Anda di halaman 1dari 27

ZUL ARHAM DAN PENYELESAIAN HAKNYA

BAB I PENDAHULUAN Hukum kewarisan Islam menurut pandangan Islam termasuk salah satu bagian dari fikih atau ketentuan yang harus di patuhi Umat Islam dan dijadikan pedoman dalam menyelesaikan harta peninggalan seseorang yang telah meninggal. Aturan tentang warisan ini di tetapkan Allah melalui firman-Nya yang terdapat dalam Al-Quran serta dalam hadis Nabi. Dalam hukum kewarisan Islam ini terdapat banyak ahli waris yang ikut serta dalam menyelesaikan haknya. Diantaranya ahli waris Zul Arham yang berarti orang yang mempunyai Kerabat secara mutlak , baik dia shahih furudh atau ashabah atau bukan. Zul Arham ini merupakan suatu hubungan darah (senasab), sehingga dalam Zul Arham ini orang yang menjadi mewarisi harta yaitu orang yang mempunyai hubungan darah dengan simati.

BAB II PEMBAHASAN ZUL ARHAM DAN PENYELESAIAN HAKNYA A. ZUL ARHAM 1. Pengertian Zul Arham berasal dari bahasa arab Arham bentuk jamak Rahim yang berarti rahim atau kandungan.[1] Tegasnya disebut hubungan darah secara syariat Zul Arham adalah hukum karabat yang lain dari pada Dzul Furudh dan Ashabah yaitu anggota keluarga digaris ibu, baik laki-laki maupun perempuan yang ditentukan bagiannya dalam Al-Quran yaitu anak perempuan, anak perempuan dari anak laki-laki, anak perempuan kandung dan saudara perempuan sebapak. Menurut bahasa Dzul Arham adalah orang yang mempunyai kerabat secara mutlak, baik dia Shahih Furudh atau Ashabah atau bukan. Sedangkan dalam pengertian istilah Dzul Arham adalah segala kerabat yang bukan Shahih Furudh dan bukan pula Ashabah[2]. Jadi, Zul Arham itu berarti orang yang mepunyai hubungan darah dengan si mati.

Dasar hukum yang menjelaskan bahwa Zul Arham berhak mewarisi yaitu dalam surat Al-Nisa Ayat 7 : Artinya : Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya... Hal ini sesuai dengan surat Al-Anfal ayat 75. Artinya : orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)[626] di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.[3] 2. Perbedaan Pendapat Ulama Terhadap Zul Arham. Berikut perbedaan pendapat ulama dalam memberikan pengertian tentang zul Arham ini, yaitu sebagai berikut : a) Pendapat / Mahzab Ahl Al-Qarabah Pendapat ini dikembangkan oleh ahli hukum islam mazhab syafiyah seperti al-Baqawy dan al-Mutawally (pada awalnya pendapat ini didasarkan kepada ijtihad Alibin Abi Thalib). Pendapat ini intinya mengemukakan bahwa diantara para ahli waris terdapat kelompok keutamaan yanitu kelompok yang satu lebih utama dari kelompok yang lainnya, mahzab ini mengelompokkannya sebagai berikut : 1) Kelompok Banuwwah yaitu yang terdiri dari anak-anak, cucu dan seterusnya kebawah. 2) Kelompok Ubuwwah yaitu terdiri dari kakek dari ibu, nenek dari kakek dan seterusnya ke atas.[4] 3) Kelompok Ukhuwwah yaitu terdiri dari anak-anak saudara atau kemenakan. 4) Kelompok Umumah yaitu terdiri dari paman, bibi dan anak keturunannya. Menurut kelompok ini, selama ada kelompok yang terdekat. Maka kelompok yang lainnya tidak menerima warisan, dengan kata lain kelompok yang terdekat lebih utama dari kelompok yang lainnya. Pendapat / Mahzab Ahl Al- Tanzil Mahzab ini dikembangkan dengan Imam Maliki, Syafii dan Ahmad Ibn Hambali. Menurut pendapai ini untuk menentukan siapa yang lebih berhak diantara Zul Arham untuk memperoleh warisan dari sipewaris adalah dengan cara menempatkan mereka pada kedudukan ahli waris yang menghubungkan mereka kepada sipewaris, selanjutnya mereka diturunkan satu persatu. Misalnya : cucu perempuan dari garis perempuan didudukan sebagai anak perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki didudukan sebagai sudara laki-laki, anak perempuan saudara perempuan didudukkan sebagai ayah, saudara perempuan ibu didudukan sebagai ibu dan seterusnya.[5]

b)

c)

Pendapat / Mazhab Ahl al-Rahim Tokoh penting mazhab ini adalah hasan Ibn Zirah, menurut ungkapan Fathur Rahman pendapat / mazhab ini tidak berkembang, sebab pendapat ini tidak mudah di terima. Karena prinsip mazhab ini semua Keluarga yang statusnya Zul-arham mempunyai kedudukan yang sama tanpa melihat dari kelompok mana mereka berasal, dengan istilah lain seluruh Zul-arham disamarkan kedudukannya terhadap harta warisan tersebut. Selain yang diatas ada pula perbedaan para ulama tentang apakah mereka dapat menerima warisan atau tidak, jika tidak kepada siapa harta warisan itu diserahkan, sementara tidak ada ahli waris yang akan mewarisinyayaitu sebagaia berikut : 1) Imam Malik, Syafii, Zaid Ibn Zabit dan mayoritas ulama Amsar berpendapat bahwa ahli waris Zul-Arham tidak dapat menerima warisan. Dari kalangan sahabat-sahabat tabii berpendapat yang demikian adalah ibnu Abbas, Said Ibnu al-Musayyab, Saad Ibn Zubair, Sofyan al-sauri, Al-Auzai, dan ikuti oleh Ibnu Hazm, bahwa harta peninggalan simati diserahkan kebait Al-Mal. 2) Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Usman, Ali, Ibnu Abbas dalam satu pendapatnya yang Mashur , Ibnu Masud dan Muaz Ibnu Jabal mengatakan bahwa ahli waris zul Arham dapat menerima warisan, apabila simati tidak mempunyai ahli waris ashabah dan al-furud.[6] B. PENYELESAIAN DALAM PEMBAGIAN HAKNYA Ahli waris yang termasuk zul Arham dikelompokkan oleh kalangan syafiyah kepada : 1. Anak dari anak perempuan (cucu melalui anak perempuan). 2. Anak dari saudara perempuan, baik kandung, seayah maupun seibu. 3. Anak perempuan saudara laki-laki. 4. Anak perempuan paman. 5. Paman seibu. 6. Anak paman seibu. 7. Saudara laki-laki ibu. 8. Saudara perempuan ibu. 9. Saudara perempuan ayah. 10. Anak saudara seibu. 11. Bapak dari ibu.

Cara penyelesaian dalam pembagian harta warisan dikalangan ahli waris Zul-Arham ada 2 cara yang dikemukakan oleh ualama yaitu : 1. Secara Penggantian Ahli waris Zul Arham menerima hak kewarisan menurut yang diterima oleh ahli waris terdekat yang menghubungkannya kepada pewaris. Contoh

ahli waris terdiri dari : ayah dari ibu, anak dari perempuan. Maka ayah dari ibu mendapat 1/6 menggantikan ibu dan anak dari anak perempuan mendapat menggantikan anak perempuan. 2. Secara Kedekatan Ahli waris Zul Arham menerima warisan berdasarkan kedekatannya kepada pewaris, artinya membagi harta warisan kepada ahli waris sebagaimana yang berlaku pada kewarisan ashabah. Alasannya yang dikemukakan oleh kelompok yang menganut cara ini adalah bahwa ahli waris Zul Arham ini pada akikatnya adalah ashabah. Ashabah yang hakiki di tempati oleh pihak laki-laki, sedangkan ashabah dalam bentuk ini adalah perempuan atau laki-laki melalui perempuan misalnya : ahli waris terdiri dari ayah dari ibu dan anak saudara ibu, maka harta warisan akan di warisi oleh kakek, karena kakek lebih dekat hubungannya dibandingkan dengan anak saudara ibu. Hadis Nabi :

Artinya : Dari Amir Bian Muslim dari Thawas dari Aisyah berkata : Rasul SAW bersabda : saudara laki-laki Ibu menjadi ahli waris bagi yang tidak ada ahli warisnya. (HR. At - Tarmizi)[7] Undang-undang waris mesir juga mengemukakan cara pembagian warisan kepada ahli waris zawu al arham ini, sebagaimana yang terkuat dalam pasal 31 sampai 38, cara pewarisannya sebagai berikut : Pasal 31 Jika tidak didapatkan seseorang asabah nasab dan tidak juga dari seorang zawu furud nasabiyah, maka harta peninggalan atau sisanya adalah untuk Zawu Al-Arham. Pasal 32 Kelompok pertama dari zawul arham yang paling utama untuk mendapatkan warisan adalah yang paling dekat derajatnya kepada simayat. Jika mereka bersamaan derajatnya maka anak laki-laki dari ashabul al-furud itu lebih utama dari anak laki-laki zawu arham. Jika bersamaan derajadnya diantara mereka tidak terdapat anak laki-laki ashabul furud atau mereka semuanya sampai kepada shahibul fardh, maka mereka sama-sama memperoleh warisan. Pasal 33 Kelompok kedua dari zawu al arham yang paling utama untuk mendapatkan harta warisan adalah yang paling dekat derajatnya kepada simayat. Jika mereka bersamaan derajatnya, maka di dahulukan orang yang sampai pada ash-habul furudh, jika mereka bersamaan derajatnya dan tidak diantara yang sampai pada ash-habul firudh atau untuk semua hanya sampai kepada ash-habul alfurudh. Maka apabila mereka sama dalam kekerabatannya,

mereka sama banyak mendapatkan warisan. Apabila mereka beda dari segi kekerabatan , maka dua pertiga untuk kerabat ayah dan sepertiganya untuk kerabat ibu.[8]

Pasal 34 Kelompok ketiga dari Zawul Arham yang paling utama mendapatkan warisan adalah yang paling dekat derajatnya dengan simayat. Bila mereka bersamaan derajatnya, sedangkan diantara mereka terdapat anak laki-laki dari ahli waris ashabah. Maka lebih utama mendapatkan warisan dari pada anak laki-laki dzawul arham. Jika diantara mereka tidak terdapat anak lakilaki dari ahli waris ashabah maka didahulukan siapa yang paling kuat kekerabatnnya dengan simayat. Barang siapa ashal(leluhur yang menurunkan)nya seibu-seayah maka dia lebih utama dari pada yamg ashalnya se-ibu. Jika mereka bersamaan drajat dan kekuatan kekerabatannya maka mereka sama-sama berhak untuk mewarisi. Pasal 35 Apabila yang ada hanya kelompok ayah, yaitu paman-paman amayat yang se-ibu dan bibi-bibinya, atau kelompok ibu yaitu paman-paman dan bibinya. Maka yang palaing didahulukan adalah yang paling kuat kekerabatannya. Maka oleh karena itu barang siapa yang seayah seibu tentu yang paling utama dari yang seayah saja. Barang siapa yang seayah maka dia lebih utama dari yang seibu. Jika mereka bersamaan derajatnya, maka ia samasama berhak untuk mewarisi. Pasal 36 Apabila mereka anak laki-laki dari ahli waris ashabah atau anak laki-laki dari ahli waris Zawil Arham , jika keadaan mereka berbeda maka anak laki-laki ahli waris ashabah yang didahulukan. Pasal 37 Tidak dibenarkan banyaknya segi kekerabatan bagi seoarang ahli waris dari Zauwul Arham, kecuali jika terdapat Iktilaf dalam segi itu.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pengertian Menurut bahasa Dzul Arham adalah orang yang mempunyai kerabat secara mutlak, baik dia Shahih Furudh atau Ashabah atau bukan.

Menurut istilah Dzul Arham adalah segala kerabat yang bukan Shahih Furudh dan bukan pula Ashabah. Jadi, Zul Arham itu berarti orang yang mepunyai hubungan darah dengan simati. 2. Dasar hukum Zul Arham terdapat dalam Al-Quran surat Al-Nisa Ayat 7dan surat Al-Anfal ayat 75. 3. Penyelesaian dalam pembagian haknya. Ahli waris yang termasuk zul Arham dikelompokkan oleh kalangan syafiyah kepada : a. Anak dari anak perempuan (cucu melalui anak perempuan). b. Anak dari saudara perempuan, baik kandung, seayah maupun seibu. c. Anak perempuan saudara laki-laki. d. Anak perempuan paman. e. Paman seibu. f. Anak paman seibu. g. Saudara laki-laki ibu. h. Saudara perempuan ibu. i. Saudara perempuan ayah. j. Anak saudara seibu. k. Bapak dari ibu. 4. Cara penyelesaian dalam pembagian harta warisan dikalangan ahli waris Zul-Arham ada 2 cara yang dikemukakan oleh ualama yaitu : Secara Kedekatan Secara Penggantian B. Saran Dari uraian makalah diatas kami dari pemakalah berharap agar pembaca khususnya kepada Dosen Pembimbing dapat mengerti dan memahami tentang makalah yang kami buat yaitu tentang Zul Arham. Besar harapan kami dari pemakalah agar pembaca bisa menyampaikan kritik dan sarannya, atas perhatian dari pembaca dan Dosen Pembimbing kami dari pemakalah mengucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA Syarifudin Amir, Hukum Kewarisan Islam, Jakarta : Kencana, 2004. Tengku Muhammad Ashidiegy, Fiqih Mawaris Semarang : PT Pustaka Rizki Putera 1991. Surwati, Fikih Mawaris 1 Padang : Haifa Press.

Suhrawardi, Hukum Waris Islam Lengkap & Praktis, Jakarta : Sinar Grafika. Sayyid Sabig, Fiqih Sunah Jakarta : Pena Ilmu & Amal Jld 4.

[1] .Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam. (Jakarta : Kencana, 204) h. 149 [2].Tengku Muhammad Ashidiegy, Fiqih Mawaris (Semarang : PT Pustaka Rizki Putera 1991) [3] Surwati. Fikih Mawaris 1 (Padang : Haifa Press) h. 65 [4] Suhrawardi, Hukum Waris Islam ( Lengkap & Praktis), (Jakarta : Sinar Grafika) h. 71

[5] Ibid, h 72 [6] Sayyid Sabig, Fiqih Sunah (Jakarta : Pena Ilmu & Amal) Jld 4. h 505 [7] Surwati, op cit. H 66-67 [8] Sayyid Sabiq, Op. Cit h. 505-507

ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS (Tinjauan Fiqh Islam dan Hukum Positif Indonesia serta Penyelesaiannya pada Pengadilan Agama) Oleh : M. Yusuf, S.HI (Hakim Pengadilan Agama Pandan) Ketika si Polan meninggal dunia, istrinya sedang hamil anak pertama. Si Polan adalah seorang pengusaha muda yang sukses yang tentunya banyak meninggalkan harta warisan. Ahli waris yang ditinggalkan si Polan hanya seorang

isteri hamil dan seorang saudara laki-laki. Karena saudara laki-laki si Polan merasa sebagai ahli waris satu-satunya selain isteri si Polan, ia segera mengajukan perkara pembagian harta warisan ke Pengadilan Agama sebelum anak si Polan lahir. Ia menyampaikan ke Pengadilan Agama bahwa ahli waris si Polan adalah seorang isteri dan seorang saudara laki-laki. Dalam pemeriksaan perkara ini, jika hakim hanya melihat kepada ahli waris yang sudah lahir dan masih hidup dan tidak memperhatikan sama sekali anak yang masih dikandung isteri si Polan, maka isteri si Polan akan mendapat dari harta warisan karena dianggap si Polan belum punya anak sedangkan saudara laki-laki si Polan adalah ashabah yang mendapatkan harta warisan. Andaikata anak yang dikandung si Polan diperhitungkan sebagai ahli waris, maka saudara laki-laki si Polan tidak akan mendapat harta sebanyak itu dan bisa jadi tidak dapat sama sekali jika anak itu laki-laki karena akan menghijab saudara laki-laki si Polan. A. Pendahuluan Islam bagi umatnya bukan hanya mengandung ajaran tentang keimanan dan apa-apa yang harus dilakukan untuk Khaliq (Pencipta) dalam rangka pelaksanaan ibadah, namun juga mengatur aturan tentang pergaulan mereka dalam kehidupan di dunia yang disebut muamalat dalam artian umum, termasuk aturan tentang pembagian warisan atau ilmu faraid. Aturan-aturan yang ditetapkan Allah dimana ilmu faraid termasuk di dalamnya, diturunkan Allah untuk menjadi rahmat bagi umat manusia. Rahmat ini dalam bahasa hukum berarti kemaslahatan ummat baik dalam bentuk memberi manfaat bagi manusia atau menghindarkannya dari mudharat (bahaya). Sehingga dengan adanya aturan Allah tersebut seseorang yang berhak menerima warisan kepadanya harus diberikan haknya sesuai dengan kadarnya masing-masing. Salah satu ahli waris yang berhak menerima warisan adalah anak. Anak baik laki-laki maupun perempuan adalah ahli waris, bahkan ia adalah ahli waris yang paling dekat dengan pewaris. Namun yang menjadi pertanyaan apakah anak dalam kandungan termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan atau ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net tidak. Bagaimana Fiqh Islam dan hukum positif di Indonesia menempatkan posisi anak dalam kandungan sebagai ahli waris. Lalu bagaimana seharusnya Pengadilan Agama sebagai pengadilan yang mempunyai wewenang menyelesaikan perkara kewarisan umat Islam, memperhatikan haknya anak dalam kandungan atau justru mengabaikan. Pertanyaan itulah yang Penulis coba

untuk menjawabnya dalam tulisan yang singkat ini. B. Hak kewarisan anak dalam kandungan menurut Fiqh Islam. Untuk melihat apakah anak dalam kandungan sebagai ahli waris atau tidak menurut fiqh Islam yang perlu kita rujuk pertama adalah Al Quran dan Sunnah sebagai sumber utama syariah Islam. Dalam Al Quran Surat Annisa ayat 11 disebutkan : Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan) untuk anak-anakmu : bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan. Dalam ayat ini Allah hanya menjelaskan tentang perbandingan bagian anak laki-laki dan perempuan dalam warisan orang tuanya. Tidak dijelaskan apakah anak yang dimaksud adalah anak yang sudah lahir atau anak yang masih dalam kandungan. Oleh sebab itu jawaban dari pertanyaan berhakkah anak yang masih dalam kandungan ibunya terhadap harta warisan atau tidak, belum kita temukan jawaban pasti dari Al Quran, karenanya pemahaman anak jika dalam Al Quran dikaitkan dengan kelahirannya sebagai ahli waris masih bersifat zhanny sehingga bisa ditafsirkan dan dikaji lebih lanjut. Ketika kita rujuk Hadits-Hadits Rasulullah tentang anak dalam kandungan sebagai ahli waris atau tidak, kita hanya menemukan sepotong hadits yang bersumber dari Jabir r.a diriwayatkan oleh Abu Daud : Izastahallal mauluudu warrasa apabila telah berteriak (bersuara) anak yang dilahirkan maka ia adalah ahli waris. Dalam memahami hadits ini ada dua pendapat ulama. Sebagian ulama yang terdiri dari Ibnu Abbas, Said Ibn Al Musayyab, Syureih Ibn Hasan dan Ibn Sirin dari kalangan shabat berpendapat bahwa bukti kehidupan bayi yang lahir adalah istihlal atau teriakan sesuai dengan zahir hadits. Golongan ulama kedua yang terdiri dari Al Tsauri, Al Auzai, Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya, Al Syafii dan Ahmad dalam salah satu riwayat dan Daud berpendapat bahwa tanda kehidupan itu dapat diketahui dengan teriakan dan juga dengan cara lain seperti gerakan tubuh, menyusui dan petunjuk lain yang meyakinkan. 1 Dari komentar para ulama di atas terhadap hadits dari Jabir itu, jika kita teliti dengan seksama mereka tidak mempertanyakan apakah anak dalam kandungan sebagai ahli waris atau tidak, tetapi hanya mempermasalahkan teknis

menentukan hidup atau tidaknya anak. Golongan pertama dengan teriakan ketika lahir, golongan kedua bisa dengan tanda lain seperti bergerak, menyusui dan 1 Ibnu Qudamah, Al Mughni, (Mathbaah al Qahirah, Mesir, 1969) h. 384-385. Lihat Juga Ibnu Hazm, Al Muhalla, (Mathbaah al Jumhuriyyah, Mesir, 1970) h. 410ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net petunjuk lain. Penentuan hidup atau tidaknya anak memang sangat penting karena sebagai ahli waris harus diyakini dia hidup ketika pewaris meninggal. Dengan demikian kedudukan anak dalam kandungan adalah ahli waris telah disepakati para ulama. Hal ini dapat kita pahami dari informasi yang disampaikan Dr. Badran Abu Inain Badran : Faqad ajma fuqahaausy syariati ala annal walada fi bathni ummihi mim bainil mustahiqqiina lil irtsi mata qaama bihi sababun min asbaabil irtsi (Telah sepakat para ulama bahwa anak yang masih dalam kandungan ibunya termasuk orang yang berhak menerima warisan jika padanya terdapat salah satu sebab dari-sebab kewarisan) 2 . Begitu juga Wahbah Zuhaili menjelaskan : walau kaana hiinaizin mudhgatan aw alaqatan tsabata lahul haqqu fil miiraatsi (Jika ahli waris masih dalam bentuk mudhghah(segumpal daging) atau alaqah (segumpal darah) maka hak kewarisannya tetap ada). 3 Ulama kontenporer sekelas Sayid Sabiq dalam bukunya Fiqh Sunnah ketika menjelaskan syarat-syarat kewarisan telah menulis : hayaatul waaritsi bada mautil muwarrits walau kaana hukman kal hamli (hidupnya ahli waris ketika/setelah matinya pewaris, walaupun hidup secara hukum seperti anak dalam kandungan). 4 Dalam hal ini Sayid Sabiq menerangkan ketika syarat ahli waris adalah hidup ketika pewaris meninggal, anak dalam kandungan sudah bisa dianggap hidup walaupun itu hidup secara hukum. Dengan demikian anak dalam kandungan harus diperhitungkan sebagai ahli waris. Perlu diketahui, anak dalam kandungan sebagai ahli waris disebut juga dalam ilmu ushul fiqh ahliyatul wujub yang tidak sempurna, ia pantas menerima hak namun belum mampu memenuhi kewajiban.

5 Oleh karena anak dalam kandungan itu dinyatakan orang yang pantas menerima hak, maka ia ditetapkan sebagai ahli waris yang berhak menerima harta warisan dari pewaris bila padanya terpenuhi rukun dan syarat kewarisan. Rukun Kewarisan adalah pewaris, ahli waris, harta warisan, sedangkan syarat kewarisan adalah meninggalnya pewaris, hidupnya ahli waris ketika pewaris meninggal, dan tidak terdapat penghalang kewarisan (sep. membunuh pewaris, murtad dan budak). Terhadap anak dalam kandungan sebagai ahli waris terdapat dua keraguan dalam tekhnis pembagian hak warisannya yaitu maujud (ada)-nya dan hidupnya dia ketika pewaris meninggal ditambah kesamaran kondisi anak dalam kandungan apakah laki-laki atau perempuan, tunggal atau kembar. Oleh karena keraguan itu, para ulama klasik memelihara hak anak dalam kandungan itu dengan memauqufkan (menunda) pembagian harta warisan sampai anak itu lahir 2 Badran Abu Inain Badran, Al Mawarits wal Washiyat wal Hibah fi Syariatil Islamiyah wal Qanun, (Syabab Al Jamiah, Iskandariyah, tt) h. 89 3 Wahbah Az Zuhaili, Fiqhul Islam Waadillatuh, (Dar Fikr, Mesir tt) h. 254 4 Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, hal. 426 5 Amir Syarifuddin, Permasalahan dalam Pelaksanaan Faraid, (IAIN-IB Press, Padang, 1999, h.1ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net atau membagi kepada ahli waris lain dengan memberikan kemungkinan asumsi jumlah terbesar yang diterima anak dalam kandungan itu. Dari uraian di atas Penulis berkesimpulan bahwa dalam fiqh Islam anak dalam kandungan adalah ahli waris, walaupun dalam kajian fiqh klasik pembagian hak kewarisan anak dalam kandungan hanya bisa terlaksana ketika anak itu lahir. C. Hak Kewarisan Anak dalam Kandungan menurut Hukum Positif di Indonesia. Kedudukan anak dalam kandungan sebagai ahli waris dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia tidak dijumpai aturan yang jelas. Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 174 ayat (1) yang berbicara tentang siapa-siapa

yang berhak sebagai ahli waris : Kelompok-kelompok ahli waris terdiri dari : a. Menurut hubungan darah : golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman, dan kakek. Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek. Kata-kata anak laki-laki dan anak perempuan tidak dirinci secara jelas, apakah yang dimaksud anak yang sudah lahir atau masih dalam kandungan. Dalam penjelasan pasal inipun tidak dijumpai penjelasan masalah itu karena pasal ini dianggap cukup jelas, padahal ini menimbulkan ketidakpastian, bisa jadi yang dimaksud anak yang sudah lahir, bisa juga anak yang masih dalam kandungan. Namun pasal 186 KHI ketika menjelaskan kedudukan kewarisan anak luar nikah dirumuskan pasal sebagai berikut : Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah hanya mempunyai hubungan saling mewarisi dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya. Kata-kata anak yang lahir kalau dianalogikan dengan pasal 174 ayat (1) KHI memberikan pengertian bahwa anak sebagai ahli waris adalah anak yang sudah lahir, tidak anak yang masih dalam kandungan. Begitu juga kalau dianalogikan dengan UU Nomor 1/1974 pasal 42 ketika menjelaskan anak sah ditemukan rumusan pasal sebagai berikut : Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Dalam UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak terdapat pengertian yang agak luas tentang anak. Dalam pasal 1 Undang- Undang ini ditemukan rumusan : Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Adanya tambahan anak kalimat termasuk anak dalam kandungan memberikan pemahaman bahwa seseorang sejak masih dalam kandungan sampai berusia 18 tahun masih disebut anak. Oleh sebab itu apapun hak dan kewajibannya dalam undangundang ini tetap berlaku selama seseorang masih disebut anak. Tetapi apakah ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net hak anak dalam undang-undang ini mencakup hak kewarisan. Ini yang perlu kita kaji lebih lanjut. Bab III UU Nomor 23/2002 menjelaskan tentang hak dan kewajiban anak. Bab III ini terdiri dari 16 pasal yaitu pasal 4 sampai pasal 19. Pasal 4 sampai pasal 18 menjelaskan hak seorang anak, dan pasal 19 menjelaskan tentang kewajiban seorang anak. Secara singkat dapat dijelaskan hak anak dalam UU

Nomor 23/2002 sebagai berikut : 1. Hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. (pasal 4) 2. Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan (pasal 5) 3. Hak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua. (pasal 6) 4. Hak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri (pasal 7) 5. Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial (pasal 8) 6. Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9) 7. Hak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya (pasal 10) 8. Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri (pasal 11) 9. Hak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial bagi anak yang menyandang cacat (pasal 12) 10.Hak mendapat perlindungan dari perlakuan: diskriminasi, eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya (pasal 13) 11.Hak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri (pasal 14) 12.Hak untuk memperoleh perlindungan dari : penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam kerusuhan social, pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan pelibatan dalam peperangan (pasal 15) 13.Hak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi (pasal 16)ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net 14.Hak bagi anak yang dirampas kebebasannya untuk : mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa, memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap

tahapan upaya hukum yang berlaku; dan membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum. (Pasal 17) 15.Hak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya (pasal 18) Dari 15 pasal dalam UU Nomor 23/2002 yang menjelaskan tentang hak seorang anak (termasuk yang masih dalam kandungan) tidak satupun yang menjelaskan tentang hak kewarisan seorang anak dari pewarisnya. Tidak adanya penjelasan hak seorang anak terhadap harta warisan dari pewarisnya menunjukkan bahwa pembuat undang-undang di Indonesia ini masih lalai dalam menjaga hak seseorang anak, apalagi hak kewarisan anak dalam kandungan. Walaupun pasal 1 tentang pengertian anak sudah memuat anak kalimat termasuk anak yang masih dalam kandungan, namun kalau diteliti hak anak yang masih dalam kandungan dalam UU ini hanya kita dapati dalam 1 pasal yaitu pasal 4 dimana hak hidup, tumbuh dan berkembang seorang anak harus dijaga. Tidakan menggugurkan anak yang masih dalam kandungan, tidak menjaga kehamilan dengan baik adalah sesuatu yang bertentangan dengan pasal 4 UU ini. Selain dari itu, tidak dijumpai lagi hak anak dalam kandungan. Dari uraian di atas Penulis berkesimpulan bahwa dalam hukum positif di Indonesia kalau tidak boleh disebut terabaikan, sekurang-kurangnya terlupakan kedudukan anak dalam kandungan sebagai ahli waris. Padahal ini adalah persoalan besar yang harus diselesaikan. Kelalaian terhadap kewarisan anak dalam kandungan akan mengakibatkan si anak akan terancam masa depannya. D. Penyelesaian Kewarisan Anak dalam Kandungan di Pengadilan Agama. Ketika Pengadilan Agama menerima perkara tentang pembagian harta warisan yang harus diungkap adalah : siapa sebagai pewaris, siapa-siapa ahli waris, siapa ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, siapa-siapa ahli waris yang terhijab dan berapa bagian masing-masing ahli waris yang mendapatkan warisan. Dalam hal menentukan siapa-siapa yang berhak sebagai ahli waris selama ini asumsi Pengadilan Agama (dalam hal ini hakim) masih melihat kepada ahli waris yang sudah hidup (lahir) dan masih hidup. Penulis memang belum melakukan penelitian terhadap semua putusan hakim Pengadilan Agama, namun setidak-tidaknya dari putusan-putusan yang Penulis akses di dunia maya

termasuk pengalaman Penulis sendiri, ketika hakim memeriksa siapa-siapa saja ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net yang menjadi ahli waris, tidak pernah dikaji dan diteliti apakah ada atau tidak ahli waris yang masih dalam kandungan yang kemungkinan berkedudukan sebagai ahli waris. Alasan tidak ditelitinya kemungkinan adanya ahli waris yang masih dalam kandungan bisa jadi disebabkan hukum positif yang berlaku di Indonesia (dalam hal ini Pengadilan Agama) sebagai hukum materilnya belum memuat secara tegas adanya kemungkinan ahli waris anak yang masih dalam kandungan. Sebagai wacana kasus dapat Penulis ilustrasikan sebagai berikut : Ketika si Polan meninggal dunia, istrinya sedang hamil anak pertama. Si Polan adalah seorang pengusaha muda yang sukses yang tentunya banyak meninggalkan harta warisan. Ahli waris yang ditinggalkan si Polan hanya seorang isteri hamil dan seorang saudara laki-laki. Karena saudara laki-laki si Polan merasa sebagai ahli waris satu-satunya selain isteri si Polan, ia segera mengajukan perkara pembagian harta warisan ke Pengadilan Agama sebelum anak si Polan lahir. Ia menyampaikan ke Pengadilan Agama bahwa ahli waris si Polan adalah seorang isteri dan seorang saudara laki-laki. Dalam pemeriksaan perkara ini, jika hakim hanya melihat kepada ahli waris yang sudah lahir dan masih hidup dan tidak memperhatikan sama sekali anak yang masih dikandung isteri si Polan, maka isteri si Polan akan mendapat dari harta warisan karena dianggap si Polan belum punya anak sedangkan saudara laki-laki si Polan adalah ashabah yang mendapatkan harta warisan. Andaikata anak yang dikandung si Polan diperhitungkan sebagai ahli waris, maka saudara laki-laki si Polan tidak akan mendapat harta sebanyak itu dan bisa jadi tidak dapat sama sekali jika anak itu laki-laki karena akan menghijab saudara laki-laki si Polan. Penulis menyampaikan ilustrasi ini sebagai gambaran betapa berbeda sekali hasil pembagian harta warisan jika anak yang masih dalam kandungan diperhitungkan sebagai ahli waris dengan anak dalam kandungan tidak diperhitungkan/diabaikan sebagai ahli waris. Akan banyak kemungkinan kejadian lain yang akan muncul berkaitan dengan kewarisan anak yang masih dalam kandungan. Oleh sebab itu apa sebaiknya tindakan Pengadilan Agama jika ada perkara pembagian harta warisan yang kemungkinan akan menjadi ahli waris adalah anak yang masih dalam kandungan ? Menurut Penulis ada beberapa bentuk penyelesaian yang bisa salah satunya ditempuh Pengadilan Agama dalam menyelesaikan perkara itu : 1. Segera menyelesaikan perkara pembagian harta warisan tanpa

memperhitungkan hak waris anak yang masih dalam kandungan. 2. Segera menyelesaikan perkara pembagian harta warisan dengan memperhitungkan hak anak yang masih dalam kandungan ; atau 3. Menunda penyelesaian perkara sampai anak yang masih dalam kandungan lahir,.ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net Masing-masing cara penyelesaian seperti di atas jika ditinjau dari hukum acara yang berlaku di Pengadilan Agama dan keadilan masyarakat, mempunyai plus dan minus. Cara Pertama : Segera menyelesaikan perkara pembagian harta warisan tanpa mempedulikan hak waris anak dalam kandungan. Dari segi hukum acara, penyelesaian seperti ini tepat karena prinsip peradilan yang berlaku di Indonesia adalah cepat, sederhana dengan biaya ringan. Dari segi kajian hukum materil (legal justice) yang berlaku si Pengadilan Agama mengabaikan hak anak dalam kandungan tidaklah menyalahi karena sampai saat ini hukum positif (hukum materil) yang berlaku di Indonesia tidak dijumpai aturan yang mengatur secara tegas anak dalam kandungan adalah ahli waris. Namun dari segi keadilan masyarakat (sosial justice) cara penyelesaian seperti ini tidak memenuhi unsur keadilan masyarakat dan tidak respek kepada kedudukan anak sebagai ahli waris yang paling dekat dan paling berhak terhadap harta warisan. Apalagi kalau kejadiannya seperti yang telah Penulis ilustrasikan di atas. Anak pewaris justru tidak akan dapat apa-apa dari warisan orang tuanya karena ketika harta warisan di bagi ia masih dalam kandungan. Selain itu cara penyelesaian seperti ini akan dislahgunakan pihak ahli waris lain yang merasa haknya akan terhijab jika anak dalam kandungan ditempatkan sebagai ahli waris. Cara Kedua : Segera menyelesaikan perkara pembagian harta warisan dengan memperhitungkan hak anak yang masih dalam kandungan. Dari prinsip penyelesaian perkara cepat dan biaya ringan penyelesaian seperti ini tepat. Dari segi sosial justice penyelesaian seperti ini juga tepat karena anak sebagi ahli waris yang paling dekat diperhitungkan. Namun akan terkendala dengan persoalan teknis pembagian, karena anak dalam kandungan masih mempunyai kesamaran dalam hal maujud (ada)-nya anak dalam kandungan, hidup tidaknya anak dalam kandungan, laki atau perempuan, dan tungggal atau kembar. Kesamaran tentang maujudnya anak dalam kandungan, hidup tidaknya anak dalam kandungan, laki-laki atau perempuan dan tunggal atau kembar adalah sesuatu yang memiliki makna penting dalam menentukan kadar bagian

masing-masing ahli waris. Oleh sebab itu kesamaran itu bisa harus diungkap jelas jika anak dalam kandungan di posisikan sebagai ahli waris. Cara Ketiga : Menunda penyelesaian perkara sampai anak yang masih dalam kandungan lahir. Dari segi legal justice dan sosial justice penyelesaian seperti ini tidak masalah, namun dari segi prinsip penyelesaian perkara cepat, sederhana dan biaya ringan penyelesaian seperti ini tidak relevan, karena menunggu anak lahir membutuhkan waktu yang panjang, apalagi ahli waris lain menuntut agar harta warisan dibagi secepatnya. Dari tiga bentuk penyelesaian kewarisan anak dalam kandungan yang diuraikan di atas Penulis berpendapat, bahwa jalan sebaiknya yang ditempuh Pengadilan Agama (hakim) adalah jalan kedua yaitu segera menyelesaikan perkara pembagian harta warisan dengan memperhitungkan hak waris anak ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net dalam kandungan. Memang untuk menentukan hak anak yang masih dalam kandungan masih terdapat masalah tentang dasar hukumnya. Untuk hal ini memang belum kita temui peraturan perundang-undangan yang menyatakan anak dalam kandungan adalah ahli waris, namun untuk mengisi kekosongan hukum ini Mahkamah Agung sebagai lembaga pengadilan tertinggi di Indonesia dapat mengeluarkan petunjuk agar menetapkan anak dalam kandungan sebagai ahli waris. Andaikata tidak ada aturan dan petunjuk Mahkamah Agung tersebut, hakim yang menangani perkara bisa menggunakan fungsinya sebagai pembuat hukum jika terjadi kekosongan hukum. Adapun kesamaran yang meliputi anak dalam kandungan (hidup atau tidak, laki-laki atau perempuan, tunggal atau kembar), saat ini sudah ditemukan alat untuk mengetahui kondisi anak dalam kandungan yaitu USG (ultrasonografi). Dengan kemajuan USG saat ini yang bisa menampilkan gambar tiga dimensi, semakin meyakinkan kondisi kesamaran terhadap anak dalam kandungan. Namun bagaimana kedudukan hasil pemeriksaan USG untuk dijadikan dasar penetapan hak kewarisan anak dalam kandungan? Dengan pemeriksaan USG kesamaran tentang keadaan anak dapat dijawab. Dengan pemeriksaan USG dapat diketahui maujud atau tidaknya anak, hidup atau tidak, jenis kelamin maupun tunggal atau kembarnya. Pemeriksaan USG menggunakan gelombang ultrasonik yang diberikan kepada janin dalam kandungan. Pantulan gelombang itu diubah menjadi gambar yang terlihat dilayar monitor. Dengan melihat layar monitor itulah dokter mendiagnosa keadaan anak dalam kandungan. Keakuratan hasil pemeriksaan USG tergantung dari beberapa faktor :

yaitu usia kandungan, posisi janin, dan kemahiran dokter yang memeriksa. Oleh sebab itu hasil pemeriksaan USG tergantung dari dokter yang memeriksa. Dokter sendiri bisa jadi yakin dengan hasil pemeriksaannya, bisa ragu, bisa jadi tidak yakin. Oleh sebab itu hakim yang memeriksa dan menyelesaikan perkara kewarisan anak dalam kandungan dapat meminta atau diajukan oleh ahli waris dokter kandungan untuk didengar keterangannya dalam kapasitasnya sebagai saksi ahli. Selama dokter yang mendiagnosa tentang keadaan anak dalam kandungan yakin dan keyakinannya itu dapat membawa kepada keyakinan hakim, maka hakim dapat menyelesaikan pembagian harta warisan anak dalam kandungan berdasarkan keterangan dokter itu. Kaidah Ushul Fiqh : Alyaqiinu fiihi hukmun 6 (yakin dapat dijadikan dasar hukum). Apabila dokter yang melakukan pemeriksaan USG itu yakin dengan kondisi anak dalam kandungan, lalu ada yang membantah bahwa keyakinan dokter itu bisa jadi salah atau keyakinan itu belum pasti sesuai dengan keadaan sebenarnya, maka bantahan seperti itu hanya bersifat syak (ragu) dan syak tidak 6 Abdul Hamid Hakim, Al Bayan, (Bulan Bintang, Jakarta, tt) h. 8ANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net bisa mengalahkan yakin. Sesuai dengan kaidah ushul fiqh : Al Yaqiinu la yuzaalu bisysyak (keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan syak). Namun jika bantahan itu dengan dokter lain dan dokter lain itu berdasarkan keyakinannya pula memberikan hasil diagnosa berbeda/bertolak belakang dengan dokter pertama, maka hakim keputusan ada ditangan hakim, hakim bisa memutuskan dengan keyakinan salah satu dokter atau menolak dua-duanya karena dianggap kesaksian yang bertolak belakang dan tidak saling mendukung. Jika hakim menolak dua-duanya maka penyelesaian pembagian harta warisan anak dalam kandungan harus ditunda sampai anak tersebut lahir. Wallahu alam bish shawab E. Kesimpulan 1. Bahwa dalam Fiqh Islam anak dalam kandungan adalah ahli waris yang berhak menerima warisan jika padanya terdapat sebab-sebab kewarisan (perkawinan, kekerabatan, dan memerdekakan budak).

2. Kedudukan anak dalam kandungan sebagai ahli waris dalam hukum positif di Indonesia kalau tidak boleh disebut terabaikan, sekurangkurangnya terlupakan. Padahal ini adalah persoalan besar yang harus diselesaikan. Kelalaian terhadap kewarisan anak dalam kandungan akan mengakibatkan si anak akan terancam masa depannya. 3. Bahwa demi kepentingan anak dan keadilan masyarakat, jalan sebaiknya yang ditempuh Pengadilan Agama (hakim) adalah : segera menyelesaikan perkara pembagian harta warisan dengan memperhitungkan hak waris anak dalam kandungan, jika ada perkara pembagian warisan yang kemungkinan ahli warisnya anak dalam kandungan. Jika ada masalah dengan kesamaran tentang kondisi anak, pendapat saksi ahli (dokter kandungan) dapat didengar dan diajadikan pertimbangan. F. Saran-Saran 1. Agar para pembuat hukum di Indonesia memperhatikan kedudukan anak dalam kandungan sebagai ahli waris, karena sampai saat ini belum ada aturan yang menjelaskan bahwa anak dalam kandungan adalah ahli waris. 2. Bahwa demi kepentingan anak dan rasa keadilan masyarakat, Pengadilan Agama (hakim) ketika menyelesaikan perkara pembagian warisan dapat mempertimbangkan anak dalam kandungan sebagai ahli waris. DAFTAR KEPUSTAKAAN Alquran dan terjemahannyaANAK DALAM KANDUNGAN SEBAGAI AHLI WARIS | www.badilag.net Badran, Badran Abu Inain, Almawarits Wal Washiyat fi Syariatil Islamiyah wal Qanun, Syabab al Jamiah, Iskandariyah, t.t Hakim, Abdul hamid, Al Bayan, Bulan Bintang, Jakarta, t.t Kompilasi Hukum Islam Syarifuddin, Amir, Permasalahan dalam Pelaksanaan Faraid, IAIN-IB Press, Padang, 1999 Sabiq, Sayid, Fiqh Sunnah, Alih Bahasa oleh Kamuluddin A Marzuki, dkk. Al MAarif, Bandung : 1993 Undang-Undang Nomor 1 /1974 tentang Perkawinan Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak Az Zuhaili, Wahbah, Fiqhul Islam Wa adillatuh, Daar Al Fikri, Mesir, t.t

Hak Waris Anak Dalam Kandungan


Pengertian Anak dalam Kandungan Dalam bukunya yang berjudul Fiqih Mawaris Ahmad Sarwat Lc (2010:29) menjelaskan bahwa kata waris berasal dari bahasa Arab yakni Almiirats Diambil dari bentuk mashdar (infinitif) yakni kata waritsa-yaritsuirtsan-miiraatsan. Sehingga menurut bahasa Waris adalah berpindahnya

sesuatu dari seseorang kepada orang lain atau dari suatu kaum kepada kaum lain.Sedangkan secara syariah waris diartikan sebagai. "berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syar'I. Ahmad Sarwat Lc (2010:30) Menurut Amus Besar Bahasa Indonesia (BBI) waris diartikan sebagai Orang yg berhak menerima harta pusaka dr orang yg telah meninggal. Dari definisi-definisi diatas dapat isimpulkan bahwa Waris adalah berpindahnya sesuatu baik itu berupa barang maupun harta dari seseorang yang sudah meninggal dunia kepada orang yang masih hidup (ahli waris). Orang yang mengandung sering disebut dengan al-hamlu (hamil) dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari kata hamalat. Dan tercantum dalam Al quran surah Al-Ahqof : 15 kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya yang mengandung dengan susah payah, dan melahirkan dengan susah payah pula. Menurut istilah para fuqoha, yaitu janin yang dikandung dalam perut ibu baik laki-laki maupun perempuan. Pada dasarnya apabila seseorang meninggal dunia dan diantara ahli warisnya terdapat anak yang masih dalam kandungan atau istri yang sedang menjalankan masa iddah dalam keadaan mengandung atau kandungan itu dari orang lain yang meninggal, maka anak yang dalam kandungan itu tidak memperoleh warisan bil fili, karena hidupnya ketikam uwar is meninggal tidak dapat dipastikan. Karena salah satu syarat dalam mewarisi yang harus dipenuhi oleh ahli waris adalah keberadaannya (hidup) ketika pewaris wafat. Dengan demikian bagi anak yang masih dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya, karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya, apakah bayi itu akan lahir selamat atau tidak, laki-laki atau perempuan, satu atau kembar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kita dihadapkan pada ikhtiyar menyangkut kemaslahatan demi terpelihara hak anak, maka bagiannya dimawqufkan sampai dia lahir karena ada kemungkinan bahwa dia telah hidup ketikamuwar isnya meninggal. Atau pada keadaan darurat menyangkut kemaslahatan ahli waris yang mengharuskan disegerakan pembagian harta warisan dalam bentuk awal. Oleh karena itu jika memungkinkan dapat menentukan isi kandungan dengan tes USG untuk mengetahui jenis kelamin dari anak tersebut maka disimpanlah bagian harta warisan untuknya. Karena anak dalam kandungan menjadi masalah dalam kewarisan karena ketidakpastian yang ada pada dirinya, sedangkan warisan dapat diselesaikan secara hukum jika kepastian itu sudah ada. Syarat Anak dalam Kandungan Memperoleh Harta Waris Anak yang masih berada dalam kandungan ibunya termasuk ahli waris yang berhak menerima warisan sebagaimana ahli waris lainnya. Untuk merealisasikan hak kewarisan ini, diperlukan syarat-syarat berikut : 1. Ketika muwaris meninggal, anak itu telah berwujud dalam rahim ibunya. 2. Bayi yang ada dalam kandungan tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup. Penjelasan Pertma: Waris mewarisi bertujuan menggantikan kedudukan orang yang sudah meninggal dalam kepemilikan harta bendanya. Maka disyaratkan bayi tersebut telah terwujud supaya tergambar

penggantian yang dimaksud. Tingkatan yang seminimal-minimalnya sebagai seorang pengganti ia harus sudah terwujud walaupun masih berada dalam kandungan ibunya. Ini karena sperma yang ada pada rahim itu, tidak akan hancur jika mempunyai zat hidup, sehingga ia dihukumi hidup. Penjelasan Kedua: Lahir dalam keadaan hidup disyaratkan untuk meyakinkan bahwa anak dalam kandungan itu memang benar-benar hidup dalam rahim ketikamuwaris meninggal. Ketika masih dalam kandungan walaupun sudah dianggap hidup, itu bukanlah hidup yang sebenarnya. Kelahiran dalam keadaan hidup ke dunia ini dengan tenggang waktu yang telah ditentukan merupakan bukti yang nyata atas perwujudan ketika orang yang mewariskan meninggal. Selain perwujudan nyata anak dalam keadaan hidup dan tenggang waktu kelahiran diperlukan juga ciri-ciri yang meyakinkan. Diantara ciri-ciri tersebut antara lain berteriak, bernafas, bergerak dan lain sebagainya. Sebagaimana Abu Hurairah r.a mengutip sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan tanda-tanda hidup ini sebagai berikut : Apabila anak yang dilahirkan itu berteriak, maka diberi pusaka. Sistem Perhitungan 1. Mempresentasikan pembagian tentang anak laki-laki ,maka para ashabul furudh yangtidak terhijab dengan keberadaannya dapat mengambil saham yang telah di tentukantanpa menunggu kelahirannya. 2. Apabila bayi yang terlahir seorang perempuan maka bayi tersebut hanya mengambil bagiannya hanya sebagai seorang anak perempuan, lalu harta selebihnya diberikankepada yang berhak ,baik secara ulang perhitungan atau cara lainnya sesuai denganaturan waris seperti seorang anak perempuan yang terlahir tidak dapat menghijabsaudara laki-laki kandung pewaris,sebaliknya jika seorang laki-laki akan dapatmenghijab saudara tersebut. Kematian bayi dalam kandungan berakibat tidak memperoleh hak waris baginya,maka harta taksiran yang telah diperhitungkan untuknya di berikan kepada yang berhak sesuai dengan aturan hukum waris. Apabila bayi yang terlahir hidup ,walaupun dalam waktu yang tidak lama ,tetapi dapatdibuktikan secara yuris/hukum maka sistem perhitungan waris tetap memberikanhak waris untuknya sesuai dengan jenis kelamin dan keberadaan dirinya (seperti diatetap hidup),kemudian harta tersebut(saham untuknya) diberikan kepada ahli warisyang berhak atas dirinya ,bukan lagi kepada pewaris(mayit) pertama dalam perhitungan. Menurut KUHPerdata Bayi dalam kandungan berhak waris sebagai berikut ,sebagaiman di jelaskan dalam pasal 2KUHPerdata:Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan ,dianggap sebagai telah dilahirkan,bilamana juga kepentingan si anak menghendakinya. mati sewaktu dilahirkannya,dianggaplah ia tak pernah telah ada. http://andriawanferi.blogspot.com/2012/03/hak-waris-anak-dalamkandungan.html

3.

E. Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan

Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan: 1. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. 2. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya, sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris, jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r.a.: "Tidaklah janin akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal." Pernyataan Aisyah r.a. tersebut dapat dipastikan bersumber dari penjelasan Rasulullah saw.. Pernyataan ini merupakan pendapat mazhab Hanafi dan merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad. Adapun mazhab Syafi'i dan Maliki berpendapat bahwa masa janin dalam kandungan maksimal empat tahun. Pendapat inilah yang paling akurat dalam mazhab Imam Ahmad, seperti yang disinyalir para ulama mazhab Hambali. Sedangkan persyaratan kedua dinyatakan sah dengan keluarnya bayi dalam keadaan nyata-nyata hidup. Dan tanda kehidupan yang tampak jelas bagi bayi yang baru lahir adalah jika bayi tersebut menangis, bersin, mau menyusui ibunya, atau yang semacamnya. Bahkan, menurut mazhab Hanafi, hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. Adapun menurut mazhab Syafi'i dan Hambali, bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Bila gerakan itu hanya sejenak --seperti gerakan hewan yang dipotong-- maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Dengan demikian, ia tidak berhak mewarisi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.: "Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati), maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan." (HR Nasa'i dan Tirmidzi) Namun, apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati, atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati, atau ketika keluar

dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil, maka tidak berhak mendapatkan waris, dan ia dianggap tidak ada.

hukum waris anak dalam kandungan, zina,li'an


PENDAHULUAN Hukum kewarisan islam mengatur peralihan harta dari seorang yang telah meninggal kepada yang masih hidup. Aturan tentang peralihan harta ini disebut dengan berbagai nama. Dalam literatur hukum islam ditemui beberapa istilah untuk menamakan hukam kewarisan islam seperti: Faraidh, fiqh mawaris dan hukum Al-Waris. Perbedaan dalam penamaan ini terjadi karena perbedaan dalam arah yang dijadikan titik utama dalam pembahasan. Disini kami akan membahas mengenai pembagian waris anak dalam kandungan, anak zina, dan anak lian. A. Kewarisan Anak dalam Kandungan Para ulama Ushul Fiqh dalam membicarakan orang-orang yang pantas menjadi subjek hukum atau mahkum fih, membaginya kepada dua katagori yaitu pantas menerima hukum dan pantas menjalankan hukum. Mereka kemudian membagi yang pantas menerima hukum itu menjadi dua, pertama pantas menerima hukum secara tidak sempurna, kedua orang yang pantas menerima hukum secara sempurna. Orang yang pantas menerima hukum secara tidak sempurna itu ialah bila ia hanya pantas menerima hak-hak saja tetapi tidak pantas memikul kewajiban atau sebaliknya; sedangkan yang sempurna itu adalah bila ia pantas menerima keduanya. Dalam mencontohkan orang yang pantas menerima hukum yang tidak sempurna itu yang biasa dikemukakan ialah anak dalam kandungan. Ia pantas menerima hak-hak namun ia belum mampu menerima kewajiban. Oleh karna bayi yang dalam kandungan itu dinyatakan sebagai orang yang pantas menerima hak, maka ia ditetapkan sebagai ahli waris yang berhak menerima harta warisan dari pewaris bila telah terdapat sebab dan syarat kewarisan pada dirinya. Disamping itu, para ulama menetapkan pula syarat-syarat seseorang dapat menguasai atau mengendalikan harta yang dimilikinya itu, yaitu setelah ia mencapai taraf yang disebut rasydu dalam arti cerdas, yang pada umumya dicapai seseorang dinyatakan dewasa. Oleh karna masalah kewarisan itu hanya berkaitan dengan mendapatkan hak dan bukan menguasai atau mengendalikan hak, maka ditetapkan bahwa bayi dalam kandungan adalah ahli waris yang berhak.[1] apabila ada seorang laki-laki meninggal pada saat istrinya sedang hamil, maka kalau memungkinkan diperoleh kejelasan tentang bayi yang ada dalam kandungan itu, diberikanlah untuk bayi dalam kandungannya itu bagian warisnya sesuai dengan hasil pembuktian yang dilakukan. Tetapi apabila tidak mungkin melakukan pembuktian maka disisakanlah bagian tertentu untuk bayi yang masih dalam kandungan tersebut. Para ulama mazhab berbeda pendapat tentang berapa besarnya bagian yang dipisahkan untuknya itu.

Imam Hanafi mangatakan: Disisakanlah untuknya satu bagian sebesar bagian seorang anak laki-laki, sebab lazimnya seorang anaklah yang dilahirkan, sedangkan lebih dari seorang masih praduga. Imam Malik dan Imam Syafii mengatakan: Disisakan untuk bayi yang ada dalam kandungan itu sebesar empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Imamiyah mengatakan: Disisakan untuk bayi dalam kandungan itu bagian untuk dua orang laki-laki semata-mata untuk berhati-hati saja, lalu kepada setiap ahli waris yang menerima fardh, seperti suami istri, bagian minimalnya dari dua kemungkinan bagiannya (seperempat untuk suami dan seperdelapan untuk istri). Selanjutnya, anak dalam kandungan itu bisa menerima waris dengan syarat dia dilahirkan dalam keadaan hidup dan kelahiran itu terjadi kurang dari enam bulan sesudah wafat, bahkan boleh pula dalam waktu persis enam bulan, yaitu manakala suami wanita hamil tersebut langsung meninggal dunia sesudah ia mencampuri istrinya. Selain itu, hendaknya kelahiran bayi tersebut tidak melampaui batas maksimal kehamilan sesudah kematian suami, tapi dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan mazhab fiqih, kalau bayi tersebut dilahirkan lewat batas maksimal kehamilan sesudah kematian suami, maka ia tidak berhak menerima waris. Demikianlah kesepakatan para ulama mazhab. [2] B. Kewarisan Anak Zina Anak zina ialah anak yang dikandung oleh ibunya dari seorang lelaki yang menggaulinya tanpa nikah yang dibenarkan oleh syara. Dalam urf moderen dinamakan waad ghairu syari(anak tidak diakui agama) sebagaimana ayahnya dinamakan ayah gharu syari oleh karena itu anak zina baik laki-laki maupun perempuan, tidak diakui hubungan darah dengan ayahnya, sebagaimana ayahnya tidak mewarisinya, lantaran tidak ada sebab untuk mempusakai antara keduanya, yaitu hubungan darah. oleh karena anak zina itu diakui hubungan darahnya dengan ibunya, maka dia mewarisi ibunya sebagaimana dia mewarisi kerabat- kerabat ibunya, demikian pula sebaliknya. maka apabila meninggal seorang anak yang diakui agama dengan meninggalkan: ibunya dan ayahnya yang tidak diakui agama, maka semua harta peninggalan untuk ibunya dengan jalan fardlu dan dengan jalan radd. Dan jikalau dia meninggal dengan meninggalkan seorang ibu, saudara laki- laki seibu dan saudra laki- laki dari ayahnya yang tidak diakui agama, maka semua harta peninggalan adalah untuk ibunya meninggal, atau meninggal salah seorang kerabat ibu, maka anak yang ghairu syari menerima pusaka dari ibunya. Dalam hal ini dipegang kaidah- kaidah yang umum terhadap pusaka dan apabila ayah yang bukan syari meninggal atau salah seorang kerabatnya, maka anak yang bukan syari tidak menerima pusaka darinya. Sekiranya anak zina itu kembar, maka kedua-duanya saling memandang sebagai saudara seibu saja, mengenai pelaksanaan pembagannya, ulama-ulama berbeda pendapat Menurut Zaid bin tsabit dan ahli-ahli hukum aliran madinah berpendapat, bahwa harta warisan anak zina itu, sama seperti tentuan

harta warisan yang bukan anak zina. Dan apabila ibunya masih ada, maka ibunya mendapat (1\3) bagian dan selebihnya diserahkan ke perbendaharaan umum ( baitumal ) . juga apabila dia mempunyai saudarasaudara seibu, maka mereka ini pun mendapat (1\3) bagian. C. Kewarisan Anak Lian Anak lian ialah anak yang dilahirkan oleh seorang istri di atas tempat tidur suaminya sedang diapun masih dalam ishmah suaminya yang diakui syara, tetapi si suami mengatakan bahwa anak itu bukan anaknya. Apabila seorang suami mengingkari hubungan darah dengan anak yang dilahirkan oleh istrinya di masa itu terikat pernikhan dengannya, sedang si suami tidak mempunyai bukti yang membenarkan tuduhannya bahwa istrinya berzina dan cukup pula syarat-syarat lian yang sudah dijelaskan dalam kiatb fiqih, maka suami istri itu berlian dihadapan hakim untuk menghindari hukuman qadzaf,dari suami dan hukuman zina dari istri,dengan cara yang tersebut dibawah ini: Suami mula-mula bersaksi di hadapan hakim dengan empat pensaksian, yaitu dengan mengucapkan asyhadu billahi inni laminash shadiqin (saya bersaksi dengan allah, sesungguhnya saya adalah orangorang yang benar tentang apa yang saya tuduhkan kepada istri saya, yaitu zina) Dan pada kali yang kelima dia mengatakan lanatullahi alaiya inkuntu minal kadzibin (kutukan tuhan atasku jika aku seorang yang dusta tentang tuduhanku) Kemudian istrinya bersaksi dengan empat pensaksian pula dengan mengucapkan asyhadu billahi innahu la minal kadzibin (saya bersaksi dengan allah, sesungguhnya dia adalah dari orang-orang yang berdusta terhadap tuduhannya atas diriku), dan pada kali yang kelima dia mengatakan ghaddlabullahi alaiya in kana minash shadiqin (kemarahan allah atas diriku, jika dia (suami) dari orang yang benar dalam tuduhannya. Apabila telah sempurna ucapan lian berlian antara suami istri dihadapan pengadilan,maka hakim pun menetapkan mereka berpisah dan menghubungkan anak itu kapada ibunya serta menetapakan, bahwa tidak ada hubungan darah antara anak itu dengan ayahnya. Hukum anak lian dalam pusaka, sama dengan hukum anak zina, karena itu, dia menerima pusaka dari ibunya dan dari kerabat-karabat ibunya, demikian pula sebaliknya. Tak ada pusaka antara anak lian dengan ayahnya dan kerabat-kerabatnya, karena hakim telah menetapkan bahwa anak itu tidak mempunyai hubungan darah dengan ayahnya dan menghubungkannya dengan ibunya. Disyaratkan pada pusaka anak zina dan lian dari kerabat ibu ialah mereka dilahirkan dalam tempo sembilan bulan (270hari) paling lama, dari tanggal muwaris kerabat ibunya wafat supaya dapat dipastikan bahwa anak itu telah ada di waktu muwarisnya meninggal. Dan jika ia dilahirkan sudah lewat 9 bulan sesudah muwaris meninggal, maka dia tidak menerima pusaka dari muwarisnya.[3] KESIMPULAN

bayi yang dalam kandungan itu dinyatakan sebagai orang yang pantas menerima hak, maka ia ditetapkan sebagai ahli waris yang berhak menerima harta warisan dari pewaris bila telah terdapat sebab dan syarat kewarisan pada dirinya. anak dalam kandungan itu bisa menerima waris dengan syarat dia dilahirkan dalam keadaan hidup dan kelahiran itu terjadi kurang dari enam bulan sesudah wafat, bahkan boleh pula dalam waktu persis enam bulan. Anak zina ialah anak yang dikandung oleh ibunya dari seorang lelaki yang menggaulinya tanpa nikah yang dibenarkan oleh syara. anak zina itu diakui hubungan darahnya dengan ibunya, maka dia mewarisi ibunya sebagaimana dia mewarisi kerabat- kerabat ibunya, demikian pula sebaliknya. Anak lian ialah anak yang dilahirkan oleh seorang istri di atas tempat tidur suaminya sedang diapun masih dalam ishmah suaminya yang diakui syara, tetapi si suami mengatakan bahwa anak itu bukan anaknya. Hukum anak lian dalam pusaka, sama dengan hukum anak zina.
PENUTUP Alhamdulillah ahkirnya kami dapat menyelesaikan makalah Fiqh Mawaris,walaupun jauh dari kata sempurna namun kami sangat berusaha untuk menjadi yang sempurna dan baik dalm membuat makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA Ash Shiddieq, Tengku Muhammad Hasbi, Fifqh Mawaris, Semarang: Pt Pustaka Rizki Putra, 2001 Mugniyah, Muhammad Jawad, Fiqih Lima Mazhab Syarifuddin, Amir, Hukum Kewarisan Islam, Jakarta: Prenada Media,2004
[1] Prof. Dr. Amir Syarifuddin, Hukum kewarisan islam, hal, 125.

nak dalam kandungan termasuk ahli waris seperti ahli waris lainnya dengan syarat:

Sudah berwujud di dalam rahim ibunya pada saat pewaris (orang yang mewariskan) meninggal Dilahirkan dalam keadaan hidup Karena anak dalam kandungan belum bisa langsung ditentukan jenis kelaminnya, maka besar bagian warisan yang akan diberikan kepadanya ada dua kemungkinan, yaitu berdasarkan anggapan apakah jenis kelaminnya nanti pada saat dilahirkan laki-laki atau perempuan. Menurut pendapat jumhur ulama, bagian untuk anak dalam kandungan yang harus ditahan/disimpan dari harta warisan (untuk kemudian diberikan kepadanya setelah mampu memegang harta) adalah bagian yang terbesar di antara dua perkiraan laki-laki dan perempuan. Contoh: Seorang laki-laki wafat dengan meninggalkan harta Rp 216 juta. Ahli warisnya adalah isteri, bapak, ibu, anak perempuan, dan cucu (dari anak laki-lakinya yang telah meninggal lebih dahulu) yang masih dalam kandungan.

Penyelesaian: a) Jika cucu tersebut diperkirakan laki-laki, maka bagian masing-masing ahli waris adalah sebagai berikut (di sini, asal masalah adalah 24, yaitu KPK dari 8, 6, dan 2): Isteri : 1/8 bagian = 3/24 bagian = 3/24 x Rp 216 juta = Rp 27 juta Bapak : 1/6 bagian = 4/24 bagian = 4/24 x Rp 216 juta = Rp 36 juta Ibu : 1/6 bagian = 4/24 bagian = 4/24 x Rp 216 juta = Rp 36 juta Anak perempuan : 1/2 bagian = 12/24 bagian = 12/24 x Rp 216 juta = Rp 108 juta Cucu laki-laki : Sisa = 1/24 bagian = 1/24 x Rp 216 juta = Rp 9 juta b) Jika cucu tersebut diperkirakan perempuan, maka bagian masing-masing ahli waris adalah sebagai berikut (dalam hal ini, asal masalah 27 setelah aul dari 24): Isteri : 1/8 bagian = >> 3/27 bagian = 3/27 x Rp 216 juta = Rp 24 juta Bapak : 1/6 bagian = >> 4/27 bagian = 4/27 x Rp 216 juta = Rp 32 juta Ibu : 1/6 bagian = >> 4/27 bagian = 4/27 x Rp 216 juta = Rp 32 juta Anak perempuan : 1/2 bagian = >> 12/27 bagian = 12/27 x Rp 216 juta = Rp 96 juta Cucu perempuan : 1/6 bagian = >> 4/27 bagian = 4/27 x Rp 216 juta = Rp 32 juta Dari kedua macam perkiraan ini, maka bagian warisan yang harus ditahan/disimpan untuk cucu adalah bagian yang terbesar untuk dua perkiraan, dalam hal ini adalah Rp 32 juta untuk perkiraan perempuan. Jadi, untuk kasus ini, harta warisan sudah dapat diberikan kepada para ahli waris yang lain dengan bagian dan penerimaan seperti pada perkiraan kedua, yaitu untuk isteri, bapak, ibu, dan anak perempuan masing-masing diberikan 24 juta, 32 juta, 32 juta, dan 96 juta. Jika ternyata di kemudian hari bayi tadi lahir dengan selamat (hidup), tetapi berjenis kelamin laki-laki, berarti terjadi kekurangan penerimaan untuk keempat ahli waris ini dan harus diambil dari harta yang disimpan untuk bayi tadi, yaitu masing-masing harus diberikan tambahan sebesar 3 juta, 4 juta, 4 juta, dan 12 juta sehingga penerimaan mereka masing-masing adalah 27 juta, 36 juta, 36 juta, dan 108 juta, sementara penerimaan untuk cucu laki-laki menjadi 9 juta. Sebagai tambahan, kalau dilihat hasil akhir penerimaan untuk cucu yang masih dalam kandungan dalam kasus ini, ternyata jika ia lahir sebagai laki-laki, maka bagiannya hanya Rp 9 juta, sedangkan jika ia lahir sebagai perempuan, bagiannya justru menjadi Rp 32 juta. Inilah salah satu keistimewaan dari hukum waris Islam. Ternyata dalam kasus ini, ketentuan bagian laki-laki adalah dua kali bagian perempuan tidak berlaku. Ini mengandung makna bahwa Islam tidak pernah merendahkan derajat kaum perempuan meskipun dalam masalah warisan, bahkan Islam mengangkat derajat kaum perempuan ke tempat yang terhormat. Demikianlah secara singkat ilustrasi cara pembagian warisan bagi anak dalam kandungan. Lihat juga posting saya yang berjudul "Warisan bagi Banci (Khuntsa)".

576-577. [3] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Fiqh Mawaris, hal, 263-266

http://achmadyanimkom.blogspot.com/2009/08/kewarisan-anak-dalamkandungan.html