Anda di halaman 1dari 131

DIKTAT CPE UNTUK JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA

Disusun Oleh Heri Susanto

SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

DAFTAR ISI . BAB I PENDAHULUAN STUDI EKONOMI PERENCANAAN . RAMALAN KEBUTUHAN TELEPON RAMALAN KEBUTUHAN TELEPON SECARA MAKRO. RAMALAN KEBUTUHAN TELEPON SECARA MIKRO - RAMALAN KEBUTUHAN TELEPON UNTUK LAYANAN BARU . BAB II PENENTUAN LETAK SENTRAL SECARA TEORITIS. BAB III JARINGAN LOKAL AKSES TEMBAGA (JARLOKAT) BAB IV STRUKTUR JARLOKAT . PENENTUAN BATAS DAERAH PELAYANAN DISAIN JARLOKAT RANCANGAN DASAR. RANCANGAN RINCI.

JARINGAN LOKAL AKSES FIBER (JARLOKAF) TEKNOLOGI SISTEM JARLOKAF. PENENTUAN BATAS DAERAH PELAYANAN DISAIN JARLOKAF RANCANGAN DASAR. RANCANGAN RINCI. JARINGAN LOKAL AKSES RADIO (JARLOKAR)

BAB V -

ARSITEKTUR DAN KONFIGURASI JARLOKAR TEKNOLOGI UNTUK PENERAPAN JARLOKAR.. PENENTUAN JUMLAH & LOKASI RBS.. PENENTUAN DAERAH CAKUPAN.

LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM 1. Mampu memahami metode-metode ramalan kebutuhan telepon 2. Memahami teknik jaringan akses (Jarlokat, Jarlokaf dan Jarlokar) 3. Mampu memahami metoda perencanaan jaringan akses

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS Dapat membuat perencanaan jaringan akses

SILABUS 1. 2. 3. 4. Ramalan kebutuhan telepon secara makro dan mikro Ramalan kebutuhan untuk pelayanan baru Penentuan letak sentral secara teoritis Jaringan Lokal Akses Tembaga (JARLOKAT) - Struktur jarlokat (RPU, Kabel Primer, RK, Sekunder, KP dan Roset) - Penentuan batas daerah pelayanan (Sentral, RK dan DP) - Disain Jarlokaf (peta dasar, peta lokasi, skema kabel dan lain-lain)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 5. CCITT,CCITT,

DAFTAR PUSTAKA 1. CCITT, Outside Plant Technology for Public Network, ITU, Geneva, 1991 2. Peramalan Demand, PT. Telkom, 1990 3. Hideo Fukutoni, Telecomunication Outside Plant Engineering, The Telecom Assosiation, 1st.ed,1980 4. Perumtel, Petunjuk Pedoman Perencanaan Jaringan Kabel Telepon Lokal, 1984 5. Donald, Hamsher, Communication System Engineering Handbook, MGH, New York, 1967 6. CCITT, Local Network Planning

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

PENDAHULUAN Latar Belakang Istilah jaringan lokal sudah lama dikenal yaitu saluran yang

menghubungkan antara sentral lokal dengan perangkat terminal disisi pelanggan dalam suatu wilayah pelayanan tertentu. Pada mulanya istilah jaringan lokal identik dengan jaringan kabel lokal, yaitu jaringan lokal yang menggunakan kabel tembaga untuk menghubungkan antara sentral lokal

dengan terminal pelanggan. Namun setelah pemakaian saluran non fisik dan non kabel tembaga banyak digunakan untuk menggantikan peranan kabel tembaga, istilah jaringan lokal itu menjadi tidak identik lagi dengan jaringan tembaga, istilah jaringan lokal tersebut disebut dengan jaringan lokal akses atau Local Loop Access (LLA). Akses di sini dapat diartikan sebagai suatu cara atau metoda untuk menghubungkan peralatan induk dengan peralatan di sisi pelanggan atau pengguna jasa. Jaringan akses dan metoda akses ini membentuk sistem dan sistem akses merupakan hubungan fisik fungsional ataupun interface. Dengan adanya kecenderungan beralihnya pelayanan dari nerrow band menuju broadband, dari POTS menuju multimedia dan serta dari infrastruktur informasi lokal menuju infrastruktur nasional regional dan internsional yang

menghendaki service yang konfergen serta full service maka pada accsess network harus : Compatible with current and future service Single infrasture multi service
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Based on copper, optical fiber, radio and hybrid

Dengan demikian istilah jaringan lokal akses sesuai dengan media transmisi yang digunakannya, maka untuk jaringan lokal dengan tembaga disebut jaringan lokal akses tembaga (JARLOKAT). Demikian pula untuk jaringan lokal dengan kabel serat optik disebut dengan istilah jaringan lokal akses fiber (JARLOKAF). Selain jaringan yang berbentuk kabel, juga ada yang

menggunakan frekuensi radio yang disebut dengan jaringan lokal akses radio (JARLOKAR). Jaringan akses merupakan bagian dari jaringan telekomunikasi yang

menyerap porsi terbesar dari total investasi. Oleh karena itu pemilihan sistem dan metoda akses ini harus dilakukan berdasarkan perencanaan yang matang agar diperoleh biaya yang efektif tetapi tetap memenuhi kualitas yang ditetapkan, sebab tidak semua peralatan pelanggan dapat dihubungkan dengan mudah dengan peralatan induk. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh ketiga konndisi dibawah ini; kondisi geografis kondisi demografis dan kondisi sosiografis. Ketiga kondisi tersebut diatas akan sangat mempengaruhi dalam hal penerapan, pemilihan dan penentuan arsitektur JARLOKAT ( Teknologi Jaringan, Mekanisme Akses, Mode Aplikasi, Inteface, Aspek Keamanan dan Persyaratan Unjuk Kerja)

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Pemodelan Jaringan Akses Secara Umum Pemodelan jaringan akses secara umum terdiri dari tiga macam elemen yaitu ANT (Access Node Terminal), NU(Network Unit) dan NT(Network Terminal). Elemen-elemen ini dihubungkan melalui jaringan distribusi

(Distribution Network) dan jaringan drop (Drop Network) sebagaimana yang ditunjukkan gambar dibawah ini.

TMN Q3 NMI
Perangkat Induk (ANT) Terminal Pelanggan (NT/CPE)

Jaringan Lokal Akses (NU)

NNI

UNI

Gambar 1.1 Model referensi suatu jaringan akses ANT merupakan interface standar yang menghubungkan service node, berfungsi mengendalikan service dasar yang ada dalam jaringan akses. Service node dapat menjalankan fungsi call handling, pentarifan, dan routing. Selain itu service node juga mempunyai fungsi tambahan seperti call forwarding dan conference call.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Hubungan antara jaringan distribusi dengan service network dibangun melalui switch atau cross-connect. Jadi bagian dari ANT. ANT terhubung langsung dengan jaringan distribusi. Bila dibutuhkan, jaringan distribusi dapat membawa informasi ke jarak yang jauh menuju jaringan drop yang bersifat lokal. Jaringan drop adalah jaringan lokal yang mencapai terminal pelanggan. Jumlah NT yang terhubung dengan suatu jaringan drop dapat berjumlah lebih dari satu. sistem penyambungan merupakan

JARINGAN AKSES ANT CPE NT Drop Network NU Distribution Network Interface Standar
Gambar 1.2 Bentuk hubungan antara elemen dalam sistem akses

NU yang terhubung dengan suatu jaringan distribusi dapat berjumlah lebih dari satu. Fungsi NU adalah melakukan adaptasi yang diperlukan antara jaringan distribusi dengan jaringan drop, seperti konversi dari sinyal optik menjadi sinyal elektrik atau sebaliknya. Para pelanggan dari macam-macam service harus mempunyai perangkat untuk tiap service tersebut. Perangkat yang diperlukan berbeda untuk service yang berbeda. Untuk POTS perangkat tersebut berupa pesawat telepon, untuk layanan informasi bisa berupa PC, untuk VoD berupa set top box. Perangkatperangkat Equipment). Melalui NT yang sama (biasanya dipasang di rumah atau kantor) biasanya terhubung dengan bermacam-macam CPE (Custummer Premises Equipment) yang berbeda, oleh karena itu NT tidak bergantung dengan jenis
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

tersebut

secara

umum

disebut

CPE

(Custummer

Premises

service yang harus dilewatinya sehingga tiap terminal yang menangani service yang berbeda mempunyai interface lain yang disebut UNI (Network

Interface Unit).

TERMINAL PELANGGAN

JARINGAN AKSES

SERVICE NETWORK
Digital Video

CPE

CPE

Bandwidth Dowdstream? Bandwith Upstream? Bit Rate Konstan/variable? Multicasting?

POTS

Broadcast
VoD

Internet

CPE

Video Conferencing

Layanan Informas i

UNI

NNI

Gambar 1.3 Karakteristik kebutuhan bandwith tiap serivice Melalui NT yang sama (biasanya dipasang di rumah atau kantor) biasanya terhubung dengan bermacam-macam CPE (Custummer Premises Equipment) yang berbeda, oleh karena itu NT tidak bergantung dengan jenis service yang harus dilewatinya sehingga tiap terminal yang menangani service yang berbeda mempunyai interface lain yang disebut UNI (Network

Interface Unit).
Interface standar (NNI) digunakan antara jaringan akses dengan service network. Keuntungan utama pemisahan antara jaringan akses dengan service network adalah masing-masing lebih independen. Satu jaringan akses dapat digunakan untuk beberapa service. Bila ada service baru pada service network tetap dapat diakses tanpa membangun jaringan akses baru.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Service (VoD, Video Conferecing, POTS, Data/Informasi dan Digital Video Broadcast) yang memiliki kebutuhan karakteristik tertentu pada jaringan akses. VoD memerlukan akses dengan bandwith yang sangat lebar, sebagaian besar badwith diperlukan untuk arah downstream (data yang dikirim ke arah pelanggan). Video Conferencing bahkan memerlukan bandwith lebar untuk dua arah (downstream dan upstream). POTS memelukan hubungan service dasar dengan lebar bandwith 64 Kbps. Bit rate tersebut harus terjamin mempunyai kecepatan tetap (bit rate constan) kecuali untuk layanan data atau informasi dapat diatur untuk bit rate tidak tetap, sedangkan service seperti digital video broadcast memerlukan multi casting yang berarti bahwa informasi yang sama harus didistribusikann untuk beberapa pelanggan.

Arsitektur Dasar Elemen Jaringan


Fungsi umum dari elemen jaringan adalah interfacing, kontrol dan switching. Terminasi interface terdiri dari switch baik untuk sinyal analog maupun sinyal dijital. Sinyal informasi analog masuk melalui inteface analog pada port A, dikonversikan menjadi sinyal dijital, lalu beberapa port yang identik di-multiplex menjadi satu bus yang menghubungkan port-port tersebut ke switching centre network. Multiplexer tersebut dapat menggunakan teknik multiplexing sinkron maupun asinkron, bekerja pada data field tetap maupun variabel dengan atau tanpa pengidentifikasi paket. Sinyal informasi di switch centre network kemudian di-demultiplex dan dikonversikan dari dijital ke analog untuk aplikasi balik ke port A. Interface dijital terdapat pada port B. Jika teknik multiplexing yang diterapkan pada jaringan akses mempunyai format yang berbeda dari yang diterapkan pada switching centre network maka diperlukan translasi untuk mencapai bentuk yang sesuai. Switching centre network terdiri dari time-multiplexed switching yang memungkinkan informasi dari multiplex input di transfer ke multiplex output

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

dengan menggunakan teknik sinkron maupun asinkron dengan circuit atau packet switch. Resource yang bervariasi dihubungkan dengan switching centre(termasuk digitally synthesized, conference circuit, tone receivers dan device signal processing). Pengontrolan untuk keseluruhan sistem dilakukan oleh prosesor Stored Program Control (SPC) yang mempunyai akses ke semua elemen sistem. Device I/O menyediakan fungsi sistem yang bervariasi, termasuk administrasi dial, pelaporan alarm, pemeliharaan akses, pelaporan trafik, penghitungan message otomatis dan common channel signalling.

SYNCHRONIZ ATION

B PORTS

DIGITAL TERMINATION

MULTIPLEX TRANSLATION

A PORTS

ANALOG TERMINATION

A/D D/A

SWITCHING CENTER NETWORK

RESOURCES

MULTIPLEXER

CONTROL

I/O

ADMINISTRATION AND MAINTENANCE

SIGNALING

Gambar 1.4 Arsitektur dasar elemen jaringan akses

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

10

Bab I Konsep Perencanaan I.1 Latar Belakang Meningkatnya sosial ekonomi dan pembangunan suatu daerah Upaya untuk menghasilkan peningkatan pendapatan dan pelayanan Mengantisipasi perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna jasa Upaya mengoptimalkan investasi dan menghitung dimensi perangkat dengan tepat

I.2

Definisi Perencanaan Perencanaan dalam arti seluas-luasnya tidak lain adalah proses

mempersiapkan secara sistimatis kegiatankegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya dengan sumber yang ada supaya lebih effisien dan efektif. Perencanaan adalah penentuan tujuan yang akan dicapai atau yang akan dilakukan, bagaimana, bilamana dan oleh siapa.

I.3

Ciri Perencanaan yang Baik (by. DR. SD. Siagian, MPA) Rencana harus mempermudah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya Rencana hanya merupakan alat untuk mencapai tujuan bukan merupakan tujuan Rencana harus luwes, agar dapat diadakan perubahan yang diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi tanpa merubah pola dasar rencana secara keseluruhan. Rencana harus bersifat sederhana, sistimatis, ada prioritas, mudah dipahami dan kegiatan pokok tercakup didalamnya. Rencana harus disertai oleh suatu perincian yang teliti dan mendetail
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

11

Didalam recana terdapat tempat pengambilan resiko Rencana harus bersifat praktis Rencana harus merupakan forcasting, harus merupakan peramalan atas keadaan yang mungkin dihadapi (Peramalan adalah perkiraan tentang sesuatu yang akan datang, yang didasarkan pada data yang ada pada waktu sekarang dan waktu lampau) Rencana tidak boleh terlepas sama sekali dari pemikiran pelaksana. Rencana harus dibuat oleh tenaga-tenaga yang ahli Pembuat rencana hendaknya orangorang yang dedikasinya tidak diragukan terhadap organisasi

Dari ciri-ciri tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan, Perencanaan adalah tindakan pemilihan fakta dan usaha menghubungkannya serta pembuatan dan penggunaan asumsi-asumsi mengenai waktu yang akan datang, dalam hal menggambarkan aktivitas-aktivitas yang akan disulkan yang dianggap perlu untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan

Dari kesimpulan diatas didapat 3(tiga) pengertian atau persepsi : Peramalan Perkiraan masa yang akan datang Perencanaan Proposal atau pengajuan kegiatan untuk masa yang akan datang Program Program adalah pelaksanaan atau implementasi dari perencanaan yang telah disetujui.

I.4

Tujuan Perencanaan Tercapai kesesuaian antara kebutuhan dengan penyediaan sarana Mendukung kepentingan operasional

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

12

I.5

Hal-hal yang penting dalam Perencanaan Adanya peluang untuk dilakukan pengembangan Mempertimbangkan faktor ekonomis dan efisiensi

I.6 Langkah-langkah sebelum Perencanaan Analisa network yang ada Memperhatikan masalah yang ada

Adapun yang dimaksud dengan analisa network yang ada misalnya, Analisa Jasa Telekomunikasi, Kondisi deman yang melebihi kapasitas yang ada Kekurangandalan daftar tunggu Kepadatan telepon yang rendah karena ketidaktepatan faktor penetrasi Tingkat kepuasan pelanggan yang rendah ASR atau SCR rendah

Analisa Switching Network, Kondisi junction dan sirkit trunk yang tidak sama dengan dimensi load trafik Dimensi perangkat sentral tidak sama dengan jumlah register Kesalahan perangkat

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

13

BAB II TEKNIK JARINGAN KABEL LOKAL TEMBAGA

JARLOKAT adalah suatu bentuk jaringan akses yang konfigurasinya dimulai dari Terminal Blok Vertikal pada Rangka Pembagi Utama sampai Kotak Terminal Batas, baik yang hanya menggunakan tembaga sebagai media akses maupun adanya tambahan perangkat lain yang bertujuan untuk meningkatkan unjuk kerjanya.

II.1`Konfigurasi Umum JARLOKAT

Jaringan Catu Langsung : Jaringan catu langsung yaitu jaringan dimana pelanggan mendapat pencatuan saluran dari KP ( Kotak Pembagi = DP = Distribution Point) terdekat dan langsung dihubungkan dengan RPU ( Rangka Pembagi Utama = Main Distribution Frame/MDF) tanpa melalui Rumah Kabel (RK). Semua urat pasangan kabel dari KP tersambung langsung ke RPU pada Sentral.

DP

SENTRAL

DP MDF

Gbr. Jaringan Catuan Langsung

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

14

Pemakaian Jaringan Catu Langsung : Di kota kota besar yang khusus untuk daerah dekat sentral Kota-kota kecil yang pelanggannya masih sedikit (jumlah KP juga sedikit) Daerah dengan Demand terpusat Daerah dengan pelanggan VIP

Keuntungan pemakaian Jaringan Catu Langsung : Dari segi ekonomi menguntungkan (biaya rendah) karena pada jaringan ini tidak digunakan RK Administrasi kabel menjadi lebih sederhana Titik rawan gangguan kecil Kerugian Pemakaian Jaringan Catu Langsung Tidak fleksibel Sulit melokalisir gangguan karena kabel primer yang digunakan terlalu panjang sehingga kesulitan untuk menentukan letak kerusakan dengan tepat Perhitungan demand harus tepat

2. Jaringan Catu Tidak Langsung : Jaringan Catu Tidak Langsung yaitu jaringan dimana saluran para pelanggan dicatu dari KP terdekat, yang dihubungkan terlebih dahulu dengan Rumah Kabel (RK), yang akan diteruskan ke RPU(MDF). Penyambungan saluran dari KP ke RK sama dengan jaringan catu langsung (tetap), tetapi penyambungan seterusnya ke RPU di RK dilakukan tidak tetap (melalui jumper wire).

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

15

RK

DP

RK MDF

DP

DP

Gbr. Jaringan catu tidak langsung

Pemakaian Jaringan Catu Tidak Langsung : Saluran di kota-kota yang jumlah pelanggannya besar Daerah yang lokasinya jauh dari sentral Daerah yang pelanggannya menyebar

Keuntungan Jaringan Catu Langsung : Lebih Fleksibel Mudah dalam melokalisir gangguan karena dapat diurut dari RK ke RK

Kerugian Jaringan Catu Langsung : Dari segi ekonomi tidak menguntungkan (karena membutuhkan RK yang banyak sehingga biayanya menjadi lebih mahal) Sumber gangguan lebih banyak Kadangkala kesulitan dalam mencari lokasi RK

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

16

3. Jaringan Catu Kombinasi : Jaringan ini merupakan kombinasi dari kedua jenis jaringan diatas, yaitu : a. Apabila daerahnya dekat sentral, demandnya terpusat, banyak pelanggan VIP, b. Apabila daerahnya jauh dari sentral, pelanggannya menyebar, demand tinggi, maka digunakan jaringan catu tidak langsung. Berikut merupakan gambar jaringan catu kombinasi :

DP

RK MDF

DP

Dengan jaringan kombinasi ini maka pemakaian jaringan dapat dioptimalkan Bagian bagian dari jaringan lokal akses tembaga : 1. RPU (Rangka Pembagi Utama = Main Distribution Frame/MDF) : RPU merupakan perangkat yang ada di sentral yang berfungsi sebagai tempat penyambungan kabel primer dengan kabel yang keluar dari sentral. Selain itu RPU juga berfungsi sebagai tempat pengetesan dalam melokalisir gangguan. Penempatan RPU harus diperhitungkan karena RPU merupakan titik awal penyambungan kabel. Bentuk dari RPU tergantung pada jenis sentral telekomunikasi yang digunakan. Pada sentral yang masih manual hanya berbentuk papan atau lemari perkawatan, sedangkan pada sentral otomat RPU berbentuk kerangka besi. Peralatan yang ada di RPU : a. Pothead (Terminasi sambung)
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

17

Merupakan terminasi sambung antar kabel dari luar (kabel primer) yang keluar dari bawah tanah dengan beberapa kabel berkapasitas lebih kecil (entry cable). Dengan dipakainya kabel PE (polithelyne ethane), maka terminal sambung Pothead jarang digunakan. Kabel PE tidak lagi melewati pothead tetapi langsung tersambung secara langsung ke terminal blok vertikal. b. Terminal Blok Vertikal Merupakan tempat diterminasikannya kabel primer, yang dipasang pada RPU ke arah luar. sambungannya. Kapasitas terminal blok vertikal dibedakan atas kapasitas Dengan menggunakan kawat penyambung (jumper wire) ,

terminal blok ini dihubungkan dengan terminal blok horisontal. Pada sentral SPC analog maupun digital, biasanya digunakan terminal blok berkapasitas 100 pasang. c. Terminal Blok Horisontal Merupakan terminal tempat terminasi kabel yang datang dari sentral. Terminal ini dipasang pada RPU ke arah sentral dengan kapasitas biasanya 100 pasang urat kabel.

2. Rumah Kabel (RK) : Rumah Kabel merupakan Perangkat yang menjembatani antara sentral dengan pelanggan. Fungsi RK dapat dibedakan : Tempat penyambungan kabel primer dengan kabel sekunder. Tempat peralihan kabel besar menjadi beberapa bagian kabel kecil. Tempat dilaksanakannya pengetesan guna melokalisasi gangguan. Tempat pelaksanaan penjaumperan antara terminal blok di sisi primer dengan terminal blok di sisi sekunder Mempermudah fleksibilitas rentangan kabel yang ada di lapangan.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

18

Kapasitas suatu RK bergantung dari kemungkinan calon pelanggan yang akan dicatunya. Pada umumnya kapasitas RK yang paling kecil adalah 800 pasang dan yang paling besar adalah 2400 pasang. Bahan pembuatan RK antara lain dari beton, sekarang jarang digunakan, besi, dan fiber glass. Jenis RK yang sekarang banyak digunakan adalah RK yang tebuat dari fiber glass. Pemasangan RK biasanya di pinggir-pinggir jalan atau dekat trotoar sehingga tidak mengganggu lalu lintas dan aman dari fandalisme.

3. Distibution Point (DP) : DP berfungsi sebagai : Tempat penyambungan kabel sekunder dan kabel penanggal. Tempat pengetesan guna melokalisasi gangguan jaringan. Berdasarkan cara penempatannya, DP dibagi menjadi dua macam yaitu : a. Kotak Pembagi Atas Tanah : Disebut juga Titik Pembagi Atas Tanah (TPAT), DP ini dipasang pada tiang telepon. Pada umumnya mempunyai kapasitas 10 pasang untuk yang kecil dan 20 pasang kabel untuk yang besar. Ada juga DP yang dipasang pada

dinding, yang digunakan untuk mencatu suatu kompleks perumahan atau pertokoan yang letaknya berdampingan. Atau juga dipasang pada dinding

sebelah dalam untuk mencatu gedung bertingkat, kompleks perindustrian, kampus perguruan tinggi dan sebagainya. DP untuk jenis ini mempunyai

kapasitas yang lebih besar, yaitu antara 60 sampai dengan 400 pasang kabel. Pemasangan DP ini diusahakan serasi dengan keadaan lingkungan sekitarnya dan memudahkan petugas untuk melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan serta harus mempertimbangkan keseimbangan rute

b. Kotak Pembagi Bawah Tanah :

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

19

Disebut juga Titik Pembagi Bawah Tanah (TPBT). dipasang pada lubang kecil di dinding yang sering disebut

Pada umumnya pit hand hole.

Walaupun penempatan DP ini dapat menunjang keindahan kota, akan tetapi dari segi teknis, penempatan ini sangat tidak menguntungkan karena mudah dimasuki air yang bisa membahayakan sambungan dan urat-urat kabel. Oleh karena itu TPBT ini digunakan untuk daerah-daerah yang sudah teratur dan aman dari gangguan lalu lintas.

4.

Kabel Primer : Kabel primer berfungsi untuk menghubungkan MDF (Main Distribution Frame) suatu sentral telekomunikasi dengan RK pada sistem catuan tidak langsung dan dengan DP pada sistem catuan langsung. Pada umumnya kabel primer

mempunyai kapasitas maksimum 2400 pasang, dengan diameter urat kabel 0,4 mm. Namun, pada sentral telekomunikasi yang berkapasitas besar, jaringa kabel primer biasanya ditanam langsung atau dipasang dengan pola pipa duct. Dalam prakteknya, kapasitas jaringan primer ini berkisar antara 1,1 sampai dengan 1,5 kali kapasitas sentralnya.

PRIMER MDF RK

DP

Jaringan Kabel Primer 5. Kabel Sekunder : Kabel sekunder berfungsi menghubungkan RK dengan DP. Jaringan kabel sekunder dapat dipasang di atas tanah dan dapat juga dipasang secara tanam langsung, tergantung pada kemungkinan pengembangan jumlah pelanggan yang akan dicatu. Kapasitas maksimum kabel sekunder adalah 200 pasang, diameter kabel ada bermacam-macam antara 0,4 mm sampai dengan 0,8 mm. Sedangkan

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

20

kapasitas jaringan kabel sekunder umumnya berkisar antara 1,1 sampai 1,5 kali kapasitas kabel primer.

DP

RK DP DP

Jaringan Kabel Sekunder

6. Kabel Penanggal : Kabel penanggal berfungsi untuk menghubungkan DP dengan terminal blok yang ada di rumah pelanggan. Jenis kabel yang digunakan sebagai kabel penanggal ini umumnya adalah drop-wire, baik drop-wire yang menggunakan penguat atau yang tanpa penguat

Batas Pelayanan Batas pelayanan dapat didefinisikan sebagai batas daerah yang dapat dilayani atau dicatu oleh STO/RK/KP lokasi. Pada perencanan jaringan kabel penentuan batas pelayanan sangat penting karena besar pengaruhnya terhadap kemudahan operasi dan pemeliharaan, serta besar kecilnya biaya pembangunannya. Batas Pelayanan KP
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

21

Distribusi Yang dimaksud dengan Distribusi adalah penempatan KP pada daerah pelayanan RK atau DCL (Daerah Catu Langsung) dengan tepat, sehingga kebutuhan telepon dapat dicatu dengan baik dari KP tersebut. Lokasi KP ditentukan dengan mempertimbangkan letak dan keadaan KP eksisting, estetika, ekonomis dan effisien. Kriteria Distribusi KP Dalam menentukan letak KP harus berpegang pada ketentuan sebagai berikut : 1) Kebutuhan telepon untuk kurun waktu 15 tahun Kebutuhan telepon untuk kurun 15 tahun merupakan dasar utama dalam menentukan letak KP. Batas Pelayanan untuk setiap KP ditentukan dari batas catuan untuk kebutuhan telepon dengan jarak maksimum 250 meter. Batas catuan tersebut ditetapkan setelah menganalisa hasil survei mikro kebutuhan telepon dilokasi tersebut. 2) Batas Pelayanan Batas-bats tersebut dapat berupa batas geografis, utilitas batas persii, rel kereta api, sungai besar, jalan besar, tegangan tinggi dan rencana tata kota. Mengingat batas catuan KP merupakan batas pelayanan yang terkecil, maka batas antara dua persil pada jalan yang sama dapat juga dijadikan batas ideal bagi daerah pelayanan KP. Letak KP diupayakan ada di tengah-tengah daerah pelayanan KP tersebut. 3) Kapasitas KP Pada dasarnya KP yang digunakan mempunyai kapasitas 10 dan 20. Terminasi sebaiknya tidak seluruhnya namun diberi spare dengan pertimbangan : a) Kemudahan pemeliharaan b) Keserasian saluran penanggal

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

22

KP dengan kapasitas 20 digunakan bila potensi kebutuhan telepon di daerah pelayanan KP tersebut tinggi. 4) Panjang Saluran Penanggal / Drop Wire Batas maksimum saluran penanggal diupayakan 250 meter kecuali untuk kondisi tertentu (tergantung pada hasil survei), batas maksimum dapat diabaikan. 5) KP Existing Selain kebutuhan telepon dalam kurun 15 tahun, maka kondisi KP. Existing perlu dipertimbangkan. Interaksi dengan KP existing perlu diperhatikan dengan pertimbangan KP baru merupakan penambahan atau penggantian KP existing. Hasil analisa tersebut sangat menentukan posisi/ letak KP baru terhadap DP/KP Existing.

Lokasi Daerah Pelayanan KP 1. Untuk daerah yang sudah mantap dimana diseluruh daerah pelayanan sudah terisi bangunan-bangunan yang tetap, maka kebutuhan telepon untuk kurun 15 tahun harus dipertimbangkan masak-masak. 2. Untuk daerah yang belum mantap, dimana pada daerah pelayanan masih banyak lahan-lahan kosong maka penempatan KP harus

mempertimbangkan faktor lain yaitu besarnya investasi, karena harus dihindarkan pengembalian investasi dalam jangka waktu lama, akibat idlenya KP (perkembangan wilayah tidak sesuai rencana tata kota). Untuk kasus demikian KP tidak dipersiapkan sebagai gantinya dipersiapkan cable stub.

Jenis KP dan Penggunaannya 1. SPBT (Sambungan Pembagi Bawah Tanah) a) Digunakan untuk daerah-daerah yang sudah teratur dan permanen (Sattled Area) b) Aman dari gangguan lalu lintas.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

23

c) Tidak merusak pandangan sekelilingnya. d) Pada tikungan yang tajam, letaknya 5 meter dari tikungan tersebut. e) Diupayakan letaknya di antara dua persil. Berdasarkan kenyataan di lapangan kurang baiknya pelaksanaan

pemasangan SPBT oleh kontraktor JARKAB, sering mengakibatkan bocornya SPBT sehingga gangguan yang terjadi sangat tinggi terutama pada tempat-tempat yang air tanahnya sangat tinggi. Maka SPBT menjadi tidak ekonomis sehingga diputuskan untuk tidak digunakan lagi (Keputusan DIROP pada tahun 1987).

2.

SPAT (Sambungan Pembagi Atas Tanah) a) Dipasang di daerah yang belum mantap/belum permanen. b) Letak tiang harus aman, sehingga tidak mengganggu lalu lintas dan pejalan kaki, pintu masuk/keluar perumahan/pertokoan dll. c) Diupayakan serasi dengan keadaan lingkungan. d) Memudahkan petugas JARKAB melakukan pemeliharaan. e) Dipertimbangkan tentang keseimbangan rute.

Batas Pelayanan RK a. Kebutuhan Telepon Bila daerah di catu RK tersebut merupakan daerah yang mantap, maka jumlah kebutuhan telepon dalam kurun waktu 15 tahun mendatang digunakan sebagai patokan dalam menentukan batas pelayanan tersebut. Namun bila daerah bila daerah tersebut merupakan daerah yang berkembang, maka diupayakan untuk mengintegrasikan daerah tersebut kedalam daerah pelayanan RK yang berdekatan. b. Kapasitas RK

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

24

Kapasitas yang akan digunakan disesuaikan dengan kebutuhasn telepon yang akan dicatu. Besar kapasitas menunjukkan jumlah kapasitas kabel primer dan sekunder yang dapat diterminasikan pada RK tersebut. c. Batas Batas Geografis, utilitas, batas Administrasi wilayah, rel KA, sungai, jalan besar, tegangan tinggi merupakan batas-batas yang baik untuk batas pelayanan RK. Bila tanda-tanda tersebut sulit ditemukan, maka batas administrasi wilayah atau batas antara dua persil yang saling membelakangi akan saling membelakangi merupakan alternatif terakhir. d. Penempatan RK

Hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan RK adalah : a) Bahwa daerah disekitar RK tersebut mempunyai konsentrasi kebutuhan telepon yang tinggi. b) Tidak terlalu jauh dari MH terdekat. c) Lokasi RK selaras, serasi dan aman dengan lingkungan sekitarnya. Serta memudahkan petugas dalam memeriksa dan memperbaiki jaringan kabel yang tersambung pada RK tersebut. d) Penempatan diupayakan agar tidak ada catuan sekunder yang membalik.

Batas Pelayanan Sentral. a) Pengertian Batas pelayanan sentral adalah suatu daerah pelayanan telepon yang dicatu oleh satu sentral telepon dimana daerah tersebut dibatasi oleh kondisi tertentu dan batas tersebut memenuhi persyaratan teknis sentral dan jaringan kabel yang telah ditetapkan. b) Batas pelayanan sentral Batas pelayanan sentral harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: 1. Untuk sentral tunggal Kebutuhan telepon
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

25

Syarat batas redaman kabel Batas Administrasi kota ybs Kondisi geografi, utilitas, batas-batas riil/nyata tertentu. 2. Untuk sentral jamak Selain harus memenuhi syarat diatas juga harus diperhatikan kapasitas maksimum sentral terhadap jumlah kebutuhan telepon secara keseluruhan di daerah pelayanan sentral tersebut.

Normalisasi Daerah Pelayanan DP/RK/STO. Pengertian Normalisasi daerah pelayanan DP/RK/Sentral adalah pengaturan kembali batasbatas daerah pelayanan DP/RK/STO. Sentral yangsudah ada dikarenakan hal-hal tertentu sudah tidak sesuai lagi dengan kriteria batas pelayanan DP/RK/Sentral yang baru.

Tujuan Normalisasi Menghindari terjadinya tumpang tindih catuan antara DP/RK/Sentral. Merapihkan sistem jaringan kabel telepon sehingga dapat memudahkan pelayanan dan pemeliharaan. Memperbaharui/mengganti jaringan kabel dalam daerah pelayanan DP/RK yang rusak atau tidak sesuai lagi dengan spesifikasi teknis yang ada.

II.2.

SISTEM PENTANAHAN PADA SALURAN :

Instalasi penangkal petir (Sistem Pentanahan) adalah suatu sistem dengan komponenkomponen dan peralatan-peralatan yang secara keseluruhan berfungsi untuk menangkap petir, dan kemudian menyalurkannya ke tanah. Dimana sistem tersebut dapat disebut juga sistem pentanahan. Sistem tersebut dipasang sedemikian rupa, sehingga semua bagian dari bangunan beserta isinya, ataupun benda-benda lainnya yang dilindungi, akan terhindar dari bahaya sambaran petir, baik sambaran petir secara langsung maupun dapat juga sambaran petir secara tidak langsung.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

26

Sistem pentanahan dalam teknologi telekomunikasi dimaksudkan untuk melindungi perangkat telekomunikasi terhadap tegangan listrik (tinggi) yang berasal dari luar. Yaitu dengan cara mentanahkan perangkat telekomunikasi yang ada ke tanah (ground) , maka perangkat tersebut akan terhindar dari cepat rusak dan sekaligus perangkat itu akan beroperasi dengan aman, baik bagi perangkat itu sendiri maupun bagi petugas serta pemakai perangkat itu sendiri. Pada prinsipnya sistem pentanahan ini atau perlindungan (proteksi) dari sambaran petir ini ditujukan untuk : 1. 2. Perlindungan terhadap manusia. Perlindungan terhadap bangunan.

3. Perlindungan terhadap isi bangunan atau perangkat.

1. Bagan sistem pentanahan. Dengan bagian-bagian sebagai berikut : a. Kutub tanah, yang merupakan penghantar listrik, ditanam dalam tanah dengan tujuan menghubungkan listrik dengan tanah. Bentuk kutub tanah ini dibedakan dalam : a. Kutub tanah mendatar. Kutub tanah batang. Kutub tanah plat.

Hantaran tanah, merupakan penghantar yang menghubungkan kutub tanah dengan terminal induk tanah. Terbuat dari kawat tembaga terbuka berpilin berukuran minimal 50 mm2.

b.

Terminal induk tanah, sebagai penghantar listrik berbentuk lempengan, sebagai penghubung hantaran tanah dan distribusi induk tanah, dan pemasangannya di dalam Handhole.

c.

Distribusi induk tanah, merupakan penghantar listrik yang menghubungkan terminal induk tanah dengan terminal cabang tanah.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

27

d.

Terminal cabang tanah, merupakan penghantar listrik berbentuk melingkar mengelilingi dinding gedung sebelah dalam (ditanam dibawah lantai) menghubungkan distribusi induk tanah dan distribusi cabang tanah.

e.

Distribusi cabang tanah, merupakan penghantar listrik yang menghubungkan terminal cabang tanah dengan perangkat telekomunikasi.

f.

Pengaman tambahan, sebagai alat tambahan agar sistem pentanahan dapat berfungsi lebih baik dan andal.

Dan bagan dari sistem pentanahan secara umum adalah sebagai berikut : A B 7 7 6 5 4 4 o o 2 1 Keterangan gambar : 1 = kutub tanah. 2 = hantaran tanah. 3 = terminal induk tanah. 4 = distribusi induk tanah. A = penyambungan konfigurasi jala-jala. B = penyambungan konfigurasi bintang. Dalam membicarakan sistem pentanahan ini ada beberapa hal penting yang akan dikemukakan, yaitu : Konstruksi dan bahan pentanahan. Pengaman tambahan.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

6 5 4 4 o o o

5 4

5 = terminal cabang tanah. 6 = distribusi cabang tanah. 7 = perangkat.

28

Pemasangan sistem pentanahan. Pengukuran tahanan jenis tanah. Dan untuk mendapatkan sistem pentanahan yang berdaya guna dan berhasil guna, dalam perencanaan perlu beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu antara lain : Tahanan jenis tanah. Struktur tanah. Keadaan lingkungan. Ukuran dan bentuk sistemnya.

2. Sistem proteksi luar ( External Lightning Protection) : Yang dimaksud dengan sistem proteksi luar adalah suatu bentuk instalasi dan alat di luar struktur bangunan yang berfungsi untuk menerima dan menghantarkan arus listrik akibat sambaran petir ke suatu sistem pembumian (Earthing System). Sistem proteksi luar ini terdiri dari : 1. Air terminal / finial.,yaitu batang tembaga yang menerima sambaran petir tersebut secara langsung. 2. Kawat penghantar / down counter, yaitu yang akan menghantarkan arus petir dari finial ke sistem pembumian. 3. Sistem pembumian, yaitu sistem yang akan membuang arus petir dengan aman ke tanah (ground). Kemudian terdapat persyaratan-persyaratan tekhnis dari instalasi penangkal petir ini, yaitu antara lain : a. b. Mempunyai nilai perlindungan terhadap sambaran petir yang efektif. Setiap instalasi penangkal petir harus dilengkapi dengan gambar

perencanaan, yang meliputi gambar beserta keterangan secara terperinci dan setelah pemasangan harus tersedia gambar akhir. c. Setiap pekerjaan instalasi penangkal petir harus dikerjakan oleh seorang tenaga ahli dalam bidangnya, dan juga harus diawasi dengan cermat, agar apa yang direncanakan sesuai dengan yang disyaratkan.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

29

d.

Instalasi penangkal petir harus dapat berfungsi dengan baik untuk jangka waktu yang lama dan secara berkala harus diadakan pemeriksaan dan pemeliharaan.

3. Sistem proteksi dalam (Internal Lightning Protection) : Yang dimaksud dengan sistem proteksi internal adalah suatu sistem proteksi terhadap tegangan lebih, yang ditimbulkan oleh sambaran petir, baik sambaran petir secara langsung maupun sambaran tidak langsung. Jadi pada dasarnya tujuannya adalah untuk mencegah dan mengurangi efek elektromagnetik dari arus petir pada peralatan atau komponen-komponen, baik konduksi maupun induksi. Untuk memperoleh suatu sistem Proteksi Internal yang baik harus dipenuhi tiga aspek, yaitu : a. Menggunakan peralatan pemotong pulsa (Arrester), untuk mencegah masuknya pulsa secara konduksi dari hantaran kabel listrik, telepon, data maupun kabel antena diatas bangunan. b. Pemakaian perisai (Shielding), untuk mencegah induksi dan radiasi melalui medium udara ke peralatan atau kabel. c. Penggunaan Equipotensial Bonding (peralatan penyama tegangan), yaitu bagian dari internal sistem Proteksi petir yang berfungsi untuk mengurangi dan menghilangkan beda tegangan yang terjadi akibat adanya arus listrik oleh sambaran petir.

4. Metoda instalasi sistem pentanahan perangkat : Bentuk dan ukuran sistem pentanahan lebih penting dibanding dengan harga tahanan tanah dari elektroda pentanahan, walaupun demikian sebaliknya tahanan pentanahan dibuat serendah mungkin. Besar tahanan pentanahan digunakan sebagai ukuran baik tidaknya sistem pentanahan, semakin kecil nilai tahanannya, semakin baik sistem pentanahannya. Oleh karena itu tahanan pentanahan dibakukan harga maksimumnya dan mempunyai nilai yang berbeda-beda tergantung pada perangkat yang ditanahkan. Bila dilihat dari sudut pandang sistem penangkal petir, maka sistem pentanahan terintegrasi sangat dianjurkan seluruh sistem pentanahan penangkal petir,
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

30

sistem pentanahan listrik, pentanahan perangkat telekomunikasi, perangkat komputer dan yang lainnya disatukan Sistem pentanahan yang masih terpisah dengan alasan tertentu, harus selalu disambungkan terhadap sistem pentanahan terintegrasi melalui Equipotensial Bonding.

5. Spesifikasi yang diharuskan oleh STEL-L-011 : 1. 2. Transmisi radio, besarnya tahanan pentanahan maksimal 3 Ohm. Sentral, besarnya tahanan pentanahan sentral : Sentral Elektronik maksimal 1 Ohm. Sentral Elektromekanik maksimal 3 Ohm. Sentral manual maksimal 3 Ohm. 3. Jaringan kabel, besarnya tahanan pentanahan untuk rangka pembagi utama (RPU) maksimal 3 Ohm. 4. Catu daya, besarnya tahanan pentanahan maksimal 3 Ohm.

6. Pengukuran tahanan pentanahan : Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi sistem pentanahan, baik untuk pentanahan yang baru selesai dibangun ataupun yang telah lama dipasang. Dari hasil pengukuran dapat diketahui, Apakah tahanan pentanahan memenuhi standard nilai yang berlaku atau tidak ?. Pengukuran ini dilakukan sebagai upaya pemeliharaan preventif, yang dapat berlanjut kepada perbaikan bila pentanahan sudah melebihi standard yang berlaku Untuk mengukur besarnya tahanan pentanahan, misalnya kita ambil contoh dengan mempergunakan Alat Earth tester model 4102 merk Kyoritsu. Dimana prinsip kerjanya sebagai berikut : Tegangan bolak-balik dibangkitkan oleh earth tester dan dihubungkan dengan elektroda ke tanah (titik C dan E). Kemudian potensial di setiap titik dalam tanah terukur dengan bantuan kutub P. Di dekat elektrode titik-titik itu potensial berubah sangat cepat, tapi titik-titik yang jauh letaknya potensialnya relatif tetap. Dan beda

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

31

potensial antara C dan P dinyatakan sebagai V1 dan antara P dan E sebagai V2 . Maka tahanan pentanahan didapat : R1 = V1 I R2 = V2 I Rangkaian alat ukur Earth tester adalah sebagai berikut : (Ohm) (Ohm)

V A

1000 ohm

110 / 220

E R1

P R2

Keterangan gambar : V = Voltmeter AC. A = Ampere meter AC. P = Kutub tanah batang pertolongan. C = Sistem power yang diketanahkan. E = Instalasi pentanahan yang diukur.

Dalam pengukuran sistem pentanahan terdapat tiga jenis metoda pengukuran, yaitu antara lain : a. b. Metoda Wenner, digunakan untuk mengukur tahanan jenis tanah. Metoda Triangulasi, digunakan untuk mengukur tahanan kaki menara dan juga untuk mengukur tahanan instalasi pentanahan dengan ukuran kecil.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

32

Syarat batasnya yaitu : Tidak bisa dipergunakan untuk mengukur

instalasi pentanahan yang mempunyai tahanan rendah atau instalasi pentanahan ukuran besar. Tahanan kutub tanah batang pertolongan tidak boleh lebih besar dari 10 kali tahanan pentanahan yang diukur. a. Metoda Fall Of Potential, digunakan untuk mengukur tahanan instalasi pentanahan ukuran besar atau pentanahan yang mempunyai tahanan rendah. Syarat batasnya yaitu : Memerlukan medan yang cukup luas dengan radius lebih besar dari 20 m2. Hasil pengukuran tidak memuaskan apabila di tempat atau dekat tempat penanaman kutub tanah pertolongan terdapat instalasi logam bawah tanah, seperti pipa air minum, dsb.

7. Konstruksi dan bahan pentanahan : Sesuai dengan tujuan pentanahan, maka perangkat telekomunikasi yang perlu ditanahkan (grounded) , antara lain : 1. 2. 3. MDF / RPU , RK dan KP. Ujung-ujung kawat penggantung dan pelindung elektris kabel udara. Ujung kawat terbuka pada tiang tambat akhir melalui pengamanan tambahan. 4. 5. 6. Ujung perisai dan pelindung elektris kabel tanah. Perangkat GPA (Gas Pressure Alarm). Telepon umum.

Pentanahan pada RPU biasanya menjadi satu dengan pentanahan gedung dan perangkat telekomunikasi lainnya. Syarat besarnya tahanan pentanahan untuk perangkat telekomunikasi biasanya maksimum 3 Ohm, sedangkan untuk gedung telekomunikasi maksimum 5 Ohm.

8. Pemasangan pengamanan tambahan :


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

33

Untuk menunjang lebih berfungsinya sistem pentanahan perlu adanya pengamanan tambahan, sehingga jika jaringan terkena induksi tegangan asing, misalnya tidak akan merusak peralatan telekomunikasi lainnya (Sentral, Pemancar, Penerima dan sebagainya). Pengamanan tambahan ini biasanya terdiri atas sekering (fuse) yang berfungsi sebagai pemutus arus, arrestor dan varistor. Dan cara pemasangan dari peralatan pengamanan tambahan ini dapat terlihat seperti pada gambar berikut ini :
3

2 1 4 2
3

5 Keterangan gambar : 1 = Saluran. 2 = Arestor / Varistor. 3 = Pemutus. 4 = Hantaran tanah. 5 = Kutub tanah.

9. Pemeliharaan Grounding System : Pemeliharaan adalah suatu aktifitas untuk memelihara / menjaga fasilitas / peralatan dan mengadakan perbaikan atau penggantian alat yang diperlukan, agar mutu operasi dapat dicapai sesuai dengan yang direncanakan. Secara praktis pemeliharaan ini adalah sebagai berikut : a. Setiap ada kerusakan dari bagian instalasi penangkal petir akibat dari penyaluran arus petir, maka harus segera diperbaiki. b. Setiap enam bulan dilakukan pengukuran pada setiap titik pengukuran dan setiap sambungan atau yang diterminasi dilakukan suatu pembersihan dari kotoran
34

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

berupa karat, sehingga terhindar dari tahanan yang kurang kontak dari terminasi tersebut. c. Arrester dan Varistor dilakukan pengetesan setahun sekali dan dilakukan penggantian dengan yang lebih baik, serta menyiapkan suku cadangnya. d. Untuk jenis tanah yang dikondisikan dengan teknik tertentu, kelembapan tanah harus dipelihara dengan cara menyiramkan larutan garam disekitar kutub tanah.

10. Teknik pengkondisian tanah : Pada kondisi tanah yang mempunyai tahanan jenis tinggi, perlu suatu pengkondisian tanah agar kutub tanah dapat menghasilkan tahanan yang rendah. Ada beberapa macam teknik pengkondisian tanah, antara lain : a. b. c. Teknik Bentonik. Teknik Kokas. Teknik Tepung logam. d. Teknik Garam e. Teknik Semen konduktif.

Sehingga pemilihan teknik pengkondisian tanah harus disesuaikan dengan kondisi yang tergantung kepada : a. b. c. d. e. Kemudahan memperoleh bahan-bahan. Kemudahan pemasangan. Kemudahan pemeliharaan. Besarnya tahanan jenis tanah. Bahaya karat terhadap kutub tanah.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

35

II.3

Teknologi JARLOKAT Sejalan dengan perkembangan jenis layanan yang cenderung kearah layanan pita

lebar, teknologi JARLOKAT harus mempunyai kemampuan akses yang memadai. Peningkatan kemampuan akses JARLOKAT dilakukan dengan dua cara : a. JARLOKAT Murni sebagai jaringan lokal akses tembaga yang operasionalnya tidak menggunakan tambahan perangkat aktif. b. JARLOKAT Tidak Murni adalah jaringan lokal akses tembaga yang didalam operasionalnya menggunkan tambahan teknologi/perangkat lain untuk

meningkatkan performasinya, misalnya Penggandaan Saluran Digital (Pair Gain), HDSL, ADSL, VDSL dan tambahan teknologi lain untuk layanan ISDN (JARLOKAT-ISDN)

II.3.1 Mekanisme Akses JARLOKAT Murni Mekanisme akses dari pelanggan menuju sentral didalam JARLOKAT murni dapat dilakukan dengan sistem transmisi di bawah ini : a. Dijital murni b. Analog voice c. Analog data (voice-band data) Kemampuan akses ditentukan oleh hasil ukur elektris dari jaringan itu sendiri, seperti tahanan, redaman dan kapasitansi. JARLOKAT Tidak Murni Mekanisme akses dari pelanggan menuju sentral didalam JARLOKAT tidak murni harus bersifat transparan terhadap layanan yang dicakup. Kemampuan akses ditentukan oleh jenis teknologi/perangkat yang ditambahkan, misalnya kecepatan akses dan jenis layanan. Sedangkan performansi jaringannya tidak hanya ditentukan oleh kondisi jaringan lokal tetapi juga dipengaruhi oleh penambahan perangkat itu sendiri.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

36

II.3.2 Mode Aplikasi Mode aplikasi didalam jaringan akses untuk kabel berbasis tembaga dapat dilakukan dengan dua cara : JARLOKAT Murni JARLOKAT Murni digunakan untuk menghubungkan pelanggan telepon individual ke sentral telepon dan pelanggan data individual ke sentral data dengan kecepatan sampai dengan 19,6 kbps JARLOKAT Tidak Murni a. Aplikasi Sistem Penggandaan Saluran Digital (Pair Gain) b. Aplikasi HDSL c. Aplikasi JARLOKAT ISDN

II.3.3 Antar muka Antar muka didalam jaringan lokal kabel tembaga dibutuhkan dengan maksud agar 2(dua) atau lebih perangkat dengan aturan yang berbeda dapat saling berkomunikasi.

1.

Antar muka ke pelanggan telepon bukan ISDN Antar muka akses layanan Jarlokat Murni menggunakan Z interface. Antar muka Z adalah antar muka analog yang umum pada sisi sentral dari saluran pelanggan analog untuk menghubungkan sentral dijital dengan perangkat pelanggan (misal telepon dan PABX)

Antar muka-Z

Antar muka-V2 Merupakan antarmuka dijital yang umum untuk menghubungkan perangkat jaringan dijital secara remote atau lokal dengan menghubungkan multiplexer primer atau multiplexer sekunder Antarmuka-V3 merupakan antarmuka dijital untuk menghubungkan peralatan digital subscriber

2. Antar muka tambahan untuk pelanggan ISDN


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

37

Diumungkinkan adanya implementasi ISDN yang merupakan fungsi add-on pada jaringan telepon dijital yang ada di Indonesia saat ini. Antar muka V1 suatu antar muka untuk penyambungan basic rate access ISDN (2B+D) Antar muka V3 dapat juga digunakan untuk penyambungan ke ISDN primary rate access Antar muka V4 digunakan untuk menghubungkan digital access link yang memuat 12 ISDN basic rate access pada 2048 Kbit/s

3.

Antar muka Lainnya a. Antar muka untuk Aplikasi Sistem Penggandaan Saluran Digital (Pair Gain) yang digunakan adalah U interface dengan bit rate 160 kbps dan line coding yang digunakan 2B1Q b. Antar muka untuk Aplikasi HDSL yang digunakan adalah E1 interface dengan bit rate 2048 kbps dan line coding yang digunakan 2B1Q c. Antar muka untuk Aplikasi HDSL + Flemux yang digunakan sesuai dengan standar ITU-T Recomendasi G.703 d. Antar muka untuk Aplikasi JARLOKAT ISDN : 1) Antar muka BRA (Basic rate Access) 2) Antar muka PRA (Primary rate Access)

II.3.4 Aspek Keamanan Aspek keamanan pada JARLOKAT meliputi keamanan fisik saluran, fisik perangkat dan keamanan informasi. Keamanan ini dapat dijaga dengan menggunakan spesifikasi kabel, spesifikasi perangkat dan menerapkan standar instalasi, standar prosedur pemeliharaan serta standar prosedur operasi.

II.3.5 Persyaratan Unjuk Kerja Unjuk kerja didalam JARLOKAT tergantung pada aplikasi yang ada didalamnya.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

38

JARLOKAT Murni Unjuk kerja JARLOKAT Murni hanya dipengaruhi oleh unjuk kerja saluran/jaringan kabel lokal. Jaringan kabel lokal yang direkomendasi untuk perencanaan mendatang menggunkan homogenitas diameter yaitu 0,6 mm a. Karakteristik elektris saluran Karakteristik elektris saluran mengacu pada Rec. ITU-T G.121 Annex C

Tabel Diameter, tahanan jerat, panjang maksium dan redaman kabel Diamater Tahanan Urat Kabel Jerat [mm] [Ohm/Km ] 0,6 130 Panjang Maks. Tanpa PBX [Km] 5,7 Panjang Redaman Maks. Semu Saluran Dgn. PBX [dB/Km] [Km] 5,2 1,67 Redaman Jarkab Lokal [dB/Km] 1,67

b. Spesifikasi kabel Spesifikasi kabel dan perangkat mengacu pada spesifikasi TELKOM JARLOKAT Tidak Murni Unjuk kerja didalam JARLOKAT Tidak Murni tergantung pada 2(dua) faktor utama yaitu saluran dan perangkat aktif yang ada. a. Aplikasi Sistem Penggandaan Saluran Digital (Pair Gain) Unjuk kerja dan kelengkapan mengacu pada spesifikasi TELKOM, sedangkan unjuk kerja saluran mengacu pada ketentuan yang berlaku untuk teknologi yang terkait (contoh : rilis teknologi, spesifikasi teknik, dll.). b. Aplikasi HDSL Redaman saluran yang diijinkan adalah 40 dB (pada 300 Khz) atau 27 dB (pada 150 Khz), sedangkan Near/Far End Crosstalk minimum adalah 65 dB c. Aplikasi JARLOKAT ISDN Unjuk kerja jaringan lokal aplikasi ISDN untuk Basic Rate Access sesuai dengan persyaratan standar ITU-T Pesyaratan Redaman Crosstalk NEXT/FEXT
39

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

40 Khz 160 Khz

< 36 atau <32 <=50

<=50 <=44

Persyaratan untuk ISDN PRA 2,048 Mbps mengacu pada standar ITU-T Recomendasi G.703

II.4

PARAMETER SALURAN JARLOKAT

II1.4.1 REDAMAN Seperti yang telah kita ketahui, dalam membuat rancang bangun jaringan kabel perlu memperhatikan persyaratan transmisi agar informasi yang dikirim/diterima penggguna jasa telekomunikasi mempunyai kualitas sesuai dengan tolak ukur yang telah ditentukan. Tolak ukur ini dapat berupa redaman jaringan kabel. Dengan mengetahui redaman ini kita akan dapat menentukan panjang maksimal jaringan dimana kualitas telekomunikasi masih baik.

a. Alokasi Redaman Alokasi redaman adalah pendistribusian lokasi redaman diantara rentetan sirkit. 1. Hubungan Internasional. Hubungan telepon internasional yang lengkap terdiri dari dua bagian : Rantai internasional, umumnya tidak lebih dari empat sirkit internasional empat kawat. Dua sistem nasional, masing-masing satu sirkit pasa akhir rantai internasional. Umumnya LE dihubungkan ke rantai internasional dengan maksimum empat sirkit nasional dimana tiga sirkit adalah empat kawat. Alokasi redaman untuk berbagai bagian untuk hubungan telepon diturunkan dari referene Equivalent dalam rekomendasi CCITT G.111 dan G121. 2. Hubungan Nasional. Pada gambar dibawah diperlihatkan pembagian SCRE dan RCRE untuk berbagai bagian yang berbeda dari sirkit telepon nasional. CCITT tidak memberikan rekomendasi untuk alokasi redaman pada bagian ini. Bagaimanapun
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

40

juga beberapa indikasi diberikan untuk CRF dari saluran langsung, hybrid dan sentral.

Dengan metode yang diberikan pada rekomendasi G.111 dimungkinkan untuk menentukan harga koreksi yang sesuai. Dengan dasar hubungan ini harga nasional terdahulu yang digunakan (dengan asumsi impedansi dan frekuensi karakteristik yang sesuai) adalah: SCREL = 11,3 dB setara dengan SCREL = 13,5 dB. RREL = 2,3 dB setara dengan RCREL = 3,2 dB Perbedaan dapat diabaikan, jika dibandingkan dengan nilai maksimum yang diperbolehkan, terutama jika perbedaan karakteristik frekuensi diperhitungkan (dan keduannya harus menggunakan mikrofopn karbon). Jika telepon set menggunakan mikrofon karbon, harga maksimum SCREL = 14,5 dB dipakai dalam perhitungan. Dalam beberapa situasi redaman diantara set pelanggan dan jaringan empat kawat dapat menjadi sangat kecil. Dengan kombinasi LE dan PC dan saluran pelanggan yang sangat pendek, hanya loss sentral 0,5 dB dan loss hybrid 3,5 dB yang berperan. Dengan mengingat nilai SCREN minimum 7 dB maka SCRET telepon set dalam hal ini harus lebih besar dari 3 dB.

a. Jaringan Lokal Dari lokasi redaman pada pembahasan sebelumnya, didapat : SCREL = 15,5 dB (SCREL = 14,5 dB jika digunakan mikrofon karbon RCREL = 4,5 dB. Ini diizinkan untuk telepon set dengan saluran pelanggan yang dikombinasikan dengan feeding bridge. Juga dicakup kemungkinan PBX. Untuk tujuan perencanaan perlu diketahui loss saluran pelanggan yang diperbolehkan atau lebih baik jarak maksimum antara telepon set dan sentral lokal untuik diameter kabel tertentu. Tahanan loop saluran dan telepon set yang diperbolehkan juga penting untuk persyaratan signaling dari sentral yang tersambung. Karakteristik dari telepon set terutama tergantung dari tipe mikrifon dan telepon set. Mikrofon karbon
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

41

memberikan level sinyal yang dipengaruhi oleh arus yang mengalir melelui mikrofon. Arus ini terutama ditentukan oleh tahanan saluran pelanggan tetapi juga tahanan dari telepon set dan feeding gridge pada sentral. Karenanya perlu untuk mengetahui spesifikasi dari telepon set, feeding bridge dan diameter kabel sebelum panjang saluran pelanggan maksimum dapat ditentukan. Untuk mencegah penurunan kualitas transmisi yang lebih jauh, pembatasan diberikan untuk harga maksimum yang diperbolehkan dari sidetone dengan sidetone reference equivalent SIRE dari telepon set (G.121). SIRE ini paling sedikit 10 dB untuk mencapai persyaratan sinyal to noise ratio untuk panggilan telepon.

b. Cara perhitungan Transmisi dan Sinyal 1. Menentukan Panjang Maksimum Kabel Lokal. Formula untuk menentukan besarnya redaman jaringan kabel lokal non-loaded adalah sebagai berikut : Ad = Ro Co Np/Km

Dimana : Ad = Image Attenuation (redaman semu) saluran = 2 x 3,23 x f Ro = Tahanan Jerat yang Tergantung Diameter Kabel (Ohm/Km) Co = Mutual Kapasitansi (50 nF/Km) 1 Np = 8,686 dB Jadi persamaan diatas dapat ditulis kembali : Ad = 8,686 3,14 f Co Ro dB/Km

Untuk image attenuation (redaman semu) saluran pada frekuensi pengukuran 800 Hz dan dengan diameter kabel seperti dibawah ini, persamaan sekarang adalah, dengan menggunakan diameter kabel 0,4 Ro = 300 Ohm : A (0,4) = 8,686 3,14 x 800 Hz x 1300 x 50 nF dB

= 1,69 dB/Km Dengan menggunakan diameter kabel 0,6 Ro = 1300 : A (0,6) = 8,686 3,14 x 800 Hz x 1300 x 50 nF dB
42
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

= 1,11 dB/Km Dengan menggunakan diameter kabel 0,8 Ro = 73 : A (0,8) = 8,686 3,14 x 800 Hz x 73 x 50 nF dB

= 0,87 dB/Km

2.

Perhitungan Sistem Lain : Pada sistem yang lama, kita menghitung feeding loss pada tegangan catuan 48 volt dengan tahanan jerat 2 x 400 Ohm atau pada tegangan 60 Volt dengan tahanan jerat 2 x 500 Ohm, untuk feeding loss mengambil arus 60 mA redamannya adalah 0,5 Nepper atau 4,343 dB. Sehingga pada tiap-tiap tahanan 300 Ohm, 130 Ohm dan 75 Ohm akan terdapat redaman sebesar : A(300) = 300/1000 x 4,3 dB = 1,29 dB A(130) = 130/1000 x 4,3 dB = 0,56 dB A(73) = 73/1000 x 4,3 dB = 0,31 dB Besarnya redaman jaringan kabel lokal adalah penjumlahan dari redaman saluran pada 800 Hz dan redaman katrena tegangan catuan, sehingga diperoleh : AL(0,4) = 1,69 + 1,29 = 2,98 dB/Km AL(0,6) = 1,11 + 0,56 = 1,67 dB/Km AL(0,8) = 0,87 + 0,31 = 1,18 dB/Km SREL = 11,3 dB(dengan redaman mikrofon karbon)

Redaman mikrofon karbon = 0,1 Nepper (0,868 dB) SREL tanpa redaman mikrofon = 11,3 0,868 = 10,432 dB Dengan demikian akan diperoleh jarak transmisi maksimum yang diperoleh untuk masing-masing diameter kabel berikut: L(0,4) = 10,432 / 2,98 = 3,5 Km L(0,6) = 10,432 / 1,67 = 6,2 Km L(0,8) = 10,432 / 1,19 = 8,7 Km

Tabel yang memperlihatkan hasil perhitungan diatas


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

43

Diameter Konduktor (mm) 0,4 0,6 0,8

Tahanan Jerat (Ohm/Km) 300 130 73

Mutual Kapasitansi (f/Km) 50 n 50 n 50 n

Redaman semu saluran (dB/Km) 1,69 1,11 0,87

Redaman Jarkab lokal (dB/Km) 2,98 1,67 1,18

Jarak kabel max (Km) 3,5 6,2 8,7

1.

Perhitungan Sistem Baru : Pada sistem yang baru, kita tidak menghitung feeding loss, tetapi SREL akan dikoreksi lagi menjadi SCREL yang persamaannya sebagai berikut : SCREL = 0,0082 (SREL)2 + 1,148 (SREL) + 0,48 dB = 0,0082 (11,3)2 + 1,148 (11,3) + 0,48 dB = 14,5 dB

Cara menentukan panjang maksimum kabel lokal : Persamaan sending corrected reference equivalen adalah jumlah dari pada redaman pesawat telepon, redaman saluran langganan dan redaman sentral telepon rumah otomat (PBX). SCREL = SCRET(r) + Yd + a PBX SCRET(r) adalah sending corrected equivalent pesawat telepon yang telah mendapatkan tegangan catuan yang dipengaruhi oleh besaran tahanan jerat. Yd adalah redaman saluran pelanggan yaitu redaman saluran semu kali konstanta jenis konduktornya. aPBX adalah redaman sisipan antara saluran dengan pesawat telepon (umumnya sebesar 1 dB), bila pelanggan memakai fasilitas privat branch exchange. Sedangkan SCRET(r) didapat dari total SCREo dan redaman mikrofon : SCRET(r) = SCRo + SCREm(r) SCREo adalah SCRE pesawat telepon tanpa saluran telepon pelanggan (tanpa feeding loss). SCREm(r) adalah variabel SCRE, dikarenakan variasi sensitivitas mikrofon yang dipengaruhi oleh besaran tahanan jerat.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

44

SCREo = 4 dB, untuk telepon set tak teregulasi dengan mikrofon. Sedangkan redaman mikrofon karbon pada frekuensi 800 Hz dengan tegangan catuan 48 Volt untuk tahanan jerat 2 x 400 Ohm atau tegangan catuan 60 Volt untuk tahanan jerat 2 x 500 Ohm adalah sekitar Np atau 4,4 dB, persamaannya menjadi : SCREm(r) = 4,4 x Ro /100 dB/Km Sehingga pada tiap-tiap tahanan 300 Ohm, 130 Ohm dan 73 Ohm akan terdapat variasi redaman mikrofon sebesar : SCREm(300) = 300/1000 x 4,4 dB = 1.32 dB/Km SCREm(130) = 130/1000 x 4,4 dB = 0,57 dB/Km SCREm(73) = 73/1000 x 4,4 dB = 0,32 dB/Km Sendding corrected equivalen pesawat telepon yang tegangan catuannya dipengaruhi besaran tahanan jerat r, untuk masing-masing tahanan 300 Ohm, 130 Ohm dan 73 Ohm : SCRET(300) = 4 dB +1,32 L dB SCRET(130) = 4 dB + 0,57 L dB SCRET(73) = 4 dB + -0,32 L dB. Redaman saluran pelanggan (Yd) didapat dari redaman semu (Ad) dikalikan dengan konstanta (Kd) jenis konduktornya yang berubah terhadap diameter konduktor tetapi tidak tergantung panjang kabel. K(0,4) = 1,27 A(0,4) = 1,69 dB/Km K(0,6) = 1,13 A(0,6) = 1,11 dB/Km K(0,8) = 1,11 A(0,8) = 0,87 dB/Km Y(0,4) = 1,27 x 1,09 = 2,13 dB/Km Y(0,6) = 1,13 x 1,11 = 1,25 dB/Km Y(0,8) = 1,11 x 0,87 = 0,98 dB/Km Besarnya redaman jaringan kabel lokal adalah total dari redaman semu saluran pelanggan dan redaman mikrofon. AL(0,4) = 2,13 + 1,34 = 3,45 dB/Km atau AL(0,4) = 3,45 LdB AL(0,6) = 1,25 + 0,57 = 1,82 dB/Km atau AL(0,6) = 1,82 LdB AL(0,8) = 6,96 + 0,32 = 1,24 dB/Km atau AL(0,8) = 1,24 LdB.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

45

Dimana L adalah panjang kabel dalam satuan Km. Persamaan unjtuk mencari pamjang kabel maksimum adalah : SCREL = (SCREo + 3,45 L) dB, untuk diameter 0,4 mm SCREL = (SCREo + 1,82 L) dB, umtuk diameter 0,6 mm SCREL = (SCREo + 1,24 L) dB, untuk diameter 0,8 mm Atau : 0,4 mm 0,6 mm 0,8 mm L = (14,5-4)/3,45 = 3,04 Km L = (14,5-4)/1,82 = 5,76 Km L = (14,5-4)/1,24 = 8,46 Km

Tabel yang memeperlihatkan hasil dari perghitungan diatas : Diameter Konduktor (mm) 0,4 0,6 0,8 Tahanan Jerat (Ohm/Km) 300 130 73 Mutual Kapasitansi (f/Km) 50 n 50 n 50 n Redaman semu saluran (dB/Km) 2,13 1,25 0,96 Redaman Jarkab lokal (dB/Km) 3,45 1,82 1,24 Jarak kabel max (Km) 3,0 5,7 8,4

II.4.2 CAKAP SILANG : Cakap silang yang terjadi pada suatu saluran transmisi, dapat diartikan sebagai gangguan dari saluran karena melalui alur kopling disebabkan karena adanya induktansi dan kapasitansi pada saat saluran digunakan pada frekuensi tertentu.Cakap silang dibedakan dua yaitu cakap silang jarak jauh atau Fear And Cross Talk (FEXT) dan cakap silang jarak dekat atau Near And Cross Talk (NEXT). a. Cakap Silang Dekat (NEXT) : Cakap silang dekat adalah gangguan yang terjadi diujung dekat karena adanya interferensi oleh sinyal pengirim terhadap penerima. Besarnya gangguan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: NEXT = 10 log Kn + 15 log f Dengan Kn adalah konstanta NEXT yang besarnya : Kn = 4
2

(CM.Zo/8 + LM/Zo)2 RB.CB

RA.CA + Dimana :

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

46

RA,RB : tahanan jerat dari saluran penggangu dan saluran terganggu. Zo : impedansi karakteristik saluran yang terganggu. CM, LM : kapasitansi kopling dan induktansi kopling antara saluran pengganggu dan salura terganggu.
b. Cakap Silang Jauh (FEXT) : FEXT terjadi jika interferensi yang disebabkan oleh sinyal pengirim disisi jauh penerima pada saluran lain. Besarnya FEXT ini dapat dihitung dengan persamaan rumus berikut : FEXT = 10 log Kf + 20 log f + 10 log l Dengan : l adalah panjang kabel dalam Km. Kf : konstanta dari FEXT yang besarnya dinyatakan dengan: Kf = 4
2

(CM.Zo/8 - LM/Zo)2 e2
w.PB.CB

RB : tahanan jerat dari saluran penggangu. CB : kapasitansi saluran penggangu. CM dan LM : kapasitansi kopel dan induktansi kopel antara saluran penggangu dan saluran terganggu. Zo : impedansi karakteristik saluran.

II.4.3 IMPEDANSI : Walaupun peran impedansi pada redaman tidak terlalu dominan, namun hal ini masih perlu dipertimbangkan mengingat titik sambungan dengan perbedaan impedansi yang besar akan menimbulkan gangguan. Pada titik sambung dengan perbedaan diameter, akan terjadi mismatch. Untuk transmisi suara keadaan mismatch masih belum berpengaruh mengingat redaman yang timbul kecil dan dapat diabaikan.

II.4.4 TAHANAN LOOP DC : Besarnya tahanan loop arus searah dari jaringan lokal berikut saluran penanggal pada switching sistem tidak boleh melebihi batas tertentu yang besarnya tergantung pada type sentral yang digunakan. Tabel dibawah ini
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

47

merupakan variasi batas tahanan loop untuk jaringan lokal, yang besarnya tergantung dari type sentral. TIPE SENTRAL TELEPON EWSD AT&T NEAX TAHANAN LOOP MAKSIMUM 1800 Ohm 1800 Ohm 1800 Ohm

3.2.1. Tahanan Isolasi Tahanan isolasi menunjukkan besarnya kebocoran listrik antara urat kabel yang diukur dengan tanah atau dengan urat kabel yang lain. Semakin besar nilai tahanan isolasi maka semakin kecil kebocoran listrik yang terjadi. Harga standar tahanan isolasi untuk kabel dalam haspel (belum ditanam dan diterminasi) adalah 10.000 M Ohm/km. Sedangkan untuk kabel yang sudah terpasang dan diterminasi harga minimumnya adalah 1000 M Ohm/km. Gambar 2.3 menunjukkan skema tahanan isolasi pada kabel tembaga.
a Rb b Rb Rb

Gambar 2.3. Tahanan Isolasi Pada Kabel Tembaga

3.2.2. Tahanan Saluran (Rloop) Ada beberapa hal yang mempengaruhi harga tahanan (resistansi) suatu saluran (penghantar), antara lain jenis bahan, luas penampang, dan panjang dari saluran (penghantar) tersebut. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

R
dimana :

l A
(2.1)

R = tahanan (Ohm) l = panjang saluran (meter) = tahanan jenis (untuk tembaga 0,0175) A = luas penampang kabel (mm2) Dari rumus di atas, harga tahanan saluran (R) suatu penghantar berbanding lurus dengan panjang saluran dan tahanan jenis, serta berbanding terbalik dengan luas penampangnya. Artinya semakin panjang suatu penghantar maka tahanan salurannya
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

48

semakin besar, dan jika luas penampangnya semakin besar maka tahanan salurannya akan semakin kecil. Harga standar tahanan saluran kabel tembaga tanpa loading coil adalah seperti pada tabel 2.1. Tabel 2.1. Harga Standar Tahanan Saluran Diameter Kabel 0,4 mm 0,6 mm 0,8 mm 0,9 mm 1,0 mm Tahanan Saluran 300 Ohm/km 130 Ohm/km 73 Ohm/km 58 Ohm/km 46 Ohm/km

Untuk saluran yang menggunakan loading coil, harga tahanan saluran pada tabel di atas masing-masing ditambah 4 Ohm. Besarnya tahanan loop arus searah dari jaringan lokal berikut saluran penanggal pada switching sistem tidak boleh melebihi batas tertentu yang besarnya tergantung pada type sentral yang digunakan. Tabel dibawah ini merupakan variasi batas tahanan loop untuk jaringan lokal, yang besarnya tergantung dari type sentral. TIPE SENTRAL TELEPON EWSD AT&T NEAX TAHANAN LOOP MAKSIMUM 1800 Ohm 1800 Ohm 1800 Ohm

3.2.3. Redaman Cakap Silang (Crosstalk Attenuation) Redaman cakap silang (crosstalk) adalah gangguan/interferensi pada suatu pair kabel ,yang timbul karena ada satu atau lebih pair kabel yang berada di dekatnya sedang dipakai. Hal ini umumnya disebabkan karena isolasi kabel yang kurang baik. Ada 2 macam redaman cakap silang (crosstalk), yaitu : FEXT (Far End Crosstalk) FEXT atau redaman cakap silang ujung jauh adalah redaman cakap silang yang terjadi karena sinyal pengganggu berasal dari arah seberang. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 2.4.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

49

Gambar 2.4. FEXT (Far End Crosstalk) NEXT (Near End Crosstalk) NEXT atau redaman cakap silang ujung dekat adalah redaman cakap silang yang terjadi karena sinyal pengganggu berada dekat dengan saluran. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 2.5.

Gambar 2.5. NEXT (Near End Crosstalk) 3.2.4. Redaman Saluran Redaman saluran pada kabel tembaga disebabkan karena konduktivitas yang tidak sempurna dan juga disebabkan oleh resistansi dielektrik yang berhingga (idealnya tak berhingga). Redaman saluran dapat diartikan sebagai kerugian daya yang terjadi dalam saluran yang nilainya merupakan hasil logaritma dari daya yang masuk saluran dibagi daya yang keluar saluran.
Vi Pi KABEL TEMBAGA Vo Po

Gambar 2.6. Redaman Saluran


Redaman Saluran 10 log Po (dB) Pi

(2.2)

atau bisa juga dirumuskan :


Redaman Saluran 20 log Vo (dB) Vi

(2.3)

Dirumuskan bahwa :
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

50

(2.4) Image attenuation loss adalah redaman yang terjadi karena sifat-sifat saluran, yang tergantung dari jenis bahan saluran. Harga Image attenuation adalah nilai redaman yang terukur pada saat pengukuran di lapangan. Nilai Image attenuation dapat dihitung dengan rumus : Image attenuation line loss k k 0,675 D -0,25 (2.5) Nilai k adalah faktor pengali yang besarnya tergantung pada jenis bahan dan diameter saluran yang digunakan. Sedangkan D adalah diameter saluran dalam satuan mm. Line loss adalah redaman yang disebabkan karena karakteristik besaran-besaran saluran. Untuk saluran tanpa loading coil nilai line loss dirumuskan :

Redaman saluran image attenuation loss

feeding current loss

Line loss 0,686


dimana :

Ro Co

(dB/km)

(2.6)

= 3,14 f = frekuens (Hz) Ro = tahanan loop (Ohm/km) Co = mutual kapasitansi (F/km)

Harga standar line loss dan image attenuation untuk kabel dengan beberapa ukuran diameter adalah seperti tabel di bawah ini. Tabel 2.2. Harga Standar Line Loss & Image Attenuation Tanpa LC (dB/km) Dengan LC (dB/km) Diameter Faktor Line Image Line Image (mm) k loss Attenuation loss Attenuation 0,4 1,1 1,686 1,855 1,26 1,386 0,6 1 1,11 1,11 0,56 0,56 0,8 0,93 0,873 0,811 0,34 0,216 1 0,87 0,66 0,575 0,21 0,183 FCL (Feeding current loss) adalah kerugian yang diakibatkan karena adanya tegangan catuan dari sentral. Besarnya FCL tergantung dari besarnya tegangan catuan sentral. Nilai FCL dapat dihitung dengan rumus : Rloop FCL(48V) 4,343 (dB) (2.7) 800 Rloop FCL(60V) 4 ,343 (dB) (2.8) 1000 Harga standar FCL adalah seperti pada tabel di bawah ini. Tabel 2.3. Harga Standar FCL Diameter Catuan STO 48 V Catuan STO 60 V (mm) 0,4 1,629 1,303 0,6 0,706 0,565 0,8 0,396 0,317 1 0,25 0,2
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

51

II.5

KONSTRUKSI DAN INSTALASI JARINGAN KABEL : Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai konstruksi serta instalasi Jaringan

Kabel yang pada garis besarnya meliputi dua jenis jaringan, yaitu : 1. Jaringan kabel atas tanah. 2. Jaringan kabel bawah tanah. Berikut akan coba diterangkan mengenai kedua jenis jaringan tersebut : a. b. c. d. Arti serta pentingnya masing-masing jaringan. Struktur masing-masing jaringan. Pemasangan masing-masing jaringan. Hal-hal lain yang masih berkaitan dengan jenis jaringan yang diterangkan.

1. Jaringan Kabel Atas Tanah : A. Arti serta pentingnya Jaringan Kabel Atas Tanah : Jaringan kabel atas tanah adalah jaringan kabel telekomunikasi yang dipasang diatas tanah atau di udara. Dari segi peranannya, Jaringan atas tanah ini sama saja dengan jaringan telekomunikasi lainnya yaitu sebagai media penyalur informasi telekomunikasi dari suatu tempat menuju tempat lain. Perlu diperhatikan bahwa supaya penyaluran informasi tidak terhalang atau dengan kata lain dapat sampai ditujuan dengan baik, maka jaringan tersebut harus lurus (sedapat mungkin terdapat sedikit belokan atau patahan).

B. Struktur Jaringan Atas Tanah : Membicarakan mengenai struktur jaringan, berarti membicarakan mengenai bentuk jaringan yang ada, bagian atau susunan yang membentuk jaringan tersebut. Secara garis besar, jaringan atas tanah dapat kita bedakan menjadi : 1. Kawat Terbuka (Open Wire) : Sesuai dengan namanya, jaringan ini terbuat dari bahan tembaga (Cu) atau besi (Fe) berdiameter sekitar 3 4 mm. Jaringan kawat terbuka Cu mempunyai beberapa kelebihan, antara lain : *. Daya hantar listriknya amat baik.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

52

*. Mudah pemasangannya. *. Mudah perbaikannya jika mengalami gangguan (putus). Jaringan kawat terbuka ini tidak mempunyai pembungkus (isolasi) sehingga akibatnya sangat mudah berkarat serta peka terhadap perubahan cuaca.

2. Kabel Udara : Kabel udara merupakan kabel telekomunikasi yang dipasang di udara terbuka yang merentang di antara tiang-tiang telepon penyangga. Kabel udara ini dapat dibedakan lagi menjadi beberapa jenis menurut ada tidaknya kawat penggantung : Kabel Udara dengan Penyangga Terpisah. Kabel jenis ini mempunyai kawat penggantung terbuat dari kawat baja/seng yang terpisah dari kabelnya sendiri. Kabel Udara yang Menyatu dengan Penyangganya. Pada kabel ini, kabel udara menyatu dengan kawat penyangganya atau penggantungnya (integral bearer aerial cable). Sementara itu, dilihat dari letak kawat penggantungnya maka kabel udara ini dapat dibedakan atas : Penggantung terpisah dari urat kabel namun urat kabel beserta kawat penggantungnya terbungkus bersama-sama dengan kulit kabel seperti membentuk angka 8. Penggantung melingkari urat/inti kabel . Sedangkan jika dilihat dari susunan urat kabelnya, kabel udara dapat pula dikelompokkan menjadi :

Tipe AEI (Agency Electrical Industry) : Susunan kabelnya berpasangan (pair) dan berlapis dua, kemudian dipilin menjadi satu sehingga membentuk pasangan (pair). Perhitungan uratnya dimulai dari lapisan paling luar menuju menuju ke inti kabel (dari luar ke dalam).
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

53

Ciri-ciri uratnya : - Isolasi urat a, untuk pasangan pertama tiap lapisan berwarna merah,

sedangkan untuk pasangan selanjutnya berwarna putih. Sehingga untuk setiap lapisan hanya ada satu buah urat yang isolasinya berwarna merah. - Isolasi urat b, berturut-turut berwarna biru kuning hijau coklat dan hitam. Kemudian seterusnya kembali ke warna biru. Tipe STEL (Spesifikasi PT TELKOM) : Kabel tipe ini dapat dibedakan menjadi atas : (1). Empat penghantar berosilasi dipilin bersama membentuk (quad) yang simetris dan utuh. (2). Lima quad, berurutan dari nomor 1 sampai dengan nomor 5 dipilin bersama membentuk satu satuan dasar atau satuan 10 pasangan yang utuh. Masing-masing satuan dasar ditandai dengan pengikat berwarna dengan tebal 0,05 mm dan lebar 3 mm yang dililitkan pada tiap-tiap satuan. Warna pita pengikat satuan dasar pada setiap lapisan diawali dengan warna merah, satuan berikutnya berwarna putih dan kuning secara bergantian. Bangun atau konstruksi kabel udara terlihat pada gambar berikut ini :
Kawat Cu

empatan

Urat kabel Pita pembungkus Pita pelilit inti kode warna Pelindung elektris

Kulit kabel

Bearer

Keterangan : (1) Urat kabel terdiri atas bahan penghantar yang terbuat dari bahan tembaga lunak hasil proses penguatan campuran (annealing) dan bahan isolasi sebagai pembungkus masing-masing penghantar diberi warna dan terbuat dari bahan komponen polietilen. (2) Pita pengikat satuan terbuat dari bahan polipropilin atau sejenisnya.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

54

(3)

Pita pembungkus inti sebagai pita non higroskopis yang terbuat dari bahan polipropilin atau sejenisnya berfungsi selain sebagai pembungkus inti kabel juga sebagai pencegah melelehnya osilasi pada proses pembuatan kulit kabel.

(4) (5)

Kawat tembaga berfungsi sebagai pertanahan (arde). Pelindung elektris berfungsi sebagai pelindung kabel dari kemungkinan induksi atau kelembaban.

(6)

Bearer terbuat dari pilinan kawat baja galvanisit serta mempunyai daya kuat tarik yang tinggi.

(7)

Kulit kabel berfungsi sebagai selubung inti kabel yang telah dilapisi pita pembungkus dan pelindung elektris. Sifat kelistrikan kabel : Ketentuan tahanan penghantar urat kabel seperti terlihat pada tabel berikut : Diameter Urat (mm) 0,6 0,8 1,0 Tahanan Maksimum (Suhu 20o C ) (Ohm/km) 65 36,5 23,4

Tahanan osilasi yang diukur antara masing-masing penghantar dengan lapisan aluminiumnya, tidak boleh kurang dari 10.000 M ohm/kmpada tegangan 500 Volt DC, sedangkan harga kapasitansi bersama dari setiap pasang yang diukur pada frekuensi 800 Hz tidak boleh melampaui 55 nF/km untuk diameter 0,6 0,8 mm dan 62 nF/km untuk diameter 1,0 mm.

C. Pemasangan Saluran Open Wire : Beberapa istilah digunakan untuk perhitungan yang terdapat pada pemasangan Open Wire : Daya panggul (DP) : merupakan daya terbesar yang bisa diberikan pada kawat sebelum putus atau tenaga terbesar yang dapat ditarik oleh kawat tersebut. Besar daya panggul untuk masing-masing kawat berlainan, tergantung dari jenis logam yang digunakan. Perhatikan tabel berikut :
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

55

Jenis kawat Fe Cu Br Cw Baja

DP mm (kg/mm2) 40 44 70 63 66

2. Kuat Tegangan (S) dan Koefisien Pasti (KP) : Koefisien pasti merupakan harga perbandingan antara Daya Panggul (DP) dengan Kuat Tegangan (S) kuat tegangan adalah kekuatan rentang kawat yang terpasanga pada tiang. Besarnya kuat tegangan ini lebih kecil dari besarnya daya panggul (S<DP). Rumus dari Koefisien Pasti (KP) adalah :

KP = DP S 3. Berat Kawat (G) : untuk menentukan besarnya Berat Kawat ini tergantung dari Berat jenis (BJ) kawat yang digunakan. BJ Fe = 7,7 dan BJ Cu = 8,9.

Mencari harga berat kawat digunakan rumus : G = Volume x Berat Jenis G= x R2 x L x BJ (kg) = 3,14

4.

Lentur Kawat (P) : merupakan selisih antara garis lurus tiang satu dengan tiang yang lainnya, dengan ketinggian terendah kawat.

D. Penarikan Kabel Udara : Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses penarikan kabel udara antara lain adalah : 1. Persiapan penarikan kabel.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

56

2. Perentangan dan penarikan kabel. 3. Pengencangan tarikan kabel. 4. Membuat tambatan akhir, dimana pada proses ini terdapat suatu proses yang dikenal dengan sebutan Pemiuhan Kabel yaitu proses pemutaran kabel guna mencegah goyangan kabel yang terlalu keras akibat hembusan angin. Untuk penampang kabel sampai dengan 30 mm, jarak pemiuhan satu dengan yang lain kira-kira 10 m, sedangkan untuk penampang kabel yang lebih dari 30 mm, penentuan panjang dan jumlah pemiuhan digunakan rumus : N=S P dimana P = 350 x A

Dimana : P : 350 x A ....Panjang belitan (cm) S : Panjang gawang (m) A : Penampang kabel (cm)

N : Jumlah belitan (puliran)

5. Lenturan Kabel.

JARINGAN KABEL BAWAH TANAH : A. Arti serta pentingnya Jaringan Kabel Bawah Tanah : Jaringan bawah tanah adalah jaringan kabel yang dipasang dengan cara menanamnya di bawah permukaan tanah. Penanaman jaringan bawah tanah ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : a. b. c. Menanam kabel langsung ke dalam tanah (Direct Burrier Cable); Memasukkan kabel ke dalam pipa kemudian ditanam langsung di dalam tanah; Menanam kabel dengan pipa duct (Duct Cable).

B. Struktur Jaringan Bawah Tanah : Kabel tanah biasanya berupa jenis kabel berpasangan banyak (Multipairs). Berdasarkan cara pemasangannya, kabel tanah dibedakan atas Kabel tanah tanam langsung dan kabel tanah bukan tanam langsung. 1. Konstruksi kabel tanah
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

57

Kabel tanah tanam langsung terdiri atas beberapa lapis yang masing-masing mempunyai fungsi tersendiri seperti yang terlihat pada gambar berikut :

Kulit luar kabel

Kulit dalam kabel

Pembungkus Inti kabel Urat kabel

Armoring

Lapisan Aluminium Foil

Pita pelilit kode warna

a. b.

Urat kabel berfungsi sebagai penghantar arus listrik yang berisi informasi. Pita pelilit kode warna berfungsi mempermudah penghitungan serta penyambungan urat kabel yang ada.

c.

Pembungkus inti kabel berfungsi sebagai pelindung urat kabel dengan lapisan aluminium.

d.

Lapisan aluminium foil berfungsi melindungi kabel dari induksi listrik luar.

a. b.

Kulit dalam kabel mencegah masuknya air ke dalam kabel. Armoring berfungsi sebagai pelindung mekanis terhadap benturan ataupun benda keras.

c.

Kulit luar kabel sama fungsinya dengan kulit dalam kabel.

Seperti halnya kabel tanah tanam langsung, kabel Duct juga mempunyai konstruksi yang berlapis-lapis, seperti terlihat pada gambar berikut :

2. Bahan Pembuat Kabel Bahan-bahan pembuat kabel tanah agar kabel tahan terhadap gangguan mekanis maupun elektrik terdiri atas :

oo oo

Urat kabel terbuat dari tembaga lunak hasil proses annealing (penguatan melalui pemanasan dan isolasinya terbuat dari bahan polietilen berwarna.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

58

Petrojeli, diisikan ke sela-sela inti kabel agar tidak mudah kemasukan air ataupun udara. Pita pembungkus inti terbuat dari bahan kertas, kain katun dan PE (plastik transparan) atau bahan lain. Pelindung elektris terbuat dari aluminium setebal 0,2 mmberlapis polietilen di kedua sisinya. Selubung dalam terbuat dari bahan kompon polietilen yang memenuhi persyaratan teknis. Pelindung mekanis terbuat dari pita/kawat baja yang digalvanisir. Pelindung luar terbuat dari bahan kompon polietilen yang memenuhi persyaratan teknis berwarna hitam.

3. Pemasangan Kabel Tanam Langsung : Berdasarkan tempat pemasangannya, kabel tanah tanam langsung dapat dipasang di : a. Tepi jalan atau dekat trotoar.
40 cm

Untuk pemasangan di tempat ini dapat dibedakan jenis kabel yang dipasang apakah kabel priner atau sekunder, yang mana lebar atas lubang galian untuk pemasangan kabel
10 cm 30 cm 50/100 cm 20 cm

Permukaan tanah Batu koral Tanah urug dipadatkan Deksten Pasir Kabel

primer adalah 40 cm dan lebar bawahnya 30 cm.

sedangkan kedalamannya adalah 80 cm. Untuk pemasangan kabel sekunder hanya berbeda pada kedalaman galian yaitu 60 cm

b. Menyeberang jalan raya.


Untuk penanaman kabel yang menyeberang jalan raya kabel harus terlebih dahulu
20 cm 10 cm 40 cm Permukaan tanah Batu koral Pasir Tanah urug

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga dimasukkan ke dalam pipa PVC 50/80 cm dipadatkan SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH Pipa berdiameter 10 cm dan By Heri Susanto tebal

59

5,5 mm, kedalam galian sekitar 100 cm. Berikut adalah gambar panggalian kabel yang

20 cm

oo

Pasir Kabel

30 cm

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

60

4. Pemasangan dan Penarikan Kabel Duct : Kabel duct merupakan salah satu cara penanaman kabel bawah tanah dengan cara memasukkan kabel terlebih dahulu ke dalam pipa duct kemudian pipa berisi kabel ini dicor dengan beton. Dalam pembetonan duct ini terdapat dua cara atau metode, yaitu yang dikenal dengan :

Pembetonan Standar atau Metode A :


Pada pembetonan standar ini, satu susunan pipa yang biasanya disebut dengan modul, dicor dengan beton yang selanjutnya modulmodul tersebut dipisahkan dengan beton secara beton, seperti terlihat pada gambar berikut

Cara pembetonan standar ini paling banyak digunakan untuk pembetonan pipa duct. Beberapa persyaratan dalam pembuatan duct model standar ini antara lain : 1) Susunan Pipa Duct : Susunan pipa duct pada pembetonan standar berbentuk tipis sehingga dapat dipasang pada lokasi yang sempit dan masih memungkinkan untuk penambahan pipa lain selain pipa lama. 2) Lebar dan kedalaman galian : Lebar jalur galian tergantung dari jumlah modul yang akan ditanam secara horisontal Pembetonan Berlapis atau Metode B : Pada metode ini setiap pipa duct dicor atau dilapis seluruhnya dengan cor beton, seperti terlihat pada gambar berikut : Metode B ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan metode A antara lain : 1) 2) Dapat dilakukan pada daerah yang tanahnya labil atau batu karang. Dapat dilakukan bagi daerah yang tidak mungkin digunakan pengecoran sekaligus dalam jumlah banyak. 3) Dapat dilakukan di daerah-daerah yang alur penggaliannya pendek.

Lebar dan dalam alur galian tergantung pada susunan pipa duct yang akan ditanam. Kedalaman alur penggalian (D) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :

D = Jumlah pipa duct vertikal x 15 + 80 cm

II.6 TEKNIK PENYAMBUNGAN KABEL :

1. SARANA, MATERIAL DAN ALAT PENYAMBUNGAN KABEL : Dalam pelaksanaan penyambungan kabel dikenal dua macam sarana sambung kabel (SSK) yang banyak digunakan dewasa ini. SSK merupakan suatu kumpulan material yang digunakan untuk menyambung kabel. Kedua macam SSK tersebut adalah :

A. Sarana Sambung Kabel (SSK) Mekanik : SSK mekanik adalah sarana sambung kabel yang cara pemasangannya dilakukan secara mekanis. Misalnya, kuncinya pas, pengencang sabuk baja, dan sebagainya tanpa menggunakan proses pemanasan/api. Sarana sambung kabel yang termasuk dalam kelompok ini adalah UC (Universal Closures), seperti UC 35, UC 46, UC 69, dan sebagainya. Angka pertama pada kode UC menunjukkan panjang ruang sambung, dan angka kedua = diameter selongsong sambung (mof). Sarana sambung kabel lainnya yang terkenal adalah VASK.

B. Sarana Sambung Kabel (SSK) Panas Kerut : SSK Panas Kerut merupakan SSK yang pemasangannya menggunakan proses pemanasan atau pengapian. Sarana sambung yang termasuk dalam kelompok ini adalah XAGA 25543/8-300; XAGA 255-62/22-600, dan ALSS. Material semua tipe Sarana Sambung Kabel (SSK), baik kelompok SSK mekanik maupun yang panas kerut mempunyai material pokok yang terdiri atas : 1) Connector, yang berfungsi sebagai penyambung urat kabel; 2) Klem arde, dan penghubung klem arde; berfungsi untuk menyambungkan pelindung elektris kabel; 3) Penutup sambungan, berfungsi untuk mengembalikan kekuatan fisik sambungan (pelindung mekanik); 4) Bahan pengisi dan sekat-sekat, berfungsi untuk menjamin penutup sambungan agar kedap terhadap air atau lembab udara.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

62

Bila kita tinjau dari bentuknya maka suatu konektor yang digunakan untuk menyambungkan urat kabel maka macam konektor dapat dibedakan atas : 1) Konektor Selongsong Kertas (Lashules) : Macam konektor ini digunakan untuk menyambungkan urat kabel isolasi kertas atau kabel kertas. Selongsong kertas inipun terdiri atas berbagai jenis, sesuai dengan diameter urat kabel yang disambungkannya. Penyambungannya menggunakan sistem lilit solder. 2) Konektor selongsong PE : Konektor ini digunakan untuk penyambungan urat kabel isolasi PE (polietilen). Cara penyambungannya sama dengan selongsong kertas dengan sistem lilit solder. 3) B-Wire Connector : Konektor ini dalam penyambungannya menggunakan alat khusus yang disebut dengan B-Wire CrimpingTool. 4) AMP Connector : Konektor jenis AMP ini penyambungannya menggunakan alat khusus yang disebut AMP crimping tool. 5) 3 M Connector : Konektor 3 M ini penyambungannya juga menggunakan alat khusus , yaitu 3M crimping tool, tetapi bila alat ini tidak ada kita bisa menggunakan kombinasi tang. Penyambungan kabel tanah tanam langsung berisolasi PE biasanya menggunakan sarana sambung XAGA 225 (Raychem), Untuk memilih tipe XAGA yang sesuai peru diketahui lebih dulu diameter terkecil dari kabel yang akan disambung. Material dan Peralatan Penyambungan Kabel :

Material yang Dibutuhkan Selongsong UC 6-9 Clamping bar Clamping band Penutup ujung (end cap) Clamping band untuk end-cap Ground bar/plat Perforated Grounding Strap Klem Pengardean Sealing tape Sealing cord Sealing Pasta Kertas Biru/abu-abu

Peralatan yang Digunakan Gergaji Besi Kombinasi tang & knip tang Crimping tool Pisau bengkok Obeng dan palu Pita Ukur Scrapper Koper tool berisi : Pengukur kekencangan Pita ukur khusus Drilling tool (alat pelubang mof) Tensioning tool (sabuk pengencang
63

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Kertas keras coklat Konektor Benang katun Plasting Transparan PVC tape

Pembelah kulit kabel Pelubang kulit kabel Kunci pas 10 Gunting Pembuka mof

Contoh : Penyambungan kabel dengan SSK panas kerut Peralatan yang digunakan dalam penyambungan yang menggunakan XAGA 225 ini : NAMA PERALATAN Gergaji Besi Kombinasi tang Krup tang Pisau Bengkok Obeng Pita ukur NAMA PERALATAN Scrapper Crimping tool Palu Gunting Kompor gas Alat pengupas kabel

2. PROSEDUR/ TATA CARA PENYAMBUNGAN KABEL : A. Prosedur Dengan SSK Mekanik : 1. Penyambungan Kabel Tanam Langsung Berisolasi PE dengan UC : Langkah-langkah : 1) Persiapan Penyambungan : Memasang tenda untuk menjaga dari panas dan hujan, membuat lubang dengan panjang ; lebar ; dalam adalah 1,5 ; 1,5 ; 1 dalam satuan m, mengatur panjang kabel yang akan dipakai, dan memasang pancang pada keua sisi ujung. 2) Pengupasan Kabel : Kedua ujung yang akan disambung dibersihkan sepanjang 1 m dan tandai kedua ujung tersebut. Balut ujung kabel antar kupasan dengan sealing tape satu lapis dan PVC tape. Pengupasan kulit dalam kabel dilakukan sekaligus dengan lapisan aluminium serta sisakan 10 cm dari kupasan ujung kulit luar kabel. 3) Pemasangan Klem Arde : Kulit dalam kabel dibelah dengan lebar 2 cm dan dalam max 3,5 cm. Kertas karton abu-abu/biru dimasukkan pada lubang yang telah dibuat. Pasanag klem arde pada lubang kulit tersebut lalu dibalut dengan PVC tape supaya kembali. Pasang klem arde kuning di atas kulit dalam kabel tadi dan kencangkan murnya sampai rapat.

4) Penyambungan Urat Kabel :


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

64

Kedua ujung mulai dipertemukan. Atur jarak kupasan antar antar kulit dalam masingmasing dengan memasang klem arde. Ikat kedua ujung kabel pada pancang sehingga posisi tetap. Lalu lepas lagi klem ardenya agar mudah menyambungnya. Bahan penyambungan bebas dan usahakan agar tidak membesar dan diikat dengan benang, lalu letakkan zat desicant dan balut dengan plastik transparan. Ardenya dipasang kembali. 5) Melubangi Mof UC 3-5 : Pasang mata bor dan lubangi pada kulit kabel dalam yang telah diukur tepat pada tanda UC 3-5 yang terdapat pada drilling tool. 6) Pemasangan MOF pada Sambungan Kabel : Oleskan sealing pasta pada kulit dalam yang akan ditutup mof UC. Pasang sealing tape satu lapis dan sealing cord pada mof. Pasang MOF pada sambungan dan juga sabuk pengencang di tengah-tengah dengan alat yang tersedia seperlunya serta balut sabung pengencang dengan PVC tape. 7) Penanaman Sambungan Kabel : Letakkan sambungan kabel pada galian secara perlahan dan tutupi dengan pasir atau tanah lunak serta lindungi dengan batu di atasnya. 8) Cara Membuka Sambungan Kabel (untuk Perbaikan) : Buka PVC tape dan lepas sabuk pengencangnya. Setelah itu buka MOFnya dan lakukan perbaikan. Setelah selesai, balikkan kesemula.

2. Penyambungan Kabel Tanam Langsung Isolasi PE dengan UC 4-6 : Sebenarnya langkah-langkah yang akan dilakukan sama saja dengan yang telah diterapkan pada penyambungan yang memakai UC 3-5. Namun, disini kemungkinan adanya penyambungan kabel bercabang. Akibatnya, setelah pemasangan MOF, terlihat titik sambungan kabel yang membesar. Demikian pula dengan cara penanaman dan langkah-langkah prosedur lainnya sama saja dengan pekerjaan penyambungan yang menggunakan UC 3-5

3. Penyambungan Duct Kabel dengan UC 6-9 : Langkah-langkah : 1) Persiapan Penyambungan. 2) Pengupasan Kulit Kabel. 3) Melubangi End Cap dari MOF UC. 4) Pemasangan End Cap pada Ujung Kulit Kabel. 5) Penyambungan Urat Kabel.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

65

6) Pemasangan Selongsong Penutup UC. 7) Penempatan Kabel. 8) Cara Membuka Kembali Sambungan.

4. Penyambungan Kabel Tanam Langsung Isolasi PE dengan MOF-VASK 50/2 : Langkah langkah : 1) Pengupasan Kulit Kabel. 2) Melubangi Ring Sekat. 3) Pemasangan Klem Arde. 4) Penyambungan Urat Kabel. 5) Penutupan MOF VASK 50/2. 6) Penanaman Sambungan Kabel.

5. Penyambungan KTL Isolasi PE dengan MOF-VASK 100/2 Sambungan kabel tanam langsung dengan MOF VASK diperuntukkan bagi sambungan cabang dengan kapasitas sambung kabel diameter 0,4 = 150 pair, diameter 0,6 mm = 100 pair, dan diameter 0,8 = 80 pair. Langkah-langkah penyambungan yang harus dilakukan sama dengan langkah yang ditempuh pada penggunaan mof VASK 50/2, kecuali jarak sambungan yang terbuka antar klem arde di sini haruslah 15,45 cm. Sedangkan pada mof VASK 50/2 jarak tersebut cukup hanya 14,85 cm.

B. Prosedur Dengan SSK Panas Kerut : 1. Penyambungan Kabel Tanam Langsung Isolasi PE dengan MenggunakanXAGA 225 Buatan RAYCHEM : Langkah langkah : 1) Pemasanagan Continuity Wire 2) Penyambungan Urat Kabel 3) Pembalutan Sambungan Urat-Urat Kabel 4) Pemasangan Tabung Aluminium 5) Pemasangan Selongsong XAGA 6) Penanaman Sambungan Kabel yang Menggunakan XAGA

2. Penyambungan Kabel Duct dengan ALSS : Langkah langkah : 1) Persiapan Penyambungan 2) Membuat ALSS dan Selongsong Mangkok 3) Pengupasan Kulit Kabel
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

66

4) Penyambungan Urat Kabel 5) Pemasangan MLS (Main Lead Sleeve) 6) Pemasanagn Selongsong ALSS (Kerut) 7) Penempatan Kabel

3. TERMINASI KABEL : Terminasi Kabel merupakan penyambungan (koneksi) beberapa bagian jaringan kabel, seperti kabel primer, sekunder, saluran penanggal, dan saluran rumah sehingga terbentuk satu sistem jaringan kabel untuk penyaluran jasa telekomunikasi. Namun, sebelum kita membicarakan terminasi, lebih dulu perlu diketahui beberapa istilah yang erat kaitannya dengan terminasi tersebut, yaitu : Terminal, adalah bahan konduktor tempat menyambungkan kabel yang masuk dan keluar; Penggenggam terminal adalah bahan isolator listrik yang berfungsi untuk menggenggam terminal dalam membentuk satuan kapasitas dasar; Blok terminal, adalah terminal yang sudah tersusun pada penggenggam dan membentuk satuan kapasitas.

A. Terminasi Pada RPU (Rangka Pembagi Utama) : Seperti sudah kita ketahui bahwa RPU merupakan tempat penyambungan atau jumpering kabel dari sentral telepon dengan kabel luar. Penyambungan tersebut dilakukan dengan cara terminasi. Tempat pemasangan terminasi dilakukan pada blok terminal 100 pair di bagian stroke vertikal RPU dimaksud. Peralatan yang digunakan untuk menterminasi ini : NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Meter Pengupas urat kabel Pengupas selubung PE Obeng Kniptang Kombinasi tang Tangkai gergaji besi Mata gergaji Alat tekan sisip Kunci pas/Inggris NAMA MATERIAL JUMLAH (bh) 1 bh 2 bh 1 bh 2 bh 2 bh 1 bh 1 bh 2 bh 1 set 1 set

Material yang digunakan dalam menterminasi :


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

67

NO 1. 2. 3. Benang Pita isolasi plastik

NAMA MATERIAL

JUMLAH 2 bh

Jepitan untuk menyambung selubung pelindung dengan kawat tanah

4.

Minyak tanah

B. Terminasi Pada RK (Rumah Kabel) : Tempat pemasangan terminasi di RK ini bisa dibedakan atas 2 macam, yaitu pada terminal blok dengan kabel ekor dan pada terminal langsung. Pemasangan pada terminal pada dasarnya dikerjakan di pabrik tempat terminal itu dibuat. Sedangkan pemasangan pada terminal langsung, pemasangan kabel pada terminal blok dilakukan di tempat RK didirikan. Peralatan yang diperlukan dalam terminasi pada RK inin sama dengan pada terminasi RPU, cuma insertion tool (alat tekan sisip) pada RPU diganti dengan kompor solder dan alat solder bakar. Demikian pula material yang dipakai sama dengan yang dibutuhkan oleh terminasi RPU. Pekerjaan Terminasi pada RK : 1) Pengikatan bundel pasangan urat kabel, sama dengan pada terminasi RPU; 2) Setelah pengikatan bundel pasangan urat kabel, masukkan kabel ke dalam terminal, dengan cara membuka terminal blok bagian belakang, kemudian selubung PE kabel yang sudah dikupas dimasukkan ke dalam blok terminal melalui lubang masuk yang ada di bagian bawah terminal tersebut; 3) Penyusunan pasangan urat kabel, sama dengan yang dilakukan pada terminasi RPU; 4) Pengaturan pasangan urat kabel untuk diterminasi. Agar pasangan urat kabel dapat rapi diterminasikan pada terminal blok, diatur dulu pada papan cetak dari kayu. Setelah pengaturan pasangan urat kabel pada papan cetak selesai, kemudian diikat kencang dengan benang supaya rapi; 5) Penyambungan kawat tanah, sama seperti yang dilakukan pada terminasi RPU; 6) Penyolderan urat kabel pada terminasi. Caranya adalah pasangan urat kabel yang telah dibentuk dipindahkan dari papan cetak ke terminal blok. Kemudian urat-urat kabel dipotong dengan kniptang untuk disesuaikan dengan letak terminal, dikupas selubung isolasinya dan disolder pada terminal yang sudah ditentukan. 7) Penyolderan dimulai dari atas ke bawah, agar sisa solder yang jatuh tidak menyangkut pada urat-urat kabel yang sudah terpasang. Sebab bila menyangkut dapat menimbulkan gangguan;
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

68

8) Pembungkusan bundel pasangan urat kabel dengan pita plastik. Setelah pekerjaan penyolderan selesai, diteliti urutan pasangan urat dan diukur tahanan isolasinya. Bila hasil baik maka bundel pasangan urat tersebut dililit atau dibungkus dengan pita isolasi plastik, sedangkan kawat tanahnya dipasang pada klem yang disediakan. 9) Penutupan Blok Terminal. Selesai pekerjaan terminasi masih perlu diteliti kembali penyolderan urat kabel pada terminasi satu demi satu. Setelah pekerjaan terminasi diyakini benar dan baik maka bagian belakang blok terminal dapat ditutup kembali; 10) Pemasangan blok terminal pada rangka besi di dalam RK. 11) Sebelum blok terminal dipasang pada rangka besi, kabel perlu diatur dan ditarik ke bawah dari lubang pondasi RK; Setelah kabel lurus dan posisi blok terminal sudah tepat pada rangka besi maka terminal blok dipasang dengan baut satu di bagian atas dan satu lagi di bagian bawah; Agar kedudukan blok terminal lebih kuat, bagian bawah dimasukkan kedalam mangkok plastik; Tugas selanjutnya adalah pemasangan cincin untuk kawat sambung pada tempat-tempat yang telah ditentukan; Pentanahan. Pada suatu RK diharuskan adanya kawat pentanahan. Kawat tanah dengan tahanan tidak lebih dari 3 , diterminasikan pada rangka di RK.

Sedangkan kawat tanah yang digunakan adalah tembaga berdiameter 7 x 0,7 mm; Penyambungan kawat tanah dengan rangka/batang tembaga di RK harus menggunakan sepatu kapal;

C. Terminasi Pada KP (Kotak Pembagi) : Pelaksanaan terminasi pada kotak pembagi ini menggunakan peralatan yang jenisnya sama dengan yang digunakan dalam terminasi RK. Demikian juga materialnya sama ditambah kawat solder. Kotak pembagi merupakan salah satu bentuk titik pembagi atas tanah yang dipasang pada tiang telepon atau dinding bangunan rumah/gedung. Jenis titik pembagi dibedakan atas Titik Pembagi Atas Tanah (TPAT) dan Titik Pembagi Bawah Tanah (TPBT).

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

69

II.7 KONFIGURASI JARLOKAT TIDAK MURNI Seiring dengan lajunya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan masyarakat akan jasa telekomunikasi semakin bertambah dengan cepat, demikian pula perkembangan teknologi telekomunikasi menuju multimedia yang secara definitif dapat diterjemahkan sebagai satu kesatuan atau integrasi suara, data dan gambar yang membutuhkan badwidth yang lebar, penyenggara jasa telekomunikasi semakin dituntut untuk mampu menyediakan komunikasi berkualitas tinggi agar dapat menjawab kebutuhan tersebut karena jaringan kabel tembaga yang ada mempunyai keterbatasan untuk mendukung layanan-layanan baru tersebut, penggantian seluruh jaringan lokal tembaga serentak tentunya membutuhkan investasi yang sangat besar oleh karena itu diperlukan suatu injeksi teknologi untuk meningkatkan kinerja kabel tembaga dalam mengirimkan sinyal informasi Teknologi Digital Pair Gain (xDSL) menjadi suatu teknolgi alternatif untuk

menanggulangi masalah tersebut diatas ke dalam era information super higway. Sistem xDSL menjanjikan laju data 160 (IDSL) sampai 6 Mbps (ADSL) bahkan sampai 52 Mbps (VDSL). Namun tanpa memperhatikan layanan yang ditawarkan, unjuk kerja xDSL terbatas dan tergantung pada parameter elektris kjaringa kabel tembaga (tahanan saluran, tahanan isolasi, redaman saluran antara sentral telepon sampai ke terminal pelanggan). Jaringan eksisting yang digunakan sekarang pada dasarnya bekerja pada frekuensi 0 4 khz dan dalam pembangunannya tidak diperhitungkan akan menggunakan lebar pita yang melebihi 4 khz, padahal dengan teknologi xDSL diperlukan lebar pita sekitar 1 Mbps sehingga perlu diperhitungkan masalah interferensi saluran dalam satu quad atau satu unit kabel yang dapat menurunkan kualitas pelayanan, selain itu kapasitansi dan induktansi reaktif akan lebih kelihatan pada frekuensi tersebut. Perlu diperhitungkan jarak antara sentral ke pelanggan karena teknologi xDSL mempunyai keterbatasan jarak, misalnya ADSL dengan menggunakan kabel diamater 0,6 mm hanya mampu mengirimkan data kurang dari 3,6 km dan 4,5 km untuk HDSL.

Digital Pair Gain Sistem digital pair gain atau sistem pengganda saluran digital merupakan suatu sistem pengganda saluran yang mampu menyediakan lebih dari satu hubungan telepon secara bersamaan dan saling independen dengan hanya melalui sepasang kawat saluran telepon. Dengan sistem ini maka jumlah sambungan telepon dapat ditingkatkan yang berarti akan dapat menambah saluran pelanggan baru dengan waktu yang singkat dan dalam jangkauan yang cukup ekonomis dengan menggunakan infrastruktur jaringan yang ada. Dalam penyaluran informasi pengganda saluran digital ini menggunakan sistem transmisi digital atau teknologi transmisi ISDN dengan bit rate 160 kbit/s dan pengkodean
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

70

sinyal pada jalur transmisi dengan menggunakan kode saluran 2BIQ(dua binary satu quartener). Dengan menggunakan teknologi transmisi digital ini akan dapat menghasilkan performansi yang optimum dengan jarak yang maksimum dan sekaligus membuat sistem kebal terhadap efek interferensi. Secara umum perangkat pengganda saluran digital dapat digambarkan sebagai berikut :

saluran 1

saluran n

A/D Conver ter

MultiLine plexer System

saluran lokal

Line System

Multiplexer

saluran 1 A/D Conver ter saluran n

Gbr. Diagram blok Digital Pair Gain System Secara Umum Keterangan gambar : Analog to digital (A/D) Convereter berfungsi untuk mengubah sinyal suara dalam bentuk sinyal digital dalam bentuk bit dengan bit rate 64 kbit/s. Sedangkan Multiplexer berfungsi untuk menggabungkan beberapa kanal telepon yang sudah dalam format digital(64 kbit/s), ditambah 16 kbit/s untuk signaling dan 16 kbit/s untuk sinkronisasi antar perangkat menjadi satu kanal digital dengan kecepatan pengiriman bit informasi 160 kbit/s. Line system berfungsi untuk memproses kanal digital hasil multiplexing ke dalam bentuk kode saluran 2B1Q agar dapat ditransmisikan pada saluran yang digunakan.

Pada system tersebut diatas, akan didapatkan sistem pengganda saluran digital (Digital Pair Gain System) dua kanal, dengan faktor penggandaan dua kali. Bentuk diagram blok suatu pengganda saluran digital dua kanal (Digital Pair Gain 2-Kanal) dapat digambarkan sebagai berikut [ERC-94]:
EXCHANGE
SPC - PCM or Step by Step or Cross Bar System

EXCHANGE UNIT saluran kabel lokal

REMOTE UNIT

a1,b1

a1,b1

EU

a, b

RU
a2,b2

Feeding Voltage a2,b2 40 - 60 V Ringing Voltage 40 - 130 V

71

Gbr. Diagram Prinsip Digital Pair Gain Dua Saluran

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Perangkat pengganda saluran digital (Digital Pair Gain System) ini terdiri dari exchange unit (EU) yang diinstalasi pada subrack(Type BGTR) yang ditempatkan bersebelahan dengan perangkat switching (Umumnya Dibagian MDF), sedangkan bagian remote unit (RU) di instalasi pada sisi pelanggan(Umumnya Pada Sisi DP). Pada sistem pengganda saluran digital dua kanal, EU dihubungkan dengan kedua saluran pelanggan pada sentral melalui sepasang saluran pelanggan pada sentral melalui saluran dua kawat, sinyal pembicaraan pada kedua kanal pelanggan dikonversi menjadi 64 kbit/s oleh CODEC, selanjutnya melalui kanal B (berisi Bit-bit Data) dan kanal D (Bit-bit pensiyalan) sinyal ini ditransmisikan ke RU dalam bentuk kode saluran 2B1Q melalui saluran sepasang dua kawat dengan diameter 0,6 mm. Pada sisi pelanggan bagian RU ini dihubungkan dengan jalur digital pada UInterface, kanal-kanal digital (2B dan D) dikonversi menjadi pembicaraan analog dan sinyal kontrol sentral (Ringging, Charging) dan ditransmisikan pada kedua interface saluran pelanggan. Dimana pada sisi RU sinyal analog ini dihubungkan ke pelanggan melalui saluran dua kawat (Diameter 0,6 mm). Untuk arah sebaliknya pada sisi RU baik sinyal pembicaraan maupun signaling pada saluran akan disampling dan ditransmisikan ke EU melalui kanal B dan kanal D dalam format kode saluran 2B1Q. Yang selanjutnya pada sisi EU sinyal ini dikonversi menjadi sinyal analog dan ditransmisikan ke sentral lokal. Kecepatan transmisi total antara EU dan RU(Jalur Digital) adalah 160 kbit/s yaitu untuk membawa dua kanal B(64 kbit/s) + satu kanal D(16 kbit/s) + satu kanal M(16 kbit/s). Feature-feature yang disediakan sistem pengganda saluran digital ini antara lain : Penggandaan pemakaian saluran telepon. Dapat melayani dua pelanggan secara independen dengan menggunakan saluran dua kawat. Dapat dipakai untuk pelayanan tambahan selain pelayanan suara misalnya faximile, komunikasi data dan lain-lain. Solusi yang efisien dan ekonomis untuk mengatasi masalah percepatan pemasaran. Dan dengan beberapa ciri-ciri sebagai berikut : 1. Sangat efisien dan sebagai solusi ekonomis. 2. Menggunakan teknologi transmisi digital(ISDN). 3. Memberi cadangan pada penambahan saluran telepon. 4. Reaksi cepat atas pemberian layanan. 5. Menambah pendapatan operator telekomunikasi 6. Memberi fleksibilitas dari akses pelanggan. 7. Menambah pendapatan operator telekomunuikasi.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

72

8. Memiliki catuan saluran sendiri.

Konfigurasi Jaringan Pair Gain Pendistribusian sinyal informasi pada sistem pengganda saluran digital melalui jaringan kabel multipair dari jaringan kabel telepon lokal existing bertujuan untuk memanfaatkan jaringan distribusi telepon sebagai media transmisi pengganda saluran digital agar tuntutan masyarakat akan kebutuhan pelayanan jasa telepon dapat dipenuhi khususnya pada lokasi yang jaringan lokalnya sudah habis. Konfigurasi dari jaringan pengganda saluran digital melalui jaringan kabel multi pair sebagai jaringan distribusi telepon dilakukan tanpa mengubah struktur jaringan yang sudah ada atau jaringan existing tersebut. Oleh karena itu jaringan pengganda saluran digital memiliki konfigurasi jaringan yang sama dengan jaringan distribusi telepon seperti terlihat pada gambar berikut :

Jaringan CatuExchange Unit Langsung

DP KP

SP

DSL (Digital Subscriber Line) KP MDF sentral Jaringan Catu Exchange Unit Tidak Langsung KS

Remote Unit

RK

DP

SP

Gbr. Konfigurasi Umum Jaringan Pengganda Saluran Digital

Keterangan : MDF : Main Distribution Frame DP KS : Distribution Point : Kabel Sekunder RK : Rumah Kabel KP : Kabel Primer SP : Saluran Penanggal

2. ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) : Asymmetric Digital Subscriber Line adalah teknologi yang memungkinkan akses komunikasi data kecepatan tinggi (dalam layanan mutimedia) melalui saluran tembaga terpilin (twisted pair) yang sudah ada. Asymmetric Digital Subscriber Line emnyalurkan data secara asimetris maksudnya adalah kecepatan transmisi data up stream dan down stream tidak sama. Aliran down stream adalah aliran data kearah jaringan. ADSL mempunyai kecepatan down straem 6 Mbps yang jauh lebih besar dari pada up stream (sekitar 640 kbps). Dengan ADSL maka terjadi pembesaran kapasitas akses dengan faktor lebih dari 50 kali pembesaran tanpa perlu penambahan kabel baru.r
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

73

Sirkit ADSL akan saling

menghubungkan setiap ujung modem ADSL pada

saluran telepon biasa dan menciptakan tiga kanal informasi yaitu down stream kecepatan tinggi, duplex kecepatan menengah dan sebuah kanal POTS. Kanal POTS dipisahkan oleh modem dijital dengan filter untuk menjamin uninterupted, walaupun ADSL mengalami kegagalan operasi. Kanal kecepatan tinggi mempunyai rentang dari 1,5 sampai 6,1 Mbps, sedangkan kanal duplexs mempunyai rentang dari 16 sampai 640 kbps. Tiap kanal dapat di submultiplex sehingga dapat dibentuk multiplikasi kanal-kanal dengan bit rate yang lebih rendah. Kecepatan down stream tergantung oleh beberapa faktor, termasuk panjang dan ukuran kabel, kualitas sambungan fisik dari kabel, interferensi dari kopling silang. Redaman saluran akan bertambah sesuai dengan pertambahan panjang saluran dan akan mengecil jika diameter bertambah. Karateristik ADSL pada jenis kabel yang dipakai adalah sebagai berikut : Data rate layanan ADSL 1,5 atau 2 Mbps 1,5 atau 2 Mbps 6,1 Mbps 6,1 Mbps Diameter Kabel 0,8 mm 0,6 mm 0,8 mm 0,6 mm Jarak 5,5 km 4,6 km 3,7 km 2,7 km

3. HDSL (High Bit Rate Digital Subscriber Line) : Sistem transmisi HDSL adalah teknologi transport untuk memberikan servis simetris (servis yang membutuhkan bit rate yang sama besar untuk arah upstream maupun downstream) kepada pelanggan dengan bit rate hingga 2 Mbps melalui kabel tembaga. Parameter-parameter yang mempengaruhi jaringan dalam DHSL adalah : Redaman. Resistansi (R). Konduktansi (G). Kapasitansi bersama. Induktansi.

Konfigurasi Dasar HDSL : Sebuah acces digital section yang menghubungkan pelanggan dan CO (Central Office) dengan teknologi HDSL terdiri dari NTU (Network Terminating Unit), DLL (Digital Local Line), dan LTU (Line Terminating Unit). NTU merupakan modul HDSL di sisi pelanggan sedangkan LTU merupakan modul HDSL yang terletak di sisi COT (Central Office Terminal)/RT (Remote Terminal). DLL adalah media transmisi di dalam suatu jaringan akses.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH LTU /Heri Susanto By NTU

74

R I M C H E G

Gbr. Blok fungsional LTU / NTU Blok fungsinal penyusun NTU maupun LTU yaitu : Antarmuka (Interface/I) : adalah suatu application interface yang akan mengelompokkan aliran data ke dalam frame-frame aplikasinya, baik di sisi pengirim maupun penerima. Mapping and Maintenance (M) : Mapping : digunakan untuk memetakan frame aplikasi ke dalam core frame

yang mempunyai kapasitas 144 oktet dengan durasi 500 s. Oktet-oktet akan dibagi dalam frame-frame yang akan ditransmisikan oleh HDSL transceiver secara paralel. Maintenance : merupakan blok fungsional yang digunakan untuk kepentingan pemeliharaan. Common Circuitry (C) : untuk mengkombinasikan dua atau tiga buah sistem transceiver HDSL. HDSL transceiver (H) : merupakan sebuah bidirectional transceiver yang akan mengubah data biner ke dalam sinyal 2B1Q (2-Binary/1-Quarterny). Regenerator (REG) : untuk memulihkan kondisi sinyal yang ditransmisikan agar dapat menjangkau jarak yang lebih jauh (berupa penguatan dan reshaping).

DLL sebagai penghubung NTU dan LTU yang dapat digunakan sebagai saluran transmisi, memiliki persyaratan minimum : Tanpa beban coil (non-loaded) : beban yang biasa dipasang di saluran telepon untuk mendapatkan band frekuensi 3 KHz. Menggunakan dua buah kabel pilin tembaga (twisted pair) atau kabel quad (4 buah konduktor). Tanpa lapisan pelindung (unshielded). Jika terdapat bridge tap, maka jumlah maksimum yang diijinkan adalah dua buah dengan panjang masing- masing maksimum 500m.

Bagian utama dari suatu DLL adalah SDP (Subscriber Distribution Point), CDP (Cross Connect Point), dan MDF (Main Distribution Point). Sedangkan kombinasi antara C, H, DLL, dan REG (optional) disebut HDSL core. Model fisik dari suatu DLL diperlihatkan dalam gambar berikut :
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH d b c HDSL a HDSL SDP CCP By Heri Susanto MDF

75

NTU

LTU

Gbr. Model fisik DLL a = kabel instalasi b = kabel distribusi c = kabel utama d = kabel exchange Fungsi-fungsi yang disediakan oleh HDSL core disajikan pada tabel berikut : LTU NTU Fungsi HDSL core Transparent transport of core frames Stuffing and destuffing CRC-6 procedurs and transmission error detection Error reporting Failure detection Failure reporting Bit timing Frame allignment HDSL transceiver autonomous start-up control Loopback control and co-ordination Mapping of core frames into HDSL frames Control of maintenance Syncronisation and co-ordination of HDSL transceivers Identification of pair Correction of pair identification SDP : Subscriber Distribution Point CDP : Cross Connect Point MDF : Main Distribution Frame

Keterangan : berarti bidirectional berarti unidirectional # merupakan fungsi NTU

Keterangan fungsi : Fungsi HDSL core : menyediakan transmisi bidirectional (menggunakan dua atau tiga transceiver disusun paralel) secara transparan bagi core frame (144 oktet), yang berarti core frame tidak akan diproses oleh perangkat yang dilewati. Fungsi stuffing dan destuffing : untuk sinkronisasi antara aplication data clock sistem transceiver HDSL, dengan menambahkan zero atau dua buah stuffing quarts pada setiap frame HDSL.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

76

Fungsi CRC-6 procedure dan transmission error detection : mengecek kebenaran isi setiap frame HDSL yang ditransmisikan (error performance monitoring), kesalahan dilaporkan oleh fungsi error reporting. Failure detection : mendeteksi failure pada sistem transceiver HDSL yang kemudian dilaporkan oleh fungsi failure reporting. Bit timing : fungsi HDSL core yang memungkinkan sistem transceiver HDSL memperoleh kembali informasi dari aggregate bit stream. Frame allignment : menyediakan informasi yang memungkinkan sistem transceiver HDSL memperoleh kembali frame HDSL dan overhead frame HDSL. Autonomous start-up control : mempersiapkan sistem transceiver HDSL agar berada dalam keadaan operasional. Loopback control and co-ordination : untuk mengaktifkan dan menghentikan loopbacks di dalam LTU, REG, dan NTU. Fungsi Mapping : untuk menetapkan core frame ke dalam frame HDSL. Control of maintenance channel : mengontrol kanal pemeliharaan dengan menggunakan bit-bit overhead di dalam frame HDSL. Synchonisation and co-ordination of HDSL transceiver digunakan untuk : sinkronisasi antar sistem-sistem transceiver HDSL. menyamakan perbedaan delay sinyal yang ada pada setiap pair. mengurutkan kembali sinyal-sinyal yang datang dari setiap pair. Identification of pair : untuk menandai setiap pair di LTU/NTU yang akan mengidentifikasi setiap pair secara benar. Jika NTU mendeteksi adanya perubahan yang tidak disengaja pada pair yang dignakan (interchange) maka proses penyesuaiannya akan diperoleh dari fungsi correction of pair identification.

Seiring dengan perkembangan teknlogi yang semakin canggih maka layanan komunikais pita lebar menjadi suatu kebutuhan yang tak terelakkan. Popularitas internet sebagai suatu layanan mendorong tumbuhnya layanan komunikasi data pita lebar. Kecenderungan ini ditanggapi secara positif oleh produsen teknologi telekomunikasi dengan menciptakan berbagai produk yang dapat menjadi salah satu alternatif dalam pembangunan jaringan broadband. Sebagai contoh, telah ditemukan teknologi yang memanfaatkan jaringan akses tembaga untuk mentransmisikan data dengan kecepatan yang tinggi. Teknologi ini mampu menyediakan layanan komunikasi data yang lebih cepat dari ISDN (Integrated Service Digital Network) maupun modem konvensional. Kecepatan data antara 160 kbps sampai 60 Mbps dapat dimungkinkan dengan teknologi baru yang disebut x-DSL. Teknologi xDSL mempunyai banyak jenis, diantaranya adalah : HDSL (High bit rate Digital Subscriber Line) ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) SDSL (Single line Digital Subscriber Line)
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

77

MDSL (Multi rate Symmetric Digital Subscriber Line) VDSL (Very high rate Digital Subscriber Line) wDSL (waveleth Digital Subscriber Line) RADSL (Rate Adaptive Digital Subscriber Line) DSLAM (Digital Subscriber Line Access Multiplexer) Dial Up ADSL DSL Lite Sebutan x-DSL berasal dari Bellcore, sebuah lembaga riset telekomunikasi di Amerika Serikat. Turunan teknologi DSL sangat beragam, seperti yang disebutkan di atas, namun demikian semua teknologi tersebut berbasis pada pemanfaatan jaringan kabel tembaga sebagai media transmisinya. Teknologi turunan tersebut dapat digolongkan berdasarkan mode transmisinya menjadi 2 macam yaitu simetris dan asimetris. Tabel 2.1. Teknologi x-DSL berdasarkan mode transmisi x-DSL Simetris DSL SDSL HDSL VDSL Asimetris ADSL DSL Lite VDSL

Yang dimaksud dengan simetris adalah kecepatan arah kirim (upstream) dan arah terima (downstream)sama besarnya. Sedangkan asimetris adalah kecepatan upstream dan downstream berbeda. Berdasarkan kecepatan transmisi downstream maka teknologi xDSL dapat dibagi atas : Tabel 2.2 Kecepatan Teknologi x-DSL Kecepatan Teknologi x-DSL Downstream 160 Kbps DSL 1,5 atau 2 Mbps HDSL, SDSL, DSL Lite, RDSL, ADSL 4 Mbps ADSL,Wdsl, RDSL 6 Mbps ADSL, RADSL 8 Mbps ADSL, RADSL 55 Mbps VDSL Perbedaan paling mendasar antara teknologi modem analog dengan teknologi xDSL adalah mekanisme pembentukan hubungan. Pada modem analog sebelum hubungan terbentuk perlu dilakukan proses dial up, yaitu proses pemanggilan pada nomor tujuan seperti yang dilakukan pada layanan telepon biasa. Sedangkan pada teknologi x-DSL tidak diperlukan proses dial up. Konfigurasi dasar x-DSL terdiri dari sepasang modem, satu terletak pada sisi sentral dan satu lagi pada sisi pelanggan seperti pada gambar 2.7.

Kabel Temabaga Modem DSL Modem DSL

Switching/ Jaringan telepon Modem DSL

Kabel Temabaga Modem DSL

Gambar 2.1. Konfigurasi Umum x-DSL 2.1 DSL (Digital Subscriber Line) DSL merupakan modem yang dapat digunakan untuk mentransmisikan data ekivalen dengan layanan ISDN BRA (Basic Rate Access). Teknologi DSL yang
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

78

menggunakan jaringan kabel tembaga dapat mengirimkan data dengan kecepatan hingga 160 kbps. Teknik line coding yang digunakan adalah 2B1Q (2 Binary 1 Quartenary), yang juga digunakan pada ISDN. DSL mengirimkan data secara duplex (dua arah sekaligus, dari arah penerima dan pengirim). Data dapat dikirim 2 arah secara simultan dengan kecepatan 160 kbps pada kabel berdiameter 0,6 mm dengan perkiraan jarak maksimumnya adalah 6 km. Selain itu, bila dikombinasikan dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk menggandakan saluran menjadi beberapa kanal suara yang lebih dikenal dengan istilah pairgain, meskipun sebenarnya terminologi pairgain adalah nama vendor pembuat produk tertentu. Proses multiplexing dan demultiplexing data menjadi 2 kanal B (masing-masing 64 kbps) dan 1 kanal D (16 kbps) dan overhead untuk diteruskan ke terminal pelanggan. Modem DSL mempunyai spektrum frekuensi dari 0 kHz sampai 80 kHz, namun demikian beberapa sistem di Eropa menggunakan spektrum 0 kHz sampai 120 kHz. Saat ini DSL digunakan pada aplikasi pengganda saluran digital, dimana DSL mengkonversikan saluran tunggal menjadi 2 kanal logic, sehingga instalasi saluran kedua tidak diperlukan. Pemanfaatan teknologi DSL yang cukup aplikatif dan murah adalah akses jaringan internet, hanya dengan menambahkan antarmuka yang berlaku umum. Seperti diketahui, antarmuka yang umum pada jaringan internet adalah Ethernet 10 Base-T atau serial port pada ternimal PC (Personal Computer). Dengan kecepatan DSL yang setara BRA maka tidak diperlukan NIC (Network Interface Card) Ethernet 10 Base-T. Kecepata tersebut masih bisa ditangani oleh serial port pada PC. Contoh konfigurasi pemanfaatan teknologi DSL untuk akses internet seperti pada gambar 2.8.

Sentral Telepon 115 kbps Network Termination 115 kbps

Telepon Analog Network Termination

ISP Router/Hub

Antarmuka RS 232 PC

Gambar 2.8. Konfigurasi DSL Untuk Aplikasi Internet.

2.2 HDSL (High bit rate Digital Subscriber Line) HDSL adalah teknologi modem yang merupakan pengembangan dari teknologi PCM -30 (Pulse Code Modulation) yang berbasis kecepatan 2 Mbps. Implementasi HDSL semula dimaksudkan untuk mengantisipasi keterbatasan jarak jangkauan jaringan penghubung antar sentral telepon antar gerbang komunikasi data yang membutuhkan saluran dengan kecepatan 2 Mbps atau kelipatannya. HDSL menggunakan 2 atau 3 pair kabel tembaga untuk mengirimkan data dengan kecepatan 1,5 Mbps atau 2 Mbps. Munculnya dua kecepatan yang berbeda tersebut karena adanya penggunaan dua standar yang berbeda, yaitu ETSI (European Telecommunication Standard Institute)dengan kode E.1 dan ANSI (American National Standard Institute) dengan kode T.1. Teknik modulasi yang digunakan dalam HDSL adalah QAM (Quadrature Amplitude Modulation) dan CAP (Carrierless Amplitude/Phase Modulation). Jarak operasi maksimum yang bisa dicapai modem HDSL adalah 4,5 km pada jaringan kabel tembaga homogen berdiameter 0,6 mm tanpa menggunakan loading coil dan bridge tap. Konfigurasi perangkat modem HDSL secara umum ditunjukkan pada gambar 2.9. Pada
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

79

sentral ditempatkan modem HTU-C (HDSL Transceiver Unit Central Terminal) dan pada sisi pelanggan ditempatkan HTU-RT (HDSL Transceiver Unit Remote Terminal). Berdasarkan tipenya, perangkat HDSL dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : HDSL tipe rak/shelf. Pada tipe ini, perangkat HDSL berupa modul-modul/card yang ditempatkan pada rak/shelf. Tipe ini lebih cocok digunakan pada tempat yang terpusat dengan jumlah pengguna yang banyak. Karena tipe ini memiliki kapasitas yang besar, maka harus dilengkapi dengan sistem kontrol operasional perangkat. HDSL tipe desktop/stand-alone. Pada tipe ini, perangkat HDSL berupa terminal desktop/modem dan lebih sesuai untuk lokasi yang terdistribusi dan jumlah pemakai kecil. Aplikasi tipikal untuk HDSL seperti pada hubungan PBX (Private Branch Exchange), BTS (Base Transceiver Station) komunikasi selular, sistem DLC (Digital Loop Carrier), jaringan komunikasi data, remote LAN (Local Area Network), dan internet. Konfigurasi dasar HDSL terlihat pada gambar 2.9 di bawah ini.
2 Mbps HTU-CT Modem HDSL 2 atau 3 pair kabel tembaga HTU-RT Modem HDSL 2 Mbps

Gambar 2.9. Konfigurasi Umum HDSL.

Beberapa aplikasi HDSL sebagai jaringan transmisi.


Antarmuka G703/ ISDN - PRA Antarmuka G703/ ISDN - PRA

HTU-CT Sisi Sentral Saluran HDSL

HTU-RT Sisi Sentral

Gambar 2.10 HDSL pada jaringan penghubung antar sentral telepon.


Antarmuka G703/ ISDN - PRA Antarmuka G703/ ISDN - PRA

HTU-CT Sisi Sentral Saluran HDSL

HTU-RT
Base Station Base Station

Gambar 2.11 HDSL pada jaringan transmisi radio.


Antarmuka G703/ ISDN - PRA Antarmuka G703/ ISDN - PRA

LAN Router

HTU-CT Saluran HDSL

HTU-RT Router

LAN

Gambar 2.12 HDSL pada jaringan penghubung antar LAN.

2.3 SDSL (Single line Digital Subscriber Line) Teknologi SDSL hampir sama dengan HDSL. Perbedaan mendasar antara HDSL dan SDSL adalah pada sisi pelanggan dapat langsung terhubung ke terminal pelanggan seperti halnya pesawat telepon. Sedangkan pada HDSL membutuhkan perangkat multiplex tambahan. SDSL mampu menyalurkan data dengan kecepatan T.1 atau E.1
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

80

dengan menggunakan satu saluran telepon saja, oleh karena itu disebut Single line Digital Subscriber Line. SDSL mempunyai keunggulan komparatif karena SDSL hanya membutuhkan satu saluran saja tanpa harus menambah saluran lain seperti halnya pada pemasangan HDSL. Ini merupakan suatu keunggulan dari sudut pandang pelanggan, karena biasanya pelanggan hanya memiliki satu saluran saja. Kecepatan data yang didukung oleh SDSL sama dengan HDSL, yaitu 1,5 Mbps atau 2 Mbps. Karena hanya menggunakan satu saluran saja, maka jarak jangkau maksimal SDSL lebih pendek dari HDSL. 2.4 MDSL (Multi rate Symmetric Digital Subscriber Line) Teknologi ini tergolong teknologi x-DSL dengan mode transmisi simetris. Lahirnya MDSL dipicu oleh kebutuhan akan link transmisi simetris dengan kecepatan menengah sebagai penghubung antar router maupun bridge. Sesuai dengan namanya, MDSL mendukung beberapa kecepatan transmisi data. Konfigurasi MDSL masih seperti teknologi x-DSL yang lain, yaitu sepasang modem (di sisi sentral dan di sisi pelanggan) yang menggunakan jaringan kabel tembaga sebagai media penghubungnya. Interface yang digunakan pada teknologi ini adalah V.35 atau T1/E1 serta line coding yang digunakan adalah CAP. Kecepatan transmisi yang disediakan oleh MDSL cukup beragam, mulai dari 144 kbps, 272 kbps, 400 kbps, 528 kbps, 784 kbps, 1040 kbps, 1552 kbps, 2060 kbps, sampai 2320 kbps. Jarak operasi yang bisa dicapai oleh MDSL pada jaringan kabel tembaga berdiameter 0,55 mm adalah 8,9 km pada kecepatan terendah. Konfigurasi MDSL terlihat pada gambar 2.10.
SISI SENTRAL
PSTN PABX Sentral Telepon 2.320 kbps - 144 kbps Modem MDSL 2.320 kbps - 144 kbps PC Frame Relay Router/Hub Router Modem MDSL

SISI PELANGGAN

PC

Gambar 2.13. Konfigurasi MDSL. 2.5 VDSL (Very high bit rate Digital Subscriber Line) Pada awal kemunculannya teknologi VDSL disebut dengan VADSL (Very high rate ADSL), karena VDSL juga dianggap sebagai modem asimetrik seperti halnya ADSL namun dengan kecepatan yang lebih tinggi. Pada kesempatan lain VDSL sering disebut BDSL (Broadband DSL) karena dapat mendukung layanan-layanan komunikasi broadband. Ide lahirnya VDSL adalah bagaimana menyediakan layanan transmisi data dengan kecepatan lebih tinggi dari 8 Mbps atau layanan yang lebih dari ADSL pada jaringan kabel tembaga yang sama. Pada konsepnya VDSL dirancang untuk aplikasi simetrik dan asimetrik tergantung kebutuhan layanan. Kecepatan simetrik biasanya digunakan pada aplikasi LAN, MAN (Metropolitan Area Network), atau WAN (Wade Area Network). Sedangkan kecepatan asimetrik biasanya digunakan pada aplikasi multimedia interaktif seperti Video on Demand. Kecepatan data dan jarak yang mampu dilayani VDSL seperti pada tabel 2.5. Tabel 2.5. Kecepatan Data dan Jarak Operasional VDSL VDSL asimetrik VDSL simetrik
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

81

Downstream Upstream (Mbps) 34 26 19 13 6,5 4,3 2,3 (Mbps) 34 26 19 13 6,5 4,3 2,3

Perkiraan jarak (Meter) 300 1000 1500 2500 3500

Downstream (Mbps) 52 34 atau 38 26 19 13 6,5

Upstream (Mbps) 6,4 4,3 3,2 2,3 1,6 1,6 atau 8

Perkiraan jarak (Meter) 300 1000 1500 2000

Dengan kecepatan data yang sedemikian tingginya, maka diharapkan VDSL akan menjadi suatu solusi penyedia layanan multimedia interaktif secara penuh ataupun kebutuhana kanal komunikasi yang membutuhkan kecepatan data yang tinggi. Konfigurasi VDSL seperti pada gambar 2.11.

-Sentral Telepon -Jaringan komputer Data -ISP Telepone

PC dengan ATM NIC VTU-R

B-ONU dengan VTU-C

Splitter POTS/ISDN STB

VOD,MOD (hiburan)

Gambar 2.14. Konfigurasi VDSL. 2.6 ADSL (Assymetric Digital Subscriber Line) ADSL pada prinsipnya sama dengan teknologi modem x-DSL yang lainnya, yaitu sepasang modem yang diletakkan pada dua sisi, sisi sentral untuk menerima sumber layanan dan sisi penerima untuk menampilkan layanan ke peralatan pelanggan. Mode transmisi pada ADSL berbeda dengan modem DSL atau HDSL yang bersifat simetris, dimana sinyal informasi dikirim dan diterima dengan kecepatan yang sama. Mode transmisi ADSL adalah asimetris, dimana kecepatan upstream dan downstrean tidak sama. Pemilihan kecepatan yang tidak sama ini disesuaikan dengan karakteristik pelanggan yang lebih banyak melakukan proses download daripada proses upload. Biasanya peorses download membutuhkan kecepatan transmisi yang besar dan proses upload biasanya membutuhkan kecepatan yang rendah. Kecepatan yang bisa dilayani oleh ADSL bervariasi antar 64 kbps sampai 1 Mbps untuk upstream dan 2 Mbps sampai 8 Mbps untuk downstream. Dengan kecepatan downstream yang demikian tinggi maka sinyal video dengan teknik kompresi MPEG-2 (Motion Picture Expert Group 2)bisa dikirim ke rumah pelanggan dengan baik. Saat ini ada dua sistem transport yang digunakan dalam ADSL yaitu berbasis ATM (Asynchronous Transfer Mode) dan berbasis paket data (Ethernet-10 Base T). Korelasi antara jarak operasi dengan kecepatan yang bisa dicapai ADSL dalam kondisi jaringan ideal dapat dilihat pada tabel 2.6.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

82

Tabel 2.6. Hubungan Kecepatan - Jarak Opersional ADSL Kecepatan (Mbps) 2 4 6 8 Perkiraan Jarak (km) 5,5 4,5 4 3,5

Teknik line coding yang digunakan pada ADSL ada dua macam yaitu CAP (Carrierless Amplitude/Phase Modulation) atau DMT (Discrete Multi Tone). Teknik line coding DMT memberi keuntungan dimana sistem menjadi lebih tahan terhadap noise atau interferensi. Disamping itu dengan DMT menjadikan ADSL rate adaptive, yaitu kecepatan transmisi bisa berubah mengikuti performansi jaringan kabel tembaga yang dijadikan media transmisinya. Sementara itu pada teknik konvensional apabila performansi kabel turun maka sinyal yang dikirimkan akan rusak.
PELANGGAN RUMAH PC Sentral Telepon Router/ ATM Switch Data Network ATU-C PELANGGAN BISNIS ATU-R Telepon Internet Service Provider
ATU-R

Telepon

Network Management

PC Corporate Network

PC

PC

Gambar 2.15. Konfigurasi ADSL 2.6.1 ATU-R / ATU-C Transceiver. ATU-R (ADSL Transceiver Unit Remote Terminal) dan ATU-C (ADSL Transceiver Central Terminal) secara garis besar terdiri dari tiga buah blok fungsional, yaitu : DI (Digital Interfaces), DSP (Digital Signal Processing), dan AI (Analog Interfaces) Komposis blok fungsional ATU-C dan ATU-R seperti yang terlihat pada gambar 2.10 dan gambar 2.11 di bawah ini.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

83

DS2 DS1 U atau S/T Interface EOC Digital Interfaces

DS

DS
Digital Signal Processing

DS

DS
Analog Interfaces

Saluran Telepon

US

US

US

US

Gambar 2.16. Diagram Blok Fungsional ATU-C

DS Saluran Telepon Analog Interfaces US

DS
Digital Signal Processing

DS

DS Digital Interfaces

A Bus U atau S/T Interface EOC

US

US

US

Gambar 2.17. Diagram Blok Fungsional ATU-R 2.3.6.2. DMT Line Coding Teknik modulasi pada x-DSL secara garis besar terbagi menjadi 2 kelompok besar yaitu modulasi single carrier dan modulasi multi carrier. Modulasi single carrier menggunakan sinyal pembawa tunggal dalam membawa sinyak informasi, sedangkan modulasi multi carrier menggunakan banyak sinyal pembawa. Contoh teknik modulasi single carrier yang digunakan dalam x-DSL adalah CAP (Carrierless Amplitude/Phase Modulation). Sedangkan teknik modulasi multi carrier yang digunakan adalah DMT (Discrete Multi Tone) atau DWTM (Discrete Wavelet Multi Tone). DMT transmitter terdiri dari beberapa blok seperti pada gambar 2.12 di bawah ini.
1 Data Serial to Paralel Block Encoder N 2N point Complex to Real IFFT 2N 1 Paralel to Serial and Cyclic Prefix D/A Converter and Analog Lowpass Filter Channel

Gambar 2.18. DMT Transmitter Serial to Paralel. Pada bagian ini data yang diterima diubah menjadi data paralel yang kemudian dikelompokkan menjadi N buah blok. 2N point Complex to Real IFFT (Inverse Fast Fourier Transform). IFFT digunakan untuk mengubah sinyal dari frequency domain menjadi time domain. Paralel to Serial and Cyclic Prefix. Pada blok ini output IFFT (2N) akan diubah menjadi serial dan kemudian akan ditambahkan Cyclic Prefix. Cyclic Prefix dicuplik dari akhir sebuah blok, kemudian akan disalin ke awal blok tersebut. Ini akan mengakibatkan sinya terlihat seperti sinyal yang periodik. D/A Converter and Analog Lowpass Filter. D/A Converter digunakan untuk mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog. Sedangkan Analog Lowpass Filter akan menyaring frekuensi tinggi yang tidak diinginkan. Kemudian sinyal tersebut akan ditransmisikan melalui channel (saluran transmisi). DMT receiver terdiri dari beberapa blok seprti terlihat pada gambar 2.13 di bawah ini.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

84

1 Channel Analog Receive Filter and A/D Converter Time Domain Equalizer Removal of Cyclic Prefix Serial to Paralel 2N 2N point Real to Complex FFT N

1 Data Paralel to Serial N Decision Device

1 One tap per Channel Equalizer N

Gambar 2.19. DMT Reciever

Analog Receiver Filter and A/D Converter. Sinyal yang diterima oleh DMT Receiver pertama akan disaring oleh Analog Receiver Filter untuk menghilangkan noise. Kemudian sinyal analog tersebut akan diubah menjadi sinyal digital oleh A/D Converter. Time Domain Equalizer. Fungsi utama dari Time Domain Equalizer adalah untuk memperkecil impulse respone agar sama atau lebih kecil dari salah satu cyclic prefix. Removal of Cyclic Prefix. Pada blok ini cyclic prefix yang telah ditambahkan oleh DMT transmitter akan dihilangkan. Serial to Paralel. Pada blok ini data serial akan diubah menjadi paralel. 2N point Real to Complex FFT (Fast Fourier Transform). Sinyal akan diubah dari time domain menjadi frequency domain. Decision Device & Paralel to serial. Simbol-simbol dari sub-kanal akan dideteksi dan diubah menjadi data lagi. Data kemudian akan diubah dari paralel menjadi serial.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

85

BAB 3.

KONSEP PERAMALAN

DEFINISI PERAMALAN ADALAH PERKIRAAN TENTANG SESUATU YANG AKAN TERJADI PADA WAKTU YANG AKAN DATANG BERDASARKAN PADA DATA YANG ADA PADA WAKTU SEKARANG DAN WAKTU LAMPAU, YANG DILAKUKAN BERULANG DAN HARUS SELALU DIULANG SESERING MUNGKIN. TUJUAN PERAMALAN MEMPERSIAPKAN DASAR PERENCANAAN YANG AKAN MEMANDU IMPLEMENTASI DARI SUATU KEGIATAN MEMBERIKAN INFORMASI DASAR YANG DIPERLUKAN UNTUK PERENCANAAN MEMBERI GAMBARAN MASA DEPAN YANG PALING MENDEKATI KENYATAAN, YANG AKAN DIPAKAI SEBAGAI ALAT BANTU UNTUK MENENTUKAN STRATEGI PERUSAHAAN PASSIVE AKTIF

FORECAST

PLAN

PENYUSUNAN ALTERNATIF STRATEGI

PEMILIHAN ALTERNATIF BUDGET RENCANA PELAKSANAAN DLL

GAMBAR HUBUNGAN ANTARA PERAMALAN & PERENCANAAN

RUANG LINGKUP PERAMALAN : PENGUMPULAN & PENGATURAN DATA (INTERNAL & EKSTERNAL) MANAJEMEN JUMLAH DEMAND MENGANALISA PERBEDAAN ANTARA NILAI RAMALAN & REALISASI, SERTA MEMPERBAIKI METODA PERAMALAN YANG DIPILIH PERAMALAN JUMLAH DEMAND SECARA MAKRO & MIKRO

PROSES PERAMALAN SECARA UMUM : DEFINISI MASALAH PENGUMPULAN DATA PEMILIHAN METODE PERAMALAN ANALISA PERAMALAN PELAPORAN/DOKUMENTASI

TINGKAT KEBUTUHAN TELEPON MENURUT TEORI PEMASARAN TINGKAT KONDISI BERLEBIHAN (OVERFULL DEMAND) TINGKAT KONDISI PENUH (FULL DEMAND) TINGKAT KONDISI MENURUN (FALTERING DEMAND) TINGKAT KONDISI KURANG (LATENT DEMAND)
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

86

TINGKAT KONDISI TIDAK ADA (NO DEMAND) DALAM MERENCANAKAN ATAU MEMBANGUN SUATU JARINGAN TELEKOMUNIKASI, FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN SECARA TELITI ADALAH DAFTAR TUNGGU DAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN PENYAMBUNGAN TELEPON. DAFTAR TUNGGU ADALAH JUMLAH SEMUA CALON PELANGGAN YANG SECARA RESMI MENDAFTAR KE KANTOR PELAYANAN TELEPON/UPT SETEMPAT WAKTU TUNGGU PELAYAYAN PENYAMBUNGAN TELEPON ADALAH TEMPO ANTARA CALON PELANGGAN MULAI MENGAJUKAN PERMOHONAN SAMPAI DENGAN SELESAINYA PENYAMBUNGAN TELEPON KE RUMAH MEREKA (KRING) BILA KURANG DIPERHATIKAN AKAN MENGAKIBATKAN PRAKIRAAN KEBUTUHAN TELEPON MELESET, KARENA ADANYA KEMUNGKINAN TIDAK JADI MEMASANG TELEPON SAAT ADA NOMOR(PENYAMBUNGAN): BERUBAH KEMAUAN PINDAH ALAMAT MENGAKIBATKAN KEBUTUHAN BATAL ATAU SEBALIKNYA, TIBA-TIBA MEMBLUDAKNYA CALON PELANGGAN SEHINGGA MENGAKIBATKAN KEBUTUHAN TERTAHAN (SUPPRESSED DEMAND)

ADA 3(TIGA) KEMUNGKINAN YANG DAPAT TERSIRAT DARI DAFTAR TUNGGU : DAFTAR TUNGGU < KEBUTUHAN TELEPON YANG SEBENARNYA DAFTAR TUNGGU > KEBUTUHAN YELEPON YANG SEBENARNYA DAFTAR TUNGGU MENUNJUKKAN ANGKA YANG SESUAI(MENDEKATI)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKURATAN HASIL PERAMALAN DATA PENUNJANG YANG AKURAT HARUS CUKUP SEHINGGA DAPAT DISUSUN DALAM BENTUK HISTORICAL DATA YANG TEPAT DAN DAPAT MENGGAMBARKAN INFORMASI DASAR BERBAGAI FAKTOR-FAKTOR DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN TELEPON SUATU PROSEDUR ATAU TAHAPAN-TAHAPAN PERHITUNGAN DENGAN BANTUAN PROSES KOMPUTER, AGAR HASIL PRAKIRAAN DAPAT DIPEROLEH SEGERA DAN DAPAT DILAKSANAKAN SECARA BERULANG UNTUK BERBAGAI ALTERNATIF DATA DAN MODEL PERHITUNGAN MEMPERHITUNGKAN DAMPAK DARI KENDALA-KENDALA YANG ADA PADA SAAT INI YANG MUNGKIN AKAN MEMPENGARUHI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN TELEPON

SIAPAKAH PENGGUNA PERAMALAN ? TOP MANAJEMEN ? MANAGER/SUPERVISOR ?

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

87

PERIODE PERAMALAN ADA 3(TIGA) PERIODE ATAU TAHAPAN PERIODE 0(NOL) TAHUN, YAITU SAAT DILAKUKAN SURVEY KEBUTUHAN PADA PERIODE O TAHUN JUMLAH CALON PELANGGAN YANG TELAH TERDAFTAR PADA DAFTAR TUNGGU DAN POLA PERIOSDE 5(LIMA) TAHUN KEBUTUHAN PADA PERIODE O TAHUN PRAKIRAAN PERTUMBUHAN KEBUTUHAN TELEPON UNTUK 5 TAHUN KEDEPAN, SESUAI DENGAN PRAKIRAAN PERTUMBUHAN KOTA JANGKA PENDEK PERIODE 15(LIMABELAS) TAHUN DIHITUNG UNTUK MASING-MASING LOKASI BERDASARKAN : KEBUTUHAN PADA PERIODE O TAHUN PRAKIRAAN PERTUMBUHAN KEBUTUHAN TELEPON UNTUK 15 TAHUN KEDEPAN, SESUAI DENGAN PRAKIRAAN PERTUMBUHAN KOTA JANGKA PANJANG PERAMALAN DI BIDANG TELEKOMUNIKASI BERDASARKAN REKOMENDASI CCITT WORKING GROUP GAS 5 MELIPUTI FASE-FASE : PENGUMPULAN DATA PENINJAUAN PENELITIAN EVALUASI & PERHITUNGAN DALAM BERBAGAI CARA KEAKURATANNYA TINGGI

AGAR

INTI DARI PROSES PERAMALAN ADALAH METODE YANG DIGUNAKAN, NAMUN SELALU KESULITAN UNTUK MELAKUKANNYA SEHINGGA PERLU PENDEKATAN-PENDEKATAN/ASUMSI : MENGIKUTI KURVA DATA HISTORIS MENGGUNAKAN PERSONAL JUDGEMENT

YANG PERLU DIRAMAL DEMAND FORECASTING TRAFFIK FORECASTING KEDUANYA SANGAT ERAT HUBUNGANNYA SEPERTI HUBUNGAN HARGA BARANG DAN JUMLAH PERMINTAAN ANTARA

TERLEPAS DARI METODE YANG DIGUNAKAN, KUALITAS RAMALAN DITENTUKAN OLEH KUALITAS DATA. JIKA DATA YANG DAPAT DIPERCAYA TIDAK TERSEDIA MAKA HAL PERTAMA YANG HARUS DILAKUKAN SI PERAMAL : MEMBUAT SUATU PROSES PENGUMPULAN DATA YANG TEPAT IDENTIFIKASI PERTUMBUHAN YANG TERJADI SEBELUMNYA & DATA HISTORIS BEBERAPA TAHUN YANG LALU, YANG DAPAT MEMPROYEKSIKAN MASA DATANG PENGECEKAN DATA UNTUK MENGHILANGKAN KERAGUAN & INFORMASI YANG TIDAK RELEVAN MELAKUKAN PENYESUAIAN FAKTOR PERHITUNGAN MENCOBA DAN MEMADUKAN DUA ATAU LEBIH METODE PERAMALAN
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

88

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

89

Model yang mendasari metode peramalan adalah model deret berkala. Pemilihan suatu metode deret berkala yang tepat adalah dengan mempertimbangkan jenis pola data yang dapat dibedakan dibedakan menjadi 4(empat) jenis, yaitu : d. Pola Horisontal. Pola horisontal adalah pola dimana nilai data berfluktuasi disekitar nilai rata-rata yang konstan. Deret seperti ini stasioner terhadap nilai rata-ratanya.

e. Pola Musiman

Waktu

Pola musiman terjadi bila nilai data berfluktuasi secara periodik. Pola ini dipengaruhi oleh faktor musiman seperti kuartal atau bulanan yang merupakan gerakan berulang secara teratur selama setahun.

1 2 3 4

5 6 7 8

9 10

Waktu

f. Pola Siklis Pola data yang memiliki gerakan menaik dan menurun secara siklis disekitar trend statistik. Pola ini dipengaruhi oleh fluktusasi ekonomi jangka panjang.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

90

g. Pola Trend Pola trend adalah pola data yang mempunyai gerakan berjangka panjang dan cenderung menuju ke satu arah, yaitu arah naik atau arah turun. Pola trend mencerminkan sifat kontinuitas sehingga memiliki gerakan yang paling stabil dibandingkan dengan ketiga pola lainnya.

Waktu

Pola trend ini dapat dibagi atas dua jenis, yakni :

PENGECEKAN PERAMALAN MELAKUKAN PENGUKURAN TINGKAT KELAYAKAN DAN KESESUAIAN DENGAN MENGUKUR : RELEVANSI PERAMALAN (Valid) KEAKURATAN (Accuracy) KELAYAKAN (Reliability) KEPERCAYAAN (Credibilyty)

1. Relevansi Peramalan Peramalan jumlah trafik untuk sentral didasarkan pada hasil peramalan jumlah subscriber dan calling rate tiap subscriber seperti keadaan yang digambarkan kurca dibawah ini N

t Past Future

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

91

Calling Rate

t Past Future

Relevansi, keakuratan, kelayakan dan kepercayaan dari peramalan jumlah subscriber (N) diatas tampak cenderung naik hal ini disebabkan oleh keputusan manajemen untuk mengantisipasi kebutuhan sambungan telepon akibat pembangunan rumah susun diwilayah tersebut (misalnya). Sedangkan calling rate selama pengamatan tidak mengalami perubahan, peramal mengasumsikan bahwa calling rate akan tetap di masa yang akan datang.

Dari dua kurva tersebut maka dihasilkan peramalan trafik mengikuti perhitungan A= N x a sebagaimana kurva berikut :

t Past Future

Peramalan yang dibuat diatas tidak relevan atau valid. Mengapa ? Karena peramalan tersebut hanya mempertimbangkan pertambahan jumlah pelanggan biasa (residential line) sebagai akibat pembangunan rumah susun, tanpa mempertimbangkan adanya pelanggan bisnis Seharusnya pendekatan peramalan yang dilakukan adalah memisahkan antara peramalan trafik untuk pelanggan biasa dengan pelanggan bisnis namun digambarkan dalam satu diagram.

KEAKURATAN Y Benar Salah

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

92

t Past Future

KELAYAKAN Y terlalu banyak mengabaikan simpangan data yang ada

t Past Future

KEPERCAYAAN N Salah Benar Karena adanya pola siklis yang tidak diperhatikan

t Past Future

PERENCANAAN JARINGAN SUATU JARINGAN DIBANGUN UNTUK MENCAKUP COMMUNITY OF INTEREST YANG BESAR.

SUATU

WILAYAH

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

93

LETAK SENTRAL-SENTRAL WILAYAH PERLU DIPERHATIKAN UNTUK MENDAPATKAN JARINGAN YANG EKONOMIS, BEGITU PULA SYARAT-SYARAT TRANSMISINYA DALAM HAL : PENAMBAHAN SALURAN PELANGGAN & JUNCTION PERLUASAN SENTRAL-SENTRAL MAUPUN PEMBANGUNAN SENTRALSENTRAL BARU

III.2

PERAMALAN KEBUTUHAN TELEPON

III.2.1. Pengumpulan Data a. Pengertian Data adalah segala sesuatu yang dapat menggambarkan suatu kondisi baik dalam bentuk tulisan maupun lisan yang bersumber dari instansi pemerintah, swasta yang resmi maupun hasil dari penelitian langsung. b. Pengumpulan Data Pengumpulan data dapat diperoleh dari pihak terkait sebagai berikut : 1) Pihak Ekstern (Luar PT.TELKOM) 2) Pihak Intern (Data PT.TELKOM) a) Dari pihak ekstern (1) Dari PEMDA/BAPPEDA ; Data-data yang diperlukan adalah : (a) Rencana Induk Kota (RIK) yang terdiri dari data,analisa rencana pengembangan kota. (b) Statistik dalam angka. (misal kota Bandung dalam angka) (c) Peta Kota (2) Dari pihak swasta (misal developer) : Data yang dicari adalah mengenai program pembangunan rumah, perkantoran, pertokoan dan rencana lainnya. b) Pihak Intern PT.TELKOM Data yang diperlukan guna peramalan kebutuhan telepon adalah : Potensi telepon. Statistik gangguan. Situasi bangunan/ lay out. Daftar tunggu. Serta data hasil survay lapangan. dan

c. Evaluasi Data. 1) Evaluasi Data Kota.


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

94

Data pertahun sering tidak dapat diperooleh, disamping dari data yang didapat sering berbeda pada tahun yang sama. Dengan demikian diperlukan kecermatan dalam memilih dan menentukan data sebagai masukan. Kompensasi data yang diperoleh dari RIK sangat membentu dalam pengambilan keputusan. 2) Analisa Kota. Kecenderungan kota perlu diketahui dengan pendekatan-pendekatan yang dilakukan berdasarkan : perencanaan PEMDA/BAPPEDA, kebijakan

Pemerintah, fakta di lapangan dan rencana kota. Setelah mengevaluasi data kota serta mempertimbangkan kecenderungan kota dan rencana kota, diharapkan dapat ditentukan data akhir yang lebih akurat.

III.2.2. Metode Peramalan Kebutuhan Telepon a. Pengertian Peramalan kebutuhan telepon dimaksudkan untuk mengetahui besarnya jumlah satuan sambungan telepon yang dibutuhkan oleh pelanggan pada masa akan datang. Untuk keperluan ini sangat dibutuhkan lengkapnya data pada masa lalu dan sekarang serta perkiraan keadaan pada masa akan datang. Sehubungan dengan perencanaan kabelnya maka ditentukan tahun-tahun peramalannya sebagai batasan keperluan pembangunan. Peramalan kebutuhan telepoon secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu : Peramalan secara Makro dan Peramalan secara Mikro. b. Peramalan Kebutuhan Secara Makro. 1) Dasar peramalan kebutuhan telepon Perkembangan kebutuhan telepon sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satu diantaranya adalah : (a) Faktor Penentu (Basic Factor) Faktor penentu untuk memperkirakan besarnya kebutuhan telepon yang terdiri atas : (1) Kependudukan Jumlah penduduk ( kepadatan penduduk ) Tingkat pertumbuhan penduduk per tahun. (2) Indeks Ekonomi Gross Domestic Product (GDP) Pendapat Nasioonal per kapita. (3) Pos Telepon (Telepon Connection) Jumlah pos terpasang
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

95

Jumlah pos telepon yang diminta dan menunggu. (4) Tarif Telepon Ongkos pasang sambungan telepon Uang langganan berdasarkan pulsa Sewa perangkat telepon lainnya.

2) Beberapa Metode peramalan antara lain . a) Metode Ekonometrik. Pemikiran dasar metode ekonometrik adalah segala sesuatu dalam dunia nyata bergantung pada segala sesuatu yang lain. Hubungan saling ketergantungan atau mempengaruhi suatu kondisi bisa mencapai tak terhingga, akan tetapi karena keterbatasan pengumpulan data dan komputasi menyebabkan jumlah aspek tersebut dibatasi. Model ekonometrik merupakan hal yang sangat berharga untuk meningkatkan pemahaman cara kerja sistem ekonomi dan untuk menguji serta mengevaluasi alternatif kebijaksanaan. Rumusan metoda ini biasanya dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut : Y = (a,b,) + q

Dimana : (a,b,) adalah variabel-variabel dari faktor-faktor yang berpengaruh. Misalnya : ekoonomi, sosial , dll. Q adalah variabel yang tidak bergantung pada (a,b,) Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain : (1) Pendapatan nasional. (2) Prosentasi populasi dalam industri, kepegawaian, dll. (3) Distribusi pendapatan. (4) Struktur ekonomi setempat.

b) Metode Ekstrapolasi. Peramalan dibuat berdasarkan tingkat perkembangan pada masa lalu. Perhitungan kebuuhan telepon pada metode ini dapat dibagi sebagai berikut :

Perhitungan menurut perkembangan linier. Perhitungan menurut perkembangan kwadratis.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

96

Perkembangan menurut perkembangan linier yakni jika perkembangan pada tahun-tahun yang akan datang diperkirakan sama dengan perkembangan kebutuhan pada tahun-tahun sebelumnya. Perhitungan menurut perbandingan kwadratis yakni jika perkembangan kebutuhan pada tahun-tahunakan datang meningkat dengan cepat. c) Metode Perbandingan. Pada metode ini semua perkiraan dibuat berdasarkan perbandingan antara dua kota atau dua negara. Metode ini biasanya digunakan untuk negara-negara yang tidak memiliki data-data perkembangan kebutuhan telepon. d) Metode Regresi. Metode ini dapat untuk menyelidiki ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel dan menentukan hubungan tersebut jika memang ada. Data yang dibutuhkan merupakan dua kelompok hasil

observasi/pengukuran. e) Metode Normatif. Metode ini menganut apa saja yang menjadi aturan nasional. Digunakan hanya untuk perkiraan awal perencanaan. f) Metode Causal (Sosio-Economic Mode). Cara ini cukup akurat namun perlu terus mempertimbangkan cara-cara pengerjaannya.

3)

Metoda Ekstrapolasi. Metoda ekstrapolasi dipakai bilamana : a) Daerahnya masih luas banyak lahan kosong. b) Pembangunan daerah cukup lancar dan sesuai rencana. c) Fluktuasi kebutuhan telepon rendah/kecil. Metoda ini dapat diandalkan untuk melakukan peramalan kebutuhan telepon untuk jangka waktu yang pendek, selama data informasi (daftar tunggu) dari tahun-tahun sebelumnya dikerjakan secara baik. Ekstrapolasi dapat dikelompokkan sbb : a) Ekstrapolasi Linier Penggunaan cara ini, apabila tingkat kenaikan/penurunan kebutuhan telepon pada tahun-tahun yang akan datang diperkirakan konstan atau hampir sama dengan tingkat perkembangan pada tahun sebelumnya. (1) Penerapan garis trand linier. Bentuk umum persamaan linier : Y = a + bx .persamaan 1.1

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

97

Dimana : Y X = kepadatan telepon / 100 penduduk. = perioda tahun.

a,b = konstanta nilai-nilai statistik yang dihitung dari data sampel deret berkala yang bersangkut (berdasarkan data statistik UPT). Persamaan dari nilai-nilai observasi dan nilai-nilai trend bagi garis linier dapat diberikan sebagai berikut :
IYi= I(a

IYi=

+ bXi) persamaan 1.2

dimana : (Yi) = nilai berkala yang diamati pada periode Xi. (Yi) = nilai trend yang dihitung pada periode Xi. Dan
I(Yi.Xi)= I(Yi.Xi)= I(a+bXi)Xi..persamaan

1.3

Bila jumlah data pengamatan sebanyak n, maka selanjutnya berdasarkan persamaan 1.2 dan 1.3, dihasilkan : Yi = na + b Xi ..persamaan 1.4 (YiXi) = a Xi + b Xi2 ..persamaan 1.5

III.2.1 Metode Regresi Linier Sederhana

Regresi linier sederhana merupakan analisa regresi dari suatu pengukuran Y tunggal (variabel tidak bebas) terhadap pengukuran t tunggal (variabel bebas) dimana nilai Y dinyatakan pada sumbuvertikal sedang nilai t dinyatakan sebagai sumbu horisontal. Persamaan : Y = a + bt Dimana konstanta a dan b diberikan oleh persamaan : Na + t.a + t.b = t2 b = Y Y.t

Kedua persamaan tersebut dapat ditulis kembali menjadi : Y) / (n. t2 - ( t)2 )

B = (n

Y.t -

A = ( Y b t) / a Dimana n = jumlah pasang observasi atau pengukuran dan koefisien b disebut koefisien regresi.

II.2.2. Multi regresi Linier


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

98

Dalam kenyataan perkembangan jumlah maupun kenyataan lain dalam bidang telekomunikasi, tidak hanya satu variabel yang berpengaruh terhadapnya, melainkan lebih dari satu variabel. Metode regresi linier ini adalah metode yang memuat pengartian bahwa variabel yang menjelaskan lebih dari satu. Y = a + b1x1 + b2x2 + + bnxn Dimana a1, b1, b2, , bn merupakan variabel yang harus dicari. Metode ini dapat diselesaikan dengan dua cara yakni cara langsung dan cara iterasi.

II.2.2.1

Metode Iterasi Dalam hal ini variabel yang menjelaskan belum ditentukan lebih dulu (masih dicoba korelasinya terhadap variabel yang diramalkan). Metode diselesaikan tahap demi tahap : Tahap 1 : Pilih sejumlah variabel yang menjelaskan x1, x2,, xn. Tahap 2 : Hitung koefisiensi korelasi antara variabel yang dijelaskan dengan setiap variabel yang menjelaskan x1, x2, , xn. Tahap 3 : Pilih variabel yang mempunyai koefisien korelasi yang paling tinggi dengan y. Tahap 4 : Bila faktor inimisalnya x2, buat fungsi regresi usaha pertama y1 = ai + b1x2 dan hitung harga a dan b. Tahap 5 : Hitung residu r1 = y2 (a1 + b1x2) Tahap 6 : Hitung koefisien korelasi antara r1 dan setiap sisa faktor yang menjelaskan. Tahap 7 : Pilih sisa faktor yang menjelaskan yang mempunyai koefisien yang paling tinggi dengan r1. Tahap 8 : Bila faktor ini x1, buat usaha kedua dengan mempergunakan fungsi regresi : y2 = a2 + b2x1. Hitung parameter a2 dan b2 dengan cara seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Tahap 9 : Fungsi usaha pertama dan kedua memberikan : Y1 = (a1 + b1x2)+r1 Y2 = (a2 + b1x1) Y3 = Y1 + Y2 = (a1 + a2) + b2x1 + b1x2 dimana merupakan perbaikan bila dibandingkan dengan fungsi regresi pada usaha pertama. Tahap 10 : Hitung residu r2 = y1 {(a1+a2) + b2x1+ b1x2}

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

99

Tahap 11 : Hitung koefisien korelasi antara r2 dengan setiap sisa faktor yang menjelaskan, yang dalam hal ini x1,x2,,xn. Tahap 12 : Diteruskan dengan usaha ketiga dan seterusnya sama seperti cara sebelumnya sampai harga residu cukup kecil.

III.2.3. Metode Eksponensial Persamaan : Y = a.bt Bila dinyatakan dalam bentuk eksponensial menjadi : Log Y = log a + t logb Secara matematis, jika jumlah observasi adalah n maka persamaan tersebut dapat diberikan sebagai : Log Y = n loga + log b. t t.logY = loga. t + log b. t2 Dari persamaan di atas, akan didapat hubungan sebagai berikut : Log b = {n (tlogY) - t. logY} / {n t2 - ( t)2}

Log a = { log Y logb. t} / n

II.2.4.

Metode Gompertz

Persamaan gompertz adalah salah satu metode yang dipergunakan dalam analisa trend non linier. Umumnya dipergunakan dalam analisa perkembangan ekonomi, perkembangan kota, perkembangan penduduk, dan sebagainya. Persamaan : Y = e a-b.r t Dalam hal ini ada 3 parameter a,b, dan r sehingga untuk menentukan ketiga parameter tersebut diperlukan 3 (tiga) buah persamaan. Untuk memudahkan perhitungan, maka kondisi-kondisi berikut harus diketahui, yaitu:

a) Kondisi Inisial (t=0) Kondisi akan menentukan parameter a dan b. b) Kondisi Jenuh (t= tak hingga) Kondisi akan menentukan parameter a. c) Kondisi antara Insial dan Jenuh Kondisi ini akan menentukan parameter r.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

100

Bila parameter r >= 1, maka objek yang diamati tidak memenuhi model persamaan Gompertz.

3.1.1. Pola Trend Linier:

Bentuk persamaan umum trend linier ini : Y = a + b X dimana : Y = kepadatan telpon/100 penduduk X = Periode tahun a,b= Konstanta nilai yang masih harus dihitung berdasarkan kumpulan data kepadatan telpon per 100 penduduk pada tahun yang telah lewat. YI = a + b X Y1 = n . a + b. XI .YI = a. X1 XI 2

XI + b.

Metode Kuadrat Minimum (Least Square)

Metode kuadrat minimum digunakan untuk mendapatkan jumlah kuadrat jarak vertikal antara titik-titik koordinat dengan garis trend seminimal mungkin terhadap titik-titik pengamatan. Persamaannya : dimana : Y = a + b.u

Y = kepadatan telp/100 penduduk u = periode tengah tahunan, bilangan genap a,b = konstanta

yi = a + b.uI YI = n.a + b. uI YI uI = a. uI + b. uI

uI = 0 a= uIYI = a. ui + b ui2 b = Yi.uI / ui2 Yi/n

3.1.2. Pola Trend Non Linier

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

101

Pola ini menggambarkan bahwa nilai-nilai data mengalami kenaikan atau penurunan yang tidak konstan. 3.1.2.1. Pola Trend Kuadratik

Dalam jangka panjang, trend linier cenderung semakin mendatar sehingga secara keseluruhan akan memperlihatkan bentuk yang non linier yakni trend kuadratik. Persamaan secara matematis : Y = a + bX + c X2 X2 Y = a. X2 + b. X3 + c. X3 Dengan menggunakan metode Least Square, diperoleh penyelesaian yang lebih mudah yakni : Y = n.a + b. u + c. u2 uY = a. u + b. u2 + c. u3 u2Y = a. u2 + b. u3 + c. u4 , jika maka : Y = n.a + c. u2 dan sehingga : u2 y = a. u2 + c. u4 3.1.2.2 Trend Exponensial Pola trend eksponensial digunakan untuk menghitung nilai-nilai data dengan rasio perubahan yang konstan. Persamaan trend eksponensial : Y = a.bX log Y = log a + X log b X log Y = log a. X +log b. X2 uY = b. u2 u=0 dan u3=0

Dengan menggunakan metode Least Square, diperoleh penyelesaian yang lebih mudah yakni :

log Y (u log Y)

= n log a = log b u2, dimana u=0.

Perhitungan Metode Trend : 1. Trend Linier


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

102

Data : XI2 0 1 4 9 16 25 36 49 54 81

TAHUN 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991

Xi 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Yi 0.45 0.43 0.47 0.48 0.49 0.55 0.53 0.53 0.59 0.75

XI.YI 0 0.43 0.94 1.44 1.95 2.75 3.48 4.41 5.52 6.75

JUMLAH

45

5.52

27.68

285

Bentuk persamaan umum trend linier ini : Y = a + b X dimana : Y = kepadatan telpon/100 penduduk X = Periode tahun a,b= Konstanta nilai yang masih harus dihitung berdasarkan kumpulan data kepadatan telpon per 100 penduduk pada tahun yang telah lewat. YI = a + b X Y1 = n . a + b. XI .YI = a. X1 (1) XI 2 (2)

XI + b.

5.52

= 10 a + b 45 .. (1) 27.68 = 45 a + b. 285 .. (2)

Dari persamaan (1) dan (2) diatas :

(1) x 9 (2) x 2

49.68 = 90 a + b 405 55.36 = 90 a + b 570 - 5.68 = - b 165

b = 0.0344 a = 0.3971

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

103

Jadi persamaan trend liniernya :

Y' = 0.3971 + 0.0344 X

2. TREND NON LINIER

2.1

Trend Eksponensial

Pola trend eksponensial digunakan untuk menghitung nilai-nilai data dengan rasio perubahan yang konstan. Persamaan trend eksponensial : Y = a.bX log Y = log a + X log b X log Y = log a. X +log b. X2

Dengan menggunakan metode Least Square, diperoleh penyelesaian yang lebih mudah yakni : log Y = n log a (1) (u log Y) = log b dimana u=0 u2 .. (2)

Data :

TAHUN 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991

U -9 -7 -5 -3 -1 1 3 5 7 9

Y 0.45 0.43 0.47 0.48 0.49 0.55 0.58 0.63 0.69 0.75 81 49 25 9 1 1 9 25 49 81

U2

Log Y -0.3468 -0.3665 -0.3279 -0.3187 -0.3098 -0.2596 -0.2366 -0.2006 -0.1611 -0.1249

U Log Y 3.1212 2.5655 1.6395 0.9561 0.3098 -0.2596 -0.7093 -1.0030 -1.1277 -1.1241

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

104

JUMLA H

0.75

330

-2.6525

4.3679

dari persamaan (1) : -2,6525 = 10 log a a = 0.5429

Dari persamaan (2) :

4.3679 = 330 . log b b = 1.0309

Jadi persamaan trend eksponensialnya :

Y' = 0.5429 x 1,0309 U

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

105

2.2

TREND KUADRATIS Data :

TAHUN 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 -9 -7 -5 -3 -1 1 3 5 7 9

Y 0.45 0.43 0.47 0.48 0.49 0.55 0.58 0.63 0.69 0.75 5.52

U.Y -4.05 -3.01 -2.35 -1.44 -0.49 0.55 1.74 3.15 4.83 6.75 5.68 81 49 25 9 1 1 9 25 49 81 330

U2

U2.Y 36.45 21.07 11.75 4.32 0.49 0.55 5.22 15.75 33.61 60.75 190.16

U4 6561 2401 625 81 1 1 81 625 2401 6561 19338

JUMLAH 0

Y = n.a + b. u + c. u2 5.52 = 10 a + c 330 a = 0.552 - 33 c (1) jika u3=0 u=0 dan

uY = a. u + b. u2 + c. u3 5.68 = b 330 b = 0.0172 (2)

u2Y = a. u2 + b. u3 + c. u4 , jika

u=0 dan u3=0

190.16 = a 330 + c 19338 . (3) Dari persamaan (1) dan (3) : 190.16 = 330 (0.052 33 c ) + 19338 c c = 9.47 x 10-4 a = 0.520749 Jadi persamaan trend kuadratisnya : Y' = 0.520749 + 0.0172 U + 0.000947 U2
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

106

c. Peramalan kebutuhan secara mikro Peramalan kebutuhan telepon dengan pendekatan secara micro dilakukan dengan mencari faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan kebutuhan telepon. Faktor-faktor tersebut dapat diperoleh dari rencana induk perkembangan kota (Master Plan wilayah), yang didalamnya juga mengatur dan mengendalikan tata guna peruntukan tanah, prediksi jumlah penduduk dan perkembangan sosial ekonomi serta kebutuhan penyediaan fasilitas perkotaan. Disamping itu dapat juga diperoleh melalui survey lapangan untuk mengetahui pola kebutuhan dari wilayah bersangkutan. Selanjutnya berdasarkan pola kebutuhan tersebut disusun dan dirumuskan klasifikasi daerah dan jenis bangunan sebagai berikut : Daerah perumahan Daerah perkantoran Daerah komersial/perdagangan Daerah perindustrian Daerah untuk fasilitas umum. Kemudian berdasarkan klasifikasi daerah dan bangunan diatas dibuat faktor penetrasi yaitu perbandingan antara jumlah sambungan telepon yang terpasangan dengan daftar tunggu serta suppressed demand dengan jumlah jenis klasifikasi bangunan pada suatu daerah pelayanan sentral telepon. Faktor penetrasi menunjukkan kepadatan telepon per unit bangunan. Setiap klasifikasi bangunan dialokasikan dengan faktor penetrasi tersendiri. Faktor penetrasi dapat pula dinyatakan sebagai kepadatan telepon per hektar. Metoda ini digunakan bila lokasi/daerah masih belum ada bangunannya dan tidak ada data detail mengenai pembangunan yang akan dilakukan. Faktor penetrasi tahun (S+0) untuk setiap klasifikasi dinyatakan dengan :
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

107

Pelanggan + FP =

Calon Pelanggan +

Suppressed Demand

Klasifikasi Bangunan

Dimana suppressed demand 5 % dari ( Jumlah pelanggan + jumlah calon pelanggan ) Dalam menentukan faktor penetrasi tahun (S+0) perlu dilakukan survey lapangan dengan mngembil sampling sebesar 10 % dari jumlah grid efektif yang dianggap mampu mewakili karakteristik demand di lokasi yang bersangkutan. Kebutuhan pada tahun (S+0) untuk wilayah pemukiman dan bisnis adalah merupakan perkalian jumlah total bangunan untuk tiap klasifikasi dengan faktor penetrasi ( FP ) tahun ( S+0 ) untuk tiap klasifikasi. Dt = Di.Fi

Dimana : Di = jumlah total pemukiman untuk tiap klasifikasi. Fi = faktor penetrasi pada tahun ( S+0 ) untuk tiap klasifikasi. Dt = total kebutuhan. Untuk menentukkan faktor penetrasi di masa depan dilakukan dengan : FP saat sekarang. Pertumbuhan rata-rata FP. Nilai ultimate K. FP(t) = K/ (1+m.e-at) Dimana : FP(t) = faktor penetrasi tahun ke-t. K = batas maksimum harga faktor penetrasi. a,m = konstanta. Untuk mencari konstanta a dan m adalah sebagai berikut :
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

108

m = (K / FP(0)) 1 a = - (1 / t) ln {(K pf(t)) / (m.pf(t))} Dimana : pf(t) adalah pertumbuhan / trend PDRB rata-rata per tahun.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

109

III. PERHITUNGAN DENGAN METODE MIKRO

Data Pelanggan asumsi I

LOKASI

R1 JML SST CP 5 5 7 6 0 1 1 0 0 0 0 0 2 2 4 2 0 0 1 0 0 0 0 0 3 3 3 4 0 1 0 0 0 0 0 0

R2 JML SST CP 0 0 4 2 1 0 4 0 0 5 0 5 0 0 0 0 0 3 0 1.5 1 0 0 0 1 2.25 0 0 0 0 1 3 0 0 0 3.75

R3 JML 0 0 0 0 2 0 2 10 2 0 2 7

SST CP 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0.5 0 0 0 0.5 3 1.75 1 0.25 0 0 0 0.5 0 1.75

BLOK I BLOK II BLOK III BLOK IV BLOK V BLOK VI BLOK VII BLOK VIII BLOK IX BLOK X BLOK XI TANAH KOSONG TOTAL

25

11

14

21

3 13.5

25

4 5.25

Rekapitulasi Data Pelanggan

LOKASI

R1 JML SST CP 5 5 7 6 0 1 1 0 0 0 0 2 2 4 2 0 0 1 0 0 0 0 3 3 3 4 0 1 0 0 0 0 0

R2 JML SST CP 0 0 4 2 1 0 4 0 0 5 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 0 0 3 1.5 0 0 2.3 0 0 3 0

R3 JML SST CP 0 0 0 0 2 0 2 10 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 3 1 0 0 0 0 0 0 0.5 0 0.5 1.8 0.3 0 0.5


110

BLOK I BLOK II BLOK III BLOK IV BLOK V BLOK VI BLOK VII BLOK VIII BLOK IX BLOK X BLOK XI

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

0 TOTAL 25

0 11

0 14

0 16

0 3

0 9.8

0 18

0 4

0 3.5

Soal ini dikerjakan dengan menggunakan dua asumsi. Asumsi I : Dari data-data yang ada di peta, ingin dicari perkiraan traffik untuk 10 tahun yang akan datang . Pada peta terdapat tanah kosong seluas 5000 m2 yang dialokiasikan untu sarana umum sebesar 10 %, sedangkan sisanya untuk rumah type R2 dan R3. Dalam hal ini pembagian tersebut di rinci sbb :

1. 10 % dari 5000 m2 = 500 m2 untuk sarana umum yang dimasukkan ke dalam rumah type R2 dengan persentase calon pelanggan sebesar 100 %. 2. Sisanya sebesar 4500 m2 di bagi atas : Rumah type R2 sebanyak : 4 buah ( 2400 m2) Rumah type R1 sebanay : 7 Buah ( 2100 m2)

Untuk penghitungan faktor penetrasi pada nol tahun, pada asumsi pertama ini, tanah kosong yang terdapat di peta dianggap merupakan bangunan yang telah ada walaupun baru siap dibangun 5 tahun yang akan datang. Hal ini karena perhitungan yang dilakukan adalah untuk 10 tahun yang akan datang, dimana pada saat itu , bangunan pada tanah kosong sudah pasti ada . Disamping itu juga jenis dan type rumah yang akan dibangun sudah jelas, sehingga perkiraan akan kebutuhan sambungan telponnya dapat diketahui. Dan juga dari gambar yang ada tidak memungkinkan lagi untuk menambah bangunan, karena semua tanah sudah ditempati (termasuk tanah kosong ). Sehingga perhitungannya adalah sebagai berikut :

Type R1 R2 R3

Jumlah SST 11 3 4

Total Calon Pelanggan(CP) 14 13,35 5,25

Dari data diatas dapat dicari demand telepon untuk 10 tahun mendatang yakni : Untuk R1 :

Faktor penetrasi untuk tahun ke-0 : FP (0,i) = SIT(0,I)+DT(0,I)+ sup. Demand = (11+14+5%*(11+14))/25
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

111

= 1,05

D(t,i) = FP(t,i) . X(t,i) dimana :

FP(t,i) = FP(R1,10) = FP(S+0)x(1+0,1)10 = 1,05 x (1,1)10 = 2,7234

maka besarnya demand pada 10 tahun mendatang :

D(10,R1) = 2,7234 x 25 = 68,08 sst ~ 68 sst

Untuk R2 :

Faktor penetrasi untuk tahun ke-0 : FP (0,i) = SIT(0,I)+DT(0,I)+ sup. Demand = (3+13.5+5%*(3+13.35))/21 = 0,82463

FP(R2,10) = 0,82463 x (1,1)10 = 2,138877

Maka besarnya demand pada 10 tahun mendatang untuk R2 :

D(10,R2) = 2,138877 x 21 = 44,91 sst ~ 50 sst Untuk R3 :

Faktor penetrasi untuk tahun ke-0 : FP (0,i) = SIT(0,I)+DT(0,I)+ sup. Demand = (4+5.25+5%*(4+5.25))/25 = 0,3885

FP(R3,10) = 0,3885 x (1,1)10 = 1,0076

Maka demand pada 10 tahun mendatang untuk R3 :

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

112

D(10,R3) = 1,0076 x 25 = 25,19 sst ~ 25 sst Total permintaan telepon untuk 10 tahun mendatang:

Dtotal = 68 + 50 + 25 = 143 sst Dari data-data yang ada di peta, ingin dicari perkiraan traffik untuk 10 tahun yang akan datang . Pada peta terdapat tanah kosong seluas 5000 m2 yang dialokiasikan untu sarana umum sebesar 10 %, sedangkan sisanya untuk rumah type R2 dan R3. Dalam hal ini pembagian tersebut di rinci sbb :

3. 10 % dari 5000 m2 = 500 m2 untuk sarana umum yang dimasukkan ke dalam rumah type R2 dengan persentase calon pelanggan sebesar 100 %. 4. Sisanya sebesar 4500 m2 di bagi atas : Rumah type R2 sebanyak Rumah type R1 sebanay : 4 buah ( 2400 m2) : 7 Buah ( 2100 m2)

Untuk menghitung demand untuk 10 tahun mendatang, kita bagi atas dua tahap. Tahap pertama adalah menghitung Faktor Pentrasi tahun ke-nol, data-data pada tanah kosong yang akan dibangun tidak dimasukkan karena bangunan tsb baru siap setelah 5 tahun. Lalu kita cari Faktor Penetrasi tahun ke-5 nya. Tahap kedua adalah menghitung demand untuk 5 tahun ke dua. Pada tahap ini, Faktor Penetrasi tahun ke-5 pada tahap pertama dijadikan Faktor Penetrasi ke-nol pada perhitungan tahap ke-dua. Data-data pada tanah kosong diikut sertakan untuk , terutama dalam hal jumlah bangunan . Jadi perhitunggannya :

Type R1 R2 R3

Jumlah SST 11 3 4

Total Calon Pelanggan(CP) 14 9,75 3,5

Untuk 5 tahun pertama : Untuk R1 Faktor penetrasi untuk tahun ke-0 : FP (0,i) = SIT(0,I)+DT(0,I)+ Sup. Demand = (11+14+5%*(11+14))/25 = 1,05
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

113

Faktor penetrasi tahun ke-5 pada perhitungan 5 tahun pertama: FP(t,i) = FP(R1,5) = FP(S+0)x(1+0,1)5 = 1,05 x (1,1)5 = 1,69

Untuk R2 : Faktor penetrasi untuk tahun ke-0 : FP (0,i) = SIT(0,I)+DT(0,I)+ Sup. Demand = (3+9.75+5%*(3+9.75))/16 = 0,836719 Faktor penetrasi tahun ke-5 pada perhitungan 5 tahun pertama: FP(R2,5) = 0,836719 x (1,1)5 = 1,34754

Untuk R3 : Faktor penetrasi tahun ke-5 pada perhitungan 5 tahun pertama: Faktor penetrasi untuk tahun ke-0 : FP (0,i) = SIT(0,I)+DT(0,I)+ Sup. Demand = (4+3.5+5%*(4+3.5))/18 = 0,4375 FP(R3,5) = 0,4375 x (1,1)5 = 0,7045

Untuk tahun ke-dua : Data pelanggan untuk 5 tahun ke-dua : Untuk R1 Faktor penetrasi tahun ke-5 pada perhitungan 5 tahun ke-dua ( tahun ke-10 ): FP(t,i) = FP(R1,5) = FP(S+0)x(1+0,1)5 = 1,69 x (1,1)5 = 2,721

maka besarnya demand pada 5 tahun ke-dua : D(10,R1) = 2,721 x 25 = 68,04 sst ~ 68 sst

Untuk R2 :
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

114

Faktor penetrasi tahun ke-5 pada perhitungan 5 tahun ke-dua ( tahun ke-10 ): FP(t,i) = FP(R1,5) = FP(S+0)x(1+0,1)5 = 1,34754 x (1,1)5 = 2,170

maka besarnya demand pada 5 tahun ke-dua untuk R2 : D(10,R1) = 2,17 x 21 = 45,57 sst ~ 46 sst

Untuk R3 : Faktor penetrasi tahun ke-5 pada perhitungan 5 tahun ke-dua ( tahun ke-10 ): FP(t,i) = FP(R1,5) = FP(S+0)x(1+0,1)5 = 0,7045 x (1,1)5 = 1,1346

maka besarnya demand pada 5 tahun ke-dua untuk R2 : D(10,R1) = 1,1346 x 25 = 28,36 sst ~ 29 sst

Total permintaan telepon untuk 10 tahun mendatang: Dtotal = 68 + 46 + 29 = 143 sst

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

115

Kesimpulan :

Dengan menggunakan dua asumsi yang berbeda, kita memperoleh perkiraan kebutuhan telepon yang berbeda-beda untuk masing R1, R2 dan R3 , namun kita memperoleh total kebutuhan telpon yang sama baik menggunakan asumsi pertama maupun asumsi ke-dua yakni sebesar 143.

R1 R2 R3 Total

Asumsi 1 68 50 25 143

Asumsi 2 68 46 29 143

Rancangan Dasar Jaringan Lokal Akses Tembaga Rancangan dasar merupakan tahapan yang harus dikerjakan oleh seorang perencana JARKAB, sesudah tahap peramalan kebutuhan telepon selesai dikerjakan. Dalam membuat rancangan dasar diperlukan pengetahuan yang mendasar mengenai kriteria penentuan batas pelayanan untuk Sentral Telepon Otomat maupun Rumah Kabinet (RK) dan Kotak Pembagi (KP). Termasuk pula lokalisasi pada lokasi eksisting.

V.1.

Batas Pelayanan Batas pelayanan dapat didefuinisikan sebagai batas daerah yang dapat

dilayani atau dicatu oleh STO/RK/KP lokasi. Pada perencanan jaringan kabel penentuan batas pelayanan sangat penting karena besar pengaruhnya terhadap kemudahan operasi dan pemeliharaan, serta besar kecilnya biaya

pembangunannya. Penentuan Letak Sentral secara Teoritis

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Sentral merupakan salah satu komponen dari sistem telekomunikasi yang akan direncanakan . Untuk itu harus mengenal terlebih dahulu tentang sentral yakni bagaimana cara kita melihat model sentral, dan bagaimana cara menghitung biaya untuk suatu konfigurasi sentral.

Tiga aspek dalam melihat model dari suatu sentral : Konfigurasi sentral, tergantung pada subscriber, sirkit dan trafiknya. Floor space merupakan syarat untuk konfigurasi sentral. Perangkat saluran terminal, tergantung pada media transmisi yang digunakan serta type sentral pada salah satu ujung terminal.

Biaya untuk suatu konfigurasi sentral terdiri atas: Biaya perangkat untuk satu pelanggan Biaya perangkat secara bersama (sekelompok pelanggan). Ukuran dari kelompok pelanggan tersebut. Biaya perangkat untuk unit sentral lengkap Ada beberapa cara untuk menentukan distribusi pelanggan jaringan telepon , diantaranya : Nodes Pada nodes, pelanggan ditentukan dengan pemakaian biasanya untuk menghubungkan ke DP. Langkah seperti ini digunakan di dalam daerah dengan populasi yang jarangjarang seperti daerah rural. titik-titik diskrit ,

Rectangular Grid Digunakan pada daerah yang berpopulasi lebih padat. Caranya, rectangular grid diletakkan pada peta daerah yang sedang diamati dan dengan peramalan, kita tentukan jumlah pelanggan dalam setiap elemen gridnya untuk masa yang akan datang.

Abritari
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Abritari atau daerah sembarang adalah daerah tertutup oleh suatu rentetan garis lurus. Daerah ini biasanya menghubungkan blok-blok rumah ke daerah kabinaer. Biasanya dipakai sbagai pengganti grid, dan peramalan dapat menentukan subscriber di masa yang akan datang pada daerah yang berbentuk poligon sembarang.

Penentuan Letak Sentral Secara Teoritis

Dalam rangka memperoleh jaringan yang optimum, maka sewaktu menempatkan sentral harus dicari lokasi yang paling optimum pula. Hal ini berkaitan dengan minimisasi biaya keseluruhan jaringan agar semurah mungkin. Ini berarti bahwa jika menggunakan kabel, maka panjang seluruh kabel adalah sependek mungkin.

Penentuan letak sentral ini dapat dilakukan setelah melakukan demand survey. Ada beberapa cara untuk penentuan letak sentral , diantaranya :

a. Dengan penentuan titik berat jaring-jaring. Dengan demand survey dapat diketahui kepadatan pelanggan, dimana dapat ditentukan titik berat jaring-jaring yang merupakan letak dari sentral.

Penentuan titik berat jaring dilakukan dengan mempergunakan peta kepadatan pelanggan. daerah dimana akan direncanakan jaring-jaring pelanggan dibagi atas daerahdaerah kecil(kotak-kotak). Dalam daerah tersebut ditulis jumlah pelanggan yang diperkirakan akan terdapat dalam jangka waktu yang telah ditentukan, kemudian dijumlahkan menurut baris dan kolom.
K1 K2

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

B1 B2

Titik berat dari jaring-jaring adalah perpotongan antara B2 yang terakhir dibagi 2, dengan K2 yang terakhir di bagi 2. Titik berat tersebut adalah letak dari sentral switching, dimana merupakan lokasi yang menggunakan jaring-jaring sependek mungkin.

b. Dengan pendekatan panjang rata-rata dari kabel yang terpendek. Diumpamakan bahwa letak sentral adalah pada titik (xo,yo), maka tiap pelanggan dapat ditentukan koordinatnya yaitu misalnya A(x1,y1); dan B(x2,y2) serta (x3,y3) dan seterusnya sampai dengan ke-n yaitu(xn,yn)
Y

A(X1,Y1) Y1 Y2 L1 Y3 L0 X X1 X2 X3 L2 (X0,Y0) B(X2,Y2)

Panjang masing - masing pelanggan ke sentral adalah : L1 = ( (Xo-X1)2 + (Yo-Y1)2 )

L2 = ( (Xo-X2)2 + (Yo-Y2)2 )
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Ln = ( (Xo-Xn)2 + (Yo-Yn)2 ) Total : L = (L1+L2+ + Ln ) Panjang rata-rata adalah : L = (L1+L2+ + Ln )


n

Sedangkan koordinat sentral switching : X0 = X1 + X2 + X3 + .. + Xn


n

Y0 = Y1 + Y2 + Y3 + .. + Yn
n

Jadi koordinat sentral switching :


n

Xn
n 1

(X0,Y0) dimana : X0 = n
n

Yn
n 1

Yn =

c.

Dengan pendekatan panjang rata-rata untuk daerah tertentu.

Pendekatan ini dapat dilakukan jika daerah tersebut dapat dianggap memiliki bentuk empat persegi panjang pelanggan yang merata.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

dengan sisi l1 dan l2 terdapat kepadatan

l1

l
2

Dengan demikian maka perpotongan diagonal-diagonalnya akan menjadi letak dari sentral dengan panjang rata-rata minimum.

Panjang kabel rata-rata

l1 + l2
4

V.1.1. Batas Pelayanan KP V.1.1.1. Distribusi Yang dimaksud dengan Distribusi adalah penempatan KP pada daerah pelayanan RK atau DCL (Daerah Catu Langsung) dengan tepat, sehingga kebutuhan telepon dapat dicatu dengan baik dari KP tersebut. Lokasi KP ditentukan dengan mempertimbangkan letak dan keadaan KP eksisting, estetika, ekonomis dan effisien. V.1.1.2. Kriteria Distribusi KP Dalam menentukan letak KP harus berpegang pada ketentuan sebagai berikut : 6) Kebutuhan telepon untuk kurun waktu 15 tahun Kebutuhan telepon untuk kurun 15 tahun merupakan dasar utama dalam menentukan letak KP. Batas Pelayanan untuk setiap KP ditentukan dari batas catuan untuk kebutuhan telepon dengan jarak maksimum 250 meter. Batas catuan tersebut ditetapkan setelah menganalisa hasil survei mikro kebutuhan telepon dilokasi tersebut. 7) Batas Pelayanan

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Batas-bats tersebut dapat berupa batas geografis, utilitas batas persii, rel kereta api, sungai besar, jalan besar, tegangan tinggi dan rencana tata kota. Mengingat batas catuan KP merupakan batas pelayanan yang terkecil, maka batas antara dua persil pada jalan yang sama dapat juga dijadikan batas ideal bagi daerah pelayanan KP. Letak KP diupayakan ada di tengah-tengah daerah pelayanan KP tersebut.

8)

Kapasitas KP Pada dasarnya KP yang digunakan mempunyai kapasitas 10 dan 20. Terminasi sebaiknya tidak seluruhnya namun diberi spare dengan pertimbangan : c) Kemudahan pemeliharaan d) Keserasian saluran penanggal KP dengan kapasitas 20 digunakan bila potensi kebutuhan telepon di daerah pelayanan KP tersebut tinggi.

9)

Panjang Saluran Penanggal / Drop Wire Batas maksimum saluran penanggal diupayakan 250 meter kecuali untuk kondisi tertentu (tergantung pada hasil survei), batas maksimum dapat diabaikan.

10) KP Existing Selain kebutuhan telepon dalam kurun 15 tahun, maka kondisi KP. Existing perlu dipertimbangkan. Interaksi dengan KP existing perlu diperhatikan dengan pertimbangan KP baru merupakan penambahan atau penggantian KP existing. Hasil analisa tersebut sangat menentukan posisi/ letak KP baru terhadap DP/KP Existing.

V.1.1.3. Lokasi Daerah Pelayanan KP 3. Untuk daerah yang sudah mantap dimana diseluruh daerah pelayanan sudah terisi bangunan-bangunan yang tetap, maka

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

kebutuhan telepon untuk kurun 15 tahun harus dipertimbangkan masak-masak. 4. Untuk daerah yang belum mantap, dimana pada daerah pelayanan masih banyak lahan-lahan kosong maka penempatan KP harus mempertimbangkan faktor lain yaitu besarnya investasi, karena harus dihindarkan pengembalian investasi dalam jangka waktu lama, akibat idlenya KP (perkembangan wilayah tidak sesuai rencana tata kota). Untuk kasus demikian KP tidak dipersiapkan sebagai gantinya dipersiapkan cable stub.

V.1.1.4. Jenis KP dan Penggunaannya 3. SPBT (Sambungan Pembagi Bawah Tanah) f) Digunakan untuk daerah-daerah yang sudah teratur dan permanen (Sattled Area) g) Aman dari gangguan lalu lintas. h) Tidak merusak pandangan sekelilingnya. i) Pada tikungan yang tajam, letaknya 5 meter dari tikungan tersebut. j) Diupayakan letaknya di antara dua persil. Berdasarkan kenyataan di lapangan kurang baiknya pelaksanaan pemasangan SPBT oleh kontraktor JARKAB, sering mengakibatkan bocornya SPBT sehingga gangguan yang terjadi sangat tinggi terutama pada tempat-tempat yang air tanahnya sangat tinggi. Maka SPBT menjadi tidak ekonomis sehingga diputuskan untuk tidak digunakan lagi (Keputusan DIROP pada tahun 1987).

4.

SPAT (Sambungan Pembagi Atas Tanah) f) Dipasang di daerah yang belum mantap/belum permanen. g) Letak tiang harus aman, sehingga tidak mengganggu lalu lintas dan pejalan kaki, pintu masuk/keluar perumahan/pertokoan dll. h) Diupayakan serasi dengan keadaan lingkungan. i) Memudahkan petugas JARKAB melakukan pemeliharaan.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

j) Dipertimbangkan tentang keseimbangan rute.

V.1.2. Batas Pelayanan RK V.1.2.1. Kebutuhan Telepon Bila daerah di catu RK tersebut merupakan daerah yang mantap, maka jumlah kebutuhan telepon dalam kurun waktu 15 tahun mendatang digunakan sebagai patokan dalam menentukan batas pelayanan tersebut. Namun bila daerah bila daerah tersebut merupakan daerah yang berkembang, maka diupayakan untuk mengintegrasikan daerah tersebut kedalam daerah pelayanan RK yang berdekatan. V.1.2.2. Kapasitas RK Kapasitas yang akan digunakan disesuaikan dengan kebutuhasn telepon yang akan dicatu. Besar kapasitas menunjukkan jumlah kapasitas kabel primer dan sekunder yang dapat diterminasikan pada RK tersebut. V.1.2.3. Batas Batas Geografi, utilitas, batas Administrasi wilayah, rel KA, sungai, jalan besar, tegangan tinggi merupakan batas-batas yang baik untuk batas pelayanan RK. Bila tanda-tanda tersebut sulit ditemukan, maka batas administrasi wilayah atau batas antara dua persil yang saling membelakangi akan saling membelakangi merupakan alternatif terakhir. V.1.2.4. Penempatan RK Hal yang perlu diperhatikan dalam penempatan RK adalah : e) Bahwa daerah disekitar RK tersebut mempunyai konsentrasi kebutuhan telepon yang tinggi. f) Tidak terlalu jauh dari MH terdekat.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

g) Lokasi RK selaras, serasi dan aman dengan lingkungan sekitarnya. Serta memudahkan petugas dalam memeriksa dan memperbaiki jaringan kabel yang tersambung pada RK tersebut. h) Penempatan diupayakan agar tidak ada catuan sekunder yang membalik.

V.1.3. Batas Pelayanan Sentral. c) Pengertian Batas pelayanan sentral adalah suatu daerah pelayanan telepon yang dicatu oleh satu sentral telepon dimana daerah tersebut dibatasi oleh kondisi tertentu dan batas tersebut memenuhi persyaratan teknis sentral dan jaringan kabel yang telah ditetapkan. d) Batas pelayanan sentral Batas pelayanan sentral harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: 3. Untuk sentral tunggal Kebutuhan telepon Syarat batas redaman kabel Batas Administrasi kota ybs Kondisi geografi, utilitas, batas-batas riil/nyata tertentu. 4. Untuk sentral jamak Selain harus memenuhi syarat diatas juga harus diperhatikan kapasitas maksimum sentral terhadap jumlah kebutuhan telepon secara keseluruhan di daerah pelayanan sentral tersebut.

V.2. Normalisasi Daerah Pelayanan DP/RK/STO. V.2.1. Pengertian Normalisasi daerah pelayanan DP/RK/Sentral adalah pengaturan kembali batas-batas daerah pelayanan DP/RK/STO. Sentral yangsudah ada dikarenakan hal-hal tertentu sudah tidak sesuai lagi dengan kriteria batas pelayanan DP/RK/Sentral yang baru.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

V.2.2. Tujuan Normalisasi Menghindari terjadinya tumpang tindih catuan antara DP/RK/Sentral. Merapihkan sistem jaringan kabel telepon sehingga dapat memudahkan pelayanan dan pemeliharaan. Memperbaharui/mengganti jaringan kabel dalam daerah pelayanan DP/RK yang rusak atau tidak sesuai lagi dengan spesifikasi teknis yang ada. Perhitungan Volume Pengadaan Material 1) Dasar pengertian : a. Berdasarkan peta skema kabel primer dihitung volume material kabel primer berikut alat sambung dan Rumah Kabel (RK). b. Berdasarkan peta skema kabel sekunder, alat sambung, KP, tiang KP (berikut kelengkapannya), temberang (tarik , sokong), SPBT dan SPAT. c. Berdasarkan peta skema duct dapat dihitung jumlah pipa, jarak dan type manhole/handhole. d. Berdasarkan peta lokasi kabel primer, sekunder dan duct dapat dihitung jumlah galian dan komposisinya. e. Berdasarkan peta skema kabel penghubung dapat dihitung volume material kabel dan material pembantu serta dan loading coil. f. Berdasarkan gambar konstruksi, dihitung kabel material untuk lintasan dengan kontruksi yang diperlukan. g. Berdasarkan gambar RPU, dihitung material yang diperlukan untuk pembuatan rak pembagi utama, terminal strip. Perluasan kabel chamber dan kabel voult dan pekerjaan lain yang ada hubungannya dengan RPU.

2) Cara Perhitungan a. Kabel Tanah/udara


CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Yang dimaksud volume material di sini adalah kebutuhan panjang kabel yang dapat dihitung dengan cara sebagai berikut : 1) Panjang riil = panjang span + panjang untuk keperluan

penyambung kabel, RK, KP dan cadangan (stub kabel) 2) Toleransi penarikan = panjang span + 4% s/d 5% 3) Sehingga volume kebutuhan kabel = panjang riil + toleransi penarikan.

Tambahan panjang yang diberikan untuk keperluan penyambungan kabel, RK, KP dan cadangan kabel masing-masing untuk : 1) penyambungan kabel, 2m pada setiap ujung. 2) penyambungan RK, 5 m. 3) penyambungan KP, 10 m (KT), 4) Untuk kabel cadangan, 3 m. 2 m (KU).

b. Kabel Duct Cara menghitung volume kebutuhan kabel duct perhitungannya adalah sebagai berikut : 1) Kebutuhan kabel (pada duct existing) = panjang span + panjang untuk keperluan penyambungan kabel, RK, dan cadangan kabel (kalau ada). 2) Kebutuhan kabel (pada duct baru) = (panjang span x 1,04) + panjang untuk keperluan penyambungan kabel, cadangan kabel masing-masing untuk : penyambungan kabel, 2,5 m pada setiap ujung kabel. penyambungan RK, kabel cadangan, 3m 5m RK dan

c. End Cap

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Yang dimaksud volume kebutuhan end cap disini adalah untuk keperluan kabel cadangan dan dihitung berdasarkan skema kabel (primer dan sekunder).

d. Perhitungan Volume Pengadaan Kelengkapan Kabel Volume kelengkapan kabel (accessories) terdiri dari : 1) 2) 3) 4) 5) Alat sambung (tanpa dan dengan tekanan) Rumah kabel Kotak pembagi Terminal strip MDF, RK, dan KP Tiang telepon

Kelengkapan kabel (accessories) tersebut dihitung sesuai peta lokasi

e. Perhitungan Jasa Instalasi 1) Dari hasil perhitungan material tersebut diatas dapat disusun volume pekerjaan jasa instalasi menurut jenis

pekerjaannya yaitu : a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Penarikan kabel Penyambungan kabel Pemasangan KP Pemasangan RK Pemasangan RPU Pemasangan tiang KP Pemasangan temberang (sokong, tarik, labrang) Pemasangan terminal ship (KP, RK, MDF) Terminal kabel Pengetesan kabel.

2)

Dari gambar peta lokasi kabel dapat dihitung volume pekerjaan sebagai berikut :

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

a) b) c) d) e)

Penggalian alur kabel Pembuatan lintasan jalur pada jalan (crossing) Perbaikan kembali bekas galian kabel Pembuatan lintasan kabel pada parit Pemasangan tiang rute.

3)

Sedangkan dari gambar desain sipil dapat dihitung : a) Volume pekerjaan pembuatan duct, manhole, handhole, jembatan duct dan pekerjaan lainnya yang tidak termasuk pada pekerjaan jarkab. b) Volume pekerjaan pembuatan lintasan kabel pada sungai yang menggunakan konstruksi khusus.

f. Daftar Isian yang harus dibuat : 1) 2) 3) 4) Volume pengadaan material Volume jasa Rincian perhitungan kabel primer Rincian perhitungan alat sambung, endset, tempat

sambungan kabel tanah 5) Volume pengadaan RK, MDF, pekerjaan switch over dan terminasi. 6) 7) Rincian perhitungan kabel sekunder Rincian perhitungan alat sambung kabel tanah, kabel udara dan tempat sambungan kabel. 8) Rincian perhitungan KP, terminal strip KP, terminal strip KP, tiang KP dan pekerjaan switch over sekunder. 9) 10) Rincian perhitungan galian kabel Rincian penghitungan lintasan kabel pada jalan, pembukaan lapisan, dan perbaikan kembali bekas galian 11) Rincian penghitungan lintasan parit, sungai, rel KA, tiang rute KU dan temberang.
CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

II.4

Route Meter

Route meter adalah panjang kabel yang melalui jalan yang sama atau jarak terpendek dari kabel primer / sekunder yang diambil apabila sentral telepon atau rumah kabel sebagai pusat. Route meter ini perlu diperhatikan : diperlukan sependek mungkin menghemat biaya untuk menanam kabel

Didalam perhitungan sesungguhnya pengertian route meter adalah panjang galiannya. Jadi jika dipakai overhead cable, biaya route meter tidak ada. Yang ada adalah : Biaya pair meter : ialah biaya dari jumlah seluruh pair kabel dikalikan panjang nya. Biaya kabel meter : ialah biaya dari jumlah panjang kabel seluruhnya. Luas wilayah sentral atau kabinet dibagi-bagi : Jika wilayah sentral maka dibagi menjadi cabinet district. Jika wilayah cabinet district maka dibagi menjadi spreading area. Cabinet district : daerah yang dicakup oleh cabinet (RK) Spreading area : daerah yang dicakup oleh Distribution point (DP). Rumus route meter = ( l1 Dimana : l1 = panjang daerah l2 = lebar daerah 1 = lebar kotak kecil yang membagi daerah 2 = panjang kotak kecil yang membagi daerah 2 ) + ( l2 - 1 ) ( l1 / 2 )

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto

Biaya kabel Didalam perencanaan selain kabel harus dipasang menurut konfigurasinya, juga harus dihitung berapa biaya kabelnya. Jumlah seluruh biaya kabel : K = ( a + b p1 ) l1 + ( a + b p2 ) l2 + . = a L + b M Dimana : a = cost per kabel meter b = cost per pair meter L = total panjang kabel M = jumlah pair meter Selain dari pada itu masih harus diperhitungkan biaya pekerjaan penyambungan kabel yaitu : K = C.N dimana : C = unit penyambungan per pair N = jumlah pair Disamping itu masih ada lagi faktor maintenance dari kabel yaitu : = 1 + ( 1 s ) / ( 1 + r )t +(u/r)

dimana : s = perbedaan antara harga material yang rusak dengan biaya penggantiannya. r = faktor interest (bunga) t = perioda perencanaan u = perbandingan antara biaya maintenance dengan biaya perbaikannya.

CPE( Costumer Promise Equipment) UNTUK Perencanaan Jaringan Lokal Akses Tembaga SMKN 5 TELKOM BANDA ACEH By Heri Susanto