Anda di halaman 1dari 2
 

Catatan Kajian

Topik: QS 16:120-123 Tanggal: 8 Oktober 2012 Fasilitator: Bapak Muchlisin Aziz E-Mail: emuchtar@gmail.com Blog: http://chippingin.wordpress.com

 
 
Catatan Kajian Topik: QS 16:120-123 Tanggal: 8 Oktober 2012 Fasilitator: Bapak Muchlisin Aziz E-Mail: emuchtar@gmail.com Blog:

TOPIK: QS AN-NAHL(16):120-123

Nabi Ibrahim AS disebut khalilullah, sahabat Allah yang tulus. (Btw, kata Ibrahim memiliki akar kata: abi-rahim: yang berarti bapak-cinta). Bagaimana beliau bisa menyandang julukan ini? Empat ayat berikut mungkin dapat memberikan petunjuk.

Catatan Kajian Topik: QS 16:120-123 Tanggal: 8 Oktober 2012 Fasilitator: Bapak Muchlisin Aziz E-Mail: emuchtar@gmail.com Blog:

inna ibraahiima kaana ummatan qaanitan lillaahi haniifan walam yaku mina almusyrikiina

QS 16:120 – Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),

Sebenarnya kata yang digunakan di sini adalah “ummatan”. Nabi Ibrahim AS disebut “ummatan” – suatu umat, dan bukan seseorang. Hal ini karena beliau sudah lebur mewakili semesta, tidak lagi merepresentasik an seorang individu maupun golongan. Kata “kaana” di sini menandakan telah terjadi.

Disebut pula “qaanitan lillaahi”, yang berarti patuh, tunduk, taat pada (segala ketentuan, hukum, syariat, tanda-tanda)-Nya, yaitu mereka yang senantiasa mengatakan “sami’na wa atha’na” – kami dengar dan kami taat.

Serta “haniifan” = selalu melihat kebenaran dan memilih kebenaran sebagai jalan hidupnya. Senantiasa meperjuangkan kebenaran.

Plus “walam yaku mina al musyrikiina”, tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). Kata “yaku” menandakan hal yang dilakukan terus-menerus.

Jadi kualitas bathinlah yang diutamakan dalam jalan menjadi sahabat Allah. Mereka yang telah lebur dan mewakili semesta, senantiasa patuh taat kepada Allah, selalu berpegang dan membela Kebenaran (Al-Haqq), serta menjaga diri agar senantiasa terhindar dari mempersekutukan Allah.

Catatan Kajian Topik: QS 16:120-123 Tanggal: 8 Oktober 2012 Fasilitator: Bapak Muchlisin Aziz E-Mail: emuchtar@gmail.com Blog:

syaakiran li-an'umihi ijtabaahu wahadaahu ilaa shiraathin mustaqiimin

QS 16:121 - (lagi) yang mensyukuri ni'mat-ni'mat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.

Mereka ini juga makhluk yang senantiasa bersyukur. Kata syukur juga menyandang makna senantiasa berprasangka baik (terhadap Allah), berterima kasih, patuh, dan sadar. Memiliki kesadaran bahwa apa yang ada padanya bukanlah miliknya. Sehingga dalam memanfaatkan apa yang ada padanya, ia selalu meminta izin, bertanya dan memohon petunjuk kepada Sang Pemilik.

Dikisahkan: “Rasulullah berdiri (shalat) sampai bengkak kedua kakinya. Kepadanya ditanyakan: “Mengapa Anda membebani diri dengan hal yang demikian?Bukankah Allah swt. Telah mengampuni Anda dari segala dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?” Rasulullah saw. Bersabda : “Tidak patutkah saya menjadi hamba Allah yang bersyukur?”

(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin Mu’adz, dari Abu `Awanah,dari Ziyad bin `Alaqah, yang bersumber dari al Mughirah bin Syu’bah r.a.)

Dengan demikian, semua aspek hidup kita menjelma berupa ekspresi dari rasa syukur. Tidak hanya ibadah ritual saja, namun juga keterjagaan kita, kerja kita, istirahat kita, tutur kata kita, semua merupakan ekspresi rasa syukur kita terhadap Tuhan.

Bila kelima kualitas tersebut telah hadir di diri seseorang, Allah akan memilihnya dan senantiasa membimbing ke jalan yang lurus. Hal ini merupakan konsekuensi logis.

(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin Mu’adz, dari Abu `Awanah,dari Ziyad bin `Alaqah,

waaataynaahu fii alddunyaa hasanatan wa-innahu fii al-aakhirati lamina alshshaalihiina

QS 16:122 - Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Dia tetap terpenuhi kebutuhan duniawinya, dan mendapatkan kebaikan di akhirat juga, menjadi orang -orang yang shalih, yaitu orang-orang yang rohaninya sehat, senantiasa terjaga.

(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, juga oleh Basyar bin Mu’adz, dari Abu `Awanah,dari Ziyad bin `Alaqah,

tsumma awhaynaa ilayka ani ittabi' millata ibraahiima haniifan wamaa kaana mina almusyrikiina

QS 16:123 - Kemudian Kami wahyukan kepadamu: "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Sapaan dan ajakan ini ditujukan kepada siapa pun yang membaca, mendengar ayat in i. Ikutilah agama Ibrahim. Mereka yang telah lebur dan mewakili semesta, senantiasa patuh taat kepada Allah, selalu berpegang dan membela Kebenaran (Al-Haqq), menjaga diri agar senantiasa terhindar dari mempersekutukan Allah, dan hidup untuk mengekspresikan rasa syukur.

Tulisan ini terasa singkat. Namun ketika pagi tadi saya mengikuti kajian ini, saya merasa rangkaian ayat ini demikian kaya sehingga saya perlu membacanya lamat-lamat, berulang kali.

Entah apa yang terkandung di dalam nya, namun ajakan untuk mengikuti agama Ibrahim—untuk lebur dan mewakili semesta, senantiasa patuh taat kepada Allah, selalu berpegang dan membela Kebenaran (Al-Haqq), menjaga diri agar senantiasa terhindar dari mempersekutukan Allah, dan hidup untuk mengekspresikan rasa syukur—sangatlah menarik buat saya.

Sehari sebelum ini, saya mengikuti kelas Pak Nasaruddin Umar di Paramadina. Beliau mem bahas pertemuan dua samudera di QS 18:60-70, pertem uan Nabi Musa dan Nabi Khidr, representasi pertemuan ilmu huduri dan ilmu khusuli, logika dan hati. Orang yang berada di pertem uan dua samudera ini, yang mengamalkan kedua ilmu ini, merekalah manusia paripurna (insan kamil). Ilmu Nabi Musa mengajarkan kita untuk menjadi khalifah, ilmu Nabi Khidr mengajarkan kita untuk menjadi hamba – dua fungsi manusia di muka bumi ini.

Untuk merenungkan pembelajaran yang disampaikan melalui dua kajian ini. Luar biasa. Alhamdulillah.

Semoga bermanfaat. Lebih kurangnya, saya meminta maaf.

Salaam.