Anda di halaman 1dari 8

Metode Bercerita untuk Pembelajaran di TK Rasanya, semua orang sangat yakin kalau bercerita disukai oleh anak-anak usia

TK. Bahkan, siswa TK dapat larut dan hanyut dalam cerita karena kepandaian guru dalam menyampaikannya. Oleh karena itu, guru TK sangat perlu menggunakan cerita sebagai metode penyampaian inti pembelajaran. Syaratnya, guru TK harus kreatif dalam menciptakan cerita atau mengolah cerita yang sesuai dengan alam pikir siswa. Metode bercerita merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak TK dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang dibawakan guru harus menarik, dan mengundang perhatian anak dan tidak lepas dari tujuan pendidikan bagi anak TK. Penggunaan bercerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di Taman Kanak-kanak haruslah memperhatikan hal-hal (1) isi cerita sesuai dengan dunia kehidupan anak, (2) kegiatan bercerita memberikan perasaan gembira, lucu, dan mendidik, (3) kegiatan bercerita memberikan pengalaman bagi anak, (4) beberapa macam teknik bercerita dapat dipergunakan (membaca langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flannel, menggunakan boneka, bermain peran dalam suatu cerita, atau bercerita dengan menggunakan jari-jari tangan), (5) bercerita dilakukan dalam kelompok kecil untuk memudahkan guru mengontrol kegiatan yang berlangsung sehingga akan berjalan lebih efektif. Selain itu tempat duduk pun harus diatur sedemikian rupa, misalnya berbentuk lingkaran sehingga akan terjalin komunikasi yang lebih efektif.
METODE BERCERITA DAN BERDIALOG

Pengertian

Strategi pembelajaran ( learning )dapat diartikan sebagai segala usaha guru dalam menerapkan berbagai metode pembelajaran untuk mericapai tujuan yang diharapkan. Dengan demikian strategi pembelajaran menekankan pada bagaimana aktifitas guru mengajar dan aktifitas anak belajar. Macam-macam metode pembelajaran antara lain; berpusat pada anak, bermain, bercerita, bernyanyi dan pembelajaran terpadu (Masitoh, 2008) Bercerita adalah menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan atau suatu kejadian dan disampaikan secara lisan dengan tujuan membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain. Bercerita dalam konteks komunikasi dapat dikatakan sebagai upaya mempengaruhi orang lain melalui ucapan dan penuturan tentang suatu (ide) pengalaman. Sementara dalam konteks pembelajaran anak usia dini bercerita dapat dikatakan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi kemampuan berbahasa anak melalui pendengaran kemudian menuturkannya kembali denagn tujuan melatih ketrampilan anak dalam bercakap-cakap untuk menyampaikan ide dalam bentuk lisan (Bacthiar S. Bachri, 2005) Pada kurikulum 1994, bercerita dinyatakan sebagai salah satu metode yang dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar. Metode bercerita didefinisikan sebagai cara memberikan penerangan atau bertutur dan menyampaikan cerita secara lisan. Anak sangat menyukai cerita atau dongeng sehingga bentuk metode cerita sangat cocok untuk mengajarkan moral pada anak. Strategi pembelajaran melalui bercerita dan berdialog merupakan salah satu strategi yang banyak digunakan pada pembelajaran Taman Kanak-kanak, sebagai mana halnya kegiatan pengajaran yang lain, kegiatan itu selalu dimulai dengan

merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan pengajaran. Dikaitkan dengan dunia kehidupan anak, bercerita adalah salah satu strategi pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak. Dunia kehidupan anak penuh dengan suka cita, maka kegiatan bercerita harus diusahakan dapat memberikan perasaan gembira, lucu, dan mengasyikkan untuk dapat menarik perhatian anak. Bercerita biasanya dilakukan oleh seorang guru dengan membawakan cerita secara lisan dan mengundang perhatian anak namun tidak lepas dari pendidikan anak usia PAUD. Penggunaan cerita sebagai salah satu strategi pembelajaran di PAUD harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Isi cerita harus berkaitan dengan dunia kehidupan anak, sehingga mereka dapat lebih memahami dan menangkap isi cerita, karenaa membahas mengenai hal-hal yang tidak asing bagi mereka. Kegiatan bercerita diusahakan menarik, asyik, lucu dan memberikan perasaan gembira dan penuh suka cita. Kegiatan bercerita harus menjadi pengalaman bagi anak yang bersifat unik, menggetarkan perasaan serta dapat memotivasi anak untuk mengikuti cerita sampai tuntas (Masitoh, 2008: 10.3) Kemampuan bercerita tidak muncul begitu saja, tetapi melalui persiapan yang matang dan latihan terus menerus.

Untuk dapat bercerita dengan baik, guru sebaiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Menguasai isi cerita secara tuntas 2. Memiliki ketrampilan bercerita 3. Berlatih dalam irama dan modulasi suara secara terus menerus 4. Menggunakan perlengkapan yang menarik perhatian anak 5. Menciptakan situasi emosional sesuai denagn tuntutan cerita (Masitoh, 2008: 10.3) Menurut Masitoh, 2008: 10.3, kemampuan guru untuk bercerita dengan baik harus didukung dengan cerita yang baik pula yaitu denagn kriteria: 1. Cerita itu harus menarik dan memikat perhatian guru itu sendiri. 2. Cerita itu harus sesuai dengan kepribadian anak, gaya, dan bakat anak. 3. Cerita itu harus sesuai dengan tingkat usia dan anak mampu memahami isi cerita. ( www.beefamily.co.cc )

A MACAM-MACAM TEKNIK BERCERITA Macam-maeam teknik bercerita, menurut Moeslichatoen, 1996 yaitu : 1. Membaca langsung dari buku cerita Teknik ini membacakan langsung dari buku cerita yang dimiliki guru sesuai dengan anak terutama dikaitkan dengan pesan-pesan yang tersirat dalam cerita.

2. Bercerita menggunakan ilustrasi gambar dari buku Teknik ini menggunakan ilustrasi gambar dari buku yang dipilih guru, harus menarik, lucu, sehingga anak dapat mendengarkan dan memusatkan perhatian lebih besar daripada buku cerita. Ilustrasi gambar yang digunakan sebaiknya cukup besar dilihat oleh anak dan berwarna serta urut dalam menggambarkan jalan cerita yang disampaikan.

3. Menceritakan dongeng Mendongeng merupakan suatu cara untuk meneruskan warisan budaya yang bernilai luhur dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Menceritakan dongeng pada anak membantu anak mengenal budaya leluhurnya dan menyerap pesanpesan yang terkandung didalamnya. 4. Bercerita dengan menggunakan papan flannel Teknik ini menekankan pada urutan cerita serta karakter tokoh yang terbuat dari papan flannel yang berwarna netral. Garnbar tokoh-tokoh mewakili perwatakan tokoh cerita yang digunting dengan pola kertas dan ditempelkan pada kain flannel.

5. Bercerita dengan menggunakan boneka Pemilihan cerita dan boneka tergantung pada usia dan pengalaman anak. Boneka yang digunakan mewakili tokoh cerita yang akan disampaikan

6. Dramatisasi suatu cerita Teknik ini digunakan untuk memainkan cerita perwatakan tokoh dalam suatu cerita yang disukai anak dan merupakan daya tarik yang bersifat umum (Gordon, Browne, dalam Moeslichatoen, 1996).

7. Bercerita sambil memainkan jari jari tangan Teknik ini memungkinkan guru berkreasi dengan menggunakan jari jari tangan, dan ini tergantung kreativitas guru dalam memainkan jari jarinya sesuai dengan perwatakan tokoh yang dimainkannya. Yang dimaksud dengan metode bercerita dan berdialog adalah cara mengajar dalam bentuk menuturkan/menyampaikan cerita atau memberikan penerangan secara lisan.

Tujuan Tujuan dari metode bercerita adalah :


o o o o

Melatih daya tangkap dan daya konsentrai anak didik Melatih daya piker dan fentasi anak Megembangkan kemampuan berbahasa dan menambah pembendahaaan kata kepada anak didik Menciptakan suasana senang di kelas

Kebaikan Metode Bercerita o Dapat membangkitkan minat anak o Menumbuhkan sikap perilaku yang positif pada anak o Menanamkan nilai-nilai moral o Menumbuhkan imajinasi anak o Melatih pendenganran anak o Mengenadlikan emosi o Memperkaya kosa kata o Mengembangkan daya piker o Menumbuhkan rasa cinta tanah air

Kelemahan Metode Bercerita o Dapat membuat anak pasif o Apabila alat peraga tidak menarik anak krang aktif o Anak belum tahu dapat mengulang cerita kembali o Waktu cerita berlangsung anak yang mengemukakan pendapatnya sehingga mengganggu jalannya cerita.

Pembelajaran dengan menggunakan metode berceritaakan menghasilkan mutu yang baik apabila cara menguasai teknik-teknik bercerta. Berikut beberapa teknik dalam bercerita

Teknik Bercerita Tanpa Alat Peraga

Langkah-langkah pelaksanaan
o o o o o

Guru mengatur organisasi kelas (Posisi tempat duduk anak) Guru merangsang anak agar mau mendengarkan dan memperhatikan isi cerita Guru mulai bercerita, (cerita sederhana) dengan terlebih dahulu menyebutkan judul certa Setelah selesai bercerita, guru memberikan tugas pada anak-anak, untuk menceritakan kembali isi cerita tersebut secara bergantian Guru memberikan pujian pada anak yang sudah bias dan memberikan motovasi kepada anak yang belum

Contoh cerita : Siburik yang Serakah Catatan :


o

o o o o o

Dalam melukiskan peristiwa pada cerita tersebut di atas hendaknya jangan dengan gerak-gerik terlalu realities. Misalnya waktu melukiskan si Burik yang sedang lari. Cukup menggerakan kaki dan tangan saja sambil berdiri atau duduk. Cerita hendaknya cukup singkat dan sederhana bahasanya mudah dimengerti anak. Intonasi suara agar disesuaikan dengan isi cerita Isi cerita dapat ungkin disesuaikan dengan tema Kegiatan bercerita biasanya diberikan pada saat pembukaan atau oenutupan Apabila kegiatan tersebut diberikan dalam kegiatan inti agar suara guru jangan sampai mengganggu kelompok yang lain.

Teknik Bercerita dengan Menggunakan Alat Peraga Langsung o Misal "Seorang Guru bercerita dengan judul cerita" o Seekor Kelinci Putih dan Kol

Langkah Langkah pelaksanaan :


Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan Guru memberikan pendahuluan dengan membicarakan tentang alat peraga seekor kelinci dan daun kol. Misalnya tentang warna bulu kelinci, nama, julah kaki, betuk telingan, makanannya, bagaimana berjalannya, dan sebagainya, sambil anak diberi kesempatan untuk memegang dan membelai kelinci dan sebagainya. Setelah cukup memberikan penjelasan tentang alat peraga (kelinci) guru memasukan kelinci ke dalam kandang, lalu guru bercerita. Guru merangsang anak untuk mendengarkancerita Setelah selesai bercerita guru memberikan pertanyaan kepada anak tentang apa, mengapa, di mana, berapa, bangamana, dan sebagainya. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk menjawab pertanyaan guru tersebut Bagi anak yang sudah dapat menjawab dengan benar diberikan pujian dan bagi yang belum diberi dorangan motivasi

Contoh Cerita :

Kelinci Putih dan Daun Kol. Catatan :


Isi cerita sedapat mungkin disesuikan dengan tema Isi cerita pada pendahuluan dipersingkat dan hanya mengandung garis besarnya saja Guru membawakan cerita, dengan gaya dan suara serta dialog yang menarik Kegiatan tersebut dilakukan secara klasikal.

Pelaksanaan seperti tersebut diatas berlaku juga untuk metode bercerita dengan menggunakan alat peraga tiruan maupun gambar.

Teknik Bercerita Dengan Menggunakan Gambar-Gambar

Langkah langkah Pelaksanaan :


o o o o o o

Guru menyiapkan alat peraga yang diperlukan (gambar-gambar) Guru mengatur posisi tempat duduk anak sesuai dengan yang direncanakan. Guru menarik perhatian anak agar mendengarkan cerita Guru bercerita dengan memperlihatkan alat peraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan Guru bercerita dengan memperhatikan alat paraga satu persatu sesuai dengan bagian yang diceritakan. Guru memberikan pertanyaan tentang isi cerita pendek tersebut satu persatu (bertahap) kepada anak secara bergantian, misalnya : Sedang apakah kumbang dan lalat?

o o

Anak menjawab pertanyaan guru satu per satu kalimat pertanyaan sampai dengan 3 (tiga) pertanyaan. Setiap pertanyaan merupakan satu kalimat. Bagaimana yang sudah dapat menjawab pertanyaan diberikan pujian dan bagi anak yang belum dapat menjawab pertanyaan dengan benar diberikan motovasi.

Catatan : Pertanyaan yang diajukan kepada anak masing-masing anak sebanyak 3 pertanyaan yan setiap pertanyaan merupakan pertanyaan tunggal dan diharapkan langsung dijawab oleh anak. Guru sebaiknya menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan kepada anak. Contoh cerita : Semut yang Baik Hati Catatan :
o o o

Isi cerita sedapat mungkin dikaitkan dengan tema Pertanyaan isi cerita dilaksanakan setelah guru selesai bercerita Pada pelasanaan bentuk cerita dengan gambar, setiap kali cerita ditunda sebentar untuk menjelaskan gambar sesuai dengan banyaknya gambar yang ada. Hal ini hendaknya dilakasanakan selancar mungkin, sehingga anak tidak merasa bahwa ceritanya diputuis-putus. o Gambar gambar yang dipergunakan hendaknya memenuhi juga persyaratan seperti cukup besar untuk dapat dilihat oleh semua anak, berwarna alami dan menarik, tidak terlalu banyak "Hiasan" yang mengaburkan isi cerita Gambar yang digunakan boleh satu atau lebih.

JENIS-JENIS CERITA

Menurut subyantoro (2007:11), terdapat jenis-jenis cerita yang diklasifikasikan menurut asal-usulnya yaitu: (1) isinya, (2) bentuk penulisannya, (3) fungsinya, dan (4) bahannya. Berdasarkan isinya, cerita anak-anak dapat berasal dari satra tradisional, fantasi modern, fiksi realitas, fiksi sejarah, dan puisi. Menurut bentuk penulisannya, buku bacaan bergambar, komik, buku ilustrasi, dan novel. Dilihat dari fungsinya, ada pula buku untuk pemula disebut sebagai buku konsep, buku pertisipasi, dan toybooks.

Jenis-jenis cerita dapat dibedakan dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang itulah kita dapat memilah-milah jenis ceritanya. Dibawah ini akan diuraikan sebuah bagan sederhana mengenai berbagai sudut pandang dan jenis-jenis ceritanya :

1. Berdasarkan Pelakunya a. Fabel (cerita tentang dunia binatang) dan dunia tumbuhan b. Dunia benda-benda mati c. Dunia manusia d. Campuran/kombinasi 2. c. Berdasarkan Kejadiannya a. Cerita fiksi sejarah Cerita sejarah (tarikh) b. Cerita fiksi (rekaan)

3. Berdasarkan Sifat Waktu Penyajiannya a. serial c. Cerita lepas d. Cerita sisipan e.

Cerita bersambung b. Cerita ilustrasi

Cerita

4. Berdasarkan Sifat dan Jumlah Pendengarnya a. Cerita Privat 1). Cerita pengantar tidur 2). Cerita lingkaran pribadi (individual atau kelompok sangat kecil) b. Cerita Kelas 1). Kelas kecil (s.d. 20 anak) 2). Kelas besar (s.d. 20 40 anak) c. Cerita untuk forum terbuka 5. Berdasarkan Teknik Penyampaiannya a. story) b. Membacakan cerita (story-reading) Cerita langsung/lepas naskah (direct

6. Berdasarkan Pemanfaatan Peraga a. Bercerita dengan alat peraga b. Bercerita tanpa alat peraga Sekali lagi, pemilihan jenis cerita diatas sangat berpengaruh pada teknik penyajiannya. Oleh sebab itu, bila penyajian cerita kita ingin mencapai sasarannya, kita sejak semula harus mempertimbangkannya secara seksama. Sebab, masing-masing jenis cerita membutuhkan teknik, gaya dan pendekatan yang berbeda. Selain itu, pemahaman yang mendalam akan jenis dan karakter pendengar (audience) juga sangat dibutuhkan.(kak Bimo)

Sedangkan jens-jenis cerita tersebut berupa: mite, legenda, dan dongeng. Mite adalah cerita prosa rakyat yang benar-benar dianggap terjadi serta dianggap suci oleh yang mempunyai cerita. Mite dotokohkan oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Legenda adalah cerita prosa rakyat yang hampir mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar terjadi, tetapi dianggap tidak suci. Tokoh dalam legenda adalah manusia walaupun adakalanya mempunyai sifat luar biasa karena bantuan makhluk gaib. Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang mempunyai cerita dan tidak terikat oleh tempat dan waktu. Kemudian selanjutnya cerita dijeniskan kedalam fantasi modern, fiksi realitas, dan fiksi realistis kontemporer. Fantasi modern adalah cerita yang ditulis oleh pengarang. Cerita

ini berupa dongeng-dongeng modern yang banyak mengambil elemen-elemen cerita rakyat, fantasi ilmiah ataupun cerita fantasi lain mengenai hewan atau robot. Fiksi realitas berisi tentang cerita petualangan, detektif, misteri atau humor dan sebagainya. Kemudian cerita tersebut dibedakan lagi dalam fiksi realistis komtemporer yang berisi masalah-masalah yang dahulu bersifat tabu seperti, perceraian, kematian, seksual, narkoba dan lainnya. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa cerita adalah sebagai sarana penyampaian nilai pendidikan yang dikemas secara menarik sehingga siswa dapat memahami isi yang disampaikan dalam cerita tersebut. Bercerita dengan menggunakan media fotonovela dinilai oleh peneliti sarat dengan niali pendidikan, hal ini yang menjadi dasar peneliti menggunakan media tersebut, disamping karena belum banyak peneliti yang membahasa media
fotonovela, dan kerena media tersebut dinilai sangat menarik siswa. Sehingga siswa dapat bersikap positif karena pengaruh cerita yang disampaikan.

Anda mungkin juga menyukai