Anda di halaman 1dari 34

Rekayasa Pondasi I

Jurusan Teknik Sipil


Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 31 31 31 31

MODUL 5
PERSAMAAN BRINCH-HANSEN DAN VESIC

1. PERSAMAAN BRINCH-HANSEN

Brinch- Hansen (1970) menyarankan persamaan kapasitas dukung yang pada dasarnya
sama dengan Terzaghi, hanya di dalam persamaanya memperhatikan pengaruh-pengaruh
bentuk fundasi, kedalaman, inklinasi beban, inklinasi dasar dan inklinasi permukaan tanah.
(gambar 1)



Gambar 1. Fondasi dengan dasar dan permukaan miring


Untuk tanah dengan > 0 , Hansen menyarankan persamaan kapasitas dukung ultimit :



Dengan :

Qu = beban vertical ultimit (kN)

Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 32 32 32 32


Untuk lempung jenuh ( = 0), Hansen menyarankan :



Pada persamaan tersebut, factor kapasitas dukung dinyatakan oleh :



Nilai-nilai tersebut dapat dilihat dalam table 3.3.


Tabel 1.a. Faktor-faktor bentuk fondasi (Hansen 1970)



Tabel 1.b. Faktor-faktor kedalaman fondasi (Hansen 1970)



Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 33 33 33 33


Table 1.c. Faktor-faktor kemiringan beban fondasi (Hansen 1970)



Table 1.d. Faktor-faktor kemiringan dasar fondasi (Hansen 1970)




Dalam table 1.c, bila dasar fondasi tidak sangat kasar, maka c (kohesi) diganti C
a
(adhesi)
= factor adhesi x kohesi c. Pada table (1a) sampai (1.e).

Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 34 34 34 34



H = komponen beban sejajar dasar fondasi
V = komponen beban tegak lurus dasar fondasi
= sudut kemiringan dasar fundasi (positif searah jarum jam)
= sudut lereng pendukung fondasi (positif searah jarum jam)

hansen menganalisis kapasitas dukung sebagai masalah plane strain (regangan bidang
atau dua dimensi), yang mana ini hanya benar jika fondasi berbentuk memanjang tak
hingga. Pada tinjauan regangan bidang, nilai sudut gesek dalam yang diperoleh dari uji
triaksial cenderung lebih kecil. Karena itu Hansen seperti halnya Mayerhof, menyarankan
sudut gesek dalam yang diperhitungkan dalam hitungan kapasitas dukung adalah :


ps
=
1,1

tr

dengan
ps
= plne strain adalah sudut gesek dalam dari uji triaksial.

2. PERSAMAAN VESIC

Persamaan daya dukung Terzaghi, menganggap bahwa permukaan baji tanah BD dan AD
membuat sudut terhadap arah horizontal. Beberapa peneliti telah mengamati bahwa
sudut baji tidak membentuk sudut , namun mernbentuk sudut (45 + /2) terhadap
horizontal.

Persamaan daya dukung yang disarankan Vesic (1973) tersebut sama dengan persamaan
Terzaghi, hanya persamaan faktor-faktor daya dukungnya yang berbeda,

Persamaan daya dukung di atas belum memperhatikan pengaruh tahanan geser tanah
yang berkembang di atas dasar fondasi, karena berat tanah di atas dasar fondasi
digantikan dengan po= Df. Untuk memperhitungkan faktor tahanan geser tersebut, maka
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 35 35 35 35

harus digunakan faktor-faktor kedalaman dan faktor bentuk fondasi. Untuk ini, pada
sembarang gunakan faktor kedalaman dan faktor bentuk fondasi , persamaan daya
dukung ultimit menjadi :

qu = Qu/(B.L) = s
c
d
c
I
c
b
c
g
c
cNc + s
q
d
q
b
q
g
q
p
o
N
q
+ s

d

b

g

0,5BN



dengan
Qu = komponen vertical ultimit (kN)
B = lebar fondasi (m)
L, B = panjang dan lebar efektif fondasi (m)
= berat volume tanah
c = kohesi tanah
po = tekanan overburden dasar fondasi

Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 36 36 36 36




Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 37 37 37 37




Soal :

Fondasi pilar jembatan bentuk lingkaran berdiamater 2 m menduung beban sebesar 1000
kN yang arahnya dianggap vertical di pusat fundasi. Kedalaman fondasi 2 m dan sudah
diperhitungkan terhadap resiko gerusan dasar sungai. Permukaan air minimum 3m dan
maksimum 5 m di atas dasar fondasi. Tanah dasr sungai berupa pasir dengan = 38, c
= 0, dan sat = 19,81 kN/m
3
. Jika digunakan kapasitas dukung Vesic (1973), berapakan
factor aman terhadap kapasitas dukung pada muka air minimum dan maksimum ?


Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 38 38 38 38



Sumber :
Hardiyatmo, Hary Christady, Teknik Fondasi I, Edisi ke 2, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta 2002


Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 39 39 39 39

MODUL 6
TAHANAN FONDASI TERHADAP
GAYA ANGKAT KE ATAS

Fondasi menara (tower) sering menerima gaya angkat ke atas oleh akibat gaya momen
yang bekerja. Gaya angkat yang bekerja pada fondasi ditahan oleh gesekan sepanjang
tepi tanah yang terangkat ditambah dengan berat fondasinya sendiri dan tanah. Pada
waktu fondasi akan terangkat, suatu prisma tanah terbawa oleh pelat fondasi. Jika belum
ada pengalaman mengenai hal ini, lebih baik dipakai cara konvensional, yaitu dengan
menganggap bentuk tanah yang akan terbongkar, seperti diperlihatkan pada gambar 1
dan 1b. Untuk kondisi ini tahanan fondasi tehadap gaya tarikan vertikal ke atas dinyatakan
oleh :

Tu = Wp + Wt + Fr

Dengan :
Tu = Tahanan ultimit fondasi terhadap gaya tarik vertical ke atas
Wp = berat pelat fondasi
Wt = berat prisma tanah
Fr = tahanan gesek di sepanjang tanah yang tergeser
= 0,5 Df A Ko tg (untuk tanah granuler)
= cA (untuk tanah kohesif)
A = luas selimut prisma tanah yang tertarik ke atas.
Df = kedalaman fondasi.
Ko = koefisien tekanan tanah lateral saat diam

Jika tanah granuler terendam air, maka berat volume tanah efektif harus digunakan dalam
hitungan. Jika fondasi terdiri dari beberapa fondasi yang mengalami gaya ke atas, maka
perlu diadakan uji beban ke arah atas.

Balla (1961) mengusulkan tahanan tarik fondasi, seperti yang ditunjukkan pada gambar
3.21c. Tahanan tarik dianggap berkembang pada bidang ab. Meyerhof dan Adam (1968),
mengusulkan hal yang sama seperti gambar 1c, hanya fondasi ditinjau untuk kondisi
fondasi dangkal dan dalam yang terletak pada tanah kohesif maupun granuler.

Persamaan tahanan tarik ultimit fondasi dinyatakan oleh :
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 40 40 40 40




Persamaan diatas dapat digunakan untuk fondasi lingkaran dan bujursangkar.



Dengan :
Tu = tahanan tarik ultimit
H = D L (m)
L = tebal timbunan (m)
sf = factor bentuk fondasi
Ku = Ko = 1 sin = koefisien tekanan tanah lateral
W = berat pelat fondasi dan tanah dei atasnya (kN)

Tabel 1. Nilai-nilai m, sf dan H/B untuk berbagai nilai
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 41 41 41 41



Cara menggunakan table 1, misalnya tanah mempunyai = 20, maka H/B = 2,5 m = 0,05
dan sf = 1,12. Karena H = 2,5B maka kedalaman total fondasi dalam adalah D>2,5 B.
Jika ditentukan B = 1 m, maka untuk kategori fondasi dalam, D dalam gambar 3.21c harus
lebih besar 2,5 m.

Koefisien tekanan tanah Ku, secara pendekatan dapat diambil dari salah satu persamaan
ini (Bowles, 1996).



Nilai koefisien Ku ini digunakan untuk hitungan dengan memperhatikan bentuk nyata
bidang runtuhdan sudut kemiringan dari tahanantanah pasif serta tahanan gesek yang
dihasilkan.



Sumber :
Hardiyatmo, Hary Christady, Teknik Fondasi I, Edisi ke 2, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta 2002




Contoh :
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 42 42 42 42


1. Fondasi lingkaran dengan diameter 2m terletak pada kedalaman 1,5 m dari
permukaan tanah pasir. Berat volume tanah 18,5 kN/m
3
, Ko = 0,50 dan = 30.
Tebal pelat fondasi 45 cm dan berat volume beton 24 kN/m
3
. Permukaan air tanah
sangat dalam. Berapakah tahanan ultimit fundasi terhadap gaya tarik vertical ke
atas ?





2. Fondasi untuk menara listrik dirancang untuk menahan tarik sebesar 500 kN.
Fondasi berukuran 4 m x 4 m x 0,5 m terletak pada kedalaman D = 2 m. Tanah
fondasi homogeny dengan c = 40 kN/m
2
, = 20dan b = 18 kN/m
3
. Cek apakah
fondasi kaki menara man terhadap gaya tarik ?




Soal soal latihan Tengah Semester :
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 43 43 43 43

1. Fondasi telapak empat persegi panjang 1,5 x 2 m pada kedalaman 1,5 m. Beban
kolom vertikal dan eksentris dengan ex = 0,25 dan ey = 0,30 m dari pusat fondasi.
Data tanah :
Tanah terdiri dari 2 lapisan, yaitu :
Tanah 1 ;
Kedalaman 0 1,5 m , 1 = 1,9 t/m3 , 1 sat = 2 t/m3, c = 3 t/m2, = 18
Tanah 2 ;
Kedalaman 1,5 m ke bawah , 2 = 1,95 t/m3 , 1 sat = 2,05 t/m3, c = 2,1
t/m2, = 17
Pertanyaan :
I. Jika muka air tanah berada pada 0,5 m di bawah dasar fondasi dan faktor aman
F = 3 berapakah beban kolom maksimum yang aman terhadap keruntuhan daya
dukung menurut :
a. Mayerhof
b. Terzaghi
II. Jika muka air tanah pada dasar fondasi , berapakah faktor aman terhadap daya
dukung jika tekanan pada dasar fondasi total (telah diketahui, termasuk berat
tanah dia atas pelat fondasi) = 30 t/m2

2 Fondasi telapak empat persegi panjang 1,5 x 2 m pada kedalaman 1,5 m. Beban
kolom vertikal dan eksentris dengan ey = 0,30 m dari pusat fondasi.
Data tanah :
Tanah terdiri dari 2 lapisan, yaitu :
Tanah 1 ;
Kedalaman 0 1,5 m , 1 = 1,8 t/m
3
, 1 sat = 1,9 t/m
3
, c = 3 t/m
2
, = 17
Tanah 2 ;
Kedalaman 1,5 m ke bawah , 2 = 1,95 t/m
3
, 1 sat = 2,05 t/m
3
, = 37
Pertanyaan :
I. Jika muka air tanah naik pada 0,5 m di atas dasar fondasi dan faktor aman F = 3
berapakah beban kolom maksimum yang aman terhadap keruntuhan daya
dukung menurut :
a. Mayerhof
b. Terzaghi
c. Vesic
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 44 44 44 44

II. Jika muka air tanah turun 0,75 m di bawah dasar fondasi , berapakah faktor
aman terhadap daya dukung jika tekanan pada dasar fondasi total (telah
diketahui, termasuk berat tanah dia atas pelat fondasi) = 35 t/m
2
Catatan :
Jika ada parameter yang belum diketahui boleh diasumsikan sendiri.

3. Fondasi telapak empat persegi panjang 1,5 x 2 m pada kedalaman 1,5 m. Beban
kolom vertikal dan eksentris dengan ey = 0,30 m dari pusat fondasi.
Data tanah :
Tanah terdiri dari 2 lapisan, yaitu :
Tanah 1 ;
Kedalaman 0 1,5 m , 1 = 1,8 t/m
3
, 1 sat = 1,9 t/m
3
, c = 2 t/m
2
, = 17
Tanah 2 ;
Kedalaman 1,5 m ke bawah , 2 = 1,95 t/m
3
, 1 sat = 2,05 t/m
3
, = 37
Pertanyaan :
I. Jika muka air tanah naik pada 0,5 m di atas dasar fondasi dan faktor aman F = 3
berapakah beban kolom maksimum yang aman terhadap keruntuhan daya
dukung menurut :
c. Mayerhof
d. Terzaghi
II. Apabila lapisan tanah tersebut membentuk kemiringan lereng 20 derajat, dan
kolom tegak lurus terhadap dasar fundasi. Hitung beban kolom maksimum yang
aman terhadap keruntuhan. Menurut persamaan : (muka air tanah dan harga F
seperti soal no 1)
a. Brinch Hansen
b. Vesic
Catatan :
Jika ada parameter yang belum diketahui boleh diasumsikan sendiri.

4. Suatu tangki air berukuran 8 m x 10 m terletak pada tanah lempung jenuh dengan
ketebalan 5 m yang mempunyai parameter sebagai berikut :
Parameter indeks properties dan
kekuatan geser
Parameter uji konsolidasi
t = 1,8 t/m
3
c = 2 t/m
3

sat = 2 t/m
3
= 0
o

p
= 2 t/m
3
cc = 0,4
cr = 0,02 eo = 0,62
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 45 45 45 45

Tangki air tersebut terletak pada kedalaman 1 m dari permukaan lempung
tersebut. Di atas lempung terdapat lapisan urugan pasir setinggi 0,5 m. Sehingga
kedalaman total tangki air dari permukaan tanah adalah 1,5 m. Parameter lapisan
pasir urug tersebut sebagai berikut :
t = 1,9 t/m
3

sat = 2,1 t/m
3

c = 0 t/m
3

= 30
o

Muka air tanah tepat di atas lapisan lempung
a. Hitung berapa berat total tangki yang mampu dipikul oleh lapisan lempung
tersebut.
formula Terzaghi
b. Hitung berapa berat total tangki yang mampu dipikul oleh lapisan lempung
tersebut.
formula Skempton

Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 46 46 46 46

MODUL 7
PENURUNAN

1. PENDAHULUAN

Istilah penurunan (settlement) digunakan untuk menunjukkan gerakan titik tertentu
pada bangunan terhadap titik referensi yang tetap. Jika seluruh permukaan tanah dibawah
dan diisekitar bangunan turun secara seraga dan penurunan terjadi tidak berlebihan, maka
turunnya bangunan akan tidak nampak oleh pendangan mata dan penurunan yang terjadi
tidak menimbulkan kerusakan bangunan. Namun, kondisi kondisi demikian tentu
mengganggu baik pandangan mata maupun kestabilan bangunan, bila penurunan terjadi
secara berlebihan. Umumnya, penurunan tak seragam lebih membahayakan bangunan
dari pada penurunan total.
Contoh-contoh kerusakan bangunan akibat penurunan tak seragam ditunjukkan
dalam Gambar 1
1) Gambar 1a. Jika tepi bangunan turun lebih besar dari pada bagian tengahnya,
bangunan diperkirakan akan retak-retak pada bagian A.
2) Gambar 1b. Jika bagian tengah bangunan turun lebih besar bagian atas
bangunan dalam kondisi tertekan dan bagian bawah tertarik. Kalau deformasi
yang terjadi sangat besar, tegangan tarik yang akan berkembang dibawah
bangunan dapat mengakibatkan retak-retak pada bangunan.
3) Gambar 1c. Penurunan satu tepi dapat berakibat retak pada bagian C
4) Gambar 1d. Penurunan terjadi berangsur-angsur dari salah satu tepi bagian
bangunan, yang berakibat miring bangunan tanpa menyebabkan keretakan.

Gambar 1 Contoh kerusakan bangunan akibat penurunan
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 47 47 47 47

2. TEKANAN SENTUH

Pertimbangan pertama dalam menghitung penurunan adalah penyebaran tekanan
fondasi ke tanah di bawahnya. Hal ini sangat bergantung pada kekuatan pondasi dan
sifat-sifat tanah. Tekanan yang terjadi pada bidang kontak antara dasar fondasi dan tanah,
disebut tekanan sentuh atau tekanan kontak (contact pressure). Besarnya intensitas
tekanan akibat beban fondasi ke tanah dibawahnya, semakin ke bawah semakin
berkurang. Variasi tekanan sentuh dibawah pondasi lingkaran atau fondasi memanjang
yang kaku, yang dibebani dengan beban terbagi rata q, diperlihatkan pada gambar 2.
Distribusi tekanan sentuh untuk fondasi pada tanah lempung, diperlihatkan dalam
Gambar 2a. Fondasi yang sama, bila diletakkan pada tanah pasir atau kerikil, distribusi
tekanan sentuhnya seperti dalam Gambar 2b. Selanjutnya, jika fondasi tersebut
diletakkan pada tanah campuran antar lempung dan pasir, bentuk distribusi tekanan
sentuhnya akan seperti pada Gambar 2c.
Pada fondasi yang fleksible, seperti fondasi tangki minyak yang terletak pada
tanah lempung, distribusi tekanan sentuh akan seragam dan penurunan berbentuk
cekungan seperti bentuk mangkuk (Gambar 2d).
Dalam praktek, sangat jarang fondasi yang benar-benar kaku. Karena itu, distribusi
tekanan sentuh yang terjadi adalah antara bentuk fondasi yang kaku dan fleksible.
Dengan alasan ini, dalam praktek, distribusi tekanan sentuh fondasi ke tanah dianggap
seragam atau uniform, bila beban terbagi rata seragam.


Gambar 2 : Distribusi tekanan sentuh di bawah pondasi
(a)fondasi kaku pada lempung
(b)fondasi kaku pada pasir dan kerikil
(c)fondasi kaku pada campuran lempung dan pasir
(d)fondasi fleksibel pada tanah lempung
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 48 48 48 48


3. HITUNGAN PENURUNAN

Penurunan (settlement ) fondasi yang terletak pada tanah berbutir halus yang
jenuh dapat dibagi menjadi 3 komponen, yaitu : penurunan segera (immediate settlement),
penurunan konsolidasi primer, penurunan konsolidasi sekunder. Penurunan total adalah
jumlah ketiga komponen penuruanan tersebut, dan bila dinyatakan dalam persamaan :

S = Si + Sc + Ss (1)

Dengan:
S = penurunan total
Si = penurunan segera
Sc = penurunan konsolidasi primer
Sc = penurunan konsolidasi sekunder

Penurunan segera atau penurunan elastis adalah penurunan yang dihasilkan
oleh distorsi masa tanah yang tertekan, dan terjadi pada volume konstan. Penurunan pda
tanah-tanah berbutir kasar dan tanah-tanah berbutir halus yang tidak jenuh termasuk tipe
penurunan segera, karena penurunan terjadi segera setalah terjadi penrapan beban.

Penurunan Konsolidasi terjadi dari 2 tahap, yaitu tahap penurunan konsolidasi
primer dan tahap penurunan konsolidasi sekunder. Penurunan konsolidasi primer adalah
penurunan yang terjadi sebagai hasil dari pengurangan volume tanah akibat aliran air
meninggalkan zona tertekan yang diikuti oleh pengurangan kelebihan tekanan air pori
(excess pore water pressure). Penurunan konsolidasi merupakan fungsi dari waktu. tahap
Penurunan konsolidasi sekunder, adalah penurunan yang tergantung dari waktu juga,
namun berlangsung pada waktu setelah konsolidasi primer selesai, dimana tegangan
efektif akibat bebannya telah konstan.

Besarnya penurunan bergantung pada karakteristik tanah dan penyebaran tekanan
fondasi ke tanah di bawahnya. Penurunan fondasi bangunan dapat diestimasi dari hasil-
hasil uji laboratorium pada contoh-contoh tanah tak terganggu yang diambil dari
pengeboran, atau dari persamaan- persamaan empiris yang dihubungkan dengan hasil
pengujian dilapangan secara langsung.
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 49 49 49 49


1) PENURUNAN SEGERA
1.1 Tanah Homogen dengan Tebal Tak Terhingga
Persamaan penurunan segera atau penurunan elastis dari fondasi yang terletak
dipermukaan tanah yang homogen, elastis, isotropis, pada media semi tak terhingga,
dinyatakan oleh :


( )
p i
I
E
qB
S
2
1 =
(2a)
Dengan :
S
i
= penurunan segera
q = tekanan pada dasar fondasi
B = lebar fondasi
E = modulus elastis (Tabel 3)
= angka poison (Tabel 2)
I
p
= faktor pengaruh (Tabel 1)

Nilai faktor tergantung dari lokasi titik yang ditinjau dimana penurunan akan
dihitung, bentuk dan kekakuan fondasi. Untuk fondasi fleksible, Terzaghi (1943)
menyarankan nilai I
p
umtuk menghitung penurunan pada sudut luasan empat persegi
panjang, sebagai berikut :

( )
( )
(
(

+ + +
(
(

+ +
= 1 / ln
/
1 / 1
ln
1
2
2
B L
B
L
B L
B L
B
L
Ip

(2b)

Dengan L dan B adalah panjang dan lebar fondasi. Nilai-nilai I
p
untuk berbagai bentuk
fondasi, ditunjukkan dalam Tabel 1

Tabel 1 Faktor pengaruh Im (Lee,1962) dan Ip (Schleicher, 1962) untuk pondasi kaku, dan
faktor faktor pengaruk untuk fondasi fleksibel (Terzaghi,1943)
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 50 50 50 50



Schleicher (1952) juga mengusulkan akto-faktor pengaruh I
p
untuk pondasi kaku,
seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 1 . Untuk fondasi-fondasi yang terletak di
permukaan (Das,1983)

S
i
(rata-ratafleksible)0,85 S
i
(dipusatt, fleksible) (3a)
S
i
(kaku)0,93 S
i
(rata-rata, fleksible) (3b)
S
i
(kaku)0,80 S
i
(rata-rata, fleksible) (3c)

Jika beban eksentris, fondasi yang kaku akan brotasi akibat momen pengulingan. Lee
(1962) menyarankan nilai faktor pengaruh I
m
untuk fondasi yang kaku ada pembebanan
eksentris, atau pembebanan yang menimbulkan momen.
Rotasi pondasi, dinyatakan oleh persamaan:


( )
m
I
E BL
Qe
tg
2
2
1


=
(4a)
Atau

( )
m
I
E BL
M
tg
2
2
1


=
(4b)

Dengan
= sudut rotasi fondasi
Q = resiltan beban fondasi
e = eksentrisitas resultan beban fondasi
B = lebar fondasi
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 51 51 51 51

L = panjang fondasi
E = modulus elastis tanah (Tabel 3)
= angka poison (Tabel 2)
M = momen yang terjadi pada fondasi
I
m
= faktor pengaruh (Tabel 1)

Perkiran nilai ngka Poison dapat dilihat pada Tabel 2.
Terzaghi menyarankan :
= 0,3 untuk pasir
= 0,4 sampai 0,43 untuk lempung

umumnya, digunakan:
= 0,3 sampai 0,35 untuk pasir
= 0,4 sampai 0,5 untuk lempung

Modulus elastisitas E dapat ditentukan dari kurva tegangan-regangan yang
diperoleh dari uji triaksial (lihat Mekanika Tanah 2, Hary Christady Hardiyatmo). Bila
contoh tanah tergganggu akan rusak, maka modulus elastis E menjadi berkurang,
dengan demmikian estimasi penurunan segera menjadi berlebihan.

Tabel 2. Perkiraan angka Poison () (Bowles,1968)




Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 52 52 52 52

Tabel 3 Perkiraan Modulus Elastis (E) (Bowles,1968)


Modulus elastisitas E tanah dapat pula diperoleh dari uji beban pelat (plate load
test) . Jika modulus elastis tanah granuler diambil dari uji beban pelat, nilainya dapat
ditentukan dari persamaan berikut:

2
2
|

\
| +
|
|

\
|
= =
B
B B
B
B
E E
P
P
P
(5)
Dengan:
E
p
= modulus elastis dari uji beban pelat dengan lebar B
p

E = modulus elastis tanah
B = lebar fondasi sebenarnya
Umumnya, modulus elastis tanah granuler bertambaah bila kedalaman bertambah,
karena modulus elastis sangat sensitif terhadap tekanan kekang (confining pressure).
Bowles (1977), memberikan persamaan yang dihasilkan dari pengumpulan data uji
kerucut statis (sondir), sebagai berikut:

E = 3q
c
(untuk pasir) (6a)
E = 2 sampai 8q
c
(untuk lempung) (6b)
dengan q
c
dalam kg/cm
2


Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 53 53 53 53

Nilai perkiraan modulus elastis dapt pula diperoleh dari pengujian SPT. Mitchelll dan
Gardner (1975) mengusulkan modulus elastis yang dihubungkan dengan nilai N-SPT
sebagai berikut:

E = 10 (N + 15) (k/ft
2
) (untuk pasir) (7a)
E = 6 (N + 5) (k/ft
2
) (untuk pasir berlempung) (7b)
dengan 1 k/ft
2
= 0,49 kg/cm
2
= 48,07 kN/m

1.2 Lapisan Tanah Pendukung Fondasi Dibatasi Lapisan Keras

Jika tebal lapisan terbatas (H) (Gambar 3) , dan lapisan yang mendasari lapisan
tersebut berupa lapisan keras tak terhingga, maka penurunan-segera pada sudut luasan
beban terbagi rata empat persegi panjang fleksibel yang terletak di permukaan, dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan yang diusulkan Steinbrenner (1934):
p i
I
E
qB
S =
(8a)
dengan
( ) ( )
2
2
1
2
2 1 1 F F I
p
+ =
(8b)

Dengan F
1
dan F
2
adalah koefisien- koefisien yang diusulkan oleh Steinbrenner (1934)
dalam bentuk grafik pada Gambar 3.

Penurunan disembarang titik A pada fondasi empat persegi panjang di permukaan
tanah dengan tebal terbatas, dihitung dengan menggunakan persamaan:

(9)

dengan B
1,
B
2
, B
3
, dan B
4
adaalh lebar masing- masing luasan.
Bila fondasi tidak terletak di permukaan penurunan segera perlu dikoreksi. Fox
dan Bowles (1977) memberikan koreksi penurunan segera yang merupkan fungsi dari
D
f
/B, L/B, dan , seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 4 . Penurunan segera rata-rata
dinyatakan oleh persamaan :
S
i
= S
i
(10)
( )
4 4 3 3 2 2 1 1
B I B I B I B I
E
q
S
p p p p i
+ + + =
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 54 54 54 54

dengan
= faktor koreksi untuk dasar fondasi dengan kedalaman D
f

S
i
= penurunan segera rata-rata terkoreksi
S
i
= penurunan segera rata-rata untuk fondasi terletak dipermukaan


Gambar 3. Penurunan segera peda sudut luasan beban terbagi rata fleksibel di
permukaan (Steinbrenner, 1943)

Gambar 4. Faktor koreksi kedalaman untuk penurunan segera pada fondasi empat
persegi panjang (Fox dan Bowles, 1977)
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 55 55 55 55

Janbu, Bjerrum, dan Kjaernsli (1956), mengusulkan persamaan penurunan segera
rata-rata pada beban terbagi rata fleksibel berbentuk empat persegi panjang dan lingkaran
yang terletak pada tanah elastis, homogen, dan isotropis dengan tebal terbatas sebagai
berikut :

E
qB
S
o i

1
=
(untuk = 0,5) (11)
Dengan :
S
i
= penurunan segera rata- rata

1
= faktor koreksi untuk lapisan tanah dengan tebal terbatas H (Gambar 5)

o
= faktor koreksi untuk kedalaman fondasi D
f
(Gambar 5)
B = lebar fondasi empat persegi panjang atau diameter lingkaran.
q = tekanan fondasi neto (fondasi di permukaan q = q
n
)
E = modulus elastis tanah.

Diagram pada Gambar 3 dan Gambar 5 dapat digunakan untuk modulus E yang
bervariasi dengan kedalamanya. Hitungan penurunan- segera, dilakukan dengan
membagi tanah kedalam beberapa lapisan tanah yang terbatas. Jika regangan tiap
lapisan dapat dihitung, akan dapat diperoleh nilai penurunan segera totalnya.
Gambar 5 Grafik yang digunakan dalam Persamaan (11) (Janbu, Bjerrum, dan Kjaernsli
(1956)

Contoh soal 1:
Fondasi rakit yang kaku berukuran 10 m x 20m terletak pada lempung jenuh homogen
setebal 10m dengan E = 6000 kN/m
2
,
sat
= 18kN/m
3
dan = 0,5. Dibawah tanah lempung
jenuh terletak lapisan keras. Beban terbagi rata pada dasr fondasi 176 kN/m
2
. Fondasi
terletak pada kedalaman 5m. Hitung besarnya penurunan segera dengan cara (a)
Steinbrenner dan (B) Janbu dkk. (Lapisan tanah keras dianggap tidak mengali\ami
penurunan)

Contoh Soal 2 :
Denah pondasi rakit yang kaku (58,44 m x 18,30 m) diperlihatkan pada Gambar C.7 .
Tekanan terbagi rata pada dasar pondasi 350 kN/m
2
. Dari data pengeboran diketahui
bahwa tanah terdiri dari pasir kasar ( = 0,3) dengan tebal 7,62m, berat volume basah
19,3 kN/m
3
. Hasil uji SPT pada tanah tersebut memberikan nilai N rata-rata yang telah
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 56 56 56 56

dikoreksi 20. Dibawah lapisan pasir terdapat lapisan lempung ( = 0,5) setebal 30,5 m
dengan E
u
rata-rata = 16100 kN/m
2
. Dibawah lapisan lempung terdapat lapisan batu.
Muka air tanah pada permukaan lapisan lempung. Hitung penurunan segera.


Gambar C.7 .

SUMBER :
Hardiyatmo, Hary Christady, Teknik Fondasi I, Edisi ke 2, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta 2002


Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 57 57 57 57

MODUL 8
PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN DALAM
PERENCANAAN FONDASI

1. LANGKAH-LANGKAH UMUM PERANCANGAN FONDASI

Langkah pertama dalam perancangan fondasi adalah menghitung jumlah beban
efektif yang akan ditransfer ke tanah di bawah fondasi. Langkah kedua adalah
menentukan nilai kapasitas dukung izin (q
a
). Luas dasar fondasi, ditentukan dari membagi
jumlah beban efektif dengan kapasitas dukung izin (q
a
). Akhirnya, didasarkan pada
tekanan yang terjadi pada dasar fondasi, dapat dilakukan perancangan struktural dari
fondasinya. Yaitu, dengan menghitung momen-momen lentur dan gaya-gaya geser yang
terjadi pada pelat fondasi.
Pemilihan jenis fondasi bergantung pada beban yang akan didukung, kondisi tanah
dasar, dan biaya pembuatan fondasi yang dibandingkan terhadap biaya struktur atasnya.

2. PENENTUAN KAPASITAS DUKUNG IZIN

Besarnya kapasitas dukung izin (q
a
) tergantung dari sifat-sifat teknis tanah,
kedalaman, dimensi fondasi, dan besarnya penurunan yang ditoleransikan. Hitungan
kapasitas dukung dapat dilakukan berdasarkan karakteristik kuat geser tanah yang
diperoleh dari uji tanah di laboratorium dan uji di lapangan, atau dengan cara empiris
didasarkan pada alat uji tertantu, seperti uji SPT dan uji kerucut statis (sondir) dan lain-lain
.
Bila hitungan kapasitas dukung tanah didasarkan pada karakteristik tanah dasar,
kapasitas dukung ultimit untuk dimensi fondasi dan kedalaman tertentu dihitung, kemudian
kapasitas dukung ijin ditentukan dengan membagi kapasitas dukung ultimit dengan faktor
aman tertentu yang sesuai. Nilai yang diperoleh, masih harus teteap di kontrol terhadap
penurunan yang terjadi yang di hitung berdasarkan nilai kapasitas dukung yang telah
diperoleh. Jika penurunan yang dihitung lebih besar dari syarat penurunan yang
ditoleransikan, nilai kapasitas dukung harus dikurangi, sampai syarat besarnya penurunan
terpenuhi.
Bila hitungan kapasitas dukung didasarkan pada hasil pengujian di lapangan atau
dari hasil pengalaman yang berhubungan dengan besarnya kapasitas dukung untuk jenis
tanah yang sama, kapasitas dukung dapat diperoleh dari rumus-rumus empiris hasil
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 58 58 58 58

pengujian di lapangan atau dari kapasitas dukung tanah yang diperoleh dari pengalaman
di lapangan, yang pernah dialami.
Untuk memenuhi syarat keamanan, disarankan, faktor aman terhadap keruntuhan
kapasitas dukung akibat beban maksimum sama dengan 3. Faktor aman lebih kecil
diperbolehkan jika struktur kurang penting. Faktor aman 3 adalah sangat hati-hati, guna
menanggulangi ketidaktentuan variasi kondisi tanah dasar. Bila pemebebanan berupa
kombinasi beban-beban permanen dan beban-beban sementara, faktor aman kurang dari
3 dapat digunakan. Untuk beban-beban yang bersifat sementara faktor aman sering
diambil.

2.1 FONDASI PADA TANAH PASIR
Perancangan fondasi pada tanah pasir dan kerikil lebih banyak dipertimbangkan
terhadap toleransi penurunan tidak seragam. Umumnya, perancangan didasarkan pada
cara-cara empiris yang berkaitan dengan hasil-hasil pengujian di lapangan, seperti uji
SPT, uji kerucut statis dan uji beban plat. Untuk tanah-tanah timbunan atau tanah-tanah
yang mengandung banyak batuan, uji beban pelat lebih cocok dilakukan. Karena, jika
tanah mengandung banyak batuan, pengujian- pengujian lain sulit dilaksanakan.
Uji SPT untuk lokasi bangunan tertentu yang menggunakan fondasi telapak pada
pasir harus dilakukan pada beberapa titik. Peck dkk (1953) menyarankan untuk
mengadakan 1 unit uji SPT untuk setiap 4 sampai 6 buah fondasi. Untuk hitungan
kapasitas dukung, nilai N ditentukan pada tiap interval 2,5ft (atau kira-kira 76 cm) pada
arah vertikal. Nilai N rata-rata di hitung mulai kedalaman dasar fondasi D
f
sampai
kedalaman D
f
+ B, dengan B adalah lebar fondasi. Kemudian, nilai N rata-rata terkecil
dipakai untuk menghitung besarnya kapasitas dukung yang aman untuk seluruh fondasi
bangunan.
Jika data pengeboran atau data uji lapangan menunjukan kepadatan tanah
berbanding lurus dengan kedalaman fondasi diambil agak lebih dalam untuk memperoleh
kapasitas dukung yang lebih tinggi. Biaya yang dikeluarkan mungkin akan lebih rendah
daripada bila dasar fondasinya diletakan pada lapisan yang kurang padat diatasny,
karena lebar fondasi menjadi lebih kecil dan stabilitas fondasi lebih terjamin
keamananya.Namun, hal ini tidak berlakujika lapisan tanah yang lebih bawah dipengaruhi
oleh air tanah. Penggalian tanah pasir di dalam air sulit dilaksanakan walaupun
kedalaman airnya tidak terlalu tinggi, karena tebing galian akan selalu longsor lagipula
mengganggu kepadatan tanah dasar. Pada kenyataannya, aliran air yang tidak terkontrol
dapat membuat tanah menjadi berongga dan mengurangi kapasitas dukung. Stabilitas
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 59 59 59 59

galian fondasi pada tanah pasir dapat tercapai bila digunakan pemompaan yang baik. Jika
kapasitas dukung yang cukup tidak diperoleh, dapat digunakan fondasi tiang. Cara
pemompaan tidak menimbilkan resiko pada tanah kerikil. Tetepi, karena permeabilitas
kerikil sangat tinggi, biaya pemompaan menjadi besar.
Pasir yang sangat tidak padat (N 5) dan terendam air , oleh pengaruh getaran
yang kuat dapat mengakibatkan fondasi turun tajam oleh adanya liquefaction. Perubahan
muka air tanah mendadak pada pasir tidak padat yang mula-mula kering atau lembab oleh
akibat banjir dapat pula mengakibatkan penurunan. Perhatian khusus juga harus diberikan
jika fondasi mesin terletak pada tanh pasir yang tidak padat sampai berkepadatan sedang.
Getaran mesin dapat menimbulkan penurunan yang besar. Oleh karena itu, jika fondasi
terletak pada tanah pasir yang tidak padat, tanah harus di padatkan dulu.
Dalam pengalian tanha fondasi, pasir lembab dan pasir yang rekat, pada kondisi
alamnya, dapat digali dengan kemiringan tebing yang curam, bila dasar galian di atas
muka air tanah. Akan tetapi, penahan tebing harus diberikan bila dasar galiannya sangat
dalam dan sempit. Sebab, longsor mendadak dapat terjadi oleh akibat pengeringan atau
getaran yang kuat .
Pasir padat dan pasir rekat mempunyai tahanan yang besar bila fondasi tiang
dipancang ke dalamnya.

2.2 FONDASI PADA TANAH LEMPUNG
Hitungan kapasitas dukung fondasi pada tanh lempung dilakukan pada tinjauan
analisis tegangan total atau digunakan kuat geser tak terdrainasi (c
u
) dengan = 0. Kuat
geser tanah yang digunakan dapat diperoleh dari uji triaksial atau dari uji tekan bebas.
Jika lempung tidak mengandung pasir atau lanau, nilai c
u
dapat diperoleh dari uji geser
kipas (vane shear test) di lapangan. Pengujian, dilakukan pada tiap-tiap kedalaman 30 cm
di sepanjang garis vertikal dibawah dasar pondasi.
Pada pengambilan contoh tanah saat pengeboran, contoh tanah tak terganggu
(undisturbsample) diambil mulai dasar fondasi sampai kedalaman minimum (D
f
+ 1,5B),
dengan D
f
adalah kedalaman dasr fondasi dari muka tanah dan B adalah lebar
fondasi.Contoh-contoh tanah yang diperoleh selain digunaklkn untuk uji kuat geser tanah
juga digunakan untuk uji konsolidasi. Untuk hitungan perancangan, nilai-nilai c
u
hasil uji di
laboratorium ataupun di lapangan yang diperoleh dari contoh tanah pada tiap-tiap lubang
bordiambil niali rata-ratanya, dann diambil nilai terkecil. Nilai kapasitas dukung ultimit
lempung umumnyatidak banyak bergantung pada lebar pondasi. Hal ini kebalikan dari
kondisi tanah pasir, yang kapasitas dukungnya tambah besar bila lebar pondasi
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 60 60 60 60

bertambah. Analisis kapasitas dukung untuk fondasi terpisah hanya dapat digunakan jika
jarak fondasi cukup jauh, sedemikian sehingga pengaruh penyebaran tekanan masing-
masing fondasi ke tanah dibawahnya tidak berpengaruh satu sama lain. Jika jarak fondasi
kecil, peneebaran tekanan ketekanan bawahnya akan identik dengan penyebaran beban
kelompok fondasi sebagai satu kesatuan sehingga kapasitas dukung izin harus
dipertimbangkan,terhadap pengaruh tekanan kelompok fondasi tersebut. Oleh karena itu,
jika satu lapisan lunak atau lebih terletak dibawah pondasi, hitungan harus
memperhitungkan apakah tekanan pada tiap-tiap tanah lunak tersebut memenuhi
keamanan struktur. Jika tidak, hitungan ulang harus dilakukan sampai tekanan fondasi
sampai lapisan lunak memenuhi syarat.

Mengestimasi kuat geser tanah lempung pada kedalaman yang dangkal agak sulit.
Kuata geser tanah ini, bila letaknya dekat dengan permukaan tanah, akan dipengaruhi
oleh perubahan iklim, dan dipengaruhi pula oleh akar tumbuh-tumbuhan. Untuk itu, dasar
fondasi sebaiknya diletakkan agak dalam, sehingga terhindar dari pengaruh tersebut.
Untuk hitungan kapasitas dukung ultimit, sebaiknya digunakan kuat geser tanah minimum
yang terletak dibawah dasar fondasi. Jika kuat geser tanah tiap-tiap lapisan dalam interval
kedalaman 2/3 B didalam fondasi tidak menyimpang lebih dari 50 % dari nilai rata-rata
pada kedalaman ini, nilai rata-ratanya dapat digunakan. Namun jika variasinya lebih dari
50%, yang digunakan digunakan adalah nilai kuat geser minimum. Jika cara terakhir ini
yang dipilih, nilai faktor amannya dapt dikurangi dari nilai yang biasanya digunakan
(Skempton, 1951).
Tanah lempung alluvial secara geologis merupaka endapan yang baru, yang terdiri
dari material lanau dan lempung disekitar sungai, muara, dan dasar laut. Tanah ini
termasuk terkonsolidasi normal (normally consolidated). Oleh karena itu, kuat gesernya
bertambah bila kedalaman bertambah, yaitu lunak pada bagian permukaan, dan kaku di
bagian bawah. Pengaruh cuaca menyebabkan tanah lempung aluvial mempunyai sifat
kaku di dekat permukaan tanah. Kapasitas dukung yang sedang, denga tanpa atau sedikit
penurunan , dapat diperoleh fondasi tidak begitu lebar, yang terletak pada lapisan atas
(tanah permukaan). Pada kondisi ini, tekanan fondasi yang disebarkan ke lapisan lunak
dibawahnya tidak besar. Jika fondasi lebar dan dalam, kapasitas dukung menjadi kecil.
Untuk hal ini, dapat digunakan tipe fondasi rakit mengapung atau fondasi tiang yang
menembus sampai lapisan keras yang dapat mendukung bebannya.

Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 61 61 61 61

Fondasi yang dirancang pada tanah lempung, harus diperhitungkan pada kondisi
terjelek (kuat geser minimum), yaitu pada kadar air saat jenuh.
Perhatian harus diberikan pada fondasi yang terletak pada tanha keras, dimana
lapisan keras ini terletak pada lapisan lempung lunak. Jika dasar fondasi terletak dekat
dengan lapisan lunak.fondasi akan dapat melesak ke bawah, sehingga dapat
mengakiubatkan keruntuhan . Oleh karena itu, hitungan kapasitas dukung tanh perlu
diperhitungkan terhadap pengaruh penyebaran beban pada lapisan lunak dibawahnya.
Hitungan kapasitas dukung dapat dilakukan dengan menanggap beban fondasi
disebarkan menurut aturan 2V: 1H ( 2 vertikal : 1 horizontal) pada lapisan lunak. Untuk ini
tekanan pada tanah lunak harus tidak melampaui kapasitas dukung izin dari lapisan
lunaknya. Dengan anggapan tersebut, tanah kuat yang berada diatas, berfungsi sebagai
fondasi rakit bagi beban fondasi sebenarnya. Jika jarak fondasi telapak satu sama lain
saling berjauhan, masih di mungkinkan untuk mengurangi tekanan fondasi pada tanah
lunak tersebut, yaitu dengan cara memperlebar fondasi. Sebaliknya jika jarak fondasi
sangat dekat, penyebaran beban masing-masing fondasi akan saling tumpang tindih .
(Gambar 1). Untuk itu, jika dari hitungan , nilai kapasitas dukung ijin terlampaui, lebih baik
dipakai fondasi rakit atau fondasi memanjang (jika sumbu kolom satu garis). Kalau dengan
cara ini kapasitas dukungnya tidak memenuhi, dapat dipakai fondasi tiang. Perlu diingat
bahwa pada perancangan masih harus diperhitungkan pula besar penurunan, terutama
penurunan konsolidasi yang terjadi masih harus dalam batas toleransi.


Gambar 1. Tumpang tindih penyebaran tekanan akibat letak fondasi berdekatan

Nilai-nilai perkiraan kapasitas dukung aman untuk lempung dapat dilihat pada
Tabel 1. Kapasitas dukung lempung bergantung pada konsistensi atau kuat gesernya.
Nilai pendekatan hubungan antara N dari SPT, konsistensi tanah, dan perkiraan kapasitas
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 62 62 62 62

dukung aman ditunjukkan dalam Tabel 1. Nilai kapasitas dukung ultimit dihitung dengan
mengalikan kapasitas dukung aman pada Tabel 1 sebanyak 3 kali. Tanah dengan
konsistensi sangat lunak, penurunan fondasi yang terjadi biasanya besar.

Tabel 1. Hubungan N, konsistensi tanah, dan perkiraan kapasitas dukung aman untuk
fondasi pada tanah lempung. (Terzaghi dan Peck, 1948)


2.3 FONDASI PADA LANAU DAN LOESS
Jenis tanah pada pasir dan lempung adalah lanau dan loess. Informasi awal sifat-
sifat teknis lanau dapat diperoleh dari uji SPT. Jika nilai N<10, lanau akan berupa loess.
Jika nilai N>10, lanau dalam kondisi kepadatan sedang atau padat. Loess merupakan
tanha yang tidak baik untuk mendukung fondasi bangunan. Lanau, pada kondisi alalmnya
sering di jumpai pada kondisi longgar atau tidak padat, sehingga jika fondasi diletakkan
diatas nya akan mengalami penurunan yang besar. Beban yang kecil, asalkan tidak
merubah susunan tanah lanau, tidak mengakibatkan penurunan yang besar.
Kapasitas dukung izin lanau yang berbentuk tepung batu dapat diperoleh dengan
cara yang sama seperti memperoleh kapasitas dukung tanah pasir. Sedang untuk lanau
plastis, prosedurnya sama dengan tanah lempung. Hitungan kapasitas dukung dilakukan
dengan memasukkan nilai-nilai kapsitas geser tanah yang diperoleh dari uji triaksial pada
tanah tak terganggu. Kecepatan poenerapan beban harus sedemikian rupa, sehingga
kecepatan berkurangnya air pori sama seperti kecepatan air pori di lapangan. Jika
kemampuan meloloskan air lanau relatif kecil dan kecepatan pembebanan cepat, uji
triaksial pada kondisi terkosolidasi tak terdrainasi (consolidated undrained) lebih cocok.
Pada lanau murni, jika pembebanan langsung lambat, pembebanan dapat mempengaruhi
kadar air, yang kemudian dapat menggeser tanah. Untuk ini, dalam hitungan kapasitas
dukung dapat digunakan parameter kuat geser tekanan efektif.
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 63 63 63 63

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memperkirakan besarnya penurunan
fondasi pada lanau, adalh dengan mengadakan uji konsolidasi. Informasi yang bermanfaat
dapat pula diperoleh dari uji beban pelat (plate load test) yang dianalisis dengan teliti.
Loess tidak tepat diklasifikasikan sebagai tanah tidak kohesif. Loess adalah
lapisan yang tidak padat dari lanau yang tidak berkohesif, dengan sedikit mempunyai
retakan dan mempunyai kandungan lemopung rendah. Penurunan fondasi dapat
dilakukan dengan mengadakan uji konsolidasi, yaitu dengan interpretasi grafik e-logi p.
Bangnan statis yang terletak pada loess sebaiknya dirancang dengan menempatkan
dasar fondasi agak dalam agar tambahan tekanan tidak begitu besar, misalnya dibuat
dengan sistem fondasi apung (floating fuondation).

2.4 FONDASI PADA TANAH ORGANIK
Jika tanah fondasi mengandung banyak tanah organik, tanah tersebut harus tidak
digunakan untuk mendukung bangunan. Jika terdapat keragu-raguan, kandungan bahan
organik harus di uji di laboratorium. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi, bila
digunakan untuk mendukung fondasi akan menghasilkan penuyrunan yang besar.

2.5 FONDASI PADA TANAH C
Jenis tanah yang mempunyai kedua komponen kuat geser tanah c dan ,
biasanya terdiri dari campuran dari beberapa jenis tanah, seperti lempung berpasir,
lempung berpasir berkerikil, lanau berpasir dan lain-lain. Pada jenis-jenis tanah tersebut,
dimungkinkan untuk mengambil contoh tak terganggu dari lapangan. Oleh karena itu, nilai-
nilai kuat gesernya dapat diperoleh dai uji triaksial. Nilai c dan yang diperoleh, dapat
digunakan untuk menghitung kapasitas dukung ultimit yang telah dipelajari. Nilai kapasitas
dukung izin diperoleh dari hitungan kapasitas dukung ultimit yang dibagi faktor aman yang
sesuai, dengan pertimbangan besar penurunan harus nasih dalam batas toleransi.

2.4 FONDASI PADA TANAH TIMBUNAN
Tanah antara lempung plastis sampai pasir dan kerikil telah banyak digunakan
sebagai timbunan untuk mendukung beban bangunan. Kapasitas dukung tanah timbunan
tergantung pada macam tanah dan derajat kepadatan. Tanah pasir dan kerikil merupakan
tanah yang baik untuk mendukung bangunan, sedang lempung yang dipadatkan akan
mempunyai kapasitas dukung yang sangat rendah. Kapasitas dukung timbunan yang
dipadatkan ditentukan sebelum atau sesudah peletakan timbunan.
Rekayasa Pondasi I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor

Rekayasa Pondasi I | 64 64 64 64

Bila kapasitas dukung ditentukan sebelum peletakan tanah timbunan, tanah yang
akan ditimbun dipadatkan 90-100% berat volume kering maksimum dengan alat pemadat
standart Proctor atau Proctor dimodifikasi.Jika tanahnya kohesif, contoh tanah dengan
derajat kepadatan yang dikehendaki, diuji untuk ditentukan c dan nya dengan uji
triaksial. Jika tanah berupa tanah granuler, contoh tanah dengan derajat kepadatan yang
dikehendaki, di uji dengan alat triaksial atau geser langsung untuk menentukan sudut
gesek dalamnya (). Pengujian untuk mengetahui kerapatan relati juga dapat dikerjakan
pada contoh tanah. Nilai-nilai kuat geser tanah yang diperoleh, kemudian digunakan untuk
memperoleh kapasitas dukungnya.
Bila kapasitas dukung diperlukan setelah pemadatan, tanah timbunan harus dibor
dan diuji seperti halnya pengeboran tanah dialam yang akan digunakan untuk mendukung
fondasi bangunan. Timbunan yang tidak terkontrol kepadatannya harus tidak digunakan
untuk mendukung fondasi.

2.5 FONDASI PADA BATU
Hampir semua jenis batu dapat mendukung beban banguna dengan baik, karena
mempunyai kuat desak yang tinggi. Namun jika batuan berupa batu berkapur yang
berlubang-lubang dan banyak retakan, atau batu yang banyak mengandung bidang-
bidang patahan, retakan, dan pecaham akan membahaykan stabilitas bangunan.


SUMBER :
Hardiyatmo, Hary Christady, Teknik Fondasi I, Edisi ke 2, PT Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta 2002

Anda mungkin juga menyukai