan luka. Dibalik sebuah kotak disudut ruangan, terlihat ayunan berayun gotai sendirian se telah ditinggal Ayuma bermain. Ayuma kecil, sosok imut nan jelita sebagai idaman kelak. Sifatnya yang ceria dan senyuman manisnya dapat mengubah dunia yang memu suhimu menjadi sahabat. Ayuma.. Ayuma.. Aku sebagai ibu muda yang sendiri, Terhadap hidup yang kutanggung karena perbuatanku ini, Dengan lelaki yang tak punya hati meninggalkanku diujung jalan tanpa tujuan, Dia lari, berlari menjauhi tanggung jawabnya sebagai ayahmu, juga sebagai su amiku, Dengan meletakkan rasa kecewa tanpa keluarga satupun disisi.. Ayuma.. Ayuma.. Hanya engkaulah satu-satunya milikku, Masih panjang yang akan kita lalui diperjalanan, Buah hatiku, keceriaanku, dan penghidupanku, Hanya engkaulah, yang membuatku tetap tegar untuk meraih bulan..