Pedoman Pelaksanaan Program

KATA PENGANTAR

Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian dan ekonomi yang sangat penting dan strategis, karena subsektor tanaman pangan merupakan salah satu subsektor bagi pemenuhan pangan bagi rakyat Indonesia, merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, dan sekaligus sebagai sumber pendapatan bagi bangsa Indonesia. Dibalik nilai (value) yang penting dan strategis tersebut, subsektor tanaman pangan juga merupakan salah satu pusat kemiskinan di Indonesia. Pengusahaan lahan yang sangat sempit dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi faktor penyebab kemiskinan bagi pelaku usaha (petani) tanaman pangan. Sementara itu, disisi lain, pelaku usaha (petani) tanaman pangan dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan indeks pertanaman. Tuntutan tersebut sering kali terbentur pada ketidakberdayaan petani dalam menerapkan (mengadopsi) teknologi karena keterbatasan modal usaha. Menyadari begitu rumit permasalahan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan maka upaya keterpaduan dan penyelarasan antar sektor/subsektor, baik di Pusat dan Daerah. Pada tahun 2012, untuk menetapkan pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian sebagai sasaran strategis meliputi a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan, b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan, c) mewujudkan peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani. Orientasi peningkatan produksi dan peningkatan pendapatan dilakukan secara bersamaan untuk memberikan rasa keadilan bagi petani. Pemberdayaan petani dengan memberikan berbagai instrumen bantuan/subsidi maupun insentif lainnya menjadi prioritas pemerintah. Untuk itu, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melakukan penguatan strategi sebagai respon terhadap perubahan lingkungan dan keterbatasan sumber daya yang ada. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan adalah 1) peningkatan produktivitas, 2) perluasan areal dan optimasi lahan, 3) penurunan konsumsi beras dan diversifikasi pangan, serta perbaikan manajemen. Implementasi pencapaian produksi ini melibatkan semua stakeholder. Dalam konteks tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 1 program sebagai wilayah tanggung jawab tugas pokok dan fungsi yaitu Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

i|Page

Pedoman Pelaksanaan Program

Dalam mengoptimalkan kinerja dan mendorong akuntabilitas kinerja Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, maka Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menerbitkan pedoman pelaksanaan program, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan pedoman pelaksanaan teknis, sebagai acuan atau dasar pelaksanaan program dan kegiatan. Pedoman pelaksanaan program ini merupakan acuan yang bersifat umum bagi penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Sebaik apapun pedoman pelaksanaan yang diterbitkan, namun jika tidak ditaati dan dilaksanakan dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hasil pencapaian program tidak tepat dari ukuran yang ditetapkan. Komitmen dan konsistensi menjadi dua pilar yang perlu ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan proses pembangunan yang telah ditetapkan sehingga proses pembangunan tanaman pangan dapat terlaksana secara berkelanjutan (sustainable). Berbagai masukan menjadi sangat penting agar pedoman pelaksanaan program ini menjadi lebih baik.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan,

Udhoro Kasih Anggoro

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

ii | P a g e

STRATEGI. 2012 3.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. Tata Hubungan Kerja 4. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program 3.1.2. 55 56 63 69 71 71 72 73 74 77 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iii | P a g e .3.1. PENGAWASAN.1. PENDAHULUAN 1.1 Pengendalian Program. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. V.2. Sanksi Administratif.3. Sasaran 2.3 Monitoring dan Evaluasi 5.1. Kegiatan dan Anggaran 5. Kegiatan TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. Ketentuan Pidana. Program 3. Sasaran 1. Latar Belakang 1. Pengelolaan Anggaran 4. III. Istilah dan Pengertian SASARAN.4. Kegiatan dan Anggaran 5. 2012 2.2 Pengawasan Program. Pengorganisasian 4. IV.2. Tujuan 1. VII.3.3. Strategi 2. Dasar Hukum 1.4 Pelaporan PENUTUP i iii iv vi vii 1 1 4 6 7 8 15 16 17 19 23 24 33 34 55 II. 2012 4. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA.4. Kebijakan PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA. dan Ganti Rugi PENGENDALIAN.2.5.

Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan LokasiPengembangan Melalui APBN TA 2012 Tabel 5 Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012 Tabel 10 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Tabel 11 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 Tabel 12 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai Tabel 13 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 14 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Tabel 15 Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. Luas Panen.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR TABEL Tabel 1 Sasaran Luas Tanam. 2012 Tabel 16 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 17 Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 18 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 16 25 26 27 29 30 32 34 36 38 39 40 41 42 45 46 47 48 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan iv | P a g e . Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Tabel 2 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 3 Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 4 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. 2012 Tabel 6 Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/KegiatanDirektorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 7 Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 8 Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tabel 9 Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA.

Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 49 50 52 53 Tabel 23 Tabel 24 59 60 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan v|Page .

Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan 16 18 26 39 39 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vi | P a g e .

2012 Agenda Perencanaan Nasional Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sasaran Luas Tanam. Produktivitas.Pedoman Pelaksanaan Program DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Daftar Satuan Kerja di Pusat. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. 2012 Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Alur Sistem Pemantauan. dan Produksi Padi Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Produktivitas. Produktivitas. Evaluasi dan Pelaporan Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran Kementerian/Lembaga Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi 84 107 111 112 113 114 115 116 117 118 123 141 142 143 144 147 148 149 150 151 153 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan vii | P a g e . Luas Panen. Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. Produktivitas. dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. Luas Panen. Luas Panen. Luas Panen. Luas Panen. dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. dan Produksi Jagung Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam. Luas Panen. Produktivitas. Produktivitas. dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012 Sasaran Luas Tanam.

Pedoman Pelaksanaan Program Anggaran K/L Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Lampiran 22 Lampiran 23 154 159 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Lampiran 27 161 162 163 164 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan viii | P a g e .

terfokus. Untuk mendukung pencapaian visi Indonesia Tahun 2014 maka perlu dilakukan suatu proses perencanaan pembangunan nasional yang terarah. Adil dan Makmur dengan membagi kedalam 4 (empat) tahapan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). seimbang. Sistem perencanaan pembangunan nasional merupakan satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang. arahan pokok dan strategis Presiden Republik Indonesia agar melakukan langkah-langkah terobosan (breakthrough).Pedoman Pelaksanaan Program BAB I PENDAHULUAN 1. serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. Sasaran yang perlu dicapai pada prioritas nasional dimaksud adalah: a. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mewujudkan tujuan bernegara sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. Ketahanan pangan merupakan salah satu program pembangunan dengan status prioritas nasional. Mengacu pada visi tersebut.2) Pembangunan dimaksud dijalankan berlandaskan 4 jalur strategi pembangunan yaitu 1) mendorong pertumbuhan (pro-growth). dan 4) mendorong pelestarian lingkungan yang ramah (pro-environment). Visi Indonesia sampai tahun 2025 adalah Indonesia yang Mandiri.1) Visi Indonesia Tahun 2014 adalah Indonesia yang Sejahtera. dan Berkeadilan. berkeadilan. dan berkelanjutan. 2) memperluas kesempatan kerja (pro-job). berwawasan lingkungan. Terpeliharanya dan meningkatnya pencapaian swasembada bahan pangan pokok b. berkelanjutan. Berkelanjutan dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2014 Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif. bukan langkah-langkah biasa (business as usual). Maju. dan tahunan yang dapat dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. yang berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan. Terjaminnya penyaluran subsidi pangan bagi masyarakat miskin 1) 2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 1|Page .1. Proses perencanaan pembangunan nasional dilakukan dalam suatu sistem. 3) menanggulangi kemiskinan (pro-poor). Demokratis. Dalam konteks ini. jangka menengah.

diperlukan prakarsa-prakarsa baru. d.2 persen Tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) diatas 105 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 110. Program ini difokuskan pada penguatan aspek ketersediaan pangan bersumber dari produksi dalam negeri.Pedoman Pelaksanaan Program c. baik dalam kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu). h. Penuangan arah dan kebijakan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan tanaman pangan dikonsolidasikan dalam berbagai rancangan program. Untuk itu. Produktivitas. Pembangunan tanaman pangan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha tanaman pangan yang mampu menghasilkan produk mulai dari hulu sampai hilir. peningkatan kapasitas usaha. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki satu program yakni Program Peningkatan Produksi.Penguatan Penanggulangan Kemiskinan . Kementerian Pertanian memiliki 12 (dua belas) program. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. faktor peningkatan produktivitas. e. dimana setiap unit eselon I melaksanakan 1 (satu) program. Selain dari sasaran prioritas nasional tersebut.8 Terlindunginya dan meningkatnya lahan pertanian pangan Terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumber daya air dan irigasi Meningkatnya PDB sektor pertanian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 2|Page . Prakarsa-prakarsa baru yang dimaksudkan sebagai pengungkit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat meliputi: . Terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri Meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi sekitar 89. Papua Barat dan Nusa Tenggara .Peningkatan langkah-langkah dalam rakyat dalam rangka mencapai ketahanan pangan dimana surplus 10 juta ton beras per tahun. f. Pada tahun anggaran 2012. perikanan dan kehutanan dengan pertumbuhan 3.Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) . serta optimalisasi efisiensi usaha.Percepatan Pembangunan Papua. nilai tambah dan daya saing menjadi indikator penting dalam mewujudkan kedua orientasi tersebut. yang dilaksanakan oleh 12 unit eselon I. g. Pembangunan tanaman pangan berorientasi pada peningkatan produksi (ketersediaan) dan peningkatan pendapatan.

Oleh karena itu. sejak tahun 2011. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012. dana subsidi. Dalam perkembangannya. dan kedelai. Produktivitas. Dengan memperhatikan komitmen tersebut. ubi kayu. garut. arah dan kebijakan Program Peningkatan Produksi. Komoditi ini merupakan komoditi utama dan unggulan bagi kebutuhan pangan pokok nasional. kacang tanah. Dalam hal ini. Pedoman pelaksanaan program ini akan diperkuat oleh pedoman pelaksanaan kegiatan dan pedoman teknis. Pengembangan ketujuh komoditi tanaman pangan diimplementasikan dalam berbagai jenis kegiatan yang saling terkait dan saling mendukung.310/9/2006 tentang Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Dalam melaksanakan pengembangan komoditi tersebut. dan berbagai jenis lainnya. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 3|Page . seperti dana dekonsentrasi. sorgum. karena faktor keterbatasan yang ada. Saat ini. gembili. dimana Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki 36 komoditi tanaman pangan sebagai tanggung jawab binaan. gandum dan lain-lain. dana alokasi khusus (DAK). dana tugas pembantuan. Namun demikian. disusunlah Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. proses penetapan dan tahapan pelaksanaan program. kedelai. jagung. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan diprioritaskan pada: 1) Komoditi utama dan unggulan nasional. yaitu padi. Komoditi ini sebagai substitusi maupun komplemen dari komoditas utama dan unggulan nasional. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memantapkan berbagai peraturan perundangundangan dan memberikan berbagai instrumen anggaran yang diperlukan melalui APBN. jagung. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/Kpts/PD.Pedoman Pelaksanaan Program Subsektor tanaman pangan memiliki keragaman komoditas yang cukup banyak untuk dapat ditumbuhkembangkan. dan ubi jalar. ketiga komoditi tersebut merupakan gambaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kacang hijau. dan Direktorat Jenderal Perkebunan. kegiatan dan anggaran dapat didokumentasikan dalam bentuk yang akuntabel. Produktivitas. pedoman pelaksanaan program perlu disusun sebagai salah satu wujud nyata dari akuntabilitas. 2) Komoditi alternatif/unggulan daerah (lokal) seperti talas. Direktorat Jenderal Hortikultura. komoditi yang menjadi skala prioritas difokuskan pada padi. Perencanaan kinerja seharusnya dilaksanakan melalui penyusunan pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis untuk memberikan gambaran proses pelaksanaan kinerja secara baik dan sistematis.

2. dan 3) pedoman teknis. KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN (RENSTRA – RKT – PK) PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM. Penyusunan pedoman tersebut mengacu pada peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 4|Page . KEGIATAN DAN ANGGARAN KEMENTAN PEDOMAN PENGELOLAAN JENIS ALOKASI DANA (DANA DEKONSENTRASI. TUGAS PEMBANTUAN. 2) pedoman pelaksanaan kegiatan. Hubungan Perencanaan Kinerja dan Pedoman Pelaksanaan 1. DAK. EVALUASI DAN PELAPORAN KINERJA DAN KEUANGAN DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM.Pedoman Pelaksanaan Program DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN (RPJP – RPJM – RKP) DOKUMEN PERENCANAAN PROGRAM. DLL) PEDOMAN PENGELOLAAN BANTUAN SOSIAL PEDOMAN PENGELOLAAN ADMINISTRASI KEUANGAN PEDOMAN PENGENDALIAN. Dasar Hukum Penyusunan Pedoman Pelaksanaan merupakan suatu tuntutan yang wajib harus dilakukan dalam membangun akuntabilitas kinerja. KEGIATAN DAN ANGGARAN DITJEN TP (RENSTRA – RKT – PK – DIPA/RKA-KL/POK) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN TANAMAN PANGAN PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN MASING-MASING ESELON II PEDOMAN TEKNIS TERUTAMA ATURAN TEKNIS PENGELOLAAN BANTUAN YANG DIALOKASIKAN KEPADA PETANI/LEMBAGA/UNIT KERJA PEMERINTAH Gambar 1. Pedoman yang disusun terdiri dari tiga (3) jenis yaitu 1) pedoman pelaksanaan program.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah junto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN.Pedoman Pelaksanaan Program      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah (RKA-KL). Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. sebagaimana telah diubah beberapa kali. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. junto Peraturan Presiden               Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 5|Page . Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Produktivitas.Pedoman Pelaksanaan Program Nomor 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012.140/12/2011 tentang Penugasan Kepada Bupati/Walikota Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Tugas Pembantuan Kabupaten/Kota Tahun 2012. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 bertujuan untuk: a.02/2011 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2012. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 6|Page . Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2012. Produktivitas. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 95/Permentan/OT.3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 97/Permentan/OT. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 59/KMK. memberikan acuan dalam melaksanakan Program Peningkatan Produksi. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.06/2005 tentang Sistem Akuntansi dan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah junto Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) TA 2012.02/2011 Tentang Pagu Anggaran Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2012.02/2011 tentang Klasifikasi Anggaran. Tujuan             1.02/2011 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) dan Penyusunan.140/12/2011 tentang Pelimpahan Kepada Gubernur Dalam Pengelolaan Kegiatan dan Tanggung Jawab Dana Dekonsentrasi Provinsi Tahun 2012. Penelaahan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 215/KMK.

4.Pedoman Pelaksanaan Program Swasembada Berkelanjutan sesuai dengan kegiatan-kegiatan skala prioritas. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada BerkelanjutanTA 2012 disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Menguraikan latar belakang. Produktivitas. dasar hukum. c. meningkatkan transparansi. 1. tujuan. sasaran. kegiatan dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab VI Penutup Pedoman pelaksanaan program ini dilengkapi dengan beberapa lampiran penting sebagai referensi dalam penyusunan pedoman pelaksanaan kegiatan atau pedoman teknis kegiatan. Sasaran b. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 7|Page . dan anggaran lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab V Menguraikan pengendalian. kegiatan. efisien dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku oleh penyelenggara pemerintahan yang melaksanakan program dimaksud dan penerima manfaat langsung. kegiatan dan anggaran baik antar sektor/subsektor maupun antara pusat dan daerah. kebijakan. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 adalah terlaksananya kegiatan-kegiatan secara efektif. evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program. Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan serta anggaran yang tersedia. kegiatan dan anggaran melalui pemantapan pengendalian (monitoring) dan evaluasi serta pelaporan kinerja. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program. istilah dan pengertian Bab II Menguraikan sasaran. meningkatkan koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program. Produktivitas. Sasaran penyusunan Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. dan strategi pembangunan tanaman pangan Bab III Menguraikan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Bab IV Menguraikan tata hubungan kerja dan pengorganisasian pelaksanaan program.

Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan tahunan yang memuat kerangka makro dan program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 1 (satu) tahun. Istilah dan Pengertian Beberapa istilah dan pengertian pada Pedoman Pelaksanaan Program Peningkatan Produksi. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. visi. 6. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. lintas Kementerian/ Lembaga. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. disusun berdasarkan RenjaKL (Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga) sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada Renstra-KL (Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga).Pedoman Pelaksanaan Program 1.5. serta program Kementerian/Lembaga. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 8|Page . Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional untuk periode 5 (lima tahunan). RKP ini merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. dan RPJMN IV Tahun 2020-2024. RKP merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBN. Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra-KL) adalah dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat program-program pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. RPJMN II Tahun 2010-2014. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) merupakan penjabaran dari misi. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan TA 2012 sebagai berikut: 1. 2. 4. kebijakan umum. kewilayahan dan lintas kewilayahan. 3. 5. memuat prioritas pembangunan. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. melalui urutan pilihan. kewilayahan dalam bentuk regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. yaitu RPJMN I tahun 2005-2009. RPJMN III Tahun 2015-2019. yang memuat strategi pembangunan nasional. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan. Produktivitas. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

11. 13. 15. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh DPR yang masa berlakunya dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember tahun berjalan. 9. barang. Indikator Kinerja diartikan sebagai ukuran kuantitatif/kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran/tujuan yang telah ditetapkan. 10. Penganggaran Terpadu adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana.Pedoman Pelaksanaan Program 7. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga atau Satuan Kerja yang disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dokumen pelaksanaan pembiayaan kegiatan. modal. Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) adalah dokumen yang merupakan bagian tidak terpisah dari DIPA dan RKA-KL yang memuat kegiatan secara rinci serta harga satuannya dan dijadikan acuan dalam pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun anggaran. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa unit organisasi dalam satu atau beberapa instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan kebijakan serta memperoleh alokasi anggaran. 12. 8. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa Satuan Kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumberdaya manusia). termasuk peralatan dan teknologi. 16. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 9|Page . Sub Kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. dana atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 14. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan suatu Kementerian Negara/Lembaga yang merupakan penjabaran dari rencana Kerja Pemerintah dan Rencana Kerja Strategis Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.

Bendahara Penerimaan adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atas keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 25. Anggaran Tugas Pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. 19. maupun tahap setelah kegiatan selesai (ex-post). baik dalam tahap perencanaan (ex-ante). maka akan sulit menilai kinerja kebijaksanaan/program/kegiatan yang pada akhirnya bermuara pada kinerja organisasi. 24. menyimpan. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA) adalah pejabat pemegang kewenangan dalam penggunaan anggaran satuan kerja yang dialokasikan dalam APBN. menyetorkan. 23. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah. Indikator kinerja juga digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka menuju tujuan/sasaran yang telah ditetapkan. Pemberian anggaran dekonsentrasi tidak terlepas dari kewajibannya untuk melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada Menteri/Pimpinan lembaga terkait. Tanpa indikator kinerja. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 10 | P a g e . Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan. Anggaran Dekonsentrasi adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh Gubernur sebagai wakil Pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi.Pedoman Pelaksanaan Program Indikator kinerja merupakan sesuatu yang dapat diukur sebagai dasar untuk menilai kinerja. 22. dan mempertanggung jawabkan 17. 20. Tugas Pembantuan adalah penugasan dari pemerintah Pusat kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan dalam hal ini Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung percapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. 21. 18. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. tahap pelaksanaan (on-going). menatausahakan. tidak termasuk anggaran yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah.

30. Kelompok Tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas kebutuhan bersama yang mempunyai struktur organisasi dan mempunyai basis tujuan yang bersama. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah organisasi/lembaga pada pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dekonsentrasi/ tugas pemerintahan di bidang tertentu di daerah provinsi. menatausahakan. membayarkan. barang. atau pasar keuangan internasional yang harus dibayar kembali dengan persyaratan yang telah disepakati. 33. 26. 27. kabupaten. badan/lembaga keuangan internasional. pemerintah negara asing. termasuk penjaminan pembayaran yang dapat menimbulkan kewajiban pembayaran dikemudian hari.Pedoman Pelaksanaan Program uang pendapatan negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 28. menyimpan. Satuan Kerja (Satker) adalah bagian dari suatu unit organisasi pada Kementerian Negara/Lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. atau kota. Satuan Kerja Pada Instansi Pemerintah adalah organisasi dalam pemerintah yang dibentuk untuk melaksanakan tugas tertentu dibidangnya masing-masing atau bertugas melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari satu program. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja Kementerian Negara/Lembaga/ Pemerintah Daerah. 29. Pinjaman Luar Negeri (PLN) adalah sumber pembiayaan negara dalam bentuk devisa. 35. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat pelaku usaha pertanian sehingga dapat mandiri dalam mencapai tujuan yang dikehendaki sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. dan jasa yang diterima dari badan/lembaga negara asing. 31. Unit Organisasi adalah bagian dari suatu Kementerian Negara/Lembaga yang bertanggung jawab terhadap pengkoordinasian dan/atau pelaksanaan suatu program. Hibah Luar Negeri (HLN) adalah penerimaan negara yang diperoleh dari luar negeri baik dalam bentuk devisa atau devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang dapat dinilai dengan uang yang tidak perlu dibayar kembali. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. 32. Kementerian Negara adalah organisasi dalam Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Menteri untuk melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang tertentu. 34. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 11 | P a g e .

Evaluasi dapat diartikan pula merupakan rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). dengan ketentuan tidak mempunyai hak untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. 41. dan dampak/keberhasilan dari program dan kegiatan yang sedang berjalanmaupun yang telah selesai. sedangkan evaluasi dapat dilakukan secara lebih 37. 40. Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga yang tumbuh dan berkembang secara mandiri di masyarakat. Tenaga Harian Lepas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (THL POPT) adalah tenaga bantu POPT yang direkrut oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu sesuai dengan ketersediaan keuangan Negara untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pembantu POPT di wilayah pengamatan yang belum memiliki jumlah POPT yang cukup. efektivitas pelaksanaan. dengan kegiatan utama meningkatkan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. 42. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 12 | P a g e . serta peningkatan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. keluaran (output). sosial dan keagamaan. Pemantauan dilaksanakan secara berkesinambungan dan bertujuan memberikan indikasi awal dari perkembangan atau kekurangan suatu program/kegiatan yang sedang berjalan. 39. efisien. 43. mengindentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan sedini mungkin. dengan ketentuan tidak menuntut untuk diangkat menjadi Pengawai Negeri Sipil (PNS). Pemantauan dilakukan pada seluruh program/kegiatan.Pedoman Pelaksanaan Program 36. Evaluasi adalah suatu penilaian dalam kurun waktu tertentu yang mencoba untuk menilai relevansi secara sistematis dan obyektif. Tenaga Harian Lepas (THL) adalah tenaga bantu tenaga penyuluh pertanian/pendamping revitalisasi perkebunan/pengendali organisme pengganggu tumbuhan/penanganan kesehatan hewan yang direkrut oleh Kementerian Pertanian mulai tahun 2007 untuk melaksanakan tugas dan fungsinya mendampingi kelompok tani/gapoktan dalam pengembangan usaha agribisnis. 38. Pemberdayaan Masyarakat Pertanian adalah upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat agribisnis sehingga secara mandiri mampu mengembangkan diri dan dalam melakukan usahanya secara berkelanjutan. dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Pengendalian adalah serangkaian kegiatan manajemen yang dimaksudkan untuk menjamin agar suatu program/kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan Pemantauan adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan.

kualitas. tunjangan. penanggulangan kemiskinan dan bencana. Belanja ini terdiri belanja barang dan jasa. dan (e) diberikan dalam bentuk bantuan langsung. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 13 | P a g e . kelangsungan hidup. seperti gaji. dan kompensasi sosial. atau mengimpor barang dan jasa. Belanja Bantuan Sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah Pusat/Daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. perlindungan sosial. dan/atau penguatan kelembagaan. 48. menjual. yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi merupakan alat yang diperlukan untuk pelaporan dan pengendalian. 46. belanja pemeliharaan dan belanja perjalanan. (d) untuk meningkatkan taraf kesejahteraan. dan memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian sehingga terlepas dari resiko sosial. 49. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran yang digunakan dalam rangka memperoleh atau menambah asset tetap dan asset lainnya yang member manfaar lebih dari satu periode akuntansi serta melebihi batasan minimal kapitalisasi asset tetap atau asset lainnya yang ditetapkan pemerintan. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi.Pedoman Pelaksanaan Program selektif. penyediaan aksesibilitas. jaminan sosial. 45. Pelaporan adalah bentuk penyampaian informasi mengenai hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dituangkan ke dalam formulir yang telah ditentukan secara berkala dan sesuai dengan petunjuk pengisiannya. 44. Belanja Pegawai pada dasarnya mencakup seluruh imbalan yang diberikan kepada pegawai pemerintah dan anggota DPRD. (c) ditujukan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi sosial. Transfer uang/barang/jasa tersebut memiliki ketentuan berikut ini: (a) dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan/atas lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat dan belanja perjalanan. 47. Pembedayaan sosial. mengekspor. (b) bersifat sementara atau berkelanjutan.

meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. mengendalikan serangan OPT dan DPI di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman pangan. dan tersalurnya benih tanaman pangan bersubsidi. 5. 2. 1. Mewujudkan birokrasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan yang profesional dan berintegritas. 4. 6. yaitu ”Terwujudnya Produksi Tanaman Pangan Yang Cukup dan Berkelanjutan”. 5.Pedoman Pelaksanaan Program BAB II SASARAN. mendorong peran serta instansi dan stakeholder terkait serta masyarakat dalam pembangunan tanaman pangan yang berkelanjutan. 3. menyelenggarakan sistem penyediaan benih tanaman pangan yang efisien dan berkelanjutan di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat. meningkatkan perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan. 1. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan tujuan. mengembangkan sistem penyediaan benih yang efisien. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 14 | P a g e . 7. Dalam mewujudkan visi tersebut. dan 6. STRATEGI. meningkatkan penanganan pascapanen tanaman pangan. meningkatkan produktivitas melalui peningkatan luas areal penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan produksi dalam rangka mencapai ketahanan pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memiliki misi sebagai berikut. dan berkelanjutan. 3. DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TANAMAN PANGAN TA 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai Visi Tahun 2010-2014. sebagai berikut. menciptakan metoda pengujian mutu benih dan penerapan sistem mutu laboratorium pengujian benih tanaman pangan. menyelenggarakan pelayanan teknis dan administrasi secara profesional dan berintegritas dilingkungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. menyediakan informasi dan menciptakan model peramalan OPT sebagai rujukan dalam pengamanan produksi tanaman pangan. 4. meningkatkan pengamanan produksi tanaman pangan berkelanjutan. Sebagai implementasi visi dan misi tersebut. efektif. 2.

Dalam hal ini. Sasaran Sasaran utama pembangunan tanaman pangan tahun 2010-2014 merupakan turunan dari sasaran utama pembangunan pertanian yaitu: a) mewujudkan pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. Selain itu. kacang hijau. penetapan sasaran produksi hanya dilakukan pada komoditi padi.00 Produksi (Ton) 72.20 14.430 1.000. pembangunan tanaman pangan dikelompokkan pada pengembangan komoditas utama dan komoditas alternatif.026.700 Produktivitas (Ku/Ha) 53.600 1.437 1. Keempat sasaran ini disebut dengan Empat Sukses Kementerian Pertanian. Produktivitas dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan Tahun 2012 Komoditas Padi Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Luas Tanam (Ha) 14. kedelai.865 4.026.235 24. dan ubi kayu. baik kebutuhan pangan.900.700 325. Pencapaian keempat sasaran (target) utama diharapkan dapat memberikan dampak kinerja yang signifikan bagi pemenuhan kebutuhan nasional dan ketahanan pangan nasional.600 207. dan ekspor.000 1.000 342. c) mewujudkan peningkatan nilai tambah. Pencapaian Empat Sukses Kementerian Pertanian tersebut memerlukan keterpaduan pelaksanaan program baik lingkup Kementerian Pertanian maupun lintas Kementerian/Pemerintahan.800 196.000 25. Luas Panen.655. ubi jalar.000 Sumber: Renstra Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2010-2014 (untuk rincinya per provinsi dapat dilihat pada lampiran 3 sd 9) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 15 | P a g e . b) mewujudkan peningkatan diversifikasi pangan.771 4. daya saing. Tabel 1.Pedoman Pelaksanaan Program 2. serta d) mewujudkan peningkatan kesejahteraan petani.000 Luas Panen (Ha) 13. kebutuhan energi maupun kebutuhan bahan baku untuk industri lainnya.556.13 51.000 390.98 190.00 11.000. jagung. Fungsi dari program pemerintah hanya berupa stimulan untuk menggerakkan kekuatan ekonomi tanaman pangan secara nasional. Sasaran produksi komoditas utama tanaman pangan tahun 2012 dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.000 1.100.312.500 1.315. Namun demikian. dampak kinerja pembangunan tanaman pangan juga diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan dan meningkatkan pendapatan negara.00 117.000 2.874.55 15.300. Sasaran Luas Tanam.000 825.1. kebutuhan pakan.000 785.250.381. kacang tanah.

(4) Revitalisasi Sumber Daya Manusia. Untuk mewujudkan pencapaian Empat Sukses tersebut. serta (7) Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir. (6) Revitalisasi Kelembagaan Petani. Namun demikian. Berkaitan dengan peningkatan produksi. DAYA SAING. (2) Revitalisasi Perbenihan dan Perbibitan. (5) Revitalisasi Pembiayaan Petani. DAN EKSPOR PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI Gambar 2. orientasi peningkatan produksi menjadi alat (instrumen) utama yang diprioritaskan. TUJUH GEMA REVITALISASI PERTANIAN LAHAN PERBENIHAN/PERBIBITAN INFRASTRUKTUR DAN SARANA SUMBER DAYA MANUSIA PEMBIAYAAN PERTANIAN KELEMBAGAAN PERTANIAN TEKNOLOGI DAN INDUSTRI HILIR EMPAT SUKSES SWASEMBADA BERKELANJUTAN DAN SWASEMBADA DIVERSIFIKASI PANGAN NILAI TAMBAH. sebagai jaminan tambahan bagi petani atau pelaku usaha pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program 2. Strategi Pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan akan ditempuh melalui strategi Tujuh Gema Revitalisasi Pertanian yaitu: (1) Revitalisasi Lahan. Secara harfiah. Hubungan Strategi dan Empat Sukses Kementerian Pertanian Ketujuh strategi pembangunan pertanian tersebut akan mempengaruhi tingkat keberhasilan yang dapat dicapai. peningkatan produksi diharapkan dapat memacu peningkatan pendapatan. harus disadari bahwa ketujuh strategi tersebut melibatkan institusi pemerintah lainnya dan institusi non pemerintah. Pemberian ini sebagai bagian dari meringankan biaya usaha dan sekaligus meningkatkan pendapatan. subsidi ataupun insentif lainnya. pemerintah memberikan stimulan baik berupa bantuan. Untuk itu. (3) Revitalisasi Infrastruktur dan Sarana.2. Direktorat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 16 | P a g e .

Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 17 | P a g e . dan 4) penguatan kelembagaan dan pembiayaan. Perluasan areal dan optimasi lahan 3. maupun hilir. 2) perluasan areal tanam. Peningkatan manajemen. Gambar 3. Peningkatan produktivitas 2. Hal ini dilakukan sebagai proses penegasan dan respon atas perubahan lingkungan yang terjadi.Pedoman Pelaksanaan Program Jenderal Tanaman Pangan menetapkan strategi pencapaian produksi tanaman pangan melalui empat strategi atau disebut dengan Catur Strategi Pencapaian Produksi Tanaman Pangan yaitu: 1. 3) pengamanan produksi. on-farm. Penurunan konsumsi beras dan pengembangan diversifikasi pangan 4. Catur strategi pencapaian produksi tanaman pangan ini merupakan penajaman sekaligus revisi atas catur strategi yang selama ini digunakan yaitu 1) peningkatan produktivitas. Proses penajaman dan revisi terhadap strategi pencapaian produksi tanaman pangan telah mempertimbangkan aspek keberlanjutan program pembangunan tanaman pangan dan aspek keterpaduan baik disisi hulu.

akuntabilitas.3) 3) Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 18 | P a g e . efektivitas. (5) pembangunan sentra-sentra pupuk organik berbasis kelompok tani. serta (9) peningkatan dan penerapan manajemen pembangunan pertanian yang akuntabel dan good governance.3. Kebijakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012 merupakan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan sekaligus merupakan rangkaian lanjutan dari RKP tahun 2011.(7) peningkatan keseimbangan ekosistem dan pengendalian hama penyakit tumbuhan secara terpadu. 9 (sembilan) diantaranya terkait langsung dengan tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 2. yaitu: (1) melanjutkan dan memantapkan kegiatan tahun sebelumnya yang terbukti sangat baik kinerja dan hasilnya. yang tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012. Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). dan partisipasi. Kementerian Pertanian menetapkan 23 (dua puluh tiga) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2010-2014. penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pada prinsipnya. alsintan. (2) melanjutkan dan memperkuat kegiatan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat seperti Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). (6) penguatan kelembagaan perbenihan dan perbibitan nasional. (8) berperan aktif dalam melahirkan kebijakan makro yang berpihak kepada petani seperti perlindungan tarif dan non tarif perdagangan internasional. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menerapkan prinsip-prinsip efisiensi. Tema ini merupakan landasan dalam menyusun rancangan program dan kegiatan untuk mencapai sasaran pembangunan. (3) pemantapan swasembada beras dan jagung melalui peningkatan produksi yang berkelanjutan. dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi. Tema Rencana Kerja Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2012 adalah Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. subsidi pupuk. (4) pencapaian swasembada kedelai. Dari 23 arah kebijakan tersebut. transparansi. antara lain: bantuan benih/bibit unggul. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT).

Pedoman Pelaksanaan Program Secara operasional. Hal ini dapat menghancurkan pengembangan agribisnis tanaman pangan dalam negeri. Optimalisasi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan tanaman pangan perlu didukung oleh iklim berusahatani yang kondusif. Oleh karena sistem atau cara perlindungan yang diberikan terhadap petani mulai dari aspek proses produksi sampai aspek pemasaran hasil dan sistem perdagangannya perlu dikembangkan lebih lanjut. Pengawasan pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari ulah spekulasi pedagang yang dapat memainkan harga. Produk impor lebih murah dari produk dalam negeri. (2) Bea Masuk Dalam era globalisasi dewasa ini persaingan pasar antar komoditas tanaman pangan semakin ketat. 3) pencapaian swasembada kedelai tahun 2014. baik pada tingkat propinsi dan kabupaten/kota maupun tingkat pusat. jagung dan kedelai. sehingga mampu menghasilkan kualitas yang baik serta dengan kontinuitas pasokan yang terjamin. Selain itu perlu mengupayakan tumbuh dan berkembangnya kemitraan antara petani dengan pedagang/industri olahan/pengusaha lainnya. Dalam pengendalian harga tersebut diperlukan koordinasi dengan instansi dan stakeholder terkait. 4) penguatan pangan nasional berbasis Koridor MP3I. 3) pengembangan komoditas spesifik lokasi di Kawasan Timur (Direktif Presiden). dukungan kebijakan yang berpengaruh terhadap iklim usaha atau pengembangan agribisnis tanaman pangan harus diperhatikan antara lain: (1) Harga Kegiatan usahatani dari suatu komoditas dapat berjalan apabila petani memperoleh insentif/keuntungan yang memadai. Komoditas tanaman impor sering membanjiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah. pemerintah perlu menjaga kestabilan harga dan pasar hasil tanaman pangan sepanjang tahun melalui penetapan harga pembelian oleh pemerintah. khususnya komoditas strategis seperti padi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 19 | P a g e . Dalam hal ini. karena pemerintah negara-negara eksportir melindungi para petaninya secara baik dengan berbagai cara. kebijakan pembangunan tanaman pangan diprioritaskan pada 1) pencapaian swasembada berkelanjutan padi dan jagung. Karena itu. serta 5) pengembangan produksi di kawasan-kawasan khusus lainnya seperti kawasan perbatasan dan kawasan agropolitan.

Oleh karena itu koordinasi dengan pihak karantina setempat perlu dilakukan dan lebih ditingkatkan. Dengan demikian dapat dihindarkan terjadinya tuntutan terhadap produk Indonesia di luar negeri akibat buruknya mutu. maka perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. alih fungsi. Dengan adanya peraturan karantina yang selaras dengan aturan sanitasi dan fitosanitari (sanitary and phytosanitary/SPS regulation) diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk ekspor impor yang pada gilirannya juga dapat meningkatkan taraf hidup petani.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu upaya untuk menghadapi persaingan tersebut di atas. Pada era perdagangan bebas ini. karantina merupakan suatu instrumen yang penting untuk memperlancar arus perdagangan. (4) Pengendalian Alih Fungsi Lahan Meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya ekonomi serta industri. hewan. Untuk menjaga masuknya produk-produk pertanian tanaman (termasuk benih) yang tidak memenuhi persyaratan keamanan hama dan penyakit serta lingkungan. Oleh karena itu untuk mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan. dan fragmentasi lahan pertanian Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 20 | P a g e . penyakit dan organisme pengganggu. hasil bahan asal hewan. berakibat terjadinya degradasi. Untuk mengatasi penyelundupan produk-produk tanaman pangan dilakukan koordinasi dalam pengawasan pintupintu masuk penyelundupan barang-barang dari luar negeri. (3) Karantina Tumbuhan Indonesia sangat kaya akan berbagai jenis sumber daya alam hayati berupa aneka ragam jenis tumbuhan. hewan. baik ekspor maupun impor. perlu pengawasan dan penjagaan ketat oleh petugas karantina. pemerintah Indonesia melindungi petaninya melalui pemberlakuan bea masuk (tarif) impor. asal bahan hewan. hama dan penyakit hewan/ikan melalui media pembawa (tumbuhan dan bagianbagiannya. ikan dan/atau benda lainnya) dari luar negeri atau dari area lain di dalam negeri. ikan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya dari berbagai hama. Pemberlakuan tarif impor tersebut masih dimungkinkan dalam kerangka kebijakan World Trade Organization (WTO). Penjagaan dari aspek hama dan penyakit serta lingkungan tersebut di atas meliputi keamanan jangka pendek sampai dampak dalam jangka waktu yang panjang. Demikian juga derasnya arus masuk produk luar negeri yang tidak bermutu dapat dicegah melalui pengawasan karantina.

e) meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat. b) menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. ketahanan. Upaya pengendalian terhadap terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian/non-tanaman pangan secara efektif dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) dan Peraturan Pemerintah pendukungnya. f) meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani. Sanksi bagi orang. d) melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani. perseorangan. Sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 menyatakan bahwa Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diselenggarakan dengan tujuan: a) melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan. dan kedaulatan pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 21 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program pangan yang mengancam daya dukung wilayah secara nasional dalam menjaga ketahanan pangan menuju kemandirian pangan nasional. g) meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak. h) mempertahankan keseimbangan ekologis. dan i) mewujudkan revitalisasi pertanian. pejabat pemerintah yang melakukan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2-5 tahun dan denda berkisar antara satu milyar rupiah sampai tujuh milyar rupiah. c) mewujudkan kemandirian.

Beberapa aspek yang perlu diperjelas adalah 1) indikator kinerja hasil (outcome) dan keluaran (output). 2) komponen prioritas pemberdayaan. BUTIR-BUTIR PENJELASAN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR KINERJA OUTCOME DAN OUTPUT KOMPONEN PRIORITAS PEMBERDAYAAN LOKASI ANGGARAN DAN JENIS DANA JENIS BELANJA POLA PENGELOLAAN BANSOS MEKANISME PENGADAAN BARANG/JASA PENGUKURAN INDIKATOR KINERJA PENILAIAN RESIKO ATAS KEBERHASILAN PROGRAM/KEGIATAN Gambar 4. serta 8) penilaian resiko atas keberhasilan program/kegiatan. Butir-Butir Penjelasan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 22 | P a g e . Penjelasan program dan kegiatan harus dapat menjelaskan nilai strategis dari komponen-komponen yang direncanakan.Pedoman Pelaksanaan Program BAB III PROGRAM DAN KEGIATAN LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 Pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memerlukan penjelasan beberapa hal penting sebagai simpul kritis pengendalian dalam mendorong pencapaian kinerja secara optimal. 5) pola pengelolaan bansos. 7) pengukuran indikator kinerja outcome maupun output. 3) lokasi anggaran (Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota) dan jenis dana (dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan). 6) mekanisme pengadaan barang/jasa. 4) jenis belanja.

Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan: Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan: Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menetapkan program tahun 2012 yaitu Program Peningkatan Produksi. 7.1 Program Dalam mewujudkan sasaran pembangunan tanaman pangan. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan: Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Untuk mewujudkan pencapaian kinerja program tersebut. Indikator keberhasilan kinerja Program Peningkatan Produksi. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH): Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih. 6. 3.Pedoman Pelaksanaan Program 3. Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi: Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT): Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan. 2. maka perlu didukung pencapaian kinerja kegiatan dari masing-masing unit eselon II yaitu: 1. 5. Direktorat Budidaya Serealia: Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan adalah perluasan penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat yang didukung oleh sistem penanganan pascapanen dan penyediaan benih serta pengamanan produksi yang efisien untuk mewujudkan produksi tanaman pangan yang cukup dan berkelanjutan. 8. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 23 | P a g e . Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. 4.

4) memperkuat cadangan bantuan saprodi dalam mengatasi dampak bencana yang timbul. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 24 | P a g e . penangkar benih. Kode 018. BPSBTPH. komponen prioritas yang terus ditumbuhkembangkan adalah: 1) mengoptimalkan bantuan kepada petani. dan BPTPH). 3) memperkuat fungsi unit pelaksana teknis daerah (BBI. 2) memperkuat brigade produksi (brigade proteksi) dan petugas di lapangan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 2. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Untuk mewujudkan kinerja program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan tahun 2012. Produktivitas. pelaku usaha pascapanen. dan lembaga yang mengakar di masyarakat.03.06 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 Program dan Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Program dan Kegiatan Program Peningkatan Produksi.

Komponen Prioritas Pemberdayaan dan Penguatan Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Komponen Prioritas Pemberdayaan/Penguatan SLPTT hanya dengan bantuan benih dan LL SLPTT Model Spesifik Lokasi SLPTT Model Peningkatan IP Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam (Jagung) Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Pemberian BLBU Penguatan UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Penguatan Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Penguatan UPB Bantuan Sarana Pasca Panen Survei Susut Hasil Padi Penguatan P3OPT Gerakan Pengendalian OPT/bantuan pestisida Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Penguatan Lab Pengamatan Hama Terpadu (LPHP) Pemberdayaan THL POPT-PHP Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih No. Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi 3. Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia - 2. Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan - 4. 8 Pengembangan Peramalan Serangan OPT Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan - Pemberian Modal Usaha Kepada LM3 Penyediaan Cadangan Saprodi Dalam Mengatasi Bencana Alam Pemberian Insentif Mantritani Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 25 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 3. Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan TP Dari Gangguan OPT & DPI 6. 5. 7. 1.

000 200.260 164.565.000. BPSBTPH.000 285.000 6.000 500. Ketiga sekolah lapangan ini akan didukung oleh berbagai kegiatan pendukung lain.00 130. Alokasi dana pusat dikelola unit kerja Pusat yaitu 8 unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (anggaran BPMPT tergabung dalam anggaran Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan).000 475.230 9.000 2..500 19.00 37. Sekolah lapangan ini difokuskan pada komoditas padi.347.00 77.Pedoman Pelaksanaan Program Salah satu instrumen utama yang menjadi model (benchmark) pemberdayaan sebagai gambaran pokok atas keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah Sekolah Lapangan meliputi Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT).00 Produksi (Ton) 16.416. Sasaran Luas Tanam. 2) Dana dekonsentrasi sebesar Rp. Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dan Sekolah Lapangan Iklim (SLI).195.104.899.500 142.560 10. Untuk mendukung pencapaian sasaran produksi komoditas tanaman pangan.000 20. sasaran luas tanam SLPTT atau lokasi pengembangan (dem area) yang dibiayai melalui APBN TA 2012 terlihat pada tabel 4 dibawah ini.498.000 332.000 542. 1.-. 1.781.00 17.235.350 Luas Panen (Ha) 2.700.010 25. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 26 | P a g e .680 139. Untuk komoditas lain dilakukan melalui pola pengembangan dengan luasan tertentu (dem area). jagung dan kedelai. 512.00 16..Alokasi dana dekonsentrasi dikelola oleh unit kerja Dinas Provinsi yang menangani tanaman pangan dan UPTD Provinsi (BBI.000.50 65.Alokasi dana tugas pembantuan dikelola oleh unit kerja Dinas Kabupaten/Kota yang menangani tanaman pangan. Luas Panen.250 1.51 13.000 300. Tabel 4.245.880 Komoditas Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Ubi Kayu Ubi Jalar Alokasi anggaran untuk mendukung pencapaian program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 terdiri dari: 1) Dana pusat sebesar Rp.690 268.000.000 150.000 190. 3) Dana tugas pembantuan sebesar Rp.000 6.830 Produktivitas (Ku/Ha) 64.00 250.536. Produktivitas dan Produksi Melalui SLPTT dan Lokasi Pengembangan Melalui APBN TA 2012 Luas Tanam (Ha) 2.000 1.000 350.455. dan BPTPH).

176.600 16.020 15.800.140 14.992.000 3.185.000 300.500 7.007.060 28.314.350 92.420 67.561.000 5.900 23.100 11.500 14.039.985.000 1.850.000 2.000 1.300 3.900 6.263.500 3.000 1.019.817. 13.007.562.640 53.957.895.000 474.610.374.200 14.160 21.000 500.746.000 1.056.544.400 7.901.114. 29. 22.176.300.21%.533.000 400.465.000 2.487.000 2. 5.439. 3.600.150.400 14. 21.180 3.800 1.926.630 16.000 1.500 16.100 200.330 28.715.000 3.020 207.800 11.500.180.500 5. 1.100 67.598.618.120 246.000 2.147.000 700.969.100 12.000 2.010. belanja modal.100 4. 2012 ALOKASI ANGGARAN PER UNIT KERJA (Rp.900 9.000 500.976.000 4.900 14.000 1.000 5.445. 18.353.374.483.100 38.500 2.916.600 5.473.051.850 23. 2.260.536 7. 10.180 122.450.520 69.500 11.110 4.300 28.000 3.581.843.320 46.600 9. B 1.491.893.825.436.880 13.093.000 1.400 34.846.114.330.000 2.000 4.847.582.347.000 6.000 100.114. 20.000 721. 11.500 910.428.392.621. 8.055.740 23.100 18.750.814.659.000 1.000 4.500 1.628.404. PUSAT DITJEN TP-PUSAT BBPPMBTPH BBPOPT BPMPT PROVINSI & KAB/KOTA ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG DKI JABAR JATENG DI YOGYAKARTA JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM SULUT SULTENG SULSEL SULTRA BALI NTB NTT MALUKU PAPUA MALUT BANTEN BABEL GORONTALO KEPRI PAPUA BARAT SULBAR TOTAL 267.000 27.000 350.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 5.910 66.725 34.500 11.300 20.260 4.350 12.693.480 385.398.278.500 512.000 250.740 34.500 550.000 230.242.100 6.000 4.480 92.783. 19. 26.400 15.750 76.549.300.676.926.300 11.810 1. 7.500 8.604.500 7.633.560 34.462.700 9.100 36.030.738.125.899.543.000 1.710 32. alokasi anggaran untuk belanja pegawai.218.731.000 2.362.131.023.084.000 250.000 400.000 1.587.447.900 9.067.000 250.700 4.592.500 3. 12.802. 32.304.300 803.800 10.405.000 1.400.000 2.500 6.220 50.600 10.840.500 1.480.582.000 350. 16.420 163.987.297.800 21.500 4.500 12.552.478.500 18.731.759.377.000 1.459.000 1.700 9.820.498.940 12. dan belanja bantuan sosial.580 348.600 5.000 2.410.500 8.303. 27.186.084.000 339.201.000 600. 23.001.000 3. belanja barang.609. Bila dilakukan perbandingan masing-masing jenis belanja terhadap total anggaran maka proporsi terbesar dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar 78.870.113.934.820 47. 24.278.310 46.800 5.567.546.600 44.000 5.187.700 432.320.260.000 1.000 4.000 803.900 37.041.000 385.100 18.860 10.000 1.016.000 2.492.178.801. LOKASI DINAS A.000 3.566.678.600 13.061.900 15.900 18.138.090. 000) UNIT KERJA PROVINSI (DANA DEKONSENTRASI) NO.038.067. Lokasi Anggaran dan Jenis Dana Per Provinsi Untuk Mendukung Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA.000 152.841. 4.403.000 299.516. kemudian diikuti Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 27 | P a g e .161. 2.644.250.600 1.000 821.100 13.000 12.130 24.642.498.713.155.500 3.907. 25.588.600 13.238.104.365.000 4.455 54.085.000 3.152.400 11.878.400 6.771.000 2.618.455 82.184.000 2.221.246.250.500 11.142.991 Dalam meningkatkan pelaksanaan program dan kegiatan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012.820 28.500 4.670.500 3.620 1.000 500.600. 4.327.249.680 24.558.400 21.600 1.000 600.000 8.000 2.156.625 49. 28.500 18.805.000 100.000 600.804.000 4.000 6.372.160 47.400 2.000 698.000 3.000 803.000 9.990. 15.188.200 31.420 27.000 2.030.642.448.600 19.700 22.400.000 1. 14. 6.478.626.414.089.536 1.600 16.210 21.000 2. 17.000 3.245.489.709.676.000 3.830 16.700 30.100 28. 31.480 BBI BPSBTPH BPTPH SUB TOTAL (DANA TUGAS PEMBANTUAN) TOTAL UNIT KERJA KAB/KOTA 1.200 1.000 7.800 47. 3.000 1.100 21.799.000 61.465.300 8.017.395.000 750.115.591.000 4.940 5.494. 9.000 2.797.208.817.000 1.800 4. 30.168.400 13.449.000 2.750.288.587.412.000 2.049.200 16. 33.700 1.

235.085 6.894.950 1.961 1767 3.000 3.650 73.067.115. belanja pegawai 1.749.496.468 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9.187.998 1.016.869 0 0 124.532 3.436.536.919 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5.194.000 1765 0 22.510 889.919 588.699.418.200.800.491.960 0 0 0 0 0 0 156.092 109.062. dan Mutu Tanaman Pangan Untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan Dukungan Manajemen dan Teknis Lainnya pada Ditjen Tanaman Pangan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan 53.516.002.353.000 1764 0 178.73% dan belanja modal 1.300.834. 000) Belanja Belanja Barang Modal Belanja Bantuan Sosial Total (Rp. Berkaitan dengan belanja bantuan sosial dapat dijelaskan bahwa penetapan alokasi anggaran untuk Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 28 | P a g e .285 53.000.000 67.251.88%.040 0 0 0 0 0 0 0 2.829 36.411.500 847.834.350 944.03.Pedoman Pelaksanaan Program belanja barang 18.775 2.052 9.000 1766 46.991 0 0 297.000 231.507.435.600 186.534.441.468 3.436.000 0 0 0 0 0 0 Rupiah Murni Pinjaman Luar Negeri Rupiah Murni Pendamping PNBP Pinjaman Dalam Negeri Badan Layanan Umum Stimulus Hibah Dalam Negeri Hibah Luar Negeri Hibah Langsung Dalam Negeri Sumber : RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA 2012 Dari keempat jenis belanja diatas. 000) 018.342.289.000 1763 0 151.568 506.453.030 1762 0 96.813.06 Program Peningkatan Produksi.735 0 0 172.000 1768 4.800.900 0 7. Produktivitas.520 175.164. Pengalokasian anggaran tersebut dapat di lihat pada tabel 6 di bawah ini. belanja yang merupakan fasilitasi langsung kepada masyarakat adalah belanja bantuan sosial.991 1761 0 20.460 36.292.628.000 154. Tabel 6.000 248.129.115.18%.962.219 19.150 430.315 1.871.000 90.668.246 588. Anggaran Menurut Jenis Belanja Per Program/Kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Kode Program dan Kegiatan Belanja Pegawai Jenis Belanja (Rp.

maka penempatan alokasi DIPA disesuaikan dengan karakteristik jenis bantuan sosial yang diberikan.Pedoman Pelaksanaan Program belanja bantuan sosial dikategorikan karena alasan pemberdayaan sosial dan penanganan bencana. Apabila ada hal-hal yang berubah dari RUK awal maka dapat dilakukan penyesuaian kontrak dengan melampirkan Berita Acara dan memperoleh persetujuan unit kerja pengelola (satker yang menangani bantuan tersebut). Pemantauan hasil keseluruhan atas indikator output dan outcome dilakukan melalui pengumpulan informasi dari dinas kabupaten/kota. Untuk memastikan keberhasilan program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Metodologi pengukuran kinerja SLPTT dilakukan melalui ubinan (metodologi yang lebih akurat). Secara umum. Pola pelaksanaan bantuan sosial dimaksud dilakukan melalui transfer uang dan/atau transfer barang. sebagai berikut: 1. Namun demikian. Memperhatikan pengelolaan belanja bantuan sosial. Namun demikian. Ubinan SLPTT Kedelai 14. hal ini disebut dengan lex specialist. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada tabel 7.500 unit 371 Kab/Kota 242 Kab/Kota 175 Kab/Kota 4) Pengaturan pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pola lain sepanjang diterbitkan aturan yang setara dengan peraturan yang mengatur pengadaan barang/jasa yang berlaku. Ubinan SLPTT Jagung Hibrida 3. Mekanisme pengadaan barang/jasa melalui transfer barang seperti yang terlihat pada tabel 6 mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. persyaratan administrasi pengadaan barang/jasa melalui transfer uang adalah membuat kontrak berdasarkan Rencana Usaha Kegiatan (RUK) antara penerima dan unit kerja pengelola langsung. Ubinan SLPTT Padi 2.919 unit 3. Dalam administrasi. Hal ini sangat tergantung dengan ketepatan dan keefektifan dalam penyaluran dan pelaksanaan kegiatan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 29 | P a g e . pengukuran kinerja dilakukan dengan mengukur indikator outcome dan indikator output.4) Sedangkan pengadaan barang/jasa melalui transfer uang akan diatur secara rinci melalui pedoman teknis masing-masing. pengukuran indikator kinerja output dilakukan dengan membandingkan capaian fisik dan keuangan terhadap sasaran dan alokasi anggaran yang ditetapkan.136 unit 1. dimana salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur pengadaan barang/jasa pemerintah dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 termasuk perubahannya. evaluasi pengukuran indikator kinerja outcome yang dititikberatkan pada keberhasilan peningkatan produktivitas SLPTT.

7. 3. 13. 9. Pengelolaan Belanja Bantuan Sosial lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Lokasi DIPA No. 6. 10.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 7. 12. Jenis Output SLPTT Padi SLPTT Jagung Optimalisasi Pengembangan Areal Jagung Hibrida SLPTT Kedelai Pengembangan Kedelai Model Pengembangan Ubi Jalar/Kacang Tanah BLBU PJK Wilayah Jawa Kayu/Ubi V V V V V* V V V V V V V Pusat Provinsi Kab/Kota Pemberdayaan Sosial Komponen Belanja Bantuan Sosial Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Penanganan Kemiskinan Pola Pelaksanaan Transfer Uang Transfer Barang V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V* V V V V V V BLBU PJK Wilayah Luar Jawa Pemberdayaan Penangkar PJK Bantuan Pasca Panen Sarana Pengendali OPT (BPTPH) Bantuan Bencana Alam Bantuan Modal untuk LM3 Keterangan: * : sedang dalam proses penegasan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 30 | P a g e . 5. 11. 2. 1. 8. 4.

evaluasi.2. Penilaian risiko atas keberhasilan Program Peningkatan Produksi. 3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja (program dan anggaran). pengawalan. dan pelaporan. 7) ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan. b) penilaian risiko pada saat pelaksanaan rencana. mengevaluasi. 8) kekonsistenan dalam mengendalikan. Penilaian risiko ini bersifat umum dan hanya berupa simpul-simpul utama. 6) ketepatan pembentukan tim pembina. Secara umum. serta c) penilaian risiko pada saat pengendalian. penilaian risiko yang perlu diperhatikan adalah: 1) penetapan model stimulan pembangunan. monitoring dan evaluasi. 4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan. 2) ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki. dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan meliputi a) penilaian risiko pada saat perencanaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 31 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program 3. Penilaian Risiko atas Keberhasilan Program Secara umum. 5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelolaan kesatkeran. dan melaporkan pelaksanaan. Produktivitas. Titik risiko ini akan dirinci pada masing-masing pengelola kegiatan sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. penilaian risiko merupakan proses identifikasi dan sekaligus proses antisipasi atas faktor-faktor yang dapat menganggu keberhasilan pencapaian program.

Operasional peningkatan produksi dan produktivitas di lapangan dilakukan melalui Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) khususnya untuk padi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 32 | P a g e . I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Aspek Penyusunan Rencana II.3. Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Serealia.3. Pelaksanaan Rencana Titik Risiko Penetapan model stimulan pembangunan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran - III. Pada tahun anggaran 2012. Pengendalian. dimana 1 unit kerja Eselon II memiliki 1 kegiatan. Evaluasi dan Pelaporan Rencana - Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketepatan pembentukan tim pembina. kinerja Program Peningkatan Produksi. No. Kegiatan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan terdiri dari delapan (8) jenis kegiatan. Produktivitas dan Mutu Tanaman Pangan untuk Mencapai Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan didukung anggaran melalui APBN dengan fokus-fokus tertentu sebagai berikut: 3. pengawalan. Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya serealia yang tepat dan berkelanjutan. monitoring dan evaluasi Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam pengendalian Kekonsistenan dalam mengevaluasi Kekonsistenan dalamn melaporkan 3.1.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 8.

kecuali 1 Ha Laboratorium Lapangan diberikan bantuan full paket. dan alsintan). dan jagung (hibrida). Penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan instrumen perangsang (stimulus) bagi daerah sekitarnya. dan alsintan).700. sekaligus sebagai tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan.600. pembinaan manajemen kelompok. Rincian bantuan biaya LL-SLPTT dan biaya yang diperlukan untuk SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan IP seperti tabel di bawah ini. Kriteria penerima SLPTT ini difokuskan kepada petani/kelompoktani yang memiliki produktivitas yang lebih rendah dari produktivitas kabupaten. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida peningkatan IP. 25 ha areal SLPTT padi non hibrida spesifik lokasi.850.-/Ha. 3. SLPTT Padi Sawah Non Hibrida Sawah Hibrida Lahan Kering Jagung 2. 44. 3) SLPTT Indeks Pertanaman dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih.Pedoman Pelaksanaan Program (non hibrida. Luasan/1 Unit SLPTT (Ha) 25 10 25 15 No. 25 ha areal SLPTT padi lahan kering. hibrida dan lahan kering). pupuk.-/Ha. Penerapan pola ini diharapkan terbina kawasan-kawasan andalan. SLPTT model padi non hibrida diberikan sebesar Rp.000. 1.000. Jenis SLPTT yang dikembangkan adalah 1) SLPTT Reguler dimana bantuan yang diberikan hanya berupa benih. dan SLPTT padi hibrida sebesar Rp. Dalam setiap 25 ha areal SLPTT padi non hibrida.-/Ha.000. maka disusun standar biaya untuk masing-masing SLPTT. 64. 10 ha areal SLPTT padi hibrida spesifik lokasi. yang berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani. Standar biaya pada SLPTT yang sifatnya reguler sebesar Rp. Biaya untuk SLPTT ini belum termasuk bantuan benih. 2) SLPTT Spesifik Lokasi dimana bantuan yang diberikan berupa bantuan full paket (benih. dan 15 ha areal SLPTT jagung hibrida. pupuk. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 33 | P a g e . 10 ha areal SLPTT padi hibrida. serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. Untuk mendukung pelaksanaan SLPTT padi dan jagung. Masing-masing ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha.

000 500.000 Penggunaan dana tersebut selain untuk pengadaan saprodi. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .Sisa lahan dalam 1 LL hanya diberikan bantuan benih B.700.000 160.750. SLPTT Reguler .000 3.000 kg 1 unit 1 paket 1.000 690.000 690. pupuk dan fasilitasi gerakan tanam serempak .Model terdiri dari SLPTT Spesifik Lokasi dan SLPTT Peningkatan IP .000 25.Papan nama Satuan/Ha 100 kg 300 kg 1. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT Padi dan SLPTT Jagung TA. 2012 SL-PTT A.000 690.750.000 3.700.000 150.000 Jumlah (Rp/unit SL) 3.000 25.000 64.000 500.000.300 500 25.000 500.000 Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.000 150.000 1.000 160.000. SLPTT Model Padi Hibrida .000 50.000 150. Padi Hibrida.850.Model Spesifik Lokasi .Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 1.700.000 500.000 160. biaya pertemuan kelompok tani.000 kg 10 kali 10 kali 1 buah Harga Satuan (Rp) 1.750.750.000 500.1 unit SLPTT Model sama dengan 25 Ha C.300 500 170.000 44.000 50.000.700.Terdapat 1 LL dalam 1 unit SLPTT (1 LL = 1 Ha) yang diberikan bantuan full paket (benih dan pupuk) .Bantuan SLPTT Model meliputi benih.000 150.1 unit SLPTT Model sama dengan 10 Ha Jenis Fasilitas Urea NPK Pupuk Organik Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping .000 3.000 10 kali 10 kali 1 buah 170.600 2. .000 150.000 500. Padi Lahan Kering.000 1.000 3. insentif bagi pendamping dan pembuatan papan nama juga untuk pengadaan alsintan (sesuai kebutuhan kelompok tani) dan biaya operator.000. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 34 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 9.300 500 25.Jenis komoditas: Padi Non Hibrida.000 50.600.000 150. SLPTT Model Padi Non Hibrida .600 2.000 - - Urea NPK Pupuk Organik Fasilitasi Gerakan Tanam Serempak Biaya operasional gerakan tanam serempak Biaya pertemuan Insentif pengawalan oleh pendamping Papan nama 100 kg 300 kg 1.000 - 10 kali 10 kali 1 buah 170.600 2. Jagung Hibrida.000 kg 1 unit 1 paket 1.

750 Ha 290.700 Ha 9. 362Kab/Kota 60 Kab/Kota 30 Kab/Kota 199 Kab/Kota 148 Kab/Kota 260Kab/Kota 242 Kab/Kota Sasaran Lokasi 371 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. (2) ketepatan alokasi anggaran. padi hibrida spesifik lokasi 9. Monitoring. pemilihan benih.550 ha. dan jagung hibrida seluas 200.651. 1. 13 Provinsi.000 ha. Tabel berikut ini menggambarkan alokasi kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia. Tabel 10.550 Ha 14.700 ha.700 ha. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman serealia titik risiko kegiatan adalah: (1) penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. Padi Non Hibrida Peningkatan IP d. monitoring dan evaluasi serealia. pengairan. 30 Provinsi. pemupukan. pada kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia dilaksanakan juga fasilitasi kemitraan pangan alternatif dan upaya pembinaan.300 Ha 500.000 Ha 10 Paket 403 Satker 31 Provinsi.651.Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT TA 2012 adalah: padi non hibrida seluas 2. Padi Non Hibrida b.750 ha.000 Ha 200. 22 Provinsi. 26 Provinsi. lahan kering seluas 500.000 ha. 17 Provinsi. padi non hibrida peningkatan IP seluas 14. No. 10 Provinsi Pusat. pengendalian OPT hingga panen. seperti pengolahan tanah. Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan 2.300 ha. padi hibrida seluas 290. Pangan Alternatif 3. Padi Hibrida Spesifik Lokasi f. Pengawalan. padi non hibrida spesifik lokasi seluas 33. Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi c. Pembinaan.700 Ha 33. pengawalan. dan Evaluasi Serealia 2. 25 Provinsi. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia TA 2012 Kegiatan SLPTT a. 31 Provinsi. Padi Hibrida e. pengaturan tanam. Selain itu. Padi Lahan Kering g. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 35 | P a g e .

Indikator output kinerja kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi adalah tercapainya luas areal penerapan budidaya tanaman aneka kacang dan umbi yang tepat dan berkelanjutan. (c) mengganggu lingkungan tumbuhnya pertanaman dan lingkungan kehidupan secara keseluruhan. mengevaluasi. Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dan apabila tidak berjalan sesuai yang diharapkan maka akan berdampak pada pelaksanaan kegiatan pengelolaan produksi tanaman serealia yang pada akhirnya berujung pada tidak tercapainya output yang diharapkan. monitoring dan evaluasi. (b) tidak efisiennya biaya usahatani yang digunakan. Uraian SLPTT Padi SLPTT Jagung Titik Risiko Ketepatan dalam menetapkan CPCL Ketepatan pemanfaatan anggaran Ketepatan pengolahan tanah Ketepatan dalam pemilihan teknologi Ketepatan pemberian sosial Faktor alam (tingkat intensitas cuaca) Ketepatan dalam mengevaluasi dan melaporkan 3.2. maka dilakukan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) serta pengembangan kedelai model. Tabel 11. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan.Pedoman Pelaksanaan Program anggaran. Dalam mewujudkan peningkatan produksi dan produktivitas kedelai.3. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). pengawalan. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. penyediaan dan penyaluran bantuan. 1. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. Kesalahan dalam penetapan dan penerapan komponen teknologi akan berdampak pada: (a) menurunnya kuantitas dan kualitas produksi tanaman serealia. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Serealian Tahun 2012 No. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 36 | P a g e . 2. Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Aneka Kacang dan Umbi. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan.

930.000 160.000 Kg Pestisida 2 Ltr Herbisida 5 Ltr Pendampingan Penyuluh 1 Paket Benih 40 Kg 1.000 200.000 200.390.600 2.000 500. Peneliti.000 500.000 250. B.000 230. Selain itu pada areal SL-PTT dialokasikan anggaran untuk ubinan setiap luasan 100 ha mendapat 1 (satu) unit sampling ubinan. Uraian SLPTT Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket Pupuk Organik 500 Kg Pestisida/Herbisida 2 Ltr Papan nama 1 Paket Pendampingan Penyuluh 1 Paket Pertemuan Kelompok Tani 1 Klp Pengembangan Kedelai Urea 100 Kg NPK 100 Kg Kapur Pertanian 500 Kg Pupuk Hayati 1 Paket (RYZOBIUM) Pupuk Organik 1. Tabel 12.Pedoman Pelaksanaan Program Dalam 10 ha areal SLPTT kedelai ditempatkan 1 unit laboratorium lapangan (LL) dengan luasan 1 Ha.000 150.000 500.000 250.000 3.000 1.000 80.000 400. POPT.000 1.000 250. Untuk menjamin keberhasilan penerapan di lapangan perlu dilakukan pengawalan dan pendampingan secara intensif oleh Penyuluh Pertanian.600 2.000 500.300 1. Rincian Biaya (Unit Cost) SLPTT dan Pengembangan Kedelai No. A.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 37 | P a g e .000 500 250.000 500. Sementara itu areal SL Non Laboratorium Lapangan hanya mendapat bantuan benih VUB. Laboratorium Lapangan memperoleh bantuan Benih dan Pupuk (NPK.000 13.000 230. Urea dan Organik) serta melakukan pertemuan petani pelaksana SL.390.000 160.000 500. Sedangkan pada pengembangan kedelai model dengan luasan 1 Ha.000 150.000 250.000 500 250.500 Volume Harga/Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 3.300 1.000 1.000 500.000 540.280. PBT dan Mantri Tani.000 250.

4 Kab/Kota 2 Provinsi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 38 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Sasaran tanam yang akan dicapai dari kegiatan SL-PTT kedelai TA 2012 seluas 350. Pengawalan. pemilihan benih. pengendalian OPT hingga panen. mengevaluasi. monitoring dan evaluasi.500 Ha. 2012 Dalam upaya pengelolaan produksi tanaman aneka kacang dan umbi titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap penetapan dan penerapan komponen teknologi SL-PTT. Kegiatan SL-PTT Kedelai Pengembangan Kedelai (Model) Pengembangan Kacang Tanah Pengembangan Ubi Kayu Pengembangan Ubi Jalar Koordinasi Non Kedelai Pembinaan. 9 Kab/Kota 24 Provinsi Pusat.094 Ha.000 Ha. 28 Provinsi. 5. pengairan. 175 Kab/Kota 11 Provinsi. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 No. dan Evaluasi Ubinan SL-PTT Kedelai Sasaran 350. pengembangan kedelai model seluas 2. 4. 2. 1. pengembangan kacang tanah seluas 100 ha. seperti pengolahan tanah. pengembangan ubi kayu seluas 300 ha. 29 Kab/Kota 1 Provinsi. (7) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. serta (8) kekonsistenan dalam mengendalikan. (6) ketepatan pembentukan tim pembina. (4) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL). pengawalan. dan pengembangan ubi jalar seluas 850 ha. pemupukan. Monitoring.000 Ha 2. 8. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. Alokasi Kegiatan Pengelolaan Produksi Aneka Kacang dan Umbi sebagaimana tabel berikut. 6. Untuk memastikan kinerja kegiatan SL-PTT Kedelai maka akan dilakukan uji ubinan secara baik dan tepat seluas 3. (2) ketepatan pengalokasian anggaran dengan realiasi tanam.094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Paket 209 Satker 3. 28 Provinsi. penyediaan dan penyaluran bantuan. 7. 180 Kab/Kota 175 Kab/Kota Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 2 Kab/Kota 1 Provinsi.500 Ha Lokasi 28 Provinsi. Tabel 13. pengaturan tanam. (5) ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran. (3) ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran. 3.

pedoman teknis. pedoman teknis. Pengembangan Kedelai - III Pengembangan Kacang Tanah - IV Pengembangan Ubi Kayu dan Ubi Jalar - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 39 | P a g e . pedoman teknis. dan petunjuk teknis Ketepatan penetapan calon penerima calon lokasi (CPCL) Ketepatan Surat Keputusan Dirjen Tanaman Pangan Ketepatan waktu ketersediaan benih Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar / kemitraan Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan. pedoman teknis. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. No. dan petunjuk teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian surat keputusan berkaitan dengan pengelola kesatkeran Ketersediaan benih tepat waktu Ketepatan kualitas benih termasuk varietas yang diminta Gangguan OPT dan DPI Ketersediaan lahan (kompetisi antar komoditas tanaman. misal antara padi – jagung) Ketersediaan akses informasi dan modal Ketersediaan pasar II. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Produksi Tanaman Aneka Kacang dan Umbi TA 2012 Uraian SL-PTT Kedelai Titik Risiko Ketepatan penyelesaian dokumen pelaksanaan.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 14.

jagung hibrida. Padi 67. Jagung 72. subsidi. padi lahan kering. bantuan langsung benih unggul dialokasikan pada DIPA Kementerian Pertanian dengan rincian sebagai berikut: bantuan benih padi non hibrida. Indikator output kinerja Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan adalah (1) lembaga perbenihan tanaman pangan yang dibina di lokasi penerapan budidaya tanaman pangan yang tepat.Pedoman Pelaksanaan Program 3. pembinaan. monitoring evaluasi BLBU. dan kedelai sebanyak 101. dan Cadangan Benih Nasional (CBN).00 persen. dan monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan yaitu melalui penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi petani. Penguatan kelembagaan perbenihan baik tingkat pusat. serta pemberian insentif petugas pengawas benih tanaman (PBT). (2) tersalurkannya bantuan langsung benih unggul (BLBU) untuk kawasan SL-PTT dan non SL-PTT. dan kedelai diperuntukkan bagi kegiatan SLPTT dan non SLPTT.3.31 persen. operasional Balai Benih Induk (BBI). dialokasikan untuk mendukung pengembangan kacang tanah. (3) tersedia dan tersalurkannya Cadangan Benih Nasional (CBN) untuk penanganan bencana alam dan pengembangan komoditas. serta (4) pengawalan dan monitoring BLBU. Pada TA 2012. ubi kayu dan ubi jalar (Direktif Presiden). pemberdayaan penangkar. ubikayu. dan ubijalar). kacang hijau. mempermudah akses petani terhadap benih varietas unggul bermutu. serta penggunaan sarana produksi yang dilakukan melalui kegiatan: operasional operasional UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD BPSBTPH). Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan Kegiatan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan. padi hibrida. pembangunan dan optimalisasi UPB. pengembangan perbenihan diharapkan dapat memperbaiki sistem produksi benih aneka kacang dan umbi (kacang tanah. Selain itu. Selain itu. jagung. Kedelai 67. provinsi maupun kabupaten dimaksudkan untuk memperlancar penyediaan benih varietas unggul bermutu komoditas tanaman pangan.90 persen. pembinaan. Sasaran pengembangan perbenihan tahun 2012 adalah tercapainya penggunaan benih bermutu varietas unggul dan bersertifikat sebagai berikut: a.pemberian Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU).3. c. pengawalan. b. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain berupa: (1) pelaksanaan penyaluran BLBU padi. pengawalan.50 ribu ton benih Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 40 | P a g e .

dan CBN di 32 provinsi dan 373 kabupaten/kota.(3) pelaksanaan operasional 31 Balai Besar Induk (BBI) di provinsi. dan kedelai. penangkar jagung seluas 700 ha. pemerintah terus mengupayakan pemberian subsidi harga benih dan cadangan benih nasional. Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) diberikan dalam rangka mendukung peningkatan produksi dan produktivitas terutama di lokasi SL-PTT. meringankan beban petani serta meningkatkan kesadaran penggunaan benih varietas unggul bermutu. jagung. (5) pelaksanaan pembangunan 4 (empat) UPB dan optimalisasi 8 (delapan) UPB di provinsi.500 ha. kekeringan. (7) pembinaan.05 juta Ha. dsb) serta eksplosi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).Pedoman Pelaksanaan Program untuk luas tanam 4. monitoring evaluasi pembangunan penangkaran benih di 27 provinsi dan 230 kabupaten/kota. meringankan beban petani serta meningkatkan ketersediaan benih dan penggunaan benih varietas unggul bermutu bagi kelompok tani/petani. (6) pelaksanaan deregulasi perbenihan. Komoditas yang difasilitasi adalah padi. Subsidi harga benih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas harga benih di pasar bebas. sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan produktivitas. pengawalan. (2) pelaksanaan operasional di 32 Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTDBPSBTPH) di provinsi. dan penangkar kedelai seluas 2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 41 | P a g e . monitoring evaluasi BLBU.(4) pelaksanaan pemberdayaan penangkar padi seluas 10. Selain bantuan langsung benih unggul.000 Ha. subsidi. Pengalokasian pengelolaan sistem penyediaan benih tanaman pangan TA 2012 dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Cadangan Benih Nasional (CBN) dimaksudkan sebagai upaya pemulihan dari pertanaman kelompok tani/petani yang terkena bencana alam (banjir. Rencana alokasi BLBU tahun anggaran 2012 difokuskan pada lokasi-lokasi yang melaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). (8) pembinaan. Hal ini merupakan keluaran dari kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan. serta (9) dibayarnya insentif 817 orang Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di 31 provinsi.

1. Pembangunan UPB Operasional UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.000 Ha 14 Unit 700 Ha 100 Unit 2. 3. 373 Kab/Kota 7. 32 Provinsi. 5. 4. Pengawalan. 100 Kab/Kota 4 Provinsi 8 Provinsi Pusat 27 Provinsi. Oleh karena itu. 9.000 ha 14. CBN Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 11.Padi . Padi Non Hibrida Padi Hibrida Padi Lahan Kering Jagung Hibrida Kedelai 67.500 ton 2.500 ton 300.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 15.000 ton 350. 6. 14 Kab/Kota 13 Provinsi.Kedelai 32 Provinsi 31 Provinsi 32 Provinsi 31 Provinsi 23 Provinsi.500 Ha 4 Unit 8 Unit 1 Paket 257 Paket 257 Paket Sasaran Lokasi Pusat Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar: . 10. agar kegiatan yang dihasilkan dapat berdaya guna dan berhasil guna serta tidak menimbulkan kerugian negara maka sangat diharapkan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. 165 Kab/Kota 5 Provinsi. 8.000 ha 12.Jagung . Alokasi Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA. 230Kab/Kota Pusat.000 ton 200.500 ton 500.000 ha 4. Monev Pembangunan Penangkaran Benih Pembinaan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 42 | P a g e . 2012 Secara umum semua kegiatan memiliki risiko jika tidak dilaksanakan sesuai aturan dan petunjuk yang ditetapkan. Monev BLBU. No.700.000 ha 3. 2012 Kegiatan BLBU 2.000 ha 32 Balai 817 Orang 32 Balai 31 Balai 200 Unit 10. Subsidi. Resiko kegagalan pencapaian keluaran (output) dan hasil (outcome) terjadi jika pelaksanaan tidak dilaksanakan tepat waktu. jumlah atau kualitas yang tidak sesuai speck.

Pedoman Pelaksanaan Program Jika dievaluasi faktor risiko seluruh kegiatan perbenihan. V. No. I Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan TA 2012 Uraian Titik Risiko BLBU mendukung SL-PTT padi. BLBU juga sangat berkaitan dengan kualitas benih yang disalurkan. jagung dan kedelai Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Ketepatan penyelesaian kegiatan sesuai dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan Kekonsistenan dalam mengendalikan. maka yang paling tinggi faktor risikonya adalah BLBU dan pemberdayaan penangkar. Insentif Pengawas Benih Tanaman Pangan Perbanyakan Benih Sumber Pemberdayaan Penangkar - VI. pengawalan Pembangunan Unit Prosesing Benih (UPB) Optimalisasi Balai Benih Palawija - VIII. VII. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Ketepatan pembayaran insentif Ketepatan waktu perbanyakan benih Ketepatan penyelesaian administrasi kegiatan Ketepatan alokasi anggaran terhadap dukungan teknis yang dimiliki Koordinasi yang baik antara Pusat dan daerah Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis terutama yang berkaitan dengan kriteria calon penerima calon lokasi (CPCL) dan pola pengelolaan Ketepatan penyelesaian dokumen kinerja dan anggaran Ketersediaan benih Ketepatan waktu dalam pembinaan. mengevaluasi. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 43 | P a g e . Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan - III. Tabel 16. Pembinaan. pendampingan dan pengawalan Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB Ketepatan speck Ketepatan waktu pelaksanaan kerja pembangunan UPB II. Bantuan Langsung Benih Unggul dan Pemberdayaan Penangkar berkaitan dengan waktu/musim tanam. IV. pendampingan.

Alokasi Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 236 Satker 220 Satker 13 Satker 13 Satker 11 Satker 11 Satker 20 Satker 4 Satker 9 satker 1 Satker Lokasi Pusat. (4) ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen. 204 Kab/Kota Pusat. 31 Provinsi. 204 Kab/kota Pusat. Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan merupakan kegiatan Direktorat Budidaya Pascapanen. (3) ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi. (5) ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis. Tabel 17.Kedelai . Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan sosial: .Jagung . penyediaan dan penyaluran bantuan.Vertical Dryer . mengevaluasi. 12 Provinsi 183 Kab/kota 11 kab/Kota 11 Kab/Kota 20 Kab/Kota 4 Kab/Kota 9 Kab/kota Pusat 5. 16 Provinsi. (6) ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. 2012 Dalam upaya penanganan pascapanen tanaman pangan titik risiko kegiatan adalah: (1) ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan.3.Padi . Alokasi kegiatan penanganan pascapanen tanaman pangan TA 2012 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 2. Untuk mendukung pencapaian output diperlukan berbagai proses yang saling terkait. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan. Indikator kinerja kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan adalah (1) jumlah kelompok tani yang menerapkan teknologi pascapanen tanaman pangan sesuai GHP (Good Handling Prossesing) dan standar mutu. serta (7) kekonsistenan dalam mengendalikan. 1. (2) ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan.Ubi jalar Dukungan manajemen lainnya Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 4. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 44 | P a g e .4. dan (2) jumlah kelompok tani yang mendapatkan bantuan sarana pasca panen tanaman pangan.Ubi kayu . No. 3.Pedoman Pelaksanaan Program 3.

Uraian Bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Survei susut hasil padi Bantuan social penanganan pascapanen tanaman pangan Dukungan manajemen lainnya - 2. 4. 1. dan melaporkan pelaksanaan kegiatan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 45 | P a g e . penyediaan dan penyaluran bantuan Kekonsistenan dalam mengendalikan. 5.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 18. mengevaluasi. Penilaian Risiko Atas Keberhasilan Kegiatan Penanganan Pascapanen Tanaman Pangan TA 2012 No. - - - Titik Risiko Ketepatan terhadap pelaksanaan bimbingan teknis penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu pelaksanaan apresiasi penanganan pascapanen tanaman pangan Ketepatan waktu dan pelaksanaan survei susut hasil padi Ketepatan sasaran pemberian bantuan sosial sarana pascapanen Ketepatan penyelesaian dokumen pedoman pelaksanaan dan/atau pedoman teknis Ketepatan jadwal waktu proses penentuan penerima bantuan. - 3.

11.168 Orang 2.3. Alokasi Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI TA 2012 Komponen Kegiatan SLPHT kelompok SLPHT tindak lanjut SLI Pengamatan. Tabel 19. (6) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 46 | P a g e . 57 unit 2 paket 86 unit 221 kelas 1. RK-KL Ditjen. No. dan (3) 95 % luas areal tanaman pangan yang menerapkan budidaya tanaman yang tepat aman dari gangguan OPT dan DPI. (2) meningkatnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. 5. bimbingan teknis. Indikator kinerja kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI adalah (1) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terserang OPT. Sumber. monitoring dan evaluasi Pengujian pestisida. 2012 Kegiatan ini dimaksudkan untuk pencegahan dan penanggulangan hama penyakit tanaman yang disebabkan oleh OPT dan DPI dengan hasil (outcome) yang diharapkan adalah: (1) menguatnya sistem pengamatan dan pengendalian dini.635 Unit 315 Unit 130 Unit 32 Unit 95 Unit 2 Paket 620 Kel.Operasional BPT . 1. 2.Pedoman Pelaksanaan Program 3. 10. Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan Dampak Perubahan Iklim (DPI) Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Gangguan OPT dan DPI dikelola oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 3.908 Orang 1 Paket 1 Paket Lokasi BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH LPHP BPTPH/ LPHP LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH BPTPH BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP BPTPH/ LPHP Ditlin/ Pusat BPMPT/ Pusat 9.Renovasi/Bangun gudang pestisida . Tanaman Pangan TA. 8. (4) menguatnya penerapan teknologi pengendalian OPT dan adaptasi DPI. Pengendalian OPT/DPI (P3OPT/DPI) Inovasi & diseminasi teknologi pengendalian OPT/adaptasi DPI Surveilans OPT Pemberdayaan PPAH Revitalisasi Brigade Proteksi Tanaman (BPT): . Peramalan. (2) jumlah maksimal luas areal tanaman pangan yang ditoleransi terkena DPI. 12. (3) menguatnya peran dan fungsi kelembagaan perlindungan.5.Sarana pengendalian OPT . 4. dan residu pestisida Sasaran 1. 6. 7. (5) meningkatnya gerakan pengendalian OPT dan adaptasi DPI.Pelatihan regu pengendali hama (RPH) Honorarium dan BOP THL TB POPT-PHP BOP POPT-PHP (PNS & Honorer) Koordinasi. pupuk.

Alokasi kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012 dapat dilihat pada tabel di atas. Database perlindungan tanaman pangan SLPHT & SLI 5. sehingga berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan.Pedoman Pelaksanaan Program tersedianya sarana pengendalian OPT. 1. Tabel 20. terdapat permasalahan baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran. 3. 2. Uraian Perencanaan kegiatan Bantuan sarana pengendalian OPT - Titik Risiko Ketersediaan SDM Koordinasi unit kerja Ketepatan waktu Identifikasi CPCL Pelaksanaan pendampingan penggunaan bantuan Pengaruh faktor iklim dan OPT Dukungan sarana pengolah data Sumberdaya manusia Pemberdayaan alumni Pemasyarakatan teknologi PHT Keseimbangan ekosistem Ketepatan dukungan administrasi dan teknis Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja. Dalam pelaksanaan kegiatan penguatan perlindungan tanaman pangan dari gangguan OPT dan DPI TA 2012. Penilaian Risiko Kegiatan Penguatan Perlindungan Tanaman Pangan dari Ganggguan OPT dan DPI TA 2012 No. dan (7) menguatnya database perlindungan tanaman pangan dan SIM OPT. 4. Evaluasi dan pelaporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 47 | P a g e . Jenis risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat di lihat pada tabel dibawah ini.

3. 3. (2) jumlah laboratorium yang menerapkan sistem mutu. peramalan dan pengendalian OPT. Indikator kinerja dari kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih adalah: (1) jumlah metode pengujian mutu benih yang dikembangkan. umum serta evaluasi dan pelaporan program peningkatan produksi. Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih Kegiatan Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih dikelola oleh Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH). Keluaran kegiatan ini adalah terlaksananya 1 paket operasional BBPOPT dan pembayaran gaji dan operasional kantor selama satu tahun. dan (3) jumlah provinsi yang menerapkan teknologi pengamatan.3.3. (3) jumlah laboratorium peserta uji profisiensi. (2) jumlah teknologi pengamatan. Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dimaksudkan untuk: (1) operasional Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT).7. dan (2) meningkatnya kinerja petugas dan pegawai di BBPPMBTPH Cimanggis dengan pelaksanaan pembayaran gaji dan operasional kantor di pusat selama satu tahun. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 48 | P a g e . Indikator kinerja dari kegiatan dukungan manajemen dan dukungan teknis lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan adalah 1) jumlah dokumen perencanaan. Pengembangan Peramalan Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kegiatan Pengembangan Peramalan Serangan OPT dikelola oleh Balai Besar Peramalan OPT.Pedoman Pelaksanaan Program 3. divalidasi dan disyahkan.8.6. produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan. Indikator kinerja kegiatan pengembangan peramalan serangan OPT adalah (1) jumlah informasi peramalan serangan OPT dan DPI. dan pengendalian OPT. peramalan. Sasaran dan keluaran kegiatan ini adalah: (1) terlaksananya 1 paket operasional Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Cimanggis. 3. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dikelola oleh Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. dan (2) peningkatan kinerja petugas dan pegawai di BBPOPT. keuangan.

Tabel 21. Bencana Alam. 33 Provinsi. 33 Provinsi Pusat. 5. 2012 Dalam pelaksanaan Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 ditemukan berbagai hambatan dan permasalahan yang tentu saja berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan akan berimplikasi terhadap kinerja yang diharapkan. Statistik (termasuk honor petugas SIMONEV) Dukungan Manajemen Lainnya LM3. 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 8. Kegiatan dan Anggaran Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN) Pengelolaan Bidang Umum Evaluasi. Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Keluaran kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan ini dapat dilihat pada tabel berikut. dan 3) jumlah cadangan saprodi untuk mengatasi dampak bencana alam. 2. 6. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 49 | P a g e . 9.161 Orang 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja 1 Satuan Kerja 408 Satuan Kerja Lokasi Pusat. Monitoring Evaluasi. 33 Provinsi. 4.Pedoman Pelaksanaan Program penyaluran bantuan modal untuk LM3. 1. Alokasi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Sasaran 3. 374 Kab/Kota Pusat. 374 Kab/Kota Pusat Pusat. 374 Kab/Kota Pusat. 374 Kab/Kota Pusat Pusat Pusat No. Kegiatan Insentif Mantri Tani Honor Pengelola Satuan Kerja dan Adminitasi Perencanaan Program. Penilaian risiko yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini. 3. dan Kekeringan Gaji dan Operasional Kantor 7. 33 Provinsi. 33 Provinsi.

Faktor alam .Pengawalan penggunaan dana penerima bantuan LM3 2. Penilaian Risiko Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No.Keterlambatan unit kerja lainnya dalam memberikan bahan (data dan informasi) . 1. Dokumen Manajemen dan Teknis Lainnya . Bantuan Bencana Alam dan Kekeringan 3.Ketepatan dukungan administrasi dan teknis .Kelengkapan administrasi pencairan dana bantuan LM3 .Tingkat kesadaran petugas atau unit kerja.Proses tender . LM3 Uraian Titik Risiko .Pengaruh intervensi pihak luar .Identifikasi Calon Lokasi . Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 50 | P a g e .Kelayakan Proposal .Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 22.

Hubungan hierarki tersebut terwujud dalam sistem perencanaan. BPSBTPH dan BPTPH). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 51 | P a g e . pemanfaatan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan oleh satuan kerja yang menerima pelimpahan atau penugasan dikelola. Untuk mendukung pemantapan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu adanya koordinasi dan peningkatan jaringan kerja melalui hubungan hierarki. dengan penjelasan sebagai berikut: Hubungan Hierarki Direktorat Jenderal Tanaman Pangan mempunyai hubungan hierarki dengan propinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana kegiatan pembangunan pertanian di daerah sesuai dengan azas tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. diharapkan masing-masing daerah juga dapat berkontribusi melalui APBD yang dimiliki. Hubungan Koordinasi Dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang berdasarkan sistem anggaran berbasis kinerja dibutuhkan sinergi perencanaan program dengan pembiayaan. khususnya pembangunan yang dibiayai dari APBN. Hal ini mengingat tugas dan tanggung jawab pimpinan instansi sebagai penanggung jawab operasional kegiatan cukup kompleks. Dengan koordinasi ini. dipertanggung jawabkan dan dilaporkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.Pedoman Pelaksanaan Program BAB IV TATA HUBUNGAN KERJA DAN PENGORGANISASIAN PROGRAM LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TA 2012 4. Untuk itu. koordinasi dan teknis fungsional. sehingga membutuhkan kerja keras serta selektif terhadap kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan. perlu dipahami bahwa tata hubungan kerja dalam pelaksanaan pembangunan tanaman pangan baik di pusat maupun daerah perlu ditingkatkan. sehingga didapat kesepakatan tentang tujuan dan sasaran pembangunan yang ingin dicapai bersama.1. Tata Hubungan Kerja Dalam mendukung pelaksanaan sistem anggaran berbasis kinerja. dilakukan melalui hubungan koordinasi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan UPT pusat dengan dinas provinsi dan kabupaten/kota yang menangani tanaman pangan dan UPTD (BBI. pengendalian dan pelaporan. Koordinasi dilakukan terutama untuk mempertemukan tujuan dan sasaran pembangunan nasional dengan tujuan dan sasaran pembangunan masing-masing daerah. Sebagai wujud pelaksanaan kegiatan tersebut.

Pedoman Pelaksanaan Program Koordinasi juga diperlukan antara UPT Pusat dengan UPT Daerah.2. dilaksanakan melalui pembinaan teknis kegiatan di lapangan seperti teknis penyiapan sarana produksi. khususnya perselisihan antar daerah. dan juga dalam aspek penyelesaian masalah (arbitrase) bila terjadi suatu perselisihan. efisien. Hubungan Teknis Fungsional Hubungan teknis fungsional dalam pelaksanaan program. Sedangkan anggaran tugas pembantuan adalah anggaran yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. Pengorganisasian Pelaksanaan program dilakukan dengan mengacu pada kaidah-kaidah administrasi pemerintahan. Besarnya jumlah anggaran ditentukan melalui proses perencanaan dan pembahasan antara pemerintah dan DPR. sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa. 4. Menteri Pertanian selaku Pengguna Anggaran mengalokasikan sebagian APBN untuk pelaksanaan tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Dalam melaksananakan pembangunan tanaman pangan. teknis perbenihan/perbibitan. Untuk pelaksanaan program. Direktur Jenderal Tanaman Pangan membantu Menteri Pertanian/Pengguna Anggaran dalam melaksanakan tugas operasionalnya dibidang tanaman pangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran/Barang di tingkat pusat. teknis perlindungan tanaman. Wujud dari hubungan teknis fungsional tersebut. dan berdaya saing. terutama untuk keseragaman peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. panen dan pasca panen. teknis usahatani. Dengan demikian produk/jasa yang dihasilkan dibidang tanaman pangan dapat diproduksi secara efektif. Anggaran dekonsentrasi merupakan bagian dari APBN yang pengelolaan dan tanggung jawab penggunaannya oleh Gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah melalui pelimpahan wewenang oleh pemerintah. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan yang berazaskan dekonsentrasi/tugas pembantuan bertujuan untuk dapat memenuhi standar teknis di bidang tanaman pangan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 52 | P a g e . Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. kegiatan dan anggaran di daerah. dan teknis pelatihan bagi aparat pertanian dan pelaku usahatani.

Dalam menjalankan tugasnya Kepala Balai Besar dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). b) Penanggung jawab program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk masing-masing unit kerja dan jenis anggarannya adalah sebagai berikut : a. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah satuan kerja di provinsi yang melaksanakan tugas dekonsentrasi dan satuan kerja di provinsi/kabupaten/kota yang melaksanakan tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. Kepala Balai Besar selaku Kepala Satuan Kerja dan KPA. Menteri Pertanian menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Presiden sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. kegiatan dan anggaran. 5) Untuk UPT Pusat BBPOPT dan BBPPMBTPH. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 53 | P a g e . b. pejabat eselon II dan III (khusus UPT BPMPTPH) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dikelompokkan sebagai berikut : a) Satuan Kerja Pusat adalah satuan kerja yang kewenangan dan tanggung jawabnya melakukan kegiatan pengelolaan anggaran dalam rangka pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan serta sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pengelolaan anggaran dan penanggung jawab program. dalam operasional kegiatan dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). Tingkat Pusat 1) Menteri Pertanian sebagai Penanggung Jawab Program Pembangunan Pertanian. Tingkat Provinsi 1) Gubernur sebagai penanggung jawab program. KTU/Kabag Umum sebagai Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. kegiatan dan anggaran dilakukan oleh satuan kerja. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. 2) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. dan Kabid/Pejabat eselon III sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). 4) Direktur Jenderal Tanaman Pangan selaku pembina program. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. 3) Direktur Jenderal Tanaman Pangan bertindak sebagai koordinator pengembangan komoditas tanaman pangan dan tugas-tugas pokok serta tugas-tugas pelayanan lainnya yang terkait dengan unit kerjanya.Pedoman Pelaksanaan Program Pelaksanaan program.

kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. dengan rincian sebagai berikut.Pedoman Pelaksanaan Program Gubernur menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Bupati/Walikota menetapkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan melaksanakan dan mengelola DIPA tugas pembantuan. kegiatan dan anggaran pada satuan kerja yang dipimpinnya. serta bertanggungjawab terhadap seluruh keberhasilan program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 54 | P a g e . Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. Tingkat Kabupaten/Kota 1) Bupati/Walikota sebagai penanggungjawab program. 4) Kepala Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota untuk anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dengan tembusan kepada Dinas tingkat provinsi yang membidangi tanaman pangan dan Direktur Jenderal Tanaman Pangan. masing-masing Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dibantu oleh dua orang Bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). dan 3) 374 satker di kabupaten/kota. kegiatan dan anggaran tugas pembantuan untuk pembangunan pertanian di daerahnya. 3) Untuk kelancaran operasional program. 2) 65 satker di provinsi. kegiatan pembangunan subsektor tanaman pangan dikelola oleh 442 satuan kerja. 4) Kepala Satker selaku KPA menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Gubernur untuk anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan provinsi. Bupati/Walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Menteri Pertanian. 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). 2) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ditetapkan sekaligus sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 3) Untuk kelancaran operasional program. 1) 3 saker di Pusat. kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Penguji dan Penerbit SPM. serta bertanggung jawab terhadap seluruh keberhasilan aktivitas program. masing-masing KPA dibantu dua orang bendahara (Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan). kegiatan dan anggaran (tertib administrasi dan keuangan) sehari-hari. Pada TA 2012. c. Penugasan dalam jabatan tersebut dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

455 3. 2. I.000 1.BBI *) . Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota TOTAL Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA.353. 1 2 3 4 II. 000. 2012 374 442 Daftar selengkapnya satuan kerja yang melaksanakan pembangunan tanaman pangan lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan pembiayaan APBN terdapat pada tabel dibawah ini.491. 1.Pedoman Pelaksanaan Program Tabel 23. 1.455 1. 3.899.245.BPSBTPH *) Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 374 374 442 Alokasi Anggaran (Rp.536 3. Jumlah dan Alokasi Anggaran Per Unit Kerja dan Satuan Kerja (Satker) DIPA TA 2012 No.746.500 61. II. III.084.000 267.498.498. Lokasi Pusat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Provinsi Dinas Pertanian di Provinsi Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Kabupaten/Kota Jumlah Satker DIPA (unit) 3 1 1 1 65 33 32 1.347.104.245.536 1. 2.991 2 BPTPH III.115.000 152. Kabupaten/Kota 1 Dinas Kabupaten/Kota TOTAL Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 55 | P a g e . 1 Unit Kerja Pusat Ditjen Tanaman Pangan BPMPT BBPPMBTPH BBPOPT Provinsi Dinas Provinsi .Dinas Provinsi .500 31.400.-) 1.000 9.000 7. Jumlah Satuan Kerja Pelaksana Program dan Kegiatan Lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 No. Tabel 24.007.300. I.093.000 512.846.500.

monitoring. dan kekeringan. 13) Pelaksanaan dukungan manajemen dari kegiatan teknis. 3) Penyaluran Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) padi. diantaranya: 1) Melaksanakan kegiatan SL-PTT padi (non hibrida spesifik lokasi. 12) Pengelolaan gaji. SLPTT budidaya tanaman aneka kacang dan umbi. 2. bidang umum. 6) Penyaluran insentif Mantri Tani.pengawalan. pembinaan. statistik dan pemberian honor petugas Simonev. penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran. Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BBPPMBTPH) di Cimanggis – DKI Jakarta. penanganan bencana alam. monitoring dan evaluasi BLBU. 10) Evaluasi. tunjangan. pengawalan dan monitoring evaluasi (SLPTT budidaya tanaman serealia. 11) Koordinasi penyaluran dana bantuan Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). subsidi dan CBN. perbenihan. dan perlindungan tanaman pangan). Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai berikut: 1. Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan di tingkat Provinsi Satuan kerja pembinaan dan pengembangan tanaman pangan provinsi memayungi kegiatan-kegiatan. 9) Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). 7) Penyaluran Honor Pengelola Satker dan Adminsitrasi. kegiatan dan anggaran. dan dukungan manajemen lainnya. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) di Jatisari. 2) Koordinasi. 8) Perencanaan program. pascapanen. Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memayungi kegiatan-kegiatan yang dikelola oleh unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Beberapa kegiatan yang dikelola diantaranya adalah: 1) Peningkatan kualitas pelayanan publik. 2012 Struktur anggaran TA 2012 mengikuti struktur kegiatan pada masing-masing satuan kerja di tingkat Pusat. dan kedelai. jagung. dan hibrida spesifik lokasi). 5) Pembinaan. 2) Fasilitasi kemitraan pangan alternatif. honorarium. non hibrida peningkatan IP.Pedoman Pelaksanaan Program Ket. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 56 | P a g e .: *) BBI dan BPSBTPH digabung dengan Satker Dinas Provinsi (Dekonsentrasi) Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 4) Penyusunan deregulasi perbenihan.

SLHT dan SLI.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) Pembinaan. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. Operasional POPT PHP. Perencanaan program. Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. penguatan kelembagaan perbenihan melalui aspek pengawasan mutu benih tanaman pangan. 3. honor pengelola Satker dan Administrasi. Penyaluran sarana pengendalian OPT. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit (LPHP). apresiasi dan monitoring evaluasi pascapanen. Pelaksanaan survei susut padi. Satuan Kerja Pembinaan Pengembangan Tanaman Pangan pada Dinas yang membidangi tanaman pangan tingkat Kabupaten/Kota Satuan kerja ini kegiatan-kegiatan pokoknya antara lain: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 57 | P a g e . P3OPT (BPTPH). Balai Benih. Satuan Kerja Balai Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih TPH Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan perbenihan sesuai fungsi BPSBTPH di seluruh provinsi. Pemberdayaan PPAH. Pemberian insentif Mantri Tani. Pemberian insentif petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT). pengawalan dan monitoring evaluasi (serealia. Satuan Kerja Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Satuan Kerja ini memayungi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengamanan produksi sesuai fungsi BPTPH di seluruh provinsi. bimbingan teknologi. dan Evaluasi. kegiatan dan anggaran. penangkaran benih. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). peramalan OPT dan dampak perubahan iklim. BLBU. Pembangunan dan optimalisasi UPB. statistik. subsidi dan CBN). 5. Dinas Pertanian Provinsi. aneka kacang dan umbi. pengelolaan data OPT. Surveilans OPT dan monitoring evaluasi Sekolah Lapangan. Kegiatan pokoknya adalah pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi benih. Penyaluran operasional dan sarana UPTD BPSBTPH. 4. Renovasi gudang Brigade. dan pelaporan (termasuk honor petugas Simonev). Pembinaan. Pelatihan alumni SLPHT untuk penguatan RPH. Kegiatan pokoknya adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) melalui pengamatan. monitoring evaluasi. THL POPT-PHP .

ubi kayu. Pemberian bantuan sarana pascapanen padi. Honor pengelola Satker dan administrasi. Operasional Brigade Proteksi/Gerakan Pengendalian OPT. kegiatan dan anggaran. Anggaran berbasis kinerja memiliki komponen : 1) Rencana Kerja (program.3. c) setiap kegiatan harus dilihat dari sistem efisiensi dan memaksimumkan keluaran (output). 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) Penjelasan secara rinci tentang masing-masing kegiatan yang dilaksanakan di Provinsi (Dinas yang membidangi tanaman pangan. jagung. dan ubi jalar. BLBU. pascapanen). Pengelolaan Anggaran Struktur Anggaran Kegiatan pembangunan tanaman pangan di daerah di stimulasi oleh APBN yang dibagi ke dalam dua pola. pola dekonsentrasi dan pola tugas pembantuan. jagung hibrida. Struktur anggaran berdasarkan kegiatan dari kedua pola anggaran di atas adalah sebagai berikut: pembiayaan dengan anggaran dekonsentrasi digunakan untuk memfasilitasi kegiatan yang bersifat non fisik dan dilaksanakan oleh dinas yang Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 58 | P a g e . kedua pola penganggaran tersebut tetap didasarkan kepada sistem penganggaran kinerja dengan ciri-ciri pokok kinerja antara lain: a) klasifikasi rincian belanja negara menurut organisasi. BBI. 4. subsidi. dan kedelai. dan Dukungan manajemen dan teknisnya. monitoring evaluasi. bukan pengawasan. Evaluasi. Perencanaan program. pengawalan. monitoring. ubi kayu. Ubinan SL-PTT kedelai. yang sebelumnya menurut sektor dan jenis belanja. Dalam pelaksanaannya. penangkaran benih. 2) Anggaran. dan d) menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target evaluasi pelaksanaan kinerja. Pengembangan kedelai (model).Pedoman Pelaksanaan Program 1) 2) Pelaksanaan kegiatan SLPTT padi non hibrida. Pemberdayaan Penangkar Benih padi. BPSBTPH dan BPTPH) maupun di Kabupaten/Kota (Dinas yang membidangi tanaman pangan) disajikan pada buku Pedoman Pelaksanaan yang dikeluarkan oleh masing-masing unit Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kacang tanah. kedelai. statistik (termasuk honor petugas Simonev). dan 3) Indikator Kinerja (keluaran/output dan hasil/ outcome). lokasi dan jenis belanja. dan pelaporan(serealia. Pembinaan. CBN. kedelai. padi hibrida. b) perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kinerja. dan pengeluaran). padi lahan kering. Pengelolaan SAI (termasuk honor SAP/SIMAK BMN). aneka kacang dan umbi. ubi jalar. jagung. kegiatan. fungsi.

transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. ekonomis. 100. 8) Keputusan/tindakan dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa seperti pengangkatan pejabat/panitia pengadaan dan pemeriksaan barang/jasa. serta kelompok masyarakat. membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan dan memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN. 2) Menetapkan dan mengesahkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS).000.000. 7) Membuat laporan keuangan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. sebagai pihak yang diberi tugas oleh Gubernur yang mendapat pelimpahan tugas dari pemerintah pusat. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1) Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa dan menetapkan paket-paket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil. keputusan penetapan penyediaan barang jasa.Pedoman Pelaksanaan Program membidangi tanaman pangan tingkat provinsi. 3) Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan sesuai kewenangannya. BPSBTPH dan BPTPH. jadwal.-) sampai dengan lima puluh milyar (Rp 50. 3) Melakukan pengawasan kepada pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/Pejabat Pembuat Komitmen dan Pemegang Uang Muka Kerja (PUMK). Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) 1) Melaksanakan kegiatan sesuai dengan DIPA yang telah disahkan secara tertib.000. 6) Menandatangani cek dan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP). b.000. efisien. 2) Menunjuk/memberi kewenangan kepada pejabat untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/pejabat pembuat komitmen.000. kontrak/perjanjian/SPK dengan nilai di atas seratus juta rupiah (Rp. 4) Mengadakan ikatan/perjanjian dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan.-) baik untuk pemilihan langsung/pelelangan ditetapkan oleh KPA Satuan Kerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 59 | P a g e . tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun oleh panitia pengadaan/pejabat pengadaan/unit layanan pengadaan. efisien dan efektif serta mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Rincian tugas dan wewenang aparat pengelola anggaran diuraikan sebagai berikut: a. 5) Menguji. Pengelolaan anggaran harus menggunakan prinsip-prinsip ekonomis. taat pada peraturan perundang-undangan. efektif.

baik yang dilakukan secara kontraktual maupun secara swakelola. Mengusulkan susunan panitia pengadaan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Mengajukan tagihan pembayaran kepada bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang membebani Uang Persediaan.Pedoman Pelaksanaan Program 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Menetapkan besaran uang muka yang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. TUP dan NIHIL. GUP. Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri dengan berita acara penyerahan melalui Kepala Satuan Kerja. Menetapkan Penyedia Barang/Jasa hasil pengadaan. Mengangkat staf pengelola anggaran sesuai kebutuhan. Melaksanakan rencana kerja sebagaimana telah ditetapkan dalam DIPA sesuai kegiatan masing-masing. Menandatangani dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Kepada Pejabat Pembuat Komitmen Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan diberi wewenangan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik. vakasi). Meneliti keberan dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan barang dan jasa. Menyusun laporan seluruh kegiatan yang dilakukannya sesuai DIPA dan menyampaikannyakepada Kuasa Pengguna Anggaran. serta memerintahkan pembayaran atas beban APBN. 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) 22) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 60 | P a g e . PPK agar berkoordinasi dengan pimpinan unit kerjanya masing-masing. Berita Acara Pemeriksaan Barang dan Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan. Menandatangani Surat Keputusan yang mengakibatkan pengeluaran (lembur. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan. UP. Surat perintah Tugas (SPT) serta Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD). Meneliti ketersediaan dana dan membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran pengeluaran yang bersangkutan. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedian barang/jasa. Menandatangani fakta integritas sebelum pelaksanaan pengadaan barang/jasa dimulai. LS. Dalam melaksanakan pekerjaannya. Menandatangani kwitansi pembayaran dan bukti-bukti dokumen pengeluaran anggaran Satuan Kerja. Menandatangani Surat Perintah Kerja (SPK)/Kontrak. serta dokumen pendukungnya dan menyampaikan kepada Pejabat penguji Tagihan/Penandatangan Surat Perintah membayar (SPM). honor.

8) Melakukan pengawasan DIPA yang dilaksanakan oleh pejabat pembuat Komitmen (PPK).Pedoman Pelaksanaan Program c. Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan atas nama KPA. dan Kepala Balai) dengan tugas dan tanggungjawab sebagai berikut: 1) Melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja sebagaimana yang telah ditetapkan dalam DIPA sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Direktur. 4) Melakukan koordinasi pengawasan dan pembinaan terhadap pelaksanaan tugas Pejabat Pembuat Komitmen lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Penanggungjawab Teknis Kegiatan Penanggungjawab teknis kegiatan adalah Pejabat Eselon II (Sekretaris Direktorat Jenderal. Pejabat Penguji dan Penerbit SPM 1) Menguji secara rinci keabsahan dokumen pendukung Surat Permintaan Pembayaran (SPP) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 7) Menyelenggarakan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang berada di bawah koordinasinya. 4) Memberikan pengarahan dan petunjuk kepada Pejabat dibawahnya untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/outputyang telah ditetapkan. 5) Menyampaikan laporan kinerja bulanan/triwulanan/semesteran dan tahunan kepada Kuasa Pengguna Anggaran. 6) Menyusun dan menyampaikan laporan seluruh kegiatan kepada atasan langsung. 2) Mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan anggaran. 10) Memberikan petunjuk dan arahan serta fasilitas untuk mengatasi permasalahan prinsip yang mungkin timbul. 3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan tugas penanggungjawab teknis kegiatan di seluruh unit kerja lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Disamping sebagai penanggungjawab teknis kegiatan. diberi wewenang untuk: 1) Menandatangani cek. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 61 | P a g e . 9) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan administrasi keuangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan output. 11) Menyusun usulan rencana kegiatan Satuan Kerja yang merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Anggaran kementerian/lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. d. 3) Memimpin seluruh pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan dalam DIPA. 2) Menandatangani surat dispensasi usulan Tambahan Uang Persediaan (TUP) kepada Kantor Wilayah Perbendaharaan.

Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). 6) Menguji apakah surat-surat serta data dukung telah memenuhi persyaratan yaitu dari segi ketelitian. menyimpan. 6) Bertanggungjawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. Bendahara Penerimaan Menerima. 1) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2) Pedoman Pelaksanaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 62 | P a g e . 5) Menguji kemungkinan adanya pemborosan dan in-efisiensi. 3) Menguji kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/perusahaan. menyimpan. pengurangan. 7) Mengonsep dan menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM) serta menyampaikan SPM ke KPPN setempat. membayarkan. nomor rekening dan nama bank). f. 2) Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran. ketepatan penjumlahan. mempersiapkan dan menetapkan beberapa dokumen sebagai berikut. 4) Menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. alamat. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada satuan kerjanya. menyetorkan. Bendahara Pengeluaran 1) Menerima. 4) Menguji pencapaian tujuan/sasaran kegiatan sesuai indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.Pedoman Pelaksanaan Program 2) Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh keyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja . Jadwal waktu pembayaran (kesesuaian dengan jadwal penarikan dana yang tercantum dalam DIPA dan/atau ketepatannya terhadap jadwal waktu pembayaran). KPA dan Bendaharawan Pengeluaran dalam pencairan anggaran pelaksanaan kegiatan harus memperhatikan. perkalian. apabila persyaratan tersebut diatas tidak terpenuhi. e. 5) Wajib menolak perintah bayar dari PPK atau KPA. 3) Menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran.

Ketentuan Pidana.Pedoman Pelaksanaan Program 3) 4) 5) 6) 7) Petunjuk Operasional Pelaksanaan (POK) Keputusan penetapan para pelaksana anggaran Membuat specimen bank ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mengurus Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) ke Kantor Pelayanan Pajak Menyiapkan dan menyelenggarakan Buku Pengawasan Pelaksanaan Anggaran per Mata Anggaran Kegiatan (MAK) 8) Menyiapkan dan meyelenggarakan Buku Pengawasan Uang yang harus dipertanggungjawabkan 9) Menyiapkan Buku Bank 10) Menyiapkan Buku Pungutan Pajak 11) Dan lainnya. Sisa/saldo anggaran lebih (SAL) merupakan penerimaan APBN dan disetorkan ke rekening Kas Umum Negara. sanksi administratif dan ganti rugi yang perlu diperhatikan adalah. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan). yang ketentuan mengenai tata cara pemberian sanksi dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 75. Semua barang yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan menjadi milik negara. Pimpinan Unit Organisasi Kementerian Negara/Lembaga/ Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. SKPD yang secara sengaja dan/atau lalai dalam menyampaikan laporan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dapat dikenakan sanksi berupa penundaan pencairan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk triwulan berikutnya. 1) Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota yang terbukti melakukan penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN diancam pidana penjara dan denda sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jika pelaksanaan kegiatan yang dibiayai oleh anggaran dekonsentrasi/tugas pembantuan dapat menghasilkan penerimaan. atau penghentian alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan untuk anggaran berikutnya. dan Ganti Rugi Beberapa ketentuan pidan. 4. 2) 3) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 63 | P a g e .4. maka merupakan penerimaan APBN dan penerimaan tersebut harus disetor ke Kas Umum Negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Sanksi Administratif.

efektif dan efisien. 3) Kegiatan Pengendalian. serta untuk mengatasi dan mencari pemecahan terhadap kendala maupun permasalahan yang mungkin muncul. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 64 | P a g e . bimbingan. akuntabel. kegiatan dan anggaran. 4) Informasi dan Komunikasi. maka pengendalian intern perlu dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: a) Mengetahui sejauhmana perkembangan pelaksanaan kegiatan dan anggaran serta ketepatan penggunaan anggaran dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. sehingga kontrol yang diberikan dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan di daerah. terbuka. arahan serta sejenisnya. PENGAWASAN. Kegiatan dan Anggaran Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. ada lima (5) unsur pengendalian yang perlu dicermati yaitu 1) lingkungan pengendalian. Unsur-unsur yang bertugas melaksanakan pengendalian yaitu : a. Dalam melaksanakan pengendalian intern. 2) penilaian risiko. Pengendalian intern dilakukan bukan saja hanya berkaitan dengan aspke program dan anggaran. 3) Memberikan bimbingan penyusunan prosedur tata kerja pelaksanaan program. maka mengingat tuntutan agar pengelola dan penerima manfaat kegiatan dan anggaran dapat bekerjasama melaksanakan tugas secara transparan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan pelaksanaan kegiatan teknis melalui penerbitan Pedoman Pelaksanaan sebagai acuan/rambu-rambu operasional kegiatan. keefektifan sumber daya.Pedoman Pelaksanaan Program BAB V PENGENDALIAN. dan berbagai hal lainnya. Pengendalian Program. workshop atau kursus perencanaan program. 4) Memberikan pelatihan. namun termasuk proses pengambilan keputusan.1. pelaksanaan dan pelaporan kegiatan pembangunan tanaman pangan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. 2) Melakukan sosialisasi Pedoman sebelum pelaksanaan kegiatan. Kegiatan pengendalian merupakan salah satu unsur pengendalian intern. penyusunan anggaran. c) Mencegah dan mengurangi terjadinya penyalahgunaan anggaran yang tidak sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. serta 5) Pemantauan Pengendalian Intern. monitoring maupun evaluasi) ke daerah baik dalam bentuk pembinaan. EVALUASI DAN PELAPORAN 5. b) Mengantisipasi secara dini permasalahan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dicari solusi pemecahannya. d) Memanfaatkan tahapan pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam penyempurnaan dan evaluasi kegiatan. 5) Melakukan supervisi (orientasi.

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi: Pemeriksaan kinerja aparat pengelola kegiatan. b. b. Kegiatan dan Anggaran Pada sistem penganggaran berbasis kinerja. pengusutan dan penilaian terhadap pengelolaan program. Obyek pemeriksaan diprioritaskan terhadap obyek yang anggarannya relatif besar. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 65 | P a g e . yaitu pemeriksaan apakah sumberdaya dan dana sudah digunakan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai serta pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.2. Pemeriksaan yang mengarah kepada pelaksanaan wewenang sesuai tugas pokok dan fungsi. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi dan Kabupaten/Kota Bentuk pengendalian yang dilakukan adalah: 1) Memberikan bimbingan kepada staf secara berjenjang dalam hal administrasi dan teknis pelaksanaan kegiatan di lapangan. Pengawasan Program. mempunyai aspek pelayanan masyarakat. a. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan reguler yaitu pemeriksaan setempat yang dilaksanakan secara reguler terhadap obyek pemeriksaan lingkup tanaman pangan berdasarkan program kerja pengawasan tahunan. sehingga akan dapat memberikan rekomendasi terhadap penyempurnaan pada kegiatan yang akan datang. kegiatan dan anggaran pembangunan tanaman pangan juga dilakukan secara eksternal oleh aparatur pengawasan seperti BPK. Sedangkan pengawasan melekat dilakukan Pejabat di lingkup Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. BPKP dan Bawasda. bantuan/pinjaman luar negeri serta mempunyai peranan strategis terhadap keberhasilan pembangunan tanaman pangan.Pedoman Pelaksanaan Program 6) Melakukan evaluasi tahunan untuk mengetahui kinerja keseluruhan sebagai dasar perencanaan program. Pengawasan ini dapat dilakukan setiap saat selama proses manajemen berlangsung. kegiatan pengawasan fungsional pembangunan tanaman pangan masih tetap dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian. Pengawasan fungsional terhadap program. Pengawasan yang dilakukan berupa pemeriksaan. 2) Menyusun prosedur tatakerja antara propinsi dan kabupaten/kota dengan cara meningkatkan koordinasi dan jaringan kerja. pengujian. kegiatan dan anggaran kinerja. 5. yaitu apakah kegiatan yang dilaksanakan sudah sesuai atau tidak. Sistem dan upaya pengawasan terus dikembangkan dan disempurnakan melalui berbagai langkah yang efektif agar dapat mengamankan kebijakan pembangunan tanaman pangan secara berdaya guna dan berhasil guna. kegiatan dan anggaran tahun 2013. 3) Membentuk Tim Pengendali Internal pelaksanaan kegiatan.

sedangkan efektivitas (hasil guna) dilakukan dengan mengukur sejauhmana hasil telah dicapai.Pedoman Pelaksanaan Program c. analisis dan evaluasi kinerja suatu instansi/organisasi. Pengukuran efisiensi secara ekonomis dilakukan dengan cara menilai penggunaan masukan yang paling ekonomis untuk mencapai keluaran tertentu. Membangun dasar bagi pengukuran.3. Ukuran efisiensi dan efektivitas secara skematis dapat dilihat pada gambar 5 berikut: Gambar 5. Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas Kinerja Pembangunan Tanaman Pangan Pengukuran Efisiensi dan Efektivitas NILAI MASUKAN (Rp) MASUKAN PROSES KELUARAN HASIL TUJUAN EKONOMIS (HEMAT) EFISIENSI (DAYA GUNA) EFISIENSI PEMBIAYAAN EFEKTIVITAS (HASIL GUNA) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 66 | P a g e . Penilaian kinerja pelaksanaan pembangunan tanaman pangan diukur dengan menggunakan indikator kinerja. manfaat dan dampak). Pemeriksaan akuntabilitas kinerja dimana instansi pelaksana kegiatan mempertanggung jawabkan wewenang dan tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. c. Indikator kinerja ini digunakan untuk meyakinkan apakah kinerja organisasi menunjukkan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Efisiensi (daya guna) diukur dengan cara membandingkan antara keluaran yang dihasilkan dengan masukan yang telah dikeluarkan. Monitoring dan Evaluasi 5. Indikator kinerja ditetapkan untuk: a. Memperjelas status jenis. Evaluasi pelaksanaan program. keluaran. termasuk dalam menilai kinerja instansi yang melaksanakannya. Pemeriksaan khusus dilaksanakan sewaktu-waktu melalui pengujian dan pendalaman untuk memperoleh kejelasan suatu informasi yang bersumber dari laporan masyarakat atau pengembangan dari pemeriksaan reguler yang dipandang perlu terhadap adanya dugaan terjadinya tindak pidana/ penyalahgunaan wewenang. kuantitas dan waktu suatu kegiatan dilaksanakan. d. hasil. kegiatan dan anggaran dilakukan dengan pendekatan indikator kinerja menggunakan alat ukur kerangka kerja logis (masukan. b. Membangun konsensus untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kegiatan.

tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. Selanjutnya Peraturan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2011 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2012 menyebutkan laporan kinerja dievaluasi dan dilaporkan kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan) dan menjadi masukan serta bahan pertimbangan untuk analisis dan evaluasi alokasi anggaran tahun 2013. kegiatan dan anggaran secara menyeluruh dilakukan oleh Tim. Pelaporan hasil pelaksanaan program. Materi evaluasi mencakup aspek administrasi.Pedoman Pelaksanaan Program Evaluasi dapat dilakukan pada saat awal kegiatan (ex-ante). Masing-masing penanggung jawab kegiatan juga harus melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Gubernur menyampaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan pembangunan pertanian kepada Menteri Pertanian. yang selanjutnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. sedang pelaksanaan kegiatan (on-going) dan evaluasi akhir (ex-post). dan Kabupaten/Kota. Evaluasi dilakukan di masing-masing Satker Provinsi. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan propinsi dilakukan secara berjenjang dari Dinas pertanian provinsi menyampaikan laporan kepada Gubernur dan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. kegiatan dan anggaran ini. aspek teknis dan anggaran. 5. Sesuai dengan pelaksanaan monitoring. aparat pelaksana kegiatan di provinsi dan kabupaten/kota wajib membuat laporan ke pusat. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Pelaporan Berdasarkan pasal 33 ayat 1 (a) dan pasal 60 ayat 1 (c) Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 2008. Mekanisme pelaporan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan kabupaten/kota dilakukan secara berjenjang yaitu dari Dinas pertanian kabupaten/kota menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota dan tembusan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 67 | P a g e . Evaluasi awal dan evaluasi saat pelaksanaan kegiatan sedang berjalan dapat dilakukan bersamaan dengan monitoring pelaksanaan kegiatan. Melalui laporan ini juga akan dapat dilihat sejauh mana tingkat keberhasilannya.07/2010. evaluasi dan pelaporan.4. menyebutkan SKPD wajib menyusun laporan pertanggungjawaban serta menyampaikannya setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (Menteri Pertanian/Direktur Jenderal Tanaman Pangan). merupakan penyampaian informasi serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak dari persiapan kegiatan sampai akhir pelaksanaan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Evaluasi program. sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing.

meliputi laporan manajerial dan laporan akuntabilitas yang dilakukan setiap bulan. Dinas pertanian provinsi merekapitulasi laporan dari seluruh kabupaten/kota dalam propinsi bersangkutan dan menyampaikan laporan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Setelah menerima laporan dari kabupaten/kota. Laporan yang disampaikan. triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. Gubernur selaku penerima pelimpahan anggaran dekonsentrasi dan penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan. misalnya bila ada permasalahan yang dihadapi baik dalam aspek adminsitrasi dan keuangan maupun teknis pelaksanaan kegiatan juga bisa disampaikan ke Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. baik untuk anggaran dekonsentrasi. yaitu laporan yang disampaikan jika terjadi sesuatu yang bersifat insidentil (mendesak). yang selanjutnya menyampaikan laporan ke Menteri Pertanian melalui Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 68 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Pangan dan Dinas pertanian provinsi. dan Bupati/Walikota selaku penerima penugasan pelaksanaan anggaran tugas pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban akhir seluruh pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari anggaran dimaksud kepada Menteri Pertanian. Format pelaporan dan waktu penyampaian laporan manajerial dan laporan akuntabilitas akan ditetapkan lebih lanjut oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian. Laporan insidentil. tugas pembantuan provinsi maupun tugas pembantuan kabupaten/kota. Kinerja penyampaian laporan akan dijadikan salah satu dasar penentuan anggaran tahun 2013 sebagai penerapan azas reward and punishment.

peningkatan kualitas sumberdaya manusia. kepercayaan masyarakat serta motivasi peningkatan kualitas kinerja pemerintah. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 69 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program BAB VI PENUTUP Keberhasilan pelaksanaan program. penataan kelembagaan. Sebagai tindak lanjut diterbitkannya seluruh Pedoman dimaksud. Pedoman ini merupakan acuan bagi semua pihak terkait dalam melaksanakan program dan kegiatan pembangunan tanaman pangan. perlu terus ditingkatkan keterpaduan pelaksanaan pembangunan tanaman pangan melalui pemantapan sistem dan metoda perencanaan. dan peningkatan koordinasi antar instansi terkait. Pedoman ini diharapkan dapat memberikan berbagai butir-butir untuk dilaksanakan dan sekaligus dirinci dalam pedoman pelaksanaan kegiatan dan/atau pedoman teknis. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan sangat tergantung kepada komitmen semua pihak terkait dalam melaksanakan kegiatan pembangunan tanaman pangan secara terpadu. Untuk itu. kegiatan dan anggaran berbasis kinerja sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi baik aparatur negara. kepada daerah diberikan keleluasaan untuk menjabarkannya lebih lanjut ke dalam Petunjuk/Pedoman Teknis sesuai dengan keragaman karakteristik dan kondisi setempat. Pedoman ini akan dilengkapi dengan Pedoman yang bersifat teknis dari masing-masing kegiatan.

Pedoman Pelaksanaan Program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 70 | P a g e .

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 1. Daftar Satuan Kerja (Satker) dan Kode Satker di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota TA. 2012
NO. 1. 1. 2. 2. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 3. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 KODE SATKER DKI JAKARTA 010082 010091 JAWA BARAT 020069 020534 020614 020730 020823 020932 021009 021107 021241 021334 021439 021510 021614 021714 021816 021933 022024 022102 025312 026009 JAWA TENGAH 030010 030106 030203 030309 030403 030505 030627 030729 030830 030932 031024 031104 031217 031313 031429 031532 031635 031703 031812 031934 032030 032118 032203 032305 NAMA SATKER Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan & Hortikultura DKI Jakarta Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab Bogor Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Sukabumi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Cianjur Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bekasi Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Karawang Dinas Pertanian, Kehutanan Dan Perkebunan Kab Purwakarta Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Bandung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sumedang Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Garut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Ciamis Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan Dan Kehutanan Kab. Cirebon Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kab Kuningan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Indramayu Dinas Pertanian Kab Majalengka Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Bandung Barat Dinas Pertanian Kota Sukabumi Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Tasikmalaya Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Jawa Tengah Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Semarang Dinas Pertanian Kabupaten Kendal Dinas Pertanian Kab Demak Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Grobogan Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Pekalongan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Tegal Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Brebes Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Pati Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Kudus Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Pemalang Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Jepara Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Rembang Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Blora Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banyumas Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Cilacap Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga Dinas Pertanian, Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Magelang Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Temanggung Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo Dinas Pertanian Kabupaten Purworejo Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Kebumen

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 71 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 47 48 49 50 51 52 4. 53 54 55 56 57 5. 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 6. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 KODE SATKER NAMA SATKER 032430 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Klaten 032505 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Boyolali 032637 Dinas Pertanian Kab. Sragen 032727 Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo 032812 Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Karanganyar 032907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Wonogiri DI. YOGYAKARTA 040070 Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta 040138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Bantul 040227 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kabupaten Sleman 040324 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Gunung Kidul 040432 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo JAWA TIMUR 050004 Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur 050132 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Gresik 050208 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Mojokerto 050322 Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo 050448 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Jombang 050509 Dinas Pertanian Kabupaten Sampang 050611 Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan 050708 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Sumenep 050836 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangkalan 050908 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bondowoso 051007 Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo. 051139 Dinas Kehutanan, Pertanian Dan Urusan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi. 051217 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Jember. 051342 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Malang 051414 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan 051508 Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo 051635 Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang 051704 Dinas Pertanian Kabupaten Kediri 051815 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tulung Agung 051936 Dinas Pertanian Daerah Kab Nganjuk 052031 Dinas Pertanian Kehutanan Dan Perkebunan Kab Trenggalek 052103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Blitar 052214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Madiun 052330 052407 052504 052604 052739 052832 052930 ACEH 060060 060106 060216 060317 060415 060517 060621 060714 060813 060916 061021 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ngawi Dinas Pertanian Kabupaten Magetan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Pacitan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Dinas Pertanian Kabupaten Tuban Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Lamongan Dinas Pertanian Provinsi Aceh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Aceh Besar Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Pidie Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab Aceh Utara Dinas Pertanian Dan Hortikultura Kab Aceh Timur Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Selatan Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Aceh Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Simeulue Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Aceh Singkil

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 72 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
NO. 99 100 101 102 103 104 105 106 107 7. 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 8. 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 KODE SATKER NAMA SATKER 061106 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Bireun 061207 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Barat Daya 061315 Dinas Pertanian Kab. Gayo Luwes 061412 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Aceh Jaya 061504 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Nagan Raya 061604 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Aceh Tamiang 061709 Dinas Pertanian Tp, Peternakan Dan Perikanan Kab Bener Meriah 061802 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya 065602 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Subulussalam SUMATERA UTARA 070049 Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara 070108 Dinas Pertanian Kab. Deli Serdang 070239 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Karo 070305 Dinas Pertanian Kab. Langkat 070432 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Tapanuli Tengah 070513 Dinas Pertanian Kab Simalungun 070607 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kab. Labuhan Batu 070730 Dinas Pertanian Kab. Dairi 070807 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara 070907 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Tapanuli Selatan 071032 Dinas Pertanian Kab. Asahan 071152 Dinas Pertanian Kab Nias 071228 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Samosir 071231 Dinas Pertanian Kab Toba Samosir 071331 Dinas Pertanian Kab.Mandailing Natal 071411 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kab Nias Selatan 071525 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Pakpak Barat 071604 Dinas Pertanian Kab. Humbang Hasundutan 072018 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Serdang Bedagai 072103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Batubara 072201 Dinas Pertanian Darah Kab. Padang Lawas 072301 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Padang Lawas Utara 072502 Dinas Pertanian Kab. Labuhan Batu Utara 072603 Dinas Pertanian,Peternakan, Kelautan Dan Perikanan Kab. Nias Utara 072703 Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan Dan Peternakan Kab. Nias Barat 075714 Dinas Pertanian, Perikanan Dan Kehutanan Kota Padang Sidempuan SUMATERA BARAT 080008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Sumatera Barat 080129 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Agam 080222 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Pasaman 080321 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Limapuluh Kota 080408 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Solok Selatan 080418 Dinas Pertanian Dan Perikanan Kab Solok 080522 Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura Perkebuan Dankehutanan Kab. Padang Pariaman 080631 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura, Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Pesisir Selatan 080711 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tanah Datar 080823 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung 081019 Dinas Pertanian Kabupaten Dharmas Raya 081214 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Kab. Pasaman Barat 085538 Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Dan Kehutanan Kota Padang 085604 Dinas Pertanian Kota Payakumbuh 085708 Dinas Pertanian, Peternakan Dan Perkebunan Kota Pariaman

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 73 | P a g e

9. Sarolangun 100530 Dinas Pertanian Dan Tanaman Pangan Kabupaten Kerinci 100616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Tulang Bawang Barat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 74 | P a g e . Tanggamus 120739 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Timur ( 03 ) 120822 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kab. Pesawaran 121005 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Peternakan &Perikanan Kabupaten Way Kanan 120903 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Empat Lawang 115138 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kota Palembang 115413 Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Tanjung Jabung Timur 100816 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Lampung Utara 120427 Dinas Pertanian Kab. Muara Enim 110608 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lahat 110703 Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Musi Rawas 110809 Dinas Pertanian Kab. Indragiri Hulu 090436 Dinas Tanaman Pangan.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Bungo 100418 Dinas Pertanian Kab. Tebo 100915 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi 105134 Dinas Pertanian Kota Jambi 105202 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kehutan Kota Sungai Penuh SUMATERA SELATAN 110005 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Propinsi Sumatera Selatan 110328 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Musi Banyuasin 110416 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Ogan Komering Ulu 110503 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Lampung Barat 120503 Dinas Pertanian. Kuantan Sengingi 091308 Dinas Pertanian . Mesuji 121201 Dinas Pertanian. Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Pringsewu 121101 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kota Pagar Alam 115518 Dinas Tanaman Pangan. Perkebunan & Kehutanankabupaten Tulang Bawang 120625 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 10. Kampar 090239 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkalis 090435 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Oku Selatan 111210 Dinas Pertanian. Lampung 120108 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan 120207 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Lampung Tengah 120330 Dinas Pertanian Kab. Peteranakan Dan Perikanan Kab Siak 091214 Dinas Tanaman Pangan Kab. Tanjung Jabung Barat 100317 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Indragiri Hilir 090616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Ogan Komering Ilir 110916 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banyuasin 111009 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Oku Timur 111104 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Kehutanan Dan Perkebunan Kota Lubuk Linggau LAMPUNG 120004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Prov. Peternakan Dan Perikanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Merangin 100717 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 11. Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti JAMBI 100008 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jambi 100130 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab. Batanghari 100237 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Ogan Ilir 111702 Dinas Tanaman Pangan. Rokan Hilir 090932 Dinas Pertanian. 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 12. Kehutanan. 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 KODE SATKER NAMA SATKER RIAU 090072 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Riau 090118 Dinas Pertanian. Pelalawan 090715 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Rokan Hulu 090816 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab.

Perikanan Dan Peternakan Kab. Perikanan Dan Peternakan Kab. Katingan 140811 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Banjar 150213 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Perkebunan Kabupaten Tanah Laut 150330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Tapin 150428 Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan 150504 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah 150509 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala 150730 Dinas Tanaman Pangan. Sambas 130237 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Penajam Paser Utara 161013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kutai Kartanegara 161204 Dinas Pertanian. Kayong Utara 131201 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Sanggau 130306 Dinas Pertanian. Kutai Barat 160807 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Barito Utara 140308 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Barito Selatan 140408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Timur 140429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kotawaringin Barat 140606 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seruyan 140612 Dinas Pertanian Kab. Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Nunukan 160518 Dinas Pertanian. Sekadau 131102 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 14. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Lamandau 141006 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Gunung Mas 141007 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pulang Pisau 141107 Dinas Pertanian. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 15. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Balangan KALIMANTAN TIMUR 160059 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prop. Hulu Sungai Utara 151006 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Tanah Bumbu 151105 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura . Peternakan. Peternakan Dan Perikanan Kab. Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perikanan Kab. Kalimantan Timur 160230 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Tanah Grogot Kabupaten Paser 160330 Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan 160406 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Berau 160505 Dinas Pertanian. Peternakan Dan Perikanan Kab Murung Raya 141306 Dinas Pertanian. Malinau 160705 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kabupaten Kutai Timur 160721 Dinas Perkebunan. Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Melawi 131004 Dinas Pertanian. 13. 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 KODE SATKER NAMA SATKER KALIMANTAN BARAT 130071 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat 130105 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 16. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sintang 130404 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pontianak 130506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Kapuas Hulu 130635 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Ketapang 130729 Dinas Pertanian Kabupaten Bengkayang 130814 Dinas Pertanian Kab Landak 130904 Dinas Pertanian. Sukamara 140908 Dinas Pertanian. Tabalong 150735 Dinas Pertanian Kabupaten Kotabaru 150934 Dinas Pertanian Tp Dan Hortikultura Kab. Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Barito Timur KALIMANTAN SELATAN 150002 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Propinsi Kalimantan Selatan 150058 Dinas Pertanian. Kehutanan. Tana Tidung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 75 | P a g e . Kubu Raya KALIMANTAN TENGAH 140004 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah 140137 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Kapuas 140232 Dinas Pertanian.

Pertanian Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Morowali 180706 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. 297 298 299 KODE SATKER NAMA SATKER SULAWESI UTARA 170052 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara 170085 Dinas Pertanian.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Tana Toraja 190713 Dinas Pertanian Kabupaten Maros 190918 Dinas Tanaman Pangan. Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Minahasa 170240 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bolaang Mongondow 170330 Dinas Pertanian Kabupaten Sangihe 170605 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Minahasa Selatan 170704 Dinas Pertanian. Minahasa Utara 171008 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab. Hortikulutura Dan Peternakan Kabupaten Luwu 191018 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sinjai 191107 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Bulukumba 191214 Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Bantaeng 191310 Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto 191427 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kab. Tojo Una-Una 181202 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. 17. Peternakan Dan Perikanan Kota Tomohon 170706 Dinas Pertanian. Bolaang Mongondow Utara 171303 Dinas Kelautan. Perkebunan &Peternakan Kabupaten Luwu Timur 192501 Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kab. Pangkep 191903 Dinas Tanaman Pangan & Hortikultura Kab Soppeng 192106 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Enrekang 192215 Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Utara 192420 Dinas Pertanian. Sigi SULAWESI SELATAN 190049 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 190058 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sidrap 190104 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Pinrang 190207 Dinas Pertanian Kabupaten Gowa 190304 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Wajo 190503 Dinas Pertanian Tanaman Pangan &Hortikltura Kabupaten Bone 190606 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Perkebunan. Perikanan. 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 18. 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 20. Minahasa Tenggara 171163 Dinas Pertanian. 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 19. Bolaang Mongondow Selatan 171403 Dinas Pertanian Dan Peteranakan Kab. Peternakan Dan Perkebunan Kab. Banggai Kepulauan 180806 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong 180908 Dinas Pertanian. Kepulauan Selayar 191524 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kabupaten Takalar 191620 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Barru 191713 Dinas Peternakan Dan Perikanan Kabupaten Sidrap 191829 Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Buol 180605 Dinas Pertanian. Bolaang Mongondow Timur 175401 Dinas Pertanian Kota Kotamobago SULAWESI TENGAH 180039 Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Tengah 180071 Dinas Pertanian Kabupaten Poso 180205 Dinas Pertanian. Kehutanan. Toraja Utara 195317 Dinas Pertanian & Peternakan Kota Palopo SULAWESI TENGGARA 200071 Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara 200208 Dinas Pertanian Kabupaten Buton 200305 Dinas Pertanian Kabupaten Muna Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 76 | P a g e . Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kabupaten Donggala 180304 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Toli-Toli 180408 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Banggai 180524 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab.

Peternakan. Kehutanan. Perkebunan. Bombana Dinas Perkebuanan Dan Hortikultura Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Ende 240904 Dinas Pertanian. Belu 240330 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab. Kehutanan. Lombok Utara 235106 Dinas Pertanian. Maluku Tenggara Barat Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Pulau Buru 210610 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Barat 210710 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Seram Bagian Timur 210904 Dinas Pertanian Kab. Buru Selatan BALI 220074 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali 220103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Buleleng 220204 Dinas Pertanian. Perkebunan & Pertanian Kab Sumbawa Barat 230802 Dinas Pertanian . Perkebunan Dan Perhutanan Kab Bangli 220741 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutana Kab Badung 220807 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Kabupaten Tabanan NUSA TENGGARA BARAT 230004 Dinas Pertanian Tanaman Pangan & Hortikultura Prov Nusa Tenggara Barat 230116 Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Barat 230208 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah 230306 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur 230421 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Bima 230535 Dinas Pertanian. 300 301 302 303 304 305 21. Konawe Utara Dinas Pertanian Provinsi Maluku Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Maluku Tengah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kab. Perhutanan Dan Perkebunan Kabupaten Gianyar 220506 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Karangasem 220610 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Sikka 240704 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kabupaten Flores Timur 240806 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Rote Ndao Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 77 | P a g e . 306 307 308 309 310 311 312 313 314 22. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Klungkung 220403 Dinas Pertanian. Lembata 241412 Dinas Pertanian. 315 316 317 318 319 320 321 322 323 23. Kolaka Utara Dinas Pertanian Kab Konawe Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Tanaman Pangan Kabupaten Sumbawa 230616 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Dompu 230715 Dinas Kehutanan. Timor Tengah Selatan 240540 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab Alor 240617 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kabupaten Kupang 240203 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. Timor Tengah Utara 240407 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kab. Dan Kelautan Kabupaten Jembrana 220307 Dinas Pertanian. Maluku Barat Daya 211002 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Peternakan Kab. Kelautan Dan Perikanan Kota Mataram 235206 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Peternakan Kota Bima NUSA TENGGARA TIMUR 240072 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur 240103 Dinas Pertanian. Maluku Tenggara Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hrotikultura Dan Peternakan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Ngada 241047 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Manggarai 241103 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Sumba Timur 241206 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat 241318 Dinas Pertanian Dan Kehutanan Kab. Hortikultura Dan Peternakan Kab. Perkebunan Dan Hortikultura Kab. Kehutanan. 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 KODE SATKER 200444 200507 200627 200809 200909 201003 MALUKU 210003 210103 210230 210309 210410 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Kolaka Dinas Pertanian Kabupaten Konawe Selatan Dinas Pertanian. 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 24.

Perkebunan Dan Peternakan Kabupaten Manggarai Barat 241705 Dinas Pertanian. 380 381 382 383 384 385 29. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Sumba Barat Daya 242002 Dinas Pertanian. Sumba Tengah 241902 Dinas Pertanian Kab. Gorontalo Utara KEPULAUAN RIAU 320017 Dinas Pertanian. 373 374 375 376 377 378 379 28.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Kehutanan. Pohuwato 310407 Dinas Pertanian. Bengkulu Tengah 265109 Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan Kota Bengkulu MALUKU UTARA 280055 Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 280239 Dinas Pertanian & Peternakan Kab. Perkebunan. Perkebunan Dan Ketahanan Pangan Kab. Perkebunan. Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 78 | P a g e . 350 351 352 353 354 25. Halmahera Utara 280405 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Selatan 280613 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Halmahera Timur 280705 Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat 280808 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Perikanan Dan Kelautan Kab. Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 300223 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka 300505 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bangka Selatan GORONTALO 310005 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Gorontalo 310106 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kabupaten Gorontalo 310207 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Boalemo 310306 Dinas Pertanian Kab. Jayapura 250746 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kabupaten Merauke 250806 Dinas Tanaman Pangan Dan Perkebunan Kab Jayawijaya 251036 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab Nabire 251706 Dinas Pertanian. 395 KODE SATKER NAMA SATKER 241503 Dinas Pertanian. Nagekeo 241802 Dinas Pertanian. 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 27. Perikanan Dan Kelautan Kab. Bengkulu Selatan 260335 Dinas Pertanian Kab. Perkebunan Dan Kehutanan Kab. Peternakan Dan Perikanan Kab Keerom 255134 Dinas Pertanian Kota Jayapura BENGKULU 260003 Dinas Pertanian Propinsi Bengkulu 260103 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara 260204 Dinas Pertanian Kab. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab. Bone Bolango 310704 Dinas Pertanian. 355 356 357 358 359 360 361 26. Pulau Morotai BANTEN 290006 Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten 290106 Dinas Pertanian Kabupaten Serang 290240 Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kab. 386 387 388 30. 389 390 391 392 393 394 31. Pandeglang 290304 Dinas Pertanian Kabupaten Lebak 290429 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Tangerang 295301 Dinas Pertanian Kota Serang KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 300062 Dinas Pertanian. Kehutanan. Halmahera Tengah 280314 Dinas Pertanian Kab. Manggarai Timur PAPUA 250034 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua 250108 Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab. Rejang Lebong 260407 Dinas Pertanian Kabupaten Seluma 260506 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Kaur 260613 Dinas Pertanian Perkebunan Dan Kehutanan Kab Muko-Muko 260711 Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lebong 260813 Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kab Kepahiang 260903 Dinas Pertanian.

Peternakan Dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Barat Dinas Pertanian. 32. 403 404 405 406 407 408 KODE SATKER PAPUA BARAT 330047 330136 330238 330412 330604 330716 331006 NAMA SATKER Dinas Pertanian. Perkebunan. 396 397 398 399 400 401 402 33. Teluk Wondama Dinas Pertanian. Polewali Mandar 340509 Dinas Pertanian. Perkebunan Dan Hortikultura Kab Mamasa Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 79 | P a g e . Peternakan Dan Perkebunan Kabupaten Manokwari Dinas Tanaman Pangan Dan Hortikultura Kab Sorong Dinas Pertanian Kabupaten Sorong Selatan Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Pertanian. Peternakan. Peternakan. Peternakan Dan Ketahanan Pangan Kab.Pedoman Pelaksanaan Program NO. Perkebunan Dan Kehutanan Kab Majene 340206 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kabupaten Mamuju 340303 Dinas Pertanian. Kehutanan Dan Perikanan Kabupaten May Brat SULAWESI BARAT 340042 Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat 340106 Dinas Pertanian. Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Mamuju Utara 340407 Dinas Pertanian Dan Peternakan Kab.

14. 17. 18. 13. 6. Agenda Perencanaan Nasional No. 3. 12. 16. Agenda Musrenbangtan Tingkat Kabupaten/Kota Musrenbangtan Tingkat Provinsi Penetapan Pagu Indikatif Musrenbangtan Nasional Penyusunan Renja KL Penelaahan Renja KL oleh Bappenas dan Kemenkeu SK Menkeu tentang Penetapan Pagu Sementara Penyesuaian Renja menjadi RKA-KL Pembahasan RKA-KL dengan DPR Penelaahan RKA-KL oleh Bappenas dan Kemenkeu Nota Keuangan dan RUU RAPBN Penetapan UU APBN Penetapan Pagu Indikatif Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penelaahan DIPA – SRAA di Ditjen Anggaran Kemenkeu Penetapan Perangkat Pengelola Keuangan dan Penyampaian ke Menteria Pertanian Penerbitan SRAA oleh Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu Penerbitan DIPA Penetapan Pedoman Pelaksanaan Program/Kegiatan/Teknis oleh Kementerian dan Unit Eselon I Waktu Pertengahan Maret Akhir Maret Maret Awal April April Mei Juni Juni Juli Juli Agustus September Oktober Oktober-November NovemberDesember NovemberDesember Desember Akhir Desember Akhir Desember Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 80 | P a g e . 5. 9. 7. 11. 4. 8. 1. 15. 2. 19.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 2. 10.

III. 1. Riau. Gorontalo. 5. Tanaman Pangan TA. 3. Jatim. 3. 3. BPTPH. Peb. VI. Bakorluh Dinas Provinsi Dinas 12 Provinsi (Aceh. Bakorluh Dinas Provinsi. Riau 2. Sumut. Produsen Benih Dinas Provinsi. 3. stakeholders Dinas Provinsi. Kaltim. NTB. DI Yogyakarta. Jatim. Maret April Sept. Banten. 1. Koordinator PBT BPSBTPH. BPTPH. Div re Bulog Dinas Provinsi. Penyuluh BPTPH BPTPH Dinas Provinsi. 4. BPSBTPH. 1. agribisnis aneka kacang & umbi Koordinasi& sosialisasi pengembangan kedelai melalui PAT Direktorat Pascapanen Tanaman Pangan Rapat Regional I (Aceh. 1. I. Papua) Koordinasi pengembangan agribisnis kedelai Koordinasi pengemb. BPMPT Ka BPSBTPH. 4. Sulteng. 2. Mei Peb. II. Sultra. Malut. Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Sinkronisasi Program dan Kegiatan Peb. DIY. Sulbar) Koordinasi teknis perlindungan tanaman Maret Evaluasi kegiatan perlindungan tanaman Nov. Jabar. 2012 Koordinasi Penyusunan ASEM 2011 dan Maret ARAM I 2012 Makasar 2. Sumut. NTT. No. Sumbar. Ka BBI. Kalsel Bali Jakarta Bandung Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 81 | P a g e . BPSBTPH. BBPPMBTPH. BPSBTPH. Kalsel. Div re Bulog Dinas Provinsi. 1. BUMN. Lampung. Sumsel. stakeholders Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Direktorat Budidaya Serealia Rakor Regional III (Jateng. Jabar. Babel. Kepri) Koordinasi/workshop penanganan pascapanen tanaman pangan Pertemuan persiapan survey susut hasil 2. Pertemuan apresiasi penanganan April pascapanen tanaman pangan Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Rakor Regional II (Bengkulu. penyaluran benih bersubsidi & bantuan benih Forum Perbenihan Maret April Agst Jabar Sumsel 2. Maluku. BPTPH. Nov. Peb. BPTPH. NTB) Dinas Provinsi 4. Bakorluh Dinas Provinsi. Kalbar) Koordinasi Teknis Perbenihan Sosialisasi pengawasan. Kalteng) Sosialisasi P2BN Pemantapan Pelaksanan P2BN Pertemuan adopsi teknologi budidaya serealia Rapat evaluasi P2BN Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Rakor Regional V (Bali. BBI. Sulsel. stakeholders Dinas Provinsi. Papua Barat. Kabid Tanaman Pangan / Kasie Benih Ka BPSBTPH. Dinas Kab. 3. 4. BPS Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan Rakor Regional IV (Sulut. Div re Bulog Dinas Provinsi Dinas Provinsi. IV. Lampung. Sulsel Jabar Sumut Dinas Provinsi. Sulsel. BPSBTPH. BPTPH. 1. Agenda Pertemuan Nasional Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 Waktu Februari Lokasi Jatim Peserta Dinas Provinsi. 2. Dinas Kabupaten. Sumsel. Jambi. DIY NTB Dinas Provinsi. BPSBTPH Dinas Provinsi. V.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 3. Dinas Kabupaten. Dinas Kabupaten. Banten. Maret Mei Juni Juli Jabar DIY Jatim Sulsel Bali Jatim DIY Jatim Peb. BBPOPT. Kalsel. BPSBTPH. BPTPH. Jateng.

BPTPH. 6. BPSBTPH Dinas Provinsi. Bendahara) Koordinasi Pelaporan dan SPI Koordinasi Penyusunan ATAP 2011 dan ARAM II 2012 Penyusunan RKA-KL Pagu Sementara TA 2013 Kerjasama Kemitraan Tanaman Pangan Workshop Penyusunan Laporan SAK / Pertemuan Update Program SIMONEV Wilayah Barat dan Timur Koordinasi Penyusunan ARAM III Tahun 2012 Workshop Penyusunan Laporan SIMAKBMN Evaluasi Program dan Kegiatan TA. 9. 3. 5. BPSBTPH Dinas Provinsi. Okt. 7.Pedoman Pelaksanaan Program No. BPTPH. Sept. BPSBTPH. Okt. BPSBTPH Dinas Provinsi. 14. BPSBTPH Dinas Provinsi. April Mei Juni Juni Juni Juli Sept. BPTPH. BPS Dinas Provinsi. BPTPH. NTB Sulsel DIY DIY Sumber: RKA-KL Ditjen Tanaman Pangan TA. 13.BPTPH. BPTPH. 12. Nov. BBI Dinas Provinsi. 8. Stakeholders Dinas Provinsi. 10. 2012 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 82 | P a g e . BPSBTPH Dinas Provinsi. Rapat Koordinasi /Workshop/Pelatihan Koordinasi Penyusunan Rancangan Program dan Kegiatan Tanaman Pangan 2013 TOT Refreshing Pengolah data Statistik Rakor Bidang Keuangan (Penerbit SPM. BPSBTPH 4.BPTPH. BPSBTPH Dinas Provinsi Dinas Provinsi. BPTPH. Bandung Jateng Bali Palembang Bali Jakarta Kalsel 11. BPS Dinas Provinsi.2012 Penyusunan RKA-KL pagu Definitif TA 2013 Waktu Maret Lokasi Medan Peserta Dinas Provinsi.

DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PERUMUSAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. BUDIDAYA. 3. PERLINDUNGAN. DAN 5. BUDIDAYA. PERLINDUNGAN. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PELAKSANAAN KEBIJAKAN DI BIDANG PERBENIHAN. PERLINDUNGAN. PERLINDUNGAN DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. PELAKSANAAN ADMINISTRASI DIREKTORAT JENDERALTANAMAN PANGAN. Tugas dan Fungsi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TUGAS DAN FUNGSI DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN TUGAS : MERUMUSKAN SERTA MELAKSANAKAN KEBIJAKAN DAN STANDARDISASI DI BIDANG TANAMAN PANGAN FUNGSI : 1. DAN KRITERIA DI BIDANG PERBENIHAN. PENYUSUNAN NORMA. PROSEDUR. DAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN. STANDAR.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 4. 4. PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS DAN EVALUASI DI BIDANG PERBENIHAN. 2. BUDIDAYA. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 83 | P a g e . BUDIDAYA.

SUBDIREKTORAT PADI IRIGASI DAN RAWA. SUBDIREKTORAT PRODUKSI BENIH SEREALIA. SUBBAGIAN TATA USAHA. 3. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 5. SUBDIREKTORAT PADI TADAH HUJAN DAN LAHAN KERING. DAN 5. SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 2. DAN 6. DAN 5. 4. 4. Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan DIREKTORAT JENDERAL TANAMAN PANGAN: 1. SUBDIREKTORAT ANEKA KACANG. 4. SUBDIREKTORAT JAGUNG. DIREKTORAT BUDIDAYA ANEKA KACANG DAN UMBI 1. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 1. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 7. SUBBAGIAN TATA USAHA. 3. BAGIAN EVALUASI DAN PELAPORAN. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. 2. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 8. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 1. DIREKTORAT PERBENIHAN TANAMAN PANGAN 3. BALAI PENGUJIAN MUTU PRODUK SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL 1. 3. BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 9. SUBDIREKTORAT KELEMBAGAAN BENIH. 2. SUB DIREKTORAT PRODUKSI BENIH ANEKA KACANG DAN UMBI. DIREKTORAT BUDIDAYA SEREALIA 4. SUBDIREKTORAT KEDELAI. SUBBAGIAN TATA USAHA. BAGIAN UMUM 4. DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 6.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 5. SUBDIREKTORAT SEREALIA LAIN. 2. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. DAN 5. SUBDIREKTORAT PENILAIAN VARIETAS DAN PENGAWASAN MUTU BENIH. 5. SUBDIREKTORAT UBI KAYU. BAGIAN KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN 3. BAGIAN PERENCANAAN 2. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 84 | P a g e .

SUBDIREKTORAT JAGUNG DAN SEREALIA LAIN. SUBDIREKTORAT KEDELAI DAN ANEKA KACANG. SUBBAGIAN TATA USAHA. KEPALA BIDANG PELAYANAN TEKNIK. 4. KEPALA BIDANG PROGRAM DAN EVALUASI 3. 3. INFORMASI DAN DOKUMENTASI BALAI BESAR PENGEMBANGAN PENGUJIAN MUTU BENIH TPH 1. SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN DATA ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. BALAI BESAR PERAMALAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN 1. SUBDIREKTORAT PADI. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL.Pedoman Pelaksanaan Program DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN 1. 2. KEPALA BAGIAN UMUM 2. SUBDIREKTORAT ANEKA UMBI. DIREKTORAT PASCAPANEN TANAMAN PANGAN 1. DAN 6. SUBDIREKTORAT TEKNOLOGI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN. 2. DAN 6. KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL. 3. 5. KEPALA BAGIAN UMUM 2. KEPALA BIDANG INFORMASI DAN JARINGAN LABORATORIUM Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 85 | P a g e . SUBDIREKTORAT PENGELOLAAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU 5. 4. SUBDIREKTORAT DAMPAK PERUBAHAN IKLIM. SUBBAGIAN TATA USAHA.

T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT PAPUA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 86 | P a g e . 26.257 38.825 1.255 2.00 410 395 50.272 68.669 53.913.27 152.B.570 4.099 52.12 209.365 233. 33.538 321.74 10.148 1.310 67.17 1.059 59.07 29.14 127.T.290 12.251.770.003 17.514 36. 4.936 47.602 443.24 477.967 1.933.691 49. 32. 30.142.186 49.399 630.026.52 155.860 46.270 30.805 1.850 2.365 41.608. 7.59 7.348 28.528 60.040 634.666 50.452 32.066 77.994 8. 11.703 10.321.821 52. 28. N. 29.08 229.66 432.529 51.T.99 457.54 1.300.746 10.19 20.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 6.629 56.016 85. ACEH D.669 40.752 3. 2.08 782.978.141 39. 25.310.899 54. 21.995.824 641.271.740 33. 31.844 159.472.55 957.13 PRODUKSI (TON) 1.039.266. 15. 10.572.262 40.24 89.068.594 62.227 47.975 1.510.091 19.708 195.74 3.110 52.080 2.780 708.100.925.000 611.050 3.801 46.985 859.426 784.325 46.78 822.796 1. 17.324 132.809 924.610. Produktivitas. 14.385 1.006 17.967.014 46.660 625.084.250 335.940 58.434 7.675 2.034 475.000 2.550 7.670 529. Luas Panen.115 92.980 877.769 33.333 45.950 12.171 6. 5.21 132.679 126.540 42.281 221. 16.256 40.705 3.380 38.720 50.693 794.206 148.291 383.079 407.85 627.530 40.515 49.556.32 1.244 134.20 2.235 NO 1.000 10.33 60.568 115. 24.749.022.98 164.510 48.765 4.450.19 78.83 13. PROVINSI N. 27.468.58 412. 23. 9.600 509.401 165.88 169. 8.95 2. 3.75 156. Sasaran Luas Tanam.040 4. 13.366.765 38.026.10 134.65 241.173 770. 12.771 13. 19. 18.767.194.033 149.249 72.216 62.078 497.145 639.865 53. BALI & N.145 3.88 515.037.T.68 14. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.599 47.687.47 798.745 39.59 18.760 408. 20.893.396 47.561.691 437.14 1. 6.386 1. dan Produksi Padi Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 381.22 6. 22.415.028 151.129.

277 29.874.407 748 714 25.45 31.69 27.049 711 679 1.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 87 | P a g e .088 269. 33. Sasaran Luas Tanam.T.441 2.81 34.430 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 37.009 482. 15. 12.398.748 11.62 54.804 13.099 1. 17.405 31.868 50. 25.332 1.T.114 829.168 2.668 24.375 7. 3.13 55.362 92.92 51. Produktivitas.363 257. 11.297 12.602 2.008 26. 6.800 2.80 42. BALI & N.737 215.280 13.013.000 123.30 36.689 6.49 53.42 53. Luas Panen.192 358.688. 16.27 34.068.97 55.284.467 73. 7.944 23.276 59.118 53.51 31.059. dan Produksi Jagung Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN (HA) (HA) 53.260 77. 21.633 968.442 4.636 1.62 46.368 80.640 8.543 658.556 3.000 10. 10.492 375.228 1.10 54.194 469.41 42.87 24.292.332 101.596.17 38.88 21.652 38.437 4.B.77 33.463 61.871 2. 20. 8.872 97.361.153 174. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.300.391.110 9.072 12.994 167.637.91 39. 19.868 93.491 51.986 30. 22.238 10.599 3.760 461.484 35. 14.799 403.235 33.940 408.20 26.334 45. 2.579 98 993. 31.160 8.38 51.655.08 43.55 PRODUKSI (TON) 193.096 51.000.910 338. 23. N. 13.64 63.98 33.91 46. 29. 30. 9. 5.000 NO 1. 28.34 39.95 33.566 2.654 745.70 56.684 1.614 4.090.083 76.200 1.665 3.091 30 29 187.91 17. 26.31 32.733 4.069 54.760 24.497 183.863.844 5.800 143.482.661 6.012.30 24.345 240.551 494.880 712.657 29.997 192.82 63.535 1.529 123.09 49. 18.244.23 41.67 56. 32.77 58.371.189 353.025 4.572 93.270 36.945 26.019 42.T.849 27.600 3.544 26.268 472.82 18.257 11.306 868.640 166.059 178.300 88. 27.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 7.131 52.437 27.707.485 1.09 46.060 1.909 1.568 134.591 16. 4. 24.068 17.499 314.

Sasaran Luas Tanam.200 197.600 20.796 13.T. 15.000 17.87 32.034 14.79 17.400 12. 25.67 22.800 9.800 11.400 7. 20. PROPINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.900 189.800 30.200 8.700 23. 13.30 20.100 1.300 16.400 14.900 12. BALI & N.123 16.53 94.946 13.48 174. 27.700 13.95 221.200 2. Produktivitas.319 14.50 334.675 15.530 42.566 13.900 112. 4.100 588. dan Produksi Kedelai Tahun 2012 LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 121.30 65.60 48.67 10.900 24. 5. 10. 2.38 194.300 13.500 158.757 15.89 174.26 14.47 5.T.900 117.700 35.312.26 6.30 26. 9.000 26.937 15.51 40.119 13.000 4.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 8.200 57. 32.400 16.47 4.600 243. 12. N. 30.47 14.59 802.77 24.400 7.200 12.400 549.885 14.000 3. 3.012 14.896 14.20 1.000 3.500 45. 14.34 22.700 3. 7.000 13.400 25.000 15.000 7.26 18.600 701.250.26 8.803 14. 33.47 10.400 153.30 13. Luas Panen.500 54.500 6.823 15.098 14. 26.649 13.700 723.T.620 13.000 1.500 11.977 13.000 364.342 13.32 308.515 15. 18.800 7.485 13.300 6.400 135.700 78.100 9.462 13.156 14.498 13.65 1.600 27.000 8. 23.000 NO 1.620 13.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 88 | P a g e .79 10.600 175. 19.387 13. 28.397 15. 21.47 4. 29.900.400 10. 16.539 15.26 4.900 3.87 34.159 13.413 15.79 14.900 10.013 16. 22.800 16.400 9.500 5.900 79.009 13.800 6.000 42. 11.249 15. 6.91 125.79 19. 17.000 231.600 15.700 371.700 106.000 10.600 12. 24.000 17.30 557.718 13.700 47. 31.500 3.500 4.097. 8.400 18.B.954 13.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 9. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Tanah Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 7.142 19.681 9.605 4.248 2.346 6.246 9.530 20.668 597 201 80.264 25 79.228 157.617 78.079 217.015 16.649 548.613 16.075 36.743 27.557 80.375 2.411 2.067 18.372 3.100 25.950 8.612 6.889 44.781 9.760 2.756 1.608 74.406 4.019 5.741 2.187 3.445 15.392 276.387 825.000 6.802 18.743 9.147 4.046 2.234 5.949 9.076 19.684 569 191 76.441 24 75.453 150.114 74.360 206.677 15.856 522.484 15.309 34.993 26.245 76.547 2.296 1.968 17.496 2.953 24.713 8.201 6.561 42.648 9.295 2.624 1.531 70.860 3.827 5.468 2.078 3.282 14.655 263.216 785.700 14,26 13,33 14,52 10,89 13,48 14,36 10,73 14,00 11,04 10,89 13,35 12,08 16,54 15,24 11,87 13,35 16,07 14,23 14,52 14,52 13,22 14,07 12,45 12,65 12,55 12,44 12,53 14,26 18,15 14,00 9,78 12,96 15,02 13,84 12,76 12,44 11,82 11,40 12,20 13,55 14,00 9.699 24.977 13.281 4.406 3.012 8.544 9.742 27.557 628 208 102.054 29 124.805 228.839 88.250 275.843 25.487 743.253 22.227 50.804 34.701 107.732 2.858 2.490 21.955 3.674 30.977 11.695 11.907 59.706 9.090 3.402 2.300 98.100 4.882 6.804 2.456 3.742 17.884 356.747 1.100.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 89 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 10. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Kacang Hijau Tahun 2012
NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM (HA) 2.955 6.099 1.374 2.079 616 3.115 1.797 5.579 1 23.615 13.495 99.531 1.141 77.774 2.680 194.620 1.245 50.494 30.073 81.812 2.074 399 1.587 1.117 5.177 1.883 1.602 26.962 2.373 501 960 34.281 661 418 819 1.198 3.095 147.980 342.600 LUAS PANEN (HA) 2.808 5.794 1.305 1.975 585 2.959 1.707 5.300 1 22.435 12.821 94.576 1.084 73.888 2.546 184.914 1.183 47.971 28.570 77.724 1.970 379 1.507 1.061 4.918 1.789 1.522 25.614 2.254 476 912 32.568 629 397 778 1.138 2.942 140.586 325.500 PRODUKTIVITAS (KU/HA) 12,67 12,13 13,28 12,11 12,08 15,32 10,87 10,14 10,26 12,12 12,17 12,36 7,29 12,63 10,14 12,39 10,69 11,21 9,26 10,48 8,02 9,45 11,75 12,02 10,14 15,38 9,00 13,89 9,12 13,51 15,02 13,44 11,90 12,21 11,51 11,67 11,75 11,44 11,98 PRODUKSI (TON) 3.556 7.031 1.734 2.393 706 4.532 1.855 5.376 1 27.184 15.600 116.874 791 93.284 2.582 229.130 1.265 53.757 26.457 81.478 1.581 358 1.771 1.275 4.986 2.751 1.370 35.574 2.055 643 1.370 43.764 748 485 896 1.328 3.457 160.870 390.000

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 90 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 11. Sasaran Luas Tanam, Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Ubi Kayu Tahun 2012
LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS (HA) (HA) (KU/HA) 4.113 3.917 132 45.803 43.622 207 6.114 5.823 207 6.670 6.352 117 3.112 2.964 144 14.729 14.027 160 7.781 7.411 124 352.374 335.592 254 2.001 1.906 150 1.334 1.270 113 444.030 422.883 238 56 53 123 124.498 118.569 197 213.425 203.261 185 71.142 67.754 159 253.442 241.372 170 13.339 12.704 149 675.902 643.711 178 13.117 12.492 155 9.449 8.999 127 94.485 89.985 113 117.050 111.476 118 18.119 17.256 153 9.671 9.210 124 9.560 9.104 155 8.893 8.469 163 46.242 44.040 149 6.892 6.564 138 5.002 4.764 171 33.570 31.971 179 14.895 14.186 175 1.667 1.588 127 4.669 4.446 149 66.695 63.519 170 12.227 11.645 136 12.227 11.645 128 2.779 2.647 120 4.446 4.235 123 31.680 30.171 130 705.698 672.089 201 1.381.600 1.315.800 190 PRODUKSI (TON) 51.555 902.890 120.516 74.164 42.790 224.829 92.031 8.533.351 28.519 14.293 10.084.940 652 2.335.266 3.768.878 1.078.749 4.092.503 188.781 11.464.828 193.590 114.617 1.012.451 1.320.658 263.754 114.381 141.091 138.439 657.666 90.570 81.412 573.512 248.449 20.227 66.073 1.080.243 158.216 149.564 31.744 52.140 391.664 13.535.172 25.000.000

NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33.

PROVINSI ACEH SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.T.B. N.T.T. BALI & N.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA

Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 91 | P a g e

dan Produksi Ubi Jalar Tahun 2012 NO 1.373 95 22.355 43. Produktivitas.177 91 19. 27.288 5.885 110 185.326 106 35. 10. 14. 22.256 141 173.000 196. 15.333 2.226 110 35.155 2.436 207.897 12.T. BALI & N.385 2.713 139. 4.897 1. Luas Panen.421 112 15.903 37.489 32.448 115 408.247 107 429.359 666 633 93 5.084 105 273.300.769 16.385 17.000 Sumber: Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 92 | P a g e .500 3.422 105 25.700 117 2.776 64.181 101 62.560 16. 7.179 4.773 139 456.B. ACEH D.179 4.923 27. 26. SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BENGKULU LAMPUNG BABEL KEP RIAU SUMATERA DKI JAKARTA JABAR JATENG DI JOGJA JATIM BANTEN JAWA BALI N.822 121 94.446 4.450 26.368 89 12.T.552 95 176. 33.435.958 104 30.154 67.975 128 76. 8.557 125 19. 11.435 106 47.524 18. 12. PROVINSI N.224 132.638 1.682 1. 16.500 2.386 3.846 3.395 3. 20.495 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 12.297 109 1. 9.667 3. Sasaran Luas Tanam.410 110 48. 31.923 2. 29.291 2.385 514 489 121 5. 18.564 6.744 3.505 6. 5.475 100 14.149 2.944 1.T KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALIMANTAN SULUT SULTENG SULSEL SULTRA GORONTALO SUL BARAT SULAWESI MALUKU MALUKU UT IRJA BARAT PAPUA MLK & PAPUA LUAR JAWA INDONESIA LUAS TANAM LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI (HA) (HA) (KU/HA) (TON) 3.099 113 485.456 4.552 1. 25.217 106 23. 6.403 134 864. N.998 124 37.359 6.355 40. 30. 28.462 12.582 1. 17.640 4.815 608 578 102 5.375 73 17.949 42.686 111 184.051 878 835 92 7. 21. 19.549 2.359 2.112 2.668 4.440 1.897 16.218 99 31. 2.462 19.590 8. 13. 32.897 17. 23.897 596 566 104 5. 3.667 1.221 45.503 91 13.888 121 191.498 2.097 34.231 7.720 15.897 333 316 93 2.667 1. 24.304 35.631 3.T.646 2.225 123 51.

700 38.559.800 392.6jt/ Unit) SLPTT Padi Lahan Kering (Rp 3.750 5.000.000.Tanah (Rp.000.000 25.230 137.504. SLPTT : b.056. Alokasi Anggaran Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA. 2012 No.195.400 Provinsi 192.000 87.929.064.950 3.868.478.550.800 2.950 3. e.70 Ribu Ha 9.028. 1 Kegiatan dan Output Pengelolaan Produksi Tanaman Serealia a.410.43jt/Unit)) Pengembangan Kc.750 2.2.414.350.320 292.710 630.500 6. monev SLPTT & pengembangan 350 Ribu Ha 2.760.000 18.000.400 7. pengawalan.-) Pengembangan Ubi Jalar (Rp7.600 107. SLPTT Padi Non Hibrida (Rp 3.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 13. d.988. c.000 49.7jt/ LL) SLPTT Padi Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 44.030 137.642.000 83. Ubinan SL-PTT Kedelai (Rp.500 Ribu Ha 70.700 7. pengawalan. d.180.000.718 jt/ha) Pertemuan Koordinasi Stakeholder Non Kedelai (2 kali) Pembinaan.714.000 160.700 Jumlah 944.85jt/Unit) SLPTT Padi Hibrida (Rp 3.215jt/ha.350.7jt/LL) SLPTT Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi (Rp 64.100 49.289.000 7.000 630.868.500 6.000 764.75 Ribu Ha 290.900 Optimalisasi Pengembangan Areal Tanam Jagung Hibrida Fasilitasi Kemitraan Pengembangan Pangan Alternatif Pembinaan.000 764.261. f.550.000.100 Volume Pusat 78.642.000 175.510 70.700.7 jt/LL) SLPTT Jagung Hibrida (Rp 3.5 jt) Pengembangan Ubi Kayu (Rp10.500 41. SL-PTT Kedelai (Rp 3.504.-/Unit) 3. b.332.350.749.70 Ribu Ha 33.85jt/Unit) SLPTT Padi Non Hibrida Peningkatan IP (Rp 64.451.320 292. monev SLPTT & pengembangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 93 | P a g e .094 Ha 100 Ha 300 Ha 850 Ha 54 Pkt 1 Pusat 28 Prov 184 Kab h.000 790.000 5. g. c.7 jt/LL) 3.900 Kab/Kota 673.110.000 6.30 Ribu Ha 500 Ribu Ha 200 Ribu Ha 12.727.725 Ha 10 Prov 1 Pusat 31 Prov 371 Kab 2 Pengelolaan Produksi Tanaman Akabi a.000 6.651.55 Ribu Ha 14.000 8.93jt/LL) Pengembangan Kedelai Model (Rp 4.939.000 74.064.00 Ribu ha 2.

000 7.997. Pengawalan.453.000 11.200.000 130.000 1.614.625 43.500/kg) @25kg/ha BLBU padi hibrida (Rp 56 rb/kg) @15kg/ha BLBU padi lahan kering (Rp 9 rb/kg) @25kg/ha BLBU jagung hibrida (Rp40 rb/kg) @15kg/ha BLBU kedelai (13.300.000 16. BLBU & CBN 1 32 373 4 Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan a.800.000 2.880.000.500 1.000 45.209.500 166.500 19.336.500 15.Pedoman Pelaksanaan Program No.796. e.000.000 15. h.100 6. Apresiasi.450.536.500 45.500.878.000 2.000 16.500 151.450.000 74.000.135.500 100.549.400 47.394.000 16. f.846.000 1.575 Provinsi 121.000 10 700 2. d. 3 Kegiatan dan Output Pengelolaan Sistem Penyediaan Benih Tanaman Pangan a.400 9.000 111.375 76.5 rb/kg) @40kg/ha 102 68 5 13 3 14 32 817 32 31 Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Ribu Ton Balai Orang Balai Balai 406.500 Ribu Ha Ha Ribu Ha UPB UPB Paket Prov Kab Pusat Prov Kab 1.909.000 3.900 Kab/Kota 536.000.880. Pengawalan.839.000 Operasional UPTD BPSBTPH Insentif Petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) Sarana BPSBTPH Operasional Balai Benih Pemberdayaan Penangkar Padi Jagung Kedelai g.525 Jumlah 1.000 720. & Monev Pascapanen Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 94 | P a g e .400.000 2.000 7.941.890.000 Volume Pusat 794.600 47.451.000 35.000 7.000 18. BLBU padi non hibrida (Rp 8.000. BLBU: b.000 1.578. j. Pembangunan UPB Optimalisasi UPB Deregulasi Perbenihan Pembinaan.251.000 66.110.684.414. Pembinaan.000. Monev Pemb.000. Monev Perbenihan.386.000 2.000 90.000 67.5 4 8 1 28 230 k.105.862.941.590. Penangkar Survei Susut Hasil Padi Pembinaan.500 63.000 77.000 10.000 1.400. c.000 600.000 3. c.250.000 1.394.546.846.000 15.411.730.937.000 42.247. Bimbingan Teknis.000 13.125. Bantuan Sarana Pascapanen : b.000 8. i.000 11.549.812.451. Padi Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 442 15 25 12 10 12 1 31 204 Pkt Pkt Pkt Pkt Pkt Prov Pkt Prov Kab 6.137.

908 Orang 1.500 Kab/Kota 15.954.200.911.000 8.000 39.200.000 20. p.295 804. d.800.800.000 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 4. c.900. m.000 8.906 8.000.200.000.Pedoman Pelaksanaan Program No.129.015.315.000 4.500 15. 5 Kegiatan dan Output Penguatan Perlindungan TP dari Gangguan OPT & DPI a. j. g.000 18. e.000 18.000 7.558.600.096.000 39.000 9.350. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Peramalan Serangan OPT Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 95 | P a g e .500 3. k.000 9.000 19.000 2.000 2.941 Unit 130 Unit 620 Unit 95 Unit 14 Prov 1.500 20.000 8.800.000 6.000. Pengawalan.900. f.418.000.353.350.315. Monev Perlintan Operasional BPMPT 505 Kab 80 Kali 86 Unit 158 Unit 77 Unit 143 Kelas 66 Pkt 2.000 6.000 9. h.000 12.500 3.500. b.558.000 Jumlah 186.000 8.906 Pengembangan Peramalan Serangan OPT a.500.096.000 9.015.000 4. c.418.954.000.058.295 804.000 19. i.341.000 2. n. b.000 15.000 2. 6 Operasional P3OPT (BPTPH) Koordinasi Penanggulangan OPT/DPI Operasional Brigade Proteksi Tanaman/Gerakan Pengendalian OPT Gerakan Pengendalian OPT/ bantuan pestisida Renovasi Gudang Brigade Pelatihan Alumni SLPHT untuk Penguatan RPH Surveilans OPT dan Monev SL Biaya Operasional POPT-PHP (Rp 500Rb/bln) Sekolah Lapangan Pengamatan Hama Terpadu (SLPHT) Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Pemberdayaan PPAH Operasional Lab Pengamatan Hama Penyakit (LPHP) Operasional Diperta Provinsi Operasional THL POPT-PHP Pembinaan.000 Volume Pusat 16. o.000.129.000 7.168 Orang 1 Paket 1 Paket 12.000.000.500 Provinsi 154.799 4.353. l.000 4.600.911.799 4.000 8.

092 10.004 2. b.200 7. Gaji Operasional Kantor LM3 Bencana Alam Insentif Mantritani Honor Pengelola Keuangan & Administrasi Satker 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 1 Pkt 3.264.380.000 3.800 12.455 5.536 512.500 27.368.000 1.000 24.900 10.144.115.965.840.000 - Jumlah 7.300.614.507.464 248. Pengelolaan Bidang Umum Dukungan Manajemen Lainnya Total 1 Pusat 1 Pusat 46.500. k.350.200 5.000 Provinsi 26. b.610.000 4. c.464 184.000 1. Perencanaan Program & Kegiatan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab h.600.532 1.532 1.400.368.047 30.922 1.813.961 46. c.000 45.467.000 Kab/Kota 37.200 2.899.480.991 15.000. Pelaporan.900. f.004 2. 7 Kegiatan dan Output Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih dan Penerapan Sistem Mutu Laboratorium Pengujian Benih a.946.164.170.000 24.900.000.000 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 96 | P a g e .739.000 3.491. e.569.000 6.840.000 10.000.400 15.300.170.800 1 Thn 1 Thn 1 Pkt 3.659.779.164. Evaluasi.820. d. Gaji Operasional Kantor Pengembangan Metode Pengujian Mutu Benih Volume Pusat 7.965. Pengelolaan Keuangan (SAI) & Perlengkapan 1 Pusat 33 Prov 374 Kab i.000 9.507.000 45.000 12.Pedoman Pelaksanaan Program No.092 10.144.047 30.500 7.200 16.498.600.347.061 8 Dukungan Manajemen & Teknis Lainnya pada Ditjen TP a.350.000 4.245.074 Org 1 Pusat 33 Prov 374 Kab g.922 3.104. Pengawasan & Data Statistik 1 Pusat 33 Prov 374 Kab j.000 3.790.000.

Aceh Singkil Kab.000 525 750 150 900 450 750 500 100 750 1.430 70 800 450 50 250 300 2.750 11.000 7.150 2. Pidie Jaya Kota Banda Aceh Kota Sabang Kota Langsa Kota Lhokseumawe Kota Sibulussalam Kota Meulaboh SUMUT Dinas Propinsi Kab.000 1.750 4.200 8.400 15.400 3.200 7. Dairi Kab. Aceh Pidie Kab.500 300 500 Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 50 50 50 50 50 50 50 50 100 700 50 50 50 50 100 100 50 50 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 125 Padi 21 Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 2 Ubi Kayu Ubi Jalar Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) SLI (unit) 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 ACEH Dinas Provinsi Kab.500 12.500 2. Pakpak Barat Kab.500 200 2.150 4. Nias Kab.550 4.000 4.800 600 600 600 1.000 500 500 Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Benih Benih 14. Aceh Timur Kab. Padang lawas Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Kota Tebing Tinggi Kota Padang Sidempuan Kota Gunung Sitoli Kab.430 70 500 500 200 950 50 975 875 950 50 3.150 850 10.430 70 450 50 575 1.000 1.350 3.000 1.500 7. Toba Samosir Kab. Tanah Karo Kab. Aceh Utara Kab.500 750 100 600 500 2.500 49 1.450 300 750 500 225 1. Tapanuli Selatan Kab.500 500 1.450 2. Deli Serdang Kab.500 10. Humbang Hasundutan Kab. Simalungun Kab. Aceh Besar Kab.450 4.000 450 50 1.000 100 1. Aceh Tamiang Kab.150 1. Aceh Tengah Kab. Asahan Kab.000 500 500 1.430 70 500 150 2.500 7.000 15. Aceh Jaya Kab.200 2.500 249 850 450 50 500 450 50 300 1. Aceh Selatan Kab. Tapanuli Tengah Kab.000 1.100 1.000 50 950 50 950 50 1.500 300 1. Labuhan Batu Kab.500 1.000 750 100 300 300 500 1.450 300 400 750 500 1. Aceh Tenggara Kab. Simeuleu Kab. Serdang Bedagai Kab.100 550 550 Padi Non Hibrida Peningkatan IP 1.400 10.050 8.430 70 150 6. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147. Bireuen Kab.200 3.000 300 200 14. Samosir Kab Padang Lawas Utara Kab. Nias Selatan Kab.150 3.500 17.400 3. Labuhan Batu Utara Kab Nias Barat Kab. Indikator Kegiatan Utama Direktorat Jenderal Tanaman Pangan TA 2012 SLPTT Padi (Ha) No.000 7.000 8.100 350 2.500 5. Langkat Kab. Bener Meriah Kab. Aceh Barat Kab.500 137.150 9.000 2.000 9.700 9. Gayo Lues Kab. Batu Bara Kota Sidikalang Kota Lubukpakam Kota Stabat Kota Tarutung 82 6 25 25 25 25 25 4 2 2 4 4 2 3 19 1 2 125 - 1 - - 3 110 7 25 4 2 4 2 4 2 - 25 25 1 25 25 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 97 | P a g e . Nagan Raya Kab.500 750 450 900 2. Mandailing Natal Kab.800 1. Nias Utara Kab.000 2.500 50 950 50 150 11.250 225 225 1.000 3.000 1.175 32.000 4.000 7. Labuhan Batu Selatan Kab.000 750 300 1. Tapanuli Utara Kab.600 12.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 14. Aceh Barat Daya Kab.500 13.500 500 1.000 7.900 8.250 3.150 7.650 3.600 3.450 5.450 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.

000 225 550 400 100 180 1. Sijunjung 8 Kab.000 750 100 600 2.200 350 1.100 500 300 550 400 100 180 250 250 400 100 3.000 225 300 750 500 1.500 900 500 3. Padang Pariaman 5 Kab.500 1. Pasaman 6 Kab.000 8.500 500 4.000 10.450 4.500 3.500 8. Indragiri Hulu 4 Kab.000 8.000 3 SUMBAR Dinas Propinsi 1 Kab.900 2.000 48. Pelalawan 7 Kab.500 5. Pasaman Barat 13 Kota Bukit Tinggi 14 Kota Padang Panjang 15 Kota Padang 16 Kota Payakumbuh 17 Kota Sawahlunto 18 Kota Solok 19 Kota Pariaman 20 Kota Painan 21 Kota Lubuk Sikaping 4 RIAU Dinas Propinsi 1 Kab.000 4. Indragiri Hilir 3 Kab.200 1. Kuantan Singingi 6 Kab. Bengkalis 2 Kab.500 4.500 7.400 4. Lima Puluh Kota 2 Kab. Rokan Hulu 9 Kab. Kep Mentawai 4 Kab.900 9. Agam 3 Kab. Solok 9 Kab.500 9.850 2.000 600 750 1. Dharmas Raya 11 Kab.150 1. Kampar 5 Kab.000 10.500 7.900 9.000 750 50 1.100 500 1.200 400 1.500 1.000 4.Pedoman Pelaksanaan Program No.800 250 1. Pesisir Selatan 7 Kab.155 3.350 250 1. Siak 10 Kota Dumai 11 Kota Pekanbaru 12 Kota Rengat 13 Kab Meranti SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.200 300 9.950 3.000 9.700 250 500 150 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 600 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 4 1 Kedelai - Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 2 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 4 13 2 2 2 2 1 2 2 1 2 7 - - - - - 2 30 2 2 - 2 1 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 98 | P a g e .200 1. Solok Selatan 12 Kab.000 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 97.500 9. Rokan Hilir 8 Kab.500 2.800 8.000 4.750 2.175 1.500 180 1.000 240 100 500 1. Tanah Datar 10 Kab.

500 12. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 58. Banyuasin 8 Kab.000 12.000 7.700 4.500 500 250 550 500 450 250 1. Bengkulu Selatan 2 Kab.400 12. Empat lawang 12 Kota Palembang 13 Kota Prabumulih 14 Kota Pagar Alam 15 Kota Lubuk Linggau 16 Kab Baturaja 7 BENGKULU Dinas Propinsi 1 Kab. Tanjung Jabung Barat 8 Kab. Ogan Ilir 11 Kab. Tebo 10 Kota Jambi 11 Kota Sungai Penuh 6 SUMSEL Dinas Propinsi 1 Kab.400 100 2.000 10. Tj.100 500 2. Ogan Komering Ulu 7 Kab.400 100 2.000 3.500 3.000 300 500 3.400 100 1. Sarolangun 7 Kab.000 250 1.650 3.000 11. Rejang Lebong 4 Kab.000 20.450 6.800 1.900 100 600 2. Bungo 3 Kab.800 150 1.400 100 1.000 300 750 250 300 550 2.525 4.250 750 600 3.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 4.500 13.000 3.200 50 2.000 16.600 8. OKU Timur 9 Kab.450 2.900 4.550 500 1.000 3.500 6. Lahat 2 Kab. Kerinci 4 Kab.250 250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 350 50 50 50 50 50 50 50 350 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 50 50 Kedelai 175 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 Kedelai 1 Sarana Pengendalian OPT (kali) Ubi Kayu Ubi Jalar 3 SLPHT (unit) 44 SLI (unit) 2 25 25 25 25 25 2 2 1 2 1 27 2 4 3 3 1 3 4 4 3 5 - - 1 - - 3 65 4 1 - - - - - 2 29 2 1 1 1 1 1 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 99 | P a g e .500 1.950 15. Musi Rawas 4 Kab.950 2.500 2.100 500 2.875 3.800 1. Merangin 5 Kab.100 1.000 3.900 5.000 150 100 550 150 1.250 4. Seluma 6 Kab.300 300 1. Muara Enim 5 Kab.000 375 600 1.750 1.300 225 400 500 1. Musi Banyuasin 3 Kab.000 2.500 550 50 500 375 500 550 1.500 3.000 300 500 500 525 1.300 1.000 2.500 8.650 450 500 50 2. Kepahiang 9 Kab Bengkulu Tengah 10 Kota Bengkulu SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Spesifik Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar Lokasi IP Benih Benih 1.300 300 500 600 500 2.300 225 400 1.400 11.050 900 2.500 1.500 1. Muko-muko 7 Kab.900 600 20. Kaur 5 Kab.750 6. Bengkulu Utara 3 Kab.700 5 JAMBI Dinas Propinsi 1 Kab.000 11.000 700 50 1.400 3.125 147.100 500 550 50 500 2.350 9.200 14.400 100 1. Jabung Timur 9 Kab.250 4.000 48.000 300 400 50 500 2.000 600 500 2.000 13. Ogan Komering Ilir 6 Kab.400 100 2. Lebong 8 Kab.000 225 2. OKU Selatan 10 Kab.875 2. Batanghari 2 Kab. Muaro Jambi 6 Kab.

260 375 1.700 300 12.500 14. Lampung Timur 6 Kab. Tanggamus 7 Kab.000 7.650 1. Tulang Bawang 8 Kab.000 14.500 1.470 30 2.600 1.000 6. Mesuji 11 Kab.500 975 1.250 1.550 6.950 12. Pringsewu 12 Kab.470 30 970 30 200 450 500 450 1.500 10.500 1.500 2.Pedoman Pelaksanaan Program No. Subang 14 Kab.000 12. Majalengka 12 Kab.750 1.250 750 5. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 147.000 100 1. Karawang 10 Kab.950 17.500 25 930 70 1.000 18.500 1.000 14.880 1.500 1.500 500 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Tulangbawang Barat 13 Kota Bandar Lampung 14 Kota Metro 9 DKI Dinas Propinsi 1 Kab Adm Kep Seribu 2 Kota Adm Jakarta Barat 3 Kota Adm Jakarta Pusat 4 Kota Adm Jakarta Selatan 5 Kota Adm Jakarta Timur 6 Kota Adm Jakarta Utara 10 JABAR Dinas Propinsi 1 Kab.000 11.430 70 3.430 70 1. Bogor 4 Kab.000 6.430 70 6.500 1.000 18.500 1.000 500 930 70 2. Cianjur 6 Kab. Cirebon 7 Kab.350 50 2.250 1.350 1.000 12. Sukabumi 15 Kab.650 550 550 550 1.000 300 1. Garut 8 Kab.275 970 30 1.000 17.120 1. Pesawaran 10 Kab.000 50 500 930 70 250 8.000 1.500 500 180 70 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 50 50 100 50 50 50 50 Jagung Kedelai 125 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai 1 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 65 SLI (unit) 3 26 3 3 4 2 3 2 2 2 2 1 1 1 - 1 - - - - - 1 3 - 650 100 50 50 50 50 50 100 100 50 50 - 300 45 2 2 3 3 4 4 3 4 1 2 3 4 3 2 3 2 - 2 - - 3 179 14 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 1 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 100 | P a g e .750 12. Way Kanan 9 Kab.000 975 600 150 970 30 1.625 750 970 30 300 1. Lampung Utara 5 Kab. Bekasi 3 Kab.000 300 1.500 975 600 100 1.100 500 1.000 11. Bandung 2 Kab.500 197.250 260 1. Purwakarta 13 Kab.875 525 930 70 1. Indramayu 9 Kab.850 21.350 11.470 30 1.750 1. Tasikmalaya 17 Kota Banjar 18 Kab.250 1.750 2.000 1.250 5. Bandung Barat 19 Kota Cimahi 20 Kota Tasikmalaya 21 Kota Bandung 22 Kota Bekasi 23 Kota Bogor 24 Kota Cirebon 25 Kota Depok 26 Kota Sukabumi Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Lampung Selatan 3 Kab.625 12.500 10.625 1.500 1.200 1.500 9.430 70 3.500 18.125 750 2.500 19. Kuningan 11 Kab.430 70 7.000 2.000 12.430 70 2.470 30 1.000 1.180 70 1.000 100 930 70 5.000 11.970 30 1.500 1.000 8.500 12.500 100 1.500 1.500 7.500 2.500 11.350 1.430 70 500 750 1.430 70 500 1.970 30 1.500 10. Ciamis 5 Kab.250 625 8 LAMPUNG Dinas Propinsi 1 Kab.000 2.250 8.000 10. Lampung Tengah 4 Kab. Sumedang 16 Kab.000 375 500 1.450 12.120 50. Lampung Barat 2 Kab.430 70 3.

Wonosobo 30 Kota Tegal 31 Kota Magelang 32 Kota Pekalongan 33 Kota Salatiga 34 Kota Semarang 35 Kota Surakarta 12 DI YOGYAKARTA Dinas Propinsi 1 Kab. Sleman 5 Kota Yogyakarta Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 500 500 1.250 3.500 6.500 1.500 10.050 2.000 680 70 850 1.100 100 500 500 50 375 1.960 45.000 20.000 675 2. Kendal 14 Kab.500 5.500 8.000 1.500 430 70 1.500 8.960 1. Semarang 24 Kab.000 6.000 750 2.000 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.125 7. Banyumas 3 Kab.500 500 430 70 75 525 500 430 70 600 430 70 850 750 2.500 500 480 70 3.500 1.100 7.080 70 2.000 2.500 1. Jepara 11 Kab.500 430 70 3.000 50 680 70 450 930 70 4.000 3.500 7.600 1. Klaten 15 Kab.050 2. Tegal 27 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 198.600 51. Magelang 17 Kab. Purbalingga 21 Kab.500 2. Boyolali 6 Kab.000 100 1.250 - 11 JATENG Dinas Propinsi 1 Kab.430 70 850 1.100 500 500 19.000 18. Grobogan 10 Kab. Banjarnegara 2 Kab.300 1.000 9. Karanganyar 12 Kab.000 375 375 250 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.430 70 5. Brebes 7 Kab. Pemalang 20 Kab.000 430 70 850 1.000 430 70 750 500 2.000 100 500 175 450 1. Kudus 16 Kab.500 430 70 525 2.625 12. Blora 5 Kab. Cilacap 8 Kab.000 6.500 8.150 1. Bantul 2 Kab.000 8.875 3.000 1.000 680 70 4.050 430 70 5.000 7.625 3.000 330 70 750 2.000 33.500 8. Sukoharjo 26 Kab.500 6.000 8.200 1. Rembang 23 Kab. Temanggung 28 Kab.500 130 70 3.000 430 70 975 880 70 250 975 430 70 5.040 1. Pekalongan 19 Kab.300 1.700 900 5.000 7.000 900 430 70 850 900 430 70 450 4. Batang 4 Kab.500 3.500 6. Gunung Kidul 3 Kab.125 27.000 500 75 375 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 500 50 50 50 50 100 100 50 50 200 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 3 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 173 SLI (unit) 18 61 2 3 2 2 2 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 1 2 2 5 2 1 2 - 2 1 2 25 25 25 25 25 25 1 75 25 25 25 - 2 1 1 - - 3 38 3 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 101 | P a g e . Sragen 25 Kab.500 4.300 450 2. Wonogiri 29 Kab.500 5.000 10.000 975 5. Demak 9 Kab. Kebumen 13 Kab.430 70 700 900 430 70 900 1. Pati 18 Kab.500 10.200 1. Purworejo 22 Kab.000 50 430 70 750 430 70 2.000 8.800 10.000 12.000 1.000 1.500 3.750 4. Kulon Progo 4 Kab.500 5.500 4.000 9.

980 1.300 225 2.825 3. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 197.000 4. Landak Kab.500 2. Sampang Kab.000 6.000 20 1.050 20 900 7.000 2. Magetan Kab.480 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.480 750 5.500 4.980 2.000 17. Jember Kab.480 4.000 12.800 20 1.000 6.000 4. Sintang Kab.000 74.850 121.500 3.000 500 500 500 500 1.350 21.000 15.000 20 3. Seruyan Kab. Katingan Kab.980 1.000 4. Blitar Kab.500 11.000 20 5.500 150 650 225 100 600 100 100 300 20.000 1.000 2.000 20 1.200 225 100 300 50 100 1.500 3. Lumajang Kab.500 20 4.875 1.550 650 200 50 150 - SLPTT Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Kering Hanya Kedelai (Ha) Spesifik Hibrida (Ha) Bantuan Lokasi Benih 560 62.125 500 1.500 8.200 750 2.980 1.500 9.500 2.480 2.500 8.980 2. Lamandau Kab. Barito Utara Kab.200 9. Banyuwangi Kab.980 4. Sekadau Kab.500 16.450 10.000 48.500 20 600 2. Trenggalek Kab. Sukamara Kab.500 1. Pontianak Kab. Pamekasan Kab. Sambas Kab.000 20 10.500 1. Ponorogo Kab.300 700 100 3. Barito Selatan Kab.000 3.500 2.700 1.050 11.000 20 3.980 1.000 22.480 4.850 1. Murung Raya Kab.800 1.980 500 1.350 20 1.250 200 5.000 20 300 5.500 20 1.350 4.050 5.500 20 450 1. Tulungagung Kota Blitar Kota Kediri Kota Malang Kota Mojokerto Kota Pasuruan Kota Probolinggo Kota Surabaya Kota Batu Kota Madiun KALBAR Dinas Propinsi Kab.000 3. Sidoarjo Kab. Jombang Kab.500 4.500 20 825 1.000 7.500 3.625 1.480 5.500 2. Pacitan Kab.980 980 480 2.375 150 - Pengembangan (Ha) Kedelai Model 170 Kacang Tanah Ubi Kayu Ubi Jalar - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 550 50 100 100 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 100 50 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai 425 25 25 25 25 25 25 25 25 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 Kedelai 3 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 190 SLI (unit) 16 54 70 25 25 25 50 4 2 2 2 2 5 3 2 1 3 3 2 1 3 3 1 2 2 3 2 2 2 25 25 25 1 2 25 25 25 2 2 10 50 - - - - 25 - - - - 3 55 3 25 - - - - - 2 2 1 3 2 2 - - - - 2 30 3 2 - Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 102 | P a g e .000 20 1.500 5. Madiun Kab. Melawi Kab.480 1. Mojokerto Kab.250 300 1.675 750 1.000 200 400 300 400 500 250 1. Bondowoso Kab.000 2.000 8.500 1.450 1. Lamongan Kab.775 1.500 4.000 4. Kotawaringin Timur Kab.500 4.500 9.440 1.000 20 1. Sanggau Kab.000 4.050 20 9.980 2.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Padi Non Padi Hibrida Hibrida Hanya Peningkatan Bantuan IP Benih 1.050 12.450 4. Sumenep Kab. Gresik Kab.480 980 1.980 500 2. Ketapang Kab. Kapuas Hulu Kab.000 700 20.000 20 450 10.000 5.000 2.250 2.000 8.000 20 4. Bangkalan Kab.980 3.675 1.250 - 13 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 JATIM Dinas Propinsi Kab.000 6. Barito Timur Kab.900 5.000 6.000 750 1.300 900 8. Probolinggo Kab. Kayong Utara Kota Pontianak Kota Singkawang KALTENG Dinas Propinsi Kab. Gunung Mas Kota Palangka Raya Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 2.000 1.750 225 100 1. Ngawi Kab.800 600 600 600 1.300 560 20 1.800 100 2.000 1.500 5.750 20 1.480 5.500 7. Malang Kab.500 11. Bengkayang Kab.480 980 2.250 150 500 20 8.000 3. Kapuas Kab. Kediri Kab. Situbondo Kab.000 20 525 1.800 3.000 20 2.250 150 500 900 2.300 300 100 1.500 97.500 6.000 4.000 300 2. Pulang Pisau Kab. Bojonegoro Kab.500 900 50 100 3.980 4.500 5.480 1.450 1.050 6. Nganjuk Kab.300 750 800 1.500 29.500 5. Kotawaringin Barat Kab.000 2.000 300 3.775 900 2.875 2.875 4. Kubu Raya Kab.300 1.000 14. Tuban Kab.500 20 4.050 20 975 20 1. Pasuruan Kab.100 1.

000 2.000 840 500 1.500 900 100 500 400 100 1.500 14. Bolmang Selatan 11 Kab.995 250 500 300 750 1. Sangihe 10 Kab. Hulu Sungai Selatan 4 Kab. Minahasa Tenggara 8 Kab.000 1.000 5.100 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 137.625 48.500 3.350 495 500 350 795 750 375 495 500 325 600 1.100 100 500 500 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.500 500 2.650 1.000 15.400 600 2. Tanah Bumbu 12 Kota Banjarmasin 13 Kota Banjar Baru 14 Kab Tala 17 KALTIM Dinas Propinsi 1 Kab.000 10. Kutai Kertanegera 10 Kota Balikpapan 11 Kota Bontang 12 Kota Samarinda 13 Kota Tarakan 14 Kab.200 4. Tabalong 8 Kab.000 2.250 16 KALSEL Dinas Propinsi 1 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No. Berau 2 Kab. Bolaang Mangondow 2 Kab. Hulu Sungai Tengah 5 Kab.450 2.450 12. Balangan 11 Kab.100 350 900 10.125 750 1.450 1. Nunukan 7 Kab. Penajem Paser Utr 9 Kab.950 3.000 7. Kutai Barat 4 Kab. Minahasa 3 Kab.000 390 70 150 2.500 600 1. Kota Baru 7 Kab. Banjar 2 Kab.500 200 2. Kutai Timur 5 Kab.575 250 1.200 400 1.450 2. Minahasa Selatan 5 Kota Tomohon 6 Kab.000 750 650 1.750 600 2. Malinau 6 Kab. Kep.900 17.200 200 1.100 1.500 2.350 9.000 1. Barito Kuala 3 Kab.000 7.000 1. Tapin 10 Kab.500 2.000 1.000 630 700 2. Bulungan 3 Kab.500 400 1. Tanah Laut 9 Kab. Tana Tidung 15 Kab.700 1.000 3.250 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 100 50 50 400 50 50 50 50 50 50 50 50 Jagung 100 50 50 Kedelai 125 Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 76 SLI (unit) 7 23 25 25 25 25 25 - 4 2 3 3 2 2 2 3 2 4 2 2 10 1 3 2 1 2 - - - - 2 39 2 - - 1 - - 2 48 2 2 - 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 103 | P a g e .525 3.000 4.500 1.775 2.000 23. Bolmong Utara 9 Kab.770 1.000 125 495 1.650 300 2.500 4.000 500 3.000 8.700 300 15. Bolmang Timur 12 Kep Siau Tagulandang B 13 Kota Bitung 14 Kota Manado 15 Kota Kotamobagu Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 400 100 1.250 1.600 315 2.000 2.000 8.500 170 1. Talaud 4 Kab. Pasir 8 Kab.650 550 550 550 1.100 550 550 1. Hulu Sungai Utara 6 Kab.950 10.450 20.695 1.000 10.000 1.000 8.000 11. Minahasa Utara 7 Kab.275 1. Tenggarong 18 SULUT Dinas Propinsi 1 Kab.000 33.650 7.500 1.000 16.

Gowa 7 Kab.930 70 1. Sigi 11 Kota Palu 20 SULSEL Dinas Propinsi 1 Kab. Buton 2 Kab. Toraja Utara 23 Kota Pare-Pare 24 Kota Makassar 21 SULTRA Dinas Propinsi 1 Kab.100 1.550 350 1. Pangkep 12 Kab.500 7.400 14.100 750 300 810 750 500 500 650 1.500 1.805 20.310 2.500 3.020 2. Bulukumba 5 Kab.500 1.300 2. Poso 7 Kab.950 5.000 182.430 70 2.500 1.000 625 73.450 2.000 9.100 1.500 10.000 300 375 750 375 150 350 2.500 500 7.500 1.950 2.000 300 4.000 1.000 11.430 70 2.450 7.500 12. Donggala 5 Kab.500 7.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 500 5.550 2.250 2. Parigi Moutong 8 Kab.450 4.500 12. Toli-Toli 4 Kab.500 800 920 70 1. Kolaka Utara 9 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.250 1.950 70 1.250 1.680 70 2.000 15. Luwu Utara 10 Kab.550 850 4. Takalar 18 Kab.025 495 900 765 1.930 70 3.250 2.980 300 950 70 1.000 1.500 2.500 500 1. Bombana 7 Kab.800 5.000 - 19 SULTENG Dinas Propinsi 1 Kab.450 10. Luwu Timur 22 Kab.000 3.000 29. Barru 3 Kab.000 6.430 70 2.000 1.250 450 4. Enrekang 6 Kab.930 70 2.500 900 350 500 4. Selayar 14 Kab.000 17. Bone 4 Kab.000 1.500 12. Jeneponto 8 Kab.350 3. Tojo Una-Una 9 Kab.200 4.000 500 8.500 900 11. Kep.500 3.000 1.690 1.680 70 2. Kolaka 4 Kab.650 550 550 550 1.500 3.150 150 1.280 2.500 600 2.310 35.000 50 1.645 2.000 25. Muna 5 Kab. Konawe Selatan 6 Kab.000 2.500 750 900 1.000 7. Sinjai 16 Kab.000 2. Buol 3 Kab.000 700 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 400 50 50 50 50 50 50 50 50 650 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 200 50 50 100 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 9 2 2 3 2 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 56 SLI (unit) 2 375 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 25 34 2 3 3 2 2 2 1 3 3 3 2 2 4 2 4 2 2 - - 2 - - 3 104 9 1 1 - 1 - - - 2 50 2 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 104 | P a g e . Konawe 3 Kab.100 1.000 950 50 450 1. Banggai Kepulauan 10 Kab.900 1. Banggai 2 Kab.500 11. Wakatobi 8 Kab. Buton Utara 11 Kota Bau-Bau 12 Kota Kendari Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.200 250 800 300 1.000 16. Tana Toraja 19 Kab.930 70 500 825 500 930 70 250 750 375 600 10.000 450 600 11. Morowali 6 Kab. Maros 11 Kab.000 1. Sidenreng Rappang 15 Kab.930 70 1.000 7.930 70 4.000 7.100 550 550 1.000 1. Luwu 9 Kab.000 750 2. Pinrang 13 Kab.300 600 2.000 7.500 5. Wajo 20 Kota Palopo 21 Kab.375 19.430 70 3.000 4. Soppeng 17 Kab.250 50 900 70 1.430 70 2.450 20.800 1. Bantaeng 2 Kab. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 73. Konawe Utara 10 Kab.500 3.650 1.000 73.500 2.400 4.125 900 700 1.000 1.500 10.

500 900 450 5. Ende 3 Kab.500 1. Seram Bag Timur 8 Kab.000 6. Tabanan 9 Kota Denpasar 10 Kab.575 450 600 1.000 3. Maluku Tenggara 4 Kab. Timor Tengah Utara 13 Kab. Lombok Barat 4 Kab.000 10.900 450 100 900 1.500 2.000 3.000 3.900 300 1.275 3.500 1. Sumbawa 7 Kota Bima 8 Kab.500 3.000 3.000 2.750 50 900 1.000 2.500 500 450 50 1. Sumba Barat 10 Kab. Sumbawa Barat 9 Kab.000 5.000 1.500 5.350 7.450 5. Jembrana 6 Kab. Sumba Barat Daya 19 Kab.300 1.500 500 900 100 900 2.400 2.850 3.000 500 500 1.450 117. Alor 16 Kab.650 2.000 1. Flores Timur 4 Kab. Bima 2 Kab.050 750 450 50 9.800 1. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 33.000 1.350 450 1.100 550 550 - SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 2.500 300 600 500 1.000 4.900 4.500 1. Lombok Timur 6 Kab.400 14.000 2. Seram Bag Barat 7 Kab. Manggarai 7 Kab.800 15.650 500 500 150 700 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 150 50 50 50 500 50 50 100 50 100 50 50 50 250 50 50 50 50 50 150 50 50 50 Jagung 400 50 50 50 50 100 50 50 Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 7 2 1 3 1 18 4 2 1 3 3 4 1 4 2 2 3 2 2 Kedelai 2 2 Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 57 SLI (unit) 1 150 25 25 25 25 25 25 4 2 1 - - 2 52 5 2 1 1 1 - - - 12 - 3 54 3 3 3 3 3 26 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 105 | P a g e . Badung 2 Kab. Lombok Tengah 5 Kab.000 2.000 5. Rote-Ndao 14 Kab.500 9. Dompu 3 Kab.000 100 1.000 1. Kupang 5 Kab.000 2.500 1.000 1.000 4.100 1.100 1. Maluku Tengah 3 Kab.500 50 900 100 5.500 500 30. Karangasem 7 Kab.000 9.200 600 600 1. Negara 23 NTB Dinas Propinsi 1 Kab.500 59. Kepulauan Aru 6 Kab.250 750 1.050 450 300 200 300 1.450 750 300 4.500 500 3.000 750 8.500 20. Maluku Tngra Barat 2 Kab. Manggarai Timur 20 Kab.500 1.500 7. Pulau Buru 5 Kab. Klungkung 8 Kab. Buru Selatan 9 Kab.000 32.500 25.500 1.000 2. Buleleng 4 Kab. Maluku Barat Daya 10 Kota Ambon 11 Kota Tual Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Gianyar 5 Kab. Timor Tengah Selatan 12 Kab. Nagekeo 17 Kab. Manggarai Barat 15 Kab.800 450 6. Sikka 9 Kab.000 14.575 900 450 1.375 2.500 900 100 1. Sumba Timur 11 Kab. Bangli 3 Kab.200 200 50 450 450 1. Sabu Raijua 21 Kota Kupang 25 MALUKU Dinas Propinsi 1 Kab.100 550 550 1. Lembata 6 Kab.500 7.500 6.000 4.000 1. Belu 2 Kab.950 5.000 10. Lombok Utara 10 Kota Mataram 24 NTT Dinas Propinsi 1 Kab. Ngada 8 Kab.300 300 250 900 400 100 1.000 450 50 450 450 1.000 3.500 1.450 4.250 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 19. Sumba Tengah 18 Kab.475 875 200 50 1.200 1.000 500 450 50 9.500 - 22 BALI Dinas Propinsi 1 Kab.000 4.

000 150 1.000 39.000 - Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1. Puncak Jaya 9 Kab. Kepulauan Sula 5 Kab.000 50 775 1. Nduga 28 Kab. Mimika 6 Kab.000 500 500 - 26 PAPUA Dinas Propinsi 1 Kab.000 150 3.100 400 100 300 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 100 50 50 100 50 50 150 50 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 1 1 2 2 10 4 1 2 3 1 1 1 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar 4 Sarana Pengendalian OPT (kali) 3 SLPHT (unit) 20 SLI (unit) 1 1 - - - - - 3 25 1 50 - 2 - - 3 55 3 25 25 2 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 106 | P a g e .500 44.Intan Jaya 24 Kab. Serang 4 Kab. Lebak 2 Kab.000 500 8. Nabire 7 Kab. Tangerang 5 Kota Cilegon 6 Kota Serang 7 Kota Tangerang 8 Kota Tangerang Selatan SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 500 850 150 11. Provinsi dan Kabupaten/Kota Padi Non Hibrida Hanya Bantuan Benih 10. Pulau Morotai 8 Kota Ternate 9 Kota Tidore Kepulauan 28 BANTEN Dinas Propinsi 1 Kab.975 100 450 50 500 250 1.000 875 148.500 3.150 1. Supiori 21 Kab Deiyai 22 Kab. Halmahera Selatan 6 Kab. Boven Digoel 17 Kab. Sarmi 12 Kab. Lanny Jaya 25 Kab.500 19. Merauke 5 Kab.000 500 400 100 10. Tolikara 16 Kab. Membramo Raya 26 Kab. Pandeglang 3 Kab. Asmat 19 Kab.500 500 850 150 2. Keerom 13 Kab. Biak Numford 2 Kab. Kep Yapen Waropen 10 Kota Jayapura 11 Kab.500 500 25. Halmahera Timur 4 Kab. Halmahera Tengah 2 Kab.375 750 750 4. Halmahera Barat 3 Kab. Puncak 29 Kab.200 400 100 700 400 100 300 100 300 500 100 2.600 150 150 1.500 500 500 7. Mappi 18 Kab. Pegunungan Bintang 15 Kab.000 1.000 450 5.000 1. Membramo Tengah 27 Kab.000 2. Paniai 8 Kab.000 1. Waropen 20 Kab. Jayawijaya 4 Kab. Yalimo 27 MALUT Dinas Propinsi 1 Kab. Jayapura 3 Kab. Yahukimo 14 Kab.500 41. Dogiyai 23 Kab. Halmahera Utara 7 Kab.

000 3. Sorong Selatan 9 Kota Sorong 10 Kab.Pedoman Pelaksanaan Program No.500 12. Sorong 2 Kab.000 450 3.500 21. Marisa 31 KEPRI Dinas Propinsi 1 Kab.500 7.100 550 550 29 BABEL Dinas Propinsi 1 Kab. Bintan 3 Kab. Blitung Timur 5 Kab.400 375 500 400 375 500 200 1. Belitung 3 Kab.100 1.500 5. Natuna 2 Kab.300 5.950 19.000 1.000 2.150 2. Bangka Selatan 4 Kab.000 1.900 5.075 Padi Non Hibrida Spesifik Lokasi 1.000 3. Kep.500 750 2.000 2. Kaimana 8 Kab. Polewali Mandar SLPTT Padi (Ha) Pengembangan (Ha) SLPTT Padi Non Padi Hibrida Padi Lahan SLPTT Padi Hibrida Jagung Hibrida Hanya Kering Hanya Kedelai (Ha) Kedelai Kacang Spesifik Ubi Ubi Hibrida (Ha) Peningkatan Bantuan Bantuan Lokasi Model Tanah Kayu Jalar IP Benih Benih 1. Maybrat 11 Kab Tambrauw 33 SULBAR Dinas Propinsi 1 Kab.500 675 820 450 500 225 60 100 375 700 100 60 100 50 125 225 100 2.100 550 550 1. Teluk Wondama 7 Kab. Sungai Liat 30 GORONTALO Dinas Propinsi 1 Kab.450 6.000 2. Gorontalo utara 6 Kota Gorontalo 7 Kab.250 1.000 1.000 2. Teluk Bintuni 6 Kab. Pohuwato 4 Kab.450 2.500 63.000 - Pemberdayaan Penangkar (Ha) Padi 250 50 50 50 50 50 100 50 50 Jagung Kedelai Padi Bantuan Sarana Pascapanen (paket) Jagung 2 2 4 Kedelai Ubi Kayu Ubi Jalar - Sarana Pengendalian OPT (kali) 2 SLPHT (unit) 15 SLI (unit) - - 1 - - - 3 42 2 3 1 - 1 - - - - - - - - - 3 1 2 - - - - 6 1 2 3 20 1 1 1 1 2 2 - - - - - - 2 33 1 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 107 | P a g e .500 5.500 3.000 5.500 225 7. Fak-Fak 4 Kab. Bone Bolango 5 Kab. Boalemo 2 Kab.000 1. Mamuju 2 Kab.400 400 1. Karimun 4 Kab. Bangka 2 Kab.750 1. Raja Ampat 5 Kab. Mamuju Utara 5 Kab.100 1.500 3. Mamasa 4 Kab. Lingga 5 Kab.000 1.000 1. Limboto 8 Kab. Majene 3 Kab. Anambas 6 Kota Batam 7 Kota Tanjung Pinang 8 Kab Dumai 32 PAPUA BARAT Dinas Propinsi 1 Kab.000 1.000 2.025 19.125 1.000 5.000 1. Padi Non Provinsi dan Kabupaten/Kota Hibrida Hanya Bantuan Benih 3. Manokwari 3 Kab.750 38.000 1. Gorontalo 3 Kab.000 1.250 2.125 700 500 1. Bangka Tengah 7 Kota Pangkal Pinang 8 Kab.500 2.000 9. Bangka Barat 6 Kab.000 450 1.

Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 15. Daftar Komoditi Binaan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 108 | P a g e .

Siklus Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah RPJM RENSTRA Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Rencana Kerja dan Angaran (RKA) Penetapan Kinerja (PK) Kinerja Aktual Lapuran Keuangan (SAI) LAKIP Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 109 | P a g e .Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 16.

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 17. Acuan Bobot Penilaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

NO. 1 2 3 4 5

KOMPONEN YANG DINILAI Perencanaan Kinerja (Renstra, RKT, PK) Pengukuran Kinerja Pelaporan Kinerja Evaluasi Kinerja Capaian Kinerja Nilai Total

BOBOT 35 20 15 10 20 100

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 110 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 18. Alur Sistem Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

BAPPENAS

Nasional

Outcome/Impact Nasional

Kementerian Pertanian

Sektor/ Program

Outcome/Impact Sektor

Unit Eselon I

Program

Outcome

Unit Eselon II, UPT Pusat, Dekon/TP SKPD Provinsi

Kegiatan

Output

Tugas Pembatuan di SKPD Kab/Kota

Kegiatan

Output

Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 111 | P a g e

Pedoman Pelaksanaan Program
Lampiran 19. Jenis dan Waktu Penyampaian Laporan
WAKTU PENYAMPAIAN

NO. I. 1.

JENIS LAPORAN LAPORAN RUTIN Laporan PP 39/2006

PELAPOR

PENERIMA LAPORAN

Setjen Kementerian Pertanian

14 hari kerja setelah triwulan terakhir 3 hari kerja setelah triwulan berakhir 4 hari kerja setelah triwulan berakhir 5 hari kerja setelah triwulan berakhir

Form-A Form-B Form-C

2. 3.

Evaluasi Rencana Kerja / Renstra Penetapan Kinerja Es-II Penetapan Kinerja Es-I Penetapan Kinerja Kementerian Pertanian LAKIP Eselon-II LAKIP Eselon-I LAKIP Kementerian Pertanian

Penanggung jawab kegiatan Penanggung jawab program Kepala SKPD Kab/Kota, Prov, Satker Pusat, UPTPusat Eselon - I Eselon-II Eselon-I Kementerian Pertanian Eselon - II Eselon - I Kementerian Pertanian Eselon-I Eselon - I Eselon - I Eselon - I Eselon – II Eselon – I Kementan Eselon - I

Penanggung jawab program Kepala Satker masing-masing Instansi Kepala Daerah Cq Kepala Bappeda dan Menteri Pertanian

Bappenas Eselon-I Menteri Pertanian Kementerian PAN & RB

Tahunan / lima tahunan 31 Januari 15 Februari 31 Maret 31 Januari T + 1 15 Februari T + 1 10 Maret T + 1

4. 5. 6. 7.

Rapim Kementan (Rapim A) Tindak lanjut Rapim A Laporan Bulanan Kegiatan Menteri Laporan Bulanan Kegiatan Eselon-I Laporan Kinerja Eselon – II Laporan Kinerja Eselon - I Laporan Kinerja Kementan

Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Menteri Pertanian Eselon I Menteri Pertanian Menteri PAN & RB Menko / Kabinet / DPR-RI Sesuai permintaan

Dua mingguan Sesuai jadwal Bulanan Bulanan 10 Desember 15 Desember 20 Desember Sesuai Permintaan Sesuai Permintaan

II. 8. 9.

LAPORAN KHUSUS Bahan Rakor Menko / Sidang Kabinet / RDP / Raker DPR-RI Insidental lain

Catatan : Sumber:

Laporan-laporan lain (SAI, SIMAK-BMN, Laporan Statistik, Laporan Pemantauan Wilayah Binaan, Laporan Teknis dll) sesuai ketentuan yang berlaku. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 31 Tahun 2010

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 112 | P a g e

3) Rencana Bisnis dan Angagran BLU (RBA BLU) apabila berkenaan dengan Satuan Kerja BLU. Artinya proses penyusunan RKA-KL pada suatu Satker menggunakan program Aplikasi RKA-KL akan mengahsilkan dokumen KK RKA-KL. Proses penyusunan KK RKA-KL tersebut difasilitasi program Aplikasi RKA-KL. Penyusunan KK RKA-KL pada suatu Satker terbagi dalam penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan dengan langkah sebagai berikut: a.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 20. kegiatan. 2) Gender Budget Statement (GBS) apabila berkenaan dengan ARG. Penyusunan anggaran belanja dilakukan dengan: 1) Menuangkan Alokasi Anggaran Angka Dasar Satker menuangkan jenis alokasi anggaran Angka dasar pada suatu kegiatan sampai dengan tingkat Komponen yang juga telah memperkirakan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. 2) Menuangkan Alokasi Anggaran Inisiatif Baru a) Berkenaan dengan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru. Menyampaikan / melengkapi data dukung berupa: 1) KK RKA-KL dan Arsip Data Komputer-nya (ADK). Mekanisme Penyusunan Kementerian/Lembaga RKA-KL Berdasarkan Pagu Anggaran 1. SATKER Penyusunan anggaran belanja dan pendapatan kegiatan suatu Satker untuk bahan yang direncanakan dalam dokumen KK RKA-KL mengacu pada format KK RKA-KL dan tata cara pengisiannya. Satker menuangkan alokasi anggaran satker secara rinci sampai dengan item biaya. b. 2) Menuangkan angka prakiraan maju setiap kegiaatn dan setiap jenis penerimaan (PNBP dan/atau penerimaan fungsional). atau analisis kelayakan bangunan oleh Dinas Pekerjaan Umum dalam hal pembangunan/renovasi berat gedung/bangunan Negara. b) Penuangan anggaran Inisiatif Baru juga telah memperhatikan angka prakiraan maju untuk 3 (tiga) tahun yang akan datang. 4) Data dukung teknis dalam suatu kasus tertentu antara lain: peraturan perundangan/keputusan pimpinan K/L yang mendasari adanya kegiatan/output. c) Penuangan jenis alokasi anggaran Inisiatif Baru mengacu pada Proposal Inisiatif Baru yang telah disetujui untuk tahun yang direncanakan. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 113 | P a g e . akun pendapatan. Penyusunan anggaran pendapatan dilakukan dengan: 1) Menuangkan target pendapatan setiap kegiatan yang dilaksanakan Satker.Pendapatan Bukan pajak (PNBP) atau penerimaan fungsional. dan jenis penerimaan. Penggunaan GBS mengacu pada contoh format. c. Penuangan anggaran pendapatan terinci dalam program.

d. e. Apabila terdapat ketidaksesuaian atas program. 6) Data pendukung terbaik. 2) Identifikasi Satker pelaksana kegiatan. antara lain berupa: a) Perhitungan kebutuhan biaya pembangunan/renovasi bangunan gedung Negara atau yang sejenis dari Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas Pekerjaan Umum setempat sebagimana Peraturan menteri Pekerjaan Umum Nomor 45/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Kementerian Pekerjaan Umum. g. b. 2. Menyusun RKA-KL Unit Eselon-I berdasarkan KK RKA-KL. d. dan (3) sasaran kinerja (jenis barang/jasa dan volume output). disampaikan kepada Unit Eselon I. 3) Penjelasan mengenai perubahan alokasi anggaran belanja kegiatan dari ayng sedang berjalan dengan yang diusulkan. KK RKA-KL yang telah ditandatangani KPA beserta data pendukung terkait. Memvalidasi kinerja dan anggaran program yang menjadi tanggung jawab Unit Eselon-I berkenaan dengan (1) Total pagu anggaran. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai Sasaran Hasil (pada tingkat program) antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra Unit Eselon-I) 2) Uraian deskripsi masing-masing kegiatan. Menghimpun/kompilasi KK RKA-KL dalam lingkup Unit Eselon-I berkenaan.Pedoman Pelaksanaan Program 5) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTIM) yang ditandatangani oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) apabila satuan biaya yang tercantum dalam KK RKA-KL tidak terdapat dalam Standar Biaya. UNIT ESELON – I a. Mengisi informasi pada Bagian L Formulir 2 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Hasil. Selain mengisi Formulir 2 RKA-KL. dan prasarana) dan penghambat (fackor lingkungan/kultur kerja). 3) Jumlah Satker pelaksana kegiatan 4) Penjelasan mengenai perubahan alokasi program antara yang sedang berjalan dan yang diusulkan. f. Unit Eselon-I juga mengisi Bagian I. (2) sumber dana. b) Persetujuan prinsip (clearence) terbaik dengan pembangunan baru bangunan gedung Negara dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi. Meneliti dan menyaringrelevansi Komponen dengan Output kegiatan pada masing-masing KK RKA-KL. c. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 114 | P a g e . dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. sarana. Formulir 3 RKA-KL tentang Operasionalisasi Kegiatan yang berisikan antara lain: 1) Identifikasi factor-faktor pendukung (faktor pegawai. Unit Eselon-I melakukan koordinasi dengan Satker untuk perbaikan pada KK RKA-KL.

Menyusun RKA-KL secara utuh untuk lingkup K/L berdasarkan RKA-KL Unit Eselon – I.Kementan. 3. 2) Pengurangan belanja pada Komponen 0001 dan 0002. (3) sasaran kinerja. Isinya menguraikan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai sasaran strategis. i. Menyampaikan RKA-KL berserta data dukung terkait kepada Kementerian Keuangan c. K/L melakukan koordinasi dengan Unit Eselon-I untuk perbaikan paad RKA-KL Unit Eselon-I berkenaan. Ditjen Anggaran dan Kementerian Perencanaan. (2) Simber dana. Mengisi informasi pada Bagian I. d. RKA-KL Unit Eselon-I ditandatangani oleh Pejabat Eselon-I atau yang setingkat Eselon-I selaku KPA sebagai penanggung jawab program. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 115 | P a g e . Memvalidasi alokasi angagran K/L meliputi: (1) Total pagu anggaran. RKA-KL (yang telah disusun) diteliti kembali kesesuaiannya dengan pagu Anggaran K/L agar tidak mengakibatkan: 1) Pergeseran anggaran antar program (jumlah alokasi dana pada masingmasing program harus sesuai dengan yang tercantum dalam pagu Anggaran K/L). Formulir 1 RKA-KL tentang Strategi Pencapaian Sasaran Strategis. g.Pedoman Pelaksanaan Program h. Pinjaman Hibah Luar Negeri. c. Menyampaikan RKA-KL Unit Eselon I dan data dukung terkait kepada K/L. antara lain berupa: 1) Strategi dan kebijakan terkait dengan sasaran strategis (mengacu Renstra K/L). Apabila terdapat ketidaksesuaian atas alokasi anggaran K/L. 3) Perubahan pagu sumber pendanaan/sumber pembiayaan yang berasal dari rupiah murni. b. e. Menghimpun/kompilasi RKA-KL Unit Eselon-I dalam lingkup K/L. 2) Uraian deskripsi masing-masing program dan unit Organisasi Penanggung Jawab. KEMENTERIAN / LEMBAGA a. f.q. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . dan PNBP (sumber pendanaan/sumber pembiayaan dalam menghasilkan output tidak diperbolehkan berubah/bergeser).

parameter non-ekonomi. dan usulan program/kegiatan/output baru maka. Dalam rangka penyusunan RKA-KL berdasarkan Pagu Alokasi Anggaran K/L.Kementan. Sumber: Pedoman Penganggaran 2012 Ditjen Tanaman Pangan . 2. Usulan tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai referensi pada program aplikasi RKA-KL. 3. Penyesuaian terhadap angka dasar apabila terdapat perubahan parameter ekonomi (indeks inflasi untuk tahun yang direncanakan) dan/atau penyesuaian parameter nonekonomi apabila terdapat perubahan kebijakan sehingga berpengaruh terhadap besaran alokasi angagran K/L. 2. Hasil penuangan alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR terdapat dalam formulir B. Meneliti kemmbali jumlah alokasi anggaran tersebut apakah sesuai dengan jumlah alokasi anggaran hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. Apabila ada perubahan parameter baik ekonomi maupun non-ekonomi maka. KK RKA-KL. Mengusulkan rumusan program/kegiatan/output sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR kepada Kementerian Keuangan dan kementerian Perencanaan terlebih dahulu sesuai dengan kewenangan masing-masing. Mekanisme Penyusunan RKA-KL Berdasarkan Alokasi Anggaran K/L Berdasarkan Hasil Kesepakatan Pembahasan DPR dan Alokasi Angagran K/L. ada beberapa kemungkinan: 1.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 21. d. Sedangkan penyesuaian komponen utama dapat dilakukan dengan mengalikan dengan parameter ekonomi atausesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. RKA-KL berdasarkan Pagu Anggaran RKA-KL secara langsung ditetapkan dalam SP RKA-Kl. Usulan program dan kegiatan (non output) diajukan kepada Kementerian Perencanaan. Sedangkan usulan output diajukan kepada Kementerian Keuangan. Adanya program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR. maka K/L menyesuaikan RKA-KL. Penyesuaian pada komponen pendukung dilakukan dengan melakukan perkalian dengan parameter ekonomi. Apabila ada program/kegiatan/output baru sebagai hasil kesepakatan pembahasan dengan DPR maka. Entry data biaya pada masing-masing komponen dengan mengacu pada standar biaya yang berlaku pada tahun yang direncanakan atau kepatutan dan kewajaran harga (disertai dengan SPTIM). Apabila tidak ada perubahan parameter ekonomi. b. K/L menyesuaikan RKA-KL dengan: a.Penyesuaian dimaksud meliputi: 1. c. penuangan dalam KK RKA-KL dilakukan melalui penyesuaian dengan parameter ekonomi dan non ekonomi pada tingkat kompinen. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 116 | P a g e .

6. Usulan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) disampaikan kepada Direktur Jenderal Anggaran (DJA) beserta dokumen pendukung. Jika Menkeu menolak usulan revisi akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) danb menyampaikannya ke KPA.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 117 | P a g e . Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran yang Memerlukan Persetujuan Menteri keuangan 1. 3. 4. Berdasarkan proses penelaahan dan penilaian DJA memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi KPA. 6a. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 22. akan ditetapkan surat pemberitahuan penolakan Revisi Anggaran (Revisi RKA-KL) dan menyampaikannya ke KPA. Jika Menkeu menyetujui usulan revisi anggaran (Revisi RKA-KL). DJA melakukan penelaahan dan menilai usulan revisi yang diajukan KPA. 6b. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) menyiapkan usulan Revisi Anggaran (Revisi RKAKL) yang diajukan dan membutuhkan persetujuan Menteri Keuangan (Menkeu). SP RKA-KL Revisi hasil penetapan Menkeu juga disampaikan ke DJPBN. akan ditetapkan Surat Penetapan RKA-KL Revisi (SP RKA-KL Revisi) dan disampaikan ke KPA. Jika berdasarkan penelahaan dan penilaian yang dilakukan DJA usulan revisi ditolak. Jika berdasarkan penelaahan dan penilaian DJA usulan revisi disetujui akan disampaikan ke Menkeu untuk memperoleh persetujuan. 5.

5. KPA menyampaikan Konsep Revisi DIPA kepada DJPBN beserta Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. KPA berdasarkan Pengesahan DIPA Revisi mencetak POK hasil revisi. 4. Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi disetujui. dilakukan pengesahan DIPA Revisi dan disampaikan ke KPA. mencetak Revisi Anggaran (Konsep Revisi DIPA) dan menyiapkan Dokumen Pendukung dan ADK RKA-Satker. DJPBN melakukan penelaahan dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap usulan revisi. KPA berdasarkanb Revisi RKA-Satker. 2.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 23.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 118 | P a g e . Jika berdasarkan penelaahan usulan revisi ditolak. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran pada Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan/ Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. akan ditetapkan Surat Pemberitahuan Penolakan Revisi Anggaran (Revisi DIPA) dan menyampaikannya ke KPA. 7. 3. 6. KPA menyiapkan usulan-usulan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker).

2. Jika Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebabkan perubahan DIPA. KPA menyiapkan Revisi Anggaran dan melakukan Revisi Anggaran (Revisi RKASatker) sesuai kewenangannya. KPA mencetak POK dan menyampaikan ke DJPBN berserta ADK RKA-Satker. DIPA Revisi yang telah disahkan disampaikan kembali ke KPA. 3. Berdasrakan DIPA Revisi yang telah disahkan KPA mencetak POK. 4. jika tidak terjadi perubahan DIPA. KPA mencetak Konsep DIPA Revisi dan menyampaikannya ke DJPBN berserta ADK RKASatker.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 119 | P a g e . Berdasarkan Konsep DIPA Revisi dan ADK RKA-Satker DJPBN memeriksa dan melakukan pengesahan DIPA Revisi.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 24. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. KPA berdasarkan Revisi RKA-Satker memeriksa apakah Revisi Anggaran (Revisi RKA-Satker) menyebakan perubahan DIPA. Alur Dokumen dan Proses Revisi Anggaran Pada Satuan Kerja oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1. 5. 2a. 6.

2a. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Anggaran 1. 2b. Setelah Revisi RKA-KL ditetapkan (SP-RKA-KL). Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. disampaikan kepada KPPN. 6.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 25. data revisi ditransfer ke database Kantor Pusat DKPBN. sebagai bahan pencocokan dan penelitian Revisi DIPA yang diajukan oleh Satker Pusat maupun Daerah. Satker kantor pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. 7. data RKA-KL diunggah (di-upload) ke Database bersama oleh DJA. ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. 4a. 10. Setelah Revisi DIPA disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 8b. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan Revisi dIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Wilayah DJPBN. DJPBN mengambil data RLA-KL dari Database bersama. Kantor Pusat DJPBN menerbitkan dan mengirimkan DRA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN berdasarkan RKA-KL yang ditetapkan oleh DJA (SP-RKL-KL). dikirimkan kembali kepada Eselon I K/L sebagai bahan Revisi DIPA. 8a. 9a. 4b. Database Bersama di-update berdasarkan Data Revisi DIPA yang disahkan oleh Kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 120 | P a g e . Eselon I K/L menyampaikan ADK Revisi RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada satker kantor pusat sebagai bahan penyusunan Revisi DIPA. Eselon I K/L menyampaikan juga ADK RKA-KL yang telah ditetapkan oleh DJA kepada Satker daerah sebagai bahan penyusunan revisi DIPA. 5. 3. Eselon I pada Kementerian Negara/lembaga (K/L) mengirimkan ADK Revisi RKA-KL dilakukanpenelaahan pada DJA.

Database DJA di-update berdasarkan Database Bersama. 2b. Satker daerah menyampaikan usul pengesahan revisi DIPA beserta ADK-nya kepada kantor Wilayah DJPBN. disampaikan kepada KPPN.02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 121 | P a g e . Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 26. data revisi ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. Database Bersama di-update berdasarkan data revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat/Kantor Wilayah DJPBN. 2a. Setelah DIPA satker daerah disahkan oleh Kantor Wilayah DJPBN. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1a. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Pusat DJPBN. disampaikan kepada KPPN. Satker Kantor Pusat menyampaikan usul pengesahan Revisi DIPA beserta ADK-nya kepada Kantor Pusat DJPBN. 3a. 3b. ADK Revisi DIPA yang disahkan oleh kantor Wilayah DJPBN. 4. 1b.

02/2011 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan 122 | P a g e . Satker daerah menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Wilayah DJPBN. 4. Database DJA di-update berdasarkan database Bersama. Data POK revisi satker kantor pusat ditransfer ke Database Kantor Pusat DJPBN. Database Bersama di-update berdasarkan Data POK revisi satker kantor pusat/daerah. disampaikan kepada KPPN. 1b. disampaikan kepada KPPN. Satker kantor pusat menyampaikan ADK POK revisi kepada Kantor Pusat DJPBN.. Alur Perubahan Database Akibat Revisi Anggaran pada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran 1a.Pedoman Pelaksanaan Program Lampiran 27. 2b. 3b. Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK. 2a. ADK POK revisi satker daerah. 3a. ADK POK revisi satker kantor pusat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful