Pedoman Pelaksanaan Program

KATA PENGANTAR

Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value) yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha (petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha. Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor, baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan sumber daya yang ada. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab tugas pokok dan fungsi yaitu Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

i|Page

Pedoman Pelaksanaan Program

Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar pelaksanaan program dan kegiatan. Pedoman pelaksanaan program ini merupakan acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan,

Udhoro Kasih Anggoro

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

ii | P a g e

2012 3. V. Latar Belakang 1. dan Ganti Rugi PENGENDALIAN.4 Pelaporan PENUTUP i iii iv vi vii 1 1 4 6 7 8 15 16 17 19 23 24 33 34 55 II.2 Pengawasan Program.4. 55 56 63 69 71 71 72 73 74 77 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iii | P a g e . Sasaran 2. Kegiatan TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. 2012 4. Ketentuan Pidana.3 Monitoring dan Evaluasi 5. Tujuan 1.1. STRATEGI. III.1. Kegiatan dan Anggaran 5. Kegiatan dan Anggaran 5. Kebijakan PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA.2. Dasar Hukum 1. PENGAWASAN. Pengorganisasian 4. VII.2.1.3.4.5.3. Program 3. 2012 2.1 Pengendalian Program. Istilah dan Pengertian SASARAN.2. Sanksi Administratif. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program 3.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. IV.1.2. PENDAHULUAN 1. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. Pengelolaan Anggaran 4. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA. Sasaran 1. Strategi 2.3.3. Tata Hubungan Kerja 4.

Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Tabel 2 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 4 Sasaran Luas Tanam. 2012 Tabel 16 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 16 25 26 27 29 30 32 34 36 38 39 40 41 42 45 46 47 48 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iv | P a g e . Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA 2012 Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012 Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 7 Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR TABEL Tabel 1 Sasaran Luas Tanam. 2012 Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 14 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Luas Panen. Luas Panen.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 49 50 52 53 Tabel 23 Tabel 24 59 60 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan v|Page .

Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan 16 18 26 39 39 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vi | P a g e .

Produktivitas. Produktivitas. Produktivitas. Produktivitas. Evaluasi dan Pelaporan Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 84 107 111 112 113 114 115 116 117 118 123 141 142 143 144 147 148 149 150 151 153 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vii | P a g e . Luas Panen. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. dan Produksi Padi Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. Luas Panen.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Daftar Satuan Kerja di Pusat. Produktivitas. 2012 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Alur Sistem Pemantauan. 2012 Agenda Perencanaan Nasional Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. Luas Panen. Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. dan Produksi Jagung Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Produktivitas. Luas Panen. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam.

Pedoman Pelaksanaan Program Anggaran K/L Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Lampiran 22 Lampiran 23 154 159 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 161 162 163 164 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan viii | P a g e .

1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera. Demokratis. terfokus.Pedoman Pelaksanaan Program BAB I PENDAHULUAN 1. arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough). Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. berkeadilan. Dalam konteks ini. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin 1) 2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page . jangka menengah. berkelanjutan. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri. serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. Mengacu pada visi tersebut.1. dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor). yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan. dan Berkeadilan. dan berkelanjutan. bukan langkah-langkah biasa (business as usual). Maju. Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a. berwawasan lingkungan. 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job). Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b. Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah. Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang. Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif. Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth). seimbang.

Papua Barat dan Nusa Tenggara . Produktivitas. Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89. dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program. Untuk itu. g.8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian. e. perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3. Pada tahun anggaran 2012. peningkatan kapasitas usaha. h. serta optimalisasi efisiensi usaha. Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program.Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut. Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: . Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan. d. baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu).Percepatan Pembangunan Papua.2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page .Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut. diperlukan prakarsa-prakarsa baru. f. Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri.Pedoman Pelaksanaan Program c. yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I.Penguatan Penanggulangan Kemiskinan . faktor peningkatan produktivitas.

dan ubi jalar. Saat ini. sejak tahun 2011. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung. komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. Namun demikian. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. Direktorat Jenderal Hortikultura. gembili. seperti dana dekonsentrasi. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Produktivitas. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN.Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. gandum dan lain-lain. Produktivitas. garut. dana subsidi. dana tugas pembantuan. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD. yaitu padi. kacang hijau. Dalam perkembangannya. kedelai. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi. jagung. karena faktor keterbatasan yang ada. kacang tanah. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. Dalam hal ini. dan berbagai jenis lainnya. disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. dana alokasi khusus (DAK). sorgum. ubi kayu. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. jagung. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. dan kedelai. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis. Oleh karena itu. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas.

TUGAS PEMBANTUAN. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. 2) pedoman pelaksanaan kegiatan. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . DAK. dan 3) pedoman teknis. KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1. Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1.2. Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI.Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. sebagaimana telah diubah beberapa kali.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK. Produktivitas. Produktivitas. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT. Penelaahan.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page .02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK.3.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012.02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Tujuan             1. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012.

tujuan.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja. sasaran.4. meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung. Produktivitas. tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia. 1. Produktivitas. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran. Sasaran b. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. c. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. kegiatan. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. meningkatkan transparansi. kebijakan. dasar hukum. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program.

RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. 6. 2. RPJMN III Tahun 2015-2019. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan). kebijakan umum. yang memuat strategi pembangunan nasional. dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. kewilayahan dan lintas kewilayahan. 4. RPJMN II Tahun 2010-2014. 5. serta program Kementerian/Lembaga. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page . memuat prioritas pembangunan. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun.Pedoman Pelaksanaan Program 1. disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga). kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. melalui urutan pilihan. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. 3. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat.5. Produktivitas. yaitu RPJMN I tahun 2005-2009. visi. lintas Kementerian/ Lembaga.

14. 11. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. 12. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. barang. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan. Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. termasuk peralatan dan teknologi. 16. 8. 13. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). modal. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page . 15. 10. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 9.Pedoman Pelaksanaan Program 7. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran.

maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. menyimpan. baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). menatausahakan. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 23. 19. Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. 24. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait.Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. menyetorkan. dan mempertanggung jawabkan 17. 21. Tanpa indikator kinerja. 18. 22. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. 20. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . tahap pelaksanaan (on-going). Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. 25. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.

kabupaten. pemerintah negara asing. 26. 31. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. 34. 30. membayarkan. atau kota. badan/lembaga keuangan internasional. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. 33. 32. 28. 27.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 29. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. barang. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e . Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. menatausahakan. menyimpan. 35. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati.

dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. 38. dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. 43. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. sosial dan keagamaan. keluaran (output). Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis. 41. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 40. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. efisien. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan. Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). 39. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). efektivitas pelaksanaan. 42. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai.Pedoman Pelaksanaan Program 36.

47. 44. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. dan kompensasi sosial. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial. 46. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program selektif. kualitas. dan/atau penguatan kelembagaan. kelangsungan hidup. perlindungan sosial. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. seperti gaji. dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. jaminan sosial. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. 45. penyediaan aksesibilitas. menjual. penanggulangan kemiskinan dan bencana. atau mengimpor barang dan jasa. tunjangan. dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD. 48. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. 49. mengekspor. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. Pembedayaan sosial.

4. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. dan 6. 1. 5. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. dan berkelanjutan. efektif. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. 5. STRATEGI. 6. 2. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. 1. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan. sebagai berikut. 2. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. 3. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. 4. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. Dalam mewujudkan visi tersebut. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. 7. 3.

300. Luas Panen. Dalam hal ini.000 342.000 2. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi.381.000 390.655.700 325. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini. kebutuhan pakan.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e .235 24.Pedoman Pelaksanaan Program 2.55 15.20 14.98 190. Tabel 1. kacang tanah.800 196.437 1. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14.430 1. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional.312.874.250. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan.315.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53.026.000 Luas Panen (Ha) 13. Namun demikian.900.100.000.600 1. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah.556.00 117. baik kebutuhan pangan. ubi jalar.026.13 51. kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya. Selain itu.865 4.000 1. kedelai. b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan. daya saing. pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif.00 Produksi (Ton) 72.000 1.000.600 207. dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.000 25.000 785.1. dan ekspor.00 11. kacang hijau. jagung. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. dan ubi kayu.000 825.771 4. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani.500 1. Sasaran Luas Tanam.

harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah. subsidi ataupun insentif lainnya. Untuk itu. Berkaitan dengan peningkatan produksi. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. Secara harfiah. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut. Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e . DAYA SAING. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani.Pedoman Pelaksanaan Program 2. Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. (2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana. (4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH.2. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. Namun demikian. peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan.

Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. Gambar 3. Peningkatan manajemen. 2) perluasan areal tanam. 3) pengamanan produksi. Peningkatan produktivitas 2. Perluasan areal dan optimasi lahan 3. Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e . dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. maupun hilir. on-farm.

dan partisipasi. Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011. antara lain: bantuan benih/bibit unggul. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). (4) pencapaian swasembada kedelai. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014. (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan. 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.3. (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. akuntabilitas. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance. dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. alsintan. Dari 23 arah kebijakan tersebut. transparansi. efektivitas. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat.(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu. Pada prinsipnya.Pedoman Pelaksanaan Program 2. (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya. penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012. subsidi pupuk.

Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. jagung dan kedelai. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri. baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung. dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan. khususnya komoditas strategis seperti padi. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat. Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. 3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga. Dalam hal ini. Karena itu. pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah.

pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. penyakit dan organisme pengganggu. hewan.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. asal bahan hewan. baik ekspor maupun impor. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO). Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan. (3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina. hewan. Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. alih fungsi. hasil bahan asal hewan. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan. Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang. berakibat terjadinya degradasi. Pada era perdagangan bebas ini.

d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani. c) mewujudkan kemandirian. Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. perseorangan. Sanksi bagi orang. f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. dan kedaulatan pangan. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. h) mempertahankan keseimbangan ekologis. pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. ketahanan. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak.

Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan. Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e . 6) mekanisme pengadaan barang/jasa. BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4. 5) pola pengelolaan bansos. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan). 2) komponen prioritas pemberdayaan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). 4) jenis belanja. serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan.

Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). 2. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan. 4. Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan.1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. 8. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut. 5. 6.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 7. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e . Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. 3. Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi.

03. 2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan. 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI. Produktivitas. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani. dan lembaga yang mengakar di masyarakat.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2. 4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. Kode 018. penangkar benih. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e . pelaku usaha pascapanen.06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi. BPSBTPH. dan BPTPH). dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012.

Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No. 5. Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3. 1. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6. 7. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e . Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2.

000 350.235.00 17.195.50 65.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). jagung dan kedelai. sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini.498. Tabel 4.000 200.00 130. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan. Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area).680 139.245.000 190.560 10.250 1.000 285.000 542. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .104.000 1.000 332.000 2. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi. Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain..Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI.00 16.690 268.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan. BPSBTPH. Sasaran Luas Tanam.416.880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp.000.00 37.260 164.700.000 300. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).500 142. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp.000 500.000.010 25.565.899. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan). 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp..000 475. Luas Panen. 512.347. dan BPTPH).00 77. 1.781.00 Produksi (Ton) 16.-.51 13.000.350 Luas Panen (Ha) 2.455.00 250. 1.000 20.536.000 6.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64.500 19. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2.000 150.230 9.000 6.

549.000 300.478.176.802.000 5.403.000 9.010.120 246.000 4.500.600.000 230.000 2.700 22.840.060 28.500 7.847.459.000 4.300 28.049.138.700 9. 33.491. 30.436.320.056.895.783.800. 27.558.900 37.200 31.000 4.310 46.465.000 2.604.150.533. 11.817.500 11.000 3.843.850.676.020 207.055.678.759.176.007.100 36.817. 21. 1.740 34.820 47.000 2.600 13.115.494.900 9.365.880 13.186.800 21.400 14.000 750.085.910 66.676.220 50.620 1.161.500 6.825.445.000 1.405.180.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.500 3.447.693.600 1.957.100 67.000 3.221.000 1.940 12. 14.245.700 1.600 19. belanja modal.067.374.327.536 7.041.000 2.100 4.500 18.185.100 38.000 250.000 152.400 6.001.820.801.740 23.000 2.000 1.000 600.899.208.297.350 92.581.039.462.500 8.990.000 600.582.21%.000 1.300 803.480 92.000 1. 2.710 32.000 4.582.000 27.000 100.000 1.500 7.420 67.147. 32.500 3.000 12.500 11.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.000 350.278.566.350 12.420 27.187.907.000 2.900 23.500 1.160 21.800 11.987.084.242.180 3.000 4.731.000 2. 10.500 8.200 16.000 6.642.000 2. 24. 6. 18.800 10.140 14.940 5.093.155.500 1.640 53.362.113.314.498.000 61.007.067.201.500 910.916. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78.591. 4.633. 9. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.670.820 28.000 1.000 4.100 11.804. 15.152.500 2.084.900 9.659.210 21.178.600 5.609.500 550.810 1.300 20.878.561.246.500 512.900 18.543.300 11.500 16.544.600 9.000 5. 12.000 3.546.478. 29.114.000 1.926.061.000 350.455 54.404. belanja barang.738.926.395.100 18.000 698. 26. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.260.330.000 2.400 7.300 8.019.017.250.320 46.353.000 8.180 122.000 1.516.038.600 13.850 23.200 1. 2.100 12.600 16.600 1.400 15.100 6. 25.131. 3.750.300 3.621.000 2.439.160 47.016.030.000 2.600. 19.000 1.893.412.114.400.188.400 2.800 4.400 13.500 3.800 5. 28.841.715.000 2.901.680 24.249.420 163.626.100 18.000 803.900 15.000 339.000 6.023.455 82.480 385.000 3.000 250.000 1.600 5.797.100 13.000 3.288.000 100.414.492.000 1.500 4.000 400. 5.100 21.260.300.448.125.372.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.700 9.520 69.731.000 500.200 14.218.500 3.303.089.110 4.000 1.142. 16.713.483.642.130 24.625 49.805.114.000 2.051.934.814.000 474.238.588.992. 13.090.600 44.536 1.000 2.750 76.000 700.870.000 2.700 30. 22.100 200.000 500.600 10.644.450. dan belanja bantuan sosial.000 4.465.500 5.000 2.498.156.000 299.000 3.278.552.000 5. 17. 8.630 16.750.263.000 3.846.830 16.330 28. 31.700 4.000 400.000 821.628.000 3.500 14.168.560 34.400.618.587.000 1. B 1.000 2.000 1.000 385.725 34.000 4. 4.020 15.304.487.184.000 721.000 803.860 10.900 6. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .300.347.976.100 28.746.400 21.473.398.771.000 1.587. 7.260 4.700 432.500 18.000 7.480.428. 23.000 250.000 500.392.969.598. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.000 1.000 2.709.610.500 11.562. alokasi anggaran untuk belanja pegawai.489.377.567. 20.400 11.374.500 4. LOKASI DINAS A.592.580 348.000 3.800 1.410.800 47.250.500 12.600 16.104.799.000 600.030.900 14. 3.449.400 34.985. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.000 1.618.

950 1.000 1763 0 151.961 1767 3.194.534. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.775 2.919 588.030 1762 0 96.115.453.200.040 0 0 0 0 0 0 0 2.067.353.436.991 0 0 297.749.052 9.962.251.800. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.435.869 0 0 124.73% dan belanja modal 1.062.150 430.834.292.894.536.187.092 109.350 944.000 1765 0 22.000.03.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.235.991 1761 0 20.510 889.699.016.300.411. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini.436.998 1.496.532 3.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.491.628.520 175.246 588.800.650 73.900 0 7.468 3.000 90.315 1.418. 000) 018.829 36.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9. Produktivitas.735 0 0 172.000 231.600 186.000 248.000 154. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp.115.085 6.219 19.507. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas.000 3.289.129.460 36.18%.164.568 506.960 0 0 0 0 0 0 156. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp.813.000 1766 46. Tabel 6.516. belanja pegawai 1.441.668.285 53.06 Program Peningkatan Produksi.000 1768 4.002.000 1764 0 178.834.500 847.342.88%.871.000 67.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat). dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Ubinan SLPTT Padi 2. maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang. sebagai berikut: 1.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. Namun demikian. Dalam administrasi.500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. hal ini disebut dengan lex specialist. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output.Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3. Ubinan SLPTT Kedelai 14. Secara umum. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7. Namun demikian.136 unit 1.919 unit 3. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut).

5. 6. 8. 2. 11. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . 3.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. 1. 12. 13. 4. 9. 7. 10.

Produktivitas. 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan. serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian.2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e . Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana. penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program. 6) ketepatan pembentukan tim pembina. evaluasi. dan melaporkan pelaksanaan. Secara umum. monitoring dan evaluasi. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan. pengawalan. Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran. mengevaluasi. dan pelaporan.

1. Pengendalian. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III. Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e . Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina.3. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3. kinerja Program Peningkatan Produksi. Pada tahun anggaran 2012. No. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan. monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3. pengawalan. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8.3. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II.

serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. 44.850. Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida. Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp. 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. 64. hibrida dan lahan kering). 10 ha areal SLPTT padi hibrida. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani.700. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No. kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket.Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2.000.000. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e . pupuk. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. dan alsintan). dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. 25 ha areal SLPTT padi lahan kering. pembinaan manajemen kelompok. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi. 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi.600. pupuk. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih.000. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan. Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung. 3. dan alsintan). 1.-/Ha.-/Ha. dan jagung (hibrida). Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan. maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya.-/Ha. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP.

000 160.000 1.000 3.700.000 50.700. SLPTT Model Padi Hibrida .000 500.000 150.000 500.300 500 25. Padi Lahan Kering. SLPTT Model Padi Non Hibrida .000 1. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP .700.000 160.000 160.000.300 500 170.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.000 150.000 150.000 690.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping . Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA.000 3.000 500.600.000 150.000 50.000 kg 1 unit 1 paket 1. 2012 SL-PTT A.000 1.000 150.850.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.750.000 25.600 2. biaya pertemuan kelompok tani.750.750.000 10 kali 10 kali 1 buah 170.000.750.000 690.000 150.000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi. Jagung Hibrida.000 kg 1 unit 1 paket 1. SLPTT Reguler .600 2.000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1.000 50.1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.000 44.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.000 3.Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.300 500 25.600 2. .000 500.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) .000 64.000 500.000.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1. Padi Hibrida.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9.Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1.700.000 690.000. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .000 3.000 500. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e .Model Spesifik Lokasi .000 25.Bantuan SLPTT Model meliputi benih.

Pengawalan.700 Ha 33. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. padi hibrida seluas 290.000 ha.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. 10 Provinsi Pusat. pengawalan. No.651.651.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi. pemilihan benih. (2) ketepatan alokasi anggaran.700 ha. Tabel 10.000 ha. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f.700 ha. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33. pengendalian OPT hingga panen. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e . Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2. Monitoring. monitoring dan evaluasi serealia.300 Ha 500. pengaturan tanam. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14. Padi Lahan Kering g. dan Evaluasi Serealia 2.550 Ha 14. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan. Selain itu. Pangan Alternatif 3. Padi Non Hibrida b. 30 Provinsi. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d. Padi Hibrida e.000 Ha 200. 31 Provinsi. padi hibrida spesifik lokasi 9. 1.300 ha. dan jagung hibrida seluas 200.750 Ha 290.550 ha.750 ha. 26 Provinsi. 22 Provinsi. seperti pengolahan tanah. pengairan. 17 Provinsi. pemupukan. 25 Provinsi. Pembinaan. lahan kering seluas 500. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 13 Provinsi. Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c.700 Ha 9.

Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No.2. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan.3. mengevaluasi. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. pengawalan. 2. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. penyediaan dan penyaluran bantuan.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran. Tabel 11. monitoring dan evaluasi. 1.

300 1.600 2. A.000 250.000 230.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.000 250.000 200.000 500.000 13.000 1.000 500. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL.000 500.000 500.000 160.000 1.000 500 250. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan. POPT.000 230.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e .930.000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1.000 500. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No. Tabel 12.000 150. B.Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1.000 400.000 150.000 250.000 250.390.000 1. PBT dan Mantri Tani.000 160.000 200.000 500.000 3.280. Peneliti.000 540.000 80.000 250.000 500.600 2. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK.000 500 250.300 1.390.

pemupukan. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. monitoring dan evaluasi. 29 Kab/Kota 1 Provinsi. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran. 28 Provinsi. 7. 3. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam. pengembangan kedelai model seluas 2. 2 Kab/Kota 1 Provinsi. pemilihan benih. Monitoring.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT.000 Ha 2. 6. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. 5. 8. pengaturan tanam. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. 4. 4 Kab/Kota 2 Provinsi. Pengawalan.000 Ha. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. Tabel 13. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat. 175 Kab/Kota 11 Provinsi. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. pengawalan.500 Ha Lokasi 28 Provinsi. mengevaluasi. 1. pengairan. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. seperti pengolahan tanah. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan.094 Ha. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). 28 Provinsi. pengendalian OPT hingga panen. 2. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e . Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No.500 Ha. penyediaan dan penyaluran bantuan.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14. dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . No. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. pedoman teknis. pedoman teknis. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman.

ubikayu. dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah. Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a. c. Pada TA 2012. dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT. Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah. subsidi.00 persen. b.31 persen. operasional Balai Benih Induk (BBI). ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden). monitoring evaluasi BLBU. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan. dan ubijalar). pembangunan dan optimalisasi UPB. dan kedelai sebanyak 101.90 persen. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. Padi 67.50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e . serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH). Selain itu. pengawalan. pembinaan. kacang hijau. Kedelai 67. pembinaan. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani.Pedoman Pelaksanaan Program 3. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). padi lahan kering. pemberdayaan penangkar. Jagung 72. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu. dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida.3. Selain itu.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). pengawalan. (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas.3. jagung. jagung hibrida. padi hibrida. serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU. dan Cadangan Benih Nasional (CBN). Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan.

Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). subsidi. Komoditas yang difasilitasi adalah padi.05 juta Ha. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). monitoring evaluasi BLBU. (7) pembinaan. (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan. monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu. dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota. (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi.000 Ha. pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT. penangkar jagung seluas 700 ha. jagung. kekeringan. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. (8) pembinaan.500 ha. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. dan kedelai. Selain bantuan langsung benih unggul. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani.Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4. dan penangkar kedelai seluas 2. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas. pengawalan.

1.000 ton 200. 10. 230Kab/Kota Pusat. 2012 Kegiatan BLBU 2. 5.500 ton 2. Monev BLBU. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan. 8.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15. 4. 165 Kab/Kota 5 Provinsi. CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.000 ton 350. Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67. Subsidi. 9.000 ha 14. Pengawalan. 32 Provinsi.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi.700. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu. 2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan. 6. Oleh karena itu.Padi .000 ha 4. 3.500 ton 500.000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10.500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e . Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. 373 Kab/Kota 7.500 ton 300.000 ha 3. 100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck. No. 14 Kab/Kota 13 Provinsi. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan.000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2.Jagung . 11.000 ha 12.

Pembinaan. mengevaluasi. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. pendampingan.Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III. jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. Tabel 16. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII. No. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. V. IV. BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e . VII. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II.

(5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis. 204 Kab/kota Pusat. (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5.3. 1. 4. (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen. (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan.Vertical Dryer .Jagung .Kedelai . serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan. 16 Provinsi. dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan. No. (4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen. 204 Kab/Kota Pusat.Pedoman Pelaksanaan Program 3. mengevaluasi.Padi .Ubi kayu . Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu. penyediaan dan penyaluran bantuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e . 3. 2. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. 2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: . Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat.4.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 31 Provinsi. Tabel 17.

5. - - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. 1. penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e . Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No. 4. - 3. mengevaluasi. Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2.

Sumber. 5. 10. monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e . dan residu pestisida Sasaran 1. Peramalan. RK-KL Ditjen. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. pupuk. 8.168 Orang 2. 6. 1.Sarana pengendalian OPT . Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan. (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI. 2. 7. (3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT. Tabel 19. Tanaman Pangan TA.3.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI. No.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9. dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI.Operasional BPT . 11.5. 12. bimbingan teknis. 3. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI. 4. 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini. 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia.Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi.Renovasi/Bangun gudang pestisida . Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): .Pedoman Pelaksanaan Program 3.

terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. 2. Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini.Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e . sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No. Tabel 20. 3. 4. dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT. 1. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012.

dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan. Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT).3. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI.3. dan pengendalian OPT. Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan.6. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e . peramalan dan pengendalian OPT.Pedoman Pelaksanaan Program 3. umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi.8. 3.3. keuangan. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan. (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. peramalan. (2) jumlah teknologi pengamatan.7. Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun. divalidasi dan disyahkan. 3. dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT.

Tabel 21. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2. Bencana Alam. 4. 374 Kab/Kota Pusat. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program. 9. 33 Provinsi. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. 33 Provinsi. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 3. 5. 374 Kab/Kota Pusat Pusat. Monitoring Evaluasi. 6. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e . 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 33 Provinsi. 374 Kab/Kota Pusat. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7. Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut.Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3. 33 Provinsi. 1. 33 Provinsi Pusat. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No. 8. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3.

Ketepatan dukungan administrasi dan teknis . Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22. Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.Identifikasi Calon Lokasi . LM3 Uraian Titik Risiko .Pengaruh intervensi pihak luar . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e .Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 .Faktor alam . Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3.Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) .Kelayakan Proposal .Proses tender .Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. 1.Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2.

dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki. Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan. Untuk itu. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama. pengendalian dan pelaporan. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN. Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan.1. dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e . koordinasi dan teknis fungsional. BPSBTPH dan BPTPH). Dengan koordinasi ini. pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola.

sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. teknis usahatani. dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. khususnya perselisihan antar daerah. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e . efisien. Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. teknis perbenihan/perbibitan. dan berdaya saing. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi.2. 4. terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. teknis perlindungan tanaman. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut. kegiatan dan anggaran di daerah. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan.Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah. Untuk pelaksanaan program. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. panen dan pasca panen. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah.

kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. kegiatan dan anggaran. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. b. 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program. kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program. Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a. pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . 4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program.

Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e . 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja.Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 1) 3 saker di Pusat. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. dengan rincian sebagai berikut. 3) Untuk kelancaran operasional program. Pada TA 2012. 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 2) 65 satker di provinsi. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. 3) Untuk kelancaran operasional program. dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). c.

899.455 3. 1.007.084. 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi .000 152. 3.536 3.000 1.000 512. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini. I. I. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e . Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.347. 2.245.498. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1.536 1.115. Tabel 24.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23.500.500 61.BBI *) . 000.300.746.353.400.000 9.500 31.093. Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.498.846.Dinas Provinsi . 1. 2.991 2 BPTPH III.000 267.000 7.245. II.491.104.455 1. 1 2 3 4 II.-) 1. III.

perbenihan. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). 12) Pengelolaan gaji. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. penanganan bencana alam. bidang umum. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari. monitoring. 6) Penyaluran insentif Mantri Tani. 2. 5) Pembinaan. pembinaan. 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi. Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi. non hibrida peningkatan IP. subsidi dan CBN.: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. dan perlindungan tanaman pangan). tunjangan. diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. pascapanen. 2) Koordinasi. monitoring dan evaluasi BLBU. 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e . kegiatan dan anggaran. jagung. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik.pengawalan. dan hibrida spesifik lokasi). 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta. dan dukungan manajemen lainnya. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. dan kekeringan. 8) Perencanaan program. honorarium. dan kedelai. 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat. statistik dan pemberian honor petugas Simonev. 10) Evaluasi.

subsidi dan CBN). Perencanaan program. peramalan OPT dan dampak perubahan iklim. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). Pemberian insentif Mantri Tani. 3. Renovasi gudang Brigade. Dinas Pertanian Provinsi. Pembinaan. 4. dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev). dan Evaluasi. aneka kacang dan umbi. P3OPT (BPTPH). 5. Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . Balai Benih. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). kegiatan dan anggaran. THL POPT-PHP . Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. bimbingan teknologi. pengelolaan data OPT. Operasional POPT PHP. apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen. Pelaksanaan survei susut padi. Penyaluran sarana pengendalian OPT. statistik. Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. penangkaran benih. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. BLBU. Pemberdayaan PPAH. honor pengelola Satker dan Administrasi. SLHT dan SLI. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. monitoring evaluasi. pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. Pembangunan dan optimalisasi UPB.

BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Pengembangan kedelai (model).3. Ubinan SL-PTT kedelai. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). Honor pengelola Satker dan administrasi. Dalam pelaksanaannya. kegiatan dan anggaran. jagung hibrida. bukan pengawasan. padi hibrida. kedelai. fungsi. BBI. lokasi dan jenis belanja. monitoring. dan pelaporan(serealia. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). monitoring evaluasi. dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. ubi jalar. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program. ubi kayu. kegiatan. Pemberdayaan Penangkar Benih padi. pascapanen). pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. dan ubi jalar. CBN. pengawalan. kedelai. jagung.Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. subsidi. 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. padi lahan kering. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output). 2) Anggaran. penangkaran benih. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. 4. jagung. Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. dan pengeluaran). dan Dukungan manajemen dan teknisnya. ubi kayu. Pembinaan. BLBU. aneka kacang dan umbi. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . statistik (termasuk honor petugas Simonev). Perencanaan program. Evaluasi. dan kedelai. kacang tanah.

000. keputusan penetapan penyediaan barang jasa. serta kelompok masyarakat.000. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e . 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya.000. 5) Menguji. jadwal. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.000. b. efisien. 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen. transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. taat pada peraturan perundang-undangan. ekonomis. 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil.-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp. sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib. BPSBTPH dan BPTPH. 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). 100. 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK).Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi. Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a. membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN. efektif.-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).000. Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis.

Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola. TUP dan NIHIL. Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan. Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e . PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. LS. Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. Dalam melaksanakan pekerjaannya. serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa. serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. vakasi). GUP. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. UP. honor. Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai.

10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul. 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Program c. d. Direktur. 7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya. 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan. 3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek. 8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK). Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan. 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA. menyimpan. 2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran. 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. membayarkan. 1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . f. Bendahara Penerimaan Menerima. apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi. 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . menyimpan. Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). menyetorkan. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). ketepatan penjumlahan. Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. pengurangan. e.Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. perkalian. KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. alamat. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. nomor rekening dan nama bank). 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya.

Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan). dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara.4. SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 4. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya. 1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan Pidana. Sanksi Administratif. yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75. 2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e .

serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern. 3) Kegiatan Pengendalian. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul. 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. 4) Memberikan pelatihan. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. arahan serta sejenisnya. Dalam melaksanakan pengendalian intern. monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. 2) penilaian risiko. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. penyusunan anggaran. efektif dan efisien. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran. namun termasuk proses pengambilan keputusan. PENGAWASAN. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan. 5) Melakukan supervisi (orientasi. keefektifan sumber daya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. bimbingan. dan berbagai hal lainnya. akuntabel. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya. kegiatan dan anggaran. workshop atau kursus perencanaan program.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian.1. terbuka. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. Pengendalian Program. 4) Informasi dan Komunikasi. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e .

b. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja. kegiatan dan anggaran kinerja. b. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e . mempunyai aspek pelayanan masyarakat. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung.2. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. BPKP dan Bawasda.Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak. kegiatan dan anggaran tahun 2013. a. Pengawasan Program. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. pengujian. Pengawasan fungsional terhadap program. 5.

Evaluasi pelaksanaan program. termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5.3. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu. Monitoring dan Evaluasi 5. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi. d. hasil. manfaat dan dampak).Pedoman Pelaksanaan Program c. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e . Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan. c. Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. Memperjelas status jenis. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan. sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan. Membangun dasar bagi pengukuran. b. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. keluaran. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan.4. aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). aspek teknis dan anggaran. Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi. dan Kabupaten/Kota. menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim. Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. kegiatan dan anggaran ini. sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). Pelaporan hasil pelaksanaan program. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian. Evaluasi program. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi.07/2010. evaluasi dan pelaporan. sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. 5.

yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan. Laporan yang disampaikan. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. baik untuk anggaran dekonsentrasi. Laporan insidentil. triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e . Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud. Untuk itu. Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan. dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait. kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e . penataan kelembagaan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan. kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat. peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu.

Pedoman Pelaksanaan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 47 48 49 50 51 52 4. 53 54 55 56 57 5. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo. 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e

Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Mesuji 121201 Dinas Pertanian. Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. 9. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kehutanan. Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan. Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10. Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan.

213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. 13. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab. Sambas 130237 Dinas Pertanian. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. Kelautan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Peternakan. Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian. 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e . Kehutanan. Perikanan Dan Peternakan Kab. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Peternakan Dan Perikanan Kab. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. Sanggau 130306 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kab. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian.

250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian. 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. 17. 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Pertanian Dan Kehutanan Kab. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19. Peternakan Dan Perkebunan Kab. Perkebunan. Perikanan. Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e . Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. Buol 180605 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. Kehutanan.

Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. Kehutanan.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian. Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e . Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. Perkebunan. Kelautan Dan Perikanan Kab. Kehutanan. Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian. Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Lembata 241412 Dinas Pertanian. 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. Peternakan. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian . Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian. 300 301 302 303 304 305 21. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab. Kehutanan. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24.

Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kab. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. 386 387 388 30. Kehutanan. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kehutanan. 380 381 382 383 384 385 29. 389 390 391 392 393 394 31. Perkebunan. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. 355 356 357 358 359 360 361 26. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian. 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian. Perkebunan. Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. 350 351 352 353 354 25. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . Perikanan Dan Kelautan Kab. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. 373 374 375 376 377 378 379 28. Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab.

Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Peternakan. Peternakan. 32. Perkebunan. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian. Teluk Wondama Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e . 396 397 398 399 400 401 402 33. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab.

15. 19. 9. 13. Agenda Perencanaan Nasional No. 16. 14. 5. 8. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 4. 12. 6.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2. 17. 1. 2. 10. 18. 3. 7. 11.

Produsen Benih Dinas Provinsi. Tanaman Pangan TA. agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh. Sulteng. DI Yogyakarta. Div re Bulog Dinas Provinsi. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. Div re Bulog Dinas Provinsi. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. BPTPH. Koordinator PBT BPSBTPH. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. BPSBTPH. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. Sumut. Babel. 1. 1. Ka BBI. Gorontalo. Papua Barat. 3. Mei Peb. Bakorluh Dinas Provinsi. Maret April Sept. 4. Sumsel. BBI. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . Sulsel. 5. Dinas Kabupaten. BPTPH. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. NTT. Sulsel. Dinas Kabupaten. Kalsel. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. 1. Malut. BUMN. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. 3. Peb. Lampung. BPTPH. BPSBTPH. DIY. 2. I. stakeholders Dinas Provinsi. Banten. BPMPT Ka BPSBTPH. Bakorluh Dinas Provinsi. BPSBTPH. NTB) Dinas Provinsi 4. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. Jatim. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPSBTPH. Dinas Kab. 4. Sumbar. 3. V. Jateng. BBPOPT. Dinas Kabupaten. Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. Nov. 1. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2. BPTPH. Kalsel. BPTPH. III. Riau. Lampung. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. BPSBTPH. 4. No. II. Sultra. Banten. NTB. stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. Riau 2. BPTPH. Jabar. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. Jambi. Jatim. IV. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. 3. VI. 3. DIY NTB Dinas Provinsi. Maluku. stakeholders Dinas Provinsi. Sumsel. Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. 1. 2. Sumut. BBPPMBTPH. Jabar. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Peb. 1. Kaltim.

BPSBTPH Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. Okt. 14. Okt. 5. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. 8. BPTPH. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. BPSBTPH 4. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. BPTPH. 7. 12. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPTPH. BBI Dinas Provinsi.2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi. BPS Dinas Provinsi. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e . 13. BPS Dinas Provinsi. Sept. BPSBTPH Dinas Provinsi. BPTPH.BPTPH. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi.BPTPH. Nov. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA. 3. 9. BPTPH. Stakeholders Dinas Provinsi. 6. 10. BPSBTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi.Pedoman Pelaksanaan Program No.

STANDAR. PERLINDUNGAN. PENYUSUNAN NORMA. BUDIDAYA. DAN 5. PERLINDUNGAN. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. 4. 3. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. BUDIDAYA. 2. PERLINDUNGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN. PROSEDUR. BUDIDAYA. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN.

2. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. 3. SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1. 5. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. DAN 6. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. SUBDIREKTORAT KEDELAI. 2. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. 4. DAN 5. 4. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBDIREKTORAT JAGUNG. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. DAN 5. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. 4. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. DAN 5. SUBDIREKTORAT UBI KAYU. 3. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. 2. BAGIAN UMUM 4. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. SUBBAGIAN TATA USAHA. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e . BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN. SUBBAGIAN TATA USAHA. BAGIAN PERENCANAAN 2. SUBBAGIAN TATA USAHA. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. 3.

SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. 5. KEPALA BAGIAN UMUM 2. 4. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK.Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. DAN 6. SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. 2. SUBBAGIAN TATA USAHA. SUBDIREKTORAT PADI. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. DAN 6. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. SUBBAGIAN TATA USAHA. 3. SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. 2. 3. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. KEPALA BAGIAN UMUM 2. 4. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1.

142. 20. Sasaran Luas Tanam.321.68 14.256 40. 31.22 6.74 10.570 4.033 149.000 10.74 3.752 3.679 126.08 229. PROVINSI N.669 53.660 625.529 51.708 195.091 19.290 12. 25.026.55 957.550 7. 5.386 1.08 782.821 52.913.825 1.271.324 132.079 407.000 611.028 151. 6.227 47. 27.450.514 36.059 59.206 148.T. 18. 22.510 48.078 497.244 134.19 20.66 432.994 8.691 49.040 4.767. Luas Panen.538 321.084.281 221. 32.27 152.602 443.291 383. 17.255 2.24 477.693 794.T.19 78.034 475.899 54.380 38.691 437.B.703 10.399 630.936 47.250 335.235 NO 1.59 18.468.749.599 47.115 92.561.452 32.530 40.24 89.110 52.47 798.572.967.540 42.145 3.824 641.099 52. 28.771 13.014 46.746 10.950 12.365 41. 11.022.000 2. 29.129.745 39.975 1.780 708. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381. 14.978.262 40.88 169.050 3.148 1.20 2. 16.080 2.608.17 1.59 7.300.396 47.995. 24.040 634.037.310.186 49. 26. Produktivitas. 7. 19. N.472.99 457.10 134.594 62.016 85.980 877.967 1.415.194.985 859.809 924.006 17. 4.865 53.21 132.58 412.365 233.401 165.249 72. ACEH D.272 68.740 33.801 46.515 49.78 822.940 58. 9.33 60.629 56.760 408.770.65 241.88 515. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.13 PRODUKSI (TON) 1.670 529. BALI & N.07 29.528 60.039. 13.141 39.850 2.14 127. 2.426 784.257 38.893.12 209.32 1. 23.796 1.556.434 7.54 1. 10.675 2.325 46.83 13.00 410 395 50. 33.066 77. 12. 21.765 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.068.266.003 17.85 627. 3.98 164.348 28.769 33.026. 15.805 1.687.933.75 156. 30.385 1.705 3.T.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e .270 30.52 155.173 770.844 159.765 38.145 639.14 1. 8.600 509.860 46.251.333 45.669 40.95 2.510.925.610.216 62.100.366.568 115.720 50.171 6.666 50.310 67.

614 4.407 748 714 25.55 PRODUKSI (TON) 193.689 6. 28. 13.484 35.30 36.463 61.91 46.17 38.97 55.268 472.008 26.38 51.300 88.69 27.025 4.760 24.270 36. 30.42 53. 7.442 4.849 27.192 358.276 59.300.600 3.23 41.596.345 240.665 3.87 24.688.332 1.602 2. 27.363 257.096 51.497 183. Luas Panen.091 30 29 187.277 29. 24.405 31.13 55.804 13.633 968.640 166.30 24.880 712. 6.238 10.000 10.82 18.737 215.733 4.131 52. 33.799 403.437 4.083 76. 3.200 1.994 167. 9. Produktivitas.T.800 143.62 54.872 97. 31.334 45.059.636 1.654 745. 16.77 33.748 11.529 123.661 6. 26.92 51.945 26. 22.88 21.060 1.08 43.874.98 33.637.072 12.068 17.684 1.284.535 1.91 17.62 46.235 33.640 8. 10. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.49 53.652 38.77 58.572 93. Sasaran Luas Tanam.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37.09 46. BALI & N.375 7.482.657 29.909 1.668 24.997 192.368 80. 32.655.019 42.599 3.118 53.868 50.068.868 93.194 469.362 92.871 2.088 269.67 56.556 3.398. 14. 11. 4.34 39.292.099 1.090. 29.544 26.012.20 26.437 27.944 23.543 658.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .260 77.467 73.306 868. 2.228 1.591 16.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7.863.168 2.153 174.95 33.059 178. 12.09 49.940 408.910 338.80 42.B.000 123.91 39.568 134. 5.297 12. 20.441 2.499 314.27 34. 17.371.160 8. N.707. 23. 15.110 9.551 494.049 711 679 1.189 353.10 54. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.986 30.244.361. 8.T.579 98 993.000. 25.82 63.332 101.009 482.491 51.485 1.566 2.280 13.41 42.013.31 32.391.069 54.64 63.70 56.51 31.81 34. 18.T. 19.257 11.45 31. 21.760 461.000 NO 1.844 5.492 375.800 2.114 829.

20 1.900 24.400 549.500 54.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e . PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N. 20.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8. 32. 4.700 371.400 12.87 34.000 3.600 15. 17.159 13. 21.485 13.123 16.500 3.B.200 8. 18.885 14.539 15.620 13.79 17.87 32.013 16.600 701.500 45.000 17. Sasaran Luas Tanam.000 364.000 3. 22.T.600 27.51 40. 26. 19.397 15.400 10.T. N.000 10. 3.000 7.000 8.700 723. 16.30 26.48 174.300 6.30 20.400 9. 28.900 117.26 18. 25. 9.53 94.312.500 5.200 197.823 15.47 4.249 15. 8.800 16.700 23. 29.200 12. 14.30 65.000 NO 1.400 16.T.000 17.400 7. BALI & N.515 15.900 3.000 4. 12.800 30.67 22. 24.26 6.800 9.800 7. 27.600 243. 5.30 13.462 13.600 20.600 175.900 79.400 14.59 802.954 13.38 194.250.200 2.900 189. Luas Panen.700 35.300 16.400 18.67 10.700 106.77 24. 31.800 6.100 9.649 13.79 19.200 57.718 13. 10.000 13.900 10.803 14.000 1.097.566 13.000 42.47 5.675 15.119 13.26 14.700 3.91 125.413 15.47 4.60 48. 7.800 11. 23.700 47.89 174.34 22.400 7.79 14.79 10.900 112.098 14.500 11.012 14.900 12.400 25.000 231.342 13.30 557.900. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121. 6.400 153.498 13.400 135.937 15.530 42.95 221.47 10. 2.300 13.977 13.26 8.50 334.100 1.034 14.500 6. 30.620 13.796 13.000 26.896 14.700 78.500 158.100 588.26 4.700 13.500 4. 11. 33.946 13.32 308. 13.156 14.757 15.387 13.65 1. Produktivitas.600 12.000 15.47 14.319 14.009 13. 15.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7.142 19.681 9.605 4.248 2.346 6.246 9.530 20.668 597 201 80.264 25 79.228 157.617 78.079 217.015 16.649 548.613 16.075 36.743 27.557 80.375 2.411 2.067 18.372 3.100 25.950 8.612 6.889 44.781 9.760 2.756 1.608 74.406 4.019 5.741 2.187 3.445 15.392 276.387 825.000 6.802 18.743 9.147 4.046 2.234 5.949 9.076 19.684 569 191 76.441 24 75.453 150.114 74.360 206.677 15.856 522.484 15.309 34.993 26.245 76.547 2.296 1.968 17.496 2.953 24.713 8.201 6.561 42.648 9.295 2.624 1.531 70.860 3.827 5.468 2.078 3.282 14.655 263.216 785.700 14,26 13,33 14,52 10,89 13,48 14,36 10,73 14,00 11,04 10,89 13,35 12,08 16,54 15,24 11,87 13,35 16,07 14,23 14,52 14,52 13,22 14,07 12,45 12,65 12,55 12,44 12,53 14,26 18,15 14,00 9,78 12,96 15,02 13,84 12,76 12,44 11,82 11,40 12,20 13,55 14,00 9.699 24.977 13.281 4.406 3.012 8.544 9.742 27.557 628 208 102.054 29 124.805 228.839 88.250 275.843 25.487 743.253 22.227 50.804 34.701 107.732 2.858 2.490 21.955 3.674 30.977 11.695 11.907 59.706 9.090 3.402 2.300 98.100 4.882 6.804 2.456 3.742 17.884 356.747 1.100.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012
NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.955 6.099 1.374 2.079 616 3.115 1.797 5.579 1 23.615 13.495 99.531 1.141 77.774 2.680 194.620 1.245 50.494 30.073 81.812 2.074 399 1.587 1.117 5.177 1.883 1.602 26.962 2.373 501 960 34.281 661 418 819 1.198 3.095 147.980 342.600 LUAS PANEN (HA) 2.808 5.794 1.305 1.975 585 2.959 1.707 5.300 1 22.435 12.821 94.576 1.084 73.888 2.546 184.914 1.183 47.971 28.570 77.724 1.970 379 1.507 1.061 4.918 1.789 1.522 25.614 2.254 476 912 32.568 629 397 778 1.138 2.942 140.586 325.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12,67 12,13 13,28 12,11 12,08 15,32 10,87 10,14 10,26 12,12 12,17 12,36 7,29 12,63 10,14 12,39 10,69 11,21 9,26 10,48 8,02 9,45 11,75 12,02 10,14 15,38 9,00 13,89 9,12 13,51 15,02 13,44 11,90 12,21 11,51 11,67 11,75 11,44 11,98 PRODUKSI (TON) 3.556 7.031 1.734 2.393 706 4.532 1.855 5.376 1 27.184 15.600 116.874 791 93.284 2.582 229.130 1.265 53.757 26.457 81.478 1.581 358 1.771 1.275 4.986 2.751 1.370 35.574 2.055 643 1.370 43.764 748 485 896 1.328 3.457 160.870 390.000

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4.113 3.917 132 45.803 43.622 207 6.114 5.823 207 6.670 6.352 117 3.112 2.964 144 14.729 14.027 160 7.781 7.411 124 352.374 335.592 254 2.001 1.906 150 1.334 1.270 113 444.030 422.883 238 56 53 123 124.498 118.569 197 213.425 203.261 185 71.142 67.754 159 253.442 241.372 170 13.339 12.704 149 675.902 643.711 178 13.117 12.492 155 9.449 8.999 127 94.485 89.985 113 117.050 111.476 118 18.119 17.256 153 9.671 9.210 124 9.560 9.104 155 8.893 8.469 163 46.242 44.040 149 6.892 6.564 138 5.002 4.764 171 33.570 31.971 179 14.895 14.186 175 1.667 1.588 127 4.669 4.446 149 66.695 63.519 170 12.227 11.645 136 12.227 11.645 128 2.779 2.647 120 4.446 4.235 123 31.680 30.171 130 705.698 672.089 201 1.381.600 1.315.800 190 PRODUKSI (TON) 51.555 902.890 120.516 74.164 42.790 224.829 92.031 8.533.351 28.519 14.293 10.084.940 652 2.335.266 3.768.878 1.078.749 4.092.503 188.781 11.464.828 193.590 114.617 1.012.451 1.320.658 263.754 114.381 141.091 138.439 657.666 90.570 81.412 573.512 248.449 20.227 66.073 1.080.243 158.216 149.564 31.744 52.140 391.664 13.535.172 25.000.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e

385 17. 11.667 1.500 3.903 37.524 18.T. 10.557 125 19.181 101 62.291 2. ACEH D.489 32. N.897 17. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1.097 34.326 106 35. 9.403 134 864.084 105 273.154 67. 31.822 121 94. 5.256 141 173. 22.231 7. 4.T.422 105 25. 2.640 4. 19. 25. 13.149 2.505 6.498 2. Sasaran Luas Tanam.385 2.462 19.552 95 176.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3.888 121 191.944 1.297 109 1.560 16.395 3. 16.446 4.958 104 30. BALI & N.436 207.720 15.155 2.646 2.435 106 47. 23.300.051 878 835 92 7.773 139 456.495 1. Produktivitas.448 115 408.B.440 1.218 99 31.355 43. 26.638 1.304 35.355 40.949 42.410 110 48.288 5. 33. 27.475 100 14.000 196.564 6.582 1.667 1. Luas Panen.247 107 429.549 2.359 6.885 110 185.552 1.667 3. 15.686 111 184. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.897 12.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e .897 16. 8.435.815 608 578 102 5. 29.500 2.923 27. 17.T. 32.224 132. 18.897 596 566 104 5. 28. 24. 30.700 117 2. 21.776 64.450 26.221 45.846 3.682 1.217 106 23.225 123 51.386 3.998 124 37.744 3.375 73 17. 7.503 91 13.897 333 316 93 2. 20.177 91 19.368 89 12.456 4.462 12.631 3. 12.359 2.373 95 22.179 4.385 514 489 121 5.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12. 14. 6.590 8.668 4.099 113 485.333 2.179 4.769 16. 3.421 112 15.359 666 633 93 5. PROVINSI N.112 2.975 128 76.713 139.897 1.923 2.226 110 35.

642.000.180.550.000 764.559.350.710 630.350.261.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.000.510 70.600 107.500 6.000 175.000 74.70 Ribu Ha 9. c.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.000 790.000 630. d.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4.868.700 7.000 8.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.414.064.7 jt/LL) 3. SLPTT : b.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.988.642.056.950 3.000 160.195.110.064.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64.900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan.350.868. monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e . pengawalan.500 6.028. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a. c.000 764. b.929.651.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.70 Ribu Ha 33. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.230 137.100 Volume Pusat 78.750 5.939.750 2.000 7. monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.900 Kab/Kota 673. g.700.215jt/ha.000 6.760.800 2.000 18.00 Ribu ha 2.400 7.000 49.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp. 2012 No. pengawalan.800 392.289.000 25.749.504. SL-PTT Kedelai (Rp 3.55 Ribu Ha 14. f.Tanah (Rp.400 Provinsi 192.714.410.950 3.500 Ribu Ha 70.000 5.478.332.-/Unit) 3.451.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.700 38.727.100 49.550.500 41.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3.000 83.000. d.2.320 292.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.000 6.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.75 Ribu Ha 290.000.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13.504.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3.700 Jumlah 944.320 292. e. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3.000.030 137.000.000 87.

937.000 16.890.536.414.400.105.846.000 77.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1.394.000 1.000 720. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan.878.000 7.375 76.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13.000 Volume Pusat 794.578.000 2.614.846.336.000.684.500 15. Pengawalan.500 45.000 600. Bimbingan Teknis.800.000 13.625 43. d.880.000 2. Monev Perbenihan. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .000 11.000 7.000 1.000 11.300.451.250.000 16.209.575 Provinsi 121. Monev Pemb.600 47.000 10.000 67.997.200. BLBU: b.000 1.862. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan. h.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406. j. c.000.000 8. f.000 111.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 90.000 1.386.000 15. Apresiasi.500 1.500 100.941.546. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a.000 3.453.000 2.000.000 130. Pembinaan.125.000 1.135.000. BLBU padi non hibrida (Rp 8. c.880. Pengawalan.500 151.251.549.000 2.500 63.247. e.500.450.000 10 700 2.839.900 Kab/Kota 536.941. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g.000 7.000 66.400 47.000 18.000 42.000 35.812.110.5 4 8 1 28 230 k.549.400 9.000.000 74. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.000 15.525 Jumlah 1. i.796.411.450.100 6.000 3.000.730. Bantuan Sarana Pascapanen : b.137.909.451.500 19.000 45.400.000.590.000 16.394.500 166.

000 8.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4.129.200.000 Jumlah 186.315.000 18.906 Pengembangan Peramalan Serangan OPT a. b.353.000 7.000.129. o.000 19.558.000 12.000. k.000.558. f.800.000 18.418.000.954. Pengawalan.200.000 7. c.000 Volume Pusat 16.954.000 8. i.600.096.000. b.900.000 8.500 15. c.000 2.000 6.911.000 9.000 4.058. p.000 15. e.295 804.000 2.015.000 2.600.500 3.200.000 20.000 8.000 9.906 8.911.353.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12.500 3. h.295 804.800.000 9.000 19.500 20. m. Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2.096.000 4.000 4. n. 5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a.908 Orang 1.000 39.350.015.500 Provinsi 154.315. l. d. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e .900. j.418.000 6. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan.Pedoman Pelaksanaan Program No.500.000 2.799 4.500.000 8.000 39.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1.000.500 Kab/Kota 15. g.000.000.341.350.000 9.799 4.800.

464 184. k.092 10.000 4.164.000 12.347.200 7.507.961 46.350.300.739.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e .264. Pelaporan.200 5.380.400.000 24. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i.659.200 2.000 Provinsi 26. 7 Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a.047 30. Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3. b.000 45.779.498. d. c.000 3.000.000 9.500 27.922 1.092 10.000.000 Kab/Kota 37.061 8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat 46.350.467.900 10.610.813. Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j. b.300.507.614.000.820.170.569.500 7.000 10. f.840.115.965.946.991 15.000 1.840.144.532 1.164.600.047 30.400 15.899. Evaluasi.000 1.480.800 12.170.000 - Jumlah 7.491.965.000 3.790.Pedoman Pelaksanaan Program No.368.536 512.200 16.000 24.000 4.000 45.000 3.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g.900. e. c.464 248.500.104.900.004 2.245.144.455 5.000.922 3.000 6. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Volume Pusat 7. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h.004 2.600.532 1.800 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 3.368.

500 17.500 7.000 7.430 70 500 150 2.800 1.200 8.700 9.000 1.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3.500 2. Dairi Kab. Aceh Barat Kab. Humbang Hasundutan Kab.500 5.000 1.450 300 400 750 500 1.500 10. Serdang Bedagai Kab.150 1.430 70 450 50 575 1.400 10.430 70 150 6.500 49 1.500 137.500 300 1. Nias Selatan Kab. Pakpak Barat Kab.100 350 2. Tapanuli Utara Kab. Nias Utara Kab.250 225 225 1. Aceh Singkil Kab.250 3.200 2.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14.050 8. Bener Meriah Kab.450 2.000 3.500 750 100 600 500 2. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab.000 2. Deli Serdang Kab.450 4.750 11.000 4.100 1.175 32. Aceh Besar Kab. Labuhan Batu Kab. Toba Samosir Kab.150 850 10. Tanah Karo Kab.000 15.150 9.200 3.500 750 450 900 2. Asahan Kab.400 15. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung 82 6 25 25 25 25 25 4 2 2 4 4 2 3 19 1 2 125 - 1 - - 3 110 7 25 4 2 4 2 4 2 - 25 25 1 25 25 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e . Nias Kab. Aceh Tenggara Kab. Tapanuli Tengah Kab.550 4.430 70 800 450 50 250 300 2. Aceh Tamiang Kab.000 300 200 14.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 ACEH Dinas Provinsi Kab.000 100 1.000 7. Aceh Timur Kab.800 600 600 600 1.000 50 950 50 950 50 1. Mandailing Natal Kab.000 8.150 3.000 1.400 3.750 4.500 50 950 50 150 11.350 3.000 1. Aceh Pidie Kab.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1.000 9.900 8.000 450 50 1.600 3.000 4. Simeuleu Kab. Langkat Kab. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 SLPTT Padi (Ha) No.500 13. Aceh Selatan Kab.500 7.500 500 1.200 7.000 7. Bireuen Kab. Aceh Barat Daya Kab.500 1.600 12.150 4. Tapanuli Selatan Kab. Aceh Utara Kab.000 750 300 1.000 1.650 3.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1.150 2.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1. Aceh Jaya Kab.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab.000 500 500 1.500 500 1.450 300 750 500 225 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147. Labuhan Batu Selatan Kab.000 7. Aceh Tengah Kab. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab.500 12. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab. Gayo Lues Kab.400 3.450 5.500 200 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 14. Simalungun Kab. Nagan Raya Kab.000 2.000 750 100 300 300 500 1.150 7.

Rokan Hulu 9 Kab. Tanah Datar 10 Kab. Kampar 5 Kab.500 180 1.500 7.155 3.450 4.850 2.800 8.150 1.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e . Rokan Hilir 8 Kab. Kuantan Singingi 6 Kab.900 2. Lima Puluh Kota 2 Kab. Pesisir Selatan 7 Kab.950 3. Pasaman 6 Kab.200 300 9.350 250 1.000 10. Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab. Agam 3 Kab.000 9.500 3.000 8.000 4. Padang Pariaman 5 Kab.500 7.000 750 100 600 2.200 1. Dharmas Raya 11 Kab. Indragiri Hilir 3 Kab.000 240 100 500 1.500 5.900 9.100 500 1.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3.000 4.000 10.500 1. Kep Mentawai 4 Kab. Sijunjung 8 Kab. Bengkalis 2 Kab.000 1.500 4.500 8.750 2.000 4.800 250 1.500 1. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.000 48.000 600 750 1. Solok Selatan 12 Kab.000 225 300 750 500 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 9.000 225 550 400 100 180 1.175 1.000 750 50 1.500 2.900 9.400 4. Solok 9 Kab.500 900 500 3.200 350 1. Indragiri Hulu 4 Kab.200 400 1.500 9.500 500 4.000 8.200 1. Pelalawan 7 Kab. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97.

400 100 2.400 12. Ogan Komering Ilir 6 Kab.000 150 100 550 150 1.200 50 2.900 600 20.000 3.400 3.950 15.750 1. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 7. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58.800 1.000 16.300 225 400 500 1. Ogan Ilir 11 Kab.400 11. OKU Selatan 10 Kab.500 3.800 1.500 1.350 9.950 2.250 750 600 3.000 3.200 14. Musi Banyuasin 3 Kab.000 300 400 50 500 2.900 100 600 2.650 450 500 50 2.300 225 400 1. Kaur 5 Kab.650 3. Bungo 3 Kab.750 6.000 700 50 1.500 500 250 550 500 450 250 1.100 500 2.100 500 2.000 375 600 1.400 100 1.400 100 1.500 3.600 8.000 11.500 2.900 5. Muara Enim 5 Kab. Ogan Komering Ulu 7 Kab.400 100 2.000 250 1. Banyuasin 8 Kab.500 8.550 500 1. Batanghari 2 Kab.500 13. Jabung Timur 9 Kab.000 2.100 500 550 50 500 2. Lebong 8 Kab.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e . Bengkulu Utara 3 Kab. Merangin 5 Kab.500 6.400 100 1.500 1.000 10. Musi Rawas 4 Kab. Lahat 2 Kab.000 3.000 3.700 4. OKU Timur 9 Kab. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab.000 300 500 500 525 1. Muaro Jambi 6 Kab.500 12.875 2.500 4.500 1.800 150 1.000 2. Seluma 6 Kab.250 4.000 13.000 300 750 250 300 550 2.000 300 500 3.Pedoman Pelaksanaan Program No.250 4.525 4.000 48.000 12.300 300 1. Bengkulu Selatan 2 Kab.900 4.300 300 500 600 500 2.000 20.100 1.500 550 50 500 375 500 550 1. Tanjung Jabung Barat 8 Kab.450 6. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1. Sarolangun 7 Kab. Kerinci 4 Kab.125 147.875 3. Muko-muko 7 Kab.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab.300 1.000 225 2.000 11.400 100 2.000 600 500 2.050 900 2. Rejang Lebong 4 Kab.450 2. Tj.

500 100 1.000 11. Garut 8 Kab. Bandung 2 Kab.250 1. Lampung Tengah 4 Kab.625 750 970 30 300 1. Subang 14 Kab.000 12.500 11.350 11.000 2.000 17.500 1.180 70 1.000 100 1.950 17. Cianjur 6 Kab.500 14.100 500 1.430 70 3.650 1.875 525 930 70 1.500 1.500 2.350 1.430 70 3.430 70 6. Tulang Bawang 8 Kab.500 10.430 70 1.000 14. Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.350 50 2.750 1.500 12.000 975 600 150 970 30 1.500 1.000 7. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab.970 30 1.000 300 1.850 21.000 1.000 18.430 70 500 750 1. Kuningan 11 Kab.430 70 500 1.500 1. Bogor 4 Kab.600 1.950 12. Sumedang 16 Kab.625 1. Cirebon 7 Kab.500 1. Lampung Timur 6 Kab.250 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 300 1.250 260 1. Purwakarta 13 Kab.000 2.430 70 3. Bekasi 3 Kab.000 6.000 18.500 2.200 1.000 50 500 930 70 250 8. Tanggamus 7 Kab.000 500 930 70 2.275 970 30 1.430 70 2. Lampung Utara 5 Kab.700 300 12.470 30 2. Ciamis 5 Kab.000 6.500 975 600 100 1.625 12.550 6.250 8.250 1.500 1. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab.000 11. Lampung Selatan 3 Kab.500 197.350 1.000 14.000 11. Sukabumi 15 Kab. Karawang 10 Kab.450 12. Indramayu 9 Kab.000 1.650 550 550 550 1.500 10. Lampung Barat 2 Kab. Pringsewu 12 Kab.120 1.500 18.500 25 930 70 1.750 2.500 9.000 12.430 70 7.000 8.000 12.250 750 5. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.260 375 1.500 975 1.500 1.470 30 1.500 1.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e . Way Kanan 9 Kab. Mesuji 11 Kab.000 1.500 10.500 7. Majalengka 12 Kab.000 100 930 70 5.120 50.750 12.000 375 500 1.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.470 30 1.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.750 1.000 10.500 19.250 5.500 1.125 750 2.470 30 970 30 200 450 500 450 1.880 1.970 30 1. Pesawaran 10 Kab.

500 430 70 3.000 1.500 430 70 1.500 5.600 51.500 7.500 4. Rembang 23 Kab.100 100 500 500 50 375 1. Blora 5 Kab.000 100 1.000 975 5.000 750 2.200 1. Cilacap 8 Kab.000 675 2.430 70 850 1.000 680 70 850 1.000 12.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e .000 3.500 1. Kulon Progo 4 Kab.000 430 70 750 500 2. Brebes 7 Kab.500 2. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.875 3.500 130 70 3.150 1.000 50 430 70 750 430 70 2.000 430 70 850 1.750 4. Purworejo 22 Kab. Sukoharjo 26 Kab.000 6.500 4.500 6. Tegal 27 Kab.430 70 700 900 430 70 900 1.000 1.625 3.000 2.000 8.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4. Pemalang 20 Kab.125 27.000 100 500 175 450 1.500 430 70 525 2.300 1.000 1.000 20.000 9.000 1.000 50 680 70 450 930 70 4.500 1. Wonogiri 29 Kab. Semarang 24 Kab.500 6.000 9. Karanganyar 12 Kab.000 680 70 4. Batang 4 Kab.625 12. Kendal 14 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198.000 33.000 7.500 8. Gunung Kidul 3 Kab.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5. Kebumen 13 Kab. Klaten 15 Kab. Pati 18 Kab. Jepara 11 Kab.700 900 5.500 5.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.100 7.500 500 480 70 3.500 5. Banjarnegara 2 Kab.080 70 2.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 10.500 8.500 8.500 10.500 1.500 8. Purbalingga 21 Kab.050 2.300 450 2.000 7. Banyumas 3 Kab. Demak 9 Kab.250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab.250 3.430 70 5. Grobogan 10 Kab.500 6.200 1.000 500 500 1.960 45.800 10.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Boyolali 6 Kab.000 8. Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab.500 3.500 10. Bantul 2 Kab. Pekalongan 19 Kab.050 430 70 5.040 1.000 8.100 500 500 19.000 18.500 3. Kudus 16 Kab.125 7.000 6.600 1.050 2.000 1. Magelang 17 Kab. Temanggung 28 Kab.960 1.300 1. Sragen 25 Kab.000 330 70 750 2.

Malang Kab.800 3.000 20 300 5.000 300 2.250 150 500 900 2.000 6.980 2.000 20 450 10.440 1.500 5.050 20 975 20 1.000 700 20.900 5.980 4.300 1.480 5.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab. Murung Raya Kab. Madiun Kab.000 2.980 980 480 2.250 2.800 1.980 1.980 500 2.050 12.500 20 1.000 4.200 9.480 980 1.000 20 4.000 2. Sambas Kab.000 22.000 5.850 1.000 74.300 900 8.125 500 1.980 1. Bangkalan Kab. Pasuruan Kab. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab.000 20 1.800 20 1.100 1.500 97.000 7.480 1.480 750 5. Seruyan Kab. Pamekasan Kab. Sampang Kab.250 300 1.000 3.500 3.000 200 400 300 400 500 250 1.350 4.825 3. Tuban Kab. Kapuas Hulu Kab.000 500 500 500 500 1. Sintang Kab.000 3.000 6.500 2.000 4.250 200 5.050 20 9.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20.500 8.500 11.500 20 825 1.500 9.500 2. Pontianak Kab.000 4.000 2.500 900 50 100 3.300 300 100 1.500 16. Mojokerto Kab.000 6.750 20 1.000 17.200 750 2. Barito Utara Kab. Kediri Kab.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.500 2.500 4.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 20 2.500 6. Melawi Kab.000 6.775 900 2.500 20 600 2.000 20 1.480 1.500 4.000 4.500 1.000 1. Lamandau Kab.050 6.625 1. Katingan Kab. Ketapang Kab.480 4.450 4.000 1.480 980 2. Banyuwangi Kab. Ponorogo Kab. Sukamara Kab.450 1.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e . Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.700 1.300 700 100 3.775 1. Blitar Kab.500 4.350 20 1. Bondowoso Kab. Nganjuk Kab.500 7.500 9.250 150 500 20 8. Pulang Pisau Kab.500 20 450 1.050 20 900 7.750 225 100 1.000 4.500 11.500 2.300 750 800 1.000 2. Sanggau Kab.500 3. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197.450 1.000 1. Pacitan Kab. Kotawaringin Barat Kab. Bojonegoro Kab.000 2.500 5. Lumajang Kab.000 3.480 1.980 3.980 1.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62.000 300 3.500 5.000 8. Magetan Kab.875 4.450 10.675 750 1.800 600 600 600 1.000 14. Jember Kab.980 1. Barito Timur Kab. Sekadau Kab.500 29.500 5.675 1. Trenggalek Kab.980 2.800 100 2.000 20 1.480 5.980 4.500 1. Jombang Kab.980 500 1.000 4.050 5. Probolinggo Kab.000 48.480 4. Barito Selatan Kab. Sumenep Kab.500 20 4. Ngawi Kab.980 2.850 121. Kotawaringin Timur Kab.500 1.000 20 3.000 15.000 20 3.000 20 525 1. Kapuas Kab.500 20 4. Situbondo Kab.500 3.050 11. Landak Kab.300 225 2.000 12. Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.300 560 20 1.000 20 5.350 21.875 1.500 4. Lamongan Kab. Sidoarjo Kab.875 2.000 8. Gresik Kab.500 8.000 20 10.000 20 1. Bengkayang Kab.480 2.000 750 1.200 225 100 300 50 100 1. Kubu Raya Kab.

000 1.575 250 1.000 840 500 1. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab.650 300 2.450 20.650 1.500 900 100 500 400 100 1.500 600 1. Minahasa Utara 7 Kab. Minahasa Tenggara 8 Kab.700 300 15.200 4.000 15. Berau 2 Kab.695 1.000 125 495 1.625 48.650 550 550 550 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137.500 200 2. Sangihe 10 Kab.650 7. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 2.100 1.900 17. Hulu Sungai Selatan 4 Kab.600 315 2. Kota Baru 7 Kab.200 400 1.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e .000 10.000 7.450 1. Bolmang Selatan 11 Kab.500 170 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.000 400 100 1.750 600 2.100 550 550 1.500 2. Barito Kuala 3 Kab.500 400 1.000 2.500 4.950 3. Hulu Sungai Tengah 5 Kab. Bolaang Mangondow 2 Kab.125 750 1. Bolmong Utara 9 Kab.500 1.500 3. Penajem Paser Utr 9 Kab.000 630 700 2. Pasir 8 Kab.000 3.000 16.000 8. Talaud 4 Kab. Hulu Sungai Utara 6 Kab.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1.770 1. Kutai Barat 4 Kab.000 5.100 1.000 8. Kep. Tanah Laut 9 Kab. Tapin 10 Kab.995 250 500 300 750 1. Balangan 11 Kab.000 8. Tana Tidung 15 Kab.000 4.000 390 70 150 2. Banjar 2 Kab.200 200 1. Bulungan 3 Kab.000 2.000 33.350 9.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab.000 1. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab.250 1.000 1.525 3.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.000 11.000 500 3.000 1.500 14.100 350 900 10.000 7. Malinau 6 Kab.775 2.450 2.700 1. Tabalong 8 Kab. Kutai Timur 5 Kab.000 23. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.275 1. Minahasa 3 Kab.000 10.500 2.500 1.000 750 650 1.450 12. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab.500 500 2. Nunukan 7 Kab.950 10.450 2.400 600 2.

950 70 1.930 70 4.280 2.500 750 900 1. Luwu Utara 10 Kab. Bombana 7 Kab.000 11.000 6. Tojo Una-Una 9 Kab.000 450 600 11.000 750 2. Enrekang 6 Kab.980 300 950 70 1. Buol 3 Kab.500 11. Muna 5 Kab.400 14.100 750 300 810 750 500 500 650 1.000 16. Wakatobi 8 Kab. Pinrang 13 Kab.310 35.430 70 2.500 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73.200 4.000 1.500 3.500 7.450 2.000 9.930 70 1.950 2.500 2. Kolaka Utara 9 Kab.650 550 550 550 1.500 12.375 19.000 300 375 750 375 150 350 2. Pangkep 12 Kab.000 25. Selayar 14 Kab. Kolaka 4 Kab. Barru 3 Kab.250 450 4. Toli-Toli 4 Kab.650 1.250 1.000 29.300 600 2.500 3.500 10.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab.000 182.000 1.450 20.500 900 350 500 4.000 950 50 450 1. Luwu 9 Kab. Kep.500 600 2.900 1.430 70 3.000 1.430 70 2.930 70 3.500 12.400 4. Sinjai 16 Kab.000 7.800 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.310 2.350 3. Luwu Timur 22 Kab.000 625 73.805 20.100 1. Bulukumba 5 Kab.800 5. Konawe 3 Kab.500 12.430 70 2.680 70 2.100 550 550 1.250 50 900 70 1.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10.000 300 4.430 70 2.500 10.000 1.000 4.500 3.500 3.250 1. Maros 11 Kab.000 50 1.500 5.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e . Jeneponto 8 Kab.450 10.000 7. Konawe Utara 10 Kab. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab.200 250 800 300 1. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab.500 1.000 3.300 2.500 1.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab.025 495 900 765 1.500 900 11. Takalar 18 Kab.645 2.690 1.250 2.500 2.000 1.000 7. Parigi Moutong 8 Kab.500 7.000 73. Soppeng 17 Kab. Poso 7 Kab.550 2.500 1.450 4.500 500 7.000 1.930 70 2.250 2.550 850 4. Bantaeng 2 Kab.000 17.000 7.000 500 8. Konawe Selatan 6 Kab.000 1.125 900 700 1.550 350 1. Banggai 2 Kab. Bone 4 Kab. Buton 2 Kab.100 1.450 7.500 800 920 70 1. Gowa 7 Kab.950 5.000 2. Tana Toraja 19 Kab.150 150 1.000 15.500 500 1. Sidenreng Rappang 15 Kab. Morowali 6 Kab. Banggai Kepulauan 10 Kab.020 2.000 2. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 1.680 70 2.930 70 1. Donggala 5 Kab.100 1.

000 3.500 6. Gianyar 5 Kab. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab. Maluku Tngra Barat 2 Kab.000 2.500 300 600 500 1.575 900 450 1. Rote-Ndao 14 Kab.000 4.450 117.000 5.000 2.500 900 450 5. Karangasem 7 Kab.050 450 300 200 300 1. Lembata 6 Kab.300 1. Ngada 8 Kab.400 14.000 3. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab.575 450 600 1.800 15.500 3.000 450 50 450 450 1. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab.350 450 1.100 1.000 10.450 750 300 4.500 500 3.500 1.000 6. Alor 16 Kab.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2.000 4.500 2.050 750 450 50 9. Buleleng 4 Kab.500 7. Manggarai Timur 20 Kab.275 3.375 2.350 7.000 500 450 50 9. Jembrana 6 Kab.500 1. Sumba Barat 10 Kab.400 2. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33.500 1.500 1.000 2. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab.500 1.500 7. Buru Selatan 9 Kab.750 50 900 1.200 600 600 1.800 450 6.000 4.300 300 250 900 400 100 1.000 14. Lombok Barat 4 Kab.000 32.000 5.000 500 500 1.500 5.000 1.000 3.000 9. Belu 2 Kab. Ende 3 Kab.000 3.000 1. Timor Tengah Selatan 12 Kab.900 4.500 20.250 1.500 19.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab.950 5. Kupang 5 Kab. Sikka 9 Kab. Timor Tengah Utara 13 Kab.650 2. Klungkung 8 Kab.500 500 900 100 900 2.450 5.250 750 1.Pedoman Pelaksanaan Program No. Nagekeo 17 Kab.100 550 550 1.000 1.000 2. Dompu 3 Kab.900 300 1.500 500 450 50 1.500 9. Bangli 3 Kab.500 1.500 25.200 1.000 100 1.475 875 200 50 1. Kepulauan Aru 6 Kab. Badung 2 Kab. Seram Bag Timur 8 Kab. Bima 2 Kab.000 1. Pulau Buru 5 Kab.500 59.500 50 900 100 5.500 500 30. Lombok Tengah 5 Kab.100 1.000 1.000 4.500 900 100 1. Manggarai Barat 15 Kab. Maluku Tengah 3 Kab. Sumba Tengah 18 Kab. Flores Timur 4 Kab.000 2. Sumba Barat Daya 19 Kab. Sumbawa Barat 9 Kab.200 200 50 450 450 1. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.900 450 100 900 1. Seram Bag Barat 7 Kab. Manggarai 7 Kab.500 1.450 4.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e . Sumba Timur 11 Kab.000 750 8. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab.800 1. Maluku Tenggara 4 Kab.000 2. Lombok Timur 6 Kab.000 10.000 3.000 1.850 3.

000 39.500 3.000 150 3. Yahukimo 14 Kab. Biak Numford 2 Kab.600 150 150 1.000 2. Serang 4 Kab. Lebak 2 Kab. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab. Jayawijaya 4 Kab. Membramo Raya 26 Kab.Intan Jaya 24 Kab.500 19. Sarmi 12 Kab.000 875 148. Kepulauan Sula 5 Kab.000 500 8. Halmahera Tengah 2 Kab. Lanny Jaya 25 Kab.500 500 850 150 11. Keerom 13 Kab. Puncak Jaya 9 Kab.000 1. Jayapura 3 Kab. Halmahera Barat 3 Kab. Halmahera Selatan 6 Kab. Nduga 28 Kab. Pandeglang 3 Kab. Membramo Tengah 27 Kab. Tolikara 16 Kab. Paniai 8 Kab.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .000 50 775 1. Puncak 29 Kab.000 1. Merauke 5 Kab.150 1. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab. Boven Digoel 17 Kab. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Waropen 20 Kab.500 500 850 150 2.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2.000 500 400 100 10. Halmahera Timur 4 Kab.500 500 500 7.500 500 25.Pedoman Pelaksanaan Program No. Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab.500 44.000 450 5. Mappi 18 Kab.000 150 1.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab. Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab. Halmahera Utara 7 Kab.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Nabire 7 Kab. Pegunungan Bintang 15 Kab.500 41.000 1.975 100 450 50 500 250 1.375 750 750 4. Dogiyai 23 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10. Asmat 19 Kab. Mimika 6 Kab.

100 1.150 2. Pohuwato 4 Kab.000 450 3. Bangka Selatan 4 Kab.250 2.100 1.000 3.125 700 500 1.500 225 7. Belitung 3 Kab. Mamasa 4 Kab. Majene 3 Kab. Kaimana 8 Kab. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab. Teluk Wondama 7 Kab.000 1.000 5.000 2.000 1.000 1. Lingga 5 Kab. Limboto 8 Kab.000 1.000 9.500 3.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e .300 5.000 2. Mamuju Utara 5 Kab. Kep. Teluk Bintuni 6 Kab. Blitung Timur 5 Kab. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3.000 2.900 5.000 1.000 2.500 21.000 1.500 5.500 2. Bintan 3 Kab. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab.250 1. Manokwari 3 Kab. Fak-Fak 4 Kab.750 1.000 1.500 63.950 19.500 12. Sorong 2 Kab.000 450 1.400 400 1.125 1. Karimun 4 Kab.400 375 500 400 375 500 200 1. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab.000 3.000 2.000 1. Bangka Barat 6 Kab. Boalemo 2 Kab. Mamuju 2 Kab.450 2.000 5.750 38. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.450 6. Natuna 2 Kab. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab. Raja Ampat 5 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab.500 3. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.500 5.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Bangka 2 Kab.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2.100 550 550 1.025 19.500 7.500 750 2. Bone Bolango 5 Kab. Gorontalo 3 Kab.000 1.

Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16. Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

NO. 1 2 3 4 5

KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total

BOBOT 35 20 15 10 20 100

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

BAPPENAS

Nasional

Outcome/Impact Nasional

Kementerian Pertanian

Sektor/ Program

Outcome/Impact Sektor

Unit Eselon I

Program

Outcome

Unit Eselon II, UPT Pusat, Dekon/TP SKPD Provinsi

Kegiatan

Output

Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota

Kegiatan

Output

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara. kegiatan. 2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e . Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran 1. 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG. c. SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. b. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 20. akun pendapatan. Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program. 3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU. 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru. dan jenis penerimaan. c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan. b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. 4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output. Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang.

3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL. antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. UNIT ESELON – I a. 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait. 6) Data pendukung terbaik. g. 2. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran. f. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program. e. c. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e . Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL. sarana. dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. d.Pedoman Pelaksanaan Program 5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai. d. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. (2) sumber dana. Kementerian Pekerjaan Umum. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil. Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I. disampaikan kepada Unit Eselon I. b. dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja).

d. f. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. Pinjaman Hibah Luar Negeri. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. i.Kementan. c. b. dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser). Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. (2) Simber dana. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . e. KEMENTERIAN / LEMBAGA a.q. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002. (3) sasaran kinerja. 3. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c. g. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. Mengisi informasi pada Bagian I. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e . Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L). Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis.Pedoman Pelaksanaan Program h. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L). 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab. 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni.

Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR.Kementan. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. 3. ada beberapa kemungkinan: 1. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka. dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. parameter non-ekonomi. c. Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. b. KK RKA-KL. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. d. 2. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a. Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. 2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e . maka K/L menyesuaikan RKA-KL. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21.

SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN. 4. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . 3. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak. 2. 6.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. 5. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA. DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA. 6b. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan. 6a. Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA. Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL).

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. 4. mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. 5. 7. 6. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. 3. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e . KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker). KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. 2.

KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA. Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1. 5. KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker. 4. 6. 3. 2. 2a. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK. KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. jika tidak terjadi perubahan DIPA. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e .

4b. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL). 7. 8a.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. 3. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA. data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA. disampaikan kepada KPPN. data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). 2a. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. 9a. Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA. 5. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA. 10. 6. 4a. 2b. 8b. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.

1b. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. 3b.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . disampaikan kepada KPPN. 2a. disampaikan kepada KPPN. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. 3a. Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 4. 2b.

02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 3b. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN. disampaikan kepada KPPN. 4.. 2b. 2a. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama. ADK POK revisi satker kantor pusat. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. 3a. 1b. ADK POK revisi satker daerah. disampaikan kepada KPPN. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful