P. 1
1.1. Pedoman Pelk Program

1.1. Pedoman Pelk Program

|Views: 1,000|Likes:
Dipublikasikan oleh Andy Aan Yuliawan

More info:

Published by: Andy Aan Yuliawan on Oct 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

Pedoman Pelaksanaan Program

KATA PENGANTAR

Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value) yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha (petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha. Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor, baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan sumber daya yang ada. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab tugas pokok dan fungsi yaitu Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

i|Page

Pedoman Pelaksanaan Program

Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar pelaksanaan program dan kegiatan. Pedoman pelaksanaan program ini merupakan acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan,

Udhoro Kasih Anggoro

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

ii | P a g e

2012 3. Program 3. STRATEGI. III.3.3. Sanksi Administratif. Kegiatan TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. Tata Hubungan Kerja 4. Kegiatan dan Anggaran 5. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program 3.4 Pelaporan PENUTUP i iii iv vi vii 1 1 4 6 7 8 15 16 17 19 23 24 33 34 55 II.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN 1. Kegiatan dan Anggaran 5.3 Monitoring dan Evaluasi 5. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA. Sasaran 2. VII.1.3. Istilah dan Pengertian SASARAN. PENGAWASAN. IV. dan Ganti Rugi PENGENDALIAN. Sasaran 1. 2012 4. Strategi 2. Pengelolaan Anggaran 4.1.2 Pengawasan Program.2.2. 2012 2. EVALUASI DAN PELAPORAN 5.1 Pengendalian Program. Ketentuan Pidana.1.4.2. Tujuan 1.1.4. Pengorganisasian 4.3.5. V.2. Dasar Hukum 1. Kebijakan PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. Latar Belakang 1. 55 56 63 69 71 71 72 73 74 77 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iii | P a g e .

2012 Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 14 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA 2012 Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012 Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 7 Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. Luas Panen. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Tabel 2 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 4 Sasaran Luas Tanam.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR TABEL Tabel 1 Sasaran Luas Tanam. 2012 Tabel 16 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 16 25 26 27 29 30 32 34 36 38 39 40 41 42 45 46 47 48 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iv | P a g e . Luas Panen.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 49 50 52 53 Tabel 23 Tabel 24 59 60 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan v|Page .

Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan 16 18 26 39 39 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vi | P a g e .

dan Produksi Padi Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Produktivitas. Luas Panen. 2012 Agenda Perencanaan Nasional Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sasaran Luas Tanam. 2012 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Alur Sistem Pemantauan. Produktivitas. dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. dan Produksi Jagung Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. Luas Panen. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Evaluasi dan Pelaporan Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 84 107 111 112 113 114 115 116 117 118 123 141 142 143 144 147 148 149 150 151 153 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vii | P a g e . Luas Panen.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Daftar Satuan Kerja di Pusat. Luas Panen. Produktivitas. Luas Panen. Produktivitas. Luas Panen. Produktivitas. Produktivitas.

Pedoman Pelaksanaan Program Anggaran K/L Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Lampiran 22 Lampiran 23 154 159 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 161 162 163 164 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan viii | P a g e .

tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif. berwawasan lingkungan.1. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. dan berkelanjutan. dan Berkeadilan. bukan langkah-langkah biasa (business as usual). Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri. yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan. seimbang. Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth). Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). jangka menengah. Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah. Mengacu pada visi tersebut. 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor). arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough). Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. terfokus. serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin 1) 2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page . Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a. dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Dalam konteks ini. Maju.1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera. Demokratis. Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. berkelanjutan. dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). berkeadilan. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang.Pedoman Pelaksanaan Program BAB I PENDAHULUAN 1. 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job).

h. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: .Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . serta optimalisasi efisiensi usaha.2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110. Produktivitas. Pada tahun anggaran 2012. Papua Barat dan Nusa Tenggara . perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3.Pedoman Pelaksanaan Program c. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page . diperlukan prakarsa-prakarsa baru. g.8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian. Untuk itu. e. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89. Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut.Percepatan Pembangunan Papua.Penguatan Penanggulangan Kemiskinan . nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut. baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu). faktor peningkatan produktivitas. Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir.Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program. peningkatan kapasitas usaha. d. f. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri. yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I. Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan. dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program.

sejak tahun 2011. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Saat ini. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. Oleh karena itu. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. kedelai. Produktivitas. dana tugas pembantuan. ubi kayu. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD. dan ubi jalar. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . gandum dan lain-lain. arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. Direktorat Jenderal Hortikultura. komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi. garut. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. sorgum. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan kedelai.Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. dana alokasi khusus (DAK). disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. jagung. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. jagung. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. yaitu padi. Produktivitas. gembili. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. kacang tanah. dana subsidi. dan berbagai jenis lainnya. seperti dana dekonsentrasi. Namun demikian. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. karena faktor keterbatasan yang ada. Dalam perkembangannya. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. kacang hijau. Dalam hal ini. pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas.

Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1. TUGAS PEMBANTUAN. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN. DAK. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. dan 3) pedoman teknis. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1. Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program. 2) pedoman pelaksanaan kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM.2.

Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah. sebagaimana telah diubah beberapa kali. junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012. Produktivitas. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page . Produktivitas. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012.3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi.02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012. Penelaahan.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. Tujuan             1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010.

Produktivitas. c. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. dasar hukum. meningkatkan transparansi. dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja. istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran. sasaran. Produktivitas. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. tujuan. kebijakan. 1. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program. efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi.4. Sasaran b. tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia. kegiatan. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page . melalui urutan pilihan. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. RPJMN III Tahun 2015-2019. dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. 5. Produktivitas. yang memuat strategi pembangunan nasional. kebijakan umum. kewilayahan dan lintas kewilayahan.Pedoman Pelaksanaan Program 1. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1. disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga). memuat prioritas pembangunan. serta program Kementerian/Lembaga. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan). 2. yaitu RPJMN I tahun 2005-2009. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun.5. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. 3. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. RPJMN II Tahun 2010-2014. visi. 6. lintas Kementerian/ Lembaga. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. 4.

Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. 10. termasuk peralatan dan teknologi. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran. 13. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. barang. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan. modal. 16. 12.Pedoman Pelaksanaan Program 7. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). 8. 15. 11. 9. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page . 14. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut.

25. 22. 20. 19. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. 21. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. 24. dan mempertanggung jawabkan 17. menyimpan.Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. menatausahakan. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). 18. Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. menyetorkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. Tanpa indikator kinerja. 23. tahap pelaksanaan (on-going). Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima.

Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. 31. 34. menyimpan. pemerintah negara asing. barang. 28. menatausahakan. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 29. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. badan/lembaga keuangan internasional. 27. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. 32. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari. 30. membayarkan. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing. kabupaten. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. 33. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati. atau kota.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 35. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e . 26. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program.

keluaran (output). efisien. 43. dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. 39. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. 41. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis.Pedoman Pelaksanaan Program 36. 42. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). sosial dan keagamaan. 38. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat. 40. efektivitas pelaksanaan. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan.

Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD.Pedoman Pelaksanaan Program selektif. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e . dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. Pembedayaan sosial. 46. 48. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. 45. tunjangan. dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. 47. penyediaan aksesibilitas. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. seperti gaji. perlindungan sosial. jaminan sosial. penanggulangan kemiskinan dan bencana. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. kualitas. 49. dan kompensasi sosial. 44. kelangsungan hidup. menjual. mengekspor. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial. atau mengimpor barang dan jasa. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan. dan/atau penguatan kelembagaan.

menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . 5. 4. 1. 4. dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. 3. 7. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan. Dalam mewujudkan visi tersebut. 2. 6.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. STRATEGI. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. 3. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. 2. 5. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. dan 6. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. dan berkelanjutan. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut. efektif. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. sebagai berikut. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut. 1.

771 4.874. Luas Panen.000 2.000 1. kacang hijau.000. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani.100.00 117.000 1.000 825.556. Tabel 1.00 11.865 4. daya saing.026. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah.000 785. dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.655. pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional.000 390. baik kebutuhan pangan.381. kedelai.000. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.Pedoman Pelaksanaan Program 2. kacang tanah. Sasaran Luas Tanam.000 25.13 51. dan ubi kayu.900. kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya. dan ekspor.430 1. Selain itu.300. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian.55 15.026.98 190.00 Produksi (Ton) 72.700 325. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14. b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan. Namun demikian.600 1.20 14.1. kebutuhan pakan. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi.250. jagung.312.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e .600 207.500 1. Dalam hal ini.000 Luas Panen (Ha) 13. ubi jalar.235 24. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan.800 196.000 342.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan.437 1.315.

harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana. Berkaitan dengan peningkatan produksi.Pedoman Pelaksanaan Program 2. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. (2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan. Secara harfiah. subsidi ataupun insentif lainnya. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir.2. DAYA SAING. Untuk itu. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian. Namun demikian. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan. (4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia. Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e . peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut. Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan.

Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1. dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Gambar 3. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi. maupun hilir. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. Peningkatan produktivitas 2. Peningkatan manajemen. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e . Perluasan areal dan optimasi lahan 3. 3) pengamanan produksi. on-farm. 2) perluasan areal tanam.

(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). (4) pencapaian swasembada kedelai. serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. akuntabilitas. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014.3. Pada prinsipnya. Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011. 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional. efektivitas. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Dari 23 arah kebijakan tersebut. dan partisipasi. subsidi pupuk. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. antara lain: bantuan benih/bibit unggul.Pedoman Pelaksanaan Program 2. Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya. transparansi. penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan. alsintan. (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi.

pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. 3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. jagung dan kedelai. Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri. khususnya komoditas strategis seperti padi. Dalam hal ini. dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung.Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. Karena itu. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e . serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan. 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga.

ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri. Pada era perdagangan bebas ini.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. (3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. berakibat terjadinya degradasi. baik ekspor maupun impor. hewan. alih fungsi. penyakit dan organisme pengganggu. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina. (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan. hasil bahan asal hewan. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO). Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani. pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. hewan. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. asal bahan hewan. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan.

f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani. dan kedaulatan pangan. h) mempertahankan keseimbangan ekologis. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. c) mewujudkan kemandirian. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. perseorangan. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak. Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. ketahanan. Sanksi bagi orang.

5) pola pengelolaan bansos. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan). Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). 2) komponen prioritas pemberdayaan. 6) mekanisme pengadaan barang/jasa. Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan. BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4.Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. 4) jenis belanja. serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan. Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e .

1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. 8. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 3. 7. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e . 6. 5. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1. Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut. 4. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). 2. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih.

dan BPTPH). dan lembaga yang mengakar di masyarakat. 2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani. 4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. BPSBTPH. penangkar benih.06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2. Produktivitas. 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI.03. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012. Kode 018. pelaku usaha pascapanen.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3. 7. 5. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e . Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No. 1. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6.

880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp. BPSBTPH.010 25. 512.260 164.000 500.000 190.250 1.235. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi.536.000 285.00 250.00 Produksi (Ton) 16.565.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan.416.50 65.51 13.560 10.000 300.-.230 9.690 268.700. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).000 475.00 130..000 6.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT).000 332. 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp.000 1. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan. 1.000 2.498.00 16. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp. sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini.245.00 77.000 200. Tabel 4.000.347.000. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .680 139.Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI.000 542. 1.500 19.104.899. Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area).781.00 37.00 17. Luas Panen.195.000 150.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64. dan BPTPH). jagung dan kedelai.000 350.000 20. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2.000 6.000.455. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan).. Sasaran Luas Tanam. Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain.500 142.350 Luas Panen (Ha) 2.

242.901.392.353.000 8.000 3. 9.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.089.140 14.000 350.297.498.017.300.188.750.587.000 1.817. 16.400 34.100 4.800 10.640 53.800 11. 18.000 1.642.000 2.176.462.731. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .600.800 47.907.600 1.330 28.000 61.899.100 21.480 385.000 721.566.860 10.327.500 3.587.000 1.030.500 11.618.000 3.500 2.536 7.056.000 400.000 2.713.693.880 13.560 34.000 350.220 50.644.604.500 3.176.000 1.480 92. 4.000 100.300. 24.000 2.800 5.085.600 13.288.000 4.500 7.160 47.546.038.000 3.465.365.000 4.016.300 20.478.450.180 122.180 3.000 9.400 13.478.314.000 3.926.000 27.000 2.000 1.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.303.110 4.480.814.000 2. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.395.263.000 2.800.100 18.817.300 3.000 4.221. 22.591.600.893.850.987.130 24.000 300.900 14.200 31.000 400.957.843.580 348. 12.000 700.420 67.007.900 15.000 7.400.138. 25.600 44.428.147.820.445.810 1.051.039.520 69.000 4.400 7.186.362.738.500 3.448.400 15.000 5.201.487. 33.500 550.500 6.500 5.500 7.000 1.642.000 1.350 12.100 67.492.621.000 1.060 28.516.940 12.000 299.001.750 76.567.019.000 1.000 152.455 82.840.000 750.104.449.459.500 910.300 8. 5.049.100 6.969.020 15.115.000 1.260.801.347.000 1.900 37.000 500.000 600.100 18. 26.093.500 12.625 49. 2.246.659.447.870.000 5.000 2.245. 17.600 13.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.500 1.200 16.700 9. 15.600 5.260.084.000 1.670.041.455 54.500 512.628.300 803.125.412.543.600 10.000 339.700 432. 1. 3.377.142.800 1.000 1.700 22.000 2.420 27.000 500.200 14.494.300 28.21%.180.067.131.000 230.710 32.500 4.156.000 803.439.916.820 28.000 600.618.725 34.926. 8.900 18.000 2.398.000 100.820 47.633.200 1.000 4.558.847.400 11.414.249.007.310 46.626. 19.934.114.100 36.582.000 4. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78.084. 23.759.000 250.500 16.023.600 5.489.600 1.000 1.500 18.100 28.000 6.598. 21.610. 20.374.592. belanja barang.746.420 163.678.600 16.830 16.910 66.825.260 4. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.178. 31.000 474.020 207.100 200.000 500.783.000 3.113.900 23.709.740 23.000 1.000 12.000 803.000 2.500 1.100 38. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.405.100 11.750.030.609.000 3.985.400 6. LOKASI DINAS A.600 19. 7.168. 30.552.000 2.114.680 24.588.100 12.400 14.055.000 4.374.152. 3.000 6.067.278. 27.000 3.630 16.700 1.350 92.846.155.000 3.372.000 5.000 250.000 698.804.436. 32.533.805.544.771.400.300 11.802.500 8.878.976.715.000 1.000 821.500.000 3.161.799.187.150.990.549.500 18. 11.000 2.160 21.400 21. 13.000 1. 2.491. B 1.400 2.850 23.410.841.500 14.100 13.731.500 11. 10.600 16.250.000 4.090.676.330.800 4.000 2.320 46.900 9.500 3.562.120 246.000 2. 14.500 4.700 9.210 21.895.992.000 1. alokasi anggaran untuk belanja pegawai.000 385. dan belanja bantuan sosial.498.000 2. belanja modal.797. 28.061.582.600 9.700 30.403.620 1.000 2.483.000 2.278.800 21.250.000 600.238.185.465.114.320.561.581. 29.500 11.900 9.740 34.676.940 5.304. 6.000 2.900 6.218.500 8.000 250.473.404. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.208.536 1.010. 4.184.700 4.

834.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.000 1768 4.000 3. belanja pegawai 1. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.187.991 1761 0 20.735 0 0 172. 000) 018.300.998 1.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .129.030 1762 0 96.991 0 0 297.418.000 1764 0 178. Tabel 6.292.520 175.085 6.800.000 248.350 944.411.894.016.000 1766 46.062.251.000 90.516. Produktivitas.534.507.510 889.468 3.315 1.000 154.219 19.950 1. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.436.342.532 3.871.650 73.18%.194.000 67.000.73% dan belanja modal 1.000 1765 0 22.919 588.775 2.496.453.900 0 7.002.436.628.040 0 0 0 0 0 0 0 2.460 36.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.052 9.441.246 588.834.067.435.829 36.235.962.536.961 1767 3.749.500 847.869 0 0 124.000 231.000 1763 0 151.699.164.289.285 53.115.88%. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp.600 186.800.000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas.200.353.668.568 506.960 0 0 0 0 0 0 156.03. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.813.150 430.06 Program Peningkatan Produksi.092 109.115.491.

Ubinan SLPTT Padi 2. Ubinan SLPTT Kedelai 14. sebagai berikut: 1. Secara umum. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . Dalam administrasi.Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut). Namun demikian. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.136 unit 1.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing.500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. hal ini disebut dengan lex specialist. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat).919 unit 3. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7. pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Namun demikian. Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang. dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan.

10. 9. 6. 13. 4. 12.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. 7. 8. 11. 1. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . 2. 3. 5.

6) ketepatan pembentukan tim pembina. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran.2. Secara umum. dan pelaporan. penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan. mengevaluasi. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. monitoring dan evaluasi. Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. dan melaporkan pelaksanaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e . Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. pengawalan. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan. Produktivitas. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana. evaluasi. 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki.

kinerja Program Peningkatan Produksi. Pada tahun anggaran 2012. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina. Pengendalian. Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan.3. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e . pengawalan. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan.1. monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3.3.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8. No.

pupuk. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih. dan alsintan). Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp.-/Ha.000. 1. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP. Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih. 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi.600. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi. Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani. 64. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan.Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida. 3. serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No. kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket.-/Ha.000. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih.850. Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha.-/Ha. Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya. dan alsintan). dan jagung (hibrida). 25 ha areal SLPTT padi lahan kering.700. dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. pupuk. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e . 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. pembinaan manajemen kelompok. hibrida dan lahan kering). Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan.000. 10 ha areal SLPTT padi hibrida. 44.

000 690.000 kg 1 unit 1 paket 1.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.750.000 150.000 150.700.000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi.000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9.000.300 500 25.Model Spesifik Lokasi .700.000 50.000 3. .000 1.000 50.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping . SLPTT Model Padi Hibrida .000 kg 1 unit 1 paket 1.Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP .000 160. 2012 SL-PTT A.000 500.750. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.000 50.600.750.000 10 kali 10 kali 1 buah 170.000 3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e .000 44.300 500 170.000 1.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 690.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.600 2.000 150.000 25. Padi Lahan Kering. SLPTT Model Padi Non Hibrida . pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 160.000.000 3.000 25.000. Jagung Hibrida.000 64.000 500.700.700.000 160.000 150.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.000 500.1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.000 500.600 2.000 150.Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) .000 690.750. SLPTT Reguler .000 1.000 3.850.300 500 25.000.600 2. Padi Hibrida.000 500.Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1.000 500. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1. biaya pertemuan kelompok tani.000 150.

Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. pengaturan tanam. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia. pengairan.550 ha. Pembinaan. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d.700 ha. Monitoring.700 ha. 13 Provinsi.700 Ha 33. Padi Non Hibrida b. (2) ketepatan alokasi anggaran.000 ha. No. 22 Provinsi. dan jagung hibrida seluas 200. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14. 10 Provinsi Pusat. lahan kering seluas 500. 30 Provinsi. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33. padi hibrida spesifik lokasi 9. Pangan Alternatif 3. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f.550 Ha 14. pengendalian OPT hingga panen. Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2. seperti pengolahan tanah. 31 Provinsi. Tabel 10. 17 Provinsi. Padi Lahan Kering g.750 Ha 290. 25 Provinsi.000 Ha 200.700 Ha 9.651. pemupukan. 26 Provinsi.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi. Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c.300 ha. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. pengawalan. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. 1. dan Evaluasi Serealia 2.651.750 ha. Selain itu. Pengawalan. monitoring dan evaluasi serealia.300 Ha 500. padi hibrida seluas 290. pemilihan benih. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e .000 ha. Padi Hibrida e.

(6) ketepatan pembentukan tim pembina. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. monitoring dan evaluasi. mengevaluasi. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi.2. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. pengawalan. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No. Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . 2. Tabel 11. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3.3. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan. penyediaan dan penyaluran bantuan. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. 1.

000 250.000 80. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha.000 13.000 500.000 150. A. B.000 1.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.000 160.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e .000 500. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL.000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1.000 200.000 230. Peneliti.600 2.280. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1.000 230.000 250. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian.000 200.930.000 150. Tabel 12.000 500.390.000 250.000 1.300 1.000 250.000 3.000 540.000 160.000 1. PBT dan Mantri Tani. POPT.600 2. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK.000 500.000 400.000 250.000 500 250.000 500.300 1.000 500.390.Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB.000 500 250.000 500.

(4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL).500 Ha Lokasi 28 Provinsi. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3. 6. mengevaluasi. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran. 3. seperti pengolahan tanah. 8. 2 Kab/Kota 1 Provinsi. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam.000 Ha. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. 2. Tabel 13. pengaturan tanam. pemupukan. Monitoring. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. 5. 29 Kab/Kota 1 Provinsi. 28 Provinsi. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. pengembangan kedelai model seluas 2. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No.094 Ha. pengendalian OPT hingga panen. pengawalan.000 Ha 2. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. 175 Kab/Kota 11 Provinsi. 28 Provinsi. monitoring dan evaluasi.500 Ha. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3. Pengawalan. 4 Kab/Kota 2 Provinsi. 4. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut. pengairan. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. penyediaan dan penyaluran bantuan. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. 1. pemilihan benih. 7.

dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14. dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II. pedoman teknis. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan. pedoman teknis. No. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan.

90 persen. Jagung 72. pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah.Pedoman Pelaksanaan Program 3. operasional Balai Benih Induk (BBI). padi lahan kering.3. kacang hijau. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. Pada TA 2012. jagung hibrida. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU. pembinaan. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan. b. ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden). Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. pembangunan dan optimalisasi UPB. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). dan Cadangan Benih Nasional (CBN).31 persen. pemberdayaan penangkar.50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e . pembinaan. dan ubijalar). dan kedelai sebanyak 101. (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas. bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida. Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a.3. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. Padi 67. Selain itu. pengawalan. subsidi. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu.00 persen. ubikayu.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). c. padi hibrida. dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih. (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. monitoring evaluasi BLBU. Selain itu. dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT. dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah. Kedelai 67. pengawalan. jagung. serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH).

Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini.500 ha. kekeringan. (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi. (7) pembinaan. (8) pembinaan. subsidi. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4. penangkar jagung seluas 700 ha. Selain bantuan langsung benih unggul. dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota. (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. pengawalan. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani. dan penangkar kedelai seluas 2. jagung. (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan.000 Ha. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . Komoditas yang difasilitasi adalah padi.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10. monitoring evaluasi BLBU.05 juta Ha. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi. monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. dan kedelai.

No.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi. CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA.500 ton 300.000 ha 12. 4. 100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi.500 ton 2. Monev BLBU. 14 Kab/Kota 13 Provinsi.Padi . Pengawalan. 165 Kab/Kota 5 Provinsi. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan. 11.000 ton 350. Subsidi. 5.500 ton 500. 230Kab/Kota Pusat.Jagung .500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: . 2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck. 3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e .000 ha 3.000 ha 4.000 ton 200. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan.000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2. 2012 Kegiatan BLBU 2. Oleh karena itu. 9.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15. 10. 6.000 ha 14. 373 Kab/Kota 7. 8.700. 1. Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu.000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10. 32 Provinsi. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.

Pembinaan. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II. IV. pendampingan. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII. BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan.Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e . No. V. VII. Tabel 16. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. mengevaluasi.

2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan.Vertical Dryer .Jagung . Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu. penyediaan dan penyaluran bantuan. Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. 4. 1. 31 Provinsi. 204 Kab/kota Pusat. 16 Provinsi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e . 204 Kab/Kota Pusat. (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan. No.Padi . dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat. 3. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan. 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5. (5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis. 2.Kedelai . (4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen.Ubi kayu . Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: . (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi.3. mengevaluasi.4.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen. Tabel 17.

Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2. penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan. - 3. 1. 5. mengevaluasi. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. 4. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e . - - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan.

Pedoman Pelaksanaan Program 3.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel. 5. Sumber. 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI.168 Orang 2. bimbingan teknis. No. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI. monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida.5. 4. 6.Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi. 2. RK-KL Ditjen. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan. 7. (3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan. 12. Tanaman Pangan TA. 3. dan residu pestisida Sasaran 1. (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI.Sarana pengendalian OPT . Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Tabel 19. Peramalan.Operasional BPT . 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1. pupuk.Renovasi/Bangun gudang pestisida . dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT. 10. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e .3. 1. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9. Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): . 8. 11.

Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini. Tabel 20. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT. 1. 3. Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. 2. sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. 4. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT.

3. peramalan. dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi. (2) jumlah teknologi pengamatan. Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun. dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan. peramalan dan pengendalian OPT. 3. dan pengendalian OPT. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis.3. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e . umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi. produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan.7. keuangan. divalidasi dan disyahkan.8.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH).3. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT. Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.3. (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu. dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun.6. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT).

33 Provinsi. 374 Kab/Kota Pusat. 8. 33 Provinsi. Tabel 21. 33 Provinsi. Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. 3. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3. 9. Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. Monitoring Evaluasi. 374 Kab/Kota Pusat Pusat. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. 33 Provinsi Pusat. 2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e . 33 Provinsi. 4. 6. 5. Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7. 374 Kab/Kota Pusat. Bencana Alam. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. 1. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No. 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.

Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 .Kelayakan Proposal . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e .Pengaruh intervensi pihak luar .Faktor alam . Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.Proses tender . Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3. LM3 Uraian Titik Risiko .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22.Ketepatan dukungan administrasi dan teknis .Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) .Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2. Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya . 1.Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.Identifikasi Calon Lokasi .

Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan. Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan. Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut. Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama. dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. Dengan koordinasi ini. Untuk itu. koordinasi dan teknis fungsional. BPSBTPH dan BPTPH). perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki. pengendalian dan pelaporan. diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki.1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e .

panen dan pasca panen. sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. dan berdaya saing. 4. teknis perbenihan/perbibitan. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan.Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e . Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. khususnya perselisihan antar daerah.2. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi. Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. Untuk pelaksanaan program. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. teknis perlindungan tanaman. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut. terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran di daerah. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani. Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. efisien. teknis usahatani.

4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a. kegiatan dan anggaran. Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program. kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program. pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. 3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya. b.

masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program. 3) Untuk kelancaran operasional program. 2) 65 satker di provinsi. Pada TA 2012. kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. c. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan. 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. 3) Untuk kelancaran operasional program. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). dengan rincian sebagai berikut. 1) 3 saker di Pusat. 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.

III. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. I.-) 1. 000. 1.500.000 152.000 267.455 3.899.084. I.536 1.000 7.498.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23.245. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini.455 1.498.400.347.991 2 BPTPH III.104.007. 1 2 3 4 II.093.Dinas Provinsi .746. 3.000 9.536 3. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e .300. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1. 2. 1.353.491.BBI *) . 2.500 31.500 61. II.245. 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi .846.000 512.115.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp. Tabel 24.000 1.

2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e . Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. tunjangan.pengawalan. 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat. 2) Koordinasi. dan perlindungan tanaman pangan).: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 6) Penyaluran insentif Mantri Tani. pascapanen. subsidi dan CBN. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. dan kedelai. statistik dan pemberian honor petugas Simonev. 12) Pengelolaan gaji. honorarium. dan hibrida spesifik lokasi). penanganan bencana alam. penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). pembinaan. 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif. non hibrida peningkatan IP. 10) Evaluasi. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik. diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). perbenihan. 8) Perencanaan program. bidang umum. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. dan dukungan manajemen lainnya. kegiatan dan anggaran. 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan. jagung. monitoring dan evaluasi BLBU. 5) Pembinaan. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. monitoring. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. dan kekeringan. 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi.

statistik. Renovasi gudang Brigade. penangkaran benih. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Balai Benih. Pembangunan dan optimalisasi UPB. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). 3. pengelolaan data OPT.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. honor pengelola Satker dan Administrasi. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. P3OPT (BPTPH). Pemberian insentif Mantri Tani. Pelaksanaan survei susut padi. 5. dan Evaluasi. pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. Dinas Pertanian Provinsi. monitoring evaluasi. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. Pembinaan. Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev). Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. kegiatan dan anggaran. Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH. THL POPT-PHP . bimbingan teknologi. SLHT dan SLI. 4. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Operasional POPT PHP. BLBU. Penyaluran sarana pengendalian OPT. peramalan OPT dan dampak perubahan iklim. subsidi dan CBN). Perencanaan program. apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . Pemberdayaan PPAH. aneka kacang dan umbi. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi.

padi hibrida. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Dalam pelaksanaannya. subsidi. Perencanaan program. jagung hibrida. jagung. pascapanen). Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. Pengembangan kedelai (model). ubi kayu. penangkaran benih. dan pelaporan(serealia. dan Dukungan manajemen dan teknisnya. ubi kayu. kedelai. statistik (termasuk honor petugas Simonev). BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. CBN. 2) Anggaran. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . Pemberdayaan Penangkar Benih padi. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. fungsi. BBI. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output). Honor pengelola Satker dan administrasi. dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. kacang tanah. Evaluasi. dan ubi jalar. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. kegiatan. dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). dan pengeluaran). Ubinan SL-PTT kedelai. 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. 4. jagung. kegiatan dan anggaran. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program. kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. padi lahan kering. BLBU. monitoring. bukan pengawasan. dan kedelai. monitoring evaluasi. ubi jalar. Pembinaan. aneka kacang dan umbi.3.Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. lokasi dan jenis belanja. pengawalan. pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. kedelai.

-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). 5) Menguji. Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. taat pada peraturan perundang-undangan. BPSBTPH dan BPTPH. efisien. 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. efektif. keputusan penetapan penyediaan barang jasa. Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis. ekonomis. membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN. serta kelompok masyarakat. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi.000. b.000. 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen. 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil.000. kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp. jadwal. tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa.-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS).000.000. 100.

Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. GUP. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur. serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan. Dalam melaksanakan pekerjaannya. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak. honor. Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran. 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e . baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola. Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. TUP dan NIHIL. Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. LS. UP. Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja. vakasi).

7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya. 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek. 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK). dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. d. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. 3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan. 10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan. Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktur. 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal.Pedoman Pelaksanaan Program c. 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan.

2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran. 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. pengurangan. menyimpan. Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. 5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . 1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat. 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. membayarkan. menyimpan. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan.Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). f. menyetorkan. ketepatan penjumlahan. nomor rekening dan nama bank). KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. Bendahara Penerimaan Menerima. perkalian. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. e. Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). alamat. 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi.

Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan. yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75. Sanksi Administratif. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara. maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.4. SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya. 4. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan). sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. 1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e . Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pidana.

monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. 3) Kegiatan Pengendalian. workshop atau kursus perencanaan program. pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. penyusunan anggaran. kegiatan dan anggaran. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. Dalam melaksanakan pengendalian intern. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. arahan serta sejenisnya. akuntabel. keefektifan sumber daya. 4) Memberikan pelatihan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e . 5) Melakukan supervisi (orientasi. Pengendalian Program. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. 2) penilaian risiko. serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern. efektif dan efisien. bimbingan. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. terbuka. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. 4) Informasi dan Komunikasi. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran. PENGAWASAN. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul.1. dan berbagai hal lainnya.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. namun termasuk proses pengambilan keputusan. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e . Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. 5. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. mempunyai aspek pelayanan masyarakat. yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. pengujian. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. b. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan.2. BPKP dan Bawasda. Pengawasan Program. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. a. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak.Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. b. kegiatan dan anggaran tahun 2013. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. kegiatan dan anggaran kinerja. Pengawasan fungsional terhadap program. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja.

termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. manfaat dan dampak). Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan. d. sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e . c. b. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi. Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan.Pedoman Pelaksanaan Program c. Evaluasi pelaksanaan program. Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. hasil. Memperjelas status jenis. Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. Monitoring dan Evaluasi 5. Membangun dasar bagi pengukuran. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu. keluaran.3.

Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan. Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. aspek teknis dan anggaran. Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. evaluasi dan pelaporan. sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Evaluasi program. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . 5. Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. Pelaporan hasil pelaksanaan program. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. dan Kabupaten/Kota. tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). Materi evaluasi mencakup aspek administrasi.07/2010. kegiatan dan anggaran ini. sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi.4. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008.

Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. baik untuk anggaran dekonsentrasi. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian. triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. Laporan yang disampaikan. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment.Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Laporan insidentil. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan. yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e .

penataan kelembagaan. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. Untuk itu. kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat. kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e . dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait.Pedoman Pelaksanaan Program BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara. perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan. Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud.

Pedoman Pelaksanaan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 47 48 49 50 51 52 4. 53 54 55 56 57 5. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo. 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e

Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 9. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Perikanan Dan Peternakan Kab. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Mesuji 121201 Dinas Pertanian. 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Kehutanan. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab.

Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program NO. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Kehutanan. Perikanan Dan Peternakan Kab. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. 13. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan. Perikanan Dan Kelautan Kab. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Sanggau 130306 Dinas Pertanian. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Peternakan. Sambas 130237 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian.

Buol 180605 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18. 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perikanan. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian. Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e . Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Kehutanan. Perkebunan. Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Pertanian Dan Kehutanan Kab. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan. 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. 17.

Kehutanan. Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Perkebunan Dan Hortikultura Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e . 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Kehutanan. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian . Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. Lembata 241412 Dinas Pertanian. Perkebunan. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab. 300 301 302 303 304 305 21. Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Peternakan. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Kehutanan. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian.

Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian. Perkebunan. 373 374 375 376 377 378 379 28. 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . Kehutanan. Kehutanan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian. Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab. 380 381 382 383 384 385 29. Perikanan Dan Kelautan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. 355 356 357 358 359 360 361 26. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. 350 351 352 353 354 25. 386 387 388 30. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Perkebunan. 389 390 391 392 393 394 31.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab.

Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian. 396 397 398 399 400 401 402 33. 32. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Teluk Wondama Dinas Pertanian. Peternakan. Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan. Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Peternakan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e . Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian.

11. 16. 4. 13. 3. 5. 19. 9. 10. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 15. 6. 1. 7. 12. 18. 2. 8. 14. Agenda Perencanaan Nasional No. 17.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2.

I. BUMN. Jateng. Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. BPSBTPH. DIY NTB Dinas Provinsi. 1. Sulteng. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. Tanaman Pangan TA. stakeholders Dinas Provinsi. BPSBTPH. Kalsel. Maret April Sept. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi. Sumsel. Jatim. Sumbar. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. II. 1. 3. Jabar. Peb.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. Produsen Benih Dinas Provinsi. BPSBTPH. 3. DIY. NTT. Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Gorontalo. Bakorluh Dinas Provinsi. 1. 3. Papua Barat. 2. Bakorluh Dinas Provinsi. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. BBPOPT. Mei Peb. BPTPH. Kaltim. Sulsel. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. 2. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. Malut. Banten. Jatim. Div re Bulog Dinas Provinsi. BBI. Dinas Kabupaten. V. 3. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. Peb. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. Lampung. Dinas Kabupaten. agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh. 4. BPSBTPH Dinas Provinsi. BBPPMBTPH. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. Jabar. Dinas Kab. BPTPH. Kalsel. Sumsel. No. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. 4. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . 1. 1. Riau. Koordinator PBT BPSBTPH. BPSBTPH. BPTPH. Babel. 1. stakeholders Dinas Provinsi. Riau 2. Lampung. BPTPH. Sulsel. Div re Bulog Dinas Provinsi. Sultra. Nov. Maluku. NTB) Dinas Provinsi 4. IV. DI Yogyakarta. BPMPT Ka BPSBTPH. BPTPH. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. VI. 4. Banten. NTB. Sumut. 5. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. BPSBTPH. Jambi. III. Ka BBI. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2. Dinas Kabupaten. BPTPH. 3. Sumut.

BPTPH. 9. 6. 5. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Stakeholders Dinas Provinsi. BPSBTPH. 8. BPTPH. Nov. 14.2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi. BPTPH. BPS Dinas Provinsi. Sept. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPS Dinas Provinsi. Okt. 12. 7. BPSBTPH Dinas Provinsi. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. BPTPH. 3. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e . BPTPH. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPTPH.Pedoman Pelaksanaan Program No. Okt.BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA. BBI Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. BPSBTPH 4. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. 13. BPSBTPH Dinas Provinsi.BPTPH. 10.

3. PERLINDUNGAN. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. STANDAR. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PENYUSUNAN NORMA. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e . PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. DAN 5. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. BUDIDAYA. 4. PERLINDUNGAN. PROSEDUR. PERLINDUNGAN. 2. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN.

DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. DAN 5. 3. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. 5. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. 2. 3. SUBDIREKTORAT KEDELAI. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. BAGIAN UMUM 4. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6. SUBBAGIAN TATA USAHA. 4. 3. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. SUBDIREKTORAT UBI KAYU. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN. DAN 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. DAN 5. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e . 2. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. BAGIAN PERENCANAAN 2. 4. SUBBAGIAN TATA USAHA. DAN 6. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. SUBBAGIAN TATA USAHA. 2. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. 4. SUBDIREKTORAT JAGUNG. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2.

SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. 4. 3. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. KEPALA BAGIAN UMUM 2. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. SUBDIREKTORAT PADI. DAN 6. SUBBAGIAN TATA USAHA. DAN 6. 2. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. 4. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1. 3. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. 5. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. KEPALA BAGIAN UMUM 2.Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBBAGIAN TATA USAHA. 2.

08 229.270 30.572.17 1.705 3.510 48.770.T.19 78.669 40. 3.860 46.850 2.540 42. 4.034 475. 30.091 19.039.000 10. 16.037.752 3.24 477.12 209.142.145 639.249 72.145 3.666 50. 26.529 51.099 52.386 1.687. 22.07 29.59 7. PROVINSI N.325 46.844 159. Sasaran Luas Tanam.399 630.68 14.000 2. N. BALI & N.59 18.244 134.568 115.765 38. 25.99 457.022. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.538 321.893.026.510.675 2.10 134.100. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381.600 509. Produktivitas.014 46.14 1. 8. 10.66 432.426 784.324 132. 12. Luas Panen.040 4.415.780 708.32 1. 13. 6.994 8.561.472.745 39.050 3. 28.703 10.75 156.679 126.530 40.985 859.608.385 1.310 67.693 794.310. 24.27 152.760 408.148 1.300.250 335.54 1.078 497.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.21 132.515 49.290 12.809 924.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e .366.58 412.365 41.594 62.396 47.251.291 383. 14. 15.20 2.610.171 6.003 17.272 68.262 40.52 155.83 13.796 1.452 32.691 437.173 770.066 77.767.85 627.801 46.74 3.740 33.026.T.256 40.24 89.940 58.925.271.824 641.950 12. 18.556.865 53.348 28.65 241.967 1.980 877.450.00 410 395 50.115 92.19 20.720 50.084.825 1.080 2.821 52.995.746 10. 31.599 47.365 233.266. 11.206 148. 33.129.936 47. 27.321.068.22 6.88 169.771 13.749.235 NO 1.805 1. 20. ACEH D.333 45.47 798.028 151.401 165.967. 17.514 36.227 47.434 7.14 127. 21.194.899 54.708 195.528 60.670 529.033 149.55 957.141 39.281 221.933.765 4. 9.629 56. 32.079 407.016 85.059 59.570 4.468.913. 19.13 PRODUKSI (TON) 1. 23.186 49.006 17.255 2.08 782.95 2.550 7.110 52. 5.040 634.74 10. 2.216 62.78 822.602 443.000 611.975 1.88 515.33 60.691 49.257 38.669 53.98 164.380 38.769 33.T. 29.B.978. 7.660 625.

599 3.059 178.944 23.591 16.49 53.362 92.760 24.81 34.872 97.297 12.088 269.491 51.684 1.363 257.77 58.654 745.80 42.000 NO 1.633 968. 24.091 30 29 187.405 31.800 143.997 192.09 49.543 658.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .442 4.096 51.640 8.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7.T. 7.000.737 215. 4. 15. N. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.544 26. 27.910 338.91 17.602 2.300 88. 31. 14.019 42.566 2.025 4. 2.332 1.280 13. BALI & N.91 39.160 8.13 55. 32.880 712.64 63.10 54. 25. 30.82 18.060 1.82 63.110 9.27 34.986 30. 9.51 31.77 33.334 45.34 39. 21.600 3.482.284.371.391.23 41.013. 20.000 10.62 46.228 1.463 61.70 56.08 43.189 353.655.572 93. 28.T.688.467 73.668 24.398.257 11.38 51.636 1.B.484 35.407 748 714 25.072 12.268 472.276 59.000 123.20 26.368 80.17 38.596.008 26.41 42. 19.068. 17.012.868 93.652 38.069 54. Luas Panen.733 4.131 52.332 101.945 26.499 314.441 2.T.909 1.437 27.485 1.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37. 12.153 174.665 3. 11.30 36.568 134.375 7. 29. 23.238 10.800 2.689 6.345 240.97 55. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.292. 33.194 469.009 482.657 29.804 13.083 76.31 32.579 98 993.863.260 77. 3.200 1.270 36. 26.994 167.497 183.114 829.551 494.55 PRODUKSI (TON) 193.068 17. 8. 13.637.95 33.748 11.099 1.492 375.614 4.92 51. 18.09 46.30 24.640 166.235 33.437 4.91 46.760 461.535 1.049 711 679 1.874. Produktivitas.168 2.277 29.871 2. 22.118 53.556 3.940 408. 5.244. 10.868 50.306 868.707.67 56.661 6.849 27. 16.799 403.45 31.88 21.42 53.98 33. Sasaran Luas Tanam.529 123.69 27.62 54.87 24.090.844 5.059.361. 6.300.192 358.

20 1. 21.100 1.38 194.79 17.32 308.67 10.823 15. 27.500 4.400 7.87 32.000 13.000 4.47 14.397 15. 25.26 4.53 94.500 3.30 20.400 18.462 13.300 16.000 7.000 NO 1.500 158.946 13.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8.200 8.600 243.319 14. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.485 13.700 371. 26.000 17.77 24. 17.900 24. 24.900 112.156 14.67 22.400 25. 19.400 14.885 14.600 12. 3.700 35.26 14.T. 15.79 19.200 57.500 6.896 14.30 65. 29.26 18.620 13.300 6.009 13.700 723.700 47. 10. 31.413 15.000 10.900 79.600 15.200 197.000 1. 20.400 7. 5.400 9. 4.803 14.796 13. 22.900 12.312.649 13. N.000 3.400 12.530 42.60 48. 13.100 588.012 14.500 54.700 3.900 189.387 13.79 14.700 78.400 10.47 4.91 125.119 13. 30.675 15.954 13.65 1.T.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e .100 9. Produktivitas.515 15.500 5.30 557.000 231.000 8.400 135.200 2.47 5. 33.51 40.718 13.34 22.T.30 13.200 12. 9.59 802.400 549.79 10. 6.30 26.600 701.800 6.900 3.098 14.26 8.89 174.900.977 13.700 106.013 16.342 13.400 16. 12.800 30.000 17.000 42.000 26.620 13. 28.000 364. BALI & N.097. 7.300 13.757 15.937 15.48 174.800 7.800 9. Sasaran Luas Tanam.B. 14.159 13. 8. 18.123 16. 11.50 334.26 6.034 14.400 153. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121.900 10.500 11. 32.000 3.249 15.600 27.47 4.566 13.800 16.800 11. 2.700 23.700 13.250.47 10.95 221. 16.539 15.498 13.600 20. Luas Panen.900 117.500 45.87 34.600 175. 23.000 15.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7.142 19.681 9.605 4.248 2.346 6.246 9.530 20.668 597 201 80.264 25 79.228 157.617 78.079 217.015 16.649 548.613 16.075 36.743 27.557 80.375 2.411 2.067 18.372 3.100 25.950 8.612 6.889 44.781 9.760 2.756 1.608 74.406 4.019 5.741 2.187 3.445 15.392 276.387 825.000 6.802 18.743 9.147 4.046 2.234 5.949 9.076 19.684 569 191 76.441 24 75.453 150.114 74.360 206.677 15.856 522.484 15.309 34.993 26.245 76.547 2.296 1.968 17.496 2.953 24.713 8.201 6.561 42.648 9.295 2.624 1.531 70.860 3.827 5.468 2.078 3.282 14.655 263.216 785.700 14,26 13,33 14,52 10,89 13,48 14,36 10,73 14,00 11,04 10,89 13,35 12,08 16,54 15,24 11,87 13,35 16,07 14,23 14,52 14,52 13,22 14,07 12,45 12,65 12,55 12,44 12,53 14,26 18,15 14,00 9,78 12,96 15,02 13,84 12,76 12,44 11,82 11,40 12,20 13,55 14,00 9.699 24.977 13.281 4.406 3.012 8.544 9.742 27.557 628 208 102.054 29 124.805 228.839 88.250 275.843 25.487 743.253 22.227 50.804 34.701 107.732 2.858 2.490 21.955 3.674 30.977 11.695 11.907 59.706 9.090 3.402 2.300 98.100 4.882 6.804 2.456 3.742 17.884 356.747 1.100.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012
NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.955 6.099 1.374 2.079 616 3.115 1.797 5.579 1 23.615 13.495 99.531 1.141 77.774 2.680 194.620 1.245 50.494 30.073 81.812 2.074 399 1.587 1.117 5.177 1.883 1.602 26.962 2.373 501 960 34.281 661 418 819 1.198 3.095 147.980 342.600 LUAS PANEN (HA) 2.808 5.794 1.305 1.975 585 2.959 1.707 5.300 1 22.435 12.821 94.576 1.084 73.888 2.546 184.914 1.183 47.971 28.570 77.724 1.970 379 1.507 1.061 4.918 1.789 1.522 25.614 2.254 476 912 32.568 629 397 778 1.138 2.942 140.586 325.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12,67 12,13 13,28 12,11 12,08 15,32 10,87 10,14 10,26 12,12 12,17 12,36 7,29 12,63 10,14 12,39 10,69 11,21 9,26 10,48 8,02 9,45 11,75 12,02 10,14 15,38 9,00 13,89 9,12 13,51 15,02 13,44 11,90 12,21 11,51 11,67 11,75 11,44 11,98 PRODUKSI (TON) 3.556 7.031 1.734 2.393 706 4.532 1.855 5.376 1 27.184 15.600 116.874 791 93.284 2.582 229.130 1.265 53.757 26.457 81.478 1.581 358 1.771 1.275 4.986 2.751 1.370 35.574 2.055 643 1.370 43.764 748 485 896 1.328 3.457 160.870 390.000

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4.113 3.917 132 45.803 43.622 207 6.114 5.823 207 6.670 6.352 117 3.112 2.964 144 14.729 14.027 160 7.781 7.411 124 352.374 335.592 254 2.001 1.906 150 1.334 1.270 113 444.030 422.883 238 56 53 123 124.498 118.569 197 213.425 203.261 185 71.142 67.754 159 253.442 241.372 170 13.339 12.704 149 675.902 643.711 178 13.117 12.492 155 9.449 8.999 127 94.485 89.985 113 117.050 111.476 118 18.119 17.256 153 9.671 9.210 124 9.560 9.104 155 8.893 8.469 163 46.242 44.040 149 6.892 6.564 138 5.002 4.764 171 33.570 31.971 179 14.895 14.186 175 1.667 1.588 127 4.669 4.446 149 66.695 63.519 170 12.227 11.645 136 12.227 11.645 128 2.779 2.647 120 4.446 4.235 123 31.680 30.171 130 705.698 672.089 201 1.381.600 1.315.800 190 PRODUKSI (TON) 51.555 902.890 120.516 74.164 42.790 224.829 92.031 8.533.351 28.519 14.293 10.084.940 652 2.335.266 3.768.878 1.078.749 4.092.503 188.781 11.464.828 193.590 114.617 1.012.451 1.320.658 263.754 114.381 141.091 138.439 657.666 90.570 81.412 573.512 248.449 20.227 66.073 1.080.243 158.216 149.564 31.744 52.140 391.664 13.535.172 25.000.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e

557 125 19.368 89 12.112 2.489 32.667 1.355 40.177 91 19. 32.304 35. 18. 23.923 27.503 91 13. Luas Panen.975 128 76. 24.435 106 47. 7.T. 10.385 17. 11.667 1. Sasaran Luas Tanam.888 121 191.462 19.149 2.224 132.713 139.640 4.326 106 35.297 109 1.231 7.686 111 184.T.776 64.885 110 185. 16.769 16.552 95 176.958 104 30.446 4. 19.448 115 408. 27.475 100 14.386 3. PROVINSI N.359 6.450 26.822 121 94.T. ACEH D.099 113 485.638 1.897 12.422 105 25.373 95 22. 28. 12.403 134 864. 31. N. 5.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3.700 117 2.256 141 173.181 101 62.051 878 835 92 7.773 139 456.355 43.333 2. 30. BALI & N.440 1.291 2. 14.500 2.667 3.218 99 31.359 2.221 45.288 5.646 2.560 16.179 4. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N. 8.B. 17. 26.631 3.225 123 51. 9.247 107 429.564 6.668 4. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1.897 16.375 73 17.395 3.846 3.549 2.903 37.897 333 316 93 2. 21.226 110 35.720 15.949 42.944 1.435.359 666 633 93 5.923 2.495 1.155 2. 2. 4. Produktivitas. 29.154 67.179 4.462 12.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e .421 112 15.500 3. 20.498 2.385 514 489 121 5.682 1. 33.815 608 578 102 5.436 207.897 596 566 104 5.410 110 48. 25.385 2.000 196.097 34.084 105 273.897 17. 22.456 4. 3.505 6.897 1. 13. 6.744 3.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12.582 1.217 106 23.524 18.300.998 124 37.552 1. 15.590 8.

110.000 630.000 74.451.710 630.504.064.900 Kab/Kota 673. c.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64.215jt/ha.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.500 Ribu Ha 70. f. SL-PTT Kedelai (Rp 3.900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.000.230 137. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.939. c.-/Unit) 3.700.800 2.559.Tanah (Rp.000.320 292.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13.70 Ribu Ha 9.350.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.929.500 41.000 5.332.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3.000 764.75 Ribu Ha 290.651.00 Ribu ha 2.6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3.195.642.500 6.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.7 jt/LL) 3.028.000 175.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4.55 Ribu Ha 14.000 18.100 Volume Pusat 78.478.000.414.868.642.000.400 Provinsi 192.504.988.700 Jumlah 944.400 7. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.714.000 25.289.950 3.410.500 6.000 7.750 5.000 790.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.320 292.180. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.000 83. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a.064. 2012 No.550. monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e . monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.510 70.000 764.000.100 49. d.750 2. pengawalan.261.2.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64.000 49.056.727.700 38.000. e. g.600 107.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.760. d.000 8.350.000 6. SLPTT : b.000 87.350.70 Ribu Ha 33.030 137. pengawalan.700 7.800 392.868.000 160.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.749. b.950 3.000 6.550.

375 76.000 1.846.400 47.880. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a.862.500 100. e.800.000 77.625 43. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan.000 74.451.394. j.000 111.000 8.000 2.000 66.000 720.100 6. c.575 Provinsi 121.000.000.400.890.000.000 35.000 2.386.000 1.000 7.546.997.453.000 11.614.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g.500 1.400.137.590.000 7.110.105.500 63.200.000 18.250.000 3.300.400 9.125.536.549.000 90.549.135.000 10.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406. i.000 13.878.000 16.500 151. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.796.600 47.450.000 16.000 16.394. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .000 42.000 11. BLBU: b.000. Monev Perbenihan.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1.525 Jumlah 1.Pedoman Pelaksanaan Program No. Pengawalan. Monev Pemb. f.411.000 1.450.000 10 700 2.900 Kab/Kota 536.846. c. BLBU padi non hibrida (Rp 8. Bimbingan Teknis.000 600.000 1.000 15.000 7.839. Pengawalan.000 1.500 166. Apresiasi. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.937. Bantuan Sarana Pascapanen : b.000 2.000.251.000. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.909.941.414.941.451. Pembinaan.000.730.336.000 67.000 130.684.209.000 45.247.500.500 19. d. h.000 3.000 2.578.812.500 45.000 Volume Pusat 794.5 4 8 1 28 230 k.880.500 15.000 15.

c.000 20. m.000 9.500 3.000.911.000 4.295 804. Pengawalan.799 4.500 3. f.954.911.000 39.558.908 Orang 1.353. l.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1.315.129.096.000 4.500 Provinsi 154.906 Pengembangan Peramalan Serangan OPT a. 5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a.500 15.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12.015.000 2.000.000 6.200.200.000.000 18.350.000 18.Pedoman Pelaksanaan Program No. d.906 8.000 4.799 4.500 20. p.000 8.353. k.000 2.295 804.341.000. h. Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2.000 2.418.000.600.000 19.900. o.954. j.500.500 Kab/Kota 15.000 2.000 8.000 9.000.418.315.000 12. e.200. b.000 9. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e . c. g. n.600.000 9.000. i.000 8.800.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4.000 7. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan.558.129.000 Volume Pusat 16.000 15.015.800.000 7.000 Jumlah 186.000 19.500.350.058.900.000 8. b.800.000 8.000.096.000 39.000 6.

115.965.500 27.047 30.900.000 3.480. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h.899.347.779.455 5. Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j. 7 Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a.092 10.350.144.164.200 5.170.961 46.000 24.000 1.368. k.000 1.614.000 Kab/Kota 37.300. c.170.144.840.000 12.164.368.659.965.467.Pedoman Pelaksanaan Program No.532 1. d.600.900.264.922 1.000 4.000 4.061 8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a.350.991 15.000 - Jumlah 7.004 2.569. b.800 12.610.498.004 2.047 30.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e . Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Volume Pusat 7.739.000.536 512.500.946.200 2.790. b.000 10. Evaluasi.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g.507.000 3.000.600.922 3.400 15.532 1. Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3.380.507. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat 46. f.464 248.000 45. Pelaporan.491.000.464 184.000 6.000 45. c.500 7.820.813.245.000 24.000 3.000 Provinsi 26.200 7.000 9.200 16.104.900 10.400.092 10.300.000. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i.800 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 3. e.840.

Aceh Besar Kab.150 9. Labuhan Batu Kab.450 300 750 500 225 1.000 750 300 1.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 2.000 450 50 1.000 7. Tapanuli Tengah Kab.000 1. Nias Utara Kab.000 50 950 50 950 50 1.750 11.100 1.400 15. Pakpak Barat Kab. Aceh Singkil Kab. Asahan Kab.600 3. Tapanuli Selatan Kab.050 8. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab.000 750 100 300 300 500 1.400 3.500 7.000 7.500 17.800 600 600 600 1. Bener Meriah Kab.430 70 150 6.150 4. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab.250 225 225 1.800 1.000 1.150 3. Tapanuli Utara Kab.400 3.000 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 14. Bireuen Kab.000 3.000 4.430 70 450 50 575 1.000 8.175 32.650 3.000 2.000 500 500 1.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1.000 1.000 7. Labuhan Batu Selatan Kab.150 2.450 5.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1. Toba Samosir Kab. Aceh Jaya Kab.000 15.200 8.500 2.500 13.450 2. Aceh Timur Kab.450 4.500 500 1. Aceh Tenggara Kab.200 3. Nias Selatan Kab.000 1.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 ACEH Dinas Provinsi Kab.500 200 2.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1. Mandailing Natal Kab. Simeuleu Kab.200 2.500 500 1.500 10. Dairi Kab.500 750 450 900 2.500 12.000 300 200 14.500 137. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab. Langkat Kab.500 7.500 1. Aceh Barat Daya Kab.700 9. Deli Serdang Kab. Humbang Hasundutan Kab. Aceh Tengah Kab.000 100 1.430 70 500 150 2. Nias Kab.500 5.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3.500 50 950 50 150 11.750 4. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 SLPTT Padi (Ha) No. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147. Nagan Raya Kab.430 70 800 450 50 250 300 2. Tanah Karo Kab.000 7.250 3.500 750 100 600 500 2. Aceh Pidie Kab.400 10. Serdang Bedagai Kab. Aceh Tamiang Kab.000 1.550 4.900 8. Aceh Selatan Kab. Simalungun Kab. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung 82 6 25 25 25 25 25 4 2 2 4 4 2 3 19 1 2 125 - 1 - - 3 110 7 25 4 2 4 2 4 2 - 25 25 1 25 25 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e .500 49 1.150 7.000 9.150 1.500 300 1.450 300 400 750 500 1.600 12. Aceh Barat Kab.350 3.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14. Aceh Utara Kab.100 350 2. Gayo Lues Kab. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab.200 7.150 850 10.

350 250 1.000 48. Tanah Datar 10 Kab.000 10. Solok Selatan 12 Kab.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3.000 8.800 8.200 350 1.000 8.000 750 50 1.500 1.500 3.500 500 4.000 9.500 9. Sijunjung 8 Kab.000 225 300 750 500 1.850 2.000 4.500 1.150 1. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.000 4.500 7. Pesisir Selatan 7 Kab.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab.000 4.Pedoman Pelaksanaan Program No.450 4.500 180 1.500 900 500 3.155 3.200 400 1.500 9. Indragiri Hulu 4 Kab.000 600 750 1. Kampar 5 Kab.500 8.800 250 1.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e . Pasaman 6 Kab.000 240 100 500 1.750 2.500 4. Kep Mentawai 4 Kab.000 225 550 400 100 180 1.500 7. Rokan Hilir 8 Kab.400 4.950 3. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97. Rokan Hulu 9 Kab.900 9. Bengkalis 2 Kab.000 1. Indragiri Hilir 3 Kab. Padang Pariaman 5 Kab. Lima Puluh Kota 2 Kab.500 5.900 2. Agam 3 Kab.000 750 100 600 2. Pelalawan 7 Kab.900 9.100 500 1.200 300 9.200 1. Kuantan Singingi 6 Kab.000 10.200 1. Solok 9 Kab. Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.175 1. Dharmas Raya 11 Kab.500 2.

000 300 400 50 500 2.750 6.550 500 1. Bengkulu Utara 3 Kab.875 2.000 2.250 4.525 4.500 4. Bungo 3 Kab.450 2.000 11.250 750 600 3.000 300 500 3. Musi Rawas 4 Kab.300 225 400 1.200 50 2.100 500 2. Lebong 8 Kab. Sarolangun 7 Kab. Rejang Lebong 4 Kab. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58.000 3.650 3.400 100 1.000 48.100 500 550 50 500 2.000 11.700 4.200 14.000 12. Musi Banyuasin 3 Kab.300 300 1.000 7.000 600 500 2. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.250 4.400 12. Ogan Ilir 11 Kab.500 13.400 3.000 225 2.900 5. Banyuasin 8 Kab.000 3.600 8.950 2.000 16.500 2.900 4.450 6.000 13.000 3.500 550 50 500 375 500 550 1.000 300 500 500 525 1.800 1.500 3.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e . Muaro Jambi 6 Kab.300 225 400 500 1.300 300 500 600 500 2.950 15.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 20.000 10.500 1.400 100 1.100 1.000 700 50 1. Tj. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab.500 500 250 550 500 450 250 1. Ogan Komering Ulu 7 Kab. Jabung Timur 9 Kab. Batanghari 2 Kab.500 3.650 450 500 50 2.750 1.300 1.000 150 100 550 150 1.500 1. Merangin 5 Kab.400 11.000 3.900 600 20.350 9. Muko-muko 7 Kab.050 900 2.400 100 2.400 100 1. Kerinci 4 Kab. Tanjung Jabung Barat 8 Kab. Seluma 6 Kab. Muara Enim 5 Kab.100 500 2. Lahat 2 Kab.800 1.000 2.500 1. Bengkulu Selatan 2 Kab.500 6.800 150 1.500 12.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab. OKU Timur 9 Kab. Ogan Komering Ilir 6 Kab.900 100 600 2.000 300 750 250 300 550 2.400 100 2.875 3. OKU Selatan 10 Kab.000 375 600 1.125 147.400 100 2. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1. Kaur 5 Kab.000 250 1.500 8.

750 12. Lampung Tengah 4 Kab.120 1. Garut 8 Kab.470 30 2.250 260 1.750 2.000 975 600 150 970 30 1. Ciamis 5 Kab.500 100 1. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab.430 70 6.500 1.000 2. Pringsewu 12 Kab. Kuningan 11 Kab.260 375 1. Lampung Barat 2 Kab.950 17. Way Kanan 9 Kab.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e .350 11.000 300 1. Majalengka 12 Kab.250 750 5.350 1.000 14.500 1.500 18.250 1.000 12.850 21.470 30 1.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.880 1.500 2.430 70 3.750 1.250 1. Bekasi 3 Kab.000 300 1.000 17.430 70 500 750 1.000 8.000 1.430 70 7. Tanggamus 7 Kab.500 1.750 1.000 50 500 930 70 250 8.200 1.000 14. Subang 14 Kab.625 12.120 50. Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Cirebon 7 Kab. Cianjur 6 Kab.430 70 500 1.500 1. Sukabumi 15 Kab.470 30 1. Pesawaran 10 Kab.125 750 2.000 1.650 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 12.430 70 3.500 2.500 10.600 1.470 30 970 30 200 450 500 450 1.250 8.350 50 2.250 5.500 1. Mesuji 11 Kab.000 11.180 70 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.100 500 1. Lampung Timur 6 Kab. Bandung 2 Kab.250 1.000 7.000 6. Bogor 4 Kab.875 525 930 70 1.650 550 550 550 1.500 1.500 10. Lampung Utara 5 Kab.430 70 3.500 1.350 1.500 10.700 300 12. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab. Karawang 10 Kab. Indramayu 9 Kab.000 2. Purwakarta 13 Kab.430 70 2.970 30 1.430 70 1.500 975 1.000 11.500 11.275 970 30 1.000 18.500 14.500 7.000 500 930 70 2.970 30 1.625 750 970 30 300 1.000 18.500 197.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 375 500 1. Lampung Selatan 3 Kab.625 1.500 25 930 70 1.500 9.550 6.500 1. Sumedang 16 Kab.000 12.000 100 1.450 12.950 12.000 10. Tulang Bawang 8 Kab.000 6.500 1.500 19.500 975 600 100 1.000 100 930 70 5.500 12.000 11.

000 750 2. Kudus 16 Kab. Banyumas 3 Kab.500 500 480 70 3.000 1.040 1.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.100 7.000 8. Tegal 27 Kab.050 2.500 4.000 1.000 330 70 750 2.125 7.100 100 500 500 50 375 1. Demak 9 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198.000 1. Cilacap 8 Kab.000 500 500 1.000 975 5.500 430 70 1. Semarang 24 Kab.000 18.960 45. Purbalingga 21 Kab.300 450 2.000 1.000 9.625 12.500 3.500 7.750 4.000 10.700 900 5.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.600 1.500 130 70 3.000 100 500 175 450 1. Bantul 2 Kab.000 680 70 4.000 1.000 12.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4. Rembang 23 Kab.875 3.000 7. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Wonogiri 29 Kab. Kendal 14 Kab.000 3. Pati 18 Kab.000 680 70 850 1.250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab.500 1.000 50 430 70 750 430 70 2. Batang 4 Kab.625 3. Purworejo 22 Kab.500 5. Kulon Progo 4 Kab.500 5.500 10.500 430 70 525 2. Jepara 11 Kab. Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab.600 51.500 1.500 8. Boyolali 6 Kab.500 3.000 50 680 70 450 930 70 4.000 20.000 8.000 430 70 850 1. Banjarnegara 2 Kab.430 70 700 900 430 70 900 1. Klaten 15 Kab.050 2.000 9. Pemalang 20 Kab.500 6.960 1. Brebes 7 Kab.000 675 2.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5.430 70 5.500 4.500 8.300 1.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program No.000 8.000 7.000 33. Karanganyar 12 Kab.200 1.500 8. Blora 5 Kab.050 430 70 5.500 2. Sukoharjo 26 Kab. Temanggung 28 Kab.000 100 1. Grobogan 10 Kab.500 8.430 70 850 1.500 5.200 1.125 27.000 2.500 1.300 1. Magelang 17 Kab.250 3.500 6. Gunung Kidul 3 Kab.000 6. Kebumen 13 Kab.080 70 2.500 10.800 10.100 500 500 19. Pekalongan 19 Kab.150 1.500 6. Sragen 25 Kab.000 6.500 430 70 3.000 430 70 750 500 2.

250 2.000 4.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.440 1.500 2.250 200 5.750 20 1. Tuban Kab. Situbondo Kab. Kapuas Hulu Kab.500 9.250 150 500 20 8.850 121.775 900 2. Bengkayang Kab. Malang Kab. Banyuwangi Kab.500 4.000 2.000 4.500 8.500 20 825 1. Bangkalan Kab.350 20 1. Barito Selatan Kab.450 10. Katingan Kab.980 2.980 1.500 1.500 9.300 700 100 3.500 1. Landak Kab.800 600 600 600 1.000 2.800 20 1.500 16.500 5. Pulang Pisau Kab.980 2.980 1.980 500 1.000 3. Sumenep Kab.000 74.000 8.000 2. Sambas Kab.000 4.000 20 10. Mojokerto Kab.500 3.480 750 5.000 4.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62.000 500 500 500 500 1. Pasuruan Kab.000 20 1.900 5.050 12.000 6.000 15.000 1.480 980 1.480 4.875 1.480 1.450 1.500 20 450 1.000 20 2. Barito Utara Kab.000 20 1.050 20 900 7.000 6.000 20 3. Sintang Kab.300 560 20 1. Sampang Kab. Kotawaringin Timur Kab. Kubu Raya Kab.500 29.300 225 2.000 7.980 500 2. Probolinggo Kab.000 20 5.300 300 100 1.825 3.800 100 2.480 1.480 1. Pamekasan Kab.500 97.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab.675 1.450 1.000 2. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.000 12.500 2.500 5.500 3.300 900 8.500 1.980 2.500 5.350 21.800 1.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20. Sidoarjo Kab. Gresik Kab.050 6.980 980 480 2.480 5.300 1.000 6.980 4.500 4.125 500 1. Ponorogo Kab.000 4.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e . Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.980 1.500 11.050 20 975 20 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197. Lumajang Kab.480 2. Ngawi Kab.000 3.000 17.000 3.000 14.050 11. Ketapang Kab.300 750 800 1. Nganjuk Kab.050 5. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab. Lamongan Kab. Sanggau Kab.500 2. Kotawaringin Barat Kab.850 1.000 4.000 20 4.200 9. Barito Timur Kab. Trenggalek Kab.500 11.480 4.350 4.500 20 600 2.000 2.800 3.100 1.750 225 100 1.775 1.000 5. Bojonegoro Kab.000 300 2.500 8.875 2.980 3.980 4. Jember Kab.625 1.000 22.000 20 300 5.500 20 1.000 750 1.000 20 3. Seruyan Kab.500 20 4.500 4. Sekadau Kab.500 7.500 900 50 100 3.500 5.000 8.200 750 2.000 1.000 1. Kediri Kab. Kapuas Kab. Magetan Kab.500 4.000 300 3.500 3.000 700 20.980 1.500 6. Madiun Kab. Bondowoso Kab.000 200 400 300 400 500 250 1.000 20 525 1. Pontianak Kab.500 20 4.200 225 100 300 50 100 1.480 5. Jombang Kab. Sukamara Kab.700 1. Blitar Kab.000 20 450 10. Lamandau Kab.000 6. Murung Raya Kab.000 48.675 750 1.250 300 1. Melawi Kab. Pacitan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 20 1.500 2.050 20 9.480 980 2.250 150 500 900 2.875 4.450 4.000 20 1.

275 1.500 200 2. Hulu Sungai Selatan 4 Kab.770 1.100 1.000 23.100 1.000 2.000 1.000 1.100 550 550 1.525 3. Tabalong 8 Kab.650 300 2.000 10.995 250 500 300 750 1.650 1. Hulu Sungai Utara 6 Kab. Talaud 4 Kab. Minahasa 3 Kab. Minahasa Utara 7 Kab.000 8.250 1.000 840 500 1.000 3.500 1.000 125 495 1.700 1.450 1. Tapin 10 Kab.700 300 15. Minahasa Tenggara 8 Kab.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab.350 9.600 315 2.000 750 650 1.200 200 1.000 33.775 2.500 170 1.000 10.000 15. Berau 2 Kab. Tana Tidung 15 Kab.650 7.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 400 1.000 1.000 11.695 1. Penajem Paser Utr 9 Kab. Balangan 11 Kab.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e . Barito Kuala 3 Kab.950 10.200 400 1.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1.650 550 550 550 1. Bolmang Selatan 11 Kab.450 20.500 2.500 14. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137.500 1.000 8. Pasir 8 Kab.000 16. Kutai Timur 5 Kab.900 17.625 48.575 250 1.500 500 2.450 12.000 630 700 2.450 2.000 7.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 5. Bolmong Utara 9 Kab.500 3.000 7.500 600 1. Nunukan 7 Kab.000 8.000 2.000 390 70 150 2.000 500 3. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab. Malinau 6 Kab. Kep.000 400 100 1.500 900 100 500 400 100 1. Tanah Laut 9 Kab.000 2.500 2.450 2. Hulu Sungai Tengah 5 Kab. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab.125 750 1.500 4.000 4. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.100 350 900 10. Bulungan 3 Kab.000 1. Kutai Barat 4 Kab.200 4. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab.000 1. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab.950 3. Banjar 2 Kab.750 600 2. Sangihe 10 Kab.400 600 2. Kota Baru 7 Kab. Bolaang Mangondow 2 Kab.

000 73.375 19.500 7. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 1.500 10.125 900 700 1. Enrekang 6 Kab.200 250 800 300 1. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab. Banggai Kepulauan 10 Kab.500 500 1.000 29.930 70 1.500 7.000 2. Sinjai 16 Kab.250 1.100 750 300 810 750 500 500 650 1.980 300 950 70 1.000 9.000 182.000 2.500 1.025 495 900 765 1. Luwu Utara 10 Kab.000 6. Maros 11 Kab.000 4. Bone 4 Kab.500 12. Morowali 6 Kab.310 35. Jeneponto 8 Kab.000 1.000 3.550 350 1.000 1. Luwu Timur 22 Kab.430 70 2.500 3.680 70 2.500 2.500 750 900 1. Konawe 3 Kab.000 15. Kep.690 1.100 1. Tana Toraja 19 Kab.500 2. Parigi Moutong 8 Kab.430 70 2.000 1.000 7.020 2. Banggai 2 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.930 70 3.350 3.250 450 4.000 950 50 450 1. Bombana 7 Kab.650 550 550 550 1.100 1. Buol 3 Kab.000 17.400 14.250 1.500 3.000 16. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab. Konawe Utara 10 Kab.000 7.300 600 2.550 850 4. Konawe Selatan 6 Kab.000 11.000 1.800 5.500 1. Selayar 14 Kab. Kolaka Utara 9 Kab.650 1.500 11.645 2. Poso 7 Kab.500 10.450 7.000 300 375 750 375 150 350 2. Wakatobi 8 Kab.000 7.200 4.000 750 2.805 20.500 900 350 500 4. Bulukumba 5 Kab. Donggala 5 Kab.000 50 1.000 7.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab.950 5.100 1. Pangkep 12 Kab. Muna 5 Kab.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5.000 450 600 11.500 12.800 1.900 1. Bantaeng 2 Kab.430 70 3.450 20. Tojo Una-Una 9 Kab. Toli-Toli 4 Kab.950 2.000 625 73.000 300 4.250 2. Kolaka 4 Kab.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e . Luwu 9 Kab.450 4.930 70 2.950 70 1.500 1.450 2.000 1.500 500 7.250 2.930 70 1.500 5.100 550 550 1.500 1.430 70 2.000 1.500 3. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73.450 10.300 2.930 70 4.500 600 2. Barru 3 Kab.280 2.550 2.400 4. Sidenreng Rappang 15 Kab. Soppeng 17 Kab.500 12.430 70 2.310 2. Buton 2 Kab.150 150 1.000 1.000 500 8.500 800 920 70 1.000 25. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab.680 70 2.250 50 900 70 1.500 3.500 900 11. Takalar 18 Kab. Pinrang 13 Kab.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10. Gowa 7 Kab.

500 25. Maluku Tngra Barat 2 Kab.500 500 3.000 6. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab.000 1.450 5. Rote-Ndao 14 Kab.500 3.000 5.000 450 50 450 450 1.475 875 200 50 1.500 19.350 7. Nagekeo 17 Kab.500 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33.750 50 900 1.200 200 50 450 450 1.250 1.500 1.000 2. Sumbawa Barat 9 Kab.500 1. Karangasem 7 Kab.000 1.000 1. Sumba Tengah 18 Kab. Bangli 3 Kab.000 100 1. Klungkung 8 Kab.000 1.100 1.000 500 500 1.000 2.000 3.800 1.000 9.000 10.500 500 900 100 900 2.400 14. Lombok Barat 4 Kab.200 1.000 10.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e . Pulau Buru 5 Kab. Dompu 3 Kab.575 900 450 1. Sumba Barat 10 Kab. Kupang 5 Kab. Ngada 8 Kab.000 4.500 500 30. Timor Tengah Selatan 12 Kab.575 450 600 1. Badung 2 Kab. Lembata 6 Kab. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab.450 117. Belu 2 Kab. Alor 16 Kab.000 2.000 2.450 4.500 500 450 50 1.500 1.900 4. Flores Timur 4 Kab.000 4.000 3.500 1. Kepulauan Aru 6 Kab. Lombok Tengah 5 Kab.500 900 450 5.500 2.050 750 450 50 9.500 59.100 550 550 1. Seram Bag Timur 8 Kab. Bima 2 Kab.500 300 600 500 1.500 7.000 5. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab.375 2.300 1.000 1.500 50 900 100 5.650 2. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.250 750 1.000 2. Seram Bag Barat 7 Kab.000 32.500 1.350 450 1.900 300 1.000 14.400 2.450 750 300 4.300 300 250 900 400 100 1.900 450 100 900 1. Lombok Timur 6 Kab. Sikka 9 Kab. Ende 3 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 20. Jembrana 6 Kab.000 3.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab. Manggarai Timur 20 Kab.500 9.500 1.000 500 450 50 9. Manggarai Barat 15 Kab.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2. Gianyar 5 Kab.000 3.050 450 300 200 300 1.500 5.500 7. Timor Tengah Utara 13 Kab.000 4.950 5. Maluku Tengah 3 Kab.800 450 6. Sumba Barat Daya 19 Kab.275 3.200 600 600 1.000 2.000 1.500 6.800 15.000 3. Manggarai 7 Kab. Maluku Tenggara 4 Kab.850 3. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab. Sumba Timur 11 Kab.100 1. Buleleng 4 Kab.500 900 100 1.000 750 8. Buru Selatan 9 Kab.000 4.

Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab. Sarmi 12 Kab. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab. Membramo Tengah 27 Kab. Lebak 2 Kab. Waropen 20 Kab.000 150 1. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab. Keerom 13 Kab.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.500 500 850 150 11. Yahukimo 14 Kab. Puncak Jaya 9 Kab. Membramo Raya 26 Kab.500 3.000 39.975 100 450 50 500 250 1. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 1. Nduga 28 Kab. Halmahera Tengah 2 Kab. Biak Numford 2 Kab.Intan Jaya 24 Kab. Serang 4 Kab. Pegunungan Bintang 15 Kab. Halmahera Timur 4 Kab.500 500 25. Pandeglang 3 Kab.500 500 500 7. Halmahera Barat 3 Kab. Jayawijaya 4 Kab. Halmahera Utara 7 Kab. Paniai 8 Kab.000 450 5.000 2.000 1.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10.Pedoman Pelaksanaan Program No. Kepulauan Sula 5 Kab. Asmat 19 Kab. Merauke 5 Kab.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2.000 50 775 1. Mimika 6 Kab.500 41. Dogiyai 23 Kab. Puncak 29 Kab. Halmahera Selatan 6 Kab. Tolikara 16 Kab. Nabire 7 Kab.000 500 400 100 10.000 1.500 500 850 150 2.600 150 150 1.150 1.375 750 750 4.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .500 19. Mappi 18 Kab.500 44. Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab. Lanny Jaya 25 Kab.000 500 8.000 875 148. Boven Digoel 17 Kab. Jayapura 3 Kab.000 150 3.

000 1.250 1. Pohuwato 4 Kab. Fak-Fak 4 Kab.450 6.100 1. Lingga 5 Kab. Teluk Bintuni 6 Kab.025 19.300 5. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3.000 2.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.125 700 500 1.125 1.500 12.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 2.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab. Mamuju Utara 5 Kab. Raja Ampat 5 Kab. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab. Blitung Timur 5 Kab. Gorontalo 3 Kab. Mamuju 2 Kab.000 2.100 550 550 1.500 225 7.750 1.500 7.000 2.000 1.000 1.000 1.000 450 3. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab. Majene 3 Kab. Teluk Wondama 7 Kab.100 1.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e .500 3.000 1. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab. Bangka 2 Kab.500 21.250 2. Kaimana 8 Kab.000 3. Bintan 3 Kab. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 3. Sorong 2 Kab. Mamasa 4 Kab.900 5.000 1.000 5.000 1.000 5.000 1.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab.500 63. Bangka Selatan 4 Kab.500 2. Limboto 8 Kab. Belitung 3 Kab.500 750 2. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab.000 9.500 5.000 1.400 400 1.500 5. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab. Karimun 4 Kab.000 1. Bone Bolango 5 Kab.950 19. Bangka Barat 6 Kab.500 3. Boalemo 2 Kab.000 2. Manokwari 3 Kab. Natuna 2 Kab. Kep.000 450 1.750 38.400 375 500 400 375 500 200 1.450 2.150 2.

Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15.

Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

NO. 1 2 3 4 5

KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total

BOBOT 35 20 15 10 20 100

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

BAPPENAS

Nasional

Outcome/Impact Nasional

Kementerian Pertanian

Sektor/ Program

Outcome/Impact Sektor

Unit Eselon I

Program

Outcome

Unit Eselon II, UPT Pusat, Dekon/TP SKPD Provinsi

Kegiatan

Output

Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota

Kegiatan

Output

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru. b. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program. b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. 4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 20. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. c. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. dan jenis penerimaan. akun pendapatan. SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e . 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. 3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU. Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran 1. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL. kegiatan. c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker. Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a.

Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e . UNIT ESELON – I a. Kementerian Pekerjaan Umum. dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait. b. antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. (2) sumber dana. 2. f. e. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil. Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I. Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai. Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL. g. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan. 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Program 5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program. dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja). 6) Data pendukung terbaik. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan. disampaikan kepada Unit Eselon I. sarana. d. 3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. d. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL. c.

3. d. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program. f. (3) sasaran kinerja. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I. c.Pedoman Pelaksanaan Program h. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser). Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. i. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. e. b. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L).Kementan. Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni. Mengisi informasi pada Bagian I.q. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002. 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e . g. (2) Simber dana. Pinjaman Hibah Luar Negeri. Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L). KEMENTERIAN / LEMBAGA a.

Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. c. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. d. Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. 2.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. ada beberapa kemungkinan: 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. parameter non-ekonomi. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR.Kementan. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL. 2. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. maka K/L menyesuaikan RKA-KL. K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a. 3. b. KK RKA-KL. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e . RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka.

Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL). 6a. 6b. DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan. 2. Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA. 4. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 5. Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak. 6.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . 3. akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA.

02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e . DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. 4. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker). mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. 6. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23. 5. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi. 3. akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. 7. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1.

6. 2a.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e . 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. 4. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya. jika tidak terjadi perubahan DIPA. 2. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA. 3. KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker. KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1.

02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA. 2b. disampaikan kepada KPPN. 7.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. 4b. 6. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL). Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). 10. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 9a. 3. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1. 4a. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 2a. data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA. 8b. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA. 5. 8a. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.

ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN. 2b. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. disampaikan kepada KPPN. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. 3b. 3a. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. 4. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. disampaikan kepada KPPN. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 1b. 2a.

ADK POK revisi satker kantor pusat. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. 3a. 1b. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e . 4. ADK POK revisi satker daerah.. 2a. disampaikan kepada KPPN. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a. disampaikan kepada KPPN. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. 3b. 2b. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->