Anda di halaman 1dari 10

TIMPANOMETRI

Pada tahun 1946, Otto Metz secara sistematis mengevaluasi akustik imitans dari telinga normal dan abnormal. Metz menerangkan dengan jelas perubahan-perubahan akustik

imitans yang dihubungkan dengan gangguan-gangguan di telinga tengah. Pengembangan alat elektroakustik sederhana oleh Terkildsen dan Scott-Nielson pada tahun 1960 telah memberikan banyak kemajuan, sehingga alat pengukur ini dapat digunakan dengan mudah di klinik. Selanjutnya pada awal 1970, pengukuran imitans mulai dimasukkan ke dalam rangkaian tes audiometri rutin.(Hidayat,2009) Istilah akustik imitans digunakan untuk merujuk kepada baik masuknya akustik (Kemudahan dengan yang mana energi mengalir melalui suatu sistem) atau impedansi akustik (perlawanan total terhadap aliran energi udara). Pengukuran akustik imitans

digunakan secara klinis baik sebagai alat screening dan diagnostik untuk identifikasi dan klasifikasi gangguan perifer (khususnya telinga tengah) dan sentral dan dapat digunakan sebagai alat untuk memperkirakan sensitivitas pendengaran secara obyektif. Pengukuran akustik imitans yang paling sering digunakan secara klinis termasuk timpanometri dan pengukuran reflex stapedial. Timpanometri mengukur akustik imitans di dalam kanal

telinga sebagai fungsi dari variasi dalam tekanan udara.(Cummings,2005) Karakteristik imitansi (impedansi dan/atau masuk) dari sistem telinga tengah dapat disimpulkan secara obyektif dengan teknik elektropsikologi cepat dan noninvasif dan kemudian terkait dengan pola yang sudah dikenal baik untuk berbagai temuan jenis lesi telinga tengah. Tympanometry adalah rekaman terus-menerus impedansi telinga tengah sebagaimana tekanan udara di kanal telinga

secara sistematis meningkat atau menurun. Awalnya di pengujian, volume saluran telinga diperkirakan. Jika melebihi 2 cm3, kemungkinan perforasi dari membran timpani harus dipertimbangkan. dengan impedansi Sebuah rendah (masuk sistem tinggi) lebih telinga mudah tengah menerima

energi akustik, sedangkan telinga tengah dengan impedansi tinggi (masuk rendah) cenderung untuk menolak energi akustik. Dalam timpanogram itu, pemenuhan statis (kekakuan yang resiprokal) dari komponen telinga tengah diplot sebagai fungsi dari tekanan dalam saluran telinga.(Snow,2002)

Pada pemeriksaan audiometri impedans diperiksa kelenturan membrane timpani dengan tekanan tertentu pada meatus akustikus eksterna. (Soepardi,2007) Didapatkan istilah: a. Timpanometri, yaitu untuk mengetahui keadaan dalam kavum timpani. Misalnya ada cairan, gangguan rangkaian tulang pendengaran (ossicular chain), kekakuan membrane timpani dan membran timpani yang sangat lentur. b. Fungsi tuba Eustachius (Eustachian tube function), untuk mengetahui tuba Eustachius terbuka atau tertutup. c. Refleks stapedius. Pada telinga normal, refleks stapedius muncul pada rangsangan 70-80 dB di atas ambang dengar. (Soepardi,2007) Pada lesi di koklea, ambang rangsang refleks stapedius menurun, sedangkan pada lesi di retrokoklea, ambang itu naik. (Soepardi,2007) Audiometri hambatan telah dianggap semakin penting artinya dalam rangkaian pemeriksaan audiologi. Timpanometri merupakan alat pengukur tak langsung dari

kelenturan (gerakan) membrana timpani dan sistem osikular dalam berbagai kondisi tekanan positif, normal, atau negatif. Energi akustik tinggi dihantarkan pada telinga melalui suatu tabung tersumbat; sebagian diabsorpsi dan sisanya dipantulkan kembali ke kanalis dan dikumpulkan oleh saluran kedua dari tabung tersebut. Bila telinga terisi cairan, atau bila gendang telinga menebal, atau sistem osikular menjadi kaku, maka energi yang dipantulkan akan lebih besar dari telinga normal. Dengan demikian jumlah energi yang dipantulkan makin setara dengan energi insiden. Hubungan ini digunakan sebagai sarana pengukur kelenturan.(Adams,1997)

Gambar 6. Timpanometer(Grason,2010)

Timpanometer adalah alat yang digunakan dalam pemeriksaan timpanometri. Pada dasarnya alat pengukur impedans terdiri dari 4 bagian yang semuanya dihubungkan ke liang telinga tengah oleh sebuah alat kedap suara, sebagai berikut: A. Oscilator : Alat yang menghasilkan/memproduksi bunyi/nada bolak-balik (biasanya 220 Hz), suara yang dihasilkan tersebut masuk ke earphone dan diteruskan ke liang telinga. B. Sebuah mikrofon dan meter pencatat sound pressure level dalam liang telinga. C. Sebuah pompa udara dan manometer yang dikalibrasi dalam milimeter air (-600 mmH2O s.d +1.200 mmH2O). Suatu mekanisme untuk mengubah dan mengukur tekanan udara dalam liang telinga D. Compliancemeter : untuk menilai bunyi yang diteruskan melalui

mikrofon.(Khoriyatul,2010 dan Hidayat,2009)

Gambar 7.Skema Alat yang Digunakan untuk Pemeriksaan Timpanometri(Hidayat,2009)

Energi akustik tinggi dihantarkan pada telinga melalui suatu tabung bersumbat, sebagian diabsorbsi dan sisanya dipantulkan kembali ke kanalis dan dikumpulkan oleh saluran dari kedua tabung tersebut.(Khoriyatul,2009) Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai kondisi telinga tengah. Gambaran

timpanometri yang abnormal (adanya cairan atau tekanan negatif di telinga tengah) merupakan petunjuk adanya gangguan pendengaran konduktif.(Soepardi,2007)

II. CARA PEMERIKSAAN Probe, setelah dipasangi tip yang sesuai, dimasukkan ke dalam liang telinga sedemikian rupa sehingga tertutup dengan ketat. Mula-mula ke dalam liang telinga yang tertutup cepat diberikan tekanan 200 mmH2O melalui manometer. Membrana timpani dan untaian tulang-tulang pendengaran akan mengalami tekanan dan terjadi kekakuan sedemikian rupa sehingga tak ada energi bunyi yang dapat diserap melalui jalur ini ke dalam koklea. Dengan kata lain, jumlah energi bunyi yang dipantulkan kembali ke dalam liang telinga luar akan bertambah.(Sedjawidada,1978) Tekanan kemudian diturunkan sampai titik di mana energi bunyi diserap dalam jumlah tertinggi; keadaan ini menyatakan membran timpani dan untaian tulang pendengaran dalam compliance yang maksimal. Pada saat compliance maksimal ini dicapai, tekanan udara dalam rongga telinga tengah sama dengan tekanan udara dalam liang telinga luar. Jadi tekanan dalam rongga telinga tengah diukur secara tak langsung.(Sedjawidada,1978) Tekanan dalam liang telinga luar kemudian diturunkan lagi sampai -400 mmH2O. Dengan demikian akan terjadi lagi kekakuan dari membrana timpani dan untaian tulangtulang pendengaran, sehingga tak ada bunyi yang diserap, dan energi bunyi yang dipantulkan akan meningkat lagi.(Sedjawidada,1978) Timpanometri merupakan salah satu dari 3 pengukuran imitans yang banyak digunakan dalam menilai fungsi telinga tengah secara klinis, di samping imitans statik dan ambang refleks akustik.(Hidayat,2009)

Cara Kerja Impedans Meter Cara kerja timpanometri adalah alat pemeriksaan (probe) yang dimasukkan ke dalam liang telinga memancarkan sebuah nada dengan frekuensi 220 Hz. Alat lainnya mendeteksi respon dari membran timpani terhadap nada tersebut.(Hidayat,2009) Secara bersamaan, probe yang menutupi liang telinga menghadirkan berbagai jenis tekanan udara. Pertama positif, kemudian negatif ke dalam liang telinga. Jumlah energi yang dipancarkan berhubungan langsung dengan compliance. Compliance menunjukkan jumlah mobilitas di telinga tengah. Sebagai contoh, lebih banyak energi yang kembali ke alat pemeriksaan, lebih sedikit energi yang diterima oleh membran timpani. Hal ini

menggambarkan suatu compliance yang rendah. Compliance yang rendah menunjukkan kekakuan atau obstruksi pada telinga tengah. Data-data yang didapat membentuk sebuah gambar 2 dimensi pengukuran mobilitas membran timpani. Pada telinga normal, kurva yang timbul menyerupai gambaran lonceng.(Hidayat,2009) Penghantaran bunyi melalui telinga tengah akan maksimal bila tekanan udara sama pada kedua sisi membran timpani. Pada telinga yang normal, penghantaran maksimum terjadi pada atau mendekati tekanan atmosfir. Itulah sebabnya ketika tekanan udara di dalam liang telinga sama dengan tekanan udara di dalam kavum timpani, imitans dari sistem getaran telinga tengah normal akan berada pada puncak optimal dan aliran energi yang melalui sistem ini akan maksimal. Tekanan telinga tengah dinilai dengan bermacam-macam tekanan pada liang telinga yang ditutup probe sampai sound pressure level (SPL) berada pada titik minimum. Hal ini menggambarkan penghantaran bunyi yang maksimum melalui telinga tengah. Tetapi bila tekanan udara dalam salah satu liang telinga lebih dari (tekanan positif) atau kurang dari (tekanan negatif) tekanan dalam kavum timpani, imitans sistem akan berubah dan aliran energi berkurang. Dalam sistem yang normal, begitu tekanan udara berubah sedikit di bawah atau di atas dari tekanan udara yang memproduksi imitans maksimum, aliran energi akan menurun dengan cepat sampai nilai minimum.(Hidayat,2009) Pada tekanan yang bervariasi di atas atau di bawah titik maksimum, SPL nada pemeriksaan di dalam liang telinga bertambah, menggambarkan sebuah penurunan dalam penghantaran bunyi yang melalui telinga tengah.(Hidayat,2009)

III. INTERPRETASI

Timpanogram adalah suatu penyajian berbentuk grafik dari kelenturan relative sistem timpanoosikular sementara tekanan udara liang telinga diubah-ubah. Kelenturan maksimal diperoleh pada tekanan udara normal, dan berkurang jika tekanan udara ditingkatkan atau diturunkan. Individu dengan pendengaran normal atau dengan gangguan sensoneural akan memperlihatkan sistem timpani-osikular yang normal.(Adams,1997) Liden (1969) dan Jerger (1970) mengembangkan suatu klasifikasi timpanogram. Tipetipe klasifikasi yang diilustrasikan adalah sebagai berikut(Adams,1997): 1. Tipe A

terdapat pada fungsi telinga tengah yang normal. mempunyai bentuk khas, dengan puncak imitans berada pada titik 0 daPa dan penurunan imitans yang tajam dari titik 0 ke arah negatif atau positif. Kelenturan maksimal terjadi pada atau dekat tekanan udara sekitar, memberi kesan tekanan udara telinga tengah yang normal.

Gambar 8.Timpanogram Normal(Hidayat,2009)

2.

Tipe As. Terdapat pada otosklerosis dan keadaan membran timpani yang berparut. Timpanogram kelihatan seperti tipe A (normal), di mana puncak berada atau dekat titik 0 daPa, tapi dengan ketinggian puncak yang secara signifikan berkurang. Huruf s di belakang A berarti stiffness atau shallowness. Kelenturan maksimal terjadi pada atau dekat tekanan udara sekitar, tapi kelenturan lebih rendah daripada tipe A. Fiksasi atau kekauan sistem osikular seringkali dihubungkan dengan tipe As.

Gambar 9.Timpanogram Tipe As(Hidayat,2009) 3. Tipe Ad. Terdapat pada keadaan membran timpani yang flaksid atau diskontinuitas (kadang-kadang sebagian) dari tulang-tulang pendengaran. Timpanogram kelihatan seperti tipe A (normal), tetapi dengan puncak lebih tinggi secara signifikan dibandingkan normal. Huruf d di belakang A berarti deep atau discontinuity. Kelenturan maksimum yang sangat tinggi terjadi pada tekanan udara sekitar, dengan peningkatan kelenturan yang amat cepat saat tekanan diturunkan mencapai tekanan udara sekitar normal. Tipe Ad dikaitkan dengan diskontinuitas sitem osikular atau suatu membrana timpani mono metrik.

Gambar 10.Timpanogram Tipe Ad(Hidayat,2009) 4. Tipe B Timpanogram tidak memiliki puncak melainkan pola cenderung mendatar, atau sedikit membulat yang paling sering dikaitkan dengan cairan di telinga tengah (kavum timpani), misalnya pada otitis media efusi. ECV dalam batas normal, terdapat sedikit atau tidak ada mobilitas pada telinga tengah. Bila tidak ada puncak tetapi ECV > normal, ini menunjukkan adanya perforasi pada membran timpani.

Gambar 11.Timpanogram Tipe B(Hidayat,2009)

5.

Tipe C Terdapat pada keadaan membran timpani yang retraksi dan malfungsi dari tuba Eustachius. Tekanan telinga tengah dengan puncaknya di wilayah tekanan negatif di luar 150 mm H2O indikatif ventilasi telinga tengah miskin karena tabung estachius disfungsi. Pola timpanometrik, dalam kombinasi dengan pola audiogram, ijin diferensiasi antara dan klasifikasi gangguan telinga tengah.

Gambar 12.Timpanogram Tipe C(Hidayat,2009)

Suatu timpanogram berbentuk huruf W dihubungkan dengan parut atrofik pada membrana timpani atau dapat pula suatu adhesi telinga tengah, namun biasanya membutuhkan nada dengan frekuensi yang lebih tinggi sebelum dapat didemonstrasikan.(Snow,2002 dan Hidayat,2009)

DAFTAR PUSTAKA

1. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997. p. 30,46

2. Sedjawidada R. Uraian Singkat Audiologi. Bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan. Fakultas Kedokteran Unhas. Makassar. Hal 1-4,13-16. 3. Grimes T, et al. Audiologi: Ballenger J.J. In: Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala, Leher. Binarupa Aksara. Grogol, Jakarta. Indonesia. 1997. p. 273-280. 4. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher Edisi Keenam. Jakarta; Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. p 15-18,27 5. Haris. Anatomi makhluk hidup [online] 2009 November 20th [cited 2010 November 4th]. Available from URL: http://anatomimakhlukhidup.blogspot.com/ 6. Ismail K. Pendengaran [online] 2008 [cited on 27 Januari 2010]. Available from URL : http://kumpulanfakta.blogspot.com/search?q=pendengaran 7. Bauman R, Dutton S. Human Anatomy and Physiology. Whittier Publications Inc. Lido Beach New York. 1996. p. 187-190. 8. Nursecerdas. Anatomi Fisiologi Telinga [online] 2009 February 5th [cited 2010 November 4th]. Available from URL: http://nursecerdas.wordpress.com/2009/02/05/217/ Netter. Atlas of Netter [online] 2010 [cited on 2010 November 6th]. Available from URL: http://www.netterimages.com/image/265.htm