Anda di halaman 1dari 3

PATOFISIOLOGI REFLUKS GASTROESOFAGEAL Oleh: Jihan Rigel Fitrian/ 1006672592

Esofagus dijaga di kedua ujungnya oleh sfingter. Sfingter adalah struktur berotot berbentuk seperti cincin yang jika tertutup, mencegah lewatnya benda melalui saluran yang dijaganya. Sfingter esofagus untuk bagian atas disebut dengan sfingter faringoesofagus sedangkan sfingter bawahnya disebut sfingter gastroesofagus. Kecuali sewaktu menelan, sfingter faringoesofagus menjaga pintu masuk esofagus tetap tertutup untuk mencegah masuknya sejumlah besar udara ke dalam esofagus dan lambung saat benapas. Apabila tidak ada sfingter faringoesofagus, saluran pencernan akan menerima banyak gas dan menyebabkan bersendawa yang berlebihan pada seseorang. Selama menelan, sfingter ini akan berkontraksi sehingga sfingter terbuka dan bolus dapat lewat ke dalam esofagus. Setelah bolus berada dalam esofagus, sfingter akan menutup, saluran pernapasan terbuka dan bernapas dapat kembali dilakukan. Tahap orofaring selesai dan tahap ini kira-kira memakan waktu satu detik setelah proses menelan dimulai. Tahap esofagus menelan sekarang dimulai. Pusat menelan memulai gelombang peristaltik primer yang mengalir dari pangkal ke ujung esofagus, mendorong bolus di depannya melewati esofagus ke lambung. Peristaltik mengacu pada kontraksi berbentuk cincin otot polos sirkuler yang bergerak secara progresif ke depan dengan gerakan mengosongkan, mendorong bolus ke depan dengan cara kontraksi otot polos tersebut. Gelombang peristaltik berlangsung sekitar lima sampai sembilan detik untuk mencapai ujung bawah esofagus. Sfingter gastroesofagus akan melemas secara refleks saat gelombang peristaltik mencapai bagian bawah esofagus sehingga bolus dapat masuk ke dalam lambung. Setelah bolus masuk ke lambung, sfingter gastroesofagus kembali berkontraksi untuk mempertahankan sawar antara esofagus dan lambung, sehingga mengurangi kemungkinan refluks isi lambung yang asam kembali ke dalam esofagus. Apabila isi lambung mengalir kembali ke esofagus akibat dari sfingter yang tidak berkontraksi ataupun relaksasi yang tidak adekuat, keasaman isi lambung tersebut akan mengiritasi esofagus, menimbulkan sensasi terbakar pada esofagus hingga dada yang dikenal sebagai heartburn. Kondisi ini disebut dengan GERD: Gastroesophageal Reflux Disease.

Pada kebanyakan orang dengan GERD, mekanisme pertahanan endogen sebenarnya berfungsi dengan baik untuk membatasi jumlah bahan berbahaya yang masuk ke esofagus atau cepat membersihkan materi-materi berbahaya yang ada sehingga gejala dan iritasi mukosa esofagus diminimalkan. Contoh mekanisme pertahanan ini mencakup tindakan dari mekanisme pembersihan dengan saliva, mekanisme lower esophageal sphincter (LES) dan motilitas esofagus normal. Ketika mekanisme pertahanan rusak atau menjadi kewalahan dan tekanan intraabdominal terus meningkat maka esofagus akan penuh dengan asam lambung untuk periode yang lama. Hal inilah yang menyebabkan tanda dan gejala GERD tidak dapat terelakkan terjadi.

GERD dapat menyebabkan terjadinya heartburn, regurgitasi (mengalirnya kembali isi lambung atau esofagus ke faring), aspirasi isi lambung ke dalam pohon treakeobronkial sehingga penderita mengalami gejala batuk atau mengi, disfagia (kesulitan menelan karena melemahnya otot-otot esofagus), iritasi pada pita suara (suara serak), pada anak disertai dengan rewel terus menerus, dan tidak mau makan. Jika terjadi secara bekerpanjangan, GERD menyebabkan terjadinya striktur esophageal, tukak kerongkongan, dan sindrom Barret. Striktur esophageal adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada esofagus. Kondisi ini terjadi ketika lapisan esofagus menjadi jaringan parut atau rusak karena asam lambung pada peristiwa refluks dan menyebabkan terbentuknya jaringan yang rusak pada cincin esofagus sehingga terjadi penyempitan pada esofagus. Adanya striktur esophageal menyebabkan pasien menjadi lebih kesulitan pada saat menelan makanan padat sehingga pasien anak khususnya tidak mau makan dan akhirnya dapat mengalami penurunan berat badan yang

tidak diinginkan dan mengganggu proses pertumbuhannya. Tanda dan gejala pada striktur esophageal adalah kesulitan menelan, hematemesis, rasa sakit saat menelan, regurgitasi makanan, sering bersendawa, cegukan, dan tinja berwarna hitam. GERD yang berat dan lama juga dapat menyebabkan esofagus Barrett yaitu suatu kondisi medis dimana paparan jangka panjang terhadap asam lambung akibat refluks menyebabkan perubahan abnormal pada sel-sel di bagian bawah esofagus yang dapat meningkatkan resiko untuk berkembangnya kanker esofagus.

Hampir semua bayi mengalami peristiwa GERD, yang ditandai dengan gumoh, bersendawa, atau meludah. Gumoh tersebut biasanya terjadi segera setelah makan dan akan dianggap normal. Namun kondisi ini perlu perhatian yang lebih jika; 1) menganggu pertumbuhan anak, 2) adanya iritasi dan kerusakan pada esofagus (esofagitis), 3) kesulitan bernafas, dan 4) terus terjadi hingga berlanjut melewati masa bayi sampai kanak-kanak. Pada bayi, otot sfingter gastroesofagus yang memiliki peranan besar dalam mencegah isi lambung masuk kembali ke saluran esofagus ini mengalami gangguan, misalnya karena perkembangan yang abnormal pada otot ataupun adanya kondisi relaksasi pada otot yang tidak sesuai pada waktunya. Selain itu, berbaring setelah makan dapat juga menyebabkan refluks akibat dari pengaruh gravitasi yang tidak mampu untuk membantu menjaga makanan agar tetap di dalam lambung dan tidak kembali naik ke esofagus. Asap rokok dan kafein juga dapat mempengaruhi fungsi dari sfingter gastroesofagus, menyebabkan terjadinya pengenduran pada otot sehingga membuat refluks bisa terjadi lebih sering. Kandungan kafein dan nikotin pada air susu ibu juga merangsang produksi asam berlebihan sehingga refluks yang terjadi pada bayi atau anak dapat bersifat lebih asam. Daftar Pustaka: Anonim. (2012). Penyakit Refluks Gastroesofageal. http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/penyakit-refluksgastroesofageal-_-951000103484. (diakses pada tanggal 9 Oktober 2012 pk. 20.00 WIB). DiMarino, M.C., MD. (2007). Gastroesophageal Reflux Disease. http://www.merckmanuals.com/professional/gastrointestinal_disorders/esophageal_and_s wallowing_disorders/gastroesophageal_reflux_disease_gerd.html. (diakses pada tanggal 9 Oktober 2012 pk. 07.00 WIB). Judarwanto, dr. Widodo, Sp.A. (2012). Penanganan Terkini Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). http://childrengrowup.wordpress.com/2012/05/05/penanganan-terkinigastroesopagheal-reflux-disease-gerd/. (diakses pada tanggal 9 Oktober 2012 pk. 07.00 WIB).