Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik berkaitan dengan penguasaan keterampilan dasar yaitu membaca, mengeja & menulis. Disleksia dapat dijelaskan pada tingkat neurologis, kognitif & behavioral. Anak dengan disleksia memiliki ciri: pemrosesan informasi yang tidak efisien kesulitan dalam working memory, menyebutkan sesuatu secara cepat & otomisasi keterampilan dasar. Seringkali diikuti dengan kesulitan mengurutkan, organisasi & motorik (Reid, 2003). Di Amerika Serikat, 10% - 15% anak sekolah mengalami kesulitan dalam membaca (Harris & Sipay, 1990). Kesulitan ini merupakan penyebab kegagalan yang terbesar di sekolah, karena anak dengan kesulitan membaca akan memiliki pandangan diri yang negatif dan akan merasa kurang kompeten. Selanjutnya hal ini akan menyebabkan masalah perilaku dan kecemasan, yang tidak jarang kemudian diikuti dengan kurangnya motivasi (Mercer, 1997). Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, namun tidak memiliki keterbatasan dalam perkembangan kemampuan standar lainnya seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensoriknya. Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai "Alexia". Selain mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditenggarai juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya. Pada anak usia sekolah biasanya keluhan berupa kurang aktif di sekolah, sehingga sering orangtua dan guru tidak menyadari bahwa anak tersebut mengalami kesulitan dalam membaca. Biasanya anak akan terlihat terlambat memiliki kemampuan berbicara, tidak mampu mempelajari huruf di taman kanak-kanak dan membaca pada sekolah dasar. Anak tersebut akan makin tertinggal dalam hal pelajaran sedangkan guru dan orangtua biasanya makin heran mengapa anak dengan tingkat kepandaian yang baik mengalami kesulitan membaca. Walaupun anak telah diajarkan secara khusus, biasanya anak tersebut akan dapat membaca, tetapi lebih lambat. Anak tidak akan fasih dalam membaca dan tidak dapat mengenali huruf secara tepat. Disgrafia biasanya menyertai disleksia. Pada akhirnya penderita disleksia akan mengalami gangguan kepercayaan diri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Dyslexia is a specific learning disability that is neurological in origin. It is characterized by difficulties with accurate and/or fluent word recognition and by poor spelling and decoding abilities. These difficulties typically result from a deficit in the phonological component of language that is often unexpected in relation to other cognitive abilities and the provision of effective classroom instruction. Secondary consequences may include problems in reading comprehension and reduced reading experience that can impede growth of vocabulary and background knowledge. (Adapted by the International Dyslexia Association Board of Directors, November 12, 2002). Disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan dalam belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Perkataan disleksia berasal dari bahasa Yunani - dys- ("kesulitan untuk") dan lexis ("huruf" atau "leksikal"). Disleksia merupakan suatu keadaan/ gangguan yang didapat secara keturunan yang menyebabkan kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja dengan menggunakan bahasa asal seseorang, walaupun kemampuan intelegensinya lebih dari rata-rata. Pada anak dengan retardasi mental, tidak diajar membaca, tidak mendapat kesempatan belajar, atau ada penyakit fisik tidak termasuk dalam disleksia. Pada sebagian kasus disleksia terdapat faktor keturunan. Disleksia dianggap suatu kondisi genetika yang berarti berjalan dalam keluarga. Diperkirakan bahwa jika Anda memiliki disleksia, ada kemungkinan 40-60% bahwa anak Anda juga akan mengembangkan kondisi. Epidemiologi Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan dalam membaca pada anak maupun dewasa yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih dan akurat. Disleksia merupakan salah satu masalah tersering yang terjadi pada anak dan dewasa dengan angka kejadian di dunia berkisar 5-17% pada anak usia sekolah. Disleksia adalah gangguan yang paling sering terjadi pada masalah belajar. Kurang lebih 80% penderita gangguan belajar mengalami disleksia. Berdasarkan jenis kelamin, angka kejadian untuk disleksia lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan yaitu berkisar 2:1 sampai 5:1. Etiologi Untuk mengidentifikasi anak disleksia perlu pemeriksaan menyeluruh dari segi biologis, kognitif serta perilaku. Seorang dokter dapat membantu melihat ada tidaknya gangguan biologis yang menyertai, atau ada tidaknya gangguan neurologis. Sedangkan pemeriksaan mendalam

dilakukan untuk melihat ada tidaknya masalah dalam segi kognitif serta pemprosesan informasi (Reid, 2001)5. Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua. Tim peneliti Jerman dan Swedia menemukan gen DCDC2 di daerah kromosom 6. Diduga, faktor penting penyebab disleksia, karena mempengaruhi migrasi sel saraf pada otak. Perubahan dalam gen DCDC2 sering kali ditemukan di antara penderita disleksia. Perubahan gen kebanyakan ditemukan pada anak-anak yang memiliki masalah membaca dan menulis. Gen tersebut nampak memiliki hubungan yang kuat dengan proses informasi berbicara saat menulis. Diketahui bahwa ada beberapa perbedaan otak anak yang menderita disleksia dengan anak lain. Perbedaan pertama adalah bahwa otak anak yang menderita disleksia tidak menunjukkan asimetri pada pusat berbahasa di otak terutama Broca dan area Wernicke, di daerah temporal. Pada anak biasa, daerah temporal di otak kiri lebih besar dibandingkan kanan. Pada anak disleksia, kiri dan kanan sama saja. Perbedaan kedua adalah bahwa pada anak disleksia terdapat gangguan sel saraf di beberapa daerah otak yang berhubungan dengan kemampuan membaca, misalnya di daerah parietal dan temporal. Gangguan sel saraf ini sudah terjadi sejak anak masih dalam kandungan. Gejala dan tanda Disleksia terlihat dengan ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah. Berikut dua proses dasar dari membaca : proses decoding atau pengenalan kata proses pemahaman. Dalam pengenalan kata, ada beberapa subketerampilan yang perlu dikuasai antara lain analisis fonetik, analisis struktural, kata-kata yang dikenal tanpa dikuasai keterampilan fonetik (sight words), pengenalan kata melalui pertanda serta penguasaan kosa kata. Sedangkan dalam proses pemahaman, seorang anak dapat memahami dalam berbagai tingkat pemahaman yaitu tingkat literal, tingkat penyimpulan, tingkat evaluasi serta tingkat apresiasi (Smith & Schloss, 1995).5 Usia Pra Sekolah Mengenakan sepatu sering terbalik Lebih senang mendengarkan cerita dibanding melihat tulisan Sering tersandung, jatuh, menabrak sesuatu saat berjalan Sulit melempar, dan menangkap bola, melompat, bertepuk tangan menurut irama Kemampuan berbahasa dan menulis saat usia sekolah Mengalami kesulitan membaca dan mengeja Salah menulis dan meletakkan gambar Sulit menghapal alphabet Huruf terbalik-balik seperti b dan d, tadi dan tapi Menggunakan jari untuk menghitung Konsentrasi buruk

Tidak mengerti apa yang dibaca Menulis lama sekali

Kesulitan lain pada saat usia sekolah Sulit mengenakan tali sepatu Sulit membedakan urutan nama hari atau nama bulan Sulit membedakan kanan-kiri Hilang rasa percaya diri Diagnosis Diagnosis disleksia ditegakkan berdasarkan adanya perbedaan kemampuan intelegensi (yang menggambarkan kemampuan anak untuk belajar) dengan hasil yang diperoleh (yang menggambarkan prestasi anak sebenarnya). Walaupun demikian, tidak ada kesepakatan mengenai derajat perbedaan tersebut. Tentunya kemampuan intelegensi anak harus diuji untuk menyingkirkan kemungkinan retardasi mental. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan terhadap hal-hal yang mungkin merupakan penyebab kesulitan belajar, seperti ada tidaknya ADHD, ada tidaknya gangguan mata dan telinga, atau penyakit lain. Deteksi dini disleksia Kesulitan membaca yang tidak diharapkan (kesulitan membaca pada seseorang yang tidak sesuai dengan kemampuan kognitif orang tersebut atau tidak sesuai dengan usia, tingkat kepandaian dan tingkat pendidikan), selain itu terdapat masalah yang berhubungan dengan proses fonologik. Pada anak usia prasekolah, adanya riwayat keterlambatan berbahasa atau tidak tampaknya bunyi dari suatu kata (kesulitan bermain kata-kata yang berirama, kebingungan dalam menghadapi kata-kata yang mirip, kesulitan belajar mengenal huruf) Adanya riwayat keluarga yang menderita disleksia, menunjukkan faktor risiko yang bermakna untuk menderita disleksia.

Dalam menegakkan diagnosis perlu pula penilaian dalam membaca, dengan pemeriksaan pada area : 1. kecepatan membaca, 2. ketepatan membaca, 3. pengenalan kata, 4. pemahaman membaca, 5. kosa kata dan 6. kemampuan mengeja (Wong, 1996).5 Untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya masalah dalam membaca, dapat dilakukan oleh beberapa orang antara lain guru, orangtua, dokter serta psikolog. Guru dan orangtua dapat mengidentifikasi dari pemeriksaan formal serta observasi dari kegiatan sehari-hari. Misalnya, dapat dilihat melalui : apakah anak bingung antara kiri dan kanan sering melakukan kesalahan perhitungan

bingung pada arah sering tersesat pada lingkungan baru bingung apabila harus memperhatikan detil, tidak menyukai puzzles, maze atau aktivitas yang memiliki elemen visual, bingung pada huruf-huruf yang bentuknya mirip (b dan d, p dan q), sulit mengenali dan mengingat kata-kata yang dilihatnya (namun lebih dapat mengingat kata-kata yang didengar) kehilangan jejak pada saat membaca, bingung dan sering terbalik dalam membaca kata-kata tertentu yang mirip (ubi dengan ibu), sulit menemukan huruf di dalam kata-kata dan suatu kata di dalam kalimat sulit mengingat kata-kata yang dilihatnya, sulit memahami ide-ide utama dari bacaan.

Sedangkan dokter dapat membantu melihat apakah ada masalah neurologis yang menyebabkan kesulitan anak dalam membaca.Seorang psikolog dapat menggunakan pemeriksaan psikometri untuk memastikan ada atau tidaknya masalah dalam inteligensi serta kelebihan dan kekurangan anak dalam aspek-aspek inteligentifnya. Pemeriksaan psikometri tertentu juga dapat membantu mengidentifikasi ada atau tidaknya masalah pemrosesan informasi, misalnya dari segi visual, auditif atau motorik. Selain itu penggunaan tes membaca yang formal serta informal juga dapat membantu melihat ada atau tidaknya masalah dalam membaca. Jadi, untuk membantu anak disleksia, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh sehingga dapat ditentukan bagaimana potensi anak secara keseluruhannya dan di mana kemampuan serta ketidakmampuannya. Selain itu apakah ada masalah kesehatan atau fisik yang mungkin menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam membaca. Dengan pemeriksaan yang menyeluruh, maka intervensi yang dilakukan pun dapat menjadi lebih terfokus pada penyelesaian masalah spesifiknya. Pemeriksaan fisik dan penunjang Pemeriksaan fisik memiliki peran yang sangat terbatas dalam mendiagnosis disleksia. Di mana gangguan sensori primer harus disingkirkan karena hasil pemeriksaan neurologik pada penderita disleksia adalah normal. Sedangakan untuk pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologis, elektroensefalografi dan analisis kromosom hanya dilakukan jika terdapat indikasi klinis. Bahkan, pemeriksaan genetik pun dapat dilakukan jika pada pasien terdapat indikasi klinis. Namun pada kasus tertentu, pemeriksaan genetik juga harus dilakukan mengingat terdapat kelainan genetik seperti sindrom Kleinefelter yang berhubungan dengan kesulitan bahasa dan membaca. Penilaian membaca Penilaian membaca meliputi analisis, kefasihan dan pemahaman. Pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menilai fonologi seorang anak adalah Comprehensive Test of Phonological (CTOPP). Pemeriksaan ini mencakup kepekaan fonologik, analisa fonologik dan menghafal. Pemeriksaan ini telah distandarisasi di Amerika Serikat untuk anak usia 5 tahun sampai dewasa.

Pada anak usia sekolah salah satu pemeriksaan yang penting adalah menilai apakah anak tersebut dapat menganalisis kata dengan baik. Pemeriksaan yang digunakan adalah Woodcock-Johnson III dan Woodcock Reading Mastery Test. Kefasihan berbicara dinilai dengan Gary Oral Reading Test.Tes ini menyediakan sebuah ukuran perkembangan dalam membaca dan mendiagnosis kesulitan membaca secara eifsien dan objektif. Tes ini terdiri dari dua bentuk yang sejajar, masing-masing mengandung 14 bagian urutan perkembangan membaca. Dengan 5 pertanyaan umum yang bias diberikan kepada anak usia 6-19 tahun.

Untuk menilai kecepatan membaca suatu kata digunakan Test of World Reading Efficiency (TOWRE). The Test of Word Reading Efficiency contains two subtests:

The Sight Word Efficiency (SWE) subtest assesses the number of real printed words that can be accurately identified within 45 seconds The Phonetic Decoding Efficiency (PDE) subtest measures the number of pronounceable printed nonwords that can be accurately decoded within 45 seconds.

Bagi para dokter, disarankan untuk mendengarkan dengan seksama saat anak membaca dalam setiap pemeriksaan. Penatalaksanaan Sampai saat ini, sama sekali tidak ada pengobatan disleksia dengan menggunakan obat. Terapi lebih ditujukan untuk mengatasi kesulitan belajar yang spesifik, dan sangat individual. Kemudian dilakukan perubahan cara pembelajaran dan lingkungan untuk membantu anak secara khusus. Tahap pertama adalah menentukan diagnosis dengan benar, kemudian melakukan berbagai pemeriksaan psikologis dan fisik. Disusul evaluasi lengkap mengenai kelemahan dan kelebihan anak, tentunya dengan bantuan guru di sekolah. Setelah itu, dilakukan pertemuan antara orang tua dan guru yang profesional untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam memperbaiki cara belajar anak secara individual. Orang tua juga diberi petunjuk bagaimana membantu anak di rumah. Harus diingat bahwa anak dengan disleksia sering menunjukkan kemampuan luar bisa misanya sangat inovatif, memecahkan masalah dengan sangat baik, kreatif dan berpikir lateral. Karena pada kenyataannya banyak orang disleksia yang menjadi orang sangat sukses.

BAB III Penutup

Kesimpulan Disleksia merupakan suatu gangguan belajar yang spesifik, khususnya dalam hal membaca dan menulis. Umumnya disleksia lebih banyak mengenai laki-laki daripada perempuan. Untuk faktor penyebab dari kelainan ini yang tersering adalah keturunan melalui gen CDCD2 pada kromosom nomor 6. Disleksia dapat dideteksi secara dini melalui gejala dan tandanya. Terapi lebih ditujukan untuk mengurangi gejala dari kelainan ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplans, Saddocks. Comprehensive textbook of psychiatry eight edition volume one, Lippincott Williams Wilkins, New York. 2005. 2. Dyslexia. Available at id.wikipedia.org 3. Dyslexia. Available at http://www.balita-anda.com 4. Dyslexia. Available at http://www.pjnhk.go.id 5. Dyslexia. Available at http://www.kesulitanbelajar.org 6. Dyslexia. Available at http://adulgopar.files.wordpress.com