Anda di halaman 1dari 15

PENGELOLAAN TANAH DAN AIR DI LAHAN PASANG SURUT

Oleh : Rr. Puspiastuti

Program Pasca Sarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Universitas Palangkaraya 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 . Latar Belakang

Penyebaran dan pengembangan daerah rawa ada di beberapa pulau, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan mencapai 33.393.570 hektar yang terdiri dari 20.096.800 hektar (60,2 %) lahan pasang surut dan 13.296.770 hektar (39,8 %) lahan rawa non-pasang surut (lebak).

Lahan rawa baik yang berupa rawa pasang surut dan non-pasang surut (lebak) merupakan salah satu sumberdaya alam yang tersebar di Indonesia terutama pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian. Secara umum hal ini dilakukan melalui penyesuaian teknologi dengan kondisi alam atau setelah dilakukan modifikasi lingkungan (reklamasi). Pemerintah Indonesia sejak tahun 1970-an telah mulai mengembangkan lahan rawa melalui program transmigrasi untuk perluasan areal pertanian dalam menunjang produksi tanaman pangan terutama padi. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan akibat peningkatan jumlah penduduk yang relatif cepat.

Lahan pasang surut berbeda dengan lahan irigasi atau lahan kering yang sudah dikenal masyarakat. Perbedaannya menyangkut kesuburan tanah, sumber air tersedia, dan teknik pengelolaannya. Lahan ini tersedia sangat luas dan dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Hasil yang diperoleh sangat tergantung kepada cara pengelolaannya. Untuk itu, perlu memahami sifat dan kondisi tanah dan air di lahan pasang surut.

1.2 . Pengertian

Lahan pasang surut adalah lahan yang pada musim penghujan (bulan desember-mei) permukaan air pada sawah akan naik sehingga tidak dapat di tanami padi. Pada musim kemarau (bulan juli-september) air permukaan akan surut yang mana pada saat itu tanaman padi sawah baru dapat ditanam (pada lokasi yang berair). (LIPI Kalimantan, 1994)

Berdasarkan pengaruh air pasang surut, khususnya sewaktu pasang besar (spring tides) di musim hujan, bagian daerah aliran sungai di bagian bawah (down stream area ) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) zona. Klasifikasi zona-zona wilayahrawa ini telah diuraikan oleh Widjaja-Adhi et al. (1992), dan agak mendetail olehSubagyo (1997). Ketiga zona wilayah rawa tersebut adalah : Zona I : Wilayah rawa pasang surut air asin/payauZona II : Wilayah rawa pasang surut air tawarZona Ill : Wilayah rawa lebak, atau rawa non-pasang surut.

Dalam keadaan alamiah, tanah-tanah pada lahan rawa pasang surut merupakan tanah yang jenuh air atau tergenang dangkal, sepanjang tahun ataudalam waktu yang lama, beberapa bulan, dalam setahun. Dalam klasifikasiTaksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999), tanah rawa termasuk tanah basah, atau "wetsoils" , yang dicirikan oleh kondisi aquik, yakni saat ini mengalami penjenuhan air dan reduksi secara terus-menerus atau periodik. Prosespembentukan tereduksiberwarna tanah yang dominan disebut adalah proses pembentukan gleisasi, dan horison tanah

kelabu-kebiruan,

pembentukan

lapisangambut di permukaan. Bentuk wilayah, atau topografi lahan rawa pasang surutadalah sangat rata (flat ) sejauh mata memandang, dengan ketinggian tempatrelatif kecil, yaitu sekitar 0-0,5 m dpl di pinggir laut sampai sekitar 5 m dpl diwilayah lebih ke pedalaman.

Pirit adalah zat yang hanya ditemukan di tanah di daerah pasang surut saja. Zat ini dibentuk pada waktu lahan digenangi oleh air laut yang masuk pada musim kemarau. Pirit adalah mineral berkristal oktahedral, termasuk sistem kubus, darisenyawa besi-sulfida (FeS2) yang terbentuk di dalam endapan marin kaya bahanorganik, dalam lingkungan air laut/payau yang mengandung senyawa sulfat (SO4)larut. Dengan menggunakan teknik

SEM (Scanning Electron Microscope )diketahui bahwa partikel-partikel pirit berada dalam bentuk kristal, yang individu-individu kristal tunggalnya sangat halus, terbanyak berukuran <1 mikron (1mikron=0,001 mm), dan sebagian kecil 2-9 mikron. Bentuk kristal tunggal darikubus bervariasi, dan bentuk (kristal) oktahedral adalah yang paling dominan,diikuti bentuk piritohedral, yang semuanya termasuk sistem (kristalografi) kubus,atau isometrik. Pirit mengandung 46,55% Fe (berdasarkan berat), dan 53,45% S(Michaelsen dan Phi, 1998).

Gambut adalah tanah yang terdiri dari sisa-sisa tanaman yang telah busuk. Dalam keadaan basah, gambut itu seperti subur. Gambut yang masih baru mengandung banyak serat-serat dan bekas kayu tanaman. Lahan gambut adalah bagian dari lahan rawa. Widjaya Adhi et al. (1992) dan Subagyo (1997) mendefinisikan lahan rawa sebagai lahan yang menempati posisi peralihan di antara daratan dan sistem perairan. Lahan ini sepanjang tahun atau selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (waterlogged) atau tergenang. Menurut PP No. 27 tahun 1991, lahan rawa adalah lahan yang tergenang air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat dan mempunyai cici-ciri khusus baik fisik, kimiawi, maupun biologis. Keputusan Menteri PU No. 64 /PRT/1993 menerangkan, bahwa lahan rawa dibedakan menjadi (a) rawa pasang surut/rawa pantai dan (b) rawa non-pasang surut/rawa pedalaman. Lahan rawa tersebut terdiri ataslahan rawa tanah mineral,dan lahan rawa gambut.

Berdasarkan sistem taksonomi tanah, tanah gambut disebut Histosols(histos = tissue = jaringan), sedangkan dalam sistem klasifikasi tanah nasional (Dudal dan Soepraptohardjo, 1957) tanah gambut disebut 4 Organosol(tanah yang tersusun dari bahan organik). Hardjowigeno dan Abdullah (1987) mendefinisikan gambut sebagai tanah yang terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai. Bahan organik tidak melapuk sempurna, karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Pembentukan tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan transportasi, berbeda

dengan proses pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik. Gambut tropis, khususnya di Indonesia, mengandung sangat banyak kayu-kayu dengan tingkat pertumbuhan gambut per tahun relatif tinggi. Salah satu ciri gambut tropis dalam cekungan di Indonesia adalah bentuk kubah (dome) yang menipis di pinggiran (edge) dan menebal di pusat cekungan. Ketebalan gambut dapat mencapai >15 m (Wahyunto et al., 2004)

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGELOLAAN TANAH Kandungan Tanah pada lahan pasang surut berupa senyawa pirit. Zat yang hanya ditemukan di tanah di daerah pasang surut saja. Pada saat kondisi lahan basah atau tergenang, pirit tidak berbahaya bagi tanaman. Akan tetapi, bila terkena udara (teroksidasi), pirit berubah bentuk menjadi zat besi dan zat asam belerang yang dapat meracuni tanaman. Pirit dapat terkena udara apabila tanah pirit diangkat ke permukaan tanah (misalnya pada waktu mengolah tanah, membuat saluran, atau membuat surjan) atau pada saat permukaan air tanah turun (misalnya pada musim kemarau). Ciri tanah yang telah teracuni pirit antara lain : a) Tampak gejala keracunan besi pada tanaman b) Ada lapisan seperti minyak di permukaan air c) Ada lapisan merah di pinggiran saluran. d) Tanaman mudah terserang penyakit e) Hasil panen rendah f) Tanah berbau busuk (seperti telur yang busuk), maka zat asam belerangnya banyak. Air di tanah tersebut harus dibuang dengan membuat saluran cacing dan diganti dengan air baru dari air hujan atau saluran. g) Bongkah tanah berbecak kuning jerami ditanggul saluran atau jalan, menunjukkan adanya pirit yang berubah warna menjadi kuning setelah terkena udara.

Pirit di dalam tanah dapat ditandai dengan : Adanya rumput purun atau rumput bulu babi, menunjukkan ada pirit di dalam tanah yang telah mengalami kekeringan dan menimbulkan zat besi dan asam belerang. Bongkah tanah berbecak kuning jerami ditanggul saluran atau jalan, menunjukkan adanya pirit yang berubah warna menjadi kuning setelah terkena udara. Adanya sisa-sisa kulit atau ranting kayu yang hitam seperti arang dalam tanah. Biasanya di sekitamya ada becak kuning jerami.

Tanah berbau busuk (seperti telur yang busuk), maka zat asam belerangnya banyak. Air di tanah tersebut harus dibuang dengan membuat saluran cacing dan diganti dengan air baru dari air hujan atau saluran.

Pengelolaan lahan gambut perlu didasarkan pada karakteristik ekosistem tropika. Pada dasarnya gambut di Indonesia mempunyai bentuk kubah. Bentuk ini menjamin adanya sirkulasi air dari puncak dome menuju ke bagian kaki-kaki kubah. Sirkulasi air inilah yang menyebabkan ekosistem gambut dapat produktif. Sifat gambut yang porous menyebabkan gambut dapat menyimpan air dalam jumlah yang cukup besar (sampai 500 persen dari bobot keringnya). Dengan senantiasa menjaga puncak kubah maka peredaran air dalam ekosistem lahan gambut dapat terjaga dan eksistensi ekosistem gambut dapat dipertahankan. Adanya cadangan air di puncak dome sangat diperlukan untuk menjaga kualitas air agar tetap dapat memungkinkan biota tetap hidup dan berproduksi. Air gambut biasanya mempunyai pH sekitar 4 -4,5 dan masih memungkinkan biota untuk mempertahankan hidupnya. Selain itu, air yang mengalir, meskipun sangat perlahan, memungkinkan kualitas air tetap terjaga.

Tanah gambut kurang subur, sehingga hasil tanaman rendah. Di samping tanahnya asam, air tanahnya juga asam. Jika pirit dalam lapisan tanah mineral di bawah gambut terkena udara, maka air dapat menjadi lebih asam lagi. Air bisa mengalir dengan mudah di dalam gambut, bahkan bisa bocor ke luar melalui tanggul sehingga petakan sawah cepat menjadi kering bila tidak diairi secara teratur. Sulit membuat lapisan olah untuk menahan air di dalam petak sawah. Gambut yang selalu basah biasanya masih "mentah" sehingga zat-zat yang dibutuhkan tanaman tidak tersedia. Untuk itu gambut ini perlu dimatangkan agar lebih bermanfaat untuk tanaman. Cara mematangkan gambut dengan mengeringkannya sekalikali, namun jangan dibiarkan menjadi terlalu kering atau melewati batas kering tak-balik. Jika terlalu kering, sifat gambut berubah menjadi "mati," seperti pasir semu, arang atau beras yang tidak dapat menyerap air. Akibatnya lahan tersebut tidak dapat ditanami karena tidak dapat menyediakan air untuk keperluan tanaman. Gambut yang mati mudah terbawa oleh air hujan, sehingga ketebalannya makin lama makin berkurang. Dapat pula mengakibatkan erosi walaupun lahannya datar. Gambut kering tampak mengkerut dan menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih rendah. Akhirnya, lapisan tanah di bawah gambut dapat tersingkap.

Mungkin lapisan pirit dalam tanah itu terkena udara, sehingga terbentuk racun yang berbahaya bagi tanaman. Apabila lapisan tanah di bawah gambut merupakan tanah liat, mungkin cukup subur. Tetapi bila di bawah gambut ada pasir, tanah tersebut kurang subur. Permukaan lahan yang terlalu rendah akan menghambat drainasenya dan lahan menjadi tergenang terlalu dalam oleh air pasang. Tanah gambut dapat terbakar. Jika membakar dipermukaan, kemungkinan di bawah permukaan pun api masih membara. Sehingga akan membakar tempat lain yang jauh dari tempat pembakaran awal. Pembakaran gambut dapat menghilangkan lapisan gambut. Jika mendekati lapisan tanah di bawahnya yang mungkin kurang subur berupa pasir atau tanah berpirit, lahan tersebut menjadi mati suri. Untuk itu, diusahakan gambut jangan sampai terbakar ataupun dibakar. Sifat gambut dapat diperbaiki dengan beberapa cara misalnya yaitu dengan menambah abu (misalnya dari sekam, kayu gergaji atau gunung api) dengan takaran 3-5 ton per hektar dalam larikan, menambah tanah lempung dengan takaran 3-5 ton per hektar atau dengan mencampur lapisan gambut dengan lapisan tanah mineral yang ada di bawahnya, walaupun mengandung pirit. Hal ini dapat dilaksanakan jika gambutnya cukup dangkal dengan memanfaatkan tanah mineral yang terangkat ke permukaan tanah ketika membuat parit. Pengelolaan Tanah pada tanah aluvial yang mengandung pirit dalam dan dangkal maupun aluvial bersulfat sebaiknya dijadikan lahan sawah, karena lebih murah dan aman untuk pertanaman. Namun, sering dengan adanya saluran primer, sekunder, dan tersier, lahan ini menjadi lahan yang bertipe luapan pasang C atau D, sehingga seringkali tanahnya pecahpecah membentuk bongkahan. Oleh karena itu, diperlukan: a) Pengolahan tanah Cara pengolahan tanah dapat dilakukan dengan beberapa tahap kegiatan, yaitu: gulma di semprot dengan herbisida membajak lahan dengan menggunakan bajak singkal menggenangi lahan selama 1-2 minggu, kemudian airnya dibuang. Hal ini dilakukan sampai 2-3 kali. melumpurkan tanah yang telah selesai dibajak dan diratakan, selanjutnya siap untuk tanam.

b)

Pemberian amelioran dan pupuk Amelioran yang diberikan berupa kapur/dolomit serta pupuk P dan K. Kapur dan pupuk diberikan pada kondisi lahan macak-macak.

c) Pemupukan Pemupukan diperlukan karena secara inheren tanah gambut sangat miskin mineral dan hara yang diperlukan tanaman. Jenis pupuk yang diperlukan adalah pupuk lengkap terutama yang mengandung N, P, K, Ca, Mg dan unsur mikro Cu, Zn dan B. Pemupukan harus dilakukan secara bertahap dan dengantakaran rendah karena daya pegang (sorption power) hara tanah gambut rendah sehingga pupuk mudah tercuci. Penggunaan pupuk lepas lambat (slow release) seperti fosfat alam dan Pugam lebih baik dibandingkan dengan SP-36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). Pugam dengan kandungan hara utama P, juga tergolong pupuk lepas lambat yang mampu meningkatkan serapan hara, mengurangi pencucian hara P, dan meningkatkan pertumbuhan tanaman sangat signifikan dibandingkan SP-36.

Tanah gambut juga diketahui kahat unsur mikro karena dikhelat (diikat) oleh bahan organik (Rachim, 1995). Oleh karenanya diperlukan pemupukan unsur mikro seperti terusi, dan seng sulfat masing-masing 15 kgha-1tahun-1, mangan sulfat 7 kgha-1, sodium molibdat dan borax masing-masing 0,5 kgha- 1tahun-1. Kekurangan unsur mikro dapat menyebabkan bunga jantan steril sehingga terjadi kehampaan pada tanaman padi, tongkol kosong pada jagung atau polong hampa pada kacang tanah. Pugam sebagai amelioran dan pupuk, juga mengandung unsur mikro yang diperlukan tanaman, sehingga pemupukan unsur mikro tambahan tidak diperlukan lagi.

B. PENGELOLAAN AIR Pengelolaan air pada lahan pasang surut diarahkan agar air pasang dapat dimanfaatkan untuk pengairan, mencegah akumulasi garam yang dapat mengganggu pertanaman, mencuci zatzat beracun, megatur tinggi genangan untuk persawahan, mempertahankan permukaan air tanah tetap di atas lapisan pirit, menghindari kematian gambut serta dapat mencegah penurunan permukaan tanah yang terlalu cepat di lahan gambut .

Lahan pasang surut dibagi menjadi beberapa golongan menurut tipe luapan air pasang, yaitu: A: Lahan terluapi oleh pasang besar (pada waktu bulan purnama maupun bulan mati), maupun oleh pasang kecil (pada waktu bulan separuh). B: Lahan terluapi oleh pasang besar saja. C: Lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya cukup dangkal, yaitu kurang dari 50 cm. D: Lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya dalam, lebih dari 50 cm.

Dalam pengelolaan lahan perlu diketahui juga ketinggian muka air tanahnya. Cara mengetahuinya dapat dilakukan sebagai berikut: Ketinggian muka air tanah dapat dilihat di sumur terdekat. Bila tidak ada sumur, maka digali lubang dalam tanah. Kemudian tunggu antara 3-5 jam (kalau tanah gambut, tidak perlu menunggu lama) Kedalaman air dalam lubang kemudian diukur dari permukaan tanah.

Saluran yang berlumpur biasanya pH air cukup tinggi dan dapat digunakan untuk irigasi, walaupun jalannya air kurang lancar. Air yang berada di saluran terlalu lama (lebih dari 3 minggu), akan mengandung banyak asam dan zat besi. Terlihat airnya berwarna merah bata agak kekuningan, sebaiknya jangan digunakan untuk mengairi sawah.

Air di petak-petak sawah yang terlalu asam harus dibuang melalui saluran cacing, kuarter, dan saluran tersier. Pintu air dan stoplog harus diatur sehingga airnya dapat dibuang. Air dalam saluran yang terlalu asam tidak boleh digunakan untuk mengairi tanaman. Namun,

jika terpaksa digunakan untuk menanggulangi kekeringan, maka harus ditabur kapur sebanyak 1 ton per hektar.

Pengelolaan air dibedakan dalam: a) Pengelolaan air makro, penguasaan air di tingkat kawasan reklamasi. Pengelolaan air makro ini bertujuan untuk membuat lebih berfungsi: Jaringan drainase - irigasi: navigasi, primer, sekunder. Kawasan retarder, kawasan sempadan, dan saluran intersepsi. Kawasan tampung hujan. b) Pengelolaan air mikro, pengaturan tata air di tingkat petani. c) Pengelolaan air ditingkat tersier, dikaitkan dengan pengelolaan air makro dan pengelolaan air mikro. Cara pengelolaannya sangat tergantung kepada tipe luapan airnya: Sistem aliran satu arah untuk tipe luapan A. Sistem aliran satu arah plus tabat untuk tipe luapan B. Sistem tabat untuk tipe luapan C. Sistem tabat plus irigasi tambahan dari kawasan tampung hujan yang berada di ujung tersiernya untuk tipe luapan D.

Sistem irigasi dan drainase yang dapat digunakan dalam lahan pasang surut diantaranya adalah : 1) Sistem Aliran Satu Arah Pelaksanaan sistem ini tergantung kepada kesepakatan pengaturan pintu-pintu air. Jika salah satu saluran tersier berfungsi sebagai saluran pemasukan (irigasi), maka saluran tersier disebelahnya dijadikan saluran pengeluaran (drainase). Saluran pemasukan

diberi pintu air yang membuka ke dalam, sehingga pada waktu pasang air dapat masuk dan air tidak dapat ke luar jika air surut. Saluran pengeluaran diberi pintu air yang membuka ke luar, sehingga pada waktu air surut air dapat keluar dan air tidak dapat masuk jika air sedang pasang. Saluran kuarter yang merupakan batas pemilikan perlu ditata mengikuti aliran satu arah. Pada lahan yang bertipe luapan B, pintu flap gate dilengkapi stop log yang difungsikan pada waktu air pasang kecil.

2) Sistem tabat Lahan yang bertipe luapan C dan D yang tidak terluapi air pasang dan air hujan juga tidak dapat menggenang. Untuk itu perlu diatur dengan sistern tabat dengan cara sebagai berikut: memasang tabat di muara saluran tersier atau di perbatasan sawah dan desa untuk meningkatkan air tanah. membuat pematang yang tangguh dan tidak bocor. menutup pengeluaran ke saluran drainase pengumpul atau saluran kuarter. Lahan bertipe luapan pasang C dan kegiatan penggantian air dilakukan dengan urutan sebagai berikut: Air di saluran tersier dibuang ketika air surut dan ditabat ketika air pasang besar. Air di saluran kuarter dibuang ke saluran tersier. Pada waktu air pasang berikutnya air di saluran tersier dibuang dan ketika air pasang berikutnya air ditahan di aluran tersier dengan memasang tabat. Air di petakan sawah dibuang dan dialirkan ke saluran tersier untuk mempertahankan air tanah tetap tinggi. Air hujan akan memperbarui genangan air di petakan sawah.

3) Sistem irigasi dari bawah ke atas (lowe to upper flow irrigation system) Sistem ini dilakukan dengan konstruksi bendung, canal dari soil (cement), sistem irirgasi bawah ke atasa dapat mengurangi pengaruh sedimen pada kanal dan sawah, karena sistem ini dapat menghilangkan stagnasi tinggi pasang surut yang akhirnya menghilangkan sedimentasi (Morgan, 1986). Dari keadaan air sungai yang permukaannya di bawah rata-rata permukaan tanah di tepi sungai maka untuk mendapatkan air dari sungai tani diberika alternatif pompanisasi, sistem pompanisasi ini membutuhkan pompa lebih dari satu untuk dipasang secara paralel.

4) Pengelolaan air di tingkat petani Pengelolaan air mikro atau ditingkat petani meliputi: Pengelolaan air di saluran kuarter Pengelolaan air di petakan sawah petani Sistem pengelolaan airnya dilakukan dengan system aliran satu arah. Salah satu saluran tersier dijadikan aluran pemasukan irigasi dan saluran kuarter dijadikan saluran pembuangan menuju saluran tersier drainase. Diperlukan juga saluran dangkal di sekeliling petakan sawah. Saluran ini berfungsi sebagai saluran penyalur di dekat saluran kuarter irigasi dan sebagai saluran pengumpul yang didekat saluran kuarter drainase. Di dalam petakan sawah dibuatkan pula saluran dangkal intensif yang berfungsi untuk mencuci zat asam dan zat beracun dari lahan. Jarak antar-saluran bervariasi tergantung kepada kendala lahan yang dapat diatur sebagai berikut: Lahan dengan kandungan pirit dalam dibuat saluran dengan jarak 9 m atau 12 m Lahan dengan kandungan pirit dangkal dibuat saluran dengan jarak 6 m atau 9 m Pada lahan sulfat masam dibuat saluran dengan jarak 3 m atau 6 m Pada lahan tidur dibuat saluran berjarak 3 m.

BAB III PENUTUP Selama bertahun-tahun, melalui proses trials and erors , para petani lahan rawa, baik penduduk setempat maupun petani transmigran, telah cukup banyak memiliki pengetahuan bagaimana cara mengelola lahan rawa untuk dijadikan areal persawahan yang produktif. Hasil penelitian dan pengalaman memperlihatkan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sesuai dengan karakteristiknya, melalui penerapan Iptek yang benar, maka lahan rawa yang termasuk lahan marjinal dengan tingkat kesuburan alami yang rendah, dapat dijadikan areal pertanian produktif. Lahan rawa yang merupakan lahan basah, atau wetland , adalah salah satu aset sumberdaya tanah nasional yang semakin penting peranannya di masa mendatang.

Pengembangan lahan rawa untuk pertanian, selain memiliki potensi dan prospek yang besar, juga menghadapi berbagai masalah/kendala, baikbiofisik, sosial ekonomi, maupun kelembagaan. Oleh karena itu, untuk pelestarian sumberdaya dan keberlanjutan pemanfaatannya, pengembangan pertanian dilahan rawa pada suatu kawasan luas, perlu direncanakan dan ditangani secaracermat dan hati-hati, dengan memilih teknologi dan pola penerapannya yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya (Alihamsyah, 2001). Kekeliruan dalam reklamasi dan pengelolaan lahan, sering menghasilkan lahan-lahan tidur yang sulit/tidak dapat ditanami tanaman pertanian, dan membutuhkan biaya besar untuk rehabilitasinya, serta sangat sukar untuk memulihkan kembali seperti kondisi semula. Dengan adanya pengelolaan lahan dan air di daerah pasang surut ini diharapkan pemanfaatan sumber daya lahan dapat dilakukan secara optimal dan dapat mendapatkan hasil yang maksimal dengan mempertahankan kelestarian sumber daya lahan.

Beberapa cara pengelolaan lahan dan air diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan pasang surut. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan kelembagaan memadai, baik lembaga yang berasal dari petani maupun pemerintah . yang

DAFTAR PUSTAKA

Mulyanto Budi dan Sumawinata Basuki, Pengelolaan Lahan Gambut Secara Ekologis untuk Kesejahteraan Masyarakat, Bogor, 2002.

Subiksa IG M, Hartatik Wiwik dan Agus F., Pengelolaan Lahan Gambut Secara Berkelanjutan, Bogor, 2010.

Subiksa IG M, Wahyunto., Genesis Lahan Gambut di Indonesia, Bogor.

H. Subagyo, Lahan Rawa Pasang Surut, Departemen Pertanian, Jakarta, 2006.

Sistem Pengairan Lahan Pasang Surut (Tidal Irrigation).