Anda di halaman 1dari 3

Desentralisasi Kesehatan dalam Positif dan Negatif Dengan bergantinya sistem pemerintahan dari Era Orde Baru menjadi

Era Reformasi, maka diubahlah bentuk pengaturan pemerintah yang dulunya segala perencanaan dan kebijakan dirancang dan diatur oleh pemerintah pusat (sentralisasi) kini menjadi kewenangan dan tanggungjawab sepenuhnya pemerintah daerah. Perpindahan kewenangan ini dinamakan desentralisasi. Desentralisasi secara umum dapat diartikan sebagai transfer kewenangan atau kekuasaan dalam perencanaan, manajemen dan pengambilan keputusan publik dari tingkat nasional ke tingkat subnasional, atau dari level pemerintahan atas ke level di bawahnya (Ferdiana dan Gerudug, 2009). Segala sektor pemerintahan saat ini sedang bertransformasi menuju system desentralisasi, tak terkecuali sektor kesehatan. Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah pada dasarnya merupakan sarana bagi pemerintah daerah untuk mengurangi jarak dengan masyarakat yang dipimpinnya. Masyarakat dapat lebih berpartisipasi dalam kemajuan pembangunanan daerahnya sendiri serta dapat mengetahui hingga sejauh mana pemerintahnya mampu mempertanggungjawabkan kinerja pemerintahannya. Sehingga desentralisasi secara tidak langsung akan mengurangi tanggung jawab pemerintah pusat terhadap jalannya pembangunan. Pelayanan pemerintah kepada masyarakat dapat menjadi lebih baik jika dalam pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah pemerintah dapat melakukannya dengan terbuka, akuntabel, dan member ruang kepada masyarakat untuk turut berpartisipasi. Dalam bidang kesehatan, Indonesia telah melaksanakan desentralisasi sejak tahun 2001. Namun hingga saat ini pelaksanaan kebijakan desentralisasi belum mempunyai arah serta tujuan yang jelas. Bersyukur dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) pada awal bulan Agustus 2007 yaitu PP 38/2007 dan PP 41/2007, maka Dinas Kesehatan semakin berkembang menjadi lembaga kesehatan yang mempunyai banyak fungsi yakni (1) sebagai pelaksana kegiatan, (2) semakin menjadi lembaga yang menyusun kebijakan dan peraturan di daerah berdasar standar nasional, memastikan aturan dijalankan, dan (3) membiayai pelayanan kesehatan. Dalam desentralisasi, pemerintah daerah menerima pendapatan dari berbagai sumber yaitu (1) Dana perimbangan yang terbagi menjadi Dana Alokasi Umum (DAU) yang memberikan pendapatan dalam jumlah besar untuk sebagian besar pemerintah daerah serta Dana Alokasi Khusus (DAK), (2) Penerimaan bukan pajak dari sumber daya alam, (3) Penerimaan pajak dari pajak kekayaan dan pajak penghasilan yang dibagi dengan pemerintah pusat, dan (4) Pendapatan Asli Daerah (PAD) (Ferdiana dan Gerudug, 2009). Desentralisasi menuntut pemerintah daerah untuk benar-benar merencanakan dan mengalokasikan anggaran dan yang ada secara tepat dan efisien. Dengan adanya desentralisasi, pemerintah pusat diwajibkan untuk mengalihkan sedikitnya 25 persen pendapatan dalam negeri untuk diberikan kepada pemerintah daerah, dimana 90 persennya dialokasikan bagi pemerintah kabupaten dan kota sementara 10 persen sisanya diberikan kepada pemerintah propinsi. Pejabat Propinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Kesehatan NTB member dukungan atas pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah pelayanan kesehatan di kabupaten dan kota.

Desentralisasi merupakan suatu proses yang tidak mungkin dalam waktu sekejap akan berhasil dan berjalan dengan lancar. Permasalahan serta tantangan yang berat senantiasa mengiringi pelaksanaan desentralisasi. Dalam bidang kesehatan, kendala yang menghambat pelaksanaan desentralisasi adalah terbatas dan tidak meratanya sarana kesehatan dan obat-obatan serta minimnya tenaga paramedis. Lambatnya penetapan peraturan pelaksana desentralisasi di bidang kesehatan dan pengaturan desentralisasi di bidang kesehatan menyebabkan banyak pemerintah daerah yang masih belum siap dalam melaksanakan desentralisasi di daerahnya. Kewenangan serta tanggungjawab yang begitu besar menjadikan pemerintah darah kebingungan dalam melaksanakan pelayanan publik di masyarakat. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah ketika terjadi kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan busung lapar di Nusa Tenggara Barat beberapa tahun yang lalu. Kita masih ingat beberapa tahun yang lalu bagaimana NTB menjadi sorotan nasional dan bahkan internasional karena kasus gizi buruknya. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya peran posyandu akibat dari desentralisasi di bidang kesehatan. Posyandu tersebar luas di seluruh desa dan kelurahan di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Namun saat ini fungsi posyandu belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Dinas Kesehatan Propinsi telah mengalokasikan anggaran dana yang selanjutnya oleh pemerintah di kabupaten maupun kota kan digunakan untuk pelayanan kesehatan baik dalam bentuk operasional, penyediaan sarana pelayanan kesehatan, poskesdes serta bagi keluarga miskin. Namun beberapa tahun belakangan ini peran posyandu cenderung menurun karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap posyandu. Padahal posyandu merupakan ujung tombak dari pemerintah dalam mendeteksi bagaimana status kesehatan di masyarakat khususnya balita. Meningkatnya angka kejadian gizi buruk di NTB merupakan bukti menurunnya peran posyandu. Pemerintah kurang menyediakan dana yang memadai serta pembinaan yang konsisten. Jika dalam 6 bulan pertama tiap-tiap posyandu diberikan dana masing-masing Rp 50.000,- per bulan, maka sekarang pemerintah hanya memberikan dana Rp 15.000,- per bulan untuk setiap posyandu. Mungkin hal ini bisa terjadi karena penerapan desentralisasi di bidang kesehatan yang seharusnya benar-benar untuk perbaikan sector kesehatan mengalami penyelewengan. Dana kesehatan yang diberikan pemerintah pusat melalui DAU ke daerah-daerah dalam penerapannya banyak yang tidak direalisasikan seutuhnya dan justru beralih untuk sektor lain dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Maka dengan demikian sektor kesehatan harus mampu bersaing dengan sector-sektor pemerintahan yang lain dalam pengajuan anggaran dana. Dalam hal sistem informasi, desentralisasi juga mengakibatkan sistem informasi yang ada antara Dinas Kesehatan dengan pelayanan kesehatan yang berada di kabupaten dan kota menjadi sedikit terhalang. Memang diakui jika sebelum desentralisasi sistem informasi yang ada di tiap kabupaten dan kota kurang baik, namun setelah diterapkannya desentralisasi maka sistem informasi menjadi lebih buruk. Sebelum desentralisasi, seluruh informasi yang ada di kabupaten maupun kota dikirim ke pusat untuk dianalisa dan dipublikasikan, namun setelah desentralisasi terjadi kekosongan data dan informasi di pusat. Contohnya adalah pada saat terjadinya kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah. Pemerintah daerah mempunyai pandangan yang berbeda dalam mengelola data serta informasinya. Ada beberapa daerah yang pemerintahnya menganggap bahwa pencatatan dan pelaporan data serta informasi tidak perlu. Namun ada beberapa pemerintah daerah yang menganggap bahwa pencatatan dan pelaporan data program-

program kesehatan, statistik pelayanan, sosial dan demografi, dan hasil pengawasannya kepada pemerintah pusat. Selain kelemahan dan kekurangan, desentralisasi juga menawarkan dampak positif bagi pembangunan. Desentralisasi akan lebih mampu merespon perubahan kebutuhan lokal, lebih fleksibel, inovatif, lebih berkomitmen, dan produktivitas lebih tinggi. Keuntungan utama desentralisasi pelayanan kesehatan adalah keterlibatan masyarakat lebih besar dan efektif, meningkatkan kerja sama lintas sektoral dan penanganan masalah administrasi lebih tepat (Ferdiana dan Gerudug, 2009). Pada dasarnya setiap kebijakan pemerintah bertujuan untuk mencapai kesejahteraan umum sesuai dengan yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan adanya desentralisasi, maka diharapkan agar masyarakat semakin puas terhadap kinerja pemerintahnya. Dalam bidang kesehatan, diharapkan agar tenaga kesehatan atau penyedia layanan kesehatan maupun yang membutuhkan pelayanan kesehatan sama-sama memperoleh kepuasan sehingga tenaga kesehatan semakin terpacu untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya dalam memberikan pelayanan dan yang membutuhkan pelayanan puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan. Wahida Larastianing H1A005047 Wahida.larastianing@gmail.com Sumber : 1. Ferdiana, Astri dan I K Gerudug. Manajemen Kesehatan. Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Mataram.2009