Anda di halaman 1dari 10

Makalah Ilmu dan Teknologi Material Kedokteran Gigi I Efek Disinfeksi dengan Metode Perendaman Terhadap Stabilitas Dimensi

Alginat

Kelompok 1 Apriko Merza (04111004001) Mayang Pamudya Prameswari (04111004007) Herpika Diana (04111004013) Meity Isrianti Lestari (04111004019) Meiza Pratiwi (04111004025) Rozalia (04111004031) Sherly Septhimoranie (04111004039) Yosefa Adventi (04111004045) Seftria Devita Sary(04111004052) Fadlun(04111004059) Putri Ajri Mawaddara(04111004066) Dosen Pembimbing drg. Martha Mozarta, M.Si FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat sert a karunia-Nya kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul EFEK DISINFEKSI DENGAN METODE PERENDAMAN TERHADAP STABILITAS DIMENSI ALGINAT Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, dari segi isi, penulisan maupun kata kata yang digunakan. Oleh karena itu, kami moho n kritik serta saran yang bersifat membangun sebagai bahan pelajaran untuk kami. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan ser ta dalam penyusunan makalah ini sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa merid hai segala usaha kita.

Palembang, 7 Oktober 2012 Penulis

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................... ii DAFTAR ISI......................................................................

...... iii BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang.............................................................. 1 Rumusan Masalah......................................................... 1 Tujuan.......................................................................... 1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Alginat................................................................. ........... 3 1. Komposisi..................................................... 3 2. Struktur........................................................ 4 3. Sifat................................................................... ... 6 B. Disinfeksi.............................................................. .... 8 1. Jenis.............................................................. 8 2. Bahan................................................................... 8 C. Stabilitas Dimensi..................................................... 9 BAB 3 PEMBAHASAN................................................................ .... 12 BAB 4 KESIMPULAN................................................................ ..... 14 REFERENSI....................................................................... ............... 15

BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Alginat merupakan bahan cetak yang penggunaanya paling luas dalam kedokteran gig i. Keakuratan dari model kerja atau die selain tergantung kepada sifat-sifat fis ik dan mekanik dari bahan model, juga tergantung kepada sifat-sifat fisik dan me kanik dari bahan cetak yang digunakan. Cetakan alginat yang mengandung 85% air dapat mengalami penyusutan yaitu menguap nya air bila terjadi kenaikan suhu atau bila disimpan di udara terbuka dalam wak tu tertentu sehingga cetakan alginat akan mengalami kontraksi. Cetakan alginat b ersifat imbibisi yakni menyerap air bila berkontak dengan air dalam waktu terten tu sehingga akan mengembang. Selain itu, alginat juga dapat mengalami sineresis yaitu reaksi sol yang terus berlanjut. Karena rawan terjadi ekspansi maka perlu diwaspadai terjadinya perubahan dimensi yang dapat menyebabkan ketidakakuratan c etakan alginat.

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan stabilitas dimen si alginat adalah disinfeksi dengan metode immersi. Metode immersi merupakan pem berian disinfektan dengan cara perendaman. Waktu perendaman cetakan merupakan ha l yang penting, idealnya waktu perendaman sesingkat mungkin tetapi dapat mendis infeksi alginat.

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah di jelaskan, maka rumusan masalah dalam ma kalah ini,yaitu 1. Apakah definisi dan sifat fisik dan sifat kimia alginat (hydrocolloid ir reversible)? 2. Apakah definisi dan metode yang digunakan dalam pemberian disinfektan? 3. Apa pengaruh disinfeksi dengan metode perendaman terhadap stabilitas dim ensi alginat? C. 1. 2. 3. ilitas TUJUAN Untuk mengetahui sifat fisik dan sifat kimia dari alginat Untuk mengetahui jenis disinfektan yang lazim digunakan Untuk mengetahui pengaruh disinfeksi dengan metode immersi terhadap stab dimensi alginat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bahan cetak dapat dikelompokkan sebagai reversibel dan irreversibel, berdasarkan pada cara bahan tersebut mengeras. Istilah irreversibel menunjukkan bahwa reak si kimia telah terjadi; sehingga bahan tersebut tidak dapat diubah kembali ke ke adaan semula pada klinik dokter gigi. Salah satu contohnya adalah hidrokoloid a lginat mengeras dengan reaksi kimia. Sebaliknya, reversibel berarti bahan terse but melunak dengan pemanasan dan memadat dengan pendinginan tetapi tidak terjadi perubahan kimia.1 A. Alginat Garam asam alginat yang diperoleh dari rumput laut jika dicampur dengan air dala m proporsi yang tepat akan membentuk hidrokoloid ireversibel, yakni suatu gel ya

ng dipergunakan dalam pencetakan gigi-geligi.2 Alginat merupakan bahan cetak yang penggunaanya paling luas dalam kedokteran gig i. Hal ini dikarenakan kemudahan penggunaannya, harga yang relatif murah, proses pengerasan yang cepat, serta keakuratan yang memuaskan.3 1. Komposisi Alginat

Komponen aktif utama dari bahan cetak hidrokoloid irreversibel adalah salah satu alginat yang larut air, seperti natrium atau kalium. Bila alginat larut air di campur dengan air bahan tersebut membentuk sol. Sol sangat kental meskipun dala m konsentrasi rendah, alginat yang dapat larut membentuk sol dengan cepat bila b ubuk alginat dan air dicampur dengan kuat. Berat molekul dari campuran alginat amat bervariasi, bergantung pada buatan pabrik. Semakin besar berat molekul, se makin kental sol yang terjadi.1

Tabel 1. Komposisi Bahan Cetak Alginat dan Fungsinya (Sumber : Sumber: Joseph WO , editor. Dental materials and their selection 3rd ed. Chicago: Quintessence Pub lishing Co, Inc.; 2002. p. 90, 96. Komponen Fungsi PersentaseBerat Sodium atau potassium alginat Reaktan 12-15 Kalsiumsulfatdihidrat Reaktan 8-12 Sodium fosfat Retarder 2 Partikelpengisi, misalnyatanahdiatoma Partikelpengisiuntukmengontrolpengerasan gel 70 Potassium sulfatatau alkali zinc fluorida Membuatpermukaan model gipsum ya ng baik ~10 Pewarnadanperasa Estetik Sedikit . Semakin besar berat molekul, semakin kental sol yang terjadi. Bubuk alginat yang diproduksi pabrik mengandung sejumlah komponen yang berbeda-beda Proporsi yang tepat dari masing-masing bahan kimia yang digunakan bervariasi ses uai jenis bahan yang digunakan. Tujuan ditambahkannya tanah diatoma adalah untuk berfungsi sebagai pengisi. Bila bahan pengisi ditambahkan dengan tepat, akan da pat meningkatkan kekuatan dan kekerasan gel alginate, menghasilkan tekstur yang halus, dan menjamin permukaan gel padat, yang tidak bergelombang.1 2. Struktur Alginat Terdapat dua jenis monomer penyusun alginat, yaitu -d- Asam Mannopiranosil Uronat dan -L-As m Gulopiranosil Uronat. Dari kedua jenis monomer tersebut, alginat da pat berupa homopolimer yang terdiri dari monomer sejenis, yaitu -d Asam Mannopira nosil Uronat saja atau -L-As m Gulopiranosil Uronat saja. Ada juga alginat yang berupa senyawa heteropolimer jika monomer penyusunnya adalah gabungan kedua jeni s monomer tersebut.1,4 -D Asam Mannopiranosil Uronatdisebut juga asam alginik, yang rumus strukturnya ad alah sebagai berikut1 Gambar 1 Struktur kimia Asam Alginat (Sumber : Philips 2003: Hal.240) 2.1 Proses Gelasi Bubuk alginat yang dicampur dengan air akan menghasilkan bentuk pasta. Dua reaks i utama terjadi ketika bubuk bereaksi dengan air selama proses setting. Tahap pe rtama, sodium fosfat bereaksi dengan kalsium sulfat yang menyediakan waktu penge rjaan yang adekuat:5 2Na3PO4 + 3CaSO4 Ca3 (PO4)2 + 3Na2SO4 Tahap kedua, setelah sodium fosfat telah bereaksi, sisa kalsium sulfat bereaksi

dengan sodium alginat membentuk kalsium alginat yang tidak larut, yang dengan a ir akan membentuk gel:5 H2O Na alginat + CaSO4 Ca alginat + Na2SO4 (bubuk) (gel) Menurut kecepatan proses gelasinya, alginat dibedakan menjadi dua jenis, yakni: 1 1. Quick Setting Alginate, mengeras dalam 1 menit dan digunakan untuk mence tak rahang anak-anak atau penderita yang mudah mual. 2. Regular Setting Alginate, mengeras dalam 3 menit dan dipakai untuk pemak aian rutin. Gelasi alginat yang normal tercapai dalam 3 menit. Gerakan pada waktu gelasi be rlangsung, misalnya pasien batuk, bergerak, muntah, atau menelan akan menyebabka n stres internal pada alginat. 2.2 Struktur gel Pada natrium atau kalium alginat, kation terikat pada kelompok karbodiks il untuk membentuk ester atau garam. Bila garam yang tidak larut dibentuk melalu i reaksi natrium alginate dalam larutan dengan garam kalsium, ion kalsium akan m enggantikan ion natrium dalam 2 molekul berdekatan untuk ikatan silang antara 2 molekul. Dengan berkembangnya reaksi,ikatan saking kompleks molekuler atau anyam an polimer akan terbentuk. Anyaman semacam ini dapat menggantikan struktur menye rupai kepala sikat dari gel. Bila suatu garam larut air seperti kalsium klorida digunakan sebagai rea ktor, ikatan akan selesai terbentuk dalam beberapa detik dan keseluruhan sol diu bah menjadi kalsium alginate tidak larut secara cepat, sehingga menghasilkan mas sa yang tidak berguna. Kalsium sulfat,yang kurang larut dibandingkan kalsium klo rida, memasok ion kalsium pada kecepatan lebih rendah sehingga hanya sebagian da ri molekul alginate yang menjadi saling terkait. Sol yang tertinggal akan terbun gkus dalam suatu selubung kalsium alginate tidak larut. Akibatnya,reaksi tidak b erlanjut sampai sempurna. Struktur akhir terlihat sebagai jalinanfibril menyer upai kepala sikat dari kalsium alginate yang membungkus sol natrium alginate yan g tidak bereaksi, kelebihan air, partikel pengisi dan produk samping reaksi, sep erti natrium sulfat dan kalsium fosfat.1 3. Sifat Sifat-sifat alginat sebagian besar tergantung pada tingkat polimerisasi dan perb andingan komposisi guluronan dan mannuronan dalam molekul. Asam alginat tidak la rut dalam air dan mengendap pada Ph<3,5. Alginat tidak dapat larut dalam pelarut organik tetapi dapat mengendap dengan alkohol. Kelarutan alginat dan kemampuann ya mengikat air bergantung pada jumlah ion karboksilat, berat molekul dan pH. Ke mampuan mengikat air meningkat jika jumlah ion karboksilat semakin banyak dan ju mlah residu kalsium alginat kurang dari 500, sedangkan pada pH di bawah 3 terjad i pengendapan (McHugh, 2003). 6 Alginat memiliki sifat-sifat utama : 1. Kemampuan untuk larut dalam air serta meningkatkan viskositas larutan 2. Kemampuan untuk membentuk gel 3. Kemampuan membentuk film (natrium atau kalsium alginat) dan serat (kalsi um alginat) (Wandrey, 2005). 3.1 Kekuatan Gel Gel terbentuk melalui reaksi kimia dimana kalsium menggantikan natrium dalam alg inat, mengikat molekul-molekul alginat yang panjang sehingga membentuk gel. Keti ka 2 blok G tersusun paralel, terbentuk pola rantai seperti lubang yang sangat i deal untuk pengikatan kalsium. Kekuatan dari gel yang dibentuk dengan penambahan garam Ca bervariasi dari satu alginat dengan alginat lainnya. Alginat dengan kandungan G yang tinggi akan lebi h kuat dibandingkan dengan alginat dengan kandungan M yang tinggi. Seperti Macro cystis memberikan alginat dengan viskositas yang sedang, Sargassum memberikan ha sil viskositas yang rendah, Laminaria digitata menghasilkan kekuatan gel lembut sampai sedang sementara Laminaria hyperborea dan Durvillaea menghasilkan gel yan

g kuat (McHugh, 2003). Alginat dapat membentuk gel dengan adanya kation-kation divalent seperti Ca2+, M n2+, Cu2+ dan Zn2+, dimana ikatan silang terjadi karena adanya kompleks khelat a ntara ion-ion divalent dengan anion karboksilat dari blok G-G (Inukai, 1999). Pada konsentrasi tertentu larutan alginat akan menjadi gel bila asam atau logamlogam polivalen ditambahkan pada natrium, kalium, atau ammonium alginat. Kemampu an alginat membentuk gel secara reaksi dengan garam kalsium merupakan sifat yang penting. Biasanya sebagai sumber kalsium adalah kalsium karbonat, kalsium sulfa t, dan kalsium klorida. Larutan natrium alginat 1-12% akan menjadi keras seperti gel oleh penambahan kalsium atau ion-ion bervalensi 2 (Ba2+, Pb2+, dan Sr2+). S emakin tinggi konsentrasi alginat dan derajat polimerisasinya, semakin kuat gel yang terbentuk. Kekuatan gel dapat dikontrol atau diatur sehingga dapat dihasilk an gel yang lunak atau lembut, yang elastis, yang keras ataupun yang kaku.6 3.2 Viskositas Alginat sangat stabil pada pH antara 5-10, tetapi pada Ph yang lebih tinggi, vis kositas sangat kecil akibat adanya degradasi -elimin tif. Viskositas yang tinggi merupakan salah satu sifat yang sangat penting dari alginat, tetapi untuk mendap atkan produk-produk yang memiliki nilai viskositas yang bervariasi, industri-ind ustri alginate melakukan pencampuran alginate yang berasal dari berbagai jenis a lgae dengan cara degradasi oksidatif. Kation-kation mempunyai pengaruh yang sang at signifikan terhadap tinggi-rendahnya viskositas. Rendahnya konstanta ion Ca2+ akan meningkatkan viskositas sebagai salah satu akibat dari bentuk kompleks da ri alginate. Viskositas larutan tergantung pada 4 faktor utama, yaitu: 1. Tingkat polimerisasi, bertambahnya tingkat polimerisasi akan meningkatka n viskositas. 2. Konsentrasi larutan, bertambahnya konsentrasi larutan akan meningkatkan viskositas. 3. Suhu, bertambahnya suhu akan menurunkan viskositas. 4. Larutan sulfat atau elektrolit, penggunaan larutan sulfat atau penambaha n elektrolit akan mempengaruhi viskositas yang tidak hanya terhadap ion Ca2+ te tapi juga terhadap kedua asam uronat Viskositas sangat dipengaruhi oleh penambahan sejumlah kecil NaCl, Na2SO4,Na2CO3 , dan garam-garam natrium ammonia. Salah satu hal yang terpenting yaitu jumlah a sam alginat yang bereaksi dengan ion logam polivalen untuk membentuk gel atau la rutan yang viskositasnya tinggi. Ion divalen yang penting dan umum digunakan unt uk tujuan tersebut adalah kalsium. Peningkatan konsentrasi kalsium akan menyebab kan alginat menjadi sangat viskos samapi akhirnya mengendap. Gel yang terbentuk terdiri dari 90-99,5% air dan 0,5-1% kalsium alginat.7 B. Disinfeksi Disinfeksi adalah penghancuran bakteri-bakteri patogenik dengan cara pemberian l angsung bahan-bahan kimia atau fisik, sedangkan disinfektan adalah bahan-bahan k imia yang dapat membunuh organisme patogen bila diaplikasikan pada obyek mati.8 1. Jenis Disinfeksi Pemakaian disinfektan pada bahan cetak dapat dengan cara perendaman ataupun peny emprotan dengan menggunakan sprayer. Lamanya perendaman atau penyemprotan tergan tung dari jenis disinfektan yang digunakan.9 Berdasarkan aplikasi praktisnya, disinfeksi dengan teknik perendaman dianggap se bagai metode yang paling sesuai dan aplikatif untuk dokter gigi. Sementara itu, disinfeksi dengan teknik penyemprotan dengan menggunakan sprayer dianggap sebaga i metode yang paling efektif dan praktis bila jarak tempat pencetakan dengan lab oratorium dental cukup jauh. 2. Bahan bahan disinfeksi Kebanyakan pabrik menganjurkan jenis disinfektan tertentu, yang penggunaannya te rgantung instruksi dari pabrik itu sendiri. Namun diminta keterampilan operator untuk memilih jenis disinfektan yang baik diantaranya disinfektan yang mampu mem

bunuh bakteri pada bahan cetak alginate dan tidak menyebabkan perubahan dimensi yang signifikan. Berikut ini macam-macam metode disinfeksi 1. Spray / semprot Metode ini tidak menyebabkan perubahan dimensi pada alginate. Berlawanan dari me tode immersi, metode ini bisa sangat mengurangi jumlah distorsi. Pernyataan ters ebut diperkuat oleh American Dental Asosiation (ADA). 2. Immersi / pencelupan Metode ini sangat berlawanan dengan metode spray dikarenakan metode ini akan men galami sedikit perubahan dimensi jika direndam dalam air. Alginate dengan cara i mmersi akan menyerap air karena air akan berpindah karena adanya perbedaan tekan an osmotik antara alginate dan disinfeksinya14. Ada beberapa jenis cairan yang dapat dipakai sebagai bahan desinfektan, dalam be ntuk spray maupun cairan rendam, seperti 1. Chlorine solution, harganya murah dan sangat efektif. Cenderung berbahay a untuk kulit, mata dan lain sebagainya, dapat memutihkan pakaian, mempunyai bau yang kurang menyenangkan dan sangat korosif terhadap logam. 2. Aldehyde solution, mempunyai bau yang mencekik dan iritasi terhadap kuli t dan mata. Produk-produk komersial biasanya dibuat dari cairan berbasis glutara ldehyde daripada cairan berbasis formaldehyde. Glutaraldehyde 2% merupakan desin fektan pilihan. 3. Iodine solution atau iodophor 1%. Iodophors bisa korosif, mengiritasi ma ta, kulit,dan mukosa pernafasan, dan memiliki bau yang tidak menyenangkan.Phenol s. Phenols adalah disinfektan yang baik, dan akan lebih efektif jika digunakan b ersama detergent. Penggunaan phenol dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan mukosa pernafasan, dan memiliki keuntungan yaitu bau yang menyenangkan dan t idak menyebabkan perubahan warna pada instrumen.10 C. Stabilitas Dimensi

Suhu air mempengaruhi waktu pengerasan alginat.Penambahan air dingin meningkatka n waktu kerja dan waktu setting. Rasio bubuk-air dan waktu pengadukan dengan sendirinya mempengaruhi hasil adonan alginat.Perbandingan bubuk dan air yang kurang akan meningkatkan kekuatan, meng urangi waktu kerja, waktu setting, dan fleksibilitas. Pengadukan yang tidak adek uat tidak mencetak secara detail dan menghasilkan campuran yang berbutir karena tidak tercampur dengan sempurna sehingga reaksi kimia berlangsung secara tidak s eragam di massa adukan. Pada penempatan alginat ke dalam sendok cetak, usahakan jangan sampai ada udara terjebak, semua bagian sendok terisi dengan baik, dan pe rforasi sendok cetak terisi semua. Bila tidak, alginat dapat terlepas pada saat sendok dikeluarkan dari mulut. Bahan cetak terlalu tipis menyebabkan cetakan mudah robek dan berubah bentuk, se dangkan terjebaknya udara atau cairan pada permukaan gigi atau jaringan akan men yebabkan cetakan jadi porus. Bahan cetak yang terlalu banyak pada sendok cetak a kan menyebabkan menyulitkan pengeluaran atau pada rahang atas akan menyebabkan b ahan cetak mengalir ke belakang.5,11 Keburukan utama dari alginat adalah dimensinya tidak stabil waktu mengeras. Ceta kan alginat harus segera diisi dengan dental gipsum sesegera mungkin dan tidak l ebih dari 30 menit atau bila tidak cetakan akan menjadi tidak akurat dan perlu dilakukan pencetakan ulang karena dimensi yang tepat telah hilang.3,12 Jika masi h ada sisa air di permukaan cetakan atau cetakan terlalu lama direndam di dalam cairan yang mengandung air selama lebih dari 10 menit, maka akan terjadi imbibis i yang akan menyebabkan alginat mengembang. Sebaliknya, jika cetakan dibiarkan k ering di udara terbuka, akan terjadi penguapan air dengan akibat mengerutnya alg inat. Untuk mencegah hal-hal tersebut, letakkan cetakan dalam udara lembab, bung kus dengan kain basah atau paling aman masukkan ke dalam humidor yang mempunyai kelembaban atmosfir 100%.11,13 1. Sineresis

Sineresis merupakan akibat dari tekanan yang terjadi terhadap air yang berada di antara rantai poisakarida yang berakibat keluarnya tetes tetes kecil air pada pe rmukaan bahan cetak. Air dapat keluar dari algina oleh karena penguapan. Cairan yang muncul di permukaan gel selama dan sesudah proses syneresis tidak murni air , tetapi kemungkinan alkali ata asam tergantung pada komposisi gel. Alginat yang dibiarkan di udara terbuka selama satu jam akan mengalami perubahan dimensi sebesar -0,40% (mengkerut) dari dimensi awalnya. Setelah satu jam diuda ra terbuka , kemudian alginat dimasukkan ke dalam air selama 3jam, maka dimensi alginat akan bertambah sebesar 0,58% (menggembung) dari dimensi saat menyusut, a tau bertambah sebesar 0,28% dar dimensi awalnya. Pada grafik di atas, perubahan dimensi alginat secara eksposional.1 Proses sineresis pada cetakan terjadi karena: Cetakan terlalu lama diletakkan atau disimpan di udara terbuka. Sesudah cetakan dikeluarkan dari mulut, penyimpanan cetakan yang menyebabkan penguapan dan syner esis hingga dimensi berubah dan tidak akurat. Kenaikan suhu. Bila suhu udara naik atau lebih tinggi dari suhu kamar, maka sete lah cetakan dikeluarkan dari dalam mulut, cetakan tersebut akan mengalami synere sis 2. Imbibisi

Imbibisi merupakan kebalikan dari syneresis. Bila cetakan diletakkan di suatu te mpat yang berkontak dengan air, maka cetakan tersebut akan menyerap air. Proses inilah yang disebut imbibisis.1 Proses imbibisi pada cetakan dapat terjadi karena Cetakan disimpan di dalam air. Bila cetakan diletakkan di dalam air, gel akan m enyerap air sekitarnya sehingga cetakan menggembung, dalam hal ini dimensi cetak an akan mengalami perubahan. Lama dan macam zat antiseptik yang dipakai untuk merendam cetakan. Untuk menghi ndari kontaminasi silang di dunia kedokteran gigi, cetakan direndam di dalam lar utan antiseptik selama 10 menit segera setelah dikeluarkan dari dalam mulut.

BAB 3 PEMBAHASAN Hasil cetakan alginat dapat dikategorikan baik jika memiliki kestabilan dimensi yang nilai keakuratannya baik. Stabilitas dimensi adalah kemampuan untuk mempert ahankan keakuratan(nilai atau bentuk) selama selang waktu tertentu. Namun, cetak an alginat dapat mengalami ekspansi dengan terjadinya imbibisi, pengerutan, atau sineresis.14 Perubahan keakuratan dimensi cetakan alginat dipengaruhi oleh banyak faktor. Imb ibisi dan pengerutan umumnya disebabkan karena penguapan air yang terjadi pada c etakan alginat tergantung dari kondisi penyimpanan sedangkan sineresis lebih dip engaruhi oleh material yang terkandung di dalam alginat itu sendiri. Kesalahan y ang bersifat random juga dapat menjadi penyebabnya dan dapat berasal dari mana s aja. Misalnya rasio bubuk alginat dan air yang tidak tepat, alginat yang tidak t erdukung alat cetak, gerakan selama proses gelasi berlangsung, atau gerakan mele pas alginat dari cetakannya yang tidak tepat. Selain itu metode disinfeksi juga ikut mempengaruhi dalam proses perubahan dimensi alginat.9,14 Joseph mengemukakan bahwa salah satu disinfektan yang sesuai untuk bahan cetak a lginat adalah sodium hipoklorit.Sodium hipoklorit merupakan disinfektan yang ber spektrum luas dengan kemampuan membunuh bakteri gram positif dan gram negatif. D isinfektan ini dipakai dengan cara perendaman( immersi ).Perubahan dimensi yang

terjadi setelah beberapa menit dipengaruhi oleh lamanya waktu perendaman, semaki n lama waktu perendaman maka akan semakin signifikan terjadinya perubahan dimens i alginat dan akan mengakibatkan cetakan alginat mengalami imbibisi sehingga kan dungan air yang terkandung di dalamnya meningkat yang menyebabkan cetakan menjad i tidak akurat lagi Perubahan dimensi yang tidak signifikan terjadi pada cetakan alginat, baik yang direndam selama 5,10, dan 15 menit yang terlihat jelas setelah dilakukan penguji an sampel dan analisis statistik dengan menggunakan uji anova satu arah. Lamanya waktu perendaman dapat mempengaruhi perubahan dimensi, perendaman yang singkat menghasilkan perubahan dimensi yang relatif sedikit/kecil. Namun, perubahan dime nsi tetap terjadi, hal ini disebabkan karena struktur alginat yang berbentuk ser at dengan air yang mengisi ruangan kapiler tersebut, seperti yang dinyatakan ole h Leinfelder dkk yang dikutip oleh Jeddy.3 Hal ini juga telah ditunjukkan oleh percobaan yang dilakukan oleh Hiraguchi yang menyatakan bahwa perendaman cetakan alginat pada 0,5% atau 1% larutan sodium hi poklorit selama 15 menit tidak menunjukkan deformasi ukuran yang mencolok yang d iukur pada model die gips. Stabilitas dimensi alginat mulai berubah setelah dilakukan perendaman selama 10 menit, jadi semakin lama waktu perendaman akan mengakibatkan cetakan alginat men galami perubahan dimensi. Hal ini karena cetakan alginat dapat mengalami imbibis i yang menyebabkan kandungan air yang terkandung di dalamnya meningkat dan menye babkan cetakan menjadi tidak akurat lagi( berubah dimensi ). Ditambah lagi bahan cetak alginat mengandung banyak air yaitu sekitar 85% sehingga cenderung untuk terjadi distorsi yang disebabkan oleh ekspansi yang berhubungan dengan sifat sin eresis dan imbibisi dari cetakan alginat.18

BAB 4 KESIMPULAN Disinfeksi ini biasanya dipakai pada cetakan Alginat yang merupakan bahan ceta k yang penggunaanya paling luas dalam kedokteran gigi dan pemakain disinfektan p ada bahan cetak alginat sangat dianjurkan karena dapat mencegah terjadinya infek si silang . Cetakan alginat yang mengandung 85% air dapat mengalami penyusutan yaitu menguap nya air bila terjadi kenaikan suhu atau bila disimpan di udara terbuka dalam wak tu tertentu sehingga cetakan alginat akan mengalami kontraksi. Cetakan alginat b ersifat imbibisi yakni menyerap air bila berkontak dengan air dalam waktu terten tu sehingga akan mengembang. Selain itu, alginat juga dapat mengalami sineresis yaitu reaksi sol yang terus berlanjut. Karena rawan terjadi ekspansi maka perlu diwaspadai terjadinya perubahan dimensi yang dapat menyebabkan ketidakakuratan c etakan alginate, Kebutuhan disinfektan ini telah berkembang luas karena meningkatnya kesadaran po tensi jalur infeksi silang ketika mempergunakan bahan cetak. Desinfektan itu sen diri adalah bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terj adinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Perubahan dimensi yang terjadi pada cetakan alginat, tidak terlalu terlihat baik yang direndam selama 5,10, dan 15 meni namun perubahan dimensi tetap terjadi di sebabkan struktur alginat yang berbentuk serat dengan air yang mengisi ruangan k apiler tersebut, seperti yang dinyatakan oleh Leinfelder dkk yang dikutip oleh J eddy. Stabilitas dimensi alginat mulai berubah setelah direndam selama 10 menit, semak in lama waktu perendaman akan mengakibatkan cetakan alginat mengalami imbibisi s ehingga kandungan air yang terkandung di dalamnya meningkat yang menyebabkan cet akan menjadi tidak akurat lagi. Ditambah lagi bahan cetak alginat mengandung ban

yak air yaitu sekitar 85% sehingga cenderung untuk terjadi distorsi yang disebab kan oleh ekspansi yang berhubungan dengan sifat sineresis dan imbibisi dari ceta kan alginat.1,12 REFERENSI 1. Anusavice KJ. Phillips buku ajar ilmu bahan kedokteran gigi edisi ke-10. Alih bahasa: Budiman JA, Purwoko S. Jakarta: EGC; 2004. h. 94; 109 2. Kamus kedokteran gigi. Alih bahasa: Sumawinata W. Jakarta: EGC; 1993. Al ginate; h. 9 3. Jeddy. Pengaruh empat macam perlakuan pada bahan cetak alginat terhadap perubahan dimensi, dentika Dental Journal 2001; 6(1): 1-5 4. Winarno, F.G. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta : Pustaka Sina r Harapan ; 1996 5. Joseph WO, editor. Dental materials and their selection 3rd ed. Chicago: Quintessence Publishing Co, Inc.; 2002. p. 90, 96. (4a) 6. Abadi, hafizhatul. Pembuatan Membran Alginat-Kitosan dan Kalsium Alginat -Kitosan serta Pengujiannya terhadap Penyembuhan Luka Marmut. Fakultas Farmasi U SU.2008 7. Rasyid, Abdullah.Algae Coklat (Phaeophyta) sebagai Sumber Alginat.2003 8. Baum, Phillips, Lund. Ilmu konservasi gigi edisi ke-3. Alih bahasa: Tari gan S. Jakarta: EGC; 1994. h. 107. 9. Febriani M, Herda E. Pemakaian desinfektan pada bahan cetak elastomer, J ITEKGI 2009; 6(2): 41-4 10. Wala M. Amin, Muna H. Al-Ali,Sandra K. Al Tarawneh, Sahar Th. Taha,Moham ed W. Saleh, Nadia Ereifij. The Effects of Disinfectants on Dimensional Accurac y and Surface Quality of Impression Materials and Gypsum Casts. Journal of Clini cal Medicine Research, Vol. 1, No. 2, Jun 2009. 11. Haryanto G. Buku ajar ilmu geligi tiruan sebagian lepasan jilid II. Jaka rta: Hipokrates; 1991. h. 52; 63; 67; 70; 72-3; 75; 77. 12. Walker MP, Burckhard J, Mitts DA, Williams KB. Dimensional change over t ime of extended-storage alginate impression material. Angle Orthodontist [serial online] 2010; 80(6): 1110-4. 13. Basker RM. Perawatan prostodontik bagi pasien tak bergigi edisi ke-3. Al ih bahasa: Soebekti TS, Arsil H. Jakarta: EGC; 1994, h. 70-1; 131-2. 14. Imbery TA, Nehring J, Janus C, Moon PC. Accuracy and dimensional stabili ty of extended-pour and conventional alginate impression materials. J Am Dent As soc [serial online] 2010; 141(1): 32-9. 15. Sastrodihardjo S. Perubahan dimensi hasil cetakan alginat berbentuk balo k, Dentofasial 2008; 7(1): 63-9. 16. Hisako hiraguchi, Masahiro Kaketani, Hideharu Hirose, and Takayuki Yoney ama. Effect of Immersion Disinfection Alginate Impressions in Sodium Hypochlorit e Solutionon the Dimensional Changes of Stone Models. Dental Materials Journal. 2012; 31(2): 280-286 17. Craig RG, Power JM. Restorative Dental Material 11th ed. St. Louis: CV M osby Co; 2002. p. 339-40 18. Journal of Clinical Medicine Research . 2009. The Effects ofDisinfectant son Dimensional Accuracy and Surface Quality ofImpression Materials and Gypsum C asts.