Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

Trauma saluran kemih sering tak terdiagnosa atau terlambat terdiagnosa karena perhatian penolong sering tersita oleh jejas-jejas ada di tubuh dan anggota gerak saja, kelambatan ini dapat menimbulkan komplikasi yang berat seperti perdarahan hebat dan peritonitis, oleh karena itu pada setiap kecelakaan trauma saluran kemih harus dicurigai sampai dibuktikan tidak ada.7 Trauma saluran kemih sering tidak hanya mengenai satu organ saja, sehingga sebaiknya seluruh sistem saluran kemih selalu ditangani sebagai satu kesatuan. Juga harus diingat bahwa keadaan umum dan tanda-tanda vital harus selalu diperbaiki/dipertahankan, sebelum melangkah ke pengobatan yang lebih spesifik.7 Trauma urethra biasanya terjadi pada pria jarang pada wanita. sering ada hubungan dengan fraktur pelvis dan straddle injuri. Trauma uretra biasanya lebih sering pada anak-anak laki-laki dibandingkan dewasa yaitu pada usia sekitar 15 tahun. Urethra pria terdapat dua bagian yaitu anterior yang terdiri dari urethra pars glanularis, pars pendulans, pars bulbosa dan posterior yang terdiri dari pars membranacea dan pars prostatika. Bagian-bagian uretra dapat mengalami laserasi, transeksi atau kontusio. Penangannya berdasarkan berat ringannya trauma.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI URETRA Uretra adalah saluran yang dimulai dari orifisium uretra interna dibagian buli-buli sampai orifisium uretra eksterna glands penis, dengan panjang yang bervariasi. Uretra pria dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian anterior dan bagian posterior. Uretra posterior dibagi menjadi uretra pars prostatika dan uretra pars membranasea. Uretra anterior dibagi menjadi meatus uretra, pendulare uretra dan bulbus uretra. Dalam keadaan normal lumen uretra laki-laki 24 ch, dan wanita 30 ch. Kalau 1 ch = 0,3 mm maka lumen uretra laki-laki 7,2 mm dan wanita 9 mm.3 1. Urethra bagian anterior Uretra anterior memiliki panjang 18-25 cm (9-10 inchi). Saluran ini dimulai dari meatus uretra, pendulans uretra dan bulbus uretra. Uretra anterior ini berupa tabung yang lurus, terletak bebas diluar tubuh, sehingga kalau memerlukan operasi atau reparasi relatif mudah. 2. Urethra bagian posterior Uretra posterior memiliki panjang 3-6 cm (1-2 inchi). Uretra yang dikelilingi kelenjar prostat dinamakan uretra prostatika. Bagian selanjutnya adalah uretra membranasea, yang memiliki panjang terpendek dari semua bagian uretra, sukar untuk dilatasi dan pada bagian ini terdapat otot yang membentuk sfingter. Sfingter ini bersifat volunter sehingga kita dapat menahan kemih dan berhenti pada waku berkemih. Uretra membranacea terdapat dibawah dan dibelakang simpisis pubis, sehingga trauma pada simpisis pubis dapat mencederai uretra membranasea.

B. PEMBAGIAN

Berdasarkan anatomi, trauma uretra dibagi atas trauma uretra posterior yang terletak proksimal diafragma urogenital dan trauma uretra anterior yang terletak distal diafragma urogenital. Hal ini karena keduanya menunjukkan perbedaan dalam hal etiologi trauma, tanda gejala klinis, pengelolaan serta prognosisnya.1,2
1. Trauma uretra posterior

Trauma uretra posterior yang terdiri dari pars membranacea dan pars prostatika. Trauma uretra posterior hampir selalu disertai fraktur tulang pelvis. Akibat fraktur tulang pelvis, terjadi robekan pars membranacea karena prostat dengan uretra pars prostatika tertarik ke cranial bersama fragmen fraktur, sedangkan uretra pars membranasea terikat di diafragma urogenital. Trauma uretra posterior dapat terjadi total atau inkomplet. Pada trauma total, uretra terpisah seluruhnya dan ligamentum puboprostatikum robek sehingga buli-buli dan prostat terlepas ke cranial. Diafragma urogenital yang mengandung otot-otot yang berfungsi sebagai spincter urethra melekat/menempel pada daerah os pubis bagian bawah. Bila terjadi trauma tumpul yang menyebabkan fraktur daerah tersebut, maka urethra pars membranacea akan terputus pada daerah apeks prostat pada prostato membranaeous junction.1,2

Media file 1: Urethrogram menunjukkan partial urethral disruption.6

Media file 2: Urethrogram menunjukkan complete urethral disruption.6

Patologi1 Trauma uretra posterior biasanya disebabkan oleh karena trauma tumpul dan fraktur

pelvis. Uretra biasanya terkena pada bagian proksimal dari diafragma urogenital dan terjadi perubahan posisi prostat kearah superior (prostat terapung = floating prostat) dengan terbentuknya hematoma periprostat dan perivesikal.

Gejala klinis
1. Pasien biasanya mengeluh tidak bisa kencing dan sakit pada daerah perut bagian bawah. 2. Darah menetes dari uretra adalah gejala yang paling penting dari ruptur uretra dan

sering merupakan satu-satunya gejala, yang merupakan indikasi untuk membuat urethrogram retrograde. Kateterisasi merupakan kontraindikasi karena dapat menyebabkan infeksi prostatika dan perivesika hematom serta dapat menyebabkan laserasi yang parsial menjadi total.
3. Tanda-tanda frakturn pelvis dan nyeri suprapubik dapat dijumpai pada pemeriksaan

fisik.
4. Pada pemeriksaan colok dubur, bisa didapatkan prostat mengapung (floating prostate)

pada ruptur total dari uretra pars membranacea oleh karena terputusnya ligament puboprostatika. Trias ruptur uretra posterior4
4

- Bloody discharge - Retensio urine - Floating prostat Diagnosis Trauma uretra posterior dapat didiagnosis dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Trauma uretra posterior harus dicurigai bila terdapat darah sedikit di meatus uretra disertai patah tulang pelvis. Selain itu tanda setempat, pada pemeriksaan colok dubur ditemukan prostat seperti mengapung karena tidak terfiksasi lagi pada diafragma urogenital. kadang sama sekali tidak teraba prostat lagi karena pindah ke cranial. Pemeriksaan colok dubur harus dilakukan dengan hati-hati karena fragmen tulang dapat mencederai organ lain, seperti rectum. Pemeriksaan radiologi dapat menunjukkan adanya fraktur pelvis dan retrogras urethrogram akan menunjukkan ekstravasasi.2 Terapi Bila ruptur uretra posterior tidak disertai cedera organ intraabdomen atau organ lain, cukup dilakukan sistostomi dengan terlebih dahulu dengan membuka buli-buli dan melakukan inspeksi buli-buli secara baik untuk meyakinkan ada atau tidaknya laserasi buli-buli. Reparasi uretra dilakukan 2-3 hari kemudian dengan melakukan anastomosis ujung ke ujung dan pemasangan kateter silikon selama tiga minggu. Bila disertai cedera organ lain sehingga tidak mungkin dilakukan reparasi 2-3 hari kemudian, sebaiknya dipasang kateter secara langsir (rail roading).2

Keterangan (rail roading) :2 A. Selang karet atau plastik diikat ketat pada ujung sonde dari meatus uretra. B. Sonde uretra pertama masuk dari meatus eksternus dan sonde kedua melalui sistostomi yang dibuat lebih dahulu saling bertemu, ditandai bunyi denting yang juga dirasa di tempat rupture. C. Selanjutnya sonde dari uretra masuk ke kandung kemih dengan bimbingan sonde dari bulibuli.
D. Sonde dicabut dari meatus uretra.

E. Sonde dicabut dari kateter Nelaton dan diganti dengan ujung kateter Foley yang dijepit pada kateter Nelaton F. Ujung kateter ditarik kearah buli-buli sehingga ujung kateter Foley muncul di buli-buli. kateter Nelaton dilepas, kemudian balon dikembangkan dan diklem. G. Selanjutnya dipasang kantong penampung urin dan traksi ringan sehingga balon kateter Foley tertarik dan menyebabkan luka rupture merapat. Insisi di buli-buli ditutup.

Komplikasi1 1. striktur uretra, impotensi dan inkotinensia


2. komplikasi akan tinggi bila dilakukan repair segera dan akan menurun bila kita

melakukan hanya sistostomi suprapubik dan repair dilakukan belakangan. Sebagian ahli mengerjakan reparasi uretra (uretroplasti) setelah 3 bulan pasca trauma dengan asumsi bahwa jaringan parut pada uretra telah stabil dan matang sehingga tindakan rekonstruksi membuahkan hasil yang lebih baik.

2. Trauma uretra anterior

Trauma uretra anterior yang terdiri dari uretra pars glanularis, pars pendulans, pars bulbosa. Trauma uretra anterior biasanya disebabkan oleh straddle injury (cedera selangkangan) dan iatrogenik seperti instrumentasi atau tindakan endoskopik. Trauma uretra pars bulbosa terjadi akibat jatuh terduduk atau terkangkang sehingga uretra terjepit antara objek yang keras, seperti batu, kayu atau palang sepeda dengan tulang simfisis.1,2 Patologi Uretra anterior terbungkus di dalam korpus spongiosum penis. Korpus spongiosum bersama dengan corpora kavernosa penis dibungkus oleh fasia Buck dan fasia Colles. Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum darah dan urin keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu.3

Gejala klinik1
1. Riwayat jatuh dari tempat yang tinggi dan terkena daerah perineum atau riwayat

instrumentasi disertai adanya darah menetes dari uretra yang merupakan gejala penting
2. Nyeri daerah perineum dan kadang-kadang ada hematom perineal

3. Retensio urin bisa terjadi dan dapat diatasi dengan sistostomi suprapubik untuk

sementara, sambil menunggu diagnosa pasti. Pemasangan kateter uretra merupakan kontraindikasi Trias ruptur uretra anterior4 - Bloddy discharge - Retensio urine - Hematome/jejas peritoneal/ urine infiltrate Diagnosis Kecurigaan rupture uretra anterior timbul bila ada riwayat cedera kangkang atau instrumentasi dan darah yang menetes dari meatus uretra. Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdrahan per-uretam atau hematuria. Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau hematoma kupu-kupu. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.2,3 Terapi Pada rupture uretra anterior total, langsung dilakukan pemulihan uretra dengan anastomosis ujung ke ujung melalui sayatan perineal. Dipasang kateter silicon selama 3 minggu. Bila rupture parsial, dilakukan sistostomi dan pemasangan kateter foley di uretra selama 7-10 hari, sampai terjadi epitelisasi uretra yang cidera. kateter sistostomi baru dicabut bila saat kateter sistostomi diklem ternyata penderita bisa buang air kecil.2 Golden periodnya di kerjakan dalam 6 jam pertama setelah trauma. Komplikasi

Perdarahan, infeksi/sepsis dan striktur uretra.1

Selain klasifikasi diatas trauma uretra juga diklasifikasikan oleh beberapa bagian.

Klasifikasi trauma uretra Colapinto & McCallum 1977:3 : Uretra teregang (stretched) akibat ruptur ligamentum puboprostatikum dan hematom periuretra. Uretra masih intack.

Tipe I

Tipe II : Uretra pars membranacea ruptur diatas diafragma urogenital yg masih intack. Ekstravasasi kontras ke ekstraperitoneal pelvic space. Tipe III : Uretra pars membranacea ruptur. Diafragma urogenital ruptur. Trauma uretra bulbosa proksimal. Ekstravassasi kontras ke peritoneum.

Klasifikasi trauma uretra menurut Pediatric Radiologi5 : Uretra posterior intak tetapi teregang (retrograde urethrogram) : Trauma uretra posterior murni parsial atau komplit dengan robekan uretra pars membranosa diatas diafragma urogenital.

Tipe I Tipe II

Tipe III

: Trauma uretra parsial atau komplit kombinasi anterior/ posterior dengan disrupsi diafragma urogenital.

Type IV : Trauma leher vesika urinaria dengan ekstensi di dalam uretra. Type IVA : Trauma dasar vesika urinaria dengan extravasasi periuretra seperti pada trauma uretra tipe IV Type V : Trauma uretra anterior parsial atau total.

Gambar 1 : Retrograde urethrogram menunjukkan tipe I trauma uretra denagn peregangan yang minimal (minimal stretching) dan slight luminal irregularity uretra posterior. Tidak tampak extravasasi material kontras.

Gambar 2 : Retrograde urethrogram menunjukkan tipe II urethral distruption. Ekstravasasi material kontras (panah tebal) dari uretra posterior tampak superior menuju diafragma urogenital yang intak (panah terputus).

10

Gambar 3 : Rerograde urethrogram menunjukkan tipe III trauma uretra. Ektravasasi pada kedua organ ekstraperitoneal yaitu pelvis dan perineum (proksimal dan distal diafragma urogenital).

Gambar 4 : Retrograde urethrogram menunjukkan tipe III urethral tear pada diafragma urogenital (panah solid) dan tipe IV urethral distruption pada leher vesika urinaria (panah terputus).

Gambar 5 : Straddle injury. Retrograde urethrogram menunjukkan tipe V trauma uretra dengan ekstravasasi material kontras dari uretra bulbosa distal

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Reksoprodjo, Soelarto. dkk. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian Bedah Staf

Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : Binarupa Aksara. 2. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi, Jakarta : EGC, 1997.
3. Purnomo, Basuki B. 2008. Dasar Dasar Urologi Edisi Kedua. Jakarta : Sagung Seto. 4. Rixendo.

2009.

Ruptur

Uretra,

Bedah

Urologi.

Available

from

http://medicom.blogdetik.com/2009/03/11/-uretra-2/ (Diakses pada tanggal 3 Februari 2010)


5. Anonim, 2003. DIAGNOSIS: Urethral injury (Straddle injury type). Available from

http://www.pedsradiology.com/Historyanswer.aspx?qid=50&fid=1 (Diakses pada tanggal 7 Februari 2010).


6. Smith,

Kevin

et

al.

2009.

Trauma

Urethral.

Available

from

http://emedicine.medscape.com/article/451797-media (Diakses pada tanggal 7 Februari 2010).


7. Anonim,

2005.

Trauma

Saluran

Kemih.

Available

from

http://askep-

askeb.cz.cc/2010/01/askep-trauma-saluran-kemih.html (Diakses pada tanggal 7 Februari 2010).

12