Anda di halaman 1dari 17

MENGENAL AHMADIYAH

Daftar Isi:

I.

Antara Islam dan Ahmadiyah, Oleh: K.H.A. Cholil Ridwan (Ketua MUI)

II. Pelarangan Aliran Sesat Tidak Melanggar HAM, Oleh: Dr. Saharuddin Daming (Anggota Komnas HAM)
III. Persepsi Ahmadiyah terhadap Islam, Oleh: Dr. Adian Husaini (Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor) IV. Rasulullah saw dan Nabi Palsu, Oleh: Ahmad Rofiqi, Lc., M.Pd.I. (Dosen STID Mohammad Natsir) V. Menteri Agama dan Ahmadiyah, Oleh: Dr. Adian Husaini

Editor: Dr. Adian Husaini


Penerbit: PUSAT STUDI AGAMA-AGAMAINDONESIA Email: psaa_indonesia@yahoo.com 1432H/2011M

http://www.insistnet.com

I. ANTARA ISLAM DAN AHMADIYAH


Oleh: K.H. A. Cholil Ridwan (Ketua Majelis Ulama Indonesia)

Akhir-akhir ini, masalah Ahmadiyah terus menjadi pembicaraan. Masalah ini sudah sangat lama menjadi duri dalam daging dalam tubuh umat Islam. Kasus demi kasus yang menimpa jemaat Ahmadiyah terus terjadi. Sering ada pertanyaan, mengapakah umat Islam sangat keras resistensinya terhadap Ahmadiyah? Mengapakah MUI menetapkan Ahmadiyah adalah aliran sesat. Hal-hal inilah yang seringkali tidak dipahami oleh banyak orang, sehingga ada yang salah paham, bahkan meminta MUI dibubarkan segala macam. Karena banyaknya pertanyaan semacam itu dari kalangan masyarakat kepada saya, maka semoga tulisan singkat berikut ini dapat menjelaskannya. Salah satu kriteria aliran sesat yang ditetapkan MUI dalam Rakernas bulan November 2007 yang lalu ialah, ''Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir''. Dengan kriteria ini, maka Ahmadiyah secara otomatis masuk kategori aliran sesat, sebab mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Ahmadiyah juga mempunyai Kitab Suci sendiri, di samping Alquran, yaitu Tadzkirah, yang isinya banyak berupa "pelintiran" dari ayat-ayat Alquran. MUI sudah meneliti "kitab suci" kaum Ahmadiyah ini dengan cermat.

Pokok masalah Masalah utama yang menjadi perbedaan antara umat Islam dan kaum Ahmadiyah adalah keyakinan tentang status kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Bagi Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai nabi dan menerima wahyu dari Allah, sehingga mereka menambahkan sebutan 'alaihis salam' (as) pada namanya. Dia pun diyakini sebagai Isa dan Imam Mahdi sekaligus. Baru-baru ini, seorang tokoh Ahmadiyah menerbitkan buku dengan judul Syarif Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa (2007). Dijelaskannya di dalam buku ini tentang kepercayaan kaum Ahmadi, yaitu, '''Imam Mahdi dan Isa yang dijanjikan adalah seorang nabi yang merupakan seorang nabi pengikut atau nabi ikutan dengan ketaatannya kepada YM Rasulullah SAW yang akan datang dan mengubah masa kegelapan ini menjadi masa yang terang benderang. Dan apabila Imam Mahdi itu sudah datang, maka diperintahkanlah umat Islam untuk menjumpainya, walaupun harus merangkak di atas gunung salju.'' (halaman 69). Kenabian Mirza Ghulam Ahmad merupakan ajaran pokok dalam aliran Ahmadiyah. Ditulis di dalam buku tokoh Ahmadiyah tersebut, ''Dalam perkembangan sejarah, pada tahun 1879 Mirza Ghulam Ahmad a.s. menulis buku Braheen Ahmadiyya. Pada saat itu Mirza Ghulam Ahmad a.s. belum menyampaikan pendakwaan. Namun ketika menulis kitab itu, sebenarnya sudah menerima wahyu. 'Kamu itu nabi, kamu itu nabi!' dan diperintahkan mengambil baiat, tapi masih belum bersedia.'' (halaman 70). Ahmadiyah memandang orang yang tidak mengimani kenabian Ghulam Ahmad sebagai orang yang sesat. Berkata Mirza Ghulam Ahmad, ''Maka barangsiapa yang tidak percaya pada wahyu yang diterima imam yang dijanjikan (Ghulam Ahmad), maka sungguh ia telah sesat, sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam
2

http://www.insistnet.com

kematian jahiliyah, dan ia mengutamakan keraguan atas keyakinan.'' (Mawahib al-Rahman). Oleh sebab itulah, di dalam shalat, orang Ahmadiyah tidak boleh bermakmum kepada orang-orang Muslim, karena mereka dipandang ''belum beriman'' kepada Imam Zaman, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dalam shalat jamaah, orang Ahmadiyah-lah yang diharuskan menjadi imam. Tentang masalah shalat ini dijelaskan di dalam buku Syarif Ahmad Saitama Lubis, Dari Ahmadiyah untuk Bangsa tadi, ''Dasar pemikiran mengapa kalangan mereka harus yang menjadi imam, yaitu bagaimana mungkin berma'mum pada orang yang belum percaya kepada Imam Zaman, utusan Allah.'' (halaman 79-80). Bahkan, menurut kepercayaan Ahmadiyah, musibah demi musibah, bencana demi bencana yang menimpa umat ini, juga disebabkan karena mereka menolak kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Dikatakan, ''Dalam keyakinan Ahmadi, berbagai bencana alam yang terjadi merupakan peringatan dari Tuhan. Satu-satunya cara menghindari bencana menurut mereka adalah dengan mengenal Tuhan lebih dekat dengan cara mengenal seseorang yang sudah diangkat oleh Allah SWT. sebagai Imam Zaman.'' (halaman 73). Perbedaan keimanan Dengan keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, maka kaum Ahmadiyah kemudian menafsirkan ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits Rasulullah SAW sesuai dengan keyakinan mereka. Inilah perbedaan yang mendasar dalam masalah keimanan antara Islam dan Ahmadiyah. Muslim tidak boleh menjadi imam shalat bagi orang Ahmadiyah. Padahal semua Muslim memahami

bahwa mazhab apa pun dalam Islam, boleh saling menjadi imam satu sama lain. Bagi umat Islam, sudah jelas kedudukan kenabian Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Sepeninggal beliau sudah tidak ada lagi nabi. Meskipun banyak sekali yang mengaku sebagai nabi, tetap saja, mereka tidak diakui oleh umat Islam, bahkan mereka jelas-jelas sebagai pendusta. Dalam keputusan tahun 1937, Majelis Tarjih Muhammadiyah mengutip hadits Rasulullah SAW, ''Di antara umatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku dirinya nabi, padahal aku ini penutup sekalian nabi.'' (HR Ibn Mardawaihi, dari Tsauban). Sikap tegas umat Islam dalam soal ''nabi palsu'' ini selalu dilakukan sejak dulu, demi menjaga kemurnian Islam. Para ulama dan pemimpin negara tidak berkompromi dalam masalah ini. Sayyidina Abu Bakar As-Shidiq RA yang dikenal sangat lemah lembut, berani bersikap tegas terhadap nabi palsu bernama Musailamah Al-Kadzzaab. Sebab, apabila dibiarkan, akan menimbulkan kekacauan dalam agama dan masyarakat. Apabila Mirza Ghulam Ahmad dibenarkan, maka juga harus dibenarkan pula ''pengakuan kenabian'' Lia Eden, Ahmad Mushaddeq, dan lain lain. Padahal Ahmad Mushaddeq dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyahnya telah dinyatakan sesat dan melakukan pidana penodaan agama. Dalam menghadapi kelompok seperti Ahmadiyah dan Lia Eden, sikap umat Islam dan dunia Islam sudah jelas, yaitu bahwa semua itu adalah aliran sesat. Seluruh dunia Islam juga tidak berbeda. MUI dan berbagai lembaga Islam internasional sudah menyatakan hal yang sama bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat yang berada di luar Islam. Fatwa MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005, menjadikan keputusan Majma' al-Fiqih al-Islami Organisasi
3

http://www.insistnet.com

Konferensi Islam (OKI), yang diputuskan tahun 1985. Oleh sebab itu, Menteri Agama Maftuh Basyuni pernah menyarankan agar Ahmadiyah membuat agama baru, di luar Islam. Umat Islam Indonesia sudah lama dibuat resah dengan statemen Kholifah Ahmadiyah yang ke-4, yang datang ke Indonesia, pada bulan Juli 2000, yang membuat pernyataan bahwa, ''Indonesia pada akhir abad baru ini akan menjadi negara Ahmadiyah terbesar di dunia.'' Kalau MUI memfatwakan sesat terhadap Ahmadiyah, sebenarnya MUI sekadar menjalankan tugas dalam melindungi umat dari ajaran luar Islam yang akan merusak Islam. Tidak ada hubungannya dengan hak asasi manusia (HAM), MUI sama sekali tidak memasung siapapun untuk memeluk agama apapun, kebebasan beragama adalah hak asasi setiap manusia. '''Laa ikrooha fiddin,'' tidak ada paksaan dalam urusan agama. ''Lakum diinukum waliyadin,'' bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Jangan menanam alang-alang di kebun keluarga, tanamlah di lahan kosong yang masih sangat luas. Kebebasan memeluk agama bukan kebebasan merusak agama orang lain. Ikhtisar -Masalah utama penunjuk kesesatan Ahmadiyah adalah keyakinan akan kenabian Mirza Ghulam Ahmad. -Ahmadiyah menafsirkan Alquran dan hadits sesuai keyakinan mereka. -Ahmadiyah menganggap sesat orang yang tak mengimani Mirza dan tak mengizinkannya sebagai imam shalat. -Umat Islam dan dunia Islam dari dulu bersikap tegas terhadap kesesatan semacam ini.

-Pemerintah harus bertindak tegas terhadap kelompok yang merusak agama orang lain.
(Artikel di Harian Republika, Senin, 07 Januari 2008)

http://www.insistnet.com

II. PELARANGAN ALIRAN SESAT TIDAK MELANGGAR HAM


Oleh: Dr. Saharuddin Daming (Anggota Komnas HAM) Para aktivis kristen dan liberal banyak yang menggugat fatwa MUI tentang aliran sesat dan mengecam pembubaran beberapa aliran sesat oleh Kejaksaan Agung RI. Bahkan, mereka juga menuntut agar MUI dan PAKEM dibubarkan. Jika ditelaah, pendapat mereka yang katanya membela kebebasan dan HAM itu, sangatlah lemah. Saya berbeda pendapat dengan kalangan tersebut. Saya berkeyakinan bahwa tindakan aparat penegak hukum baik dari jajaran kepolisian dalam bentuk penangkapan/penahanan pimpinan aliran sesat dan pengikutnya, maupun tindakan pelarangan dari kejaksaan agung, secara sosioyuridis merupakan kebijakan yang sangat tepat dan berdasar. Betapa tidak, selain untuk mencegah terjadinya aksi-aksi anarkis, kebijakan tersebut juga merupakan amanat dari ius constitutum kita sendiri. Postulat penindakan tersebut bertumpu pada rumusan delik dalam pasal 156 KUHP, bahwa: Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, b. dengan maksud agar orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.
http://www.insistnet.com

Kewenangan aparat penegak hukum sendiri untuk menindak pelaku delik ajaran sesat dan menyesatkan, diatur dalam Penetapan Presiden No. 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (Penpres ini telah ditingkatkan statusnya menjadi UU PNPS No.1 tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama), dimana pada pasal 1 disebutkan: Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceriterakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatankegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu. Pasal 2 (1) Barang siapa melanggar ketentuan tersebut dalam Pasal 1 diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. (2) Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan, maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, satu dan lain Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam
5

Negeri. Pasal 3 Apabila, setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama bersama-sama Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri atau Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam Pasal 2 terhadap orang, organisasi atau aliran kepercayaan, mereka masih terus melanggar ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1, maka orang, penganut, anggota dan/atau anggota pengurus organisasi yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun. Perlu diingat bahwa dalam negara hukum (rechtstaat), bukan saja warga negara yang harus tunduk dan taat kepada hukum, tetapi negara beserta seluruh komponen penyelenggara negara termasuk Komnas HAM dalam menjalankan tugas dan fungsinya untuk melindungi dan menegakkan HAM juga wajib taat kepada hukum. Hal ini dipertegas sendiri oleh UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM: Pasal 67: Setiap orang yang ada di wilayah negara Republik Indonesia wajib patuh pada peraturan perundangundangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia. Jika kita perhatikan anak kalimat yang digarisbawahi dalam ketentuan di atas, maka terlihat dengan jelas bahwa pranata HAM yang perlu kita promosikan di Indonesia hanyalah pranata HAM
http://www.insistnet.com

yang diterima oleh Negara Republik Indonesia. Ini penting karena berbicara mengenai HAM, tentu merupakan persoalan yang sangat luas dan beragam bahkan lebih luas dari ruang berpikir kita. Begitu luasnya cakupan HAM yang dalam prakteknya sering menimbulkan pergesekan. Betapa tidak, karena di satu pihak muncul pandangan yang menyatakan HAM otomatis berlaku universal, sebaliknya ada pandangan juga yang menyatakan HAM bersifat partikular. Karena itu keluasan dan kebebasan dalam mengekspresikan pranata HAM, harus tetap dibatasi dan yang dapat membatasi tidak lain adalah ketentuan hukum. Hal ini juga sudah ditegaskan dalam UUD 1945 Pasal 28 J ayat 2: Pasal 28 J (2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nila-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Ketentuan mengenai pembatasan pelaksanaan konsep HAM sebagaimana tersebut diatas, lebih dipertegas lagi pada UU No. 39 Tahun 1999: Pasal 70 Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan
6

orang lain dan memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis. Sungguh merupakan hal yang tidak dapat disangkal bahwa dalam konstitusi dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM telah dijamin hak setiap warga negara untuk bebas memeluk agama dan beribadah menurut agama yang diyakininya. Akan tetapi hukum juga yang mengatur bahwa dalam melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan itu, tentu harus mengedepankan unsur ketertiban dan kehormatan nilai-nilai kesucian ajaran agama/kepercayaan pihak lain. Jika kita mengakui universalitas HAM disandarkan pada standar nilai dan otoritas, maka kita pun tidak boleh mencampakkan hal yang sama pada sistem pengembangan pemeliharaan kesucian ajaran suatu agama/kepercayaan. Sebagai suatu ajaran agama/kepercayaan sekitar 1,4 milyar jiwa, Islam tentu mempunyai standar nilai dan otoritas dalam menjaga kesucian dan keagungan ajarannya. Standar nilai kesucian ajaran Islam tertuju pada enam rukun iman dan lima rukun Islam. Setiap tindakan yang melahirkan paradigma kepercayaan dan atau peribadatan dengan menggunakan label Islam, tetapi menyimpang dari standar nilai ajaran agama Islam, maka itulah yang disebut dengan ajaran sesat dan menyesatkan yang dalam bahasa hukum disebut delik penodaan agama. Untuk menjaga nilai keagungan dan kesucian Islam agar tetap sesuai dengan standar yang diajarkan oleh Al-Quran dan AlHadits, maka diperlukan otoritas yang melekat pada ulama dan umaro. Jika kepolisian dan kejaksaan bertindak atas nama umaro, maka sesuai namanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentulah
http://www.insistnet.com

merepresentasikan para ulama waratsatul anbiya. Sebagai sebuah lembaga yang dibentuk dari mekanisme formal dikalangan para ulama Indonesia, sudah barang tentu MUI mempunyai peran dan fungsi yang sangat strategis bagi pembinaan dan pemeliharaan kesucian agama Islam di Indonesia. Dan salah satu fungsi dan peran MUI tersebut adalah kewenangan dalam mengeluarkan fatwa, tidak terkecuali fatwa yang menyatakan suatu ajaran sesat dan menyesatkan sebagaimana yang telah ditujukan kepada ajaran Ahmadiyah, AlQiyadah Islamiyah, Ingkar Sunnah, Salamullah dan lain-lain. Khusus mengenai Ahmadiyah, dalam Musyawarah Nasional II tanggal 11 17 Rajab 1400 H/26 Mei - 1 Juni 1980 M di Jakarta, MUI telah memfatwakan Ahmadiyah sebagai aliran yang sesat dan menyesatkan. Jadi, fatwa MUI tentang kesesatan suatu kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam, bukanlah suatu bentuk pelanggaran HAM. Memelihara ajaran agama adalah juga bagian dari menjalankan HAM. Jadi kalau MUI memutuskan suatu aliran adalah sesat, maka itu bagian dari HAM. Kita perlu memahami, bahwa HAM dan kebebasan akan berakhir, ketika sistem hukum mengaturnya. Misalnya, seseorang memiliki kebebasan untuk memakai helm atau tidak. Itu hak dia. Tetapi, jika sudah ada peraturan yang mewajibkan mengenakan helm bagi pengendara motor, maka kebebasan dia berhenti sampai di situ. Jadi, kewajiban pakai helm itu tidak melanggar HAM. Kita menolak paham liberalisme yang ingin menerapkan kebebasan dan HAM secara mutlak, tanpa memperhatikan kondisi masyarakat. Padahal, dalam masalah agama, kondisi masyarakat Muslim berbeda dengan masyarakat Barat. Masyarakat Muslim tidak bisa membiarkan saja semua bentuk penyesatan dan
7

perusakan agama, karena mereka berkewajiban menjaga agamanya dan berkewajiban menjalankan dakwah. Sebaliknya, masyarakat sekular-liberal tidak memiliki kewajiban seperti itu, sebab bagi mereka, agama bukan hal yang penting. (***)

III. PERSEPSI AHMADIYAH TERHADAP ISLAM


Oleh: Dr. Adian Husaini (Dosen Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor) Dalam berbagai artikel dan dialog di media massa Indonesia, para tokoh Ahmadiyah dan pendukungnya yang biasanya mengaku bukan pengikut Ahmadiyah sering mengangkat logika persamaan. Bahwa, Ahmadiyah adalah bagian dari Islam, karena banyak persamaannya. Al-Quran-nya sama, syahadatnya sama, shalatnya sama, dan hal-hal yang sama lainnya. Maka, kata mereka, demi keharmonisan hidup dan kerukunan masyarakat, mengapa Ahmadiyah tidak diakui saja sebagai bagian dari Islam. Benarkah logika semacam ini? Penyair dan cendekiawan Muslim terkenal asal Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal (1873-1938), pernah menulis sebuah buku berjudul Islam and Ahmadism (Tahun 1991 di-Indonesiakan oleh Makhnun Husein dengan judul Islam dan Ahmadiyah. Terhadap klaim Mirza Ghulam Ahmad bahwa dia adalah nabi dan penerima wahyu, Iqbal mencatat: Orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu adalah orang yang tidak patuh kepada Islam. Karena kelompok Qadiani mempercayai pendiri gerakan Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir. Lebih jauh Iqbal menyatakan: Setiap kelompok masyarakat keagamaan yang secara historik timbul dari Islam, yang mengakui kenabian baru sebagai landasannya dan menyatakan semua ummat Muslim yang tidak mengakui kebenaran wahyunya itu sebagai orang-orang kafir, sudah semestinya dianggap oleh setiap Muslim sebagai bahaya besar terhadap solidaritas Islam. Hal itu memang

http://www.insistnet.com

sudah semestinya, karena integritas ummat Islam dijamin oleh Gagasan Kenabian Terakhir (Khatamun Nabiyyin) itu sendiri. Dalam menilai Ahmadiyah, Iqbal tidak terjebak kepada retorika logika persamaan. Iqbal mengacu pada inti persoalan, bahwa Ahmadiyah berbeda dengan Islam, sehingga dengan tegas ia menulis judul bukunya, Islam and Ahmadism. Titik pokok perbedaan utama antara Islam dan Ahmadiyah adalah pada status kenabian Mirza Ghulam Ahmad; apakah dia nabi atau bukan? Itulah pokok persoalannya. Umat Islam yakin, setelah nabi Muhammad saw, tidak ada lagi manusia yang diangkat oleh Allah sebagai nabi dan mendapatkan wahyu. Tidak ada! Secara tegas, utusan Allah itu sendiri (Muhamamd saw) yang menegaskan: Sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta. Masing-masing mengaku sebagai nabi. Padahal, akulah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi sesudahku. (HR Abu Dawud). Jadi, umat Islam yakin, siapa pun yang mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu setelah nabi Muhammad saw apakah Musailamah al-Kazzab, Lia Eden, atau Mirza Ghulam Ahmad pasti bohong. Itu pasti! Inilah keyakinan Islam. Karena itu, pada 7 September 1974, Majelis Nasional Pakistan menetapkan dalam Konstitusi Pakistan, bahwa semua orang yang tidak percaya kepada Nabi Terakhir Muhammad secara mutlak dan tanpa syarat telah keluar dari kelompok umat Islam. Sikap umat Islam terhadap Ahmadiyah sebenarnya juga dilakukan berbagai agama lain. Protestan harus menjadi agama baru karena menolak otoritas Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel, meskipun antara kedua agama ini banyak sekali persamaannya. Tahun 2007, sebagian umat Hindu di Bali membentuk agama baru bernama agama Hindu Bali, yang berbeda
http://www.insistnet.com

dengan Hindu lainnya. Agama Kristen dan Yahudi mempunyai banyak persamaan. Bibel Yahudi juga dipakai oleh kaum Kristen sebagai kitab suci mereka (Perjanjian Lama). Tapi, karena Yahudi menolak posisi Yesus sebagai juru selamat, maka keduanya menjadi agama yang berbeda. Logika persamaan harus diikuti dengan logika perbedaan, sebab sesuatu menjadi dirinya justru karena adanya perbedaan dengan yang lain. Meskipun banyak persamaannya, manusia dan monyet tetap dua spesies yang berbeda. Akal-lah yang menjadi pembeda utama antara manusia dengan monyet. Setampan apa pun seekor monyet, dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang manusia. Non-Ahmadiyah sesat! Jika umat Islam bersikap tegas dalam soal kenabian Mirza Ghulam Ahmad, pihak Ahmadiyah juga bersikap senada. Siapa pun yang tidak beriman kepada kenabian Ghulam Ahmad, dicap sebagai sesat, kafir, atau belum beriman. Itu bisa dilihat dalam berbagai literatur yang diterbitkan Ahmadiyah. Pada tahun 1989, Yayasan Wisma Damai sebuah penerbit buku Ahmadiyah menerjemahkan buku berjudul Dawatul Amir: Surat Kepada Kebenaran, karya Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. Oleh pengikut Ahmadiyah, penulis buku ini diimani sebagai Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah (1914-1965). Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu, dan pada tahun 1961, terbit edisi Inggrisnya dengan judul Invitation to Ahmadiyyat. Para pendukung Ahmadiyah dari kalangan non-Ahmadiyah baiknya membaca buku ini, sebelum bicara kepada masyarakat tentang Ahmadiyah. Ditegaskan di sini: Kami dengan bersungguh-

sungguh mengatakan bahwa orang tidak dapat menjumpai Allah Taala di luar Ahmadiyah. (hal. 377). Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Masih alMauud mewajibkan umat Islam untuk mengimaninya. Kata Bashiruddin Mahmud Ahmad: Kami sungguh mengharapkan kepada Anda agar tidak menangguh-nangguh waktu lagi untuk menyongsong dengan baik utusan Allah Taala yang datang guna menzahirkan kebenaran Rasulullah saw. Sebab, menyambut baik kehendak Allah Taala dan beramal sesuai dengan rencana-Nya merupakan wahana untuk memperoleh banyak keberkatan. Kebalikannya, menentang kehendak-Nya sekali-kali tidak akan mendatangkan keberkatan. (hal. 372). Menurut Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad yang oleh kaum Ahmadiyah juga diberi gelar r.a. (radhiyallahu anhu), setingkat para nabi -- bukti-bukti kenabian Mirza Ghulam Ahmad lebih kuat daripada dalil-dalil kenabian semua nabi selain Nabi Muhammad saw. Sehingga, kata dia: Apabila iman bukan sematamata karena mengikuti dengaran dari tuturan ibu-bapak, melainkan hasil penyelidikan dan pengamatan, niscaya kita mengambil salah satu dari kedua hal yaitu mengingkari semua nabi atau menerima pengakuan Hadhrat Masih Mauud a.s. (hal. 372). Jadi, oleh kaum Ahmadiyah, umat Islam diultimatum: iman kepada Ghulam Ahmad atau ingkar kepada semua nabi? Bandingkan logika kaum Ahmadiyah ini dengan ultimatum Presiden George W. Bush: You are with us or with the terrorists. Oleh Ahmadiyah, umat Islam dipojokkan pada posisi yang tidak ada pilihan lain kecuali memilih beriman kepada para nabi dan menolak klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Masih belum puas! Umat Islam diultimatum lagi oleh pemimpin Ahmadiyah ini: Jadi, sesudah Masih Mauud turun,
http://www.insistnet.com

orang yang tidak beriman kepada beliau akan berada di luar pengayoman Allah Taala. Barangsiapa yang menjadi penghalang di jalan Masih Mauud a.s, ia sebenarnya musuh Islam dan ia tidak menginginkan adanya Islam. (hal. 374). Jadi, begitulah pandangan dan sikap resmi Ahmadiyah terhadap Islam dan umat Islam. Dan itu tidak aneh, sebab Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengaku pernah mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun mubaarakun, lanatullahi alalladzii kafara (Kamu Mirza Ghulam Ahmad adalah imam yang diberkahi dan laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal. 749). Ada lagi wahyu versi dia: Anta minniy bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa yalamuha al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan seperti anak-Ku, dan kamu bagiku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui semua makhluk/Tadzkirah, hal. 236). Itulah Ahmadiyah, yang katanya bersemboyan: Love for all. Hatred for None. Namanya juga slogan! Zionis Israel pun juga mengusung slogan menebar perdamaian, memerangi terorisme. Kaum Ahmadiyah pun terus-menerus menteror kaum Muslim dengan penyebaran pahamnya. Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No. 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jamaah, dinyatakan: Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran.

10

Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam lebih cinta kepada kebenaran. Demi cintanya kepada kebenaran dan juga pada ayahnya, maka Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya, Aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata! (***)

IV.

RASULULLAH SAW dan NABI PALSU


Oleh: Ahmad Rofiqi, Lc., M.Pd.I. (Dosen STID Muhammad Natsir)

Dominasi peradaban Barat telah menyebabkan banyak cendekiawan berusaha mengubah ajaran-ajaran Islam, agar sesuai dengan konsep HAM sekular Barat. Salah satu konsep Islam yang mendapat serangan adalah konsep tentang murtad (orang yang keluar dari agama Islam). Sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, maka manusia dijamin haknya untuk memeluk agama apa saja, termasuk keluar masuk suatu agama. Bagi mereka, agama dianggap seperti baju. Kapan saja boleh ditukar-tukar, sesuai dengan seleranya. Salah satu cara yang dilakukan para cendekiawan adalah berusaha mengubah sejarah, dengan menulis bahwa seolah-olah, Nabi Muhammad saw berdiam diri saja terhadap tindakan kemurtadan. Bahkan, perang melawan kaum murtad yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dikatakan sebagai perang melawan pemberontak yang semata-mata bermotifkan politik, bukan perang atas dasar agama. Sebuah buku sejarah Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Dr. Muhammad Husein Haekal, misalnya, juga menulis, bahwa nabi palsu yang muncul pada masa Rasulullah SAW tidaklah terlalu mempengaruhi beliau untuk melakukan tindakan-tindakan militer. "Itulah sebabnya, tatkala ada tiga orang yang mendakwakan diri sebagai nabi, oleh Muhammad tidak banyak dihiraukan." (Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (terj). 1990:559). Di Indonesia, disertasi, tesis, skripsi, dan buku-buku yang mendukung hak

http://www.insistnet.com

11

murtad ini sangat banyak. Salah satu trik mereka adalah mengungkap sejarah dengan keliru. Kisah Dua Utusan Dalam kitabnya Al Sunan (Kitab Al Jihad, Bab Ar Rusul hadits no, 2380) Abu Daud meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas'ud. Ketika menerima dua utusan Nabi palsu, Musailamah alKazzab, Rasulullah Saw bertanya kepada mereka: "Apa yang kalian katakan (tentang Musailamah)? Mereka menjawab, "Kami menerima pengakuannya (sebagai nabi)". Rasulullah SAW berkata: "Kalau bukan karena utusan tidak boleh dibunuh, sungguh aku akan memenggal leher kalian berdua". Lafadz ini diceritakan juga oleh Ahmad (hadits no. 15420), Al Hakim (2: 155 no. 2632). Ahmad (hadits no. 15420) melaporkan melalui Abdullah bin Mas'ud dengan lafadz "la-qataltu-kumaa", (aku pasti membunuh kalian berdua). Versi hadits ini diceritakan kembali oleh kitab-kitab sejarah seperti Al Thabari (Tarikh Al Thabari, Juz 3 Bab Masir Khalid bin Walid) dan Ibnu Katsir (Al Bidayah wa Al Nihayah, Dar Ihya' Al Turats Al Arabi , tt, Juz 6, hal: 5). Riwayat-riwayat ini menampilkan ketegasan Rasulullah SAW terhadap orang yang mengakui kenabian Musailamah. Tetapi, karena Rasulullah SAW memegang etika diplomatik yang tinggi, maka beliau membiarkan begitu saja kedua utusan Nabi palsu itu. Abu Daud (hadits no. 2381), Al Nasa'i (Al Sunan Al Kubra, 2: 205) dan Al Darimi (Kitab Al Siyar, hadits no. 2391) menceritakan kesaksian Haritsah bin Al Mudharib dan Ibn Mu'ayyiz yang mendapati sekelompok orang dipimpin Ibn Nuwahah di sebuah masjid perkampungan Bani Hanifah, ternyata masih beriman pada Musailamah. Setelah kejadian ini dilaporkan pada Ibn Mas'ud,
http://www.insistnet.com

beliau berkata pada Ibn Nuwahah (tokoh kelompok tersebut), "Aku mendengar Rasulullah Saw dulu bersabda "Kalau engkau bukan utusan, pasti aku akan penggal kamu", nah, sekarang ini engkau bukanlah seorang utusan". Maka Ibn Mas'ud menyuruh Quradhah bin Kaab untuk memenggal leher Ibn Nuwahah. Ibn Mas'ud berkata, "Siapa yang ingin melihat Ibn Nuwahah mati, maka lihatlah ia di pasar". Masjid mereka pun akhirnya dirobohkan. Mengapa Rasulullah SAW tidak memerangi Musailamah? Ibn Khaldun menjelaskan masalah ini, bahwa "Sepulangnya Nabi SAW dari Haji Wada', beliau kemudian jatuh sakit. Tersebarlah berita sakit tersebut, sehingga muncullah Al Aswad Al Anasi di Yaman, Musailamah di Yamamah dan Thulaihah bin Khuwailid dari Bani Asad; mereka semua mengaku nabi. Rasulullah SAW segera memerintahkan untuk memerangi mereka melalui edaran surat dan utusan-utusan kepada para gubernurnya di daerah-daerah dengan bantuan orang-orang yang masih setia dalam keislamannya. Rasulullah SAW menyuruh mereka semua bersungguh-sungguh dalam jihad memerangi para nabi palsu itu sehingga Al Aswad dapat ditangkap sebelum beliau wafat. Adapun sakit keras yang dialami tidak menyurutkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan perintah Allah dalam menjaga agama-Nya. Beliau lalu menyerukan orang-orang Islam di penjuru Arab yang dekat dengan wilayah para pendusta itu, menyuruh mereka untuk melakukan jihad (melawan kelompok murtadpen)". (Abdurrahman Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Dar Al Kutub Al Ilmiyah: Beirut, Libanon, cet. 1, th. 1992, hal 474-475). Tindakan Abu Bakar r.a. Pada masa Abu Bakar r.a. kekisruhan negara sumbernya ada dua. Yang pertama orang-orang yang menolak membayar zakat.
12

Yang kedua adalah para nabi palsu. Dalam Al Bidayah wa Al Nihayah Imam Ibn Katsir menulis judul "Fasal Peperangan Abu Bakar melawan Orang-orang Murtad dan Penolak Zakat" (cet. 1 terbitan Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut, Libanon: 2001, jilid 6 hal 307). Abu Bakar sampai membentuk sebelas ekspedisi militer untuk menumpas gerakan-gerakan tersebut (Al Daulah Al Umawiyah, Muhammad Al Khudhari, Mansyurat Kulliyah Dakwah Islamiyah, Tripoli, Libya: tt. hal 177-178) Semula, Umar bin Khatab r.a. mencoba membujuk Abu Bakar r.a. agar tidak memerangi para penolak zakat. Kata Abu Bakar, "Demi Allah, jika mereka berani menolak menyerahkan seutas tali yang dulunya mereka berikan pada Rasulullah SAW, aku pasti akan memerangi mereka karena penolakan ini" (Dikeluarkan oleh Ahmad 1: 11, 19, 35, 2: 35, 4: 8, Al Bukhari hadits no 1561, Muslim Kitab Al Iman hadits no 82, 83 Juz 1 hal 52.) Pada riwayat lain, disebutkan, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq yang dikenal sangat lembut perangainya, menyatakan: Rasulullah SAW telah wafat dan wahyu sudah tidak turun lagi! Demi Allah aku akan memerangi mereka selama masih memegang pedang ditanganku meski mereka tidak mau menyerahkan seutas tali!" (Tarikh Al Khulafa', Al Suyuthi, Fasal fii maa Waqa'a fii Khilafati Abi Bakar Al Shiddiq ra). Ungkapan Abu Bakar r.a. dan wahyu sudah tidak turun lagi menunjukkan ketegasannya terhadap persoalan nabi palsu. Dari Handzalah bin Ali Al Laitsi ia berkata, "Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Al Walid untuk memerangi orang-orang dengan sebab lima rukun Islam. Siapa saja yang menolak salah satunya hendaknya ia diperangi". (Adz Dzahabi, Tarikh Al Islam,Kitab Sanah Ihda 'Asyr Bab Khabar Al Riddah). Terkait dengan perang melawan kelompok murtad itu, Ibnu Mas'ud berkata, "Setelah Rasulullah SAW wafat, kami hampir saja
http://www.insistnet.com

binasa kalau saja Allah tidak menganugerahi kami kepemimpinan Abu Bakar" (Tarikh Al Dzahabi, Juz 2, Kitab Sanah Ihda 'Asyr, bab Akhbar al Riddah). Juga dikatakan: "Demi Allah, aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk melakukan perang dan baru aku tahu, inilah keputusan yang benar". (Al Bukhari hadits no 1561). Islam memandang masalah agama (ad-Dinul Islam) sebagai hal yang prinsip, karena menyangkut urusan dunia dan akhirat. Agama bukan hanya laksana baju; boleh dipakai dan ditanggalkan kapan saja. Untuk berganti menjadi warga negara saja, orang tidak boleh sembarangan; apalagi menyangkut gonta-ganti agama. Pandangan ini berbeda dengan cara pandang orang sekuler yang melihat agama sebagai urusan pribadi dan hubungan antar manusia semata. Karena itulah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. bersikap tegas terhadap setiap penyelewenangan terhadap agama. Jadi, sangat tidak benar, jika umat Islam apalagi para ulamanya hanya berdiam diri terhadap segala bentuk kesesatan dan kemurtadan. Oleh sebab itu, sesuai dengan fungsinya, tindakan MUI yang menetapkan ajaran sejumlah nabi palsu sebagai ajaran sesat adalah tindakan yang sangat tepat. Tentu saja, tindakan berikutnya adalah menjadi tanggung jawab penguasa (umara). (***) (Dengan sedikit editing, artikel ini pernah dimuat di Harian Republika, 29 Februari 2008).

13

V. MENTERI AGAMA DAN AHMADIYAH


Oleh: Dr. Adian Husaini Saat menjabat sebagai Menteri Agama RI, Maftuh Basyuni pernah memberikan komentar yang secara tegas menyatakan, bahwa Ahmadiyah adalah aliran di luar Islam, dan mempersilakah kaum Ahmadiyah membuat agama baru, di luar Islam. Secara substansial, pernyataan Menag RI tersebut bukanlah hal baru. Majlis Tarjih Muhammadiyah, MUI, dan berbagai lembaga Islam internasional sudah menyatakan hal yang sama. Bahwa, memang Ahmadiyah adalah aliran sesat yang berada di luar Islam. Fatwa MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005, menjadikan keputusan Majma al-Fiqih al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang diputuskan tahun 1985. Isinya menyatakan, bahwa Aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad dan menerima wahyu adalah murtad dan keluar dari Islam karena mengingkari ajaran Islam yang qathiy, dan disepakati oleh seluruh umat Islam bahwa Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir. Fatwa MUI tahun 2005 itu menegaskan kembali fatwa tahun 1980, bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad. MUI juga meminta agar pemerintah segera melarang penyebaran paham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasinya. Jadi, apa yang dikatakan oleh Menag Maftuh Basyuni adalah penegasan dari keputusan berbagai lembaga Islam internasional yang otoritatif di bidangnya. Yang menjadi nilai lebih adalah bahwa
http://www.insistnet.com

Maftuh Basyuni mengeluarkan pernyataan itu sebagai Menteri Agama RI. Maftuh telah melakukan tindakan yang sangat berani mengungkapkan pemikiran dan keyakinannya sebagai Muslim tentang aliran Ahmadiyah. Tentu saja, pernyataan Maftuh itu sangat melegakan kaum Muslim Indonesia. Tapi, bagi sebagian kalangan lain yang berpikiran dan berpandangan hidup sekular-liberal, pernyataan Maftuh Basyuni itu bagaikan petir di siang bolong. Berbagai kecaman, hujatan, dan komentar negatif mengalir terhadap Maftuh Basyuni. Seperti diketahui, sebelum fatwa MUI tahun 2005 itu keluar, berbagai pihak sudah mendesak agar MUI mencabut fatwa sebelumnya, tentang Ahmadiyah. Misalnya, Aliansi Masyarakat Madani yang menyatakan, MUI perlu mencabut semua fatwa yang memandang sesat aliran lain yang berbeda, karena fatwa tersebut seringkali dijadikan landasan untuk melakukan tindakan kekerasan dan keresahan. Menurut mereka, fatwa MUI ini bertentangan dengan prinsip kebebasan berkeyakinan di dalam konstitusi. Selain itu, pemerintah juga didesak untuk mencabut surat-surat keputusan atau surat edaran yang didasarkan pada fatwa MUI tersebut. Pandangan hidup atau pola pikir kaum sekular-liberal dalam soal agama ini sangat berbeda dengan cara orang Muslim dalam melihat agamanya. Islam adalah agama wahyu, sehingga Islam memiliki batasan yang jelas, mana yang Islam dan mana yang di luar Islam. Sejak awal, Islam sudah didefinisikan dengan jelas oleh Nabi Muhammad saw. Imam al-Nawawi dalam Kitab hadits-nya yang terkenal, al-Arbain al-Nawawiyah, menyebutkan definisi Islam pada hadits kedua: Islam adalah bahwasanya engkau
14

bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah, jika engkau berkemampuan melaksanakannya. (HR Muslim). Rukun iman pun sangat jelas: Iman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Kitab-kitab Allah, kepada para Nabi, kepada Hari Akhir, dan kepada taqdir Allah. Semua itu jelas dan gamblang. Bahwa, Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, adalah juga hal yang pokok dan final dalam Islam. Tidak ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw. Inilah masalah pokok dari aliran Ahmadiyah, yakni meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, meskipun ditambahkan, bahwa dia bukan nabi pembawa syariat. Berarti tingkatannya sama dengan Nabi Isa a.s., yang tidak membawa Syariat baru. Padahal, dengan meneliti tulisan-tulisan yang kata mereka merupakan wahyu yang diterima Ghulam Ahmad, terbukti bahwa dia nabi palsu. Masalah ini sudah berpuluh tahun diteliti dan dibuktikan oleh para cendekiawan dan ulama Islam seluruh dunia. Akan tetapi, untuk meyakinkan dan menakut-nakuti orang yang tidak percaya kepadanya, Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu-wahyu yang mengutuk orang-orang yang mengingkarinya. Misalnya, pengakuannya, : Dan dari sejumlah ilham-ilham itu, ada diantaranya yang didalamnya sejumlah ulama yang menentangku dinamakan Yahudi dan Nasrani. (Mirza Ghulam Ahmad, Hamamat al-Bushra, hal. 19). Dan katanya lagi, Maka barangsiapa yang tidak percaya pada wahyu yang diterima Imam yang dijanjikan (Ghulam Ahmad),
http://www.insistnet.com

maka sungguh ia telah sesat, sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian jahiliyah, dan ia mengutamakan keraguan atas keyakinan. (Mirza Ghulam Ahmad, Mawahib al-Rahman, hal. 38). Ghulam Ahmad juga mengaku, dan termasuk diantara tanda-tanda (kebenaran dakwahku) yang nampak dalam zaman ini ialah matinya orang-orang yang menentangku dan menyakitiku serta memusuhiku habis-habisan. Jadi memang ada persamaan antara Ahmadiyah dengan Islam, tetapi juga ada perbedaan yang fundamental. Cendekiawan Muslim Pakistan, Dr. Moh. Iqbal pernah ditanya oleh Jawaharlal Nehru mengapa kaum Muslimin bersikap keras untuk memisahkan Ahmadiyah dari Islam? Iqbal menjawab: Ahmadiyah berkeinginan untuk membentuk dari umat nabi Arabi (Muhammad saw) satu ummat yang baru bagi nabi Hindi. Ketua pemuda Ahmadiyah Abdul Musawir pernah diwawancarai salah satu situs liberal, dan menyatakan, bahwa Ghulam Ahmad sendiri mengakui, dirinya tidak ada artinya apa-apa dibandingkan Rasulullah saw. Padahal, Ghulam Ahmad pernah menyatakan, bahwa: Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Brahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatkan manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, aku Seth, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Yaqub, aku Yusuf, aku Musa, aku Daud, aku Isa, dan aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad saw, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi (Haqiqatul Wahyi, h. 72). (Majalah Sinar Islam (terbitan Ahmadiyah) edisi 1 Nopember 1985). Di era liberalisasi dan kebebasan informasi, Ahmadiyah saat ini menikmati keuntungan, didukung oleh berbagai kalangan yang menginginkan adanya kebebasan beragama apa pun bentuknya.
15

Tidak boleh seorang dilarang untuk mengamalkan atau menyiarkan agama atau kepercayaannya. Apa pun bentuknya. Di dalam agamaagama lain, fenomena semacam itu sudah tidak dapat dibendung lagi. Apa pun bentuknya, apa pun jenis ajarannya, selama dia mengaku Kristen, misalnya, tetap harus diakui sebagai Kristen. Mana Kristen yang benar dan mana Kristen yang salah, masingmasing sekte tidak dapat saling menghakimi dan menentukan. Begitu juga di dalam tradisi Hindu, Budha, dan sebagainya. Inilah salah satu cirri dari evolving religion atau historical religion; yakni agama yang berkembang dan menyejarah. Islam saat ini juga sedang diperlakukan seperti itu. Berbagai kalangan yang mengimani konsep HAM sekular-Barat, sebagai pedoman hidup dan berpikir, juga melihat Islam dalam kacamata mereka. Mereka terheran-heran kepada kaum Muslim yang masih menyatakan, bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan menyesatkan. Kata mereka, tidak boleh lagi ada yang berhak menyatakan kelompok atau aliran lain yang berbeda dengan dirinya sebagai aliran sesat atau salah. Tidak boleh menyatakan murtad, kafir, atau sejenisnya kepada kelompok di luar itu. Inilah asas pemikiran relativisme dan pluralisme agama, yang memang sedang melanda dunia, sebagaimana dikatakan oleh Joseph Runzo, dalam bukunya, Reason, Relativism, and God, (London: Macmillan Press Ltd, 1986):: We live in an age of relativism. Juga dia katakan: relativism has become a dominant element in twentieth century theology. Jadi, abad ini memang sedang dihegemoni oleh pemikiran relativisme, dan sebagai dampaknya, umat Islam juga dipaksa untuk mengikuti paham itu, sehingga tidak boleh melakukan klaim kebenaran (truth claim) atas agama dan keyakinannya. Para penganut relativisme dan konsep HAM sekular-Barat itu menginginkan agar orang Islam jangan ribut-ribut jika ada orang
http://www.insistnet.com

yang menyebarkan paham yang berbeda dengan ajaran pokok dalam Islam. Biarkan saja jika ada orang Islam yang menyebarkan pahamnya, bahwa Lia Aminuddin adalah nabi. Biarkan saja jika ada yang menyebarkan paham bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, dan wajib diimani kenabiannya. Biarkan saja jika ada yang mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa shalat itu tidak wajib. Biarkan saja dan tidak usah ribut-ribut jika ada yang menyebarkan paham bahwa salat dalam bahasa apa pun adalah diperbolehkan. Bagi mereka, tidak ada lagi konsep murtad (keluar dari agama Islam). Di Barat, sesuai konsep kebebasan mereka, maka semua itu diperbolehkan. Tidak boleh dilarang, selama tidak menganggu secara fisik. Tentu saja hal ini sangat jauh berbeda dengan konsep Islam tentang makna kebebasan itu sendiri. Disamping manusia diberi kebebasan tertentu, tetapi mereka juga berkewajiban mengamalkan ajaran Islam dalam hal amar maruf nahi munkar. Islam memberikan kebebasan kepada seseorang untuk memilih iman atau kufur. Silakan saja, dan tanggung sendiri akibatnya. Tetapi, jika seseorang atau satu kelompok menyiarkan pahamnya, bahwa ajaran yang menyimpang adalah ajaran yang benar, maka itu sudah merupakan kemunkaran besar, dan wajib bagi kaum Muslimin untuk mencegahnya. Perspektif keimanan dan tanggung jawab amar maruf nahi munkar ini sama sekali tidak ada dalam konsep kebebasan HAM sekular yang tidak memiliki dimensi keakhiratan. Bagi kaum sekular-liberal, tidak ada bedanya antara yang haq dan yang bathil. Tidak ada bedanya antara iman dan kufur. Tidak ada bedanya antara sunnah dan bidah. Tidak ada bedanya antara Ahmadiyah dengan Ahlu Sunnah wal-Jamaah. Bagi mereka masalah iman bukanlah hal penting.
16

Sebagai seorang Muslim, di era hegemoni paham relativisme kebenaran dan keimanan, Menteri Agama Maftuh Basyuni telah menunjukkan teladan dan keberanian menyatakan pikiran dan keimanannya dalam menyikapi suatu bentuk kebatilan. Seyogyanya, jika konsisten dengan pikirannya, kaum sekular-liberal juga harus menghormati keimanan dan keyakinan Menteri Agama. Wallahu alam. (Bahrain, 17 Februari 2006, diedit dari tulisan Catatan Akhir Pekan ke-135, Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com).

http://www.insistnet.com

17