Anda di halaman 1dari 16

Askep Gangguan Sel darah Putih

Gangguan Pada Sel Darah Putih 1. Anatomi dan fisiologi Leukosit Leukosit memiliki nukleus namun tak memiliki hemoglobin. Rentang hidup lekosit adalah beberapa jam hingga beberapa hari. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit menderita penyakit leukopenia. Jumlah lekosit adalah 4.000-11.000. m).m) dan monosit (14-19 m). Ciri dari agranulosit adalah tidak memiliki granula pada sitoplasma. Ada 2 macam agranulosit yaitu limfosit (7-15 m) dan basofil (8-10 m), eosinofil (10-12 Leukosit digolongkan menjadi 2 yaitu granulosit dan agranulosit. Ciri dari granulosit atau lekosit granuler adalah memiliki granula pada sitoplasma. Ada 3 macam granulosit, yaitu netrofil atau polimorf (10-12 Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan bendabenda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Secara rinci, fungsi dari masing-masing jenis lekosit adalah: 1. Netrofil berfungsi melakukan fagositosis (melahap agen penyerang, misalnya bakteri) 2. Eosinofil berfungsi menyerang alergen 3. Basofil berfungsi menyerang alergen 4. Limfosit berfungsi menghasilkan antibodi untuk melawan antigen 5. Monosit berfungsi melakukan fagositosis 2. Gangguan yang berkaitan dengan sel darah putih a. Leukimia 1) Pengertian Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai dengan deferensiasi dan proliferasi sel induk hematopoietik yang secara maligna melakukan transformasi yang menyebabkan penekanan dan penggantian unsur sumsum yang normal 2) Etiologi Penyebab dasar leukemia tidak diketahui, predisposisi genetik maupun faktor-faktor lingkungan mempengaruhi, saudara kandung pada kembar monozigot (identik), syndrome down, insidennya lebih tinggi, pajanan radiasi pergion dosis tinggi disertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. Zat kimia (Benzene, arsen, loromfenikol, fenilbutazon dan agen anti neoplastik) dikaitkan dengan frekuensi yang meningkat , khususnya agen-agen alkil. Kemungkinan leukemia meningkat pada penderita yang diobati dengan radiasi dan kemoterapi . 3. Klasifikasi Leukemia Klasifikasi Leukemia berdasarkan galur sel yang terkena terdiri atas limfoblastik dan mieloblastik atau granulostik , dan berdasarkan maturitas sel seperti akut (sel imatur) atau kronis (sel terdeferensiasi ) a) Leukemia Akut Menurut french-American-British (FAB), leukemia akut terdiri dari 1) Leukimia Limfoblastik akut (LLA) LLA merupakan kanker paling sering menyerang anak-anak di bawah umur 15 tahun, dengan puncak insiden anatara umur 3-4 tahun. Namun 20 % terjadi pada orang dewasa yang menderita leukemia akut . Manifestasi LLA berupa limfoblas abnormal dalam sumsum tulang dan tempat-tempat ekstramedular (di luar sumsum tulang ) seperti kelenjar getah bening dan lien. Diagnosis ditegakkan melalui hitung sel darah lengkap, sel darah putih umumnya meningkat tetapi dapat normal atau rendah dengan limfositosis. Jumlah trombosit, neutrofil dan sel darah merah

rendah. Berdasarkan morfologi dan deferensiasi dan maturasi sel LLA dibagi menjadi : L-1 : LLA anak anak : populasi sel homogeny L-2 : LLA pada dewasa :Populasi sel heterogen L-3 : Leukemia jenis limfoma burkit: sel besar, populasi sel homogen Manifestasi klinis menyerupai leukemia garanulostik akut dengan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal (Wujcik,2000). Karena itu infeksi, perdarahan dan anemia merupakan manifestasi utama. Malaise, demam, letargi, kehilangan berat badan dan keringat malam hari, limfdenofati,hepatosplenomegali (lien dan hepar yang membesar), nyeri tulang dan artralgia. Muntah , kejang dan gangguan penglihatan merupakan tanda dan gejala terkenanya SSP. 2) Leukemia Myeloid Akut (LMA) LMA mengenai sel stem hematopoetik yang kelak berdeferensiasi ke semua sel myeloid, monosit, granulosit (basofil, netrofil, eosiofil), eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena , insiden meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Merupakan leukemia non limfositik yang paling sering terjadi. Menurut FAB Leukemia Mieloblastik Akut dibagi menjadi: M-0 : Berdeferensiasi minimal M-1 : Deferensiensi granulositik tanpa maturasi M-2 : Deferensiensi granulositik dengan maturasi sampai stadium promielositik M-3 : Deferensiensi granulositik dengan promielosit hipergranular, dihubungkan dengan koagulasi intarvaskular diseminata. M-4 : Leukemia mielomonosit akut; garis sel monosit dan granulosit M-5a : Leukemia monosit akut ;berdeferensiasi buruk M-5b : Leukemia monosit akut ;berdeferensiasi baik M-6 : Eritroblastosis yang menonjol dengan diseritropoiesis berat M-7 : Leukemia megakariosit b) Leukemia Kronik 1) Leukemia Granulositik Kronik Paling sering terjadi pada dewasa usia pertengahan , tetapi dapat timbul pada semua kelompok umur. LGK memiliki awitan yang lambat, ditemukan pada pemeriksaaan darah rutin dan skrining darah. Jumlah granulosit umumnya lebih 30.000/mm3. Walaupun pematangannya terganggu, sebagian sel tetap menjadi matang dan berfungsi. Abnormalitas genetic dinamakan kromosom Philadelphia ditemukan pada 85% kasus LGK. Tanda dan gejala berkaitan dengan keadaan hipermetabolik :Kelelahan, penurunan berat badan, diaphoresis meningkat, dan tidak tahan panas.Lien membesar pada 90% kasus yang mengakibatkan perasaan penuh pada abdomen dan mudah merasa kenyang .Bila terdapat anemia pasien akan mengalami pucat, takikardi dan nafas pendek.Memar dapat terjadi akibat fungsi trombosit yang abnormal. Leukemia Limfositik Kronik LLK merupakan suatu gangguan limfoproliferatif yang ditemukan pada orang tua (umur median 60 tahun) dengan perbandingan 2:1 untuk laki-laki . LLK dimanifestasi oleh proliferasi dan akumulasi 30% limfosit matang abnormal kecil dalam sumsum tulang, darah perifer dan tempat-tempat ekstramedular dengan kadar yang mencapai 100.000/mm3 atau lebih.Pada 90% kasus , limfosit abnormal adalah limfosit B dengan penanda CD19,CD20, CD23, CD5.Awitannya tersembunyi dan berbahaya dan sering ditemukan pada pemeriksaan darah rutin, yang memperlihatkan peningkatan jumlah limfosit absolute atau karena limfadenofati dan splenomegali yang tidak sakit. Penyakit berkembang, hati juga membesar. Pasien yang hanya menderita limfositosis dan limfadenopati dapat bertahan 10 tahun atau lebih lama.Dengan terkenanya lien ,prognosis memburuk . Sekitar 5%-10% pasien mengalami anemia hemolitik autoimun atau trombositopenia atau keduanya. Tanda dan gejala yang serupa LGK menggambarkan keadaan hipermetabolik. Pembesaran organ secara massif menyebabkan tekanan mekanik pada lambung sehingga cepat kenyang, rasa tidak enak pada abdomen dan buang air besar tidak teratur .

Leukemia sel berambut Leukemia sel berambut relative jarang terjadi , leukemia limfositik sel B indolen. Nama mengidentifikasi projeksi mikroskop seperti gelondong pada limfosit pada apusan darah sumsum tulang yang diwarnai. Tanda dan gejala yang nampak adalah kelelahan, pansitopenia, dan splenomegali. Meskipun kedua jenis kelamin dapat diserang, leukemia sel berambut secara umum terjadi pada laki-laki usia pertengahan dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan 5:1. Antigen CD11 dan CD22 ditunjukkan pada limfosit. 4. Patofisiologi Leukemia mempunyai sifat khas proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Ada dua masalah terkait dengan sel leukemia yaitu adanya overproduksi dari sel darah putih, kedua adanya sel abnormal atau imatur dari sel darah putih, sehingga fungsi dan strukturnya tidak normal. Produksi sel darah putih yang sagat meningkat akan menekan elemen sel darah yang lain seperti penurunan produsi eritrosit mengakibatkan anemia, trombosit menjadi menurun mengakibatan trombositopenia dan leukopenia dimana sel darah putih yang normal menjadi sedikit. Adanya trombositopenia mengakibatkan mudahnya terjadi perdarahan dan keadaan leukopenia menyebabkan mudahnya terjadi infeksi. Selsel kanker darah putih juga dapat menginvasi pada sumsum tulang dan periosteum yang dapat mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan nyeri tulang. Disamping itu infilrasi keberbagai organ seperti otak, ginjal, hati, limpa, kelenjar limfe menyebabkan pembesaran dan gangguan pada organ terkait. b. Neutropenia (Kekurangan Sel Darah Putih) Neutropenia adalah kondisi dimana jumlah dari neutrophils dalam aliran darah berkurang. Neutrophils adalah tipe dari sel darah putih juga dikenal sebagai polymorphonuclear leukocytes atau PMNs. Neutropenia mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi-infeksi. Sel-sel darah putih juga dikenal sebagai leukocytes. Ada lima tipe-tipe utama dari sel-sel darah putih: 1. basophils, 2. eosinophils, 3. lymphocytes (T-cells dan B-cells), 4. monocytes 5. neutrophils. Beberapa sel-sel darah putih, yang disebut granulocytes, diisi dengan granules (butir-butir) mikroskopik yang adalah kantong-kantong kecil yang mengandung enzim-enzim (senyawa-senyawa yang mencerna mikroorganisme-mikroorganisme). Neutrophils, eosinophils, dan basophils semuanya adalah granulocytes dan adalah bagian dari sistim imun bawaan dengan aktivitas yang sedikit banyak nonspecifik, berdasar luas. Mereka tidak merespon secara eksklusif pada specifik antigens, seperti juga lymphocytes (B-cells dan T-cells). Neutrophils mengandung enzim-enzim yang membantu sel membunuh dan mencerna mikroorganisme-mikroorganisme yang telah ia telan dengan proses yang dikenal sebagai phagocytosis. Neutrophil yang matang mempunyai nucleus yang terbagi-bagi (ia seringkali disebut 'seg' atau 'poly'), sementara neutrophil yang belum matang mempunyai nucleus yang berbentuk pita. Neutrophils dibuat dalam sumsum tulang (bone marrow) dan dilepaskan kedalam aliran darah. Neutrophil mempunyai jangka hidup kira-kira tiga hari. Klasifikasi neutropenia Ada tiga pedoman umum yang digunakan untuk mengklasifikasikan keparahan neutropenia berdasarkan mutlak neutrofil count (ANC) diukur dalam sel per microliter darah: 1) Neutropenia ringan (1000 < = ANC < 1500) minimal risiko infeksi 2) Neutropenia moderat (500 < = ANC < 1000) moderat risiko infeksi 3) Parah neutropenia (ANC < 500) parah risiko infeksi.

Penyebab Neutropenia Neutropenia dapat hadir (meskipun ia adalah relatif tidak umum) pada individu-individu sehat yang normal, khususnya pada beberapa orang-orang keturunan Afrika atau Arab dan Yahudi-Yahudi Yemenite. Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari produksi neutrophils yang berkurang, penghancuran neutrophils setelah mereka diproduksi, atau penyatuan dari neutrophils (akumulasi dari neutrophils keluar dari sirkulasi). Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari banyak kondisi-kondisi medis: 1. Infeksi-infeksi (lebih umum infeksi-infeksi virus, namun juga infeksi-infeksi bakteri atau parasit). Contoh-contoh termasuk: HIV, tuberculosis, malaria, Epstein Barr virus (EBV); 2. Obat-obat yang mungkin merusak sumsum tulang (bone marrow) atau neutrophils, termasuk kemoterapi kanker; 3. Kekurangan-kekurangan vitamin (megaloblastic anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan/atau folate) 4. Penyakit-penyakit dari sumsum tulang seperti leukemia-leukemia, myelodysplastic syndrome, aplastic anemia, myelofibrosis; 5. Terapi Radiasi; 6. Penyakit-penyakit bawaan (sejak lahir) dari fungsi sumsum tulang atau dari produksi neutrophil, contohnya, Kostmann syndrome; 7. Penghancuran autoimmune dari neutrophils (sebagai kondisi primer atau berhubungan dengan penyakit lain seperti Felty's syndrome) atau dari obat-obat yang menstimulasi sistim imun untuk menyerang sel-sel; 8. Hypersplenism, yang merujuk pada perampasan yang meningkat dan/atau penghancuran dari sel-sel darah oleh limpa (spleen). c. Human Imunnodeficiency virus HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa. Penyakit AIDS AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV. Konsep Asuhan Keperawatan A. Pengkajian Pengkajian pada leukemia meliputi : 1. Riwayat penyakit 2. Kaji adanya tanda-tanda anemia : a. Pucat b. Kelemahan c. Sesak d. Nafas cepat 3. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia a. Demam b. Infeksi 4. Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : a. Ptechiae

b. Purpura c. Perdarahan membran mukosa 5. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola : a. Limfadenopati b. Hepatomegali c. Splenomegali 6. Kaji adanya pembesaran testis 7. Kaji adanya : a. Hematuria b. Hipertensi c. Gagal ginjal d. Inflamasi disekitar rectal e. Nyeri B. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia 3. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit 4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah 5. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi 6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis 7. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukaemia 8. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas. 9. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan. C. Rencana Keperawatan 1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh Tujuan : Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi Intervensi : a) Pantau suhu dengan teliti Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi b) Tempatkan anak dalam ruangan khusus Rasional : untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi c) Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif d) Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi Rasional : untuk intervensi dini penanganan infeksi e) Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik Rasional : rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme f) Berikan periode istirahat tanpa gangguan Rasional : menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler g) Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia Rasional : untuk mendukung pertahanan alami tubuh h) Berikan antibiotik sesuai ketentuan Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia Tujuan : terjadi peningkatan toleransi aktifitas Intervensi :

a) Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dala aktifitas sehari-hari Rasional : menentukan derajat dan efek ketidakmampuan b) Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan c) Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi d) Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri 3. Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit Tujuan : klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan Intervensi : a) Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya pada daerah ekimosis Rasional : karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan adanya anemia b) Cegah ulserasi oral dan rectal Rasional : karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah c) Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi Rasional : untuk mencegah perdarahan d) Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut Rasional : untuk mencegah perdarahan e) Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, dan pucat) Rasional : untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan f) Hindari obat-obat yang mengandung aspirin Rasional : karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit g) Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol perdarahan hidung Rasional : untuk mencegah perdarahan 4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah Tujuan : a) Tidak terjadi kekurangan volume cairan b) Pasien tidak mengalami mual dan muntah Intervensi : a) Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi Rasional : untuk mencegah mual dan muntah b) Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi Rasional : untuk mencegah episode berulang c) Kaji respon anak terhadap anti emetic Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil d) Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah e) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik f) Berikan cairan intravena sesuai ketentuan Rasional : untuk mempertahankan hidrasi 5. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi Tujuan : pasien tidak mengalami mukositis oral Intervensi : a) Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral Rasional : untuk mendapatkan tindakan yang segera b) Hindari mengukur suhu oral Rasional : untuk mencegah trauma c) Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung kapas, atau jari yang dibalut kasa Rasional : untuk menghindari trauma d) Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal atau tanpa larutan bikarbonat

Rasional : untuk menuingkatkan penyembuhan e) Gunakan pelembab bibir Rasional : untuk menjaga agar bibir tetap lembab dan mencegah pecah-pecah (fisura) f) Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil Rasional : karena bila digunakan pada faring, dapat menekan refleks muntah yang mengakibatkan resiko aspirasi dan dapat menyebabkan kejang g) Berikan diet cair, lembut dan lunak Rasional : agar makanan yang masuk dapat ditoleransi anak h) Inspeksi mulut setiap hari Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi i) Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan Rasional : untuk membantu melewati area nyeri j) Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida dan susu magnesia Rasional : dapat mengiritasi jaringan yang luka dan dapat membusukkan gigi, memperlambat penyembuhan dengan memecah protein dan dapat mengeringkan mukosa k) Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan Rasional : untuk mencegah atau mengatasi mukositis l) Berikan analgetik Rasional : untuk mengendalikan nyeri 6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis Tujuan : pasien mendapat nutrisi yang adekuat Intervensi : a) Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan Rasional : jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi b) Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan unmtuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat Rasional : untuk mempertahankan nutrisi yang optimal c) Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual bebas Rasional : untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi d) Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan Rasional : untuk mendorong agar anak mau makan e) Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering Rasional : karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik f) Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat g) Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep Rasional : membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang dari normal 7. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukaemia Tujuan : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak Intervensi : a) Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5 Rasional : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi b) Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal pemantauan suhu non invasif, alat akses vena Rasional : untuk meminimalkan rasa tidak aman c) Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat kesadaran dan sedasi Rasional : untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis. Waktu pemberian atau obat

d) Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang tepat Rasional : sebagai analgetik tambahan e) Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur Rasional : untuk mencegah kambuhnya nyeri 8. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas Tujuan : pasien mempertahankan integritas kulit Intervensi : a) Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan daerah perianal Rasional : karena area ini cenderung mengalami ulserasi b) Ubah posisi dengan sering Rasional : untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit c) Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit d) Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker Rasional : efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus, ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi e) Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering Rasional : membantu mencegah friksi atau trauma kulit f) Dorong masukan kalori protein yang adekuat Rasional : untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negatif g) Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi Rasional : untuk meminimalkan iritasi tambahan 9. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan Tujuan : pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif Intervensi : a) Dorong anak untuk memilih wig (anak perempuan) yang serupa gaya dan warna rambut anak sebelum rambut mulai rontok Rasional : untuk membantu mengembangkan penyesuaian rambut terhadap kerontokan rambut b) Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada sinar matahari, angin atau dingin Rasional : karena hilangnya perlindungan rambut c) Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu tetap bersih, pendek dan halus Rasional : untuk menyamarkan kebotakan parsial d) Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6 bulan dan mungkin warna atau teksturnya agak berbeda Rasional : untuk menyiapkan anak dan keluarga terhadap perubahan penampilan rambut baru e) Dorong hygiene, berdan, dan alat alat yang sesuai dengan jenis kelamin , misalnya wig, skarf, topi, tata rias, dan pakaian yang menarik Rasional : untuk meningkatkan penampilan Daftar Pustaka Brunner & Suddarth., 2001., Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 Volume 2., EGC., Jakarta Doenges.E Moorhouse & Geissler ., 1999., Rencana Asuhan Keperawatan , edisi 3 ., EGC., Jakarta Handayani & Hariwibowo.,2008.,Asuhan Keperawatan pada Klien dengan gangguan sistem Hematologi.,Salemba Medika .,Jakarta Hoffbrand,Pettit, & Moss.,2005.,Kapita Selekta Hematologi., EGC.,Jakarta Price & Wilson., 2005., Patofisiologi, edisi 6 Volume 1 ., EGC., Jakarta

Neutropenia
Neutropenia a. Definisi Neutropenia adalah kondisi dimana jumlah dari neutrophils dalam aliran darah berkurang. Neutrophils adalah tipe dari sel darah putih juga dikenal sebagai polymorphonuclear leukocytes atau PMNs. Neutropenia mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi-infeksi b. Diagnosa Neutropenia Menentukan Neutropenia White blood cell count (WBC) adalah jumlah dari sel-sel darah putih dalam volume darah. Batasan normal untuk WBC bervariasi sedikit diantara laborlabor namun umumnya adalah antara 4,300 dan 10,800 sel-sel per microliter atau cubic millimeter (cmm). WBC dapat juga dirujuk sebagai jumlah leukocyte dan dapat dinyatakan dalam international units sebagai 4.3 x 109to 10.8 x 109 sel-sel per liter. Persentase dari tipe-tipe yang berbeda dari sel-sel darah putih pada WBC disebut WBC differential. Absolute neutrophil count (ANC) ditentukan oleh produk dari jumlah sel darah putih atau white blood cell count (WBC) dan fraction (pecahan) dari neutrophils diantara sel-sel darah putih seperti yang ditentukan oleh analisa WBC differential. Contohnya, jika WBC adalah 10,000 per microliter dan 70% adalah neutrophils, ANC akan menjadi 7,000 per microliter. ANC dari kurang dari 1500 per microliter (1500/microL) adalah definisi yang umumnya diterima dari neutropenia. Neutropenia adakalanya lebih jauh dikelompokan sebagai: - ringan jika batasan ANC dari 1000-1500/microL, - sedang dengan ANC dari 500-1000/microL, dan - parah jika ANC dibawah 500/microL. Beberapa istilah-istilah medis mungkin digunakan secara sinonim dengan neutropenia, meskipun definisi-definisi tepat mereka adalah berbeda. Leukopenia merujuk pada umumnya pada jumlah sel-sel darah putih yang berkurang, sementara granulocytopenia merujuk pada jumlah yang berkurang dari semua sel-sel darah tipe granulocyte (neutrophils, eosinophils, dan basophils). Karena neutrophils normalnya melebihi tipe-tipe lain dari granulocytes, istilah ini adakalanya digunakan untuk merujuk pada neutropenia. Akhirnya, agranulocytosis secara harafiah merujuk ketidakhadiran sepenuhnya dari semua granulocytes, namun istilah ini adakalanya digunakan untuk merujuk pada neutropenia yang parah. c. Etiologi Neutropenia dapat hadir (meskipun ia adalah relatif tidak umum) pada individu-individu sehat yang normal, khususnya pada beberapa orang-orang keturunan Afrika atau Arab dan Yahudi-Yahudi Yemenite. Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari produksi neutrophils

yang berkurang, penghancuran neutrophils setelah mereka diproduksi, atau penyatuan dari neutrophils (akumulasi dari neutrophils keluar dari sirkulasi). Neutropenia mungkin timbul sebagai akibat dari banyak kondisi-kondisi medis: Infeksi-infeksi (lebih umum infeksi-infeksi virus, namun juga infeksi-infeksi bakteri atau parasit). Contoh-contoh termasuk: HIV, tuberculosis, malaria, Epstein Barr virus (EBV), Obatobat yang mungkin merusak sumsum tulang (bone marrow) atau neutrophils, termasuk kemoterapi kanker, Kekurangan-kekurangan vitamin (megaloblastic anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan/atau folate), Penyakit-penyakit dari sumsum tulang seperti leukemia-leukemia, myelodysplastic syndrome, aplastic anemia, myelofibrosis, Terapi Radiasi, Penyakit-penyakit bawaan (sejak lahir) dari fungsi sumsum tulang atau dari produksi neutrophil, contohnya, Kostmann syndrome; Penghancuran autoimmune dari neutrophils (sebagai kondisi primer atau berhubungan dengan penyakit lain seperti Felty's syndrome) atau dari obat-obat yang menstimulasi sistim imun untuk menyerang sel-sel; Hypersplenism, yang merujuk pada perampasan yang meningkat dan/atau penghancuran dari sel-sel darah oleh limpa (spleen). d. Gambaran Klinis Gejala Neutropenia : Neutropenia dapat terjadi secara tiba-tiba dalam beberapa jam atau beberapa hari (neutropenia akut) atau bisa berlangsung selama beberapa bulan atau beberapa tahun (neutropenia kronik). Neutropenia tidak mempunyai gejala yang spesifik, sehingga cenderung tidak diperhatikan sampai terjadinya infeksi. Pada neutropenia akut, bisa terjadi demam dan luka terbuka (ulkus, borok) yang terasa nyeri di sekitar mulut dan anus. Yang akan diikuti oleh pneumonia bakteri dan infeksi lainnya. Pada neutropenia kronik, perjalanan penyakitnya tidak terlalu berat jika jumlah neutrofilnya tidak terlalu rendah. e. Penatalaksanaan Merawat Neutropenia : Perawatan dari neutropenia didasarkan pada penyebab yang mendasarinya, keparahan, dan kehadiran dari infeksi-infeksi atau gejala-gejala yang berhubungan serta keadaan kesehatan keseluruhan dari pasien. Sungguh, perawatan harus juga diarahkan pada segala proses-proses penyakit yag mendasarinya. Perawatan-perawatan yang secara langsung dialamatkan pada neutropenia mungkin termasuk (catat bahwa semua dari perawatan-perawatan ini mungkin tidak tepat pada setting yang diberikan): obat-obat antibiotik dan/atau obat-obat anti jamur untuk membantu melawan infeksi-infeksi; pemasukan dari faktor-faktor pertumbuhan sel-sel darah putih (seperti recombinant granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF, filgrastim) pada beberapa kasus-kasus dari neutropenia yang parah; transfusi-transfusi granulocyte; atau terapi corticosteroid atau intravenous immune globulin untuk beberapa kasus-kasus dari neutropenia yang ditengahi oleh imun. DAFTAR PUSTAKA 1. Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit, Jakarta.

2. Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta. 3. DEPKES. 1993. Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. EGC : Jakarta. 4. Doenges, E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3. EGC : Jakarta. 5. Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta. 6. FKUI. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 1. FKUI : Jakarta. 7. Griffith. 1994. Buku Pintar Kesehatan. Arcan : Jakarta. 8. Nasrul Effendi, 1995, Pengantar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta

SATUAN ACARA PENYULUHAN CARIES GIGI


Diposkan oleh Rizki Kurniadi TOPIK HARI/TANGGAL WAKTU PENYAJI TEMPAT : Caries Gigi : : 1 x 30 Menit : : Rumah keluarga Tn. N

A. TUJUAN I. TUJUAN PENYULUHAN UMUM Setelah selesai mengikuti penyuluhan tentang caries gigi selama 1 x 30 menit Keluarga mampu memahami mengenai caries gigi. II. TUJUAN PENYULUHAN KHUSUS Setelah selesai mengikuti penyuluhan, keluarga mampu: 1. 2. 3. Mengetahui pengertian caries dentis Mengetahui penyebab caries dentis Mengetahui pencegahan caries dentis

B. SASARAN An. R dan An. D

C. GARIS-GARIS BESAR MATERI A. Pendahuluan

B. Pengertian caries dentis C. Penyebab caries dentis D. Pencegahan caries dentis

III.

PELAKSANAAN KEGIATAN KEGIATAN NO 1. WAKTU 5 Menit PENYULUH Pembukaan a. Salam pembukaan b. Perkenalan c. Apersepsi Menjawab salam Memperhatikan Berpartisipasi aktif Memperhatikan KELUARGA

d. Mengkomunikasikan tujuan

15 Menit

Memperhatikan dan mencatat penjelasan penyuluh dengan a. Menjelaskan dan menguraikan materi cermat tentang caries dentis: 1. 2. 3. b. Pengertian Penyebab Pencegahan Menanyakan hal-hal yang Memberikan kesempatan kepada belum jelas. keluarga yang disuluh bertanya

Kegiatan inti penyuluhan

memperhatikan jawaban dari c. Menjawab pertanyaan keluarga yang penyuluh. disuluh yang berkaitan dengan materi yang belum jelas.

Penutup a. Menyimpulkan materi yang telah Memperhatikan keterangan

disampaikan. 10 menit b. Melakukan evaluasi penyuluhan dengan demonstrasi kegiatan c. Mengakhiri kegiatan penyuluhan.

kesimpulan dari penyuluhan yang disampaikan. Melakukan demonstrasi Menjawab salam

materi telah

IV.

METODE a. Ceramah b. Tanya jawab

V.

MEDIA DAN ALAT 1. Handout 2. Gambar anatomi gigi

VIII.

EVALUASI a. Menyebutkan tanda dan gejala caries dentis (gigi berlubang)! b. Menyebutkan penangan carie dentis ), gigi berlubang!

IX.

LAMPIRAN MATERI

Pendahuluan Rongga mulut selalu dihuni oleh berbagai macam mikroba. Rongga mulut merupakan salah satu pintu masuk berbagai macam penyakit ke tubuh

ANATOMI GIGI

Apa yang dimaksud dengan penyakit Caries dentis ?

Caries dentis adalah proses penyakit berupa kerusakan yang terbatas pada jaringan gigi mulai dari email gigi dan menjalar ke tulang gigi

Sekilas tentang penyakit gigi

Yang paling banyak penyakit karies gigi = gigi krowok = gigi berlubang Gigi berlubang karena sisa makanan / karbohidrat menempel pada gigi diubah oleh kuman menjadi asam. Asam menyebabkan gigi larut dan berlubang. Gigi yang berlubang jika tidak segera dirawat akan menjalar terus hingga jaringan syaraf gigi dan jaringan pendukung gigi. Proses penjalaran gigi berlubang & Apa Yang dirasakan oleh Penderita?

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya gigi berlubang FAKTOR LANGSUNG


Struktur gigi Bentuk gigi

Susunan gigi geligi di rahang Derajad keasaman air ludah Kebersihan mulut Jumlah dan frekwensi makan makanan yang menyebabkan caries

FAKTOR LUAR/TIDAK LANGSUNG:


Usia Jenis kelamin Suku bangsa Tingkat sosial ekonomi Tingkat pengetahuan Sikap dan perilaku

FAKTOR UTAMA

GIGI & AIR LUDAH MIKROORGANISME MAKANAN

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah gigi berlubang? Memelihara kebersihan gigi dan mulut, menyikat gigi sehabis makan Memperkuat gigi dengan kalsium dan fluor Makanlah makanan yang berserat dan hindari makanan yang mudah menempel pada gigi Memeriksakan gigi dan membersihkan karang gigi setiap 6 bulan sekali Menghindari makanan serba manis, soft drink & alkohol, makanan serba asam dan rokok