Anda di halaman 1dari 5

Bab 4 Akuntansi Mudharabah dan Musyarakah

AKUNTANSI UNTUK MUDHARABAH DAN MUSYARAKAH MUDHARABAH Pengertian Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara shahibul maal (pemilik dana) dan mudharib (pengelola dan) dengan nisbah bagi hasil menurut kesepakatan di muka, jika usaha mengalami kerugian maka seluruh kerugian ditanggung oleh pemilik dana, kecuali jika ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan oleh pengelola dana, seperti penyelewengan, kecurangan dan peyalahgunaan dana. Jenis Akad Mudharabah 1. Mudharabah Muthalaqah. Mudharabah dimana pemilik dananya memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya. Mudharabah ini disebut juga investasi tidak terikat. 2. Mudharabah Muqayyadah. Mudharabah yang pemilik dananya memberikan batasan kepada pengelola dana mengenai lokasi, cara dan atau objek investasi atau sektor usaha. Mudharabah jenis ini disebut juga investasi terikat 3. Mudharabah Musyarakah. Mudharabah yang pengelola dananya turut menyertakan modal dananya dalam kerja sama investasi. Rukun mudharabah adalah : 1. Orang yang berakad : a. Pemilik modal / Shohibul maal atau Rabbul maal b. Pelaksanaan atau usahawan / Mudharib 2. Objek Mudharabah berupa Modal / maal 3. Ijab Qabul / Serah Terima 4. Nisbah Keutungan Berakhirnya akad mudharabah Lamanya kerjasama dalam mudharabah tidak tentu dan tidak terbatas, tetapi semua pihak berhak untuk menentukan jangka waktu kontrak kerja sama dengan menberitahukan pihak lainnya. Namun, akad mudharabah dapat berakhir karena hal-hal sebagai berikut : 1. Dalam hal mudharabah tersebut dibatasi waktunya, maka mudharabah berakhir pada waktu yang telah ditentukan. 2. Salah satu pihak memutuskan mengundurkan diri 3. Salah satu pihak meninggal dunia atau hilang akal 4. Pengelola dana tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha untuk mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad. Sebagai pihak yang mengemban amanah ia harus beritikad baik dan hati-hati. 5. Modal sudah tidak ada Prinsip Pembagian Hasil Usaha (PSAK 105 PAR 11) Dalam mudharabah istilah profit and loss sharing tidak tepat digunakan karena yang dibagi hanya keuntungannya saja (profit) tidak termasuk kerugiannya (loss). Sehingga untuk pembahasan selanjutnya, akan digunakan istilah prinsip bagi hasil seperti yang digunakan dalam Undang-undang No.10 tahun 1998, karena apabila usaha tersebut Andi Amirullah Arif (A31110114), Muh Agus Priyetno (A31110259) Yunus Lieonardo (A31110016)

Bab 4 Akuntansi Mudharabah dan Musyarakah

gagal kerugian tidak dibagi di antara pemilik dana dan penglelola dana, tetapi harus ditanggung sendiri oleh pemilik dana. Pembagian hasil usaha mudharabah dapat dilakukan berdasarkan pengakuan penghasilan usaha mudharabah dalam praktik dapat diketahui berdasarkan laporan bagi hasil atas realisasi penghasilan hasil usaha dari pengelola dana. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan dari proyeksi hasil usaha. Untuk menghindari perselisihan dalam hal biaya yang dikeluarkan oleh pengelola dana, dalam akad harus disepakati biaya-biaya apa saja yang dapat dikurangkan dari pendapatan. Contoh perhitungan bagi hasil (bank sebagai pemilik dana) : Penjualan HPP Laba kotor Biaya-biaya Laba (rugi) bersih Rp. 1.000.000 (Rp 650.000) Rp. 350.000 (Rp 250.000) Rp. 100.000

a) Metode Profit sharing dengan nisbah bank syariah : pengelola = 30 : 70 Bank syariah : 30% x Rp. 100.000 = Rp. 30.000 Pengelola : 70% x Rp. 100.000 = Rp. 70.000 b) Metode revenue sharing dengan nisbah bank syariah : pengelola = 10 : 90 Bank syariah : 10% x Rp. 350.000 = Rp. 35.000 Pengelola : 90% x Rp. 350.000 = Rp. 315.000 Jika akad mudharabah melebihi satu periode pelaopran, penghasilan usaha diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil sesuai nisbah yang disepakati (PSAK 105 Par 20) MUSYARAKAH Pengertian Antonio (2004) mendefinisikan al-musyarakah secara singkat namun jelas, yaitu akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana masingmasing pihak memberikan kontribusi dana atau keahlian dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Dewan Syariah Nasinal MUI dan PSAK 106 mendefinisikan musyarakah sebagai akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi dana. Istilah lain dari musyarakah adalah sharikah atau syirkah atau kemitraan. Karakteristik Musyarakah sebenarnya hampir sama dengan mudharabah. Musyarakah merupakan akad kerjasama diantara para pemilik modal yang mencampurkan modal mereka untuk tujuan mencari keuntungan. Dalam Musyarakah mitra dan bank sama-sama menyediakan modal untuk membiayai suatu usaha tertentu, baik yang sudah berjalan maupun yang baru. Selanjutnya, mitra dapat mengembalikan modal tersebut berikut bagi hasil yang telah disepakati secara bertahap atau sekaligus kepada bank. Pembiayaan Andi Amirullah Arif (A31110114), Muh Agus Priyetno (A31110259) Yunus Lieonardo (A31110016)

Bab 4 Akuntansi Mudharabah dan Musyarakah

Musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas, atau aktiva non kas, termasuk aktiva tidak berwujud seperti lisensi dan hak paten. Musyarakah dapat bersifat musyarakah permanen maupun menurun. Dalam musyarakah permanen, bagian modal setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad, sedangkan dalam musyarakah menurun, bagian modal bank akan dialihkan secara bertahap kepada mitra, sehingga bagian modal bank akan menurun dan pada akhir masa akad mitra akan menjadi pemilik usaha tersebut. Laba Musyarakah dibagi diantara para mitra, baik secara proporsional sesuai dengan modal yang disetorkan (baik berupa kas maupun aktiva lainnya) atau sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh semua mitra. Sedangkan rugi dibebankan secara proporsional sesuai dengan modal yang disetorkan baik berupa kas maupun aktiva lainnya. Sumber Hukum Akad Musyarakah Al-Quran Maka mereka berserikat pada sepertiga (QS An Nisa : 12) Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang orang yang beserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh (QS Shad : 24) As-Sunah Hadits Qudsi dari Abu Hurairah : Aku (Allah) adalah pihak ketiga dari dua orang yang beserikat sepanjang salah seorang dari keduanya tidak berkhianat terhadap lainnya. Apabila seseorang berkhianat terhadap lainnya maka Aku keluar dari keduanya (HR. Abu Dawud dan Al Hakim dari Abu Hurairah). Dalam Hadits lain, Rasullulah bersabda : Pertolongan Allah tercurah atas dua pihak yang berserikat sepanjang keduanya tidak saling berkhianat (HR. Muslim). Fatwa DSN tentang Transaksi Musyarakah FATWA DEWAN SYARI'AH NASIONAL NO: 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang PEMBIAYAAN MUSYARAKAH memuat ketentuan antara lain sebagai berikut : 1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak 2. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum, dan memperhatikan halhal berikut: 3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian) 4. Biaya Operasional dan Persengketaan Jenis Akad Musyarakah Prinsip al-musyarakah (al-musyarakah aqad) menurut Siamat (2004) dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, sebagai berikut: 1. Syirkah alinan Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak menyerahkan suatu bagian/porsi modal dan ikut aktif dalam usaha/kerja. Porsi setoran modal masing-masing dibagi sesuai kesepakatan, dan tidak harus Andi Amirullah Arif (A31110114), Muh Agus Priyetno (A31110259) Yunus Lieonardo (A31110016)

Bab 4 Akuntansi Mudharabah dan Musyarakah

sama besar. Demikian pula keuntungan atau kerugian yang terjadi jumlahnya tidak harus sama dan dilakukan berdasarkan kontrak atau perjanjian. 2. Syirkah Mufawadhah Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak menyerahkan bagian modal yang jumlahnya sama besar dan ikut berpartisipasi dalam pekerjaan. Demikian pula tanggung jawab dan beban utang dibagi oleh masing-masing pihak. 3. Syirkah Amal (Syirkah Abdan atau Sanaai) Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih yang memiliki keahlian atau profesi yang sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dimana keuntungan dibagi bersama. 4. Syirkah Wujuh Yaitu perjanjian kerjasama antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memiliki reputasi dan kredibilitas (kepercayaan) dalam melakukan suatu usaha. Rukun Musyarakah 1. Pelaku terdiri atas mitra 2. Objek Musyarakah berupa Modal / maal dan kerja 3. Ijab Qabul / Serah Terima 4. Nisbah Keuntungan Berakhirnya akad mudharabah Akad musyarakah dapat berakhir karena hal-hal sebagai berikut : 1. Salah satu mitra menghentikan akad. 2. Salah satu mitra meninggal dunia atau hilang akal. 3. Modal musyarakah hilang atau habis. Penetapan Nisbah dalam Akad Musyarakah Nisbah dapat ditentukan melalui dua cara, yaitu : 1. Pembagian keuntungan proposional sesuai modal Dengan cara ini keuntungan harus dibagi di antara para mitra secara proporsional sesuai modal yang disetorkan. 2. Pembagian keuntungan tidak proporsional denga modal Dengan cara ini, dalam penetuan nisbah yang diprtimbangkan bukan hanyamodal yang disetorkan tapi juga tanggung jawab, pengalaman, kompetensi atau waktu kerja yang lebih panjang. Referensi : . Andi Amirullah Arif (A31110114), Muh Agus Priyetno (A31110259) Yunus Lieonardo (A31110016) Harahap, Sofyan Syafri, dkk, 2006, Akuntansi Perbankan Syariah, LPFE Usakti, Jakarta Nurhayati, Sri dan Wasilah, 2008, Akuntansi Syariah di Indonesia, Salemba Empaat, Jakarta Al Quran dan Terjemahan Wiyono, Slamet, 2005, Cara Mudah Memahami Akuntansi Perbankan Syariah Berdasar PSAK dan PAPSI , Grasindo, Jakarta.

Bab 4 Akuntansi Mudharabah dan Musyarakah

Andi Amirullah Arif (A31110114), Muh Agus Priyetno (A31110259) Yunus Lieonardo (A31110016)