Anda di halaman 1dari 66

Gangguan Keseimbangan Cairan, Elektrolit, dan Asam Basa

HG 2 Annisa Rahmawati Cahya Novita Sari Eka Septia Wahyuni Juwanty Eka Putri Musayemah Kurnia Putri Oktaviany

DIARE

Definisi Diare
Diare adalah peningkatan jumlah feses dan peningkatan pengeluaran feses yang cair dan tidak berbentuk dengan frekuensi 3x atau lebih per hari dengan atau tanpa darah dan lender dalam tinja (Potter & Perry, 2005). Kandungan air feses lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam.

Klasifikasi Diare
Akut Waktu Kronis Diare Osmotik Diare Sekretorik Patofisiologi Diare Malabsorpsi

Diare

Diare Eksudatif Diare Infektif Diare Non Infektif Diare Dehidrasi Ringan Derajat dehidrasi Diare Dehidrasi Sedang Diare Dehidrasi Berat

Penyebab infeksi / tidak

Etiologi Diare
Diare akut
Bakteri : Shigella Sp, E. Coli Patogen, Salmonela Sp, Vibrio Cholera, Yersinia Entreo Colytica, Campylobacter Jejuni, V. Parahoemoliticus, VNAG Staphylococcus Aureus, Streptococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Aeromonas, Proteis, Dll Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Norwalk like virus, Cytomegalovirus (CMV), echovirus, HIV virus Parasit-protozoa : Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Cryptosporadium parvum, Balantidium coli Worm : A. Lumbricoides, cacing tambang, trichuris trichura, S. sterocoralis, cestodiasis dll Fungus : Kardia/moniliasis Parenteral : Otitis Media Akut (OMA), pneumonia, travellers diarrhea : E. Coli, giardia lambia, shigella, entamoeba histolyca dll Intoksikasi makanan : makanan beracun atau mengandung logam berat, makanan mengandung bakteri atau toksin : clostridium perfringens, B. Cereus, S. Aureus, streptococcus anhaemohytivus dll Alergi : susu sapi, makanan tertentu Malabsorbsi/maldifestasi : karbohidrat : monosakarida (glukosa, galaktosa, fruktosa), disakarida (lakstosa, maltosa, sakarosa), Lemak : rantai panjang trigliserida, protein : asam amino tertentu, celiacsprue gluten malabsorbtion, protein intolerance. Cows milk, vitamin & mineral Imunidefisiensi Terapi obat, antibiotik, kemoterapi, antasid, dll Tindakan tertentu seperti gastrektomi, gastroenterostomi, dosis tinggi terapi radiasi Lain-lain : sindrom zollinger-ellison, neuropati autonomik (neuropati diabetik)

Mekanisme Diare

v DIARE

Virus

Bakteri Lambung HCL

Makanan (basi, keracunan) Memproduksi enterotoksin dan neurotoksin Bakteri mati Gangguan motilitas usus hiperperistaltis Makanan berlalu cepat dalam usus Penurunan absorbsi makanan di usus Neutrofil mengeluarkan Pirogen endogen Prostaglandin Titik patokan hipotalamus Mengawali respon dingin Produksi panas Pengurangan panas peningkatan volume cairan diusus Diare

Psikologis

Malabsorbsi protein dan karbohidrat

Menembus dinding usus Menginfeksi dan merusak vili usus halus

Stimulus saraf simpatis hiperperistaltis usus meningkat

Terdapat enzim yang tidak disekresikan Sekresi cairan dan elektrolit tetap Sehingga zat makanan menjadi lebh hipertonik Tekanan osmotik meningkat

Bakteri dapat lolos & masuk duodenum

Kerusakan Sel Berkembang biak Perbaikan sel kuboid/ sel epitel pipih yang baru

Penurunan penyerapan makanan Peningkatan cairan di usus

Memproduksi enterotoksin (enzim siklik adenilase)

Penurunan BB Diare

Permeabilitas usus meningkat Sekresi air dan elektrolit meningkat Air dan elektrolit berpindah ke rongga

Fungsi usus belum stabil

ATP cAMP

()

Tidak mengabsorpsi makanan dan cairan dengan baik

Merangsang sekresi cairan di usus Volume cairan di usus meningkat Motilitas usus meningkat

Tekanan koloid osmotic meningkat

Gangguan absorbsi Volume rongga usus meningkat

Motilitas usus meningkat Diare

Diare Suhu tubuh meningkat ke titik patokan baru

Respon untuk mengeluarkan Diare

Demam Diare Kehilangan cairan dan elektrolit berlebihan dehidrasi Syok hipovolemik

Lesi disaluran pencernaan

Melambatnya gerakan peristaltic usus dan sekresi pancreas ke dalam lambung

muntah Menekan aktivitas lambung Serabut aferen di usus memicu pusat muntah di medula

Diare
Diare adalah peningkatan jumlah feses dan peningkatan pengeluaran feses yang cair dan tidak berbentuk dengan frekuensi 3x atau lebih per hari dengan atau tanpa darah dan lender dalam tinja yang mempengaruhi proses pencernaan, absorpsi, dan sekresi dalam saluran GI (Potter & Perry, 2005).

Klasifikasi Diare Diare Akut Etiologi


bakteri, virus, parasit, dan non-infeksi
kelainan endokrin, kelainan hati, kelainan pankreas, infeksi, keganasan

Diare Kronik

Komplikasi
Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik). Renjatan hipovolemik. Hipokalemia (hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram). Hipoglikemia. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

Dehidrasi
HIPOTONIK
ISOTONIK HIPERTONIK

Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam Basa

Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Dalam mempertahankan suatu hemostasis, pemasukan cairan melalui ingesti atau produksi metabolik harus diseimbangkan dengan pengeluarannya yang setara melalui ekskresi atau konsumsi metabolik.

Air merupakan penyusun tubuh terbanyak sekitar 60% berat tubuh Terdiri dalam 2 kompartemen : - CIS (2/3 total H20 tubuh) - CES (1/3 total H2O tubuh) * interstisial (4/5 volume CES) * plasma (1/5 volume CIS) * Plasma dan cairan interstisium dipisahkan oleh dinding pembuluh darah, sedangkan CES dan CIS dipisahkan oleh membran plasma sel

Pergerakan Cairan
Distribusi cairan di dalam dan luar sel tergantung pada tekanan osmotic yang berkaitan dengan osmolaritas suatu cairan. Air akan bergerak dari yang konsentrasi rendah ke tinggi. pergerakan air menembus membrane sel kapiler ditentukan oleh tekanan hidrostatik dan osmotic. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler atau penurunan tekanan osmotic koloid plasma mengakibatkan semakin banyak cairan yang bergerak dari kapiler menuju cairan interstisial

Pengaturan keseimbangan cairan berfokus pada volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel Volume cairan ekstrasel harus diatur secara ketat dalam mempertahankan tekanan darah (memelihara keseimbangan garam penting dalam pengaturan jangka panjang volume CES) Osmolaritas cairan ekstrasel harus diatur secara ketat untuk mencegah pembengkakan atau penciutan sel-sel (memelihara keseimbangan air sangat penting dalam pengaturan osmolaritas CES)

Kontrol osmolaritas CES mencegah perubahan volume CIS


Osmolaritas suatu cairan adalah ukuran konsentrasi partikel zat individual yang larut di dalamnya. Semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsenstrasi zat terlarut, atau semakin rendah konsentrasi H2O, air cenderung berpindah melalui osmosis mengikuti penurunan gradien konsentrasi dari daerah dengan konsentrasi zat terlarut rendah (H2O tinggi) ke daerah dengan konsentrasi zat terlarut tinggi (H2O rendah).

Hipertonisitas CES (konsentrasi zat terlarut CES berlebihan, H2O berkurang )


Disebabkan oleh : insufiensi asupan H2O saat berada di gurun pasir, pengeluaran H2O berlebihan saat keringat, muntah, diare, saat diabetes insipidus
Jika kompartemen CES hippertonik, H2O bergerak ke luar dari sel melalui osmosis ke dalam CES yang lebih pekat sampai osmolaritas CIS setara dengan CES.

Sel dapat menciut

Hipotonisitas CES (Kelebihan H2O dari pada zat terlarut) Disebabkan oleh pasien gagal ginjal, orang minum banyak dalam waktu singkat, sekresi vasopresin yang tidak sesuai

H2O berpindah melalui osmosis dari CES yang lebih encer masuk ke dalam sel,

sel dapat membengkak

Pengurangan atau penambahan Isotonik


Contoh penambahan cairan isotonik dengan pemberian cairan isotonik Contoh pengurangan cairan isotonik adalah perdarahan

Volume CES meningkat tetapi konsentrasi zat terlarut CES tetap sehingga CES tetap isotonik

Pengurangan tersebut terbatas pada CES tanpa disertai pengurangan cairan CIS

Tidak terjadi pergeseran cairan antara CES dan CIS sehingga tetap berada dalam keseimbangan osmotik

Kontrol Keseimbangan air oleh vasopresin dan rasa haus sangat penting dalam mengatur osmolaritas CES Kontrol pemasukan air oleh rasa haus. Pusat rasa haus terletak di hipotalamus dekat dengan sel penghasil vasopresin Kontrol pengeluaran air di urin oleh vasopresin

Osmolalitas

Volume CES

Merangsang osmoreseptor hipotalamus

Tekanan Darah

Reseptor volume atrium kiri

Neuron hipotalamus
Rasa haus

Vasopresin

Vasokontriksi arteriol

Permeabilitas tubulus distal dan pengumpul erhadap H2O Asupan H2O Reabsorpsi H2O Osmolaritas Plasma Pengeluaran urin

Volume plasma

Ketika volume CES/plasma rendah dan tekanan darah arteri rendah juga meningkatkan sekresi aldosteron
Na+ dalam tubuh

Tekanan darah arteri

GFR

Aldosteron

Na+ yang difiltrasi

Na+ yang direabsorpsi

Ekskresi Na+

Volume plasma

Tekanan darah

Elektrolit terdiri dari kation dan anion. Kation utama yaitu natrium (Na+), kalium (K+), kalsium (Ca2+), dan magnesium (Mg2+). Sedangkan anion utama adalah klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), dan fosfat (PO3-).

1) pengaturan natrium. Natrium : kation yang paling banyak jumlahnya dalam cairan ekstrasel. berfungsi mempertahankan keseimbangan air, mentransmisi impuls saraf dan kontraksi saraf. Kadar natrium serum : 135 sampai 145 mEq/L. Natrium diatur oleh asupan garam, aldosteron dan haluaran urin. Aldosterone berperan dalam mengatur keseimbangan jumlah natrium yang diserap kembali oleh darah.

2) pengaturan kalium.
Kalium merupakan kation intrasel utama, yang mengatur eksitabilitas (rangsangan) neuromuscular dan kontraksi otot serta membantu pengaturan keseimbangan asam basa. Kadar normal kalium serum adalah 3,5 sampai 5,3 mEq/L. Kalium diatur oleh ginjal. Seiring dengan peningkatan aldosteron, kalium yang diekskresikan melalui urin akan lebih banyak sehingga kadar kalium serum menurun. Selain itu, dengan pertukaran ion kalium dengan ion natrium di tubulus ginjal. Jika natrium dipertahankan, kalium akan diekskresi.

3) pengaturan kalsium.
Kalsium digunakan untuk integritas dan struktur membrane se, konduksi jantung yang adekuat, koagulasi darah, pembentukan dan pertumbuhan tulang dan relaksasi otot. Kadar normal kasium serum adalah 4 sampai 5 mEq/L. kalsium didalam cairan ekstrasel diatur oleh kerja kelenjar paratiroid dan tiroid. Hormone paratiroid (PTH) mengontrol keseimbangan kalsium tulang, absorpsi kalsium di GI, dan ekskresi kalsium di ginjal. Tirolkasitoni dari kelenjar tiroid juga berperan dalam menghambat pelepasan kalsium dari tulang.

4) pengaturan magnesium. Magnesium berfungsi untuk aktivitas enzim, neurokimia dan eksitabilitas otot. Kadar normal magnesium serum adalah 1,5 sampai 2,5 mEq/L. Magnesium diekskresi melalui mekanisme ginjal. 5) pengaturan klorida. Klorida ditemukan di dalam cairan ekstrasel dan intrasel. Keseimbangan klorida dipertahankan melalui asupan makanan, dan ekskresi serta reabsorpsi renal. Kadar normal klorida serum adalah 100 sampai 106 mEq/L. 6) Pengaturan bikarbonat. Bikarbonat adalah buffer dasar kimia yang utama di tubuh. kadar normal bikarbonat arteri antara 22 sampai 26 mEq/L. Bikarbonat diatur oleh ginjal. 7) pengaturan fosfat. Fosfat adalah anion buffer dalam cairan intrasel dan ekstrasel. Fosfat meningkatkan kerja neuromuscular normal dan membantu pengaturan asam baska. Kadar normal fosfat serum adalah 2,5 sampai 4,5 mg/100 ml. konsentrasi fosfat serum diatur oleh ginjal, hormone paratiroid, dan vitamin D teraktivasi dan fosfat ini diserap melalui saluran pencernaan

Keseimbangan Asam Basa


Keseimbangan asam basa mengacu pada pengaturan konsentrasi ion hidrogen bebas (tidak terikat) di dalam cairan tubuh. Tanda pH untuk menyatakan konsentrasi ion hidrogen. pH darah arteri dalam keadaan normal adalah 7,45 sedangkan pH darah vena adalah 7,35. Untuk pH darah rata-rata adalah 7,4. Apabila pH darah turun dibawah 7,35 disebut asidosis sedangkan apabila pH darah naik diatas 7,45 disebut alkalosis.

Untuk mempertahankan H+ yang konstan di cairan tubuh, pemasukan ion hidrogen harus diseimbangkan dengan pengeluarannya.

Pada keadaan normal ion H+ secara terus-menerus ditambahkan ke cairan tubuh dari tiga sumber melalui : pembentukan asam karbonat, asam anorganik yang dihasilkan selama penguraian nutrien asam organik yang dihasilkan dari metabolisme perantara misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak sebagian asam akan berdisosiasi melepaskan ion H+.

Hal yang terpenting dalam keseimbangan H+ adalah mempertahankan alkalinitas normal CES walaupun asam terusmenerus dihasilkan

Terdapat tiga cara mengatasi setiap perubahan H+ agar selalu konstan dalam cairan tubuh yakni melalui : sistem penyangga (dapar) kimiawi, mekanisme kontrol pH oleh sistem pernapasan dan mekanisme kontrol pH oleh ginjal.

Sistem penyangga kimiawi


berfungsi sebagai pertahanan lini pertama bekerja cepat dalam waktu sepersekian detik dalam memperkecil perubahan pH jika terjadi penambahan atau pengurangan asam atau basa. Sistem penyangga ini terdiri dari sepasang bahan yang reversible yang dapat menghasilkan H+ bebas ketika konsentrasi H+ mulai turun dan bahan yang lain yang dapat berikatan dengan H+ apabila konsentrasi H+ mulai naik.

Empat penyangga kimiawi


Sistem penyangga H2CO3: HCO3- adalah penyangga CES primer untuk asam-asam non karbonat. Berfokus pada persamaan : H+ + HCO3H2CO3CO2 + H2O Sistem penyangga protein sangat penting di dalam sel karena mengandung gugus-gugus asam dan basa yang dapat menyerap dan memberi H+. Sistem penyangga hemoglobin menyangga ion hidrogen yang dihasilkan oleh asam karbonat Sistem penyangga fosfat adalah penyangga sistem kemih yang penting yang terdiri dari garam fosfat asam (NaH2PO4) yang dapat memberikan sebuah H+ bebas jika konsentrasi H+ turun dan sebuah garam fosfat basa (Na2HPO4) yang dapat menerima sebuah H+ bebas apabila konsentrasi H+ meningkat.

Sistem pernapasan sebagai lini pertahanan kedua


berespons dalam hitungan beberapa menit kemudian mengatur konsentrasi ion hidrogen dengan mengontrol kecepatan pengeluaran CO2 sebagai penghasil H+ dari plasma melalui penyesuaian ventilasi paru. Ketika konsentrasi H+ arteri menurun, ventilasi paru berkurang. Akibat bernapas yang lebih lambat dan lebih dangkal, CO2 hasil metabolisme akan berdifusi dari sel ke dalam darah lebih cepat daripada pengeluaran gas tersebut dari darah oleh paru, sehingga terjadi penimbunan lebih banyak CO2 pembentuk asam di darah sehingga konsentrasi H+ dpat dipulihkan ke normal.

Ginjal sebagai lini pertahanan ketiga


berespons dalam hitungan jam sampai hari berperan penting mengontrol keseimbangan asam-basa dengan mengontrol konsentrasi ion hidrogen dan bikarbonat dalam darah. Untuk kompensasi asidosis, ginjal mengeluarkan asam (H+) ke urin dan mereabsorpsi semua HCO3- yang difiltrasi serta menambahkan basa (HCO3-) ke cairan tubuh, sehingga pH menjadi normal. terdapat dua penyangga urin yakni penyangga fosfat (yang difiltrasi) dan ammonia (NH3) yang disekresi. Ammonia (NH3) akan berikatan dengan H+ sehingga akan ikut keluar melalui urin ketika terjadi kelebihan H+. Ginjal secara lebih efektif mengeliminasi H+ yang berasal dari asam sulfat, fosfat, laktat dan asam lain daripada paru yang hanya dapat mengeluarkan asam karbonat melalui eliminasi CO2.

ketidakseimbangan asam basa


Asidosis respiratorik (retensi CO2 yang disebabkan oleh hiperkapnia
sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi H+. Penyebabnya penyakit paru, gangguan sara atau otot yang mengurangi kemampuan otot pernapasan, atau tindakan menahan napas. Alkalosis respiratorik (pengeluaran berlebihan CO2 dari tubuh akibat hiperventilasi sehingga H+ menurun. Penyebabnya adalah demam, rasa cemas dan keracunan aspirin. Asidosis metabolik (semua jenis asidosis selain yang disebabkan oleh kelebihan CO2) ditandai oleh penurunan konsentrasi HCO3- plasma sedangkan CO2 normal. Disebabkan oleh diare berat, diabetes mellitus, olahraga berlebihan. Alkalosis metabolik (reduksi konsentrasi H+ plasma karena defisiensi relative asam asam non karbonat. Berkaitan dengan peningkatan HCO3tidak disertai perubahan CO2. Disebabkan oleh muntah dan ingesti obatobat alkali.

Hubungan perubahan Volume cairan dan sistem sirkulasi

Penurunan volume CES, dengan menurunkan volume plasma menyebabkan penurunan tekanan darah arteri, begitu juga sebaliknya. Terdapat dua kompensasi atas perubahan volume CES ini (Sherwood, 200 1)Mekanisme refleks baroreseptor terkait curah jantung Terjadi perpindahan cairan sementara dan otomatis, penurunan volume plasma dikompensasi dengan pergeseran

Perubahan elektrolit terhadap EKG

Kriteria EKG (terkait gelombang T)


Irama (Rhythm) Bila teratur (reguler) dan gel. P selalu diikuti gel. QRS-T yakni normal disebut Sinus Ritme (irama sinus). Bila irama cepat lebih dan 100 kali/menit disebut sinus tachikardi kurang dari 60 kali/menit disebut sinus bradikardi Selain dan yang tersebut di atas adalah aritmia Gelombang T (T Wave) Ukurannya dari awal sampai dengan akhir gel. T. Nilai normal amplitudo (tinggi): Minimum 1 mm. Gelombang T menggambarkan: Adanya kelainan otot jantung (iskemia/infark). Menandakan adanya kelainan elektrolit.

Gangguan elektrolit dan interpretasi EKG


Hyperkalemia: evolusi (1) gelombang T runcing, (2) perpanjangan PR dan gelombang P datar, serta (3) QRS melebar. Kompleks QRS dan gelombang T menyatu membentuk sebuah gelombang sinus.

Hypokalemia: danya gelombang U yang tingginya bisa sama dengan gel T, bahkan lebih tinggi dari gel T. Tiap pasien berbeda, artinya tidak semua pasien dengan kalium rendah akan menyebabkan munculnya gel U. Gelombang U muncul diawali dengan gel T yang datar atau inverted, sampai pada titik rendah nilai kaliumnya, sehingga akan muncul gel U.

Hypercalcemia: QT interval memendek,yaitu tidak adanya ST segment Hypocalcemia: QT interval memanjang, yaitu lebih dari normal ( > 0,46 detik).

Terapi Cairan

Terapi Cairan
Terapi cairan intravena, ada dua metode yang dipakai yaitu infus IV kontinu dan infus IV intermiten (Kee & Hayes, 1996).

Pemberian IV kontinu dimaskudkan untuk mengganti kehilangan cairan, menjaga keseimbangan cairan, dan sarana pemberian obat. Pemberian IV intermiten terutama ditujukan untuk memberikan obat IV.

Penggantian Cairan (Potter & Perry, 2006): Secara enteral: oral dan melalui selang Secara parenteral: nutrisi parenteral total (NTP), terapi cairan dan elektrolit vena, dan penggantian darah

Cairan Intravena
Jenis-Jenis Cairan Intravena (Potter & Perry, 2006): Cairan Hipotonik: Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitar dan akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Kurang dari 240 mOsm, contoh: 0,45% Normal Saline dan 0,2% Normal Saline. Cairan hipotonik ini diberikan pada pasien dengan dehidrasi hipertonik.

Cairan Isotonik: Osmolaritasnya mendekati serum, sehingga terus berada dalam pembuluh darah 240-349 mOsm. Contoh:Normal Saline dan Ringer Lactate. Cairan isotonik ini diberikan pada pasien dengan dehidrasi isotonik.
Cairan Hipertonik: Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum. Maka yang terjadi adalah menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Konsentrasi lebih dari 340 mOsm, contoh: 3% Sodium Chloride solution dan D5 0,9NS. Cairan hipertonik ini diberikan pada pasien dehidrasi hipotonik.

Pembagian Cairan Intravena Kristaloid: Bersifat isotonik, efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan dengan segera. Contoh: dextrose dalam air atau saline, Isotonic (Normal saline), Ringers. Koloid: Ukuran molekulnya cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah. Sifat dari cairan koloid ini yaitu hipertonik dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contoh: Darah, albumin.

Jenis Cairan Infus


Cairan Resusitasi
ekstrasel.

Cairan Maintenance
terganggu oleh syok atau hipotensi.

Menggantikan kehilangan akut dari cairan Untuk pasien yang hemodinamiknya tidak

Cairan isotonik, yaitu Asering, Ringer laktat, Contoh cairan: Aminofluid. KA-EN dan Normal saline digunakan pada gangguan asam basa yang menyertai. Asering mengandung Na: 130 mEq, K: 4 mEq, Cl: 109 mEq, Ca: 3 mEq, asetat: 28 mEq RL mengandung Na: 130 mEq, K: 4 mEq, Cl: 108,7 mEq, Ca: 2,7 mEq, dan laktat: 28 mEq NS mengandung Na: 154 mEq, CL: 154 mEq

Water gain Cairan yang diminum Makanan yang dimakan Metabolisme air

Water loss Feses IWL Keringat Urin

Bisa juga dihitung dengan skor Daldiyono


Haus/muntah 1

Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg


Tekanan darah sistolik <60 mmHg Frekuensi nadi >120x/menit Kesadaran apatis Kesadaran somnolen/sopor/koma Frekuensi nafas >30x/menit Facies Cholerica Vox Cholerica Turgor kulit menurun Washer Woman Hand Ekstremitas dingin Sianosis Umur 50-60 tahun Umur >60 tahun

1
2 1 1 2 1 2 2 1 1 1 2 -1 -2

Obat diare dibagi menjadi tiga: Kemoterapika (sesuai dengan resep dokter), yang memberantas penyebab diare seperti bakteri atau parasit, seperti antibiotika, sulfonamide, kinolon, furazolidon. Obstipansia, untuk menghilangkan gejala diare Spasmolitik, membantu menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan

Pada pasien diare

Elektrolit dan air hilang

Dehidrasi isotonik

Diberikan cairan resusitasi

Untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang

Paling aman NaCl 0.9% Mengganti natrium yang hilang

Jadi kebutuhan cairan yang dibutuhkan pasien selama satu hari yaitu 3192cc/hari. Pasien diberikan cairan NaCl 0,9% sebanyak 500cc/8 jam sehingga pemberian cairan selama satu hari sebanyak 1500cc/24 jam.
Pemberian cairan infus harian ini belum mencukupi kebutuhan cairan pasien Pasien masih kekurangan cairan sebanyak 1692 cc Kekurangan cairan ini dipenuhi dari asupan oral dari minum dan makan pasien.

Asuhan Keperawatan
Pengkajian Riwayat kesehatan Terapi obat-obatan yang diterima saat ini Asupan diet harian Frekuensi BAB Konsistensi feses Muntah Gaya hidup Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan EKG Pemeriksaan feses (adanya kandungan darah, lendir dan lainlain) Pemeriksaan fisik Denyut nadi, tekanan darah serta suara jantung Berat badan Tingkat kesadaran Ada atau tidaknya kram abdomen Intake output cairan yang berhubungan dengan status oliguria klien Turgor kulit

KASUS
Seorang pria berusia 30 tahun dibawa ke UGD karena mengalami diare selama 6 hari yang terkadang disertai muntah. Selama 6 hari pasien kekurangan asupan cairan. Ketika dikaji pasien mengalami dehidrasi berat. Dari pemeriksaan fisik TD 90/50 mmHg, Nadi 60 kali/menit, RR 26 kali/menit, suhu 38 derajat celcius, produksi urin oliguria. Di ruang gawat darurat pasien tampak gelisah, keluarga cemas, dan menanyakan kondisi pasien pada staf dokter dan perawat. Pemeriksaan EKG didapatkan gelombang sinus, perubahan

Pengkajian
Klien pria usia 30 tahun diare dan muntah selama 6 hari, dehidrasi berat BB normal 60 kg, BB sekarang 57 kg turun 3 kg

TD 90/50 hipotensi
Nadi 60 kali/menit lemah RR 26 kali/menit takipnea Suhu 38C tinggi, oliguria Kesadaran compos mentis EKG, gelombang sinus dan perubahan gelombang T Terapi cairan NaCl 0,9%, 500 cc/8 jam dan onat-obatan

Hasil Anamnesa : riwayat perjalan penyakit kepada keluarga/ pasien, lamanya sakit, frekuensi, volume, warna, ada tidaknya batuk, pilek, demam sebelum atau setelah diare, BB sebelum dan setelah diare
Pemeriksaan fisik : Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan, rewel/gelisah Perkusi : adanya distensi abdomen. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis Auskultasi : terdengarnya bising usus.

Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan tinja: - Makroskopis dan mikroskopis - PH dan kadar gula dalam tinja - Bila perlu diadakan uji bakteri Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

Diagnosa Keperawatan
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah, BAB berlebih, dan dehidrasi Kriteria evaluasi: tanda vital dalam batas normal, turgor elastik, dan konsistensi BAB normal Intervensi: pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit, pantau intake dan output, timbang berat badan, dan terapi cairan

Diagnosa Keperawatan
perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan output. Kriteria evaluasi: nafsu makan meningkat dan BB meningkat dan normal Intervensi: pengaturan diet, ciptakan lingkungan yang bersih, berikan jam istirahat, dan monitor intake dan output

Diagnosa Keperawatan
ansietas berhubungan dengan eliminasi yang sering dan tidak terkontrol Kriteria evaluasi: ansietas pasien kurang Intervensi: mendukung upaya koping pasien.

Evaluasi
Evaluasi (Brunner & Suddarth, 1996) hasil yang diharapkan: Melaporkan pola defekasi normal. Mempertahankan keseimbangan cairan Mengkonsumsi cairan per oral dengan adekuat Melaporkan tidak ada keletihan dan kelemahan otot Menunjukkan membrane mukosa lembab dan turgor jaringan normal Mengalami keseimbangan asupan dan haluaran Mengalami berat jenis urin normal. Mengalami penurunan tingkat asietas Mempertahankan integritas kulit. Mempertahankan kulit tetap bersih setelah defekasi Menggunakan pelembab atau salep sebagai barier kulit