P. 1
32626352-spkd-sleman

32626352-spkd-sleman

|Views: 88|Likes:
Dipublikasikan oleh MelaniaRahadiyanti

More info:

Published by: MelaniaRahadiyanti on Oct 06, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2012

pdf

text

original

STRATEGI PENANGGULANGAN

KEMISKINAN DAERAH KABUPATEN
SLEMAN
KOMITE
PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH
KABUPATEN SLEMAN
2005
STRATEGI PENANGGULANGAN
KEMISKINAN DAERAH KABUPATEN
SLEMAN
2005
iii SPKD Kabupaten Sleman
SAMBUTAN
BUPATI KEPALA DAERAH KABUPATEN SLEMAN
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga penyusunan
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) Kabupaten
Sleman dapat diselesaikan. Saya ucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan SPKD ini.
Upaya penanggulangan kemiskinan merupakan upaya bersama,
bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah saja. Artinya,
penanggulangan kemiskinan adalah program seluruh masyarakat Kabupaten
Sleman, seluruh pelaku harus bersatu padu dan bersinergi menanggulangi
kemiskinan.
Upaya penanggulangan kemiskinan harus berani belajar dari pengalaman.
Banyak contoh pembelajaran yang diperoleh selama menjalankan program
penanggulangan kemiskinan, namun usaha untuk memanfaatkan bahan
pe- lajaran itu belum optimal. Hal ini ditunjukkan oleh masih tingginya
jumlah keluarga miskin di Sleman, walaupun berbagai upaya penanggulangan
kemiskinan telah dilakukan.
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) ini disusun melalui ber-
bagai proses agar program penanggulangan kemiskinan dilakukan pada arah
yang benar. Beberapa catatan yang harus diperhatikan :
1. Dalam penanggulangan kemiskinan tidak dapat dilakukan dengan acara-
acara seremonial saja. Prinsip yang dipakai adalah bertindak dan berbuat.
Program yang ada harus sesuai dengan kebijakan pemerintah dan harus lebih
luas spektrumnya.
2. Berbagai program penanggulangan kemiskinan yang tidak tepat hanya mem-
berikan bantuan konsumtif harus segera dikoreksi. Pemerintah Kabupaten
Sleman tidak setuju dengan pola tersebut karena akan menciptakan masyara-
kat yang krido lumahing asto. Oleh karena itu, cara yang dipakai seharusnya
adalah memberi pancing. Karena pancing merupakan aset fisik (tangible)
dan aset intagible (know-how), management, ketrampilan dan sebagainya.
JW 41,%,BCVQBUFO4MFNBO
3. Fakta dan data harus jelas. Dalam menentukan sasaran harus selektif, inde-
penden, bukan karena teman, partai, agama atau golongan. Targetnya juga
harus jelas dan betul-betul yang membutuhkan.
4. Kita harus berani mengkaji ulang program-program lain jika memang tidak
sesuai dengan pola yang dikembangkan oleh daerah.
Dokumen arahan SPKD ini diharapkan menjadi acuan semua pihak agar pro-
gram penanggulangan kemiskinan lebih sinergis. Dengan demikian tidak terjadi
lagi program yang saling tumpang tindih, sehingga dapat dicapai sasaran yang
tepat, pasti dan terukur.
Sleman, April 2003
Bupati Sleman
Drs. Ibnu Subiyanto, Akt.
v SPKD Kabupaten Sleman
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rachmat dan hidayah Nya,
hingga dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten
Sleman dapat tersusun.
Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Sleman ini
merupakan salah satu hasil partisipasi semua partisipan Komite Penanggulangan
Kemiskinan Daerah. Proses panjang yang telah dilaksanakan dalam penyusunan
dokumen ini memberi bukti bahwa semangat kebersamaan semua pelaku telah
terbangun. Semoga semangat ini dapat dijaga secara konsisten dan berlanjut
dalam menjalankan program bersama.
Atas tersusunnya dokumen ini ijinkan kami menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Bupati Kepala Daerah Kabupaten Sleman Drs. Ibnu Subiyanto, Akt yang telah
memberikan perhatian dan dorongan yang sangat serius hingga dokumen ini
dapat disusun dengan baik dan penuh makna.
2. Direktorat Jendral Perumahan dan Permukiman Departemen Pekerjaan
Umum, yang telah memberikan fasilitas komunitas belajar perkotaan dan
pendampingan ahli yang mengawal proses penyusunan dokumen ini.
3. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman, khususnya
Bidang Sosial dan Ekonomi serta Bidang Sumber Daya Manusia yang telah
memberi fasilitas nara sumber dan Tim Penyusun serta proses partisipatif
dalam penyusunan dokumen ini
4. Pengurus Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah yang telah mengkri-
tisi substansi dan kerangka alur pikir yang logis dari dokumen ini.
5. Partisipan Kelompok Kerja yang telah memberikan sumbangan pemikiran
hingga memperkaya isi dan substansi dokumen ini.
6. Sekretariat Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah yang telah mem-
persiapkan bahan dan sarana lainnya dalam proses penyusunan dokumen
ini
7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberi-
kan sumbangsih terhadap penyusunan dokumen ini.
WJ 41,%,BCVQBUFO4MFNBO
Atas sumbangan pemikiran, fasilitas dan peransertanya terhadap penyusunan
dokumen ini, sehingga memberikan sumbangan nyata terhadap upaya penang-
gulangan kemiskinan Kabupaten Sleman. Semoga partisipasi nya menjadi amal
ibadah. Amien.
Koordinator KPKD
Drs. Dwi Supriatno, MS
vii SPKD Kabupaten Sleman
DAFTAR SINGKATAN
AKU Arah Kebijakan Umum
Amdal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
APBD Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
APBN Anggaran Pendapatan Belanja Negara
ATM Anjungan Tunai Mandiri, Automatic Teller Machine
Balita Bayi umur dibawah Lima Tahun
Bangda Pembangunan Daerah
BAPPEDA Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BAPPUK Berita Acara Penetapan Prioritas Usulan Kegiatan
BBM Bahan Bakar Minyak
BI Bank Indonesia
BKD Badan Kepegawaian Daerah
BKKBN Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
BPKKD Badan Pengelola Kekayaan Keuangan Daerah
BKM Badan Keswadayaan Masyarakat
BLK Balai Latihan Kerja
BLM Bantuan Langsung Masyarakat
BMT Bank Muamalat Ta’mil
BNI 46 Bank Negara Indonesia 46
BOP Biaya Operasional Proyek
BPD Bank Pembangunan Daerah
BPD Badan Perwakilan Desa
BPKB Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor
BPKP Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan
BPKD Badan Pemeriksa Keuangan Daerah
BPN Badan Pertanahan Nasional
BPPD Badan Pengendalian PertanahanDaerah
BPS Badan Pusat Statistik
BRI Bank Rakyat Indonesia
BTN Bank Tabungan Negara
Bukopin Bank Koperasi Indonesia
Bumil Ibu Hamil
CBD Community Based Development
CBO Community Based Organization
CLC City Learning Community
CRP Community Recovery Program
CSS Community Self Survey (Pemetaan Swadaya)
D II Diploma Dua
viii SPKD Kabupaten Sleman
DB Demam Berdarah
DIK Daftar Isian Kegiatan
Diklat Pendidikan dan Latihan
Diknas Pendidikan Nasional
Dinkes Dinas Kesehatan
DIY Daerah Istimewa Yogyakarta
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
FGD Focus Group Discussion/ Diskusi Kelompok Terarah
GAKIN Keluarga Miskin
GNOTA Gerakan Nasional Orang Tua Asuh
Ha Hektar
HAM Hak Azasi Manusia
HDI Human Development Index
IDT Instruksi presiden Desa Tertinggal
Inkesra Indikator Kesejahteraan Rakyat
IPM Indeks Pembangunan Manusia
JPS Jaring Pengaman Sosial
Kades Kepala Desa
Kadus Kepala Dusun
KB Keluarga Berencana
KBP Komunitas Belajar Perkotaan
KBU Kelompok Belajar Usaha
KIKM Kredit Investasi Kegiatan Mikro
Kimpraswilhub Permukiman, Prasarana Wilayah dan Perhubungan
KK Kepala Keluarga
KKN Kuliah Kerja Nyata
Km Kilometer
Km2 Kilometer persegi
KPDL Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan
KPK Komite Pemberantasan Korupsi
KPKD Komite Penanggulangan Kemiskinan Daerah
KS Keluarga Sejahtera
KSM Kelompok Swadaya Masyarakat
LPK Lembaga Pendidikan Kejuruan
MI Madrasah Ibtidakiyah
MLP Musyawarah Lintas Pelaku
mm Milimeter
MTA Makanan Tambahan Anak
Nakersos KB Tenaga Kerja Sosial Keluarga Berencana
Ormas Organisasi Masyarakat
ix SPKD Kabupaten Sleman
Orsospol Organisasi Sosial Politik
P2BA Pengairan, Pertambangan dan Penaggulangan Bencana Alam
P2KPM Perindustrian Perdagangan Koperasi Penanaman Modal
P2MPD Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah
PAD Pendapatan Asli Daerah
PBB Perserikatan Bangsa Bangsa
Pemda Pemerintah Daerah
Petahanan Pertanian dan Kehutanan
PJM Perencanaan Jangka Menengah
PJP Perencanaan Jangka Panjang
PKK Pembinaan Kesejahteraan Keluarga
PKL Pedagang Kakilima
PKM Program Keberdayaan Masyarakat
PNS Pegawai Negeri Sipil
POKJA Kelompok Kerja
Posyandu Pos Pelayanan Terpadu
PPKP Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
Pronangkis Program Penanggulangan Kemiskinan
PT Perseroan Terbatas
PT Perguruan Tinggi
Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat
Renstrada Rencana Strategis Daerah
RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah
RPJMD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
RS Rumah Sakit
RSKPD Rencana Startegis Satuan Kerja Pemerintah Daerah
RT Rukun Tetangga
RW Rukun Warga
S1 Sarjana tingkat satu
SAR Searc And Resque
SD Sekolah Dasar
SDA Sumber Daya Alam
SDM Sumber Daya Manusia
Sekda Sekretaris Daerah
SHU Sisa Hasil Usaha
SIM Surat Ijin Mengemudi
SMK Sekolah Menengah Kejuruan
SMP Sekolah Menengah Pertama
SMU Sekolah Menengah Umum
SPKD Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah
SPT Surat Pajak Tahunan
x SPKD Kabupaten Sleman
SSN Social Safety Net
STNK Surat Tanda Nomor Kendaraan
TA Tenaga Ahli
Triple A Atlas Agenda Aturan main
TTG Teknologi Tepat Guna
UED-IRT Unit Ekonomi Desa Ibu Rumah Tangga
UED-SP Unit Ekonomi Desa Simpan Pinjam
UKM Unit Kegiatan Mikro
UUD Undang-Undang Dasar
WC Water Closed
xi SPKD Kabupaten Sleman
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Sambutan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Sleman iii
Kata Pengantar v
Daftar Singkatan vii
Daftar Isi xi
Daftar Tabel dan Diagram xiii
Daftar Lampiran xv
RINGKASAN EKSEKUTIF xvii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Tujuan 2
1.3. Metodologi 3
1.3.1. Kerangka Berpikir 3
1.3.1.1. Konsep Kemiskinan 4
1.3.1.2. Pemilihan Data 6
1.3.2. Proses Penyusunan 6
1.4. Ruang Lingkup 7
1.5. Sistematika 8
BAB II GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN 11
2.1. Geografi 11
2.2. Kependudukan 12
2.3. Indikator Kesejahteraan 15
2.3.1. Kesehatan 16
2.3.2. Pendidikan 17
2.3.3. Ketenagakerjaan 17
2.3.4. Perumahan dan Lingkungan 19
2.3.5. Fasilitas Sosial 20
BAB III KONDISI DAN PENYEBAB KEMISKINAN 21
3.1. Data Keluarga Miskin. 21
3.2. Kondisi Kemiskinan 25
3.2.1. Indikator Kemiskinan 25
3.2.2. Penyebab Kemiskinan 29
BAB IV KAJI ULANG KEBIJAKAN DAN PROGRAM 31
4.1. Kebijakan Pemerintah Pusat 31
4.2. Arah Kebijakan Umum Tahun 2004 33
4.3. Program Penanggulangan Kemiskinan Prakarsa Pemda 35
4.4 Insiatif Masyarakat dan Swasta 37
4. 5. Analisis Lingkungan Internal 38
4. 6. Analisis Lingkungan Eksternal 39
xii SPKD Kabupaten Sleman
4. 7. Analisis SWOT 41
4. 8. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan 45
BAB V STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN 47
5.1. Visi 47
5.2. Misi 47
5.3. Tujuan Strategi Penanggulangan Kemiskinan 47
5.4. Strategi dan Pendekatan 47
5.5. Kebijakan dan Program Perluasan Kesempatan 49
5.6. Kebijakan dan Program Pemberdayaan Masyarakat 53
5.7. Kebijakan dan Program Peningkatan Kapasitas dan Sumberdaya Manusia 56
5.8. Kebijakan dan Program Perlindungan Sosial 60
5.9. Peran KPKD 62
BAB VI SISTEM PEMANTAUAN DAN PENILAIAN 65
6.1. Pemantauan 65
6.2. Penilaian 66
6.3. Peran KPKD 67
BAB VII PENUTUP 69
xiii SPKD Kabupaten Sleman
DAFTAR TABEL DAN DIAGRAM
Tabel 2.1. Luas Wilayah, Banyaknya Penduduk, Kepadatan Penduduk dan Rasio jenis
Kelamin di Kabupaten Sleman Pertengahan Tahun 2004
13
Tabel 2.2. Banyaknya Rumah tangga, Penduduk dan Rata-rata Jiwa per Rumah Tangga
menurut Kecamatan di Kabupaten Sleman Pertengahan Tahun 2004
13
Tabel 2.3. Banyaknya Kelahiran, Kematian dan Perpindahan Penduduk Kabupaten Sleman
pertengahan tahun 2004
14
Tabel 2.4. Jenis Pengobatan yang dilakukan Penduduk di Kabupaten Sleman tahun 2003 17
Tabel 2.5. Pendidikan yang ditamatkan Penduduk berusia 10 tahun keatas tahun 2003 17
Tabel 2.6. Status Ketenagakerjaan Penduduk Kabupaten Sleman tahun 2003 18
Tabel 2.7. Bidang Pekerjaan Penduduk KabupatenSleman tahun 2003 .. 18
Tabel 2.8. Pekerjaan Utama Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003 . 19
Tabel 2.9. Jumlah Fasilitas Sosial di Kabupaten Sleman 20
Tabel 3.1. Keluarga Miskin per Kecamatan di Kabupaten Sleman tahun 2003 .. 21
Tabel 3.2. Keluarga Miskin per Desa per Kecamatan di Kabupaten Sleman Tahun 2003 22
Tabel 3.3. Daftar Indikator Kemiskinan 26
Tabel 3.4. Pekerjaan Kepala Keluarga Miskin di 32 Desa 28
Tabel 4.1. Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pusat .. 32
Tabel 4.2. Rekapitulasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman 2004 34
Tabel 4.3. Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Daerah 35
Tabel 4.4. Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Daerah 36
Tabel 4.5. Program PenanggulanganKemskinan Atas Prakarsa Masyarakat, Perguruan Tinggi,
LSM dan Swasta
41
Tabel 4.6. Memperbaiki Kelemahan untuk menangkap Peluang 42
Tabel 4.7. Memanfaatkan kekuatan untuk menekan Ancaman 43
Tabel 5.1. Peran Unsur-unsur KPKD dalam Program Penanggulangan Kemiskinan 46
Tabel 5.2. Unsur Pemerintah Daerah 48
Tabel 5.3. Unsur Swasta 49
Tabel 5.4. Unsur Masyarakat 49
Tabel 5.5. Unsur Pemerintah Daerah 51
Tabel 5.6. Unsur Swasta 52
Tabel 5.7. Unsur Masyarakat 53
Tabel 5.8. Unsur Pemerintah daerah 55
Tabel 5.9. Unsur Swasta 56
Tabel 5.10. Unsur Masyarakat 56
Tabel 5.11. Unsur Pemerintah Daerah 58
Tabel 5.12. Unsur Swasta 59
Tabel 5.13. Unsur Masyarakat 59
Tabel 6.1. Peran Unsur-unsur KPKD dalam Program Penanggulangan Kemiskinan 67
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 1.1 Alur Perencanaan dan Anggaran Daerah 8
xiv SPKD Kabupaten Sleman
xv SPKD Kabupaten Sleman
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kebijakan dan Program yang berpotensi mendukung upaya
penanggulangan kemiskinan
71
Lampiran 2 Indikator Tingkat kesejahteraan Keluarga 83
xvi SPKD Kabupaten Sleman
xvii SPKD Kabupaten Sleman
RINGKASAN EKSEKUTIF
Upaya penanggulangan kemiskinan merupakan bagian tak terpisahkan dari
pelaksanaan pembangunan dan merupakan tanggung jawab semua pihak. Akan
tetapi kenyataan selama ini memperlihatkan bahwa upaya penanggulangan
kemiskinan masih dipandang merupakan urusan pemerintah saja. Akibatnya
keterlibatan masyarakat luas sangat kecil. Dengan dibentuknya Komite
Penanggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) diharapkan terdapat koordinasi
kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan Kabupaten Sleman yang
melibatkan berbagai sektor dan pelaku pembangunan (stakeholders) lainnya.
Strategi Penanggulangan Kemiskinan (SPKD) merupakan instrumen yang
dikembangkan oleh KPKD dalam bentuk rekomendasi kebijakan dan program.
SPKD ini disusun dalam tujuh bab, dengan uraian sebagai berikut:
Bab pertama mengetengahkan pendahuluan yang berisi penjelasan tentang
latar belakang pemikiran beserta tujuan disusunnya SPKD, metodologi yang
digunakan, posisi SPKD serta jangkauan dokumen ini.
Bab dua menyajikan gambaran geografi dan kependudukan Kabupaten Sleman
secara umum. Selain itu disajikan pula Indikator Kesejahteraan Rakyat (Inkesra).
Sajian ini dimaksudkan untuk meletakkan masalah kemiskinan dalam konteks
kependudukan secara luas.
Bab tiga berisi data tentang kemiskinan penduduk disertai informasi tentang hal-
hal yang berkaitan dengannya, termasuk analisis tentang penyebab kemiskinan.
Bab empat membahas kajian ulang terhadap kebijakan dan program
penanggulangan kemiskinan yang pernah ada di Kabupaten Sleman. Kajian ini
meliputi apakah program tersebut berdampak perluasan kesempatan, peningkatan
partisipasi, perlindungan sosial dan apa pembelajaran yang diperoleh. Selain itu
ada pula analisis lingkungan eksternal serta analisis lingkungan internal pada
upaya penanggulangan kemiskinan di Sleman.
Bab lima mengetengahkan strategi dan pendekatan yang hendak digunakan
dalam menanggulangi kemiskinan. Strategi ini disusun berdasar hasil kaji
ulang kebijakan dan program sebagaimana disajikan pada bab sebelumnya.
Perumusan kebijakan dan program yang diperlukan untuk penanggulangan
kemiskinan tersebut berasal dari masing-masing pelaku, yang di kooordinasikan
dan dirumuskan bersama.
Selanjutnya bab enam berisi kegiatan pemantauan dan penilaian. Pemantauan
dilakukan oleh semua pelaku menggunakan metode dan sarana yang dimiliki
xviii SPKD Kabupaten Sleman
oleh masing-masing untuk kemudian dibahas melalui FGD dan MLP. Sedangkan
penilaian mencakup output, outcome dan impact.
Terakhir bab tujuh yaitu penutup, berisi penekanan tentang pentingnya suatu
sinergi program dan kepatuhan untuk mengacu pada kesepakatan yang sudah
menjadi komitmen bersama.
Upaya penanggulangan kemiskian di Kabupaten Sleman selama ini belum
sepenuhnya membuahkan hasil. Penyebabnya adalah tidak tersedianya data-
basis yang akurat serta metode penanggulanan kemiskinan oleh masing-masing
instansi tidak sama sehingga terjadi tumpang-tindih program dan sasaran
kegiatan. Selain itu, banyak dijumpai indikasi penyimpangan. Oleh karena itu
SPKD ini disusun dengan tujuan agar:
1. Terdapat data-basis yang akurat dan sistematis tentang penduduk miskin.
2. Tersedia arah dan pedoman upaya penanggulangan kemiskinan yang dapat
diakses oleh semua pemangku kepentingan.
3. Tercapai keselarasan, koordinasi, dan sinergi antar semua pelaku upaya
penanggulangan kemiskinan.
4. Terdapat pengarus-utamaan penanggulangan kemiskinan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJM Daerah), Rencana Strategis Satuan Kerja
Pemerintah Daerah (Renstra SKPD), RKP Daerah dan Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (Renja KPD) Kabupaten Sleman.
Dokumen SPKD ini menggunakan konsep kemiskinan absolut, dalam hal ini
memakai ukuran yang biasa digunakan oleh Bidang Keluarga Berencana (KB).
Pertimbangannya adalah bahwa konsep tersebut bisa berlaku menyeluruh di
semua wilayah Kabupaten Sleman.
Sedangkan kedudukan SPKD dalam tata kebijakan pemerintah Kabupaten
Sleman adalah sebagai masukan untuk diarus-utamakan dalam RPJP Daerah
dan RPJM Daerah, dijabarkan dalam Renja SKPD, dijadikan pedoman dalam
penyusunan Renstra SKPD, serta dijalankan melalui Renja SKPD.
Data kependudukan dan indikator kesejahteraan rakyat (Inkesra) disajikan
dalam SPKD ini agar dapat menjadi petunjuk awal untuk mengetahui kemajuan
upaya penanggulangan kemiskinan. Isinya mencakup data tentang kesehatan,
pendidikan, tenaga kerja, perumahan dan lingkungan.
Jumlah keluarga miskin di Kabupaten Sleman pada tahun 2004 sebanyak 53.875
atau 23,13% dari total 232.904 kepala keluarga (KK). Agar lebih dekat dengan
realita dan agar upaya penanggulangan kemiskinan menjadi lebih tepat sasaran
maka data kemiskinan di atas dilihat lebih mendalam yaitu per desa. Dengan
xix SPKD Kabupaten Sleman
cara demikian bisa diketahui di mana letak kantung-kantung kemiskinan di
Kabupaten Sleman.
Kondisi kemiskinan dilihat setidaknya dari tiga dimensi, yaitu dimensi ekonomi,
sosial, dan fisik. Masing-masing dimensi terdiri atas beberapa aspek. Dari tiap-
tiap aspek tersebut didapat indikasi kemiskinannya.
Gambaran lain tentang kondisi keluarga miskin di Kabupaten Sleman dapat
dilihat dari pekerjaan kepala keluarga. Dari Kelompok Belajar Perkotaan(KBP)
di 32 desa diketahui bahwa yang terbanyak adalah bekerja sebagai buruh (11.172)
disusul pedagang (1.501) dan terkecil adalah petani (850).
Kebijakan nasional untuk penanggulangan kemiskinan terdiri atas banyak
jenis. Akan tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa upaya penanggulangan
kemiskinan pada masa lalu memperlihatkan ciri-ciri: (a) Kebijakan terpusat
dan seragam; (b) Lebih bersifat karitatif; (c) Memposisikan masyarakat sebagai
obyek, yaitu tidak melibatkan mereka dalam keseluruhan proses penanggulangan
kemiskinan; (d) Memandang masalah kemiskinan hanya dari segi ekonomi; (e)
Menganggap bahwa permasalahan dan penanggulangan kemiskinan bersifat
sama (one-fit-for-all); (f) Kurang memperhatikan keragaman budaya; (g)
Pendekatannya top down; (h) Terdapat tumpang-tindih (overlapping) kelompok
sasaran antara program yang satu dengan program lainnya; dan (i) Kebijakannya
bersifat sektoral.
Sementara itu, kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Sleman yang terkait
dengan upaya penanggulangan kemiskinan tercatat antara lain : bantuan
pelayanan kesehatan, beras miskin, gaduh ternak, bantuan susu untuk Ibu
hamil, bantuan susu untuk murid, dana gotong-royong, bantuan dana bergulir,
bantuan aspal, bantuan organisasi sosial, koperasi UKM, dan beasiswa. Sekalipun
demikian kenyataan menunjukkan bahwa setiap tahun jumlah KK miskin masih
terus bertambah. Dari kajian terhadap Arah Kebijakan Umum (AKU) Kabupaten
Sleman tahun 2004 diketahui bahwa secara umum kebijakan lembaga-lembaga
pemerintah belum mengarus-utamakan penanggulangan kemiskinan.
Adapun kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh kalangan
swasta dan masyarakat di Kabupaten Sleman baru dapat ditelaah secara sederhana
karena belum tersedia data secara menyeluruh. Hal ini tidak berarti bahwa
kalangan swasta dan masyarakat belum melakukan kegiatan penanggulangan
kemiskinan. Mereka melakukan kegiatan tersebut namun belum terkoordinasi
sehingga datanya disimpan oleh masing-masing pihak.
Agar penanggulangan kemiskinan dapat berhasil guna secara optimal dibutuhkan
strategi untuk menjalanan kebijakan dan program. Strategi yang diterapkan
adalah:
xx SPKD Kabupaten Sleman
1. Mengintregasikan program masyarakat, pemerintah, dan swasta
2. Mendudukkan keluarga miskin sebagai pelaku utama dalam program pe-
nanggulangan kemiskinan
3. Mensenyawakan SPKD dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang
(RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah dan Ren-
cana Strategi Satuan Kerja Pemerintah Daerah (Renstra – SKPD).
Kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan publik
yang berpihak kepada orang miskin (pro poor policy). Kebijakan ini harus
diterjemahkan dalam pembangunan yang berpihak kepada kaum miskin (pro
poor development) dan pertumbuhan ekonomi yang berpihak kepada orang
miskin (pro poor growth).
Secara operasional arah penanggulangan kemiskinan dapat dikelompokkan
dalam empat kebijakan dan program, yaitu perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, dan perlindungan
sosial. Keempat kebijakan dan program tersebut harus dilaksanakan secara
sinergis oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Sistem pemantauan dan penilaian (monitoring and evaluation system) dalam
program penanggulangan kemiskinan tidak lain merupakan kesepakatan
bersama untuk saling terbuka dan bersedia menerima masukan dari segenap
pemangku kepentingan. Hal ini karena: (a) Upaya penanggulangan kemiskinan
tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah saja, melainkan harus melibatkan
semua pemangku kepentingan. (b) Karena melibatkan banyak pihak maka
harus partisipatif. Untuk benar-benar partisipatif diperlukan transparansi.
(c) Meskipun semua pihak telah mengambil peran dalam penanggulangan
kemiskinan, mereka seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus
dalam koordinasi. Koordinasi dapat dicapai antara lain melalui pemantauan dan
keterbukaan semua pelaku.
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pemantuan dan penilaian ini meliputi:
Pelaporan kegiatan oleh masing-masing pelaku melalui; dialog dan diskusi
insidental antara Pengurus KPKD dengan para pelaku atau pemangku
kepentingan; Musyawarah Lintas Pelaku (MLP); dan Pemberitaan media
massa.
Upaya penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk mendidik masyarakat
miskin untuk terus-menerus menemukenali potensi yang dimiliki baik individu,
keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. Material, sumberdaya dan
ketrampilan selalu diarahkan sebagai modal dasar untuk kesejahteraan hidup.
Oleh karena itu didorong tumbuhnya rasa percaya diri akan kemampuannya
untuk lepas dari belenggu kemiskinan. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran
xxi SPKD Kabupaten Sleman
bahwa tidak akan ada individu, kelompok yang dapat keluar dari belenggu
kemiskinan selain atas usaha individu, keluarga dan lingkungan itu sendiri.
1 SPKD Kabupaten Sleman
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Acuan dasar penanggulangan kemiskinan secara filosofi terkandung dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Negara Indonesia melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Batang
tubuh Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menegaskan bahwa negara
berkewajiban untuk mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh
rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai
dengan martabat kemanusiaan. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, serta setiap orang berhak atas
jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai
manusia yang bermartabat. Dengan demikian jelas bahwa negara, yang berarti
semua pelaku dan bukan hanya pemerintah, termasuk Kabupaten Sleman
mendapat mandat untuk menanggulangi kemiskinan.
Kenyataan selama ini memperlihatkan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan
masih dipandang merupakan urusan pemerintah saja. Pandangan demikian itu
bukan hanya datang dari masyarakat melainkan juga dari kalangan pemerintah
sendiri. Akibatnya keterlibatan masyarakat luas sangat kecil. Salah satunya
karena peluang partisipasi belum dibuka, sedangkan kenyataan menunjukkan
bahwa persoalan kemiskinan tak kunjung teratasi. Jumlah penduduk miskin
semakin bertambah dari waktu ke waktu. Hasil pendataan Bidang KB selama
kurun waktu lima tahun 1998 – 2004 menunjukkan bahwa jumlah keluarga
miskin di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan cukup berarti. Pada tahun
1998 jumlahnya 8.294 KK. Tahun 1999 naik menjadi 33.157 KK, kemudian tahun
2000; 39.406 KK, tahun 2001; 46.619 KK, tahun 2002; 49.669 KK, tahun 2003;
53.567 KK dan terakhir tahun 2004 sebanyak 53.875 KK.
Bertambahnya penduduk miskin itu dapat terjadi karena setidaknya dua
masalah. Masalah pertama karena tidak tersedianya data-basis yang akurat
yang dapat dirujuk semua pihak. Padahal akurasi data basis sangat penting
untuk mengetahui secara pasti jumlah awal dan jumlah akhir sehingga dapat
diketahui pengurangan atau peningkatannya. Masalah kedua metode pendataan
yang digunakan oleh masing-masing instansi tidak sama. Akibatnya tidak ada
koordinasi antar pelaku sehingga terjadi tumpang-tindih program dan tumpang-
tindih sasaran kegiatan, bahkan dalam pelaksanaan di lapangan banyak dijumpai
indikasi penyimpangan.
2 SPKD Kabupaten Sleman
Untuk mengatasi permasalahan di atas dibutuhkan sebuah strategi
penanggulangan kemiskinan daerah (SPKD) yang handal yang bisa dijadikan
dasar dan rujukan semua pihak yang hendak melakukan upaya penanggulangan
kemiskinan di Kabupaten Sleman. SPKD dapat handal jika dibangun melalui
mekanisme penyusunan yang cermat, mendalam dan partisipatif.
Kebijakan tersebut diharapkan menjadi acuan penanggulangan kemiskinan yang
dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah, swasta, organisasi non-pemerintah
dan komponen masyarakat lainnya. Kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan
dalam SPKD ini berciri:
1.1.1. Mengutamakan kepentingan rakyat, memihak dan mendahulukan rakyat
miskin.
1.1.2. Menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, keadilan dan kemartabatan.
1.1.3. Menumbuh-kembangkan partisipasi masyarakat menuju keswadayaan
dan kemandirian.
1.1.4. Aspirasi masyarakat miskin disalurkan untuk ditransformasikan dalam
kebijakan sosial, ekonomi dan politik yang dilandasi semangat kemitraan
dan kesetaraan.
1.1.5. Menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM), demokratisasi, desentralisasi
dan good governance.
1.1.6. Penanggulangan kemiskinan sebagai arus utama pembangunan
berkelanjutan.
1.1.7. Transformasi masyarakat menuju masyarakat Kabupaten Sleman yang
sejahtera, adil dan makmur.
1.1.8. Pengembangan hubungan antara masyarakat dan pemerintah melalui
interaksi untuk menumbuhkan hubungan interdependensi antar pelaku
pembangunan.
Dengan keterlibatan semua pemangku kepentingan (stakeholders) dalam
penyusunan SPKD diharapkan ada ketepatan dalam menangkap esensi persoalan,
perumusan target dan sasaran, serta dayaguna dan hasil guna yang optimal.
1.2. Tujuan
Dokumen SPKD ini disusun dengan tujuan agar:
1.2.1. Terdapat data-basis yang akurat dan sistematis tentang penduduk miskin
di Kabupaten Sleman.
3 SPKD Kabupaten Sleman
1.2.2. Tersedia arah dan pedoman upaya penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman yang dapat diakses oleh semua pemangku
kepentingan.
1.2.3. Tercapai keselarasan, koordinasi dan sinergi antar semua pelaku dalam
upaya penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sleman.
1.2.4. Terdapat pengarus-utamaan penanggulangan kemiskinan dalam RPJP
Daerah, RPJM Daerah, Renstra SKPD, RKP Daerah dan Renja SKPD
Kabupaten Sleman.
1.3. Metodologi
Metodologi dalam SPKD ini mencakup dua pokok bahasan, yaitu kerangka
berfikir yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan; dan
proses penyusunannya. Kedua pokok bahasan tersebut dimaksudkan untuk
menunjukkan alur pikir yang runtut dalam dokumen ini.
1.3.1. Kerangka Berfikir
Menurut ahli, setidaknya ada tiga macam konsep kemiskinan yang sering
dipakai, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan subyektif.
Konsep kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu
yang konkret dan lazimnya berorientasi pada kebutuhan hidup dasar minimum
anggota masyarakat yaitu sandang, pangan dan papan. Konsep kemiskinan
relatif dirumuskan dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu. Dasar
asumsinya adalah kemiskinan di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya,
dan kemiskinan pada waktu tertentu berbeda dengan waktu yang lain. Tolok ukur
yang digunakan adalah berdasar pertimbangan anggota masyarakat tertentu,
dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup. Sedang konsep kemiskinan
subyektif dirumuskan berdasarkan perasaan kelompok miskin itu sendiri. Oleh
karena itu dimungkinkan bahwa kelompok yang menurut ukuran kita berada di
bawah garis kemiskinan, boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri miskin,
dan demikian pula sebaliknya. Sementara kelompok yang dalam penilaian kita
tergolong hidup layak, boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri semacam
itu, demikian pula sebaliknya.
Untuk mendekati masalah kemiskinan terdapat dua macam perspektif, yaitu
kultural dan struktural atau situasional. Perspektif kultural mendekati masalah
kemiskinan pada tiga tingkat analisis, yaitu individual, keluarga dan masyarakat.
Pada tingkat individual, kemiskinan ditandai sifat-sifat seperti: sikap parochial,
apatisme, fatalisme atau pasrah pada nasib, boros, tergantung dan inferior. Pada
tingkat keluarga, kemiskinan ditandai dengan jumlah keluarga yang besar.
Sedang pada tingkat masyarakat, kemiskinan terutama ditunjukkan oleh tidak
4 SPKD Kabupaten Sleman
terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-insttitusi masyarakat yang efektif.
Kaum miskin sering kali memperoleh perlakuan sebagai obyek yang perlu
digarap daripada sebagai subyek yang perlu diberi peluang untuk berkembang.
Sementara itu perspektif situasional melihat masalah kemiskinan sebagai dampak
dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk
teknologi modern. Penetrasi kapital antara lain terwujud dalam program-progam
pembangunan yang terlalu mengutamakan pertumbuhan ekonomi semata dan
kurang memperhatikan pemerataan. Program pembangunan semacam ini
hanya menguntungkan kelompok masyarakat yang kaya karena: (a) Terkait
dengan akumulasi modal, kelompok masyarakat kaya mendapat kesempatan
lebih banyak untuk mendapat aset-aset tambahan sehingga dapat lebih cepat
berkembang. (b) Terkait dengan fungsi lembaga khususnya lembaga ekonomi
yang memang sangat dibutuhkan dalam menghadapi kemajuan jaman, ternyata
juga hanya kelompok kaya yang dapat menikmatinya.
1.3.1. 1. Konsep Kemiskinan
Konsep kemiskinan yang digunakan dalam dokumen SPKD ini adalah konsep
kemiskinan absolut, yaitu dengan memakai ukuran yang biasa digunakan oleh
Bidang Keluarga Berencana (KB). Pertimbangannya adalah bahwa konsep tersebut
bisa berlaku menyeluruh di semua wilayah Kabupaten Sleman. Hal ini berbeda
dengan konsep kemiskinan subyektif sebagaimana diterapkan Komunitas Belajar
Perkotaan (KBP) yang difasilitasi oleh Proyek Penanggulangan Kemiskinan
Perkotaan (P2KP) yang hanya berlaku pada masing-masing wilayah setempat.
Namun data yang dikumpulkan KBP dengan konsep kemiskinan subyektif
tersebut tetap digunakan sebagai pembanding. Pertimbangan lainnya adalah
kenyataan bahwa data dari Bidang KB tersedia secara lengkap, menyeluruh dan
senantiasa diperbaharui setiap tahun. Sebaliknya data dari KBP sampai saat ini
hanya tersedia pada 32 desa, padahal jumlah desa di Kabupaten Sleman sebanyak
86 desa.
Uraian mengenai konsep kemiskinan diawali dengan memaparkan ide dasar
atau klasifikasi awal yang digunakan, disusul penjelasan tentang indikator
yang digunakan berikut argumentasinya, kemudian menunjukkan metode
penggolongan keluarga miskin.
Sudah sejak lama Bidang KB secara rutin melakukan pendataan untuk
mengetahui tingkat kesejahteraan (bahasa halus dari ”tingkat kemiskinan”)
1

keluarga di Kabupaten Sleman. Dari hasil pendataan tersebut kemudian dibuat 5
kategori, yaitu: Keluarga Pra Sejahtera, Keluarga Sejahtera I, Keluarga Sejahtera
II, Keluarga Sejahtera III, dan Keluarga Sejahtera III Plus.
1
Patut ditelusuri apakah frasa “tingkat kesejahteraan” hanya merupakan penghalusan dari frasa
“tingkat kemiskinan” berhubung pada esensinya ketidak-sejahteraan sama dengan kemiskinan.
5 SPKD Kabupaten Sleman
Terdapat 23 indikator yang digunakan dalam pendataan tersebut. Semakin
banyak indikator yang dapat dipenuhi oleh sebuah keluarga, semakin tinggi
tingkat kesejahteraan keluarga tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit indikator
yang dapat dipenuhi oleh sebuah keluarga, semakin rendah tingkat kesejahteraan
keluarga tersebut. Ke-23 indikator tersebut sebenarnya bersumber dari 5
(lima) variabel, yaitu: kerohanian, pangan, sandang, papan dan lingkungan
sosial. Masing-masing dari kelima variabel tersebut diberi nilai bertingkat atau
berjenjang dalam lima tingkat. Jumlah indikator tiap-tiap variabel pada tingkat
yang berbeda tidak selalu sama. Kombinasi dari semua itu menghasilkan lima
kategori keluarga mulai dari pra-sejahtera hingga keluarga sejahtera III plus.
Gambaran lebih rinci mengenai variabel dan indikator kesejahteraan keluarga
dapat diperiksa pada lampiran 1.
Terkait dengan variabel dan indikator-indikator tersebut terdapat beberapa hal
yang perlu dicatat. Pertama, selama ini terdapat penilaian oleh sebagian kalangan
bahwa indikator yang digunakan Bidang KB tidak tepat karena mengukur
kemiskinan hanya dari lantai rumah sebuah keluarga. Dalam kaitan ini yang
perlu diperhatikan adalah bahwa lantai rumah bukan merupakan satu-satunya
indikator yang digunakan. Letak kekeliruan utamanya adalah pada tindakan
intervensinya, bukan pada indikatornya. Maksudnya, lantai rumah yang masih
berupa tanah memang merupakan salah satu indikasi kemiskinan keluarga.
Tetapi upaya menanggulangi kemiskinan dengan cara menghilangkan indikator
jelas merupakan langkah yang tidak tepat apabila soal kemiskinannya sendiri
tidak ditangani. Contoh, proyek pemberian semen untuk membangun lantai
(lantainisasi) berasumsi bahwa jika indikatornya dihilangkan maka keluarga
tersebut tidak lagi disebut miskin.
Kedua, dalam perkembangan belakangan ini pendataan keluarga miskin sering
mendapat intervensi dari berbagai kepentingan lain sehingga data yang didapat
tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, perlu ada
pemeriksaan silang (crosscheck) dan kehati-hatian dalam menggunakan data.
Ketika fokus pendataan bergeser dari mengukur kesejahteraan menjadi
mengukur kemiskinan, metode yang ditempuh ialah dengan mengambil data
jumlah keluarga pra-sejahtera ditambah keluarga sejahtera I. Dari jumlah
tersebut kemudian diteliti ulang dengan memisahkan faktor ekonomi (pangan,
sandang, papan) dari faktor non-ekonomi (rohani & lingkungan sosial). Keluarga
yang masuk kategori pra-sejahtera karena alasan ekonomi, digolongkan sebagai
keluarga miskin sekali. Sedang keluarga yang masuk kategori sejahtera I karena
alasan ekonomi digolongkan sebagai keluarga miskin. Kriteria keluarga miskin
yang sekarang dipakai adalah hasil penggabungan keluarga miskin sekali (pra-
sejahtera karena alasan ekonomi) dan keluarga miskin (keluarga sejahtera I karena
alasan ekonomi). Dalam kaitan ini perlu dicatat bahwa, jika dirunut asal-muasal
6 SPKD Kabupaten Sleman
penetapannya, data dari Bidang KB merupakan ”angka-angka taksiran tinggi”.
Hal itu karena tidak semua keluarga yang selama ini digolongkan Pra Keluarga
Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I dengan sendirinya tergolong miskin.
1.3.1. 2. Pemilihan Data
Telah menjadi pengetahuan umum bahwa data kemiskinan tersedia dalam
berbagai versi, dengan dasar penghitungan berbeda dan jumlah akhir yang
beragam. Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, menggunakan individu sebagai
dasar penghitungan. Hal ini kurang-lebih sama dengan cara penghitungan
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sementara itu Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) menggunakan keluarga sebagai satuan
penghitungan. Ada pula lembaga lain yang menghitung kemiskinan dengan
satuan desa, dengan indikator berupa sarana dan prasarana yang terdapat di
tiap-tiap desa, seperti yang dilakukan dalam program Inpres Desa Tertinggal
(IDT) dan Program Pemberdayaan Masyarakat dan Prasarana Desa (P2MPD).
Karena satuan hitungan dan tolok ukurnya berbeda, maka berbeda pula hasil
penghitungan akhir. Sehingga banyak pihak kemudian menjumpai data
kemiskinan yang berlainan untuk satuan wilayah yang sama.
Dalam SPKD ini data kemiskinan yang digunakan adalah data Bidang KB yang
dilengkapi dengan data pembanding yaitu data KBP yang difasilitasi oleh P2KP.
Jadi dalam hal ini digunakan konsep kemiskinan absolut, didampingi konsep
kemiskinan relatif. Keduanya menggunakan unit analisis yang sama, yaitu
keluarga.
Adapun pertimbangannya adalah: (i) sesuai dengan nilai-nilai sosial pada
masyarakat kabupaten Sleman, kemiskinan atau kekayaan seseorang selalu
dikaitkan dengan keluarga. (ii) program-program pembangunan masyarakat
selama ini juga banyak yang menggunakan keluarga sebagai satuan hitungan.
(iii) data Bidang KB merupakan data yang rinci, yang mencakup nama orang
per orang (by name) berikut lokasi tempat tinggalnya. Selain itu, data Bidang
KB tersedia merata di semua desa dengan pola yang konsisten. Konsistensi pola
dan ketersediaan data secara merata merupakan hal yang penting untuk dapat
digunakan sebagai acuan. (iv) data KBP yang dilaksanakan di 32 desa di Sleman
juga menggunakan data Bidang KB pada awal penentuan lokasinya.
1.3.2. Proses Penyusunan
Proses penyusunan SPKD ini tidak semata-mata hanya mementingkan output
yaitu berupa sebuah dokumen, melainkan juga sangat mempertimbangkan proses
partisipatif, yaitu melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di
Kabupaten Sleman. Hal ini dimaksudkan agar terdapat kepedulian dan rasa
7 SPKD Kabupaten Sleman
tanggung jawab bersama untuk melaksanakan kesepakatan dalam dokumen
ini.
Proses penyusunan SPKD ini dimulai dengan rangkaian lokakarya pertama
yang menitikberatkan pada penyamaan persepsi terhadap kemiskinan dan
menciptakan wahana untuk saling mengenal antar pelaku. Dalam rangkaian
lokakarya itu dilakukan diskusi kelompok terarah di dalam Komunitas Belajar
Perkotaan (City Learning Community; CLC) yang dimaksudkan untuk merefleksi
kemiskinan dan memahami aspirasi masyarakat miskin. Simultan dengan
kegiatan tersebut mulai dapat diidentifikasi sosok-sosok yang diharapkan dapat
bertindak sebagai motor penggerak program penanggulangan kemiskinan
selanjutnya. Pada akhir tahapan inilah orang - orang pemeduli sebagai penggerak
dipilih sebagai pengurus KPKD.
Selanjutnya dilakukan diskusi tematik melalui kelompok-kelompok berdasarkan
minat (interes) masing-masing pelaku dalam sebuah Kelompok Kerja (Pokja).
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengakomodasi kegiatan yang selama ini di-
tekuni oleh para pelaku agar dapat diakomodasikan dalam dokumen startegi
penanggulangan kemiskinan sehingga tercipta program dan kegiatan yang sin-
ergis.
Kebijakan dan Program yang tersusun dalam SPKD merupakan kompilasi hasil
diskusi tematik yang dilakukan oleh masing-masing kelompok kerja secara
partisipatif. Metaplan disepakati sebagai proses partisipatif untuk menggali
permasalahan mendasar, kebutuhan dan potensi yag dimiliki oleh masyarakat
setempat. Metaplan merupakan metoda yang berciri:
1.3.2.1. Menekankan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan.
1.3.2.2. Menekankan pendekatan program yang berorientasi pada dampak.
1.3.2.3. Memperhatikan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam meny-
etujui sebuah rencana.
1.3.2.4. Menekankan identitas anonim dan teknik visualisasi dalam sebuah
diskusi secara berkelompok.
1.4. Ruang Lingkup
Sampai saat ini Kabupaten Sleman belum memiliki data yang pasti dan bersifat
resmi mengenai jumlah penduduk miskin. Di samping data khusus menyangkut
kemiskinan, data yang disajikan dalam SPKD adalah data umum dari BPS
dan Bappeda Kabupaten Sleman yang diolah sesuai kebutuhan. Mengenai
aktualitasnya, semua data yang digunakan di sini adalah data terakhir yang
tersedia yakni pada tahun 2002 – 2004.
8 SPKD Kabupaten Sleman
Terkait adanya rencana Pemerintah Kabupaten Sleman untuk melakukan
pendataan keluarga miskin pada tahun 2005, hasilnya kelak juga akan digunakan
untuk menyempurnakan SPKD ini.
Kedudukan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) dalam tata
kebijakan pemerintah daerah diharapkan akan diserap dan diarus-utamakan
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) daerah dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah), dijabarkan dalam
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), dijadikan pedoman dalam
penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Pemerintah Daerah (Renstra SKPD),
serta dijalankan melalui Rencana Kerja pada tiap-tiap Satuan Kerja Pemerintah
Daerah (Renja – SKPD).
Undang-Undang nomor 25 Tahun 2004 menetapkan bahwa Rencana Jangka
Panjang Daerah (RPJP Daerah) harus mengacu pada RPJP Nasional, dan
memuat Visi, Misi, serta arah pembangunan daerah. Kemudian Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah merupakan penjabaran visi,
misi, dan program Kepala Daerah. RPJM Daerah berpedoman pada Rencana
Pembangunan jangka Panjang (RPJP) Daerah dan memperhatikan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional. Isi RPJM Daerah meliputi:
(i) Strategi Pembangunan Daerah; (ii) Kebijakan Umum; (iii) Arah Kebijakan
Keuangan Daerah; dan (iv) Program Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD),
program lintas SKPD, program kewilayahan, dan program lintas kewilayahan
yang memuat kegiatan dalam kerangka regulasi dan kerangka anggaran.
Diagram1.1. Kedudukan SPKD dalam tata kebijakan pemerintah Daerah.
ALUR PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DAERAH
�������
����
���
����
�����
����
�������
����
����
������
����
������
���
������
����� ����
����
Sumber: diolah dari UU 25/2004
9 SPKD Kabupaten Sleman
1.5. Sistematika
Dokumen SPKD ini disusun dalam tujuh bab yang terdiri:
Bab pertama mengetengahkan pendahuluan yang berisi penjelasan tentang
latar belakang pemikiran beserta tujuan disusunnya SPKD, metodologi yang
digunakan, posisi SPKD serta jangkauan dokumen ini.
Bab dua menyajikan gambaran geografi dan kependudukan Kabupaten Sleman
secara umum. Sajian ini dimaksudkan untuk meletakkan masalah kemiskinan
dalam konteks kependudukan secara luas.
Bab tiga berisi data tentang kemiskinan penduduk disertai informasi tentang hal-
hal yang berkaitan dengannya, termasuk analisis tentang penyebab kemiskinan.
Bab empat membahas kajian ulang terhadap kebijakan dan program
penanggulangan kemiskinan yang pernah ada di Kabupaten Sleman. Kajian ini
meliputi apakah program tersebut berdampak perluasan kesempatan, peningkatan
partisipasi, perlindungan sosial dan apa pembelajaran yang diperoleh. Disajikan
pula analisis lingkungan eksternal serta analisis lingkungan internal pada upaya
penanggulangan kemiskinan di Sleman.
Bab lima mengetengahkan strategi dan pendekatan yang hendak digunakan
dalam menanggulangi kemiskinan. Strategi ini disusun berdasar hasil kaji ulang
kebijakan dan program sebagaimana disajikan pada bab sebelumnya. Disajikan
pula perumusan kebijakan dan program yang diperlukan untuk penanggulangan
kemiskinan. Kebijakan dan program tersebut berasal dari masing-masing pelaku,
yang di koordinasikan dan dirumuskan bersama.
Selanjutnya bab enam berisi kegiatan pemantauan dan penilaian. Pemantauan
dilakukan oleh semua pelaku menggunakan metode dan sarana yang dimiliki
oleh masing-masing untuk kemudian dibahas melalui FGD dan MLP. Sedangkan
penilaian mencakup output, outcome dan impact.
Terakhir bab tujuh, yaitu penutup, berisi penekanan tentang pentingnya suatu
sinergi program dan kepatuhan untuk mengacu pada kesepakatan yang sudah
menjadi komitmen bersama.
10 SPKD Kabupaten Sleman
11 SPKD Kabupaten Sleman
BAB II
GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN
2.1. Geografi
Wilayah Kabupaten Sleman terbentang pada 107° 15’ 03’’ hingga 100° 29’ 30’’
Bujur Timur dan 7° 34’ 51’’ hingga 7° 47’ 03’’ Lintang Selatan, dengan ketinggian
100 – 2500 meter di atas permukaan laut. Jarak terjauh Utara – Selatan lebih-
kurang 32 km dan Timur – Barat lebih-kurang 35 km, dengan luas 574,82
km2 (= 57.482 ha). Secara administratif terdiri dari 17 kecamatan, 86 desa dan
1212 dusun. Bagian Utara berbatasan dengan Kabupaten Boyolali Propinsi
Jawa Tengah, bagian Timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Propinsi
Jawa Tengah, bagian Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Kota
Yogyakarta, Propinsi DIY dan bagian Barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon
Progo, Propinsi DIY dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Keadaan tanah di kabupaten Sleman di bagian selatan relatif datar kecuali di
sebagian wilayah kecamatan Prambanan dan kecamatan Gamping. Semakin ke
utara keadaan tanah relatif semakin miring dan menjadi terjal di sekitar Gunung
Merapi. Dapat dikatakan bahwa wilayah bagian Selatan merupakan dataran
rendah yang subur, sedang bagian utara umumnya merupakan tanah kering yang
berupa ladang dan pekarangan. Di lereng Selatan Gunung Merapi terdapat dua
buah bukit, yaitu Bukit Turgo dan Bukit Plawangan yang merupakan bagian dari
kawasan wisata Kaliurang. Beberapa sungai yang mengalir melalui Kabupaten
Sleman menuju Pantai Selatan antara lain Sungai Progo, Krasak, Sempor, Nyoho,
Kuning dan Boyong.
Ketinggian wilayah dapat dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu: (a)
wilayah dengan ketinggian kurang dari 100 meter seluas 6.203 ha (10,79%);
(b) wilayah dengan ketinggian 100 – 499 meter seluas 43.246 ha (75,32%); (c)
wilayah dengan ketinggian 500 – 999 meter seluas 6.538 ha (11,38%); dan (d)
wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter seluas 1.495 ha (2,60%). Jadi,
sebagian terbesar wilayah Kabupaten Sleman berada pada ketinggian 100 – 500
meter di atas permukaan laut.
Kondisi iklim di sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman termasuk tropis
basah, dengan curah hujan rata-rata 2.206,6 mm/tahun, sedang jumlah hari
hujan pada tahun 2003 rata-rata 83 hari.
Dari segi tata guna tanah, hampir separo dari luas wilayah adalah tanah
pertanian yang subur dengan irigasi teknis di bagian barat dan selatan. Proporsi
12 SPKD Kabupaten Sleman
penggunaan lahan pada tahun 2003 meliputi: sawah (23.361 ha), tegalan (6.440
ha), pekarangan (18.832 ha), dan lain-lain (8.849 ha).
2.2. Kependudukan
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Pusat Statistik bersama Bappeda
Kabupaten Sleman menyebutkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Sleman
pada pertengahan tahun 2004 berjumlah 889.639 jiwa, terdiri atas 440.466
laki-laki dan 449.173 perempuan. Rasio jenis kelamin (sex ratio) adalah 98,06,
yakni untuk setiap 100 orang perempuan terdapat penduduk laki-laki sebanyak
98 orang. Penyebarannya bervariasi antar kecamatan, dengan jumlah terbesar
di kecamatan Depok sebanyak 115.930 (13,03%), diikuti kecamatan Gamping,
Mlati, dan Ngaglik. Sedang kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil adalah
Cangkringan, yakni 27.310 jiwa.
Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Sleman pada pertengahan tahun 2003
adalah 1.547 jiwa per km2. Kecamatan-kecamatan yang kepadatannya di atas
rata-rata meliputi Depok (3.261 jiwa/km2), Mlati (2.485 jiwa/km2), dan Gam-
ping (2.426 jiwa/km2). Sedang kecamatan-kecamatan yang kepadatannya ren-
dah meliputi Cangkringan (569 jiwa/km2), Pakem (731 jiwa/km2), dan Turi (787
jiwa/km2). Data rinci mengenai hal tersebut dapat diperiksa pada tabel 2.1.
13 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 2.1 Luas Wilayah, Banyaknya Penduduk, Kepadatan Penduduk, dan Rasio Jenis Kelamin di
Kabupaten Sleman, Pertengahan Tahun 2004
No Kecamatan Luas km2
Jumlah
Penduduk
Kepadatan per
km2
Sex ratio
1 Moyudan 27,62 34.277 1.241 95,87
2 Minggir 27,27 35.081 1.286 94,57
3 Seyegan 26,63 43.020 1.615 95,10
4 Godean 26,84 59.617 2.221 98,90
5 Gamping 29,25 70.970 2.426 99,39
6 Mlati 28,52 70.885 2.485 101,09
7 Depok 35,55 115.930 3.261 107,37
8 Berbah 22,99 41.778 1.817 95,12
9 Prambanan 41,35 45.008 1.088 91,49
10 Kalasan 35,84 56.360 1.572 94,41
11 Ngemplak 35,71 47.036 1.317 95,36
12 Ngaglik 38,52 70.687 1.835 97,78
13 Sleman 31,32 58.049 1.853 98,09
14 Tempel 32,49 47.643 1.466 98,03
15 Turi 43,09 33.925 787 97,07
16 Pakem 43,84 32.053 731 94,84
17 Cangkringan 47,99 27.310 569 93,54
Kabupaten 574,82 889.629 1.547 98,06
Sumber: BPS & Bappeda Kabupaten Sleman, Penduduk Kabupaten Sleman, Hasil Registrasi Penduduk
Pertengahan Tahun 2004. Sleman, BPS Kabupaten Sleman, 2004, hlm.7
Seluruh penduduk Kabupaten Sleman yang pada pertengahan tahun 2004
berjumlah 889.629 jiwa, berhimpun dalam keluarga (rumah tangga) yang
jumlahnya 232.519. Dengan demikian rata-rata jiwa per rumah tangga adalah
3,83, yang artinya setiap rumah tangga dihuni 4 orang. Data rinci mengenai hal
tersebut dapat diperiksa pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Banyaknya Rumahtangga, Penduduk, dan Rata-rata Jiwa per Rumah tangga Menurut
Kecamatan di Kabupaten Sleman, Pertengahan Tahun 2004
No Kecamatan Rumah tangga Penduduk
Rerata Jiwa
per Rumah tangga
1 Moyudan 8.590 34.277 3,99
2 Minggir 7.799 35.081 4,50
3 Seyegan 11.257 43.020 3,82
4 Godean 15.584 59.617 3,83
5 Gamping 14.006 70.970 5,07
6 Mlati 22.859 70.885 3,10
7 Depok 30.028 115.930 3,86
14 SPKD Kabupaten Sleman
8 Berbah 10.744 41.778 3,89
9 Prambanan 12.572 45.008 3,58
10 Kalasan 16.307 56.360 3,46
11 Ngemplak 11.303 47.036 4,16
12 Ngaglik 18.877 70.687 3,74
13 Sleman 15.367 58.049 3,78
14 Tempel 12.913 47.643 3,69
15 Turi 8.144 33.925 4,17
16 Pakem 8.516 32.053 3,76
17 Cangkringan 7.653 27.310 3,57
Kabupaten 232.519 889.629 3,83
Sumber: BPS & Bappeda Kabupaten Sleman, Penduduk Kabupaten Sleman, Hasil Registrasi Penduduk Per-
tengahan Tahun 2004. Sleman, BPS Kabupaten Sleman, 2004, hlm.19
Jumlah penduduk di Kabupaten Sleman dari tahun ke tahun cenderung
meningkat, seperti terlihat pada tabel 2.3. Kondisi demikian dapat menambah
kesulitan upaya penanggulangan kemiskinan karena: (a) Pertambahan penduduk
dengan sendirinya mengubah jumlah absolut maupun komposisi penduduk
sehingga menambah ketidakpastian jumlah sasaran program penanggulangan
kemiskinan. (b) Pertambahan yang drastis berpotensi menimbulkan penilaian
bahwa dari waktu ke waktu tidak ada perubahan yang signifikan atas hasil
penanggulangan kemiskinan. (c) Apabila pertambahan penduduk karena migrasi
didominasi oleh mereka yang berkategori miskin, maka dengan sendirinya angka
kemiskinan menjadi semakin bertambah dari waktu ke waktu.
Tabel 2.3 Banyaknya Kelahiran, Kematian, dan Perpindahan Penduduk Kabupaten Sleman, Keadaan
Pertengahan Tahun 2004
No Kecamatan Lahir Mati Datang Pergi Selisih
1 Moyudan 188 108 115 61 134
2 Minggir 168 103 99 73 91
3 Seyegan 203 88 122 78 159
4 Godean 311 147 340 207 297
5 Gamping 387 144 529 237 535
6 Mlati 435 127 542 368 482
7 Depok 567 279 1,276 743 821
8 Berbah 215 78 169 88 218
9 Prambanan 196 76 140 81 179
10 Kalasan 284 129 170 152 173
11 Ngemplak 256 97 320 104 375
12 Ngaglik 353 147 778 347 637
13 Sleman 461 164 292 192 397
14 Tempel 329 217 417 637 (108)
15 SPKD Kabupaten Sleman
15 Turi 253 85 63 48 183
16 Pakem 187 104 184 82 185
17 Cangkringan 159 70 85 35 139
Kabupaten 4,952 2,163 5,641 3,533 4,897
Sumber: Diolah dari BPS & Bappeda Kabupaten Sleman, Penduduk Kabupaten Sleman, Hasil Registrasi
Penduduk Pertengahan Tahun 2004. Sleman, BPS Kabupaten Sleman, 2004
Tabel di atas menunjukkan bahwa keadaan pada pertengahan tahun 2004 hanya
satu dari 17 kecamatan yang tidak mengalami pertambahan penduduk, yaitu
kecamatan Tempel. Di kecamatan Tempel justru terjadi pengurangan sebanyak
108 orang. Sementara itu kecamatan yang mengalami pertambahan terbanyak
adalah kecamatan Depok bertambah sebesar 821 orang, disusul kecamatan
Ngaglik dan Gamping, masing-masing dengan pertambahan 637 dan 535
orang.
Di samping daya dukung lingkungan tempat tinggal, struktur umur penduduk
juga berperan memberi corak pada pola kehidupan penduduk. Struktur umur
membagi penduduk menjadi dua kelompok besar, yaitu usia produktif dan
usia tidak produktif. Dengan membandingkan kedua kelompok tersebut dapat
diperoleh rasio ketergantungan (dependency ratio). Rasio ini menjelaskan
besarnya tanggungan yang menjadi beban bagi penduduk usia produktif.
Kelompok yang menjadi tanggungan (tertanggung) dapat dipilah dalam dua
sub-kelompok, yaitu penduduk usia muda (0 – 14 tahun) dan penduduk usia
lanjut (65 tahun ke atas). Dengan demikian didapat rasio ketergantungan anak
(child dependency ratio) dan rasio ketergantungan lanjut usia (old dependency
ratio).
Rasio ketergantungan anak di kabupaten Sleman pada tahun 2003 sebesar 29.
Artinya, setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung beban 29 orang
anak berusia 0 – 14 tahun. Sedang rasio ketergantungan lanjut usia adalah 11.
Dengan demikian total rasio ketergantungan di Kabupaten Sleman adalah 40,
yang berarti bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung
beban 40 orang usia tidak produktif.
2.3. Indikator Kesejahteraan Rakyat
Gambaran tentang kesejahteraan rakyat dapat dipahami dari dua arah yang
berkebalikan, yaitu satu sisi gambaran kesejahteraan menunjukkan tingkat
kemajuan kehidupan rakyat dan di sisi lain dapat dilihat tingkat ketertinggalan
dari mereka yang tersisa, yaitu yang belum sejahtera, yang secara sederhana bisa
disebut dalam kondisi miskin. Makna kesejahteraan mengandung dua sisi, yakni
lahiriah dan spiritual, demikian pula dengan makna kemiskinan.
16 SPKD Kabupaten Sleman
Dengan pemahaman seperti di atas dapat dikatakan bahwa indikator
kesejahteraan rakyat dapat menjadi petunjuk awal untuk mengetahui kemajuan
upaya penanggulangan kemiskinan. Caranya ialah dengan membandingkan
kondisi kesejahteraan rakyat antara tahun lalu dengan tahun ini, dan antara
tahun ini dengan tahun mendatang, dan seterusnya. Beberapa contoh indikator
misalnya: apakah angka kesakitan naik atau turun; apakah prosentase penduduk
yang berpendidikan tertinggi SLTP berkurang; apakah jumlah penganggur
berkurang; apakah kondisi permukiman penduduk semakin baik; serta apakah
fasilitas umum semakin banyak dan merata.
Dengan demikian komponen-komponen yang perlu diperhatikan meliputi:
kependudukan secara umum, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, serta
perumahan dan lingkungan. Komponen kependudukan secara umum telah
dikupas relatif mendetail pada bagian sebelumnya, Pada bagian berikut akan
dibahas empat komponen lainnya.
2.3. 1. Kesehatan
Kesehatan adalah hak setiap orang dan merupakan aset yang amat penting
bagi masa depan bangsa. Salah satu cara untuk mengukur status kesehatan
masyarakat adalah mencermati angka kesakitan. Data Inkesra Kabupaten
Sleman tahun 2003 menunjukkan angka kesakitan yang relatif tinggi yang antara
lain disebabkan oleh pilek dan batuk dengan angka kesakitan masing-masing
155 dan 154, yang artinya dalam setiap 1000 penduduk terdapat 155 orang yang
mengeluh sakit pilek dan sebanyak 154 orang sakit batuk. Keluhan sakit lainnya
yang relatif besar adalah panas dan sakit kepala yang berulang-ulang dengan
angka kesakitan masing-masing 100 dan 43. Angka-angka tersebut menunjukkan
bahwa gangguan kesehatan yang sering dialami penduduk adalah penyakit
yang bersifat musiman. Umumnya penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh
perubahan cuaca serta kondisi lingkungan yang kurang sehat.
Fasilitas kesehatan yang tersedia di Kabupaten Sleman meliputi: Rumah
Sakit (23 unit), Puskesma (24 unit), Puskesmas Pembantu (72 unit), serta
Posyandu sebanyak 1.344 yang tersebar di 17 kecamatan sampai dengan tahun
2003. Sekalipun telah tersedia fasilitas, masih banyak penduduk yang tidak
memanfaatkan, seperti terlihat pada tabel 2.4.
Tabel 2.4. Jenis Pengobatan yang dilakukan Penduduk Di Kabupaten Sleman, tahun 2003
Metode Pengobatan Jumlah
Diobati Sendiri 185.649
Berobat Jalan 125.192
Sumber: Inkesra Kabupaten Sleman 2003
17 SPKD Kabupaten Sleman
2.3. 2. Pendidikan
Salah satu cara mengukur kualitas sumber daya manusia ialah dengan
mengamati jenjang pendidikan yang telah diselesaikan oleh penduduk berumur
10 tahun ke atas. Semakin besar proporsi penduduk yang dapat menamatkan
pendidikan menengah dan tinggi secara teoritis semakin baik kualitas sumber
daya manusianya.
Data dari BPS Kabupaten Sleman menyebutkan bahwa sampai dengan tahun 2003
sebagian besar penduduk Kabupaten Sleman (51,85%) menamatkan pendidikan
tertingginya setingkat SMP. Selanjutnya sebanyak 36,82% menamatkan SMA dan
SMK, dan selebihnya 11,34% penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi
dengan berbagai strata, mulai dari Diploma I hingga S-3. Data lengkapnya dapat
diperiksa pada tabel 2.5.
Tabel 2.5. Pendidikan yang Ditamatkan Penduduk Berusia 10 Tahun Keatas Tahun 2003
No Pendidikan Tertinggi
yang Ditamatkan
Laki-laki Perempuan Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Tdk / belum pernah
sekolah
27.032 3,61 40.344 5,39 67.376 9,01
2 Tidak / belum tamat SD 17.875 2,39 16.741 2,24 34.616 4,63
3 SD / MI 73.441 9,82 73.431 9,82 146.872 19,64
4 SLTP 71.141 9,51 67.716 9,05 138.857 18,57
5 SMU / MA / sederajat 104.955 14,03 81.013 10,83 185.968 24,86
6 S M Kejuruan 48.694 6,51 40.720 5,44 89.414 11,96
7 Diploma I / II 2.284 0,31 9.894 1,32 12.178 1,63
8 Diploma III / Sarjana Muda 10.645 1,42 6.842 0,19 17.487 2,34
9 D IV / S1 / S2 / S3 33.846 4,53 21.297 2,85 55.143 7,37
Jumlah 389.913 52,13 357.998 47,87 747.911 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Sleman 2003
2.3. 3. Ketenagakerjaan
Di Kabupaten Sleman terdapat 808.015 penduduk usia kerja pada tahun 2003.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 486.995 merupakan angkatan kerja, yaitu
mereka yang siap masuk atau telah berkecimpung dalam kerja ditandai dengan
aktivitas mencari pekerjaan. Dengan kata lain, terdapat 321.020 penduduk yang
termasuk usia kerja namun bukan merupakan angkatan kerja, karena masih
sekolah, karena mengurus rumahtangga, atau karena hal-hal lainnya. Tabel 2.6.
menunjukkan rincian data tersebut.
18 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 2.6. Status Ketenagakerjaan Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003
Status Ketenagakerjaan
Laki-laki Perempuan Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Angkatan Kerja 266.691 33,01 220.304 27,26 486.995 60,27
a. Bekerja 245.394 30,37 189.096 23,40 434.490 53,77
b. Mencari Pekerjaan 21.297 2,64 31.208 3,86 52.505 6,50
Bukan Angkatan Kerja 139.579 17,27 181.441 22,46 321.020 39,73
a. Sekolah 110.287 13,65 87.098 10,78 197.385 24,43
b. Mengurus Rumah
Tangga
7.611 0,94 81.030 10,03 88.641 10,97
c. Lainnya 21.681 2,68 13.313 1,65 34.994 4,33
Total Usia Kerja 406.270 50,28 401.745 49,72 808.015 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Selman 2003
Selanjutnya, dari sejumlah 434.4990 penduduk yang bekerja sebagian besar
bekerja dalam bidang pertanian (28,99%), jasa (22,77%), dan perdagangan
(22,00%). Selebihnya tersebar dalam berbagai bidang seperti terlihat pada tabel
2.7.
Tabel 2.7. Bidang Pekerjaan Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003
No Bidang Pekerjaan
Laki-laki Perempuan Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Pertanian 70.408 16,20 55.568 12,79 125.976 28,99
2 Pertambangan &
Penggalian
5.335 1,23 3.052 0,70 8.387 1,93
3 Industri 27.773 6,39 23.583 5,43 51.356 11,82
4 Listrik, Gas, dan Air 761 0,18 380 0,09 1.141 0,20
5 Bangunan 18.641 4,29 380 0,09 19.021 4,38
6 Perdagangan 39.179 9,02 56.676 13,04 95.855 22,00
7 Angkutan dan Komunikasi 15.588 3,59 760 0,17 16.348 3,76
8 Keuangan 11.027 2,54 6.087 1,40 17.114 3,94
9 Jasa-jasa 56.302 12,96 42.610 9,81 98.912 22,77
10 Lainnya 380 0,09 - - 380 0,09
Jumlah 245.39 56,48 189.09 43,52 434.490 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Selman 2003
Dari jumlah 434.490 penduduk yang bekerja, apabila dirinci menurut jenis
pekerjaan utamanya dapat diketahui bahwa sebagian terbesar (82,50%) bekerja
sebagai tenaga (bukan menejer) dalam empat bidang pekerjaan, yaitu: tenaga
usaha pertanian (termasuk perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perburuan)
sebesar 28,56%, tenaga produksi, operator dan tenaga kasar lainnya sebesar
19 SPKD Kabupaten Sleman
23,02%, tenaga usaha penjualan sebesar 20,84%, serta tenaga usaha jasa sebesar
10,07%. Hanya sebesar 16,73% penduduk yang bekerja sebagai ahli dan tenaga
profesional (9,02%), tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan (1,23%), dan
pejabat pelaksana dan tenaga tata usaha (6,48%). Rincian mengenai hal tersebut
dapat diperiksa pada tabel 2.8.
Tabel 2.8. Pekerjaan Utama Penduduk Kabupaten Sleman Tahun 2003
No Pekerjaan Utama
Laki-laki Perempuan Total
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Ahli & Tenaga Profesional 22.059 5,08 17.121 3,94 39.180 9,02
2
Tenaga Kepemimpinan dan
ketatalaksanaan
4.945 1,14 380 0,09 5.325 1,23
3
Pejabat Pelakasana dan Tata
Usaha
20.929 4,82 7.231 1,66 28.160 6,48
4 Tenaga Usaha Penjualan 34.235 7,88 56.294 12,9 90.529 20,84
5 Tenaga Usaha Jasa 20.535 4,73 23.199 5,34 43.734 10,07
6
Tenaga Usaha Pertanian
(juga perkebunan,
peternakan, kehutanan, &
perburuan)
69.268 15,9 54.808 12,6 124.076 28,56
7
Tenaga Produksi, operator
dan tenaga kasar lainnya
70.002 16,1 30.063 6,92 100.065 23,03
8 Lainnya 3.421 0,79 - - 3.421 0,79
Jumlah 245.394 56,4 189.096 43,5 434.490 100
Sumber: Inkesra Kabupaten Sleman 2003
2.3.4. Perumahan dan Lingkungan
Data dari BPS Kabupaten Sleman menyatakan bahwa dilihat dari luas bangunan,
pada tahun 2003 sebagian (22,80%) rumah penduduk luasnya kurang dari 20
m2. Dilihat dari segi lain, hampir semua (91,96%) rumah berdinding tembok,
hanya 4,40% rumah berdinding bambu dan 3,38% berdinding kayu.
Terkait dengan ketersediaan air bersih, sebagian besar (59,64%) rumah tangga di
Kabupaten Sleman memanfaatkan sumur terlindung sebagai sumber air minum.
Selanjutnya sebesar 15,45% menggunakan sumur pompa, 9,97% menggunakan
ledeng, dan 9,90% menggunakan sumur tak terlindung.
Sarana untuk tempat buang air besar, sebagian besar (66,27%) rumah tangga
di Kabupaten Sleman menggunakan WC dengan tempat pembuangan berupa
tangki. Sebesar 8,52% rumahtangga membuat tempat buang air besar dengan
menggali lubang di tanah, sementara 4,27% memanfaatkan kolam/sawah. Sisanya
sebesar 20,69% rumahtangga masih memanfaatkan sungai sebagai tempat buang
air besar.
20 SPKD Kabupaten Sleman



2.3. 5. Fasilitas Sosial
Adapun fasilitas sosial yang tersedia adalah sebagai berikut:
Tabel 2.9. Jumlah Fasilitas Sosial di Kabupaten Sleman
No Nama Fasilitas Jumlah
1 Tempat Penitipan Anak 10
2 Panti Asuhan Anak 20
3 Panti Sosial Bina Remaja 1
4 Panti Sosial Trens Werdha 1
5 Panti Sosial Bina Netra 1
6 Panti Sosial Bina Daksa 2
7 Panti Sosial Bina Grahita 4
8 Panti Sosial Bina Rungu Wicara 3
9 Panti Sosial Karya Wanita 1
Sumber: Disnakertrans Kabupaten Sleman 2003
11 !|K0 Ka|apatea !|emaa
8k8 |||
K0N0|!| 0kN ||N\|8k8 K|M|!K|NkN
1.1. 0ata Ke|aarqa M|sk|a
Jumlah keluarga miskin di Kabupaten Sleman pada tahun 2004 sebanyak 33.873
atau sebesar 23,68° dari total 226.230 kepala keluarga (KK). Jika dilihat dari
prosentase di masing-masing kecamatan, tingkat kemiskinan tertinggi ada di
Kecamatan Prambanan, disusul kecamatan Sleman dan kecamatan Tempel.
Sedang prosentase keluarga miskin terkecil adalah Kecamatan Depok, disusul
Kecamatan Gamping dan Kecamatan Ngaglik. Data selengkapnya dapat diperiksa
pada Tabel 3.1.
!a|e| 1.1. Ke|aarqa Mls|la per Kecamataa 0l Ka|apatea !|emaa !a|aa ìêê1 (Urat |rcseatase)
No kecamatan 1umIah kk kk Miskin %
l Prambanan l2.538 4,900 39.08
2 Sleman l3.953 5,294 37.94
3 Tempel l6.673 6,078 36.45
4 Seyegan 8.085 2,862 35.40
5 Cangkrlngan l2.l62 4,270 35.ll
6 Mlatl 8.775 2,584 29.45
7 Mlngglr l9.l43 4,709 24.60
8 8erbah ll.526 2,8l4 24.4l
9 Ngemplak l3.239 2,98l 22.52
l0 Turl 8.787 l,798 20.46
ll Moyudan 9.l82 l,669 l8.l8
l2 Pakem l5.797 2,598 l6.45
l3 Kalasan 9.335 l,509 l6.l6
l4 Godean l5.482 2,399 l5.50
l5 Ngagllk l7.502 2,404 l3.74
l6 Gamplng l9.222 2,49l l2.96
l7 Depok 2l.503 2,5l5 ll.70
7otaI 226.230 53,875 23,68
Sumber : 8ldang K8 Kabupaten Sleman (dlolah)
Untuk lebih dekat dengan realita dan agar upaya penanggulangan kemiskinan
menjadi lebih tepat sasaran maka data kemiskinan di atas perlu dilihat lebih
mendalam yaitu per desa. Hal itu disajikan pada tabel 3.2. Dengan cara demikian
bisa diketahui desa mana yang paling miskin. Data ini sekaligus merupakan
No Kecamatan Jumlah KK KK Miskin %
1 Prambanan 12.538 4.900 39,08
2 Tempel 13.953 5.294 37,94
3 Sleman 16.673 6.078 36,45
4 Cangkringan 8,085 2.862 35,40
5 Seyegan 12.162 4.270 35,11
6 Minggir 8.775 2.584 29,45
7 Mlati 19.143 4.709 24,60
8 Berbah 11.526 2.814 24,41
9 Ngemplak 13.239 2.981 22,52
10 Turi 8.787 1.798 20,46
11 Moyudan 9.182 1.669 18,18
12 Godean 15.797 2.598 16,45
13 Pakem 9.335 1.509 16,16
14 Kalasan 15.482 2.399 15,50
15 Ngaglik 17.502 2.404 13,74
16 Gamping 19.222 2.491 12,96
17 Depok 21.503 2.515 11,70
Total 232.904 53.875 23,13
22 SPKD Kabupaten Sleman
jawaban atas pertanyaan di mana letak kantung-kantung kemiskinan di
Kabupaten Sleman.
Dengan dicermatinya data per desa selanjutnya dapat ditelusuri karakteristik
desa tersebut berikut keadaan penduduknya. Dari kajian itu kemudian dapat
dirumuskan strategi penanggulangan kemiskinan yang sesuai dengan penduduk
desa yang bersangkutan.
Tabel 3.2. Keluarga Miskin per Desa per Kecamatan Di Kabupaten Sleman Tahun 2004
No
Kecamatan
Desa
Jumlah KK KK Miskin %
1 Prambanan 12.538 4,900 39.08
Wukirharjo 765 426 55.69
Sambirejo 1,480 696 47.03
Gayamharjo 1,260 524 41.59
Sumberharjo 3,486 1,430 41.02
Bokoharjo 2,560 883 34.49
Madurejo 2,987 941 31.50
2 Tempel 13.953 5,294 37.94
Sumberrejo 1,286 720 55.99
Mororejo 1,395 608 43.58
Pondokrejo 1,592 685 43.03
Banyurejo 2,175 890 40.92
Merdikorejo 1,732 686 39.61
Lumbungrejo 1,767 605 34.24
Tambakrejo 1,391 399 28.68
Margorejo 2,615 701 26.81
3 Sleman 16.673 6,078 36.45
Caturharjo 3,878 1,706 43.99
Trimulyo 2,455 907 36.95
Tridadi 3,338 1,218 36.49
Triharjo 4,244 1,392 32.80
Pandowoharjo 2,758 855 31.00
4 Cangkringan 8.085 2,862 35.40
Glagaharjo 1,052 547 52.00
Wukirsari 2,841 1,064 37.45
Umbulharjo 1,164 384 32.99
Kepuharjo 873 276 31.62
Argomulyo 2,155 591 27.42
23 SPKD Kabupaten Sleman
5 Seyegan 12.162 4,270 35.11
Margomulyo 3,084 1,547 50.16
Margoagung 2,532 1,084 42.81
Margodadi 2,264 652 28.80
Margokaton 1,936 477 24.64
Margoluwih 2,346 510 21.74
6 Minggir 8.775 2,584 29.45
Sendangagung 2,164 860 39.74
Sendangsari 1,395 549 39.35
Sendangrejo 2,288 588 25.70
Sendangarum 1,050 217 20.67
Sendangmulyo 1,878 370 19.70
7 Mlati 19.143 4,709 24.60
Tirtoadi 2,354 699 29.69
Sendangadi 3,603 1,068 29.64
Sumberadi 3,541 1,239 34.99
Tlogoadi 3,073 774 25.19
Sinduadi 6,572 929 14.14
8 Berbah 11.526 2,814 24.41
KalItirto 2,941 763 25.94
Tegaltirto 2,609 666 25.53
Sendangtirto 3,628 870 23.98
Jogotirto 2,348 515 21.93
9 Ngemplak 13.239 2,981 22.52
Widodomartani 2,034 639 31.42
Bimomartani 1,743 544 31.21
Sindumartani 1,972 492 24.95
Umbulmartani 2,016 479 23.76
Wedomartani 5,474 827 15.11
10 Turi 8.787 1,798 20.46
Girikerto 2,076 544 26.20
Donokerto 2,155 538 24.97
Wonokerto 2,405 488 20.29
Bangunkerto 2,151 228 10.60
11 Moyudan 9.182 1,669 18.18
Sumberarum 1,991 420 21.09
Sumbersari 2,232 403 18.06
Sumberahayu 1,853 331 17.86
Sumberagung 3,106 515 16.58
24 SPKD Kabupaten Sleman
12 Godean 15.797 2,598 16.45
Sidomulyo 1,607 421 26.20
Sidomoyo 1,987 406 20.43
Sidoagung 2,131 392 18.40
Sidokarto 2,477 399 16.11
Sidorejo 1,839 284 15.44
Sidoluhur 2,597 329 12.67
Sidoarum 3,159 367 11.62
13 Pakem 9.335 1,509 16.16
Harjobinangun 1,448 369 25.48
Candibinangun 1,568 306 19.52
Purwobinangun 2,404 420 17.47
Pakembinangun 1,571 235 14.96
Hargobinangun 2,344 179 7.64
14 Kalasan 15.482 2,399 15.50
Selomartani 2,788 811 29.09
Tamanmartani 3,375 624 18.49
Tirtomartani 3,541 391 11.04
Purwomartani 5,778 573 9.92
15 Ngaglik 17.502 2,404 13.74
Sukoharjo 2,673 529 19.79
Donoharjo 1,987 373 18.77
Sardonoharjo 3,448 573 16.62
Sariharjo 3,545 390 11.00
Sinduharjo 3,232 333 10.30
Minomartani 2,617 206 7.87
16 Gamping 19.222 2,491 12.96
Nogotirto 3,478 493 14.17
Banyuraden 3,317 455 13.72
Trihanggo 3,388 450 13.28
Ambarketawang 4,594 585 12.73
Balecatur 4,445 508 11.43
17 Depok 21.503 2,515 11.70
Maguwoharjo 6,016 899 14.94
Condongcatur 7,223 896 12.40
Caturtunggal 8,264 720 8.71
Kabupaten Sleman 232.904 53,875 23.13
Telah disebutkan di depan bahwa konsep kemiskinan yang digunakan dalam
menyusun SPKD ini adalah konsep kemiskinan absolut, yaitu menggunakan
data dari Bidang KB. Sebagai pembanding telah dikaji pula data dari KBP yang
25 SPKD Kabupaten Sleman
difasilitasi P2KP. Konsep kemiskinan yang digunakan KBP adalah konsep
kemiskinan subyektif dan hanya tersedia di 32 desa.
Untuk kepentingan uji petik, pembandingan data keluarga miskin dilakukan di
13 desa pada 13 kecamatan yang telah melaksanakan KBP. Beberapa hal yang
dapat dicatat dari pemeriksaan silang tersebut adalah : pertama, terdapat selisih
yang mencolok di antara kedua sumber data. Selisihnya ada yang lebih besar
pada data Bidang KB ada pula yang lebih besar pada data KBP. Kedua, terdapat
perbedaan penggunaan satuan wilayah. Bidang KB menggunakan satuan wilayah
dusun, sedang KBP satuan wilayahnya tidak konsisten. Ada data KBP yang
berdasar dusun, pedukuhan, ada pula yang per RT. Ketiga, terdapat perbedaan
dalam penyebutan nama dusun atau dukuh sehingga satuannya semakin sulit
disejajarkan. Keempat, baik data Bidang KB maupun data KBP masing-masing
terdapat ketidak-lengkapan sehingga tidak bisa diperiksa silang.
Catatan tambahan yang sangat penting terkait dengan pemeriksaan secara silang
terhadap kedua data adalah bahwa Bidang KB dan KBP menggunakan dasar
yang berbeda ketika menentukan jumlah keluarga. Bidang KB menggunakan
data perkawinan, yaitu setiap pasangan yang telah menikah dihitung sebagai
satu keluarga. Sementara itu KBP mendasarkan diri pada kartu keluarga (kartu
C-1) sehingga sangat mungkin dalam satu keluarga (kartu C-1) terdapat lebih
dari satu pasang suami-istri dan anak-anaknya.
3.2. Kondisi Kemiskinan
Di atas telah dipaparkan jumlah dan sebaran keluarga miskin di Kabupaten
Sleman. Pada bagian ini akan diuraikan gambaran kondisi keluarga miskin
tersebut. Gambaran ini belum mencakup seluruh desa yang berjumlah 86
melainkan baru dari 32 desa dari hasil analisis yang dilakukan oleh Komunitas
Balajar Perkotaan (KBP) yang difasilitasi P2KP. Sekalipun demikian, karena
sebaran ke-32 desa tersebut merata di hampir semua kecamatan maka diharapkan
dapat merepresentasikan seluruh wilayah di Kabupaten Sleman.
Gambaran kondisi kemiskinan tersebut berisi dua aspek, yaitu ciri-ciri atau
indikator kemiskinan dan penyebab kemiskinan. Ciri-ciri atau indikasi
kemiskinan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri melainkan harus dilihat secara
kumulatif.
3.2.1. Indikator Kemiskinan
Indikator kemiskinan dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu dimensi ekonomi,
sosial, dan fisik. Masing-masing dimensi terdiri atas beberapa aspek. Dari tiap-
tiap aspek tersebut terdapat indikator kemiskinan, seperti terlihat pada dafar
tabel 3.3. berikut ini.
26 SPKD Kabupaten Sleman
Table 3.3. Daftar Indikator Kemiskinan
No Dimensi Aspek Indikator
1 Ekonomi
Pekerjaan
Penganggur
Buruh serabutan / tidak tetap (buruh tani, buruh
bangunan)
Buruh Gendong
Tukang becak
Kernet
Tukang cuci
Tukang sampah
Pembantu Rumah Tangga
Penjaga / pelayan Toko
Pemulung
Petani Penggarap
Petani Gurem
Pedagang kecil-kecilan
Pedagang asongan
Pensiunan Golongan I
Pegawai honorer
Penghasilan Kurang dari Rp. 500.000,- per bulan
Tanggungan Lebih dari 4 (empat) orang
Pendidikan
Pendidikan tertinggi Kepala Keluarga SLTP
Tidak ada anggota KK yang tamat SLTA
Kompetensi
Kurang / Tidak memiliki ketrampilan kerja
Tidak memiliki jiwa kewirausahaan
Modal
Tidak memiliki modal
Modal sangat kecil
Akses
Tidak bisa memperoleh informasi yang dibutuhkan
Tidak mampu berurusan dengan birokrasi
Tidak ada tempat untuk ”mengadu”/ berbagi
27 SPKD Kabupaten Sleman
2 Sosial
Kesehatan
Jompo
Sakit menahun
Cacat
Tidak bisa dan tidak mampu memanfaatkan layanan
kesehatan modern
Pola makan tidak menentu
Kurang gizi
Tempat tinggal tidak higienis
Lingkungan tidak higienis
Sikap hidup
Mudah putus asa (dalam mengahadapi masalah)
Mudah menyerah / Tidak ulet
Boros
Suka jaga gengsi
Rendah diri / mider
Lingkungan
Tradisi ”nyumbang”
Banyak penjudi
3 Fisik
Rumah
Kontrak
Ngindung
Milik sendiri: tidak higienis
Milik sendiri: terbuat dari gedhek sederhana
Milik sendiri: kualitas buruk
Pakaian
Beli baru sekali setahun
Beli bekas
Tidak punya ganti untuk berbeda-beda kepentingan
Sumber : FGD Kelompok Belajar Perkotaan-P2KP
Gambaran lain tentang kondisi keluarga miskin di Kabupaten Sleman dapat
dilihat dari pekerjaan kepala keluarga seperti terlihat pada dafar pada halaman
berikut. Dafar tersebut memperlihatkan bahwa:
3.2.1.1. Pada tingkat kabupaten, yang terbanyak adalah bekerja sebagai buruh
(11.172), disusul pedagang (1.501), dan terkecil adalah petani (850).
Jumlah terbesar kedua sebenarnya adalah ”lain-lain” (11.058). Namun
belum diketahui secara pasti apakah ”lain-lain” itu berarti penganggur
atau setengah penganggur atau pekerja lain.
3.2.1.2. Pada masing-masing desa, jumlah terbesar adalah bekerja sebagai
buruh.
3.2.1.3. Terdapat 6 desa dimana KK miskinnya tidak satu pun bekerja di bidang
pertanian. Selanjutnya yang KK miskinnya bekerja di bidang pertanian
namun jumlahnya kurang dari 10 ada di 7 desa. Namun yang mencapai
angka di atas 50 juga hanya 4 desa.
28 SPKD Kabupaten Sleman
3.2.1.4 Gambaran di atas merupakan gambaran khas daerah perkotaan.
Tabel 3.4. Pekerjaan Kepala Keluarga Miskin di 32 Desa
NO DESA
PEKERJAAN
Lain-lain Pedagang Buruh Petani Pensiunan PNS
1 CATURHARJO 330 10 139 0 0 0
2 DONOKERTO 380 22 192 34 0 0
3 MARGOAGUNG 378 40 728 34 1 0
4 MARGODADI 362 50 603 104 0 0
5 SENDANGADI 330 9 504 0 0 0
6 SIDOARUM 332 18 398 3 0 0
7 SIDOLUHUR 350 41 230 18 1 0
8 SUMBERAGUNG 360 26 188 95 1 0
9 TIRTOADI 332 27 219 30 0 0
10 TRIDADI 395 73 376 46 19 1
11 TRIHARJO 330 9 526 0 0 0
12 BALECATUR 330 16 344 49 0 0
13 BANYURADEN 367 42 328 7 0 0
14 BOKOHARJO 365 31 240 8 1 0
15 CATURTUNGGAL 335 143 302 2 0 0
16 CONDONGCATUR 394 129 442 18 34 0
17 MINOMARTANI 345 30 165 0 4 0
18 NOGOTIRTO 336 13 557 0 0 0
19 SINDUHARJO 339 19 368 62 0 0
20 TAMANMARTANI 339 25 568 30 0 0
21 TIRTOMARTANI 330 15 206 4 0 0
22 TRIHANGGO 353 31 531 6 0 0
23 SINDUMARTANI 332 26 182 141 1 0
24 SINDUADI 350 149 394 20 13 0
25 SIDOMOYO 335 58 447 22 0 0
26 SIDOKARTO 331 53 206 40 1 0
27 SIDOAGUNG 333 73 271 24 0 0
28 LUMBUNGREJO 330 17 302 19 1 0
29 MARGOKATON 330 14 393 23 1 0
30 BANYUREJO 330 13 299 1 0 0
31 AMBARKETAWANG 344 112 354 10 22 1
32 SARIHARJO 331 167 170 0 3 3
JUMLAH 11058 1501 11172 850 103 5
Sumber: FGD Kelompok Belajar Perkotaan – P2KP
29 SPKD Kabupaten Sleman
3.2.2. Penyebab Kemiskinan
Analisis penyebab kemiskinan dalam dokumen SPKD ini menggunakan
pendekatan kombinasi kultural dan struktural. Untuk pendekatan kultural
digunakan tingkat analisis masyarakat, yakni dengan mengkaji integrasi
penduduk miskin dengan lembaga lokal masyarakat. Sedang untuk pendekatan
struktural dilihat dari proporsionalitas atau keberpihakan terhadap penduduk
miskin terkait kebijakan dan program pembangunan yang dijalankan selama
ini.
Dari pendataan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP) dapat disimpulkan bahwa
terdapat 3 faktor penyebab timbulnya kemiskinan, yaitu faktor individu yang
bersangkutan, faktor kebijakan pemerintah, dan faktor alamiah. Masing-masing
adalah sebagai berikut :
3.2.2.1. Faktor Individu yang bersangkutan, mencakup:
3.2.2.1.1. Malas
3.2.2.1.2. Kurang Pergaulan
3.2.2.1.3. Tidak memiliki pengalaman
3.2.2.1.4. Minder
3.2.2.1.5. Tidak mempunyai modal
3.2.2.1.6. Ketrampilannya rendah
3.2.2.1.7. Boros
3.2.2.2. Faktor Kebijakan Pemerintah, meliputi:
3.2.2.2.1. Pendapatan rendah
3.2.2.2.2. Tidak ada lapangan kerja
3.2.2.2.3. Harga sembako tinggi
3.2.2.2.4. Pendidikan mahal
3.2.2.2.5. Sarana dasar kurang
3.2.2.2.6. Biaya jasa mahal
3.2.2.3.Faktor alamiah (perjalanan waktu), meliputi:
3.2.2.3.1. Bencana Keluarga
3.2.2.3.2. Jompo
3.2.2.3.3. Bencana Alam
30 SPKD Kabupaten Sleman
31 SPKD Kabupaten Sleman
BAB IV
KAJI ULANG KEBIJAKAN DAN PROGRAM
Kaji ulang terhadap kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang
telah ada dimaksudkan untuk mengambil pelajaran demi perbaikan penyusunan
SPKD ini. Lebih dari itu diharapkan bahwa pelaksanaan penanggulangan
kemiskinan di masa mendatang tidak mengulang kesalahan yang sama.
Dalam SPKD ini dikaji empat kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan.
Kajian pertama dilakukan terhadap kebijakan dan program penanggulangan
kemiskinan yang diprakarsai pemerintah pusat. Kedua, kajian terhadap Arah
Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (AKU-APBD)
Kabupaten Sleman tahun 2004. Ketiga, kajian terhadap kebijakan dan program
penanggulangan kemiskinan yang diprakarsai Pemerintah Daerah Kabupaten
Sleman. Terakhir, kajian terhadap kegiatan penanggulangan kemiskinan yang
secara nyata dilakukan masyarakat maupun kalangan swasta.
Metode pengkajiannya ialah dengan cara menelaah berbagai dokumen apakah di
dalam kebijakan dan program-program tersebut terdapat pilar penanggulangan
kemiskinan. Pilar-pilar tersebut adalah: perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, serta perlindungan
sosial.
Semua kajian terhadap kebijakan dan program pemerintah pusat digunakan
dokumen ini sebagai dasar melakukan analisis lingkungan eksternal (ALE). Se-
dangkan kebijakan dan program yang ada pada pemerintah daerah, swasta dan
masyarakat digunakan sebagai dasar melakukan analisis lingkungan internal
(ALI).
4.1. Kebijakan dan Program Pemerintah Pusat
Beberapa kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang diprakarsai
pemerintah pusat yang dilaksanakan di kabupaten Sleman, masing-masing
memiliki sasaran dan metode yang beragam. Oleh karena itu ketika dikaji
menggunakan empat pilar sebagaimana disebut di atas terlihat bahwa belum
semua program mangandung keempat pilar sekaligus, kecuali JPS, PKM/CRP,
UED-SP, KBU dan P2KP. Gambaran lengkapnya disajikan dalam tabel 4.1.
32 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 4.1. Matriks Beberapa Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Pusat
No Program
Perluasan
Kesem-patan
Pember-
dayaan
Masyarakat
Peningk.
Kpasitas SDM
Perlind. Sosial
1 IDT √ √
2 JPS √ √ √ √
3. PKM/CRP √ √ √ √
4. UED-SP √ √ √ √
5. UKM √ √
6. KBU (Klompok Belajar Usaha) √ √ √ √
7. P2MPD √ √
8. P2KP √ √ √ √
9. Subsidi BBM √ √ √ √
10 Sejuta Rumah √ √ √
11 P2LDT √ √
Secara umum dapat dikatakan bahwa upaya penanggulangan kemiskinan yang
diprakarsai pemerintah pusat pada masa lalu memperlihatkan ciri-ciri: (a)
Kebijakan terpusat dan seragam; (b) Lebih bersifat karitatif; (c) Memposisikan
masyarakat sebagai obyek, yaitu tidak melibatkan mereka dalam keseluruhan
proses penanggulangan kemiskinan; (d) Memandang masalah kemiskinan hanya
dari segi ekonomi; (e) Menganggap bahwa permasalahan dan penanggulangan
kemiskinan bersifat sama (one-fit-for-all); (f) Kurang memperhatikan keragaman
budaya; (g) Pendekatannya top down; (h) Terdapat tumpang-tindih (overlapping)
kelompok sasaran antara program yang satu dan program lainnya; dan (i)
Kebijakannya bersifat sektoral.
Harus diakui bahwa kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan di
bidang ekonomi telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dalam upaya
mengembangkan usaha skala mikro, kecil, menengah dan koperasi telah
dilakukan agenda penyelesaian hutang UKM. Disamping itu, kapasitas perbankan
dalam penyaluran kredit kepada UKM dan fasilitasi pembiayaan dari pemerintah
dalam bentuk dana bergulir dan penjaminan kredit bagi UKM juga meningkat.
Sementara itu, perkembangan akses UKM terhadap sumberdaya produktif non
finansial ditandai dengan adanya peningkatan keberadaan penyedia jasa layanan
pengembangan usaha (business development services-BDS), dan berkembangnya
klaster / sentra UKM di berbagai daerah. Meskipun demikian, secara umum
pencapaian hasil keseluruhan belum maksimal.
Kebijakan perlindungan sosial khususnya bantuan sosial belum bersifat
menyeluruh dan berkelanjutan. Karena kurang koordinasi, kurang transparan,
diskriminatif serta kurang didukung akuntabilitas yang memadai maka kebijakan
tersebut belum sepenuhnya dapat menjawab kebutuhan sosial masyarakat.
33 SPKD Kabupaten Sleman
Pelaksanaan bantuan sosial (stimulan, JPS, dan PKPS-BBM) justru menimbulkan
ketergantungan masyarakat kepada bantuan tersebut. Kebijakan tersebut justru
melumpuhkan inisiatif lokal. Masalah lain terkait dengan kebijakan tersebut
adalah: kurang tepat sasaran, tidak tepat waktu, tidak tepat jumlah, serta tidak
memberdayakan masyarakat.
4.2. Arah Kebijakan Umum (AKU) Tahun 2004
Arah Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (AKU–
APBD) 2004 tertuang dalam Nota Kesepakatan Pemkab dengan DPRD nomor 7/
PK.KDH/A/2003 dan nomor 2/N.Kes DPRD/2003 tanggal 26 Juni 2003. Dalam
nota kesepakatan tersebut dinyatakan bahwa AKU-APBD 2004 dimaksudkan
sebagai pedoman dalam menyusun APBD 2004 dengan titik berat pembentukan
sistem, peningkatan sumberdaya manusia, peningkatan kelembagaan, dan
peningkatan prasarana dan sarana. AKU-APBD 2004 disusun dalam rangka
mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana
strategis. Arah kebijakan yang tercakup di dalamnya meliputi empat hal, yaitu:
(a) mewujudkan pemerintahan daerah yang baik; (b) meningkatkan kegiatan
ekonomi daerah; (c) meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan (d) meningkatkan
kapasitas pengembangan potensi wilayah.
AKU-APBD 2004 berisi 100 butir kebijakan yang dijabarkan ke dalam 221
butir program yang kemudian dirinci dalam 1008 butir rencana kegiatan. Dari
seluruh butir tersebut terdapat sejumlah butir yang mengandung potensi untuk
mendukung upaya penanggulangan kemiskinan (“nangkis”), dengan rincian:
59 butir (59%) kebijakan, 105 butir (47,5%) program, dan 254 butir (25,2%)
kegiatan. Dari total 254 butir rencana kegiatan yang berpotensi mendukung
program “nangkis”), 158 butir (15,7%) bersifat tidak langsung dan hanya 96 butir
(9,5%) bersifat langsung. seperti terlihat pada Tabel 4.2. dan lampiran 2.
34 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 4.2. Rekapitulasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman 2004
No Bidang
Berdasar AKU 2004 Berpotensi Pro-poor
K
e
b
i
j
a
k

a
n
P
r
o
g
r
a
m
K
e
g
i
a
t
a
n
K
e
b
i
j
a
k

a
n
P
r
o
g
r
a
m Kegiatan
Tidak
Langsung
Langsung
1 Bidang Umum
Pemerintahan
12 90 384 8 36 65 33
2 Pertanian 5 7 52 5 7 13 1
3 Perikanan 4 6 14 2 2 4 2
4 Pertambangan
dan Energi
4 6 15 4 5 5 2
5 Kehutanan dan
Perkebunan
7 8 35 6 6 6 4
6 Perindustrian &
Perdagangan
6 16 62 4 10 13 15
7 Perkoperasian 3 4 14 3 4 9 4
8 Penanaman
Modal
4 6 10 1 1 2 0
9 Ketenagakerjaan 8 9 46 6 7 12 13
10 Kesehatan 3 7 92 3 5 4 6
11 Pendidikan dan
Kebudayaan
7 7 72 1 1 1 1
12 Sosial 5 8 30 4 6 8 4
13 Penataan Ruang 2 3 8 1 2 4 0
14 Permukiman 5 6 16 4 4 6 1
15 Pekerjaan Umum 4 7 24 2 2 1 2
16 Perhubungan 2 4 19 0 0 0 0
17 Lingkungan
Hidup
4 8 31 1 2 2 0
18 Kependudukan 4 7 40 2 3 3 8
19 Pemuda dan Olah
Raga
4 4 24 0 0 0 0
20 Kepariwisataan 3 4 14 2 2 2 0
21 Pertanahan 4 4 6 0 0 0 0
Total 100 221 1008 59 105 158 96
Data tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat kebijakan dan program telah
terdapat orientasi/kecenderungan yang besar untuk berpihak kepada kaum
miskin. Sedang pada tataran kegiatan, baru seperempat yang berorientasi pada
keberpihakan kepada kaum miskin.
Meskipun dari jumlah butir kebijakan, program dan kegiatan dalam AKU-
APBD 2004 telah terdapat kecenderungan berpihak kepada kaum miskin, belum
jelas apakah semua itu benar - benar diarahkan untuk menanggulangi masalah
35 SPKD Kabupaten Sleman
kemiskinan. Jumlah butir-butir di atas baru menunjukkan kebijakan, program
atau kegiatan yang bisa diarahkan untuk menanggulangi kemiskinan. Jadi sama
sekali belum menunjukkan bahwa pada kenyataannya telah dirancang untuk
menanggulangi kemiskinan.
Data tersebut masih sebatas kategorisasi di atas kertas pada tahap perencanaan.
Dengan demikian masih diperlukan setidaknya tiga langkah lanjut, yaitu:
4.2.1. Pemeriksaan laporan kegiatan,
4.2.2. Pemeriksaan bukti di lapangan, dan
4.2.3. Pengkajian terhadap kesesuaian kegiatan dengan tujuan penanggulangan
kemiskinan.
Pemeriksaan laporan kegiatan dilakukan untuk meneliti kesesuaian rencana
dengan realisasi. Pemeriksaan bukti di lapangan dimaksudkan untuk menilai
kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan daerah, khususnya daerah-daerah yang
memiliki tingkat kemiskinan tinggi; apakah kegiatan-kegiatan yang dilakukan
bisa mempercepat penanggulangan kemiskinan. Sedang pengkajian mengenai
kesesuaian kegiatan dengan upaya penanggulangan kemiskinan dimaksudkan
untuk menentukan apakah diperlukan perubahan, pengurangan atau
penambahan kegiatan (juga kebijakan dan program) agar dapat memperlancar
upaya penanggulangan kemiskinan.
4.3. Program Penanggulangan Kemiskinan Prakarsa Pemda
Pemerintah Kabupaten Sleman telah melaksanakan berbagai program yang pada
akhirnya mengarah pada penanggulangan kemiskinan sekalipun tidak secara
eksplisit dinyatakan sebagai program penanggulangan kemiskinan. Karena
pelaksanan program-program tersebut adalah dinas atau kantor yang berbeda-
beda sedang nama dan tujuan programnya tidak secara eksplisit dinyatakan
sebagai program penanggulangan kemiskinan, akibatnya arah program tidak
padu dan hasilnya belum optimal.
Tabel 4.3. Beberapa Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Pemerintah Daerah
No Program
Perluasan
Kesempatan
Pemberdayaan
Masyarakat
Peningk.
Kpasitas SDM
Perlind. Sosial
1. Gaduh Ternak √ √
2. Bantuan Susu Ibu Hamil √ √
3 Dana Gotong Royong √ √
4. Bantuan Dana Bergulir √ √
5. Bantuan Aspal √ √
6. Bantuan Organisasi Sosial √ √ √
7 Koperasi UKM √ √
36 SPKD Kabupaten Sleman
8. Beasiswa √ √
9 Bantuan Susu untuk Murid √ √
10 P2WKSS √ √
Dari delapan program yang dikaji pada tabel 4.3. ternyata tidak ada yang
mengandung sekaligus empat pilar penanggulangan kemiskinan seperti diuraikan
di depan. Oleh karena itu pada masa mendatang yang diperlukan adalah upaya
memadukan dan mensikronkan berbagai program tersebut sehingga arahnya
lebih fokus dan hasilnya lebih optimal.
4.4. Inisiatif Masyarakat dan Swasta
Inisiatif masyarakat untuk menanggulangi kemiskinan di daerah masing-masing
telah lama ada. Sekalipun demikian kegiatan penanggulangan kemiskinan
tersebut tidak merata dan tidak sama intensitas serta kualitasnya. Karena
masing-masing berskala lokal/mikro maka belum terdapat kesatu-paduan arah
dan sasaran.
Inisiatif dan peran kalangan swasta untuk membantu penanggulangan
kemiskinan juga telah lama ada. Yang paling jelas adalah dalam penyediaan
lapangan kerja yang dengan sendirinya memberi pendapatan kepada para pekerja
yang direkrutnya. Disamping itu ada pula program dana hibah, sumbangan-
sumbangan, dan santunan sosial.
Masing-masing program baik dari masyarakat maupun dari kalangan swasta
dalam kaitan dengan empat pilar penanggulangan kemiskinan terlihat pada
tabel 4.4.
Tabel 4.4. Beberapa Program Penanggulangan Kemiskinan Atas Prakarsa Masyarakt
dan Swasta
No Bidang
Berdasar AKU 2004 Berpotensi Pro-poor
K
e
b
i
j
a
k
a
n
P
r
o
g
r
a
m
K
e
g
i
a
t
a
n
K
e
b
i
j
a
k
a
n
P
r
o
g
r
a
m
K
e
g
i
a
t
a
n
T
i
d
a
k

L
a
n
g
s
u
n
g
L
a
n
g
s
u
n
g
1 Bidang Umum
Pemerintahan
12 90 384 8 36 65 33
2 Pertanian 5 7 52 5 7 13 1
3 Perikanan 4 6 14 2 2 4 2
4 Pertambangan
dan Energi
4 6 15 4 5 5 2
37 SPKD Kabupaten Sleman
5 Kehutanan dan
Perkebunan
7 8 35 6 6 6 4
6 Perindustrian &
Perdagangan
6 16 62 4 10 13 15
7 Perkoperasian 3 4 14 3 4 9 4
8 Penanaman
Modal
4 6 10 1 1 2 0
9 Ketenagakerjaan 8 9 46 6 7 12 13
10 Kesehatan 3 7 92 3 5 4 6
11 Pendidikan dan
Kebudayaan
7 7 72 1 1 1 1
12 Sosial 5 8 30 4 6 8 4
13 Penataan Ruang 2 3 8 1 2 4 0
14 Permukiman 5 6 16 4 4 6 1
15 Pekerjaan Umum 4 7 24 2 2 1 2
16 Perhubungan 2 4 19 0 0 0 0
17 Lingkungan
Hidup
4 8 31 1 2 2 0
18 Kependudukan 4 7 40 2 3 3 8
19 Pemuda dan
Olah Raga
4 4 24 0 0 0 0
20 Kepariwisataan 3 4 14 2 2 2 0
21 Pertanahan 4 4 6 0 0 0 0
Total 100 221 1008 59 105 158 96
Kelemahan utama dari kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan
oleh masyarakat maupun kalangan swasta secara umum antara lain:
4.4.1. Belum terdapat sinergi
4.4.2. Belum sepenuhnya dikelola oleh penduduk setempat dan menjadi milik
mereka.
4.4.3. Belum terdapat kesatuan arah dan tahapan.
4.4.4. Tidak berkelanjutan.
4.4.5. Kurang mendapat kemudahan pemerintah.
4.5. Analisis Lingkungan Internal (ALI)
4.5.1. Kekuatan
4.5.1.1. Kebijakan pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan
kemiskinan semakin mantap.
4.5.1.2. Dukungan politik menuju kepemerintahan yang baik telah berjalan
38 SPKD Kabupaten Sleman
4.5.1.3. Sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan merata. Budaya
gotong royong tinggi.
4.5.1.4. Pertumbuhan ekonomi daerah cukup tinggi.
4.5.1.5. Stabilitas keamanan daerah terkendali.
4.5.1.6. Masyarakat dapat mengikuti perkembangan teknologi.
4.5.1.7. Masyarakat dapat mengikuti perkembangan informasi.
4.5.1.8. Terdapat kesempatan kerja secara merata.
4.5.1.9. Adanya alokasi pendanaan untuk program penanggulangan
kemiskinan.
4.5.1.10. Potensi konstribusi peran serta LSM, Perguruan Tinggi dan Swasta di
Sleman cukup besar.
4.5.1.11. Kualitas SDM Kabupaten Sleman memiliki daya saing kuat.
4.5.1.12. Lokasi Kabupaten Sleman strategis, alam subur dan sumber daya alam
tersedia.
4.5.2. Kelemahan
4.5.1. Masih terdapat ego sektoral dalam pelaksanaan pembangunan.
4.5.2. Masih banyak peraturan daerah yang tidak mendukung program
“Nangkis”.
4.5.3. Kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan belum baik.
4.5.4. Distribusi pendapatan masyarakat timpang cukup tinggi.
4.5.5. Masih terjadi praktek kekerasan terhadap anak dan perempuan.
4.5.6. Perkembangan teknologi tidak belum dimanfaatkan bagi keluarga
miskin.
4.5.7. Keluarga miskin kesulitan mengakses perkembangan informasi
4.5.8. Keluarga miskin tidak mampu menangkap peluang kerja
4.5.9. Program penanggulangan kemiskinan tidak dipantau dan dinilai secara
konsisten
4.5.10. Kerjasama antar pelaku di Sleman belum terealisasi dengan baik.
4.5.11. Daya saing tenaga kerja bagi keluarga miskin untuk mengisi peluang
kerja rendah.
39 SPKD Kabupaten Sleman
4.5.12. Potensi sumberdaya alam tidak berpihak pada perluasan kesempatan
bagi keluarga miskin.
4.6. Analisis Lingkungan Eksternal (ALE)
4.6.1. Peluang
4.6.1.1. Pemerintah pusat secara konsisten memperkuat dan memperbaiki
kebijakan otonomi daerah.
4.6.1.2. Penegakan hukum, HAM dan pemberantasan korupsi diperkuat.
4.6.1.3. Gerakan kesetiakawan sosial nasional diperkuat, alokasi dana
pendidikan dan kesehatan diperbesar.
4.6.1.4. Pemerintah pusat mendorong pengembangan wilayah strategis dan
cepat tumbuh.
4.6.1.5. Keamanan nasional mantap dan terkendali.
4.6.1.6. Pemerintah pusat mendorong perkembangan teknologi dan inovasi.
4.6.1.7. Pemerintah pusat berperan dalam kesepakatan kerjasama global.
4.6.1.8. Peraturan investasi dipermudah dan penyaluran tenaga kerja keluar
negeri diperbaiki.
4.6.1.9. Alokasi pendanaan dari pusat untuk penanggulangan kemiskinan
tetap tinggi.
4.6.1.10. Adanya kerjasama dengan pihak asing secara langsung dalam
penanggulangan kemiskinan dan pelestarian lingkungan terbuka
luas.
4.6.1.11. Pemerintah pusat memperbaiki peraturan perlindungan tenaga kerja
di dalam dan luar negeri.
4.6.1.12. Pemerintah komitmen memerangi praktek eksploatasi sumberdaya
alam yang tidak ramah lingkungan.
4.6.2. Ancaman
4.6.2.1. Kebijakan pemerintah pusat menaikkan harga BBM.
4.6.2.2. Penegakan hukum, HAM dan pemberantasan korupsi tidak kunjung
menampakkan hasil.
4.6.2.3. Terjadi bencana alam dan kekeringan di mana-mana.
4.6.2.4. Nilai tukar rupiah terhadap uang asing merosot tajam.
40 SPKD Kabupaten Sleman
4.6.2.5. Konflik antar suku dan golongan muncul di mana-mana.
4.6.2.6. Teknologi modern dikuasai pihak asing dan masyarakat hanya sebagai
penonton
4.6.2.7. Informasi dikuasai oleh swasta , hanya untuk tujuan komersial dan
tidak dapat diakses keluarga miskin
4.6.2.8. Banyak perusahaan tutup dan melakukan PHK
4.6.2.9. Terjadi penyimpangan penyaluran dana bagi keluarga miskin
4.6.2.10. Bantuan bersifat sedekah, tidak berkelanjutan dan tidak mendidik
4.6.2.11. Tenaga ahli asing mendominasi pasaran tenaga kerja nasional .
4.6.2.12. Pemerintah mencabut hak-hak perolehan masyarakat untuk meman-
faatkan sumberdaya alam.
41 SPKD Kabupaten Sleman
4.7. Analisis SWOT
Tabel 4.5. Pemanfaatan kekuatan untuk menangkap Peluang
Kekuatan Peluang S vs O
Kebijakan pemerintah daerah
dalam upaya penanggulangan
kemiskinan semakin mantap
Pemerintah pusat secara
konsisten memperkuat dan
memperbaiki kebijakan otonomi
daerah
Pemerintah daerah terus
memperbaiki kinerja untuk
pelayanan masyarakat
Dukungan politik menuju
keperintahan yang baik telah
berjalan
Penegakan hukum, HAM dan
pemberantasan korupsi diperkuat
Pemerintah daerah konsisten
dalam menjalankan praktek tata
kepemerintahan yang baik
Sarana dan prasarana pendidikan
dan kesehatan merata
Gerakan kesetiakawan sosial
nasional diperkuat, alokasi dana
pendidikan dan kesehatan
diperbesar.
Pemerintah daerah
meningkatkan pelayanan
kesehatan dan pemerataan
kesempatan pendidikan
Pertumbuhan ekonomi daerah
cukup tinggi
Pemerintah pusat mendorong
pengembangan wilayah strategis
dan cepat tumbuh
Pemerintah daerah memperbaiki
peraturan daerah untuk
penanaman investasi
Stabilitas keamanan daerah
terkendali
Keamanan nasional mantap dan
terkendali
Pemerintah daerah terus
mendorong partisipasi
masyarakat dalam menjaga
keamanan.
Masyarakat dapat mengikuti
perkembangan teknologi
Pemerintah pusat mendorong
perkembangan teknologi dan
inovasi
Pemerintah daerah memfasilitasi
penelitian dan pengembangan
teknologi
Masyarakat dapat mengikuti
perkembangan informasi
Pemerintah pusat berperan
dalam kesepakatan kerjasama
global
Pemerintah daerah memfasilitasi
kemudahan akses informasi
Terdapat kesempatan kerja secara
merata
Peraturan investasi dipermudah
dan penyaluran tenaga kerja ke
luar negeri diperbaiki
Pemerintah daerah memberi
kemudahan dalam menangkap
kesempatan kerja antar daerah
Adanya alokasi pendanaan
untuk program penanggulangan
kemiskinan
Alokasi pendanaan dari pusat
untuk penanggulangan
kemiskinan tetap tinggi
Pemerintah daerah dapat
mengkoordinaskan pemanfaatan
dana secara efektif dan tepat
sasaran
Potensi konstribusi peran serta
LSM, Perguruan Tinggi dan
Swasta di Sleman cukup besar
Adanya kerjasama dengan pihak
asing secara langsung dalam
penanggulangan kemiskinan dan
pelestarian lingkungan terbuka
luas
Pemerintah daerah dapat
memfasilitasi sinergi program
penanggulangan kemiskinan
secara terpadu
Kualitas SDM Kabupaten Sleman
memiliki daya saing kuat
Pemerintah pusat memperbaiki
peraturan perlindungan tenaga
kerja di luar negeri.
Pemerintah memberi jaminan
keamanan terhadap tenaga kerja
di luar daerah
Lokasi Kabupaten Sleman
strategis, alam subur dan sumber
daya alam tersedia
Pemerintah komitmen
memerangi praktek eksploatasi
sumberdaya alam yang tidak
ramah lingkungan.
Pemerintah membuka investasi
usaha eksploitasi sumberdaya
alam secara ramah lingkungan
42 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 4.6. Memperbaiki Kelemahan untuk menangkap Peluang
Kelemahan Peluang W vs O
Masih terdapat ego
sektoral dalam pelaksanaan
pembangunan
Pemerintah pusat secara
konsisten memperkuat dan
memperbaiki kebijakan otonomi
daerah
Pemerintah daerah memfasilitasi
koordinasi lintas sektoral untuk
keterpaduan program
Masih banyak peraturan
daerah yang tidak berpihak
pada kemiskinan
Penegakan hukum, HAM dan
pemberantasan korupsi diperkuat
Langkah pemerintah daerah untuk
membuat annual report dimantapkan
Kualitas pelayanan
pendidikan dan kesehatan
belum baik
Gerakan kesetiakawan sosial
nasional diperkuat, alokasi dana
pendidikan dan kesehatan
diperbesar.
Pemerintah daerah memfokuskan
pelayanan pendidikan dan kesehatan
bagi keluarga miskin dan keluarga
menengah.
Distribusi pendapatan
masyarakat timpang cukup
tinggi
Pemerintah pusat mendorong
pengembangan wilayah strategis
dan cepat tumbuh
Pemerintah daerah menghimbau
investor baru untuk mengutamakan
pemanfaatan tenaga kerja keluarga
miskin
Masih terjadi praktek
kekerasan terhadap anak dan
perempuan
Keamanan nasional mantap dan
terkendali
Pemerintah daerah melindungi dan
memberi kesempatan luas bagi
perempuan dalam pembangunan
Perkembangan teknologi
tidak dapat dimanfaatkan
bagi keluarga miskin
Pemerintah pusat mendorong
perkembangan teknologi dan
inovasi
Pemerintah daerah memfasilitasi
pengembangan TTG untuk
mendorong produktifitas keluarga
miskin
Keluarga miskin kesulitan
mengakses perkembangan
informasi
Pemerintah pusat berperan
dalam kesepakatan kerjasama
global
Pemerintah memfasilitasi keluarga
miskin untuk dapat mengakses
perkembangan informasi
Keluarga miskin tidak
mampu menangkap peluang
kerja
Peraturan investasi dipermudah
dan penyaluran tenaga kerja
keluar negeri diperbaiki
Pemerintah Daerah memberi
kemudahan dan membantu pinjaman
dana murah untuk menangkap
peluang kerja di luar negeri
Program penanggulangan
kemiskinan tidak dipantau
dan dinilai secara konsisten
Alokasi pendanaan dari pusat
untuk penanggulangan
kemiskinan tetap tinggi
Pemerintah Daerah memfasilitasi
Pemantauan dan penilaian program
penanggulangan kemiskinan secara
konsisten
Kerjasama antar pelaku di
Sleman belum terintegrasi
dengan baik
Adanya kerjasama dengan pihak
asing secara langsung dalam
penanggulangan kemiskinan dan
pelestarian lingkungan terbuka
luas
Pemerintah Daerah memfasilitasi
Sinergi program antar pelaku
Daya saing tenaga kerja
bagi keluarga miskin untuk
mengisi peluang kerja
rendah.
Pemerintah pusat memperbaiki
peraturan perlindungan tenaga
kerja di luar negeri.
Pemerintah daerah memberi
pelatihan dan peningkatan
ketrampilan tenaga kerja bagi
keluarga miskin
Potensi sumberdaya
alam tidak berpihak bagi
kesempatan usaha keluarga
miskin
Pemerintah komitmen
memerangi praktek eksploatasi
sumberdaya alam yang tidak
ramah lingkungan.
Pemerintah Daerah memberi
kesempatan pertama bagi keluarga
miskin untuk berusaha eksploitasi
sumberdaya alam
43 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 4.7. Memanfaatkan kekuatan untuk menekan Ancaman
Kekuatan Ancaman S vs T
Kebijakan pemerintah daerah
dalam upaya penanggulangan
kemiskinan semakin mantap
Kebijakan pemerintah pusat
menaikkan harga BBM.
Pemerintah Daerah mengambil
inisiatif untuk memberi
perlindungan bagi keluarga
miskin
Dukungan politik menuju
keperintahan yang baik telah
berjalan
Penegakan hukum, HAM dan
pemberantasan korupsi tidak
kunjung menampakkan hasil
Partisipasi masyarakat
untuk berperan menuju tata
kepemerintahan yang baik terus
didorong
Sarana dan prasarana pendidikan
dan kesehatan merata
Terjadi bencana alam dan
kekeringan dimana-mana.
Pemerintah daerah terus
memfasilitasi peningkatan
peranserta masyarakat
Pertumbuhan ekonomi daerah
cukup tinggi
Nilai tukar rupaih terhadap uang
asing merosot tajam
Pemerintah Daerah terus
mendorong sector riil yang
bertumpu pada usaha kecil dan
menengah
Stabilitas keamanan daerah
terkendali
Konflik antar suku dan golongan
muncul dimana-mana
Pemerintah daerah selalu
berkoordinasi dengan TNI dan
Polri dalam menjaga keamanan
daerah
Masyarakat dapat mengikuti
perkembangan teknologi
Teknologi modern yang dikuasai
pihak asing dan masyarakat
hanya sebagai penonton
Pemerintah Daerah memfasilitasi
penelitian dan pengembangan
teknologi bagi pelaku lokal
Masyarakat dapat mengikuti
perkembangan informasi
Informasi dikuasai oleh swasta ,
hanya untuk tujuan komersialisasi
dan tidak dapat diakses keluarga
miskin
Pemerintah daerah memfasilitasi
sarana teknologi yang dapat
dimanfaatkan bagi kelaurga
miskin
Terdapat kesempatan kerja secara
merata
Banyak perusahaan tutup dan
melakukan PHK
Pemerintah daerah memfasilitasi
Usaha Kecil Menegah untuk
memperluas usaha
Adanya alokasi pendanaan
untuk program penanggulangan
kemiskinan
Terjadi penyimpangan
penyaluran dana bagi keluarga
miskin
Pemerintah Daerah memfasilitasi
system pengawasan program
secara partisipatif
Potensi konstribusi peranserta
LSM, Perguruan Tinggi dan
Swasta di Sleman cukup besar
Bantuan bersifat sedekah, tidak
berkelanjutan dan tidak mendidik
Pemerintah memfasilitasi
koordinasi program antar pelaku
Kualitas SDM Kabupaten Sleman
memiliki daya saing kuat.
Tenaga ahli asing mendominasi
pasaran tenaga kerja nasional .
Pemerintah Daerah terus
memfasilitasi peningkatan
kualitas tegana kerja melalui
pelatihan dan magang
Lokasi Kabupaten Sleman
strategis, alam subur dan sumber
daya alam tersedia
Pemerintah mencabut hak-hak
perolehan masyarakat untuk
memanfaatkan sumberdaya alam.
Pemerintah Daerah memfasilitasi
usaha kemitraan antara
masyarakat lokal dengan investor
luar
44 SPKD Kabupaten Sleman
4.8. Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor-faktor penentu keberhasilan dalam dokumen ini adalah pilihan strategis
yang diharapkan mendukung tercapainya visi dan misi penanggulangan
kemiskinan di Kabupaten Sleman, yaitu:
4.8.1. Adanya kesepakatan untuk penentuan data sasaran secara akurat dan
mutakir.
4.8.2. Anggaran yang disediakan untuk program penanggulangan kemiskinan
diperbesar.
4.8.3.. Kebijakan pusat dan daerah tidak tumpang tindih
4.8.4. Program penanggulangan kemiskinan antar sector dan antar pelaku
dapat terpadu.
4.8.5. Prosedur investasi jelas, sederhana dan tidak berbelit sehingga minat
investasi usaha meningkat
4.8.6. Terdapat kepastian hukum
4.8.7. Keamanan kondusif dan terjamin
4.8.8. Modal sosial dalam masyarakat dapat ditingkatkan.
4.8.9. Organisasi masyarakat warga di tingkat lokal dapat memperjuangkan
hak bagi keluarga miskin.
4.8.10. Program Penanggulangan kemiskinan dapat tepat sasaran dan dipantau
secara konsisten.
45 SPKD Kabupaten Sleman
BAB V
STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN
5.1. Visi
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten Sleman menetapkan
visi, yang merupakan hasil perumusan bersama dalam Musyawarah Lintas
Pelaku (MLP), yaitu: Terwujudnya kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sleman
melalui penanggulangan kemiskinan.
5.2. Misi
Misi yang akan dijalankan untuk mencapai visi tersebut di atas adalah:
1.1.1. Menyusun suatu tatanan penyelenggaraan penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman secara partisipatif, gotong royong, bertanggung
jawab dan berkelanjutan.
5.2.2. Melakukan artikulasi, agregasi dan evaluasi terhadap kebijakan dan
program penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sleman.
5.2.3. Melakukan sinergi program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman.
5.2.4. Memperkuat kemandirian masyarakat menuju masyarakat sejahtera.
5.3. Tujuan Startegi Penanggulangan Kemiskinan
Tujuan umum dari strategi penanggulangan kemiskinan daerah Kabupaten
Sleman ini adalah terjadinya sinergi program antar stakeholders sehingga tercapai
hasil berupa jumlah penduduk miskin berkurang dan tingkat kesejahteraan
masyarakat meningkat.
5.4. Strategi dan Pendekatan
5.4.1. Strategi
Strategi penanggulangan kemiskinan yang diterapkan dalam SPKD ini
meliputi:
5.4.1.1. Mengintregasikan program masyarakat, pemerintah, dan swasta
5.4.1.2. Mendudukkan keluarga miskin sebagai pelaku utama dalam
penanggulangan kemiskinan
5.4.1.3. Mensenyawakan SPKD dengan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah
46 SPKD Kabupaten Sleman
(RPJM) Daerah dan Rencana Strategi Satuan Kerja Pemerintah Daerah
(Renstra – SKPD).
5.4.1.4. Menyebarluaskan program penanggulangan kemiskinan secara
merata.
5.4.2. Pendekatan
Pendekatan yang diterapkan dalam SPKD ini meliputi dua hal, penting yaitu:
5.4..2. Meningkatkan pendapatan keluarga miskin; Pendapatan keluarga dapat
meningkat apabila keluarga miskin mendapat kesempatan yang luas
melakukan usaha produktif.
5.4..3. Menurunkan pengeluaran keluarga; Pengeluaran yang dapat ditekan
adalah biaya kesehatan, pendidikan dan pemenuhan kebutuhan makan
(beras).
Kebijaksanaan penanggulangan kemiskinan pada hakekatnya merupakan
kebijakan publik yang berpihak kepada orang miskin (pro poor policy). Oleh
karena itu kebijakan tersebut harus diterjemahkan dalam pembangunan yang
berpihak kepada kaum miskin (pro poor development) dan pertumbuhan
ekonomi yang berpihak kepada orang miskin (pro poor growth).
Secara operasional arah penanggulangan kemiskinan dapat dikelompokkan
dalam empat kebijakan dan program, yaitu: perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia, serta perlindungan
sosial. Keempat kebijakan dan program tersebut dilaksanakan secara sinergis
oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat. Peran masing-masing unsur pelaku
dalam keempat kebijakan dan program yang merupakan pilar penanggulangan
kemiskinan tersebut ditampilkan dalam matriks berikut ini.
Tabel 5.1. Peran Unsur-unsur KPKD dalam Program Penanggulangan Kemiskinan
Pilar Pelaku Perluasan
kesempatan
Pemberdayaan
Masyarakat
Peningkatan
kapasitas & SDM
Perlindungan
sosial
SWASTA
Lembaga
Keuangan
Menyediakan
layanan
Menyediakan
kredit cepat,
mudah, dan murah
Melakukan
pelatihan
pengelolaan dana
mikro
Menyediakan
santunan
Industri Menyediakan
fasilitas
Mejalin kemitraan
dengan keluarga
miskin
Menyediakan
tempat magang
Menyediakan
santunan
Asosiasi Memberi
bimbingan
Memberi
perlindungan
usaha
Mendorong
perkembangan dan
menyalurkan
Menyediakan
santunan
47 SPKD Kabupaten Sleman
Pers Menjadi wahana
komunikasi
Melakukan promosi
pemberdayaan
Menyediakan
informasi yang
relevan
Menumbuhkan
solidaritas
MASYARAKAT
LSM Melakukan
advokasi
Melakukan
pendampingan
Melakukan
pendampingan
Melakukan
pendampingan
Perguruan Tinggi Menyediakan
kajian dan
alternatif solusi
Melakukan
pendampingan
Memberi pelatihan Melakukan
pemantauan
Ormas Mengorganisir Memperkuat
organisasi
Menghimpun
anggota
Menampung dan
memelihara
PEMDA
Eksekutif Menciptakan iklim
yang kondusif dan
bertidak sebagai
Regulator
Menciptakan good
governance
Melakukan
pembinaan dan
berfungsi sebagai
dinamisator
Menyedi akan
layanan umum
dan membuat
budget
Legislatif Menyetujui aturan
dan mengawasi
Melakukan
pengawasan
Mendorong
eksekutif
mengusulkan
program
Menyetujui
peraturan yang
pro poor.
Dalam matriks tersebut terlihat bahwa pilar kegiatan penanggulangan
kemiskinan akan bersinergi (saling melengkapi dan menguatkan) antar pelaku.
Setiap baris menunjukkan kebijakan dan program sebuah unsur dalam kegiatan
penanggulangan kemiskinan.
Terkait dengan hal di atas perlu dicatat bahwa tidak semua pelaku bisa
mengisi semua pilar dengan kegiatan yang secara langsung membawa dampak
penanggulangan kemiskinan. Misalnya, perguruan tinggi akan sulit mengisi
pilar perlindungan sosial, sehingga dalam kegiatan ini perannya lebih pada
monitoring dan evaluasi. Sebaliknya organisasi kemasyarakatan justru sangat
potensial mengisi pilar tersebut. Demikian pula dengan pelaku-pelaku yang lain
untuk pilar-pilar yang lain. Sekalipun demikian, dengan sinergi semua pelaku
maka semua pilar akan dapat diisi.
Isi kebijakan dan program telah ditentukan oleh masing-masing pelaku dalam
MLP. Rangkuman isian tersebut disajikan pada sub-bab berikut.
5.5. Kebijakan dan Program Perluasan Kesempatan
Kebijakan dan program perluasan kesempatan dimaksudkan untuk memberi
peluang yang seluas-luasnya kepada kaum miskin agar dapat mengentaskan
diri dari kemiskinannya. Kesempatan tersebut dapat berupa kesempatan kerja,
menambah modal usaha, memasarkan hasil produksi, membangun jaringan
48 SPKD Kabupaten Sleman
kerja, dan seterusnya. Sumbangan tiap-tiap unsur pelaku penanggulangan
kemiskinan adalah sebagai berikut:
Tabel 5.2. Unsur Pemerintah Daerah
No Nama
Lembaga
Kebijakan Program
1. Dinas Tenaga
Kerja, Sosial,
Transmigrasi
dan Keluarga
Berencana
Meningkatkan dan
menumbuhkembangkan minat
bertransmigrasi
Menumbuhkan minat masyarakat untuk
mengikuti program transmigrasi
Mengembangkan kompetensi
dan profesionalisme tenaga
kerja dan mendorong
terciptanya iklim berwira usaha
Memperluas lapangan kerja dengan perluasan
dan pengembangan kesempatan kerja
Pengembangan Kewirausahaan dan
Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja
Perlindungan dan Pengembangan
Ketenagakerjaan
Memantapkan hubungan
kerjasama dengan dunia usaha
Pemantauan Hubungan Kerjasama dengan
Dunia Usaha
2 Dinas P3BA Mengembangkan Energi
Alternatif selain BBM
Pembangkit Listrik Tenaga Surya
3 Dinas Pertanian
& Kehutanan
Mengembangkan diversifikasi
pangan
Pengembangan Usaha Tani Non Padi
4 Dinas P2KPM Mengembangkan Industri Kecil
dan Menengah terutama yang
ada di Sentra Rumah Tangga &
Pedesaan
Peningkatan Pelayanan Perindustrian dan
Perdagangan
Pengembangan SDM Perindustrian dan
Perdagangan
Meningkatkan Manajemen
Usaha Perdagangan
Pengembangan Kemampuan Usaha Industri
Monitoring dan Evaluasi Perindustrian dan
Perdagangan
Mengembangkan Penanaman
Modal
Promosi Investasi
Pelayanan Penanaman Modal
Meningkatkan Penataan
Kelembagan Koperasi UKM
Penyediaan Data Koperasi & UKM
Mengembangkan Penanaman
Modal
Penciptaan Iklim dan Peluang Investasi yang
kondusif
5 Bagian
Perekonomian
Setda
Penataan dan Pemberdayaan
Usaha Informal
Pengkajian dan Penyiapan Rencana Kebijakan
Daerah
Mengembangkan
Perekonomian Daerah
Pengkoordinasian Kegiatan Bidang
Perekonomian
Pemberdayaan Usaha
Masyarakat Khususnya UMKM
Kemitraan Usaha Koperasi dan UMKM
6. Dinas
Pendidikan
Nasional
Meningkatkan upaya
Pemerataan Pendidikan
Peningkatan Kualitas Pendidikan
7. Dinas
Kesehatan
Meningkatkan Derajat
Kesehatan
Peningkatan Pelayanan Kesehatan
49 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 5.3. Unsur Swasta
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. BPR Panca Arta Monjali Penyediaan Dana Murah Pengelolaan Dana untuk UKM
2. BKPK DIY Promosi Kesehatan Koordinasikan Promosi Kesehatan
3. PT Kepurun Meningkatkan
Penghasilan Petani
Peningkatan Usaha Tani Non Padi
4. PT. Prambanan Boko Meningkatkan
Penghasilan Pengrajin
Cindera mata
Membina Pengrajin Cindera Mata Berbasis
Usaha pariwisata
Tabel 5.4. Unsur Masyarakat
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Yayasan PATRA-PALA Meningkatkan Sumberdaya
Kepariwisataan
Inventarisasi dan Klasifikasi
Usaha Jasa Pariwisata Berbasis
Masyarakat
Pengembangan Obyek dan
daya Tarik Wisata Berbasis
Masyarakat
Pengembangan Pariwisata
yang Bertumpu pada
Pemberdayaan Masyarakat
serta Kemitraan Usaha dengan
tetap memliharan nilai-nilai
budaya bangsa dan agama
serta Kelestarian Lingkungan
Peningkatan dan
Pengembangan Sarana
dan Prasarana Pariwisata
Berbasis Masyarakat lewat (a).
Pemeliharaan/ Penataan Sarana
dan Prasaran Obyek Wisata, (b).
Peningkatan/ Pembangunan
Sarana dan Prasarana Obyek
Wisata (c). Penyusunan
Identifikasi Kebutuhan
Prasarana Pendukung bagi
Pemngembangan ODTW
dan Jaringan Wisata, (d).
Penyusunan Rencana Induk
Pengembangan Kawasan/
Karidor Wisata Berbasis
Masyarakat.
2. Yayasan SHOREA Pembuatan Pembibitan
Mengembangkan Hasil Hutan
Non-Kayu
3. Yayasan Forum Studi
Transformasi (FOSTA)
Penyediaan Dana Pinjaman Pengelolaan dana Bergulir
Pendampingan Usaha Keluarga
Pembinaan Ekonomi Rumah
Tangga
4. Yayasan Mitra Mandiri Peningkatan Penghasilan
Masyarakat (Income
Generating)
Pengembangan Usaha Kecil &
Koperasi
Peningkatan Penghasilan
Keluarga Binaan
Pengembangan Koperasi
Kredit
50 SPKD Kabupaten Sleman
5 Yayasan Dian Desa Menyediakan Block Dana
untuk pinjaman usaha kecil &
menengah
Pengelolaan Pinjaman Dana
Bergulir untuk usaha rumah
tangga
Meningkatkan Pendapatan
Sampingan bagi Masyarakat
Miskin
Usaha Agri Bisnis (Jamur,
Anggrek, Rempon-rempon)
dengan Pemanfaatan Lahan
Pekarangan
Mengelola Sampah Rumah
Tangga Berbasis Kelompok
Masyarakat
Peningkatan Pendapatan
melalui Swadaya Pengelolaan
Sampah
Membuka Usaha Kerajinan
Menengah dan Kecil
Peningkatan Jaringan
Pemasaran Kerajinan Tangan
berbahan baku kayu,
kepompong liar dan kulir pari
6. Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Pendapatan
Keluarga bertumpu pada
Usaha Kelompok.
Pembinaan Usaha
Kelompok.(khususnya bagi Ibu
Rumah Tangga)
Pelayanan Pengembangan
Usaha (Bussines Development
Services).
7 Yayasan GAIA Life Skill Pendampingan Pemuda Untuk
Kegiatan Produktif
8. Instiper Peningkatan Usaha Kecil Pengembangan Industri Kecil
Jamur dan Nata De Coco
9. Yayasan Kutilang Indonesia Penyelamatan Burung Promosi Hobi Birdwatching
Inventarisasi Kawasan Penting
untuk Birdwacting
Pengembangan Usaha
Pembibitan Pohon
Penanaman Pohon yang
digemari Burung
10. Lembaga Study Kesehatan
(LESSAN)
Pengembangan Pengobatan
Alternatif
Mengembangkan Pengobatan
Tradisional
11. Universitas Islam Indonesia
(UII)
Meningkatkan Peran Lembaga
Keuangan Umat
Mendorong Pendirian Bank
Muamalat
12 Forum Komunikasi Badan
Keswasdayaan Masyarakat (FK
BKM)
Menyediakan dana untuk
pinjaman usaha kecil
Pengelolaan dana bergulir
untuk usaha kecil dan
menengah
Meningkatkan penghasilan
masyarakat
Pengembangan kelompok
usaha bersama
Membuka Peluang usaha bagi
generasi muda
Pelatihan Motivasi
kewirausahaan
Penumbuhan kerjasama antar
BKM se Kabupaten Sleman
51 SPKD Kabupaten Sleman
5.6. Kebijakan dan Program Pemberdayaan Masyarakat
Kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk
membuat masyarakat, khususnya kaum miskin, mendapatkan kemampuan
untuk melakukan aktivitas sesuai kehendaknya dalam upaya mengentaskan diri
dari kemiskinan. Bentuknya antara lain berupa kemampuan membangun usaha
yang mandiri, mempu memperjuangkan hak-haknya (semisal buruh), mampu
menyelesaikan persoalan yang dihadapi, dan lain-lain. Sumbangan tiap-tiap
unsur pelaku penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut:
Tabel 5.5. Unsur Pemerintah Daerah
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Dinas Tenaga Kerja, Sosial,
Transmigrasi dan Keluarga
Berencana
Mengembangkan kopensi dan
Profesionalisme Tenaga Kerja
Meningkatkan kualitas Tenaga
Kerja dengan pendayagunaan
tenaga kerja
Meningkatkan Partisipasi Sosial
Masyarakat
Memberdayakan Potensi dan
Pengembangan Kesejahteraan
Sosial
Meningkatkan Pembinaan
Ketahanan Keluarga
Memberdayakan Fungsi Keluarga
Meningkatkan dan menumbuh-
kembangkan minta
bertransmigrasi
Peningkatan Kemampuan
Petugas Ketransmigrasian,
Penyuluh, Pendaftar dan Seleksi
Calon Transmigran
Meningkatkan Srana & Prasarana
Bertransmigrasi
Peningkatan Sarana & Prasarana
Transmigrasi
Kerjasama Mitra makarya
Muktitama
2 Dinas P3BA Melindungi Korban Bencana Alam Bantuan Korban Akibat Bencana
3 Dinas pertanian &
Kehutanan
Meningkat Usaha Tani Non Padi Penguatan Modal Usaha Tani
Sayuran
4 Dinas Kimpraswilhub Pemberdayaan masyarakat Pengembangan Perumahan dan
Permukiman
Pembangunan Lingkungan
Perumahan
Meningkatkan Pembangunan
Sarana dan Prasarana
Perhubungan
Peningkatan dan Pemeliharaan
Kwalitas Jalan dan Jembatan
52 SPKD Kabupaten Sleman
5 Bagian Perekonomian
Setda
Mewujudkan Sistem Ketahana
Pangan yang berbasis
pada Sumberdaya Pangan,
Kelembagaan dan Budaya Pangan
Lokal
Peningkatan Ketahanan Pangan
Mengurangi Beban Pengeluaran
Masyarakat Miskin
Penanggulangan Kemiskinan
melalui Pendampingan
Disteribusi Beras Miskin
Meningkatkan Kualitas Sarana dan
Prasarana Ekonomi
Pengkoordinasian Kegiatan
Bidang Perekonomian
6. Dinas Pendidikan Nasional Memeratakan Pendidikan Pra
Sekolah, SD, Menengah dan PLS
Pemerataan Pendidikan
Meningkatkan Kualitas Sarana dan
Prasarana Pendidikan
Peningkatan Kualitas Sarana dan
Prasarana Pendidikan
Tabel 5.6. Unsur Swasta
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1 AKPPI Cab. DIY Memperluas Jaringan Kerja
Pembangunan Perumahan dan
Permukiman
Mendampingi Masyarakat Miskin
dalam mengakses Sumberdaya
Kunci Perumahan dan
Permukiman
2 PT Astra Honda
Internasional
Menyisihkan Sebagian
Keuntungan Perusahaan
Pemberian Santunan Beasiswa
3. BPE Panca Arta Monjali Penguatan Pemanfaatan dana Pendampingan Lapangan
4. BKPK DIY Promosi Kesehatan Promosi Kesehatan Terpadu
53 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 5.7. Unsur Masyarakat
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1 Yayasan PATRA-PALA Peningkatan promosi dan
Pemasaran Produk Wisata
Berbasis Masyarakat
Pengiriman Duta Seni ke
Berbagai Event
Pembuatan Film Pariwisata
Dokumenter Pesona Wisata
SEMBADA
Penyusunan Buku
Kepariwisataan dan Pembuatan
Paket Wisata Berbasis
Masyarakat
Kemitraan Usaha Pariwisata
Berbasis Masyarakat
Pelaksanaan Event-event
Kepariwisataan Berbasis
Masyarakat
Pemilihan Duta Wisata
SEMBADA
Pelatihan Usaha Jasa Pariwisata
Bertumpu pada Masyarakat
Peningkatan Peran dan fungsi
Anggota HPI, PHRI, ASITA dalam
pengembangan pariwisata
berbasis Masyarakat
2 Yayasan SHOREA Mengelola Hutan rakyat
dengan Manajemen Kelompok
Peningkat Kapasitas Masyarakat
untuk Mengelola Hutan
3. Yayasan Mitra Mandiri Pendampingan Desa Binaan Pembinaan Kegiatan Ekonomi
Keluarga
Kemandirian Ekonomi Rakyat
Miskin
Peningkatan Ketrampilan
Kewirausahaan
4 Yayasan Dian Desa Peningkatan pemasaran
Kerajinan tangan
Membentuk Jaringan Kerja
Pasar Kerajinan Tangan
Pengembangan TTG Bidang
Pertanian (Perontok Padi &
Pemipil Jagung).
Penelitian dan Pengembangan
Tungku Hemat Energi & TTG
untuk peningkatan penghasilan
keluarga.
Meningkatkan Keberdayaan
Masyarakat melalui
Pendampingan
Penghematan Kayu Bakar
Survey pasar dan
Pengembangan Desain/Model
Memberi Dana Talangan untuk
usaha kerajinan rumah tangga
54 SPKD Kabupaten Sleman
5 Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Keberdayaan
Masyarakat melalui
Pendampingan
Penguatan Kelompok Swadaya
Masyarakat (KSM)
Mempercepat Perbaikan
Rumah Sehat
Membentuk Jaringan Kerja
Pembangunan Perumahan &
permukiman
Pengelolaan Dana Mikro untuk
Perbaikan Rumah
6 Yayasan GAIA Life Skill Pemberdayaan Organisasi
Masyarakat
7. UPN ”Veteran” Penguatan Pemberdayaan
Masyarakat
Desa Binaan
Stimulan Pengabdian Oleh
Dosen
KKN Tematik
8. INSTIPER Peningkatan Keberdayaan
masyarakat
Pemberdayaan Kelompok Tani
9. Yayasan Kutilang Indonesia Penyelamatan Satwa Pengelolaan Habitat Satwa liar
di sekitar Permukiman
Penyelesaian Konflik antar stwa
liar dengan masyarakat
10. LESSAN Pemanfaatan Lahan
Pekarangan
Gerakan Advokasi Perlindungan
Tanaman Obat
11. UII Desa Binaan KKN Mandiri
12. FK BKM Peningkatan Keberdayaan
masyarakat untuk
mengembangkan potensi Lokal
Penguatan Kelembagaan
Kelompok usaha kecil
Pembinaan kegiatan ekonomi
rumah tangga
Perubahan sikap mental dan
perilaku masyarakat terutama
masyarakat miskin
Pendampingan manajemen
usaha kecil
Pendampingan menejemen
ekonomi rumah tangga
5.7. Kebijakan dan Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia
Kebijakan dan program peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dimaksudkan
untuk memperbesar kemampuan masyarakat, khususnya masyarakat miskin,
dalam menangani persoalan-perosalan yang dihadapinya. Di samping itu
kebijakan dan program tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas
sumberdaya manusia, khususnya kaum miskin, agar dapat mengentaskan diri
mereka dari kemiskinan. Bentuknya antara lain berupa ketrampilan, pengetahuan,
wawasan, dan sebagainya. Sumbangan tiap-tiap unsur pelaku penanggulangan
kemiskinan adalah sebagai berikut:
55 SPKD Kabupaten Sleman
Tabel 5.8. Unsur Pemerintah daerah
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Dinas Tenaga Kerja, Sosial,
Transmigrasi dan Keluarga
Berencana
Meningkatkan Kualitas hidup
Keluarga miskin
Penanggulangan Kemiskinan
Meningkatkan Kualitas
Keluarga dan Pelayanan KB
Meningkatkan Kesejahteraan
dan Perlindungan Anak
Melaksanakan Program
Keluarga Berencana
Meningkatkan Peran dan
Perlindungan Perempuan
Meningkatkan kualitas data
dan informasi Program KB
Menyelenggarakan
Pendaftaran Penduduk dan
Pendataan Keluarga Miskin
Meningkatkan Pembinaan
Ketahanan Keluarga
Peningkatan Pemberdayaan
Keluarga
Meningkatkan Kualitas
Pelayanan KB, Kesehatan
Reproduksi dan Jaminan
Perlindungan Pemakaian
Konstrasepsi
Peningkatan Kualitas Pelayanan
KB dan Kesehatan Reproduksi
Peningkatan Pengayoman
Peserta KB, Perlindungan Hak
dan Pengetahuan Kesehatan
Reproduksi Remaja
Meningkatkan Penyusunan
Data dan Informasi Program KB
Peningkatan Kualitas
Pencatatan, Pelaporan,
Pengolahan dan Analisis data
2. Dinas Pertanian & Kehutanan Meningkatkan Kualitas Petani Menyelenggarakan Kursus,
Latihan dan Magang bagi
Petani Agri Bisnis
3. Dinas P2KPM Meningkatkan Kemampuan
SDM Bidang Koperasi dan UKM
Peningkatan Kualitas
Kelembagaan Koperasi
Peningkatan Kualitas Pelayanan
Publik
Pemanfaatan Kualitas Data
Penguatan Modal Koperasi dan
UKM
Pengembangan Kemitraan
4. Dinas Kesehatan Peningkatan Kualitas SDM,
Lingkungan, Prasarana dan
Sarana Hidup Sehat
Upaya Kesehatan
Perbaikan Gizi
Peningkatan Pemahaman dan
Penerapan Perilaku Hidup
Sehat
5. Dinas Peternakan Meningkatkan Kwalitas SDM
Bidang Tanaman Pangan dan
Peternakan
Peningkatan Kwalitas SDM
56 SPKD Kabupaten Sleman
6. Dinas Kimpraswil Hub Meningkatkan Peranserta
Masyarakat dalam
Pembangunan Bidang
Pekerjaan Umum
Peningkatan Peranserta
Masyarakat dalam
Pembangunan Bidang PU
Tabel 5.9. Unsur Swasta
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. AKPPI Cab. DIY Meningkatkan Kapasitas
Pendamping Masyarakat
Pelatihan untuk Pendamping
Masyarakat (Pelatihan untuk
Pelatih
Memperbanyak Jumlah
Pendamping Masyarakat
Pendampingan Masyarakat
untuk Pemetaan Swadaya
2. Bank Rakyat Indonesia
Cabang Sleman
Meningkatkan Efektifitas Pelayanan
Dana Mikro KBP
Pelatihan Pengelolaan Dana
Mikro
3. BKPK DIY Promosi Kesehatan Monitoring dan Evaluasi
Promkes
4. PT Kepurun Mengoptimalkan Lahan Pertanian Pembinaan Petani Muda
berbasis Agro Bisnis
Tabel 5.10. Unsur Masyarakat
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Yayasan PATRA-PALA Peningkatan Sumberdaya Manusia
Pariwisata Berbasis Masyarakat
Pendampingan, Penyuluhan
dan Pelatihan Kepariwisataan
Masyarakat sekitar Obyek
Wisata secara terintegritas
Pemagangan Masyarakat
ke tempat-tempat Potensi
pariwisata
Pengembangan Masyarakat
menuju multiplier effect
Mobilisasi dan Perpaduan
Sumberdaya melalui
Mekanisme Usaha Pariwisata
Tourism Impact Management
2 Yayasan SHOREA Pengembangan Kemampuan
Masyarakat
Pelatihan Organisasi
Pelatihan Pembuatan Kompos
Belajar Antar Petani
3. Yayasan Mitra Mandiri Perubahan Sikap Mental & Perilaku Pelatihan Menggali Potensi
Positif
Pemberdayaan Keluarga Binaan
dalam Mengelola Usaha Kecil
sesuai Bakat Alam (Talenta)
Pendampingan Intensif Desa
Binaan
57 SPKD Kabupaten Sleman
4 Yayasan Dian Desa Pengembangan Jasa berbasis Eko
Wisata
Pelatihan Bagi Pemandu untuk
tracking dan wisata alam
Meningkatkan Kapasitas
Pendamping Masyarakat
Pelatihan untuk Pendamping
Masyarakat (Pelatihan untuk
Pelatih)
Memperbanyak Jumlah
Pendamping Masyarakat
Penerimaan Magang untuk
Kerajinan Tangan dan
Penguasaan TTG Pengolahan
Limbah Cair
5. Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Kapasitas
Pendamping Masyarakat
Pelatihan untuk Pendamping
Masyarakat (Pelatihan untuk
Pelatih)
Memperbanyak Jumlah
Pendamping Masyarakat
Pendampingan Masyarakat
untuk Perencanaan Partisipatif
6. Yayasan GAIA Life Skill Training Kewirausahaan, Home
industry
7. UPN ”Veteran” Pendampingan KKN Pelatihan Kewirausahaan
Teknologi Tepat Guna
8. INSTIPER Penigkatan kapasitas Masyarakat Pelatihan Agroindustri di
pedesaan
Pelatihan Pemanfaatan Limbah
Pertanian
9. UNWAMA Pendampingan KKN Tematik Pelatihan untuk Tenaga
Pendamping Masyarakat
Penyediaan Tenaga Peneliti
Lapangan
10. UII Pendampingan KKN Pembangunan Bank Muamalat
11. Yayasan Kutilang Indonesia Pelatihan kepemanduan Wisata
Pengamat Burung
Pendampingan
12. LESSAN Pendidikan dan Pelatihan bagi
Masyarakat
Pelatihan dg Pemagangan
(learning by doing)
13. Yayasan Ghifari Pemerataan Pendidikan Anak yatim
dan terlantar
Pendidikan dan pelatihan bagi
anak yatim dan terlantar
14. FK BKM Pemerataan kesempatan
pendidikan
Basiswa
Perlindungan Keluarga Miskin Santunan warga miskin
Santunan Kesehatan untuk
warga miskin
15. PD Muhammadiyah
Cabang Sleman
Pembinaan Keluarga terutama
Perempuan danAnak
Melatih Anak Yatim untuk usaha
produktif
16. Fatayat NU Sleman Pembinaan dan Pelatihan
Perempuan
Meningkatkan Penghasilan
Perempuan lewat usaha
keluarga
58 SPKD Kabupaten Sleman
5.8. Kebijakan dan Program Perlindungan Sosial
Kebijakan dan program perlindungan sosial dimaksudkan untuk menjaga
kaum miskin dan kaum lemah pada umumnya dari dampak buruk kapitalisme,
liberalisme dan egoisme kehidupan. Kebijakan dan program tersebut dapat
berupa pertolongan sementara kepada kaum miskin agar mereka dapat tetap
bertahan hidup. Bentuk lainnya adalah pemberian berbagai jaminan dan
penetapan aturan yang memihak kepada mereka. Sumbangan tiap-tiap unsur
pelaku penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut:
Tabel 5.11. Unsur Pemerintah Daerah
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. Dinas Tenaga Kerja,
Sosial, Transmigrasi
dan Keluarga
Berencana
Mengembangkan kompetensi dan
Profesionalisme Tenaga Kerja
Meningkatkan Perlindungan dan
Kesejahteraan Tenaga Kerja
Mengembangkan koordinasi dan
Jalinan kerja dengan Perusahaan dan
Lembaga Terkait
Meningkatkan Pembinaan
Hubungan Industrial dan
Perlindungan Tenaga Kerja
Menetapkan Standard Pelayanan
Minimal Penanganan PMKS,
meningkatkan sarana dan
prasarana Pelayanan PMKS dan
Menyelenggarakan Bimbingan Teknis
Pekerjaan Sosial
Meningkatkan jaminan
Kesejahteraan Sosial
Rehabilitasi dan Perlindungan
Sosial
Peningkatan Sarana & Prasarana
Pelayanan PMKS
Profesi Pekerja Sosial
Meningkatkan Partisipasi Sosial
Masyarakat
Peletakan dasar Kesetiakawanan
Sosial Masyarakat
Pembangunan Kesejahteraan
Sosial Berbasis Masyarakat
Mengembangkan Kegiatan USEP Kemitraan Relawan Sosial
Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga
Miskin
Penanggulangan Keluarga Miskin
Mengintensifkan Bimbingan Sosial,
Mental dan Ketrampilan bagi
Penyandang Masalah Ketunaan,
keterlantaran dan perilaku
menyimpang
Perlindungan Penyandang Cacat
Pendampingan Korban Kekerasan,
Ketunaan, Keterlantaran dan
Perilaku Menyimpang
Penyantunan Penyandang
Ketunaan, Keterlantaran dan
Perilaku Menyimpang
Membangun Fasilitas pelayanan
korban bencana dan kedaruratan
Pelayanan Bantuan Korban
Bencana dan Kedaruratan
Meningkatkan Sosialisasi dan Motivasi
Masalah Bencana
Sosialisasi dan Motivasi Masalah
Bencana
59 SPKD Kabupaten Sleman
2. Dinas P3BA Melindungi Masyarakat dari Ancaman
Bencana Alam
Penanggulangan Bencana
Kekeringan
Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT)
untuk Supply Air Pengairan
Rehabilitasi Bangunan Air Paska
Bencana
Penanganan Tanggap Darurat
Paska Bencana
3. Dinas Pertanian &
Kehutanan
Melindungi Ketersediaan Prasaran
Usaha Tani
Monitoring Peredaran &
Ketersediaan Pupuk dan Pestisida
Tabel 5.12. Unsur Swasta
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1. AKPPI Cab. DIY Meningkatkan Peranserta
Masyarakat dalam Penyehatan
Lingkungan Permukiman
Mendampingi Perbaikan
Rumah Bagi Keluarga Miskin
2. PT Kepurun Menjalin Kerjasama Kemitraan
Agro Industri
Pemasaran Bersama Hasil
Pertanian Agro Industri
3. PT Candi Prambanan Boko Membina Pengrajin Cindera
Mata
Penataan Pedagang Asongan Di
Lokasi Wisata
4. PT. Honda Internasional TBK Membina Tenaga Kerja berbasis
K3
Memberi Jaminan Keselamatan
Kesehatan Kerja
Tabel 5.13. Unsur Masyarakat
No Nama Lembaga Kebijakan Program
1 Yayasan PATRA-PALA Penggalian Sumber PAD sector
pariwisata berbasis Masyarakat
Identifikasi peningkatan
Pendapatan pariwisata berbasis
Masyarakat
Penyusunan Modul/buku
Peningkatan Pendapatan
pariwisata berbasis masyarakat
Pengembangan Produk melalui
modul/buku hasil identifikasi
2 Yayasan SHOREA Advokasi Pengelolaan Hutan
Berbasis Masyarakat
Pendampingan Masyarakat
3. Yayasan Mitra Mandiri Memfasilitasi anggota Kop
Dit untuk terdaftar sebagai
anggota DAPERMA
Memberdayakan anggota
Kopdit
Peningkatan Solidaritas &
Kepedulian antar sesama
pelaku ekonomi terhadap
rakyat miskin
Menghimpun dana
Perlindungan Bersama
(DAPERMA)
60 SPKD Kabupaten Sleman
4 Yayasan Dian Desa Meningkatkan Peranserta
Masyarakat dalam penyediaan
air bersih dan sanitasi
Penyediaan Air Bersih dan
Jamban Keluarga untuk
masyarakat berpenghasilan
rendah (Water Supply &
Sanitation for Low Income
Community /WSS LIC)
Pengolahan Limbah Rumah
Tangga & Industri Kecil
Pengembangan TTG
Pengolahan Limbah Cair
5 Yayasan Griya Mandiri Meningkatkan Peranserta
Masyarakat dalam Penyehatan
Lingkungan Permukiman
Perbaikan Rumah Bagi Keluarga
Miskin
Penyediaan Air bersih
Promosi Kesehatan
Dapur Sehat
6. Yayasan GAIA Pemerataan Pendidikan dan
Perlindungan
Ayo Sekolah (Bantuan bagi anak
tak mampu)
Mobil Klinik untuk Pelayanan
Kesehatan dasar bagi anak-anak
jalanan dan urban poor
Promosi Kesehatan
7. Yayasan Kutilang Indonesia Advokasi Penerapan pajak
progresif bagi upaya konservasi
satwa liar
Kampanye Dampak Kesehatan
bagi Pemeliharaan Satwa Liar
8. LESSAN Adanya Legal Drafting
Participatory Public
5.9. Peran Pengurus KPKD
Pengurus KPKD bertugas membangun kemitraan antar-unsur pelaku
penanggulangan kemiskinan. Kemitraan antar-unsur dalam penanggulangan
kemiskinan dimaksudkan untuk membangun kesadaran dan sikap baru
dalam memandang masalah-masalah kemiskinan. Kemitraan diawali dengan
kesadaran bahwa penanggulangan kemiskinan tidak akan efektif dan efisien jika
hanya dikelola secara sendiri atau secara sektoral. Oleh karena itu diperlukan
kerjasama yang harmonis antar pihak dalam mensinergikan kegiatan secara
terpadu. Harmoni dapat tercipta apabila semua pihak bersedia saling belajar,
bekerjasama, memahami perbedaan dan saling percaya. Dengan demikian akan
terwujud suatu kemitraan yang setara, yang mengedepankan prinsip-prinsip
keadilan sosial, transparansi, partisipatif dan akuntabel.
Di samping itu, pengurus KPKD bertugas mengatasi persoalan-persoalan seperti:
(a) Belum memadainya jaringan kerjasama antara pemerintah, swasta dan
61 SPKD Kabupaten Sleman
masyarakat. (b) Terbatasnya kapasitas pemerintah dalam mobilisasi sumberdaya.
(c) Terbatasnya kemampuan masyarakat dalam menggali dan memanfaatkan
sumberdaya lokal. (d) Lemahnya jaringan kelembagaan dalam upaya akselerasi
pengembangan masyarakat pada tingkat lokal.
62 SPKD Kabupaten Sleman
63 SPKD Kabupaten Sleman
BAB VI
SISTEM PEMANTAUAN DAN PENILAIAN
Sistem pemantauan dan penilaian (monitoring and evaluation system) dalam
program penanggulangan kemiskinan tidak lain merupakan kesepakatan
bersama untuk saling terbuka dan bersedia menerima masukan dari segenap
pemangku kepentingan (stakeholders). Hal ini karena: (a) Upaya penanggulangan
kemiskinan tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah saja, melainkan harus
melibatkan semua pemangku kepentingan. (b) Karena melibatkan banyak pihak
maka harus partisipatif. Untuk benar-benar partisipatif diperlukan transparansi.
(c) Meskipun semua pihak telah mengambil peran dalam penanggulangan
kemiskinan, mereka seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dalam
satu koordinasi. Koordinasi dapat dicapai antara lain melalui pemantauan dan
keterbukaan semua pelaku.
6.1. Pemantauan
Untuk mencapai maksud di atas, pemantauan kegiatan penanggulangan
kemiskinan di Kabupaten Sleman dilakukan dengan metode sebagai berikut.
6.1.1. Pelaku
Pelaku pengawasan adalah semua pemangku kepentingan (stakeholders)
dalam penanggulangan kemiskinan. Dengan kata lain, semua pelaku kegiatan
penanggulangan kemiskinan adalah pemantau bagi dirinya sendiri dan bagi
pelaku lain. Dengan demikian maka prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas,
dan partisipatif dapat diwujudkan.
6.1.2. Obyek
Obyek yang dipantau adalah semua kegiatan penanggulangan kemiskinan
di Kabupaten Sleman. Dari segi tahapan, pemantauan dilakukan mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan. Dari sisi unsur pelaku, pemantauan
dilakukan terhadap kegiatan unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat. Sedang
dari segi kewilayahan, pemantauan dilakukan mulai dari tingkat dusun hingga
tingkat kabupaten.
6.1.3. Sarana
Sarana pemantuan kegiatan penanggulangan kemiskinan adalah sarana yang
dimiliki dan dioperasikan oleh masing-masing pelaku. Maksudnya, selaras
dengan semangat kerelawanan dan partisipatori maka masing-masing pelaku
pemantuan diharapkan menggunakan alat-alat mereka sendiri.
64 SPKD Kabupaten Sleman
6.1.4. Metode
Metode pemantuan, yaitu cara memantau kegiatan penanggulangan kemiskinan,
ditentukan oleh masing-masing pemantau sesuai dengan mekanisme kerja
lembaga pemantau tersebut. Misalnya kalangan jurnalis menggunakan metode
atau kaidah jurnalistik, kalangan perguruan tinggi menggunakan metode
penelitian, pihak pemerintah menggunakan mekanisme pelaporan, dan
seterusnya.
6.1.5. Pelaporan
Hasil pemantuan secara formal dilaporan pada pertemuan rutin pengurus
KPKD atau pada forum lintas pelaku, yakni dalam acara Musyawarah Lintas
Pelaku (MLP). Sedang secara informal dapat disampaikan langsung kepada
masing-masing pelaku atau disampaikan dalam kelompok diskusi (Focus Group
Discussion; FGD).
6.2. Penilaian
Penilaian ditujukan untuk mengetahui apakah program penanggulangan
kemiskinan mencapai sasaran yang diharapkan. Penilaian dapat dilakukan sejak
perencanaan, persiapan, pelaksanaan, hingga hasilnya. Sekalipun demikian,
secara umum dapat dikatakan bahwa penilaian terutama menekankan pada
aspek hasil. Oleh karena itu kegiatan penilaian baru dapat dilakukan jika program
penanggulangan kemiskinan sudah berjalan dalam kurun waktu tertentu.
Kata “hasil” mencakup setidaknya tiga pengertian, yaitu keluaran (output), hasil
(outcome), dan dampak (impact). Terkait dengan SPKD ini yang dimaksud
keluaran mencakup rumusan kebijakan dan program yang dimaksudkan untuk
menanggulangi kemiskinan atau mengarus-utamakan kemiskinan. Rumusan
kebijakan dan program tersebut berasal dari pemerintah, swasta, maupun
masyarakat. Tolok ukurnya adalah: perluasan kesempatan, pemberdayaan
masyarakat, peningkatan kapasitas dan SDM, serta perlindungan sosial. Dengan
kata lain setiap rumusan kebijakan dan program dinilai kesesuaiannya dengan
salah satu dari empat tolok ukur tersebut.
Yang dimaksud dengan hasil (outcome) dalam SPKD ini adalah membaiknya
kondisi sebagai akibat langsung dari kebijakan dan program yang dikeluarkan.
Oleh karena itu yang dinilai adalah: apakah terdapat perluasan kesempatan,
apakah masyarakat semakin berdaya, apakah terdapat peningkatan kapasitas
dan SDM, dan apakah terdapat perlindungan sosial.
Adapun yang dimaksud dengan dampak (impact) dalam SPKD ini adalah
dampak positif, yaitu perbaikan keadaan, setelah terwujud hasil seperti tersebut
65 SPKD Kabupaten Sleman
di atas. Dengan demikian yang dinilai adalah: apakah terjadi pengurangan
jumlah keluarga miskin dan apakah terdapat peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Salah satu tolok ukur yang bisa digunakan dalam hal ini adalah
indeks pembangunan manusia (Human Development Index; HDI).
Secara ringkas metode penilaian seperti diuraikan di atas dapat dilihat pada
matrik di bawah ini.
Tabel 6.1. Matriks Metode Penilaian Kegiatan Pronangkis
Hasil Tolok Ukur Keluaran (Output) Hasil (Outcomes) Dampak (Impact)
Perluasan Kesempatan Terumuskannya
kebijakan dan program
perluasan kesempatan
pada setiap pelaku
Pronangkis
Kesempatan semakin
luas
1.Jumlah keluarga
miskin berkurang.
2.Indeks Pembangunan
Manusia (IPM (HDI)
meningkat
Pemberdayaan
Masyarakat
Terumuskannya
kebijakan dan program
pemberdayaan
masyarakat pada setiap
pelaku Pronangkis
Masyarakat semakin
berdaya
Peningkatan Kapasitas
SDM
Terumuskannya
kebijakan dan program
peningkatan kapasitas
SDM pada seatiap
pelaku Pronangkis
Kapasitas SDM
meningkat
Perlindungan Sosial Terumuskannya
kebijakan dan program
perlindungan sosial
pada setiap pelaku
Pronangkis
Masyarakat terlindungi
6.3. Peran Pengurus KPKD
Peran pengurus KPKD dalam pemantuan dan penilaian kegiatan penanggulangan
kemiskinan secara umum adalah sebagai fasilitator, mediator, dan pemberi
rekomendasi.
6.3.1. Sebagai fasilitator, pengurus KPKD menyediakan data dan informasi
kegiatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh setiap
pemangku kepentingan sehingga dapat membukakan jalan bagi siapa
saja yang hendak melakukan pemantauan.
6.3.2. Sebagai mediator, pengurus KPKD dapat meneruskan temuan, masu-
kan, dan saran yang disampaikan oleh pemantau kepada pelaku terkait.
Pengurus KPKD juga dapat mempertemukan pemantau dengan pelaku
66 SPKD Kabupaten Sleman
penanggulangan kemiskinan untuk permintaan informasi lebih lanjut,
konfirmasi, diskusi, kerjasama, dan sejenisnya.
6.3.3. Sebagai pemberi rekomendasi, Pengurus KPKD dapat memberi saran
dan masukan kepada semua pelaku terkait dengan tindak lanjut penang-
gulangan kemiskinan.
Untuk mengoptimalkan peran tersebut masing-masing pengurus KPKD
dapat melakukan koordinasi dengan komunitas yang diwakilinya. Ada-
pun kegiatan yang dapat dilakukan pengurus KPKD antara lain meli-
puti:
1. Penyajian kegiatan penanggulangan kemiskinan melalui situs inter-
net.
2. Dialog dan diskusi insidental antara Pengurus KPKD dengan para
pelaku atau pemangku kepentingan.
3. Sosialisasi melalui media massa.
67 SPKD Kabupaten Sleman
BAB VII
PENUTUP
Pemerintah Pusat telah mencanangkan penanggulangan kemiskinan merupakan
prioritas utama seperti tertuang didalam UU 25/2000 tentang PROPENAS,
Oleh karena itu Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah daerah Kabupaten
Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta menindaklanjuti program tersebut dengan
menyusun Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD).
SPKD berisi : (1) Uraian tentang strategi penanggulangan kemiskinan jangka
Panjang yang bersifat holistic dan terintegrasi di semua sektor, (2) Upaya sinkronisasi
kebijakan-kebijakan daerah dalam penanggulangan kemiskinan baik secara
makro-mikro dan strategis, (3) Proses penyaringan stategi terpilih berdasarkan
kemampuan dan kompetensi daerah dalam tindak penanggulangan kemiskinan
oleh Komite Penangggulangan Kemiskinan Daerah (KPKD) Kabupaten Sleman,
(4) Proses penyusunan SPKD melalui Musyawarah Lintas Pelaku (MLP) yang
dilakukan beberapa tahap bersama stakeholders Kabupaten Sleman melalui
prinsip partisipatif, transparan dan dapat dipertanggunggugatkan.
Langkah kebijakan yang digunakan untuk Penanggulangan Kemiskinan Daerah
berasaskan pada: (1) Menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha
bagi masyarakat miskin, (2) Memberdayakan masyarakat miskin agar mampu
dan mau mengakses informasi, perekonomian, sosial dan politik , serta dapat
menyampaikan aspirasi dan kebutuhannya, (3) Meningkatkan kapasitas atau
kemampuan masyarakat miskin agar bekerja dan berusaha produktif, dan (4)
Memberikan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.
Untuk mensinergikan ragam kebijakan, program atau aturan terhadap 4 asas
tersebut, maka dibutuhkan mainstreaming penanggulangan kemiskinan secara
konstruktif dan berkelanjutan.
Strategi penanggulangan kemiskinan yang menyeluruh sangat penting maknanya
bagi kabupaten Sleman. Strategi tersebut akan menjadi arahan bagi seluruh
pelaku pembangunan di kabupaten Sleman baik masyarakat luas, swasta dan
pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam upaya menanggulangi
kemiskinan secara sistematik dan konsisten dalam jangka panjang.
Strategi Penanggulanagn Kemiskinan Daerah merupakan sebuah kebutuhan
sesuai dengan kondisi spesifik daerah Sleman dan semua pelaku diharapkan
menyepakati dan mematuhi. Sinergitas program dan kegiatan dalam
penanggulangan kemiskinan terus dijalin dan ditingkatkan melalui koordinasi
intensif. Koordinasi antar stakeholders dalam penanggulangan kemiskinan juga
perlu dijalin dan ditingkatkan melalui forum komunikasi dan jaringan kerja.
68 SPKD Kabupaten Sleman
Permasalahan kemiskinan merupakan persoalan holistik yang harus menjadi
tanggung jawab semua pihak.
Upaya penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk mendidik masyarakat
miskin untuk terus menerus menemukenali potensi yang dimiliki baik individu,
keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. Material, sumberdaya dan
ketrampilan selalu diarahkan sebagai modal dasar untuk kesejahteraan hidup.
Oleh karena itu didorong tumbuhnya rasa percaya diri akan kemampuannya
untuk lepas dari belenggu kemiskinan. Dengan demikian akan tumbuh kesadaran
bahwa tidak akan ada individu, kelompok yang dapat keluar dari belenggu
kemiskinan selain atas usaha individu, keluarga dan lingkungan itu sendiri.
Dengan demikian, diharapkan SPKD ini dapat menjadi acuan awal sebuah
sistem penanggulangan kemiskinan jangka menengah hingga jangka panjang
yang efektif dan efisien bagi seluruh pelaku pembangunan di Kabupaten Sleman.
Semua stakeholders baik perangkat daerah, sektor bisnis, LSM, organisasi profesi,
perguruan tinggi, media massa, orsospol, dan komponen lainnya perlu bersama-
sama bertekat untuk menanggulangi kemiskinan dalam sebuah sistem yang
terpadu dan konsisten dalam jangka panjang.
6
9
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
LAMPIRAN 1
Rekapitulasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman 2004
No Bidang
Berdasar AKU 2004 Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Kebijakan Program Kegiatan Kebijakan Program
Kegiatan
Tdk Langsung Langsung
1 Bidang Umum Pemerintahan 12 90 384 8 36 65 33
2 Pertanian 5 7 52 5 7 13 1
3 Perikanan 4 6 14 2 2 4 2
4 Pertambangan dan Energi 4 6 15 4 5 5 2
5 Kehutanan dan Perkebunan 7 8 35 6 6 6 4
6 Perindustrian & Perdagangan 6 16 62 4 10 13 15
7 Perkoperasian 3 4 14 3 4 9 4
8 Penanaman Modal 4 6 10 1 1 2 0
9 Ketenagakerjaan 8 9 46 6 7 12 13
10 Kesehatan 3 7 92 3 5 4 6
11 Pendidikan dan Kebudayaan 7 7 72 1 1 1 1
12 Sosial 5 8 30 4 6 8 4
13 Penataan Ruang 2 3 8 1 2 4 0
14 Permukiman 5 6 16 4 4 6 1
15 Pekerjaan Umum 4 7 24 2 2 1 2
16 Perhubungan 2 4 19 0 0 0 0
17 Lingkungan Hidup 4 8 31 1 2 2 0
18 Kependudukan 4 7 40 2 3 3 8
19 Pemuda dan Olah Raga 4 4 24 0 0 0 0
20 Kepariwisataan 3 4 14 2 2 2 0
21 Pertanahan 4 4 6 0 0 0 0
Total 100 221 1008 59 105 158 96
7
0
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
01. BIDANG UMUM PEMERINTAHAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm
AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
a. Mengembangkan budaya hukum untuk
meningkatkan pemahaman, kesadaran & kepatuhan
hukum bagi masyarakat
1. Penyusunan produk
hukum daerah.
(1). Evaluasi & pengkajian
peraturan ttg pemerintahan
Desa…
Peraturan perundangan tentang
desa sebaiknya bersifat pro poor
(3). Penyusunan juklak 12
perda: Pemdes =7, perijinan bd
industri =1, dst.
b. Meningkatkan pendidikan politik, etika dan moral
politik secara demokratis
1. Pengembangan etika
Moral & budaya politik
(3). Monitoring kondisi sospol
(Kegiatan KKN, ….)
Didorong melakukan kegiatan
yang ber-orientasi penang-
gulangan kemiskinan
2. Peningkatan orpol &
ormas
(1) Pemberdayaan orkesmas,
orsospol, & LSM.
e. Memantapkan kelembagaan dan tatalaksana
organisasi Pemda
2. Pembinaan
pemerintah,
kelembagaan, dan
pendapatan desa
(1) RKTL pengaturan lbg-2 desa (2) Pemberdayaan RT,
RW, BPD
Ini merupakan inti kegiatan
pembangunan masyarakat,
khususnya dlm penanggulangan
kemiskinan karena langsung
terkait dg masy desa, tempat
mayoritas KK miskin berada.
(4) Penelitian siklus tahunan
desa
(3) Penataan adm-pem
desa
(7) Pembinaan pengelolaan
kekayaan desa.
(5) Pembekalan Pamong
Desa dan BPD, dst.
(8) Inventarisasi &
pensertifikatan tanah kas desa
(6) Pemb.monitoring &
pemberian bantuan ke
desa (DAD, TPAD, tunj.
desa minus, RT/RW, BPD,
& penyeimbang desa)
(9) Audit tanah kas desa (11) Pembinaan adm
pertnahan kas desa dan
pembinaan APB desa
7
1
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
f. Meningkatkan kapasitas birokrasi yang efektif,
efisien, responsive, transparan, dan akuntabel
1. Pembinaan
admministrasi
pemerintah daerah
(6) Pembinaan
penyelenggaraan pemerintah
Kecamatan
Kecamatan merupakan
lingkungan penyangga /
fasilitator pembangunan
pedesaan.
(7) Koordinasi penyelenggaraan
Pememerintah daerah
(8) Evaluasi & pengemb.
Otonomi daerah
2. Pengembangan
aparatur daerah
Peningkatan orientasi
menejemen pemerintah
Daerah
Diarahkan unt penang-gulangan
kemiskinan
6. Pengembangan &
penyusunan kebijakan
daerah
Pengelolaan dokumen
Kebijakan, kegiatan, & hasil
pemerintah, pembangunan, &
kemasyarakatan.
Penting untuk koordinasi dan
perencanaan menyeluruh
7. Peningkatan sistem
perpajakan
(1) Penerbitan penghitungan &
penetapan pajak daerah;
(4) Pendaftaran &
pendataan wajib pajak
Kalau bisa, masyarakat miskin
tidak wajib bayar pajak
(2) Fasilitasi pemungutan pajak
penerangan jalan
8. Swakelola penguatan
modal
Bantuan dana unt.ormas,
orpol & LSM
Sebaiknya diutamakan bg yg
bergerak dlm “pronangkis”
22. Penyelenggaraan
pemerintahan desa yg
makin baik, dinamis, &
bertanggung jawab
(1) Pembinaan kelembagaan
desa
(2) Pemb. Penyelengg.
Pem desa
Lbg & perangkat desa punya
peran strategis dlm pronangkis,
tp blm dioptimalkan / justru ada
yg menghambat
(5) Pemb. Administrasi pem
desa
(4) Pemb. sumber
pendapatan desa
g. Meningkatkan kerjasama dengan lembaga
pemerintah, swasta, Perguruan Tinggi, dan LSM
1. Pengkajian,
pengembangan, dan
penyusunan kebijakan
daerah
(1) Peningkatan koord &
fasilitasi perumusan kebijakan
pengembangan desa wisata &
agropolitan
(8) Identifikasi usaha
informal (PKL) di 5
kecamatan
Bisa diarahkan untuk memberi
kesempatan KK miskin untuk
medapat lapangan kerja atau
lapangan usaha
(2) Inventarisasi & identifikasi
lembaga keuangan di Sleman
(3) Inventarisasi & indentifikasi
potensi ekonomi di Sleman
7
2
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
(4)Peningk koord pengemb
ekonomi
(5) Penyiapan rumusan
kebijakan sarana ekonomi
(6) Penyusunan & pengelolaan
data investasi & non-fasilitas
invetasi
(7) Peningkatan koordinasi &
fasilitasi pengembangan bisnis
plan & terminal agribisnis
2. Pendayagunaan
potensi swasta &
masyarakat
(1) Fasilitasi pengemb promosi
daerah (houseware, agro &
food)
(3) Fasilitasi pokja gardu
taskin
Bisa diarahkan untuk memberi
kesempatan KK miskin untuk
medapat lapangan kerja atau
lapangan usaha
(2) Fasilitasi pola kemitraan
investasi bagi pemberdayaan
ekonomi daerah
(4) Peningk koord DKP
& pendampingan DPM
LUEP
(6) Pengemb potensi usaha
daerah
(5) Fasilitasi kemitraan
usaha swasta &
masyarakat
(8) Fasilitasi peringatan
Harganas Pertasikencana
(7) Pendampingan /
monitoring BUKP
3. Kemitraan dengan
swasta & Masyarakat
(1) Peningkatan koord, fasilitasi
penyelengaraan pasar lebaran
(2) Pendampingan
distribusi Raskin
(3) Monitoring pemantauan
kelangkaan BBM
(4) Peningkatan koord
Panjatapda
4. Penguatan modal
masyarakat
Penguatan modal DPM LUEP
5. Pengemb kerjasama
dg Perguruan Tinggi
Bantuan penunjang kgy KKN,
pemb KKN kec, & pemetaan
lokasi KKN
Diselaraskan dg “pronangkis”
6. Kemitraan dengan
organisasi masyarakat
Bantuan kpd PCYL GN-OTA, dll GN-OTA diefektifkan untuk
“nangkis”
7
3
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
7. Pengembangan
partisipasi masyarakat
(1) Pembinaan program UKS,
penanggulangan kanker &
bantuan premi JPKM
(2) Membantu
penyantunan sosial,
mengadakan kegiatan
sosial, forkom pekerja
sosial masyarakat
(9) Pemberian bantuan susu
siswa SD
h. Meningkatkan kualitas perencanaan, pengawasan,
pengendalian & evaluasi
1. Peningk kualitas
perencanaan pemba-
ngunan daerah
(1,2,6) Penyusunan Poldas,
Propeda, & Repetada
(3) Penyusunan
Renstrada 2005 – 2009
Program penanggulangan
kemisinan semestinya mendapat
perhatian tersendiri
(7) Identifikasi &
klasifikasi arah kebijakan
umum, strategi prioritas,
program dan kegiatan
berdasar sumber dana
2005
2. Peningkatan kualitas
perencanaan bidang
ekonomi
(2) Menyusun rencana
pengembangn investasi
kabupaten Sleman
(4) Menyusun rencana
pengemb UMKM
berbasis kemitraan
Arus-utamakanlah
penanggulangan kemiskinan
(3) Studi potensi kesesuaian
lahan pertanian
(7) Menyusun tripel A
pedesaan
(8) Menyusun rencana
implementasi
pemberdayaan ekonomi
berbasis kerakyatan di 86
desa tahun 2005
3. Peningkatan kualitas
perenc bidang sosbud
(2) Perencanaan penataan SMK (4) Pemetaan kemiskinan SMK leboh pro-poor dibanding
SMA
(5) Perencanaan Sleman
Sehat ‘05
4. Peningkatan kualitas
perencanaan bidang
fisik dan prasarana
(4) Menyusun rencana jaringan
trayek angkutan umum &
barang di kab Sleman
Daerah-2 miskin perlu perluasan
akses ke luar daerah
5. Peningkatan
koordinasi
(7) Pendampingan
P2MPD
Sangat jelas
(8) Pendampingan P2KP
(9) Pendampingan PKPS-
BBM
7
4
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
9. Peningk monitoring
& evaluasi pembngunn
(12) Monitoring & evaluasi
sarana pend. (SD/MI, SLTP, &
SMU/K)
Utamakan daerah-2 miskin
10. Penyusunan data &
analisis pembangunan
(1,2,3, 10, 11, 13) Menyusun
buku: PDRB Kab & kec, Sleman
dlm angka, bk saku, statistik
industri, kec dlm angka, & profil
daerah.
(4,5) Menyusun
buku: indicator kesra,
Penghitungan IPM
Perlu dipikirkan sinkronisasi
antar-lbg agar “pronangkis” lebih
terpadu
11. Peningk sistem
perencanaan informasi
pembangunan daerah
(2) Pengembangan data Perenc
& Pengendalian Pemb Daerah
(PDP3D)
Semestinya pro poor
12. Pemeriksaan
reguler, khusus & kasus
(2) Pemeriksaan khusus (PAD,
penguatan modal, pelayanan
masyarakat, pengelolaan
barang, tanah kas desa,
kebijakan pemda)
Perlu didalami apakah semua itu
untuk “pronangkis” atau tidak
13. Optimalisasi kode
etik dan standar audit
(3) Menyusus juknis
pemeriksaan 6 instansi
(Dinas Kesmas, RSUD, Trantib,
Perekonomian, Pertanian, dan
Setwan).
Perlu dilihat apakah mereka
sudah pro-poor
16. Pemerikasaan dan
pengawasan jalannya
pemerintahan desa
(1) Evaluasi tahunan
tugas lurah desa dan
akhir masa jabatan lurah
desa.
Perlu dikaitkan dg naik-turunnya
jumlah penduduk miskin
18. Peningkatan
partisipasi masy
dalam pengambilan
keputusan publik
(2) Koordinasi pelaksanaan
perencanaan wilayah
(1) Pembinaan dan
pemberdayaan
kelembagaan masyarakat
desa
Jika lembaga desa berdaya,
“pronangkis” pasti berhasil
i. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pengambilan keputusan yg menyangkut kepentingan
publik
1. Peningkatan
pelayanan informasi
dan pengembangan
komunikasi
(2) Penjaringan aspirasi
masyarakat
Berikan kesempatan kpd rakyat
miskin, jangan cuma pejabat atau
tokoh
(3) Peningkatan komunikasi
dialogis dengan masyarakat
(4) Pelayanan informasi / data
kepada masyarakat
7
5
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
2. Peningkatan
partisipasi masy
dlm pengambilan
keputusan publik
(1) Operasional bantuan
gotong-royong
Perlu dilihat apakah sudah pro-
poor?
(2) Transfer bantuan dana
gotong-royong
3. Fasilitasi komunikasi
DPRD dengan masy.
(1) Fasilitasi penjaringan
aspirasi masyarakat oleh DPRD
Berikan kesempatan kpd rakyat
miskin, jangan cuma pejabat atau
tokoh
(2) Fasilitasi pelaksanaan public
hearing
k. Mendukung pengembangan jaringan komunikasi
dan teknologi informasi
2. Peningkatan
pelayanan informasi
(1) Pembuatan dan penyusunan
data wilayah kecamatan
Beri perhatian untuk daeah
miskin
3. Pengembangan
komunikasi organisasi
(1) Penerangan melalui radio Selipkan pesan tentang upaya /
cara penanggulangan kemiskinan
(6) Memperkuat jaringan
komunikasi antar pemerintah,
swasta & masy
(7) Fasilitasi pengembangan
KIKM
4. Peningkatan kualitas
pengelolaan informasi,
arsip & perpustakaan
(1) Pembinaan & sosialisasi
perpustakaan
Buku-2 teknologi tepat guna &
Koran
6. Peningkatan
pelayanan informasi,
arsip & perpustakaan
(1) Peningkatan minat baca
masyarakat
(2) Menyelenggarakan
workshop dan dialog
interaktif masyarakat
dengan pejabat
Ini adalah perluasan
pengetahuan dan akses
7
6
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
02. BIDANG PERTANIAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Mengembangkan ketahanan
pangan melalui penganeka-
ragaman sumber daya pangan,
peningkatan produksi hasil
tanaman dan peternakan dengan
penerapan TTG
1. Peningkatan ketahanan
pangan
(8) Pengamanan harga gabah Ini krusial / dilematis
2. Peningkatan produksi
peternakan
(1) Pengembangan ternak besar,
kecil dan unggas
Potensial untuk “Pronangkis”
3. Diversifikasi usaha pangan dan
gizi
(1) Pengambangan sayuran dan
tanaman hias
Bisa membuka lapangan kerja /
menambah pendapatan
(8) Peningkatan pengembangan
tanaman pangan alternatif
2. Mengembangkan usaha
agribisnis tanaman pangan &
peternakan di bidang perbenihan
produksi maupun pemasaran
hasil
Pengembangan agribisnis (2) Pengembangan forkom
agribisnis
Berpotensi menyerap tenaga
kerja
(3) Pengembangan kemitraan
(5) Penguatan modal tanaman
pangan dan peternakan.
(6) Penunjangan penguatan
modal tanaman pangan dan
peternakan
3. Meningkatkan kualitas SDM
bidang tanaman pangan dan
peternakan
Peningkatan SDM (1) Magang dan kunjungan ke
sumber teknologi
Pastikan bahwa tujuan
akhirnya adalah peningkatan
kesejahteraan petani
(2) Kursus petani / klp tani &
petugas
(3) Pelatihan petani/klp
tani&petugas
4. Memantapkan kelembagaan
petani yg kuat, dinamis&mandiri
Pemantapan kelembagaan
kelompok tani
(1) Fasilitasi forum komunikasi
pertanian
(2) Pemberdayaan kelompok tani Berpotensi menyerap tenaga
kerja
5. Meningkatkan prasarana &
sarana
Peningkatan prasarana dan
sarana pertanian
(5) Rehab Poskeswan (Sleman,
Prambanan, Ngemplak)
Tingkatkan pemanfaatannya.
03. BIDANG PERIKANAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Mengembangkan usaha
agribisnis perikanan…
2. Pengembangan usaha (3) Penyusunan, analisis dan
informasi data pertanian
(1) Penguatan modal
(2) Penunjangan penguatan
modal
Prioritaskan masyarakan miskin
7
7
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
3. Memantapkan kelembagaan
petani yg kuat, dinamis&mandiri
Pemantapan kelembagaan
kelompok tani perikanan
(1)Pemberdayaan kelembagaan
dan pemantapan klp tani
(2)Forkom klp tani
(3)Stimulan klp berprestasi
Berpotensi menyerap tenaga
kerja
04. BIDANG PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkn peman-faatan
potensi energi & sumberdaya
mineral
2. Meningkatkan peran masy dlm
pengelolaan pertambangan
1. Pengelolaan usaha
pertambangan dan energi
(1) Pengelolaan perijinan bidang
pertambangan dan energi
(4) Operasional dan inventarisasi
penambang bahan galian gol C
Berpotensi menyerap tenaga
kerja
1. Pengawasan dan pengendalian
kegiatan penambangan
(1) Pengendalian dampak
lingkungan akibat penambangan
tanpa ijin
Berikan akses bagi penduduk
miskin
2. Peningkatan pemahaman thdp
aturan bd tamben
(2) Sosialisasi potensi usaha dan
peraturan bidang pertambangan
dan energi
Menarik investor, ciptakan
lapangan kerja
3. Memperluas pembangunan
jaringan listrik pedesaan
Perencanaan dan pembangunan
listrik pedesaan
(1) Pembuatan listrik pedesaan Pemerataan fasilitas bagi kaum
miskin
4. Meningkatkan peng-
anekaragaman pengelolaan hasil
pertambambangan
Penerapan terknologi baru dan
diversifikasi bahan olahan
(1) Inovasi teknologi
pendayagunaan bahan galian
(2) Diversifikasi hasil olahan
bahan galian
Tujukan untuk penduduk miskin
7
8
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
05. BIDANG KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan pemanfaatan
sumberdaya hutan kebun
Optimalisasi fungsi pemantaan
hutan dan kebun
(1) Pembinaan pengolahan pasca
panen dan pemasaran kopi,
mendong, dan kakao
Bisa meningkatkan pendapatan
2. Meningkatkan perlin-dungan,
pengamanan & konservasi hutan-
kebun
2. Peningkatan pengembangan
tanaman perkebunan
(2) Pengembangan teknologi
terapan
Bisa menciptakan lapangan kerja
3. Mengembangkan usaha
agribisnis, agroindustri, dan
agroforestry
Pengembangan usaha
(2) Penumbuhan pasar produk
perkebunan
(3) Pengembangan usaha
perlebahan
(4) Penguatan modal & penun-
jangan kehutanan & perkebunan
Bisa menciptakan lapangan kerja
dan meningkatkan pendapatan
4. Memberdayakan masy &
swasta dlm pelestarian SDA
Peningkatan peran masy & swasta (2) Pengembangan hutan
bamboo sbg hutan industri
(3) Pengembangan hutan rakyat
Bisa menciptakan lapangan kerja
5. Meningkatkan kualitas
SDM bidang kehutanan dan
perkebunan
Peningkatan SDM
(1) Magang petani, klp tani
&petugas
(2) Kursus petani lada, tebu, panili
Berpotensi menyerap tenaga
kerja
6. Memantapkan kelembagaan
petani
Pemantapan kelembagaan petani (2) Pemberdayaan kelompok tani
kehutanan dan perkebunan
Bisa meningkatkan pendapatan
06. BIDANG PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Mengembangkan industri kecil
dan menengah, serta industri
rumah tangga dan pedesaan
1. Peningkatan pelayanan
perindustrian
(2) Sosialisasi dan penerapan
manajemen mutu bagi IKM
Bisa meningkatkan pendapatan
2. Penyediaan data perindustrian (1) Pembuatan data basis
perindustrian
(2) Inventarisasi dan identifikasi
sentra industri kecil
Berpotensi menyerap tenaga
kerja
3. Evaluasi perindustrian
(2) Pemantauan perkembangan
usaha industri dan pengelolaan
limbah industri
(1) Monitoring penguatan modal
dana bergulir perindustrian
Berpotensi membuka lapangan
kerja
7
9
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
4. Penguatan modal perindustrian
(1)Pinjaman modal dana bergulir
perindustrian
(2)Penunjangan penguatan
modal dana bergulir
perindustrian
Berpotensi membuka lapangan
kerja
2. Mengembangkan kemitraan
industri
3. Meningkatkan SDM bidang
Industri dan perdagangan
dengan peningkatan manajemen
usaha yang memanfaatkan dan
mengolah bahan baku lokal
dengan rekayasa Teknologi Tepat
Guna
Kemitraan usaha perindustrian (1) Temu pengusaha IKM dg
penyedia bahan baku
(2) Temu pengusaha industri kecil,
menengah, dan besar
Bisa memperluas lapangan kerja
1. Peningkatan SDM Perindustrian
(4) Pelatihan pengembangan
desain produk dari bamboo di
kec.Mlati
(6) Pelatihan total motivation
training (TMT) bg pengusaha IKM
(1) Pelatihan ketrampilan dan
teknologi bagi calon pengrajin
100 orang, 5 angkatan
(2) Pelatihan ketrampilan produk
aneka dr bahan serat & kain di
kecamatan Moyudan dan Minggir
(3) Pelatihan ketrampilan produk
kayu di kec. Mlati
(5) Pelatihan dan pendampingan
manajemen usaha bg IKM
(7) Pelatihan pengolahan limbah
plastik di kec.Gamping
Berpotensi membuka lapangan
kerja dan meningkatkan
pendapatan
3. Peningkatan SDM perdagangan
(3) Pembinaan pengusaha ekspor
pemula
(1) Pembinaan & Pelatihan
manajemen pemasaran sentra
industri
(2) Bimbingan teknis usaha
perdagangan (pasca produk)
(4) Bimbingan teknis pedagang
makanan jajanan
(6) Pembinaan pedagang umum
(kelontong)
Berpotensi menyerap tenaga
kerja dan meningkatkan
pendapatan
4. Meningkatkan Manajemen
usaha perdagangan
4. Peningkatan SDM Pedagang
pasar
(1)Pembinaan pedagang pasar
(2)Pembinaan petugas pasar
(3) Pembinaan pengelola dan
pedagang pasar desa
Membuka akses bagi kaum
miskin
2. Peningkatn pela-yanan
pedagang pasar
(3) Penataan pedagang pasar Membuka akses bagi kaum
miskin
3. Penyediaan data perdagangan
(1) Pembuatan database
perdagangan
(2) Pendataan usaha
perdagangan
(3) Pendataan potensi usaha dan
potensi komoditi perdagangan
Berpotensi menyerap tenaga
kerja
8
0
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
07. BIDANG PERKOPERASIAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan penataan
kelembagaan koperasi & UKM
1. Penyediaan data koperasi &
UKM
(1)Pendataan dan klasifikasi
koperasi & UKM
(2)Pembuatan data base koperasi
& UKM
Berpotensi menyerap tenaga
kerja
2. Evaluasi koperasi
(1)Monitoring penguatan modal
dana bergulir koperasi
(2)Penilaian kesehatan koperasi
simpan-pinjam
(3)Monitoring koperasi
(4)Penilaian koperasi dan
pengusaha kecil
Berpotensi: membuka akses,
membuka lapangan kerja, &
meningkatkan pendapatan
2. Meningkatkan kemampuan
SDM bidang koperasi & UKM
Peningkatan SDM koperasi & UKM
(1) Pelatihan kewirausahaan,
pengelolaan, pembukuan,
pengawas, kelambagaan koperasi
(3) Bimbingan teknis koperasi
pengusaha kecil
(4) Pemberdayaan Badan
Pembimbing dan Pelindung (BPP)
Koperasi
(5) Bimbingan teknis pra koperasi
PKK desa
Berpotensi: membuka akses,
membuka lapangan kerja, &
meningkatkan pendapatan
3. Mengembangkan kemitraan
antara koperasi dan UKM dg
swasta, BUMD&BUMN
Penguatan modal koperasi
(1) Penunjangan pelaksanaan
penguatan modal koperasi
(2) Pinjaman modal dana bergulir
koperasi (subsidi BBM)
(3) Pinjaman modal dana bergulir
koperasi
Berpotensi: membuka akses,
membuka lapangan kerja, &
meningkatkan pendapatan
08. BIDANG PENANAMAN MODAL
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi Pro Poor
Argumen
Tidak Langsung Langsung
2. Mengemb penanaman modal
guna menciptakan lapangan
kerja dan penyerapan tenaga
kerja
Penciptaan peluang investasi
(1)Penyusunan buku investor
guide
(2)Penyusunan potensi investasi
Berpotensi membuka lapangan
kerja baru
8
1
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
09. BIDANG KETENAGA-KERJAAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Memperluas kesempatan kerja
dan pendayagunaan tenaga kerja
1. Perluasan & pengembangan
kesempatan kerja
(4) Workshop kurikulum LPK dan
PT
(1) Peningkatan pelatihan
ketrampilan tenaga kerja (10
ketrampilan institusional, 10 non
institusional)
(5) Monitoring dan evaluasi
lulusan BLK
Berpotensi: membuka usaha, &
tenaga kerja cepat terserap di
dunia kerja
2. Penyebaran dan
pendayagunaan tenaga
penganggur
(1) Penempatan AKL, AKAD, dan
AKAN
(3) Latihan usaha mandiri untuk
karyawan ter-PHK
(8) Pembinaan PJTKI/BPP
(9) Pembinaan & pembentukan
TKMT
(2) Penerapan Teknologi Tepat
Guna
(4) Investasi bantuan TKI ke luar
negeri
(6) Membentuk jaringan informasi
ketenagakerjaan di 17 kecamatan
(7) Perluasan kerja sistem padat
karya
Berpotensi: membuka usaha,
penyerapan tenaga kerja, dan
peningkatan pelayanan (akses)
bagi tenaga kerja
2. Meningkatkan perlindungan
terhadap lembaga tenaga kerja
Perlindungan dan
pengembangan lembaga tenaga
kerja
(5) Monitoring UMP / UMR Mencegah “pemiskinan” secara
terstruktur
4. Meningkatkan kualitas tenaga
kerja
1. Peningkatan kualitas dan
produktifitas tenaga kerja dan
calon tenaga kerja
(1) Pelatihan kewirausahaan, AMT,
produktivitas terpadu
Berpotensi: membuka usaha, &
tenaga kerja cepat terserap di
dunia kerja
5. Meningkatkan kualitas calon
transmigran
Peningkatan pelak-sanaan
transmigrasi
(4) Bantuan transmigran asal dan
penerima
(1) Penyuluhan transmigrasi “Pengurangan” jumlah rakyat
miskin
7. Meningkatkan kelancaran
tugas-tugas kesejahteraan
masyarakat
1. Pemberdayaan masyarakat dan
lembaga
(3) Pembinaan usaha ekonomi
produktif (UED-SP)
(4) Bantuan P2LDT
(7) Pembinaan dan bantuan
P2WKSS
(9) Penerapan teknologi tepat
guna
(5) Stimulan lumbung pangan
masyarakat desa
(6) Stimulan pasar desa
(8) Penunjangan komite
penanggulangan kemiskinan
/KPK
(10) Evaluasi pembangunan desa
dan pemberdayaan masyarakat
desa
(12) Pemberdayaan masyarakat
pengguna air dan klp masy. IDT
Sangat jelas
8. Meningkatkan peran lembaga
sosial
Peningkatan kerjasama antar
lembaga
Monitoring pelaksanaan UDKP Beri akses kaum miskin
8
2
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
10. BIDANG KESEHATAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Peningkatan pemahaman dan
penerapan perilaku hidup bersih
dan sehat
2. Meningkatkan kualitas SDM,
lingk, prasarana, & sarana unt
hidup sehat
Perilaku sehat dan pemberdayaan
masyarakat
(1) Pembinaan dan sosialisasi
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Perlindungan kaum miskin
1. Lingkungan sehat
(1) Pemutakhiran data kesehatan
lingkungan unt penyehatan
makanan
(3) Pelayanan pemeriksaan air
(4) Pengendalian kepadatan lalat
(2) Penyehatan perumahan dan
lingkungan sehat
Perlindungan kaum miskin
2. Upaya sehat
(14) Penerapan yanklinis dan
yankesmas di puskesmas
(16) Monev penerapan yanklinis
dan yankesmas
(26) Pembinaan TOGA, posyandu,
UKK, Battra, dan SBH
Perlindungan kaum miskin
3. Perbaikan gizi masyarakat (6) Pemutakhiran dan pemetaan
gizi
Perlindungan kaum miskin
3. Meningkatkan kualitas
lembaga dan pelayanan
2. Kebijk &Manajemen Pemb
kesehatan
(9) Bantuan untuk keluarga
miskin
Sangat jelas
11. BIDANG PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Memeratakan pend. Pra-
sekolah, SD, menengah & PLS
Pemerataan pendidikan
(3) Pembinaan & bantuan
pendidikan masyarakat
(2) Penyelenggaraan kejar paket
A/B/C
Perluasan akses bagi kaum miskin
8
3
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
12. BIDANG SOSIAL
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan iman dan taqwa
serta kerukunan antarumat
beragama
2. Meningkatakan ketahanan
dan pember-dayaan thdp
penyandang masalah sosial
1. Peningkatan pelayanan
kehidupan beragama
(6) Pembinaan pondok pesantren
(7) Pembinaan desa binaan
keluarga sakinah
Arus-utamakanlah kaum miskin
1. Pemberdayaan potensi
kesejahteraan sosial
(1) Fasilitasi dan evaluasi forum
karang taruna, panti asuhan dan
pekerja sosial masyarakat.
(4) Komunikasi, informasi dan
edukasi (KIE) sosial
(3) Updating data kesejahteraan
sosial
Arus-utamakanlah kaum miskin
2. Peningkatan kualitas pelayanan
sosial
(1) Bimbingan sosial dan
pendampingan penyandang
cacat mental dan cacat tubuh
(3) Peningkatan kualitas
pelayanan organisasi sosial
(4) Pembinaan lansia aktif
Arus-utamakanlah kaum miskin
3. Pengentasan kemiskinan
(1) Pendampingan klp
USEP/USEP LU/USEP KT dan
usaha Kesos dan USEP Anak
jalanan
(2) Fasilitasi KPK dan
koordinasi pelaksanaan
penanggulangan kemiskinan
Sangat jelas
3. Meningkatkan kepe-dulian
thdp penyandang masalah sosial
dan kesejahteraan sosial
Peningkatan kepedulian
penyandang masalah sosial
(2) Pemberdayaan tenaga kerja
penyandang cacat dan panti,
orang tua anak jalanan
(3) Pelayanan adopsi anak
terlantar
Sangat jelas
5. Meningkatkan kesadaran
masyarakat therhadap kesatuan
bangsa & nilai kepahlawanan
Peningkatan wawasan nilai-nilai
kepahlawanan
(4) Pendataan keluarga
pahlawan, sarasehan nilai-nilai
kepahlawanan dan kepeloporan
Kaum miskin dari keluarga
pahlawan sepatutnya menerima
perhatian lebih
8
4
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
13. BIDANG PENATAAN RUANG
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan kualitas dan
kuantitas rencana tata ruang
secara partisipatif
1. Meningkatkan partisipasi
masyarakat dlm perencanaan
pengembangan wilayah
(2) Perencanaan lokasi sector
informal anglomerasi kota
Yogyakarta
Berikan akses kepada masyarakat
miskin
2. Penyusunan Rencana Tata
Ruang
(1) Review RDTR kawasan tumbuh
cepat Jombor-Pelemgurih
(2) Penyusunan RDTR kawasan
Ambarketawang dan Balecatur
(3) Review RDTR kawasan
Monumen Yogya Kembali dan
sekitarnya
14. BIDANG PERMUKIMAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Memfasilitasi pembangunan
perumahan berstandar rumah
sehat di daerah perdesaan dan
perkotaan
Pembangunan dan
pengembangan perumahan dan
permukiman di daerah
(1) Pengembangan perumahan
dan permukiman di perkotaan
dan desa (P4D)
(2) Perbaikan perumahan dan
permukiman (P2P)
Jangan sampai kaum miskin
“tersingkir” di wilayahnya sendiri
2. Membangun rumah susun
sederhana sewa
Fasilitasi pengembangan rumah
susun sederhana sewa
(1) Pembangunan student
housing
(2) Pembangunan rumah susun
sederhana sewa
Sangat jelas
3. Meningkatkan kualitas
prasarana dan sarana lingkungan
permukiman
Peningkatan kualitas lingkungan
perumahan dan permukiman
(1) Penyehatan lingkungan
perumahan dan permukiman
(PLP)
(2) Peningkatan kualitas
lingkungan perumahan dan
permukiman
Arus-utamakanlah kaum miskin
5. Meningkatkan kualitas
pelayanan prasarana dan sarana
umum
1. Penyediaan air bersih (1) Penyediaan air bersih
perdesaan
Arus-utamakanlah kaum miskin
8
5
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
15. BIDANG PEKERJAAN UMUM
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan peran serta
masyarakat dlm pemb bidang
pekerjaan umum
1. Peningkatan peran serta
masyarakat dlm pembangunan
bidang pekerjaan umum
(1) Bantuan pemeliharaan
jaringan irigasi desa
(2) Bantuan aspal
Sebaiknya daerah-2 miskin diberi
prioritas
2. Meningkatkan pengetahuan &
kemampuan SDM
Peningkatan kualitas SDM (2) Sosialisasi pembangunan jalan
swadaya
Jangan abaikan daerah-2 miskin
16. BIDANG PERHUBUNGAN
---kosong---
17. BIDANG LINGKUNGAN HIDUP
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
3. Meningkatkan pelestarian
fungsi lingkungan hidup
1. Pengemb IPTEK dlm
pengelolaan SDA & pe- lestarian
fungsi LH
(2) Inventarisasi Teknologi Tepat
Guna dan ramah lingkungan
Berikanlah kepada kaum miskin
2. Peningkatan efekti-fitas
pengelolaan & pelestarian SDA
& LH
(3) Pembinaan kearifan lokal Kemiskinan bukan Cuma soal
ekonomi
8
6
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
18. BIDANG KEPENDUDUKAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan kualitas sistem
administrasi kependudukan
2. Meningkatkan peran serta
masy dlm pemb kependudukan
Peningkatan sistem administrasi
kependudukan
(1) Penyusunan data base
kependudukan
Dapatkan data fix tentang
penduduk miskin
1. Penyelenggaraan pendaftaran
penduduk dan catatan sipil
(6) Pencatatan, pelaporan,
pengolahan dan analisa data
pengendalian lapangan KB
(5) Pendataan keluarga
(9) Penetapan profil keluarga
miskin dan factor penyebabnya
(11) Penyiapan kader,
pengadaan sarana dan
pelaksanaan pendataan
keluarga
(12) Analisa profil keluarga
dan sarasehn hasil pendataan
keluarga
Amat sangat jelas
2. Pemberdayaan keluarga
(5) Dukungan operasional
Institusi Masyarakat Pedesaan
(IMP) pelaksana KB
(1)Pembinaan ketahanan
keluarga sejahtera
(2)Pembinaan, pengembangan
dan pemantapan Pos Yandu Plus
(3)Peningkatan manajemen
ketrampilan wirausaha keluarga
miskin
(4)Fasilitasi lelang kepedulian
mays miskin
Amat sangat jelas
19. BIDANG PEMUDA DAN OLAH RAGA
----kosong----
20. BIDANG KEPARIWISATAAN
Kebijakan
(sesuai nomor dlm AKU)
Program
(sesuai nomor dlm AKU)
Kegiatan yang Berpotensi mendukung Pronangkis
Argumen
Tidak Langsung Langsung
1. Meningkatkan sumberdaya
kepariwisataan
1. Pengembangan obyek dan
daya tarik wisata
(4) Inventarisasi dan klasifikasi
usaha jasa pariwisata
Membuka peluang kerja bg
penduduk miskin
3. Meningkatkan peran serta
masyarakat
Peningkatan SDM
(1) Pembinaan petugas di obyek
wisata, pokdarwis, pelaku wisata
dan masyarakat
Berpotensi membuka lapangan
kerja atau menyerap tenaga kerja
8
7
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
21. BIDANG PERTANAHAN
----kosong----
8
8
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
8
9
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
LAMPIRAN 2
Variabel dan Indikator Keluarga Sejahtera
No Variabel
Indikator
Pra Sejahtera Keluarga Sejahtera I Keluarga Sejahtera II Keluarga Sejahtera III Keluarga Sejahtera III Plus
1 Rohani Anggota keluarga
melaksanakan ibadah
sesuai agamanya
Anggota kel
melaksanakan ibadah
secara teratur
Keluarga berupaya
meningkatkan pengetahuan
agama
2 Pangan Pada umumnya anggota
kel makan 2x sehari
Paling kurang 1x
seminggu keluarga
makan daging/ikan/telur
Kebiasaan kelg makan
bersama paling kurang 1
x sehari dan dimanfaatkan
untuk berkomunikasi
3 Sandang Anggota kel punya pakaian
yang berbeda untuk di
rumah, bekerja/sekolah,
dan bepergian
Setahun terakhir
anggota keluarga
memperoleh paling
kurang 1 stel pakaian
baru
4
5
Papan
Sosial/
Lingk
Bagian lantai yang terluas
bukan dari tanah
Luas lantai rumah paling
kurang 8 m persegi
untuk setiap penghuni
Anak askit dibawa ke
sarana kesehatan modern
Anggota kelg dalam 3 bln terakhir
dlm keadaan sehat & dpt melaks
tugas / fungsi masing-2
Sebagian penghasilan
keluarga ditabung
Keluarga secara teratur dg
sukarela memberikan sumbangan
materiil untuk kegiatan sosial
Ada anggota keluarga umur 15
tahun ke atas yang berpenghasilan
tetap
Keluarga sering ikut dalam
kegiatan masyarakat di
lingkungan tempat tinggal
Ada anggota kelg yang aktif
sebagai pengurus perkumpulan /
majelis / institusi masyarakat
Anggota keluarga umur 10 – 60
tahun bisa membaca tulisan latin
Keluarga berekreasi di luar
rumah paling kurang sekali
dalam 6 bulan
Anak umur 7 – 15 tahun
bersekolah
Keluarga memperoleh berita
dari surat kabar/radio/TV/
majalah
PUS dengan anak hidup 2 tahun
atau lebih saat ini memakai
kontrasepsi
Anggota keluarga mampu
menggunakan sarana
transportasi setempat
9
0
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
Indikator Tingkat Kesejahteraan Keluarga
No Indikator PS KSI KS II KS III KS III+
1 Anggota keluarga melaksanakan ibadah sesuai
agamanya
√ √ √ √ √
2 Pada umumnya anggota keluarga makan 2 kali sehari
atau lebih
√ √ √ √ √
3 Anggota kelg memiliki pakaian yang berbeda untuk di
rumah, bekerja/sekolah, dan bepergian
√ √ √ √ √
4 Baigan lantai rumah yang terluas bukan dari tanah √ √ √ √ √
5 Anak sakit atau PUS yang ingin ber-KB dibawa ke sarana
kesehatan
√ √ √ √ √
6 Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur - √ √ √ √
7 Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/
ikan/telur
- √ √ √ √
8 Setahun terakhir anggota keluarga memperoleh paling
kurang 1 stel pakaian baru
- √ √ √ √
9 Luas lantai rumah paling kurang 8 m persegi untuk
setiap penghuni
- √ √ √ √
10 Anggota kelg dalam 3 bln terakhir dlm keadaan sehat &
dpt melaks tugas / fungsi masing-2
- - √ √ √
11 Ada anggota keluarga umur 15 tahun ke atas yang
berpenghasilan tetap
- - √ √ √
12 Anggota keluarga umur 10 – 60 tahun bisa membaca
tulisan latin
- - √ √ √
13 Anak umur 7 – 15 tahun bersekolah - - √ √ √
14 PUS dengan anak hidup 2 tahun atau lebih saat ini
memakai kontrasepsi
- - √ √ √
15 Keluarga berupaya meningkatkan pengetahuan agama - - - √ √
16 Sebagian penghasilan keluarga ditabung - - - √ √
17 Kebiasaan kelg makan bersama paling kurang 1 x sehari
dan dimanfaatkan untuk berkomunikasi
- - - √ √
18 Keluarga sering ikut dalam kegiatan masyarakat di
lingkungan tempat tinggal
- - - √ √
19 Keluarga berekreasi di luar rumah paling kurang sekali
dalam 6 bulan
- - - √ √
9
1
S
P
K
D

K
a
b
u
p
a
t
e
n

S
l
e
m
a
n
20 Keluarga memperoleh berita dari surat kabar/radio/TV/
majalah
- - - √ √
21 Anggota keluarga mampu menggunakan sarana
transportasi setempat
- - - √ √
22 Keluarga secara teratur dg sukarela memberikan
sumbangan materiil untuk kegiatan sosial
- - - - √
23 Ada anggota kelg yang aktif sebagai pengurus
perkumpulan / majelis / institusi masyarakat
- - - - √

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->