Anda di halaman 1dari 35

Laporan Pendahuluan Bronkitis BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sistem pernapasan merupakan salah satu dari sistem organ yang ada dalam tubuh manusia. Dalam sistem pernapasan ini tersusun oleh beberapa organ yang bekerja. Salah satunya adalah Bronkhi ( Bronchus ).

B. Tujuan 1) Tujuan Umum Dengan penyusunan makalah ini diharapkan agar mahasiswa/i Akademi Keperawatan Dirgahayu mampu memahami, mengerti tentang Asuhan Keperawatan Anak dengan Bronchitis. 2) Tujuan Khusus Dengan penyusunan makalah ini, diharapkan agar mahasiswa/i Akademi Keperawatan Dirgahayu mampu menjelaskan, menerapkan, dan mengaplikasikan tentang : a. Penjelasan atau konsep dasar Bronchitis. b. Konsep penatalaksanaan medis pada klien yang menderita Bronchitis. c. Pengkajian status kesehatan anak yang menderita Bronchitis. d. Gejala dan tanda yang biasa ditemukan pada klien Bronchitis. e. Penegakan dianosa keperawatan berdasarkan dara subjektif dan objektif sesuai dengan gejala dan tanda yang didapat pada klien anak Bronchitis. f. Pembuatan atau penyusunan rencana Asuhan Keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan yang terjadi meliputi : tujuan keperawatan, prinsip intervensi dan rasional. g. Pelaksanaan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi dan keadaan anak. h. Pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan Asuhan Keperawatan sesuai dengan kriteria tujuan. i. Pelaksanaan dokumentasi keperawatan dengan tepat dan benar. BAB II LAPORAN PENDAHULUAN BRONCHITIS A. Pengertian Bronchitis adalah peradangan dari satu atau lebih bronchus (Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 25). Bronchitis adalah radang cabang-cabang tenggorokan. Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai oleh adanya inflamasi bronchus (Perawatan Anak Sakit, Ngastiyah, hal. 55) B. Klasifikasi

1) Bronchitis akut merupakan suatu perandangan dari bronchiole, bronchus, dan trakea oleh berbagai sebab dan mendadak atau tiba-tiba berlangsung sementara. 2) Bronchitis kronis merupakan suatu sindrom dimana terdapat batuk kronis produktif selama paling sedikit 3 bulan dalam 1 tahun dan terjadi berulang kali dalam jangka 2 tahun. C. Etiologi 1) Penghirupan zat iritan fisik atau kimia infeksi bakteri. 2) Asap mengiritasi jalan nafas yang dapat mengakibatkan hypersekresi lendir dan inflamasi. 3) Penyumbatan dan penyempitan bronchiolus. 4) Malnutrisi. 5) Kelelahan.

D. Patofisiologi Masuknya infeksi viral, bakteri, polutan, kedinginan, kelelahan dan malnutrisi pada anak dapat mengakibatkan terjadinya hiperemia membran mukosa pada dinding bronchus dan terjadi desquamasi mukosa yang dapat mengakibatkan udem pada dinding bronchus. Selanjutnya, dapat mengakibatkan infiltrasi leukosit dari submukosa bronchus. Dan akan terjadi produksi eksudat mucopurelent pada proses ini ditandai dengan batuk-batuk kecil ini sebagai respon tubuh. Silia bronchus berfungsi untuk sel fagosit memfagosit dari sel-sel yang rusuk dan dapat mengakibatkan pembesaran pada limfe dimana sebagai tanda adanya peradangan. Dimana terjadi gangguan limfe. Bakteri yang masuk dapat menginfeksi bronchus yang dapat mengakibatkan akumulasi sel dan eksudat mucopurulent dan dapat terjadi obstruksi jalan nafas. SKEMA PATOFISIOLOGI BRONCHITIS Infeksi viral Polutan Kedinginan Hyperemi membran mukosa Desquamasi mukosa Udema pada dinding bronchus Infiltrasi leukosit dari sub mukosa bronchus Produksi eksudat mucopurelent Gangguan limfe

Lelah

Malnutrisi

Bakteri masuk ke bronchioli yang steril Obstruksi jalan nafas Udema dinding bronchioli Rerensi sekrat Bersihan jalan nafas tidak efektif Spasme musculus Bronchioli Gangguan pertukaran gas, intoleransi aktivitas

Bronkitis Akut Bronkitis ( bronchitis ) adalah peradangan (inflamasi) pada selaput lendir (mukosa) bronchus (saluran pernafasan dari trachea hingga saluran napas di dalam paru-paru). Peradangan ini mengakibatkan permukaan bronchus membengkak (menebal) sehingga saluran pernapasan relatif menyempit. Bronkitis terbagi atas 2 jenis, yakni: bronkitis akut dan bronkitis kronis. Istilah akut dan kronis adalah terminologi (istilah) berdasarkan durasi berlangsungnya penyakit, bukan berat ringannya penyakit. Bronkitis akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan. PENYEBAB Penyebab terserang Bronkitis akut adalah virus, yakni virus influenza, Rhinovirus, Adenivirus, dan lain-lain. Sebagian kecil disebabkan oleh bakteri (kuman), terutama Mycoplasma pnemoniae, Clamydia pnemoniae, dan lain-lain. TANDA TANDA Keluhan yang kerap dialami penderita bronkitis akut, meliputi: Batuk (berdahak ataupun tidak berdahak). Demam (biasanya ringan), rasa berat dan tidak nyaman di dada. Sesak napas, rasa berat bernapas, Kadang batuk darah. Pemeriksaan: Pada pemeriksaan menggunakan stetoskop (auskultasi), terdengar ronki, wheezing dengan berbagai gradasi (perpanjangan ekspirasi hingga ngik-ngik) dan krepitasi (suara kretek-kretek dengan menggunakan stetoskop). Biasanya para dokter menegakkan diagnosa berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Itu sudah cukup. Adapun pemeriksaan dahak maupun rontgen dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan untuk menyingkirkan diagnosa penyakit lain. PENGOBATAN

Sebagian besar pengobatan bronkitis akut bersifat simptomatis (meredakan keluhan). Obatobat yang lazim digunakan, yakni: Antitusif (penekan batuk): DMP (dekstromethorfan) 15 mg, diminum 2-3 kali sehari. Codein 10 mg, diminum 3 kali sehari. Doveri 100 mg, diminum 3 kali sehari. Obat-obat ini bekerja dengan menekan batuk pada pusat batuk di otak. Karenanya antitusif tidak dianjurkan pada kehamilan dan bagi ibu menyusui. Demikian pula pada anak-anak, para ahli berpendapat bahwa antitusif tidak dianjurkan, terutama pada anak usia 6 tahun ke bawah. Pada penderita bronkitis akut yang disertai sesak napas, penggunaan antitusif hendaknya dipertimbangkan dan diperlukan feed back dari penderita. Jika penderita merasa tambah sesak, maka antitusif dihentikan. Ekspektorant: adalah obat batuk pengencer dahak agar dahak mudah dikeluarkan sehingga napas menjadi lega. Ekspektorant yang lazim digunakan diantaranya: GG (glyceryl guaiacolate), bromhexine, ambroxol, dan lain-lain. Antipiretik (pereda panas): parasetamol (asetaminofen), dan sejenisnya., digunakan jika penderita demam. Bronkodilator (melongarkan napas), diantaranya: salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin, aminofilin, dan lain-lain. Obat-obat ini digunakan pada penderita yang disertai sesak napas atau rasa berat bernapas. Penderita hendaknya memahami bahwa bronkodilator tidak hanya untuk obat asma, tapi dapat juga digunakan untuk melonggarkan napas pada bronkitis. Selain itu, penderita hendaknya mengetahui efek samping obat bronkodilator yang mungkin dialami oleh penderita, yakni: berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin. Andaikata mengalami efek samping tersebut, maka dosis obat diturunkan menjadi setengahnya. Jika masih berdebar, hendaknya memberitahu dokter agar diberikan obat bronkodilator jenis lain. Antibiotika. Hanya digunakan jika dijumpai tanda-tanda infeksi oleh kuman berdasarkan pemeriksaan dokter. Diskripsi Rontgen. Cor/ jantung : bentuk dan besarnya dalam batas normal. Pulmo/ jaringan paru : nampak gambaran infiltrat dan seterusnya corakan ramai pada hemithorax kanan dan kiri dan seterusnya. corakan ramai ini kerap menimbulkan tanda tanya penderita, bahkan tak jarang penderita ketakutan, sampai-sampai ada yang tidak bisa tidur, sebelum mendapatkan penjelasan dokter. Karena menganggap kata corakan identik dengan krowok (bahasa jawa: berlubang). Padahal sejatinya corakan ramai adalah terjemahan dari peningkatan bronchovascular pattern yang artinya gambaran pembuluh darah disekitar bronkus. Dalam keadaan normal, bronchovascular pattern tidak melebihi setengah dari garis vertikal salah satu bagian paruparu (hemithorax). Pada keadaan tertentu, bronchovascular pattern meningkat melebihi setengah garis vertikal salah satu bagian paru (paru kanan atau paru kiri), termasuk pada bronkitis. PENATALAKSANAAN Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok : Pengobatan konservatif, terdiri atas : 1. Pengelolaan umum Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis, meliputi :

Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien : Contoh : Membuat ruangan hangat, udara ruangan kering. Mencegah / menghentikan rokok Mencegah / menghindari debu,asap dan sebagainya. Memperbaiki drainase secret bronkus, cara yang baik untuk dikerjakan adalah sebagai berikut : - Melakukan drainase postural Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 20 menit, tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya, dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari. - Mencairkan sputum yang kental Dapat dilakukan dengan jalan, misalnya inhalasi uap air panas, mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya. - Mengatur posisi tepat tidur pasien Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai untuk memudahkan drainase sputum. - Mengontrol infeksi saluran nafas. Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan jalan mencegah penyebaran kuman, apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan. 2. Pengelolaan khusus. - Kemotherapi pada bronchitis Kemotherapi dapat digunakan : secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA ) untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru atau kedua-duanya digunakan Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih, pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric. Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis, tidak pada setiap pasien harus diberikan antibiotic. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut, antibiotic diberikan selama 7-10 hari dengan therapy tunggal atau dengan beberapa antibiotic, sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih ). Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk, jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut, tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara. - Drainase secret dengan bronkoskop Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan pasien. Keperluannya antara lain :

1. Menentukan dari mana asal secret 2. Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus 3. Menghilangkan obstruksi bronkus dengan suction drainage daerah obstruksi. 4. Pengobatan simtomatik Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien. 5. Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru (%FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator. 6. Pengobatan hipoksia. Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen. 7. Pengobatan haemaptoe. Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan. Pengobatan demam. LP dan ASKEP BRONKITIS KRONIS Pengertian Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2, 1998, hal : 490). Etiologi Rokok Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronchitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan VEP (volume ekspirasi paksa) 1 detik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus epitel saluran pernafasan juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut. Infeksi Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie. Polusi Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. Zat zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis adalah zat zat pereduksi seperti O2, zat zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon. Tanda dan Gejala Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya, dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya haemaptoe dan pneumonia

berulang. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Batuk, mulai dengan batuk batuk pagi hari, dan makin lama batuk makin berat, timbul siang hari maupun malam hari, penderita terganggu tidurnya. Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi purulen atau mukopuruen dan kental. Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang kadang disertai tanda tanda payah jantung kanan, lama kelamaan timbul kor pulmonal yang menetap. Komplikasi Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain : Bronchitis kronik Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik. Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena. Efusi pleura atau empisema Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian. Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena (arteri pulmonalis), cabang arteri (arteri bronchialis) atau anastomisis pembuluh darah. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat. Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas. Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan. Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas. Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea. ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian. Data dasar pengkajian pada pasien dengan bronchitis Aktivitas/istirahat Gejala : Keletihan, kelelahan, malaise. Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari hari. Ketidakmampuan untuk tidur.

Tanda :

Dispnoe pada saat istirahat. Keletihan Gelisah, insomnia. Kelemahan umum/kehilangan massa otot. Pembengkakan pada ekstremitas bawah. Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung Distensi vena leher. Edema dependent Bunyi jantung redup. Warna kulit/membran mukosa normal/cyanosis Pucat, dapat menunjukkan anemi.

Sirkulasi Gejala : Tanda :

Integritas Ego Gejala : Peningkatan faktor resiko Perubahan pola hidup Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang. Makanan/cairan Gejala : Mual/muntah. Nafsu makan buruk/anoreksia Ketidakmampuan untuk makan Hygiene Gejala : Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan Tanda : Kebersihan buruk, bau badan. Pernafasan Gejala : Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama 3 bulan Episode batuk hilang timbul. Tanda : Pernafasan biasa / cepat. Penggunaan otot bantu pernafasan Bentuk barel chest, gerakan diafragma minimal. Bunyi nafas ronchi Perkusi hyperresonan pada area paru. Warna pucat dengan cyanosis bibir dan dasar kuku Keamanan Gejala : Riwayat reaksi alergi terhadap zat/faktor lingkungan. Adanya/berulangnya infeksi. Seksualitas Gejala : Penurunan libido Interaksi sosial Gejala : Hubungan ketergantungan Kegagalan dukungan/terhadap pasangan/orang dekat Penyakit lama/ketidakmampuan membaik. Tanda : Ketidakmampuan untuk mempertahankan suara karena distress -

pernafasan Keterbatasan mobilitas fisik. Kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain. Pemeriksaan diagnostik : Sinar x dada : Dapat menyatakan hiperinflasi paru paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area udara retrosternal, hasil normal selama periode remisi. Tes fungsi paru : Untuk menentukan penyebab dispnoe, melihat obstruksi, memperkirakan derajat disfungsi. TLC : Meningkat Volume residu : Meningkat. FEV1/FVC : Rasio volume meningkat. GDA : PaO2 dan PaCO2 menurun, pH Normal. Bronchogram : Menunjukkan di latasi silinder bronchus saat inspirasi, pembesaran duktus mukosa. Sputum : Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasipatogen. EKG : Disritmia atrial, peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF. Diagnosa keperawatan Kemungkinan Diagnosa keperawatan yang muncul adalah : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis. Intoleran aktifitas berhubungan dengan insufisiensi ventilasi dan oksigenasi. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan perawatan dirumah. Perencanaan Keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret. Tujuan : Mempertahankan jalan nafas paten. Rencana Tindakan: Auskultasi bunyi nafas Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas. Kaji/pantau frekuensi pernafasan. Rasional : Tachipnoe biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan selama / adanya proses infeksi akut. Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir Rasional : Memberikan cara untuk mengatasi dan mengontrol dispoe dan menurunkan jebakan udara. Observasi karakteristik batuk

Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada lansia, penyakit akut atau kelemahan Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret mempermudah pengeluaran. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronchus. Tujuan : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan. Rencana Tindakan: Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan. Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan kronisnya proses penyakit. Tinggikan kepala tempat tidur, dorong nafas dalam. Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispenea dan kerja nafas. Auskultasi bunyi nafas. Rasional : Bunyi nafas makin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi Awasi tanda vital dan irama jantung Rasional : Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Awasi GDA Rasional : PaCO2 biasanya meningkat, dan PaO2 menurun sehingga hipoksia terjadi derajat lebih besar/kecil. Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus. Tujuan : perbaikan dalam pola nafas. Rencana Tindakan: Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir Rasional : Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan teknik ini pasien akan bernafas lebih efisien dan efektif. Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dan periode istirahat Rasional : memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres berlebihan. Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernafasan jika diharuskan Rasional : menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnoe, anoreksia, mual muntah. Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan. Rencana Tindakan: Kaji kebiasaan diet. Rasional : Pasien distress pernafasan akut, anoreksia karena dispnea, produksi sputum. Auskultasi bunyi usus Rasional : Penurunan bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster.

Berikan perawatan oral Rasional : Rasa tidak enak, bau adalah pencegahan utama yang dapat membuat mual dan muntah. Timbang berat badan sesuai indikasi. Rasional : Berguna menentukan kebutuhan kalori dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Konsul ahli gizi Rasional : Kebutuhan kalori yang didasarkan pada kebutuhan individu memberikan nutrisi maksimal. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan menetapnya sekret, proses penyakit kronis. Tujuan : mengidentifikasi intervensi untuk mencegah resiko tinggi Rencana Tindakan: Awasi suhu. Rasional : Demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi. Observasi warna, bau sputum. Rasional : Sekret berbau, kuning dan kehijauan menunjukkan adanya infeksi. Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan sputum. Rasional : mencegah penyebaran patogen. Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat. Rasional : Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tekanan darah terhadap infeksi. Berikan anti mikroba sesuai indikasi Rasional : Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur. Tinjauan teori anak dengan Bronkhitis A. Latar Belakang Bronkhitis merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan karena virus maupun bakteri yang menyerang pada bayi, anak anak dan dewasa. Bagaimana Bronkhitis menyerang saluran pernapasan dan apa yang mengakibatkan hal tersebut terjadi ? serta bagaimanakah Asuhan Keperawatan yang dapat diberikan pada pasien dengan Bronkhitis ? hal tersebut dapat kita ketahui dalam makalah ini dengan lebih jelas. B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut : 1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah keperawatan Anak 2. Dapat memberikan informasi mengenai Bronkhitis dan Asuhan Keperawatan kepada pembaca dan mahasiswa kesehatan pada khususnya. C. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan atau sumber yang digunakan penulis yaitu menggunakan referensi dari buku buku perpustakaan dan internet. BAB II ISI

LAPORAN PENDAHULUAN I. DEFINISI 1. Bronkhitis adalah peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). (www.medicastore.com) 2. Bronkhitis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya inflamasi bronkus. (Ngastiyah, 2005) 3. Bronkhitis akut adalah penyakit infeksi saluran napas akut (ISNA) bawah yang sering dijumpai dan penyebabnya terutama virus. (FKUI) 4. Bronkhitis akut adalah suatu peradangan dari bronkoli, bronkus dan trakhea oleh berbagai sebab. (Junadi, 2000) 5. Bronkhitis merupakan akibat dari beberapa keadaan lain saluran pernapasan atas dan bawah dan trakhea biasanya terlibat. (Behrman, 1999) 6. Brnkhitis kronik adalah batuk produktif selama 3 bulan/lebih dalam 1 tahun, 2 tahun berturut-turut atau lebih. (Behrman, 1999) 7. Bronkhitis kronik adalah degenerasi saluran bronkus dengan atau tanpa infeksi aktif, tidak menular dan bukan kanker. (Griffith H. Winter, 1994) II. ETIOLOGI Bronkhitis infeksiosa disebabkan oleh virus, bakteri dan terutama organisme yang menyerupai bakteri (Micoplasma pneumoniae dan Clamidia). Serangan bronkhitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru dan saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari: Sinusitis kronis Bronkhiektasis Alergi Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak Resiko infeksi atau iritasi meningkat jika: Asap rokok Setiap penyakit paru yang menurunkan kekebalan tubuh. Dalam keluarga ada yang menderita Tuberculosis atau penyakit saluran pernapasan lainnya. Terpapar udara kotor (terpolusi). Gizi buruk. Kegemukan. Hidup di lingkungan yang padat/kumuh. Bronkhitis iritatif bisa disebabkan oleh: Berbagai jenis debu. Asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik, chlorin, hidrogen sulfida, sulfur bioksida dan bromin. Polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida. Tembakau dan rokok lainnya. Faktor predisposisi alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas kronik dapat menyebabkan terjadinya bronkhitis akut.

III. PATOFISIOLOGI Virus masuk ke saluran pernapasan atas terutama pada bronkus. Selain virus ada penyebab bronkhitis yaitu alergi yang mengakibatkan aktifitas sel mast. Keduanya menyebabkan terjadinya inflamasi bronkus dan penebalan dinding bonkus, kemudian menyebabkan hipertropi kelenjar mukosa dan kelenjar sel goblet. Kemudian sel epitezxl mengalami metaplasi skuamosa dan inflasi kronik menyebabkan sekresi mukoid/kental meningkat sehingga menyebabkan obstruksi jalan napas dan suplai O2 menurun, terjadilah dispneu. IV. PATHWAY KEPERAWATAN

V. MANIFESTASI KLINIK Gejalanya berupa: Batuk berdahak (dahak dapar berwarna kemerahan). Sesak napas ketika melakukan olahraga atau aktifitas ringan. Sering menderita infeksi pernapasan. Bengek. Lelah. Pembengkakan pergelangan kaki dan tungkai. Wajah, telapak tangan atau selaput lendir berwarna kemerahan. Pipi tampak kemerahan. Sakit kepala. Gangguan penglihatan. iosa sering kali dimulai dengan gejala seperti pilek (hidung meler), lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak dan berwarna kuning atau hijau. onkhitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu. terutama setelah batuk. a. Stadium Prodormal 1. Satu sampai 2 hari demam dan gejala saluran pernafasan bagian atas. 2. Gejala ini sering tidak nyata. b. Stadium Trakheobronkhial 1. Empat sampai enam hari dengan demam. 2. Batuk mula mula non produktif dan kemudian timbul ekspektorasi. 3. Demam biasanya tidak tinggi. c. Stadium Rekonvalesen 1. Panas turun.

2. 3.

Batuk berkurang kemudian sembuh. Pada stadium ini dapat terjadi infeksi sekunder oleh bakteri.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1) Tes fungsi paru-paru Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi oleh retriksi untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi missal bronchodilator. 2) Gas darah arteri Fungsinya untuk mendeteksi komplikasi infeksi dan pembiakan riak dan dahak untuk menemukan bakteri penyebabnya. 3) Rontgen dada (sinar X Dada) Fungsinya untuk menyingkirkan kemungkinan kolaps paru segmental dan lobber, benda asing dalam saluran napas dan tuberculosis. Dapat menyatakan hiperinflasi paru paru, mendatarnya diafragma, peningkatan area udara retrostenal, penurunan tanda vaskularisasi (bula lempisema). 4) Radiologi Foto thorak, ada gambaran peradangan pada bronkhus. 5) Laboratorium Leukosit meningkat, dari pemeriksaan darah tepi dijumpai peningkatan sel darah putih, eritrosit menurun, hemoglobin menurun. 6) Volume Residu Meningkat pada emfisema, bronkhitis kronis dan asma. 7) AGD Memperkirakan progesi proses penyakit kronis, misal : paling sering PaO2 menurun dan PaCO2 normal atau meningkat pada bronkhitis kronis dan emfisema. 8) Bronkogram Dapat menunjukan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kolaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema), pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkhitis. 9) EKG Disritmia atrial, peninggian gelombang P pada lead II, III, Anf. 10) EKG Lahan, Tes Stress Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan evaluasi program latihan. VII. KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS komplikasi Bronkhitis pad anak terutama pada anak dengan malnutrisi atau dengan kondisi kesehatan yang jelek menurut Behrman (1999) antara lain : 1. Otitis Media Akut OMA adalah keadaan terdapatnya cairan di dalam telinga tengah dengan tanda dan gejala infeksi, dan dapat disebabkan berbagai patogen termasuk Strptokokus Pneumoniae dan Haemophilus Influenzae. Mikroorganisme patogen penyebab bronkhitis menyebar dan masuk ke dalam saluran telinga tengah dan menimbulkan peradangan sehingga terjadi infeksi. 2. Sinusitis Maksilaris

Sinusitis Maksilaris yaitu peradangan sinus yang ada di sekitar hidung yang disebabkan oleh komplikasi peradangan jalan napas bagian atas, dibantu oleh adanya faktor predisposisi. Infeksi pada sinus dapat menyebabkan bronkospasme, sedangkan mukosa bronkus dapat disensitisasi oleh protein bakteri yang menghasilkan bronkospasme, oedema, dan hipersekresi sehingga mengakibatkan bronkhitis. 3. Pneumonia Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing. Juka bronkhitis tidak ditangani dengan baik secara tuntas atau jika daya tahan tubuh anak jelek, maka proses peradangan akan terus berlanjutdan berkembang sampai mengenai jaringan paru paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus yang biasa disebut bronkopneumonia. Gejala yang muncul umumnya berupa napas yang memburu atau cepat dan sesak napas karena paru paru mengalami peradangan. Pada bayi usia 2 bulan sampai 5 tahun, pneumonia berat ditandai adanya batuk atau kesukaran bernapas, sesak napas ataupun penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam. VIII. PENATALAKSANAAN 1. Tindakan umum - Jauhkanlah anak dari asap rokok. Asap rokok akan menghambat penyembuhan dan peningkatan terjadinya komplikasi. - Tingkatkan kelembaban udara, sering mandi dengan air hangat. 2. Pengobatan - Untuk gejala yang masih ringan, anda dapat menggunakan asetaminofen untuk mengurangi demam pada anak. Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa dapat diberikan aspirin. - Obat batuk boleh diminum jika batuk penderita tidak produktif (tidak ada riak). Menghentikan batuk dengan tiba-tiba dapat membahayakan, sebab lendir dapat tertahan dan mengiritasi saluran napas, menimbulkan pneumoni dan pertukaran oksigen dalam paru berkurang. - Antibiotik diberikan pada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan demamnya makin tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru. Pada penderita dewasa diberikan trimetoprim-sulfametoksazol, tetrasiklin/ampisilin. Pada penderita anak-anak diberikan amoxilin. JIKA PENYEBABNYA VIRUS, TIDAK DIBERIKAN ANTIBIOTIK. 3. Aktifitas Istirahatlah sampai suhu tubuh kembali normal dan mulailah kegiatan sehari-hari bertahap bersamaan dengan membaiknya penyakit. 4. Diit Tidak ada diit khusus, minum sekurang-kurangnya 8-10 gelas air sehari sehingga lendir menjadi lebih encer dan dapat lebih mudah dibatukkan keluar. Banyak minum terutama sari buah-buahan untuk penurun demam. IX. PENCEGAHAN

1. Hindarkan atau jauhkan anak dari asap rokok. 2. Hindari hidup di lingkungan yang tercemar uap yang mengiritasi. 3. Jika bekerja di daerah yang terpolusi, usahakan untuk menghindari atau mengurangi polusi. 4. Hindari perubahan temperatur mendadak, terpapar udara dingin dan basah. 5. Hindari bicara terlalu keras, tertawa keras, menangis atau bekerja sampai lelah. 6. Latihan untuk mengeluarkan lendir bronkus dan teknik napas panjang. 7. Dapatkan pengobatan medis jika mendapat infeksi saluran napas. 8. Terapi bronkodilator berguna pada bronkhitis dengan mengi. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BRONKHITIS I. PENGKAJIAN 1. Data Subjektif a. Keluhan utama : keletihan, kelelahan, malise, gelisah, insomnia, mual, muntah, dipsneu dan nyeri dada. b. Waktu terjadi serangan batuk. c. Adanya riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan. d. Adanya kebiasaan anak seperti senang berlari lari dan terlalu gembira dapat menyebabkan serangan batuk dan muntah. e. Adanya riwayat penyakit keluarga terutama mengenai penyakit pernafasan. f. Pengobatan batuk yang telah dilakukan dan efektifitasnya. 2. Data Objektif a. Retraksi dinding dada. b. Pernapasan cuping hidung. c. Sianosis bibir dasar kuku abu abu atau merah seluruh tubuh. d. Suara serak, stidor dan batuk. e. Napas cepat dan dangkal. f. Penggunaan otot bantu pernapasan. g. Peningkatan tekanan darah. h. Peningkatan suhu. Observasi pernapasan terhadap : rekuensi : cepat (takipnea), normal atau lambat untuk anak tetentu torakal dan pengembangan abdomen. ernapasan sulit : kontinu, intermitten, menjadi makin buruk dan menetap, awitan tiba tiba, pada saat istirahat atau kerja, dihubungkan dengan mengi, mengorok. Observasi adanya : nfeksi : peningkatan suhu, pembesaran kelenjar limfe servikal, membrane mukosa terinflamasi dan rabas purulen dari hidung, telinga, atau paru paru.

batuk berhubungan dengan menelan atau aktivitas lain. progresif atau tiba tiba berhubungan dengan pernapasan sulit. rajat, durasi berhubungan dengan aktivitas. situasi terlokalisir atau menyebar, menyebar dari dasar abdomen, dangkal atau tajam, dalam atau superficial berhubungan dengan pernafasan cepat, dangkal, atau mengorok. anak yang lebih besar dapat memberikan sample sputum, perhatikan volume, warna, viskositas dan bau.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi pada bronchus 2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mekanik 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan O2 III. INTERVENSI Dx I : Pola napas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi pada bronchus 30). menghindari penekanan diafragma. penjadwalan yang tepat.

contoh : pemberian posisi yang tepat.

Dx II : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mekanik (telungkup, semi telungkup atau miring).

ksaan dan kultur tenggorok pada pasien dengan kecurigaan epiglottis karena dapat menyebabkan obstruksi jalan napas.

Dx III : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan O2

hari yang mungkin melebihi toleransi. si, kemampuan dan minat anak. mencegah kebosanan dan menarik diri. g tenang.

istirahat. anak untuk meminimalkan keletihan. IV. EVALUASI YANG DIHARAPKAN Dx I : skala

Dx II :

Usia 1 tahun 20 40x/mnt Usia 2 tahun 20 30x/mnt Usia 3 tahun 20 30x/mnt Usia 5 tahun 20 25x/mnt Usia 10 tahun 17 22x/mnt

tenang serta melakukan aktivitas yang sesuai dengan usia dan kemampuan Dx III : alam beraktivitas Usia 1 tahun 20 40x/mnt Usia 2 tahun 20 30x/mnt Usia 3 tahun 20 30x/mnt Usia 5 tahun 20 25x/mnt Usia 10 tahun 17 22x/mnt 4

ADL

BAB III PENUTUP Bronkhitis merupakan peradangan pada bronchus (saluran udara ke paru paru). Bronchitis terjadi karena beberapa penyebab diantaranya adalah virus dan bakteri. Adapun penyebab lain diantaranya perokok, menghirup asap, dll. Meskipun Bronkhitis merupakan penyakit yang membahayakan dalam system pernapasan namun ada beberapa pencegahan yang dapat kita lakukan antara lain : dengan tidak merokok, hindari bekerja di daerah yang terpolusi, hindari berbicara terlalu keras, dll. Selain itu Asuhan Keperawatan yang dapat dilakukan sekarang dapat mengurangi penyakit Bronkhitis semakin berat. DAFTAR PUSTAKA

Behram, Ricard E. (1999). Ilmu keperawatan anak nelson. Jakarta: EGC. Bulechek, Gloria M. McCloskey, Joanne C. (2000). Nursing intervention project. USA : Mosby. Gilbert, Patricia. (1998). Penyakit yang lazim pada anak-anak. Jakarta: Arcan. Griffith, H. Winter. (1994). Buku pintar kesehatan 796 gejala 520 penyakit 160 pengobatan. Jakarta: Arcan. Johnson, Marion. Maas, Merideah. Moorhead, Sue. ( 2000 ). Nursing outcomes classification. USA : Mosby Junadi. (2000). Kapita selekta kedokteran. Edisi 2. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. Ngastiyah. (2005). Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta: EGC. Panduan diagnosa keperawatan NANDA 2005-2006. Shulman, Standfold T., dkk. (1998). Buku saku panduan penyakit infeksi dan terapi anti mikroba pada anak. Jakarta: EGC. Wahidayat, Iskandar. (1985). Buku kuliah 3 ilmu kesehatan anak. Jakata: FKUI. Wong. Donna L. (2003). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. Edisi 4. Jakarta:EGC. Medicasore. (2004 ) Bonkhitis. Terdapat pada : http://www.medicastore.com/info_pnyakit/200307/1130.html. NAMA Bronkitis DEFINISI Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru).

Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paruparu) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius. PENYEBAB Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh virus, bakteri dan (terutama) organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia). Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru dan saluran pernafasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari: Sinusitis kronis Bronkiektasis Alergi Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak. Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh: - Berbagai jenis debu - Asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik, klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromin - Polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida - Tembakau dan rokok lainnya. GEJALA Gejalanya berupa: - batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan) - sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan - sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu) - bengek - lelah - pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan - wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan - pipi tampak kemerahan - sakit kepala - gangguan penglihatan. Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau. Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu.

Sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat. Sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama setelah batuk. Bisa terjadi pneumonia. DIAGNOSA Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala, terutama dari adanya lendir. Pada pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi ronki atau bunyi pernafasan yang abnormal. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: - Tes fungsi paru-paru - Gas darah arteri - Rontgen dada. PENGOBATAN Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa bisa diberikan aspirin atau acetaminophen; kepada anak-anak sebaiknya hanya diberikan acetaminophen. Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan. Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan demamnya tetap tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru. Kepada penderita dewasa diberikan trimetoprim-sulfametoksazol, tetracyclin atau ampisilin. Erythromycin diberikan walaupun dicurigai penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae. Kepada penderita anak-anak diberikan amoxicillin. Jika penyebabnya virus, tidak diberikan antibiotik. Jika gejalanya menetap atau berulang atau jika bronkitisnya sangat berat, maka dilakukan pemeriksaan biakan dari dahak untuk membantu menentukan apakah perlu dilakukan penggantian antibiotik. http://www.medicastore.com/info_pnyakit/200307/1130.html Penyakit Bronkiolitis, Menyerang Saluran Pernapasan Bayi 09-05-2012 diposkan oleh melindacare

Waspadai penyakit bronkiolitis atau peradangan pada bronkoulus pada bayi yang baru lahir. Setiap tahunnya sekitar 2-3% bayi baru lahir dirujuk ke rumah karena bronkiolitis. Dan 90% dari kasus tersebut adalah bayi berusia 1-9 bulan. Bronkiolitis merupakan infeksi saluran pernapasan dan sering menyerang bayi baru lahir. Penyebab umum infeksi tersebut adalah virus RSV (Respiratory Syncytial Virus). Adapun beberapa gejala dan tanda bronkiolitis yang perlu Anda kenali :

Batuk kering

Napas cepat dan memburu

Bunyi ngik-ngik ketika membuang napas

Demam namun tidak terlalu tinggi

Hidung ingusan

Bayi kadang terlihat pucat atau kebiruan (sianosis)

Sulit bernapas disertai menurunnya selera makan.

Diagnosis Bronkiolitis Dokter akan memeriksa riwayat penyakit, gejala, dan tanda yang ada pada anak untuk mendiagnosis penyakit. Dokter juga akan membutuhkan pemeriksaan tambahan seperti foto rontgen dada serta pemeriksaan AGD (Analisis Gas Darah). AGD dibutuhkan unuk mengetahui kadar oksigen dan karbondioksida pada anak. Anak penderita bronkiolitis akan mengalami peningkatan kadar karbondioksida dan penurunan kadar oksigen dalam darah.

Terapi Bronkiolitis Bronkiolitis termasuk penyakit self-limiting-disease yang artinya bisa sembuh sendiri dalam waktu kurang lebih dua minggu. Terapi bronkiolitis pun bersifat suportif dan simtomatik. Anak penderita bronkiolitis tidak perlu dirawat di rumah sakit kecuali jika dokter menganggap perlu. Obat-obatan seperti sirup parasetamol akan diberikan untuk menurunkan panas dan tambahan oksigen bila dirawat. Cairan tetes hidung seperti garam fisiologis (saline/NaCl) serta pemberian cairan yang cukup banyak dapat membantu proses penyembuhan. Pemberian

antiobitik sebenarnya tidak dianjurkan jika sudah jelas menderita bronkiolitis kecuali masih ada keraguan. Penyakit bronkiolitis sangat mudah menular. Bisa melalui kontak langsung maupun lewat udara (percikan ludah). Jauhkan anak dari teman sebaya atau saudara kandungnya untuk menghindari penularan. Jangan lupa, Anda pun harus menutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau sapu tangan jika batuk atau bersin. bronkiolitis A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. Definisi Bronkiolitis adalah penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran nafas kecil (bronkiolus) yang terjadi pada anak < 2 tahun dengan insidens tertinggi pada usia sekitar 2-6 bulan dengan penyebab tersering respiratory sincytial virus (RSV), diikuti dengan parainfluenzae dan adenovirus. Penyakit ditandai oleh sindrom klinik yaitu, napas cepat, retraksi dada dan wheezing. Bronkiolitis adalah infeksi akut pada saluran napas kecil atau bronkiolus yang pada umumnya disebabkan oleh virus, sehingga menyebabkan gejalagejala obstruksi bronkiolus. Bronkiolitis ditandai oleh batuk, pilek, panas, wheezing pada saat ekspirasi, takipnea, retraksi, dan air trapping/hiperaerasi paru pada foto dada. Bronkiolitis adalah suatu inflamasi infeksi virus bronkhiolus yang menyebabkan obstruksi akut jalan nafas dan penurunan pertukaran gas alveoli. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh Respiratory Syncytial Virus (RSV), biasanya terjadi pada anak usia 2 sampai 12 bulan, terutama musim dingin dan awal musim semi. Bronkiolitis merupakan infeksi virus akut dengan efek maksimal pada tingkat bronkiolus. Infeksi terutama terjadi pada musim dingin dan musim panas, jarang terjadi pada anak-anak yang berusia lebih dari 2 tahun. RSV berperan atas sedikitnya setengah dari hospitalisasi anak karena bronkiolitis. Adenovirus dan parainfluenza dapat juga menyebabkan bronkiolitis akut. Infeksi dimulai pada akhir musim gugur, mencapai puncaknya di musim dingin , dan menurun dimusim panas. Penyakit ini mudah menyebar melalui tangan ke mata hidung atau membran mukosa lainnya. 2. Epidemiologi Bronkiolitis terutama disebabkan oleh Respiratory Syncitial Virus (RSV), 6090% dari kasus, dan sisanya disebabkan oleh virus Parainfluenzae tipe 1,2, dan 3, Influenzae B, Adenovirus tipe 1,2, dan 5, atau Mycoplasma. RSV adalah penyebab utama bronkiolitis dan merupakan satu-satunya penyebab yang dapat menimbulkan epidemi. Hayden dkk (2004) mendapatkan bahwa infeksi RSV menyebabkan bronkiolitis sebanyak 45%-90% dan menyebabkan pneumonia sebanyak 40%. Bronkiolitis sering mengenai anak usia dibawah 2 tahun dengan insiden tertinggi pada bayi usia 6 bulan.1,3 Pada daerah yang penduduknya padat insiden bronkiolitis oleh karena RSV terbanyak pada usia 2 bulan. Makin muda umur bayi menderita bronkiolitis biasanya akan makin berat penyakitnya. Bayi yang menderita bronkiolitis berat mungkin oleh karena kadar

antibodi maternal (maternal neutralizing antibody) yang rendah. Selain usia, bayi dan anak dengan penyakit jantung bawaan, bronchopulmonary dysplasia, prematuritas, kelainan neurologis dan immunocompromized mempunyai resiko yang lebih besar untuk terjadinya penyakit yang lebih berat. Insiden infeksi RSV sama pada laki-Iaki dan wanita, namun bronkiolitis berat lebih sering terjadi pada laki-Iaki.

3.

Etiologi Virus (virus sinsivial pernafasan predominan) Virus parainfluiensa, Mycoplasma pneumonia

4. Tanda dan Gejala Mula-mula bayi menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer dan bersin. Gejala ini berlangsung beberapa hari, kadang-kadang disertai demam dan nafsu makan berkurang. Kemudian timbul distres nafas yang ditandai oleh batuk paroksismal, wheezing, sesak napas. Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah serta sulit makan dan minum. Bronkiolitis biasanya terjadi setelah kontak dengan orang dewasa atau anak besar yang menderita infeksi saluran nafas atas yang ringan. Bayi mengalami demam ringan atau tidak demam sama sekali dan bahkan ada yang mengalami hipotermi. Terjadi distres nafas dengan frekuensi nafas lebih dari 60 kali per menit, kadang-kadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat. Terdapat nafas cuping hidung, penggunaan otot bantu pernafasan dan retraksi. 5. Patofisiologi Mikroorganisme masuk melalui droplet akan mengadakan kolonisasi dan replikasi di mukosa bronkioli terutama pada terminal bronkiolus sehingga akan terjadi kerusakan/nekrosis sel-sel bersilia pada bronkioli. Respon imun tubuh yang terjadi ditandai dengan proliferasi limfosit, sel plasma dan makrofag. Akibat dari proses tersebut akan terjadi edema sub mukosa, kongesti serta penumpukan debris dan mukus (plugging), sehingga akan terjadi penyempitan lumen bronkioli. Penyempitan ini mempunyai distribusi tersebar dengan derajat yang bervariasi (total/sebagian). Gambaran yang terjadi adalah atelektasis yang tersebar dan distensi yang berlebihan (hyperaerated) sehingga dapat terjadi gangguan pertukaran gas serius, gangguan ventilasi/perfusi dengan akibat akan terjadi hipoksemia (PaO2 turun) dan hiperkapnea (PaCO2 meningkat). Kondisi yang berat dapat terjadi gagal nafas. Mukosa bronkiolus membengkak,dan lumina terisi mucus dan eksudat ; dinding bronkus dan bronkiolus terinfiltrasi dengan sel-sel inflamasi ; dan biasanya terjadi pneumonitis interstisial peribronkiolus. Berbagai tingkat obstruksi yang di hasilkan dalam jaln nafas akibat perubahan ini menyebabkan hiperventilasi ,emfisema obstruktif yang terjadi akibat obstruksi parsial , dan sebagian dari area atelektaksis. Dilatasi saluran bronkus pada saat inspirasi memberikan cukup ruang untuk asupan udara, tetapi penyempitan pada saat ekspirasi mencegah udara keluar paru. Oleh karena itu , udara terperangkap dibagian distal dari obstruksi dan menyebabkan pemompaan berlebihan yang progresif ( emfisema ). Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan darah tepi tidak khas. Pada pemeriksaan foto dada AP dan lateral dapat terlihat gambaran hiperinflasi paru (emfisema) dengan diameter anteroposterior membesar pada foto lateral serta dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar. Analisis gas darah dapat menunjukan hiperkarbia sebagai tanda air trapping, asidosis respiratorik atau metabolik. Bila tersedia, pemeriksaan deteksi cepat dengan antigen RSV dapat dikerjakan. Bronkiolitis dimulai dengan ISPA dengan rabas masal serosa yang dapat disertai dengan demam ringan. Otitis media dan konjungtivitis juga dapat terjadi. Anak secara bertahap mengalami peningkatan gawat nafas dengan takipnea, batuk paroksismal, iritabilitas, mengi , retraksi, bronki kasar, dispnea, dan bunyi nafas hilang. Radiografi dada menunjukkan hiperareasi dan area-are konsolidasi yang sulit dibedakan dengan pneumonia bakteri. Apnea dapat menjadi indicator infeksi RSV yang pertama kali terlihat pada bayi. Penyakit yang berat dapat diikuti dengan peningkatan tekanan karbondioksida (PaCO2) arteri (hiperkapnia) yang menyebabkan asidosis respiratorik dan hipoksemia. Identifikasi RSV positif dipastikan dengan uji enzyme-linked immunosorbent assay ( ELISA) atau immunoflourescent antibody (IFA) akibat aspirasi langsung dari sekresi nasal atau pembilasan nasofaringeal. 7. Penatalaksanaan medis Tata laksana bronkiolitis yang dianjurkan adalah : 1. Pemberian oksigenasi; dapat diberikan oksigen nasal atau masker, monitor dengan pulse oxymetry. Bila ada tanda gagal nafas diberikan bantuan ventilasi mekanik. 2. Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila perlu dapat dengan cairan parenteral). Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu dan status hidrasi. 3. Koreksi terhadap kelainan asam basa dan elektrolit yang mungkin timbul. 4. Antibiotik dapat diberikan pada keadan umum yang kurang baik, curiga infeksi sekunder (pneumonia) atau pada penyakit yang berat. 5. Kortikosteroid : deksametason 0,5 mg/kgBB dilanjutkan dengan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis. 6. Dapat diberikan nebulasi agonis (salbutamol 0,1mg/kgBB/dosis, 4-6 x/hari) diencerkan dengan salin normal untuk memperbaiki kebersihan mukosilier. Bronkiolitis ditangani secara simptomatik dengan kelembapan tinggi , asupan cairan yang adekuat , dan istirahat. Sebagian besar anak bronkiolitis dapat dirawat di rumah. Hospitalisasi biasanya dianjurkan untuk anak-anak yang menderita kondisi yang menyebabkan komplikasi, seperti penyakit paru atau jantung, atau menderita keadaan yang melemahkan; jika kemampuan pemberi perawatan diragukan;atau jika anak mengalami takipnea, retraksi berat, tampak lemah, atau memiliki riwayat asupan cairan yang buruk. Terapi uap biasanya dikombinasikan dengan oksigen menggunakan hood atau tenda dalam konsentrasi yang cukup untuk menghilangkan dispnea dan hipoksia, yang setelah pemberian terapi uap sendiri dapat dilanjutkan untuk mengatasi dispnea ringan. Pemberian cairan melalui mulut dapat dikontraindikasikan karena adanya takipnea, kelemahan dan keletihan; oleh karena itu akan lebih baik jika cairan IV diberikan sampai krisis akut dari penyakit ini terlewati. Pengkajian klinis , pemantauan oksigen noninvasive dan nilai gas darah dapat mengarahkan terapi yang di berikan. Terapi medis untuk bronkiolitis masih controversial. Bronkodilator,

kortikosteroid, supresan batuk dan antibiotic tidak terbukti efektif untuk mengatasi penyakit tanpa komplikasi dan tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin. Kortikosteroid , teofilin dan furosemid telah digunakan untuk intubasi dan ventilasi bayi dan anak-anak. RIBAVIRIN , sejenis agens anti virus , dapat di gunakan untuk infeksi rsv. Obat ini berbentuk aerosol; diberikan melalui generator aerosol partikel kecil (SPAG : Small Particle Aerosol Generator ) ; dan dapat diberikan dengan menggunakan hood , tenda oksigen , masker, atau selang ventilator. Akan tetapi , penggunaan obat ini masih controversial. Karena adanya pertimbangan biaya , manfaat, keamanan, dan efektivitas klinis yang bervariasi, American Academi Of Pediatrics (2000) menganjurkan penggunaan ribavirin dipertimbangkan berdasarkan kasus demi kasus KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN Keluhan utama pada klien bronkiolitis meliputi batuk kering dan produktif dengan sputum purulen, demam dengan suhu tubuh dapat mencapai > 40o C dans esak nafas. Riwayat penyakit saat ini Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan bronkiolitis bervariasi tingkat keparahan dan lamanya. Bermula dari gejala batuk-batuk saja, hingga penyakit akut dengan manifestasi klinis yang berat. Sebagai tanda-tanda terjadinya toksemia klien dengan bronkiolitis sering mengeluh malaise, demam, badan terasa lemah, banyak berkeringat, takikardia, takipnea. Sebagai tanda terjadinya iritasi, keluhan yang di dapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi atau peningkatan produksi secret dan rasa sakit di bawah sternum. Penting ditanyakan oleh perawat mengenai obat-obat yang telah atau biasa yang di minum klien untuk mengurangi keluhannya dan mengkaji kembali apakah obat-obat tersebut masih relevan untuk dipakai kembali. Riwayat penyakit terdahulu Pada pengkajian riwayat kesehatan terdahulu sering kali mengeluh pernah mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas dan adanya riwayat alergi pada pernafasan atas. Perawat harus memperhatikan dan mencatat baik-baik. Pengkajian psiko-sosio-spiritual Pada pengkajian psikologis klien dengan bronkiolitis di dapatkan klien sering mengalami kecemasan sesuai dengan keluhan yang dialaminya. Dimana adanya keluhan batuk, sesak nafas dan demam merupakan stressor penting yang membuat klien cemas. Perawat perlu memberikan dukungan moral dan memfasilitasi pemenuhan informasi untuk pemenuhan informasi mengenai prognosis penyakit dari klien. Kaji keluhan klien dan keluarga tentang pengobatan yang diberikan (nama, cara kerja, frekuensi, efek samping, dan tanda-tanda terjadinya kelebihan dosis). Pengobatan non farmakologi (nonmedicinal interventions) seperti olahraga secara teratur serta mencegah kontak dengan allergen atau iritan (jika diketahui penyebab alergi), system pendukung (support system), kemauan dan tingkat pengetahuan keluarga.

Pemeriksaan fisik Keadaan umum dan tanda-tanda vital Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan bronkiolitis biasanya di dapatkan peningkatan suhu tubuh >40oC, frekuensi nfas meningkat dari frekuensi nafas normal, nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernafasan, serta biasanya tidak ada masalah dengan tekanan darah.

B1 (Breathing) Inspeksi. Klien biasanya mengalami peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan , biasanya menggunakan otot bantu pernafasan Palpasi Taktil prenitus biasanya normal . Perkusi Hasil pengkajian perkusi menunjukkan adanya bunyi resonan pada seluruh lapang paru. Auskultasi Jika abses terisi penuh dengan cairan pus akibat drainase yang buruk, maka suara nafas melemah. Jika bronkus paten dan drainasenya baik di tambah dengan adanay konsulidasi di sekitar abses , maka akan terdengar suara nafas bronchial dan ronkhi basah. B2(Blood) Sering di dapatkan kelemahan secara umum. Denyut nadi takikardi. Tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak di dapatkan berarti tidak mengalami pergeseran. B3 (brain) Tingkat kesadaran klien biasanya komposmetis apabila tidak ada komplikasi penyakit yang serius. B4 (bladder) Pengukuran volume output urin berhubungan erat dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria yang merupakan salah satu tanda awal dari syok. B5 (bowel) Klien biasanya sering mengalami mual dan muntah, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan. B6 (bone) Kelemahan dan kelelahan fisik, secara umum sering menyebabkan klien memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari hari. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan edema bronkiolus dan peningkatan produksi mucus. 2. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan melalui ekshalasi dan penurunan asupan cairan. 3. Hipertermia yang berhubungan dengan infeksi. 4. Keletihan yang berhubungan dengan kesukaran pernafasan.

5. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik. 6. Ansietas ( anak dan orang tua) yang berhubungan dengan kurangnya tentang pengetahuan tentang kondisi anak. 7. Deficit pengetahuan yang berhubungan dengan perawatan di rumah. 3. INTERVENSI Dx 1 : Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan edema bronkiolus dan peningkatn produksi mucus. Tujuan : Gangguan pertukaran gas tidak terjadi Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam anak akan meningkatkan pertukaran gas yang ditandai dengan mampu bernafas mudah, dan warna kulit merah muda. Intervensi Rasional 1. Beri lingkungan berkelembapan tinggi dengan meletakkan anak dalam mist temt( tenda lembab ) atau alat umudifikasi yang dingin. 1. Kelembapan dingin dari tenda lembab atau croupette membantu mengencerkan lendir, dan mengurangi edema bronkhiolus 2. Beri oksigen melalui sungkup muka, kanula hidung, atau tenda oksigan, sesuai petunjuk. 2. Oksigen membantu mengurangi kegelisahan karena kesukaran pernafasan dan hipoksia 3. Posisiskan anak dengan kepala dan dada lebih tinggi, leher agak ektensi. 3. Posisi ini mempertahankan terbukanya jalan nafas dan memudahkan pernafasan dengan menurunkan tekanan pada diafragma. 4. Lakukan fisoterapi dada setiap 4 jam atau sesuai petunjuk. 4. Fisiotherapi dada membantu menghilangjkan dan mengeluarkan mucus yang dapat menghambat jalan nafas kecil. 5. Beri bronkodilator sesuai petunjuk. 5. Walaupun umumnya digunakan untuk menanggulangi spasme otot, bronkodilator efektif mengobati edema bronkiolus. 6. Lakukan pengisapan lendir sesuai kebutuhan, yang bertujuan mengeluarkan secret. 6. Mengeluarkan lendir akan membantu membersihkan bronkiolus sehingga meningkatkan pertukaran gas 7. Beri obat antivirus sesuai petunjuk. 7. Obat anti-virus, seperti respiratory syncytial virus immune globulin (respigam) digunakan untuk mengobati RSV, ribavirin ( virazole), juga digunakan walaupun kemanjurannya diragukan. 8. Beri istirahat yang adekuat dengan cara mengurangi kegaduhan dan pencahayaan, serta beri kehangatan dan kenyamanan. 8. Memfasilitasi istirahat yang cukup akan mengurangi kesukaran pernafasan yang disebabkan oleh bronkiolitis. 9. Kaji frekuensi pernafasan anak dan iramanya setiap jam. Jika anak mengalami gangguan pernafasan, auskultasi bunyi nafas, lakukan fisiotherapi dada, serta informasikan

kepada ahli terapi pernafasan. 9. adekuat.

Pengkajian yang sering menjamin fungsi pernafasan yang

10. Pantau denyut apical anak ; jika anda mendeteksi adanya takikardia (berdasarkan pada usia anak ), segera beri tahu dokter. 10. Takikardia dapat disebabkan oleh hipoksia atau efek penggunaan bronkodilator.

Dx 2 : Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan cairan melalui ekshalasi dan penurunan asupan cairan. Tujuan : Tidak terjadi kekurangan volume cairan Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam anak akan mempertahankan keseimbangan cairan yang di tandai dengan haluaran urin 1-2 mL/kg/jam serta turgor kulit baik. Intervensi Rasional 1. Beri cairan I.V, sesuai petunjuk. 1. Cairan via I.V. digunakan untuk tujuan hidrasi sampai krisis teratasi. 2. Yakinkan bahwa anak dapat beristirahat cukup. 2. Istirahat memungkinkan frekuensi pernafasan anak kembali ke batas normal, dengan cara mengurangi jumlah kehilangan cairan melalui ekshalasi. 3. Pantau asupan dan haluaran cairan pada anak dengan cermat. 3. Melakukan pemantauan yang teliti menjamin hidrasi adekuat. Jika haluaran urine berkurang anak memerlukan penambahan caiaran. 4. Kaji tanda tanda dehidrasi, termasuk penurunan berat badan, pucat, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering, oliguria, dan peningkatan frekuensi nadi. 4. Tanda tanda ini menunjukkan bahwa anak tidak menerima cairan yang cukup.

5. Tingkatkan asupan cairan melalui mulut, bila serangan akut telah reda. Cairan membantu mengencerkan lendir.

5.

Dx 3 : Hipertermia yang berhubungan dengan infeksi. Tujuan : Tidak terjadi hipertermia Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam anak akan mempertahankan suhu tubuh kurang dari 37,80C. (nilai suhu tubuh spesifik bergantung pada metode yang digunakan untuk mengukurnya. Intervensi Rasional 1. Pertahankan lingkungan sejuk, dengan menggunakan piyama dan selimut yang tidak tebal, serta pertahankan suhu ruangan antara 22o dan 24o C. 1. Lingkungan yang sejuk membantu menurunkan suhu tubuh dengan cara radiasi.

2. Beri antipiretik sesuai petunjuk. 2. Antipiretik seperti asetaminofen (Tylenol), efektif menurunkan demam. 3. Pantau suhu tubuh anak setiap 1 - 2 jam, bila terjadi peningkatan secara tiba tiba. 3. Peningkatan suhu secara tiba tiba akan mengakibatkan kejang. 4. Beri antimikroba, jika disarankan. 4. Antimikroba mungkin disarankan untuk mengobati organisme penyebab. Antibiotik biasanya tidak disarankan untuk mengobati RSV. 5. Berikan kompres dengan suhu 37oC pada anak untuk menurunkan demam. 5. Kompres air hangat efektif mendinginkan tubuh melalui cara konduksi.

Dx 4 : Keletihan yang berhubungan dengan kesukaran pernafasan. Tujuan : Tidak terjadi keletihan. Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam anak akan istirahat paling sedikit 1 jam setiap pagi dan setiap siang hari. Intervensi Rasional Untuk membantu mengurangi kelelahan pada anak, beri istirahat secara teratur setiap 2 jam. Juga, mandikan anak, ganti sprei dan lakukan pengkajian neurologis, pada saat yang sama. 1. Anak memerlukan istirahat yang adekuat untuk mencegah kelelahan akibat peningkatan kesukaran pernafasan. Beri lingkungan yang tenang. 2. Kegaduhan dan aktivitas yang tidak perlu dapat menyebabkan kelelahan pada anak sehingga dapat meningkatkan kesukaran pernafasan.

Dx 5 : Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik. Tujuan : Tidak terjadi gangguan pemenuhan nutrisi. Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam anak akan meningkatkan asupan nutrisi , yang ditandai dengan mengkonsumsi sedikitnya 80% porsi makanan setiap kali makan. Intervensi Rasional Beri makan dalam jumlah sedikit, tetapi sering, jika mungkin, dikombinasikan dengan makanan yang disukai anak. Makanan dalam jumlah yang sedikit, waktu sering, memerlukan pengeluaran energy dan penggunaan pernafasan yang sedikit. Anak akan menghabiskan makanan dalam jumlah banyak setiap kali makan, bila di dalamnya termasuk makanan kesukaannya. Beri diet tinggi kalori dan protein. Diet tinggi protein dan tinggi kalori diperlukan oleh anak untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik anak.

Dx 6 : Ansietas ( anak dan orang tua) yang berhubungan dengan kurangnya tentang pengetahuan tentang kondisi anak. Tujuan : Ansietas tidak terjadi

Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam anak dan orang tua akan berkurang kecemasannya , yang ditandai dengan mengekspresikan pemahamannya tentang kondisi anak. Intervensi Rasional Kaji pemahaman orang tua dan (jika perlu) anak tentang kondisi anak dan program pengobatan yang diberikan. Pengkajian semacam ini digunakan sebagai dasar penyuluhan. Anjurkan orang tua untuk tetap menemani anak. Menemani anak memungkinkan orang tua member dukungan dan mengurangi kecemasan pada keduanya. Jelaskan semua prosedur sesuai dengan tahap perkembangan anak. Memebri penjelasan sebelum prosedur dan selama dirawat di rumah sakit akan mengurangi kecemasan akibat kesalahpahaman dan kurangnya pengetahuan. Beri dukungan emosional pada orang tua selama anak dirawat di rumah sakit. Hospitalisasi menimbulkan krisis situasi. Mendengarkan kekhawatirran orang tua serta perasaanya akan membantu mereka untuk beradaptasi dengan krisis yang dialami.

Dx 7 : Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan perawatan dirumah. Tujuan : Tidak terjadi defisit pengetahuan. Kriteria hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam orang tua akan mengekspresikan perawatannya tentang perawatan dirumah. Intervensi Rasional Ajarkan orang tua dan anak (jika perlu), bagaimana dan kapan pengobatan harus diberikan, termasuk perincian tentang dosis dan efek sampingnya. Pemahaman tentang pentingnya mempertahankan program pengobatan yang konsisten, dapat membenti orang tua mematuhi semua pengobatan anak. Dengan mengetahui efek samping pengobatan, orang tua dapat segera meminta bantuan sesuai kebutuhan. Jelaskan tanda dan gejala kesukaran pernafasan dan infeksi, termasuk demam, dispnea, takipnea, perubahan warna sputum dan mengi. Pengetahuan seperti itu membuat membuat orang tua segera mencari bantuan dan perhatian jika diperlukan. Jelaskan pentingnya istirahat yang adekuat pada anak. Setelah infeksi, anak memerlukan istirahat secara teratur yang bertujuan membantu penyembuhan dan mencegah kekambuhan infeksi. Ajarkan pentinganya asupan nutrisi yang adekuat dan hidrasi, tekankan kebutuhan cairan yang banyakdan diet tinggi kalori. Pemberian cairan mengencerkan lendir. Diet tinggi kalori membantu menggantikan kalori yang dikeluarkan untuk melawan penyakit. Ajarkan perlunya mempertahankan lingkungan yang lembap dan sejuk. Udara yang lembapmembantu mengencerkan lendir. Udara lembap dan sejuk yang berasal tanda lembap, lebih aman daripada penguapan udara yang hangat, mengingat cara ini dapat menyebabkan kebakaran.

4. IMPLEMENTASI Sesuai dengan intervensi.

5. EVALUASI Gangguan pertukaran gas tidak terjadi Tidak terjadi kekurangan volume cairan Tidak terjadi hipertermia Tidak terjadi keletihan. Tidak terjadi gangguan pemenuhan nutrisi. Ansietas tidak terjadi Tidak terjadi defisit pengetahuan. Senin, 02 Januari 2012 Bronkitis pada Anak Bronkitis Pada Anak 1. Pengertian Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditanda oleh inflamasi bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan dominan. Ini berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah, 1997 ) Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994) Sebagai penyakit tersendiri, bronkitis merupakan topik yang masih diliputi kontroversi dan ketidakjelasan di antara ahli klinik dan peneliti. Bronkitis merupakan diagnosa yang sering ditegakkan pada anak baik di Indonesia maupun di luar negeri, walaupun dengan patokan diagnosis yang tidak selalu sama.(Taussig, 1982; Rahayu, 1984) Kesimpangsiuran definisi bronkitis pada anak bertambah karena kurangnya konsesus mengenai hal ini. Tetapi keadaan ini sukar dielakkan karena data hasil penyelidikan tentang hal ini masih sangat kurang. 2. Review Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran, mengeluarkan CO2 hasil dari metabolisme . a. Hidung Merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang dipisahkan oleh sekat septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk menyaring udara, debu dan kotoran. Selain itu terdapat juga konka nasalis inferior, konka nasalis posterior dan konka nasalis media yang berfungsi untuk mengahangatkan udara. b. Faring Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di bawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulang

leher. Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel getah bening. c. Laring Merupakan saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara. Terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya. Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis. d. Trakea Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 20 cincin yang terdiri dari tulang rawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk mempertahankan jalan napas agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, yang berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. e. Bronkus Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli. f. Paru-paru Merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-gelembung. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. 3. Klasifkasi a. Bronkitis Akut Bronkitis akut pada bayi dan anak biasanya juga bersama dengan trakeitis, merupakan penyakit saluran napas akut (ISNA) yang sering dijumpai. b. Bronkitis Kronik dan atau Batuk Berulang Bronkitis Kronik dan atau berulang adalah kedaan klinis yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya selama 2 minggu berturutturut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya (KONIKA, 1981). Dengan memakai batasan ini maka secara jelas terlihat bahwa Bronkitis Kronik termasuk dalam kelompok BKB tersebut. Dalam keadaan kurangnya data penyelidikan mengenai Bronkitis Kronik pada anak maka untuk menegakkan diagnosa Bronkitis Kronik baru dapat ditegakkan setelah menyingkirkan semua penyebab lainnya dari BKB. 4. Etiologi Penyebab utama penyakit Bronkitis Akut adalah adalah virus. Sebagai contoh Rhinovirus Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Para-influenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie Virus. Bronkitis Akut selalu terjadi pada anak yang menderita Morbilli, Pertusis dan infeksi Mycoplasma Pneumonia. Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab primer Bronkitis Akut pada anak. Di lingkungan sosio-ekonomi yang baik jarang

terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut. Sedangkan pada Bronkitis Kronik dan Batuk Berulang adalah sebagai berikut : a. Spesifik 1) Asma 2) Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis). 3) Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, infeksi mycoplasma, hlamydia, pertusis, tuberkulosis, fungi/jamur. 4) Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis. 5) Sindrom aspirasi. 6) Penekanan pada saluran napas 7) Benda asing 8) Kelainan jantung bawaan 9) Kelainan sillia primer 10) Defisiensi imunologis 11) Kekurangan anfa-1-antitripsin 12) Fibrosis kistik 13) Psikis b. Non-spesifik 1. Asap rokok 2. Polusi udara 5. Patofisiologi Virus (penyebab tersering infeksi) - Masuk saluran pernapasan - Sel mukosa dan sel silia Berlanjut - Masuk saluran pernapasan(lanjutan) - Menginfeksi saluran pernapasan - Bronkitis - Mukosa membengkak dan menghasilkan lendir - Pilek 3 4 hari - Batuk (mula-mula kering kemudian berdahak) - Riak jernih - Purulent - Encer - Hilang - Batuk - Keluar - Suara ronchi basah atau suara napas kasar - Nyeri subsernal - Sesak napas - Jika tidak hilang setelah tiga minggu - Kolaps paru segmental atau infeksi paru sekunder (pertahanan utama) (Sumber : dr.Rusepno Hasan, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak, 1981) 6. Tanda dan gejala Menurut Gunadi Santoso dan Makmuri (1994), tanda dan gejala yang ada yaitu : - Biasanya tidak demam, walaupun ada tetapi rendah - Keadaan umum baik, tidak tampak sakit, tidak sesak - Mungkin disertai nasofaringitis atau konjungtivitis - Pada paru didapatkan suara napas yang kasar Menurut Ngastiyah (1997), yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk yang lama, yaitu : - Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan klien murang istirahat - Daya tahan tubuh klien yang menurun - Anoreksia sehingga berat badan klien sukar naik - Kesenangan anak untuk bermain terganggu - Konsentrasi belajar anak menurun

7. Komplikasi a. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik b. Pada anak yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi kurang dapat terjadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia c. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi d. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau Bronkietaksis 8. Pemeriksaan Penunjang a. Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia b. Laboratorium : Leukosit > 17.500. 9. Penatalaksanaan a. Tindakan Perawatan Pada tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarakan lendir - Sering mengubah posisi - Banyak minum - Inhalasi - Nebulizer - Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan tenang perlu diberikan minum susu atau makanan lain b. Tindakan Medis - Jangan beri obat antihistamin berlebih - Beri antibiotik bila ada kecurigaan infeksi bakterial - Dapat diberi efedrin 0,5 1 mg/KgBB tiga kali sehari - Chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif 10. Pencegahan Menurut Ngastiyah (1997), untuk mengurangi gangguan tersebut perlu diusahakan agar batuk tidak bertambah parah. - Membatasi aktivitas anak - Tidak tidur di kamar yang ber AC atau gunakan baju dingin, bila ada yang tertutup lehernya - Hindari makanan yang merangsang - Jangan memandikan anak terlalu pagi atau terlalu sore, dan mandikan anak dengan air hangat - Jaga kebersihan makanan dan biasakan cuci tangan sebelum makan - Menciptakan lingkungan udara yang bebas polusi