Anda di halaman 1dari 6

Analytical Review Procedures ( ARP )

Auditor dalam menentukan kebenaran penyajian laporan keuangan biasanya menggunakan beberapa jenis tes seperti tes atas transaksi, prosedur penelaahan analitik (Analytical Review Procedures) dan tes langsung terhadap saldo perkiraan.Salah satu tes yang digunakan adalah prosedur penelaahan analitik yang merupakan bagian penting dalam proses audit karena membantu auditor dalam menentukan luasnya tes audit lain yang diperlukan.Pada dasarnya apabila prosedur penelaahan analitik yang telah dilakukan, mengungkap adanya beberapa kesalahan dalam laporan keuangan maka mungkin diperlukan suatu tes lebih lanjut lagi. Menurut SAS No 56 ( AU 329,02) dan PSA No.22 ( SA Seksi 329) dijelaskan bahwa prosedur analitik merupakan evaluasi terhadap informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan yang satu dengan data keuangan lainnya atau antara data keuangan dengan data non keuangan (evaluations of financial information made by a study of plausible relationships among both financial and nonfinancial data).Di standar ini juga dijelaskan bahwa auditor mencoba untuk mengaitkan berbagai hubungan dan unsur data secara logis.Auditor terlebih dahulu mengembangkan data-data logis yang secara pantas diharapkan terjadi berdasarkan pemahaman auditor sehingga auditor dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang auditee dan industri yang menjadi tempat usaha auditee.Nantinya data data yang dikembangkan oleh auditor akan dibandingkan dengan data data tercatat auditee. Asumsi dasar yang digunakan dalam prosedur ini adalah bahwa hubungan yang masuk akal diantara data diharapkan tetap ada dan berlanjut, kecuali jika timbul kondisi yang sebaliknya sehingga bila hasil perbandingan menunjukkan adanya perbedaan yang luar biasa, hal tersebut mengindikasikan terjadinya salah saji atau penyimpangan sedangkan apabila hasil perbandingan menunjukkan perbedaan yang normal maka dapat diartikan bahwa salah saji atau penyimpangan kecil kemungkinan terjadi sehingga pengujian tidak perlu diperluas (PSA No. 22, SA Seksi 329). Prosedur analitik juga dapat dikatakan sebagai tes kelayakan test of reasonableness karena membandingkan apa yang diperoleh dengan apa yang diharapkan. Sebagai contoh apabila auditor ingin mengetahui omzet penjualan suatu perusahaan yang diperiksanya maka auditor dapat membandingkan antara biaya komisi dengan penjualan yaitu dengan tarif komisi penjualan yang ditetapkan perusahaan.

Penggunaan ARP biasanya disesuaikan dengan keadaan auditeenya, ARP meliputi perbandingan data auditee dengan: Data sebanding untuk periode sebelumnya, Data hasil yang diharapkan / perkiraan auditee misalnya membandingkan hasil yang dicapai oleh perusahaan dengan hasil yang ditargetkan pada rencana kerja perusahaan, Data serupa hasil perkiraan auditor Informasi industri yang serupa dengan auditee ( Benchmark ), Hubungan antara unsur-unsur informasi keuangan dan, Indikator kinerja / data non keuangan lainnya

Menurut standar yang dikeluarkan AICPA, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh auditor ketika merencanakan dan melaksanakan prosedur ini adalah: Sifat / jenis dari entitas yang diperiksa karena beda entitas maka beda pula pendekatan prosedur yang dilakukan, Ruang lingkup pengujian, Ketersediaan data informasi keuangan entitas yang diperiksa, Ketersediaan data non keuangan yang relevan, Keandalan dari data informasi baik keuangan maupun non-keuangan yang akan digunakan. Didalam PSA No. 22 (SA Seksi 329) tujuan dari penggunaan ARP ini adalah untuk: 1. Membantu auditor dalam merencanakan sifat, saat dan lingkup prosedur audit 2. Sebagai pengujian substantif untuk memperoleh bukti tentang asersi tertentu yang berhubungan dengan saldo akun atau jenis transaksi. 3. Sebagai review menyeluruh informasi keuangan pada tahap review akhir audit. ARP digunakan dalam setiap tahap auditing yaitu pada tahap perencanaan, tahap pengujian substantif dan tahap review terhadap hasil audit.Dalam tahap perencanaan ARP membantu auditor dalam meningkatkan pemahamannya mengenai bisnis dari auditee dan transaksi atau peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir dan juga mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang bersangkutan dengan audit. Menurut PSA 22 (SA Seksi 329) data yang digunakan pada waktu penerapan prosedur analitik biasanya disesuaikan dengan keadaan kliennya. Lingkup, kecanggihan dan saat audit yang digunakan dapat berbeda tergantung atas ukuran dan kerumitan klien yang didasarkan pada pertimbangan auditor. Contohnya untuk beberapa entitas, prosedur analitik yang digunakan hanya terdiri dari review atas perubahan saldo akun tahn sebelumnya dengan tahun berjalan

dengan menggunakan buku besar atau daftar saldo yang belum disesuaikan. Sedangkan untuk entitas yang lain, mungkin prosedur analitik yang digunakan dapat meliputi analisis laporan keuangan triwulanan yang ekstensif. Terdapat beberapa langkah yang digunakan pada tahap perencanaan ini yaitu: Mengidentifikasi perhitungan / perbandingan yang harus dibuat dimana auditor menentukan rasio-rasio atau perbandingan sesuai harapan dari auditor berdasarkan tujuannya. Mengembangkan dan membuat hasil yang diharapkan yang bersifat independen dan menentukan seberapa besar perbedaan yang dapat ditoleransi.Data yang digunakan bisa berasal dari eksternal dan internal baik data historis maupun data prakiraan yang dapat diandalkan.Data tahun lalu yang sudah diaudit lebih dapat dipercaya daripada data yang tidak diaudit. Melakukan pembandingan / analisis data, serta identifikasi dan perhitungan atas perbedaan yang penting dan signifikan.Dalam melakukan pembandingan ini maka auditor biasanya menggunakan alat pembantu seperti kalkulator dan

komputer.Auditor juga harus memahami usaha klien sehingga dapat melihat pengaruh dari keputusan keputusan penting yang diambil oleh manajemen terhadap laporan keuangan klien yang diperbandingkan. Permasalahan yang sering dihadapi oleh auditor adalah ketika ingin menetapkan seberapa besar perbedaan antara data-data yang dibandingkan sehingga diperlukan tindakan investigasi lebih lanjut lagi ( risiko salah saji tidak dapat diterima oleh auditor ). Auditor biasanya dalam menentukan perbedaan ini dengan menggunakan rumus rumus sederhana yang ditetapkan seperti jumlah rupiah tertentu, persentase tertentu atau kombinasi dari keduanya. Mengidentifikasi perbedaan yang tidak diharapkan dan mengevaluasi perbedaan tersebut dengan melakukan diskusi / verifikasi terlebih dahulu dengan manajemen klien apakah atas perbedaan tersebut dapat dijelaskan oleh manajemen dan kalau tidak dapat dijelaskan maka auditor harus menentukan pengaruh perbedaan tersebut terhadap perencanaan auditnya. Menentukan pengaruhnya terhadap rencana audit. Perbedaan yang tidak dapat dijelaskan oleh manajemen merupakan indikasi meningkatnya risiko salah saji dalam satu atau beberapa akun yang diperbandingkan. Disini auditor akan menentukan atas perbedaan yang mana yang akan direncanakan untuk dilakukan pengujian lebih rinci dan risikonya lebih besar sehingga pelaksanaan audit lebih efektif dan efisien.

Dalam mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan yang harus dibuat alat ARP yang digunakan biasanya adalah: Tren Analysis atau analisis kecenderungan yaitu perbandingan suatu data tertentu untuk beberapa periode akuntansi, baik dalam bentuk absolut, presentase atau rasio. Ratio Analysis atau analisis rasio yaitu perbandingan antara suatu informasi keuangan dengan informasi keuangan lainnya yang dapat dianalisa baik secara individu maupun kelompok misalnya dengan rasio likuiditas, efisiensi, profabilitas dan solvabilitas, dll. Perbandingan data absolut; adalah pembandingan antara satu jumlah tertentu tahun berjalan, misalnya saldo akun, dengan data anggaran atau prakiraan dari auditor. Vertical Analysis atau Persentase per komponen dengan menghitung persentasi masing masing akun terhadap totalnya misalnya aset lancar pada aktiva atau hutang lancar pada kewajiban. Sedangkan dalam tahap pengujian substantif tujuan dari ARP adalah untuk menunjukkan kemungkinan terjadinya salah saji yang nantinya akan menjadi arah perhatian audit atau memberikan tingkat keyakinan yang memadai atas suatu asersi secara efektif dan efisien karena terkadang atas suatu asersi, kemungkinan salah sajinya tidak akan tampak dari pemeriksaan bukti rinci.Berdasarkan PSA No.22 (SA Seksi 329) dijelaskan bahwa efektivitas dan efisiensi yang diharapkan dari suatu ARP dalam mengidentifikasikan kemungkinan salah saji tergantung atas, antara lain: Sifat Asersi dimana prosedur ini akan lebih efektif dan efisien atas asersi yang kemungkinan salah sajinya tidak akan tampak dari pemeriksaan bukti rinci atau bila bukti yang rinci tidak langsung tersedia. Kelayakan dan kemampuan untuk memprediksikan suatu hubungan sehingga atas hubungan tersebut menjadi masuk akal dan dapat menghindarkan auditor kepengambilan kesimpulan yang salah.Contohnya hubungan yang melibatkan akun laba rugi cenderung dapat diduga daripada hubungan antara akun pada neraca karena akun laba rugi mencerminkan transaksi selama satu periode waktu, sedangkan akun neraca hanya mencerminkan saldo pada satu titik waktu.Hubungan yang menyangkut keputusan manajemen juga kadang-kadang kurang dapat diduga contohnya manajemen mungkin akan lebih memilih untuk mengeluarkan biaya pemeliharaan daripada mengganti aktiva tetap. Ketersediaan dan keandalan data yang digunakan untuk mengembangkan harapan dimana auditor harus menilai keandalan data dengan mempertimbangkan sumber data dan kondisi yang melingkupi pengumpulan data serta pengetahuan lain yang dimiliki

oleh auditor tersebut. Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh auditor yang mempengaruhi keandalan data yang digunakan seperti: Apakah data tersebut diperoleh dari sumber independen baik diluar maupun didalam entitas. Apakah sumber dari dalam entitas independen dari mereka bertanggungjawab atas jumlah yang diaudit. Apakah data yang dikembangkan dari sistem yang dapat diandalkan dengan pengendalian yang memadai. Apakah data menjadi sasaran pengujian dalam tahun berjalan atau tahun sebelumnya. Apakah harapan dikembangkan dengan memakai data dari berbagai sumber. Ketepatan harapan auditor untuk memberikan tingkat keyakinan yang diinginkan sehingga perbedaan yang mungkin salah saji yang material , baik secara individu atau kelompok akan teridentifikasi untuk diaudit oleh auditor. Ketepatan harapan sangat penting karena dapat mempersempit toleransi perbedaan sehingga jika terjadi perbedaan yang cukup signifikan antara hasil prosedur analitik dengan angka sesungguhnya maka perbedaan tersebut kemungkinan besar adalah salah saji. Semakin rinci harapan yang dikembangkan maka semakin besar kemungkinan salah saji dideteksi, contohnya jumlah bulanan biasanya lebih efektif daripada jumlah tahunan dan perbandingan berdasarkan jenis usaha akan lebih efektif daripada membandingkan perusahaan secara keseluruhan. Pelaksanaan prosedur analitik pada tahap pengujian substantif ini biasanya lebih fokus dan ekstensif apabila dibandingkan dengan pelaksanaan prosedur analitik pada tahap lainnya. Dalam tahap review terhadap hasil audit, tujuan yang diharapkan dari prosedur analitik ini adalah untuk membantu auditor dalam menilai kesimpulan yang diperoleh dan dalam mengevaluasi penyajian laporan keuangan secara keseluruhan serta untuk menentukan apakah atas suatu hasil review tersebut membutuhkan bukti tambahan yang lain karena pada dasarnya dalam tahap review auditor harus mempertimbangkan kecukupan bukti yang terkumpul atas salah saji yang diidentifikasikan selama proses perencanaan dan pelaksanaan audit. Kelebihan dari prosedur analitik adalah Biaya yang dikeluarkan untuk prosedur ini relatif murah apabila dibandingkan dengan prosedur audit lainnya. yang

Sangat besarnya kemungkinan ditemukannya kesalahan berdasarkan prosedur ini sehingga dianggap lebih signifikan apabila dibandingkan dengan prosedur audit lainnya.

Dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari pemeriksaan audit yang dilaksanakan. Prosedur analitik dianggap lebih sederhana apabila dibandingkan dengan prosedur lainnya.

Kekurangan dari prosedur analitik adalah Terlalu bergantung pada data sehingga keandalan data yang digunakan harus benarbenar diperhatikan oleh auditor. Auditor harus benar-benar memperhatikan ketepatan harapan yang digunakan sehingga atas salah saji yang dideteksi benar-benar dapat diyakini. Analytical Review Procedures biasanya digunakan dalam setiap tahap audit karena merupakan prosedur yang paling murah disebabkan relative mudahnya untuk membuat perhitungan dan perbandingan serta hasil dari tes ini relatif dapat diandalkan oleh auditor.

Sumber: 1. 2. 3. SAS No.56 (AU Section 329) Analytical Procedures PSA No. 22 (SA Seksi 329) Prosedur Analitik Arens, Alvin A, Elder Randal J, Beasley Mark S. Auditing dan Jasa Assurance: Pendekatan Terintegrasi. 4. AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) Analytical Review Procedures 5. http://dikdiksalehsadikin.wordpress.com