Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN TUTORIAL Skenario A Blok 1

Kelompok 6 Tutor : dr. Safyudin, M.Biomed Indah Fitri N (04111401056) Nyimas Irina Silvani (04111401057) Al Hafizh (04111401058) Dwi Juwanita Putri (04111401059) Dhilah Juas Ainun (04111401060) Julianda Dini Halim (04111401061) Deswan Capri (04111401062) Tria Yunita (04111401063) Ni Made Restianing (04111401064) Niken Kasati (04111401065) Nikadek Siska Dwi (04111401066) Sivananthini J Sivakumar (04111401091) Nur Eqbariah Baharuden (04111401099)

PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya laporan tutorial Skenario A Blok 1 ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Kami menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, untuk itu sumbangan pemikiran dan masukan dari semua pihak sangat kami harapkan agar di lain kesempatan laporan tutorial ini akan menjadi lebih baik. Terima kasih kami ucapkan kepada dr. Safyudin, M.Biomed selaku tutor kelompok 6 yang telah membimbing kami semua dalam pelaksanaan tutorial kali ini. Selain itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu tersusunnya laporan tutorial ini. Semoga laporan tutorial ini bermanfaat bagi semua pihak.

Palembang, 27 September 2011

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
2

Kata Pengantar 2 Daftar Isi . 3 BAB I : Pendahuluan


1.1 1.2

Latar Belakang . 4 Maksud dan Tujuan . 4 Data Tutorial...... 5 Skenario Kasus 5 Paparan (Seven Jump) I. II. III. IV.
V. VI. VII.

BAB II

: Pembahasan 2.1 2.2 2.3

Klarifikasi Istilah. ............. 6 Identifikasi Masalah........... 6 Analisis Masalah ..................................7 Hipotesis............. .. 11 Kerangka Konsep..................12 Topik Pembelajaran dan Keterbatasan Ilmu ..... 13 Sintesis ..........................................................................13

BAB III : Penutup 3.1 Kesimpulan ................................................................................... 35 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 36

BAB I PENDAHULUAN
3

1.1 Latar Belakang Blok Keterampilan Belajar, Komunikasi, dan Dasar Ilmiah adalah blok pertama pada semester 1 dari Kurikulum Bebasis Kompetensi (KBK) Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi tutorial yang sebenarnya pada waktu yang akan datang. Penulis memaparkan kasus yang diberikan mengenai Dono yang dinyatakan tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia dan selanjutnya akan dijelaskan pada laporan ini. 1.2 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari materi praktikum tutorial ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajar

an KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.


2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan

pembelajaran diskusi kelompok.


3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial dan memahami konsep dari

skenario ini.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Data Tutorial


4

Tutorial Skenario A Blok 1 Tutor Moderator Sekretaris Notulen Waktu Peraturan tutorial : dr. Safyudin, M.Biomed : Nikadek Siska Dwi : Niken Kasati : Nur Eqbariah Baharuden : Selasa, 27 September 2011 Kamis, 29 September 2011 :
1. 2.

Alat komunikasi dinonaktifkan atau di-silent. Semua anggota tutorial harus aktif mengeluarkan dengan mengacungkan tangan terlebih anggota

pendapat
3.

dahulu dan setelah dipersilahkan oleh moderator. Tidak diperkenankan kepada tutorial untuk meninggalkan ruangan selama proses tutorial berlangsung kecuali apabila ingin ke kamar kecil. 2.2 Skenario Kasus Setelah dinyatakan tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia, Dono mengajukan keberatan kepada ketua blok. Dono sudah belajar maksimal untuk menjawab ujian blok. Dono merasa panitia ujian telah melakukan kesalahan dalam mengoreksi data ujiannya. Dengan bijak dan sabar disertai bukti yang akurat, ketua blok menerangkan bahwa Dono jatuh di ujian MCQ yang mengukur hasil pembelajaran tutorial. Dono pun mengakui kekurangannya. Ia merasa kurang nyaman dengan sistem belajar melalui diskusi kelompok. Ia lebih senang belajar seorang diri di kamar sambil membaca semua materi. Akibatnya ia tidak dapat mengikuti berbagai topik pembelajaran yang dipaparkan temannya dalam tutorial. Dono juga merasa bahwa ilmu kedokteran dasar tidak aplikatif dan tidak menarik, sehingga ia tidak termotivasi untuk mempelajarinya lebih dalam. Dengan singkat ketua blok menyarankan agar Dono mencari relevansi ilmu dengan tuntutan kompetensi yang harus dicapai. Dono harus mampu menemukan sendiri bagaimana caranya. 2.3 Paparan (Seven Jumps) I. Klarifikasi Istilah
1. Relevansi : Hubungan;kaitan; setiap mata pelajaran harus ada kaitannya dengan

keseluruhan tujuan adanya pendidikan.


5

2. Blok : Persatuan dari beberapa bagian atau bab. 3. Motivasi : Proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu

untuk mencapai tujuannya.


4. Tutorial : Bimbingan belajar yang bersifat akademik adalah tutor kepada mahasiswa

untuk membantu kelancaran belajar mandiri mahasiswa secara perorang atau kelompok berkaitan dengan materi yang diajarkan.
5. Aplikatif : Berkenaan dengan penerapan. 6. Akurat : Teliti, cermat, seksama 7. Struktur : Susunan yang sistematis 8. Ilmu : Suatu pengetahuan baik material maunpun non material. 9. Sistem : Sekelompok bagian-bagian alat yang bekerja sama untuk melaksanakan

tujuan / maksud.
10. Kompetensi : Wewenang atau kekuasaan untuk menentukan suatu hal. 11. Materi : Sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dan dibicarakan 12. MCQ (Multiple Choice Question) : Pertanyaan yang memberikan beberapa

kemungkinan jawaban yang mana Anda harus memilih yang benar. II. Identifikasi Masalah NO KENYATAAN KESESUAIAN 1 Dono dinyatakan tidak lulus blok TIDAK SESUAI Struktur Dasar Tubuh Manusia 2 3 Dono mengajukan keberatan TIDAK SESUAI V VV KONSEN VVVVV

terhadap ketua blok Dono sudah belajar maksimal TIDAK SESUAI untuk menjawab ujian blok, namun nilai Dono jatuh diujian

MCQ Dono merasa kurang nyaman TIDAK SESUAI dengan sistem belajar diskusi sehingga mengikuti pembelajaran Dono yang tidak dapat topik berbagai

VVV

dipaparkan ilmu TIDAK SESUAI


6

temannya dalam tutorial Dono merasa bahwa

VVVV

kedokteran dasar tidak aplikatif dan tidak menarik sehingga dia tidak termotivasi untuk mempelajarinya lebih dalam Identifikasi masalah berdasarkan skala prioritas: 1. Dono dinyatakan tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia.
2. Dono merasa bahwa ilmu kedokteran dasar tidak aplikatif dan tidak menarik

sehingga dia tidak termotivasi untuk mempelajarinya lebih dalam.


3. Dono merasa kurang nyaman dengan sistem belajar diskusi sehingga Dono tidak

dapat mengikuti berbagai topik pembelajaran yang dipaparkan temannya dalam tutorial.
4. Dono sudah belajar maksimal untuk menjawab ujian blok, namun nilai Dono jatuh

diujian MCQ. 5. Dono mengajukan keberatan terhadap ketua blok III. Analisis Masalah
1. Dono dinyatakan tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia. a. Apa penyebab Dono tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia? 1. Nilai ujian MCQ Dono tidak memenuhi standar kompetensi kelulusan

karena ia merasa kurang nyaman dengan sistem belajar melalui diskusi kelompok. 2. Tidak dapat mengikuti topik pembelajaran yang dipaparkan dalam tutorial. 3. Kurangnya motivasi belajar akibat merasa bahwa ilmu kedokteran dasar tidak aplikatif dan tidak menarik. 4. Belum menemukan gaya belajar yang baik sebagai mahasiswa kedokteran.
5. Belum mampu memahami dan belum mampu menjalankan strategi

pembelajaran yang sesuai. 6. Kurang berkomunikasi dan bersosialisai sehingga informasi yang didapatkan terbatas.
7. Belum bisa menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran di kedokteran. b. Apa dampak negatif yang diterima Dono akibat tidak lulus ujian blok?

1. Standar kelulusan belum tercapai


7

2. Mengikuti remedi untuk memperbaiki nilai agar mencapai standar

kompetensi kelulusan.
3. Mengulangi dan mempelajari kembali pelajaran yang akan diujikan dalam.

4. Membayar biaya remedial. 5. Mendapat kerugian lainnya seperti rugi waktu, lebih merasa lelah karena harus mengulang.
c. Bagaimana cara Dono agar lulus ujian blok Struktur Dasar Tubuh Manusia?

Dono harus mengikuti remedi untuk memperbaiki nilai blok Struktur Dasar Tubuh Manusia sampai mencapai standar kompetensi kelulusan.
2. Dono merasa bahwa ilmu kedokteran dasar tidak aplikatif dan tidak menarik sehingga

dia tidak termotivasi untuk mempelajarinya lebih dalam.


a. Apakah ilmu kedokteran itu harus bersifat aplikatif?

Ya, karena bekal ilmu yang telah diterima selama masa perkuliahan harus bersifat aplikatif untuk bisa diterapkan dan digunakan ketika telah menjadi seorang dokter. b. Bagaiman cara ilmu kedokteran harus aplikatif? Pada beberapa materi kuliah yang diberikan, dilakukan skill lab dimana keterampilan klinik mahasiswa dilatih agar bisa diterapkan di masa depan sesuai dengan materi yang telah diberikan.
c.

Mengapa harus aplikatif? Karena apabila tidak aplikatif, ilmu yang telah diterima pada masa perkuliahan akan sia-sia apabila tidak diterapkan dalam kehidupan nyata. Dalam profesi kedokteran, ilmu yang telah didapatkan akan digunakan untuk diterapkan kepada pasiennya dengan tujuan membantu mengobati pasien.

d. Bagaimana cara menimbulkan motivasi dalam belajar?

Menumbuhkan konsep positif yakin akan kemampuannya untuk mengatasi suatu masalah, mampu memperbaiki diri dan berusaha untuk mengubahnya. Bila konsep diri positif maka motivasi belajar lebih tinggi karena ia menerima apapun tentang dirinya baik kelebihan maupun kekurangan atau baik positif maupun negatif tentang dirinya.

3. Dono merasa kurang nyaman dengan sistem belajar diskusi sehingga Dono tidak dapat

mengikuti berbagai topik pembelajaran yang dipaparkan temannya dalam tutorial


a. Bagaimana sistem pembelajaran dalam tutorial?

Menggunakan metode pembelajaran Problem Based Learning(PBL), Mahasiswa menelaah bersama-sama pemahaman skenario dan

mahasiswa diberikan suatu skenario kasus permasalahan sebagai pemicu.


-

membahasnya. Diskusi tutorial tahap ke-1: Klarifikasi istilah Identifikasi masalah Analisis masalah Restrukturisasi masalah dan menyusun konsep sistematis Mengidentifikasi topik pembelajaran Belajar Mandiri Diskusi tutorial tahap ke-2: Berbagi pengetahuan dari hasil belajar mandiri. Merumuskan kesimpulan/ resume. Mengevaluasi topik pembelajaran. Merumuskan topik pembelajaran yang baru/ perlu pendalaman. Belajar mandiri dan persiapan laporan tutorial. Diskusi pleno dengan dosen.

b. Apa yang menyebabkan Dono merasa kurang nyaman dengan sistem belajar

diskusi kelompok? Dono tidak terbiasa dengan sistem diskusi kelompok ia telah terbiasa belajar sendiri membaca semua materi sehingga ia merasa kurang nyaman dan belum bisa menyesuaikan dirinya. c. Bagaimana upaya Dono agar merasa nyaman saat diskusi kelompok? Dono harus membiasakan dengan sistem belajar diskusi kelompok agar ia bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik karena di dalam proses perkuliahan di pendidikan kedokteran tutorial merupakan salah satu kegiatan akademik tahap profesi dan Dono juga harus menemukan gaya belajar yang cocok agar mempermudah dirinya dalam proses belajar.
d. Apakah sistem tutorial efektif dalam pendidikan kedokteran? 9

Ya, karena disini mahasiswa diminta melaksanakan langkah berpikir yang sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berpikir secara nalar dalam menyelesaikan suatu masalah dari kasus yang telah diberikan sebagai pemicunya.
4. Dono sudah belajar maksimal untuk menjawab ujian blok, namun nilai Dono jatuh

diujian MCQ. a. Apa penyebab nilai Dono jatuh diujian MCQ? Kurangnya motivasi dalam belajar dari dalam dirinya.
b. Mengapa nilai ujian MCQ bisa menyebabkan Dono tidak lulus ujian dalam blok

tersebut? Karena MCQ merupakan salah satu mata ujian yang memiliki proporsi paling besar, apabila nilai MCQ tidak memenuhi kompetensi standar kelulusan maka tidak lulus ujian. c. Bagaimana upaya yang harus Dono lakukan agar mencapai nilai maksimal? Untuk melakukan sesuatu harus mampu memperbaiki diri dan berusaha untuk mengubahnya, bersikap serta bertindak diperlukan motivasi guna memaksimalkan tujuan. d. Apakah yang dimaksud dengan belajat maksimal yang dilakukan Dono? Seperti yang telah menjadi kebiasaan Dono, ia belajar sendirian dan membaca semua materi yang ia punya. Dari kebiasaan tersebut terdapat kelemahannya yaitu dia kurang berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga informasi dan ilmu yang dia ketahui terbatas karena ia lebih senang untuk belajar sendiri padahal dengan belajar bersama kita bisa saling berbagi ilmu dan melengkapi apa yang kurang dan belum diketahui satu sama lain. e. Apa standar nilai ujian kelulusan MCQ? Tabel gradasi kelulusan Skala Nilai 86,00 71,00 - 85,99 56,00 70,99 41,00 55 ,99 40,99 Angka 4 3 2 1 0
10

Huruf A B C D E

Keterangan Kompetensi Sangat kompeten Kompeten Lulus belum kompeten Tidak lulus Tidak lulus

5. Dono mengajukan keberatan terhadap ketua blok. a. Apakah sikap yang dilakukan dono mempunyai alasan yang tepat?

Tidak, karena sudah diketahui bahwa itu merupakan kesalahan dirinya sendiri. Disertasi bukti yang akurat ketua blok telah menerangkan bahwa nilai MCQ Dono tidak memenuhi standar kelulusan
b. Bagaimana harusnya cara penyampaian keberatan yang dirasakan Dono kepada

ketua blok? Dengan melakukan komunikasi yang baik. Dalam berkomunikasi haruslah dengan etika yang baik dan mampu mengelola diri dalam menyampaikan suatu pesan (menggunakan bahasa dan intonasi yang baik, gerakan tubuh, kontak mata, sikap) agar pesan yang disampaikan dapat diterima dan dimengerti dengan baik sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan tidak menimbulkan masalah baru. IV. Hipotesis Dono tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia karena kurangnya motivasi dalam belajar sehingga nilai MCQ Dono tidak memenuhi standar kelulusan.

V. Kerangka Konsep Ilmu kedokteran dasar tidak aplikatif & tidak menarik Kurang nyaman dengan sistem belajar

faktor intrinsik Kurang motivasi belajar faktor ektrinsik


11

Gaya belajar (learning style) kurang cocok

Nilai MCQ tidak memenuhi standar kelulusan

Tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia

Tidak memenuhi standar kompetensi kelulusan blok

Mengajukan keberatan

komunikasi kepada ketua blok

VI. Topik Pembelajaran dan Keterbatasan Ilmu Topik What I know What I dont Pembelajaran know

What I have to prove

How will I learn

12

1. Sistem tutorial PBL 2. Ujian blok 3. Kompeten si kelulusan 4. Komunika si efektif 5. Tipe-tipe pembelajaran (gaya belajar) 6. Motivasi

1. Definisi, langkahlangkah 2. Macammacam ujian 3.

1. Sistem pembelajaran 2. Penjelasa n 3. Gradasi kelulusan 4. Cara komunikasi efektif 5. Gayagaya belajar

4. Definisi

5.

6. Definisi

6. Faktor pendukung dan penghambat

1. Proses IT berjalannya Internet tutorial 2. Sistem ujian blok 3. Bagaimana standar kompetensi kelulusan 4. Berkomunikas i yang baik 5. Mengetahui gaya belajar yang sesuai 6. Cara meningkatkan motivasi

VII. Sintesis 1. Sistem tutorial PBL Salah satu metode pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh mahasiswa FK Unsri selama menempuh pendidikan adalah metode Problem Based Learning (PBL). PBL adalah metode pembelajaran yang memacu peserta didik menggunakan pemicu dari masalah di kasus atau skenario untuk menentukan sendiri apa sasaran belajar mereka, kemudian mereka belajar mandiri untuk kembali berdiskusi dan meluruskan pengetahuan yang didapat (Wood, 2003). PROSES PBL Proses pembelajaran PBL disebut dengan tutorial. Dalam tutorial, mahasiswa melaksanakan proses diskusi didalam kelompok kecil (10-12 mahasiswa) yang difasilitasi oleh seorang tutor. Dalam 1 sesi PBL/Tutorial, mahasiswa akan diberikan 1 skenario dan melaksanakan 2 kali diskusi kelompok diselingi dengan belajar mandiri dan ditutup dengan diskusi pleno.Satu sesi tutorial berlangsung selama 5 hari yang terdiri : 1. Hari ke-1 2. Hari ke-2 : Diskusi kelompok I : Belajar mandiri
13

3. Hari ke-3 4. Hari ke-4 5. Hari ke-5

: Diskusi kelompok II : Belajar Mandiri : Diskusi pleno di kelas besar.

Dalam diskusi, mahasiswa dipandu oleh seorang moderator yang dipilih dari kalangan mahasiswa. Tutor hanya memfasilitasi proses diskusi agar terarah sesuai dengan sasaran pembelajaran. Tutor tidak memberikan ilmu/materi selama diskusi. Mahasiswa harus menemukan dan mencari sendiri materi ilmu yang harus dipelajari dari sesi tutorial. Selama menjalani proses tutorial mahasiswa diminta melaksanakan langkah berpikir yang sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berpikir secara nalar (critical thinking dan reasoning skill). LANGKAH BERPIKIR DALAM TUTORIAL

14

KEGIATAN

Diskusi Tahap I

Belajar Mandiri

LANGKAH BERPIKIR 1. Persiapan: - Perkenalan - Memilih moderator - Memilih sekretaris (1-2 sekretaris) - Menyepakati peraturan diskusi - Berdoa 2. Membaca skenario 3. Klarifikasi Istilah 4. Identifikasi Masalah 5. Analisis Masalah 6. Meninjau ulang Masalah & Menyusun keterkaitan antar masalah 7. Identifikasi Topik Pembelajaran Mencari dan mempelajari topik pembelajaran yang disepakati pada diskusi tahap 1. Sumber pembelajaran didapat dari : a. Buku b. Jurnal c. Makalah ilmiah yang sahih d. Berdiksui dengan pakar 1. Berbagi pengetahuan dari hasil belajar mandiri 2. Menyusun kerangka konsep sistematis

Diskusi Tahap ke2

3. Merumuskan kesimpulan/resume 4. Mengevaluasi topik pembelajaran 5. Merumuskan topik pembelajaran yang baru/ perlu pendalaman 1. Mempelajari topik-topik tambahan maupun topik yang perlu pendalaman 2. Menyusun laporan tutorial 1. Seluruh grup berkumpul di kelas besar 2. Masing-masing grup siap mempresentasikan hasil tutorial 3. Masukan dari Narasumber 4. Umpan balik dosen tentang sasaran pembelajaran

Belajar Mandiri

Diskusi Pleno

15

2. Ujian blok 1. MCQ (Mutiple Choice Question) Merupakan ujian tertulis dengan jawaban berupa pilihan ganda. Terdapat dua macam MCQ:

MCQ IT 50% MCQ Tutorial 20%

2. OSCE (Objective Structure Clinical Examination) Merupakan ujian keterampilan klinis mahasiswa dari kompetensi yang telah ditentukan.
3. OSPE (Objective Structure Practical Examination)

Merupakan ujian praktek dari praktikum-prkatikum yang telah dilakukan dalam minggu-minggu kuliah sebelum minggu ujian. Dapat berupa anatomi, histologi, biokimia, fisiologi, patologi anatomi, parasitologi, mikrobiologi.

3. Kompetensi kelulusan Sistem penilaian: 1. Formatif Jumlah kehadiran - Kuliah Terintegrasi : minimal 70%
o

Jika mahasiswa tidak mencapai kehadiran minimal dengan alasan apapun maka tidak dapat mengikuti ujian MCQ.
16

- Kehadiran Tutorial o Minimal 80% dari seluruh proses (diskusi tahap I, mandiri, tahap II, diskusi pleno).
o Jika tidak mencapai kehadiran minimal, nilai daftar tilik tutorialnya tidak dapat

dijadikan sebagai bagian dari komponen penilaian sumatif. - Kehadiran Praktikum


o Kehadiran praktikum minimal 100%, bila tidak : tidak dapat mengikuti ujian Objectives

Structured Practical Examination (OSPE).


- Kehadiran Skill Lab o Kehadiran: minimal 100%. Jika mahasiswa tidak mencapai kehadiran minimal maka

tidak dapat mengikuti ujian Objectives Structured Clinical Examination (OSCE).


- Khusus untuk praktikum dan skill lab yang mensyaratkan kehadiran minimal 100%, ada

beberapa pengecualian yang dapat diterima sebagai alasan tidak mengikuti kegiatan praktikum/skill lab. Adapun alasan yang dapat diterima yaitu:
o Sakit, yang dilengkapi dengan surat keterangan sakit dari dokter klinik UNSRI atau

RSMH
o Kematian orang tua, saudara kandung, suami/istri, anak o Melahirkan o Mendapat tugas resmi kegiatan ilmiah dan bakti sosial mahasiswa dan dilengkapi

dengan surat tugas Dekan FK UNSRI - Meski demikian, jumlah tidak hadir maksimal yang dizinkan untuk seluruh praktikum dan skill-lab adalah 2 kali Daftar tilik proses tutorial dan skill-lab Penilaian/ responsif praktikum 2. Sumatif Ranah Pembelajaran Keterangan -MCQ I - MCQ II Proporsi dibagi pada instrumen penilaian: -OSPE -Nilai pre- dan post-test

Rentang Proporsi 30-70%

Kognitif 10-15%

17

Psikomotor

20-40%

Proporsi dibagi pada instrumen penilaian: -OSCE -Hasil kerja keterampilan mahasiswa Proporsi dibagi pada instrumen penilaian: - Umpan balik tutor, atau; - Hasil tugas mandiri

Afektif

10-30%

Gradasi kelulusan Skala Nilai 86,00 71,00 - 85,99 56,00 70,99 41,00 55 ,99 40,99 Remedial:

Angka 4 3 2 1 0

Huruf A B C D E

Keterangan Kompetensi Sangat kompeten Kompeten Lulus belum kompeten Tidak lulus Tidak lulus

Remedial dilaksanakan untuk setiap instrumen (MCQ, OSCE, dan OSPE) Pengumuman nilai blok akan disampaikan ke mahasiswa dalam bentuk nilai per instrumen penilaian. Syarat Remedial : Pernah mengikuti ujian akhir blok, artinya sudah dinyatakan menyelesaikan proses blok. Nilai akhir blok dengan gradasi huruf B,C,dan D, terhadap skor instrumen nilai sumatif <86 Bila ada mahasiswa memiliki nilai instrumen <86 namun nilai akhir blok bergradasi huruf A, tidak perlu lagi melakukan remedial. Untuk mahasiswa yang memiliki nilai akhir blok dengan gradasi huruf E tidak diizinkan remedial dan harus mengulang seluruh kegiatan blok. Remedial hanya diperbolehkan maksimal 2 kali untuk setiap instrumen
Jika nilai remedial lebih kecil dari nilai lama, diambil nilai yang terbaik.

Jadwal pelaksanaan remedial dialokasikan pada tiap-tiap libur semester. Mahasiswa hanya boleh mengikuti ujian remedial untuk maksimal 15 instrumen dalam 1 musim remedial 4. Komunikasi efektif
18

Komunikasi adalah proses pembuatan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri sendiri dan atau diantara dua orang atau lebih untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Komponen dasar komunikasi: Komunikator atau pengirim pesan Pesan atau informasi Media atau Saluran Penerima pesan Balikan atau feedback Gangguan atau noise Dalam proses komunikasi tidak selalu keenam komponen komunikasi itu muncul sekaligus. Syarat minimal komunikasi dapat terlaksana, yakni sekurangkurangnya mesti melibatkan tiga komponen, yaitu, komunikator, pesan dan komunikan. Bentuk-bentuk komunikasi: Komunikasi interpersonal Komunikasi antarpersonal Komunikasi kelompok Komunikasi massa

Tujuan komunikasi: Memberikan informasi kepada para klien, kolega, bawahan, supervisor, Mempengaruhi orang lain : merangsang orang lain, mengurangi Dalam organisasi digunakan untuk pemecahan masalah dan masyarakat perselisihan, menggerakkan orang lain/masyarakat untuk melakukan sesuatu pengambilan keputusan Mengelola diri dalam komunikasi: Sikap / gerakan badan Suara Kontak mata Pengaturan pernafasan
19

Bahasa yang digunakan Penampilan diri

Tanda-tanda komunikasi efektif: Informasi yang diterima sama dengan informasi yang dikirim Umpan balik sesuai tujuan Ada hubungan saling menghargai Bahasa non verbal sesuai dengan verbal

Indikator komunikasi efektif: Pemahaman kemampuan memahami pesan secara cermat komunikator Kesenangan berlangsung dalam suasana yg menyenangkan Pengaruh sikap komunikan berubah sesuai dengan makna yang disampaikan komunikator Hubungan meningkatkan kadar hubungan interpersonal Tindakan kedua belah pihak melakukan tindakan yang sesuai dengan pesan yang dikomunikasikan Secara sederhana komunikasi dikatakan effektif apabila dalam suatu proses komunikasi itu, pesan yang disampaikan seorang komunikator dapat diterima dan dimengerti oleh komunikan, persis seperti apa yang dikehendaki oleh komunikator. : Faktor-faktor penghambat komunikasi: Hambatan Psikologis mis. Situasi psikologis komunikan sedang marah, cemas dan sebagainya. Hambatan Semantis
20

sebagaimana dimaksudkan

latar belakang bahasa yang berbeda. Hambatan Mekanis Suara krotokan pada pesawat telpon, tulisan yang tidak terbaca, sinyal hilang pada telepon seluler. Hambatan Ekologis Gangguan suara (noise), hujang deras, lalulintas yang bising. 7 Area Kompetensi Dokter : 1. Mampu berkomunikasi efektif 2. Memiliki keterampilan klinis 3. Memiliki landasan ilmiah Ilmu Kedokteran 4. Mampu mengelola masalah kesehatan 5. Mampu mengelola informasi secara kritis 6. Selalu mawas diri dan mengembangkan diri 7. Memiliki etika, moral, medikolegal dan profesionalisme serta memperhatikan keselamatan pasien Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah kurikulum pembelajaran yang memiliki tiga wilayah/domain yang saling terintegrasi, yaitu: 1. Kognitif (berhubungan dengan ilmu pengetahuan knowledge kita), bagaimana cara kita memahami suatu teori pembelajaran dewasa (adult learning). 2. Psikomotor (berhubungan dengan kemampuan mengelola belajar secara mandiri) alias clinical personal. 3. Afektif (kaitannya erat dengan behavior and attitude). Mahasiswa FK diharapkan tidak hanya memiliki rasa ingin tahu dan motivasi yang tinggi untuk memahami ilmu tetapi juga memiliki tingkah laku sikap dan moral yang sesuai sama norma yang ada. 5. Tipe-tipe pembelajaran (gaya belajar) Gaya belajar adalah pendekatan sederhana atau cara dari belajar. Dengan gaya belajar anda dapat belajar dengan cara yang paling efisien. Gaya belajar adalah cara seseorang untuk berkonsentrasi, berproses,menyerap, dan mengingat informasi baru dan sulit dicerna. Gaya belajar adalah alat yang penting untuk memahami
21

pengetahuan. Cara yang benar untuk belajar, tapi kadang tidak muncul. Tiap orang belajar dengan caranya sendiri, tapi tanpa mengetahui cara ini,contoh tanpa memahami diri anda, anda tidak bisa belajar secara efisien, kadang kadang anda tidak bisa belajar sama sekali. Auditory Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam kelompok Mengenal banyak sekali lagu / iklan TV, Suka berbicara. Pada umumnya bukanlah pembaca yang baik. Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya. Kurang baik dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis. Kurang memperhatikan hal-hal baru dalam lingkungan sekitarnya. Ciri seorang Auditory antara lain :

Visual Senantiasa melihat memperhatikan gerak bibir seseorang yang berbicara kepadanya Cenderung menggunakan gerakan tubuh saat mengungkapkan sesuatu Kurang menyukai berbicara di depan kelompok, dan kurang menyukai untuk mendengarkan orang lain. Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan secara lisan Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan Biasanya orang yang Visual dapat duduk tenang di tengah situasi yang ribut/ramai tanpa merasa terganggu Reading Suka membaca dan membuat catatan Huruf-huruf indah dan tulisan rapi merupakan hal yang sangat berkesan bagi mereka
22

Beberapa karakteristik Visual adalah :

Beberapa karakteristik Reading:

Mudah mengingat apa yang mereka baca atau tuliskan Kinesthetic Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya Sulit untuk berdiam diri Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan tangan Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu belajar
Mempelajari hal-hal yang abstrak merupakan hal yang sangat sulit.

Beberapa karakteristik Kinesthetic adalah:

Menurut Anthony Gregorc, tipe gaya berpikir terbagi empat, yaitu : Concrete Sequential (CS) Orang dengan tipe ini adalah orang yang cenderung, teratur, dan rapi. Mereka selalu mengerjakan tugas tepat waktu, terencana, dan tidak suka hal-hal yang bersifat mendadak.

Apa yang terbaik bagi mereka? Memiliki cara yang mudah dalam menerapkan ide-ide Mengorganisir Mampu bekerja tepat waktu dengan baik Bekerja secara sistematis, langkah demi langkah Memiliki sebuah jadwal untuk dijalani Memiliki penafsiran secara logika Bekerja secara kelompok Bekerja di dalam lingkungan yang tak teratur Mengikuti secara tidak lengkap atau petuntuk yang tidak jelas Menuntut untuk "menggunakan imajinasinya Bangunlah kekuatan organisasional Anda
23

Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]?

Apa yang sulit bagi mereka?

Kiat-kiat jitu bagi pemikir Concret Sequensial [CS]:

Cari tahu detail yang Anda perlukan Bagilah proyek Anda menjadi beberapa tahapan, dan Tatalah lingkungan kerja yang tenang.

Abstract Random (AR) Biasanya merupakan pemikir yang cerdas dan punya ide-ide yang brilian. Orang ini senang mengetahui dan berpikir tentang apa yang tidak dipikirkan orang lain. Senang membaca membuatnya senang untuk berdiskusi, bahkan berdebat dengan orang lain. Apa yang terbaik bagi mereka? Menganalisis ide-ide Melakukan penelitian Menggunakan bukti-bukti untuk membuktikan atau menyangkal teoriteori

Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Sequensial [CS]? Menggunakan contoh yang tepat, sebagai hasil dari penelitian yang akurat Alasan dapat diterima secara logika Bekerja dengan tenang untuk membahas suatu persoalan secara menyeluruh. Apa yang sulit bagi mereka? Dituntut untuk bekerja dalam hal sudut pandang yang berbeda Memiliki waktu yang terlalu sedikit dalam menyelesaikan suatu persoalan pemikiran yang "sentimentil" Mengekspresikan emosi mereka Latihlah logika Anda Suburkan kecerdasan Anda
24

Kiat-kiat jitu bagi pemikir Abstract Sequensial [AS]:

Upayakan keteraturan Analisislah orang-orang yang berhubungan dengan Anda

Abstract Sequential (AS) Segala sesuatu seringkali dihubungkan dengan perasaan dan emosi, sehingga mereka terkenal sangat sensitif. Mudah kehilangan konsentrasi, banyak pertimbangan, dan suka mencoret-coret tanpa arti di buku adalah ciri tipe ini. Apa yang terbaik bagi mereka? Paham akan perasaan dan emosi Fokus pada tema dan ide-ide Membawa kerukunan pada kelompoknya Mengenali dan menghargai emosional orang lain

Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Abstract Random [AR]? Belajar sendirian Menjaga hubungan dengan baik Memiliki moralitas yang tinggi Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan perasaannya Memberikan penjelasan Berkompetisi Bekerja dengan orang yang memiliki kepribadian otoritas/diktator Berkonsentrasi pada suatu hal secara serentak Menerima kritikan positif Gunakan kemampuan alamiah Anda untuk bekerjasama dengan orang lain Bangunlah kekuatan belajar Anda dengan berasosiasi
25

Apa yang sulit bagi mereka?

Kiat-kiat jitu bagi pemikir Abstract Random [AR]:

Waspadalah terhadap waktu Gunakan isyarat isyarat visual.

Concrete Random (CR). Sering dianggap sebagai orang yang kreatif karena senang mencoba menyelesaikan sesuatu dengan cara mereka sendiri. Saking asyiknya, mereka cenderung tidak peduli dengan waktu. Apa yang terbaik bagi mereka? Memiliki banyak pilihan dan solusi Memberikan ide-ide yang kreatif Menerima orang-orang yang memiliki banyak perbedaan Berpikir dengan cepat dengan usahanya sendiri Mampu menanggung resiko Mengguakan wawasan dan naluri untuk memecahkan permasalahan Bekerja dengan memiliki banyak waktu

Apa yang menjadi karakteristik bagi pemikir Concret Random [CR]?

Apa yang sulit bagi mereka? Adanya larangan dan batasan Rutinitas Mengulangi pekerjaan yang telah selesai dikerjakan Menyimpan dokumen-dokumen yang terperinci Menunjukan bagaimana mereka mendapatkan suatu jawaban Tidak adanya pilihan Gunakan kemampuan divergen Anda Siapkan diri Anda untuk memecahkan masalah Cermati waktu Anda Terimalah kebutuhan Anda untuk berubah Carilah dukungan bagi diri Anda.

Kiat-kiat jitu bagi pemikir Concret Random [CR]:

26

Setiap orang adalah individu yang unik, masing-masing akan melihat dunia dengan "cara"nya sendiri. Meskipun kita melihat satu kejadian pada waktu yang bersamaan, tidak menjamin kita akan sama melaporkan apa yang kita lihat. Herman Witkin, melalui studi risetnya mengemukakan 2 macam karakteristik gaya belajar yang dimiliki seseorang, yaitu gaya belajar Global dan gaya belajar Analitik.

Analitik :

Orang yang berpikir secara Analitik dalam memandang segala sesuatu cenderung lebih terperinci, spesifik, terorganisasi, dan teratur. Namun kurang bisa memahami masalah secara menyeluruh. Dalam mengerjakan tugas yang dibebankan, seorang Analitik akan mengerjakan tugasnya secara teratur, dari satu tahap ke tahap berikutnya. Global

Orang yang berpikir secara Global cenderung melihat segala sesuatu secara menyeluruh, dengan gambaran yang besar, namun demikian mereka dapat melihat hubungan antar satu bagian dengan bagian yang lain. Orang yang Global juga dapat melihat hal-hal yang tersirat, serta menjelaskan permasalahan dengan kata-katanya sendiri. Mereka dapat melihat adanya banyak pilihan dalam mengerjakan tugas dan dapat mengerjakan beberapa tugas sekaligus.
6. Motivasi Belajar

Motivasi belajar adalah suatu keadaan dalam diri mahasiswa yang mendorong dan mengarahkan perilakunya kepada tujuan yang ingin dicapainya dalam mengikuti pendidikan tinggi. Idealnya, tujuan mahasiswa dalam mengikuti pendidikan tinggi adalah untuk menguasai bidang ilmu yang dipelajarinya sehingga dalam mempelajari setiap bahan pembelajaraan, mahasiswa terdorong untuk menguasai bahan pembelajaran dengan baik, dan bukan hanya untuk sekedar lulus meski dengan nilai sangat baik sekalipun. Faktor-faktor mendukung motivasi belajar Untuk mencapai tujuan ideal tersebut, kebutuhan mahasiswa dalam konteks pendidikannya perlu ditingkatkan dari hanya sebagai kebutuhan akan penghargaan27

meminjam hirarki kebutuhan Maslow- menjadi kebutuhan akan aktualisasi diri. Jika pendidikan tinggi dianggap hanya sebagai kebutuhan akan penghargaan, maka gelar kesarjanaanlah dan bukan penguasaan ilmu yang akan menjadi tujuan utama mahasiswa dalam mengikuti pendidikan tinggi. Kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri, merupakan faktor motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang (intrinsik). Dengan demikian upaya untuk mengangkat kebutuhan pendidikan tinggi dari hanya sebagai kebutuhan akan penghargaan menjadi kebutuhan akan aktualisasi diri, harus dilakukan dari dalam diri mahasiswa. (Herzberg) Selanjutnya, dengan mengadopsi pendekatan sistem Lewin, motivasi belajar mahasiswa dapat dikatakan sebagai fungsi dari faktor yang ada dalam dirinya sendiri (intrinsik) dan faktor-faktor yang ada di dalam lingkungan belajarnya atau di luar dirinya (ekstrinsik). Faktor yang ada di dalam diri mahasiswa adalah minatnya tergadap bidang ilmu yang dipelajari serta orientasinya dalam mengikuti pendidikan tinggi. Sedangkan faktor-faktor yang ada di dalam lingkungan belajarnya adalah kualitas dosen, bobot materi kuliah, metode perkuliahan, kondisi dan suasana ruang kuliah serta fasilitas perpustakaan. Semuanya saling terkait, mendukung dan sama pentingnya dalam mengisi motivasi belajar khususnya mahasiswa untuk pencapaian yang terbaik dan maksimal. Jika ada salah satu yang kurang, maka akan memberi dampak yang buruk untuk membuat mahasiswa semangat mengikuti materi yang diberikan. Kerangka Penjelasan. Faktor Intrinsik 7.
8.

Perpustakaan Motivasi Belajar

Kualitas Dosen

9.Ruang Kuliah

Materi kuliah

Metode perkuliahan

28

7. Faktor Penghambat dalam Belajar Belajar merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan terjadi secara terusmenerus. Belajar sangat penting, namun dalam kenyataannya sering muncul permasalahan atau hambatan dalam belajar. Hambatan tersebut dapat berasal dari dalam diri anak maupun dari luar. Dengan adanya hambatan tersebut akan mempersulit anak untuk mancapai hasil belajar yang maksimal. PEMBAHASAN Faktor Penghambat Belajar Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar anak dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Kedua faktor tersebutlah yang mempengaruhi hasil belajar anak. Berikut akan diuraikan tentang kedua faktor penghambat belajar.

Faktor Internal Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan biologis serta faktor psikologis.
1. Faktor fisiologis dan biologis

Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh manusia. Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi 2, yaitu: Keadaan tonus jasmani Keadaan tonus jasmani sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar. Sedangkan kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Keadaan fungsi jasmani atau fisiologis Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada anak sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indera. Panca indera yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar.
29

Anak yang memiliki kecacatan fisik (panca indera atau fisik) tidak akan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Meskipun juga ada anak yang memiliki kecacatan fisik namun nilai akademiknya memuaskan. Kecacatan yang diderita anak akan mempengaruhi psikologisnya, diantaranya: sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya, ada perasaan takut diejek teman, merasa tidak sempurna dibandingkan dengan teman-teman lain.

2. Faktor psikologis Faktor psikologis adalah faktor yang berasal dari keadaan psikologis anak yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar anak adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.

Kecerdasan/ intelegensi siswa Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan dengan organ lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi dari seluruh aktivitas manusia.

Motivasi Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasi yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Motivasi diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan perilaku seseorang.

Minat Secara sederhana minat merupakan kecenderungan kegairahan yang tinggi atau besar terhadap sesuatu. Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas
30

belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan disampaikan dengan cara: Membuat menarik materi Materi bisa dibuat menarik melalui bentuk buku materi, desain pembelajaran, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, dan guru juga harus memperhatikan performansi saat mengajar. Pemilihan jurusan atau bidang sekolah Pemilihan sebaiknya diserahkan pada siswa, sesuai dengan minatnya. Sikap Dalam proses belajar sikap dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Shay,2003). Bakat Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum bakat didefisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakuakan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Faktor Eksternal Selain faktor internal, faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi faktor lingkungan sosial dan non-sosial (Syah, 2003): 1. Lingkungan sosial Lingkungan sosial anak dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar. Linkungan sosial dibagi manjadi tiga, yaitu:
31

a. -

Lingkungan sosial sekolah

Faktor-faktor yang dapat menghambat anak belajar di sekolah adalah: Metode mengajar Dalam mengajar guru memerlukan metode yang cocok. Metode ini dimaksudkan agar materi yang disampaikan oleh guru terasa menarik dan siswa mudah menyerapnya. Kurikulum Kurikulum yang kurang tepat dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menimbulkan kesukaran belajar. Kurikulum sangat penting dan selalu ada dalam sebuah instansi pendidikan. Kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan psikologi anak. Penerapan disiplin Disiplin dalam sebuah sekolah sangat diperlukan untuk meengontrol kegiatan siswa di sekolah. Namun kedisiplinan yang terlalu ketat akan membuat siswa merasa terkekang dan merasa ruang geraknya dibatasi. Hubungan siswa dengan guru maupun teman Suasana sebuah kelas didukung oleh peran guru dan anggota kelas. Jika suasana kelas tidak mendukung, maka dapat menghambat proses belajar anak. Hubungan siswa dengan guru, siswa dengan teman juga perlu dibangun sedemikian rupa sehingga tercipta suasana ynag baik dan nyaman bagi siswa, sehingga mereka betah menjadi bagian dari kelas. Tugas rumah yang terlalu banyak Guru memberikan tugas untuk siswa merupakan hal yang wajar. Tetapi siswa akan merasa jenuh dengan tugas yang terlalu banyak. Bagi sebagian siswa tugas merupakan beban. Hal seperti inilah yang akan menghambat proses belajar anak. Sarana dan prasarana Keberhasilan belajar anak juga didukung oleh sarana dan prasarana yang ada. Sarana dan prasarana yang memadai juga membantu tercapainya hasil belajar yang maksimal. b. Lingkungan sosial masyarakat Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa juga mempengaruhi proses belajar anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan banyak
32

teman sebaya di lingkungan yang tidak sekolah dapat menjadi faktor yang menimbulkan kesukaran belajar bagi siswa. Misalnya siswa tidak memiliki teman belajar dan diskusi maka akan merasa kesulitan saat akan meminjam buku atau alat belajar yang lain. c. Lingkungan keluarga Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar. Oleh karena itu, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan permasalahan belajar anak adalah: Pola asuh orang tua Setiap orang memiliki pola atau cara yang berbeda dalam mendidik anak. Pola asuh yang selalu mengekang anak akan membuat anak sulit dan bahkan tidak dapat mengembangkan kemampuan dan bakat yang dimiliki.

Hubungan orang tua dan anak Hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak akan membuat anak tidak betah di rumah. Dengan begitu anak tidak akan bisa melaksanakan aktivitas belajarnya dengan baik.

Keadaan ekonomi keluarga Meskipun tidak mutlak, perekonomian keluarga dapat menjadi salah satu penghambat anak. Ada kemungkinan anak menjadi minder dan malu bergaul dengan teman karena masalah ekonomi keluarganya. Dengan perasaan minder anak akan mudah tersinggung, kecil hati, dan sebagainya. Akhirnya hal tersebut akan mempengaruhi hasil belajar anak.

Keharmonisan keluarga Keluarga yang tidak harmonis akan memberi dampak negatif pada anak dalam belajar. Pertikaian atau cek-cok ayah dan ibu akan membuat anak merasa terbebani sehingga anak menjadi kurang semangat dalam belajar.

Kondisi rumah Kondisi rumah yang kurang memadai akan membuat anak kesukaran dalam belajar. Letak rumah juga berpengaruh pada proses belajar anak. Rumah yang terlalu dekat dengan jalan raya kurang efektif untuk belajar anak.
33

d. Teman sebaya Teman sebaya dapat mempengaruhi proses belajar anak, baik teman sebaya dalam lingkup sekolah maupun tempat tinggal atau masyarakat. Pada usia anakanak dan remaja, jiwa yang dimiliki masih labil, emosional, pemarah, dan juga rasa egois sangat besar. Biasanya tejadi kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya atau kawan bermain. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan atau bahkan persaingan yang menimbulkan sikap saling mengejek, mendorong, memukul bahkan kekerasan verbal. Kekerasan sebagai gangguan emosi pada dasarnya tidak hanya menyerang orang lain, tetapi juga menyerang diri sendiri. Persoalan kekerasan dilihat dari lapangan psikologi pendidikan mencoba mengarahkan pada lingkungan sekolahtempat anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya. Interaksi sosial yang tidak sehat antar teman sebaya di sekolah dipengaruhi faktor lingkungan dari luar yang dibawa ke sekolah oleh peserta didik yang berujung pada tindakan kekerasan. Belajar yang tidak menyenangkan juga membuat anak merasa tertekan dan bertindak nakal. Sebenarnya kekerasan yang terjadi di kalangan siswa dibentuk dari pengalaman-pengalaman lama. Teman sebaya yang seharusnya bisa untuk memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia sosisal, prinsip keadilan malalui konflik yang terjadi dengan teman, bisa untuk belajar tentang konsep gender juga dapat berpengaruh negatif bagi anak. Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki kawan sebayanya akan mudah mempengaruhi diri anak. Kebiasaan buruk yang mudah ditiru biasanya dari ucapan atau tindakan. 2. Lingkungan non-sosial Faktor yang termasuk lingkungan non-sosial adalah Lingkungan alamiah, ang dimaksud dengan lingkungan alamiah adalah kondisi yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar tidak terlalu silau, tidak terlalu gelap, dan tenang. 1. Instrumental Instrumental dapat digolongkan dua macam: Hardware
34

Yang termasuk perangkat hard ware adalah gedung sekolah, alat, fasilitas, sarana prasarana belajar, dan sebagainya. Software Yang termasuk perangkat software dalam pendidikan adalah kurikulum sekolah, peraturan, buku panduan, silabus, dan sebagainya.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dono dinyatakan tidak lulus blok Struktur Dasar Tubuh Manusia karena nilai MCQ Dono tidak memenuhi standar kompetensi kelulusan yang disebabkan karena Dono tidak nyaman dengan sistem belajar diskusi kelompok. Dono juga kurang motivasi belajar karena dia tidak tertarik dengan ilmu kedokteran dasar yang tidak aplikatif dan tidak menarik.

35

DAFTAR PUSTAKA Idris, H. Zahara. 1992. Pengantar Pendidikan 1. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Koes, Partowisastro. 1982. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar Jilid 2. Jakarta: Erlangga Monks, F. J, dkk. 1994. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Chaniago, Amran Y.S. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Bandung : Pustaka Setia. Soejanto, Stefanus Sandjaja. 2005. Bimbingan di Sekolah Dasar: Buku Pegangan Kuliah Mahasiswa. Semarang: Universitas katolik Soegjapranata. Sukaji, S. 1998. Keluarga dan Keberhasilan Penelitian. Depok: Undat Fakultas Psikologi. Suryabrata, S. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Yusuf, A. Muri. 1986. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Ghalia Indonesia. Bussines and Management Journal Bunda Mulia, Motivasi Belajar, Vol.3, No.2, September 2007.
36

Kuliah Pendahuluan Blok 1, Drs. Sadakata Sinulingga Kuliah Kurikulum Berbasis Kompetensi FK Unsri, UPK Kuliah Belajar Berdasarkan Masalah, dr. Irfanuddin Kuliah Komunikasi, Syafri Daini, S.Psi

37