Pedoman Pelaksanaan Program

KATA PENGANTAR

Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value) yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha (petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha. Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor, baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan sumber daya yang ada. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab tugas pokok dan fungsi yaitu Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

i|Page

Pedoman Pelaksanaan Program

Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar pelaksanaan program dan kegiatan. Pedoman pelaksanaan program ini merupakan acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan,

Udhoro Kasih Anggoro

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

ii | P a g e

1.2. PENGAWASAN.3.3 Monitoring dan Evaluasi 5.4.3.5. Kegiatan dan Anggaran 5. Kegiatan dan Anggaran 5. Kebijakan PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. Ketentuan Pidana. III.4. Latar Belakang 1. Tujuan 1.2.1. Pengorganisasian 4.2. Program 3. Tata Hubungan Kerja 4. VII. STRATEGI. dan Ganti Rugi PENGENDALIAN. Pengelolaan Anggaran 4. EVALUASI DAN PELAPORAN 5.2. Dasar Hukum 1. Kegiatan TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. Istilah dan Pengertian SASARAN. Sanksi Administratif. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA.1. Sasaran 1. 55 56 63 69 71 71 72 73 74 77 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iii | P a g e .4 Pelaporan PENUTUP i iii iv vi vii 1 1 4 6 7 8 15 16 17 19 23 24 33 34 55 II. 2012 4. 2012 2.2 Pengawasan Program.3. PENDAHULUAN 1. IV. 2012 3. Sasaran 2.1 Pengendalian Program. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program 3.3. V.1. Strategi 2.

Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA 2012 Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012 Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 7 Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Tabel 2 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 4 Sasaran Luas Tanam. 2012 Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 14 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Luas Panen. 2012 Tabel 16 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 16 25 26 27 29 30 32 34 36 38 39 40 41 42 45 46 47 48 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iv | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR TABEL Tabel 1 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 49 50 52 53 Tabel 23 Tabel 24 59 60 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan v|Page .

Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan 16 18 26 39 39 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vi | P a g e .

dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Luas Panen. 2012 Agenda Perencanaan Nasional Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Produktivitas. Luas Panen. Produktivitas.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Daftar Satuan Kerja di Pusat. dan Produksi Padi Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. dan Produksi Jagung Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Luas Panen. Luas Panen. Luas Panen. Produktivitas. Luas Panen. Evaluasi dan Pelaporan Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 84 107 111 112 113 114 115 116 117 118 123 141 142 143 144 147 148 149 150 151 153 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vii | P a g e . 2012 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Alur Sistem Pemantauan. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen.

Pedoman Pelaksanaan Program Anggaran K/L Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Lampiran 22 Lampiran 23 154 159 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 161 162 163 164 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan viii | P a g e .

berkeadilan. dan berkelanjutan. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b. Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. Demokratis. dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. seimbang. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. jangka menengah. terfokus. Dalam konteks ini. Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a. Maju. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif. bukan langkah-langkah biasa (business as usual). Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah. yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth). Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin 1) 2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page . Mengacu pada visi tersebut. serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough). dan Berkeadilan. berkelanjutan. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri. 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor). Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.1.1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera. Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).Pedoman Pelaksanaan Program BAB I PENDAHULUAN 1. dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job). berwawasan lingkungan.

serta optimalisasi efisiensi usaha. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi.Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun.Pedoman Pelaksanaan Program c. diperlukan prakarsa-prakarsa baru.Percepatan Pembangunan Papua. h. Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page . d. Pada tahun anggaran 2012. Papua Barat dan Nusa Tenggara . Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan. Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut. Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: . Produktivitas. e. dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program. f. faktor peningkatan produktivitas. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89. baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu). yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri.Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . peningkatan kapasitas usaha.Penguatan Penanggulangan Kemiskinan .2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110.8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian. nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut. g. perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3. Untuk itu. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan.

Produktivitas. Produktivitas. Saat ini. dan ubi jalar. kacang hijau. yaitu padi. dana alokasi khusus (DAK). Namun demikian. Direktorat Jenderal Hortikultura. pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas. dan berbagai jenis lainnya. Dalam perkembangannya. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. karena faktor keterbatasan yang ada. komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. Oleh karena itu. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. Dalam hal ini. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . dana tugas pembantuan. kedelai. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD. disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. jagung. kacang tanah. jagung. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. gandum dan lain-lain. dana subsidi.Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. seperti dana dekonsentrasi. garut. arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi. gembili. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN. ubi kayu.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. dan kedelai. sejak tahun 2011. sorgum.

DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN. KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. 2) pedoman pelaksanaan kegiatan. dan 3) pedoman teknis. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1. Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program.Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. TUGAS PEMBANTUAN. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. DAK.2.

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. sebagaimana telah diubah beberapa kali. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah. junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page . Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012. Tujuan             1.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012.3.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Produktivitas. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Penelaahan.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Produktivitas.

efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program. Produktivitas.4.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. 1. tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia. kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja. kebijakan. sasaran. meningkatkan transparansi. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang. tujuan. Produktivitas. efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran. c. dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. dasar hukum. kegiatan. Sasaran b. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi.

Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. kewilayahan dan lintas kewilayahan.Pedoman Pelaksanaan Program 1. RPJMN III Tahun 2015-2019. 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. yang memuat strategi pembangunan nasional. melalui urutan pilihan. RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. 6. RPJMN II Tahun 2010-2014. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page . dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1. lintas Kementerian/ Lembaga. serta program Kementerian/Lembaga. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan). Produktivitas. kebijakan umum. visi. 5. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. 4. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. yaitu RPJMN I tahun 2005-2009. disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga).5. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. 3. memuat prioritas pembangunan. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun.

termasuk peralatan dan teknologi. 12. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. 11. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. 8. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. 16. 10. 13. 15. 14. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan. barang. modal. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana.Pedoman Pelaksanaan Program 7. 9. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page . dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut.

Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. Tanpa indikator kinerja. menyetorkan. 20. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). 22. 25. 18. menyimpan. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. 19. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. dan mempertanggung jawabkan 17. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. menatausahakan. 23. tahap pelaksanaan (on-going). Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. 21. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. 24. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan.

Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. atau kota. 34. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. 30. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 29. 27. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. barang. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing. 26. 28. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. 32. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e . membayarkan. 35. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. menyimpan. kabupaten. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari. 33. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. badan/lembaga keuangan internasional. menatausahakan. 31. pemerintah negara asing.

39. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. sosial dan keagamaan. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. 42.Pedoman Pelaksanaan Program 36. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. 40. efisien. serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. 41. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan. 43. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . 38. efektivitas pelaksanaan. keluaran (output). dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan.

Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. atau mengimpor barang dan jasa. kualitas. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. kelangsungan hidup. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD. jaminan sosial. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. 45. dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. 49. dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. 44. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. mengekspor. Pembedayaan sosial. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e . tunjangan. 48. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan. seperti gaji. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya. dan/atau penguatan kelembagaan. penyediaan aksesibilitas. dan kompensasi sosial. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. 47. menjual. penanggulangan kemiskinan dan bencana.Pedoman Pelaksanaan Program selektif. 46. perlindungan sosial. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial.

6. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan. 3. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. efektif. 2. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. 5. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. 4. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . 3. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. 5. sebagai berikut. 1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. 4. 7.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. dan 6. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. STRATEGI. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut. 1. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. Dalam mewujudkan visi tersebut. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. dan berkelanjutan. 2.

dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.430 1.381.556.874. kacang hijau.98 190. dan ekspor.1. Luas Panen.000 390.00 Produksi (Ton) 72.600 207.55 15.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e .000 825.000. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan.000 Luas Panen (Ha) 13.900. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. ubi jalar. pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif.315. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.500 1.000 785.771 4.13 51. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional. Tabel 1.026.800 196.Pedoman Pelaksanaan Program 2.000 25. dan ubi kayu.700 325.00 11.000.000 2.312. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi.250. Namun demikian. Selain itu.655.000 1.026.300.000 342. b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional. Sasaran Luas Tanam. kebutuhan pakan.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14.20 14.600 1. kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya. kedelai.235 24.865 4. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah. Dalam hal ini. daya saing.000 1.100. kacang tanah.437 1.00 117. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. baik kebutuhan pangan. jagung.

(2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e . Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan.2. subsidi ataupun insentif lainnya. Untuk itu. harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah. (4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia. Namun demikian. pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH. (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani.Pedoman Pelaksanaan Program 2. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut. Berkaitan dengan peningkatan produksi. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. DAYA SAING. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian. Secara harfiah. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana.

Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi.Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1. 2) perluasan areal tanam. Gambar 3. maupun hilir. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. on-farm. Peningkatan manajemen. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. 3) pengamanan produksi. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e . Peningkatan produktivitas 2. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu. dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Perluasan areal dan optimasi lahan 3.

dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. alsintan. akuntabilitas. efektivitas. dan partisipasi. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). Pada prinsipnya. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi.(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu. antara lain: bantuan benih/bibit unggul. Dari 23 arah kebijakan tersebut.3. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. transparansi. (4) pencapaian swasembada kedelai. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014. (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).Pedoman Pelaksanaan Program 2. Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011. (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan. penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). subsidi pupuk. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya. 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e . sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. 3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. Karena itu. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif.Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga. kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung. Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. Dalam hal ini. Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. jagung dan kedelai. dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait. khususnya komoditas strategis seperti padi.

hasil bahan asal hewan. (3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. Pada era perdagangan bebas ini. Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan. karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri. hewan. ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. baik ekspor maupun impor. penyakit dan organisme pengganggu. asal bahan hewan. Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani. hewan. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO). (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. alih fungsi. hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan. berakibat terjadinya degradasi. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang.

f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. c) mewujudkan kemandirian. ketahanan.Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. Sanksi bagi orang. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. h) mempertahankan keseimbangan ekologis. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak. dan kedaulatan pangan. e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e . perseorangan. d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani.

serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan. Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan). 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. 2) komponen prioritas pemberdayaan. 5) pola pengelolaan bansos. 6) mekanisme pengadaan barang/jasa. 4) jenis belanja.Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e .

Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. 4. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. 2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi. 3. 8.1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 5.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut. 7. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e . 6. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1.

dan lembaga yang mengakar di masyarakat. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani. 2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan. penangkar benih. Kode 018. 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI.06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi. 4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. Produktivitas. BPSBTPH. pelaku usaha pascapanen.03.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e . dan BPTPH).

Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. 5. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6. Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3. 7. Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2. 1. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e .

Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2. BPSBTPH.245.Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI.00 130.680 139.000.00 37.51 13.. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi. 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp. Tabel 4.500 142.347.565.010 25.000 542. 1.000 200.000 190.00 17. Luas Panen.416.000 300.230 9.000 475.000 6. 1. sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini.000 20.500 19.000 285.000 2.880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp.00 250.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan.000 1.560 10. Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area).250 1. Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain.00 16.235. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan.000 6.000..50 65.195.700.00 Produksi (Ton) 16. dan BPTPH).350 Luas Panen (Ha) 2.781. 512.000 500. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan).00 77.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT).455. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .690 268.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp.498.000 150.000 332.899.260 164.000.-. jagung dan kedelai. Sasaran Luas Tanam.000 350. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).536.104.

520 69.957.926.870.746. 29.200 1.847.000 803.587.498.817.710 32. 21. 2.161.000 4.800 10.114.620 1.114.245. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.120 246. 31. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.633.799.000 803. 25.000 3.000 1.600 13.330 28.447.260.400.642.618.000 5.000 700.350 12.000 2.000 8. LOKASI DINAS A.155.000 1.000 4.901.000 1.850 23.000 1.000 750.628.000 27.436.480 92. 4. 18.210 21.817.843.428.500 11. 1.489.659.100 18.400 2.263.900 9. 22.820 28.347.000 1.483.001.084. 2.644.000 6.500 1.800 21. B 1.000 1.185.900 15.700 9.188.552.000 2.500.455 54.990.320 46.536 1.591.581.600 44.000 1.610. 10. 16.000 2.395.500 16.115.916. 20.500 3.000 474. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.420 163.000 2.587.067.221.820 47.000 2.300 3.208.487.000 339.113.21%. 4.893.900 23.403.750. dan belanja bantuan sosial.000 3.314.250.969.055.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.000 600.618.841.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.804.840.125.300.093.478.084.327.670.372.000 9.580 348.600 13.000 500.007.492.000 1.200 16.800 1.000 6.000 1.110 4.030.709.420 27.114. 3.500 18.404.100 12.500 18.805.016.100 200.500 512.000 500.600.000 152.759.260.060 28.300 8. belanja barang.000 2.374.802.992.278.676.561.544. 6.000 4.725 34.546.600 1.400 13.200 31. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .242. 17.500 2.320.180 122.940 12.362.500 12.900 18.642.830 16.738.558.400 11.899.600 16.445.810 1.300 803.600 9.771.976.020 207.543.693.626.500 7.797.878. 15.200 14.147.588.067.713.500 4.860 10.987.000 4.250.100 36.090.377.000 2.740 34.494.156.100 4. 13.131.187.800.000 3.100 6.000 1.000 100.039.000 1.000 2.000 1.800 47.000 5.459.100 67.900 9.500 3.715. 3.700 432.676.061.500 6.000 4. 27.567.249.041.176.895.900 37.300 11.000 400.625 49.176.019.414.478.310 46.500 4.926.038.000 3.000 2.400 14.186.600 19.030.405.000 3.000 1.400.007.640 53.500 8.246.462.740 23.000 2.549.800 4.700 30. 9.536 7.412.500 14. 12.104.850.934.700 9.000 2.516.168.700 1.100 18.455 82.130 24.051.985.000 2.297.473.398. 14.700 22.000 299.353.303. 5.630 16.330.592.480 385.000 821.400 7. 24.000 3.700 4.000 721.500 550.500 11. 11.450.000 3. 7.000 250.500 3.000 500.000 2.056.100 38.000 4.138.600 10.089.085.000 12.410.465.278.600 1.288.300 20.750 76.000 350.160 47.000 698.049.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.000 385.000 7.582.000 4.598.201.801.420 67.000 3.491.566.621.480.100 21.300.374.010.000 250.500 5.562.907. 23.910 66.814.000 600.820.180 3.000 400.600 16.365.678.600 5.000 600.750.000 4.000 3.142.498.260 4.300 28.604.180.783.000 2. 19. 28.392.184. 33. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78. belanja modal.600.533.800 5.000 1.000 2.800 11.000 100.500 11.846. 26.680 24.150.400 15. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.000 61.731.000 350.600 5.152.400 21.238.000 250.400 6.500 7.731.100 13.000 1.609.439.160 21. 32.020 15. 30.000 2.449.000 1.000 2.900 6.304.880 13. alokasi anggaran untuk belanja pegawai.178.500 8.500 910.023.825.500 1.500 3.017.350 92.100 28.000 300. 8.000 5.218.582.140 14.448.940 5.000 2.465.900 14.000 1.100 11.400 34.560 34.000 230.220 50.000 1.

961 1767 3.251.834.919 588.000 3. 000) 018.000 1765 0 22.085 6. belanja pegawai 1.749.869 0 0 124.246 588.000 67.235.342.040 0 0 0 0 0 0 0 2.960 0 0 0 0 0 0 156.800.016.568 506.292.453.411.520 175.200.18%.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.062.800. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp.534.289.000 1766 46. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.950 1.315 1. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp.06 Program Peningkatan Produksi.030 1762 0 96.300.834.628.000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas.900 0 7. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.532 3.350 944.735 0 0 172.187.285 53.000 154.194.600 186.000 90.000 248.436.871.115.699.962.507.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.813.002.000 1768 4.000 1763 0 151.491.03.052 9.536.000 231.115.991 0 0 297.164.510 889.500 847.000.436.435.000 1764 0 178. Tabel 6.067.460 36. Produktivitas.516.775 2.129.668.73% dan belanja modal 1.219 19. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .468 3.092 109.418.88%.353.991 1761 0 20.650 73.441.150 430.998 1.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.894.829 36.496.

evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. hal ini disebut dengan lex specialist. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Dalam administrasi. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7. Ubinan SLPTT Kedelai 14. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat). Secara umum. Namun demikian.919 unit 3. Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output. maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan. Namun demikian.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. Ubinan SLPTT Padi 2.500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. sebagai berikut: 1. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut). persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang.136 unit 1. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

13. 4.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. 1. 3. 7. 12. 10. 2. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. 6. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . 9. 11. 5. 8.

penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program. dan pelaporan. Produktivitas. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. mengevaluasi. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan. serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian. evaluasi. monitoring dan evaluasi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e . pengawalan. 6) ketepatan pembentukan tim pembina. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan. dan melaporkan pelaksanaan. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran.2. Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Secara umum. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi. 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan. Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana.

kinerja Program Peningkatan Produksi.1. No. pengawalan.3. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e . Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia. Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3. Pengendalian. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan. monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina. Pada tahun anggaran 2012.3.

25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No. 44. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih. kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e . pupuk.850. Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp. dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. 10 ha areal SLPTT padi hibrida. 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida. Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani.-/Ha. dan alsintan). maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT. 25 ha areal SLPTT padi lahan kering. Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. 3. serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya.000. 1. pembinaan manajemen kelompok.000. 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. hibrida dan lahan kering).600. dan jagung (hibrida).000. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2. Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung.Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida. 64.700.-/Ha. dan alsintan). Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha.-/Ha. pupuk.

pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 25.000 690. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.600 2.600 2. Padi Hibrida.000 1.Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.000 50.000 690.000 3.000 150. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e .000 kg 1 unit 1 paket 1.700.000 500.700.750.000.000 500. biaya pertemuan kelompok tani.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping . .000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi.000 160.000 64.750.000 500.Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP .000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1.750.000 3.700. Padi Lahan Kering.000 1.000 150. Jagung Hibrida.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1. SLPTT Model Padi Hibrida .000 500.000.700.300 500 170. SLPTT Reguler .000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.850.000 160.000 25.000 kg 1 unit 1 paket 1.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.300 500 25.000 500.Model Spesifik Lokasi .Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) .000 150.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9.000 10 kali 10 kali 1 buah 170.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.750.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.000 44.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.000 150.000.000 50.000 150.1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.000. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 690.600 2. 2012 SL-PTT A.600.000 3.000 500.300 500 25.000 1.000 160.000 3.Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. SLPTT Model Padi Non Hibrida .Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 150.000 50.

25 Provinsi. 10 Provinsi Pusat. dan Evaluasi Serealia 2. 26 Provinsi.300 Ha 500. Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. Padi Hibrida e. Pangan Alternatif 3. dan jagung hibrida seluas 200. padi hibrida seluas 290. pemilihan benih.700 Ha 9. 30 Provinsi. Tabel 10. pengendalian OPT hingga panen. lahan kering seluas 500. seperti pengolahan tanah. padi hibrida spesifik lokasi 9.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan. 13 Provinsi. 31 Provinsi. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia.000 Ha 200.750 Ha 290.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi. Padi Non Hibrida b. Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2.550 ha. Pembinaan. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e . Padi Lahan Kering g. pengawalan.000 ha. monitoring dan evaluasi serealia.700 Ha 33.651. No.550 Ha 14.750 ha. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.000 ha. pengairan. 17 Provinsi. Monitoring.700 ha.300 ha. 1. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14.651.700 ha. Pengawalan. 22 Provinsi. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d. pengaturan tanam. pemupukan. (2) ketepatan alokasi anggaran. Selain itu. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f.

(7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). mengevaluasi. 1.2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan.3. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai. 2. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. Tabel 11. pengawalan. penyediaan dan penyaluran bantuan. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No. monitoring dan evaluasi. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran.

000 500 250.000 230. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK.Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian. Peneliti.000 400. Tabel 12.300 1.000 540.600 2.000 250.000 500 250.000 160.000 500.000 160.000 1.000 500.000 250.280.000 500.000 80.000 150. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan.000 1.000 500.000 200.000 250. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL. B. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No. POPT.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.000 150.000 3.390. A.000 1.000 13.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e .000 250.000 500.000 200. PBT dan Mantri Tani.000 250.930. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1.000 230.000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1.390.300 1.000 500.000 500. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha.600 2.

4 Kab/Kota 2 Provinsi. 29 Kab/Kota 1 Provinsi. 3. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. Tabel 13.500 Ha.000 Ha. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3. 2 Kab/Kota 1 Provinsi. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan. pemupukan. 28 Provinsi. seperti pengolahan tanah. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. pengembangan kedelai model seluas 2. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut. 1. 175 Kab/Kota 11 Provinsi. 28 Provinsi. pengairan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e . 5. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. penyediaan dan penyaluran bantuan. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran. pengaturan tanam. 4.000 Ha 2. 6. 8. pengawalan. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. pengendalian OPT hingga panen. pemilihan benih. 2. 7. mengevaluasi. Pengawalan. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam. Monitoring.094 Ha.500 Ha Lokasi 28 Provinsi. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. monitoring dan evaluasi.

pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. pedoman teknis. pedoman teknis. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. No. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan. pedoman teknis.

pengawalan. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan.3. bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida. b. ubikayu. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. Pada TA 2012. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu. jagung hibrida. ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden).90 persen. serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH). jagung.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e . pembinaan.3. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). Kedelai 67. pengawalan. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. pemberdayaan penangkar. monitoring evaluasi BLBU. (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas. operasional Balai Benih Induk (BBI). dan kedelai sebanyak 101. Selain itu. padi lahan kering. kacang hijau. Padi 67. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani. subsidi. (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih. dan Cadangan Benih Nasional (CBN).00 persen. pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah. pembangunan dan optimalisasi UPB. Selain itu. serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU. Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a.31 persen. Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT. padi hibrida.Pedoman Pelaksanaan Program 3. c. dan ubijalar). Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah. Jagung 72. pembinaan.

dan penangkar kedelai seluas 2. meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu. penangkar jagung seluas 700 ha. (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi.Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4.500 ha. subsidi. Komoditas yang difasilitasi adalah padi. (8) pembinaan. dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan.000 Ha.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT.05 juta Ha.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas. (7) pembinaan. dan kedelai. (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan. Selain bantuan langsung benih unggul. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi. jagung. monitoring evaluasi BLBU. pengawalan. Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. kekeringan. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani.

100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi.000 ton 200. 4.700. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck. 10. 9. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA.Jagung .000 ha 14. 165 Kab/Kota 5 Provinsi. 1. 373 Kab/Kota 7. Subsidi. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan.500 ton 500. 230Kab/Kota Pusat. 8.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15. 32 Provinsi.000 ha 12.000 ton 350. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu. No. 2012 Kegiatan BLBU 2. 2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan.000 ha 3. Monev BLBU.500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: . CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.500 ton 300. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e . 11. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan. Oleh karena itu. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Pengawalan. Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67.000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10.Padi .500 ton 2. 14 Kab/Kota 13 Provinsi. 3.000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2.000 ha 4. 5. 6.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e . IV. jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. mengevaluasi. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. Tabel 16. pendampingan. VII. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII. No. Pembinaan.Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. V. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II.

Tabel 17.Jagung . mengevaluasi. 4. 204 Kab/Kota Pusat. 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5.4. (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi. dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan. (4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: . Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu. (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. penyediaan dan penyaluran bantuan. 2.Kedelai .Ubi kayu . (5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis. (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan. No. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e . dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. 3. 2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan. 16 Provinsi.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat. serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen. 1.Padi .3. Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.Vertical Dryer . 204 Kab/kota Pusat. 31 Provinsi.

mengevaluasi. - 3. - - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No. 1. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2. 4. 5.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e .

monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida.Sarana pengendalian OPT . pupuk. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1. 2. Peramalan.5. 12. bimbingan teknis. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia.Operasional BPT . Tanaman Pangan TA. 7.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel. (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI.Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi.3. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan. RK-KL Ditjen.Renovasi/Bangun gudang pestisida . Tabel 19. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e . Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): . Sumber. 8. 4. 1. 6. No.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 11. 10.168 Orang 2.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT. dan residu pestisida Sasaran 1. 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI. (3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan. dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI. 5. 3. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI.

Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT. Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. Tabel 20. 2. 1. 3. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e . terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No. Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini. sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. 4. dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT.

dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e . Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT). (2) jumlah teknologi pengamatan. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI. (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu. peramalan dan pengendalian OPT.3. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.8. Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT. Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan. dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan.3. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT. peramalan. keuangan. 3. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. 3. dan pengendalian OPT.6. divalidasi dan disyahkan.3.Pedoman Pelaksanaan Program 3.7. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi. umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi. produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan.

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program. Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. 2. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No.Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e . Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. 374 Kab/Kota Pusat. 374 Kab/Kota Pusat Pusat. 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 4. 6. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. 33 Provinsi. 3. 33 Provinsi. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 8. 33 Provinsi. Tabel 21. 33 Provinsi. 33 Provinsi Pusat. 374 Kab/Kota Pusat. Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3. Bencana Alam. Monitoring Evaluasi. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. 1. 5. 9.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e .Proses tender . 1.Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2. Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 . LM3 Uraian Titik Risiko .Kelayakan Proposal . Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya . Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3.Identifikasi Calon Lokasi .Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) .Faktor alam .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22.Ketepatan dukungan administrasi dan teknis .Pengaruh intervensi pihak luar .Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.

Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan.1. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN. Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. koordinasi dan teknis fungsional. Dengan koordinasi ini. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. pengendalian dan pelaporan. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki. pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama. Untuk itu. dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e . Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. BPSBTPH dan BPTPH). diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki.

teknis perbenihan/perbibitan. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. dan berdaya saing. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. Untuk pelaksanaan program. efisien. panen dan pasca panen. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani. Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. teknis usahatani. dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. khususnya perselisihan antar daerah. teknis perlindungan tanaman. terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. 4. Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR.2. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran di daerah. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut.

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program. Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program. b. b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. 4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA. 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. kegiatan dan anggaran. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan).Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. c. dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja. 2) 65 satker di provinsi. Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program. 3) Untuk kelancaran operasional program. 3) Untuk kelancaran operasional program. Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. 1) 3 saker di Pusat. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. Pada TA 2012. 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e . dengan rincian sebagai berikut. 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan.

115.500 31.000 152.000 7. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e .536 1.498. 3. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 000. III.BBI *) .536 3. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No. 1.300. 2. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No.455 3.491.347. I.245.353. 1 2 3 4 II.007.500 61. 2.500.-) 1.093. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1.084. I. 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi . II.400.000 267. Tabel 24.000 512.000 1.104.498.Dinas Provinsi .846. 1.899.991 2 BPTPH III.245.000 9.455 1.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23.746.

monitoring. kegiatan dan anggaran. honorarium.pengawalan. 12) Pengelolaan gaji. jagung. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. 2. 6) Penyaluran insentif Mantri Tani. dan dukungan manajemen lainnya. non hibrida peningkatan IP. tunjangan. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. dan kedelai. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. dan perlindungan tanaman pangan). penanganan bencana alam. statistik dan pemberian honor petugas Simonev. dan kekeringan. bidang umum. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e . 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan. diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. pembinaan. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi. 10) Evaluasi. subsidi dan CBN. 8) Perencanaan program. perbenihan. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 5) Pembinaan. dan hibrida spesifik lokasi). 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat. 2) Koordinasi. 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari. monitoring dan evaluasi BLBU. pascapanen.

apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. BLBU. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Penyaluran sarana pengendalian OPT. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. Pemberian insentif Mantri Tani. SLHT dan SLI. subsidi dan CBN). bimbingan teknologi.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev). 4. Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Pemberdayaan PPAH. Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. Dinas Pertanian Provinsi. monitoring evaluasi. penangkaran benih. Operasional POPT PHP. kegiatan dan anggaran. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. Pembinaan. P3OPT (BPTPH). statistik. Renovasi gudang Brigade. Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. dan Evaluasi. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). Balai Benih. honor pengelola Satker dan Administrasi. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . 5. THL POPT-PHP . pengelolaan data OPT. aneka kacang dan umbi. Pembangunan dan optimalisasi UPB. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. peramalan OPT dan dampak perubahan iklim. Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH. Pelaksanaan survei susut padi. Perencanaan program. Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. 3.

aneka kacang dan umbi. kedelai. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). kacang tanah. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output). pengawalan. monitoring. dan Dukungan manajemen dan teknisnya. kegiatan dan anggaran. subsidi. padi hibrida. kegiatan. dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Dalam pelaksanaannya. ubi jalar. dan kedelai. dan pelaporan(serealia. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . Pemberdayaan Penangkar Benih padi. Perencanaan program. monitoring evaluasi. jagung. ubi kayu. ubi kayu. kedelai. Pengembangan kedelai (model). BBI. penangkaran benih. dan pengeluaran). Evaluasi. Pembinaan. jagung.Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. Ubinan SL-PTT kedelai. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 4. bukan pengawasan. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program. statistik (termasuk honor petugas Simonev). Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. fungsi. lokasi dan jenis belanja. pascapanen). 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. CBN.3. padi lahan kering. pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. Honor pengelola Satker dan administrasi. jagung hibrida. dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). dan ubi jalar. 2) Anggaran. BLBU. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja.

jadwal. efektif. BPSBTPH dan BPTPH. 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen. b.000. 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK).000. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa. 100. 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib. ekonomis.000.-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. efisien. membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. serta kelompok masyarakat. tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. 5) Menguji. taat pada peraturan perundang-undangan.-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).000. sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP).000. Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e . Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis.Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi. keputusan penetapan penyediaan barang jasa.

vakasi). Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. Dalam melaksanakan pekerjaannya. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola. Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur. 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e . LS. GUP. UP. PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak. honor. Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan. Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. TUP dan NIHIL.Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja. Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa.

dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan. Direktur. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. d. 8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan. Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul. 3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan. diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek.Pedoman Pelaksanaan Program c. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya.

apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi. Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. menyimpan. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya. alamat. membayarkan. 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. ketepatan penjumlahan. menyimpan. 5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA. nomor rekening dan nama bank).Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. 2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran. Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. pengurangan. f. KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. Bendahara Penerimaan Menerima. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . menyetorkan. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. e. 1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. perkalian. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya.

1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya. dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75. 2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e . maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan).Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. Ketentuan Pidana. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya. Sanksi Administratif. 4.4.

EVALUASI DAN PELAPORAN 5. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan. 4) Memberikan pelatihan. workshop atau kursus perencanaan program.1. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul. kegiatan dan anggaran. keefektifan sumber daya. namun termasuk proses pengambilan keputusan. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. 5) Melakukan supervisi (orientasi. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. 4) Informasi dan Komunikasi. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah. efektif dan efisien. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. dan berbagai hal lainnya. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e . 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. Pengendalian Program. pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran. Dalam melaksanakan pengendalian intern. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya. terbuka. arahan serta sejenisnya. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern. monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. 2) penilaian risiko. 3) Kegiatan Pengendalian. penyusunan anggaran. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian. bimbingan. PENGAWASAN.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. akuntabel. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan.

Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. kegiatan dan anggaran tahun 2013. yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. b. Pengawasan fungsional terhadap program. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. 5. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja. kegiatan dan anggaran kinerja.2. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. b. BPKP dan Bawasda. bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. pengujian. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. a. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. mempunyai aspek pelayanan masyarakat. Pengawasan Program.

c. termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi. keluaran. Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5. Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan. b. Monitoring dan Evaluasi 5. d. Memperjelas status jenis. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang. Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. Membangun dasar bagi pengukuran. hasil. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan.Pedoman Pelaksanaan Program c. Evaluasi pelaksanaan program. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e .3. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu. manfaat dan dampak).

merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). evaluasi dan pelaporan. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. dan Kabupaten/Kota. aspek teknis dan anggaran. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi. Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. Pelaporan hasil pelaksanaan program.4. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. 5. Evaluasi program. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. kegiatan dan anggaran ini. sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian.

baik untuk anggaran dekonsentrasi. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment. meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan. Laporan yang disampaikan. triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Laporan insidentil. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e .

Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu. peningkatan kualitas sumberdaya manusia.Pedoman Pelaksanaan Program BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud. Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis. penataan kelembagaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e . kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara. kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat. dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait. perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. Untuk itu.

Pedoman Pelaksanaan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 47 48 49 50 51 52 4. 53 54 55 56 57 5. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo. 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e

Mesuji 121201 Dinas Pertanian. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . 9. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kab. Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian. Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. Kehutanan.

Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e . Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. Kehutanan. Perikanan Dan Peternakan Kab. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. Sanggau 130306 Dinas Pertanian. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. 13. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian. Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Peternakan. Perikanan Dan Kelautan Kab. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Sambas 130237 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Tanaman Pangan. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Kelautan Dan Perikanan Kab.

Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Perikanan. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Perkebunan. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kab. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e . Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Pertanian Dan Kehutanan Kab. 17. Kehutanan. Buol 180605 Dinas Pertanian. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18.

324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e . Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Kehutanan. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. Kehutanan. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. 300 301 302 303 304 305 21. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Lembata 241412 Dinas Pertanian. Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian . Hortikultura Dan Peternakan Kab. Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Peternakan. Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian. Kehutanan. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian.

Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian. Kehutanan. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. 386 387 388 30. Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. Kehutanan. Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . Perikanan Dan Kelautan Kab. Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. 380 381 382 383 384 385 29. 355 356 357 358 359 360 361 26. 350 351 352 353 354 25. Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. 373 374 375 376 377 378 379 28. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. Perkebunan. 389 390 391 392 393 394 31. Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian. Perkebunan. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab.

396 397 398 399 400 401 402 33. Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e . Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. Peternakan. Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perkebunan. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian. Teluk Wondama Dinas Pertanian. 32. Peternakan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian.

1. 10. 3. 9. 16. 11.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2. 8. 6. 2. 14. 5. Agenda Perencanaan Nasional No. 13. 19. 4. 18. 15. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 12. 7. 17.

agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh. II. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. BPTPH. Peb. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. BBI. 2. BPMPT Ka BPSBTPH. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. Produsen Benih Dinas Provinsi. I. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. Div re Bulog Dinas Provinsi. Sumbar. Dinas Kabupaten. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. IV. V. Tanaman Pangan TA. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . BPSBTPH. Kalsel. 1. Sulteng. Dinas Kabupaten. Mei Peb. BPTPH. 1. BPSBTPH Dinas Provinsi. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2. NTB) Dinas Provinsi 4. stakeholders Dinas Provinsi. Babel. Koordinator PBT BPSBTPH. Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. Jambi. 3. Sumsel. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. Sumsel. Maret April Sept. Sulsel. DIY. Sultra. NTB. BPSBTPH. 2. stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. Jabar. Kalsel. Lampung. Jabar. 1. DIY NTB Dinas Provinsi. Riau. Lampung. 4. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi. III. Banten. BBPOPT. BPTPH. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. Sumut. VI. Banten. BPSBTPH. NTT. Gorontalo. BUMN. Sulsel. BPSBTPH. Dinas Kabupaten. BPTPH. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. 5. Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. No. Maluku. 1. 4. Nov. Peb. BPTPH. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. Papua Barat. Ka BBI. DI Yogyakarta. 1. 3. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. Riau 2. Dinas Kab.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. Bakorluh Dinas Provinsi. stakeholders Dinas Provinsi. Malut. Jatim. BPSBTPH. Jatim. 3. Sumut. Div re Bulog Dinas Provinsi. Jateng. BPTPH. Bakorluh Dinas Provinsi. 4. 3. 1. Kaltim. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. 3. BBPPMBTPH.

BPSBTPH Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi. 7. 5. BPSBTPH 4. Okt. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e .BPTPH.BPTPH. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. BBI Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. 14. 13. 10. 9. Sept. BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Stakeholders Dinas Provinsi. BPTPH. BPTPH. 3. 8. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPTPH. BPTPH.2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi. 12.Pedoman Pelaksanaan Program No. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. BPS Dinas Provinsi. Okt. BPTPH. BPSBTPH. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. BPS Dinas Provinsi. BPTPH. Nov. BPSBTPH Dinas Provinsi. 6. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA.

3. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. PROSEDUR. BUDIDAYA. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN. PENYUSUNAN NORMA. BUDIDAYA. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e . Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. BUDIDAYA. DAN 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4. STANDAR. BUDIDAYA. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PERLINDUNGAN. PERLINDUNGAN. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. 4. 2. PERLINDUNGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN.

SUBDIREKTORAT UBI KAYU. DAN 6. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2. 3. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. 2. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. BAGIAN PERENCANAAN 2. 4. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8. DAN 5. 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. 2. SUBDIREKTORAT KEDELAI. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9. 2. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6. 4. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. DAN 5. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. SUBBAGIAN TATA USAHA. 3. 3. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4. 4. SUBDIREKTORAT JAGUNG. DAN 5. BAGIAN UMUM 4. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e . SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3.

SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG. 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK. 2. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1. KEPALA BAGIAN UMUM 2. 2. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. 3. 4. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. SUBDIREKTORAT PADI. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. SUBBAGIAN TATA USAHA. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. 4. DAN 6. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. 3. KEPALA BAGIAN UMUM 2. DAN 6. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1.

703 10.899 54.801 46.415.629 56. 16.145 639.472.078 497.21 132.600 509.24 89.026.85 627.244 134.68 14.270 30.033 149.099 52. PROVINSI N.324 132.325 46.380 38.950 12.396 47.913.100.257 38.670 529.300.925.000 611.450.669 40.752 3. 11.290 12. Produktivitas.54 1.281 221. 6.610.028 151.050 3.08 229. 12. 31.059 59.401 165.978.608.216 62. N. 18.000 2.142.693 794.148 1.530 40. 28.12 209.666 50.98 164.145 3. 15.084.452 32.17 1.769 33.967 1.561. 30. 4.745 39.550 7.000 10.691 437.262 40.510 48.515 49.271.091 19.13 PRODUKSI (TON) 1. 32.52 155.266.14 1.708 195.235 NO 1.602 443.95 2.594 62.58 412. 3. 26.08 782.985 859. 23.T.24 477. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.770.426 784. 9.040 634.540 42. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381.14 127.034 475.365 41.824 641. 7.B.079 407.746 10.32 1.83 13.022.003 17.040 4.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e .310 67.767.75 156.59 7. Sasaran Luas Tanam.771 13.705 3.860 46.186 49. 17.980 877.141 39.749.016 85.933.765 4.660 625.07 29.59 18.865 53.T.74 10.47 798.556.10 134.760 408.995.850 2. 13.080 2.720 50.385 1.796 1.039.014 46.20 2.687.669 53.994 8.194.510. 29.066 77.529 51.468.227 47. 24.068.272 68.255 2.19 78. 2.99 457.78 822.572.434 7.026.399 630.691 49. Luas Panen. 8.825 1.570 4.967.893. 25.173 770.74 3. 21.006 17.844 159.780 708.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.321. 20. 19. 14.T.115 92.809 924.675 2.291 383.249 72.936 47.679 126.386 1.251.65 241.037.27 152.975 1.22 6.366.110 52.599 47.00 410 395 50. ACEH D.765 38.129.538 321.348 28.256 40.55 957. 10. 33.66 432.821 52. BALI & N.310.365 233.206 148.740 33.514 36.88 515.33 60.333 45. 5.88 169.171 6. 27. 22.250 335.940 58.568 115.805 1.528 60.19 20.

153 174. 18. 10. 15.596.361.019 42.090.118 53.10 54.871 2.661 6. 31. 11.81 34.799 403.049 711 679 1.334 45.844 5.09 49.544 26.072 12. Luas Panen.30 24.872 97.655.665 3. 3.45 31.257 11. 26.192 358. 21. 13.55 PRODUKSI (TON) 193. Sasaran Luas Tanam.025 4.87 24.B. 6.300 88.284.168 2.986 30.23 41.280 13.442 4.804 13.535 1. 33.800 143.482. 30.874.945 26.160 8. 32.059.238 10. 27.467 73. 19.31 32.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .T.069 54.T.572 93.637.297 12.441 2.91 46.82 18.391.602 2. N. 17.492 375.41 42.997 192.654 745.652 38.95 33.42 53.096 51.17 38.38 51.437 4.270 36. 8.640 166. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.97 55. 2. 25.000 10.568 134.737 215.684 1.277 29.099 1.748 11.332 1.363 257.009 482.000.260 77.668 24.398.556 3. 16. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.91 39. 22.276 59.551 494.98 33.600 3.T.689 6.543 658.088 269.70 56. 20.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7. Produktivitas.82 63.13 55.92 51.059 178.77 58.484 35.640 8. 12.91 17.000 123.306 868.614 4. 14.868 50.579 98 993. 7.566 2.131 52.30 36.760 461.407 748 714 25. 23.114 829.733 4.529 123.362 92.62 46.375 7.591 16.371.49 53.760 24.88 21.909 1.491 51.51 31.463 61. 4.20 26.08 43.657 29.688.083 76.368 80.244.67 56.485 1.27 34.599 3.910 338.707. 29.77 33.62 54.80 42. 5.110 9.868 93.292.849 27.69 27.194 469.497 183. 9.200 1.332 101.636 1.091 30 29 187.633 968.000 NO 1.189 353.994 167.863.013.300.944 23.068.405 31.012.008 26.068 17.34 39. 24.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37.235 33.880 712.64 63.437 27.268 472.09 46. 28.800 2.499 314.060 1.345 240.940 408.228 1. BALI & N.

5.200 2.649 13.885 14. 6.803 14.47 14. 20.67 10.500 11.400 14.32 308.900 3.100 9. 29.718 13.500 54.47 4.796 13.38 194.000 231.012 14. 9.700 3. Sasaran Luas Tanam.013 16.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e .700 47. 27.823 15.097. N.79 10.34 22.400 549.100 1.675 15.700 371.400 135.67 22. 10.600 27.600 15. 24. 16.000 1.400 7.700 13.900 112.900 12.462 13.26 18. 17.500 3. 23.200 57. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121.100 588.26 14.200 197. 26.009 13. 12.59 802.539 15.397 15. 13.26 4.900 189.77 24. BALI & N.700 35.500 6.300 13.700 106.900 79. 4.87 34.60 48.500 45.387 13.757 15.620 13.T. 18.400 153.50 334.400 9.312.300 6. 2.400 25.034 14.530 42.800 7.400 10.515 15.300 16.400 7.000 NO 1.342 13.26 8.900 117.000 42. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.000 13.91 125.498 13.200 8. 21.400 18. 30.600 701.47 10.30 13. Produktivitas.600 175.30 20.30 65.119 13.30 557.000 17.800 16.200 12.600 12. 25. 8.500 4.000 7.000 15.800 30.900 10.500 5. 33.900.977 13.47 4.500 158.937 15.400 12.000 17. 32.800 6.T.249 15.000 364.800 11.123 16.65 1.700 23. 14.600 243.20 1.954 13. 3.485 13.89 174.47 5.T.700 78.000 3.000 3.620 13.30 26. 11.566 13.098 14.48 174.000 4.319 14.600 20.250. Luas Panen.700 723. 19.51 40.896 14. 15.79 14.000 8. 7. 22.95 221.900 24.400 16.79 17.53 94.87 32.159 13.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8.79 19.413 15.26 6. 28.000 26.946 13.156 14.000 10.B. 31.800 9.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7.142 19.681 9.605 4.248 2.346 6.246 9.530 20.668 597 201 80.264 25 79.228 157.617 78.079 217.015 16.649 548.613 16.075 36.743 27.557 80.375 2.411 2.067 18.372 3.100 25.950 8.612 6.889 44.781 9.760 2.756 1.608 74.406 4.019 5.741 2.187 3.445 15.392 276.387 825.000 6.802 18.743 9.147 4.046 2.234 5.949 9.076 19.684 569 191 76.441 24 75.453 150.114 74.360 206.677 15.856 522.484 15.309 34.993 26.245 76.547 2.296 1.968 17.496 2.953 24.713 8.201 6.561 42.648 9.295 2.624 1.531 70.860 3.827 5.468 2.078 3.282 14.655 263.216 785.700 14,26 13,33 14,52 10,89 13,48 14,36 10,73 14,00 11,04 10,89 13,35 12,08 16,54 15,24 11,87 13,35 16,07 14,23 14,52 14,52 13,22 14,07 12,45 12,65 12,55 12,44 12,53 14,26 18,15 14,00 9,78 12,96 15,02 13,84 12,76 12,44 11,82 11,40 12,20 13,55 14,00 9.699 24.977 13.281 4.406 3.012 8.544 9.742 27.557 628 208 102.054 29 124.805 228.839 88.250 275.843 25.487 743.253 22.227 50.804 34.701 107.732 2.858 2.490 21.955 3.674 30.977 11.695 11.907 59.706 9.090 3.402 2.300 98.100 4.882 6.804 2.456 3.742 17.884 356.747 1.100.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012
NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.955 6.099 1.374 2.079 616 3.115 1.797 5.579 1 23.615 13.495 99.531 1.141 77.774 2.680 194.620 1.245 50.494 30.073 81.812 2.074 399 1.587 1.117 5.177 1.883 1.602 26.962 2.373 501 960 34.281 661 418 819 1.198 3.095 147.980 342.600 LUAS PANEN (HA) 2.808 5.794 1.305 1.975 585 2.959 1.707 5.300 1 22.435 12.821 94.576 1.084 73.888 2.546 184.914 1.183 47.971 28.570 77.724 1.970 379 1.507 1.061 4.918 1.789 1.522 25.614 2.254 476 912 32.568 629 397 778 1.138 2.942 140.586 325.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12,67 12,13 13,28 12,11 12,08 15,32 10,87 10,14 10,26 12,12 12,17 12,36 7,29 12,63 10,14 12,39 10,69 11,21 9,26 10,48 8,02 9,45 11,75 12,02 10,14 15,38 9,00 13,89 9,12 13,51 15,02 13,44 11,90 12,21 11,51 11,67 11,75 11,44 11,98 PRODUKSI (TON) 3.556 7.031 1.734 2.393 706 4.532 1.855 5.376 1 27.184 15.600 116.874 791 93.284 2.582 229.130 1.265 53.757 26.457 81.478 1.581 358 1.771 1.275 4.986 2.751 1.370 35.574 2.055 643 1.370 43.764 748 485 896 1.328 3.457 160.870 390.000

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4.113 3.917 132 45.803 43.622 207 6.114 5.823 207 6.670 6.352 117 3.112 2.964 144 14.729 14.027 160 7.781 7.411 124 352.374 335.592 254 2.001 1.906 150 1.334 1.270 113 444.030 422.883 238 56 53 123 124.498 118.569 197 213.425 203.261 185 71.142 67.754 159 253.442 241.372 170 13.339 12.704 149 675.902 643.711 178 13.117 12.492 155 9.449 8.999 127 94.485 89.985 113 117.050 111.476 118 18.119 17.256 153 9.671 9.210 124 9.560 9.104 155 8.893 8.469 163 46.242 44.040 149 6.892 6.564 138 5.002 4.764 171 33.570 31.971 179 14.895 14.186 175 1.667 1.588 127 4.669 4.446 149 66.695 63.519 170 12.227 11.645 136 12.227 11.645 128 2.779 2.647 120 4.446 4.235 123 31.680 30.171 130 705.698 672.089 201 1.381.600 1.315.800 190 PRODUKSI (TON) 51.555 902.890 120.516 74.164 42.790 224.829 92.031 8.533.351 28.519 14.293 10.084.940 652 2.335.266 3.768.878 1.078.749 4.092.503 188.781 11.464.828 193.590 114.617 1.012.451 1.320.658 263.754 114.381 141.091 138.439 657.666 90.570 81.412 573.512 248.449 20.227 66.073 1.080.243 158.216 149.564 31.744 52.140 391.664 13.535.172 25.000.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e

247 107 429. 31. Luas Panen.590 8. 10. N.888 121 191.498 2.500 2. 33.897 596 566 104 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12.456 4. 19.181 101 62.668 4. 7. ACEH D.224 132.885 110 185.385 514 489 121 5.897 17.975 128 76. 17. 14.949 42. 27. 8.386 3. 5. 12.300.403 134 864.421 112 15. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1.155 2.557 125 19. 21. 23.304 35.923 27. 13. 4.944 1.288 5.667 1. 32. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.903 37. 26. 28.373 95 22.524 18. Sasaran Luas Tanam.368 89 12.T.435.000 196. 16.097 34.448 115 408. 30. Produktivitas.256 141 173.769 16.744 3.154 67.500 3.560 16.505 6.552 95 176.450 26. 24.395 3.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e .359 6.355 43.686 111 184.051 878 835 92 7.667 3. BALI & N.549 2.359 666 633 93 5.822 121 94.503 91 13.435 106 47.897 1.631 3.217 106 23.385 2. 25.582 1.375 73 17.359 2. 29. 20. 2.099 113 485.112 2.897 16.177 91 19.333 2.385 17.179 4. 15.231 7.998 124 37.667 1.B.776 64.495 1.815 608 578 102 5.713 139.T.291 2.720 15.326 106 35.475 100 14.682 1. 11.846 3.221 45.897 333 316 93 2.218 99 31.226 110 35.958 104 30. 18.489 32.446 4.923 2. PROVINSI N.773 139 456. 22.440 1. 6. 9.422 105 25.297 109 1.897 12.638 1.462 12.179 4.700 117 2.462 19.225 123 51.T.640 4.564 6.149 2.084 105 273.355 40.552 1.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3.410 110 48.436 207. 3.646 2.

100 49.000 87.800 2. b.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.504.000 160. d.714.195.500 6.550.988.000 74.800 392.000 6.70 Ribu Ha 33.400 Provinsi 192. c.056.559.-/Unit) 3. SL-PTT Kedelai (Rp 3. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.2. monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.Tanah (Rp.028.750 2.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.700 7.100 Volume Pusat 78.180.500 6. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.478.000 8.600 107.950 3.710 630.000. pengawalan.000.000 175. d.320 292.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.700.750 5.929.760.6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3. SLPTT : b.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64. monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e .064.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.064.320 292. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.500 Ribu Ha 70. f.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4.651.900 Kab/Kota 673.500 41.000 83.000 790. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a.332.000. c.642.504.000 18.700 38.110.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.215jt/ha.939.000.030 137.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64. e.000 49.410.900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan.350.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3.950 3.000. g.400 7.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3. 2012 No.700 Jumlah 944.000 6.414.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.749.868.550.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.7 jt/LL) 3.350.55 Ribu Ha 14.00 Ribu ha 2.000 764.289.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.868.350.000 7.000 25.230 137.727. pengawalan.000 764.261.000 5.451.642.510 70.70 Ribu Ha 9.75 Ribu Ha 290.000 630.000.

247.846.394.000 77.000 8. Pembinaan.105. BLBU: b.000.500 166.125. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.500.400 9.549. e.000 90.000.500 45.862.000. Monev Pemb.000 Volume Pusat 794.941. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.000 11. Apresiasi.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1.937.500 151.614.375 76.000 7.000 1.000 7.453.000 42.525 Jumlah 1.000 15. d.386.000 720.400. h.251.414.000 16.578.000.878.000 1.909.Pedoman Pelaksanaan Program No.997.000 2.110.450.500 19.451.200.000 45.000 74.000 66.209.500 63.250.000 35.451.796.000.300.941.000 67. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .600 47.500 15.625 43. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g.500 100.880.450.000 2.000 600.5 4 8 1 28 230 k.846. i. Bimbingan Teknis.536.000 7.000 1.000 111.000 3.000 18.590.890.812.000.000 16. c.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406.000 11. j.000 130. BLBU padi non hibrida (Rp 8.800.000 16.000 10 700 2.400.394.575 Provinsi 121.839.684.900 Kab/Kota 536.400 47.336. Pengawalan.100 6.135.137.000 2.000 13.500 1.880. Monev Perbenihan.000 10.546. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a. Bantuan Sarana Pascapanen : b.000 1.000 15. Pengawalan.730. f.000 2.549.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13.000 1.000 3.411.000. c.

5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a.000 2.000 39.000 8. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan.500 3.500.000 8. b. f.000 9.799 4.558.058.000 39.350.200.906 8.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1.500 Kab/Kota 15.000 15.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12. c.954.000 12.000 19.600.Pedoman Pelaksanaan Program No.096. p.500 3.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4.096.799 4.911.000. Pengawalan.000 6.500 Provinsi 154.000 7.000 9.015. Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2.000 8. j.000 2.353.000 Volume Pusat 16.295 804.000.350. m.000 8.200.800.000 4.000 4.000 Jumlah 186.000 19.000 6.800. h.353.000 18.129.000. d.500.000 18. l.000. o. k.129.000 20.908 Orang 1.000.900. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e . g.000.418.200.315.418.911.000 8. e.500 15.341.000. i.000 2. n.954.558.315.800. c.500 20.600.000 4.295 804.900.015.000 9. b.000 7.000 9.000 2.000.906 Pengembangan Peramalan Serangan OPT a.

Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3.922 3.779.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 1.000 10.144.965.922 1.467. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h.946.507.000 9.991 15.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g.300.000 24.659.900. e.200 7. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Volume Pusat 7.144.500.170.491.000 - Jumlah 7. b.115.820.507.000 6.380.000.264. c.464 184. d.004 2.800 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 3.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e .092 10.614. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i. Pelaporan.000.368.200 16.000 24.350.350.092 10.480.400 15.600.061 8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a.000 4.790.164.000 Provinsi 26.000 3.840. Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j.000 45. 7 Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a.400.739.000 3.000 12.047 30. c.900.498.004 2.200 2. f.000 3.569.899.000 45.047 30.532 1.455 5.104. b.000 1.300.800 12.464 248.000 Kab/Kota 37.965.600.900 10.200 5.610.500 27.532 1.813.000.000 4. k. Evaluasi.961 46.164.368.000.536 512.170. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat 46.245.500 7.347.840.

Aceh Singkil Kab.000 2.150 1.500 50 950 50 150 11.000 2.150 3.500 200 2. Nias Selatan Kab.750 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 14. Bireuen Kab.250 225 225 1. Asahan Kab.900 8.500 17. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung 82 6 25 25 25 25 25 4 2 2 4 4 2 3 19 1 2 125 - 1 - - 3 110 7 25 4 2 4 2 4 2 - 25 25 1 25 25 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e .430 70 500 150 2.200 2.000 450 50 1.000 7.500 500 1. Labuhan Batu Selatan Kab. Nagan Raya Kab.450 300 750 500 225 1.050 8.500 1.400 15.500 750 450 900 2. Pakpak Barat Kab.550 4.000 7.500 300 1.500 5.700 9. Simeuleu Kab.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14.000 750 100 300 300 500 1. Aceh Tenggara Kab.000 300 200 14.000 7.500 49 1.800 1. Aceh Jaya Kab.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1.000 50 950 50 950 50 1.000 1. Simalungun Kab. Tapanuli Selatan Kab.430 70 800 450 50 250 300 2.175 32.000 1.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3.400 3.500 137.000 1. Langkat Kab.350 3.150 4.800 600 600 600 1.450 5.150 2. Serdang Bedagai Kab. Aceh Tamiang Kab.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1. Tanah Karo Kab.500 2.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Tapanuli Utara Kab.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1.000 4.250 3. Nias Kab.000 7. Deli Serdang Kab.400 3.000 1.100 1.100 350 2.200 3. Aceh Tengah Kab.600 3.000 100 1. Humbang Hasundutan Kab. Aceh Barat Daya Kab. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab.200 8. Nias Utara Kab.150 7. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.500 12.150 850 10.000 9.000 8.000 500 500 1.500 10.000 1.000 3. Labuhan Batu Kab.150 9.000 750 300 1.450 4. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 SLPTT Padi (Ha) No.450 300 400 750 500 1. Aceh Pidie Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab.750 11. Toba Samosir Kab. Aceh Selatan Kab.430 70 450 50 575 1.650 3. Aceh Besar Kab. Aceh Utara Kab.600 12.500 750 100 600 500 2.000 15. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab. Aceh Barat Kab.500 13. Mandailing Natal Kab.000 4.500 7.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 ACEH Dinas Provinsi Kab.200 7.400 10.500 500 1. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab. Tapanuli Tengah Kab.430 70 150 6. Bener Meriah Kab.500 7. Gayo Lues Kab. Dairi Kab. Aceh Timur Kab.450 2.

500 180 1.200 400 1. Padang Pariaman 5 Kab.000 48.900 9. Solok 9 Kab.950 3.000 8. Pesisir Selatan 7 Kab. Tanah Datar 10 Kab. Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.450 4.500 2.350 250 1.000 4.500 4.500 1.000 9. Solok Selatan 12 Kab. Kampar 5 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No. Kep Mentawai 4 Kab.000 1.500 9.500 8.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e .000 4. Kuantan Singingi 6 Kab.500 500 4.200 350 1. Dharmas Raya 11 Kab. Rokan Hilir 8 Kab.850 2. Indragiri Hilir 3 Kab. Lima Puluh Kota 2 Kab.100 500 1.000 10.800 8.500 1. Indragiri Hulu 4 Kab.750 2.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3.000 225 300 750 500 1.155 3.175 1.500 3.200 300 9.500 7.800 250 1. Rokan Hulu 9 Kab.500 5.500 900 500 3.400 4. Sijunjung 8 Kab.000 600 750 1.000 4.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab.200 1. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.900 2.000 750 100 600 2.000 225 550 400 100 180 1.000 750 50 1.900 9. Bengkalis 2 Kab.200 1.000 10. Pasaman 6 Kab.500 9. Pelalawan 7 Kab.150 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97. Agam 3 Kab.500 7.000 8.000 240 100 500 1.

300 1. Muara Enim 5 Kab.950 15.875 2.950 2.000 11.200 50 2. Ogan Komering Ilir 6 Kab.500 2.000 225 2.000 3.100 1. Muaro Jambi 6 Kab.000 375 600 1.500 13.525 4.400 100 2.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab.400 3. Batanghari 2 Kab.200 14.500 3. Merangin 5 Kab.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e .000 13. Bengkulu Selatan 2 Kab. Rejang Lebong 4 Kab. Musi Rawas 4 Kab.250 750 600 3.100 500 2.000 300 500 3.250 4.500 550 50 500 375 500 550 1.600 8.450 6.100 500 550 50 500 2.000 16. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab.500 6.000 2. Ogan Komering Ulu 7 Kab.400 100 2.050 900 2. Seluma 6 Kab.900 4.500 500 250 550 500 450 250 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.800 150 1.300 225 400 1.750 6. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58.350 9.900 600 20. Musi Banyuasin 3 Kab.100 500 2.000 20.000 600 500 2. Ogan Ilir 11 Kab.300 300 500 600 500 2.400 100 2. Bengkulu Utara 3 Kab.500 12.400 100 1. Kerinci 4 Kab.500 1.450 2. Sarolangun 7 Kab. Banyuasin 8 Kab.800 1. Tanjung Jabung Barat 8 Kab.000 48.000 300 400 50 500 2.500 1.400 11.000 7. Lebong 8 Kab.300 300 1. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 300 500 500 525 1.500 1.500 4. Kaur 5 Kab.000 700 50 1.000 150 100 550 150 1.800 1. Lahat 2 Kab.000 3.400 100 1.000 11.500 3.650 450 500 50 2. Bungo 3 Kab.000 3. Tj.250 4. OKU Timur 9 Kab.750 1.000 10.550 500 1.875 3.000 12. Muko-muko 7 Kab.700 4.125 147. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.000 2.400 100 1.400 12. OKU Selatan 10 Kab.000 3.000 300 750 250 300 550 2.000 250 1.650 3. Jabung Timur 9 Kab.900 100 600 2.900 5.500 8.300 225 400 500 1.

500 9.250 1. Lampung Tengah 4 Kab. Bogor 4 Kab.250 8.000 18.750 12. Lampung Timur 6 Kab. Kuningan 11 Kab.970 30 1.430 70 3.000 12. Tulang Bawang 8 Kab.470 30 1.500 10.250 5.200 1.500 2.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 375 500 1.000 300 1.000 6.000 50 500 930 70 250 8.970 30 1.470 30 1.750 1.625 1.000 1.875 525 930 70 1.000 11.430 70 1.500 10.500 25 930 70 1.470 30 970 30 200 450 500 450 1. Lampung Selatan 3 Kab.430 70 7.350 1.000 8.000 12.250 1.500 1.470 30 2.125 750 2.430 70 6.500 2.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e .000 100 930 70 5.950 12.000 500 930 70 2.000 100 1. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab.500 12. Garut 8 Kab.180 70 1. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab. Cianjur 6 Kab.120 50.500 975 600 100 1.450 12.650 1.850 21.000 2.250 1. Ciamis 5 Kab. Sukabumi 15 Kab. Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 1.000 975 600 150 970 30 1.250 750 5.500 18.500 1. Lampung Barat 2 Kab.250 260 1.625 12.500 7.000 6.500 1. Bekasi 3 Kab.700 300 12.880 1.120 1. Karawang 10 Kab.430 70 3. Sumedang 16 Kab.000 14.000 10.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.500 1. Purwakarta 13 Kab.000 1.260 375 1. Subang 14 Kab.750 1.350 11.650 550 550 550 1.275 970 30 1.000 11.000 2.500 197. Pringsewu 12 Kab.550 6.600 1.750 2. Majalengka 12 Kab.000 18.500 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.000 11.500 10.500 100 1.500 14.430 70 500 750 1.Pedoman Pelaksanaan Program No. Lampung Utara 5 Kab.625 750 970 30 300 1.000 14.350 1. Pesawaran 10 Kab.350 50 2. Mesuji 11 Kab. Bandung 2 Kab.000 7.500 1.500 19.500 1.100 500 1. Tanggamus 7 Kab.500 1.500 11.430 70 500 1.000 1.000 300 1. Way Kanan 9 Kab. Cirebon 7 Kab.500 975 1.950 17. Indramayu 9 Kab.000 17.430 70 2.000 12.430 70 3.

000 330 70 750 2.200 1.000 7. Sukoharjo 26 Kab.750 4.100 7.050 2. Banjarnegara 2 Kab. Kudus 16 Kab.430 70 850 1.000 430 70 750 500 2.000 33.000 20. Pekalongan 19 Kab. Purbalingga 21 Kab.960 1.000 975 5. Jepara 11 Kab.000 8.500 500 480 70 3.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4.625 12.000 1.500 2.500 430 70 525 2.500 6.875 3. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 430 70 3.500 5.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 6.000 100 1.000 750 2.500 6.500 8.000 8. Tegal 27 Kab.800 10.500 1.050 430 70 5. Grobogan 10 Kab.625 3.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Semarang 24 Kab.000 1.000 50 430 70 750 430 70 2.000 10. Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab.600 51.000 6.000 18.500 6.000 12.300 450 2.250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198. Pemalang 20 Kab.000 430 70 850 1.700 900 5. Demak 9 Kab. Boyolali 6 Kab.125 7. Batang 4 Kab.500 4.000 8. Bantul 2 Kab.430 70 5. Karanganyar 12 Kab.125 27. Temanggung 28 Kab.500 8.500 5.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.500 10.430 70 700 900 430 70 900 1.200 1.500 3.150 1.000 675 2.000 1.500 5. Purworejo 22 Kab.500 7.500 1.000 50 680 70 450 930 70 4. Banyumas 3 Kab.050 2.000 100 500 175 450 1. Rembang 23 Kab.080 70 2.500 430 70 1. Cilacap 8 Kab.040 1. Kendal 14 Kab.000 9.300 1.000 680 70 4.500 8.000 3.000 1. Sragen 25 Kab.000 500 500 1. Klaten 15 Kab. Gunung Kidul 3 Kab.000 2. Brebes 7 Kab.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e . Blora 5 Kab. Kebumen 13 Kab. Kulon Progo 4 Kab.000 1.000 680 70 850 1.500 130 70 3. Wonogiri 29 Kab.100 100 500 500 50 375 1.500 1. Magelang 17 Kab.600 1.500 8.300 1.500 10.500 4.000 7.960 45. Pati 18 Kab.250 3.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5.500 3.100 500 500 19.000 9.

450 1.750 20 1.000 12. Banyuwangi Kab.480 5.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62.300 300 100 1.480 4.000 4.000 8. Gresik Kab.000 5.480 750 5.000 4.500 8.350 20 1. Mojokerto Kab. Katingan Kab. Melawi Kab.980 4. Jember Kab. Kapuas Kab.850 121.500 97.980 1.100 1.500 3.000 700 20.000 48. Probolinggo Kab.000 15.000 2.500 1.500 900 50 100 3.250 2.480 1.050 20 900 7.000 3.050 6.300 750 800 1.500 4.000 8. Bangkalan Kab.200 750 2.700 1.500 20 1.480 1. Sintang Kab.500 16.000 20 4.250 150 500 20 8.000 750 1.350 4.050 5. Barito Timur Kab.500 3.000 74.800 1.000 2.000 22.000 1.000 14.000 20 5.250 300 1.500 5.350 21.500 20 450 1.980 2.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20. Pacitan Kab.500 5.875 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.625 1.980 2.500 4. Pulang Pisau Kab. Sambas Kab. Barito Selatan Kab. Bengkayang Kab.000 20 525 1.000 200 400 300 400 500 250 1.500 20 600 2. Murung Raya Kab.675 1. Sampang Kab.000 20 2. Madiun Kab. Bondowoso Kab.050 11.500 1. Kediri Kab. Ponorogo Kab. Blitar Kab.000 7. Bojonegoro Kab.000 6. Pontianak Kab.000 6.300 560 20 1.500 6.500 3.500 2.000 2.000 3.825 3.000 20 3. Magetan Kab.500 2.500 11. Landak Kab.775 1.480 1.000 1. Ngawi Kab. Malang Kab.000 4.980 1.500 8.300 700 100 3.500 20 825 1.000 1.750 225 100 1.200 9.500 5.500 5.200 225 100 300 50 100 1.800 100 2. Tuban Kab.900 5.250 150 500 900 2.000 20 10.300 1.000 20 450 10.440 1. Sanggau Kab.980 500 1. Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.800 3. Kotawaringin Timur Kab.480 4. Pamekasan Kab.450 10.000 3.500 2.000 20 1.980 2.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab.250 200 5. Lumajang Kab. Ketapang Kab. Lamongan Kab.000 6.500 2.000 4.875 2.000 20 3.980 500 2.050 12.980 3.000 500 500 500 500 1.300 900 8.450 4.775 900 2.450 1.050 20 975 20 1. Sekadau Kab.500 9. Kubu Raya Kab.480 980 2. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e . Kotawaringin Barat Kab.500 20 4. Seruyan Kab.500 11. Sidoarjo Kab.675 750 1.000 2.000 300 3.000 20 1.000 4.980 1.980 980 480 2.000 4. Kapuas Hulu Kab.480 2.875 4.000 20 1.850 1.000 2. Nganjuk Kab.500 4. Sukamara Kab. Trenggalek Kab. Pasuruan Kab.125 500 1.050 20 9. Lamandau Kab.480 980 1.500 9. Jombang Kab.300 225 2.000 300 2.980 4.000 20 300 5.800 600 600 600 1. Situbondo Kab.500 7. Barito Utara Kab.800 20 1.500 4.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.480 5.000 6.980 1. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.500 1.000 20 1.000 17.500 29. Sumenep Kab.500 20 4.

000 23. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 8.000 1.000 2.625 48.000 5.000 10.000 125 495 1.000 1.650 300 2.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab.450 1.350 9. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137.525 3.000 8.500 500 2.000 8. Sangihe 10 Kab. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab.100 1.000 7.450 2. Nunukan 7 Kab. Kota Baru 7 Kab.950 3. Hulu Sungai Tengah 5 Kab.950 10.000 33.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e . Kep. Minahasa Utara 7 Kab.000 4. Bolmong Utara 9 Kab.500 170 1. Tana Tidung 15 Kab.575 250 1. Berau 2 Kab.400 600 2.750 600 2.450 2.000 2. Tapin 10 Kab.500 2.125 750 1.000 630 700 2.700 300 15.500 1. Malinau 6 Kab.000 1. Barito Kuala 3 Kab.000 400 100 1.500 2.695 1.000 15.100 1.900 17.450 12.000 11.200 4. Bulungan 3 Kab.500 600 1.000 3. Bolaang Mangondow 2 Kab.275 1. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab.600 315 2. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab.700 1.650 550 550 550 1. Balangan 11 Kab.000 7.995 250 500 300 750 1. Minahasa 3 Kab.000 1.770 1. Talaud 4 Kab. Tanah Laut 9 Kab.100 350 900 10.500 1.650 7. Penajem Paser Utr 9 Kab.500 3.450 20.000 390 70 150 2.100 550 550 1. Hulu Sungai Selatan 4 Kab. Tabalong 8 Kab.000 1.000 2.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1.000 10. Banjar 2 Kab.500 900 100 500 400 100 1.650 1. Kutai Timur 5 Kab.000 16.000 840 500 1. Pasir 8 Kab. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab. Minahasa Tenggara 8 Kab.500 14. Hulu Sungai Utara 6 Kab.250 1.500 4.000 500 3.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 400 1. Bolmang Selatan 11 Kab.200 200 1. Kutai Barat 4 Kab.000 750 650 1.775 2.200 400 1.500 200 2.

000 450 600 11.000 9.430 70 2.430 70 3. Konawe 3 Kab.000 7. Banggai Kepulauan 10 Kab.500 10.280 2.400 14.350 3. Wakatobi 8 Kab.000 11.000 29.500 500 1.930 70 4.100 750 300 810 750 500 500 650 1.000 17.000 6.400 4.000 1.650 550 550 550 1. Bulukumba 5 Kab. Luwu Utara 10 Kab. Parigi Moutong 8 Kab.500 3.000 4.500 11.500 1. Donggala 5 Kab.550 850 4.100 1.100 1.100 550 550 1.150 150 1. Banggai 2 Kab.550 350 1. Pangkep 12 Kab. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab. Tana Toraja 19 Kab.450 7.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab.310 2.000 300 375 750 375 150 350 2. Maros 11 Kab.430 70 2.000 7.000 300 4. Poso 7 Kab.000 1. Kep.250 2.000 1.250 1.500 5. Morowali 6 Kab.500 12.300 600 2.930 70 1.930 70 1.000 1. Kolaka 4 Kab.500 7.200 4.000 3. Jeneponto 8 Kab. Gowa 7 Kab.000 750 2.000 182.000 15. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab.500 10.500 3.250 2.500 1.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5. Buton 2 Kab.450 4.250 1. Selayar 14 Kab. Bantaeng 2 Kab. Luwu 9 Kab.680 70 2.000 500 8.450 10.000 1. Bombana 7 Kab.000 25.930 70 3.000 1.500 600 2.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e .430 70 2.800 1.375 19.500 3. Luwu Timur 22 Kab.550 2.500 12.000 73.020 2.500 900 11.950 2. Barru 3 Kab.930 70 2. Tojo Una-Una 9 Kab.500 2. Takalar 18 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73.500 800 920 70 1. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab.500 3.000 950 50 450 1.450 2. Kolaka Utara 9 Kab.500 750 900 1.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10.500 12. Toli-Toli 4 Kab.250 450 4. Sinjai 16 Kab. Konawe Selatan 6 Kab. Soppeng 17 Kab.000 2.680 70 2.000 1.250 50 900 70 1.000 2. Pinrang 13 Kab.100 1.980 300 950 70 1.000 16.800 5.300 2.805 20. Bone 4 Kab.430 70 2.000 7.500 500 7. Sidenreng Rappang 15 Kab. Buol 3 Kab.000 1. Muna 5 Kab.500 900 350 500 4.900 1.000 7.000 625 73.500 1.200 250 800 300 1.690 1. Konawe Utara 10 Kab.500 2.645 2.950 5.450 20.500 1. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.025 495 900 765 1.000 50 1. Enrekang 6 Kab.950 70 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.650 1.125 900 700 1.500 7.310 35.

000 2.050 450 300 200 300 1.350 7.000 2.000 4.000 1. Klungkung 8 Kab.500 1. Manggarai Barat 15 Kab.000 5.500 1.500 50 900 100 5.500 900 450 5.500 3.000 1.500 1.500 500 3.000 4.500 900 100 1.450 750 300 4.000 3.500 300 600 500 1.500 6. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33. Dompu 3 Kab. Lombok Tengah 5 Kab.300 300 250 900 400 100 1.000 2.500 1. Lombok Barat 4 Kab.800 450 6.000 9.000 750 8. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab. Kepulauan Aru 6 Kab.000 1.500 500 900 100 900 2.000 3.500 2.850 3.650 2.500 500 30.000 1.500 5.200 600 600 1. Maluku Tengah 3 Kab.000 1.900 450 100 900 1. Sikka 9 Kab. Ende 3 Kab.100 1. Badung 2 Kab. Ngada 8 Kab.450 4. Bangli 3 Kab.500 20.000 100 1.500 7. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab.400 14. Sumba Tengah 18 Kab.350 450 1.475 875 200 50 1. Bima 2 Kab.500 7. Timor Tengah Selatan 12 Kab.250 1.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab.400 2.200 1.800 1.250 750 1.800 15. Seram Bag Timur 8 Kab.450 5.000 450 50 450 450 1.100 550 550 1.000 1.500 1.000 3. Gianyar 5 Kab. Lembata 6 Kab.500 19. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab. Kupang 5 Kab.000 500 500 1. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab.750 50 900 1. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2. Manggarai Timur 20 Kab.000 3. Maluku Tenggara 4 Kab.000 2. Jembrana 6 Kab.000 10.575 900 450 1. Flores Timur 4 Kab.500 25. Sumba Barat 10 Kab. Lombok Timur 6 Kab.500 1.900 4.000 4.950 5. Sumba Barat Daya 19 Kab. Karangasem 7 Kab.050 750 450 50 9.000 2. Buleleng 4 Kab.000 32. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab.000 2.100 1. Buru Selatan 9 Kab.000 4. Pulau Buru 5 Kab.000 14.000 10.500 1.500 500 450 50 1. Manggarai 7 Kab. Sumbawa Barat 9 Kab. Belu 2 Kab.900 300 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 9.000 5.000 500 450 50 9.275 3.200 200 50 450 450 1.000 6.375 2.000 3. Sumba Timur 11 Kab. Timor Tengah Utara 13 Kab. Maluku Tngra Barat 2 Kab. Rote-Ndao 14 Kab. Seram Bag Barat 7 Kab. Nagekeo 17 Kab.450 117.300 1.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e .575 450 600 1. Alor 16 Kab.500 59.

Lebak 2 Kab. Waropen 20 Kab. Boven Digoel 17 Kab. Membramo Raya 26 Kab. Serang 4 Kab. Puncak Jaya 9 Kab.000 150 3. Pandeglang 3 Kab.000 500 400 100 10.375 750 750 4.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab.600 150 150 1.150 1.000 1.500 500 850 150 2. Biak Numford 2 Kab. Mappi 18 Kab.975 100 450 50 500 250 1. Halmahera Barat 3 Kab. Yahukimo 14 Kab. Asmat 19 Kab. Halmahera Timur 4 Kab.500 3.500 500 25.Pedoman Pelaksanaan Program No. Dogiyai 23 Kab.000 50 775 1. Halmahera Utara 7 Kab.500 19.500 44. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab. Kepulauan Sula 5 Kab.000 500 8. Membramo Tengah 27 Kab.500 500 850 150 11. Puncak 29 Kab. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2.000 450 5.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .000 150 1.500 500 500 7. Sarmi 12 Kab. Paniai 8 Kab. Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab. Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab. Nabire 7 Kab.Intan Jaya 24 Kab. Jayapura 3 Kab. Lanny Jaya 25 Kab. Halmahera Selatan 6 Kab. Keerom 13 Kab. Merauke 5 Kab. Jayawijaya 4 Kab. Mimika 6 Kab. Pegunungan Bintang 15 Kab.000 1. Nduga 28 Kab. Halmahera Tengah 2 Kab. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab.000 2.500 41. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10.000 39.000 1. Tolikara 16 Kab.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 875 148.

900 5.000 2.500 21. Kaimana 8 Kab.000 1.000 9. Manokwari 3 Kab.000 5.100 1.100 550 550 1. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab. Bone Bolango 5 Kab.500 750 2.000 1.000 1.000 2.750 1.100 1.Pedoman Pelaksanaan Program No. Boalemo 2 Kab. Kep. Mamasa 4 Kab.000 450 1. Karimun 4 Kab.500 5.500 5. Raja Ampat 5 Kab.450 2.500 7.500 63. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab.400 375 500 400 375 500 200 1. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Lingga 5 Kab.250 1. Bangka 2 Kab.000 5. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab.150 2. Natuna 2 Kab.300 5.000 3.125 1. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab.000 2.000 1. Belitung 3 Kab.500 3.500 12.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab. Bangka Selatan 4 Kab.000 1. Fak-Fak 4 Kab.000 2. Teluk Bintuni 6 Kab. Pohuwato 4 Kab.000 1.500 225 7. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab.125 700 500 1. Bintan 3 Kab.000 1. Sorong 2 Kab.000 1.025 19. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab.250 2.500 2. Blitung Timur 5 Kab.750 38. Teluk Wondama 7 Kab.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab.400 400 1.000 3. Gorontalo 3 Kab. Mamuju Utara 5 Kab.450 6. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3.000 2.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e . Majene 3 Kab.000 1. Limboto 8 Kab.000 450 3.500 3.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2.000 1.950 19. Mamuju 2 Kab. Bangka Barat 6 Kab.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15. Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16. Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

NO. 1 2 3 4 5

KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total

BOBOT 35 20 15 10 20 100

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

BAPPENAS

Nasional

Outcome/Impact Nasional

Kementerian Pertanian

Sektor/ Program

Outcome/Impact Sektor

Unit Eselon I

Program

Outcome

Unit Eselon II, UPT Pusat, Dekon/TP SKPD Provinsi

Kegiatan

Output

Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota

Kegiatan

Output

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). b. b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran 1. kegiatan. 3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e . c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 20. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara. 2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker. dan jenis penerimaan. SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru. Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a. akun pendapatan. c. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program.

d. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. disampaikan kepada Unit Eselon I. dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). Kementerian Pekerjaan Umum. c. UNIT ESELON – I a. sarana. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran. Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program. b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja). Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai. b. d. 2. 3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. e. Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e . 6) Data pendukung terbaik. (2) sumber dana. dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL. g.Pedoman Pelaksanaan Program 5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan. f. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil.

RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program.q. (2) Simber dana. i. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e . 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab. KEMENTERIAN / LEMBAGA a.Pedoman Pelaksanaan Program h. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser).Kementan. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. b. f. (3) sasaran kinerja. c. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. Mengisi informasi pada Bagian I. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L). Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. 3. K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. d. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c. Pinjaman Hibah Luar Negeri. g. e. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L). Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis.

Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L. 3. ada beberapa kemungkinan: 1. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21. c. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. maka K/L menyesuaikan RKA-KL.Kementan. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl. parameter non-ekonomi. dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL. KK RKA-KL. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. 2. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. d. K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. b. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e .

Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL). Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak. 6. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA. 2. 6b.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. 4. 5. 3. SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. 6a. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA. akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA.

3. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. 7. mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e . dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker). 5. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 4. 6. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK. 2. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA. KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e . KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker. 6. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1. 2a. 5. jika tidak terjadi perubahan DIPA. 4. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA. 3. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA.

Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. 4a. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. disampaikan kepada KPPN. 2b.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA. 2a. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1. 10. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 7. 9a. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA. 8b. 8a. 4b. 3. 6. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). 5. data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA. dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL).

3a. 2a. disampaikan kepada KPPN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. 3b. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 2b. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 4. 1b. disampaikan kepada KPPN.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN.

Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a.. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN. 2b. 3a.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e . 4. disampaikan kepada KPPN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 1b. ADK POK revisi satker kantor pusat.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. disampaikan kepada KPPN. 2a. ADK POK revisi satker daerah. 3b. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful