Anda di halaman 1dari 18

ISLAM DAN PROFESI KEDOKTERAN

Oleh KEVIN MAULANDA 1210311009

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Perkuliahan Agama Islam Dari Dr.Syari bin Sumin, M.A.

PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS 2012

KATA PENGANTAR Alhamdulillah,puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT,berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ISLAM DAN PROFESI KEDOKTERAN tepat waktu. Penulisan makalah adalah salah satu tugas mata kuliah pendidikan agama Islam di Fakultas Kedokteran pada semester pertama. Makalah ini berisikan tentang pandangan Islam terhadap profesi kedokteran dan pandangan Islam terhadap malpraktek yang dilakukan oleh dokter.Diharapkan makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat menjadi referensi untuk membuat makalah yang lebih sempurna. Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi keempurnaan makalah ini. Semoga Allah SWT meridhai usaha ini.

Penulis,

Kevin Maulanda

DAFTAR ISI

Kata Pengantar PEMBAHASAN Konsep Dokter Muslim Ide Dokter Muslim Karakteristik Dokter Muslim Sikap dan Sifat Dokter Muslim Pandangan Islam terhadap Pelanggaran Profesi Kedoktran Kesimpulan Daftar Kepustakaan

2 4 4 4 4 5 10 17 18

PEMBAHASAN

KONSEP DOKTER MUSLIM 1.IDE DOKTER MUSLIM Ilmu kedokteran saat sekarang ini berkembang,umumnya bersifat universal karena itu,bagi kaum Muslimin perlu menyeleksinya,dipilih hanya yang sesuai dengan kaidah dan norma Islam. Meski dalam praktiknya dan di kaitkan dengan asal sistem atau metoda pengobatan yang bersigat universal,tetepi dalam Islam terdapat nilai-nilai yang berkaitan dengan praktik kedoktern yang dikenal dengan kedokteran Islam. Jika merujuk pada buku klasik,seperti terdapat dalam buku al-Qanun fi al-Thibb karya Ibnu Sina,dalam buku tersebut tidak menyinggung soal kedokteran Islam. Menurut analisis Abdul Hamid,karena masa lalu etika kedokteran tidak dapat dipasahkan dari ajaran Islam yaitu Al-Qurqn dan sunah Nabi,sehingga kedua sumber itu senantiasa sebagai pembimbing dalam segala aspek kehidupan manusia termasuk dokter dan pasiennya 2.KARAKTERISTIK DOKTER MUSLIM Menurut Jafar Khadim Yamani,ilmu kedokteran dapat dikatakan Islami,apabila terpenuhi 9 karakteristik,yaitu: Pertama,dokter harus mengobati pasien dengan insan dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Quran. Kedua,tiding menggunakan bahan-bahan yang haram. Ketiga,tidak boleh berakibat kecacatan terhadap pasien,kecuali tidak ada alternatif lain. Keempat,pengobatan tidak berbau takhayul,khufarat,dan bidah. Kelima,hnya dilakukan oleh tenaga medis yang ahli di biang medis.Keenam,dokter memiliki sifat-sifat terpuji,tidak memiliki rasa

iri,riya,takabur,senang merendahkan orang lain,serta sikap hina lainnya. Ketujuh,harus berpenampilan rapi dan bersih. Kedelapan,lembaga-lembaga kesehatan bersifat simpatik.Kesembilan,menjauhkan dan menjaga diri dari pengaruh non-Islamis.

Abu al-Fadl merinci karakteristik dokter Islam atas 3 hal. Pertama,percaya akan adanya kematian yang tidak terelakkan seperti yang ditegas kan dalan al-Quran dan hadist Nabi.Untuk menmdukung prinsip ini ia mengutip pernyataan Ibnu Sina yang menyatakan bahwa pengetahuan mengenai pemeliharaan kesehatan itu tidak bisa membantu untuk menghindari kematian maupun membebaskan diri dari penderitaan lahir. Ia juga tidak memberikan cara-cara untuk memperpanjang usia agar hidup selamanya. Dengan demikian tidak berarti dokter muslim menentang teknologi biomedis,misalnya mempertahankan kehidupan dengan memberikan pasien oksigen dari tabung oksigen untuk pernafasan,Sebab,berupaya mempertahankan hidup seseorang adalah tugas mulia,siapa yang menyelamatkan hidup seorang manusia ,seolah dia menyelamatkan seluruh manusia.ini sejalan dengan penegasan ayat al-Quran (Q.s.alMaidat 5:32) yang artinya: Barang siapa yang membunuh seseorang manusia,bukan karena orang itu (membunuh)orang lain,atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi,maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya.Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia ,maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia di muka bumi Kedua,menghormati pasien,diataranya berbicara baik kepada pasientidak membocorkan rahasia dan perasaan pasien,damn tidak melakukan pelecehan seksual,itulah sebabnya disarankan pasien didampingi orang ketiga. Ketiga,pasrah kepada Allah SWT sebgai Dzat penyembuh.tidak berarti membebaskan dokter dari segala diagnosis dan pengobatan. Dengan kepasrahan demikian,maka akan menghindari perasaan bersalah jika seala upaya dilakukan mendapatkan kegagalan.

3.SIKAP DAN SIFAT SEORANG DOKTER MUSLIM Menurut Dr Zubair Ahmad al-Sibaidan Dr Muhammad Ali al-Bar dalam karyanya Al-Thabib,Adabuh wa Fiqhuh ada sikap dan sifat seorang dokter muslim yaitu: a. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi

Bahwa profesi kedokteran adalah profesi yang sangay mulia tapi tergantung pada dua syarat,yaitu 1. Dilakulan dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan 2. Menjaga akhlak mulia dalam prilaku dan tindakakan sebagai dokter Seorang dokter diberi di beri amanah untuk memelihara kesehatan yang merupakan karunia dari Allah SWT yang paling berharga bagi manusia,sebagaimana dinyatakan dalam hadist Nabi: Nabi bersabda: Mohonlah kepada Allah kesehatan,sebab tidak ada sesuatu pun yang di anunerahkan kepada hamba-Nya yang lebih utama dari kesehatan.(HR Ahmad,alTharmuzi,dan ibn Majah) Selain itu dokter juga menjadi tumpuan pasien,keluarga,masyarakat,bahkan bangsa. Mengingat kedudukan profesi kedokteran tersebut,seharusnya dalam menjalankan profesi tidak hanya berfikir tentang materi tetapi lebih pada pengabdian dan perbaikan umat. Keyakinan akan kehormatan profesi tersebut merupakan motivator untuk memelihara akhlak yang baik dalam hubungannya dengan masyarakat. b. Berusaha menjernihkan jiwa

Kejernihan jiwa akan menntukan kualitas kualitas perbuatan manusiasecara keseluruhan,jika dokter hatinya jernih maka perbuatannya akan selalu positif,hal ini sejalan dengan penegasan Rasulullah: Ingatlah bahwa tubuh manusia ada segumpal darah yang apabila baik maka seluruhnya baik,dan apabila buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk,ingatlah itu adalah hati.(HR al-Bukhari,Muslim,Ahmad,al-Damiri,dan Ibnu Majah)

c. Lebih Mendalami Ilmu yang Dikuasainya Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban sepanjang hayat.Sebagaimana diketahui bahwa ilmu itu dari hari ke hari mengalami perkembangan. Oleh karena itu, dokter dituntut untung mengupgrade ilmunya . Dalam ajaran Islam sangat ditekankan dalam mengamalkan sesuatu dilakukan secara professional dan penuh ketelitian. Nabi bersabda: sesungguhnya Allahmenyukai bila seseorang di antara kalian mengerjakan pekerjaannya dengan teliti(HR al-Baihaqi) d. Menggunakan Metoda Ilmiah dalam Berfikir Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan metoda ilmiah sesuai dengan kaidah logika ilmiah sebagaimana yang terjabar dalam disiplin ilmu kedokteran modern. Ajaran Islam menekankan agar berfikir atau merenung terhadap berbagai sebab,tujuannya agar mendapatkan keyakinan yang benar. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarqh ayat 164 yang artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,silih berganti siang dan malam,bahtera yang berlayar di laut membawa aap yang berguna bagi manusia,dan apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air,lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati(kering)-nya dan Dia sebarkan sebarkan di bumi itu segala jenis hewan,damn pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;Sungguh (terdapat ) tanda-tanda (keesaan dsn kebesaran ALLAH) bagi kaum yang memikirkan.(Q.s.al-Baqarah:164) Juga firman Allah yang artinya: Katakanlah :perhatikan apa yang ada di lagit dan di bumi(Q.s.yunus;101)

e. Memiliki Rasa Cinta Kasih Rasa cinta kasih adalah rasa yang timbul dari hati yang paling dalam,dia akan menyinari hati orang lain,alam semesta,dan segala sesuatu. Cahaya itu kemudian memantul kepada dirinya sendiri dan melimpah kepada kejernihan,kerelaan,dan kemantapan. Anjuran Nabi : Tidaklah seseorang dari kalian sehingga mencintai bagi saudaranya apa yang disukai untuk dirinya( HR al-Bukhari,Muslim,Ahmad,al-Damiri,dan Ibnu Majah,alNasai,dan al-Tumudzi)

Jika seseorang telah memiliki rasa cinta kasih,maka ia akan bebuat baik dan mengenyampingkan perbuatan tercela.

f. Keharusan Bersifat Benar dan Jujur

Benar dan jujur bagi seorang dokter dalam berkomunikasi engan masyarakat adalah hal yang terpenting agar mendapatkan kepercayaan dri pasien serta masyarakat.Benar dan jujur adalahsifat yang kompeherensif dan memiliki banyak makna,termasuk menepati janji dan menyampaikan amanah. Al-Quran sangat menekankan sifat benar dan adil di dalam surat at-Taubah ayat 119 yang artinya: Hai orang-orang beriman,bertakwalah kamu kepada Allah,dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar Dan Allah berfirman dalam surat al-Muminun ayat 8 yang berisikan memelihara amanat. g. Berendah hati(tawadhu) Seorang dokter dituntut untuk rendah hati.Sifat yang sering menyebabkan seseorang dijauhi oleh orang lain adalah sifat sombong dan keangkuhan. Ajaran Islam sangat mengecam perilaku ini Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 23 yang artinya: sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong h. Keadilan dan Kesetimbangan Dokter adalah orang yang paling banyak berurusan dengan masalah manusia dan kemanusiaan. Kehidupan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas hubungan bermasyarakat. Dokter dalam Islam sangat dilarang untuk tidak adil dalam hal pelayanan masyarakat. Allah berfirman dalam surat al-Baqarqh ayat 142 yang artinya: Dan demikian (pula)kami telah menjadikan kamu(umat Islam),umat adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul(Muhammad) menjadi saksi (perbuatan)kamu.. (Q.s. al-Baqarah;142)

i. Mawas Diri Mengingat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab menyangkut nyawa dan keselamatan orang lain. Mereka sering menjadi sasaran tuduhan ,disebabkan adanya anggapan masyarakat menganggap mereka orang yang paling mengetahui rahasia kehidupan dan kematian. Jadi dengan sering seorang dokter mawas diri,seorang dokter muslim menyadari kekurangannya sebagai seorang dokter,dan terhindar dari segala sifat tercela. Sesuai dengan tuntunan dalam akhlak islam,dokter harus tulus ikhlas karena Allah,penyantun,peramah,sabar,penyimpan rahasia,dan bertanggung jawab. Berbuat ikhlas sangat dituntut dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran dalam Al-Quran surat al-Isra;36 yang artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.Sesungguhnya pendengaran,penglihatan,damb hati,semuanya itu akan diminta pertanggung jawabanya(Q.s.al-Isra;36) Nabi juga bersabda: Setiap kalian adalah pengembala,dan setiap kalian bertanggung jawab atas gembalanya itu.

PANDANGAN KEDOKTERAN

ISLAM

TERHADAP

PELANGGARAN

PROFESI

1. Aborsi Menurut Hukum Islam Abdurrahman Al-Baghdadi (1998) dalam bukunya Emansipasi Adakah Dalam Islam halaman 127-128 menyebutkan bahwa aborsi dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruh (nyawa) ditiupkan. Jika dilakukan setelah setelah ditiupkannya ruh, yaitu setelah 4 (empat) bulan masa kehamilan, maka semua ulama ahli fiqih (fuqoha) sepakat akan keharamannya. Tetapi para ulama fiqih berbeda pendapat jika aborsi dilakukan sebelum ditiupkannya ruh. Sebagian memperbolehkan dan sebagian lagi tidak memperbolehkan. Ulama fiqih memperbolehkan aborsi sebelum peniupan ruh, antara lain Muhammad Ramli (w. 1596 M) dalam kitabnya An Nihayah dengan alasan karena belum ada makhluk yang bernyawa. Ada pula yang memandangnya makruh, dengan alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan. Yang mengharamkan aborsi sebelum peniupan ruh antara lain Ibnu Hajar (w. 1567 M) dalam kitabnya At Tuhfah dan Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya` Ulumiddin. Bahkan Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas Al-Azhar Mesir berpendapat bahwa sejak bertemunya sel sperma dengan ovum (sel telur) maka aborsi adalah haram, sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru yang bernyawa yang bernama manusia yang harus dihormati dan dilindungi eksistensinya. Akan makin jahat dan besar dosanya, jika aborsi dilakukan setelah janin bernyawa, dan akan lebih besar lagi dosanya kalau bayi yang baru lahir dari kandungan sampai dibuang atau dibunuh (Masjfuk Zuhdi, 1993, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, halaman 81; M. Ali Hasan, 1995, Masail Fiqhiyah Al Hadisah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, halaman 57; Cholil Uman, 1994, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern, halaman 91-93; Mahjuddin, 1990, Masailul Fiqhiyah Berbagai Kasus Yang Yang Dihadapi Hukum Islam Masa Kini, halaman 77-79).

10

Pendapat yang disepakati fuqoha, yaitu bahwa haram hukumnya melakukan aborsi setelah ditiupkannya ruh (empat bulan), didasarkan pada kenyataan bahwa peniupan ruh terjadi setelah 4 (empat) bulan masa kehamilan. Abdullah bin Masud berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, kemudian dalam bentuk alaqah selama itu pula, kemudian dalam bentuk mudghah selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh kepadanya. [HR alBukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan at-Tirmidzi dari Abdullah bin Masud] Maka dari itu, aborsi setelah kandungan berumur 4 bulan adalah haram, karena berarti membunuh makhluk yang sudah bernyawa. Dan ini termasuk dalam kategori pembunuhan yang keharamannya antara lain didasarkan pada dalil-dalil syari berikut. Firman Allah SWT:

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). (QS alAnm [6]: 15

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS al-Isr` [17]: 31).
11

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (Qs. Al-Israa` [17]: 33). ) 8) ) )

Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh. (QS at-Takwr [81]: 8-9). Berdasarkan dalil-dalil ini maka aborsi adalah haram pada kandungan yang bernyawa atau telah berumur 4 bulan, sebab dalam keadaan demikian berarti aborsi itu adalah suatu tindak kejahatan pembunuhan yang diharamkan Islam. Adapun aborsi sebelum kandungan berumur 4 bulan, seperti telah diuraikan di atas, para fuqoha berbeda pendapat dalam masalah ini. Akan tetapi menurut pendapat Abdul Qadim Zallum (1998) dan Abdurrahman Al-Baghdadi (1998), hukum syara yang lebih rajih (kuat) adalah sebagai berikut. Jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Dalam hal ini hukumnya sama dengan hukum keharaman aborsi setelah peniupan ruh ke dalam janin. Sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (ja'iz) dan tidak apa-apa. (Abdul Qadim Zallum, 1998, Beberapa Problem Kontemporer Dalam Pandangan Islam: Kloning, Transplantasi Organ, Abortus, Bayi Tabung, Penggunaan Organ Tubuh Buatan, Definisi Hidup dan Mati, halaman 45-56; Abdurrahman AlBaghdadi, 1998, Emansipasi Adakah Dalam Islam, halaman 129 ). Dalil syari yang menunjukkan bahwa aborsi haram bila usia janin 40 hari atau 40 malam atau lebih adalah hadis Nabi s.a.w berikut: . . . . .

12

Jika nutfah (gumpalan darah) telah lewat empat puluh dua malam, maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah),'Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan?' Maka Allah kemudian memberi keputusan... [HR Muslim dari Ibnu Masud r.a.]. Dalam riwayat lain, Rasulullah s.a.w bersabda: (jika nutfah telah lewat) empat puluh malam... Hadis di atas menunjukkan bahwa permulaan penciptaan janin dan penampakan anggota-anggota tubuhnya, adalah setelah melewati 40 atau 42 malam. Dengan demikian, penganiayaan terhadapnya adalah suatu penganiayaan terhadap janin yang sudah mempunyai tanda-tanda Tindakan sebagai manusia tersebut yang terpelihara darahnya

(ma'shumuddam). terhadapnya.

penganiayaan

merupakan

pembunuhan

Berdasarkan uraian di atas, maka pihak ibu si janin, bapaknya, ataupun dokter, diharamkan menggugurkan kandungan ibu tersebut bila kandungannya telah berumur 40 hari. Siapa saja dari mereka yang melakukan pengguguran kandungan, berarti telah berbuat dosa dan telah melakukan tindak kriminal yang mewajibkan pembayaran diyat bagi janin yang gugur, yaitu seorang budak laki-laki atau perempuan, atau sepersepuluh diyat manusia sempurna (10 ekor onta), sebagaimana telah diterangkan dalam hadis shahih dalam masalah tersebut. Rasulullah s.a.w bersabda: ... Rasulullah s.a.w memberi keputusan dalam masalah janin dari seorang perempuan Bani Lihyan yang gugur dalam keadaan mati, dengan satu ghurrah, yaitu seorang budak laki-laki atau perempuan... [HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a.] Sedangkan aborsi pada janin yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (ja'iz) dan tidak apa-apa. Ini disebabkan bahwa apa yang ada dalam rahim belum menjadi janin karena dia masih berada dalam tahapan sebagai nutfah (gumpalan darah), belum sampai pada fase penciptaan yang menunjukkan ciri-ciri minimal sebagai manusia.

13

Di samping itu, pengguguran nutfah sebelum menjadi janin, dari segi hukum dapat disamakan dengan 'azl (coitus interruptus) yang dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kehamilan. 'Azl dilakukan oleh seorang laki-laki yang tidak menghendaki kehamilan perempuan yang digaulinya, sebab 'azl merupakan tindakan mengeluarkan sperma di luar vagina perempuan. Tindakan ini akan mengakibatkan kematian sel sperma, sebagaimana akan mengakibatkan matinya sel telur, sehingga akan mengakibatkan tiadanya pertemuan sel sperma dengan sel telur yang tentu tidak akan menimbulkan kehamilan. Rasulullah s.a.w telah membolehkan 'azl kepada seorang laki-laki yang bertanya kepada beliau mengenai tindakannya menggauli budak perempuannya, sementara dia tidak menginginkan budak perempuannya hamil. Rasulullah s.a.w bersabda kepadanya: : . Dari Said bin al-Musayyab (isteri-isterimu adalah lading bagimu, maka datangilah ladangmu dari menurut kehendakmu), Rasulullah s.a.w. bersabda: Lakukanlah 'azl padanya jika kamu suka, jika kamu (tak) menghendaki jangan kamu lalukan! [HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud] Namun demikian, dibolehkan melakukan aborsi baik pada tahap penciptaan janin, ataupun setelah peniupan ruh padanya, jika dokter yang terpercaya menetapkan bahwa keberadaan janin dalam perut ibu akan mengakibatkan kematian ibu dan janinnya sekaligus. Dalam kondisi seperti ini, dibolehkan melakukan aborsi dan mengupayakan penyelamatan kehidupan jiwa ibu. Menyelamatkan kehidupan adalah sesuatu yang diserukan oleh ajaran Islam, sesuai firman Allah SWT: ( )

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan
14

sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (QS alMidah [5]: 32). Di samping itu aborsi dalam kondisi seperti ini termasuk pula upaya pengobatan. Sedangkan Rasulullah s.a.w telah memerintahkan umatnya untuk berobat. Rasulullah s.a.w bersabda:

. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram! [HR. Ahmad].

Kaedah fikih dalam masalah ini menyebutkan:

Jika berkumpul dua mafsadat (keburukan), maka harus dipertimbangkan yang lebih besar madharatnya dan dipilih yang lebih ringan (madharatnya). (Abdul Hamid Hakim, 1927, Mabadi` Awaliyah fi Ushul Al Fiqh wa Al Qawaid Al Fiqhiyah, halaman 35). Berdasarkan kaedah ini, seorang wanita dibolehkan menggugurkan

kandungannya jika keberadaan kandungan itu akan mengancam hidupnya, meskipun ini berarti membunuh janinnya. Memang mengggugurkan kandungan adalah suatu mafsadat. Begitu pula hilangnya nyawa sang ibu jika tetap mempertahankan kandungannya juga suatu mafsadat. Namun tidak rasa kurang percaya lagi bahwa menggugurkan kandungan janin itu lebih ringan madharatnya daripada menghilangkan nyawa ibunya, atau membiarkan kehidupan ibunya terancam dengan keberadaan janin tersebut (Abdurrahman Al-Baghdadi, 1998).

15

Pendapat yang menyatakan bahwa aborsi diharamkan sejak pertemuan sel telur dengan sel sperma dengan alasan karena sudah ada kehidupan pada kandungan, adalah pendapat yang tidak kuat. Sebab kehidupan sebenarnya tidak hanya wujud setelah pertemuan sel telur dengan sel sperma, tetapi bahkan dalam sel sperma itu sendiri sudah ada kehidupan, begitu pula dalam sel telur, meski kedua sel itu belum bertemu. Kehidupan (al hayah) menurut Ghanim Abduh dalam kitabnya Naqdh Al Isytirakiyah Al Marksiyah (1963) halaman 85 adalah sesuatu yang ada pada organisme hidup. (asy syai` al qa`im fi al ka`in al hayyi). Ciri-ciri adanya kehidupan adalah adanya pertumbuhan, gerak, iritabilita, membutuhkan nutrisi, perkembangbiakan, dan sebagainya. Dengan pengertian kehidupan ini, maka dalam sel telur dan sel sperma (yang masih baik, belum rusak) sebenarnya sudah terdapat kehidupan, sebab jika dalam sel sperma dan sel telur tidak ada kehidupan, niscaya tidak akan dapat terjadi pembuahan sel telur oleh sel sperma. Jadi, kehidupan (al hayah) sebenarnya terdapat dalam sel telur dan sel sperma sebelum terjadinya pembuahan, bukan hanya ada setelah pembuahan.

16

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan:

1. Bahwa

karakter

dokter

muslim,di

samping

professional,menguasai itu,juga berakhlak

ilmu mulia

kedokteran,dan

pengembangan

pengetahuannya

sebagaimana dijabarkan butir-butirnya dalam kajian Islam secara umum,baik dalam hubungannya dengan ALLAH SWT,sesama manusia dan dengan sesama profesi,secara khusus dapat diterapkan dalam profesi kedoktean dalam

berhubungan dengan teman sejawat,pasien,masyarakat,dan juga kepada Allah. Seorang dokter muslim harus mempunyai sifat dan sikap yang baik yaitu: berkeyakinan atas kehomatan profesi,berusaha menjernihkan jiwa,lebih mendalami ilmu yang dikuasai,menggunakan metoda ilmiah dan berfikir,memiliki rasa cinta kasih.bersikap benar dan jujur,berendah hati,keadilan dan kesetimbangan,mawas diri, serta ikhlas,penyantun,ramah,sabar,dan tenang. 2. Aborsi bukan sekedar masalah medis atau kesehatan masyarakat, namun juga problem sosial yang muncul karena manusia mengekor pada peradaban Barat. Maka pemecahannya haruslah dilakukan secara komprehensif-fundamental-radikal, yang intinya adalah dengan mencabut sikap taqlid kepada peradaban Barat dengan menghancurkan segala nilai dan institusi peradaban Barat yang bertentangan dengan Islam, untuk kemudian digantikan dengan peradaban Islam yang manusiawi dan adil.

Hukum aborsi dalam pandangan Islam menegaskan keharaman aborsi jika umur kehamilannya sudah 4 (empat) bulan, yakni sudah ditiupkan ruh pada janin. Untuk janin yang berumur di bawah 4 bulan, para ulama telah berbeda pendapat. Jadi ini memang masalah khilafiyah. Namun menurut pemahaman kami, pendapat yang rajih (kuat) adalah jika aborsi dilakukan setelah 40 (empat puluh) hari, atau 42 (empat puluh dua) hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Sedangkan pengguguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari, maka hukumnya boleh (ja'iz) dan tidak apa-apa.

17

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al Baghdadi, Abdurrahman, 1998, Emansipasi Adakah Dalam Islam, Gema Insani Press, Jakarta Hasan, M. Ali, 1995, Masail Fiqhiyah Al Hadisah Pada Masalah-Masalah Kontemporer Hukum Islam, RajaGrafindo Persada, Jakarta. http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/aborsi-dalam-pandangan-hukum-islam-2 September 2012 pukul 17:15. Jumat, 21

Zuhroni, dkk, Islam untuk disiplin ilmu kesehatan dan kedokteran 2 (Jakarta, 2003), hal. 87.

18