Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Walaupun telah banyak kemajuan dalam penatalaksanaannya, penyakit jantung koroner ( PJK ) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting. Di Negara-negara maju dan beberapa Negara berkembang seperti Indonesia, PJK merupakan penyebab kematian utama. Di Amerika Serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50 % dari penderita PJK mempunyai manifestasi awal Angina Pectoris Stabil ( APS ). Jumlah pasti penderita angita pectoris ini sulit diketahui. Dilaporkan bahwa insidens angina pectoris pertahun pada penderita diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita per 100.000 penduduk. Asosiasi jantung Amerika memperkirakan ada 6.200.000 penderita APS ini di Amerika serikat. Tapi data ini nampaknya sangat kecil bila dibandingkan dengan laporan dari dua studi besar dari Olmsted Country dan Framingham, yang mendapatkan bahwa kejadian infark miokard akut sebesar 3% sampai 3.5% dari penderita APS pertahun, atau kurang lebih 30 penderita APS untuk setiap penderita infark miokard akut. Mengingat banyaknya jumlah penderita APS dan kerugian yang ditimbulkannya terutama secara ekonomi, diperlukan penatalaksanaan yang lebih komprehensif. Tetapi APS terutama ditujukan untuk menghindarkan terjadinya infark miokard akut dan kematian sehingga meningkatkan harapan hidup, serta mengurangi symptom dengan harapan meningkatnya kualitas hidup. Pada penderita yang berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan awal didapatkan kemungkinan sedang atau tinggi untuk menderita suatau PJK perlu dilakukan test secara non invasif maupun invasive untuk memastikan diagnosa serta menentukan stratifikasi resiko. Penderita APS dengan resiko tinggi atau resiko sedang yang kurang berhasil dengan terapi standart, perlu dilakukan tindakan revaskularisasi, terutama bila penderita memang menghendaki. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mampu menerapkan keperawatan pada klien dengan angina pectoris.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian dari Angina Pektoris ? 2. Ada berapakah jenis Angina Pektoris ? 3. Apa etiologi dari Angina Pektoris ? 4. Bagaimanakah manifestasi klinis dari Angina Pektoris ? 5. Apa saja pemeriksaan penunjang dari Angina Pektoris ? 6. Bagaimanakah asuhan keperawatan dari Angina Pektoris ?

1.3 Tujuan 1. Tujuan Umum Adapun tujuan Umum kami menyusun makalah ini adalah untuk mengetahui penyakit angina pectoris secara umum. 2. Tujuan Khusus a. Menjelaskan konsep medis dari Angina pektoris

b. Menjelaskan konsep dasar ASKEP dari Angina pektoris

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI Angina pektoris adalah suatu syndrome yang ditandai dengan rasa tidak enak yang berulang di dada dan daerah lain sekitarnya yang berkaitan yang disebabkan oleh ischemia miokard tetapi tidak sampai terjadi nekrosis. Rasa tidak enak tersebut sering kali digambarkan sebagai rasa tertekan, rasa terjerat, rasa kemeng, rasa penuh, rasa terbakar, rasa bengkak dan rasa seperti sakit gigi. Rasa tidak enak tersebut biasanya berkisar 1 15 menit di daerah retrosternal, tetapi dapat juga menjalar ke rahang, leher, bahu, punggung dan lengan kiri. Walaupun jarang, kadang-kadang juga menjalar ke lengan kanan. Kadang-kadang keluhannya dapat berupa cepat capek, sesak nafas pada saat aktivitas, yang disebabkan oleh gangguan fungsi akibat ischemia miokard. Angina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel. (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993). Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti. (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996)

2.2 ETIOLOGI Penyebab dari angina pectoris antara lain : ateroskelerosis, spasme pembuluh koroner, anemia berat, artritis, insufisiensi aorta, latihan fisik, pajanan terhadap dingin, makan makanan berat dan stress.

2.3 TIPE SERANGAN ANGINA PEKTORIS 1. Angina Pektoris Stabil

Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen miokard.

Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian aktifitas. Durasi nyeri 3 15 menit. Dibedakan antara lain : Angina Nokturnal Nyeri terjadi saat malam hari, biasanya saat tidur, dapat dikurangi dengan duduk tegak. Biasanya akibat gagal ventrikel kiri. Angina Dekubitus : Angina saat berbaring Iskemia tersamar Terdapat bukti obyektif ischemia ( seperti tes pada stress tetapi pasien tidak menunjukkan gejala.

2. Angina Pektoris Tidak Stabil (angina prainfark, angina kresendo)

Sifat, tempat dan penyebaran nyeri dada dapat mirip dengan angina pektoris stabil.

Frekwensi, intensitas, dan durasi serangan angina meningkat secara progresif.

Durasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil. Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktifitas ringan.

Kurang responsif terhadap nitrat. Lebih sering ditemukan depresisegmen ST. Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang beragregasi.

Angina non stabil di bedakan antara lain : - Angina Refrakter atau intraktabel (Angina sampai tidak tertahan) yang sangat berat

3. Angina Prinzmental (Angina Varian).

Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari.

Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroneraterosklerotik. EKG menunjukkan elevasi segmen ST. Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akut.

Dapat terjadi aritmia. Di duga disebabkan oleh spasme arteri koroner

2.4 FAKTOR-FAKTOR RESIKO 1. Dapat Diubah (dimodifikasi) Diet (hiperlipidemia) a. Rokok b. Hipertensi c. Stress d. Obesitas e. Kurang aktifitas f. Diabetes Mellitus g. Pemakaian kontrasepsi oral 2. Tidak dapat diubah a. Usia b. Jenis Kelamin c. Ras d. Herediter e. Kepribadian tipe A

2.5 FAKTOR PENCETUS SERANGAN Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain : 1. Emosi 2. Stress, atau berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan, menyebabkan frekuensi jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat. 3. Kerja fisik terlalu berat, dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung. 4. Hawa terlalu panas dan lembab, Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokontriksi dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.

5. Terlalu kenyang, Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah unuk supai jantung. 6. Banyak merokok

2.6 GAMBARAN KLINIS 1. Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri. 2. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort). Nyeri sangat terasa pada di daerah belakang sternum atas atau sternum ketiga tengah (retrosentral). Meskipun rasa nyeri biasanya terlokalisasi, namun nyeri tersebut dapat menyebar ke leher, dagu, bahu, dan aspek dalam ekstremitas atas. 3. Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit. 4. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin. 5. Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines. 6. Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik. 7. Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan.

2.7 PATOFISIOLOGI Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada

ketidakadekuatan suplay oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekauan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung. Namun apabila

arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium. Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksido yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kebutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.

2.8 PATHWAYS ANGINA PEKTORIS


Arteriosklerosis koroner Spasme pembuluh darah Pajanan terhadap dingin Stress Latihan Fisik Makan makanan berat

Arteri kaku (penyempitan lumen) Vasokonstriksi pembuluh darah

Adrenalin meningkat

Kebutuhan O2 jantung meningkat

Aliran O2 meningkat ke mesentrikus

Penyempitan/blok lebih dari 75 %

Aliran O2 jantung menurun Aliran O2 arteri koronaria menurun

Ketidakseimbangan suply dengan kebutuhan O2 miokard yang bertambah

Jantung kekurangan O2

Kebutuhan O2 miokard meningkat

Iskhemia otot jantung

Hipoksia

Kontraksi miokardium menurun

Metabolisme anaerob

Gangguan kontraksi ventrikel kiri MK. Curah jantung menurun Asam laktat meningkat

Penurunan stroke volume

Penurunan Cardiac Output MK. Nyeri akut

Nyeri dada

Rasa lelah, lemas

Takut mati

Perlu menghindari komplikasi

MK. Intoleransi Aktivitas

MK. Ansietas /cemas Diperlukan pengetahuan tinggi

MK. Kurangnya pengetahuan

2.9 PEMERIKSAAN PENUNJANG Elektrokardiogram Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal. Gambaran EKG kadang-kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark moikard pada masa lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi dan angina. Kadangkadang EKG menunjukkan perubahan segmen ST dan gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan menunjukkan adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif. Foto Rontgen Dada Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal, tetapi pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina pectoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark miokard jantung akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT, atau LDH. Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol, HDL, LDL, dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yahng juga merupakan faktor risiko bagi pasien angina pectoris. Uji Latihan Jasmani Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkalimasih normal, maka seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani tersebut dibuat EKG pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan dengan alat treadmill atau sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian pula setelah selesai EKG terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST sebesar 1 mm atau lebih pada

waktu latihan atau sesudahnya. Lebih-lebih bila disamping depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada seperti pada waktu serangan, maka kemungkinan besar pasien memang menderita angina pectoris.

Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut. Thallium Exercise Myocardial Imaging Pemeriksaan ini dilakukan bersama-sama ujian latihan jasmani dan dapat menambah sensifitas dan spesifitas uji latihan.thallium 201 disuntikkan secara intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan pemeriksaan scanning jantung segera setelah latihan dihentikan dan diulang kembali setelah pasien sehat dan kembali normal. Bila ada iskemia maka akan tampak cold spot pada daerah yang yang menderita iskemia pada waktu latihan dan menjadi normal setelah pasien istirahat. Pemeriksaan ini juga menunjukkan bagian otot jantung yang menderita iskemia.

2.10

TERAPI FARMAKOLOGI Nitrogliserin. Senyawa nitrat masih merupakan obat utama untuk menangani angina pektoris. Nitrogengliserin diberikan untuk menurunkan konsumsi jantung yang akan mengurangi iskemia dan mengurangi nyeri agina. Nitrogliserin adalah bahan vasoaktif yang berfungsi melebarkan baik vena maupun arteria sehingga mempengaruhi sirkulasi parifer.dengan pelebaran vena terjadi penggumpalan darah vena di seluruh tubuh. Akibatnya hanya sedikit darah yang kembali ke jantung dan terjadilah penurunan tekanan pengisian (preload). Nitrat juga melepaskan arteriol sistemik dan menyebabkan penurunan tekanan darah (penurunan afterload). Semua itu berakibat pada penurunan oksigen pada jantung, menciptakan suatu keadaan yang lebih seimbang antara suplay dan kebutuhan. Nitrogliserin biasanya diletakkan dibawah lidah (sublinguinal) atau di pipi (kantong bukal) dan akan menghilangkan nyeri iskemia dalam 3 menit.

10

Pasien diminta untuk menggerakkan dan jangan menelan ludah sampai tablet nitrogliserin larut. Bila nyeri sangat berat, tablet dapat dikunyah untuk dapat mempercepat penyerapan dibawah lidah.

Sebagai pencegahan, pasien harus selalu membawa obat ini. Nitrogliserin bersifat sangat tidak stabil dan harus disimpan dalam botol gelap tertutup rapat. Nitogliserin tidak dapat disimpan dalam botol plastik atau logam.

Nitrogliserin mudah menguap dan menjadi tidak aktif bila terkena panas, uap, udara,cahaya dalam waktu lama. Bila ntrogliserin masih segar, pasien akan merasa terbakar di bawah lidah dan kadang kepala terasa tegang dan berdenyut. Persiapan nitrogliserin harus

diperbaharui setiap 6 bulan sekali. Selain menggunakan dosis yang telah ditentukan, pasien harus mengatur sendiri dosis yang diperlukan, yaitu dosis terkecil yang dapat menghilangkan nyeri. Obat harus digunakan untuk

mengantisipasi bila akan melakukan aktivitas yang mungkin akan mengakibatkan nyeri. Karena Nitrogliserin dapat meningkatkan toleransi pasien terhadap latihan dan setres bila digunakan sebagai pencegahan (misal sebelum latihan, menaiki tangga, hubungan seksual) maka lebih baik gunakan obat ini sebelum rasa nyeri muncul. Pasien harus mengingat berapa lama kerja nitrogliserin dalam menghilangkan nyeri, bila nyeri tidak dapat dikurangi dengan notrogliserin, harus dicurigai adanya infark miokardium. Bila nyeri menetap setelah memakai tiga (3) tablet sublingual dengan interval 5 menit, pasien dianjurkan segera dibawa fasilitas perawatan darurat terdekat. Efek samping nitrogliserin meliputi rass panas, sakit kepala berdenyut, hipertensi, dan takikardi. Penggunaan preparat nitrat long-acting masih diperdebatkan. Isrobid dinitrat (isordil) tampaknya efeksamping 2 jam bila digunakan di bawah lidah, tapi efeknya tidak jelas bila diminum peroral. Salep Nitrogliserin Topikal. Nitrogliserin juga tersedia dalam bentuk Lnilin-petrolatum. Bentuk ini dioleskan di kulit sebagai perlindungan

11

terhadap nyeri angina dan mengurangi nyeri. Bentuk ini sangat berguna bila digunakan pada pasien yang mengalami angina pada malam hari atau yang menjalankan aktivitas dalam waktu yang cukup lama (misal main golf) karena mempunyai efek jangka panjang sampai 24 jam. Biasanya dosis ditingkatkan sampai sakit kepala atau efek berat terhadap tekanan darah atau tekanan jantung, kemudian diturunka sampai dosis tertinggi yang tidak menimbulkan efek samping tersebut. Cara pemakaian salep biasanya dilampirkan pada kemasan. Pasien diingatkan untuk mengganti tempat yang akan dioleskan salep untuk mencegah iritasi kulit. Penyekat Beta-adrenergik. Bila pasien tetam menderita nyeri dada meskipun telah mendapat nitrigliserin dan merubah gaya hidup, maka diperlukan bahan penyekat beta adrenergik. Propanolol hidroklorit ( Inderal) masih merupakan obat pilihan. Obat ini berfungsi menurunkan konsumsi oksigen dengan menhambat impuls simpatis ke jantung. Hasilnya terjadi penurunan frekuensi jantung, tekanan darah, dan kontraksi jantung yang menciptakan suatu keseimbangan antara kebutuhan oksigen jantung dan jumlah oksigen yang tersedia. Hal ini dapat membantu mengontrol nyeri dada dam memungkinkan pasien bekerja atau berolahraga. Propanolol dapat diberikan bersama isorbid dinitrat sub lingual atau oral untuk mencegah nyeri angina. Propanolol dibersihkan oleh hati dengan kecepatan bervariasi, tergantung dari masing-masing pasien. Biasanya diberikan dengan interval 6 jam, efek sampingnya meliputi kelemahan muskuloskeletal, brakikardia, dan depresi mental.

Bila propanolol diberikan, maka tekanan darah dan frekuensi jantung harus dipantau (denngan pasien dengan posisi tegak) 2 jam setelah pemberian obat. Pemberian dapat dilakukan oleh anggota keluarga dirumah atau petugas kesehatan. Jika tekanan darah turun secara mendadak, maka perlu diberikan vasopresor. Bila terjadi brakikardi berat, atropin merupakan atridot pilihan. Juga penting diingat bahwa propanolol dapat mencetus gagal jantung kongesti dan asma.

12

Pasien diperingatkan untuk tidak berhenti minum propanolol secara mendadak,karena ada bukti bahwa angina akan menjadi lebih parah dan dapat timbul infark miokardium, bila dihentikan secara mendadak. Antagonis Ion Kalsium/Penyekat Kanal. Penyekat atau antagonis kalsium memiliki sifat yang sangat berpengaruh kebutuhan dan suplai oksigen jantung, jadi berguna untuk menangani angina. Secara fisiologis, ion kalsium berperan ditingkat sel mempengaruhi kontraksi semua jaringan otot dan berperan dalam stimulus listrik pada jantung.

Antagonis/ penyekat ion kalsium meningkatkan suplai oksigen jantung dengan cara melebarkan dinding otot polos arteriol koroner dan mengurangi kebutuhan jantung dengan menurunkan tekanan arteri sistemik dan, demikian juga beban kerja ventrikel kiri. Tiga Antagonis/ penyekat ion kalsium yang biasa digunakan adalah nifedipin (Prokardia), verapamil (Isoptin, Calan) dan diltiazen ( Cardizem). Efek vasodilatasi obat-obat tersebut, terutama pada sirkulasi koroner, berguna untuk angina yang diakibatkan oleh vasospasme koroner (angina prinzmetal). Penyekat kalsium harus digunakan secara hati-hati pada pasien gagal jantung karena obat ini akan menyekat kalsium yang mendukung kontraktilitass. Hipotensi dapat terjadi pada pemberian intra vena (IV). Efek samping yang bisa terjadi adalah konstipasi, distres lambung, pusing atau sakit kepala. Antagonis/penyekat kalsium biasanya diberikan tiap 6-12 jam. Untuk setiap individu dosis terapeutiknya berbeda.

Aspirin,Banyak studi telah membuktiksn bahwa aspirin dapat mengurangi kematian jantung dan infark fatal maupun non fatal dari 51% -72% pada pasien dengan angina tak stabil. Oleh klarena itu aspirin dianjurkan untuk diberikan seumur hidup dengan dosis awal 160 mg perhari dan dosis selanjutnya 80 sampai 325 mg perhari. Tiklopidin. Suatu derivat tienopiridin merupakan obat lini kedua dalam pengobatan angina tak stabil bila pasien tidak tahann aspirin. Studi dengan tiklopidin dibandingkan plasebo pada angina tak stabil

13

ternyata menunjukkan bahwa kematian dan infark non fatal berkurang 46,3%. Dalam pemberian tiklopidin harus diperhatikan efek samping granulositopenia, dimana insidens 2,4%. Dengan adanya klopidogrel yang lebih aman pemakaian tiklopidin mulai ditinggalkan.

Inhibitor Glikoprotein IIb/IIIa. Ikatan fibrinogen dengan reseptor GP Iib/IIIa pada platelet ialah ikatan terakhir pada proses agregasi platelet. Karena inhibitor GP IIb/IIIa menduduki reseptor tadi maka ikatan platelet dengan fibrinogen dapat dihalangi dan agregasi platelet tidak terjadi. Obat Anti Trombin: Unfractionated Heparin. Heparin adalah glikosaminoglikan

yangterdiri dari pelbagai polisakarida yang berbeda panjangnya dengan aktivitas antikoagulan yang berebda-beda. Antitrombin III, bila terikat dengan heparin, akan bekerja menghambat trombin dan faktor Xa. Heparin juga mengikat protein plasma yang lain, sel darah dan sel endotel, yang akan mempengaruhi bioavailabilitas. Kelemahan lain heparin adalah efek terhadap trombus yang kaya trombosit dan heparin dapat dirusak oleh platelet faktor IV.

Low Molecular Weight Heparin. Low molecular weight heparin (LMWH) dibuat dengan melakukan depolimerasi rantai polisakarida heparin. Kebanyakan mengandung sakarida kurang dari 18 dan hanya bekerja pada factor Xa, sedangkan heparin menghambat factor Xa dan trombin. Dibandingkan dengan unfractionated heparin, LMWH mempunyai ikatan terhadap protein plasma kurang, bioavailabilitas lebih besar dan tidak mudah dinetralisir oleh faktor IV, lebih besar pelepasan tissue factor pathway inhibitor (TFPI) dan kejadian trombositopenia lebih sedikit. Direct Trombin Inhibitors. Direct trombin inhibitor secara teoritis mempunyai kelebihan karena bekerja langsung mencegah

pembentukan bekuan darah, tanpa dihambat oleh plasma protein maupun platelet faktor IV. Activated partial thromboplastin time dapat dipakai untuk memonitor aktivitas antikoagulasi, tetapi biasanya

14

tidak perlu. Hirudin dapat menurunkan angka kematian infark miokard, tetapi komplikasi perdarahan bertambah. Bivalirudin juga menunjukkan efektivitas yang sama dengan efek samping perdarahan kurang dari heparin. Bilivarudin telah disetujui untuk menggantikan heparin pada pasien angina tyak stabil yang menjalani PCI. Hirudin maupun bivalirudin dapat menggantikan heparin bila ada efek samping trombositopenia akibat heparin (HIT)

2.11

PENATALAKSANAAN Tujuan penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung (dengan mengurangi kerja jantung) dan untuk meningkatkan suplai oksigen (dengan meningkatkan aliran darah koroner). Secara medis tujuan ini dicapai melalui terapi farmakologi dan kontrol terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini dapat dicapai melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri koroner atau angiosplasti koroner transluminar perkutan (PCTA = percutaneous transluminal coronary angioplasty). Biasanya diterapkan kombinasi antara terapi medisdan pembedahan. Tiga teknik utama yang menawarkan penyembuhan bagi klien dengan penyakit arteri koroner mencakup penggunaan alat intrakoroner untuk meningkatkan aliran darah, penggunaan laser untuk menguapkan plak dan endarterektomi koroner perkutan untuk mengangkat obstruksi. Penelitian yang bertujuan untuk membandingkan hasil akhir yang dicapai oleh salah satu atau seluruh teknik di atas, melalui bedah pintas koroner dan PTCA sedang dilakukan. Ilmu pengetahuan terus dikembangkan untuk

mengurangi gejala dan kemunduran proses angina yang diderita pasien.

15

BAB III PROSES KEPERAWATAN

3.1. PENGKAJIAN DATA Tgl MRS : A. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin : Tn/Ny/Nn : kebanyakan di atas usia 30 tahun : Laki-laki yang memiliki kebiasaan merokok dan wanita yang telah menopause dengan hipertensi. Suku Agama Pendidikan : resiko pada orang kulit hitam (hipertensi) : Islam/kristen/katolik/hindu/budha : banyak menyerang pasien yang pendidikannya rendah Pekerjaan : kebanyakan tidak bekerja (kurang aktivitas fisik)

B. Riwayat Keperawatan (NURSING HISTORY) a. Keluhan utama Keluhan pada penderita angina pektoris berupa: 1. nyeri dada pada daerah substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri. 2. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort). 3. Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih dari 30 menit. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin. 4. Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi, dizzines. b. Riwayat penyakit saat ini

16

Klien dengan Angina Pektoris biasanya datang ke Rumah Sakit dengan keluhan sakit dada yang telah berlangsung secara intermiten lebih dari satu bulan. Pada Angina Pektoris rasa sakit yang klien rasakan biasanya pada daerah sternum atau sub sternum dengan kecenderungan pada bagian kiri dan menjalar ke ekstremitas kiri dan kadang-kadang menjalar ke leher, punggung, rahang, epigastrium, leher, rahang, bahu dan gigi dan ada kasus yang lebih jarang menjalar ke arah kanan. Sakit biasanya terasa bagaikan di tekan benda berat, di peras, atau bagaikan terbakar. Sakit ini cenderung meningkat pada aktifitas berlebih yang dilakukan klien dan tekanan emosional dapat juga muncul pada waktu istirahat. Serangan ini biasa menyerang sekitar 1-5 menit dan akan membaik bila di istirahatkan dan menghirup udara segar sekalipun rasa tidak enak mungkin masih terasa. c. Riwayat kesehatan terdahulu Klien dengan Angina Pektoris biasanya memiliki riwayat obesitas, hipertensi, penyakit arteri perifer, xantelasma, arkus senilis, earlobe crease, atau bahkan infark miokard. Kaji riwayat penyakit di atas dan pengobatan yang dilakukan serta catatan-catatan khusus dari terapi terdahulu yang mendukung timbulnya serangan.

Dan banyak diderita pada orang yang memiliki kebiasaan merokok, kebiasaan makan makanan siap saji dan berlemak yang memicu kolesterol. d. Riwayat kesehatan keluarga Perlu dikaji adanya riwayat penyakit keturunan, misalnya: penyakit jantung, hipertensi, obesitas diabetes, anemia, pernafasan, penyakit ginjal, stroke. e. Riwayat kesehatan lingkungan Angina pektoris banyak diderita oleh orang yang lingkungannya penuh sesak, sehingga mengakibatkan stress dan olahraga tidak teratur.

17

f. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang harus di kaji adalah: 1. Keadaan Umum Pada pasien Angina Pektoris biasanya kesadarannya

composmentis sampai koma. Apabila serangan berlanjut, menjadi infark atau stroke, berat badan relatif stabil karena penurunan aktifitas cenderung di ikuti pembatasan diet. Tanda vital biasanya di temukan tekanan darah tinggi akibat adanya penyempitan pembuluh darah. a. Sistem Pernafasan Biasanya terjadi dispnea terutama pada aktivitas berat. Hal ini bisa di akibatkan terjadinya kekurangan suplai darah ke paru-paru sebagai akibat penyempitan pembuluh darah yang berujung pada kurangnya suplai O2 ke jaringan, termasuk jantung. Pernafasan meningkat pada frekuensi / irama dan gangguan kedalaman b. Sistem Kardiovaskuler dan limfe Terdapat takikardi, disrimia dengan tekanan darah meningkat, normal, atau bahkan menurun; kulit pucat, membran mukosa lembab, dingin, hal ini sebagai efek dari menurunnya fungsi jantung pada saat serangan. c. Sistem Urinaria/eliminasi Uri Tidak terdapat perubahan signifikan pada pasien Angina, kecuai jika terjadi komplikasi. d. Sistem Gastrointestinal/Eliminasi Alvi Pada keadaan normal, sistem gastrointestinal relatif normal kecuali apabila perubahan tersebut diakibatkan oleh hipertensi terus-menerus. e. Sistem Persarafan Sistem persarafan tidak tampak perubahan mencolok kecuali jika serangan mengakibatkan kerusakan otak sebagai pusat kendali saraf.

18

Sistem Penglihatan

Biasanya tidak terdapat gangguan penglihatan kecuali ada komplikasi. Sistem Pendengaran Angina Pektoris biasanya tidak mengalami

Klien

gangguan pendengaran. f. Sistem Muskuloskeletal Tidak ada perubahan pada kondisi normal kecuali pada saat serangan dimana timbul kelelahan, dan rasa nyeri pada ekstrimitas kiri. g. Sistem Integumen Kulit biasanya pucat sebagai akibat menurunnya suplai, dingin dan lembab (berkeringat), terasa kebas dan pada kondisi sianosis, kulit menjadi biru. h. Sistem Reproduksi Pada klien Angina Pektoris biasanya tidak terdapat gangguan hipertensi. i. Sistem Endokrin Tidak terdapat Perubahan mencolok pada sistem endotrin. g. Riwayat Psikologis Klien Angina Pektoris biasanya mengalami kecemasan, ketakutan, dan cenderung menjadi sensitif dan mudah marah. h. Riwayat Sosial Biasanya klien dengan Angina Pektoris belum mengalami gangguan dalam bersosialisasi. i. Riwayat Spiritual Perlu di kaji tentang harapan, keyakinan, dan dorongan dalam diri klien mengenai keadaan penyakit dan harapan sembuh di hubungkan dengan keyakinan spiritualnya. j. Kebiasaan Sehari-hari kecuali jika terjadi komplikasi dengan

19

Pada klien Angina pektoris biasanya terdapat perubahan pada aktivitas yang cenderung menghindari aktivitas berat. Akibat adanya serangan, sering terbangun di malam hari, nafsu makan terganggu yang diakibatkan karena adanya nyeri pada ulu hati, mual; pola eliminasi biasanya tidak mengalami perubahan berarti, demikian juga dengan pemenuhan kebutuhan personal hygiene, tingkat kemandirian klien biasanya masih baik kecuali pada saat serangan terjadi. k. Data Penunjang/Laboratorium a. Enzim / Iso enzim jantung biasanya PBN, meningkat yang menunjukan kerusakan miokard. b. EKG : Biasanya normal bila pasien istrahat tetapi dalam depresi pada segmen ST, gelombang T menunjukan iskemia.

Penginggian ST atau penurunan lebih dari 1 mm selama nyeri tanpa abnormalitas, bila bebas nyeri menunjukan iskemia miokard transien. Disritmia dan blok jantung juga ada. c. Pemantauan EKG 24 jam (Holter): dilakukan untuk melihat episode nyeri sehubungan dengan segmen ST berubah. Depresi ST tanpa nyeri menunjukan iskemia. d. Foto Dada: biasanya normal, namun infiltrat mungkin ada, menunjukan dekompensasi jantung atau komplikasi paru. e. PCO2 kalium dan laktat miokordium: mungkin meningkat selama serangan Angina. f. Kolesterol / Trigliserida serum: mungkin meningkat (Faktor resiko CAD). g. Pacu stres takikardiatrial : dapat menunjukan perubahan segmen ST. h. Kateterisasi jantung dengan angiografi: Di indikasikan pada pasien dengan iskemia yang di ketahui dengan Angina atau nyeri dada.

3.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

20

Diagnosa yang mungkin timbul : 1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard. 2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan Cardiac Output 3. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraksi miokardium 4. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba. 5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi,

kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi

KASUS SEMU A. PENGKAJIAN 1. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Agama Alamat : Tn. JL : 54 tahun : Laki-laki : Islam : Gg. Damai Poncol 2 RT 004 RW 09 Jati Waringin-Jaktim Suku Pekerjaan Diagnosa masuk : Batak : Wiraswasta : NSTEMI

2. Riwayat penyakit sekarang Alasan utama MRS : Klien tiba-tiba pingsan Keluhan utama : 3 jam sebelum MRS klien tiba-tiba pingsan, dada terasa tertekan, nyeri menjalar ke bahu belakang, keluar keringat dingin. Maka oleh keluarga di bawa ke IGD dan masuk ke ICCU. Karena kondisinya membaik maka klien dipindahkan ke ruang rawat inap

21

3. Riwayat penyakit dahulu Sekitar 4 tahun yang lalu klien dirawat di RS Haji dengan sakit jantung dan setelah itu tidak pernah dikontrol 4. Riwayat penyakit keluarga Pada keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi 5. Pemeriksaan fisik

B. DIAGNOSA

Diagnosa NANDA-I
NS. DIAGNOSIS : (NANDA-I) NYERI AKUT (00132) Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Assosiation for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung <6 bulan. Perubahan selera makan Perubahan tekanan darah Perubahan frekuensi jantung Perubahan frekuensi pernapasan Laporan isyarat Diaforesis Perilaku distraksi (mis, berjalan mondar mandir, mencari orang lain dan/atau aktivitas lain, aktivitas yang berulang) Mengekspresikan perilaku (mis., gelisah,merengek,menangis, waspada,iritabilitas, mendesah) Masker wajah (mis.,mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan mata berpencar atau tetap pada satu fokus, meringis) Perilaku berjaga-jaga/melindungi area nyeri Fokus menyempit (mis., gangguan persepsi nyeri, hambatan proses berfikir, penurunan interaksi dengan orang dan

DEFINITION:

DEFINING CHARACTERIS TICS

22

RELATED FACTORS:

lingkungan ) Indikasi nyeri yang dapat diamati Perubahan posisi untuk menghindari nyeri Sikap tubuh melindungi Dilatasi pupil Fokus pada diri sendiri Gangguan tidur Melaporkan nyeri secara verbal Agens cedera (mis., biologis, zat kimia, fisik, psikologis) Objective data entry Keadaan umum: lemah,pucat,sianosis,pasien terlihat memegang dada TD: 176/108 mmHg Nadi : 99 x/menit ireguler Suhu badan : 370C RR 24 x/menit Pengkajian nyeri : Nyeri bertambah saat menarik napas, berkurang jika dalam keadaan rileks, kualitasnya

Subjective data entry Ex : klien melaporkan bahwa dada sebelah kirinya nyeri dan menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri. Rasa nyerinya seperti tertekan benda berat, seperti ASSESSMENT diperas, terasa panas, dan kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort) dan juga mengeluh pusing

seperti otot terasa tegang dan tertarik-tarik, didaerah dada dan punggung, Dengan skala 9, tiap 4-5 detik sekali. Ns. Diagnosis (Specify): DIAGNOSIS Client Diagnostic Statement: NYERI AKUT Related to: Iskhemia otot jantung(moikard)

23

3.3. INTERVENSI

Inisial Pasien :____________ Nama Mhs:___________________ Tanggal:_________________ Diagnosa Keperawatan : Nyeri Akut

Definisi : Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International Assosiation for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung <6 bulan NIC INTERVENSI Pain Management (1400) AKTIVITAS OUTCOME 1: Pain Kontrol (1605) PENGKAJIAN 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif Definisi: termasuk lokasi, karakteristik, durasi, Mengurangi nyeri dan frekuensi, kualitas dan menurunkan tingkat nyeri yang faktor presipitasi dirasakan pasien 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan 3. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri NOC INDICATOR Mengenali onset nyeri (4) Menjelaskan faktor-faktor penyebab (4) Menggunakan buku harian untuk memantau gejala dari waktu ke waktu (3) Menggunakan langkah-langkah pencegahan (5) Menggunakan langkah-langkah bantuan non-analgesik (4)

Definisi: Tindakan pribadi untuk mengontrol nyeri

24

4. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi 5. Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri PENDIDIKAN UNTUK PASIEN/KELUARGA 6. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan 7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi KOLABORASI 8. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil 9. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau AKTIVITAS LAIN 10. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui

Menggunakan analgesik seperti yang direkomendasikan (3) Laporan perubahan gejala nyeri untuk kesehatan profesional (4) Laporan gejala yang tidak terkontrol bagi kesehatan profesional (1) Menggunakan sumber daya yang tersedia (5) Mengakui terjadinya tanda rasa nyeri yang terkait (5) laporan nyeri dikontrol (5)

25

pengalaman nyeri pasien 11. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau 12. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan 13. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal) 14. Kurangi faktor presipitasi nyeri 15. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 16. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri 17. Tingkatkan istirahat

Analgesic Administration (2210) Definisi :

PENGKAJIAN 1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat Observasi

Medication Response (2301) Definisi :

Efek terapeutik yang diharapkan (2) Perubahan kimia darah yang diharapkan (2)

26

Penggunaan agen farmakologi untuk menghentikan dan mengurangi nyeri

reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan 2. Cek riwayat alergi PENDIDIKAN UNTUK PASIEN/KELUARGA KOLABORASI 3. Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi AKTIVITAS LAIN 4. Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu 5. Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri 6. Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal 7. Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur 8. Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat

terapi dan efek samping untuk obat resep

Terjadinya tanda perubahan yang diharapkan (1) Pemeliharaan tingkat darah yang diharapkan (2) Respon perilaku yang diharapkan (1) Reaksi alergi (5) Efek samping (5) Interaksi obat (5) Toleransi obat (3) Efek perilaku yang merugikan (5)

27

3.4. IMPLEMENTASI No. diagnose masalah kolaboratif 1

Tgl/jam

Tindakan

paraf

5-6-2012/ 08.00

09.00

10.00

6-6-2012/ 08.30

1. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan 2. Mengajarkan pasien untuk memberi tahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada 3. Mengobservasi pasien tentang skala nyeri 4. Melakukan pengkajian tanda-tanda vital pasien 5. Menganjurkan dan mengajarkan teknik distraksi kepada klien 6. Menciptakan suasana yang nyaman 7. Menganjurkan dan mengajarkan kepada klien taknik relaksasi 8. Pemberian analgesik nitrogliserin 5 Ug/menit per IV 9. Melakukan pemeriksaan EKG 1. Mengobservasi pasien tentang skala nyeri, yaitu skala (7) 2. Mengukur tanda vital 3. Menanyakan kembali tentang keluhan nyeri yang dirasakan 4. Mengobservasi raut wajah klien

28

3.5. EVALUASI

Masalah kep/kolaboratif Nyeri Akut

Tgl/jam

Catatan perkembangan

Paraf

5-6-2012/ 08.00

S : klien merasa nyeri yang dirasakan mulai berkurang, O : skala nyeri (6) Tanda- tanda Vital: TD: 176/108 mmHg Nadi : 99 x/menit ireguler Suhu badan : 370C RR : 24 x/menit EKG tidak ada ST depresi/elevasi A : masalah tetap dalam resiko R : rencana tindakan keperawatan dilanjutkan/dipertahankan

09.00

10.00 11.00

Kurang pengetahuan tentang penyakit

6-5-2012/ 08.30

S: Pasien mengatakan mengetahui tentang cara memeriksa nadi dan obat angina O: klien dapat menjelaskan tentang cara memeriksa nadi dan obat angina A: masalah teratasi P : pertahankan kondisi pasien

29

BAB IV PENUTUP

4.1. KESIMPULAN Adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti. Penyebab angina pectoris yaitu : 1. Ateriosklerosis 2. Spasme arteri koroner 3. Anemia berat 4. Artritis 5. Aorta Insufisiensi Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada

ketidakadekuatan suply oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekakuan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis. Ada tiga jenis angina pectoris yaitu, angina pectoris stabil, variant dan tidak stabil. Pengobatan angina pectoris dapat diberikan tablet nitroglycerine 5 mg subligual untuk diisap di bawah lidah, meningkatkan pemberian oksigen ( dengan meningkatkan aliran darah koroner ) dan menurunkan kebutuhan oksigen ( dengan mengurangi kerja jantung ).

30

DAFTAR PUSTAKA

1. Corwin, Elizabeth, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta, EGC, 2000. 2. Chung, EK, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996 3. Doenges, Marylinn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC, 1998 4. Engram, Barbara, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah volume 2, Jakarta, EGC, 1998 5. Long, C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah 2, Bandung, IAPK, 1996 6. Noer, Sjaifoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 1996 7. Price, Sylvia Anderson, Patofisiologi Buku I Jakarta, EGC, 1994 8. ., Dasar-dasar Keperawatan Kardiotorasik (Kumpulan Bahan Kuliah edisi ketiga),Jakarta : RS Jantung Harapan Kita, 1993. 9. Tucker, Susan Martin, Standar Perawatan Pasien Volume I, Jakarta, EGC, 1998 10. Underwood, J C E, Pathologi Volume 1 , Jakarta, EGC, 1999 11. NANDA-I, NIC dan NOC

31