Pedoman Pelaksanaan Program

KATA PENGANTAR

Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value) yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha (petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha. Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor, baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan sumber daya yang ada. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab tugas pokok dan fungsi yaitu Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

i|Page

Pedoman Pelaksanaan Program

Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar pelaksanaan program dan kegiatan. Pedoman pelaksanaan program ini merupakan acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan,

Udhoro Kasih Anggoro

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

ii | P a g e

Tujuan 1.2.1. Ketentuan Pidana. V. Dasar Hukum 1. Strategi 2. PENGAWASAN.2 Pengawasan Program. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. Sanksi Administratif. 2012 3. VII.5.4 Pelaporan PENUTUP i iii iv vi vii 1 1 4 6 7 8 15 16 17 19 23 24 33 34 55 II.4. Sasaran 1. 55 56 63 69 71 71 72 73 74 77 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iii | P a g e .3 Monitoring dan Evaluasi 5. Kegiatan dan Anggaran 5.3. STRATEGI. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA. Program 3.4.2. Kegiatan dan Anggaran 5.1. Pengelolaan Anggaran 4. Latar Belakang 1. Kegiatan TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA.3.2.1.3. Kebijakan PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. Tata Hubungan Kerja 4. IV.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. Sasaran 2. Istilah dan Pengertian SASARAN. III.3. 2012 4. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program 3.2.1. Pengorganisasian 4.1 Pengendalian Program. dan Ganti Rugi PENGENDALIAN. PENDAHULUAN 1. 2012 2.

Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA 2012 Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. Luas Panen. 2012 Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 7 Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. 2012 Tabel 16 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 16 25 26 27 29 30 32 34 36 38 39 40 41 42 45 46 47 48 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iv | P a g e . Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Tabel 2 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 4 Sasaran Luas Tanam.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR TABEL Tabel 1 Sasaran Luas Tanam. 2012 Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 14 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Luas Panen.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 49 50 52 53 Tabel 23 Tabel 24 59 60 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan v|Page .

Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan 16 18 26 39 39 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vi | P a g e .

dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. Produktivitas. Luas Panen. Produktivitas. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Padi Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Jagung Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. Luas Panen. Produktivitas. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. 2012 Agenda Perencanaan Nasional Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Luas Panen. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. Evaluasi dan Pelaporan Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 84 107 111 112 113 114 115 116 117 118 123 141 142 143 144 147 148 149 150 151 153 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vii | P a g e . dan Produksi Kedelai Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. 2012 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Alur Sistem Pemantauan. Luas Panen. Luas Panen. Luas Panen.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Daftar Satuan Kerja di Pusat. Produktivitas. Produktivitas.

Pedoman Pelaksanaan Program Anggaran K/L Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Lampiran 22 Lampiran 23 154 159 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 161 162 163 164 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan viii | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program BAB I PENDAHULUAN 1.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth). berkeadilan. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri. 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job). dan berkelanjutan. Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a.1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera. tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif. dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b. 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor). Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.1. berwawasan lingkungan. Maju. arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough). dan Berkeadilan. Dalam konteks ini. seimbang. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin 1) 2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page . Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang. jangka menengah. Mengacu pada visi tersebut. terfokus. bukan langkah-langkah biasa (business as usual). Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan. Demokratis. berkelanjutan. dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.

Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. Pada tahun anggaran 2012. Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi.2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110.Pedoman Pelaksanaan Program c. h. g. serta optimalisasi efisiensi usaha. Produktivitas.Percepatan Pembangunan Papua. Papua Barat dan Nusa Tenggara . peningkatan kapasitas usaha. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page . Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut. nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut. d. diperlukan prakarsa-prakarsa baru. yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I. baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu).Penguatan Penanggulangan Kemiskinan . Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: .Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . f. Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan. dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri.8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian. Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. faktor peningkatan produktivitas. Untuk itu. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89.Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun. e. perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3.

dan ubi jalar. Dalam hal ini. disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . Dalam perkembangannya. Produktivitas. gembili. karena faktor keterbatasan yang ada. kacang tanah. arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi. jagung. kedelai. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. jagung. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. ubi kayu. dana alokasi khusus (DAK). Saat ini. sejak tahun 2011. seperti dana dekonsentrasi. garut. pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD. dana subsidi. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. Produktivitas. Namun demikian. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. dana tugas pembantuan. kacang hijau. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi.Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. sorgum. Oleh karena itu. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. yaitu padi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN. dan kedelai. dan berbagai jenis lainnya.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. gandum dan lain-lain. Direktorat Jenderal Hortikultura. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung.

2. 2) pedoman pelaksanaan kegiatan. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . DAK. dan 3) pedoman teknis. TUGAS PEMBANTUAN. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI. KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1. DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN. Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1.Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program.

junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. sebagaimana telah diubah beberapa kali. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

Tujuan             1. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page . Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012.3.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. Produktivitas.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK. Produktivitas. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012.02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan. Penelaahan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi.

tujuan.4. meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. Sasaran b. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. meningkatkan transparansi. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang. Produktivitas. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. c. Produktivitas. dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja. istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran. kebijakan. dasar hukum.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung. kegiatan. sasaran. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia. 1.

dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. RPJMN III Tahun 2015-2019. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. 4. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page . Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. 3. visi. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga). yaitu RPJMN I tahun 2005-2009. 6. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. serta program Kementerian/Lembaga. lintas Kementerian/ Lembaga.5. Produktivitas. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. memuat prioritas pembangunan. dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. kewilayahan dan lintas kewilayahan. yang memuat strategi pembangunan nasional. 5. RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. RPJMN II Tahun 2010-2014. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan).Pedoman Pelaksanaan Program 1. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. melalui urutan pilihan. kebijakan umum. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1. 2.

termasuk peralatan dan teknologi. 10. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur.Pedoman Pelaksanaan Program 7. 9. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran. 8. 13. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). 14. 12. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan. modal. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. 11. 16. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. barang. 15. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page .

Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. 21. Tanpa indikator kinerja. menyimpan.Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. menyetorkan. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . 24. tahap pelaksanaan (on-going). Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. dan mempertanggung jawabkan 17. 19. 20. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). 18. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. 22. maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. 23. menatausahakan. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. 25.

atau kota. menyimpan. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari. 26. 31. kabupaten.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e . dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati. badan/lembaga keuangan internasional. 33. 27. membayarkan. 32. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. 29. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. menatausahakan. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. 28. 35. 34. pemerintah negara asing. barang. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. 30. dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing.

Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan. 40. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . efisien. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. sosial dan keagamaan. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. efektivitas pelaksanaan. Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan. 39. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. 41. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). 42. keluaran (output). Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat.Pedoman Pelaksanaan Program 36. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai. 43. 38.

dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. menjual. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan. 45. penyediaan aksesibilitas. kelangsungan hidup. penanggulangan kemiskinan dan bencana. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Pembedayaan sosial. 49. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya.Pedoman Pelaksanaan Program selektif. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. 48. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. 44. jaminan sosial. dan/atau penguatan kelembagaan. dan kompensasi sosial. dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. kualitas. atau mengimpor barang dan jasa. mengekspor. 47. 46. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e . perlindungan sosial. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. tunjangan. seperti gaji. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi.

7.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan. 2. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. Dalam mewujudkan visi tersebut. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. 3. efektif. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. dan 6. 4. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan. 5. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. dan berkelanjutan. STRATEGI. 1. 3. 4. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. 1. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. 6. dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. 2. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. 5. sebagai berikut. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut.

300.000 1.1. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini. baik kebutuhan pangan. dan ekspor. Sasaran Luas Tanam.100.000 1.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53.026.20 14.98 190.235 24.026. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan.315.250.655. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah.600 207. jagung. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi. Luas Panen.00 Produksi (Ton) 72.000.874.000. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14.55 15. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani.Pedoman Pelaksanaan Program 2.430 1.600 1. kacang tanah.000 390. Selain itu. dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.000 25.312. kacang hijau.13 51. daya saing.00 11. Tabel 1.556.437 1.00 117.381. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional.700 325. kedelai.000 342.000 2. dan ubi kayu. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan.000 785. ubi jalar.000 Luas Panen (Ha) 13.865 4. kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya. Namun demikian. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional. pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif. kebutuhan pakan. b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan.771 4.500 1.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e .900. Dalam hal ini.800 196.000 825. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian.

Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan. Namun demikian. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH. (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani. peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. Berkaitan dengan peningkatan produksi.2. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. (2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. Secara harfiah. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah.Pedoman Pelaksanaan Program 2. Untuk itu. DAYA SAING. subsidi ataupun insentif lainnya. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian. (4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia. Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e . pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan.

Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. maupun hilir. 2) perluasan areal tanam. Perluasan areal dan optimasi lahan 3. on-farm. Gambar 3. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu. Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi. Peningkatan produktivitas 2. Peningkatan manajemen. dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan.Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1. 3) pengamanan produksi. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e .

(8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional.3. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011. (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani. alsintan. dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. (4) pencapaian swasembada kedelai.Pedoman Pelaksanaan Program 2. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). transparansi. Pada prinsipnya. subsidi pupuk. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi. efektivitas. Dari 23 arah kebijakan tersebut. Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. akuntabilitas. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya. penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012. dan partisipasi. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). antara lain: bantuan benih/bibit unggul.(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu.

baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat. Dalam hal ini. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. khususnya komoditas strategis seperti padi. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait. jagung dan kedelai. 3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e . 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung. serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan. Karena itu.Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri.

pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . berakibat terjadinya degradasi. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang. ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. alih fungsi. penyakit dan organisme pengganggu. hewan. baik ekspor maupun impor. hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. asal bahan hewan. hewan. Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan. (3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. Pada era perdagangan bebas ini. (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina. hasil bahan asal hewan. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO). Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu.

ketahanan. c) mewujudkan kemandirian. Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani. dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. Sanksi bagi orang. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e . f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. perseorangan. dan kedaulatan pangan. e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. h) mempertahankan keseimbangan ekologis.

6) mekanisme pengadaan barang/jasa. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan).Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan. Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e . BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4. 4) jenis belanja. 5) pola pengelolaan bansos. 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. 2) komponen prioritas pemberdayaan.

Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 7. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan. Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi. 6. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih. 2. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia.1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. 4. 5. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut. 8. 3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e .

06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi.03. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani. 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI. BPSBTPH. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012. pelaku usaha pascapanen. dan lembaga yang mengakar di masyarakat. 4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. Kode 018. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2. Produktivitas. penangkar benih. 2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan. dan BPTPH).

Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e . Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3. 5. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4. 7.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6. 1.

1.700.880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .51 13.260 164. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp.000 6..536. Luas Panen.350 Luas Panen (Ha) 2. Sasaran Luas Tanam.781.. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi.416. 512.-.50 65.Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI.250 1.230 9.000 150.000 500. 1. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan). Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain.000 285. jagung dan kedelai.000 20.565.500 142. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).000.000 1.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area).680 139.235.104.010 25. dan BPTPH).690 268.00 16. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan.000. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2.000 332.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64. BPSBTPH.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan.899.560 10. 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp.500 19.455. Tabel 4.00 17.00 37.00 77. sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini.498.00 250.00 Produksi (Ton) 16.000 542.000 350.000.00 130.000 6.245.000 475.000 190.347.195.000 300.000 2.000 200.

000 1. 18.516.830 16.400 2.700 1.188.494.489.156.746.626.168.404.709.600 16.900 18.000 2.805.000 350.300 28.125.000 803.478.447.104.804.428.700 22.552.693. 3.000 8.678.448.288.000 2.000 299.900 15. 28.591.000 2. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.160 21.347.000 152.000 3.114. 10.220 50.300 3.500 18.800 11.644.820 47.161.850 23.000 2.000 3.000 1.000 2.186.609.090.750. 2.592.420 67.304.820.670.680 24.000 2.420 163.260.600.201.100 67.039.900 14.000 1.000 1.365.000 1.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.604.067.562.100 4.976.400 11.084.588.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.155.147.582.731.000 1.000 3.580 348.895.114.000 1.799.455 82.439. belanja modal.403.598.150.085.957. 1.218.491.000 3.300 11.587.901.000 3.180.000 2.633.395.800 4.715.802.449.115. 15.208.500 5. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 30.297.817.814.771.000 600.500 512.450. 4.160 47.245.310 46.750.642.000 1.500 11.100 28. LOKASI DINAS A.000 750.353. 22.500 7.600 9.100 6.000 250. 16.000 5.000 12.055.800 1.600 10.878.500 2.016.300.067.100 12.940 5.600 1.142.910 66.010.800 47.187.000 1.377.899.860 10.120 246.017.038.473.056.084.180 122.200 16.000 2.600 5.420 27.392.330.000 600.089.567.500 8.300 8.000 1.600 44.049.000 1.462. 9.536 1.041.000 1. 14. 29.498.900 9.520 69.000 385.800 5. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.100 13.400.600.500 14.000 2.581.700 30.642.500 4.300 803.238.000 803.533. 2.810 1.740 23.483.500 1.480 92.100 18.327.738.893.100 200.500 6. 32.113.330 28.843.900 23. alokasi anggaran untuk belanja pegawai. 12.000 4.985.659.566.000 600.640 53.841.200 14.561.000 2.138.007.847.870.500 11. 25.500 7.405.621.400 21.840.900 6.436.500.676.140 14.825.100 18.000 3.987.000 2.303.544.500 3.000 100.700 9.200 31.731.817.000 250.710 32.000 3.000 1.176. B 1.400 34.314.100 11.801.030.546.000 500.110 4.185.020 15.000 9.000 1.000 6. 3. 31.549.900 9.492.152.500 11.221.465.414.180 3.000 4.000 4.618.000 1.500 1.587.558.934.000 4.176.713.940 12.700 9.350 12.600 5.100 38.400 15.178.750 76.000 698.000 821.620 1.000 27.465. 21.000 339.131.001.278.051.700 4.114.000 5.000 1.536 7.498.500 910.850.000 400.725 34.783.000 1. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78.487.030.000 2.000 4.061.400 7. belanja barang.263.250. 4.000 2.000 500.600 19.000 3.000 700.759.628.410.700 432.250.21%.600 1.398.249.459.610.500 550.184.000 350.000 721.130 24.625 49.000 3.900 37.969.500 16. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .372.000 300.019.000 500.242.412.926. 7.400 13.100 36.478.560 34.846. 33.000 6.618.000 2. 17.800 21. 13.320 46.600 16.400.060 28.000 5. 11.000 100.000 4. 26.200 1.880 13. 24.990. 20. dan belanja bantuan sosial.582.797.374.916.260 4.480.500 4.350 92. 19.800.374.480 385.500 3. 6.260.400 14.500 3.000 2.907.300 20.000 2.455 54.007.820 28.500 12.300.278.543. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.020 207.992.500 18.630 16.000 474. 27.000 400.023.000 2.100 21.926.500 8.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.000 2.000 250.320.445. 23.000 61.000 4.246.600 13.676.000 1.500 3.000 4.800 10. 8. 5.362.400 6.210 21.093.740 34.600 13.000 7.000 230.

150 430.871. 000) 018.628.998 1.353.961 1767 3.962.960 0 0 0 0 0 0 156.73% dan belanja modal 1.829 36.468 3.219 19.030 1762 0 96.460 36.350 944.062.749.418. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .187.441.534.235.600 186.800.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.800.052 9.285 53.668.900 0 7. belanja pegawai 1. Produktivitas.775 2.491.18%.536.650 73.000 3.000 154.092 109.411.435.500 847.813.000 90.699.919 588.000 1765 0 22.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9.991 0 0 297.735 0 0 172.436.000.315 1. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp.869 0 0 124. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.000 1763 0 151.000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas.300.000 1766 46.000 1764 0 178. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.453.532 3.067.002.000 248.040 0 0 0 0 0 0 0 2.129. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.894.507.834.950 1.496.03.292.436.246 588.520 175.115.510 889.88%.000 1768 4.568 506.516.194.251.991 1761 0 20.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.115.016.085 6.164.834. Tabel 6.06 Program Peningkatan Produksi.289.200.342.000 67.000 231.

Ubinan SLPTT Padi 2.919 unit 3. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat).500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. hal ini disebut dengan lex specialist. maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan. evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ubinan SLPTT Kedelai 14. pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output. Secara umum. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. sebagai berikut: 1. dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut).136 unit 1. Dalam administrasi. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. Namun demikian. Namun demikian. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7.

6. 9.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. 1. 4. 7. 2. 3. 11. 13. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. 8. 10. 12. 5.

penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program. monitoring dan evaluasi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e . Produktivitas.Pedoman Pelaksanaan Program 3. evaluasi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran. dan pelaporan. Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana. 6) ketepatan pembentukan tim pembina. Secara umum. Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan. pengawalan. Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan. serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian.2. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). dan melaporkan pelaksanaan. mengevaluasi. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi.

Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3. Pada tahun anggaran 2012. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan.3. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e . Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. Pengendalian. monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3. No. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8. kinerja Program Peningkatan Produksi.3. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia.1. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina. pengawalan.

Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya. 1. 64. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e . 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida. Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan. kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih.Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi.700. 25 ha areal SLPTT padi lahan kering. dan alsintan). dan jagung (hibrida). Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP. maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT.-/Ha. 3. 44. 10 ha areal SLPTT padi hibrida. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. dan alsintan).-/Ha. dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. pupuk. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani.850. serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan.-/Ha.600. pembinaan manajemen kelompok. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2. 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih.000. Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. pupuk. hibrida dan lahan kering).000. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp.000. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No.

600 2.000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping .000 50.600 2.000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 3.000.000 150.000 1. SLPTT Model Padi Non Hibrida .700.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9.750.000 44.000 160. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.000 1. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. Jagung Hibrida.000 150.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.000 160. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 3.000 160.300 500 25.000 500.700.000 150.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.700.000.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.000.000 3.Model Spesifik Lokasi . Padi Hibrida.000 150.000 3.000 50.000 150.000 1.700.000 50.000 10 kali 10 kali 1 buah 170.000 kg 1 unit 1 paket 1.Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP .1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.300 500 25.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.750.000 64.000 500.000 500.000 25.000 25.000 690. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e .000 690. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 690.Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1.750. .000 500.850.000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.600.000 500.300 500 170. biaya pertemuan kelompok tani. SLPTT Reguler .Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) . 2012 SL-PTT A.000 150. Padi Lahan Kering.750.600 2.000 500. SLPTT Model Padi Hibrida .000 kg 1 unit 1 paket 1.000.

(2) ketepatan alokasi anggaran. Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2. 30 Provinsi. pemupukan. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia. pemilihan benih. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. pengaturan tanam.700 ha.750 ha. lahan kering seluas 500. 25 Provinsi. 26 Provinsi. 31 Provinsi. No. 13 Provinsi.700 Ha 9. Pangan Alternatif 3.651. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e . pengawalan.000 ha.300 Ha 500.000 Ha 200.700 ha.550 ha.550 Ha 14. 17 Provinsi. Tabel 10. 10 Provinsi Pusat.000 ha. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14. Pengawalan.300 ha. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Monitoring.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi. 1. dan jagung hibrida seluas 200. monitoring dan evaluasi serealia. dan Evaluasi Serealia 2. Pembinaan. Selain itu. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f.700 Ha 33. pengendalian OPT hingga panen. padi hibrida seluas 290.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c. 22 Provinsi.651. seperti pengolahan tanah.750 Ha 290. padi hibrida spesifik lokasi 9. Padi Lahan Kering g. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33. Padi Non Hibrida b. pengairan. Padi Hibrida e. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan.

Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia. monitoring dan evaluasi. mengevaluasi. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan.3. 1. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. Tabel 11. penyediaan dan penyaluran bantuan. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi.2. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). (6) ketepatan pembentukan tim pembina. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. 2. pengawalan.

000 1.000 500.000 500. B.600 2.000 250.000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan.000 150.000 160.000 200. PBT dan Mantri Tani.300 1.390. Peneliti. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL. A. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB.000 540.390. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1.000 500.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e .000 230.000 250.000 500.000 200.000 150.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.000 500 250. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK.000 13.000 500.600 2.000 160.280. POPT.000 3.300 1.000 80.000 500.000 250.000 230.000 250.000 1.000 400. Tabel 12.Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha.000 1.930. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No.000 500 250.000 500.000 250.

1. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 3. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. monitoring dan evaluasi. pengairan. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. Monitoring. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e . 2.500 Ha Lokasi 28 Provinsi. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. Pengawalan. 6. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut.500 Ha. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. pengawalan. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. 5. 4. 175 Kab/Kota 11 Provinsi. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. pemilihan benih. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). pengaturan tanam. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam. 2 Kab/Kota 1 Provinsi.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3.000 Ha 2. 28 Provinsi. seperti pengolahan tanah. 29 Kab/Kota 1 Provinsi. penyediaan dan penyaluran bantuan. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan. mengevaluasi. 4 Kab/Kota 2 Provinsi. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran.000 Ha. 8. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat.094 Ha. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3. 7. Tabel 13. pengendalian OPT hingga panen. pemupukan. pengembangan kedelai model seluas 2. 28 Provinsi.

No. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14. pedoman teknis. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis.

Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. subsidi. kacang hijau. dan kedelai sebanyak 101.Pedoman Pelaksanaan Program 3. dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan. pengawalan.00 persen. (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas. padi hibrida. pengawalan. pembinaan.31 persen. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu.90 persen. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. pembangunan dan optimalisasi UPB. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida. jagung. padi lahan kering. c. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani.3. operasional Balai Benih Induk (BBI). pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah. dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT. (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. dan ubijalar). ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden). ubikayu. serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU. b.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). Padi 67. Pada TA 2012. serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH). Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a. Kedelai 67. pemberdayaan penangkar. jagung hibrida. Selain itu. Jagung 72. dan Cadangan Benih Nasional (CBN). pembinaan.3.50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e . dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih. monitoring evaluasi BLBU. Selain itu.

(2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi. jagung. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. pengawalan. (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi. kekeringan. subsidi. meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu. Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). monitoring evaluasi BLBU. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas. pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas.500 ha. dan kedelai.000 Ha. (7) pembinaan. (8) pembinaan.05 juta Ha. Selain bantuan langsung benih unggul. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Komoditas yang difasilitasi adalah padi. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10. penangkar jagung seluas 700 ha.Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani. dan penangkar kedelai seluas 2.

2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan. 14 Kab/Kota 13 Provinsi.000 ton 200.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan. 32 Provinsi. 100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi.500 ton 300. 2012 Kegiatan BLBU 2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e . 3. 8.500 ton 2. Monev BLBU.000 ha 14.500 ton 500. 373 Kab/Kota 7. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu.000 ton 350.000 ha 3. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67. 165 Kab/Kota 5 Provinsi.Jagung . 6.Padi .000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck.000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2.000 ha 4. 11.700. No. Subsidi. 4. 9. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan.000 ha 12. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan. 5. 1.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi. CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Pengawalan.500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: . Oleh karena itu. 230Kab/Kota Pusat. 10.

Tabel 16. pendampingan. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. mengevaluasi. jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar.Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. No. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II. V. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e . VII. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII. Pembinaan. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III. IV.

Ubi kayu . 4. (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat. (4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen. No. 16 Provinsi. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen. 3. 204 Kab/Kota Pusat. 2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan. serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan.Vertical Dryer . Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: .Kedelai . (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan. Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait.Jagung . 204 Kab/kota Pusat. penyediaan dan penyaluran bantuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e . 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5. Tabel 17. 31 Provinsi. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu.Padi . mengevaluasi. (5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis.Pedoman Pelaksanaan Program 3.4. (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi. 1.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan. 2.3. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan.

- - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. 1. 4.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. mengevaluasi. 5. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e . Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2. - 3. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No. penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan.

168 Orang 2. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.5. dan residu pestisida Sasaran 1. Tanaman Pangan TA. Peramalan.Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan. Sumber. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 12. Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): . dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI. bimbingan teknis. 4. monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida. 6. 10. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT.Sarana pengendalian OPT . 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel. Tabel 19. 2. 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1. pupuk. 8. 3.3. 11. (3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan.Renovasi/Bangun gudang pestisida . 5. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI.Operasional BPT . No.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e . (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI. 7. RK-KL Ditjen. 1.

dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT. terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No.Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT. Tabel 20. 1. Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. 2. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e . 3. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. 4. sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini.

3. (2) jumlah teknologi pengamatan. divalidasi dan disyahkan.3. Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun.3. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis. keuangan.7. peramalan dan pengendalian OPT. dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi. peramalan. umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). 3. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI. Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan. dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun.8. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan.3. dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT). (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu.6.Pedoman Pelaksanaan Program 3. dan pengendalian OPT. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e .

Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 374 Kab/Kota Pusat Pusat. 374 Kab/Kota Pusat. 8. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No. 33 Provinsi. 33 Provinsi. 4. 6. 1. 33 Provinsi. 374 Kab/Kota Pusat. 2. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program. 5. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e . Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Tabel 21. 3. Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3. 9. 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. Bencana Alam. 33 Provinsi Pusat. 33 Provinsi. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Monitoring Evaluasi.Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3.

Pengaruh intervensi pihak luar . LM3 Uraian Titik Risiko .Faktor alam .Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22.Proses tender . Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.Ketepatan dukungan administrasi dan teknis . Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya . Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3.Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 .Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e .Kelayakan Proposal . 1.Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2.Identifikasi Calon Lokasi .

Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. BPSBTPH dan BPTPH). dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki. Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. pengendalian dan pelaporan. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan. pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki. Untuk itu. Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e . Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut. Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. Dengan koordinasi ini. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN. koordinasi dan teknis fungsional.1.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. khususnya perselisihan antar daerah. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. teknis perbenihan/perbibitan.2. sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. kegiatan dan anggaran di daerah. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. 4. dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. teknis perlindungan tanaman. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e . terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. efisien. teknis usahatani. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. Untuk pelaksanaan program.Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah. dan berdaya saing. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani. panen dan pasca panen.

Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA. 4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. 3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. b. kegiatan dan anggaran. b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program.

Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program. masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. 3) Untuk kelancaran operasional program. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja. dengan rincian sebagai berikut. Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. 2) 65 satker di provinsi. Pada TA 2012. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e . 3) Untuk kelancaran operasional program. 1) 3 saker di Pusat. c. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program. 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari.Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya.

455 1.899.093.245.498.000 7.347.455 3.353.500 31.115.300. I.500 61.007. 2. 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi . Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.000 512.000 267. 1.Dinas Provinsi .498.BBI *) . 2.000 1. 3.000 152. 000. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini. 1. III.746. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e . II.846. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1.536 3.991 2 BPTPH III.104. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp.500.245. Tabel 24. I.491.084.536 1.-) 1. 1 2 3 4 II.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23.000 9.400.

bidang umum. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e . tunjangan. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. 8) Perencanaan program. 10) Evaluasi. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi. 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif. Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. dan dukungan manajemen lainnya. 5) Pembinaan. honorarium. non hibrida peningkatan IP. 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat. dan hibrida spesifik lokasi). monitoring. dan kedelai.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. kegiatan dan anggaran. 2) Koordinasi. penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. pembinaan. subsidi dan CBN. dan perlindungan tanaman pangan). monitoring dan evaluasi BLBU. 12) Pengelolaan gaji. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta. dan kekeringan. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. perbenihan. jagung. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). 6) Penyaluran insentif Mantri Tani. pascapanen.pengawalan. 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). statistik dan pemberian honor petugas Simonev. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan. penanganan bencana alam.

Pelaksanaan survei susut padi. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. 3. bimbingan teknologi.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. Penyaluran sarana pengendalian OPT. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. aneka kacang dan umbi. Pemberdayaan PPAH. dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev). Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . Pemberian insentif Mantri Tani. P3OPT (BPTPH). penangkaran benih. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. Pembinaan. dan Evaluasi. 5. kegiatan dan anggaran. THL POPT-PHP . BLBU. Pembangunan dan optimalisasi UPB. Operasional POPT PHP. SLHT dan SLI. Perencanaan program. Dinas Pertanian Provinsi. Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. Renovasi gudang Brigade. Balai Benih. monitoring evaluasi. statistik. pengelolaan data OPT. peramalan OPT dan dampak perubahan iklim. Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). 4. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen. Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). subsidi dan CBN). honor pengelola Satker dan Administrasi.

BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Dukungan manajemen dan teknisnya. kacang tanah. kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. Ubinan SL-PTT kedelai. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. padi lahan kering.Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. pascapanen). dan pelaporan(serealia. Honor pengelola Satker dan administrasi. lokasi dan jenis belanja. pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. BBI. padi hibrida. kegiatan dan anggaran. BLBU. monitoring. Pembinaan. monitoring evaluasi. ubi kayu. ubi jalar. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. 2) Anggaran. Pengembangan kedelai (model). dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. kegiatan. dan pengeluaran). kedelai. Perencanaan program. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. jagung hibrida. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program. fungsi. 4. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. Dalam pelaksanaannya. penangkaran benih. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output). aneka kacang dan umbi. jagung. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . subsidi. ubi kayu. pengawalan. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). dan ubi jalar. Evaluasi. statistik (termasuk honor petugas Simonev). dan kedelai. kedelai. bukan pengawasan. Pemberdayaan Penangkar Benih padi. dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). CBN.3. jagung.

000. efisien. 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa.Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e .000. Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. BPSBTPH dan BPTPH. 100. sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp. taat pada peraturan perundang-undangan.000. membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN.-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta kelompok masyarakat. 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP).-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. efektif. 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis. 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen.000. jadwal. 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). b. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib. 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. 5) Menguji.000. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. keputusan penetapan penyediaan barang jasa. ekonomis.

serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur.Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. TUP dan NIHIL. Dalam melaksanakan pekerjaannya. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran. vakasi). Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola. 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e . Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. honor. Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan. Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa. UP. GUP. LS. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja.

3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek. d. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan. Direktur. 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. 7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya. 10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul.Pedoman Pelaksanaan Program c. 8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK). Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan.

perkalian. Bendahara Penerimaan Menerima. Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi. Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. f. menyimpan. 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya. pengurangan. 1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . ketepatan penjumlahan. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. menyimpan. 2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran. nomor rekening dan nama bank). e. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. menyetorkan. membayarkan. 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. alamat.Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. 5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA.

2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e . Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan).4. 1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara. yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. Ketentuan Pidana. sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. Sanksi Administratif. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya. dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan. maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 4. Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. keefektifan sumber daya. arahan serta sejenisnya. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul. kegiatan dan anggaran. bimbingan. monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. namun termasuk proses pengambilan keputusan. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. PENGAWASAN. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. 4) Informasi dan Komunikasi. serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern. pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. penyusunan anggaran. Pengendalian Program. 2) penilaian risiko. Dalam melaksanakan pengendalian intern. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian. akuntabel.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya. 3) Kegiatan Pengendalian. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. workshop atau kursus perencanaan program. 4) Memberikan pelatihan. efektif dan efisien. dan berbagai hal lainnya. terbuka. 5) Melakukan supervisi (orientasi.1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e . 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. b. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja. 5. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. kegiatan dan anggaran kinerja. kegiatan dan anggaran tahun 2013. pengujian. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. Pengawasan fungsional terhadap program. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. a. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak. yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. Pengawasan Program. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. b. bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e . BPKP dan Bawasda. mempunyai aspek pelayanan masyarakat.2.

Evaluasi pelaksanaan program. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. manfaat dan dampak). Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan. b. c. sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. keluaran. hasil.3. d. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu. Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5. Membangun dasar bagi pengukuran. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e . Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan. Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. Monitoring dan Evaluasi 5. Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi.Pedoman Pelaksanaan Program c. Memperjelas status jenis.

sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. aspek teknis dan anggaran. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. Pelaporan hasil pelaksanaan program. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.07/2010. dan Kabupaten/Kota. evaluasi dan pelaporan. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi. Evaluasi program. merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008. Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). kegiatan dan anggaran ini. 5. Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.4. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e . Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. Laporan yang disampaikan. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian. Laporan insidentil.Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). baik untuk anggaran dekonsentrasi. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan.

peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Untuk itu. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu. kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud. Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e . kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat.Pedoman Pelaksanaan Program BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program. perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis. penataan kelembagaan. kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara.

Pedoman Pelaksanaan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 47 48 49 50 51 52 4. 53 54 55 56 57 5. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo. 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e

Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Mesuji 121201 Dinas Pertanian. Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan. Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. 9. Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Perikanan Dan Peternakan Kab. Kehutanan. Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO.

200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. Perikanan Dan Peternakan Kab. Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Sanggau 130306 Dinas Pertanian. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian. Peternakan. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. Kehutanan. Peternakan Dan Perikanan Kab. Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e . Peternakan Dan Perikanan Kab. Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian. 13. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tanaman Pangan. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kelautan Dan Perikanan Kab. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Sambas 130237 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kab. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian.

Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian. Perkebunan. 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian. Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan. 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. Perikanan. Buol 180605 Dinas Pertanian. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Pertanian Dan Kehutanan Kab. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Kehutanan. Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e . Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian. 17. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perkebunan Kab.

Hortikultura Dan Peternakan Kab. Lembata 241412 Dinas Pertanian. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e . Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian. Kehutanan. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian. Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian . Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Peternakan. 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. Kehutanan. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. 300 301 302 303 304 305 21. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian. Kehutanan. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab. Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24.

355 356 357 358 359 360 361 26. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kab. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian. Perkebunan. 389 390 391 392 393 394 31. Perkebunan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. 373 374 375 376 377 378 379 28. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. Kehutanan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab. 350 351 352 353 354 25. 380 381 382 383 384 385 29. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. 386 387 388 30. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab. Kehutanan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kab. 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian.

Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian. Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian. 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. 396 397 398 399 400 401 402 33. 32. Perkebunan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Peternakan. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e . Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian. Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Teluk Wondama Dinas Pertanian. Peternakan.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab.

16. 7. 19. 18. 4. 14. 13.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2. 17. 3. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 10. 1. Agenda Perencanaan Nasional No. 12. 9. 8. 15. 5. 11. 2. 6.

Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . I. Dinas Kab. BPSBTPH Dinas Provinsi. Mei Peb. Lampung. 2. Sumut. Dinas Kabupaten. Jatim. Bakorluh Dinas Provinsi. 5. stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. Sumut. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2. Banten. Produsen Benih Dinas Provinsi. Jateng. DI Yogyakarta. BPTPH. agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh. Banten. BPSBTPH. Ka BBI. BUMN. BBPPMBTPH. BPTPH. Sulsel. Sulteng. Dinas Kabupaten. BPTPH.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. Kalsel. Sulsel. 4. Malut. Jambi. Kaltim. III. NTT. BPSBTPH. 3. Maret April Sept. Bakorluh Dinas Provinsi. Jabar. Div re Bulog Dinas Provinsi. BPTPH. Sumsel. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. 4. Sumsel. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. 3. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. Nov. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Babel. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. DIY NTB Dinas Provinsi. Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. stakeholders Dinas Provinsi. 1. Jatim. V. Papua Barat. Lampung. 1. Maluku. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. Div re Bulog Dinas Provinsi. Tanaman Pangan TA. No. 3. Gorontalo. Sumbar. 1. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. Dinas Kabupaten. 3. 2. Kalsel. BPSBTPH. Koordinator PBT BPSBTPH. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi. IV. 1. BBPOPT. VI. Riau. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. BPTPH. NTB) Dinas Provinsi 4. NTB. BPTPH. Peb. II. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. Sultra. stakeholders Dinas Provinsi. 1. BPSBTPH. Jabar. DIY. Riau 2. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. BPSBTPH. Peb. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. 1. 4. BBI. 3. BPMPT Ka BPSBTPH.

BPTPH. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. BPTPH. BPSBTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi.2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. 7.BPTPH. BPS Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi. 5. BPTPH. 3. 6. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e . 12. Okt. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 9. Nov. 10. Okt.Pedoman Pelaksanaan Program No. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPTPH. BBI Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi.BPTPH. Stakeholders Dinas Provinsi. 13. BPS Dinas Provinsi. 8. Sept. BPSBTPH Dinas Provinsi. 14. BPTPH. BPSBTPH 4. BPTPH.

PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PROSEDUR. DAN 5. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4. 3. PERLINDUNGAN. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. STANDAR. PERLINDUNGAN. PENYUSUNAN NORMA. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e . 2. BUDIDAYA. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PERLINDUNGAN. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. BUDIDAYA. BUDIDAYA. 4. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN.

3. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e . SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. 4. 3. SUBBAGIAN TATA USAHA. 2. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6. 2. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. 3. 4. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8. SUBDIREKTORAT UBI KAYU. BAGIAN PERENCANAAN 2. DAN 5. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. SUBBAGIAN TATA USAHA. DAN 5. SUBDIREKTORAT JAGUNG. 5. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. BAGIAN UMUM 4. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9. 4. DAN 6. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. DAN 5. 2. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4. SUBDIREKTORAT KEDELAI.

Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. KEPALA BAGIAN UMUM 2. 3. 3. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG. 4. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. 5. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1. KEPALA BAGIAN UMUM 2. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. 2. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. DAN 6. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. SUBDIREKTORAT PADI. DAN 6. 4. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. 2.

30.244 134.660 625.348 28.250 335. 17. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381. 5.528 60. 25.705 3. 19. 24.59 7.529 51.080 2.760 408.022.967 1. BALI & N.016 85.24 89.600 509.321.68 14.006 17.08 782. 13.666 50.720 50.510. Sasaran Luas Tanam.19 20.805 1. 32.88 515.365 233.687.396 47.186 49. ACEH D.206 148.995.262 40.767.014 46.572. Produktivitas. 15.324 132.059 59. 8.12 209.824 641.235 NO 1.985 859.669 40.14 127.000 10.54 1.078 497.22 6.19 78.452 32. 23.899 54.399 630.75 156.110 52.691 437.540 42.T.091 19.251.708 195. 27.300.740 33.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.769 33.85 627.366.950 12.538 321.83 13.809 924.14 1. 21.66 432.068.173 770.271. 14.550 7.257 38.78 822.749. 28.514 36.415. 6.515 49.703 10.026.52 155.844 159.100.385 1.040 4.000 2.568 115.255 2.980 877.256 40.940 58.450.796 1.780 708.55 957.079 407.88 169.65 241.000 611.270 30.925.20 2.034 475. PROVINSI N.975 1.994 8.98 164.32 1.771 13.272 68.602 443.142.825 1.028 151.325 46.765 4.281 221.99 457.913. 12.610.171 6.13 PRODUKSI (TON) 1. 22.770.365 41.850 2.629 56. 9.115 92.679 126.33 60.141 39.594 62.333 45.27 152.129.599 47.59 18.933. 11. Luas Panen.040 634.033 149.752 3. 20.026.07 29. 10.037.24 477.510 48. 4.216 62.978.821 52.561.530 40.310 67.10 134.194.T. 31.249 72.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e .745 39.145 639.746 10.003 17.08 229.084.227 47.860 46. 18.039. 29.670 529.T.570 4.00 410 395 50.765 38.556. N.426 784.21 132. 7.675 2.434 7.468. 2.47 798.693 794.893.74 3.066 77.608.099 52.58 412.17 1.95 2.936 47. 26.145 3.74 10.310.967. 33.380 38.801 46. 3.050 3.865 53. 16.291 383.386 1.B.691 49.290 12.148 1.472.669 53. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.401 165.266.

55 PRODUKSI (TON) 193.556 3.70 56. 28.482.088 269. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.80 42.B.008 26.633 968.114 829.871 2.060 1.009 482. 16.568 134.013. 25.640 166.200 1.332 1. Sasaran Luas Tanam. 14.38 51.945 26.407 748 714 25.276 59. 20.T.91 46.17 38. 30.441 2.23 41. 22.10 54.760 24.363 257.799 403.868 93.544 26.096 51.657 29.463 61.67 56.614 4.98 33.499 314.T.82 18.297 12.244. 10.636 1.637.572 93.059.994 167.69 27.268 472. 17. 5.437 4.689 6.091 30 29 187.300 88.95 33.012.025 4.652 38.09 49.82 63.64 63.072 12.280 13. 2.566 2.535 1.068.083 76.748 11.81 34.277 29.30 24.599 3.153 174. 29. 8. 6. 11. 32.090.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37.77 33. 9.069 54.492 375.579 98 993.059 178.306 868.97 55.62 54.491 51.737 215.529 123.T.800 143.160 8.872 97.654 745. 3. 13.000 NO 1.51 31.371.551 494. 12.909 1.192 358.49 53. Luas Panen.844 5.361.27 34.398.668 24.655.91 17.260 77.000.45 31.661 6.228 1.168 2.238 10.194 469. 4.485 1.405 31.665 3.345 240.368 80.997 192.707.986 30.600 3.880 712. 31.118 53.019 42.442 4.543 658.332 101.31 32. 26.467 73. 23.049 711 679 1.62 46.391. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.000 10.34 39.800 2. 24.131 52.099 1.91 39.863. Produktivitas.940 408. 18. 19.874. 15.92 51.068 17. 7. 27.09 46.300. 33.484 35. BALI & N.596.849 27.688.189 353.284.08 43.760 461.733 4.000 123.362 92.88 21.13 55.944 23.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .257 11.910 338.42 53.375 7.437 27.804 13.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7. N.87 24.684 1.640 8.868 50.334 45.497 183.110 9. 21.41 42.602 2.235 33.77 58.591 16.20 26.270 36.30 36.292.

900 12.400 549.319 14.600 12.250.000 7.000 NO 1.900 189.156 14. 13.500 6. 33. 8.26 8.200 2.312.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e .937 15.200 197. 17.900 3.900 10.600 701.30 20.900 24.48 174.67 22.26 18.700 371. 11.500 4.400 153. 31.387 13.400 14.462 13. 3.100 1.000 3.67 10.977 13.79 19. 12.65 1.800 6.400 25.620 13.900 112.400 135.47 4.500 45.000 231. 23.T.757 15.79 10. 26.47 10.89 174. 22. 21.000 364.50 334.T.500 54.000 3.823 15.95 221.400 18.30 557.600 20.034 14.300 6. Luas Panen.800 30. 16.700 78.200 12.400 16. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121.38 194. 25.700 106.600 175.20 1.530 42. 14.91 125.566 13.539 15.47 14.700 47.012 14.000 15.500 5.79 14.649 13.53 94.900 117.400 7.900.800 7. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.600 27.26 6. 19. 6.097. 28.013 16.800 16.400 9.900 79.885 14.098 14.30 65.800 9.249 15. Sasaran Luas Tanam.47 4.500 3.26 4.000 17.200 8.200 57.26 14.000 4.485 13. 24.803 14.500 158.000 8.30 26.675 15.100 9. BALI & N.77 24.000 13.498 13. 9. 7.87 34.119 13. 18.700 23.000 10.51 40.000 26. 2.342 13.700 3.413 15. 5. 30.700 723. 29.700 13.87 32. N.30 13.34 22. Produktivitas.718 13.515 15. 4.B.397 15.60 48.000 17.400 10.500 11.123 16. 27. 10.954 13.47 5.600 15.946 13. 32.896 14.400 12.009 13.796 13.700 35. 20.000 42.000 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8.100 588.T.600 243.32 308.79 17.800 11.159 13.300 13.620 13. 15.59 802.300 16.400 7.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7.142 19.681 9.605 4.248 2.346 6.246 9.530 20.668 597 201 80.264 25 79.228 157.617 78.079 217.015 16.649 548.613 16.075 36.743 27.557 80.375 2.411 2.067 18.372 3.100 25.950 8.612 6.889 44.781 9.760 2.756 1.608 74.406 4.019 5.741 2.187 3.445 15.392 276.387 825.000 6.802 18.743 9.147 4.046 2.234 5.949 9.076 19.684 569 191 76.441 24 75.453 150.114 74.360 206.677 15.856 522.484 15.309 34.993 26.245 76.547 2.296 1.968 17.496 2.953 24.713 8.201 6.561 42.648 9.295 2.624 1.531 70.860 3.827 5.468 2.078 3.282 14.655 263.216 785.700 14,26 13,33 14,52 10,89 13,48 14,36 10,73 14,00 11,04 10,89 13,35 12,08 16,54 15,24 11,87 13,35 16,07 14,23 14,52 14,52 13,22 14,07 12,45 12,65 12,55 12,44 12,53 14,26 18,15 14,00 9,78 12,96 15,02 13,84 12,76 12,44 11,82 11,40 12,20 13,55 14,00 9.699 24.977 13.281 4.406 3.012 8.544 9.742 27.557 628 208 102.054 29 124.805 228.839 88.250 275.843 25.487 743.253 22.227 50.804 34.701 107.732 2.858 2.490 21.955 3.674 30.977 11.695 11.907 59.706 9.090 3.402 2.300 98.100 4.882 6.804 2.456 3.742 17.884 356.747 1.100.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012
NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.955 6.099 1.374 2.079 616 3.115 1.797 5.579 1 23.615 13.495 99.531 1.141 77.774 2.680 194.620 1.245 50.494 30.073 81.812 2.074 399 1.587 1.117 5.177 1.883 1.602 26.962 2.373 501 960 34.281 661 418 819 1.198 3.095 147.980 342.600 LUAS PANEN (HA) 2.808 5.794 1.305 1.975 585 2.959 1.707 5.300 1 22.435 12.821 94.576 1.084 73.888 2.546 184.914 1.183 47.971 28.570 77.724 1.970 379 1.507 1.061 4.918 1.789 1.522 25.614 2.254 476 912 32.568 629 397 778 1.138 2.942 140.586 325.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12,67 12,13 13,28 12,11 12,08 15,32 10,87 10,14 10,26 12,12 12,17 12,36 7,29 12,63 10,14 12,39 10,69 11,21 9,26 10,48 8,02 9,45 11,75 12,02 10,14 15,38 9,00 13,89 9,12 13,51 15,02 13,44 11,90 12,21 11,51 11,67 11,75 11,44 11,98 PRODUKSI (TON) 3.556 7.031 1.734 2.393 706 4.532 1.855 5.376 1 27.184 15.600 116.874 791 93.284 2.582 229.130 1.265 53.757 26.457 81.478 1.581 358 1.771 1.275 4.986 2.751 1.370 35.574 2.055 643 1.370 43.764 748 485 896 1.328 3.457 160.870 390.000

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4.113 3.917 132 45.803 43.622 207 6.114 5.823 207 6.670 6.352 117 3.112 2.964 144 14.729 14.027 160 7.781 7.411 124 352.374 335.592 254 2.001 1.906 150 1.334 1.270 113 444.030 422.883 238 56 53 123 124.498 118.569 197 213.425 203.261 185 71.142 67.754 159 253.442 241.372 170 13.339 12.704 149 675.902 643.711 178 13.117 12.492 155 9.449 8.999 127 94.485 89.985 113 117.050 111.476 118 18.119 17.256 153 9.671 9.210 124 9.560 9.104 155 8.893 8.469 163 46.242 44.040 149 6.892 6.564 138 5.002 4.764 171 33.570 31.971 179 14.895 14.186 175 1.667 1.588 127 4.669 4.446 149 66.695 63.519 170 12.227 11.645 136 12.227 11.645 128 2.779 2.647 120 4.446 4.235 123 31.680 30.171 130 705.698 672.089 201 1.381.600 1.315.800 190 PRODUKSI (TON) 51.555 902.890 120.516 74.164 42.790 224.829 92.031 8.533.351 28.519 14.293 10.084.940 652 2.335.266 3.768.878 1.078.749 4.092.503 188.781 11.464.828 193.590 114.617 1.012.451 1.320.658 263.754 114.381 141.091 138.439 657.666 90.570 81.412 573.512 248.449 20.227 66.073 1.080.243 158.216 149.564 31.744 52.140 391.664 13.535.172 25.000.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e

231 7.682 1.489 32.923 27.686 111 184. 19.448 115 408.T.549 2.B.359 666 633 93 5. 26.421 112 15. 12.446 4. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.462 19.221 45.291 2.386 3.564 6.700 117 2.154 67. 15.256 141 173.218 99 31.440 1.385 514 489 121 5.713 139. 32.385 17.410 110 48.495 1. Sasaran Luas Tanam.355 43. Produktivitas.179 4. 25.T.217 106 23. 33.247 107 429.375 73 17.333 2. 14.373 95 22.949 42. 8.177 91 19. 31.450 26. 27.403 134 864.815 608 578 102 5.326 106 35.300. PROVINSI N.897 12. 2. 16.646 2. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1.846 3.288 5.084 105 273.769 16.958 104 30.475 100 14. ACEH D. 3.097 34.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e .179 4.773 139 456.359 2. 28.557 125 19.099 113 485. 22.897 16. 6.225 123 51.500 3.667 3.897 1.552 95 176.224 132.776 64.720 15.181 101 62.359 6.560 16.112 2.582 1. Luas Panen. 10. 24.640 4. 23.897 333 316 93 2.297 109 1.505 6.422 105 25. 9. 21.524 18. 7.998 124 37.668 4.436 207.667 1.631 3.149 2.395 3.903 37.503 91 13.885 110 185.897 17.500 2. 30.226 110 35.552 1. 5.000 196. 17. 20. BALI & N.744 3.456 4.051 878 835 92 7. 13.435 106 47.385 2.368 89 12.T.155 2.355 40. 11. 18. 4.638 1.975 128 76.822 121 94.888 121 191. 29.897 596 566 104 5.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3.304 35.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12.944 1. N.923 2.435.498 2.590 8.667 1.462 12.

70 Ribu Ha 33.550.500 6.900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan.000 790.988.700 38. c.700 7. pengawalan.400 Provinsi 192.451.727. pengawalan.400 7.000 764.195. b.00 Ribu ha 2.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.000 764.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a.000 87.500 6.000 6.2.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64.289.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.760.478.642. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.332. f.500 Ribu Ha 70.Tanah (Rp. monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.950 3.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.000.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3.000 18.559. monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e .6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3.642.000.320 292.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.100 49.180.350.504.000.7 jt/LL) 3.700.000 83.230 137.000 7.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.064.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.320 292.000 8.000 25.000 175.929.75 Ribu Ha 290.868.030 137.651.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4.500 41.70 Ribu Ha 9.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64.000 74.410.100 Volume Pusat 78.750 2.-/Unit) 3.749. e.800 392.350. 2012 No. d.700 Jumlah 944.600 107.710 630.000.414.504.215jt/ha.000.868.000 160.000 49.350.056.000.939.000 6. SL-PTT Kedelai (Rp 3. d.028.064.261. c.510 70. g.750 5.550.950 3.110.000 5.000 630.714.800 2. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13.55 Ribu Ha 14. SLPTT : b.900 Kab/Kota 673.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.

Apresiasi.000 720.336.000 2.247.878.000. Bimbingan Teknis.000 2. Monev Pemb.000 8.000 1.000 13. Pengawalan.000 7.251.937.000 3.125.400 47.812.846. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .200. c.414.890.000 7.000 Volume Pusat 794.500 63.625 43.451.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13.000 90.411. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.578.900 Kab/Kota 536.839.909.796.000.000 15.941.941.880.546.862.880. f.000 16. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.453.590.800. c.997.450.684.250.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406.500 1.000 16.000 45.000 18. BLBU: b. Monev Perbenihan.209.000.000 10 700 2. e.500 19.500 45.000 2.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g. i. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan.110.300.000 2.000 111.000.575 Provinsi 121.549.500 151. Bantuan Sarana Pascapanen : b.000 3.000 42.000 10. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a. Pembinaan.846. h.000 1.525 Jumlah 1.394.000 16.400.000 600.137.394.451.500 100.000 1.386.600 47.000 15.400.000 7.000 1.000 67. j.400 9.730.000.000 74.000 1.500 166.000 11.375 76. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.450.000.000 11.500.000 35. BLBU padi non hibrida (Rp 8.614.100 6.500 15.105.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 130. Pengawalan.549.135.5 4 8 1 28 230 k.536.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1. d.000 66.000.000 77.

c.000.000 7. m.000.295 804.015.000 15.500.799 4.558. b.315.906 Pengembangan Peramalan Serangan OPT a.906 8. l.000 4.000 12.000 8.000 8.000 6.000 8. Pengawalan.800.954.911.911.000 2. d.908 Orang 1.000.500 Provinsi 154.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 9.295 804.500.500 3.000 9.000 8.800.000 19.129.954.129.900.800.200.000 2.558.000.000 18.000 Jumlah 186.315. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e .000 9.500 Kab/Kota 15.000 Volume Pusat 16.000 18. f. o.015.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4.000 6. p.000 39.000.900. e.600.000. j.000 20. Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2.000 19.096.058.500 3. i.000 9.200.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1. 5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a.350. c. n.350.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12. k.000.418.000 2. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan.500 20. b.096.353.000 7.799 4. h.000 4.353.418.600.000.500 15.000 4.000 8.000 2. g.200.000 39.341.

899. b.170.200 5.610.000.900.600.000.480.965.000 Kab/Kota 37.779.200 7. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i.350.104.092 10.000 Provinsi 26.350.000 - Jumlah 7. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Volume Pusat 7.491.000 24.000 24. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h.532 1.061 8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a.900.464 184.500.659.946.813. c.800 12.368.400. d. c.800 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 3. f.000 3.532 1.000 3.368.000 1.922 1.500 7.000 10.600.164.144.000 12. b.400 15.455 5.840.739.300.820.144.536 512. Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j.264.498.092 10. Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3.922 3.000 9.000 1.464 248.000.047 30. Evaluasi.569.347. Pelaporan. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat 46.380.000 6.000 3. 7 Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g.000 45.790.500 27. e.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e .245.200 2.000 4.170.614.507.467.000.000 45.900 10.507.840.004 2. k.991 15.115.965.164.004 2.000 4.Pedoman Pelaksanaan Program No.300.961 46.200 16.047 30.

Bireuen Kab.000 100 1.500 10.400 3.450 300 750 500 225 1.500 7.500 5.000 1.500 200 2.450 2. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.400 15.100 350 2.000 15.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3. Simeuleu Kab.000 1. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung 82 6 25 25 25 25 25 4 2 2 4 4 2 3 19 1 2 125 - 1 - - 3 110 7 25 4 2 4 2 4 2 - 25 25 1 25 25 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e . Serdang Bedagai Kab. Humbang Hasundutan Kab.500 750 100 600 500 2.000 8. Aceh Barat Daya Kab. Aceh Tamiang Kab. Aceh Pidie Kab.000 4. Langkat Kab. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 SLPTT Padi (Ha) No. Aceh Barat Kab.500 50 950 50 150 11.700 9.000 7.000 1.000 1. Nagan Raya Kab.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 14.500 17.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.600 3.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1.500 500 1.150 9.350 3.200 2.150 4. Nias Kab. Labuhan Batu Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab.450 300 400 750 500 1.500 12. Deli Serdang Kab.000 500 500 1.500 500 1. Gayo Lues Kab.550 4. Aceh Selatan Kab. Tanah Karo Kab.650 3.250 3. Nias Utara Kab.000 50 950 50 950 50 1.450 5.000 2. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab.500 13. Dairi Kab. Aceh Singkil Kab.400 3.500 1.000 1.150 850 10.430 70 150 6.500 2.000 300 200 14.430 70 800 450 50 250 300 2.200 8. Aceh Timur Kab. Aceh Jaya Kab. Mandailing Natal Kab. Aceh Besar Kab.750 4.800 600 600 600 1.000 3.100 1. Tapanuli Utara Kab.200 7.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 ACEH Dinas Provinsi Kab. Simalungun Kab.500 7.200 3. Toba Samosir Kab. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14.000 2.000 7.000 750 100 300 300 500 1.000 4.175 32. Aceh Tenggara Kab.000 7.430 70 450 50 575 1. Bener Meriah Kab.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1.750 11. Nias Selatan Kab.000 750 300 1.000 9.430 70 500 150 2.000 7.500 137.500 300 1.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1.000 450 50 1. Aceh Tengah Kab.250 225 225 1.500 750 450 900 2. Tapanuli Tengah Kab. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab. Aceh Utara Kab.600 12. Asahan Kab.500 49 1.400 10. Labuhan Batu Selatan Kab.150 2.150 7.450 4. Tapanuli Selatan Kab.900 8.150 3.150 1.800 1. Pakpak Barat Kab.050 8.

000 750 100 600 2.750 2.500 5.000 240 100 500 1.100 500 1.175 1.000 750 50 1. Lima Puluh Kota 2 Kab.500 7. Agam 3 Kab.500 4.200 300 9. Pasaman 6 Kab.000 4. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.000 8. Solok Selatan 12 Kab.500 1.000 4.200 1.350 250 1.500 500 4.900 9.800 250 1. Kep Mentawai 4 Kab.500 7.200 400 1.500 3.500 8.500 900 500 3.900 9.000 1. Indragiri Hilir 3 Kab.000 225 300 750 500 1. Padang Pariaman 5 Kab.000 10.000 600 750 1.200 350 1. Rokan Hilir 8 Kab.500 2.000 9.500 9.155 3. Indragiri Hulu 4 Kab.500 180 1. Pelalawan 7 Kab.500 9.400 4.000 48. Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3. Kuantan Singingi 6 Kab.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab.800 8.000 4.500 1.900 2.000 225 550 400 100 180 1. Kampar 5 Kab. Tanah Datar 10 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No. Bengkalis 2 Kab. Solok 9 Kab.200 1.950 3.150 1. Rokan Hulu 9 Kab.450 4.000 8. Dharmas Raya 11 Kab. Sijunjung 8 Kab. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e . Pesisir Selatan 7 Kab.000 10.850 2.

Banyuasin 8 Kab. Merangin 5 Kab.000 3.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab.000 600 500 2.500 1.300 225 400 1.400 12.500 3.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 2.400 100 2.800 1.500 1.400 100 2. Kaur 5 Kab.000 2.500 1.400 11. Tanjung Jabung Barat 8 Kab.900 4.875 3.900 600 20. Bengkulu Selatan 2 Kab.000 375 600 1. Bengkulu Utara 3 Kab.500 550 50 500 375 500 550 1.950 15.200 14. Lahat 2 Kab. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab.000 3.400 100 1.700 4.800 1. Rejang Lebong 4 Kab.000 300 500 500 525 1. Ogan Ilir 11 Kab.000 13.500 8.400 100 2. Musi Banyuasin 3 Kab.000 2.900 5.200 50 2. Ogan Komering Ilir 6 Kab.525 4. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.050 900 2.000 250 1.250 750 600 3.800 150 1.000 225 2.250 4.300 225 400 500 1.950 2.125 147.000 300 400 50 500 2. Seluma 6 Kab.750 6.500 4.000 16.100 500 550 50 500 2.100 500 2.650 3.400 100 1.000 48.500 6.000 150 100 550 150 1.000 7.450 6.450 2.000 20.300 1.000 3.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e .100 500 2.900 100 600 2.550 500 1.000 300 750 250 300 550 2.400 3.500 3.000 3. Musi Rawas 4 Kab. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.400 100 1.000 700 50 1. Kerinci 4 Kab. OKU Timur 9 Kab. Jabung Timur 9 Kab.100 1. Batanghari 2 Kab. Lebong 8 Kab.600 8.000 300 500 3.350 9.300 300 500 600 500 2.875 2. Muaro Jambi 6 Kab. Muara Enim 5 Kab.000 12.000 11. Muko-muko 7 Kab.650 450 500 50 2. OKU Selatan 10 Kab.000 11. Bungo 3 Kab.250 4. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58.750 1. Tj.000 10.500 500 250 550 500 450 250 1.500 13.500 12. Sarolangun 7 Kab.300 300 1. Ogan Komering Ulu 7 Kab.

000 14.000 12.500 1. Kuningan 11 Kab. Bogor 4 Kab.000 10.350 1.430 70 3. Majalengka 12 Kab.000 12.000 7.500 1.000 11. Bandung 2 Kab. Lampung Timur 6 Kab.625 750 970 30 300 1. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147. Purwakarta 13 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.430 70 500 1.430 70 7.260 375 1.600 1. Mesuji 11 Kab.000 50 500 930 70 250 8. Bekasi 3 Kab. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab.200 1.470 30 2. Tulang Bawang 8 Kab. Tanggamus 7 Kab.625 1.880 1.250 5.500 197.500 9.000 1. Garut 8 Kab.500 11.500 1. Cianjur 6 Kab.250 1.350 1.500 1. Sumedang 16 Kab.000 8.430 70 500 750 1.700 300 12.500 1.470 30 1.430 70 3. Way Kanan 9 Kab.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.500 975 1.350 11.500 10.000 1.120 50. Ciamis 5 Kab.250 260 1.500 975 600 100 1.000 500 930 70 2.750 2. Lampung Selatan 3 Kab. Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 17.470 30 970 30 200 450 500 450 1.500 2.500 2.000 18.000 300 1.250 1.120 1.500 10. Pesawaran 10 Kab.500 12.430 70 2. Cirebon 7 Kab. Karawang 10 Kab.500 25 930 70 1.500 10.970 30 1.000 2.000 11.180 70 1.850 21.500 1.500 19.125 750 2.000 1.875 525 930 70 1. Pringsewu 12 Kab.750 1.350 50 2.000 100 930 70 5.250 1.000 6.000 375 500 1.550 6.650 1.650 550 550 550 1.500 18. Lampung Utara 5 Kab.250 8.500 7.275 970 30 1.250 750 5.000 100 1.950 12.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 14. Indramayu 9 Kab.100 500 1.000 18.430 70 6.000 6.500 1. Lampung Tengah 4 Kab.500 14.750 12.430 70 3.000 12.470 30 1.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e .500 100 1.750 1.625 12.950 17.430 70 1. Sukabumi 15 Kab. Lampung Barat 2 Kab.000 300 1. Subang 14 Kab.970 30 1.500 1.000 975 600 150 970 30 1.500 1.000 2.000 11.450 12.

300 1.250 3.800 10.960 45. Karanganyar 12 Kab. Pekalongan 19 Kab.100 7.125 7. Bantul 2 Kab.000 33.500 10. Cilacap 8 Kab.200 1.500 5.000 8.250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab.000 750 2.430 70 850 1.500 1.150 1.000 1.000 10. Klaten 15 Kab. Sragen 25 Kab.500 130 70 3.000 12. Demak 9 Kab. Tegal 27 Kab. Kudus 16 Kab.960 1. Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.500 4.500 8.000 8.500 1.050 2.500 6.000 6.000 1.625 12. Pemalang 20 Kab. Pati 18 Kab.000 9.430 70 5.200 1.500 430 70 1.000 50 680 70 450 930 70 4.000 100 1.500 7. Magelang 17 Kab.000 1.500 10.700 900 5.050 2.300 450 2.040 1. Purworejo 22 Kab.000 430 70 850 1.000 7.500 3.100 500 500 19.000 430 70 750 500 2. Sukoharjo 26 Kab.500 8.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4.875 3.625 3.500 2.600 51. Jepara 11 Kab.050 430 70 5. Blora 5 Kab.000 50 430 70 750 430 70 2.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5.000 100 500 175 450 1.000 9.100 100 500 500 50 375 1. Rembang 23 Kab. Banyumas 3 Kab.500 8. Kendal 14 Kab.000 18.000 500 500 1.500 6. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198.500 1.500 500 480 70 3.750 4. Purbalingga 21 Kab.000 975 5.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.500 5. Gunung Kidul 3 Kab. Banjarnegara 2 Kab. Wonogiri 29 Kab.000 680 70 850 1.500 8.300 1.430 70 700 900 430 70 900 1. Semarang 24 Kab.000 6.600 1. Kulon Progo 4 Kab.500 4.000 2.000 8.125 27.000 675 2.080 70 2.000 7.000 330 70 750 2.000 680 70 4.000 1. Boyolali 6 Kab.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e .000 3.000 20. Temanggung 28 Kab.500 5.500 6. Brebes 7 Kab.500 430 70 3.500 3. Batang 4 Kab. Grobogan 10 Kab.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Kebumen 13 Kab. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 430 70 525 2.

Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.800 3. Sampang Kab.050 20 900 7.980 980 480 2.980 500 2. Situbondo Kab. Sekadau Kab.000 15.300 225 2.000 2.000 4. Pamekasan Kab.675 1. Kediri Kab. Sanggau Kab. Magetan Kab.750 225 100 1.500 97.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20.000 4.000 4.350 20 1.500 2.050 20 975 20 1. Ponorogo Kab.000 20 1. Pulang Pisau Kab.000 750 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 9.500 11.450 4. Madiun Kab.500 20 825 1.000 6.480 1.500 1.050 12. Barito Utara Kab. Bangkalan Kab.200 750 2.500 5. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.000 2.980 2. Melawi Kab.000 700 20.980 2.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab.000 6.500 5.000 300 3.440 1.500 1. Bengkayang Kab. Ketapang Kab.500 5.625 1.000 1. Banyuwangi Kab. Lumajang Kab.000 48. Barito Timur Kab.500 20 600 2.000 3.480 1.700 1.800 600 600 600 1.000 300 2.480 5.480 980 1.480 2.000 20 4.000 20 5.050 20 9.980 4. Malang Kab. Lamandau Kab.500 3.500 1.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62.000 20 3.000 20 10. Trenggalek Kab.350 4.750 20 1. Bondowoso Kab.675 750 1.125 500 1.500 20 450 1. Pasuruan Kab.875 4.000 17.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.350 21.300 750 800 1. Jombang Kab.000 2.000 4.000 20 3. Kapuas Kab.980 1.500 3.000 7.500 20 1. Mojokerto Kab. Sumenep Kab. Katingan Kab.480 4. Sidoarjo Kab. Seruyan Kab. Bojonegoro Kab. Kotawaringin Timur Kab.500 4.980 1.450 10.000 6.000 200 400 300 400 500 250 1.000 1.980 3.300 700 100 3. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab.000 2.000 12.480 980 2.450 1.000 2.500 20 4.500 16. Ngawi Kab.900 5.500 2.300 300 100 1.980 1.300 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197.000 3.500 11.800 100 2. Barito Selatan Kab.250 300 1.000 20 1.000 1.000 8.500 3.450 1.850 121.050 6.500 20 4.500 2.500 29. Landak Kab.000 14.800 20 1.250 150 500 20 8. Pacitan Kab.500 2.980 2.500 4.980 500 1.500 9. Sukamara Kab.200 9.500 900 50 100 3.480 750 5.100 1.480 5.000 3.500 4. Kubu Raya Kab.775 900 2.000 4.050 11. Sintang Kab. Kotawaringin Barat Kab.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e .980 1. Jember Kab.000 20 2.200 225 100 300 50 100 1.000 4.800 1. Pontianak Kab.980 4.000 500 500 500 500 1. Probolinggo Kab.875 1.050 5.500 8.300 900 8.825 3.500 5.000 20 300 5. Blitar Kab.480 4. Murung Raya Kab.850 1.000 20 1.000 22.250 200 5. Nganjuk Kab. Kapuas Hulu Kab.500 6.000 20 525 1.480 1.000 20 1.000 5.500 4. Lamongan Kab.875 2. Gresik Kab.250 2.000 74.000 6.000 8. Sambas Kab. Tuban Kab.300 560 20 1.000 20 450 10.500 8.500 7.775 1.250 150 500 900 2.

275 1. Tapin 10 Kab. Tana Tidung 15 Kab.650 1.000 23.000 10.650 7.750 600 2.770 1.500 1.000 1.500 170 1.500 400 1.450 2.950 10.000 33.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1.Pedoman Pelaksanaan Program No. Bolmang Selatan 11 Kab. Hulu Sungai Utara 6 Kab. Tanah Laut 9 Kab.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Penajem Paser Utr 9 Kab.775 2.500 2.000 4.500 2.700 1. Kota Baru 7 Kab.000 8. Barito Kuala 3 Kab. Banjar 2 Kab.000 2. Berau 2 Kab. Tabalong 8 Kab.200 400 1.000 5.575 250 1.250 1.000 1.000 2. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 900 100 500 400 100 1. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab.100 1.000 2.000 7.500 4.200 4.000 8.700 300 15. Malinau 6 Kab.000 1.450 1. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 390 70 150 2.200 200 1.900 17.000 1. Minahasa 3 Kab.000 8.500 600 1. Bolmong Utara 9 Kab.000 3.650 550 550 550 1.000 630 700 2. Kutai Timur 5 Kab.350 9.650 300 2.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e .600 315 2.000 840 500 1. Minahasa Tenggara 8 Kab.450 12.400 600 2.000 500 3. Sangihe 10 Kab.000 1.500 200 2.100 550 550 1.950 3.995 250 500 300 750 1. Hulu Sungai Selatan 4 Kab.000 15. Nunukan 7 Kab.500 500 2.500 1.125 750 1.000 11. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137. Pasir 8 Kab.000 7.500 14.000 16.000 125 495 1.000 400 100 1. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab.100 350 900 10.450 2.000 10.100 1. Bulungan 3 Kab.450 20.000 750 650 1.500 3. Balangan 11 Kab. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab.525 3. Minahasa Utara 7 Kab. Hulu Sungai Tengah 5 Kab. Talaud 4 Kab. Kep. Kutai Barat 4 Kab.695 1.625 48. Bolaang Mangondow 2 Kab.

500 10. Muna 5 Kab. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab. Luwu 9 Kab.000 16.500 900 11. Luwu Timur 22 Kab.100 1. Tana Toraja 19 Kab.000 1.900 1.950 2.930 70 2.950 70 1.500 7.430 70 2.100 550 550 1.500 1. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab. Bone 4 Kab. Buton 2 Kab.430 70 2.000 1.400 14.800 5.500 2.250 2. Pinrang 13 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 12.310 35.930 70 3.000 2. Enrekang 6 Kab.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e .000 500 8.250 2.500 3.000 73. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73.280 2.500 500 1.930 70 1.000 300 375 750 375 150 350 2. Parigi Moutong 8 Kab.500 12. Konawe Selatan 6 Kab.805 20.430 70 3. Konawe Utara 10 Kab.025 495 900 765 1.650 550 550 550 1. Barru 3 Kab.400 4.000 4.000 50 1.000 7.020 2.500 800 920 70 1. Wakatobi 8 Kab.000 300 4.500 10.125 900 700 1.000 1.350 3.000 11.000 1.450 20.000 950 50 450 1.680 70 2.800 1.150 150 1. Poso 7 Kab.500 2.500 7.000 750 2.000 1.500 11. Luwu Utara 10 Kab. Pangkep 12 Kab.000 2.250 450 4.300 2. Maros 11 Kab.000 6. Sinjai 16 Kab.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10.500 1. Konawe 3 Kab.000 1.500 1.000 450 600 11. Kolaka 4 Kab. Morowali 6 Kab.550 350 1. Takalar 18 Kab.500 900 350 500 4.000 25.000 7.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab.000 3.250 50 900 70 1.000 17.500 1. Tojo Una-Una 9 Kab.550 2.000 182.375 19.100 1.500 750 900 1.980 300 950 70 1.000 29.680 70 2. Kolaka Utara 9 Kab.450 10. Banggai Kepulauan 10 Kab.250 1. Kep.500 12. Sidenreng Rappang 15 Kab.250 1.950 5.430 70 2.200 4.550 850 4.930 70 4. Bantaeng 2 Kab.000 625 73.000 1.000 15. Bombana 7 Kab.310 2. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 9.650 1.500 600 2.450 7. Banggai 2 Kab.500 5.100 750 300 810 750 500 500 650 1.300 600 2.500 3.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5.200 250 800 300 1.000 7. Gowa 7 Kab.930 70 1.500 3.450 4. Donggala 5 Kab. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.690 1.100 1.450 2.645 2. Toli-Toli 4 Kab. Jeneponto 8 Kab.000 7.430 70 2. Selayar 14 Kab.000 1.500 500 7.500 3. Buol 3 Kab. Bulukumba 5 Kab. Soppeng 17 Kab.

Manggarai Timur 20 Kab. Pulau Buru 5 Kab.000 1.950 5. Klungkung 8 Kab.100 1. Lombok Tengah 5 Kab.500 1.000 6.000 4.500 1. Bangli 3 Kab. Sumba Barat Daya 19 Kab. Timor Tengah Selatan 12 Kab.000 2.000 3.900 300 1. Sikka 9 Kab. Gianyar 5 Kab. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab.500 2.500 7.000 1.000 3.650 2.000 1. Bima 2 Kab.500 9.500 300 600 500 1.500 500 30.300 1. Maluku Tengah 3 Kab.000 10.450 117.300 300 250 900 400 100 1.350 450 1.000 2.000 2. Sumba Tengah 18 Kab.000 1.000 10.000 450 50 450 450 1. Lombok Barat 4 Kab. Manggarai Barat 15 Kab.500 50 900 100 5.900 4. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 1.800 15.200 600 600 1.200 200 50 450 450 1.900 450 100 900 1. Karangasem 7 Kab.500 5.000 3.000 9. Manggarai 7 Kab.100 1. Flores Timur 4 Kab.575 450 600 1. Rote-Ndao 14 Kab. Buru Selatan 9 Kab.500 3. Kepulauan Aru 6 Kab. Timor Tengah Utara 13 Kab.500 20.000 32.000 5.500 59.500 500 450 50 1.800 1.450 750 300 4. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33.500 25. Dompu 3 Kab.450 5.500 500 3.500 1.050 450 300 200 300 1. Ende 3 Kab.200 1. Buleleng 4 Kab.750 50 900 1.250 750 1. Ngada 8 Kab.000 100 1. Lombok Timur 6 Kab.500 1.000 750 8. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab. Sumba Timur 11 Kab.450 4.500 19. Jembrana 6 Kab.475 875 200 50 1.275 3.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e .500 7.000 1. Maluku Tngra Barat 2 Kab. Sumba Barat 10 Kab.000 3. Badung 2 Kab.000 3.000 1.000 500 500 1. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab. Seram Bag Barat 7 Kab.800 450 6.575 900 450 1.500 6.000 500 450 50 9.000 2.350 7. Alor 16 Kab. Sumbawa Barat 9 Kab.000 4.000 2.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2.500 900 100 1.850 3.100 550 550 1. Maluku Tenggara 4 Kab.000 4.400 14.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 4. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab. Belu 2 Kab. Seram Bag Timur 8 Kab. Kupang 5 Kab.000 14.400 2.000 5.000 2.250 1. Lembata 6 Kab.500 1.050 750 450 50 9. Nagekeo 17 Kab.500 500 900 100 900 2.500 900 450 5.500 1.375 2.

000 150 1. Nduga 28 Kab. Lebak 2 Kab.500 19.000 500 8. Puncak Jaya 9 Kab.000 1. Kepulauan Sula 5 Kab. Waropen 20 Kab.Intan Jaya 24 Kab.500 3.000 500 400 100 10.000 39.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Boven Digoel 17 Kab. Mappi 18 Kab. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab. Halmahera Timur 4 Kab. Lanny Jaya 25 Kab. Halmahera Selatan 6 Kab. Yahukimo 14 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.375 750 750 4.000 450 5. Tolikara 16 Kab. Asmat 19 Kab. Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab. Jayawijaya 4 Kab. Membramo Raya 26 Kab. Halmahera Utara 7 Kab. Dogiyai 23 Kab. Biak Numford 2 Kab.000 875 148.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .000 150 3.500 500 850 150 2. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Pegunungan Bintang 15 Kab. Merauke 5 Kab. Paniai 8 Kab.500 500 25.150 1. Serang 4 Kab. Mimika 6 Kab. Keerom 13 Kab.500 44.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab.000 1. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab. Jayapura 3 Kab. Nabire 7 Kab. Membramo Tengah 27 Kab.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2. Pandeglang 3 Kab. Puncak 29 Kab.500 41.000 1.600 150 150 1.975 100 450 50 500 250 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10.500 500 500 7. Halmahera Barat 3 Kab. Halmahera Tengah 2 Kab.000 2. Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab.000 50 775 1.500 500 850 150 11. Sarmi 12 Kab.

000 1.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2. Mamuju 2 Kab. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab.450 6.500 3.100 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 9. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab. Raja Ampat 5 Kab.000 2.100 1.950 19.125 700 500 1.500 63.000 1. Teluk Bintuni 6 Kab. Blitung Timur 5 Kab.000 5. Boalemo 2 Kab. Bangka Selatan 4 Kab.900 5. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3.500 2.500 7.000 5. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab. Bone Bolango 5 Kab.000 1.000 1. Karimun 4 Kab.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 3. Kaimana 8 Kab.100 550 550 1. Kep.500 21.000 2.750 38.000 450 3.000 2.500 12. Teluk Wondama 7 Kab.500 225 7.000 450 1. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Bangka Barat 6 Kab.025 19. Mamuju Utara 5 Kab.750 1. Fak-Fak 4 Kab. Bangka 2 Kab.300 5.500 750 2. Limboto 8 Kab.000 2.000 3.000 1.000 1.450 2.500 3.400 400 1.500 5.150 2.000 1.000 2. Pohuwato 4 Kab. Sorong 2 Kab.500 5. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Natuna 2 Kab.250 2.250 1.000 1.000 1. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab. Mamasa 4 Kab. Lingga 5 Kab. Belitung 3 Kab. Majene 3 Kab. Manokwari 3 Kab.400 375 500 400 375 500 200 1.125 1. Bintan 3 Kab. Gorontalo 3 Kab.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15. Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16. Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

NO. 1 2 3 4 5

KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total

BOBOT 35 20 15 10 20 100

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

BAPPENAS

Nasional

Outcome/Impact Nasional

Kementerian Pertanian

Sektor/ Program

Outcome/Impact Sektor

Unit Eselon I

Program

Outcome

Unit Eselon II, UPT Pusat, Dekon/TP SKPD Provinsi

Kegiatan

Output

Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota

Kegiatan

Output

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. c. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker. b. kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 20. atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara. 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG. 4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL. b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program. akun pendapatan. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a. 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e . c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan. 2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. 3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran 1. dan jenis penerimaan.

6) Data pendukung terbaik. dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. (2) sumber dana. Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I. g. d. f.Pedoman Pelaksanaan Program 5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. Kementerian Pekerjaan Umum. d. 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran. c. antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. 2. b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi. disampaikan kepada Unit Eselon I. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL. dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja). Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil. 3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e . dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. sarana. Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai. e. b. UNIT ESELON – I a.

g. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. i. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. f. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c. Pinjaman Hibah Luar Negeri. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. KEMENTERIAN / LEMBAGA a. dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser). (3) sasaran kinerja. b.Kementan. Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis. c. K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. 3. Mengisi informasi pada Bagian I. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L). e. (2) Simber dana.Pedoman Pelaksanaan Program h. d. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e .q. 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L).

Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L. ada beberapa kemungkinan: 1. d. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e . dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. maka K/L menyesuaikan RKA-KL. RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . KK RKA-KL. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL. 3. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21. parameter non-ekonomi. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. 2. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. c. 2.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi.Kementan. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka. b.

3. 6. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA. Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA. 5. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). 6a. 2. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA. 6b. SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak. 4. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL). DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23. 2. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. 7. mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. 4. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker). 5. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. 6. dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. 3. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e .

KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e . 2. KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker. 6.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. 2a. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA. jika tidak terjadi perubahan DIPA. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya. 4. 5. 3. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi.

ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA. data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA. 9a. 2b. 8a. 4b. 6. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 10. 4a. 8b. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. 2a. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA. 3. dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL). Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1. 7.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. disampaikan kepada KPPN. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 5.

02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . 2a. 4. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. 3a. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 2b. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a. disampaikan kepada KPPN. disampaikan kepada KPPN. 3b. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. 1b.

Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah. disampaikan kepada KPPN. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. 2a. 3b.. disampaikan kepada KPPN.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e . 4. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN. ADK POK revisi satker kantor pusat. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 2b. 1b. 3a. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN. ADK POK revisi satker daerah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful