Anda di halaman 1dari 5

Pengaruh Suhu pada Enzim Suhu mempunyai dua pengaruh yang saling bertentangan.

Suhu dapat meningkatkan aktivitas enzim, tetapi dapat pula merusak struktur enzim. Suhu optimum merupakan batas di antara keduanya. Peningkatan suhu sebelum tercapainya suhu optimum akan meningkatkan laju reaksi katalitik enzim karena meningkatnya energi kinetik molekul-molekul yang bereaksi. Sebaliknya, jika suhu dinaikkan sesudah suhu optimum kompleks enzim-substrat yang melampaui energi aktivasi terlalu besar, sehingga memecah ikatan sekunder pada konformasi enzim dan sisi aktifnya. Hal ini mengakibatkan enzim terdenaturasi dan kehilangan sifat katalitiknya. Dalam hal ini suhu optimum yang dimiliki enzim Karbonat Anhidrase adalah

Pengaruh pH pada Enzim Efek pH pada enzim berkaitan dengan keadaan ionisasi dari sistem yang dikatalisis, termasuk substrat dan enzim itu sendiri. Perubahan pH dapat memengaruhi keadaan ionisasi dari asamasam amino pada sisi aktif enzim sehingga memengaruhi interaksinya dengan molekul substrat. Nilai pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menyebabkan ketidakstabilan konformasi enzim sehingga struktur enzim rusak. Enzim mempunyai pH optimum yang khas yang akan menyebabkan aktivitas maksimal. Keadaan optimum ini dihubungkan dengan saat gugus pemberi proton atau penerima proton ( H+ ) yang aktif pada sisi aktif enzim berada pada kondisi ionisasi yang tepat.

Kinetika Proses pengangkutan CO2 dalam sistem pernafasan merupakan hal yang sangat penting, akan tetapi karena CO2 kurang larut dalam darah maka harus diubah kelarutanya dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-) dari asam bikarbonat . Pembentukan asam bikarbonat dari CO2 dibantu oleh enzim karbonat anhidrase pada eritrosit (dalam jaringan tubuh; konsentrasi CO2 yang tinggi) Jika tidak dibantu oleh enzim, maka reaksi pembentukan tersebut akan berjalan relatif lama dan tidak cukup cepat untuk mengimbangi produksi CO2 dari jaringan dari hasil respirasi. Sekali H2CO3 terbentuk, secara spontan molekul ini akan mengalami ionisasi menjadi bikarbonat. H2CO3 H+ + HCO3-

HCO3- yang terbentuk keluar dari sel darah merah, dan masuk ke dalam plasma darah dengan penukaran ion klorida (Cl-). H+ yang dihasilkan dari ionisasi asam karbonat didalam eritrosit menyebabkan terjadinya pelepasan oksigen dari oksihemoglobin

H+

HBO2

HHb+

O2

Reaksi ini adalah reaksi kesetimbangan dimana nantinya hemoglobin akan mengikat mengikat oksigen kembali dan melepas proton (H+). HCO3 yang ada dalam eritrosit bereaksi dengan proton tersebut kembali membentuk asam bikarbonat. Asam bikarbonat tersebut diuraikan menjadi CO2 dengan bantuan enzim karbonat anhidrase kemudian CO2 selanjutnya keluar dari eritrosit melalui plasma darah dan keluar ke udara melalui permukaan paru-paru.

(pada paru-paru; CO2 yang rendah)

konsentrasi

Enzim Karbonat Anhidrase membentuk ikatan kompleks dengan air, dimana Zn 2+ bertindak sebagai aktivator. Setiap enzim memiliki nilai Km yang berbeda-beda untuk suatu subtrat, dan ini dapat menunjukkan seberapa kuatnya pengikatan substrat ke enzim. Konstanta lainnya yang juga berguna adalah kcat, yang merupakan jumlah molekul substrat yang dapat ditangani oleh satu sisi aktif per detik. Berikut adalah nilai Km dan Kcat dari enzim Karbonat Anhidrase :