Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Eliksir merupakan salah satu bentuk sediaan cair farmasi yang lazim digunakan untuk beberapa zat aktif dengan kelarutan terbatas, yang dalam pembuatannya digunakan pelarut tunggal maupun campuran karena kelarutan zat aktifnya dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut yang polar mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dan dapat melarutkan zat zat yang polar dengan baik, sedangkan zat non polar sukar larut dalam pelarut polar. Hal ini dikenal dengan istilah Like disolve like. Menurut Moore, besarnya konstanta dielektrik dapat diatur dengan penambahan pelarut lain atau pelarut campur. Konstanta dielektrik campuran pelarut merupakan hasil penjumlahan dari konstanta dielektrik masing masing pelarut yang dikalikan dengan % volumenya. Pemakaian pelarut campur ini disebut dengan istilah co solvensy dan dapat dianggap sebagai modifikasi polaritas dari sistem pelarut terhadap kelarutan zat dan fenomena kelarutan ini disebut fenomena co colvensy. B. Tujuan Tujuan dari praktikum kali ini antara lain : 1. Memahami pengertian pelarut campur dan fungsinya dalam sediaan farmasi. 2. Mengetahui proses penambahan pelarut campur dalam pembuatan sediaan cair farmasi. 3. Memahami arti kelarutan suatu zat dalam sediaan farmasi dan faktor faktor yang mempengaruhi kelarutan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Informasi Zat 1. Asam Salisilat

a. Pemerian : hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur halus putih, rasa agak manis tajam dan stabil di udara. Bentuk sintetis warna putih dan tidak berbau. Jika dibuat dari metil salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah jambu dan berbau lemah mirip mentol b. Kelarutan : sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam kloroform. 2. Gliserin
a. Pemerian : cairan seperti sirop; jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis

diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20 o. b. Kelarutan : dapat campur dengan air dan etanol (95%), praktis tidak larut dalam kloroform, eter, dan minyak lemak. B. Kelarutan Kelarutan suatu zat terlarut adalah jumlah maksimum dari zat terlarut yang dapat dilarutkan dalam sejumlah tertentu pelarut atau sejumlah larutan pada temperatur tertentu. Senyawa yang terlarut disebut solut dan cairan yang melarutkan disebut solven, yang bersama-sama membentuk suatu larutan. Proses pelarutan disebut solvasi

atau hidrasi jika pelarutnya air. Suatu larutan saat kesetimbangan tidak dapat menahan solut lagi dan disebut jenuh. Larutan dalam keadaan tertentu dapat menahan lebih banyak solut lebih dari keadaan normal solven hal ini disebut lewat jenuh. Faktor-faktor utama yang dapat mempengaruhi kelarutan diantaranya : 1. Kemurnian : solut atau solven 2. Temperatur : secara umum peningkatan temperatur larutan meningkatkan kelarutan zat padat. Untuk semua gas kelarutan menurun dengan peningkatan temperatur. 3. Tekanan : untuk solut padat dan cair perubahan dalam tekanan secara praktis tidak mempengaruhi kelarutan. Laju kelarutan adalah suatu ukuran dari seberapa cepat suatu zat terlarut, beberapa faktor yang mempengaruhi laju kelarutan adalah : 1. Ukuran partikel Saat suatu solut dilarutkan aksi terjadi hanya pada permukaan dari tiap partikel. Jika total permukaan partikel meningkat, solut akan larut lebih cepat. 2. Pengadukan Pada solut cair atau padat, pengadukan menyebabkan bagian baru dari pelarut kontak dengan solut, sehingga meningkatkan laju kelarutan. 3. Temperatur Untuk solut padat dan cair, kenaikkan temperatur tidak hanya meningkatkan jumlah solut yang terlarut tapi juga meningkatkan laju saat solut melarut. Ketika suatu solven melarutkan suatu solut, partikel solven harus memecah partikel solut dan menempati ruang yang terhalangi. pelarut yang polar dapat dengan efektif memecah senyawa yang polar. Ini terjadi saat ujung positif dari suatu molekul solven mendekati ujung negatif dari molekul solut (Jones, L. 2005). C. Kosolvensi Elektrolit lemah dan molekul-molekul nonpolar seringkali mempunyai kelarutan dalam air yang buruk. Kelarutannya biasanya dapat ditingkatkan dengan penambahan suatu pelarut yang dapat bercampur dengan air dimana dalam pelarut tersebut obat mempunyai kelarutan yang baik. Proses ini dikenal sebagai kosolvensi, dan pelarutpelarut yang digunakan dalam kombinasi untuk meningkatkan kelarutan zat terlarut dikenal sebagai kosolven.

Etanol, sorbitol, propilen glikol, dan beberapa anggota dari seri polimer polietilen glikol memperlihatkan jumlah terbatas dari kosolven yang berguna, dan dapat diterima secara umum dalam formulasi cairan-cairan dalam air. Kosolven tidak hanya digunakan untuk mempengaruhi kelarutan obat tersebut, tetapi juga untuk memperbaiki kelarutan dari konstituen-konstituen yang mudah menguap yang digunakan untuk memberi rasa dan bau yang diinginkan ke produk tersebut. Suatu larutan adalah dispersi yang serba sama (homogen) dari suatu zat terlarut (solut) didalam pelarutnya (solven), untuk dispersi tersebut diperlukan informasi tentang kelarutan (solut) di dalam pelarutnya. Kelarutan dapat diartikan sebagai jumlah (bagian) terbesar dari suatu komponen (solut) yang dapat didistribusikan kepada komponen lainnya (solven), pada satu suhu dan tekanan tertentu sehingga menghasilkan suatu dispersi molekular homogen yang terdiri dari suatu fase tunggal (larutan). laju tercapainya kelarutan maksimum (jenuh) disebut laju disolusi. Molekul-molekul dalam obat padat diikat bersama oleh gaya intermolekular tertentu misalnya gaya dipol-dipol imbas, dipol-dipol dan interaksi ion-ion, demikian pula halnya dengan solven. pelarut dibedakan atas polar, semi polar, atau non polar tergantung dari besarnya ikatan yang bersangkutan. Sifat fisik kelarutan ada 3 yaitu :
1. Sifat koligatif : terutama tergantung pada jumlah partikel dalam larutan. Sifat

koligatif larutan adalah tekanan osmosis, penurunan tekanan uap, penurunan titik beku dan penaikan titik didih. Harga sifat koligatif kira-kira sama untuk konsentrasi yang setara dari berbagai zat non elektrolit dalam larutan tanpa mengidahkan jenis atau sifat kimiawi dari konstituen. Dalam menetapakan sifat koligatif dari larutan zat padat dalam cairan, dianggap zat padat tidak menguap dan tekanan uap diatas larutan seluruhnya berasal dari pelarut. 2. Sifat aditif : bergantung pada andil atom total dalam molekul atau pada jumlah sifat konstituen dalam larutan. Contoh sifat aditif dari suatu senyawa adalah berat molekul, yaitu jumlah massa atom konstituen. Massa dari komponen suatu larutan juga bersifat aditif, massa total dari larutan adalah jumlah massa masing-masing komponen.
3. Sifat konstitusi : bergantung pada penyusunan dan untuk jumlah yang lebih sedikit,

pada jenis dan jumlah atom dalam suatu molekul. Sifat ini memberikan petunjuk 4

terhadap aturan senyawa tunggal dan kelompok molekul dalam sistem. Banyak sifat yang sebagian aditif dan sebagian konstitusi. Pembiasan cahaya, sifat listrik, sifat permukaan, dan antar permukaan dan kelarutan obat setidak-tidaknya sebagian berupa sifat konstitusif dan sebagian sifat aditif. (Alfred Martin, 1990). BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM A. Waktu dan Tempat Waktu Tempat : 9 April 2010 : Laboratorium Farmasi Fisik FMIPA Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka Jurusan Farmasi B. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain alkohol, aquadest, gliserin, asam oksalat, asam salisilat, larutan NaOH 0,1 N, larutan indikator (pp), buret, erlenmeyer, pipet volume 10 ml, kertas saring, beaker glass, gelas ukur, pipet tetes, pipet filler dan statif. C. Prosedur Kerja 1. Pembakuan Larutan NaOH
a. Timbang seksama 100 mg asam oksalat, masukkan dalam erlenmeyer dan

tambahkan 50 ml aquadest lalu aduk hingga larut, kemudian tambahkan beberapa tetes larutan indikator.
b. Titrasi larutan tersebut dengan larutan NaOH hingga terjadi perubahan

larutan dari bening menjadi warna merah muda tipis, catat volume hasil titrasi dan kemudian hitung normalitas NaOH. Titrasi dilakukan sebanyak satu kali untuk setiap kelompok.

2.

Penentuan Kadar Asam Salisilat Dalam Larutan Surfaktan a. Buat campuran pelarut sesuai yang tertera pada tabel berikut : No 1 2 3 4 5 Aquadest (ml) 47,5 45 42,5 40 37,5 Alkohol 60% (ml) 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 Gliserin (ml) 2,5 5 7,5 10 Jumlah (ml) 50 50 50 50 50 Jumlah yan dipipet dari filtrat (ml) 10 10 10 10 10

b. Timbang asam 200 mg salisilat,larutkan sedikit demi sedikit kedalam masing

masing campuran pelarut yang telah dibuat dan kocok selama 15 menit.
c. Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat dengan memipet 10 ml filtrat

dan masukkan ke dalam erlenmeyer, tambahkan beberapa tetes larutan indikator PP kemudian titrasi dengan larutan NaOH 0,1 N hasil pembakuan sampai terbentuk warna merah muda tipis. d. Buat tabel dan grafik antara % gliserin dengan % asam salisilat yang terlarut.
e. Diskusikan hasil yang diperoleh.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil dan perhitungan

1. Volume pembakuan NaOH Kelompok 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 X Xon-1 SD 2. Kelompok 1 2 3 4 5 6 Volume Pembakuan (ml) 19,50 18,15 20,35 19,35 17,75 19,35 19,00 18,70 18,50 19,35 19,00 0,75 18,25 19,75

Volume titran (NaOH) dan penimbangan sampel pada Penetapan Kadar Konsentrasi Surfaktan Blangko Gliserin 5% Gliserin 10% Gliserin 15% Gliserin 20% Blangko Volume Titran (ml) 2,60 2,30 2,50 2,35 2,65 2,60 2,90 2,90 3,25 3,00 2,40 Penimbangan (g) 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 7

Asam Salisilat

7 8 9 10 3.

Gliserin 5% Gliserin 10% Gliserin 15% Gliserin 20% Perhitungan Kadar Asam Salisilat 1) Normalitas asam oksalat N1 = gram BM/BE = 0,0318 N

2,35 1,50 1,50 2,85 2,675 2,75 2,70 3,10 3,15

0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000 0,2000

a. Pembakuan larutan NaOH x 1000 ml = 0,1002 x 1000 ml V.pel 126,07/2 50 ml

2) Pembakuan Mgrek asam oksalat ~ mgrek NaOH V1.N1 50 ml x 0,0318 N N2 = V2.N2 = 19,11 ml x N2 = 0,0832 N

b. Penetapan kadar asam salisilat 1) Blanko Mgrek asam salisilat ~ mgrek NaOH V1.N1 10 ml x N1 N1 N1 = gram BM/BE Gram = 0,0278 g Faktor pengenceran Fp = V.pelarut x gram V pipet 8 = V2.N2 = 2,41 ml x 0,0832 N = 0,0201 N x 1000 ml 0,0201 N = gram x 1000 ml V.pel 138,12 10 ml

Normalitas asam salisilat

= 50 ml x 0,0278 g 10 ml = 0,1390 g Penetapan kadar % Kadar = 0,1390 g x 100% = 69,50% 0,200 g 2) Gliserin 5% Mgrek asam salisilat ~ mgrek NaOH V1.N1 10 ml x N1 N1 N1 = gram BM/BE = V2.N2 = 1,96 ml x 0,0832 N = 0,0163 N x 1000 ml 0,0163 N = gram x 1000 ml V.pel 138,12 10 ml

Normalitas asam salisilat

Gram = 0,0225 gram Faktor pengenceran Fp = V.pelarut x gram V pipet = 50 ml x 0,0225 g 10 ml = 0,1125 g Penetapan kadar % Kadar = 0,1125 g x 100% = 56,25% 0,200 g 3) Gliserin 10% Mgrek asam salisilat ~ mgrek NaOH V1.N1 10 ml x N1 N1 = V2.N2 = 2,69 ml x 0,0832 N = 0,0224 N 9

Normalitas asam salisilat N1 = gram BM/BE x 1000 ml 0,0224 N = gram x 1000 ml V.pel 138,12 10 ml

Gram = 0,0309 gram

Faktor pengenceran Fp = V.pelarut x gram V pipet = 50 ml x 0,0309 g 10 ml = 0,1545 g Penetapan kadar % Kadar = 0,1545 g x 100% = 77,25% 0,200 g 4) Gliserin 15% Mgrek asam salisilat ~ mgrek NaOH V1.N1 10 ml x N1 N1 N1 = gram BM/BE = V2.N2 = 2,81 ml x 0,0832 N = 0,0234 N x 1000 ml 0,0234 N = gram x 1000 ml V.pel 138,12 10 ml

Normalitas asam salisilat

Gram = 0,0323 gram Faktor pengenceran Fp = V.pelarut x gram V pipet = 50 ml x 0,0323 g 10 ml 10

= 0,1615 g Penetapan kadar % Kadar = 0,1615 g x 100% = 80,75% 0,200 g

5) Gliserin 20% Mgrek asam salisilat ~ mgrek NaOH V1.N1 10 ml x N1 N1 N1 = gram BM/BE = V2.N2 = 3,13 ml x 0,0832 = 0,0260 N x 1000 ml 0,0260 N = gram x 1000 ml V.pel 138,12 10 ml

Normalitas asam salisilat

Gram = 0,0359 gram Faktor pengenceran Fp = V.pelarut x gram V pipet = 50 ml x 0,0359 g 10 ml = 0,1795 g Penetapan kadar % Kadar = 0,1795 g x 100% = 89,75% 0,200 g B. Pembahasan Kosolven adalah pelarut yang ditambahkan di luar pelarut asli yang dimaksudkan untuk meningkatkan kelarutan suatu zat tertentu. Kosolven yang digunakan pada umumnya harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

11

1. 2.

Zat yang akan dilarutkan harus dapat larut lebih baik dalam kosolven Solven dan kosolven harus dapat bercampur dalam perbandingan yang tetap.

dibandingkan dengan pelarut aslinya Penggunaan kosolven terutama banyak digunakan dalam pembuatan elixir yang merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi yang lazim digunakan untuk beberapa zat aktif dengan kelarutan terbatas yang dalam pembuatannya digunakan pelarut tunggal maupun campuran karena kelarutan zat aktifnya dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Dari hasil perhitungan kadar asam salisilat, didapatlan hasil sebagai berikut :
1. 2. 3. 4. 5.

Blanko, kadar asam salisilat Gliserin 5%, kadar asam salisilat Gliserin 10%, kadar asam salisilat Gliserin 15%, kadar asam salisilat Gliserin 20%, kadar asam salisilat

= 69,50% = 56,25% = 77,25% = 80,75% = 89,75%

Berdasarkan pada hasil perhitungan kadar tersebut, maka dapat diketahui bahwa penambahan kosolven/pelarut pembantu dalam hal ini yaitu gliserin dapat meningkatkan kadar dari asam salisilat. Meskipun terdapat penyimpangan data pada kadar gliserin 5%, dimana kadar asam salisilat yang diperoleh lebih kecil dibandingkan dengan blanko (tanpa penambahan gliserin). Adanya penyimpangan ini dapat dikarenakan antara lain : 1. 2. 3. Kesalahan saat memipet larutan sampel atau pengambilan pelarut Penambahan indikator PP yang tidak tepat Kesalahan saat titrasi, dan lain-lain. Peningkatan kadar asam salisilat dengan penambahan kosolven juga berkaitan dengan nilai konstanta dielektrik, yaitu nilai yang menunjukkan kepolaran suatu zat, makin tinggi konstanta dielektrik, maka zat tersebut akan semakin polar. Menurut Moore besarnya konstanta dielektrik dapat diatur dengan penambahan pelarut lain atau pelarut campur. Dalam hal ini nilai konstanta dielektrik air adalah 80,4, gliserin = 46,0 dan etilalkohol = 26,0. Konstanta dielektrik campuran pelarut dapat dihitung dari hasil penjumlahan konstanta dielektrik masing-masing pelarut yang dikalikan dengan % volumenya. Peristiwa pemakaian pelarut campur ini disebut dengan istilah kosolvensi.

12

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum, maka dapat disimpulkan bahwa penambahan pelarut pembantu (kosolven) dapat meningkatkan kelarutan dari asam salisilat. Hal ini terlihat dari hasil perhitungan kadar asam salisilat yang meningkat berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasi kosolven yang digunakan yaitu gliserin. B. Saran Adapun saran yang diberikan dalam praktikum kali ini adalah agar praktikan mambaca terlebih dahulu prosedur kerja sebelum dilakukannya praktikum agar tidak terjadi kekeliruan seperti kesalahan titrasi, dll.

13

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Diktat Praktikum Farmasi Fisik. Jakarta : Universitas Muhammadiyah Prof. DR Hamka Fakultas MIPA Jurusan Farmasi. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Martin, Alfred, dkk. 2008. Farmasi Fisik Jilid Kedua Edisi Ketiga. Jakarta : UI Press

14

LAMPIRAN

Kadar Asam Slisilat (dalam %)

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

89.75 77.25 69.5 56.25 80.75

Blanko

5%

10%

15%

20%

Konsentrasi Gliserin (v/v) Pada grafik di atas menunjukkan hubungan antara pengaruh penambahan pelarut campur gliserin 0%, 5%, 10%. 15% dan 20% terhadap peningkatan kadar asam salisilat. Kadar asam salisilat yang diperoleh dengan penambahan gliserin pada konsentrasi 0% - 20% bertutrutturut sebesar 69,50 %, 56,25%, 77,25 %, 80,75 %, dan 89,75 %.

15

Anda mungkin juga menyukai