Anda di halaman 1dari 13

PATOFISIOLOGI ASMA

A. DEFINISI

Kata asma berasal dari bahasa Yunani asthma yang berarti sukar bernafas. Asma merupakan penyakit saluran nafas yang ditandai oleh penyempitan bronkus akibat adanya hiperreaksi terhadap sesuatu perangsangan langsung/fisik ataupun tidak langsung. Tanpa pengelolaan yang baik penyakit ini akan mengganggu kehidupan penderita sehari-hari dan penyakit akan cenderung mengalami peningkatan dan dapat menimbulkan komplikasi ataupun kematian (Dahlan, 1998). Asma adalah penyakit kronis (berlangsung lama) yang ditandai dengan sesak napas disertai bunyi ngikngik (mengi) dan / atau batuk persisten dimana derajat keparahan setiap otang berbeda-beda. Pada saat serangan yang terjadi adalah menyempitnya jalan napas kita akibat pengerutan bronkus yang menyebabkan udara sulit keluar masuk paru (Maulida,2010). B. EPIDEMIOLOGI Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 810% pada anak dan 3-5% pada dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Prevalensi asma di Jepang dilaporkan meningkat 3 kali dibanding tahun 1960 yaitu 1,2% menjadi 3,14%, lebih banyak pada usia muda. Penelitian prevalensi asma di Australia 19821992 yang didasrkan pada data atopi, mengi dan HRH menunjukan kenaikan prevalensi asma akut di daerah lembab (Belmont) dari 4,4% (1982) menjadi 11,9% (1992). Singapura dari 3,9% (1976) menjadi 13,7% (1987), di Manila 14,2% menjadi 22,7% (1987). Data dari daerah perifer yang kering adalah sebesar 0,5 % dari 215 anak dengan bakat atopi sebesar 20,5% mengi 2%, HRH 4 % (Dahlan,1998). Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, penderita asma pada 2025 diperkirakan mencapai 400 juta. Prevalensi asma di dunia sangat bervariasi dan penelitian epidemiologi menunjukkan peningkatan kejadian asma, terutama di negaranegara maju (Anonim, 2007). Adapun di Indonesia, penyakit asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian. Selain mengganggu aktivitas, asma tidak dapat disembuhkan. Bahkan, dapat menimbulkan kematian. Data WHO memperkirakan, pada 2025 di seluruh dunia terdapat 255.000 jiwa meninggal karena asma. Jumlah ini dapat meningkat lebih besar mengingat asma merupakan penyakit yang un-derdiagnosed.

Sebagian besar atau 80 persen kematian justru terjadi di negara-negara berkembang. Tingginya angka kematian akibat asma banyak karena kontrol asma yang buruk. Hal ini juga karena sikap pasien dan dokter yang sering kali meremehkan tingkat keparahannya (Anonim, 2007). Penelitian di Indonesia tersering menggunakan kuesioner dan jarang dengan pemeriksaan HRB. Hampir semuanya dilakukan di lingkungan khusus misalnya di sekolah atau rumah sakit dan jarang di lingkungan masyarakat. Dilaporkan pasien asma dewasa di RS Hasan Sadikin berobat jalan pada 1985-1989 sebanyak 12,1 % dari jumlah 1.344 pasien dan 1993 sebanyak 14,2 % dari 2.137 pasien. Pada perawatan inap 4,3 % pada 1984/1985 dan 7,5 % pada pada 1986/1989. Pasien asma anak dan dewasa di Indonesia diperkirakan sekitar 38 %, Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1986 mengajukan angka sebesar 7,6 %. Hasil penelitian asma pada anak sekolah berkisar antara 6,4 % dari 4.865 anak (Rosmayudi, Bandung 1993), dan 15,15 % dari 1.515 anak (multisenter, Jakarta) (Maulida, 2010). C. FAKTOR PEMICU Penyebab dari asma belum sepenuhnya dimengerti, namun ada beberapa zat atau bahan yang dapat mencetuskan timbulnya serangan, antara lain: 1. Benda-benda dalam ruangan (tungau debu rumah dalam kasur, karpet, dan perabotan kotor, dan bulu binatang) 2. Benda-benda diluar ruangan (polusi, asap buangan pabrik) 3. Asap rokok 4. Refluks gastroesofagus (sering muntah)
5. Udara dingin, emosi yang berlebihan seperti marah atau ketakutan dan olahraga

juga dapat mencetus serangan asma. Bahkan beberapa obat seperti aspirin dan obat antiinflamasi lainnya dan beta blocker juga dapat mencetuskkan serangan (Zullies, 2009). D. PATOFISIOLOGI Pada suatu serangan asma, otot polos dan bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran napas mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Hal tersebut akan memperkecil diameter dari saluran udara (bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernapas (Dahlan, 1998).

Asma merupakan penyakit yang disebabkan oleh antigen-antibodi reagenik (IgE) yang terikat pada sel-sel mast dalam mukosa jalan napas. Dalam pemaparan kembali pada suatu antigen, interaksi antigen-antibodi pada permukaan sel-sel mast memicu terjadinya pelepasan mediator-mediator yang disimpan di dalam granula-granula pada sel-sel serta sintesa dan mediator-mediator lainnya. Agen-agen yang bertanggung jawab pada reaksi awal bronkokonstriksi yang terjadi secara cepat termasuk histamine, trypase,dan protease netral lainnya, leukotiene-leukotiene C4 dan D4 serta prostaglandin. Agen-agen tersebut berdifusi ke seluruh dinding jalan napas dan menyebabkan terjadinya kontraksi otot serta kebocoran vascular. Mediator lainnya bertanggung jawab terhadap terjadinya bronkokonstriksi yang bertahan lebih lama, infiltrasi seluler pada mujkosa jalan napas, dan sekresi berlebihan mucus pada fase reaksi akhir asma yang terjadi 2-8 jam kemudian mediator tersebut diduga adalah sitokin yang dihasilkan oleh lymfosit TH2, khususnya GM-CSF dan interleukin 4,5,9 dan 13 yang menarik dan mengaktifkan eosinofil serta menstimulasi produksi IgE oleh limfosit B. Masih belum jelas apakah limfosit ataukah sel-sel mast di dalam mukosa jalan napas yang merupakan sumber utama (Dahlan, 1998).

E. MANIFESTASI KLINIS
-

Asma kronik Gejala : pasien biasanya merasakan dyspnea, sesak napas, batuk-batuk (biasanya terjadi pada malam hari), napas yang berbunyi mengi atau bengek. Terjadi karena terpapar alergen. Tanda-tanda : saat ekspiratori napas berbunyi mengi, batuk kering (Dipiro, dkk., 2008).

Asma akut Gejala : dyspnea, napas pendek, sesak napas, nyeri pada dada dan dada terasa terbakar. Sukar berbicara dan kalimat terputus-putus. Tanda-tanda : saat ekspirator dan inspirator berbunyi mengi, batuk kering, tachypnea, takikardia, kulit pucat (Dipiro, dkk., 2008).

F. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala yang khas. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan spirometri berulang. Spirometri juga digunakan untuk menilai beratnya penyumbatan saluran udara untuk memantau pengobatan (Dipiro, dkk., 2008). Pemeriksaan spirometri sendiri merupakan pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui adanya gangguan di paru-paru dan saluran pernapasan, dan sekaligus digunakan untuk mengukur fungsi paru (Garuda Sentra Medika, 2011).

Menentukan faktor pemicu asma seringkali tidak mudah. Tes kulit alergi bisa membantu menentukan alergen yang memicu timbulnya gejala asma. Jika diagnosisnya masih diragukan atau dirasa sangat penting untuk mengetahui faktor pemicu terjadinya asma, maka dapat dilakukan bronchial challenge test. Selain itu dokter juga akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan keluarga yaitu apakah ada salah seorang anggota keluarga yang menderita asma. Pertanyaan ini akan mendukung pendapat mereka untuk melakukan tes fungsi paru atau tes pernapasan untuk meyakinkan hasil pemeriksaan sebelum diberikan resep / obat-obatan dan terapi. Tes fungsi saluran pernapasan digunakan untuk mengukur kemampuan bernapas. Hasil pemeriksaan rontgen paru dapat memperlihatkan jika ada sumbatan pada saluran pernapasan yang merupakan indikasi asma (Dipiro, dkk., 2008). G. PENATALAKSANAAN TERAPI Outcome : - Memperbaiki kualitas hidup - Mengurangi komplikasi Tujuan : - Mengurangi bahkan menghilangkan gejala - Memungkinkan pasien menjalani hidup yang normal dengan hanya sedikit atau tanpa gejala Sasaran terapi : - Saluran pernapasan Terapi non farmakologis : - Menghindari faktor faktor resiko yang dappat menimbulkan asma - Hidup sehat - Hidup bersih - Istirahat cukup
- Melakukan olahraga ringan seperti renang (Dipiro, dkk., 2008).

Terapi farmakologis: 1. Kortikosteroid


- Indikasi: sebagai antiinflamasi - Mekanisme kerja: Memblok enzim fosfolipase A2 sehingga pembentukan

mediator prostaglandin dan leukotrien dari asam arakidonat. Sehingga

kortikosteroid menghambat mekanisme hipersensitivitas IgE dan menyebabkan degranulasi mastcell dan meningkatkan kepekaan reseptor 2mimetika. Penggunaannya terutama pada serangan asma akibat infeksi virus dan infeksi bakteri. Obatnya antara lain: hidrokortison, prednison, dan deksametason
2.

Kortikosteroid inhalasi

Contoh obat: beklometason, fluktikason, dan budesonida. Keunrungan penggunaan inhalasi adalah dapat menghindari efeksamping sistemik serius (osteoporosis, tukak dan perdarahan lambung, hipertensi, diabetes) karena efeknya lokal. 3. Anti alergika Mekanisme kerjanya adalah menstabilisasi mast cell sehingga tidak pecah dan mengakibatkan terlepasnya histamin dan mediator inflamasi lainnya. Contoh obatnya: kromoglikat dan nedokromil. Ibat ini sangat berguna untuk prevalensi serangan asma dan rinitis alergi
4.

Bronkodilator Mekanisme kerja: selektif memblok reseptor 2 adrenergik

a. 2 mimetikum (bronchospasmolysis). Obatnya antara lain: salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol, salmeterol dan formaterol (longacting). Penggunaanya untuk melawan serangan asma dan sebagai kombinasi dengan kortikosteroid dalam pemeliharaan b. Antikolinergik Mekanisme kerja: memblok reseptor muskarinik dari daraf kolinergis pada otot polos bronki sehingga aktivitas saraf adrenergis menjadi dominan dengan efek nronkodilatasi. Contoh obat: ipratropium, tiotropium, dan deptropin c. Derivat ksantin Mekanisme kerja: sebagai bronkolelaksasi yang memblok reseptor adenosin. Contoh obat: teofilin, aminofilin 5. Mukolitik dan ekspektoran Mekaisme kerja: mengurangi kekentalan dahak apabila terjadi serangan asma hebat dengan adanya sumbatan lendir. Contoh obat: bromheksin, ambroxol, dan amonium klorida 6. Antihistamin

Mekanisme kerja: memblok reseptor histamin. Contoh obat: ketotofen dan oksatomida (Dipiro, dkk., 2008) Pilihan obat berdasarkan tingkat penyakit : Pengobatan asma dapat dibagi atas terapi serangan akut dan terapi pemeliharaan untuk mencegah serangan atau memburuknya penyakit yaitu : 1. Penanganan serangan asma akut Bronkospasmolitikum (untuk melepaskan kejang bronchi) yaitu :
- Pilihan pertama 2-agonis per inhalasi misalnya : salbutamol atau terbutalin.

Efeknya cepat (3-5 menit).


- Pilihan kedua (tidak selektif) misalnya : efedrin dan isoprenalin dapat

diberikan dalam bentuk tablet, tetapi efeknya setelah satu jam. Apabila pemberian inhalasi tidak memberikan efek dapat diberikan obat secara injeksi intravena berupa salbutamol dan / aminofilin. Pada serangan asma hebat dapat ditambahkan hidrokortison atau prednison secara i.v.
- Sebagai tindakan akhir dapat diinjeksikan adrenalin (dapat diulang sebanyak

dua kali dalam waktu satu jam) (Dipiro, dkk., 2008). 2. Terapi pemeliharaan Pengobatan pemeliharaan dilakukan secara bertingkat yaitu :
-

Asma ringan (serangan < 1 x sebulan) diobati dengan 2-mimetikum yang bekerja singkat sebagai monoterapi, misalnya : salbutamol atau terbutalin (12 inhalasi/minggu)

Asma sedang (serangan < 1-4 x sebulan) pengobatan dengan kortikosteroida inhalasi misalnya : beklometason, flutikason atau budesonida dalam dosis rendah (200-800 mcg/hari). Bila perlu pengobatan tersebut dikombinasikan dengan salbutamol atau terbutalin sebanyak 3-4 inhalasi / hari atau dengan obat pencegah yaitu inhalasi kromoglikat atau nedokromil. Pada Anak-anak dengan asma dan alergi dapat diberikan ketotifen atau oksatomida secara per oral yang berkhasiat mencegah degranulasi mast sel

asma agak serius (serangan 1-2 kali seminggu) pengobatan dengan kortikosteroida dengan dosis lebih tinggi (800-1200 mcg/ hari) dan dikombinasikan dengan 2 mimetikum atau antikolinergika (misalnya ipratropium) sebagai bronkodilator untuk mengurangi obstruksi bronki

asma serius (serangan >3 kali seminggu) kejadiannya adalah walaupun telah digunakan ICS dalam dosis tinggi tetapi pada malam hari masih timbul sesak nafas. Oleh karena itu dapat diberikan 2 mimetikum long action sebagai inhalasi. Apabila perlu, dapat dikombinasikan dengan teofilin dalam bentik slow release (Dipiro, dkk., 2008)

Prinsip terapi serangan akut :

Short acting

2-agonists (salbutamol-terbutalin) merupakan terapi pilihan untuk

meredakan gejala serangan akut dan pencegahan brnkospasmus akibat exercise

Anticholinergics (ipratoprium bromide) memberi manfaat klinis sebagai tambahan inhalasi beta agonis pada serangan akut yang berat. Merupakan bronkodilator alternatif bagi pasien yang tidak bisa mentoleransi beta agonis

Systemic corticosteroids digunakan jangka pendek untuk mengatasi eksaserbasi yang sedang sampai berat untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah eksaserbasi berulang.

Oksigen diberikan via kanula hidung atau masker utuk mejaga SaO2 > 90% (>95 % untuk wanita hamil dan pasien dengan gangguan jantung), saturasi oksigen perlu dimonitor sampai diperoleh respon terhadap bronkodilator

Prinsip terapi jangka panjang : Obat anti inflamasi (kortikosteroid) merupakan treatment yang esensial untuk asma Mengajari dan memantau teknik inhalasi obat kepada pasien sangat penting Treatment harus disusun untuk setiap pasien sesuai dengan keparahan penyakitnya dan dimodifikasi secara fleksibel tahap demi tahap Penggunaan kortikosteroid oral jangka pendek kadang-kadang diperlukan Aspirin dan NSAID harus digunakan dengan hati-hati karena 10-20% pasien asma alergi terhadap obat ini Beta blocker sering memicu kekambuhan gejala asma Terapi desensitisasi bermanfaat bagi sebagian pasien (Anonim, 2008)

H. PILIHAN OBAT UNTUK SWAMEDIKASI Obat asma hanya digunakan oleh penderita asma yang telah dipastikan menderita asma oleh dokter dan telah mengetahui jenis, dosis dan aturan aturan pemakaian obat. Obat asma digunakan untuk mengatasi gejala asma ringan dan intermiten (kadang kala). Jika seseorang tidak dapat memastikan sesak napas karena asma, dan setelah menggunakan obat asma gejala tidak berubah, penderita harus segera menghubungi dokter. Untuk mendapatkan efek optimal, penderita harus mematuhi dan menggunakan obat asma sesuai cara dan jadwal penggunaan obat secara cara dan jadwal penggunaan obat seperti aturan pakai yang tercantum dalam kemasan atau brosur obat. Sebagian besar obat asma termasuk golongan obat keras. Obat asma yang dapat diperoleh tanpa resep dokter adalah teofilin, efedrin, kombinasi teofilin-efedrin dan beberapa ekspektoran (Anonim, 2011). 1. Teofilin Cara kerja obat : Teofilin mempunyai efek bronkhodilatasi yang tidak diketahui dengan jelas mekanismenya. Dosis yang diijinkan adalah 130-150 mg. Efek farmakologik teofilin tidak hanya sebagai bronchodilator atau relaksan otot polos, tapi juga mempunyai efek terhadap susunan saraf pusat, jantung, iritasi lambung dan lain sebagainya. Kegunaan : Meringankan dan mengatasi serangan asma bronchial. Tidak boleh digunakan pada : Penderita yang alergi terhadap komponene obat ini dan juga penderita tukak lambung Hal yang perlu diperhatikan : Jangan melebihi dosis yang dianjurkan Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi jantung berdebar-debar Agar dikonsultasikan dengan dokter apabila : Dalam 1 jam gejala-gejalanya masih tetap atau bertambah buruk Wanita hamil dan menyusui Penderita usia diatas 55 tahun, terutama pria

Penderita kekurangan oksigen dalam darah, hipertensi, kerusakan fungsi hati, atau penderita yang mempunyai riwayat tukak lambung, penyakit paru kronik

Interaksi dengan obat lain : Jangan diberikan bersama sediaan xantin yang lain, misalnya kafein atau sediaan lain yang mengandung teofilin, atau minum teh, kopi, cola, tonikum yang mengandung kafein Simetidin, eritromisin, troleandomisin, dan kontrasepsi oral dapat meningkatkan serum teofilin Rifampisin menurunkan serum teofilin Efek yang tidak diinginkan : Sakit kepala, pusing, sukar tidur, mual, muntah, nyeri perut bagian atas Pada penderita yang mempunyai kecendrungan mengalami gangguan irama jantung, apabila menggunakan obat ini kemungkinan dapat menimbulkan aritmia Ruam kulit Hiperglikemia, gatal-gatal Aturan pemakaian : Sediaan yang tersedia di pasaran berupa tablet, kapsul atau sirup berkisar antara 130-150 mg/tablet atau per 5 ml. Dosis teofilin yang optimal dinyatakan sejumlah mg per kg BB.
-

Dewasa : 5 mg/kg BB sebagai dosis awal pada serangan akut, diikuti dengan 3-4 mg/kg BB setiap 6 jam untuk mengendalikan gejala asma. Pada penderita perokok tidak lebih dari 4 mg/kg BB. Dosis total sehari tidak lebih dari 10-12 mg/kg/hari. Pada penderita penyakit hati dan lemah jantung, dosis disesuaikan dan dimonitor.

Anak-anak : Sama dengan dosis dewasa, kecuali dosis pemeliharaan sebesar 4-5 mg/kg BB setiap 6 jam.

Untuk mempermudah pemakaian, takaran yang dianjurkan adalah :


-

Dewasa : 3 kali sehari 1 tablet Anak-anak 6-12 tahun : 3 kali sehari tablet atau menurut petunjuk dokter (Anonim, 2011)

Contoh obat asma yang bisa didapat di apotek: Bronchophylin

2.

Efedrin Cara kerja obat : Efedrin suatu simpatomimetik amin, mempunyai efek bronkhodilatasi, yang lemah. Bekerja mempengaruhi sistem saraf adrenergik secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu hanya digunakan pada asma ringan. Kegunaan : Untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronkhial. Tidak boleh digunakan pada: Penderita yang alergi terhadap komponen obat ini dan penderita hipertiroid, jantung, hipertensi Hal yang perlu diperhatikan: - Dapat terjadi retensi urin pada penderita hipertrofi prostat - Tidak untuk serangan asma yang parah - Hati-hati pemberian pada wanita hamil, menyusui, anak-anak, penderita dengan gangguan fungsi hati - Jangan melebihi dosis yang dianjurkan dan jika dalam 1 jam gejala masih menetap atau memburuk, segera hubungi dokter atau unit pelayanan kesehatan Interaksi dengan obat lain: Jangan diberikan obat penghambat MAO atau guanetidin Efek yang tdak diinginkan: - Pada susunan saraf pusat sakit kepala, sukar tidur, gelisah - Jantung berdebar Aturan pemakaian: Dosis efedrin sebagai obat asma yang beredar di pasaran berupa tablet, kapsul, atau sirup berkisar antara 8-12,5 mg/tablet atau sendok teh 5 mL. - Dewasa : 1-2 tablet, 2-3 kali sehari. - Anak-anak dibawah 12 tahun : tablet atau sendok teh, 2-3 kali sehari Contoh obat asma yang bisa didapat di apotek: - Asmadex (Theophylline 130 mg, Ephedrine HCl 10 mg) (Dexa Medica) - Asmano (Theophylline 130 mg, Ephedrine HCl 12,5 mg) (Corsa) - Asmasolon (Thephylline 130 mg, Ephedrine HCl 12,5 mg) (Probus) - Neo Napacin (Theophylline 130 mg, Ephedrine HCl 12,5 mg) (Konimex) - Theochodil (Theophyllin 130 mg, ephedrine HCl 12,5 mg) (Global Multi Farmalab)

- Tusapres (Theophyllin 50 mg, Glyceryl guaiacolate 40 mg, diphenhydramine HCl 12,5 mg) (Sandoz) (Anonim, 2011) Peran Farmasis : 1. Mengedukasi pasien mengenai fakta dasar tentang asma : bedanya saluran nafas yang normal dengan pasien asma Apa yang terjadi ketika serangan asma 2. Mengedukasi pasien tentang pengobatan asma

bagaimana obat bekerja pengobatan jangka pnajang dan pengobatan serangan akut tekankan pada kepatuhan penggunaan obat terutama yang mendapat terapi jangka panjang 3. Mengedukasi tentang tehnik penggunaan inhaler yang benar
Demostrasikan cara memakai inhaler, dan bentuk device yang lain 4. Memantau penggunaan obat pada saat refill dapat membantu mengidentifikasi pasien

yang kontrol asmanya kurang baik

komunikasikan dengan dokternya

5. Mengedukasi pasien untuk memantau kondisinya :

bagaimana memantau gejala dan mengenal kapan kondisi memburuk, kapan dan bagaimana melakukan tindakan darurat (rescue actions) 6. Mengedukasi pasien untuk mengidentifikasi dan menghindari faktor pemicu

DAFTAR PUSTAKA Anonim, %20napas.pdf, diakses tanggal 1 2011, mei 2011 ASMA,

http://www.pom.go.id/public/publikasi/kompendia/berkas_pdf/Saluran Dahlan, Z., 1998, Masalah Asma di Indonesia dan Penanggulangannya, Subunit Pulmonologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung Dipiro, dkk., J.T., Tabert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, M., 2008, Pharmacoteraphy: a Patophysiologic Approach, 991, Appleton and Lange, USA Maulida, Zullies, Maret 2011 Garuda Sentra Medika, 2011, Spirometri, http://www.garudasentramedika.co.id/web/index.php? option=com_content&view=article&id=1156&Itemid=486, diakses tanggal 2 April 2011 Anonim, 2007, Penyakit Asma, Kontrol Teratur, Cegah Kekambuhan, http://cpddokter.com/home/index.php? option=com_content&task=view&id=116&Itemid=2, diakses tanggal 2 April 2011 2011, Asma, 2009, http://mangluft.com/2007/10/09/tips-untuk-penderita-asma/, Asma dan Patofisologi, diakses tanggal 27 Maret 2011 http://www.infoibu.com/mod=publisher&op=viewarticle, diakses tanggal 28