Anda di halaman 1dari 15

1. Memahami dan menjelaskan Art. Coxae 1.1. Menjelaskan makroskopis Art.

Coxae

1) Ligamentum iliofemorale yang berfungsi mempertahankan art. Coxae tetap ekstensi, menghambat rotasi femur, mencegah batang badan berputar ke belakang pada waktu berdiri sehingga mengurangi kebutuhan kontraksi otot untuk mempertahankan posisi tegak. 2) Ligamentum ischiofemorale yang berfungsi mencegah rotasi interna. 3) Ligamentum pubofemorale berfungsi mencegah abduksi, ekstensi, dan rotasi externa. Selain itu diperkuat juga oleh Ligamentum transversum acetabuli dan Ligamentum capitisfemoris. Bagian bolong disebut zona orbicularis. 1.2. Menjelaskan mikroskopis Art. Coxae Articulation ini dibungkus oleh capsula articularis yang terdiri dari jaringan ikat fibrosa. Capsula articularis berjalan dari pinggir acetabulum Os. Coxae menyebar ke latero inferior mengelilingi colum femoris untuk melekat pada linea intertrochanterica bagian depan dan meliputi pertengahan bagian posterior colum femoris kira-kira sebesar jari diatas crista intertrochanterica. Oleh karena itu bagian lateral dan distal belakang colum femoris adalah diluar capsula articularis. Sehubungan dengan itu fraktur colum femoris dapat extracapsular dan dapat pula intercapsular. Articulatio coxae tersusun dari tulang rawan hialin.dalam keadaan segar tulang rawan hialin berwarna putih mengkilap. Tulang rawan hialin tersusun atas sel sel dan matriks tulang rawan. Sekitar 40% matriks tulang rawan hialin merupakan kolagen, sisanya adalah substansia dasar proteoglikan berupa kondrotin sulfat. Matriks tulang rawan hialin bersifat homogen. Di sekitar lakuna terlihat warna basofil karena konsentrasi proteoglikan bersulfat lebih tinggi daripada sekitarnya. Daerah ini disebut teritorium. Sedangkan matriks yang terdapat diantara lakuna satu dan lakuna lainnya lebih terang, disebut interteritorium. Kondrosit terdapat pada lakuna. Dapat tunggal atau terdiri dari 2, 4, 8 sel isogen. Tulang rawan hialin dibungkus oleh lapisan perikondrium.

1.2.1. Komponen komponen tulang rawan hialin 1) Matriks Komponen penting dari matriks kartilago adalah kondronektin,sebuah makromolekul yang membantu perlekatan kondrosit pada kolagen matriks. Matriks kartilago yang tepat ,mengelilingi setiap kondrosit banyak mengandung glikosaminoglikan dan sedikit kolagen. 2) Perikondrium Kecuali pada kartilago sendi,semua kartilago hyalin ditutupi oleh selapis jaringan ikat padat,perikondrium, yang esensial bagi pertumbuhan dan pemeliharaan tulang rawan. Terdiri dari dua lapisan : lapisan fibrosa dan lapisan khondrogenik 3) Kondrosit Pada tepian kartilago hyalin, kondrosit muda berbentuk lonjong, dengan sumbu panjang paralel dengan permukaan. Lebih ke dalam bentuknya bulat, dan dapat berkelompok hingga 8 sel, kesemuanya adalah hasil dari pembelahan mitosis dari kondrosit. Kelompok demikian disebut dengan kelompok isogen. Struktur paling luar dari kartilago Hyalin bagian atas sama dengan dari bawah masing-masing terdapat selaput perikondrium yang kaya fibroblas. Agak ke tengah terdapat kondroblas atau sel kartilago muda dalam kapsula kecil dengan sitoplasma penuh. Makin ke tengah terdapat

kondrosit atau sel rawan dewasa dalam berkelompok seperti bagian paling tengah, kondrosit tampak membentuk kelompok dua-dua empat-empat, dan disebut kelompok isogen. Tiap kelompok isogen dikelilingi matriks teritorial dan menampakkan kondrosit dengan sitoplasma tereduksi, sehingga tampak ruang antara sitoplasma dengan kapsula yang disebut lakuna. Antara dua kelompok isogen dipisahkan oleh matriks interteritorial. 1.3. Menjelaskan kinesiology Art. Coxae 1.3.1. Tulang : antara caput femoris dan acetabulum Jenis sendi : enarthrosis spheroidea Penguat sendi : terdapat tulang rawan pada facies lunata 1.3.2. Gerak sendi: 1) Fleksi : M. iliopsoas, Mpectineus, M rectus femoris, M, adductor longus, M adductor brevis, M adductor magnus pars anterior tensor fascia lata 2) Ekstensi: M. gluteus maximus, M. semitendinosis, M. semimembranosus, M biceps femoris caput longum, M adductor magnus pars posterior 3) Abduksi: M. gluteus medius, M gluteus minimus, M piriformis, M. Sartorius, M. tensor fasciae lata 4) Adduksi: M.adductor magnus, M. adductor longus. M adductor brevis, M. gracilic, M. pectineus, M obturator externus, M. quadrates femoris 5) Rotasi medialis: M gluteus medius, M. gluteus minimus, M. tensor fasciae latae, M. adductor magnus (pars posterior) 6) Rotasi lateralis: M. piriformis, M. obturator internus, Mm. gamely, M. obturator externus, M. quadrates femoris, M. gluteus maximus dan Mm. adductors. 1.4.Proses Penyembuhan Tulang Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondial ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut, namun tulang mengalami regenerasi sendiri. Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang : 1) Inflamasi Dengan adanya patah tulang, tulang mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.

2) Proliferasi Sel Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk benangbenang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dan osteosit, sel endotel, sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. 3) Pembentukan kalus Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek-secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. 4) Osifikasi Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondrial. 5) Remodeling Tahap akhir perbaikan tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang. 2. Memahami dan menjelaskan Fraktur 2.1. Menjelaskan definisi Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner & Suddarth,) 1) Fraktur tulang wajah dapat mengganggu jalannapas 2) Fraktur tulang iga fapat mengganggu pernapasan 3) Fraktur pelvis dapat menyebabkan perdarahan hebat 4) Fraktur tulang belakang dapat menyebabkan kelumpuhan otot,misalnyaotot pernapasan 5) Fraktur tulang kepala dapat menyebabkan epidural hematom (www.slideshare.net) Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsungterbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah, dibagidalam :

a. Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur)


Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan Melalui kepala femur (capital fraktur).Hanya di bawah kepala femur.Melalui leher dari femur

b. Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur)


Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter.Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil. (http://satriaperwira.wordpress.com/2009/01/28/fraktur-femur/)

2.2. Menjelaskan epidemiologi fraktur collum femur Berdasarkan survei pada tahun 1994 insiden fraktur kolum femur berdasarkan usia di Amerika Serikat adalah 63, 3 per 100.000 orang per tahun pada wanita dan 27, 7 pada laki laki. Namun fraktur ini pada dewasa muda relatif jarang terjadi. Sedangkan insidennya tahun 2007 di RSCM pada wanita di atas 50 tahun adalah 0,13 % atau 127 per 100.000 orang dan laki laki 0,21 % atau per 100.000 orang. Frekuensi terjadinya fraktur kolum femur setara dengan fraktur intertrokanter (FKUI-RSCM, 2008).

2.3. Menjelaskan klasifikasi Fraktur 2.3.1. Arah garis fraktur, 1) Fraktur longitudinal Garis fraktur Sejajar axis panjang tulang / berkembang secara longitudinal. 2) Fraktur transversal Garis fraktur menyilang lurus pada tulang / tegak lurus dengan axis panjang tulang. 3) Fraktur spiral Garis fraktur berbentuk spiral mengelilingi tulang. 4) Oblique Garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80o atau >100o dari sumbu tulang) 2.3.2. Hubungan antar fragmen fraktur, 1) Displacement 2) Angulasi Sudut yang dibuat oleh fragmen distal 3) Kontraksi 4) Distraksi saling menjauh karena ada interposisi 5) Rotasi

memutar 6) Avulsi Terobeknya satu bagian atau struktur 7) Fraktur komplit Patah yang melintang ke seluruh tulang dan sering berpindah dari posisi normal. 8) Fraktur inkomplit Meluasnya garis fraktur yang melewati sebagian tulang dimana yang mengganggu kontinuitas seluruh tubuh. Tipe fraktur ini disebut juga green stick atau fraktur hickoristik. 9) Depressi 10) Impaksi 11) Linier 12) Impresi Pada tulang tengkorak 13) Kompresi Pada korpus vertebra 2.3.3. Jumlah fragmen fraktur, 1) Fraktur comminuted Fraktur yang memiliki beberapa fragmen tulang. 2) Simple Dua fragmen 2.3.4. Adanya hubungan dengan udara bebas. 1) Fraktur tertutup Fraktur dengan kulit utuh melewati tempat fraktur dimana tulang tidak menonjol keluar melewati kulit. 2) Fraktur terbuka Robeknya kulit pada tempat fraktur, luka berhubungan dengan kulit ke tulang. Oleh sebab itu fraktur berhubungan dengan lingkungan luar, sehingga berpotensi terjadi infeksi. Fraktur terbuka lebih lanjut dibedakan menjadi 3 berdasarkan beratnya fraktur. a. Grade I : disertai kerusakan pada kulit yang minimal kurang dari 1 cm. b. Grade II : seperti pada grade I dengan kulit dan luka memar pada otot. c. Grade III : luka lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan pada pembuluh darah. 2.3.5. Fraktur patologik

Fraktur yang terjadi sebagai hasil dari gangguan tulang yang pokok, seperti osteoporosis. Garis fraktur membentuk sudut oblique (sekitar 45o) pada batang atau sendi pada tulang. (http://healthyenthusiast.com) 2.4. Menjelaska etiologi Fraktur 2.4.1. Menjelaskan etiologi fraktur 1) Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut 2) Trauma tidak langsung: Tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan 3) Fraktur patologis: Adanya osteoporosis, infeksi tulang, tumor tulang, penyakit metabolic 2.4.2. Menjelaskan etiologi fraktur collum femur Fraktur kolum femur sering tejadi pada wanita yang disebabkan oleh kerapuhan tulangakibat kombinasi proses penuaan dan osteoporosis pasca menopause. Fraktur dapat berupafraktur subkapital, transervikal dan basal, yang kesemuannya terletak didalam simpai sendi panggul atau intrakapsular, fraktur intertrochanter dan sub trochanter terletak ekstra kapsuler. 2.5. Menjelaskan pathogenesis Fraktur Fraktur kolum femur dapat disebabkan baik karena energi rendah maupun energi tinggi. Fraktur ini pada umumnya terjadi pada pasien usia lanut akibat trauma energi rendah, seperti jatuh pada saat berdiri. Menurut frankel, fraktur kolum femur terjadi akibat gaya asial melebihi gaya bending. Gangguan dinamika otot dapat meningkatkan risiko fraktur kolum femur pada usia lanut. Energi akibat jatuh akan terserap oleh otot pada pasien usia muda, namun tidak adapat diserap dengan baik oleh otot yang lemah pada psien usia lanjut. Mekanisme lainnya adalah akibat gaya yang berlebihan kontraksi otot pada tulang saat upaya mendapatkan kestabilan setelah jatuh. Mekanisme lain yang juga bisa menyebabkan fraktur adalah akibat jatuh mengenai panggul sehingga gaya langsung mengenai trokanter mayor menimbulkan gaya aksial sepanjang kolum femur dan menyebabkan fraktur impaksi (FKUI-RSCM, 2008 )

Beberapa peneliti menduga bahwa ekstremitas bawah dalam posisi rotasi eksterna saat jatuh. Saat rotasi eksterna yang ekstrim kolum femur menekan bibir acetabulum posterior, dan berlaku seperti fulcrum sehingga konsentrasi tekanan terjadi pada daerah ini. Kombinasi gaya aksial dan rotasi menimbulkan fraktur. Mekanisme ini dapat menerangkan bahwa kominusi kolum femur posterior pada fraktur ini (Swiontkowski, 2008 ).

(www.mydocumentku.blogspot.com) 2.6. Menjelaskan manifestasi klinis Fraktur 1) Nyeri hebat pada daerah fraktur dan nyeri bertambah bila ditekan/diraba. 2) Tidak mampu menggerakkan lengan/tangan. 3) Spasme otot. 4) Perubahan bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan pada keadaan normal. 5) Ada/tidak adanya luka pada daerah fraktur. 6) Kehilangan sensasi pada daerah distal karena terjadi jepitan syarat oleh fragmen tulang. 7) Krepitasi jika digerakkan. 8) Perdarahan. 9) Hematoma.

10) Syok 11) Keterbatasan mobilisasi. (http://healthyenthusiast.com)

2.7. Menjelaskan pemeriksaan Fraktur 1) Pemeriksaan fisik a. Inspeksi Bengkak,bengkok,luka,ekimosis,fragmentulangterlihat,pemendekan b. Palpasi Nyeritekansetempat,krepitasi c. Gerakkan Gerakan aktif dan pasif, terganggu/terbatas. Ekstremitas yang bisa digerakkan BUKAN berarti tidak ada fraktur 2) Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur. Untuk pengelolaan optimal , Syarat foto: a. Meliputi dua sendi:proksimal dan distal b. Fotosaling tegak lurus(anteroposterior dan lateral) Bila ragu:buat perbandingan2ekstremitas 3) Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan operasi antara lain : a. Darah lengkap b. Golongan darah c. Masa pembekuan dan perdarahan. d. EKG e. Kimia darah. 4) Pemeriksaan Penunjang a. Radiografi pada dua bidang (cari lusensi dan diskontinuitas pada korteks tulang) b. Tomografi, CT Scan, MRI (jarang) c. Ultrasonografi dan scan tulang dengan radioisotop. (scan tulang terutama berguna ketika radiografi/CT scan memberikan hasil yang negatif pada kecurigaan fraktur secara klinis) (http://healthyenthusiast.com) 2.8. Menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding Fraktur 1) Anamnesis : pada penderita didapatkan riwayat trauma ataupun cedera dengan keluhan bagian dari tungkai tidak dapat digerakkan 2) Pemeriksaan fisik :

a. Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; jika kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka b. Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan c. Movement :Krepitasi dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal cedera. 2.9. Menjelaskan penatalaksana Fraktur Ada beberapa prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada saat menangani fraktur : 1) Rekognisi Pengenalan riwayat kecelakaan, patah atau tidak, menentukan perkiraan yang patah, kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan bentuk tulang dan ketidakstabilan, tindakan apa yang harus cepat dilakukan misalnya pemasangan bidai. 2) Reduksi Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya. Cara penanganan secara reduksi : a. Pemasangan gips Untuk mempertahankan posisi fragmen tulang yang fraktur. b. Reduksi tertutup (closed reduction external fixation) Menggunakan gips sebagai fiksasi eksternal untuk memper-tahankan posisi tulang dengan alat-alat : skrup, plate, pen, kawat, paku yang dipasang di sisi maupun di dalam tulang. Alat ini diangkut kembali setelah 1-12 bulan dengan pembedahan. 3) Debridemen Untuk mempertahankan/memperbaiki keadaan jaringan lunak sekitar fraktur pada keadaan luka sangat parah dan tidak beraturan. 4) Rehabilitasi Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk mengembalikan fungsi normal. 5) Perlu dilakukan mobilisasi Kemandirian bertahap. (http://healthyenthusiast.com)

2.10. Menjelaskan prognosis Fraktur Prognosis fraktur bervariasi sesuai dengan jenis tulang cedera, apa bagian dari itu rusak, arah pelanggaran kontinuitas, dan apa yang lainnya kerusakan mempersulit kasus ini. Fraktur tulang yang memiliki otot yang kuat banyak dimasukkan ke dalam mereka lebih sulit kesembuhan dibandingkan dengan tulang lainnya, yang belum begitu banyak kekuasaan atau tuas yang menyertainya mampu menggusur fragmen. Fraktur dari bagian tengah tulang panjang kurang berbahaya daripada cedera serupa di dekat salah satu sendi, yang dapat diikuti oleh sinovial peradangan dan anchylosis akhir dari sendi. Radang sendi, akibat patah tulang, dihadiri dengan gejala lebih parah seiring memar telah lebih ganas. Pada fraktur dekat sebuah artikulasi itu harus diamati juga bahwa splints umum memiliki perintah sedikit di atas fragmen pendek, sehingga seringkali sulit dengan mereka untuk mencegah perpindahan, dan sehubungan dengan fraktur transversal leher tulang panjang, meskipun kemungkinan reuni kasus tersebut dengan cara materi tulang tidak lagi titik yang disengketakan. Obat ini lebih sering dilakukan hanya dengan cara zat ligamen berserat. Ketika tulang yang retak di beberapa tempat kasus ini lebih serius, sedangkan kesulitan penyembuhan jauh lebih besar. Patah tulang miring lebih merepotkan dan sulit untuk sembuh daripada melintang, karena permukaan miring tidak menolak pencabutan dari bagian bawah tulang patah, dan akibatnya ujung fraktur disimpan sepatutnya diterapkan satu sama lain dengan susah payah. Fraktur rumit dengan kontusio kekerasan dari bagian-bagian lunak, atau dengan luka , membuat mereka kompleks, jauh lebih berbahaya daripada yang lain bebas dari kecelakaan tersebut. Gejala-gejala buruk yang membuat patah tulang senyawa yang sangat berbahaya dari berbagai jenis, seperti perdarahan, peradangan kekerasan dan luas, demam , dll, sedangkan luka dari arteri besar dapat menambahkan jauh terhadap bahaya patah tulan(http://chestofbooks.com) Patah tulang pinggul dapat menyebabkan cacat berkelanjutan dalam banyak kasus. Namun, dalam banyak kasus, operasi berhasil, dan orang-orang dapat berjalan dan melanjutkan kegiatan normal dengan beberapa pembatasan. (www.sparkpeople.com) Patah tulang rumit biasanya sembuh dalam 6 sampai 12 minggu tanpa kehilangan fungsi. Setiap kenaikan keparahan fraktur atau komplikasi tambahan akan menunda pemulihan selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan dan dapat membahayakan fungsi. Sementara patah tulang dapat menyembuhkan, kerusakan pada struktur sekitarnya dapat menyebabkan fungsi miskin ekstremitas dan hasil yang kurang optimal. (www.mdguidelines.com)

2.11. Menjelaskan komplikasi Fraktur Komplikasi segerea terjadi pada saat terjadinya fraktur tulang; komplikasi dini terjadi dalam beberapa hari setelah kejadian; dan komplikasi lambat terjadi lama setelah patah tulang. Ketiganya dibagi lagi masing-masing menjadi komplikasi local dan umum. 1. Komplikasi segera Terjadi saat terjadinya fraktur tulang a. Lokal a) Kulit dan otot: berbagai vulnus (abrasi, laserasi, sayatan, dll), kontusio, avulse b) Vascular: terputus, kontusio, perdarahan c) Organ dalam: jantung, paru-paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), buli-buli (pada fraktur pelvis) d) Neurologis : otak, medulla spinalis, kerusakan saraf perifer b. Umum Trauma multiple, syok 2. Komplikasi dini a. Lokal Nekrosis kulit otot, sindrom kompartmen, thrombosis, infeksi sendi, osteomyelitis b. Umum ARDS, emboli paru, tetanus 3. Kompllikasi lama a. Lokal a) Gannguan pada proses penyembuhan tulang : 1) Union Penyambungan tulang tidak sempurna 2) Non-union Sama sekali tidak menyambung 3) Delayedunion Perlambatan penyambungan tulang (www.slideshare.net) b) Sendi: ankilosis, penyakit degenerative sendi pascatrauma, miositis osifikan, distrofi refleks, kerusakan saraf b. Umum a) Batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur dan hiperkalsemia) b) Neurosis pascatrauma 2.12. Menjelaskan pencegahan Fraktur 1) Mencegah jatuh 2) Mendapatkan cukup kalsium dan vitamin D setiap hari.

3) Berjalan, naik tangga, angkat beban, atau menari setiap hari. 4) konsultasi dengan dokter Anda tentang memiliki kepadatan mineral tulang (BMD) tes (www.niams.nih.gov) 5) Memakai pelindung ketika berpartisipasi dalam olahraga kontak atau saat blading ski, bersepeda atau roller, merekomendasikan National Institutes of Health. (www.livestrong.com)