BAB I PENDAHULUAN

Prematuritas adalah suatu keadaan yang belum matang, yang ditemukan pada bayi yang lahir pada saat usia kehamilan belum mencapai 37 minggu. Menurut WHO, persalinan prematur adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Penentuan usia kehamilan dapat ditentukan dengan menggunakan skil Ballard dan kurva Battaglia dan Lubchenko. Dengan demikian, persalinan dapat terdiri dari: persalian prematur dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan janin sesuai dengan masa kehamilan (SMK), dam kehamilan prematur dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan kurang/kecil untuk masa kehamilan (KMK).1 Penyebab terjadinya kelahiran prematur sampai saat ini belum diketahui dengan jelas. Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko kelahiran prematur: faktor dari ibu antara lain infeksi akut, jarak kehamilan yang terlalu dekat dengan kehamilan sebelumnya, status gizi ibu kurang, penyalahgunaan obat, dll. Faktor janin yaitu hydroamnion, kehamilan ganda/multiple, gawat janin, plasenta previa, hydroamnion, infeksi, dll.1,2,3 Hyaline Membrane Desease (HMD) adalah suatu gangguan pernapasan yang terjadi paling sering pada bayi lahir prematur, dikarenakan defisiensi dari surfaktan paru. HMD biasanya ditandai dengan stress pernapasan, tachypnea, adanya retraksi terutama subcosta dan intercosta, dyspnea, grunting respiration, dan sianosis.1,4,5 Ada 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan pada HMD yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, seksio sesaria. Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membran Disease (HMD) didapatkan pada 10% bayi prematur, yang disebabkan

defisiensi surfaktan pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang. Surfaktan biasanya
1

didapatkan pada paru yang matur. Fungsi surfaktan untuk menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara, sehingga pada bayi prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan daya berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak napas. Gejala tersebut biasanya tampak segera setelah bayi lahir dan akan bertambah berat.4,5 Sepsis pada bayi baru lahir (BBL/sepsis neonatal ) masih merupakan masalah yang belum dapat terpecahkan dalam pelayanan dan perawatan BBL. Dalam laporan WHO yang dikutip Child Health Research Project Special Report : Reducing perinatal and neonatal mortality (1999) dikemukakan bahwa 42% kematian BBL terjadi karena berbagai bentuk infeksi seperti infeksi saluran pernapasan, tetanus neonatorum, sepsis dan infeksi gastrointestinal. Dari tahun ke tahun insiden sepsis tidak banyak mengalami perbaikan. Di Inggris, angka kematian sepsis neonatal pada tahun 1985 – 1987 ( 25-30 % ) menunjukan penurunan yang bermakna dibandingkan dengan tahun 1996-1997 (menjadi 10%), hal ini terjadi karena berbagai penemuan dan antibiotik baru. Sepsis pada BBL adalah infeksi aliran darah yang bersifat invasive dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih.6,7 Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sclera akibat akumulasi bilirubin yang tak terkonjugasi yang berlebih.6 Ikterus secara klinis akan mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dL. Hiperbilirubinemia menyebabkan bayi terlihat berwarna kuning, keadaan ini timbul akibat akumulasi pigmen bilirubin yang berwarna pada sclera dan kulit. Pada masa transisi setelah lahir, hepar belum berfungsi secara optimal, sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal. Keadaan ini yang menyebabkan dominaso bilirubin tak terkonjugasi dalam darah. Pada kebanyakan bayi baru lahir, hiperbilirubinemia tak terkonjugasi merupakan fenomena transisional yang normal, tetapi pada beberapa bayi, terjadi peningkatan bilirubin

2

Dengan demikian. adanya tanda – tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi ( muntah. letargis. malas menetek.7. setiap bayi yang mengalami kuning.7. harus dibedakan apakah ikterus yang terjadi merupakan keadaan yang fisiologis atau patologis serta dimonitor apakah mempunyai kecenderungan untuk berkembang menjadi hiperbilirubinemia yang berat.5 mg/dL/jam. kadar bilirubin tak terkonjugasi pada minggu pertama > 2 mg/dL.8 Ikterus fisiologis umumnya terjadi pada bayi baru lahir. apnea. Ikterus fisiologis merupakan masalah yang sering terjadi pada bayi kurang maupun cukup bulan dan tidak disebabkan oleh faktor tunggal tapi kombinasi dari berbagai faktor yang berhubungan dengan maturitas fisiologis bayi baru lahir.secara berlebihan sehingga bilirubin berpotensi menjadi toksik dan dapat menyebabkan kematian dan bila bayi tersebut dapat bertahan hidup pada jangka panjang akan menimbulkan sequel nerologis. penurunan berat badan yang cepat.8 3 . Ikterus non fisiologis atau yang dulu disebut dengan ikterus patologis yaitu ikterus yang terjadi sebelum umur 24 jam. setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi. takipnea atau suhu yang tidak stabil ) dan ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang bulan. peningkatan kadar bilirubin total serum > 0.

Mamelas .57 WITA dengan keluhan utama sesak. Riwayat kehamilan PAN 3x di bidan. Bayi lahir di Puskesmas Tateli di tolong oleh bidan pada tanggal 25 April 2012 jam 12. Keputihan gatal dan berbau dan ada riwayat demam intrapartum. nifedipin. untuk mengontrol tekanan darah. 4 . PBL 40 cm. apgar score tidak diketahui.Palit Tanggal lahir : 25 Juni 2012 Jenis kelamin : Perempuan Alamat Agama Pendidikan Pekerjaan ANAMNESIS Seorang bayi perempuan. 34 tahun dengan hipertensi dalam kehaminaln. Lahir dari ibu G3P3A0. Penderita merupakan rujukan dari Puskesmas Tateli.30 WITA secara spontan letak belakang kepala dengan BBL 1700 gram. MRS NICU tanggal 25 Juni 2012 jam 19. : Desa Teteli Jaga IV : Kristen Protestan ::- Anamnesis ( diberikan oleh ibu penderita ) Kehamilan ini merupakan kehamilan ketiga.BAB II LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN Nama lengkap : By. Selama kehamilan ibu minum obat anti hipertensi.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN KEHAMILAN : Perawatan antenatal Penyakit-penyakit selama kehamilan Komplikasi kehamilan : 3x di bidan :: Ibu sempat mengalami demam 3 hari sebelum melahirkan. KELAHIRAN : Tempat kelahiran : Puskesmas Tateli Penolong persalinan : Bidan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi :      Berat badan lahir Panjang badan lahir : 1700 gram : 40 cm : Pervaginam : 34-35 minggu Langsung/tidak langsung menangis : tidak langsung menangis Nilai APGAR Kelainan bawaan : tidak diketahui : disangkal 5 . saat melahirkan ibu tidak demam.Anamnesis antenatal dan kelahiran Ibu penderita melakukan pemeriksaan antenatal sebanyak 3x di Puskesman Tateli sebanyak 3 kali dan mendapat imunisasi TT sebanyak 2 kali.

Kriteria neurologis menurut Ballard: sikap jendela sendi pergelangan tangan rekoil lengan sudut poplitea gerakan tumit kekuping tanda skarf :3 :3 :3 :1 :1 :2+ 13 Karakteristik eksternal menurut Ballard : kulit lanugo permukaan plantar payudara mata/telinga genitalia :2 :3 :3 :2 :2 :2+ 14 Total skor Umur Kehamilan : 13 + 14 = 27 : 34-36 minggu RIWAYAT PERKEMBANGAN          membalik tengkurap duduk merangkak berdiri berjalan tertawa berceloteh memanggil mama/papa :::::::::6 .

RIWAYAT IMUNISASI VAKSIN BCG DPT/DT POLIO CAMPAK HEPATITIS B (DASAR) UMUR ULANGAN RIWAYAT MAKANAN Umur (bln) 0-2 2-4 4-6 6-8 8-10 10-12 ASI/PASI Bubur susu Bubur saring Bubur biasa - 7 .

RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA Penyakit Diare Otitis Radang paru Tuberkulosis Kejang Ginjal Jantung Darah Difteri Morbili Parotitis Demam berdarah Demam tifoid Cacingan Alergi Kecelakaan Operasi Umur - 8 .

SC. RR : 64x/m. secret tidak ada Sianosis tidak ada Simetris. PCH (+) Bentuk normal. sclera ikterik (-) Bentuk normal. SB : 36. kiri = kanan.5 oC 9 . Retraksi (+) IC. secret tidak ada. Xyphoid Detak jantung 142x/m Iktus cordis tidak tampak Batas kiri linea midclavicularis sinistra Batas kanan Linea parasternalis dextra Batas atas ICS II-III Bunyi jantung apex M1<M2 Bunyi jantung apex aorta A1 < A2 Bunyi jantung pulm P1 > P2 Bising (-) Paru – paru : Inspeksi : Simetris : : : : : Aktifitas (+) Reflex (+) tidak diketahui 1700 gram 40 cm HR : 142x/m.PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Skor APGAR Berat badan Panjang badan Tanda vital Kepala dan leher Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Dada Jantung : : : : : : : Ubun – ubun besar datar Konjungtiva tidak anemis.

lemas. normal. Labia mayora menutupi labia minora Lubang (+) Warna kemerahan Efloresensi (-) Pigmentasi (-) Jaringan parut (-) Lapisan lemak cukup Turgor kembali cepat Tonus (-) Oedema (-) DIAGOSIS Prematur SMK + HMD gr. tali pusat terawat Lien : tidak teraba Ekstremitas Genitalia Anus Kulit : : : : Akral hangat. CRT < 3” Perempuan. II-III + suspek sepsis PENATALAKSANAAN O2 headbox 5-7 l/m Pasang NGT 10 . BU (+) N Hepar : tidak membesar.Palpasi : Sonor kiri = kanan Perkusi : Stem fremitus kiri = kanan Auskultasi : Suara pernapasan bronkovesikuler Rhonki tidak ada. wheezing tidak ada Abdomen : Datar.

5 mg IV Rawat tali pusat : DL.6% 14. count. Diff.3 g/dL 187.000/mm3 negatif (-) X-foto thoraks : Gambaran paru reticulogranuler disertai air bronkogram dan batas kontur jantung yang sudah mulai menghilang ( HMD grade II-III).5 mg/36 jam IV Inj. Gentamisin 8.93x106/mm3 42. DDR. Aminofillin 2x4. 11 .Pro IVFD Dextrose 10% 5-6 gtt/m Inj. Amoxicillin 2x85 mg IV Inj. CRP LABORATORIUM Leukosit Eritrosit Hematokrit Hb Trombosit Malaria Radiologis : : : : : : : 8.500/mm3 3.

Gentamisin 8. demam (-). Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat. Amoxicillin 2x85 mg IV (2) Inj. SC. CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr.5 mg IV (2) Susu 8x3-4 cc/NGT ( 20 ml/kg/hari ) 27/6/2012 PH : 3 S O : : U : 3 hari BBL : 1700 gr BBS : 1400 gr Napas cepat. Xyphoid Cor : Bising (-) Pulmo : Sp. Ku : aktif (+) HR : 142x/m Refleks (+) RR : 60x/m SB : 36. Ku : aktif (+) Refleks (+) 12 . bab/bak (+). intake (-).Wh -/- Abd : Datar. Lemas. Aminofillin 2x4. sesak. demam (-). BU (+) N H/L : ttb. bab/bak (+). Bronkovesikuler. II-III + suspek sepsis O2 Headbox 5-7 l/m IVFD Kaen 4B D10% 172 ml 35 ml 13-14 gtt/m Inj.5 mg/36 jam IV (2) Inj. retraksi (+) IC. sesak. Rh -/.Follow Up : 26/6/2012 PH : 2 S O : : U : 2 hari BBL : 1700 gr BBS : 1400 gr Napas cepat.5 0C Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (-) PCH (+) Simetris. intake (-).

BU (+) N H/L : ttb. Bronkovesikuler. Gentamisin 8. demam (-). Xyphoid Cor : Bising (-) Pulmo : Sp.5 ml 3.5 0C Konj An (-) Scl ict (-) PCH (+) Simetris. : Ku : aktif (+)↓ HR : 124x/m Refleks (+)↓ RR : 56x/m SB : 36.5 mg IV (3) Susu 8x3-4 cc/NGT ( 20 ml/kg/hari ) Pro : Kultur Darah 28/6/2012 PH : 4 S O U : 4 hari BBL : 1700 gr : Sesak↓. bab/bak (+). retraksi (+) IC. Rh -/. Amoxicillin 2x85 mg IV (3) Inj. intake (-). II-III + suspek sepsis O2 Headbox 5-7 l/m IVFD Kaen 4B D40% 103. Aminofillin 2x4. Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat.5 ml 5-6 gtt/m Aminosteril 23 ml KCl Ca.6 0C 13 .HR : 142x/m Kep : Tho : RR : 60x/m SB : 36. Gluko 3 ml 7 ml Inj. Lemas. CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr. SC.Wh -/- Abd : Datar.5 mg/36 jam IV (3) Inj.

II-III + suspek sepsis O2 Headbox 5-7 l/m IVFD Kaen 4B D40% 149 ml 18 ml 5-6 gtt/m Aminosteril 27 ml KCl Ca. SC.5 mg IV (4) Susu 8x4-5 cc/NGT ( 30 ml/kg/hari ) 29/6/2012 PH : 5 S O U : 5 hari BBL : 1700 gr : Kuning (+) sampai dengan dada. Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat. Gentamisin 8.5 mg/36 jam IV (4) Inj. 14 . Amoxicillin 2x85 mg IV (4) Inj. Bronkovesikuler. CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr. Xyphoid Cor : Bising (-) Pulmo : Sp. SC. napas cepat ↓. demam (-) : Ku : aktif (+) HR : 132x/m Refleks (+) RR : 44x/m SB : 36. Aminofillin 2x4. Rh -/. Gluko 2 ml 8 ml Inj.Wh -/- Abd : Datar.9 0C Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (+) PCH (-) Simetris. retraksi (+) IC. retraksi (+) IC.Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (-) PCH (+) Simetris. Lemas. BU (+) N H/L : ttb.

CRT < 3” Kuning sampai dengan dada Prematur SMK + HMD gr.Cor : Bising (-) Pulmo : Sp. BU (+) N H/L : ttb. Gentamisin 8.5 mg IV (5) Susu 8x5-6 cc/NGT ( 40 ml/kg/hari ) 30/6/2012 PH : 6 S O U : 6 hari BBL : 1700 gr BBS : 1300 gr : Kuning (+) sampai dengan dada. II-III + suspek sepsis + ikterus neonatorum O2 Headbox 5-7 l/m IVFD Kaen 4B D40% 93 ml 19. Aminofillin 2x4.5 mg/36 jam IV (5) Inj.5 ml 7 ml Inj. retraksi (+) SC Cor : Bising (-) 15 . Tali pusat terawat Ekst : Kulit : Dx Tx : : Hangat. Lemas. Bronkovesikuler.8 0C Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (+) PCH (+) Simetris. Rh -/.Wh -/Abd : Datar. Amoxicillin 2x85 mg IV (5) Inj.5 ml 5-6 gtt/m Aminosteril 21 ml KCl Ca. Gluko 2. napas cepat ↓. demam (-) : Ku : aktif (+) HR : 128x/m Refleks (+) RR : 56x/m SB : 36.

Pulmo : Sp.5 mg/36 jam IV (6) Inj. Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat. Bronkovesikuler.5 ml 7 ml Inj. BU (+) N 16 .8 0C Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (+) PCH (+) Simetris. Gentamisin 8. Lemas. CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr. retraksi (+) IC.Wh -/Abd : Datar.3 ml 5-6 gtt/m Aminosteril 21 ml KCl Ca. Amoxicillin 2x85 mg IV (6) Inj.Wh -/- Abd : Datar. Lemas. SC Cor : Bising (-) Pulmo : Sp.5 mg IV (6) Susu 8x7-8 cc/NGT ( 50 ml/kg/hari ) 1/7/2012 PH : 7 S O U : 7 hari BBL : 1700 gr BBS : 1300 gr : Kuning (+) sampai dengan dada. demam (+) : Ku : aktif (+) HR : 132x/m Refleks (+) RR : 62x/m SB : 37. Bronkovesikuler. sesak napas (+). BU (+) N H/L : ttb. Rh -/. Rh -/. Gluko 2. Aminofillin 2x4. II-III + suspek sepsis + ikterus neonatorum O2 Headbox 5-7 l/m IVFD Kaen 4B D40% 113 ml 26.

BU (+) N H/L : ttb. Gentamisin 8.Wh -/- Abd : Datar.5 mg/36 jam IV (7) Inj. Tali pusat terawat 17 .H/L : ttb. Amoxicillin 2x85 mg IV (7) Inj. Aminofillin 2x4. sesak ↓. indirect : Kuning (+) sampai dengan lutut. II-III + suspek sepsis + ikterus neonatorum O2 Headbox 5-7 l/m IVFD Kaen 4B D40% 113 ml 27 ml 5-6 gtt/m Aminosteril 21 ml KCl Ca. direct.5 mg IV(7) Susu 12x9-10 cc/NGT (60-70 ml/kg/hari ) Pro : 2/7/2012 PH : 8 S O U : 8 hari BBL : 1700 gr BBS : 1300 gr Cek bilirubin total. demam (-) : Ku : aktif (+) HR : 130x/m Refleks (+) RR : 60x/m SB : 37. Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat. Bronkovesikuler. Gluko 3 ml 7 ml Inj. retraksi (+) SC Cor : Bising (-) Pulmo : Sp. Rh -/. napas cepat (+).1 0C Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (+) PCH (+) Simetris. Lemas. CRT < 3” Prematur SMK+ HMD gr.

Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat. II-III + suspek sepsis + ikterus neonatorum O2 Headbox 5-7 l/m IVFD Kaen 4B 5-6 gtt/m Inj. Aminofillin 2x4. CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr.5 mg/36 jam IV (8) Inj.5 mg IV (9) INT 18 . II-III + suspek sepsis + ikterus neonatorum Inj. Lemas.Wh -/- Abd : Datar. Gentamisin 8. BU (+) N H/L : ttb. Gentamisin 8.5 mg/36 jam IV (9) INT Inj. sesak (-). Amoxicillin 2x85 mg IV (8) Inj.0 0C Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (+) PCH (+) Simetris. Aminofillin 2x4. Rh -/.5 mg IV Susu 12x11-12 cc/NGT ( 90-100 ml/kg/hari ) Rencana pindah ke NICU II 3/7/2012 PH : 9 S O U : 9 hari BBL : 1700 gr BBS : 1300 gr : Kuning (+). retraksi (+) SC minimal Cor : Bising (-) Pulmo : Sp. Amoxicillin 2x85 mg IV (9) INT Inj. CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr. Bronkovesikuler.Ekst : Dx Tx : : Hangat. demam (-) : Ku : aktif (+) HR : 132x/m Refleks (+) RR : 44x/m SB : 37.

Gentamisin 8.3 0C Kep : Tho : Konj An (-) Scl ict (+) PCH (+) Simetris.5 mg/36 jam IV (10) INT Inj. CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr. Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat.5 mg IV (10) INT Susu 12x14-15 cc/NGT ( 130 ml/kg/hari ) 5/7/2012 PH : 11 S O U : 11 hari BBL : 1700 gr BBS : 1250 gr : Kuning (-).2 0C Kep : Konj An (-) Scl ict (+) PCH (+) 19 . demam (-). Lemas.Susu 12x12-13 cc/NGT ( 120 ml/kg/hari ) Pindah ke NICU II 4/7/2012 PH : 10 S O U : 10 hari BBL : 1700 gr BBS : 1250 gr : Kuning (-). Amoxicillin 2x85 mg IV (10) INT Inj.Wh -/- Abd : Datar. Bronkovesikuler. BAB (+). BU (+) N H/L : ttb. II-III + suspek sepsis Inj. sesak (-). sesak (-). Aminofillin 2x4. Rh -/. demam (-) : Ku : aktif (+) HR : 132x/m Refleks (+) RR : 48x/m SB : 36. retraksi (-) Cor : Bising (-) Pulmo : Sp. BAK (+) : Ku : aktif (+) HR : 119x/m Refleks (+) RR : 42x/m SB : 36.

CRT < 3” Prematur SMK + HMD gr. retraksi (+) SC minimal Cor : Bising (-) Pulmo : Sp.5 mg/36 jam IV (11) INT Inj. Bronkovesikuler. Amoxicillin 2x85 mg IV (11) INT Inj. Lemas. Tali pusat terawat Ekst : Dx Tx : : Hangat. Gentamisin 8.Wh -/- Abd : Datar. Aminofillin 2x4.Tho : Simetris.5 mg IV (11) INT Susu 12x15-16 cc/NGT ( 150 ml/kg/hari ) 20 . II-III + suspek sepsis Inj. BU (+) N H/L : ttb. Rh -/.

BAB III DISKUSI Diagnosis kerja pada kasus ini adalah: Prematur SMK + HMD grade II-III + suspek sepsis + ikterus neonatorum. arm recoil. payudara. lanugo. Penentuan usia kehamilan dapat ditentukan dengan menggunakan skil Ballard dan kurva Battaglia dan Lubchenko. Menurut WHO. Prematuritas Prematuritas adalah suatu keadaan yang belum matang.1 Pada bayi ini didapatkan masa gestasi berdasarkan The New Ballard Score: 34-36 minggu. Penilaian neuromuskular meliputi postur. Klasifikasi neonatus menurut kurva Battaglia dan Lubchenko dengan usia gestasi 34-36 minggu dan berat 1700.1 The New Ballard Score Pada Bayi Prematur Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. scarf sign dan heel to ear maneuver. dan genitalia. didapatkan sesuai masa kehamilan. Penilaian fisik yang diamati adalah kulit. square window. A. 21 . permukaan plantar. Jeanne L Ballard. MD untuk menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan fisik. dengan berat badan lahir 1700 gram. mata/telinga. persalinan prematur adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. sudut popliteal. yang ditemukan pada bayi yang lahir pada saat usia kehamilan belum mencapai 37 minggu.

hipotensi. Biasanya mengenai bayi prematur. merupakan kompleks yang terdiri dari protein. Surfaktan berfungsi menurunkan tegangan permukaan alveolus agar tidak kolaps dan mampu untuk menahan sisa udara fungsionil pada akhir ekspirasi. Hyalin Membrane Desease (HMD) HMD merupakan kumpulan gejala gangguan pernapasan karena tidak adekuatnya surfaktan dalam paru akibat dari hambatan pembentukan surfaktan. terutama bila menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan. surfaktan berperan dalam pengembangan paru. toksemia gravidarum. dibentuk pada kehamilan 22 – 24 minggu dan berfungsi normal setelah minggu ke 35.4. 4 22 .B. Senyawa utama terdiri dari leisitin.5 Patofisiologi terjadinya HMD. karbohidrat dan lemak. Etiologinya dianggap karena faktor pertumbuhan atau karena pematangan paru belum sempurna. misalnya diabetes melitus. seksio secaria dan perdarahan antepartum dimana keadaan ini menyebabkan bayi lahir prematur.

dan pernapasan cuping hidung gejala yang 23 .Defisiensi Surfaktan Peningkatan tekanan permukaan alveolus Tidak mampu menahan sisa udara fungsionil (FRS) Pada akhir ekspirasi Kolaps alveolus Butuh tekanan negatif intra toraks yang lebih besar dan usaha inspirasi yang lebih kuat untuk pernapasan berikut ATELEKTASIS Hambatan pembentukan substansi surfaktan HIPOKSIA Penurunan aliran darah paru ASIDOSIS TRANSUDASI Gejala Klinis5    Biasanya pada bayi prematur Sering disertai riwayat asfiksia setelah lahir Tanda gangguan pernafasan pada 6 – 8 jam pertama setelah lahir dan karakteristik pada umur 24 – 72 jam  Dispnu atau hiperpnu.

hipotensi. hipotermi. Derajat II: Disertai gambaran air bronkogram meluas sampai ke perifer. retraksi interkostal dan “ekspirator grunting”  Bradikardia. Pada bayi ini. Derajat III: Disertai dengan batas tidak jelas Derajat IV:White Lung antara kontur jantung dan diagfragma. Sianosis. kardiomegali. didapatkan usia gestasi 34-36 minggu yaitu prematur. 24 . adanya pernapasan cuping hidung. retraksi suprasternal. Selain itu. retraksi epigastrum. diagnosis HMD didukung dengan adanya foto thoraks dimana terdapat gambaran paru reticulogranuler disertai air bronkogram dan batas kontur jantung yang sudah mulai menghilang ( HMD grade II-III). juga didapat gejala klinis pendukung berupa takipnea. pitting oedem (dorsal tangan atau kaki). dan retraksi subkostal dan intercostal. tonus otot menurun Derajat dari HMD dapat dikategorikan berdasarkan gambaran radiologis dari thoraks:9 Derajat I: Gambaran Reticulogranuler.

dan protozoa dapat menyebabkan sepsis pada neonatus. Bakteri.5 < 7 BBLR < 1500 gram Usia kehamilan < 37 minggu Ibu mengalami keputihan 25 . Sepsis Neonatorum Sepsis neonatal merupakan sindrom klinik penyakit sistemik akibat infeksi yang terjadi dalam satu bulan pertama kehidupan. virus.C. Berikut ini faktor resiko sepsis :10 Mayor : KPD > 18 jam Ibu demam > 38o C Korioamnionitis Gawat janin ( BJJ > 160x/m ) Ketuban kental dan berbau Minor : KPD > 12 jam Ibu demam > 37. Insidensnya berkisar 1-8 di antara 1000 kelahiran hidup dan meningkat menjadi 13-27 per 1000 kelahiran hidup pada bayi dengan berat < 1500 g.6.6. jamur. sehingga skrining dan pengelolaan terhadap faktor risiko perlu dilakukan. Terapi awal pada neonatus yang mengalami sepsis harus segera dilakukan tanpa menunggu hasil kultur.7 Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak spesifik.5oC Apgar score menit I < 5.7 Keadaan infeksi umum pada bayi dalam 1 bulan I kehidupan ditandai dengan adanya kuman dalam peredaran darah penderita.

Heme mengalami perubahan menjadi bilirubin yang tak terkonjugasi ( larut lemak ) di dalam system retikuloendotelial dan dibawa ke hepar oleh albumin. hitung jenis dan kultur darah.000 ) dan neutropeni absolute (PMN < 1500). Di hepar.1. Enzim B-glukoronidase terdapat di dalam usus halus dan menghidrolisis sejumlah 26 . penyumbatan saluran empedu.10 Faktor predisposisi antara lain ibu penderita ada riwayat keputihan gatal dan berbau demam intrapartum.000 ) yang didominasi oleh sel PMN. trombositopenia ( <100. Biasanya ditemukan leukositosis ( >30. dan sebagainya. D.2 Hiperbilirubinemia adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonatorum setelah ada hasil laboratorium yang menunjukan peningkatan kadar serum bilirubin. leukopeni ( <5000 ). galaktosemia. Ikterus Neonatorum Ikterus yang ditemukan pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologis ( terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan ) atau dapat merupakan hal yang patologis misalnya pada sepsis.- Ibu terdiagnosis ISK Kembar Pemeriksaan laboratorium dari neonatus tersangka sepsis terdiri dari darah lengkap. Bilirubin terkonjugasi ( larut air ) disekresi ke dalam saluran bilier untuk ekskrfesi melalui saluran pencernaan. dikonjugasi dengan asam glukoronat dengan suatu reaksi yang dikatalisir oleh glukoronil transferase.8 Dua sumber bilirubin pada neonatus berasal dari pemecahan sel darah merah yang beredar (75%) dan eritropoiesis dan protein heme jaringan yang tidak efektif ( 25% ).

Ikterus Fisiologis1 Ikterus fisiologis adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis. Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama 2. mencapai puncak kurang dari 12. Ikterus harus bertahan tidak lebih 1 minggu pada bayi aterm dan 2 minggu pada bayi premature II. pada hari 3-4 bayi aterm dan 15 mg/dL pada hari 5-7 ( bayi premature ) 3. Ikterus Patologis1 Ikterus patologis ialah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus yang menetap setelah 2 minggu pertama 5.9 mg/dL. Secara klinis.bilirubin yang terkonjugasi. Secara klinis. Ikterus yang disertai proses hemolisis ( inkompabilitas darah. Bilirubin total harus meningkat dengan kurang dari 5 mg/dL/hari. Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam 3.1 I. kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Bilirubin tak terkonjugasi ini kemudian dapat direabsorpsi ke dalam sirkulasi. ikterus patologis : 1. Ikterus yang disertai keadaan berikut : 27 . menambah total bilirubin tak terkonjugasi ( sirkulasi enterohepatik ). Kadar bilirubin direk > 1 mg/dL 4. ikterus fisiologis : 1. defisiensi enzim G-6-PD dan sepsis ) 6. Tidak terjadi pada hari pertama 2. Fraksi konjugasi harus tidak melebihi 2 mg/dL 4.

Obat ini bekerja sebagai enzyme inducer. misalnya dengan pemberian fenobarbital. 2. Contohnya ialah pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas. sindroma gawat napas Trauma lahir di kepala Hipoglikemia Infeksi/sepsis neonatorum Hiperosmolaritas darah III.3-1 mg%/jam Anemia yang berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung Bayi dengan kadar hemoglobin talin pusat < 14 mg% 28 . Walaupun fototerapi dapat menurunkan kadar bilirubin dengan cepat. Mengatasi Hiperbilirubinemia1 1. dapat dilakukan dengan indikasi : Pada semua keadaan dengan kadar bilirubin indirek < 20 mg% Kenaikan kadar bilirubin yang cepat yaitu 0. sehingga konjugasi dapat dipercepat. cara ini tidak dapat menggantikan transfuse tukar pada proses hemolisis berat. Fototerapi dapat digunakan untuk pra dan pascatransfusi tukar 4. 3. Mempercepat proses konjugasi. Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi. Transfusi tukar.- Berat lahir < 2000 gram Masa gestasi < 36 minggu Asfiksia. Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi. hipoksia.

1578-1581. Departement of Obstetric and Gynecology. China. 7. USA. London. Neonatal Hyaline Membrane Desease – RDS. The worldwide incidence of preterm birth: a systematic riview of maternal mortality and morbidity. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Epidemiology and causes of preterm birth. 2002. Neonatal Intensive Care Unit. 6. Dept. 589-599. Roberton NRC. 2011. halaman 561-572. Hal :170-185. RS.Jakarta : Ikatan Dokter Indonesia Tahun 2010. dkk. 5. Rennie JM. Jakarta : Ikatan Dokter Indonesia Tahun 2012. Bagian Radiologi FK UNDIP. 2008. 8. 2. Say L. Semarang. 10. Antonius H. Ilmu Kesehatan Anak. Mardiana F. . Hal :36-37. Pedoman Pelayanan Medis. 4. Kliegman. Hal : 1101-1124 29 . 2000. Behrman. Peran Radiologis dalam Gangguan Napas Pada Neonatus. Nelson: Textbook of Pediatrics Edisi 15. Respiratory Distress Syndrome. Hal :147169. Edisi 4. Beck A. Jian Mao. Wojdyla D. Arnold. Lams J. China Medical University. Dalam A Manual of Neonatal Intensive Care. Goldenberg R. of Pediatrics.Daftar Pustaka 1. Philadelphia. Rusepno H. WHO. 2011. 9. 2010. Abdulrahman S. Aminullah A. Sepsis Pada Bayi Baru Lahir. W. B. Dr Kariadi. Jilid I. Saunders Company. Drexel University. 3. Hiperbilirubinemia. Culhane J. Romero R. Jakarta : IDAI Tahun 2012 Edisi Pertama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful