Anda di halaman 1dari 26

Willia Gontina S, Sked (2012)

Dislipidemia
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid, yang ditandai dengan kelainan fraksi lipid berupa kenaikan kadar kolesterol total, kenaikan kadar LDL, kenaikan kadar trigliserida dan penurunan kadar HDL. 1 Batas kadar kolesterol > 250 mg/dl sebagai batasan hiperkolesterolemia maka pada MONICA I terdapatlah hiperkolesterolemia 13.4 % untuk wanita dan 11,4 % untuk pria. Pada MONICA II hiperkolesterolemia terdapat pada 16,2 % untuk wanita dan 14 % pria.2 Hal ini menunjukan wanita lebih berisiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kolestrol dibandingkan dengan pria.2 Sebelum mempelajari mengenai penyakit dislipidemia , sebaiknya kita mempelajari mengenai lipid dan metabolisme lipid itu sendiri. A. Lipid dan Lipoprotein A.1 Lipoprotein dan Karakteristiknya Lipid adalah suatu senyawa yang bersifat hidrofobik, terdapat dalam semua bagian tubuh. Di dalam darah kita ditemukan tiga jenis lipid yaitu kolestrol, trigliserida dan fosfolipid. Oleh karena sifat lipid yang susah larut dalam lemak , maka perlu dibuat bentuk yang terlarut. Untuk itu butuh suatu zat pelarut yaitu suatu protein yang dikenal dengan nama apolipoprotein yang sering diberi nama secara alfabetis yaitu Apo A, Apo B, Apo C dan Apo E. Senyawa lipid dengan apoprotein ini sering disebut sebagai lipoprotein. Setiap lipoprotein terdiri atas Kolestrol (bebas/ester), Trigliserid, Fosfolipid dan Apoprotein . Lipoprotein berbentuk sferik (*) dan mempunyai inti trigliserid dan kolestrol ester dan dikelilingi oleh fosfolipid dan sedikit kolestrol bebas. Apoprotein ditemukan pada permukaan lipoprotein (lihat gambar). Gambar 1. Bentuk suatu lipoprotein terlihat strukturnya terdiri atas kolesterol, fosfolipid, apolipoprotein, dan trigliserida.

(*) Bentuk sferik adalah bentuk bulat agak melonjong (lihat Gambar 1).

Willia Gontina S, Sked (2012)

Setiap lipoprotein berbeda dalam ukuran, densitas, komposisi lemak, dan komposisi lipoprotein. Dengan menggunakan ultrasentrifusi, pada manusia dibedakan enam jenis lipoprotein, yaitu: 3
1. HDL (High Density Lipoprotein) 2. LDL (Low Density Lipoprotein)

: lipoprotein yang terlibat dalam metabolisme VLDL, LDL dan IDL.HDL disintesis oleh usus dan hati. : adalah stadium akhir dari katabolisme VLDL. VLDL yang dikeluarkan oleh hati akan berubah menjadi LDL di dalam sirkulasi darah. LDL banyak mengandung kolesterol dibandingkan bentuk VLDL. : bentuk peralihan dari VLDL ke LDL, biasanya terbentuk singkat dalam pembuluh darah. dari hati (dari metabolisme hati).

3. IDL (Intermediate Density Lipoprotein)

4. VLDL (Very Low Density Lipoprotein) : adalah lemak yang diangkut 5. Kilomikron

: adalah lemak yang diangkut mukosa

usus.
6. FFA (Free Fatty Acid)

: adalah asam lemak bebas yang dijumpai dalam plasma darah sebagai produk lipolisis dari pembuluh darah dan jaringan adipose/lemak. 4 Gambar 2. Pembagian lipoprotein berdasarkan kepadatannya.

Willia Gontina S, Sked (2012)

A.2 Metabolisme Lipoprotein Metabolisme lipoprotein dapat dibagi atas tiga jalur yaitu jalur metabolisme eksogen, jalur metabolisme endogen, dan jalur reverse cholesterol transport. Kedua jalur pertama berhubungan dengan metabolisme kolesterol-LDL dan trigliserid, sedang jalur reverse cholesterol transport khusus menangani metabolisme HDL.
1. Jalur metabolisme eksogen

Makanan berlemak yang kita makan terdiri atas trigliserid dan kolesterol. Selain kolesterol yang berasal dari makanan, dalam usus juga terdapat kolesterol dari hati yang diekskresikan bersama empedu ke usus halus. Baik lemak di usus halus yang berasal dari makanan maupun yang berasal dari hati disebut lemak eksogen. Kolesterol masuk ke dalam usus halus dalam bentuk kolesterol ester, kemudian kolesterol ester dan trigliserid dalam bentuk kilomikron masuk ke saluran limfe yang bermuara ke duktus torasikus (*), selanjutnya masuk ke aliran darah. Di lapisan endotel (**) pembuluh darah kilomikron (yang mengandung kolesterol dan trigliserida), kandungan trigliseridanya diubah dalam bentuk asam lemak bebas oleh lipoprotein lipase. Lemak bebas kemudian diubah lagi menjadi trigliserida di jaringan lemak, jika kadar trigliserida di jaringan lemak terlalu tinggi maka akan dibawa ke hati. Akibatnya kilomikron banyak kehilangan kandungan trigliserida dan hanya mengandung kolesterol ester, kilomikron seperti ini disebut kilomikron remants, kilomikron remants akan dibawa ke hati untuk dimetabolisme.
(*) Duktus torasikus adalah salah satu bagian saluran limfe utama yang terdapat pada daerah subklavikula kiri (sebelah bawah kiri leher), fungsinya adalah mengumpulkan cairan limfe dari seluruh bagian tubuh kecuali bagian leher dan kepala. Lihat gambar 3. (**) Lapisan endotel adalah salah satu lapisan terdalam di pembuluh darah itu. (Lihat Gambar 4).

Gambar 3. Letak duktus torasikus.

Duktus toras us ik

Willia Gontina S, Sked (2012)

Pembuluh darah terdiri dari tiga lapisan, yaitu : Tunika intima adalah lapisan paling dalam, terdiri dari dua yaitu lapisan endotel yang lebih dalam ke arah aliran darah dan lapisan subendotel yang lebih luar. Lapisan endotel terdiri dari sel endothelial, sedangkan lapisan subendotel terdiri dari kolagen, sel otot polos dan sel fibroblas. Tunika media terdiri dari sel sel otot polos yang berpiling konsentris/melingkar. Tunika adventisia terdiri dari kolagen dan elastin. Tunika adventisia kemudian akan bersatu dengan jaringan ikat yang membungkus organ yang dilalui oleh pembuluh darah tersebut. Gambar 4. Lapisan pembuluh darah.

2. Jalur metabolisme endogen

Trigliserida dan kolesterol yang disintesis di hati dan disekresi ke dalam sirkulasi sebagai lipoprotein VLDL. Dalam sirkulasi, trigliserid dalam VLDL akan mengalami hidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase (LPL), dan VLDL berubah menjadi IDL yang juga akan mengalami hidrolisis dan berubah menjadi LDL. Sebagian dari VLDL, IDL, dan LDL akan mengangkut kolesterol ester kembali ke hati. LDL adalah lipoprotein yang paling banyak mengandung kolesterol. Sebagian dari kolesterol dalam LDL akan dibawa ke hati dan jaringan steroidogenik (jaringan yang menyimpan lipoprotein) lainnya seperti kelenjar adrenal, testis, dan ovarium yang mempunyai reseptor untuk kolesterol-LDL. Sebagian lagi dari kolesterol-LDL akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh reseptor scavenger-A (SRA) (*) di makrofag dan akan

Willia Gontina S, Sked (2012)

menjadi sel busa (foam cell). Makin banyak kadar kolesterol-LDL dalam plasma makin banyak yang akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh sel makrofag. Jumlah kolesterol yang akan teroksidasi tergantung dari kadar kolesterol yang terkandung di LDL. Beberapa keadaan mempengaruhi tingkat okdidasi seperti meningkatnya jumlah LDL kecil padat (small dense LDL) seperti pada sindrom metabolik dan diabetes mellitus. Kadar kolesterol-HDL, makin tinggi kadar kolesterol HDL akan bersifat protektif terhadap oksidasi LDL.
(*) Reseptor scavenger adalah reseptor yang berfungsi sebagai perantara untuk proses pengumpulan kolestrol di makrofag, kulit dan pembuluh darah.

3. Jalur reverse kolestrol transport

Suatu proses yang membawa kolesterol dari jaringan kembali ke hepar. HDL merupakan lipoprotein yang berperan pada jalur ini. Seperti yang kita ketahui bahwa HDL itu miskin kolestrol disebut sebagai HDL nascent yang berasal dari usus halus dan hati. HDL nascent dapat mengambil kandungan kolesterol di makrofag, selain itu dapat mengambil kandungan kolestrol di IDL dan LDL. Dengan demikian fungsi HDL sebagai penyerap kolestrol, maka disebut sebagai lemak baik karena fungsinya.3 B. Dislipidemia B.1 Klasifikasi Dislipidemia dan Kadar Lipid Normal Klasifikasi dari dislipidemia dapat berdasarkan atas: dislipidemia primer yang tidak jelas sebabnya dan dislipidemia sekunder yang mempunyai penyakit dasar seperti pada sindroma nefrotik, diabetes mellitus, hipotiroidisme. Selain itu dislipidemia dapat juga dibagi berdasarkan profil lipid yang menonjol seperti hiperkolestrolemi, hipertrigilseridemia, isolated low HDL- cholesterol, dan dislipidemia campuran. Dislipidemia campuran paling banyak ditemukan. Dilihat dari obat penurun lipid, klasifikasi dislipidemia campuran adalah yang paling tepat. Tabel 1. Kadar lipid serum normal (klasifikasi kolestrol total, kolestrol LDL, kolestrol HDL, dan trigliserid menurut NCEP ATP III 2001 mg/dl).
Kolestrol total <200 200-239 >240 Kolestrol LDL < 100 100-129 130-159 160-189 >190 Kolestrol HDL < 40 >60 Optimal Diinginkan Tinggi Optimal Mendekati Diinginkan Tinggi Sangat tinggi Rendah Tinggi

Willia Gontina S, Sked (2012)


Trigliserid <150 150-199 200-499 >500

Optimal Diinginkan Tinggi Sangat tinggi

B.2

mempunyai riwayat familial (riwayat penyakit kolesterol di keluarga), namun penyebabnya masih belum diketahui, Namun biasanya faktor risiko dislipidemia yang paling utama adalah disebabkan kelebihan berat badan dan pola makan. Orang dengan kelebihan berat badan (obesitas) dan pola makan tinggi lemak (terutama lemak hewani) Menyebabkan sintesis kolestrol di hati meningkat konsentrasi LDL (yang kaya kolestrol) ikut meningkat LDL akan berikatan dengan reseptor scavenger yaitu reseptor perantara pengumpulan kolestrol di makrofag, kulit dan pembuluh darah Menyebabkan menumpuknya kolesterol di sel makrofag, kulit dan pembuluh darah Memicu terjadinya penyakit aterosklerosis dan penyakit jantung koroner 5 B.3 Penyakit- penyakit Dislipidemia 1. Hiperlipidemia Primer/Familial Banyak disebabkan oleh karena kelainan genetik. Biasanya kelainan ini ditemukan pada waktu pemeriksaan laboratorium secara kebetulan. Pada umumnya tidak ada keluhan, kecuali pada keadaan yang agak berat, pada tipe hiperlipidemia ini tampak adanya xantoma (*).
(*) Xantoma adalah adanya penumpukan lemak di bawah jaringan kulit

Dikutip dari : Executive summary of the third report of the Natonal Cholestrol Education Program (NCEP) expert panel on detection, Patofisiologi Dari Dislipidemia blood cholesterol in Adults (Adults evaluation and treatment of High Treatment panel II), JAMA 2001; 285: 2486-2497. Sebagian besar pasien hiperkolesterolemia sebelumnya

Willia Gontina S, Sked (2012)

Tabel 2. Klasifikasi hiperlipidemia primer Fresrickson.


Hyper lipoprotei nemia Ty a pe I Fredrickson classification of Hyperlipidemias Synonyms Defect Increas Main Treatm ed symptoms ent lipopro tein BuergerDecrease Chylom Abdominal Diet Gruetz d icrons pain (from control syndrome, lipoprote pancreatiti or Familial in lipase s), lipemia hyperchylo (LPL) retinalis, micronemi eruptive a skin xanthomas Familial Altered , apoprotein ApoC2 hepatospl CII enomegaly deficiency LPL inhibitor in blood Familial LDL LDL Xanthelas Bile hyperchole receptor ma, arcus acid sterolemia deficienc senilis, sequest y tendon rants, xanthomas statins, niacin Familial Decrease LDL Statins, combined d LDL and niacin, hyperlipid receptor VLDL fibrate emia and increase d ApoB Familial Defect in IDL TuboFibrate, dysbetalip Apo E 2 Eruptive statins oproteine synthesis Xanthoma mia s & Palmar Xanthoma s Familial Increase VLDL Fibrate, hypertrigl d VLDL niacin, yceridemia productio statins n and Decrease d eliminati Estimat ed prevale nce 1 in 1,000,0 0

c Ty pe II A

1 in 500 for heteroz ygotes 1 in 10

Type III

1 in 10,000

Type IV

1 in 100

Willia Gontina S, Sked (2012)


on Increase d VLDL productio n and Decrease d LPL

Type V

VLDL and Chylom icrons

Niacin, fibrate

Gambar 5. Diagram Prevalensi hiperlipidemia familial.

Terdapat 5 jenis hiperlipoproteinemia, yang masingmasing memiliki gambaran lemak darah dan risiko yang berbeda-beda, yaitu : a.Hiperlipoproteinemia tipe I Disebut juga hiperkilomikronemia familial, merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi dan ditemukan pada saat lahir. Patofisiologi: tubuh penderita tidak mampu membuang kilomikron dari dalam darah. Anak-anak dan dewasa muda dengan kelainan ini mengalami serangan berulang Gejala: nyeri perut, hati dan limpa membesar, pada kulitnya terdapat pertumbuhan lemak berwarna kuning-pink (xantoma eruptif). Diagnosa: pemeriksaan darah menunjukkan kadar trigliserida yang sangat tinggi. Komplikasi: penyakit ini tidak menyebabkan terjadi aterosklerosis tetapi bisa menyebabkan pankreatitis, yang bisa berakibat fatal. Penderita diharuskan menghindari semua jenis lemak (baik lemah jenuh, lemak tak jenuh maupun lemak tak jenuh ganda). Tatalaksana: diet rendah lemak, baik lemak jenuh maupun tidak jenuh. b.Hiperlipoproteinemia tipe II Disebut juga hiperkolesterolemia familial, merupakan suatu penyakit keturunan yang mempercepat terjadinya aterosklerosis dan kematian dini, biasanya karena serangan jantung. Patofisiologi: endapan lemak membentuk pertumbuhan xantoma di dalam. Diagnosa: kadar kolesterol total sampai 500-1200 mg/dL. Komplikasi: penyakit arteri koroner pada masa kanak-kanak. Tatalaksana: tujuan pengobatan adalah untuk menghindari faktor resiko, seperti merokok, dan obesitas, serta mengurangi kadar kolesterol darah dengan mengkonsumsi obat-obatan. Penderita diharuskan menjalani diet rendah lemak atau tanpa lemak,

Willia Gontina S, Sked (2012)

terutama lemak jenuh dan kolesterol serta melakukan olah raga secara teratur. Menambahkan gandum pada makanan akan membantu mengikat lemak di usus. Seringkali diperlukan obat penurun lemak. c. Hiperlipoproteinemia tipe III Merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi, yang menyebabkan tingginya kadar kolesterol VLDL dan trigliserida. Gejala: pada penderita pria, tampak pertumbuhan lemak di kulit pada masa dewasa awal. Pada penderita wanita, pertumbuhan lemak ini baru muncul 10-15 tahun kemudian, dan obesitas. Diagnosa: kolesterol terutama terdiri dari VLDL, tingginya kadar kolesterol total dan trigliserida peningkatan kadar asam urat. Komplikasi: aterosklerosis,dan diabetes ringan. Tatalaksana: pencapaian dan pemeliharaan berat badan ideal serta mengurangi asupan kolesterol dan lemak jenuh. Biasanya diperlukan obat penurun kadar lemak. Kadar lemak hampir selalu dapat diturunkan sampai normal, sehingga memperlambat terjadinya aterosklerosis. d.Hiperlipoproteinemia tipe IV Merupakan penyakit umum yang sering menyerang beberapa anggota keluarga dan menyebabkan tingginya kadar trigliserida. Komplikasi: aterosklerosis, dan diabetes ringan. Diagnosa : VLDL meningkat. Tatalaksana: penderita dianjurkan untuk mengurangi berat badan, mengendalikan diabetes dan menghindari alkohol. Bisa diberikan obat penurun kadar lemak darah. e. Hiperlipoproteinemia tipe V Merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi, dimana tubuh tidak mampu memetabolisme dan membuang kelebihan trigliserida sebagaimana mestinya. Selain diturunkan banyak penyebab yang lain yang mempengaruhi. Penyebab lain: penyalahgunaan alkohol, diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, dan gagal ginjal. Gejala: adanya xantoma, pembesaran di hati dan limpa serta nyeri perut. Diagnosa: VLDL dan kilomikron meningkat. Komplikasi: diabetes ringan, peningkatan asam urat,dan pankreatitis. Penatalaksanaan: pengobatannya berupa penurunan berat badan, menghindari lemak dalam makanan dan menghindari alkohol. Bisa diberikan obat penurun kadar lemak. 5

2. Hiperlipidemia Sekunder

Willia Gontina S, Sked (2012)

Pada jenis ini, peningkatan kadar lipid darah disebabkan oleh suatu penyakit tertentu, misal : diabetes melitus, gangguan tiroid, penyakit hepar, dan penyakit ginjal. Hiperlipidemia sekunder bersifat reversible (berulang). Ada juga obat-obatan yang menyebabkan gangguan metabolisme lemak, seperti Bloker, diuretik, kontrasepsi oral (menggandung estrogen, gestagen).5 3.Lipidosis Lipidosis adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelainan pada enzim-enzim yang memecah lemak, yang mengakibatkan penimbunan bahan-bahan racun hasil metabolisme lemak yang dihasilkan di dalam jaringan tubuh. Yang termasuk ke dalam lipidosis adalah: 1. Penyakit Gaucher 2. Penyakit Niemann-Pick 3. Penyakit Fabry 4. Penyakit Wolman 5. Xantomatosis Serebrotendinosa 6. Sitosterolemi 7. Penyakit Refsum 8. Penyakit Tay-Sachs. 5 C. Penyakit Akibat Dislipidemia Gambar 6. Bagan patofisiologi penyakit akibat dislipidemia.

(*)

Aterosklerosis: radang pada pembuluh darah manusia yang disebabkan penumpukan plak ateromatus(lemak), mengakibatkan penebalan arteriol dan pengerasan pada pembuluh darah. Arteriosklerosis, menurunnya elastisitas pembuluh darah besar (arteri), akibat penebalan lapisan pada pembuluh10 darah dengan diameter antara 40150 m yang menyebabkan penyempitan pada dinding pembuluh.

Willia Gontina S, Sked (2012)

C.1 Arterosklerosis Adalah radang pada pembuluh darah manusia akibat akumulasi kolesterol di dalam dinding pembuluh darah arteri, mengakibatkan penebalan arteriol dan pengerasan pada pembuluh darah yang dapat menghambat aliran darah ke berbagai organ. Aterosklerosis adalah proses umum yang melibatkan banyak pembuluh darah di tubuh, termasuk di jantung, otak, dan ginjal. C.2 Hipertensi Adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik > 140mmHg dan tekanan darah diastolik > 90mmHg. Sebuah tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg adalah definisi yang diterima untuk hipertensi sistolik, sedangkan tekanan lebih dari 90 mm Hg sering didefinisikan sebagai hipertensi diastolik. Tingkat tekanan darah harus konsisten, bukan sekadar rekaman sporadis. Untuk menentukan apakah hipertensi hadir, yang terbaik adalah mengukur tekanan darah sendiri, yang diperoleh di luar pemeriksaan rutin ke dokter, yaitu dianjurkan 1 bulan sekali. Gejala : sakit kepala, migrain, rasa berat di tengkuk, mata berkunang-kunang, lemah, muka pucat, suhu tubuh sedikit rendah. C.3 Klaudikasio intermitten Adalah nyeri pada otot ekstremitas bawah yang timbul ketika berjalan disebabkan oleh penyumbatan kolestrol di pembuluh darah kaki. Penyakit ini menyebabkan penderita berhenti untuk berjalan. Mekanise penyakit klaudikasio intermiten : Plak aterom/lemak di pembuluh darah asupan darah (mengandung oksigen dan glukosa) ke jaringan otot di kaki berkurang otot kekurangan oksigen untuk metabolisme kompensasi otot melakukan metabolisme anaerob (metabolisme tanpa menggunakan oksigen) metabolisme anaerob di otot menghasilkan asam laktat timbunan asam laktat pada jaringan otot nyeri pada otot. Beratnya hambatan aliran darah di arteri ektrimitas bawah dibedakan dalam stadium menurut Fontaine (*) Stadium I: aliran darah ke jaringan masih cukup, walaupun terdapat penyempitan arteri. Stadium II: aliran darah ke otot tidak memadai pada aktivitas tertentu. Timbulnya klaudikasio intermiten. Gejala ini mengurangi penggunaan otot sehingga jarak tempuh dalam berjalan tidak dapat melebihi jarak tertentu.

11

Willia Gontina S, Sked (2012)

Stadium III: aliran darah ke jaringan sudah tidak memadai saat istirahat. Stadium IV: menurunnya aliran darah mengakibatkan nekrosis (kematian jaringan).
(*) dikutip dari Viles-Gonzales JF, Fuster V, Badimon JJ, Atherombosis. A widespread disease with unpredictable & life threatening consequence Europe heart journal 2004 25(14):1197-07.

C.4 Penyakit jantung koroner (PJK) Adalah kondisi yang dimulai ketika zat kolesterol keras (plak) terakumulasi di dalam arteri koroner. Plak dalam arteri koroner itu bisa pecah dan menyebabkan pembentukan gumpalan kecil, yang dapat menghambat aliran darah ke otot jantung, penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit arteri koroner (PAK). Gejala: rasa nyeri di dada (seperti tertekan, tertusuk), kelelahan, jantung berdebar-debar, sesak nafas, pusing dan pingsan.

C.5 Penyakit stroke Adalah penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah. Berdasarkan proses patologi/perjalanan penyakit dan gejala klinisnya, stroke dibagi menjadi stroke iskemik dan stroke hemorragik. Stroke Iskemik Adalah kerusakan jaringan otak yang disebabkan kurangnya aliran darah ke otak sehingga mengganggu kebutuhan darah dan oksigen di jaringan otak Stroke Hemoragik Adalah pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan otak sehingga menekan struktur otak kemudian menyebabkan gangguan persarafan di otak seperti nyeri kepala, hilang kesadaran dll. Tabel 3. Secara klinis perbedaan stroke iskemik dan hemoragik GEJALA HEMORAGIK Onset / lama waktu Berlangsung terjadi mendadak (menitjam) nyeri kepala Hebat Muntah pd awal Sering kaku kuduk Jarang/biasa ada ISKEMIK Berlangsung pelan (jam-hari) Ringan/tak ada Tak ada Tak ada

12

Willia Gontina S, Sked (2012)

Kejang Kesadaran Gangguan bicara Kelumpuhan Hipertensi

Bisa ada Biasa hilang Sering Sering Sering

Tak ada Dapat hilang Bisa ada/ tidak Bisa ada/tidak Bisa ada/tidak

D . Penatalaksanaan Dislipidemia D.1 Penatalaksanaan Farmokologi/Obat untuk Dislipidemia Pada saat ini dikenal sedikitnya 6 jenis obat yang dapat memperbaiki profil lipid serum yaitu bile acid sequestran, HMG-CoA reductase inhibitor (statin), derivat asam fibrat, asam nikotinik, ezetiibe dan asam lemak omega3. Selain obat tersebut, saat ini telah dipasarkan obat kombinasi dua jenis penurunan lipid dalam satu tablet seperti advicor (lofastatin dan niaspan), dan vytorin (simvastatin dan ezetimibe).

Bile Acid Sequesterants o Jenis : kolestiramin, kolestipol, dan kolesevelam. o Cara kerja : mengikat asam empedu di usus, sehingga kadar asam empedu yang kembali ke hati menurun, akibatnya pemecahan kolesterol lebih banyak untuk menghasilkan asam empedu baru, keadaan seperti ini mengakibatkan kadar kolesterol menurun. o Dosis : kolestiramin 8-12 gram, 2-3 kali sehari. Kolestipol 10-15 gram, 2-3 kali sehari. o Efek samping : susah buang air besar, mual, dan perut tidak enak. HMG-CoA Reductase Inhibitor o Jenis : lovastatin, simvastatin, atrovastatin, fluvastatin dan pravastatin. o Cara kerja : menurunkan sintesis kolestrerol di hati dan meningkatkan penyerapan kolesterol LDL di hati. o Dosis : lovastatin 10-80mg/dl, simvastatin 5-40 mg/dl dan atrovastatin 10-8 mg/dl. o Efek samping : gangguan fungsi hati, dan peradangan pada otot yang ditandai dengan meningkatnya kadar keratin fosfokinase (*) di dalam darah, dan rabdomiolisis (**).

13

Willia Gontina S, Sked (2012)


(*) keratin fosfokinase adalah enzim yang ditemukan dalam konsentrasi tinggi di sel otot jantung dan rangka, biasanya meningkat akibat penyakit rangka, MCI (mild cognitive impirement), penyakit pembuluh darah di otak, aktivitas berat dan hipokalemi). (**) adanya sejumlah besar protein otot, mioglobin, di urin.

o o

Derivat Asam Fibrat Derivat ini paling banyak dipasarkan jenis gemfibrozil dan fenofibrat. Jenis : gemfibrozil, bezafibrat, ciprofibrat dan fenofibrat. o Cara kerja : menurunkan trigliserida plasma dan hati, serta meningkatkan kadar kolestrol HDL. o Dosis : gemfibrozil 600-1200 mg per hari, fenofibrat 160 mg per hari. o Efek samping : mual, gangguan fungsi hati dan peradangan otot. Asam nikotinik o Jenis : niasin (sudah jarang digunakan karena efek samping yang cukup banyak), niaspan (efek sampingnya lebih kecil dari niasin). o Cara kerja : mengurangi sintesis VLDL dan LDL. o Dosis : niasin 50-100 mg sehari, dibagi 3 kali pemberian. o Efek samping : perasaan panas di muka,jantung berdebar cepat, gatal, mual, diare, luka pada lambung, gangguan penyerapan glukosa, dan gangguan fungsi hati.

Ezetimibe

o Cara kerja : penurunan absorbs kolesterol di usus halus. o Dosis : 10 mg/hari, 1 kali per hari. o Efek samping : sakit kepala, nyeri perut, dan diare.

Asam Lemak Omega-3 Minyak ikan, kaya akan asam lemak omega-3 yaitu asam eicosapentaenoic (EPA) dan asam docasahexaenoic (DHA). Minyak ini menurunkan sintesis VLDL. Dengan demikian dapat juga menurunkan kadar kolesterol. Obat ini dipasarkan dalam bentuk kapsul dengan dosis yang tergantung dari jenis asam lemak omega-3. Dosis obat tergantung dari jenis kombinasi asam lemak.3 Asupan normal omega-3 untuk orang dewasa adalah 3 gram/hari. Sebaiknya jangan lebih dari itu karena asam lemak dari kapsul tanpa pengawasan dari penyedia pelayanan kesehatan, meningkatkan risiko pendarahan. Menurut American Heart Association, asupan suplemen omega-3 adalah:

14

Willia Gontina S, Sked (2012)

Untuk orang dewasa dengan penyakit jantung koroner gram/hari. Untuk orang dewasa dengan kadar kolesterol tinggi gram/sehari.10

: :

1 4

Pengaruh konsumsi omega-3 dan 6 yang berlebih terhadap fungsi tubuh: Omega 3 dan 6 fungsinya mencegah terbentuknya senyawa Tromboxan A2 dan prekursor pembentukan prostaglandin tromboksan A2 berfungsi mengencerkan darah dan prostaglandin berfungsi mendilatasikan (membesarkan) pembuluh darah Jika dosis omega 3 dan 6 berlebihanmenyebabkan pembuluh darah akan lebar memudahkan terjadinya pendarahan jika dipicu trauma/benturan sedang sampai berat. D.2 Penatalaksanaan non-farmakologi a. Terapi nutrisi Merupakan terapi tahap awal pada pasien dengan dislipidemia, untuk itu disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi. Pada dasarnya adalah keterbatasan jumlah kalori dan lemak. Lebih lanjutnya akan dibahas di bab penatalaksanaan diet pada pasien dislipidemia. b. Aktivitas fisik Prinsipnya pasien dianjurkan untuk meningkatkan aktivitas fisik sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Semua jenis aktivitas fisik bermanfaat seperti jalan kaki, naik sepeda, berenang dll. Penting sekali agar jenis olahraga disesuaikan dengan kemampuan dan kesenangan pasien. Berolahraga secara teratur dengan memperhatikan: 1. Kontinuitas (menjadikan olahraga sebagai suatu gaya hidup dengan menjaga endurance). 2. Frekuensi (3-4 kali/minggu).
3. Durasi 30-45 menit/ kali olahraga. 4. Intensitas (intensitas harus minimal atau dengan kata lain,

olahraga harus menghasilkan keringat tanpa terengah-engah serta tidak menimbulkan perasaan lelah tetapi menimbulkan perasaan segar). 5. Gerakan yaitu kombinasi antara gerakan dinamis yang tidak terlampau cepat, renggangan/stretching, gerakan mengayun lengan serta menggentakan jari-jari tangan serta gerakan pernapasan. 6. Tipe olahraga seperti berenang atau bersepeda secara berlahanlahan, treadmill atau jogging.

15

Willia Gontina S, Sked (2012)

c. Hindari stress Apabila ditijau dari penyebab stress, dapat digolongkan sebagai berikut : a. Stres Fisik, disebabkan oleh suhu atau temperature yang terlalu tinggi atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik. b. Stres Kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormon, atau gas. c. Stres Mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang menimbulkan penyakit. d. Stres Fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ, atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal. e. Stres Proses Pertumbuhan dan Perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua. f. Stres Psikis/emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, sosial, budaya, atau gangguan keamanan. Tabel 4. Gejala stress
Stres Fisik . Sakit kepala Mengkereketkan gigi Tenggorokan kering, sesak nafas Rahang terkunci Dada sakit Nafas pendek Jantung berdebar Tekanan darah tinggi Otot pegal Gangguan pencernaan berupa sembelit atau diare Berkeringat hebat pada seluruh tubuh Tangan berkeringat ,dingin Kelelahan Insomnia (susah tidur) Sering sakit Stres Fisiologik Rasa cemas Mudah tersinggung Merasa terancam Depresi / rasa tertekan Pikiran menjadi lamban Pikiran berpacu/ berkejar-kejaran Merasa tidak berdaya Merasa putus asa Merasa tidak berharga Merasa kehilangan arah Merasa tidak aman Perasaan sedih Defensif Kemarahan Sangat sensitif Apatis Stres Kepribadian Makan berlebihan atau kehilangan selera makan Tidak sabar Suka berdebat Menunda-nunda Pemakaian alkohol dan obat-obatan terlarang meningkat Bertambah banyak merokok Menarik diri Menghindari tanggung jawab Prestasi kerja buruk Tenaga terkuras Memburuknya kebersihan diri Perubahan sikap dalam beribadah Perubahan dalam hubungan dengan sesame

Skema pengaruh stress terhadap tekanan darah Stress berlebihan memicu adrenalin meningkatkan tekanan darah asupan darah ke jantung meningkatkompensasi

16

Willia Gontina S, Sked (2012)

jantung memompa lebih kuat dan cepat frekuensi jantung meningkat meningkatkan tekanan darah. Skema pengaruh tekanan darah terhadap kadar kolestrol Tekanan darah yang tinggi memudahkan rusaknya pembuluh darah penumpukan plak aterom (lemak) di dalam lapisan endotel pembuluh darah keluar dan masuk ke sirkulasi darah kadar kolestrol darah meningkat. Penatalaksanan dislipidemia dapat dilihat dari banyaknya faktor risiko yang pasien miliki, kita dapat melihat melalui banyaknya jumlah faktor risiko yang dimiliki.

Tabel 3. Faktor risiko yang menentukan sasaran kolestrol LDL yang dicapai
1. Umur pria > 45 tahun dan wanita >55 tahun 2. Riwayat keluarga penyakit arteri koroner dini

(usia ayah <55, ibu <65) 3. Kebiasaan merokok 4. Hipertensi


5. Kolesterol HDL rendah (< 40mg/dl)
Dikutip dari : Executive summary of the third report of the national cholesterol Education Program (NCEP) Expert panel on detection, evaluation and treatment of high blood cholesterol in adults.JAMA 2001;285:2486-2497.

Berikut adalah skema penatalaksanaan pada pasien dislipidemia. a. Jika jumlah faktor risiko 0-1

17

Willia Gontina S, Sked (2012)

b. Jika jumlah faktor risiko > 2

18

Willia Gontina S, Sked (2012)

c. Jika jumlah faktor risiko tinggi

(*) Statin adalah salah satu jenis obat antihiperlipidemia jenis HMG-CoA Reductase Inhibitor, dan mempunyai efek anti koagulan/ pengencer darah.

19

Willia Gontina S, Sked (2012)

E. Penatalaksanaan diet pada pasien dislipidemia Prinsip dari penatalaksanaan diet pada pasien dislipidemia adalah rendah kolestrol lemak terbatas dan diet tinggi serat. 1. Mengkonsumsi makanan seimbang sesuai komposisinya Tabel 4. Komposisi Makanan untuk hiperkolestrolemia
Makanan Total lemak - Lemak jenuh - Lemak PUFA - Lemak MUFA Karbohidrat Serat Protein Kolestrol Asupan yang dianjurkan 20-25 % dari kalori total < 7% dari kalori total Sampai 10% dari kalori total Sampai 10% dari kalori total 60% dari kalori total karbohidrat kompleks) 30 gr per hari Sekitar 15 % dari kalori total < 200 mg/ hari
3

(terutama

Dikutip dari : Penatalaksanaan dislipidemia. Buku petunjuk praktis penatalaksanaan dislipidemia. Perkumpulan endokrinologi Indonesia. 2005;5-14

2. Mengubah cara memasak Mengganti cara masak dengan direbus, dikukus atau dibakar tanpa minyak atau mentega. Minyak dengan kandungan lemak tidak jenuh dapat meningkatkan HDL dan mencegah terjadinya endapan pada pembuluh darah, contohnya minyak zaitun, minyak ini dapat digunakan untuk minyak salad, minyak jenis ini tidak boleh digoreng, karena akan berubah strukturnya menjadi minyak jenuh. Minyak dengan kandungan lemak jenuh sebaiknya dihindari, contoh bahan makanan dengan kandungan lemak jenuh : minyak kelapa, santan, coklat, daging unggas,ikan , produk susu dan telur. 3. Mempertahankan berat badan ideal Orang yang gemuk disekitar perut lebih berisiko terkena serangan jantung dibandingkan orang yang gemuk pada pinggang dan bokong. Gambar 7. Mekanisme terjadinya penyakit jantung koroner akibat visceral fat.16,17

20

Willia Gontina S, Sked (2012)

Gambar 8. Pembuluh darah vena porta hepatis.

4. Batasi penggunaan pemanis yang mengandung fruktosa dan pemanis buatan Orang yang meminum minuman ringan dengan pemanis yang menggandung fruktosa menunjukan rata-rata peningkatan risiko penyakit jantung, hal ini diakibatkan metabolisme fruktosa menjadi gliserol-3-fosfat lebih cepat dibandingkan glukosa. Gliserol-3-fosfat akan diubah dalam bentuk trigliserida, trigliserida bersama dengan kolestrol akan membentuk kolesterol LDL, sehingga kadar kolesterol darah akan meningkat. Menurut American Heart Association tahun 2009 batas penggunaan pemanis (baik pemanis buatan dan alami) yang aman adalah tidak melebihi 140 kalori untuk pria dan 100 kalori untuk wanita. Penggunaan pemanis buatan masih aman untuk pasien dislipidemia karena mengandung jumlah kalori yang lebih kecil dibandingkan pemanis jenis fruktosa dan glukosa, asalkan tidak melebihi dosis asupan yang distandarisasikan FDA (Food and drug Administration) dalam bentuk ADI ( Acceptable Daily Intake).

21

Willia Gontina S, Sked (2012)

Macam-macam pemanis buatan: Alitam Merupakan senyawa yang dapat dicerna oleh enzim dalam saluran pencernaan dan diserap oleh usus berkisar antara 78-93 % dan dihidrolisis menjadi asam aspartat dan alanin amida. Sedangkan sisa alitam yang dikonsumsi yaitu sebanyak 7-22% dikeluarkan melalui feses. Acesulfame-K Merupakan senyawa yang tidak berbau,berbentuk tepung kristal berwarna putih,mudah larut dalam air dan berasa manis dengan tingkat kemanisan relatif sebesar200 kali tingkat kemanisan sukrosa tetapi tidak berkalori. Aspartam : merupakan senyawa yang tidak berbau, berbentuk tepung kristal berwarna putih, sedikit larut dalam air, dan berasa manis. Kombinasi penggunaan aspartam dengan pemanis buatan lain dianjurkan terutama untuk produk-produk panggang dalam mempertegas cita rasa buah. Aspartam dapat menimbulkan gangguan tidur dan migrain bagi yang sensitif. Sakarin : Merupakan senyawa berbentuk garam, sakarin berbentuk kristal putih, tidak berbau atau berbau aromatik lemah, dan mudah larut dalam air, serta berasa manis. Kombinasi penggunaannya dengan pemanis buatan rendah kalori lainnya bersifat sinergis. Sakarin tidak dimetabolisme oleh tubuh, lambat diserap oleh usus, dan cepat dikeluarkan melalui urin tanpa perubahan. Sukralosa : Merupakan senyawa berbentuk kristal putih, sukralosa tidak dicerna dan langsung dikeluarkan oleh tubuh. Siklamat : Merupakan senyawa dalam bentuk garam kalsium, kalium, dan natrium siklamat. Secara umum, garam siklamat berbentuk kristal putih, tidak berbau, tidak berwarna, dan mudah larut dalam air dan etanol, serta berasa manis. Kombinasi penggunaan siklamat dengan sakarin dan atau acesulfame-K bersifat sinergis, dan kompatibel dengan pencita rasa dan bahan pengawet.12 Penggunaan pemanis buatan berdasarkan SNI (Standar Nasional Indonesia) dengan satuan mg/kg berat badan adalah: - Acesulfame-K : 15 - Sukralosa : 0-15 - Aspartam : 50 - Sakarin : 5 - Siklamat : 0-11 12 5. Konsumsi bahan makanan yang menurunkan kolestrol, seperti: a. Antioksidan Antioksidan adalah elemen gizi yang mampu melawan radikal bebas atau racun yang masuk ke dalam tubuh. Ada 3 jenis zat antioksidan :

22

Willia Gontina S, Sked (2012) Antioksidan primer berfungsi mencegah pembentukan senyawa radikal

baru seperti selenium (Se) dan enzim SOD yang bekerjanya membutuhkan zat lain seperti mangan, seng, dan tembaga. Antioksidan sekunder yang berfungsi menangkap senyawa radikal bebas dan mencegah reaksi berantai seperti vitamin E, vitamin C, beta karoten, asam urat, bilirubin dan albumin. Antioksidan tersier yang berperan memperbaiki kerusakan sel-sel dan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas contoh enzim metionin sulfoksidan. b. Zat makanan penurun kolesterol Vitamin A, vitamin C, vitamin E. Makanan berkalsium tinggi seperti yoghurt, susu, dan keju (untuk susu disarankan meminum susu skim yang low-fat). Selenium, beras dan gandum adalah sumber utama selenium. Betakaroten, banyak pada makanan warna orange seperti ubi merah, wotel, labu, apricot, mangga dan sayuran hijau. Lutein terdapat pada bayam, kangkung, dan sawi. Likopen adalah zat antioksidan yang dapat ditemukan pada tomat, semangka, jambu biji, pepaya, jeruk, dan teh. Pektin berguna untuk penyerapan lemak oleh sel-sel tubuh dan membantu tubuh membuang cadangan lemak. Sumber pektin adalah buah-buahan, terutama apel dan buah albedo. CLA (Conjugated Linoleic acid), CLA terkonjugasi dapat membakar lemak dan meningkatkan formasi massa otot dalam tubuh sehingga sangat baik untuk orang yang menjalankan program diet. CLA banyak pada ikan laut. Cabai dan paprika, kiwi dan jeruk yang berfungsi sebagai antioksidan dan vitamin C tinggi. kacang kedelai mengandung isoflavon yang dapat menekan kolesterol LDL. Ikan salmon, menggandung EPA dan DHA yang dapat menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida, ikan salmon baik untuk kesehatan jantung.

23

Willia Gontina S, Sked (2012)

Mekanisme : Pasien dislipidemia Jumlah konsentrasi kolestrol LDL,VLDL dan HDL meningkat di darah lemak disimpan di dalam jaringan tubuh hasil fat mass dan % body fat jika jumlahnya lemak masih tinggi di jaringan tubuh lemak disalurkan dan simpan di hati lemak dimetabolisme di hati dan di salurkan ke darah dalam bentuk LDL,VLDL dan HDL

Jika mekanisme penyakit terus-menerus, dapat menyebabkan fatty liver. Pada pasien dislipidemia akan lebih sulit untuk menurunkan nilai fat mass dan % body fat karena pada pasien dislipidemia produksi lemak banyak disimpan di jaringan dan hati. Dengan pola diet yang baik disertai penurunan berat badan dapat menurunkan fat mass dan body fat tetapi akan lebih lambat dibandingkan orang normal.

24

Willia Gontina S, Sked (2012)

REFERENSI : 1. Dyslipidemia.

Essence series a cipla initiative. From : http://www.cipladoc.com/publications/essence_ser/dyslipidemia.pdf. 2. Darmojo RB et al. Monica I, 1988. Seminar sehari penyajian hasil dan tindakan lanjut Monica I. 22 Juli 1989.Jakarta. 3. Perhimpunan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Indonesia. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III hal 1948. Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 4. Pantjita Hardjasasmita. 2002. Intisari Biokimia Dasar. Balai pnerbit FKUI.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 5. Silbernagl,S, lang,Florian.2007. Teks dan atlas bewarna patofisiologi.EGC . 6. Sutanto. Cekal penyakit modern hipertensi, stroke, jantung, kolestrol dan diabetes. 2010. C.V andi offset. 7. http://www.medscape.com/viewarticle/542774_6. 8. Erik Hemmingsson, Joanna Uddn and Martin, Neovius.No Apparent Progress in Bioelectrical Impedance Accuracy: Validation Against Metabolic Risk and DXA. http://www.nature.com/oby/journal/v17/n1/full/oby2008474a.html 9. J, Korean Pediatr Soc. 1998 Nov;41(11):1583-1589. Korean. Diagnostic Sensitivity in Predicting Hyperlipidemia by Bioelectrical Impedance Analysis in Obese Children. From http://www.koreamed.org/SearchBasic.php? RID=1052KJP/1998.41.11.1583&DT=1. 10. University of Maryland Medical center. Omega-3 fatty acids. 2009. From: http://www.umm.edu/altmed/articles/omega-3-000316.htm. 11. http://pharos.co.id/our-product/food-supplemen/67-omepros.html.

25

Willia Gontina S, Sked (2012) 12. Indrie Ambarsari, Qanytah & Sarjana. Penerapan Standar Penggunaan

Pemanis Buatan Pada Produk Pangan. From: http://www.bsn.go.id/files/348256349/Litbang%202009/ Bab%206.pdf. 13. http://diabetes.webmd.com/artificial-sweeteners-diabetes-patients? page=2. 14. http://www.massagetherapy.com/articles/index.php/article_id/207/Lymp h-Drainage-Therapy. 15. Steward truswell. Recent advance in clinical nutrition. 1986. Jhon libbey nutrition. 16. www.medicalmyths.wordpress.com/obesity/viseral-fat 17. FidiNINGAIH,i. Sel Lemak dan Peranannya Dalam Penyakit. From: http://journal.uii.ac.id/index.php/JIF/article/viewFile/475/386.

26