Pedoman Pelaksanaan Program

KATA PENGANTAR

Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value) yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha (petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha. Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor, baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan sumber daya yang ada. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab tugas pokok dan fungsi yaitu Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

i|Page

Pedoman Pelaksanaan Program

Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar pelaksanaan program dan kegiatan. Pedoman pelaksanaan program ini merupakan acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan,

Udhoro Kasih Anggoro

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

ii | P a g e

5.2 Pengawasan Program. 2012 4.3 Monitoring dan Evaluasi 5. Tujuan 1. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program 3. Strategi 2. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA. Sasaran 1. PENDAHULUAN 1.2. Sasaran 2. Sanksi Administratif. 2012 3.4. Kegiatan dan Anggaran 5. Program 3. Pengorganisasian 4. STRATEGI.3. Kebijakan PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA.3.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I.3.2.1.4. PENGAWASAN.4 Pelaporan PENUTUP i iii iv vi vii 1 1 4 6 7 8 15 16 17 19 23 24 33 34 55 II. Kegiatan dan Anggaran 5. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. Istilah dan Pengertian SASARAN.1.3. V. Latar Belakang 1. 55 56 63 69 71 71 72 73 74 77 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iii | P a g e . 2012 2. IV. Tata Hubungan Kerja 4.2. dan Ganti Rugi PENGENDALIAN.2. VII. Dasar Hukum 1. Ketentuan Pidana.1.1 Pengendalian Program. Kegiatan TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. Pengelolaan Anggaran 4.1. III.

2012 Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 14 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. 2012 Tabel 16 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 16 25 26 27 29 30 32 34 36 38 39 40 41 42 45 46 47 48 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iv | P a g e . Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Tabel 2 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 4 Sasaran Luas Tanam.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR TABEL Tabel 1 Sasaran Luas Tanam. 2012 Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 7 Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. Luas Panen. Luas Panen. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA 2012 Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 49 50 52 53 Tabel 23 Tabel 24 59 60 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan v|Page .

Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan 16 18 26 39 39 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vi | P a g e .

2012 Agenda Perencanaan Nasional Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Padi Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. 2012 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Alur Sistem Pemantauan. Luas Panen. Luas Panen. Produktivitas. Produktivitas. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. Luas Panen. Produktivitas. Evaluasi dan Pelaporan Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 84 107 111 112 113 114 115 116 117 118 123 141 142 143 144 147 148 149 150 151 153 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vii | P a g e . Produktivitas. Produktivitas. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Luas Panen. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Jagung Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Daftar Satuan Kerja di Pusat. Luas Panen. Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. Produktivitas.

Pedoman Pelaksanaan Program Anggaran K/L Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Lampiran 22 Lampiran 23 154 159 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 161 162 163 164 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan viii | P a g e .

Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Maju.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth). berkelanjutan. dan berkelanjutan. yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan.1. bukan langkah-langkah biasa (business as usual). 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job). Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif. terfokus. seimbang. Dalam konteks ini. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah. dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin 1) 2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page . dan Berkeadilan. 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor). berkeadilan. Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. Demokratis. Mengacu pada visi tersebut. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang. dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri. berwawasan lingkungan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB I PENDAHULUAN 1. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. jangka menengah. arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough).1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera.

peningkatan kapasitas usaha. serta optimalisasi efisiensi usaha. yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I. e.8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian. faktor peningkatan produktivitas. dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program.2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110. nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut. baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu).Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . diperlukan prakarsa-prakarsa baru. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89. perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3.Percepatan Pembangunan Papua. g. Papua Barat dan Nusa Tenggara .Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun. Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan.Penguatan Penanggulangan Kemiskinan .Pedoman Pelaksanaan Program c. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri. Pada tahun anggaran 2012. d. Produktivitas. Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi. Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. f. Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut. Untuk itu. h. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page .

Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. kacang tanah. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. Oleh karena itu. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. jagung. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. dana subsidi. dan ubi jalar. Dalam hal ini. seperti dana dekonsentrasi. sejak tahun 2011. disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Dalam perkembangannya. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. dan kedelai. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD. Saat ini. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. sorgum. Namun demikian. arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi. Produktivitas. gandum dan lain-lain. Direktorat Jenderal Hortikultura. Produktivitas. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. gembili. kedelai. kacang hijau. yaitu padi. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dana alokasi khusus (DAK). pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . dan berbagai jenis lainnya. garut. dana tugas pembantuan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. ubi kayu. jagung. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi. karena faktor keterbatasan yang ada. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel.

Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program. KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1.2. dan 3) pedoman teknis. TUGAS PEMBANTUAN. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. DAK. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . 2) pedoman pelaksanaan kegiatan. DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI.

junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . sebagaimana telah diubah beberapa kali. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK. Produktivitas.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT. Penelaahan. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Tujuan             1. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page . Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK.3.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012. Produktivitas.

kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja. dasar hukum. tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. Produktivitas. dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. sasaran. kegiatan. Produktivitas. meningkatkan transparansi. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung. kebijakan. meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi.4. tujuan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. Sasaran b. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program. 1. c. istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran.

memuat prioritas pembangunan. RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal.5. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1. RPJMN II Tahun 2010-2014. 5. melalui urutan pilihan. yang memuat strategi pembangunan nasional. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan). Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. RPJMN III Tahun 2015-2019. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. kewilayahan dan lintas kewilayahan. kebijakan umum.Pedoman Pelaksanaan Program 1. disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga). yaitu RPJMN I tahun 2005-2009. kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. lintas Kementerian/ Lembaga. visi. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page . Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. 3. 4. serta program Kementerian/Lembaga. Produktivitas. 6. 2. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. 14. modal. 11. 8. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. termasuk peralatan dan teknologi. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 16. barang.Pedoman Pelaksanaan Program 7. 10. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. 13. 12. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. 9. 15. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page .

Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. 21. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. menyimpan. menyetorkan. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 19. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . 23. maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. 18. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. 24. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. 25. Tanpa indikator kinerja. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. tahap pelaksanaan (on-going).Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. 22. dan mempertanggung jawabkan 17. menatausahakan. 20. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.

31. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. membayarkan. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. 35. barang. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. 33. atau kota. 28. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati. 27. menatausahakan. 32. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 29. 30.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. kabupaten. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. pemerintah negara asing. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. badan/lembaga keuangan internasional. menyimpan. 26. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e . 34.

Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai. 42. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. efisien. keluaran (output). 40. sosial dan keagamaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan. 39. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan. efektivitas pelaksanaan. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS).Pedoman Pelaksanaan Program 36. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. 43. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. 38. 41. serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e . dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan. 45. 47. Pembedayaan sosial. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD. dan/atau penguatan kelembagaan. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan. kelangsungan hidup. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. perlindungan sosial. 46. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. menjual. jaminan sosial. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. mengekspor. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya. dan kompensasi sosial. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial. 49. penanggulangan kemiskinan dan bencana. tunjangan. 44. penyediaan aksesibilitas. seperti gaji.Pedoman Pelaksanaan Program selektif. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. atau mengimpor barang dan jasa. kualitas. 48. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat.

menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. 4. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. 6. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. sebagai berikut. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut. STRATEGI. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . dan berkelanjutan. dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. 2. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. 5. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. 1. 5. 2. 7. dan 6. Dalam mewujudkan visi tersebut. 1. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. 4. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan. 3. efektif. 3.

20 14.235 24.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53.000 342. daya saing. kedelai. kacang tanah. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional.1. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14. Selain itu. Namun demikian.000 390. dan ubi kayu. b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan.312.500 1. jagung.100.000.000 Luas Panen (Ha) 13.315. Dalam hal ini.430 1. kacang hijau.00 117.600 1. pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif. dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e . Luas Panen.026.55 15.250. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani.865 4. kebutuhan pakan. dan ekspor.437 1.000 785.000 25.00 Produksi (Ton) 72.800 196. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini. Sasaran Luas Tanam. Tabel 1. ubi jalar. kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah.000 2.000 825. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional.600 207.Pedoman Pelaksanaan Program 2.771 4.98 190.00 11.381.000 1.13 51.900.300.655.000 1.874. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan.026. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi.700 325.000. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian.556. baik kebutuhan pangan.

Berkaitan dengan peningkatan produksi. DAYA SAING. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. (4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia. Secara harfiah. Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e . (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana. harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. Untuk itu. Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan.2.Pedoman Pelaksanaan Program 2. (2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan. Namun demikian. pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan. subsidi ataupun insentif lainnya. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut.

Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi. maupun hilir. Peningkatan manajemen. 3) pengamanan produksi. Peningkatan produktivitas 2. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. 2) perluasan areal tanam. dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e . Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu. on-farm. Perluasan areal dan optimasi lahan 3. Gambar 3.Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1.

penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pada prinsipnya. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi. (4) pencapaian swasembada kedelai.Pedoman Pelaksanaan Program 2.3. dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya. (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). subsidi pupuk. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu. (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. Dari 23 arah kebijakan tersebut. dan partisipasi. transparansi. antara lain: bantuan benih/bibit unggul. serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. efektivitas. yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012. (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). akuntabilitas. alsintan. 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011.

khususnya komoditas strategis seperti padi. Karena itu. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga. Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. jagung dan kedelai. pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan. 3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e . kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. Dalam hal ini. dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat.Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif.

hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. baik ekspor maupun impor. berakibat terjadinya degradasi. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan. penyakit dan organisme pengganggu. karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan. (3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. asal bahan hewan. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang. (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. Pada era perdagangan bebas ini. hewan. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina. alih fungsi. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri. hasil bahan asal hewan. hewan. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO).

Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. c) mewujudkan kemandirian. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak.Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. perseorangan. f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. Sanksi bagi orang. ketahanan. d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani. h) mempertahankan keseimbangan ekologis. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e . pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. dan kedaulatan pangan.

5) pola pengelolaan bansos. BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4. 6) mekanisme pengadaan barang/jasa. 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. 4) jenis belanja. Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan. 2) komponen prioritas pemberdayaan. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan). serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal.

Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e . Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 6.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan. 3. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 5. 8. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi.1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih. Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. 7. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1. 4. 2.

2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012.06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi. penangkar benih.03. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani. BPSBTPH. Produktivitas. dan lembaga yang mengakar di masyarakat.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2. 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI. 4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. pelaku usaha pascapanen. Kode 018. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e . dan BPTPH).

7. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6. Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2. 1. Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3. 5. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e .

347.230 9. 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp.416.010 25. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp.899.560 10.104..00 37. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2.000.498.00 130.000 300.50 65.000 285.565. Sasaran Luas Tanam.000 6.350 Luas Panen (Ha) 2.000 1. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).00 250.000 475.700. 1.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64.000 500. sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini. jagung dan kedelai.195. Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain..000 2.000 190.000 542.500 19. 512.781.260 164.235.880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp.00 16.000 200. BPSBTPH. Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area).245.000.00 Produksi (Ton) 16.000 350.-. Luas Panen. 1. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan).680 139.536.00 17.51 13.455. Tabel 4.000 150.000 6.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan.690 268.500 142. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .000.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). dan BPTPH).000 20.250 1.00 77.Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI.000 332.

600 13.100 38.900 15.567.000 2.300 11.114.100 67.546.327.644.007. 11.000 700.626.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.676.870.817.620 1.000 4.152.746.976. 27.377.843.060 28. 23.536 7.330 28.500 8.320.010.100 11.800 4.725 34.138. 19.000 2. 6. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78.000 385.000 250. 1.500 12.278.155.465.000 500.000 27. 16.147.016.000 600.420 67.084.000 803.242.000 1.188.000 8.000 3.007.600 19. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.019. 9.659.500 11.880 13.713.115.591.500 3.478.670.533.700 1. 28.900 37.374.445.055.246.310 46.600 5.800 5.000 4. 2.000 2.208.300.300 3.600 5.000 2.500 1. 32.480.500 3.000 2.221.000 4.180 3.750.500 8.168.414.934.604.100 12.500 16.462.000 4.581.560 34.609.314.543.000 3.100 200.000 3.610.700 9.473.000 350.100 21.900 14.288.000 2.582.498.180 122.161. dan belanja bantuan sosial.900 9. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.483.992.410.709.907.000 1.500 4. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.085.300 28.260.142.500 6.582.395.160 21.184.498. 14.160 47.362.449.000 1.566.405.740 34.700 432.263.000 600.600 1.000 1.000 100.000 1.800 47.061.000 1.642.000 400.820.017.428.710 32.000 2.114.400 21.113. belanja barang.580 348.000 1. alokasi anggaran untuk belanja pegawai.210 21.000 4. 2.561.500 11.000 2.000 1.110 4.800 1.500 7.365.830 16.038.000 474.000 300.500 5.715. belanja modal.820 47.400 2.900 18.131. 31.750.000 821. 4.000 299.030.536 1.804. 26. 21.500 2.893.120 246. 20.140 14. 22.800 10.448.693.600 13.860 10.000 500.178.176.001.000 1.000 3. 4. 5.200 1.000 2.353.901.400 14.000 721.500 1.465.100 6.041.000 12.114.500 11.731.000 2.000 152.093.000 2.000 2.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.799.439. 15.000 2.000 230.125.738.480 385.841.000 3.000 1.459.067.000 2.455 54.201.400. 25.000 61.330. 29.056. 13.350 12.990.000 600.000 3.300 803.492.588. 3.176.100 36.200 16.000 4.350 92.500 18.800.600 16.100 18.600 16.500 14. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.800 11.850 23.740 23.000 4.549.500 3.049.598.030.642.220 50.347.000 1.926.300 20.260 4. 3.000 250.805. 33.100 4.250.400 11.817.156.000 803.731.100 28.500.810 1.000 1.000 5.412.500 550.489.957.100 18.801.630 16.392.000 1.000 1.700 9.520 69.250.084.500 512.900 23.771.304.400 13.447.200 14.000 2.000 5.900 9.300.759.814.218.552.278.000 100.600 9.051.847.200 31.895.916.067.500 910.850.089.783.403.625 49.846. 30.320 46.000 2.400 15. B 1.374.300 8.186.969.618.000 3.130 24.676.238.478.700 4.592.020 15. 8.985.450.987. 10.455 82.090.000 339.000 1.000 750.621.500 3.436.750 76.494.600.000 1.180.400.000 400.558. 17.303.000 2. 24.000 500.680 24.420 163.700 30.600 1.372. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .640 53.587.000 9.000 698.900 6.039.678.245.000 3.600 10.398.910 66.400 34.480 92.297.825. LOKASI DINAS A.000 5.618. 18.491.420 27.187.797.940 12.404.100 13.500 18.600 44.600.104.802.000 6.820 28.516.878.000 250.633.023.500 7.21%.899.840.000 2.000 4.000 3.700 22.926.150.500 4.000 1.562.000 6.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.487.260.185.940 5.587.628.400 7.249.000 350.400 6.000 7. 7.800 21.020 207.544.000 1. 12.

800. Tabel 6.73% dan belanja modal 1.699. belanja pegawai 1.062. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.129.735 0 0 172.961 1767 3.600 186.950 1.06 Program Peningkatan Produksi. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp.536.03.460 36.532 3.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.991 0 0 297.000 90.834.834.496.628.650 73.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.520 175.000 67.000 1763 0 151.067.869 0 0 124.219 19. 000) 018.900 0 7.960 0 0 0 0 0 0 156.187.568 506.991 1761 0 20.491.315 1.962.052 9.200. Produktivitas.016.500 847.18%.829 36.235.353.150 430.435.115.251.775 2.092 109.000 1764 0 178.289.534.000 1766 46. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp.292.164.919 588.285 53.998 1.000 1768 4.88%.668.000 3.040 0 0 0 0 0 0 0 2.194. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .800.436. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.510 889.453.030 1762 0 96.418.002.000 1765 0 22.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9.300.411.350 944.000.085 6.436.813.115.342.246 588.894.441.516.749.507.468 3.000 231.000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas.871. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.000 154.000 248.

Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3. dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. sebagai berikut: 1. Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.136 unit 1.500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. Ubinan SLPTT Padi 2. Ubinan SLPTT Kedelai 14. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat).Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan.919 unit 3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. Secara umum. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut). Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. Namun demikian. pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output. Namun demikian. hal ini disebut dengan lex specialist. maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Dalam administrasi. evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota.

6. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . 11. 5. 8. 7. 4. 9.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. 3. 2. 1. 13. 12. 10.

Secara umum. dan pelaporan. Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi.2. 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e . serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian. evaluasi. Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan. 6) ketepatan pembentukan tim pembina. Produktivitas. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. mengevaluasi. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. pengawalan. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana.Pedoman Pelaksanaan Program 3. dan melaporkan pelaksanaan. 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan. monitoring dan evaluasi.

monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina. Pengendalian. kinerja Program Peningkatan Produksi. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3. Pada tahun anggaran 2012.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8. Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. pengawalan. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III.3. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II.1. No. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia.3. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e .

000. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp. Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan.000. Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya.850. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih. dan jagung (hibrida). 64.600. maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT. Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. dan alsintan). 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp. kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih. 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No. 3. pupuk. pembinaan manajemen kelompok. Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung. 25 ha areal SLPTT padi lahan kering. dan alsintan). dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih.000. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida. 1.-/Ha.700. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP. hibrida dan lahan kering).-/Ha. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. pupuk. 10 ha areal SLPTT padi hibrida.-/Ha. Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan. serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. 44. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2.

000 500.000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1.000 500.000.000 25. SLPTT Reguler .000 kg 1 unit 1 paket 1.700.000 160. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e .600.000 3.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.000 25.Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.000 500.000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.750.850. Jagung Hibrida.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP . .Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) . pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .Model Spesifik Lokasi .000.Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1.000 kg 1 unit 1 paket 1.000 690.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.000 150.300 500 25.300 500 25.000 1.000.000 50.000 150.000 64.000 150.000 50. biaya pertemuan kelompok tani.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000.600 2.600 2.700.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping .600 2.000 1.000 150.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.000 500.700.000 160.000 150.000 50. Padi Lahan Kering.000 1.750. Padi Hibrida.000 160.000 690.000 10 kali 10 kali 1 buah 170. SLPTT Model Padi Non Hibrida .700. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA.000 44.300 500 170. 2012 SL-PTT A.750.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 690.000 150.000 500.000 500. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 3.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi.000 3.000 3. SLPTT Model Padi Hibrida .750.

000 Ha 200. 17 Provinsi. monitoring dan evaluasi serealia. pengendalian OPT hingga panen. pengaturan tanam. 25 Provinsi.550 Ha 14.750 Ha 290. 26 Provinsi.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. Tabel 10. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan. padi hibrida seluas 290. Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c.651. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f. Pangan Alternatif 3. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14. 13 Provinsi. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33.300 Ha 500. No.651. padi hibrida spesifik lokasi 9. pemupukan.700 Ha 33. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.550 ha. (2) ketepatan alokasi anggaran. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e . Padi Hibrida e. Padi Non Hibrida b.700 Ha 9. dan Evaluasi Serealia 2.750 ha.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. lahan kering seluas 500. 10 Provinsi Pusat. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. pengawalan. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d. Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2.700 ha. 31 Provinsi. 1. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia. 22 Provinsi.000 ha. pemilihan benih.000 ha. Padi Lahan Kering g. seperti pengolahan tanah. dan jagung hibrida seluas 200. Pembinaan.300 ha. pengairan. 30 Provinsi.700 ha. Monitoring. Selain itu. Pengawalan.

(6) ketepatan pembentukan tim pembina. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. mengevaluasi. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No. 1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . monitoring dan evaluasi. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai. pengawalan. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. penyediaan dan penyaluran bantuan.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran.2. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. 2. Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia.3. Tabel 11.

Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB.000 500 250.000 250.000 200.000 540.000 500.000 160.Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha.390.000 150. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1.000 1.000 250.000 500.000 200. A.280. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No.000 1.390.930.300 1.000 230.000 1.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e .000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1. POPT.000 400. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan.000 500. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian.600 2.000 250.000 500 250.000 230.000 160.000 250.300 1. Peneliti. B. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK. Tabel 12. PBT dan Mantri Tani.000 80.600 2.000 500.000 150.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.000 500.000 500.000 13.000 3. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha.000 250.000 500.

pengairan. 5. penyediaan dan penyaluran bantuan. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. Tabel 13.094 Ha. pemupukan. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3.500 Ha. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat. pemilihan benih. 4. 8. mengevaluasi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e . 2 Kab/Kota 1 Provinsi. 6. monitoring dan evaluasi. Monitoring. pengawalan. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT.000 Ha 2. 4 Kab/Kota 2 Provinsi. 7. seperti pengolahan tanah. 3. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam. 28 Provinsi. pengembangan kedelai model seluas 2. 1. pengaturan tanam. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. 28 Provinsi. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. 29 Kab/Kota 1 Provinsi. pengendalian OPT hingga panen. 2. Pengawalan.500 Ha Lokasi 28 Provinsi. 175 Kab/Kota 11 Provinsi. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. (6) ketepatan pembentukan tim pembina.000 Ha. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL).094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran.

I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. pedoman teknis. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis. No. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman.

31 persen. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). Padi 67. Kedelai 67. dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah.3. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani. (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas. pemberdayaan penangkar.Pedoman Pelaksanaan Program 3. pembangunan dan optimalisasi UPB. (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. Selain itu. dan Cadangan Benih Nasional (CBN). c. Pada TA 2012. dan kedelai sebanyak 101. Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a. Jagung 72. bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan. Selain itu. jagung. operasional Balai Benih Induk (BBI).00 persen. dan ubijalar). b. pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah. ubikayu. pengawalan. ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden).90 persen. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu. kacang hijau. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. pembinaan. dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT. jagung hibrida. padi hibrida. padi lahan kering. pengawalan.50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e .3. serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH). subsidi. dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih. pembinaan. Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. monitoring evaluasi BLBU.

Selain bantuan langsung benih unggul. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. dan kedelai. meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu. penangkar jagung seluas 700 ha. (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan.Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT. monitoring evaluasi BLBU. jagung. pengawalan.500 ha. (8) pembinaan. dan penangkar kedelai seluas 2. subsidi. (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10. pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini. dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. kekeringan. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas.05 juta Ha. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. (7) pembinaan. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas.000 Ha. Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Komoditas yang difasilitasi adalah padi. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi.

165 Kab/Kota 5 Provinsi. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. 230Kab/Kota Pusat. 3.500 ton 300.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15.000 ha 12.500 ton 500. 10.500 ton 2. Monev BLBU. 6. 1.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi.Padi .500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: .000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2.000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck. Pengawalan. 32 Provinsi.000 ton 350. No. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e .000 ha 4. 2012 Kegiatan BLBU 2. Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67.700. 4. 11.000 ha 14. 100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi. Subsidi. 9. Oleh karena itu. 373 Kab/Kota 7. 8.000 ton 200. 5. 14 Kab/Kota 13 Provinsi. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu.Jagung .000 ha 3. CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan.

jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. pendampingan. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. mengevaluasi. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. Tabel 16. IV. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II. V. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III. No. Pembinaan. VII.

dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. 204 Kab/Kota Pusat. 2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan. 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5. 31 Provinsi. dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan.Ubi kayu . mengevaluasi. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: . 3. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu. (5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis.3.4. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. No.Vertical Dryer .Pedoman Pelaksanaan Program 3. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat. Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.Kedelai . 1. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen. 2. 16 Provinsi. (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi. penyediaan dan penyaluran bantuan. Tabel 17. (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e . 204 Kab/kota Pusat.Padi . 4.Jagung . (4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen. serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan.

4.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No. mengevaluasi. penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan. 5. - - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e . 1. - 3.

Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini. 3.168 Orang 2. 6.Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi. Tanaman Pangan TA. 10.Operasional BPT . 4.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9. dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI. bimbingan teknis. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e . RK-KL Ditjen. 1. 2.Sarana pengendalian OPT .3.Renovasi/Bangun gudang pestisida . monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida. Sumber. Tabel 19. (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI. 8. pupuk. No.5. 11. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): . 5. dan residu pestisida Sasaran 1.Pedoman Pelaksanaan Program 3. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI. 7. (3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan. Peramalan. 12. 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1.

Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT. dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e . sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. 1. Tabel 20. 3. terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No. 2. 4.

(2) jumlah teknologi pengamatan. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi.3. Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun. 3.7. umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi. Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT). (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan. divalidasi dan disyahkan. peramalan. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI.3. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT. Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan. peramalan dan pengendalian OPT. dan pengendalian OPT. keuangan. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e .8.3. dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan. dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 3. dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis.6.

Bencana Alam. 33 Provinsi. 374 Kab/Kota Pusat. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. 374 Kab/Kota Pusat.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. 4. 9. 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e . 1. Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3. Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. 5. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7. Monitoring Evaluasi. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No. 33 Provinsi. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program. 33 Provinsi. 33 Provinsi Pusat. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Tabel 21. Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. 33 Provinsi.Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3. 8. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 374 Kab/Kota Pusat Pusat. 6. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 3. 2.

Faktor alam .Kelayakan Proposal .Ketepatan dukungan administrasi dan teknis . LM3 Uraian Titik Risiko .Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2.Proses tender . 1. Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya .Pengaruh intervensi pihak luar . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e .Identifikasi Calon Lokasi . Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22. Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3.Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 .Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) .

Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki. pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola. pengendalian dan pelaporan. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e .1. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut. Dengan koordinasi ini. BPSBTPH dan BPTPH). Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan. Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. Untuk itu. dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN. koordinasi dan teknis fungsional. Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan.

Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani.Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 4.2. khususnya perselisihan antar daerah. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut. Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e . panen dan pasca panen. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi. sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. Untuk pelaksanaan program. efisien. teknis perbenihan/perbibitan. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. teknis usahatani. kegiatan dan anggaran di daerah. dan berdaya saing. dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. teknis perlindungan tanaman. Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR.

Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. b. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. 3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. kegiatan dan anggaran. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA. b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program.

Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Pada TA 2012. masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM.Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja. dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. dengan rincian sebagai berikut. kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. 3) Untuk kelancaran operasional program. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program. 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. 3) Untuk kelancaran operasional program. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. 1) 3 saker di Pusat. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e . 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program. 2) 65 satker di provinsi. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. c. Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan.

300. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.000 1. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No.BBI *) .115. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.Dinas Provinsi .536 3.000 152.500 31.498. 1. 1.007.846.400.000 267.104. 2. II.455 1.899. I.455 3. 000.500.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp.000 512.245.491.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini. 3.000 9. III.000 7.746.084.353. 2.991 2 BPTPH III.245.536 1. 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi . I.500 61.-) 1. 1 2 3 4 II.093.347.498. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e . Tabel 24.

bidang umum. dan perlindungan tanaman pangan). diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. pembinaan. subsidi dan CBN.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. non hibrida peningkatan IP. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan hibrida spesifik lokasi). Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta. 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif. Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan. 2) Koordinasi. dan kekeringan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e . kegiatan dan anggaran. 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi. 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. dan dukungan manajemen lainnya. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari. monitoring. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik. 2. 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. pascapanen. 6) Penyaluran insentif Mantri Tani. jagung. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). 5) Pembinaan. monitoring dan evaluasi BLBU. perbenihan. dan kedelai.pengawalan. 8) Perencanaan program. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. statistik dan pemberian honor petugas Simonev. penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi. penanganan bencana alam. 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). tunjangan. 10) Evaluasi. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. 12) Pengelolaan gaji. honorarium.

3. 4. THL POPT-PHP . Perencanaan program. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH. Dinas Pertanian Provinsi. pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. Pemberdayaan PPAH. 5. Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. P3OPT (BPTPH). Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). dan Evaluasi. penangkaran benih. peramalan OPT dan dampak perubahan iklim. BLBU. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. Penyaluran sarana pengendalian OPT. SLHT dan SLI. dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev).Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. Renovasi gudang Brigade. Pemberian insentif Mantri Tani. aneka kacang dan umbi. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. Operasional POPT PHP. kegiatan dan anggaran. statistik. monitoring evaluasi. Pelaksanaan survei susut padi. honor pengelola Satker dan Administrasi. subsidi dan CBN). pengelolaan data OPT. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). bimbingan teknologi. Pembangunan dan optimalisasi UPB. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Balai Benih. Pembinaan. Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen.

Pembinaan. fungsi. Honor pengelola Satker dan administrasi. dan pengeluaran). bukan pengawasan. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. Perencanaan program. padi lahan kering. kedelai. dan pelaporan(serealia. dan Dukungan manajemen dan teknisnya. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. subsidi. kedelai. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . pascapanen). pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. ubi jalar. kacang tanah.Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. dan ubi jalar. kegiatan dan anggaran. monitoring. padi hibrida. Dalam pelaksanaannya. jagung. BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.3. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output). ubi kayu. monitoring evaluasi. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. ubi kayu. kegiatan. pengawalan. statistik (termasuk honor petugas Simonev). 4. 2) Anggaran. Pemberdayaan Penangkar Benih padi. jagung hibrida. CBN. BBI. Pengembangan kedelai (model). Evaluasi. aneka kacang dan umbi. BLBU. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. lokasi dan jenis belanja. dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. Ubinan SL-PTT kedelai. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program. penangkaran benih. jagung. 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. dan kedelai.

kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp. 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e . efisien. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.000. 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. b.-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. keputusan penetapan penyediaan barang jasa. ekonomis. 100. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib. 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). serta kelompok masyarakat. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. efektif. 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. taat pada peraturan perundang-undangan. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis.-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN. Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a.000. 5) Menguji. jadwal.000. 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen.Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku.000. BPSBTPH dan BPTPH.000.

Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan. LS. Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). UP. serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur. Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola. honor. Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak.Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). TUP dan NIHIL. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. Dalam melaksanakan pekerjaannya. vakasi). Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). GUP. 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e .

Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. d. diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek. 8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK). Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. Direktur. 3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan. 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan. 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal. 7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya.Pedoman Pelaksanaan Program c. 10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul.

1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. 2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran. Bendahara Penerimaan Menerima. pengurangan. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . alamat. 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. menyimpan. f. nomor rekening dan nama bank). 5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA. ketepatan penjumlahan. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. e. menyetorkan. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya. membayarkan. apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi. perkalian. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat. 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran.Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. menyimpan. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Ketentuan Pidana. 4. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya. 2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e . SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya. Sanksi Administratif.4. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara. maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan). dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan.

penyusunan anggaran. 4) Informasi dan Komunikasi. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e . efektif dan efisien. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. 5) Melakukan supervisi (orientasi. Dalam melaksanakan pengendalian intern. 2) penilaian risiko. terbuka. 4) Memberikan pelatihan. 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. PENGAWASAN. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan. Pengendalian Program. namun termasuk proses pengambilan keputusan. akuntabel. keefektifan sumber daya. dan berbagai hal lainnya. serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern.1. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. bimbingan. pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. arahan serta sejenisnya. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. 3) Kegiatan Pengendalian. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah. workshop atau kursus perencanaan program. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya. kegiatan dan anggaran.

bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. a. 5. Pengawasan Program. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak.Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna.2. kegiatan dan anggaran kinerja. pengujian. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. b. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. BPKP dan Bawasda. Pengawasan fungsional terhadap program. mempunyai aspek pelayanan masyarakat. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. b. kegiatan dan anggaran tahun 2013. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e .

Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan. Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e . Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan. b. termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang. manfaat dan dampak). Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. Monitoring dan Evaluasi 5. Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. d.3. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi. sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. Evaluasi pelaksanaan program.Pedoman Pelaksanaan Program c. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Membangun dasar bagi pengukuran. Memperjelas status jenis. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. c. hasil. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan. keluaran.

merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan. tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). 5. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim. kegiatan dan anggaran ini. evaluasi dan pelaporan. Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian.07/2010. aspek teknis dan anggaran.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. dan Kabupaten/Kota. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008. Evaluasi program.4. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. Pelaporan hasil pelaksanaan program. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi. aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi.

Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan. yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment. meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. Laporan insidentil. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. Laporan yang disampaikan. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e . baik untuk anggaran dekonsentrasi.Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian.

kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara.Pedoman Pelaksanaan Program BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu. kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat. peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. Untuk itu. dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait. perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud. penataan kelembagaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e . Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis.

Pedoman Pelaksanaan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 47 48 49 50 51 52 4. 53 54 55 56 57 5. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo. 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e

Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Kehutanan. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. 9. Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kab. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Mesuji 121201 Dinas Pertanian. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10.

Kelautan Dan Perikanan Kab. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Sanggau 130306 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian. Kehutanan. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Peternakan. 13. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Sambas 130237 Dinas Pertanian. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Peternakan Dan Perikanan Kab. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kab. Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kab. Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e . Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab.

Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program NO. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Perkebunan. Perkebunan Dan Peternakan Kab. 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian. 17. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kab. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian. Kehutanan. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perikanan. Buol 180605 Dinas Pertanian. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Pertanian Dan Kehutanan Kab. 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18. Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan.

Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kehutanan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e . Kehutanan. 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. Perkebunan. Kehutanan. Kelautan Dan Perikanan Kab. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian . Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Lembata 241412 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. 300 301 302 303 304 305 21. Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian. 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Peternakan. Kelautan Dan Perikanan Kab. Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian.

Kehutanan. 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian. Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian. Perkebunan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . Kehutanan. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. 386 387 388 30. 355 356 357 358 359 360 361 26. Perikanan Dan Kelautan Kab. Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab. 389 390 391 392 393 394 31. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. 380 381 382 383 384 385 29. Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. 350 351 352 353 354 25. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kab. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. 373 374 375 376 377 378 379 28.

Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian. Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian. 32. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program NO. 396 397 398 399 400 401 402 33. Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Peternakan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. Perkebunan. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian. Peternakan. Teluk Wondama Dinas Pertanian.

7. 8. 5. 12. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 14. 10. 19. Agenda Perencanaan Nasional No. 13. 16. 1. 15. 11. 6. 2. 18. 9. 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2. 3. 17.

stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. V. NTT. Sulsel. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. Jatim. BPTPH. 2. Malut. BPSBTPH. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. 3. 1. BPSBTPH. Bakorluh Dinas Provinsi. 3. Gorontalo. Banten. III. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. Jatim. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Peb. Bakorluh Dinas Provinsi. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. 2. Kaltim. Jambi. Dinas Kabupaten. No. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. Riau. Sumsel. Sulsel. BPTPH. DIY. VI. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. DIY NTB Dinas Provinsi. BBI. 1. BPSBTPH. I. Maret April Sept. Nov. Riau 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . Dinas Kabupaten. NTB) Dinas Provinsi 4. BUMN. 3. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi. Sumut. II. Sumut. Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. 1. Sumsel. BPTPH. BPSBTPH. DI Yogyakarta. NTB. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2. Koordinator PBT BPSBTPH. Div re Bulog Dinas Provinsi. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. 1. BPSBTPH. Jabar. Dinas Kab. 4. 5. 3. Mei Peb. Produsen Benih Dinas Provinsi. Banten. agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh. Sumbar. 4. 1. Div re Bulog Dinas Provinsi. Jateng. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. Babel. Lampung. BBPOPT. Papua Barat. Kalsel. BPTPH. Kalsel. 4. IV. Sultra. Sulteng. 1. Jabar. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. Tanaman Pangan TA. BPTPH. Dinas Kabupaten. 3. Peb. stakeholders Dinas Provinsi. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. Maluku. Ka BBI. BPMPT Ka BPSBTPH. stakeholders Dinas Provinsi. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. BBPPMBTPH. Lampung.

BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. 5. Okt. BPSBTPH Dinas Provinsi. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. 14. Sept. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. 12. 9. BPSBTPH. BPTPH. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. Nov. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e . 3.2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi.BPTPH.BPTPH. Okt. BPTPH. 10. BPSBTPH 4. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA. Stakeholders Dinas Provinsi. 7. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPS Dinas Provinsi. 8. BPS Dinas Provinsi. 6. BBI Dinas Provinsi. BPTPH. BPTPH. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. 13.Pedoman Pelaksanaan Program No.

BUDIDAYA. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN. PERLINDUNGAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e . BUDIDAYA. PERLINDUNGAN. STANDAR. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. PERLINDUNGAN. BUDIDAYA. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4. PROSEDUR. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. 4. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN. DAN 5. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PENYUSUNAN NORMA. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. 2. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. 3.

DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3. SUBDIREKTORAT KEDELAI. SUBDIREKTORAT JAGUNG. DAN 5. 4. BAGIAN UMUM 4. DAN 5. BAGIAN PERENCANAAN 2. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. 2. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. DAN 6. DAN 5. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. 3. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. SUBBAGIAN TATA USAHA. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBBAGIAN TATA USAHA. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1. 3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e . 4. SUBDIREKTORAT UBI KAYU. 5. 3. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. 2. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. 4.

SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1. 4. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. 2. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. 3. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1. 4. 3. 2. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. DAN 6. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. 5. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. DAN 6.Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. KEPALA BAGIAN UMUM 2. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. KEPALA BAGIAN UMUM 2. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . SUBDIREKTORAT PADI. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK.

98 164.769 33.000 611.110 52. Sasaran Luas Tanam.401 165.310.913.19 78. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N. 25. 14. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381.600 509.568 115.091 19.B.805 1.450.528 60.271.669 40.003 17.026. 23.530 40.746 10. N.255 2. 16.266.660 625.100.745 39.933.17 1.994 8.24 477.570 4.348 28. Produktivitas.975 1.333 45.860 46.771 13.950 12.251.022.88 515.078 497. 13.550 7.608.675 2.78 822.95 2.740 33.32 1.47 798.691 437.691 49.310 67.705 3. 21.216 62.24 89.720 50.687.561.12 209.703 10.270 30.08 229.669 53.050 3.380 38.978.028 151. 7.925.540 42.472.385 1.115 92.765 38. 3. 30.708 195.825 1.014 46.080 2.07 29.610.324 132.256 40.006 17.602 443.079 407. 28.767.865 53.235 NO 1.194.670 529.142.20 2.250 335.026.967 1.084.040 4. 26.765 4.99 457. 19. BALI & N.629 56.000 2.365 233.58 412. ACEH D. 33.396 47.54 1.290 12.14 1.801 46.760 408.426 784.13 PRODUKSI (TON) 1.824 641.995.T.129.899 54.65 241.415. 9.510.016 85.515 49. 31.171 6.599 47.366.300.033 149.099 52.145 639. PROVINSI N.000 10.529 51.068.14 127.679 126.538 321.386 1. 10.19 20.940 58.780 708. 29.244 134.821 52.74 10.468. 27. 22.893. 17.399 630. Luas Panen.173 770.796 1. 32.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e .88 169.321.52 155.850 2.83 13.434 7. 8.666 50.594 62.325 46. 15.291 383.281 221.844 159.749.T.68 14.572.967.T.22 6.272 68.556. 11.145 3. 20.59 18.039.059 59.262 40.206 148.21 132.59 7.040 634.10 134. 6.55 957.141 39.27 152. 12.510 48.752 3.037.809 924. 2.452 32.985 859.365 41.693 794. 4.33 60. 18.08 782.186 49.066 77.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.66 432.00 410 395 50. 24.514 36.257 38.249 72.75 156.227 47.74 3.034 475.85 627.770.148 1. 5.980 877.936 47.

492 375.652 38.277 29.602 2.361.91 39.77 58.41 42.189 353.600 3.880 712.300 88.20 26. 25.799 403. 33.655.160 8.760 461.874.800 2.131 52.260 77. 31.485 1.657 29.405 31.168 2.543 658.363 257.268 472.08 43. 12.280 13. 15. N.332 1.596.284.437 27.332 101.228 1.482.012.270 36.986 30.297 12.276 59.87 24.844 5. 18. 9.707.640 8.375 7.551 494.51 31.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37.B. 30.091 30 29 187.398.70 56.025 4.82 63. 4.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .566 2.09 49. 6.944 23.535 1.099 1.636 1. 20.940 408.437 4.497 183.371.760 24.000. 21.096 51. 5. 13.153 174.997 192.544 26. 10. 11. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.442 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7. 22.688. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.872 97. 26.009 482.463 61.38 51.30 36.000 10.110 9.244.17 38.661 6. 17.194 469.257 11.118 53. 8.868 93.083 76.863.684 1.88 21. 16.668 24.98 33.306 868.804 13.800 143.77 33.45 31.945 26. 27.10 54.059 178.292.300.92 51.060 1.34 39.689 6.654 745.31 32.80 42.13 55.62 54.62 46.484 35.09 46.91 17.871 2. 7.441 2.391. Luas Panen.30 24.91 46.068.192 358.27 34.591 16.235 33.000 123.23 41.95 33.49 53. Sasaran Luas Tanam.000 NO 1.572 93.633 968.614 4.T. 24.568 134.81 34.849 27.529 123.362 92.200 1.733 4. BALI & N.97 55.407 748 714 25.008 26.909 1. 28.059.334 45.868 50. 23. 32.637.748 11.013.42 53.467 73.67 56.069 54.556 3.114 829.665 3.994 167.910 338.82 18.599 3.737 215.491 51.088 269. 29.068 17.345 240.T.55 PRODUKSI (TON) 193.049 711 679 1. Produktivitas.072 12.640 166. 3.64 63.T.090.368 80.579 98 993.238 10.69 27. 14. 2.019 42.499 314. 19.

12. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121.26 18.000 3.100 1. 32.100 9.000 10.539 15.300 6.95 221.718 13.800 9.500 4.30 557.30 20.400 18.200 8.397 15.900 24.50 334.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8. Sasaran Luas Tanam.649 13.620 13.600 701.400 135.79 17. N.620 13. Luas Panen.700 35. 31.900 112.954 13.87 32.79 10.462 13.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e .098 14.012 14.800 16.823 15.600 20.000 26. Produktivitas.123 16. 5.400 25. 18. BALI & N. 3.675 15. 6.485 13.900 12.47 4.30 65. 13.47 4.47 14.T.500 5.000 17. 21.000 3.700 13.946 13.47 10. 26.53 94.91 125. 22. 15. 19.200 2.900 189.T.500 6.900.413 15.900 117.700 23.500 3.100 588.000 15. 29.600 27.700 723.000 42. 33.566 13.249 15.500 45.200 197.800 7.26 6. 7.803 14.009 13.757 15. 27.000 8.700 47.67 10.312.000 364.300 16.387 13.000 4.26 4.700 371.600 243.400 14.119 13.47 5.400 153.034 14.319 14.156 14. 14. 17.498 13.67 22. 8.51 40.400 549.097.77 24.000 13. 16.32 308. 9.000 231.342 13.700 78.34 22.977 13.900 79.20 1.500 11.000 1.200 57. 23.600 15.400 7.26 14.89 174.000 NO 1.700 106.79 19.900 3.013 16.400 12. 24.600 12.87 34.796 13.400 9.300 13.800 11.79 14.530 42.159 13.900 10.48 174. 11.515 15.937 15.500 158.000 17. 28.885 14.B.250.200 12.26 8.400 7. 2. 4.000 7.30 26.800 30. 30.600 175.30 13.400 16. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.60 48. 25.38 194. 20.500 54.400 10.65 1. 10.800 6.T.896 14.700 3.59 802.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7.142 19.681 9.605 4.248 2.346 6.246 9.530 20.668 597 201 80.264 25 79.228 157.617 78.079 217.015 16.649 548.613 16.075 36.743 27.557 80.375 2.411 2.067 18.372 3.100 25.950 8.612 6.889 44.781 9.760 2.756 1.608 74.406 4.019 5.741 2.187 3.445 15.392 276.387 825.000 6.802 18.743 9.147 4.046 2.234 5.949 9.076 19.684 569 191 76.441 24 75.453 150.114 74.360 206.677 15.856 522.484 15.309 34.993 26.245 76.547 2.296 1.968 17.496 2.953 24.713 8.201 6.561 42.648 9.295 2.624 1.531 70.860 3.827 5.468 2.078 3.282 14.655 263.216 785.700 14,26 13,33 14,52 10,89 13,48 14,36 10,73 14,00 11,04 10,89 13,35 12,08 16,54 15,24 11,87 13,35 16,07 14,23 14,52 14,52 13,22 14,07 12,45 12,65 12,55 12,44 12,53 14,26 18,15 14,00 9,78 12,96 15,02 13,84 12,76 12,44 11,82 11,40 12,20 13,55 14,00 9.699 24.977 13.281 4.406 3.012 8.544 9.742 27.557 628 208 102.054 29 124.805 228.839 88.250 275.843 25.487 743.253 22.227 50.804 34.701 107.732 2.858 2.490 21.955 3.674 30.977 11.695 11.907 59.706 9.090 3.402 2.300 98.100 4.882 6.804 2.456 3.742 17.884 356.747 1.100.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012
NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.955 6.099 1.374 2.079 616 3.115 1.797 5.579 1 23.615 13.495 99.531 1.141 77.774 2.680 194.620 1.245 50.494 30.073 81.812 2.074 399 1.587 1.117 5.177 1.883 1.602 26.962 2.373 501 960 34.281 661 418 819 1.198 3.095 147.980 342.600 LUAS PANEN (HA) 2.808 5.794 1.305 1.975 585 2.959 1.707 5.300 1 22.435 12.821 94.576 1.084 73.888 2.546 184.914 1.183 47.971 28.570 77.724 1.970 379 1.507 1.061 4.918 1.789 1.522 25.614 2.254 476 912 32.568 629 397 778 1.138 2.942 140.586 325.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12,67 12,13 13,28 12,11 12,08 15,32 10,87 10,14 10,26 12,12 12,17 12,36 7,29 12,63 10,14 12,39 10,69 11,21 9,26 10,48 8,02 9,45 11,75 12,02 10,14 15,38 9,00 13,89 9,12 13,51 15,02 13,44 11,90 12,21 11,51 11,67 11,75 11,44 11,98 PRODUKSI (TON) 3.556 7.031 1.734 2.393 706 4.532 1.855 5.376 1 27.184 15.600 116.874 791 93.284 2.582 229.130 1.265 53.757 26.457 81.478 1.581 358 1.771 1.275 4.986 2.751 1.370 35.574 2.055 643 1.370 43.764 748 485 896 1.328 3.457 160.870 390.000

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4.113 3.917 132 45.803 43.622 207 6.114 5.823 207 6.670 6.352 117 3.112 2.964 144 14.729 14.027 160 7.781 7.411 124 352.374 335.592 254 2.001 1.906 150 1.334 1.270 113 444.030 422.883 238 56 53 123 124.498 118.569 197 213.425 203.261 185 71.142 67.754 159 253.442 241.372 170 13.339 12.704 149 675.902 643.711 178 13.117 12.492 155 9.449 8.999 127 94.485 89.985 113 117.050 111.476 118 18.119 17.256 153 9.671 9.210 124 9.560 9.104 155 8.893 8.469 163 46.242 44.040 149 6.892 6.564 138 5.002 4.764 171 33.570 31.971 179 14.895 14.186 175 1.667 1.588 127 4.669 4.446 149 66.695 63.519 170 12.227 11.645 136 12.227 11.645 128 2.779 2.647 120 4.446 4.235 123 31.680 30.171 130 705.698 672.089 201 1.381.600 1.315.800 190 PRODUKSI (TON) 51.555 902.890 120.516 74.164 42.790 224.829 92.031 8.533.351 28.519 14.293 10.084.940 652 2.335.266 3.768.878 1.078.749 4.092.503 188.781 11.464.828 193.590 114.617 1.012.451 1.320.658 263.754 114.381 141.091 138.439 657.666 90.570 81.412 573.512 248.449 20.227 66.073 1.080.243 158.216 149.564 31.744 52.140 391.664 13.535.172 25.000.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e

436 207.903 37.385 2. 23. ACEH D.304 35.667 1.355 43.549 2. 20.888 121 191.359 666 633 93 5.897 333 316 93 2. PROVINSI N.000 196.224 132.462 12.359 6.368 89 12.T.564 6.815 608 578 102 5.403 134 864.500 3.446 4.557 125 19.505 6. 9.154 67.355 40. 5. 15.897 12.395 3.084 105 273. 16. 17.495 1.112 2.288 5.498 2. 11.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12.822 121 94.177 91 19.359 2.256 141 173.686 111 184.300.217 106 23. 28.744 3. 3.590 8.560 16. 7.422 105 25. 26.489 32.885 110 185.998 124 37.769 16.897 17.149 2.440 1.218 99 31. 24.668 4.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e .949 42. 10.773 139 456. 19.500 2. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.421 112 15.503 91 13. 4.247 107 429.333 2. 32.B.385 514 489 121 5.552 1.524 18.897 16.297 109 1.897 1. Luas Panen.179 4.410 110 48. 14.386 3. 30. 21.897 596 566 104 5. 2.638 1. 18.450 26. 6.667 3.179 4.225 123 51.385 17. Produktivitas. BALI & N.T.435 106 47. 29.582 1.291 2.097 34.231 7.667 1.435.051 878 835 92 7.155 2.646 2. Sasaran Luas Tanam.700 117 2.640 4. 31.T. 27.221 45.456 4.923 27.944 1.373 95 22.923 2.720 15.713 139. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1. 8.099 113 485. 25. N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3. 33.631 3.846 3.226 110 35.975 128 76.448 115 408. 22.181 101 62. 12.462 19. 13.552 95 176.475 100 14.776 64.682 1.375 73 17.326 106 35.958 104 30.

g.000 630.000 18.710 630.000 49.000 6.55 Ribu Ha 14.000 25.000 87. pengawalan.064.550.6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3.000.800 392.70 Ribu Ha 9.939. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.70 Ribu Ha 33. monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.230 137.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.500 Ribu Ha 70.414.400 7.2.350.000 790.000 764.929.320 292.000. pengawalan.714.451.400 Provinsi 192.100 Volume Pusat 78.7 jt/LL) 3.900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan.760.868.75 Ribu Ha 290.064.410.350.261. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.00 Ribu ha 2.000 83. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.000.500 6.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.000 8.000 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13. c.000 6.Tanah (Rp.700 7.215jt/ha.749.988.600 107.504.350.700 Jumlah 944.000 74.289.000 175.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3.750 5. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a.700 38.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.642.056. monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e .000.110.000 764.000. f.550.950 3.651. 2012 No. d.320 292.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.332.750 2.504. SL-PTT Kedelai (Rp 3.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.180.868.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64. b.510 70. c.500 41.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64.500 6. e.000 160.727. SLPTT : b.478.700.642.559.030 137.900 Kab/Kota 673.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4.000.800 2.950 3.100 49.028.000 7. d.195.-/Unit) 3.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.

500 19.400.000 16.135.000 35.000 600.247.000 7.251.414.812.500 63. BLBU: b.941.375 76.614.000 90.846.451.000 77.525 Jumlah 1.450.000 66.839. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a.394.200. c.000.400.000 1.000 3.209.500 166.400 47.100 6.000 2.336.900 Kab/Kota 536.890. Bantuan Sarana Pascapanen : b.411.110.000 2. j.000 16. e.800.878.250.000.575 Provinsi 121.000. Pengawalan. h.000.300. c.000 7.500 151.000 130.536.450.500 45.880. Bimbingan Teknis.000 10 700 2.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g.684. d.500.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1.000.000 16.000 720.386.000 7.000 11.600 47.796.000 67.000 2.549.5 4 8 1 28 230 k.000 15.000 74.000 Volume Pusat 794. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.000 2.000.625 43. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan.000 11.500 15.000 8.546.880.453.451.862.137.000 18. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.549. Monev Perbenihan.000 3.846.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13.578.000.000 1. i. Monev Pemb.000 15.941.997. Pengawalan.000 1. Pembinaan.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406.500 100.909.125. f. BLBU padi non hibrida (Rp 8.730.000 13.105.000 10. Apresiasi.500 1.400 9.000 45. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .000 1.937.000 42.590. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.000 1.394.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 111.

911.000 12.200.000 9.129. f.911.418.906 Pengembangan Peramalan Serangan OPT a.500.000 7.000 39.000. c.000 7.315. h. k.350.353. m.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4.000 39.900.315.341.500.500 3. i.353.500 3.000 18.000 18.954. j. 5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a.000 6.000 2. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e .000 Volume Pusat 16.058.799 4. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan.500 20.500 15.096.000 2.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1.908 Orang 1.129.558.000.200.000.000 Jumlah 186.558. d. Pengawalan.000 2.000 8.799 4.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12.000 4.600.000 9.000 15.418.000 19.906 8.295 804.200.600.800.500 Provinsi 154.000.350.954.800. Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2. o. n.000 8. p.295 804.000. b.000.000 20.000 8.900. e.000 4. b.000 6.000.000 8.000. c.800.000 4. g.096. l.000 9.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 2.000 9.015.015.000 19.500 Kab/Kota 15.000 8.

Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat 46.467.000 10.000 24.532 1. k.900. c.164.000 45.800 12.200 2.400.899.170.532 1.350.104.368.000 45.779.000 Kab/Kota 37.000 Provinsi 26.200 5.000 6.569.000 3.464 184.047 30.610.000 - Jumlah 7. f.004 2.092 10.144.000 4.922 1. c.Pedoman Pelaksanaan Program No.900 10. Evaluasi.350. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Volume Pusat 7. e.368.991 15.500 27.200 7.659.600.300.170.900.464 248.115.000.000 4.507.164.507.200 16.840.004 2. b.000.614. 7 Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a.264.965.000 1.536 512.000. d.946.840.400 15.000 1.790. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h.813. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i.455 5.047 30.500.000 24.300.000 3.245.144.500 7.739.000 9.092 10.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g.800 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 3.480.820.600.961 46.922 3. b.498.965. Pelaporan.000 3.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e . Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3.347.000.000 12.061 8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a.380.491.

500 200 2. Toba Samosir Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab. Mandailing Natal Kab.000 750 300 1.450 300 400 750 500 1.000 4. Aceh Barat Daya Kab.000 500 500 1. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung 82 6 25 25 25 25 25 4 2 2 4 4 2 3 19 1 2 125 - 1 - - 3 110 7 25 4 2 4 2 4 2 - 25 25 1 25 25 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e .650 3. Dairi Kab.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 ACEH Dinas Provinsi Kab.750 4.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3.000 750 100 300 300 500 1.150 850 10.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1.600 3. Bener Meriah Kab.000 1. Nias Selatan Kab.430 70 450 50 575 1. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab.150 3.000 7.500 137.000 7. Aceh Barat Kab.000 300 200 14. Asahan Kab.430 70 150 6.400 3.430 70 500 150 2.450 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 14.150 2.000 450 50 1.250 3.175 32. Simeuleu Kab.500 7. Aceh Selatan Kab.000 100 1.200 8. Aceh Besar Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147. Tapanuli Utara Kab.000 1.500 17.150 9.500 750 100 600 500 2.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14.450 300 750 500 225 1. Tanah Karo Kab.500 750 450 900 2.000 2.900 8. Nias Kab.500 1.050 8.000 9.000 1.000 15.550 4.800 1.500 49 1.500 2.000 1.000 50 950 50 950 50 1.000 7.000 8.500 50 950 50 150 11. Humbang Hasundutan Kab. Tapanuli Selatan Kab.500 500 1. Aceh Tamiang Kab.600 12.000 1.500 13.500 10. Aceh Tengah Kab.200 7. Labuhan Batu Selatan Kab.500 12.350 3.700 9. Deli Serdang Kab. Labuhan Batu Kab.100 1.450 4.150 7. Aceh Jaya Kab. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 SLPTT Padi (Ha) No.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.250 225 225 1. Pakpak Barat Kab. Tapanuli Tengah Kab. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab. Aceh Tenggara Kab.150 4.500 5.750 11.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1.000 7.800 600 600 600 1. Nias Utara Kab.430 70 800 450 50 250 300 2.200 2.500 300 1. Aceh Timur Kab. Aceh Singkil Kab.000 4. Aceh Utara Kab.400 10.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1.500 7. Aceh Pidie Kab.400 3. Nagan Raya Kab.000 2.200 3.450 2.500 500 1.400 15.100 350 2. Gayo Lues Kab. Simalungun Kab. Bireuen Kab. Langkat Kab.150 1. Serdang Bedagai Kab.000 3.

800 8.000 8.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab.500 3.500 500 4. Rokan Hulu 9 Kab. Solok 9 Kab. Bengkalis 2 Kab.500 7.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e . Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.000 10. Lima Puluh Kota 2 Kab. Kep Mentawai 4 Kab.500 8.200 300 9. Padang Pariaman 5 Kab. Pelalawan 7 Kab.000 4. Pasaman 6 Kab.500 180 1.200 1. Solok Selatan 12 Kab.900 9.100 500 1.000 9.500 4.500 1. Indragiri Hulu 4 Kab.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3.000 600 750 1.000 240 100 500 1.400 4. Tanah Datar 10 Kab.000 750 100 600 2.500 7.200 1.500 9. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.000 4.500 5.900 2. Agam 3 Kab.500 9.500 1.500 900 500 3. Kampar 5 Kab.000 8. Indragiri Hilir 3 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 1. Dharmas Raya 11 Kab.850 2.000 48.200 400 1.175 1.800 250 1.000 225 300 750 500 1.200 350 1.000 4. Kuantan Singingi 6 Kab.500 2.950 3.750 2.155 3. Sijunjung 8 Kab.000 750 50 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97.900 9. Pesisir Selatan 7 Kab.150 1.450 4.000 10.000 225 550 400 100 180 1. Rokan Hilir 8 Kab.350 250 1.

125 147. Jabung Timur 9 Kab. Tanjung Jabung Barat 8 Kab. Lahat 2 Kab. Banyuasin 8 Kab.250 4.000 2.500 1. Merangin 5 Kab. Bengkulu Utara 3 Kab. Kerinci 4 Kab.200 50 2. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1. Kaur 5 Kab.000 150 100 550 150 1. Muko-muko 7 Kab.250 4.750 1.300 1.300 225 400 500 1.650 450 500 50 2.000 300 500 500 525 1.000 20.500 3.100 500 2. Sarolangun 7 Kab.000 3.900 4. Batanghari 2 Kab.000 250 1.550 500 1.000 16.000 2. Ogan Ilir 11 Kab. Ogan Komering Ilir 6 Kab. Seluma 6 Kab.000 3.700 4.500 13.500 3.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab.500 550 50 500 375 500 550 1.000 600 500 2. Rejang Lebong 4 Kab.000 300 750 250 300 550 2. OKU Timur 9 Kab.400 3.800 150 1. Ogan Komering Ulu 7 Kab.525 4.350 9.000 700 50 1.000 300 500 3. Lebong 8 Kab.000 225 2.000 11.400 12. Tj.900 600 20. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.400 100 2.000 375 600 1.050 900 2.500 8.400 100 2.400 100 2. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab.500 1.100 500 2.000 300 400 50 500 2.000 11.300 225 400 1.000 12.900 100 600 2.100 500 550 50 500 2.600 8.800 1.400 100 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58.300 300 1.900 5.000 13.500 500 250 550 500 450 250 1.500 2.000 3.650 3.400 100 1.000 7.250 750 600 3.875 2.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program No. Musi Rawas 4 Kab. OKU Selatan 10 Kab.500 12.300 300 500 600 500 2.950 15.500 6.000 48. Bungo 3 Kab.100 1. Musi Banyuasin 3 Kab.950 2.200 14.400 11.500 1.750 6. Bengkulu Selatan 2 Kab.000 10.000 3. Muara Enim 5 Kab.500 4.400 100 1.450 2. Muaro Jambi 6 Kab.450 6.875 3.800 1.

500 197.000 10. Purwakarta 13 Kab. Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 12.625 1. Lampung Selatan 3 Kab.000 300 1.250 260 1.430 70 500 750 1.000 6.500 10. Majalengka 12 Kab.875 525 930 70 1. Garut 8 Kab.500 2.200 1.000 2.250 1.500 9. Indramayu 9 Kab.430 70 500 1.500 1.500 2. Kuningan 11 Kab.750 1.000 18.550 6.000 100 930 70 5.500 1.000 7. Sumedang 16 Kab. Bandung 2 Kab.000 11. Tulang Bawang 8 Kab. Cirebon 7 Kab. Lampung Barat 2 Kab. Lampung Timur 6 Kab.000 300 1.650 550 550 550 1. Mesuji 11 Kab.000 100 1.000 375 500 1.850 21.650 1.250 8. Cianjur 6 Kab.350 50 2.500 18. Tanggamus 7 Kab.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.500 7.950 17.500 975 1.500 1.250 750 5.500 1.430 70 3.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.250 1.500 14. Bogor 4 Kab. Pesawaran 10 Kab.470 30 2. Lampung Tengah 4 Kab.260 375 1.470 30 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.750 1.000 1.500 1.500 1.970 30 1.000 18. Subang 14 Kab. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.000 17.350 1. Karawang 10 Kab.625 750 970 30 300 1. Ciamis 5 Kab.125 750 2.700 300 12.430 70 3.470 30 1.430 70 7.250 1.470 30 970 30 200 450 500 450 1.000 12.000 14.500 1.350 1.000 2. Lampung Utara 5 Kab.950 12.880 1.000 6.600 1.430 70 2.430 70 1. Sukabumi 15 Kab.430 70 6.250 5.500 1.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e .500 975 600 100 1.000 14.000 500 930 70 2.500 25 930 70 1. Pringsewu 12 Kab.500 11. Way Kanan 9 Kab.000 11.750 2.000 12.000 1.000 12.000 11.500 10.450 12.275 970 30 1.500 10.350 11. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147. Bekasi 3 Kab.000 8.625 12.500 100 1.100 500 1. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab.000 50 500 930 70 250 8.750 12.000 975 600 150 970 30 1.970 30 1.120 1.500 19.180 70 1.430 70 3.120 50.500 1.

Grobogan 10 Kab. Pati 18 Kab.625 3.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5.000 50 680 70 450 930 70 4.430 70 700 900 430 70 900 1.000 6. Temanggung 28 Kab. Karanganyar 12 Kab.600 51. Batang 4 Kab.875 3.000 680 70 850 1.500 4.300 1.000 1.500 8.000 7.000 9.000 430 70 750 500 2.050 2.000 18.500 5. Kebumen 13 Kab. Cilacap 8 Kab.500 430 70 525 2. Magelang 17 Kab. Sragen 25 Kab.200 1. Kulon Progo 4 Kab.050 430 70 5.000 3.960 1. Bantul 2 Kab. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 500 480 70 3. Demak 9 Kab.300 450 2. Pekalongan 19 Kab.000 430 70 850 1.000 6.500 1. Purbalingga 21 Kab.500 430 70 3.000 1.800 10.500 2.200 1.000 10.000 50 430 70 750 430 70 2.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4. Brebes 7 Kab.500 130 70 3.500 6.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.150 1.500 8.125 27.000 8.500 430 70 1.430 70 5. Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab. Wonogiri 29 Kab. Kudus 16 Kab.430 70 850 1. Jepara 11 Kab.500 10.500 3.000 500 500 1.000 7.000 675 2.500 1.000 100 500 175 450 1. Banjarnegara 2 Kab.000 100 1.000 12. Banyumas 3 Kab.100 500 500 19. Semarang 24 Kab.000 1.000 1.300 1.500 7.100 7. Sukoharjo 26 Kab.500 3.100 100 500 500 50 375 1.500 6. Tegal 27 Kab. Pemalang 20 Kab.500 5. Gunung Kidul 3 Kab.750 4.000 1.960 45.500 5.000 330 70 750 2.600 1.000 20.500 1.700 900 5. Kendal 14 Kab.050 2. Blora 5 Kab.500 10.Pedoman Pelaksanaan Program No. Klaten 15 Kab.125 7.500 8.000 975 5.500 6. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198.000 8.000 8.250 3.040 1.625 12.000 33. Rembang 23 Kab. Boyolali 6 Kab.000 9.000 2.080 70 2.500 8.000 680 70 4.000 750 2.250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e . Purworejo 22 Kab.500 4.

440 1.875 1.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.250 150 500 900 2. Tuban Kab. Ketapang Kab.000 20 1.500 29.000 20 3.250 200 5.250 300 1.000 200 400 300 400 500 250 1.000 20 10.500 4.500 8.800 600 600 600 1.875 2. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197.000 1.480 1.775 1.000 20 4.000 4.050 20 900 7.500 2. Jombang Kab.500 900 50 100 3.000 17. Lumajang Kab.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e .500 7.000 12.500 20 600 2.500 11.980 1. Lamandau Kab.000 2.875 4. Bengkayang Kab.000 22. Sintang Kab.980 1.480 5.300 225 2.200 225 100 300 50 100 1.050 6.000 20 5. Melawi Kab.500 6.500 16.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62. Probolinggo Kab.350 4. Jember Kab.480 980 2. Pontianak Kab.500 1.980 4.500 20 825 1.000 2.850 1.000 2. Madiun Kab. Gresik Kab.675 1.500 4.500 11.000 20 300 5. Banyuwangi Kab.800 20 1.480 2.800 100 2.500 3.480 4.500 9.000 3.000 2. Kubu Raya Kab.500 8.000 700 20.480 4. Pasuruan Kab.980 3. Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.480 1. Sanggau Kab.700 1. Katingan Kab. Sekadau Kab. Pulang Pisau Kab.980 500 1. Ngawi Kab. Landak Kab.000 20 2.500 97.500 5.000 20 450 10.000 20 3.000 300 3. Barito Selatan Kab. Bangkalan Kab.500 2. Lamongan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 3.000 1.125 500 1.450 1. Bondowoso Kab. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.500 20 4.000 6. Kediri Kab.050 11.900 5. Kapuas Kab.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab.000 4.500 2.250 2.980 2.500 4.050 12. Kotawaringin Timur Kab.000 4.850 121.200 9.050 5.450 10.980 500 2.500 1.300 750 800 1.450 4.675 750 1.480 1.050 20 9.750 20 1.500 2.500 20 1. Kotawaringin Barat Kab. Barito Timur Kab.000 48.000 6. Murung Raya Kab.500 20 450 1. Pamekasan Kab.000 3. Barito Utara Kab.000 20 525 1. Trenggalek Kab.200 750 2.000 14.000 3.000 74.000 15.000 500 500 500 500 1. Bojonegoro Kab.300 700 100 3.980 980 480 2.980 2.100 1.000 750 1. Ponorogo Kab.050 20 975 20 1.480 980 1. Magetan Kab.000 8.500 1.980 4. Sumenep Kab. Sukamara Kab.350 20 1. Seruyan Kab.450 1.500 4.500 5.000 7. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab.000 20 1.300 300 100 1.500 5.500 20 4. Sampang Kab.500 3. Situbondo Kab.980 2.300 900 8.000 6.800 3.000 5.000 4. Pacitan Kab.300 1.825 3. Kapuas Hulu Kab.980 1. Blitar Kab. Mojokerto Kab. Sidoarjo Kab.000 4.000 300 2.000 8.000 20 1.350 21.980 1.480 5.000 20 1.800 1.300 560 20 1.775 900 2.500 9.000 1.000 2.000 6.500 5.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20.750 225 100 1. Sambas Kab.625 1. Malang Kab.480 750 5.250 150 500 20 8.000 4. Nganjuk Kab.

350 9.200 200 1.450 1. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab. Bolmang Selatan 11 Kab.600 315 2.000 10. Minahasa Tenggara 8 Kab.000 7.000 15.695 1.525 3.500 400 1.500 900 100 500 400 100 1.500 170 1.500 3.770 1.450 20.000 3.200 400 1.100 550 550 1.700 1.000 11. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1. Bolaang Mangondow 2 Kab.000 1.500 4.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 750 650 1.575 250 1. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab.650 300 2. Tanah Laut 9 Kab.100 1.000 1. Nunukan 7 Kab. Berau 2 Kab.000 16.450 2.450 12. Hulu Sungai Selatan 4 Kab. Bulungan 3 Kab.650 7.125 750 1.000 840 500 1.000 23. Barito Kuala 3 Kab.000 2. Kota Baru 7 Kab.000 1.500 200 2.000 400 100 1.625 48.000 5. Malinau 6 Kab.000 7. Kutai Barat 4 Kab.000 630 700 2.500 2. Penajem Paser Utr 9 Kab.250 1.500 14.000 33.200 4. Hulu Sungai Tengah 5 Kab.000 8. Minahasa Utara 7 Kab.700 300 15.000 1.500 600 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137.450 2.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e .100 1. Sangihe 10 Kab.775 2.Pedoman Pelaksanaan Program No. Tabalong 8 Kab. Hulu Sungai Utara 6 Kab.400 600 2. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.650 550 550 550 1. Kep.000 2.000 4.500 1. Balangan 11 Kab.500 1.000 8.500 500 2.950 3. Bolmong Utara 9 Kab.000 10.000 125 495 1.000 2. Talaud 4 Kab.000 1.750 600 2.000 500 3.000 8.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab.275 1.500 2. Banjar 2 Kab.000 390 70 150 2.900 17. Tapin 10 Kab.995 250 500 300 750 1.100 350 900 10.650 1. Pasir 8 Kab. Minahasa 3 Kab.950 10. Tana Tidung 15 Kab. Kutai Timur 5 Kab.

Luwu Utara 10 Kab.300 2. Bombana 7 Kab. Parigi Moutong 8 Kab.150 150 1.000 7.550 350 1.680 70 2. Bone 4 Kab.200 4.500 11.000 450 600 11.500 3.400 4. Konawe Selatan 6 Kab.000 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73. Takalar 18 Kab. Luwu 9 Kab.930 70 1.250 50 900 70 1.000 1.900 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.100 1.500 3.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5.000 500 8.000 50 1.000 950 50 450 1. Enrekang 6 Kab. Buol 3 Kab.375 19. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab.000 1.950 2.000 1. Selayar 14 Kab.000 1.400 14.020 2.930 70 3. Morowali 6 Kab.650 550 550 550 1.430 70 2.125 900 700 1.800 5. Toli-Toli 4 Kab.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e . Konawe 3 Kab.500 12. Sidenreng Rappang 15 Kab.500 800 920 70 1. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.025 495 900 765 1.500 900 11. Maros 11 Kab.000 1.350 3.100 750 300 810 750 500 500 650 1.000 7.930 70 2.500 10. Pangkep 12 Kab.500 1.450 10.450 4.650 1. Soppeng 17 Kab.310 35.000 16.000 750 2.500 2.430 70 2. Gowa 7 Kab.500 3. Kep.000 11. Donggala 5 Kab.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab. Poso 7 Kab.690 1. Barru 3 Kab.000 7.000 25.930 70 1.250 1.000 9.500 500 7.450 7. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab.500 10.200 250 800 300 1.500 12.550 2. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab. Wakatobi 8 Kab. Banggai Kepulauan 10 Kab.250 2. Kolaka Utara 9 Kab.280 2.000 2.950 70 1.000 2.000 4.950 5.500 1.000 73.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10.500 5.000 625 73.000 7. Bantaeng 2 Kab.000 300 4.645 2.500 1.250 2.680 70 2. Kolaka 4 Kab.500 7.000 3.450 2.100 1. Tojo Una-Una 9 Kab. Bulukumba 5 Kab.250 1. Muna 5 Kab.500 750 900 1.805 20. Tana Toraja 19 Kab.430 70 3.000 6.430 70 2.300 600 2.000 15. Buton 2 Kab. Pinrang 13 Kab.500 7.500 1.550 850 4.000 300 375 750 375 150 350 2.930 70 4.980 300 950 70 1. Sinjai 16 Kab.500 500 1.500 600 2. Luwu Timur 22 Kab.100 550 550 1. Konawe Utara 10 Kab.250 450 4.000 1.450 20.000 182.000 1.500 2.100 1. Jeneponto 8 Kab.500 900 350 500 4.500 12.430 70 2.000 17. Banggai 2 Kab.500 3.000 29.310 2.800 1.

Manggarai Timur 20 Kab.000 450 50 450 450 1.450 4. Timor Tengah Selatan 12 Kab. Jembrana 6 Kab. Flores Timur 4 Kab.000 2.000 4. Rote-Ndao 14 Kab. Manggarai Barat 15 Kab.500 1. Maluku Tenggara 4 Kab. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab.000 2. Buleleng 4 Kab.000 2. Lombok Timur 6 Kab.275 3. Seram Bag Timur 8 Kab.400 14. Dompu 3 Kab. Nagekeo 17 Kab. Belu 2 Kab.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e . Kepulauan Aru 6 Kab.500 50 900 100 5. Sumba Timur 11 Kab.800 15. Ngada 8 Kab.000 10. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.350 450 1. Manggarai 7 Kab.000 750 8.100 1.200 1.500 1.500 20.000 500 500 1.000 4.350 7.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.000 1. Karangasem 7 Kab.000 1.900 450 100 900 1.500 500 450 50 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.050 750 450 50 9.375 2.850 3.500 6.500 9.000 1.000 10.500 900 450 5.950 5.000 9. Sumba Tengah 18 Kab. Maluku Tngra Barat 2 Kab.500 5.500 500 30.800 1.000 5.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2.000 1.000 2. Bangli 3 Kab. Sumba Barat 10 Kab.575 900 450 1. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab.000 5.500 3.500 1.200 600 600 1. Pulau Buru 5 Kab.450 750 300 4. Alor 16 Kab.100 1.250 750 1. Sumba Barat Daya 19 Kab. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33. Gianyar 5 Kab. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab. Maluku Tengah 3 Kab. Lembata 6 Kab. Lombok Barat 4 Kab.000 3. Klungkung 8 Kab.500 7.500 1.500 1.000 1.650 2.000 32.500 1.500 900 100 1.000 2.100 550 550 1. Timor Tengah Utara 13 Kab.050 450 300 200 300 1.450 117. Sikka 9 Kab.000 3.300 1.000 3.500 500 900 100 900 2. Seram Bag Barat 7 Kab.800 450 6. Sumbawa Barat 9 Kab.500 2.750 50 900 1.500 500 3.000 2. Kupang 5 Kab.000 3. Buru Selatan 9 Kab.500 25.500 300 600 500 1.500 19. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab.200 200 50 450 450 1.000 4.000 14.500 1.500 7.450 5.400 2.575 450 600 1. Bima 2 Kab.000 3. Badung 2 Kab.300 300 250 900 400 100 1.000 100 1.475 875 200 50 1.000 500 450 50 9. Lombok Tengah 5 Kab.900 4.900 300 1.000 4.250 1. Ende 3 Kab.000 6.500 59.

000 50 775 1.500 500 25. Dogiyai 23 Kab. Lebak 2 Kab. Halmahera Barat 3 Kab. Jayawijaya 4 Kab. Waropen 20 Kab. Biak Numford 2 Kab.000 450 5. Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab. Pegunungan Bintang 15 Kab.000 150 1.500 19. Nduga 28 Kab. Kepulauan Sula 5 Kab. Boven Digoel 17 Kab.000 875 148. Nabire 7 Kab.500 41. Halmahera Timur 4 Kab.975 100 450 50 500 250 1. Puncak 29 Kab. Asmat 19 Kab.000 150 3. Puncak Jaya 9 Kab. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab. Tolikara 16 Kab. Halmahera Tengah 2 Kab.000 1. Mimika 6 Kab. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab.500 500 500 7.500 500 850 150 2. Pandeglang 3 Kab. Keerom 13 Kab. Membramo Tengah 27 Kab. Halmahera Utara 7 Kab.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab.500 3.375 750 750 4.Pedoman Pelaksanaan Program No. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Lanny Jaya 25 Kab.000 1. Serang 4 Kab. Merauke 5 Kab.000 2.Intan Jaya 24 Kab. Paniai 8 Kab. Jayapura 3 Kab. Halmahera Selatan 6 Kab.000 500 8. Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab. Mappi 18 Kab. Membramo Raya 26 Kab.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2.500 500 850 150 11.150 1. Sarmi 12 Kab.500 44. Yahukimo 14 Kab.000 39.600 150 150 1.000 500 400 100 10.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .000 1.

Sorong 2 Kab. Kaimana 8 Kab. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab. Mamuju Utara 5 Kab.100 1.000 2.000 5.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e . Teluk Bintuni 6 Kab. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab.125 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3.125 700 500 1. Limboto 8 Kab.400 400 1. Lingga 5 Kab.400 375 500 400 375 500 200 1. Teluk Wondama 7 Kab.450 2.000 450 1.000 3. Fak-Fak 4 Kab.000 3.450 6.100 1. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab.950 19.250 1. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab.000 2. Natuna 2 Kab.000 1.150 2. Bintan 3 Kab. Bangka Barat 6 Kab. Pohuwato 4 Kab.500 21.750 38.500 12.025 19. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 2. Raja Ampat 5 Kab.000 1.000 1. Majene 3 Kab.000 1.500 225 7.500 3.000 450 3. Karimun 4 Kab.250 2. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab.000 2.100 550 550 1. Belitung 3 Kab.000 1.500 2.900 5.000 9. Kep. Gorontalo 3 Kab. Boalemo 2 Kab.000 1.Pedoman Pelaksanaan Program No. Bone Bolango 5 Kab.300 5. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab. Bangka Selatan 4 Kab. Bangka 2 Kab.500 7.500 750 2.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 5.500 63. Mamuju 2 Kab.000 2.000 1. Manokwari 3 Kab. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.000 1. Mamasa 4 Kab.000 1.750 1.500 5. Blitung Timur 5 Kab.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 3.500 5.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15. Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .

Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

NO. 1 2 3 4 5

KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total

BOBOT 35 20 15 10 20 100

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

BAPPENAS

Nasional

Outcome/Impact Nasional

Kementerian Pertanian

Sektor/ Program

Outcome/Impact Sektor

Unit Eselon I

Program

Outcome

Unit Eselon II, UPT Pusat, Dekon/TP SKPD Provinsi

Kegiatan

Output

Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota

Kegiatan

Output

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. 2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. kegiatan.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. 4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output. 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG. c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 20. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). akun pendapatan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e . atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL. Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a. c. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program. dan jenis penerimaan. SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. 3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU. Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran 1. 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru. b.

Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. e. (2) sumber dana. c. UNIT ESELON – I a. dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan. disampaikan kepada Unit Eselon I. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program. f. 2. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait. 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil. Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL. Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I.Pedoman Pelaksanaan Program 5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. sarana. d. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan. b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi. dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja). Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e . 6) Data pendukung terbaik. d. 3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). b. Kementerian Pekerjaan Umum. antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. g. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran.

Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. Pinjaman Hibah Luar Negeri. g.Kementan. 3. c. 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L).Pedoman Pelaksanaan Program h. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . KEMENTERIAN / LEMBAGA a. d. Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis.q. f. K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L). Mengisi informasi pada Bagian I. dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser). Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. e. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e . 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni. (3) sasaran kinerja. (2) Simber dana. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I. i. b. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002.

Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. b.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e . Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka. 2.Kementan. d. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. 2. K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a. parameter non-ekonomi. 3. maka K/L menyesuaikan RKA-KL. penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. KK RKA-KL. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. ada beberapa kemungkinan: 1. c.

5. 3. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL). SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 6. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. 4. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan. 6b. 6a. DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA. Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak.

Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1. 7. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. 2. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker). akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. 4.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e . 5. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. 3. mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23. 6.

KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1. jika tidak terjadi perubahan DIPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e . Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA. 2. 5. KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA. 2a. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi. 6. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK. 3. 4.

10. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1. 3. dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. disampaikan kepada KPPN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA. 7. 8b. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. 5. 6. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). 2a. 9a. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL). Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA. 8a. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. 2b. 4b. 4a. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA.

4. 3b. 2b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 1b.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. disampaikan kepada KPPN. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. 3a. disampaikan kepada KPPN. 2a. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN.

2b. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a. 4. 3a. disampaikan kepada KPPN. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah.. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. 3b. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN. ADK POK revisi satker daerah. ADK POK revisi satker kantor pusat. disampaikan kepada KPPN. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. 1b. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 2a.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e .