Anda di halaman 1dari 22

Jadi Wirausahawan Mandiri Apabila kita bisa menciptakan lapangan kerja, kenapa kita harus bekerja dengan orang

lain. Jamur tiram merupakan salah satu peluang usaha dengan prospek yang cukup tinggi dan mudah dilakukan. Oleh Andrixinata Bahran

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1 SYARAT TUMBUH JAMUR TIRAM ............................................................................ 1 Tingkat keasaman ( pH) ........................................................................................... 2 Suhu udara .............................................................................................................. 2 Cahaya .................................................................................................................... 2 PERSIAPAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM ................................................................... 3 Bangunan/Ruangan Budidaya Jamur Tiram ............................................................. 3 1. Ruang persiapan ........................................................................................... 3 2. Ruang Inokulasi ............................................................................................. 3 3. Ruang Inkubasi .............................................................................................. 3 4. Ruang Penanaman. ....................................................................................... 3 Peralatan Dan Bahan Budidaya Jamur Tiram .......................................................... 3 Proses dan Teknik Budidaya Jamur Tiram ............................................................... 3 1. Persiapan Bahan. .......................................................................................... 3 2. Pengayakan................................................................................................... 3 3. Pencampuran. ............................................................................................... 4 4. Pengomposan................................................................................................ 4 5. Pembungkusan (Pembuatan Baglog). ........................................................... 4 6. Sterilisasi ....................................................................................................... 4 7. Inokulasi (Pemberian Bibit) ............................................................................ 4 8. Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram .................................... 4 9. Panen Jamur Tiram. ...................................................................................... 4 PEMBUATAN BIBIT DAN MEDIA ............................................................................... 5 PEMBUATAN MEDIA PDA ...................................................................................... 5 PEMBUATAN BIBIT JAMUR ...................................................................................... 6 Alat dan Bahan..................................................................................................... 6 Proses Pembuatan bibit F0 (Kultur Murni) ................................................................ 6 Teknik Pemurnian Bibit F0 ........................................................................................ 7 Pembuatan Bibit F1, F2, dan F3............................................................................... 7 TAHAPAN BUDIDAYA.............................................................................................. 10 Persiapan Media (Substrat).................................................................................... 10 Pencampuran Media .............................................................................................. 10 Pengantongan (logging) ......................................................................................... 10 Sterilisasi ............................................................................................................... 11 Inokulasi bibit ......................................................................................................... 11 Inkubasi ................................................................................................................. 11 Pemeliharaan tubuh buah ...................................................................................... 11

Panen .................................................................................................................... 12 Pemberatantasan Penyakit .................................................................................... 12 FAKTOR KRITIS PADA KEBERHASILAN USAHA .................................................. 13 TIPS KEBERHASILAN USAHA ................................................................................ 13 PROSPEK USAHA.................................................................................................... 15 ASPEK LEGALITAS ................................................................................................. 15 ANALISA BIAYA USAHA ......................................................................................... 17 TENTANG PENULIS ................................................................................................. 19

ii

PENDAHULUAN Jamur terdiri dari bermacam-macam jenis, ada yang merugikan dan ada yang menguntungkan bagi kehidupan manusia. Jamur yang merugikan antara lain karena bersifat patogen yaitu dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan maupun tumbuhan. Diantara jamur yang menguntungkan manusia misalnya : penicillium yang menghasilkan antibiotik penisilin, jamur-jamur yang berperan dalam proses fermentasi makanan seperti kecap, tempe, tape, tauco dan lain-lain. Bahkan banyak jenis jamur yang dapat dikonsumsi (dimakan) antara lain jamur kuping, jamur tiram, jamur shiitake, jamur agaricus (campignon) dan jamur merang. Dewasa ini budidaya jamur (Mushrooming the mushroom) yang dapat dimakan telah banyak dilakukan orang yaitu dengan menggunakan limbah pertanian sebagai media tumbuhnya. Budidaya jamur yang dapat dimakan (edible mushroom) merupakan salah satu cara mengatasi kekurangan pangan dan gizi serta menganekaragamkan pola komsumsi pangan rakyat. Dari analisa menunjukkan bahwa kandungan mineral jamur lebih tinggi daripada gading sapi dan domba, bahkan hampir dua kali lipat jumlah garam mineral dalam sayuran. Jumlah proteinnya dua kali lipat protein asparagus, kol, kentang dan empat kali lipat daripada tomat dan wortel serta enam kali lipat dari jeruk. Selain itu jamur juga mengandung zat besi, tembaga, kalium dan kapur, kaya vitamin B dan D, sejumlah enzim tripsin yang berperan sangat penting pada proses pencernaan, kalor dan kolesterolnya rendah. Beberapa keuntungan budidaya jamur yaitu : 1. Melalui pemanfaatan bahan-bahan limbah di sekitar kita akan menjadikan lingkungan kita bersih, indah dan sehat. 2. Budidaya jamur dapat diusahakan tanpa menggunakan lahan yang luas 3. Produk Jamur dapat dimanfaatkan untuk menambah gizi atau menu serta dapat menambah pendapatan keluarga. 4. Kompos bekas media tanam dapat langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan dan untuk memelihara cacing.

SYARAT TUMBUH JAMUR TIRAM Tempat tumbuh Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organic yang ada didalamnya. Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak

cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun sempit atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan misellium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan ticlak busuk dan tidak ditumbuhi jornur jenis lain. Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahanbahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur ( Calsium carbonat ) sebagai sumber mineral dan pengatur pH meter Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 - 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik Penambahan air yang tidak bersih dapat menyebabkan media terkontaminasi dengan mikroorganisme

Tingkat keasaman ( pH) Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 - 7 dengan menggunakan kapur ( Calsium carbonat )

Suhu udara Pada budidaya jamur tiran suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 28 OC dengan kelembabon 60 - 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 22 OC.

Cahaya Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam, keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buch tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran ? 60 - 70 %

PERSIAPAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM Bangunan/Ruangan Budidaya Jamur Tiram Pada dasarnya bangunan bisa memanfaatkan ruangan yang ada dalm rumah, biasanya bangunan untuk budidaya Jamur Tiram bangunan jamur terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya: 1. Ruang persiapan Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi. 2. Ruang Inokulasi Ruang Inokulasi adalah ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain). 3. Ruang Inkubasi Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 28 derajat C dengan kelembaban 60% 80%, Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi. 4. Ruang Penanaman Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 22 derajat C dengan kelembaban 80 90%. Peralatan Dan Bahan Budidaya Jamur Tiram Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong. Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik. Proses dan Teknik Budidaya Jamur Tiram Dalam melaksanakan Budidaya Jamur Tiram ada beberapa proses dan kegiatan yang dilaksanakan antara lain: 1. Persiapan Bahan Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa. 2. Pengayakan Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

perlu di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir Pencampuran Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 60 % atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup. Pengomposan Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastik. Pembungkusan (Pembuatan Baglog) Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan. Sterilisasi Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90 100 derajat C selama 12 jam. Inokulasi (Pemberian Bibit) Inokulasi adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit Jamur Tiram yang baik yaitu: - Varitas unggul - Umur bibit optimal 45 60 hari - Warna bibit merata - Tidak terkontaminasi Inkubasi (masa pertumbuhan miselium) Jamur Tiram Inkubasi Jamur Tiram dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 60 hari. Panen Jamur Tiram Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran.

PEMBUATAN BIBIT DAN MEDIA PEMBUATAN MEDIA PDA Alat dan bahan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Agar putih/bening Kentang 200 g/ 2 ons Gula 100 g/ 1 ons Panci bersih Saringan Botol untuk tempat media

Proses pembuatan 1. Kupas dan potong-potong kentang seperti dadu 2. Cuci kentang hingga bersih 3. Masak kentang dengan air bersih/air matang sebanyak 500 ml 4. Setelah mendidih, angkat dan ambil air kentang dengan saringan, tempatkan air di panci yang masih bersih 5. Air kentang dimasak kembali, masukkan agar dan gula sambil diaduk hingga rata 6. Setelah agar dan gula larut, tambahkan air hingga 1 liter 7. Setelah mendidih agar PDA siap digunakan, tempatkan agar PDA pada botolbotol atau cawan yang diinginkan. 8. Tutup botol dengan kapas serapat mungkin, tambahkan kertas dan ikat. Sterilisasi PDA 1. Setelah PDA jadi, PDA perlu disterilisasi agar tidak tercampur atau terkontaminasi bakteri atau jamur lain yang tidak diinginkan. 2. Upayakan agar agar dalam botol sudah tertutup rapat dengan kapas dan kertas 3. Bungkus setiap botol dengan kertas koran, agar tidak terkena uap air. 4. Kukus semua PDA selama 2-4 jam dengan keadaan tertutup dan panas yang stabil (semakin baik proses pengukuran akan semakin baik hasilnya) 5. Setelah dikukus, jangan keluarkan dari wadah kukusan terlebih dahulu, tunggu hingga agak dingin 6. Setelah itu keluarkan PDA dan buka kertas pembungkus, biarkan mulut botol tetap tertutup sampai akan digunakan agar tidak terkontaminasi. 7. Biarkan selama beberapa hari agar terlihat jika agar terkontaminasi akan menunjukkan adanya jamur diatas permukaan agar dan adanya lender yng menunjukkan bakteri.

PEMBUATAN BIBIT JAMUR Alat dan Bahan


Botol berisi PDA Pinset Pisau scalpel Jarum jara Lampu spirtus Alkohol 70% Kapas Ruang isolasi / laminar Flow Jamur tiram Pemantik api Label + spidol Lampu ultraviolet yang dipasang di ruang isolasi/laminar Flow

Proses Pembuatan bibit F0 (Kultur Murni) 1. Pilih jamur yang baik dengan ciri-ciri
sehat (bersih, tidak busuk ataupun terkontaminasi hama atau jamur

pengganggu), memiliki batang yang kuat, tidak terlalu tua artinya masih dalam masa pertumbuhan, bisa dilihat dari tudungnya yang belum terlalu besar, 2. jamur yang dipilih merupakan jamur yang tumbuhnya tunggal (satu tangkai) tidak berkoloni (memiliki banyak tangkai) 3. Bersihkan ruangan isolasi dan semua peralatan dengan menggunakan alkohol kemudian masukkan semua peralatan yang telah dibersihkan ke dalam ruang isolasi 4. Nyalakan lampu UV di dalam ruang isolasi/laminar flow selama 10-15 menit, setelah itu matikan. Lampu UV berfungsi untuk mematikan bakteri-bakteri kontaminan 5. Setelah peralatan siap, bersihkan kedua tangan dan botol-botol PDA dengan alkohol 6. Masukkan kedua tangan ke dalam ruang isolasi kemudian pegang pisau skalpel/jarum jara seperti memegang sendok. 7. bakar ujung jarum jara tersebut beberapa saat dengan menggunakan lampu spirtus untuk membunuh kuman-kuman yang masih menempel. Pastikan jarum jara tidak menyentuh permukaan setelah pembakaran 8. Setelah jarum dingin, siapkan bagian kecil jamur yang akan dikultur dengan cara menyobeknya menggunakan tangan 9. Potong jaringan dari dalam jamur dengan menggunakan jarum jara/pisau scalpel dengan ukuran 2 mm x 2 mm. Jaringan yang dipotong kira kira terletak pada bagian tengah antara tudung buah dan batang. 10. Siapkan botol PDA. Dekatkan dengan api untuk menjaga dari kontaminasi ( 20 cm). Buka kapas penutup botol

11.

12. 13. 14. 15. 16.

secara perlahan lahan masukkan/inokulasi jaringan jamur yang telah dipotong dengan menggunakan jarum jara/pinset ke bagian tengah permukaan PDA. Setelah selesai tutup botol PDA segera dengan menggunakan kapas Beri label pada botol PDA dengan menuliskan keterangan-keterangan yang diperlukan seperti tanggal inokulasi,jenis jamur dll. simpan/inkubasi di tempat yang bersih lakukan pengamatan secara berkala. Bila terdapat kontaminasi segera pisahkan dan bersihkan. Setelah miselium memenuhi isi botol (2-4 minggu masa inkubasi) maka miselium siap digunakan untuk membuat bibit F1/turunan pertama. Apabila tidak langsung digunakan, botol-botol berisi miselium ini bisa diawetkan dengan menyimpannya di tempat yang dingin/lemari pendingin

Teknik Pemurnian Bibit F0 Bibit kultur murni dikatakan terkontaminasi bila dalam cawan/botol PDA terdapat miselium jamur lain, misalnya berwarna hitam dan lain-lain. Jika hal tersebut terjadi maka yang harus dilakukan adalah mengisolasi/memindahkan jamur yang kita inginkan ke media baru dengan teknik Aseptik. Metode: 1. Siapkan Bunsen/lilin atau api, biakan yang terkontaminasi, dan media PDA yang masih bersih. 2. Sterilkan tempat dan tubuh anda(tangan) dengan alkohol. Jarum diseka dengan alkohol dan dipanaskan di api, setelah jarum dingin. 3. Buka dengan perlahan botol terkontaminasi di dekat api dan ambil dengan jarum bagian jamur yang merupakan miselium jamur tiram. 4. Usahakan tetap berada di dekat api, dengan tangan yang lain ambil dan buka botol PDA yang bersih dan masukkan miselium yang ada di jarum ke media PDA, segera tutup kembali dengan kapas. 5. Amati setelah beberapa hari, jika tetap terkontaminasi, ulangi langkah kembali. Pembuatan Bibit F1, F2, dan F3 Bibit jamur tiram pada dasarnya terdiri dari 4 jenis yaitu bibit murni/kultur murni (P/Parental), bibit induk (F1), log tebar (F2), dan log produksi (F3). Terdapat beberapa perbedaan dalam teknik pembuatan dan komposisi medium ke 4 jenis bibit ini, berikut penjelasannya : 1. Proses Pembuatan Kultur Murni Jamur Tiram dengan Menggunakan Media PDA (Potatoes Dextrose Agar/Agar Gula Kentang) 2. Bibit Induk F1 (log botol)

Pembuatan bibit induk F1 bisa menggunakan botol selai atau botol saus sebagai wadah medium. Log botol merupakan tahap adaptasi awal/peralihan miselium jamur tiram dari media PDA (Potato Dextrose Agar) ke media produksi yang berupa serbuk kayu. salah satu Komposisi/formula medium yang dapat digunakan diantaranya serbuk kayu : Jagung : Beras Merah : gula Putih : NPK (tambahan) : Air secukupnya dengan perbandingan 100 : 100 : 25 : 4 : 1. Proses pembuatannya : 1. Campurkan semua bahan ke dalam panci kemudian dimasak seperti menanak nasi. 2. Setelah matang kemudian dinginkan dan masukkan ke dalam botol sebanyak volume botol. 3. Tutup botol dengan menggunakan plastik tahan panas 4. Sterilisasi menggunakan autoklaf / panci presto selama 20 -30 menit. 5. Log botol yang telah steril selanjutnya diinokulasi dengan menggunakan miselium jamur tiram yang terdapat pada medium PDA. 6. Log tebar F2

Log tebar merupakan log adaptasi miselium jamur tiram untuk skala produksi yang lebih besar. Komposisi medium F2 pada dasarnya sama dengan log produksi F3. Yang membedakannya hanya kapasitas/bobot medium. Log tebar biasanya dibuat dengan bobot 0,5 kg. Komposisi Medium yang digunakan yaitu serbuk kayu : dedak : jagung : kapur (CaCO3) : NPK dengan perbandingan 100 : 10 : 5 : 2,5 : 1. Proses pembuatan : 1. Semua bahan dicampurkan sambil ditambahkan air. Banyaknya air disesuaikan hingga medium kompak yaitu ketika dikepal tidak terurai dan ketika diperas tidak mengeluarkan air.

2. Sebanyak 0,5 kg medium selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik tahan panas ukuran 1 kg kemudian padatkan dan ditutup dengan mengikatnya menggunakan karet sambil menyelipkan kapas/kapuk pada bagian atas. 3. Sterilisasi selama tidak kurang dari 4 jam. Setelah steril, simpan log di tempat yang bersih. 4. Setelah dingin inokulasikan miselium jamur tiram yang berasal dari botol selai/saus. 5. Log produksi F3

TAHAPAN BUDIDAYA Tahapan budidaya jamur tiram berupa persiapan media (substrat), pencampuran media, pengantongan (logging), sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan tubuh buah, dan panen. Bagi pemula atau pengusaha skala kecil ada baiknya untuk sementara waktu bibit ataupun media tanam dapat membeli dari pembibit ataupun dari perusahaan yang telah memiliki skala usaha yang besar Persiapan Media (Substrat) Formula media tanam untuk jamur tiram adalah sbb : Serbuk gergajian kayu = 100 kg Dedak = 10 kg Kapur = 0,5 kg Tepung jagung = 0,5 kg Gula merah = 0,25 kg Gypsum (tambahan) = 0,5 kg TSP (tambahan) = 0,25 kg Kadar air = 65%

Pencampuran Media Bahan bahan media yang telah disiapkan diaduk sedemikian rupa sehomogen mungkin agar pertumbuhan miselium dapat merata ke seluruh media. Pengadukan dapat dilakukan dengan cara mekanis ataupun manual. Apabila dilakukan secara manual upayakan pengadukan lebih lama sehingga diperoleh pencampuran yang merata terutama untuk bahan bahan yang konsentrasinya rendah. Media yang telah tercampur dengan baik biasanya menggumpal pada saat dikepal. Setelah proses pencampuran selesai lakukan pengomposan (fermentasi) selama 3-5 hari. Proses pengomposan dapat membantu mengurangi kontaminasi oleh mikroba liar dan juga membantu penguraian beberapa senyawa kompleks menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah diserap oleh jamur tiram. Lakukan pengadukan setiap hari agar proses pengomposan merata. Pengantongan (logging) Pengantongan atau pembuatan baglog dilakukan dengan memasukkan media yang telah dikompos ke dalam plastik tahan panas (polypropylene). Upayakan pengisian tidak terlalu longgar dan juga tidak terlalu padat. Untuk memadatkan media dapat dilakukan dengan bantuan botol yang diisi dengan pasir. Setelah diisi media pada bagian atas lalu diberi ring bambu/pipa dan di tutup dengan kapas sebagai tempat memasukkan bibit atau tempat keluarnya jamur. setelah itu diikat dengan karet.

10

Sterilisasi Baglog yang telah siap selanjutnya disterilisasi melalui proses pasteurisasi dengan cara dikukus. Pasteurisasi yaitu proses pemanasan dengan suhu tidak lebih dari 100C dengan waktu tidak kurang dari 5 jam. Pada umumnya para produsen melakukan pemanasan selama 8-12 jam. Pemanasan ini tergantung pada bahan dasar yang digunakan dan banyaknya log yang dipasteurisasi. Setelah selesai baglog didinginkan selama setengah sampai satu hari. Inokulasi bibit Inokulasi merupakan proses penanaman bibit ke dalam media tanam. Proses inokulasi dilakukan secara aseptis /steril. Usahakan ruangan sebersih mungkin. Bila memungkinkan peralatan maupun ruangan disemprot alkohol terlebih dahulu. Selama proses ini usahakan menutup mulut dengan masker atau minimal tidak berbicara berlebihan untuk menghindari kontaminasi yang berasal dari uap mulut. Inokulasi dilakukan dengan memasukkan bibit (F2) sebanyak 2-5 sendok makan ke dalam lubang yang telah diberi cincin bambu / pipa atau bisa juga dengan menebarkannya di atas permukaan media hingga merata kemudian menutup kembali lubang ring bambu dengan kapas. Inkubasi Inkubasi merupakan masa pertumbuhan miselium hingga memenuhi media secara merata. Suhu yang dibutuhkan pada proses ini yaitu antara 22C 28C. upayakan suhu di ruangan inkubasi dijaga agar tetap stabil untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal. Masa inkubasi akan berlangsung selama kurang lebih 40 hari.

Gambar inkubasi log jamur

Pemeliharaan tubuh buah Tahap ini merupakan masa setelah inkubasi hingga panen. Pada masa pemeliharaan penutup baglog dibuka hingga seperempat bagian log. Tahapan ini memerlukan suhu yang lebih rendah dibandingkan pada saat pertumbuhan miselium (tahap inkubasi) dan juga kelembapan yang optimal/berlimpah. Suhu yang diperlukan sekitar 20C 26C dengan kelembapan 80% 90%. Pengaturan kelembapan dapat dilakukan dengan penyiraman sebanyak 2-3 kali setiap hari terutama ketika kelembapan di luar rendah biasanya pada saat siang hari. Selain kelembapan, kadar oksigen juga perlu diatur dengan membuka ventilasi ketika kelembapan di luar tinggi. Kelembapan perlu dikurangi hingga 70% 80% apabila tubuh buah telah mencapai ukuran dewasa. Hal ini dilakukan agar tekstur tubuh buah tidak lembek yang bisa menyebabkan tidak tahan lama /cepat busuk.

11

Panen Setelah 7-10 hari penutup dibuka, tubuh buah biasanya sudah mulai tumbuh. Selang 3-4 hari setelah tunas tubuh buah tumbuh, jamur telah siap dipanen. Pemanenan harus dilakukan dengan hati-hati dengan cara mencabut seluruh rumpun tubuh buah jamur yang ada beserta akarnya. Akar yang tertinggal bisa menyebabkan Jamur siap panen dan siap dikemas pertumbuhan tubuh buah selanjutnya terganggu karena terjadi pembusukan media. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat jamur masih dalam kondisi segar. Panen kedua biasanya berlangsung dalam rentang waktu 1-2 minggu setelah panen pertama. Usia produktif berlangsung 3-4 bulan dengan produksi satu baglog sekitar 0,6 kg. Setelah dilakukan pemanenan, log dipelihara seperti awal penanaman yaitu dengan melakukan penyiraman, pengaturan suhu, kelembapan serta aerasi. Pemberatantasan Penyakit Apabila proses sterilisasi berjalan dengan sempurna dan peralatan yang dipakai bersih dan steril, maka tidak ada kontaminasipada subsratnya. Apabila ada polibek terkontaminasi/ terkena penyakit, sebaiknya polibek tersebut dibuang saja agar tidak menular dan menyebabkan turunnya produksi.

12

FAKTOR KRITIS PADA KEBERHASILAN USAHA 1. Kurang tersedianya bibit yang memenuhi kuantitas dan kualitas produksi 2. Belum ada standar kualitas bibit 3. Daya tahun jamur tiram hanya bisa tahan tujuh jam sampai dua hari 4. Kualitas produk yang dihasilkan, akibat dari

Kumbung jamur terlalu rapat (kurang angin) akibatnya pertumbuhan jamur kurang baik, daun jamur banyak yang menggelinting, tidak bisa mekar. Penyiraman yang terlalu banyak sampai air masuk ke lubang baglog membuat jamur tidak mau tumbuh lagi, Cara pengambilan yang tidak sampai ke akarnya juga bisa membuat jamur tidak mau tumbuh (keluar). Kumbung jamur dan sekitarnya yang kurang bersih membuat sebagian daun jamur berlubang karena dimakan ham kecil yang sampai sekarang masih saya selidiki jenis hamanya. penataan baglog dirak supaya lebih efisien tempat dan hasil bisa lebih maksimal

TIPS KEBERHASILAN USAHA 1. Cara mengetahui persentasi bahan - bahan media tanam yang tepat persentasi bahan media adalah dalam hitungan per kilogram ( 100 kg serbuk kayu,15 kg bekatul , 4 kg kapur , 1 kg TSP ), jadi pastikan semua bahan media tanam dalam keadaan kering .

2. Cara mengetahui kandungan air dalam media tanam yang tepat letakan media kedalam gengaman tangan kemudian diremas, apabila ada air yang keluar artinya kandungan air masih banyak atau apabila media diremas kemudian dibuka ternyata media tsb pecah / tidak menggumpal artinya kandungan air masih kurang . Yang tepat adalah apabila media tanam di remas tidak ada air yang

13

menetes dan menggumpal saat genggaman dibuka.

3. Proses inokolasi / penularan bibit yang baik proses inokulasi yg baik adalah jika tingkat keberhasilan / jumlah bibit yang tumbuh diatas 70 % , bila tidak maka perhatikan hal dibawah ini:

pastikan semua alat bersih dan steril lakukan inokulasi di tempat atau ruangan khusus sterilkan stik inokulasi dengan cara dibakar sampai membara pd lampu spiritus setiap penularan antara 15 - 20 baglo biarkan baglog berada di ruangan yang bersih selama 3 - 5 hari setelah penularan untuk mengurangi kontaminasi usahakan baglog tidak terkena air pada waktu penyiramankeluarkan baglog yang ter kontaminasi dari ruangan secepatnya

14

PROSPEK USAHA Jamur tiram termasuk jenis jamur yang paling banyak dikonsumsi. Oleh karena itu, banyak petani yang membudidayakannya. Untuk melakukan budi daya jamur tiram ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Hal terpenting yang harus diperhatikan hanya masalah perlakuan lingkungannya. Pada habitat aslinya jamur tiram dapat tumbuh optimal di area dataran tinggi. Hal ini juga harus didukung dengan tingkat kelembaban yang diinginkan jamur tiram, dingin, dan sesuai dengan karakter jamur tiram sehingga bisa membuat pertumbuhan tubuh buah jamur tiram menjadi optimal. Kendati habitat asalnya daerah dataran tinggi, tetapi jamur tiram tetap dapat dibudidayakan di daerah dataran rendah, asalkan tempat pemeliharaannya dikondisikan dengan habitat aslinya. Penerapan budidaya jamur di daerah dataran rendah pun harus dilakukan lebih ekstra dari perlakuan jamur yang dibudidayakan di dataran tinggi dan tentu harus dengan proses yang seteril. Hingga saat ini jamur tiram lebih banyak diproduksi di jawa barat. Berdasarkan data yang ada, jawa barat memproduksi 10 ton jamur tiram setiap harinya dan mayoritas dipasarkan dalam bentuk segar dengan tujuan pemasarannya kota-kota besar. Daerah karawang, Bandung, Bogor,dan Sukabumi misalnya, menyuplai jamur tiramnya ke pasar-pasar di Jakarta. Bila dibandingkan dengan jenis jamur lainnya, jamur tiram sudah jauh lebih dikenal dan memasyarakat. Oleh karena itu masyarakat sudah terbiasa mengkonsumsinya. Hal ini membuat kebutuhan pasar akan jamur tiram menjadi luas dan permintaan akan produk jamur tiram, baik dalam bentuk segar maupun olahannya,terus meningkat. Di beberapa negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang, dan Hongkong, permintaan jamur tiram dalam bentuk kering maupun yang telah dikalengkan sangat tinggi.

ASPEK LEGALITAS Perijinan dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan perkembangan perusahaan, namun bila usaha yang dibangun adalah perusahaan formal maka sebelum usaha ini berjalan sebaiknya perijinan-perijinan dilengkapi terlebih dahulu. Perijinan yang diperlukan umumnya berupa ijin prinsip dari instansi terkait, seperti:

15

1. 2. 3. 4. 5.

Surat Ijin Tempat Usaha (SITU), Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Nomor PokoknWajib Pajak (NPWP), Akte Pendirian Perusahaan melalui Notaris dan lainnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan

16

ANALISA BIAYA USAHA 1. Asumsi-asumsi


Usaha jamur tiram skala rumah tangga Periode waktu usaha lima tahun Per satu periode ( 6 bulan) adalah 7500 baglog Prosentase keberhasilan inokulasi = 80 % Rata-rata produksi per baglog = 800 gram

2. Biaya-biaya Usaha Investasi Kumbung Kapasitas 7.500 baglo Sewa Lahan 5 tahun Sprayer Termometer Barometer Total Investasi Biaya Operasional (per 6 bulan) Baglog 7.500 Fungsisida Tenaga Kerja 2 Orang Plastik Kemasan Penyusutan Kumbung Penyusutan Termometer Penyusutan Barometer Sewa Lahan Transportasi Pemasaran , Total Biaya Operasional

Rp 8.400.000, 7.500.000, 40.000, 50.000, 150.000, Rp 16.140.000,

Rp 11.250.000 12.500 600.000 50.000 840.000 5.000 15.000 750.000 500.000 _300.000 Rp 14.322.500

3. Perkiraan Pendapatanper 6 bulan


Jumlah jamur yang dihasilkan : 6.000 x 800 4.800.000 g atau 4.800 kg Bila harga jual jamur tiram Rp 9.000,-/ kg maka pendapatan yang diperoleh = 9.000 x 4.800 = Rp 43.200.000,-

PROYEKSI LABA RUGI PER TAHUN KETERANGAN A. PENJUALAN B. BEBAN POKOK TAHUN 1 86.400.000

17

1. Baglog 2. Fungisisda 3. Plastik Kemasan 4 Tenaga Kerja C. HASIL USAHA KOTOR (A - B) D. BIAYA USAHA 1 Sewa lahan 2 Transfortasi 3. Pemasaran 4. Biaya Sewa Total Biaya Usaha sebelum Penyusutan dan Amortisasi 9. Penyusutan 10. Amortisasi E. TOTAL BIAYA USAHA F. HASIL USAHA (C - E) G. BUNGA H. HASIL USAHA SEBELUM PAJAK (F - G) I. P A J A K K. HASIL USAHA BERSIH (H - I) L. B E P (E/C) 100%

22.500.000 25.000 100.000 2.400.000 61.375.000 1.500.000 1.000.000 600.000 3.000.000

6.100.000 1.720.000 7.820.000 53.555.000 53.555.000 53.555.000 12,74 %

18

TENTANG PENULIS Andrixinata Bahran, dilahirkan di Lampung 27 November 1989. Mengawali jenjang pendidikan di SDN 1 Malaya Kec, Lemong Lampung Barat, kemudian Melanjutkan di SMPN 1 Lemong Lampung barat. Setalah Lulus dari SMAN 1 Pesisir Tengah lampung Bbarat sebagai Lulusan terbaik, melanjutkan studi ke Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bidang ilmu yang ditekuni adalah bagian Hama, Penyakit Tanaman, dan Lingkungan. Penulis merupakan salah satu pemenang Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMP Kabupaten Lampung Barat pada tahun 2002 dan 2003 bidang matematika. Selain itu penulis juga merupakan pemenang OSN Matematika tingkat SMA sekabupaten Lampung Barat tahun 2004, 2005, dan 2006, pemenang Olimpiada Matematika ABDB dan Bank Mega 2005 dan 2006. Semasa sekolah, penulis merupakan seorang juara kelas dan merupakan salah satu pemenang siswa teladan. Prestasi penulis di tingkat propinsi Lampung diantaranya pemenang OSN matematika tahun 2005 dan 10 besar Olimpiade matematika FMIPA UNILA 2005. Selain itu penulis juga merupakan salah satu dari 200 siswa SMA terbaik se-Indonesia pada tahun 2005 dan penerima beasiswa Sampoerna Foundation. Di kampus, penulis aktif dalam berbagai kegiatan diantaranya sebagai ketua Organic Farming IPB 2008, kandidat Debat Bahasa Inggris 2007-sekarang. Saat ini penulis sedang aktif sebagai konsultan Klinik Pertanian IPB dan sedang menjalankan Research untuk tugas akhir jenjang Sarjana yang dijalaninya.

19