Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Pemindahan plantet dari media tumbuh in vitro ke rumah kaca memerlukan penanganan khusus. Akar yang terbentuk selama regenerasi in vitro (dalam botol) mudah terserang patogen. Selain itu akar-akar tersebut belum berfungsi semestinya dan lemah sehingga mudah mati bila ditanam secara in vitro (di luar botol) yang transpirasinya terlalu tinggi. Untuk menstimulir terbentuknya akar yang dapat berfungsi dengan baik, perlu dilakukan regenerasi akar secara in vivo sebagai pengganti akar yang terbentuk secara in vitro (Darmono, 2003). Selain akar, daun-daun yang terbentuk secara in vitro belum dapat beradaptasi dengan baik karena helaiannya tipis dan lunak serta kemampuan fotosintesisnya rendah. Di samping itu, stomata (mulut daun) belum berfungsi dengan baik dan lapisan lilin kutikula tidak berkembang baik sehingga proses transpirasi menjadi tinggi bila ditanam secara in vivo (Darmono, 2003). Pelaksanaan propagasi tanaman dapat dikelompokkan menjadi empat tahap. Tahap pertama ialah overplanting dan pengeluaran bibit dari botol. Tahap kedua, budi daya dalam komuniti pot. Pada tahap ini tanaman belum mampu untuk mandiri. Di dalam botol, bibit hidup berdesak-desakan satu dengan yang lain dan pada komuniti pot pun, kebiasaan seperti itu masih terus berlanjut. Tahap ketiga, budi daya dalam pot. Dalam pot ini tanaman sudah dapat dilatih untuk mempertahankan hidupnya sendiri. Tahap keempat, pemeliharaan tanaman dewasa. Tahap terakhir ini merupakan tahap yang paling berat, sebab bila faktorfaktor lingkungan tidak terpenuhi secara optimum, tanaman-tanaman tersebut tidak bisa berkembang dan tumbuh dengan sehat ( Hendaryono, 1998). Maka dilakukanlah praktikum aklimatisasi, dengan tujuan praktikan dapat menerapkan secara langsung cara melakukan aklimatisasi plantet dari lingkungan kultur ke lingkungan luar.

1.2 Tujuan untuk mengetahui teknik aklimatisasi tanaman Anthurium cubense /cebensa untuk mendapatkan media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan keberhasilan aklimatisasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kultur Jaringan Dalam rangka pengembangan dan pembiakan tanaman, manusia terus melakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang mempunyai sifat unggul. Salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif adalah kultur jaringan. Kultur jaringan berasal dari kata tissue culture atau culture in vitro yang artinya budidaya jaringan (Santosa, 2005). Prinsip kultur jaringan adalah mengambil sebagian jaringan tanaman, kemudian menumbuhkannya didalam media buatan, sehingga tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Jaringan tertentu pada tanaman, seperti ujung akar, pucuk, kambium, tunas yang masih kecil, dan tumor tanaman ternyata bisa ditanam di dalam media kultur buatan. Dalam kutur jaringan, sel-sel meristematik yang belum berdiferensiasi akan dipacu untuk mendeferensiasikan diri. Deferensiasi dimulai dengan pembentukan meristem baru yang akan terbentuk organ tanaman, seperti akar, batang, tunas, daun, sehingga tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Caranya adalah dengan memodifikasi media tumbuh dengan menambahkan zat-zat dan hara yang dapat memacu pertumbuhan. Zat tersebut diantaranya gula (sukrosa, glukosa, atau fruktosa), vitamin, hormon tumbuh, asam amino, persenyawaan organik, dan mineral lainnya. Cara seperti ini dikenal dengan prinsip totipotensi sel (Santosa, 2005). Kultur jaringan telah populer digunakan untuk pengembangbiakan tanaman. Metode ini digunakan karena banyak manfaat yang dapat diperoleh, antara lain sebagai berikut: 1. 2. Dihasilkan populasi tanaman dalam jumlah besar Kultur jaringan dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman yang sukar diperbanyak dengan metode konvensional, seperti stek dan cangkok. 3. Dihasilkan tanaman bebas virus dengan cara penumbuhan sel bebas virus dari tanaman induk yang terserang atau terinfeksi virus 4. Kultur jaringan dapat dilakukan setiap saat atau tidak tergantung musim

5.

Dapat dibuat variasi genetik melalui manipulasi sel genetik, seperti hibridisasi atau fusi dua sel somatik baik interspesifik maupun intraspesifik. Sel didalam jaringan tanaman mempunyai sifat berdiri sendiri dan

mempunyai susunan gen. Jika sel tersebut dipisahkan dari induknya dan tanaman di media yang cocok akan tumbuh menjadi tanaman baru. Hal inilah yang dilakukan pada kultur jaringan. Bagian atau potongan tanaman yang digunakan sebagai sumber kultur jaringan ini disebut dengan eksplan. Umumnya, semua jaringan tanaman tersebut mudah ditumbuhkan. Karenanya bagian tanaman yang sebaiknya digunakan adalah yang sedang mengalami pertumbuhan pesat atau sebagai pusat pertumbuhan. Bagian tanaman tersebut diantaranya meristem, pucuk tanaman, daun muda, dan tunas muda dari buku tanaman. Selain itu, dapat juga berupa bagian-bagian bunga seperti antera, ovari, kelopak, dan mahkota bunga yang masih muda (Santosa, 2005). Untuk mendukung pertumbuhan eksplan dalam kultur jaringan, diperlukan media tanam yang memiliki unsur-unsur yang diperlukan oleh eksplan untuk tumbuh. Jumlah dan komposisi unsur tersebut harus seimbang. Untuk membantu pembentukan klorofil dan protein, mempertinggi aktivitas pembentukan jaringan meristematik, serta mentranslokasikan karbohidrat, diperlukan unsur mineral makro dan mikro dalam jumlah yang tepat dan seimbang. Sumber energi yang dibutuhkan berupa zat gula, yakni sukrosa, fruktosa, atau glukosa, vitamin yang diperlukan antara lain tiamin, piridoksin, asam nikotin, dan asam askobat. Pertumbuhan eksplan juga membutuhkan asam amino, basa nitrogen, zat pengatur tumbuh, dan senyawa padat. Penambahan air kelapa ke dalam media juga bisa meningkatkan daya tumbuh eksplan karena air mengandung beberapa mineral dan asam amino yang dibutuhkan tanaman (Santosa, 2005). Aklimatisasi merupakan saat paling kritis dalam perbanyakan tanaman secara kultur in vitro karena peralihan dari heterotrhop ke autotroph. Organisme heterotroph adalah organisme yang kebutuhan makanannya memerlukan satu atau lebih senyawa karbon organik, makanannya tergantung pada hasil sintesis organisme lain. Adapaun organisme autotroph adalah organisme yang membuat makanannya dari zat-zat anorganik (Darmono, 2003).

Penanganan bibit pada tahap aklimatisasi yang kurang baik dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, faktor-faktor yang perlu diperhatikan saat bibit dikeluarkan dari kondisi steril ke semisteril antara lain sebagai berikut: 1) Lingkungan sekitar tempat penanaman harus dijaga, kelembapan harus tinggi (85%), suhu relatif rendah (27-29oC). 2) Naungan diperlukan agar intensitas cahaya matahari dan butiran-butiran air hujan yang deras berkurang. 3) Bibit dalam keadaan sehat dan kuat dengan perakaran yang baik. 4) Saat dikeluarkan dari dalam botol kultur ke media semisteril, bibit harus dalam keadaan bersih dari media agar, terutama akarnya. Faktor-faktor yang menyebabkan kematian bibit saat penanganan aklimatisasi antara lain sebagai berikut: 1) Terjadinya proses transpirasi yang tinggi sehingga dapat menyebabkan hilangnya kandungan air dalam jaringan tanaman 2) Bibit belum atau kurang mampu melakukan proses fotosintesis 3) Terjadinya busuk atau kontaminasi oleh mikroorganisme (Darmono, 2003). Dalam memilih dan mencari komposisi medium yang cocok sering kali dilakukan beberapa kali percobaan. Agar sel, jaringan, dan organ dapat tumbuh dengan baik, diperlukan suatu medium yang mempunyai komposisi unsur-unsur hara dalam bentuk garam, zat pengatur tumbuh, hormon, atau vitamin yang tepat. a. Garam-garam anorganik Garam anorganik terdiri dari unsur-unsur makro dan mikro seperti N, P, K, Ca, Mg, Na, S, Mn, Fe, Zn, Cu dan Cl. Masing-masing unsur tersebut mempunyai peranan penting dalam pembentukan klorofil dan protein, mempertinggi aktivitas pembentukan jaringan meristematik, serta mentranslokasikan karbohidrat. Kekurangan unsur-unsur esensial akan menimbulkan gejala yang disebut penyakit fisiologis. Gejala tersebut akan hilang bila dipindahkan ke dalam medium yang mengandung semua unsur yang dibutuhkan. b. Sumber energi Sumber energi yang dibutuhkan pada umumnya dalam bentuk gula seperti sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Senyawa tersebut selain sebagai sumber energi,

juga sebagai bahan pembentuk sel-sel baru yaang dalam konsentrasi cukup tinggi dapat merangsang perakaran. c. Vitamin Vitamin yang diperlukan antara lain tiamin, piroksin, asam nikotin, dan asam askobat. d. Asam amino Asam amino yang biasa digunakan antara lain glisin, sistein, arganin, tirosin, triptofan, dan kasein hidrolisat. Vitamin dan asam-asam amino tersebut berfungsi sebagai kofaktor dalam pembentukan enzim, menstimulir proliferasi jaringan dan memperlancar respirasi. e. Basa nitrogen Basa nitrogen yang sering digunakan dalam kultur jaringan ini adalah adeninde. f. Zat pengatur tumbuh Zat pengatur tumbuh yang sering digunakan yaitu dari kelompok auksin (IAA, IBA, NAA, dan 2,4-D), kelompok sitokinin (kinetin, BAP, zeatin, isopentanil adenine, dan BA), dan asam giberelet. Aktivitas zat pengatur tumbuh dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain cahaya, suhu, dan proses oksidasi. Pada perbandingan konsentrasi yang seimbang antara auksin dengan sitokinin akan menstimulir pembentukan protocorm like bodies. Bila

konsentrasinya lebih tinggi dibandingkan sitokinin, auksin akan menstimulir pembentukan akar. Sebaliknya, konsentrasi sitokinin yang lebih tinggi dibandingkan auksin akan menstimulir pembentukan tunas. g. Persenyawaan organik kompleks Persenyawaan organik kompleks yang umum digunakan adalah air kelapa, tomat, pisang, ekstrak ragi, dan fish emulsion. Penggunaan senyawa organik untuk merangsang pembelahan sel dan mendorong proses diferensiasi. Di samping itu, senyawa organik juga merupakan sumber hara dan sebagai suau zat yang dapat menstimulir pertumbuhan.

h.

Bahan pemadat Sebagai bahan pemadat diperlukan agar-agar sepeti buatan Bacto, Difco,

batang, atau sejenisnya. Konsentrasi yang digunakan berkisar 6-7 gram tergantung jenisnya. i. Arang aktif Arang aktif berfungsi menyerap senyawa-senyawa fenol yang keluar dari luka bekas potong. j. Bahan pelarut Ada beberapa macam medium yang digunakan untuk memperbanyak tanaman seperti medium Murashige and Skoog (1962), Liensmayer and Skoog (1965), White, Vacin and Wenn (1949). Dalam kultur jaringan, ada dua macam bentuk medium, yaitu medium cair dan medium padat. Medium cair Penggunaan medium cair ada keuntungan dan kerugiannya. Keuntungannya antara lain untuk memperluas terjadinya hubungan antara medium dengan permukaan jaringan, menambah terjadinya oksigen bagi respirasi jaringan, mengencerkan terbentuknya oksidasi senyawa fenol, menghindari terjadinya polaritas, dan zat-zat dapat menyebar secara merata (homogen). Adapaun kerugiannya antara lain diperlukan pengocokan terus-menerus agar terjadi aerasi dan diperlukan shaker, padahal daya tampung shaker terbatas. Medium padat Keuntungan dari penggunaan medium padat antara lain, tidak memerlukan shaker. Adapun kerugianya yaitu hanya sebagian eksplan yang berhubungan atau kontak dengan medium. Pertumbuhan eksplan menjadi terhambat karena ada akumulasi senyawa fenol yang keluar pada luka bekas potong. Seperti dalam persiapan medium untuk biji yang ditanam dalam kultur in vitro, medium dalam perbanyakan kultur jaringan juga perlu larutan baku dahulu lalu disimpan dalam freezer sebelum digunakan (Darmono, 2003).

BAB III METODE KERJA 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Kultur Jaringan tentang Aklimatisasi dilaksanakan pada tanggal 27 April 2011, di Laboratorium Kultur Jaringan dan Green House Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman, Samarinda.

3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam aklimatisasi antara lain : beaker glass, botol selai, gelas plastik, pinset, dan kamera. Bahan yang digunakan dalam aklimatisasi antara lain: planlet Anthurium cebensa, fungisida, bakterisida, pupuk gandasil D, alkohol 70%, aquades steril, cocopeat, dan kertas label.

3.3 Cara Kerja Dikeluarkan plantet dari dalam botol dengan cara bagian pangkal ditarik lebih dahulu dengan menggunakan pinset. Dicuci dan dibersihkan plantet dari media agar, terutama bagian akar. Pada waktu pencucian diusahakan jagan ada bagian tanaman yang terluka karena akan menimbulkan infeksi. Direndam dengan aquadest steril selama 5 menit. Setelah dicuci, plantet direndam dalam larutan fungisida dan bakterisida selama 30 menit. Disiapkan media tumbuh yang akan digunakan seperti cocopeat, dan disemprot dengan pupuk gandasil sebelum digunakan. Ditanam plantet dalam pot yang sudah diisi media cocopeat lalu disiram dengan air. Diletakkan plantet ditempat yang agak teduh atau terlindung dari cahaya matahari dan air hujan secara langsung. Setelah satu minggu, plantet ditempatkan di green house. Lalu diamati persentase hidupnya setiap minggu selama 4 minggu.

3.4 Bagan kerja Dikeluarkan plantet dari dalam botol dengan menggunakan pinset Dibersihkan Direndam dalam larutan fungisida dan bakterisida

Ditanam plantet dalam pot yang sudah diisi media cocopeat

Plantet disemprot dengan pupuk gandasil

Diletakkan plantet ditempat yang agak teduh atau terlindung dari cahaya matahari secara langsung dan air hujan.

Plantet ditempatkan di green haouse dan diamati selama 4 minggu

3.5 Pengamatan Pengamatan prktikum Aklimatisasi yaitu presentase hidup tanaman Anthurium cebensa selama 4 minggu , yaitu: 100%

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil pengamatan

Gambar. Tanaman Anthurium cebensa yang siap aklimatisasi

Gambar Tanaman Anthurium cebensa dalam media cocopeat

4.2 Pembahasan Prinsip kultur jaringan adalah mengambil sebagian jaringan tanaman, kemudian menumbuhkannya di dalam media buatan, sehingga tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Jaringan tertentu pada tanaman, seperti ujung akar, pucuk, kambium, tunas yang masih kecil.

Aklimatisasi adalah pemindahan tanaman dari lingkungan steril (in vitro) kelingkungan semisteril sebelum dipindahkan ke lapangan. Aklimatisasi merupakan saat paling kritis dalam perbanyakan tanaman secara kultur in vitro karena peralihan dari heterotrhop ke autotroph. Organisme heterotroph adalah organisme yang kebutuhan makanannya memerlukan satu atau lebih senyawa karbon organik, makanannya tergantung pada hasil sintesis organisme lain. Adapaun organisme autotroph adalah organisme yang membuat makanannya dari zat-zat anorganik (Darmono, 2003). Keuntungan menanam dengan kultur jaringan antara lain : 1. 2. Dihasilkan populasi tanaman dalam jumlah besar Kultur jaringan dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman yang sukar diperbanyak dengan metode konvensional, seperti stek dan cangkok. 3. Dihasilkan tanaman bebas virus dengan cara penumbuhan sel bebas virus dari tanaman induk yang terserang atau terinfeksi virus 4. 5. Kultur jaringan dapat dilakukan setiap saat atau tidak tergantung musim Dapat dibuat variasi genetik melalui manipulasi sel genetik, seperti hibridisasi atau fusi dua sel somatik baik interspesifik maupun spesifik Faktor-faktor yang mempengaruhi aklimatisasi, antara lain: 1. Terjadinya proses transpirasi yang tinggi sehingga dapat menyebabkan hilangnya kandungan air dalam jaringan tanaman. 2. 3. Bibit belum atau kurang mampu melakukan proses fotosintesis. Terjadinya busuk atau kontaminasi oleh mikroorganisme. Adapun faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan aklimatisasi yaitu sebagai berikut: 1. Keasaman (pH) Keasaman (pH) adalah nilai yang menyatakan derajat keasaman atau kebasaan dari larutan dalam air. Keasaman (pH) suatu larutan menyatakan kadar dari ion H dalam larutan. Nilai di dalam pH berkisar antara 0 (sangat asam) sampai 14 (sangat basa), sedangkan titik netralnya adalah pada pH=7. Sel-sel tanaman yang dikembangkan dengan teknik kultur jaringan mempunyai toleransi pH yang relatif sempit dengan titil optimal antara pH

5,0 dan 6,0. Bila eksplan sudah mulai tumbuh, pH dalam lingkungan kultur dalam media kultur jaringan mempunyai peran yang sangat penting dalam menstabilkan pH. Penyimpangan pH dalam medium yang mengandung garam tinggi kemungkinan terjadi lebih kecil, karena kapasitas buffernya lebih besar. Kapasitas kultur sel untuk penggunaan NH4+ sebagai satusatunya sumber N tergantung pada pengaturan pH dari medium di atas 5. Pengukuran pH dapat dilakukan dengan pH meter, atau bila menginginkan yang lebih praktis dan murah dapat digunakan kertas pH. Bila ternyata pH medium masih kurang dari normal, maka dapat ditambahkan KOH 1-2 tetes. Sedangkan apabila pH melampaui batas normal dapat dinetralkan dengan meneteskan HCL.

2. Kelembaban Kelembaban relatif (RH) lingkungan biasanya mendekati 100%. RH sekeliling kultur mempengaruhi pola pengembangan. Jadi, pengaturan RH pada keadaan tertentu memerlukan suatu bentuk diferensiasi khusus. 3. Cahaya Intensitas cahaya yang rendah dapat mempertinggi embriogenesis dan organogenesis. Cahaya ultra violet dapat mendorong pertumbuhan dan pembentukan tunas dari kalus tembakau pada intensitas yang rendah. Sebaliknya, pada intensitas yang tinggi proses ini akan terhambat. Pembentukan kalus maksimum sering terjadi di tempat yang lebih gelap. 4. Temperatur Temperatur yang dibutuhkan untuk dapat terjadi pertumbuhan yang optimum umumnya adalah berkisar di antara 200-300C. Sedangkan temperatur optimum untuk pertumbuhan kalus endosperm adalah sekitar 250C. Faktor lingkungan, di samping faktor makanan (media tanam) yang cocok, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi. 2. Tinjauan umum tanaman Anthurium cubenses Anthurium cubense dapat tumbuh baik secara terestrial spesimen epifit. Merupakan tanaman yang tumbuh pada tanaman, tangkai daun dan daun dibagi

menjadi pelepah pendek. Pelepah pendek, kaku atau fleksibel batang tergantung pada jenis penampang sangat berbeda. pisau daun jarang tipis memiliki berbagai macam bentuk: biasanya sederhana dan elips untuk lanset, sering kali dengan basis berbentuk hati, dan kadang-kadang lobed palmate, Pisau daun mengganggu jaringan dengan mengangkat pelepah dan sebagian besar lateral basal pembuluh darah sering membentuk saraf umum di sepanjang tepi daun (Anonim, 2011). Adapun klasifikasi dari Anthurium cubense sebagai berikut:
Kingdom Subkingdom SuperDivisi Divisi Kelas SubKelas Ordo Famili Genus Spesies :Plantae :Tracheobionta :Spermatophyta :Magnoliophyta :Liliopsida :Arecidae :Arales :Araceae :Anthurium : Anthurium cubense (Anonim, 2011).

Media yang digunakan dalam aklimatisasi tanaman Anthurium adalah dengan menggunakan cocopeat yang sudah dikeringkan. Cocopeat adalah media tanam yang dihasilkan dari sabut kelapa, cocopeat memiliki kemampuan mengikat air yang sangat baik. Ruang pori di antara partikel cukup besar sehingga porositasnya masih cukup baik. Karena sifarnya ini, penggunaan cocopeat sebaikkya tidak diikuti dengan penyiraman yang berlebihan. Kelebihan air bisa menyebabkan bahan ini mudah membusuk dan mengundang penyakit, cocopeat memiliki sifat yang mudah lapuk. Karenanya, penggantian media juga harus lebih sering dilakukan. Kelebihan media ini pada unsur hara yang dikandungnya. Media ini masih mengandung unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), Dan fosfor (P) (Wiryanta, 2007). Fungsi dari fungisida adalah untuk mencegah terjadinya serangan jamur pada tanaman, media tanam maupun pot perlu direndam dalam fungisida terlebih dahulu, fungisida yang digunakan yaitu Banlate, Sedangkan fungsi dari bakterisida adalah untuk mencegah terjadinya serangan bakteri pada tanaman anthurium. Alasan perlunya dilakukan aklimatisaisi antara lain:

untuk mengetahui teknik aklimatisasi tanaman Anthurium cubense /cebensa untuk mendapatkan media yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan untuk mengetahui pengaruh media aklimatisasi terhadap pertumbuhan dan keberhasilan aklimatisasi.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Teknik aklimatisasi tanaman Anthurium cubense /cebensa: pemeriksaan perakaran plantet, dilakukan seleksi kultur, dan kultur yang akan dikeluarkan diberi intensitas cahaya yang tinggi selama 1-2 minggu. Media tanam yang sesuai adalah cocopeat karena memiliki kemampuan mengikat air yang sangat baik. Cocopeat memiliki sifat yang mudah lapuk. Kelebihan media ini pada unsur hara yang dikandungnya. Media ini masih mengandung unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), Dan fosfor (P). Faktor yang mempengaruhi keberhasilan aklimatisasi antara lain: Keasaman (pH), kelembaban, cahaya, dan temperatur.

5.2 Saran Dapat digunakan media lain seperti, media arang kayu, arang batok kelapa, media pakis, batu bata dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. www.exoticrainforest.com/Anthurium cubense.html . Diaskes pada tanggal 5 Juni 2011.

Darmono, W. 2003. Menghasilkan Anggrek Silangan. Jakarta: Penebar Swadaya. Hendaryono, S. 1998. Budidaya Anggrek dengan Bibit Dalam Botol Yogyakarta: Kaninus. Santoso, A. 2005. Panduan Budi Daya Perawatan Anggrek. Jakarta: Agromedia Pustaka. Wiryanta, W. 2007. Media Tanam Untuk Tanaman Hias. Jakarta: Agromedia Pustaka.

LAMPIRAN PERHITUNGAN Pengamatan prktikum Aklimatisasi yaitu presentase hidup tanaman Anthurium cebensa selama 4 minggu, yaitu: = 100%

LAMPIRAN FOTO

Gambar 1. gandasil, fungisida, dan bakterisida

Gambar 2. Plantet Anthurium Cebensa

Gambar 3. Penanaman plantet ke media sabut kelapa