Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISA BOD (Biochemical Oxygen Demand)


diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum Pengolahan Limbah Industri

Dosen Pembimbing : Ir. Endang Kusumawati, MT Disusun Oleh : Muhamad Aliyudin M Muhammad Iqbal Alkindi Nurul Aini Kesuma W Nurul Anisa Hakim Raihan Khairan 101411044 101411046 101411047 101411048 101411049

Kelompok : III (Tiga) Kelas : 3 B Tanggal praktikum : 26 September 2012

Tanggal pengumpulan : 8 Oktober 2012

D3-TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2012

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan industry di Indonesia pada saar ini cukup pesat. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya industry yang memproduksi berbagai jenis kebutuhan manusia seperti industri kertas, tekstil, makanan, dan sebagainya. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka semakin banyak pula hasil samping yang diproduksi sebagai limbah. Banyaknya limbah dapat menyebabkan terjadinya pencemaran, terutama limbah cair yang dapat mencemari sistem perairan seperti sungai. Dengan demikian limbah cair yang dikeluarkan harus memiliki baku mutu untuk mencegah pencemaran. Jika terjadinya pencemaran, hal ini harus ditanggulangi (dicegah) dengan mengolah limbah yang dikeluarkan agar sesuai dengan baku mutu. Salah satu parameter yang sering digunakan sebagai tolak ukur tercemarnya suatu sungai adalah BOD (Biochemical Oxygen Demand). Dengan mengetahui nilai BOD suatu limbah cair, maka dapat diketahui limbah tersebut dapat berpotensi tercemari sungai atau tidak. Pada umumnya, limbah industri makanan seperti tahu, kecap, gula, minyak sawit, dan sebagainya yang mengandung nilai BOD tinggi jika dibandingkan dengan industri kimia.

1.2. Tujuan Percobaan ini memiliki tujuan untuk mengukur banyaknya oksigen sejumlah sampel tertentu, sebelum ataupun sesudah diinkubasi pada temperature 20oC selama 5 hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BOD atau Biochemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen biologis merupakan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk menguraikan zat organik yang terdapat dalam air limbah. BOD merupakan suatu parameter yang sering digunakan untuk menentukan karakteristik zat polutan dalam limbah cair yang dapat digunakan untuk mengetahui derajat pencemaran air limbah domenstik maupun industri. Makin banyak zat organik, makin tinggi BOD-nya. Nilai BOD dipengaruhi oleh suhu, cahaya, matahari, pertumbuhan biologik, gerakan air dan kadar oksigen. Pada air sungai yang bersih, nilai BOD berkisar sampai 10 ppm. Jika nilai BOD lebih besar dari 10 ppm maka dianggap telah terkontaminasi. Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DO0) dari sampel segera setelah pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang sering disebut dengan DO5. Selisih DO0 dan DO5 (DO0 - DO5) merupakan nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri). Untuk mempermudah penetapan BOD atau terhindar dari pengulangan yang akan memerlukan waktu lama maka dilakukan langkah-langkah di bawah ini : 1. Perkirakan kebutuhan oksigen untuk mendapatkan pengenceran yang mendekati, perlu dilakukan penentuan angka KMnO4 terhadap sampel 2. Pengenceran yang bervariasi lebih memungkinkan terhindar dari kegagalan penetapan Gangguan yang umumnya terdapat pada analisa BOD adalah : 1. Proses nitrifikasi dapat mulai terjadi di dalam botol BOD setelah 2-10 hari 2NH4 + 3O2 2NO2- + 4H+ + 2H2O 2NO2- + O2 2NO3

Nitrifikasi perlu oksigen. Seringkali nitrifikais tidak terjadi karena suhu 10


o

C atau karena air sungai yang tercemar telah sampai ke muara sehingga

nitrifikasi pada botol BOD tidak berlaku. 2. Zat beracun dapat memeperlambat pertumbuhan bakteri (memperlambat reaksi BOD) bahkan membunuh organisme tersebut. 3. Kemasukan/keluarnya oksigen dari botol selama inkubasi harus dicegah. Dengan ditutup hati-hati (di atas tutup botol bisa diberi air/waterseal). 4. Nutrien merupakan salah satu syarat bagi kehidupan bakteri. Sehingga sebaiknya setiap botol BOD ditambah dengan nutrient secukupnya. 5. Karena benih dari bermacam-macam bakteri dapat berkurang

jumlahnya/kurang cocok bagi air buangan maka pembenihan harus dilakukan dengan baik. Biological Oxygen Demand menunjukkan jumlah oksigen dalam satuan ppm yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk memecahkan bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri. Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, apabila suatu badan air dicemari oleh zat oragnik, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut. Beberapa zat organik maupun anorganik dapat bersifat racun misalnya sianida, tembaga, dan sebagainya, sehingga harus dikurangi sampai batas yang diinginkan. Berkurangnya oksigen selama biooksidasi ini sebenarnya selain digunakan untuk oksidasi bahan organik, juga digunakan dalam proses sintesa sel serta oksidasi sel dari mikroorganisme. Oleh karena itu uji BOD ini tidak dapat digunakan untuk mengukur jumlah bahan-bahan organik yang sebenarnya terdapat di dalam air, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah konsumsi oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi bahan organik tersebut. Semakin banyak oksigen yang dikonsumsi, maka semakin banyak pula kandungan bahan-bahan organik di dalamnya. Oksigen yang dikonsumsi dalam uji BOD dapat diketahui dengan menginkubasikan contoh air pada suhu 20oC selama lima hari. Untuk memecahkan bahan-bahan organik tersebut secara sempurna pada suhu 20oC sebenarnya dibutuhkan waktu lebih dari 20 hari, tetapi untuk prasktisnya

diambil waktu lima hari sebagai standar. Inkubasi selama lima hari tersebut hanya dapat mengukur kira-kira 68 persen dari total BOD. Terdapat pembatasan BOD yang penting sebagai petunjuk dari pencemaran organik. Apabila ion logam yang beracun terdapat dalam sampel maka aktivitas bakteri akan terhambat sehingga nilai BOD menjadi lebih rendah dari yang semestinya. Pada Tabel dapat dilihat waktu yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik di dalam air. Pengujian BOD menggunakan metode Winkler-Alkali iodida azida, adalah penetapan BOD yang dilakukan dengan cara mengukur berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam sampel yang disimpan dalam botol tertutup rapat, diinkubasi selama 5 hari pada temperatur kamar, dalam metode Winkler digunakan larutan pengencer MgSO4, FeCl3, CaCl2 dan buffer fosfat. Kemudian dilanjutkan dengan metode Alkali iodida azida yaitu dengan cara titrasi, dalam penetapan kadar oksigen terlarut digunakan pereaksi MnSO4, H2SO4, dan alkali iodida azida. Sampel dititrasi dengan natrium thiosulfat memakai indikator amilum.

Waktu (hari)

Bahan Organik Teroksidasi (%)

Waktu (hari)

Bahan Organik Teroksidasi (%)

0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0

11 21 30 37 44 50 60 68 80 75

8.0 9.0 10.0 11.0 12.0 13.0 14.0 16.0 18.0 20.0

84 87 90 92 94 95 96 97 98 99

Tabel : Waktu yang dibutuhkan untuk mengoksdasi bahan bahan organik pada suhu 200 oC (sumber : Standard Methods for Examination of Water and Waste Water)

Penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme

tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang hampir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar 9 ppm pads suhu 20C. Penguraian bahan organik secara biologis di alam, melibatkan bermacam-macam organisme dan menyangkut reaksi oksidasi dengan hasil akhir karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pemeriksaan BOD tersebut dianggap sebagai suatu prosedur oksidasi dimana organisme hidup bertindak sebagai medium untuk menguraikan bahan organik menjadi CO2 dan H2O. Reaksi oksidasi selama pemeriksaan BOD merupakan hasil dari aktifitas biologis dengan kecepatan reaksi yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi dan suhu. Karenanya selama pemeriksaan BOD, suhu harus diusahakan konstan pada 20C yang merupakan suhu yang umum di alam. Secara teoritis, waktu yang diperlukan untuk proses oksidasi yang sempurna sehingga bahan organik terurai menjadi CO2 dan H2O adalah tidak terbatas. Dalam prakteknya di laboratoriurn, biasanya berlangsung selama 5 hari dengan anggapan bahwa selama waktu itu persentase reaksi cukup besar dari total BOD. Nilai BOD 5 hari merupakan bagian dari total BOD dan nilai BOD 5 hari merupakan 70 - 80% dari nilai BOD total. Penentuan waktu inkubasi adalah 5 hari, dapat mengurangi kemungkinan hasil oksidasi ammonia (NH3) yang cukup tinggi. Sebagaimana diketahui bahwa, ammonia sebagai hasil sampingan ini dapat dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat, sehingga dapat mempengaruhi hasil penentuan BOD. Reaksi kimia yang dapat terjadi adalah : 2NH3 + 3O2 2NO2 + O2 2NO2- + 2H+ + 2H2O 2NO3-

BAB III METODOLOGI 3.1 Pembebasan Reduktor Dari Labu Erlenmeyer


Pencampuran pada Gelas Erlenmeyer 250 ml

100 ml air keran 5ml H2SO4 6N

3 butir batu didih beberapa ml KMnO4 0,01 N

Panaskan

---------- 10 menit

Buang Cairan, setelah warna KmnO4 tidak hilang

3.2

Penetapan Angka KMnO4


Pencampuran pada Gelas Erlenmeyer bebas reduktor

10 ml Sampel 90 ml aquadest

10 ml H2SO4 6N

10 menit ----------------

didihkan

10 ml KMn O4 0,01 N

Campuran larutan yang telah dididihkan

10 ml H2C2O4 0,01 N

Titrasi dengan KMnO4 0,01 N

Catat Volume KMnO4 0,01 N

3.3

Penetapan Faktor Ketelitian KMnO4


Larutan bekas titrasi

10 ml H2C2O4 0,01 N

Larutan KMnO4

Titrasi

Catat Volume yang digunakan

3.4

Pembuatan Pengencer
Pencampuran

3,0 ml lar.buffer fosfat 3,0 ml lar. CaCl2 3000 ml aquadest

3,0 ml larutan MgSO4 3,0 ml bibit mikroba

30 menit ------------------------

Aerasi

Bila didapat KMnO4 sebesar 100mg/L untuk air limbah domestik pada umumnya dapat dilakukan tiga pengenceran dengan: P1 = 100/3 = 35 artinya 1 bagian sampel + 34 bagian pengenceran (20 bagian sampel + 680 bagian pengenceran) P2 = 100/5 = 20 artinya 1 bagian sampel + 19 bagian pengenceran (35 bagian sampel + 665 bagian pengenceran) P1 = 100/7 = 15 artinya 1 bagian sampel + 14 bagian pengenceran (47 bagian sampel + 653 bagian pengenceran)

P1
Pencampuran

20 ml sampel

680 ml pengencer

Botol 1

Botol 2

Tetapkan O2 terlarut

Inkubasi

------ T = 20oC , t = 5 hari

3.5

Penetapan Oksigen Terlarut Berdasarkan Metode Winkler


Botol berisi sampel

1 ml MnSO4

1ml larutan pereaksi O2

Botol ditutup, pengocokan

Diamkan, perhatikan endapan.

1ml H2SO4 pekat

Cairan di botol, pengocokan

Cairan di Erlenmeyer, pengocokan

1ml H2SO4 pekat

Titrasi (warna kuning jerami)

Titrasi (warna kuning jerami)

Lar. Tiosulfat 1/80 N

Beberapa tetes larutan kanji

Hasil Titrasi

Hasil Titrasi

Beberapa tetes larutan Kanji

Titrasi (warna biru hilang)

Titrasi (warna biru hilang)

Catat Volume Tiosulfat

Catat Volume Tiosulfat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENGOLAHAN DATA 4.1.1 Penetapan Angka KMnO4 Perhitungan Angka KMnO4 mL KMnO4 yang dibutuhkan 4.1.2 Faktor ketelitian (f) = 7,3 ml 4.1.3 Angka KMnO4 Angka KMnO4 = = x {(10,0 + a) f 10,0} 0,01 x 31,6 x {(10,0 + 6,5) 7,3 10,0} 0,01 x 31,6 (a) = 6,5 mL

Penetapan Faktor Ketelitian KMnO4

= 349,022 mg/L

Pengenceran Angka KMnO4 diperoleh = 349,022 mg/L Maka digunakan P1 = = 116,34

Dibuat volume 1400 mL. 12 mL sampel dicampur 1388 mL pengencer.

Penetapan Oksigen Terlarut Metoda Winkler

mg/L O2 =

volume botol = 350 ml

mL thiosulfat Botol BOD0-1 Botol BOD7-1 Botol BOD0-2 Botol BOD7-2 Blanko hari ke-0 Blanko hari ke-7 26 23,8 26,3 24,1 25,5 27,0

mg/L O2 7,471 6,839 7,557 6,925 7,327 7,758

4.1.4

Perhitungan DO Botol BOD0-1 = = 7,471 mg/L O2 (A)

mg/L O2 =

Botol BOD7-1 = = 6,839 mg/L O2(B)

mg/L O2 =

Botol BOD0-2 = = 7,557 mg/L O2(Y)

mg/L O2 =

Botol BOD7-2 = = 6,925 mg/L O2(Z)

mg/L O2 =

Blanko hari ke-0 = = 7,327mg/L O2(C)

mg/L O2 =

Blanko hari ke-7 = = 7,758 mg/L O2(D)

mg/L O2 =

4.1.5

Perhitungan BOD BOD(1) = P (A B) (C - D) = 116,34 ( 7,471 6,839) (7,327 7,758) = 73,957 mg/l BOD(2) = P (Y Z) (C - D) = 116,34 ( 7,557 6,925) (7,327 7,758) = 73,957 mg/l

4.2

PEMBAHASAN Oleh Muhamad Aliyudin M (101411044) Pada praktikum ini dilakukan untuk mengetahui nilai kebutuhan oksigen biologi

(BOD) pada larutan sampel. Nilai BOD ini menunjukkan banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik pada kondisi aerobik. Kondisi aerobik atau dengan adanya penambahan oksigen dilakukan untuk memberikan sumber kehidupan bagi mikroorganisme yang membutuhkan proses oksidasi sehingga menjadi sumber energi saat memecah bahan organik sebagai sumber makanan. Kadar BOD pada sampel tersebut perlu untuk diketahui karena nilai BOD digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat pencemaran air sebelum dibuang ke lingkungan. Pengukuran nilai BOD yang dilakukan ini menggunakan metoda Winkler. Metoda ini merupakan metoda titrasi yang menggunakan prinsip iodometri. Dengan menggunakan metoda ini, sampel tersebut diencerkan. Tujuan dari

pengenceran ini adalah menjaga kondisi oksigen tetap terpenuhi dalam sampel, karena jika konsentrasi terlalu tinggi dapat terjadinya ketidakstabilan kelarutan oksigen dalam sampel, sebab oksigen memiliki keterbatasan kelarutan dalam air. Kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar +9 ppm pada suhu 20oC. Pada praktikum ini dilakukan pengukuran terhadap BOD setelah tujuh hari setelah inkubasi pada suhu 20oC selama tujuh hari, dengan anggapan bahwa waktu selama itu presentasi reaksi cukup besar dari total BOD (70-80% dari nilai BOD total). Pengambilan waktu selama tujuh hari ini juga memungkinkan mengurangi kemungkinan hasil oksidasi ammonia yang cukup tinggi, yang dapat teroksidasi menjadi nitrit dan nitrat, sehingga dapat mempengaruhi nilai BOD. Setelah dimasukkan ke dalam botol BOD, kemudian dilakukan penetapan nilai DO0 dan DO7. DOo diperoleh dari hasil titrasi pada saat pembuatan sampel selesai, dengan menitrasinya dengan larutan Thiosulfat 1/80 N. Sedangkan penentuan nilai DO7 dilakukan setelah sampel diinkubasi selama tujuh hari. Dari hasil titrasi tersebut, diperolehniali DO denganhasil yang menunjukan perbedaan akibat waktu dan konsentrasinya. Dari data pengamatan diperoleh bahwa nilai oksigen terlarut setelah tujuh hari lebih kecil dibandingkan dengan nilai oksigen terlarut pada awal pembuatan sampel. Hasil ini

menunjukkan terdapat penurunan nilai oksigen yang menunjukkan penggunaan oksigen oleh mikroorganisme (aerobik) untuk menguraikan bahan-bahan organik dari sampel pabrik tekstil tersebut. Hasil diperoleh bahwa nilai BOD rata-rata dari kedua sampel yang diuji adalah 73,957mg/l. Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan bahan organik pada sampel cukup rendah dengan diketahui kebutuhan oksigen untuk menguraikan bahan organik tersebut ada di bawah nilai baku mutu BOD maksimal yaitu sekitar 150 mg/l.

Oleh Nurul Aini Kesuma Wardhani (101411047) Pada percobaan yang dilakukan praktikan adalah untuk mengetahui nilai BOD dari suatu sampel, dimana parameter BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan mikroorganisma untuk mendegradasi senyawa organik. Langkah awal yang dilakukan adalah pembebasan reduktor dari labu erlenmeyer, hal ini dilakukan karena dapat berpengaruh pada hasil analisis pada penentuan angka KMnO4. Dalam pembebasan reduktor dalam labu erlenmeyer digunakan air kran yang berfungsi sebagai pelarut bagi pengotor lainnya, kemudian penambahan H2SO4 berfungsi sebagai pembentuk suasana asam, karena dalam suasana asam ion mangan dalam larutan akan mempercepat reaksi reduksi yang ketika bereaksi dengan KMnO4 akan membentuk oksidator kuat sehingga dapat bereaksi dengan reduktor dalam labu erlenmeyer dan labu dapat terbebas dari reduktor. Setelah pembebasan reduktor dalam erlenmeyer selanjutnya dilakukan penentuan angka KMnO4 yang bertujuan sebagai perkiraan kebutuhan oksigen untuk mendapatkan pengenceran yang mendekati nilai yang dibutuhkan. Zat organik yang terkandung di dalam sampel dioksidasi oleh KMnO4. Kemudian dilakukan penambahan asam oksalat, tujuan penambahan asam oksalat adalah untuk mereduksi kelebihan KMnO4. Berdasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan angka KMnO4 adalah sebesar 316, sehingga pengencer yang ditambahkan sebanyak 1388 mL dan sampel sebanyak 12 mL (total volume 1400 mL). Pengencer yang sudah ditambahkan bibit mikroorganisma kemudian ditambahkan larutan CaCl2; FeCl3; dan MgSO4 sebagai nutrisi/substart yang bertujuan untuk mengaktifasi mikroorganisma sehingga dapat hidup sampai hari ke-7 dan suplai oksigen bagi mikroorganisma tersebut (bersifat aerobik) didapat dari proses aerasi. Pada penetapan faktor ketelitian KMnO4 didapatkan nilai sebesar 7,3 mL. Selanjutnya adalah penetapan kadar oksigen terlarut pada sampel awal yang dinyatakan dalam DO0 dan hasilnya akan dibandingkan dengan sampel yang diinkubasi selama 7 hari atau dinyatakan dengan DO7 sehingga dapat diketahui nilai BOD dalam sampel. Pengambilan data pada sampel di hari ke-7 dianggap representatif karena pada hari ke 5-8 nilai BOD telah mencapai 70-80% dari nilai BOD total. Pada penetapan oksigen terlarut dalam DO0 dengan menggunakan metoda Winkler proses analisis DO

dilakukan dengan penambahan MnSO4 dan pereaksi O2 yang membentuk endapan MnO2. Setelah terbentuk endapan kemudian botol DO0 tersebut ditambahkan H2SO4 kemudian dititrasi menggunakan natrium tiosulfat (Na2S203) hingga warna larutan menjadi kuning jerami, kemudian ditambahkan amilum hingga berwarna biru dan dititrasi kembali hingga warna biru hilang. Kebutuhan natrium tiosulfat kemudian digunakan untuk perhitungan kandungan oksigen dalam sampel sehingga nilai BOD-nya dapat diketahui. Berdasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan nilai BOD sebesar 73,957 mg/l, dan dapat disimpulkan bahwa nilai BOD pada sampel tidak berlebih atau masih aman karena masih dibawah nilai baku mutu BOD maksimal yaitu sebesar 150 mg/l.

Oleh Nurul Anisa Hakim (101411048) Dalam percobaan BOD (kebutuhan oksigen biokimia) bertujuan untuk menentukan nilai BOD dari suatu sampel. Nilai BOD dalam sampel menjadi parameter pencemaran air. Pada percobaan dilakukan metoda Winkler, untuk mempermudah penetapan nilai BOD karena jika konsentrasi terlalu tinggi akan memerlukan waktu yang cukup lama. Penentuan amgka KMnO4 dalam sampel merupakan parameter untuk mengetahi nilai pengenceran dari sampel, pada percobaan diperoleh angka KMnO4 sebesar 316, sehingga pengencer yang ditambahkan sebanyak 1388 mL dan sampel sebanyak 12 mL (volume total 1400 mL). Pada pengencer digunakan CaCl2; FeCl3; dan MgSO4 sebagai sumber mineral pada bibit mikroba yang digunakan, buffer fosfat sebagai penyangga pH agar pertumbuhan mikroba optimum, dan fungsi aerasi selama 30 menit adalah untuk memberi oksigen pada mikroba aerobic agar bisa tumbuh secara optimum. Pada penentuan nilai DO0 aatu DO7, sampel ditambahkan MnSO4 dan pereaksi O2 yang berfungsi untuk membentuk endapan MnO2. Pada metoda iodometri, penambahan H2SO4 berfungsi untuk melarutkan endapan MnO2 dan membebaskan oksigen terlarut. Larutan Na2S2O4 berfungsi sebagai penitran, dan indicator yang digunakan adalah larutan amilum dengan perubahan warna yang ditunjukkan adalah dari warna biru tua sampai warna biru hilang. Nilai DO0 dapat ditentukan pada saat awal, sebelum sampel di inkubasi pada suhu 20 C. sedangkan nilai DO7 ditentukan setelah tujuh hari inkubasi pada suhu 20 oC. Pada BOD7 diasumsikan bahwa niali tersebut merupakan niali BOD total atau 70-80% mewakili nilai BOD total. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai BOD7 dari sampel adalah 73,957mg/l, nilai tersebut menunjukkan kandungan zat organik pada sampel karena nilai baku mutu BOD maksimal yaitu sekitar 150 mg/l.
o

DAFTAR PUSTAKA Utami, Fristy., Gilang Rifani, Helmi Mauluddin Alrasyid. 2011. Laporan Pengolahan Limbah Industri Analisa BOD. Jurusan Teknik Kimia. Politeknik Negeri Bandung Lirka, Narke Lola. Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan ChemicalOxygen Demand (COD). http://www.scribd.com/doc/41015698/BOD-dan-COD#download

(diakses pada 25 September 2012)