Anda di halaman 1dari 219

REFORMASI PELAYANAN PERIZINAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH: CERITA SUKSES TIGA KOTA (PURBALINGGA, MAKASSAR, DAN BANJARBARU)

Tim Peneliti Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D Desy Hariyati, S.Sos Sigit Indra Prianto, S.Sos

2010

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2 1. Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Pidana Pasal 72 1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak untuk melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2.

2010 Tim Peneliti MTI Tirta N. Mursitama, Ph.D; Desy Hariyati, S.Sos.; Sigit Indra Prianto, S.Sos. Editor: Denis L. Toruan denistoruan@gmail.com

Desain Grafis dan Perwajahan: ______________ Desain Sampul: _________________

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang All rights reserved

Diterbitkan pertama kali oleh _________________ Jakarta 2010

1 + 219 hlm; 15,5 cm x 23 cm ISBN: .............................................

Cetakan Pertama: Oktober 2010

Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit

Dicetak oleh percetakan , Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan

KATA PENGANTAR

Sepuluh tahun otonomi daerah menjadi momen penting untuk mengetahui apa saja yang telah dicapai bangsa ini dalam melaksanakannya. Sesuai dengan fakta bahwa pemberian otonomi oleh beberapa daerah ditanggapi dengan semangat yang berbeda, maka hasilnya pun juga berbeda. Daerah yang memandang otonomi sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan masyarakatnya, memanfaatkan kewenangan yang diterima untuk sebaik mungkin menggali potensi yang ada. Sebaliknya, daerah yang memandang otonomi secara picik, yaitu pemberian kekuasaan sebesarbesarnya, maka yang terjadi justru eksploitasi yang pada akhirnya merugikan masyarakat luas. Berbagai kajian menunjukkan bahwa beberapa daerah justru mengalami kemunduran setelah adanya otonomi. Pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan bukan semakin baik, tapi justru sebaliknya. Begitu pun masyarakatnya, tidak dapat mengenyam hasil otonomi yang diterima. Terlepas dari masih banyaknya daerah yang belum dapat memahami otonomi secara utuh, buku yang dihasilkan dari penelitian ini mencoba melihat dan melakukan kajian di daerah yang dapat dikatakan berhasil dalam melaksanakan otonominya. Ada daerah yang mampu memanfaatkan kewenangan yang dimiliki untuk memperbaiki penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publiknya, serta daerah yang juga mampu menggali potensinya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat. Berfokus pada analisis terhadap pelaksanaan reformasi pelayanan publik pada bidang perizinan usaha, kami berusaha untuk memetakan strategi yang dilakukan daerah, dan hasilnya terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Penelitian dilakukan di tiga daerah sebagai studi kasus, yaitu Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjar Baru. Pemilihan ketiga daerah tersebut didasari oleh beberapa alasan. Pertama, mewakili wilayah kabupaten dan kota. Kedua, mewakili wilayah Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Ketiga, mewakili karakteristik daerah kaya dan miskin akan potensi investasi. Dari cerita sukses penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di tiga daerah ini, kami menemukan tiga tipologi penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha. Karakteristik tipologi ini kemudian menghasilkan model integratif perizinan usaha. Model ini menggambarkan strategi
4

bagaimana suatu daerah dapat terus eksis melakukan pembangunan daerah melalui penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha yang akuntabel dan responsif, serta mengutamakan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Dinamika lingkungan eksternal organisasi pemerintah daerah yang dinamis membutuhkan kebijakan komprehensif untuk menarik minat investor ke daerah sekaligus mengelola iklim penyelenggaraan kegiatan usaha di daerah tetap kondusif dan menarik. Harapannya, eksternalitas dari kegiatan usaha di daerah akan mengungkit ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat ke arah yang lebih baik. Buku ini merupakan hasil proyek penelitian Divisi Reformasi Birokrasi dan Otonomi Daerah Masyarakat Transparansi Indonesia yang berjudul Refleksi Sepuluh Tahun Otonomi Daerah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk penyelenggaran pemerintah yang lebih baik. Kami juga berharap kajian ini dapat menjadi rujukan bagi daerah lain yang berkomitmen untuk melakukan perubahan bagi daerahnya. Selain itu, kami juga berharap temuan ini dapat berkontribusi secara teoris dalam kajian ilmu sosial yang lainnya, seperti ilmu ekonomi, ekonomi manajemen, administrasi negara, dan hubungan internasional.

Jakarta, 8 Oktober 2010

Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D Direktur Eksekutif Masyarakat Transparansi Indonesia

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PERIZINAN SEBAGAI UJUNG TOMBAK

I BAGAIMANA PERIZINAN DI DAERAH? Kualitas Layanan Perizinan pada Era Otonomi Daerah

II TINJAUAN NORMATIF PERATURAN PERIZINAN INVESTASI

III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV REFORMASI PERIZINAN USAHA DI DAERAH

V ANALISIS DAMPAK

VI DIMENSI PERIZINAN

VII TIPOLOGI PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN

PENUTUP DAFTAR PUSTAKA


7

PERIZINAN SEBAGAI UJUNG TOMBAK

Penyelenggaraan pemerintahan saat ini bukan lagi semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh aktor dalam sebuah negara. Meskipun demikian, peran pemerintah tentunya masih sangat dibutuhkan terkait dengan penyediaan pelayanan publik. Pada dasarnya, pelayanan publik mencakup tiga aspek, yaitu pelayanan barang, jasa, dan administratif. Wujud pelayanan administratif adalah layanan berbagai perizinan, baik yang bersifat nonperizinan maupun perizinan. Perizinan merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan publik, demikian juga perizinan yang terkait dengan kegiatan usaha. Proses perizinan, khususnya perizinan usaha, secara langsung akan berpengaruh terhadap keinginan dan keputusan calon pengusaha maupun investor untuk menanamkan modalnya. Demikan pula sebaliknya, jika proses perizinan tidak efisien, berbelit-belit, dan tidak transparan baik dalam hal waktu, biaya, maupun prosedur akan berdampak terhadap menurunnya keinginan orang untuk mengurus perizinan usaha, dan mereka mencari tempat investasi lain yang prosesnya lebih jelas dan transparan. Hal ini tentu saja selanjutnya akan berdampak terhadap ketersediaan lapangan kerja dan masalah-masalah ketenagakerjaan lainnya. Penerapan otonomi daerah memberikan ruang yang cukup besar bagi daerah untuk mengatur dan mengurus pelayanan publiknya, termasuk dalam hal perizinan. Implikasinya, sebagian daerah menggunakan kesempatan ini untuk melakukan inovasi demi menarik investor, namun sebagian lain justru menggunakannya untuk menarik retribusi sebesar mungkin dari proses perizinan yang diterapkan, semata-mata demi meningkatkan penerimaan pendapatan daerah setempat (PAD). Pada era otonomi daerah yang telah menginjak satu dasawarsa, banyak daerah otonomi yang cukup berhasil membangun daerahnya yang diawali dengan pemberian layanan perizinan investasi yang mudah dan murah. Dengan tujuan untuk menarik investor, upaya pembangunan daerah dilakukan dengan menciptakan multiplier effects dari penanaman investasi di daerah yang

bersangkutan. Investasi yang masuk menjadi salah satu driving forces dalam percepatan pembangunan daerah. Tulisan ini mengekplorasi penerapan best practice pelayanan perizinan usaha yang dilakukan oleh daerah serta dampak yang ditimbulkan bagi percepatan pembangunan daerah. Tim penulis akan menggunakan tiga daerah sebagai site penelitian, yaitu Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjar Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing daerah memiliki inovasi yang berbeda dan karakteristik berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya pelaksanaan sistem perizinan yang dibangun. Secara umum, Kabupaten Purbalingga dapat dinilai sebagai daerah yang paling berhasil di antara dua lainnya, baik dalam hal sistem perizinan maupun dampaknya terhadap pembangunan daerah. Tulisan ini memiliki keunggulan, yakni analisis yang dilakukan tidak hanya terkait dengan dampak langsung dari perizinan yang biasa dilakukan secara kuantitatif, tetapi juga menyentuh aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat setempat yang turut berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan sistem perizinan. Gambaran tipologi pelayanan perizinan yang ditemukan dalam penelitian ini turut memberikan perspektif baru bagi masyarakat luas. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi semua stakeholder untuk mengapresiasi penyelenggaraan pelayanan perizinan sebagai instrumen pembangunan daerah.

I BAGAIMANA PERIZINAN DI DAERAH?

Kualitas Layanan Perizinan pada Era Otonomi Daerah Rekonstruksi hubungan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan pasca-terselenggaranya otonomi daerah. Instrumen desentralisasi turut mengubah pengelolaan sumber daya lokal sebagai bentuk pendelegasian wewenang dari pusat pada daerah otonom untuk lebih mandiri. Pelayanan pendukung dari aktivitas usaha seperti izin usaha, kepastian hukum, dan iklim usaha yang kondusif pun peranannya tidak lagi terfragmentasi pada pemerintah pusat semata. Pemerintah daerah kini diharapkan menjadi aktor lokal dalam menciptakan sistem perizinan yang mendukung mekanisme kegiatan usaha dan pengelolaan sumber daya daerah bagi kemaslahatan masyarakat lokal. Setelah sebelas tahun kebijakan desentralisasi bergulir sebagai wahana perubahan bagi daerah, gradasi tingkat kesejahteraan dan efektivitas pelayanan di daerah otonomi masih belum merata. Tujuan otonomi daerah yang diharapkan mampu menjadi katalis dalam mendekatkan pelayanan kepada masyarakat lokal tidak tercipta secara komprehensif, justru cenderung berjalan parsial (tidak sama di setiap tempat). Indikasi ini antara lain terlihat dari ketidaksiapan beberapa pemerintah daerah untuk menciptakan mekanisme pelayanan perizinan usaha sebagai gerbang utama penyelenggaraan kegiatan usaha di daerah. Alhasil, tidak responsifnya pemda untuk menciptakan pelayanan perizinan yang akuntabel dan responsif saat ini menjadi penghambat utama dalam melakukan pengelolaan sumber daya daerah. Gambaran ini setidaknya tercermin dari hasil survei yang dilakukan oleh Komite Pengawas Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) pada tahun 2006 di mana penyelenggaraan pelayanan perizinan di daerah masih jauh dari harapan ideal. Identifikasi ini terlihat dari segi waktu yang belum ideal dan biaya tidak resmi yang semakin besar dalam proses berinvestasi. Masalah turunan yang turut mengebiri berjalanannya reformasi pelayanan perizinan di daerah tidak lepas dari perilaku moral hazard

10

seperti korupsi, budaya permisif, serta budaya masyarakat elitis yang masih mengedepankan kedekatan dengan pengambil kebijakan. Situasi ini tentunya akan berimplikasi pada proses pelayanan publik, khususnya pelayanan perizinan di daerah akibat terbentuknya budaya masyarakat elitis. Jika melihat perkembangan skor integritas pelayanan publik selama tiga tahun terakhir, penurunan kualitas pelayanan publik tampaknya memang terjadi. Indikasi ini tidak hanya menjadi salah satu parameter kegagalan penyelenggaraan otonomi daerah, lebih dari itu masalah penurunan indeks integritas pelayanan publik juga akan menjadi salah satu faktor penting bagi para investor untuk melakukan kegiatan usaha di daerah.

Grafik 1.1 Perkembangan Skor Integritas Pelayanan Publik Tahun 2007-2009

Sumber: Komisi Pemberantasan Korupsi, 2010

11

Grafik di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2008 ke 2009 telah terjadi penurunan indeks integritas pelayanan publik, baik di tingkat pusat maupun daerah. Di tingkat daerah, indeks mengalami penurunan dari 6.69 menjadi 6.46. Penurunan skor ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik di daerah secara umum semakin buruk. Kualitas pelayanan publik di bidang perizinan usaha memainkan peranan penting dalam menarik investor untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Kualitas pelayanan perizinan sendiri juga dapat diidentifikasi dari peraturan pemerintah daerah dalam mendukung sekaligus memberikan legitimasi lembaga perizinan di daerah untuk memberikan pelayanan secara lebih efisien dan efektif. Survei yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memberikan laporan bahwa peraturan daerah (termasuk peraturan yang mendukung reformasi lembaga pelayanan perizinan) memberikan pengaruh terhadap iklim usaha. Survei yang dilakukan pada tahun 2008 ini mengidentifikasi ada enam faktor yang memengaruhi iklim investasi. Urutan faktor dari mulai yang paling besar pengaruhnya sampai yang paling kecil yaitu Prosedur Ekspor-Impor, Kondisi Makro, Infrastruktur, Tenaga Kerja, Peraturan lokal, dan Perpajakan. Walaupun tidak menjadi faktor terpenting, peraturan lokal yang pro terhadap perbaikan pelayanan perizinan usaha menjadi salah satu kunci bagi kelangsungan iklim usaha. Sayangnya, reformasi perizinan di beberapa daerah tidak berjalan maksimal. Pembaruan regulasi melalui Sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu atau biasa disebut dengan One Stop Service juga belum mampu menjadi solusi utama dalam memperbaiki pelayanan perizinan di Indonesia secara umum. Melihat perkembangan iklim investasi Indonesia di tingkat dunia, sebenarnya dalam lima tahun terakhir peringkat Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari peringkat Doing Business Indonesia yang terus mengalami perbaikan. Namun, faktanya peringkat yang terus membaik ini tidak diimbangi realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang terus menguat dari tahun ke tahun.

12

Tabel 1.1 Peringkat Doing Business Negara-Negara ASEAN

Sumber: Laporan International Finance Corporation, 2010

Ketidaksinergisan terlihat antara peringkat Indonesia yang terus membaik dan penanaman modal dan kredit PMDN dan PMA yang nilai realisasi investasinya pada rentang waktu 2004-2009 di mana terjadi pasang-surut. Pasang-surut yang terjadi tidak hanya dari sektor PMDN saja, sektor PMA juga mengalami pasang surut dalam hal nilai realisasi investasi. Adapun untuk jumlah izin usaha, kenaikan kuantitas jumlah izin secara konsisten hanya terlihat pada sektor PMA. Untuk sektor PMDN sendiri, jumlah kenaikan izin usaha tidak terlihat konsisten.

13

Tabel 1.2 Penanaman Modal dan Penyaluran Kredit di Sektor Industri Tahun 20042009 Keterangan 2004 2005 2006 2007 2008 2009

PMDN*) Jumlah izin usaha tetap Nilai realisasi investasi (Rp triliun) PMA*) Jumlah Izin Usaha Tetap Nilai realisasi investasi (USD miliar) Penyaluran Kredit (Rp triliun) **) Keterangan:

96 10.5

149 21.0

96 13.0

101 26.3

189 15.9

128 16.0

248 2.8

335 3.5

363 3.6

390 4.7

495 4.5

356 2.8

143.6

169.7

182.4

203.8

269.1

237.9

*) Badan Koordinasi Penanaman Modal : 2009 (JanuariSeptember) **) Bank Indonesia : 2009 (JanuariOktober)

Sumber: RPJMN 2010, Bappenas

Data di atas memberikan wacana untuk kita bahwa, dari sisi konsistensi, pertumbuhan industri secara umum memang belum dapat berjalan sesuai harapan. Ada banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari waktu perizinan yang tidak efisien sampai dengan mekanisme yang

14

masih tumpang tindih antara pusat dan daerah sehingga turut menjadi penghambat dalam memajukan iklim investasi yang kompetitif.

Mengapa Perizinan? Komitmen pemerintah pusat untuk memperbaiki iklim investasi faktanya menunjukkan bahwa dari sisi waktu dan biaya, Indonesia masih menjadi negara yang belum proinvestasi. Meskipun dari sisi potensi investasi di Indonesia sangat besar, termasuk potensi pasarnya, namun jika hal ini tidak diimbangi dengan pelayanan perizinan yang responsif, maka investasi usaha pun tidak akan maksimal. Diterbitkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Perdagangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Hukum dan HAM, serta Kepala BKPM untuk mempercepat proses pembuatan izin usaha dari 60 hari menjadi 17 hari mulai awal Januari 2010 menjadi angin segar bagi para pelaku bisnis, apalagi bagi para calon investor. Apabila kita mengacu pada data International Finance Corporation Indonesia justru memiliki jumlah hari yang lebih banyak (76 hari), 17 hari lebih banyak dari klaim pemerintah saat ini (60 hari).

15

Tabel 1.3 Perbandingan Jumlah Hari untuk Memulai Usaha (Starting A Business) Tahun No Negara 2005 1 2 3 4 5 6 7 8 Singapore Thailand Malaysia Philippines Vietnam Indonesia Cambodia Laos 8 33 30 50 56 151 94 198 2006 6 33 30 48 50 151 86 198 2007 6 33 30 48 50 97 86 192 2008 5 33 24 58 50 105 86 103 2009 4 8 13 15 50 76 85 103

Sumber: International Finance Corporation, dalam RPJMN 2010-Bappenas

Walaupun dalam lima tahun terakhir, jumlah hari untuk memulai usaha di Indonesia terus mengalami penurunan, tetap saja masih kalah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN utama. Indonesia masih kalah dari Singapura dan Thailand yang menduduki peringkat satu dan dua sebagai negara yang paling cepat memberikan pelayanan untuk memulai usaha. Bahkan, Indonesia masih kalah dari Filipina dan Vietnam yang menempati peringkat empat dan lima.

16

Pemangkasan waktu yang sangat besar (17 hari) memang layak diapresiasi. Selain akan menjadi daya tarik bagi investor, pemangkasan ini juga akan meningkatkan peringkat Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang potensial di dunia. Akan tetapi, yang perlu diingat juga adalah saat ini masih banyak perizinan yang menimbulkan biaya tinggi. Ada sekitar 70 perizinan yang dapat dipangkas agar proses memulai usaha di Indonesia dapat lebih efisien dan murah. Munculnya konsep sistem pelayanan perizinan satu atap elektronik untuk perizinan usaha diharapkan dapat memangkas 70 perizinan yang tidak perlu karena seluruh proses perizinan dapat dilakukan di satu atap. Di tingkat daerah, upaya untuk mewujudkan perizinan satu atap masih banyak mengalami kendala. Selain membutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk pembiayaan fisik dan nonfisik, political will dari kepala daerah juga menjadi kunci utama keberhasilan daerah dalam menyelenggarakan pelayanan perizinan usaha. Terselenggaranya pelayanan perizinan yang baik akan menjadi driving force bagi kemajuan ekonomi daerah. Hubungan ini yang sebenarnya belum terlihat di semua daerah karena pada tataran implementasi hanya beberapa daerah yang mampu memanfaatkan momentum otonomi daerah untuk mereformasi sekaligus

mengintegrasikan lembaga di tingkat daerah untuk menciptakan pelayanan perizinan yang berkualitas. Selama ini, paradigma pemerintah daerah dalam mengembangkan daerah dan memutus mata rantai kemiskinan warganya lebih banyak bertumpu pada dana alokasi pusat dan kegiatan pragmatis yang berorientasi pada penerimaan PAD saja. Konsep pembangunan dengan menempatkan perizinan usaha sebagai kunci sukses dalam menarik investasi ke daerah guna menciptakan multiplier effect bagi pembangunan daerah secara keseluruhan belum tercipta secara maksimal. Perubahan paradigma ini yang harus segera dimulai. Beberapa daerah telah memulainya dan mampu menunjukkan keberhasilannya, sebagai contoh Sragen dan Purbalingga. Sumber daya yang terbatas di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Purbalingga tidak menjadi kendala dalam memajukan serta memaksimalkan potensi daerah karena dengan pelayanan publik yang transparan, cepat, mudah, dan murah (terutama pelayanan perizinan) menjadi kunci sukses meningkatkan kesejahteraan hidup penduduknya.

17

Bagan 1.1 selanjutnya akan memberikan gambaran bahwa rendahnya investasi di sebuah negara, termasuk juga di tingkat lokal memengaruhi pendapat rill masyarakat, perkembangan teknologi, permintaan yang turun, sampai dengan potensi sumber daya daerah yang tidak terkelola secara maksimal. Domain inilah yang seharusnya dicermati oleh daerah dalam membangun dan mengembangkan potensi. Investasi menjadi salah satu pintu strategis dalam menyejahterakan masyarakat daerah. Perda-Perda yang proinvestasi tentunya yang akan menjawab permasalahan belum maksimalnya kegiatan investasi yang masuk ke daerah pada masa otonomi daerah. Ragnar Nurske dalam Kunarjo memberikan pemahaman bahwa kemiskinan di negara berkembang ibarat lingkaran setan karena berbagai penjelasan kemiskinan tidak banyak menjelaskan kenapa mereka menjadi miskin. Dikatakan Kunarjo bahwa dalam lingkaran setan kemiskinan, pokok pangkal kemiskinan adalah pendapatan yang rendah. Pendapatan yang rendah bukan hanya memengaruhi tingkat tabungan yang rendah, tetapi juga memengaruhi tingkat pendidikan, kesehatan yang rendah sehingga produktivitas sumber daya yang ada juga menjadi rendah. Semuanya ini akan memengaruhi pendapatan masyarakat yang rendah pula. Investasi rendah dalam lingkaran setan ini menjadi aspek penting dalam memunculkan permasalahan turunan tersebut. Di sinilah diperlukan peraturan daerah sekaligus penyelenggaraan pelayanan perizinan daerah yang mampu memperbaiki rendahnya investasi di suatu daerah. Deregulasi perizinan usaha menjadi solusi untuk mengurai masalah kemiskinan sekaligus proses pembangunan daerah yang stagnan dewasa ini.

18

Bagan 1.1 Hubungan Investasi dalam Lingkaran Kemiskinan


Perkembangan teknologirendah Produktivitas rendah

Kesehatan menurun Permintaan rendah Pendapatan riilrendah Butahuruf tinggi

Investasi rendah

Tabungan rendah

Banyaksumberdaya alamyangtidak dieksploitasi

Sumber: Kunarjo, 2000

Terlepas dari lingkaran setan kemiskinan di negara berkembang di atas, salah satu solusi untuk meminimalisasi disparitas pembangunan antardaerah, yaitu melalui deregulasi perizinan usaha. Langkah ini dapat diambil guna meningkatkan masuknya investasi ke daerah sebagai faktor utama dalam menciptakan efek ganda dalam pemerataan kesejahteraan. Hal ini senada dengan pendapat Brutton yang menyatakan bahwa untuk menanggulangi kemiskinan yaitu dengan cara meningkatkan tabungan dan salah satunya adalah dengan memperluas kesempatan berinvestasi. Deregulasi perizinan usaha akan menumbuhkan iklim investasi di daerah, baik dari segi waktu, transparansi biaya, sampai kepastian hukum dalam melakukan investasi. Adanya investasi juga akan menjadi katalis dalam mengoptimalkan sumber daya lokal agar dapat memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
19

Atas dasar pemikiran tersebut, Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) sebagai bagian dari civil society mengambil inisiatif untuk melakukan kajian khusus terkait kebijakan otonomi daerah yang difokuskan pada aspek penyelenggaraan pelayanan perizinan di daerah pada era otonomi daerah. Dengan kajian tersebut, kita semua mengharapkan akan munculnya pemahaman yang komprehensif terhadap apa yang sesungguhnya terjadi dengan kebijakan otonomi daerah, terutama aspek pelayanan publik dalam pemberian izin usaha berikut permasalahan yang melingkupinya. Selain itu, hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi solusi yang mungkin menjadi alternatif dalam formulasi dan implementasi kebijakan perizinan usaha di daerah lain. Berdasarkan paparan di atas, buku ini berupaya untuk menganalisis beberapa pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimana penyelenggaraan layanan perizinan usaha di daerah setelah diterapkannya otonomi daerah? 2. Bagaimana penerapan best practice dalam layanan perizinan usaha pada era otonomi daerah? 3. Bagaimana pengaruh penerapan best practice layanan perizinan usaha terhadap terciptanya multiplier effect yang mendukung percepatan pembangunan daerah?

Sementara itu, tulisan ini memiliki tujuan penelitian sebagai berikut: 1. Mengetahui penyelenggaraan layanan perizinan usaha setelah diterapkannya kebijakan otonomi daerah; 2. Memberikan penjelasan mengenai penerapan best practice dalam layanan perizinan usaha pada era otonomi daerah; dan 3. Menganalis pengaruh penerapan best practice terhadap terciptanya multiplier effects yang mendukung percepatan pembangunan di daerah.

20

Dari berbagai tujuan di atas, output yang diharapkan dari penelitian ini adalah tersusunnya buku hasil penelitian yang dapat dijadikan referensi bagi daerah lain yang ingin melakukan inovasi penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha. Hasil penelitian juga diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah pusat dalam penyusunan peraturan, baik berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, atau lain-lainnya di bidang perizinan usaha. Secara akademik, hasil buku ini bermanfaat sebagai pengembangan teori mengenai pelayanan publik, khususnya pelayanan di bidang perizinan. Secara praktis, penelitian ini memberikan masukan dan alternatif best practice mengenai pemberian layanan perizinan usaha baik untuk pemerintah pusat maupun daerah.

Konsep Desentralisasi Konsep desentralisasi pemerintahan yang menggeser kekuasaan pemerintahan dari pusat ke daerah, termasuk pelimpahan sebagian kewenangan terhadap aparat pemerintahan dari kekuasaan pemerintah pusat ke pemda merupakan upaya memfungsikan peran elit daerah yang dinilai lebih memerhatikan permasalahan dan potensi daerah otonom agar diurus secara mandiri. Instrumennya tentu saja menggunakan sumber daya lokal yang berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Artikulasi otonomi daerah sendiri secara umum merupakan wewenang untuk mengatur urusan pemerintahan yang bersifat lokalitas, menurut prakarsa sendiri, dan berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. Dengan demikian, desentralisasi sebenarnya penjelmaan otonomi masyarakat setempat untuk memecahkan berbagai masalah dan pemberian layanan yang bersifat lokalitas demi kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan. Menurut Davey, makna desentralisasi memiliki pengertian yang lebih luas karena desentralisasi tidak hanya mencakup aspek administratif semata, namun juga desentralisasi politik. Penjabaran yang lebih kompleks dan luas disampaikan juga oleh Chema dan Rondinelli (1993) yang mengartikulasikan desentralisasi sebagai the transfer or delegating of planning, decision making, or management authority from the central government and its agencies to field organizations, subordinate units

21

of government, semi-autonomous public corporations, area wide or regional authorities, functional authorities, or non governmental organizations. Dalam mendelegasikan transfer otoritas, baik dalam melakukan perencanaan maupun pelaksanaan otoritas tersebut, Chema dan Rondinelli membagi empat bentuk desentralisasi yakni Deconcentration (dekonsentrasi), Delegation (delegasi), Devolution (devolusi), dan Privatization (privatisasi). Salah satu tujuan penyelenggaraan desentralisasi sebenarnya juga representasi dari kepentingan publik dan transparansi pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat.

Konsep Pelayanan Publik Dalam Undang-Undang No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik disebutkan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Menurut Pasal 4 UU ini, penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan kepentingan umum, kepastian hukum, kesamaan hak, keseimbangan hak dan kewajiban, profesionalisme, partisipatif, persamaan perlakuan/tidak diskriminatif, keterbukaan,

akuntabilitas, fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok, rentan, ketepatan waktu, serta kecepatan, kemudahan, dan keterjangkauan. Sebagai bagian dari respons terhadap tantangan global, telah terjadi pergeseran paradigma dalam pelayanan publik. Tiga pergeseran yang dicatat oleh Edi Suharto adalah: 1. Dari problem-based services ke right-based services Pelayanan publik yang dulunya diberikan hanya untuk merespons masalah atau kebutuhan masyarakat, kini diselenggarakan untuk memenuhi hak-hak masyarakat sebagaimana telah diamanatkan konstusi nasional maupun konvensi internasional; 2. Dari rules-based approaches ke outcome-oriented approaches

22

Pelayanan Publik cenderung bergeser dari yang semata didasari peraturan normatif menjadi pendekatan yang berorientasi pada hasil; dan 3. Dari public management ke public governance Menurut Bovaird dan Loffler (2003), dalam manajemen publik masyarakat dianggap sebagai klien, pelanggan, atau sekadar pengguna layanan sehingga merupakan bagian dari market contract.

Pelayanan publik pada umumnya memiliki sifat differential information dan interdependence. Sifat pertama berarti adanya kedudukan yang tidak berimbang antara penyedia pelayanan dan konsumennya yang disebabkan oleh ketidaksetaraan posisi antara penyedia pelayanan dan konsumen. Sifat kedua berarti bahwa keberadaan pelayanan publik dapat memengaruhi aspek-aspek kehidupan dari masyarakat. Pelayanan publik pada dasarnya adalah bentuk tanggung jawab pemerintah sebagai institusi yang dibentuk guna menjalankan fungsifungsi pemerintahan kepada warga negaranya. Dalam perkembangannya, paradigma pelayanan publik mengikuti paradigma yang berkembang dalam praktik administrasi negara. Pada masa administrasi negara klasik, pelayanan publik diarahkan pada pelayanan klien sehingga memosisikan pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik lebih tinggi dari masyarakat, sebagaimana sifat alamiah pelayanan publik differential information di atas. Pada paradigma ini, masyarakat berada pada situasi sebagai objek pelayanan publik semata sehingga tidak memiliki kewenangan untuk mengontrol jumlah, jenis, dan kualitas pelayanan publik yang diberikan.

Konsep Pelayanan Terpadu (One Stop Service) Dalam pengertian sempit, pelayanan terpadu dapat diartikan sebagai satu instansi pemerintah yang memiliki semua otoritas yang diperlukan untuk memberi pelbagai perizinan (licenses, permits, approvals and clearances). Tanpa otoritas yang mampu menangani semua urusan tersebut instansi pemerintah tidak dapat mengatur pelbagai pengaturan selama proses. Oleh

23

sebab itu, dalam hal ini instansi tersebut tidak dapat menyediakan semua bentuk perizinan yang diperlukan dalam pelbagai tingkat administrasi sehingga harus bergantung pada otoritas lain. Pelayanan perizinan dengan sistem terpadu satu pintu (one stop service) membuat waktu pembuatan izin menjadi lebih singkat. Pasalnya, dengan pengurusan administrasi berbasis teknologi informasi, input data cukup dilakukan sekali, dan administrasi bisa dilakukan secara simultan. Dengan adanya kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu, seluruh perizinan dan nonperizinan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota dapat terlayani dalam satu lembaga. Harapan yang ingin dicapai adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi dengan memberikan perhatian yang lebih besar pada peran usaha kecil dan menengah, dan bertujuan meningkatkan kualitas layanan publik. Pelayanan Terpadu pada dasarnya telah diatur melalui Permendagri No.24 Tahun 2006 mengenai Pedoman Penyelenggaran Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Dalam peraturan ini, pelayanan atas permohonan perizinan dan nonperizinan dilakukan oleh Perangkat Daerah Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP), yaitu perangkat pemerintah daerah yang memiliki tugas pokok dan fungsi mengelola semua bentuk pelayanan perizinan dan nonperizinan di daerah dengan sistem satu pintu.

Konsep Investasi Perdagangan bebas merupakan salah satu dampak dari adanya globalisasi. Tarik-menarik antara kekuatan yang mendorong terjadinya multilateralisme di satu sisi dan regionalisme di sisi yang lain merupakan sebuah karakteristik dari globalisasi yang tidak terelakkan. Negara berusaha mendapatkan keuntungan dari kedua tarikan tersebut, demikian halnya dengan perdagangan bebas yang diharapkan menghasilkan keuntungan yang bersifat dinamik maupun statik. Terkait dengan paradigma regionalisme, penelitian ini akan menitikberatkan pada analisis di tingkat daerah yang dibagi dalam tiga kajian yaitu perizinan, iklim investasi, dan pengembangan industri lokal. Desentralisasi perizinan merupakan format kebijakan pemerintahan untuk menata sistem investasi sebagai pilar perekomonian. Perizinan merupakan bagian dari pendekatan command
24

and control, yaitu pendekatan kebijakan investasi dari sudut kewenangan regulasi pemerintah. Perizinan selalu berkaitan dengan kegiatan pengawasan terhadap aktivitas yang menjadi obyek perizinan. Hal itu mencakup tiga aspek, yaitu pemberi izin (aparat perizinan), pelaku investasi (subyek perizinan), dan aktivitas investasi (obyek perizinan). Ketiga aspek ini masing-masing akan dikaji sebagai indikator penelitian. Perizinan yang merupakan ujung tombak dari peranan birokrasi pemerintahan dalam penataan investasi perlu diskenariokan dalam format desentralisasi perizinan yang dinilai sebagai salah satu alternatif solusi efektif untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang menyangkut investasi. Investasi dalam pengertian konsepsional merupakan hasil dari sebuah proses yang bersifat multidimensional. Pembangunan ekonomi merupakan salah satu fungsi dari investasi dalam artian penanaman modal atau faktor ekonomi yang paling esensial dan mudah diukur secara kuantitatif. Akan tetapi, dalam dunia nyata seorang investor yang akan menanamkan modalnya pada suatu bidang usaha tertentu akan selalu memerhatikan faktor keamanan lingkungan, kepastian hukum, status lahan investasi dan dukungan pemerintah. Demikian pula dengan pengembangan industri lokal, selain faktor tersebut juga akan memerhatikan aspek potensi dan kemampuan masyarakat di daerah.

Konsep Multiplier Effect Konsep multiplier effect sangat erat kaitannya dengan perkembangan suatu wilayah. Banyaknya aktivitas yang ditimbulkan secara langsung juga akan memengaruhi kemajuan daerah itu sendiri. Meningkatnya dinamika kegiatan ekonomi pada akhirnya akan meningkatkan pengembangan wilayah. Perspektif mengenai konsep multiplier effect antara lain dikemukakan oleh Keynes melalui model yang diberi nama Incremental Capital Output Ration (ICOR). Teori hubungan kelipatan pertama kali diperkenalkan oleh Keynes dalam The General Theory of Employment, Interest and Money yang mengadopsi konsep dari R.F. Kahn. Dalam bukunya, Keynes menjabarkan konsep multiplier pertama kali diperkenalkan oleh R.F. Kahn melalui tulisannya The Relation of Home Investment to Undemployment (Economic Journal, Juni 1931). Argumen Kahn pada prinsipnya menyatakan jika kecenderungan untuk mengonsumsi dalam pelbagai situasi hipotetik (dengan kondisi tertentu lainnya) dimengerti sebagai sesuatu yang
25

given, dan kita menganggap otoritas moneter atau otoritas publik lainnya menstimulasi atau memperlambat investasi, maka perubahan jumlah employment akan menjadi fungsi dari hasil perubahan jumlah investasi (net change of investment). Ini bertujuan untuk mengestimasi hubungan kuantitatif antara net investment dan kenaikan jumlah employment yang terhubung dengannya. Akan tetapi, sebelum ke multiplier, akan lebih baik untuk mengerti konsep marginal propensity to consume (Keyness, 1957: 113-114). Konsep multiplier pada prinsipnya menjelaskan bahwa ada hubungan antara tingkat investasi (I) dan permintaan pendapatan (Y). Atau, dengan bahasa sederhananya, bila terdapat tambahan investasi, maka akan bertambah pula tingkat permintaan pendapatan dengan kelipatan sebesar kebalikan dari marginal propensity to save (mps), atau angka koefisien yang menunjukkan berapa kenaikan tingkat tabungan jika permintaan pendapatan meningkat dengan jumlah tertentu, dengan nilai angka pecahan kurang dari 1. Model ini diperkaya dengan model Incremental Capital Output Ration (ICOR) dari Sir Harrod yang menyebutkan bahwa investasi harus diartikan sebagai pertambahan kapasitas produksi (Kunarjo: 2000).

Bagaimana Buku ini Disusun Tulisan ini menggunakan metode kualitatif. Metode ini memungkinkan tim peneliti untuk secara induktif tidak terikat pada sistematika penelitian untuk memperoleh data-data lapangan yang memerhatikan konteks tertentu. Untuk meneliti situasi problematis yang terjadi dalam penyelenggaraan otonomi daerah di seluruh Indonesia, tentu diperlukan sumber daya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, penelitian hanya diarahkan dan bertempat pada lokasi-lokasi tertentu yang telah ditentukan. Fokus yang akan dikaji yaitu aspek pelayanan publik, khususnya dalam hal perizinan usaha. Adapun lokasi penelitian yang dipilih adalah Kota Makassar (Sulawesi Selatan), Kabupaten Purbalingga (Jawa Tengah), dan Kota Banjarbaru (Kalimantan Selatan). Meski tidak secara menyeluruh bersifat representatif atas kualitas penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha dalam kerangka otonomi daerah, pemilihan lokasi penelitian tersebut didasarkan pada keberlangsungan pemerintahan pascaotonomi daerah serta keterwakilan wilayah.

26

Teknik pengumpulan data dilaksanakan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (focused group discussion/FGD) dengan berbagai pemangku kepentingan terkait, yakni Kementerian dalam Negeri, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Pemerintah Daerah beserta instansi yang terkait, akademisi, serta pelaku usaha di daerah. Dalam penelitian ini juga terdapat tinjauan secara cermat terhadap dokumendokumen, khususnya terkait dengan aspek penting yang akan dikaji berikut laporan atau hasil evaluasi pelaksanaannya, serta prosedur administrasi dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Selain menilai dari perangkat organisasi, sistem administrasi, dan prosedur penyelenggaraan pelayanan izin investasi diperlukan observasi lapangan untuk melihat langsung keberlakuan prosedur administrasi pada tataran praktik, apakah mencerminkan prinsip-prinsip sistem tata pemerintahan yang baik atau belum. Tahap-tahap penelitian yang akan ditempuh adalah sebagai berikut: Tahap pertama: Mengumpulkan informasi awal mengenai penyelenggaraan perizinan di Indonesia secara umum dan di masing-masing daerah yang telah ditentukan. Informasi ini dapat berupa laporan dan hasil evaluasi pemeringkatan daerah, pemberitaan di media massa, serta penelitian-penelitian terkait yang relevan. Tahap kedua: Melakukan studi dokumen (desk research) untuk menganalisis aspek-aspek normatif pelayanan perizinan usaha di daerah dalam prosedur administrasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. Tahap ketiga: Melakukan pendekatan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk kemudian dilakukan wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap mereka, sejauh yang bersangkutan dianggap kompeten selain pelaksanaan diskusi kelompok terarah (FGD). Tahap keempat: Melakukan observasi lapangan untuk melihat langsung keberlakuan prosedur dalam proses pelaksanaan layanan perizinan usaha pada tataran praktik di daerah. Tahap kelima: Melakukan analisis perbandingan antara daerah yang menjadi setting penelitian. Analisis ini menggunakan satuan variabel dengan masing-masing indikatornya.

27

Tahap keenam: Menyelenggarakan diseminasi hasil riset sementara, seperti dalam bentuk seminar, sekaligus melakukan verifikasi atas hasil riset ini terhadap para stakeholders (pemangku kepentingan) dan para pakar yang berkompeten. Tahap ketujuh: Melakukan analisis menyeluruh terhadap hasil temuan serta penulisan laporan peneltitian.

28

II TINJAUAN NORMATIF PERATURAN PERIZINAN INVESTASI

Tinjauan Normatif Perbaikan pelayanan perizinan sejatinya dilakukan secara komprehensif. Salah satu aspek fundamental dari legitimasi pelayanan perizinan usaha adalah adanya aturan main yang dibuat oleh institusi pemerintah, baik pusat maupun daerah. Sebelum adanya otonomi daerah, pemerintah pusatlah yang intens dalam mengeluarkan paket kebijakan investasi bagi para investor yang menanamkan modalnya di Indonesia. Selain untuk keseragaman aturan main, paket kebijakan juga memiliki banyak kelebihan karena satu peraturan dengan peraturan lainnya sudah diintegrasikan. Strategi ini cukup berhasil melihat dampak dan respons dari para pelaku usaha yang positif. Bagian ini mencoba menggambarkan beberapa ilustrasi paket kebijakan kegiatan investasi sebelum era otonomi daerah.

Peraturan Perizinan Sebelum Otonomi Daerah Paket Deregulasi Tahun 1993 (Pakto 1993) dan Tahun 1994 Keluarnya Paket deregulasi 23 Oktober tahun 1993 tidak lepas dari paham neoliberalisme, terutama dari aspek keuangan dan ekonomi pada tahun 1980-an. Sejak saat itu, munculah berbagai paket kebijakan deregulasi di bidang investasi. Pembuatan paket tahun 1993 pada prinsipnya merupakan aturan yang dibuat untuk memudahkan investor asing menanamkan modalnya di Indonesia. Insentif lain dari paket kebijakan Pakto tahun 1993 adalah penghapusan berbagai surat dan persetujuan. Secara umum, kebijakan ini mengatur lima bidang usaha, yaitu: a. Bidang ekspor; b. Bidang penanaman modal asing; c. Bidang perizinan untuk investasi;
29

d. Bidang Kesehatan; dan e. Bidang penyederhaaan prosedur Amdal.

Perkembangan mengenai paket kebijakan investasi kemudian dilanjutkan satu tahun berikutnya (1994). Pemerintah memperbarui paket kebijakan investasi untuk lebih menarik investor masuk ke Indonesia. Salah satu insentif yang diberikan pemerintah dari PP No.20 Tahun 1994 di mana kepemilikan modal asing diperbolehkan hingga 95-100%, termasuk penguasaan atas sarana hidup orang banyak seperti pelabuhan, tenaga listrik, kereta api, pembangkit tenaga nuklir, dan media massa. Beberapa hal yang penting sehubungan dengan dikeluarkannya deregulasi tersebut, yaitu: Penanaman modal asing dapat dilakukan dalam bentuk: a. Usaha patungan antara modal asing dan modal modal dalam negeri atau badan hukum Indonesia, dengan ketentuan peserta Indonesia harus memiliki paling sedikit 5% dari jumlah modal disetor sejak pendirian perusahaan PMA; b. Atau investasi langsung dalam arti seluruh modalnya dimiliki oleh warga negara dan atau badan hukum asing, dengan ketentuan dalam waktu paling lama 15 tahun sejak produksi komersil sebagian saham asing harus dijual kepada warga negara dan/atau badan hukum Indonesia melalui pemilikan langsung berdasarkan kesepakatan masing-masing pihak dan/atau melalui pasar modal. Dengan demikian, persyaratan pemilikan saham lokal mayoritas yang berlaku sebelum deregulasi telah dihapus. Ketentuan investasi minimum bagi bagi PMA ditiadakan. Jumlah investasi yang ditanamkan dalam rangka PMA diterapkan berdasarkan kelayakan ekonomi kegiatan usahanya; Perusahaan PMA yang sudah berproduksi komersil dapat mendirikan perusahaan baru dan/atau membeli saham perusahaan yang didirikan berdasarkan PMDN dan/atau bukan

30

PMDN melalui pemilikan langsung, sepanjang bidang usaha dari perusahaan yang sahamnya dibeli tersebut dinyatakan terbuka bagi PMA; Kegiatan usaha PMA dapat berlokasi diseluruh Indonesia, namun bagi daerah yang telah memiliki Kawasan Berikat (Kawasan Industri, lokasi kegiatan PMA tersebut

diutamakan didalam kawasan tersebut); dan Izin usaha PMA berlaku untuk jangka 30 tahun dihitung sejak produksi komersil, dan dapat diperpanjang bila perusahaan yang dimaksud masih tetap menjalankan usahanya yang bermanfaat bagi perekonomian dan pembangunan nasional.

Peraturan Perizinan Setelah Otonomi Daerah Otonomi daerah sejatinya mendekatkan penyelenggaraan pelayanan publik kepada masyarakat. Dalam bidang perizinan, pendelegasian otoritas kewenangan sebenarnya juga telah diatur dalam peraturan otonomi daerah. Berdasarkan Keppres No.117/1999, keterlibatan daerah dalam bidang penanaman modal, khususnya pelayanan perizinan yaitu penerbitan Izin Lokasi, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan Izin Gangguan (HO). Izin-izin ini sebenarnya diperlukan oleh pemilik modal (investor) yang akan melakukan kegiatan usaha di daerah. Nantinya, setelah izin-izin selesai dibuat, maka investor akan mendapatkan Izin Usaha Tetap. Pascatahun 1999, kewenangan daerah menguat dalam penerbitan izin penanaman modal di daerah. Kewenangan perizinan penanaman modal yang tadinya hanya dimiliki oleh pemerintah pusat, pada akhirnya dapat menangani dan menerbitkan izin yang terkait dengan penanaman modal. Iklim penanaman modal di daerah yang demikian kemudian menjadi pijakan pusat untuk menarik kembali kewenangan di bidang penanaman modal yang telah didesentralisasikan ke daerah. Melalui Keppres No.29/2004, pelayanan persetujuan, perizinan dan fasilitas penanaman modal dalam rangka PMA dan PMDN kembali dilaksanakan terpusat pada BKPM melalui Sistem Pelayanan Satu Atap. Keppres No.29/2004 tersebut memang bukan Keppres pencabutan kewenangan daerah dalam pelayanan perizinan penanaman modal hanya menyebutkan bahwa gubernur/bupati/walikota dapat melimpahkan kewenangan pelayanan persetujuan, perizinan, dan

31

fasilitas penanaman modal kepada BKPM, tetapi merupakan prakondisi bagi proses resentralisasi. Perihal kewenangan daerah di bidang penanaman modal ditegaskan kemudian dalam UU No.32/2004 Tentang Pemerintahan Daerah bahwa lingkup kewenangan daerah di bidang penanaman modal adalah dalam penyelenggaraaan pelayanan administrasi penananaman modal. Tidak ada penjelasan detail tentang ketentuan tersebut, demikian pula belum ada kebijakan turunan untuk menjabarkan ketentuan dimaksud. Namun demikian, penggunaan istilah administrasi tampaknya merupakan pembatasan terhadap kewenangan daerah di bidang penanaman modal. Dengan pembatasan kewenangan ini, daerah tidak lagi memiliki kewenangan terkait dengan pengambilan keputusan strategik seperti pemberian izin persetujuan penanaman modal, izin pelaksanaan, dan fasilitas penanaman modal. Dengan demikian, berdasarkan UU No.32/2004 Pemerintah Pusat dapat mengembalikan kewenangan daerah di bidang penanaman modal pada kondisi sebelum ditetapkannya UU No.22/1999, yakni kewenangan dalam pemberian perizinan: Izin Lokasi, Izin Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha, Hak Pengelolaan, IMB, dan Izin UUG/HO.

a. Keputusan Presiden No.29 Tahun 2004 Keluarnya Keppres ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat dalam memberikan kemudahan bagi para investor sekaligus sebagai daya tarik untuk menarik investasi ke Indonesia. Pertimbangan utama lahirnya Keppres ini dalam rangka meningkatkan efektivitas menarik investor berinvestasi di Indonesia. Banyaknya survei dan kajian yang memberikan gambaran tidak responsifnya aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan perizinan turut membentuk lahirnya pendekatan Sistem Pelayanan Satu Pintu (One Stop Services) untuk pelayanan perizinan. Selain itu, perlunya penyederhanaan pelayanan penyelenggaraan penanaman modal turut menguatkan implementasi pola Pelayanan Satu Atap. Sistem Pelayanan Satu Atap ini berdasarkan Pasal 6 Kepres No.29 Tahun 2004 dilaksanakan oleh Kepala BKPM pusat dan berkoordinasi dengan instansi yang membina bidang usaha penanaman modal, seperti Departemen Perindustrian dan Perdagangan atau instansi terkait
32

lainnya. Segala penerimaan yang timbul dari pemberian penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap oleh BKPM, baik itu terkait pemberian pelayanan persetujuan, perizinan, dan fasilitas penanaman modal diserahkan pada instansi yang membidangi usaha penanaman modal. Keppres yang ditandatangani pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri ini memang masih terlihat ada sisi kelemahannya. Pertama, BKPM selaku instansi penyelenggara tidak diberikan kebijakan penuh untuk menyelenggarakan Pelayanan Satu Atap di bidang penanaman modal. BKPM harus selalu bekerja sama dengan instansi lain seperti Departemen Perindustrian dan Perdagangan sebelum memutuskan layaknya tidaknya izin yang akan diberikan kepada calon investor. Hal ini membuat keberadaan BKPM hanya sebagai koodinator saja dalam penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap. Tidak ada pasal yang mengatur secara jelas adanya pendelegasian wewenang dari instansi lain terkait otoritas perizinan investasi kepada BKPM. Selain itu, otoritas perizinan lokal yang juga tidak memiliki keharusan untuk mendelegasikan kewenangannya kepada BKPM terkait penanaman modal tentunya tidak akan sukarela memberikan kewenangannya. Dalam pasal 4 Keppres No.25 Tahun 2004, Gubernur/Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dapat melimpahkan kewenangannya kepada otoritas penyelenggara Pelayanan Satu Atap (BKPM) jika memang diperlukan. Tidak ada pasal yang mengikat otoritas lokal wajib mendelegasikan kewenangannya kepada BKPM. Otoritas daerah dalam menyelenggarakan perizinan juga memiliki dasar hukum berdasarkan Peraturan No.22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No.25 Tahun 2000. Tidak ada perubahan yang berarti di tingkat lokal, kecuali ada pendelegasian kewenangan perizinan dari otoritas lokal kepada BKPM. Banyak pihak yang melihat Keppres No.29 Tahun 2004 Atap ini masih memiliki kelemahan, baik regulatif maupun koordinatif. Kelemahan pada aspek regulatifnya bahwa Keputusan No.29 Tahun 2004 merupakan contoh lain dari regulasi legal yang gagal menyediakan dasar hukum yang jelas dan tidak bermakna ambigu dalam masalah yang hendak ditangani. Keputusan ini memang mengklarifikasi bahwa bagi pemerintah pusat, Pelayanan Satu Atap (One Stop Service) merupakan pendekatan yang dianjurkan untuk berhubungan dengan aplikasi investasi, dan bahwa BPKM merupakan agen pemerintah yang dianjurkan untuk menjalankan pelayanan OSS tersebut. Namun demikian, dalam melaksanakan peran itu BPKM terus bergantung pada delegasi otoritas untuk meluluskan investasi dari agen yang bersangkutan.
33

Adapun kelemahan dari sisi koordinatif, Keppres No.29 Tahun 2004 masih terkait dengan konsekuensi dari otoritas yang berbelit dan tumpang tindih, seringkali dalam bentuk pengambilalihan kewenangan pelayanan yang bukan kewenangannya oleh BKPM selaku otoritas penyelenggara pelayanan Perizinan Satu Atap, dan dapat memengaruhi kurang maksimalnya kualitas pelayanan dan adanya derajat perbedaan kualitas pelayanan pada berbagai tingkat investasi yang ada mengingat banyaknya investasi yang harus diurus secara nasional. Secara eksplisit, Keppres No.29 Tahun 2004 juga membawa implikasi pada berkurangnya kewenangan daerah perihal pemberian persetujuan izin dan fasilitas penanaman modal karena dilimpahkan kembali ke pemerintah pusat, termasuk proses pelayanan administrasinya. Daerah hanya menyelenggarakan pelayanan administrasi di daerah

(Kabupaten/Kota) terkait penyelenggaraan penanaman modal seperti Izin Lokasi, IMB, Izin Gangguan (HO). Ketentuan ini diatur mengikuti Instruksi Mendagri No.25 tahun 1998 Tentang Pelayanan Perizinan Satu Atap di Daerah. Selain tiga izin di atas (Izin Lokasi, IMB, dan Izin Gangguan (HO), Instruksi Mendagri juga mengatur penyelenggaraan pelayanan perizinan lainnya, seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Izin Trayek, Izin Peruntukan Penggunaan Tanah, Kartu Tanda Penduduk, dan Akta Catatan Sipil. Pelaksanaan Pelayanan Sistem Satu Atap setelah keluarnya Inpres No.29 Tahun 2004 dari sisi kuantitas di Kabupaten dan Kota pasca-diimplementasikannya memang kurang mendapat sambutan yang meriah dari pemerintah daerah. Data dari Kementrian PAN dan Reformasi Birokrasi tahun 2009 memberikan gambaran pada tahun 2004 tidak ada sistem Pelayanan Satu Atap yang dibangun pada tahun 2004. Pada tahun berikutnya (2005), pembangunan sistem Pelayanan Satu Atap di tingkat Kabupaten/Kota juga belum memberikan hasil yang menggembirakan karena hanya enam sistem Pelayanan Satu Atap yang terbangun. Ironisnya, Dari enam One Stop Service yang terbangun, lima berada di level Kabupaten dan satu di level Kota. Karakteristik pelayanan satu atap yang terjadi pada masa ini juga tidak berbeda jauh dengan patron birokrasi yang sangat Webberian dan terlihat tidak efektif dan efisien. Asropi mengidentikasi permasalahan penyelenggaraan sistem Pelayanan Satu Atap

pascapenyelenggaraan Inpres No.29 Tahun 2004 sebagai berikut.

34

Pada umumnya, daerah kurang perhatian terhadap standar waktu dan biaya untuk proses pelayanan administrasi penanaman modal di daerah. Sebagai akibatnya, waktu yang diperlukan bagi calon penanam modal untuk menyelesaikan perizinan penanaman modal di daerah sulit diperkirakan. Penyelesaian perizinan penanaman modal di daerah seringkali membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit; Lemahnya koordinasi antara instansi-instansi yang terkait dan pelayanan administrasi penanaman modal di daerah. Tidak ada hubungan kerja yang jelas antara instansi yang menerbitkan Izin Lokasi, instansi yang menerbitkan IMB, dan instansi yang menerbitkan Izin UUG/HO. Masing-masing instansi bekerja sendiri-sendiri; Meskipun terdapat instansi tertentu di daerah yang menangani bidang penanaman modal, tetapi kewenangan instansi tersebut tidak memadai untuk meningkatkan kualitas pelayanan dalam perizinan penanaman modal. Hal ini karena kewenangan pelayanan perizinan masih dimiliki oleh masing-masing instansi yang secara tradisional menerbitkan Izin Lokasi, IMB, dan Izin UUG/HO.

Gambaran pelayanan Sistem Pelayanan Satu Atap yang demikian ini tentunya memberikan implikasi pada iklim investasi di daerah. Ironisnya, tidak jarang terciptanya kondisi yang tidak kondusif di bidang pelayanan perizinan usaha dikaitkan dengan desentralisasi. Jika demikian, tujuan dari desentralisasi menjadi sangat kontraproduktif yang tadinya ingin mendekatkan pelayanan kepada stakeholder, tapi justru menghambat iklim investasi. Namun demikian, kondisi iklim penanaman modal di daerah tersebut sebenarnya tidak memiliki relevansi yang kuat dengan kebijakan otonomi daerah karena proses pelayanan administrasi penanaman modal pada dasarnya telah dilaksanakan oleh daerah sebelum daerah menerima kewenangan dari pusat dalam bidang penanaman modal. Pelayanan administrasi penanaman modal di daerah sejak sebelum diberlakukannya UU No.22/1999 adalah bagian dari sistem pelayanan dan perizinan di daerah. Dalam sistem ini tidak ada kejelasan apakah kasus permohonan perizinan tertentu merupakan bagian dari kegiatan penanaman modal atau bukan, semua kasus permohonan perizinan diperlakukan sama.
35

b. Peraturan Menteri dalam Negeri No.24 Tahun 2006 Peraturan yang ditandatangani oleh Mendagri Moh. Maruf pada tahun 2006 ini boleh dikatakan sebagai peremajaan peraturan sebelumnya (Keppres No.29 Tahun 2004) tentang

penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap (One Stop Service). Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, khususnya dalam memberikan peran yang lebih besar kepada usaha mikro, kecil, dan menengah, maka diperlukan penyederhanaan penyelenggaraan pelayanan terpadu sesuai Instruksi Presiden No.3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi. Tujuan penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu ini adalah meningkatkan kualitas layanan publik serta memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik. Sasaran yang ingin dicapai dari pelayanan satu pintu ini adalah terwujudnya pelayanan publik yang cepat, murah, mudah, transparan, pasti dan terjangkau yang pada akhirnya akan meningkatkan hak-hak masyarakat terhadap pelayanan publik, khususnya pelayanan perizinan. Beberapa perbaikan yang dilakukan pemerintah pusat terkait penyelenggaraan Pelayanan Satu Pintu memang cukup jelas dibandingkan dengan Keppres No.29 Tahun 2004 tentang penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap. Beberapa penyederhanaan yang dilakukan antara lain menyangkut waktu, perangkat lembaga, biaya, prosedur pelayanan perizinan, penanganan pengaduan, sumber daya aparatur pemberi layanan, dan keterbukaan informasi. Dalam Pasal 4 ayat 2 penyederhaan perizinan meliputi: 1. Pelayanan atas permohonan perizinan dan nonperizinan dilakukan oleh PPTSP; 2. Percepatan waktu proses penyelesaian pelayanan tidak melebihi standar waktu yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah; 3. Kepastian biaya pelayanan tidak melebihi dari ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah; 4. Kejelasan prosedur pelayanan dapat ditelusuri dan diketahui setiap tahapan proses pemberian perizinan dan nonperizinan sesuai dengan urutan prosedurnya;

36

5. Mengurangi berkas kelengkapan permohonan perizinan yang sama untuk dua atau Lebih permohonan perizinan; 6. Pembebasan biaya perizinan bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ingin memulai usaha baru sesuai dengan peraturan yang berlaku; dan 7. Pemberian hak kepada masyarakat untuk memperoleh informasi dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pelayanan.

c. Instruksi Presiden No.3 Tahun 2006 Guna mendukung peningkatan ekspor dan peningkatan investasi untuk pemulihan ekonomi nasional, pemerintah memandang perlu mengambil langkah-langkah yang mendukung peningkatan ekspor dan peningkatan investasi. Salah satunya dengan membentuk Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi. Instruksi ini ditujukan kepada seluruh jajaran pembantu presiden (menteri dalam kabinet) dan seluruh pemangku kebijakan di tingkat lokal untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing dalam rangka pelaksanaan Paket Kebijakan Iklim Investasi. Salah satu paket kebijakan yang disasar dari Instruksi Presiden ini adalah memperkuat kelembagaan pelayanan investasi. Program-program yang dibuat antara lain mempercepat perizinan kegiatan usaha dan penanaman modal, serta pembentukan perusahaan. Tindakan yang dilakukan guna mengefektifkan program di antaranya dengan melakukan peninjauan sejumlah ketentuan-ketentuan perizinan di bidang perdagangan, pembentukan sekaligus pengaktifan forum diskusi dengan dunia usaha, penyederhanaan proses pembentukan perusahaan dan izin usaha, serta merealisasikan sistem pelayanan terpadu untuk penanaman modal dengan pembagian kewenangan antara pusat dan daerah yang jelas. Instruksi Presiden ini juga mengatur sinkronisasi peraturan pusat dan peraturan daerah dengan cara melakukan peninjauan Perda-Perda yang menghambat investasi. Bidang kepabeanan dan cukai juga diatur dalam instruksi ini agar dapat mendukung pelaksanaan kegiatan investasi agar lebih baik.
37

d. Inpres No.6 Tahun 2007 Perjalanan paket deregulasi kegiatan investasi pada pemerintahan SBY berlanjut pada tahun 2007 di mana pemerintah pusat kembali mengeluarkan Instruksi Presiden tentang Paket Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Rill dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Keputusan yang diambil pemerintah ini tampaknya ingin mendorong pelaku ekonomi menengah ke bawah (UMKM) untuk ikut berpartisipasi dalam percepatan pembangunan ekonomi. Sektor UMKM tidak dapat dipungkiri sebagai instrumen pelaku ekonomi yang tidak mudah digocang oleh krisis dan instabilitas ekonomi lainnya. Banyak yang menduga bahwa paket kebijakan ekonomi jilid II ini (sebelumnya adalah Paket Kebijakan Inpres No.3 Tahun 2006 berisi serangkaian program dan tindakan untuk perbaikan iklim investasi) tidak disambut baik oleh para pengusaha walau kehadiran paket kebijakan ini sangat penting untuk memacu perekonomian. Apatisme ini wajar karena belajar dari kebijakan paket deregulasi ekonomi sebelumnya hanya ramai dibicarakan pada saat awal implementasi, adapun target dan realisasi paket kebijakan ini masih jauh dari harapan. Menilik lebih jauh tidak terintegrasinya harapan dan kenyataan dari paket kebijakan ekonomi ternyata terletak pada inkonsistensi dan tidak tuntasnya paket kebijakan yang dibuat. Seringkali jangka waktu yang sangat sempit antara paket kebijakan satu dengan yang lain menimbulkan kontraproduktif sekaligus overlapping kebijakan. Paket investasi kebijakan yang dilegitimasi melalui Inpres No.6 tahun 2007 ini mencakup beberapa isu, seperti perbaikan iklim investasi, paket reformasi sistem keuangan, pemberdayaan UMKM, dan percepatan infrastruktur atau pembangunan. Substansi paket kebijakan ini terdiri atas paket perbaikan iklim investasi (terdiri dari 41 kebijakan), reformasi sektor keuangan (terdiri dari 43 kebijakan), percepatan pembangunan infrastruktur (28 kebijakan), dan pemberdayaan UMKM (29 kebijakan). Dari semua departemen yang mengambil peran kebijakan dalam paket kebijakan investasi ini, Departemen Keuangan memiliki porsi kebijakan paling banyak karena mengeluarkan 60 tindakan kebijakan. Inpres No.6 tahun 2007 ini secara umum merinci 141 tindakan yang akan dilakukan untuk empat isu utama dengan penanggung jawabnya adalah 19 menteri di bawah koordinasi Menteri bidang Perekonomian.

38

Pada prinsipnya, substansi kebijakan iklim investasi, reformasi sektor keuangan, dan percepatan pembangunan merupakan lanjutan dari paket kebijakan investasi sebelumnya. Inpres No.6 tahun 2007 ini menugaskan Menko Bidang perekonomian dan 19 Menteri lainnya, 3 Kepala LPND serta seluruh gubernur, bupati dan walikota untuk melaksanakan Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Rill dan Pemberdayaan UMKM. Khusus mengenai pemberdayaan UMKM, sebenarnya programnya merupakan perluasan dari beberapa program dalam Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi sebelum Inpres No.6 Tahun 2006. Menengok ke belakang pembuatan paket-paket stimulus kebijakan investasi ekonomi selama ini memang bagian dari strategi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menitikberatkan triple track strategy sebagai basis utama pembangunan ekonomi. Pengungkit kebijakan yang mampu memaksimalkan strategi yang pro-growth, pro-job, pro-poor salah satunya adalah Inpres No.6 tahun 2007 ini. Paket kebijakan ini selain memperkuat paket kebijakan investasi sebelumnya, diharapkan juga dapat menjadi katalisator dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan pengangguran. Namun, tampaknya Inpres No.6 tahun 2007 ini sama nasibnya dengan paket kebijakan investasi lainnya yang berjalan kurang maksimal. Selain jangka waktu yang sangat singkat antara satu kebijakan dengan kebijakan yang lain, tumpang tindih kebijakan dan tidak terintegrasinya kebijakan-kebijakan yang dibuat justru menimbulkan hambatan baru. Respons dari sektor riil dan kalangan dunia usaha sendiri tidak maksimal terkait permasalahan tersebut. Walaupun setiap paket kebijakan ini selalu membuat program, tindakan, keluaran, dan sasaran yang terukur dengan jelas serta target waktu, tetapi tidak mampu diimplementasikan secara maksimal. Sampai dengan akhir Maret 2008, dari semua program kebijakan yang telah dirancang (141 rencana tindakan ssesuai Inpres No.6 tahun 2007) ternyata hanya 107 tindakan yang selesai dilakukan. Dengan kata lain, hanya 75,9% tindakan yang selesai, adapun sisanya masih berlanjut atau belum tuntas.

39

Tinjauan Objektif Perizinan di Daerah Pada bagian ini, penulis mencoba memberikan gambaran mengenai kondisi objektif pelayanan perizinan di daerah. Deskripsi yang dipaparkan bersifat umum, dan tidak mewakili kondisi perizinan daerah tertentu. Berikut ulasan selengkapnya. a. Sebelum Era Otonomi Daerah

Fenomena di berbagai daerah menunjukkan bahwa perizinan berpengaruh terhadap terciptanya iklim investasi di suatu wilayah, baik lingkup nasional maupun daerah. Di Indonesia, sebelum diterapkannya asas desentralisasi yang diwujudkan melalui pemberian otonomi kepada daerah, segala hal terkait dengan kebijakan perizinan bersifat sentralistis di mana pemerintah pusat adalah pembuat keputusan yang mutlak. Begitu pula dalam hal penetapan izinnya, semua harus melalui persetujuan pemerintah pusat. Faktor utama tumbuhnya penyelenggaraan investasi di Indonesia tidak lepas dari dua hal utama, yaitu stabilitas politik dan sosial. Peran penting investor, khususnya PMA sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi di tengah keterpurukan kondisi ekonomi orde lama tidak dapat disangkal. Akselerasi pertumbuhan PMA mencapai puncaknya pada rentang tahun 1980-an sampai dengan tahun 1995. Pertumbuhan yang sangat pesat ini didorong oleh stabilitas politik, kepastian hukum, dan kebijakan ekonomi yang kondusif untuk para investor. Kenyamanan ini yang ditawarkan ini selalu menjadi jualan pemerintah orde baru, dan terbukti berhasil. Selain faktor kondisi politik dan sosial yang kondusif, semakin nyamannya para PMA menanamkan modalnya di Indonesia tidak lepas dari strategi kebijakan Paket Deregulasi yang dibuat pemerintah pusat. Sebagai contoh, pada tahun 1993 pemerintah memberikan kemudahan perizinan investasi yang memudahkan para investor meliputi lima bidang, yaitu bidang ekspor, bidang penanaman modal asing, bidang perizinan untuk investasi, bidang kesehatan, dan bidang penyederhanaan prosedur Amdal (Iklim investasi di Indonesia). Paket kebijakan perizinan yang lebih disederhanakan berimplikasi pada masuknya PMA ke Indonesia. Hal ini terbukti dari masuknya tiga perusahaan besar dari Jepang, Korea dan Korindo Group yang merealisasikan investasinya di Indonesia sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik kimia di Jawa Barat.

40

Sinyalemen positif dari respons PMA terhadap Pakto 1993 adalah adanya kenaikan investasi yang dipublikasikan oleh BPKN sebesar 14% dari tahun sebelumnya. Tahun berikutnya (1994), pemerintah kembali mengeluarkan Paket Deregulasi kebijakan untuk lebih meningkatkan realisasi investasi di Indonesia dengan memperbaiki beberapa kelemahan, seperti kemudahan izin usaha dari sisi lokasi, minimum modal, sampai jangka waktu berinvestasi. Deregulasi yang dilakukan pemerintah pusat memang terbukti positif. Hal ini dapat dilihat dari jumlah masuknya PMA yang terus meningkat sejak tahun 1994.

Grafik 2.1 Pertumbuhan Arus Masuk Net PMA ke Indonesia tahun 1984-2006 (sebagai % PDB)

Sumber: Database ADB dan BKPM

Semakin baiknya pelayanan perizinan investasi melalui paket deregulasi kebijakan oleh pemerintah pusat, semakin mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu negara investasi yang terbaik. Berdasarkan laporan OECD rentang waktu 1990-1997, Indonesia masuk dalam daftar peringkat 20 besar dunia kategori negara dengan arus PMA terbanyak dengan nilai USD23.684 juta. Prestasi Indonesia ini hanya mampu diungguli oleh Singapura dan Malaysia yang berada di peringkat 11 dan 14.
41

Ilustrasi ini membuktikan bahwa sentralisasi pelayanan perizinan untuk investasi asing sebenarnya tidak akan menimbulkan resistensi terhadap kuantitas realisasi investasi jika pengelolaan dan deregulasi kebijakan dilakukan dengan baik. Tidak dapat dipungkiri, pembangunan ekonomi masa orde baru memang sangat tergantung pada peran investasi PMA, di samping belanja negara dari pinjaman luar negeri untuk infrastruktur dan pembiayaan ekonomi lainnya. Korelasi antara pertumbuhan investasi PMA di Indonesia dengan peningkatan pertumbuhan PDB yang pesat dengan rata-rata 7-8%. Dengan pertumbuhan PDB yang cukup tinggi, rata-rata pendapatan nasional per kapita masyarakat Indonesia naik sangat pesat. Berdasarkan laporan BPS, pada tahun 1993 pendapatan masyarakat Indonesia sudah melewati 800 USD, jauh dari nilai pendapatan per kapita pada tahun 1968 di bawah 60 USD.

Grafik 2.2 Pertumbuhan PDB Indonesia Tahun 1965-1996 (dalam %)

Sumber: IMF, IMF Database

Selain membawa cerita manis terhadap peningkatan perekonomian masyarakat secara umum dan penguatan posisi Indonesia dari sisi geoekonomi, sentralisasi perizinan investasi sebelum era otonomi daerah ternyata juga membawa cerita miring. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebijakan perizinan lebih bermuatan kepentingan elit-elit pusat sehingga yang terjadi justru
42

inefisiensi sebagai akibat proses birokrasi yang sangat panjang dan tidak transparan. Kedekatan pemilik modal dengan elite pengambil kebijakan sebelum era orde baru berlangsung menjadi nilai penting dalam mendapatkan kemudahan akses investasi. Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) menjadi trade mark kegiatan usaha dan menjadi rahasia umum masyarakat. Local voice dan local action yang kurang dari daerah untuk ikut serta dalam proses pengambilan kebijakan investasi ikut melanggengkan praktik rent seeking kegiatan investasi di Indonesia.

Era Otonomi Daerah Permasalahan umum yang terjadi di Indonesia terkait dengan desentralisasi adalah kesiapan daerah dalam menerima kewenangan yang dilimpahkan dari pusat. Ketiadaksiapan hampir sebagian besar daerah ketika otonomi daerah dilaksanakan menimbulkan resistensi terhadap kualitas pelayanan sampai inefisiensi pengelolaan sumber daya lokal. Pemetaan permasalahan utama kegiatan investasi di Indonesia menurut survei KPPOD tahun 2002 adalah faktor daya tarik investasi daerah, kondisi sosial politik, infrastruktur fisik, kondisi ekonomi daerah, dan produktivitas tenaga kerja. Laporan World Bank pada tahun 2004 menambah catatan buruk kendala kegiatan investasi di Indonesia, khususnya di bidang perizinan. Pelayanan perizinan yang sangat dikeluhkan oleh pelaku usaha lebih banyak terkait dengan ketidakpastian biaya dan lamanya waktu berurusan dengan perizinan dan birokrasi. Faktor penghambat ini masih diikuti oleh berbagai permasalahan turunan seperti adanya pungutan, baik resmi dan tidak resmi dari perorangan atau institusi. Lebih lanjut, World Bank menegaskan alasan utama investor sangat khawatir untuk berinvestasi di Indonesia selain karena faktor birokrasi perizinan adalah ketidakstabilan ekonomi makro, ketidakpastian kebijakan, korupsi oleh pemda dan pemerintah pusat, dan regulasi pasar tenaga kerja.

43

Grafik 2.3 Masalah-Masalah Utama Melakukan Bisnis di Indonesia (2007-2008)

Sumber: World Economic Forum, 2007

Sejak penerapan Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 1999 dan 2004, resistensi yang ditimbulkan terkait perizinan usaha masih berada para ranah birokrasi. Survei World Economic Forum pada tahun 2007 menunjukkan bahwa birokrasi menempati peringkat kedua setelah infrastruktur yang buruk terkait masalah utama melakukan kegiatan bisnis di Indonesia. Gambaran ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah yang dimulai pada tahun 2010 memang belum mampu menciptakan birokrasi yang responsif terhadap penyelenggaraan kegiatan investasi di daerah. Dalam praktiknya, ranah perizinan usaha sebagai bagian dari pelayanan publik pada era otonomi daerah memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Sisi pertama dapat dilihat sebagai ruang inovasi kebijakan bagi pemerintah daerah untuk menarik calon investor sehingga berbagai kemudahan yang ditawarkan agar roda investasi dapat berputar. Namun, sebaliknya sisi kedua dilihat sebagai peluang daerah untuk memperbesar PAD-nya melalui berbagai retribusi
44

yang mungkin dikenakan dari proses perizinan yang dilakukan. Dapat kita simpulkan bahwa iklim perizinan yang tercipta di daerah tergantung dari kebijakan yang diambil oleh masingmasing pemerintah daerah, apakah kewenangan perizinan dimanfaatkan untuk memperluas akses usaha masyarakat atau untuk memperbesar PAD-nya semata-mata. Deregulasi dan debirokratisasi perizinan usaha merupakan kebijakan yang diambil untuk memperbarui proses penyelenggaraan pelayanan usaha kepada masyarakat oleh pemerintah, dan selama ini kita yang rasakan menghambat atau tersendat, untuk disempurnakan melalui proses percepatan pelayanan dengan memotong mata rantai pengaturan pelayanan dan unit organisasi yang terlibat. Proses penyempurnaannya harus terpadu, lintas instansi, lintas sektor, dan dikoordinasikan oleh satu instansi pemerintah yang memiliki kompetensi dan kewenangan untuk mengambil keputusan final kebijakan yang tumpang tindih, mengurangkan aturan prosedur, dan rasionalisasi kelembagaan pemerintah. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menciptakan iklim investasi yang berdaya saing global dan mencapai sasaran pembangunan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat. Penerapan otonomi daerah berkolerasi terhadap pemberian kewenangan yang lebih luas kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan. Demikian halnya dalam perizinan di mana kewenangan perumusan dan pemberian izin yang sebelumnya ada pada pemerintah pusat kini bergeser kepada pemerintah daerah. Perizinan pada dasarnya memiliki fungsi strategis dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Namun, kembali pada cara pandang daerah terhadap kewenangan yang diterimanya, maka hal ini pun juga dapat disikapi secara berbeda. Pelaksanaan otonomi yang terkesan setengah matang menciptakan ketidakpastian biaya dan lamanya waktu berurusan dengan perizinan dan birokrasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa kebijakan otonomi daerah sejak tahun 2001 secara tidak langsung telah memperburuk iklim investasi di Indonesia (Hofman, et.al. 2003; SMERU 2001; Ray, 2003, 2002). Pelayanan publik yang dikeluhkan terutama terkait dengan ketidakpastian biaya dan lamanya waktu berurusan dengan perizinan dan birokrasi. Ini diperparah dengan masih berlanjutnya berbagai pungutan, baik resmi maupun liar yang harus dibayar perusahaan kepada para petugas, pejabat, dan preman.

45

Dengan dalih untuk meningkatkan PAD, pemerintah daerah menerapkan beberapa pungutan, pajak, sumbangan sukarela, dan pembatasan-pembatasan yang ditujukan kepada investor dan kegiatan bisnis. Meski demikian, desentralisasi juga memungkinkan sejumlah pemda memperkenalkan mekanisme pemberian layanan yang inovatif, seperti penyediaan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP). Inovasi-inovasi tersebut ditiru pemerintah daerah yang lain dan menciptakan suatu persaingan sehat. Namun, laporan setebal 95 halaman itu juga mencatat bahwa desentralisasi bukan tanpa masalah dalam suatu perekonomian yang besar dan rumit. Ilustrasi masalah desentralisasi itu ditampilkan dengan mengutip laporan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) dan The Asia Foundation (TAF) tentang Indeks Tata Kelola Ekonomi Daerah yang dirilis Oktober 2008. Riset yang berhasil mensurvei pelaku usaha dari 243 kabupaten-kota di Indonesia menunjukkan temuan yang mengejutkan. Ditemukan sekitar 85% peraturan daerah tidak sejalan dengan peraturan di tingkat pusat, dan tidak lengkap atau mengganggu kegiatan ekonomi. Biaya-biaya dan retribusi meningkat pesat karena para pemerintah daerah menggunakan wewenang pengaturannya sebagai sebuah mekanisme untuk menaikkan pendapatan asli daerah (PAD). Dengan kata lain, saat ini pemerintah daerah berperan sangat signifikan terhadap baik-buruknya kondisi berusaha atau iklim investasi di Indonesia. Berikut ini gambaran beberapa tinjauan literatur penelitian mengenai iklim investasi yang pernah dilakukan sebelumnya.

46

Tabel 2.1 Tinjauan Literatur Penelitian Iklim Investasi

Reformasi Perizinan Reformasi birokrasi yang tengah dilakukan oleh pemerintah dewasa ini menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian mengatakan reformasi itu masih jalan di tempat, sebagian lagi memvonis bahwa apa pun namanya yang tengah dilakukan ini hanyalah perjuangan untuk mendapatkan tunjangan kesejahteraan yang meningkat, dan lain sebagainya. Deregulasi perizinan di Indonesia pasca-otonomi daerah sebenarnya telah dilakukan melalui berbagai instrumen kebijakan. Akan tetapi, patron birokrasi Indonesia yang sangat Webberian dan hierarkis menimbulkan inkonsistensi reformasi perizinan itu sendiri. Di dalam tubuh birokrasi, khususnya menyangkut unit pelaksana pelayanan perizinan ada beberapa identifikasi permasalahan yang ditemukan ditengarai menjadi penghambat reformasi perizinan. Berdasarkan

47

Laporan Pendahuluan Penataan Sistem Pengaturan Tatalaksana Perizinan Bidang Perekonomian yang disusun oleh Prof. Eko Prasojo et.al., kerja sama antara Menpan-RB dan PKPADK FISIP UI menggambarkan identifikasi permasalahan perizinan di Indonesia yang cukup kompleks. Pertama, penyelenggaraan perizinan selama ini belum mampu menciptakan servis yang baik. Hal ini tidak terlepas dari adanya ketimpangan sumber daya manusia dalam birokrasi yang masih terbatas di level daerah. Gradasi kecukupan sumber daya antardaerah saat ini masih terjadi sehingga penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha mengalami perbedaan di setiap daerah otonom. Kedua, pelaksanaan perizinan usaha di Indonesia masih identik dengan biaya yang tidak pasti. Transparansi biaya yang tidak pasti menjadi alasan utama bagi calon investor untuk menanamkan modalnya. Biaya yang tidak pasti dapat timbul karena aturan main yang tidak mengatur transparansi biaya, atau moral hazard yang dilakukan aparatur negara dengan pembuat izin. Hasil penelitian di Kota Makassar memberikan gambaran bahwa perilaku seperti ini masih muncul dalam proses perizinan. Selain karena faktor budaya lokal, kesempatan kompromi antara pemberi dan penerima layanan turut menimbulkan biaya yang tidak seperti pungutan liar di luar tarif resmi yang ditetapkan. Ketiga, budaya elitis lokal yang mengedepankan kedekatan kekuasaan juga menjadi ranah terjadinya inkonsistensi penyelenggaraan perizinan. Pada era otonomi daerah, kedekatan dengan penguasa menjadi jurus ampuh dalam mendapatkan proyek dan berbagai kemudahan usaha lainnya. Kedekatan ini didasari atas kepentingan kelompok, individu, dan kekerabatan keluarga. Seringkali, proses transparansi perizinan tidak terjadi jika melibatkan permohonan izinizin yang berafiliasi dengan elit lokal. Keempat, ketimpangan kompetensi dalam pelayanan perizinan usaha dari sisi SDM serta sarana dan prasarana turut memengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pelayanan perizinan. Keterbatasan jumlah dan kualitas SDM akan memengaruhi kinerja organisasi secara umum. Minimnya sarana dan prasarana juga menjadi permasalahan mendasar yang hampir ditemui di daerah. Hal ini tidak lepas dari dukungan dana dan political will dari kepala daerah untuk mereformasi pelayanan perizinan usaha sebagai katub masuknya investasi ke daerah.

48

Kelima, moral hazard yang sangat kental dalam proses pelayanan perizinan usaha juga menjadi penghambat responsitas pemberi layanan kepada penerima layanan. Praktik suap, budaya permisif, menggunakan pendekatan individu tanpa melalui mekanisme yang ada ketika membuat izin menjadi identifikasi umum praktik moral hazard dalam pelayanan perizinan. Keenam, ketiadaan grand design penyelenggaraan pelayanan perizinan juga menjadi permasalahan mendasar dalam menciptakan perizinan usaha yang responsif. Selama ini tumpang tindih kebijakan pusat dan daerah serta cepatnya perubahan peraturan yang dibuat oleh pembuat kebijakan membingungkan pemda dalam mengimplementasikan instruksi pemerintah pusat. Belum lagi kecepatan responsitas daerah yang berbeda semakin memperjelas disparitas kualitas pelayanan perizinan usaha. Ketujuh, pelayanan perizinan usaha saat ini belum menerapkan prinsip good governance secara komprehensif. Ada di satu daerah yang telah menerapkan salah satu prinsip good governance namun di satu sisi, prinsip lainnya belum berjalan maksimal. Ketimpangan untuk menerapkan prinsip good governance antardaerah memberikan gambaran bahwa peran kepala daerah sangat penting dalam mendorong terciptanya tata kelola pelayanan perizinan. Daerahdaerah yang maju pelayanan perizinannya ditopang oleh semangat kepala daerahnya untuk mereformasi bawahannya. Salah satu instrumen perubahannya dengan prinsip good governance. Dari semua permasalahan di atas, semuanya memiliki andil dalam mengebiri proses reformasi perizinan usaha. Permasalahan yang satu dan yang lain saling terkait, dan tidak dapat dipisahkan. Identifikasi permasalahan ini akan memberikan resistensi yang semakin besar kepada pemberi layanan jika tidak diperbaiki. Dampaknya bukan hanya pada menurunnya kepercayaan dunia usaha pada satu daerah, namun di sisi yang lain pelayanan perizinan usaha sebagai salah satu gerbang investasi daerah justru menjadi beban bagi penyelenggaraan pelayanan. Perihal proses reformasi perizinan usaha di daerah itu sendiri, hambatan terbesar selama penelitian dilakukan di Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru memang sangat dipengaruhi oleh keinginan dan visi misi kepala daerah setempat. Hampir semua daerah yang sukses melakukan deregulasi pelayanan perizinan usaha adalah daerah-daerah dengan ciri memiliki kepemimpinan yang kuat. Melakukan mutasi pegawai dan membuang peraturan49

peraturan daerah yang menghambat proses pemberian izin bukanlah perkara yang mudah. Ada begitu banyak resistensi dari bawahan yang menganggap perubahan akan membahayakan posisi dirinya. Reformasi perizinan yang dilakukan oleh pemerintah daerah secara umum juga masih parsial di mana reformasi dilandasi atas dasar kebutuhan dan desakan peraturan pusat. Orientasi penyelenggaraan pelayanan perizinan juga hanya terbatas pada aspek normatif semata. Mengintegrasikan kemudahan pelayanan perizinan dengan peningkatan kesejahteraan daerah masih jarang ditemui walau wacana ke arah itu semakin nyata. Masih menggantungkan badan pelayanan perizinan usaha untuk Pendapatan Asli Daerah menjadi cermin bahwa orientasi jangka pendek reformasi perizinan masih dirasakan cukup kuat. Masuknya investasi ke daerah hanya dimaknai dengan semakin meningkatnya retribusi dan pajak daerah yang masuk ke kas daerah. Aspek multiplier effect terhadap tingkat kesejahteraan daerah ketika perizinan usaha sebagai bagian dari grand design pelayanan perizinan masih belum terlaksana dengan baik.

50

Gambar 2.1 Kerangka Kerja Reformasi Perizinan

Sumber: Menpan-RB dan PKPADK FISIP UI, 2009. Diolah kembali

Mengandalkan kemampuan pemerintah daerah semata bukanlah pilihan yang bijaksana mengingat masih banyak kekurangan internal dan eksternal jika melihat kinerja pemerintah selama ini. Reformasi dapat dilakukan mulai dari perbaikan pada sistem dan prosedur perizinan untuk membuka peluang investasi dan menciptakan daya tarik yang kuat bagi investor. Reformasi perizinan sebagai bagian dari reformasi birokrasi memiliki peran strategis demi menciptakan iklim usaha yang sehat bagi pertumbuhan perekonomian daerah. Tingkat perekonomian daerah tentunya berkolerasi dengan daya saing daerah, baik di tingkat regional maupun di tingkat nasional. Langkah nyata yang dapat dilakukan adalah pembenahan sistem beserta organisasi termasuk aparat sebagai pemberi layanan. Pembenahan sistem diawali dari penyusunan berbagai kebijakan yang proinvestasi untuk memperbaiki citra layanan perizinan yang identik dengan
51

lahan korupsi dan proses yang berbelit-belit. Reformasi perizinan di tingkat nasional ditandai dengan terbitnya Keputusan Presiden No.29 tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Penanaman Modal dalam Rangka PMA dan PMDN melalui Sistem Pelayanan Satu Atap. Sedangkan di tingkat daerah, pemberlakuan otonomi daerah telah melahirkan berbagai bentuk inovasi dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha. Meskipun inovasi yang dilakukan juga mengacu pada peraturan di tingkat pusat, dalam pelaksanaannya antara daerah yang satu dan yang lain memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Pada era otonomi daerah dewasa ini, menggantungkan fungsi perizinan hanya dari sisi budgeter, yaitu menjadikan pelayanan perizinan sebagai pendapatan bagi kas daerah semata tampak sangat naf. Pendelegasian sebagian kewenangan pemerintah pusat ke daerah harus dijadikan momentum untuk melakukan diversifikasi fungsi pelayanan perizinan. Perizinan usaha saat ini harus menjadi tools sekaligus instrumen rekayasa pembanginan. Artinya, izin yang dikeluarkan harus dapat menstimulasi perekonomian daerah. Hal ini terkait dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Proporsi pemberian izin usaha untuk para calon investor juga harus proporsional dan seimbang. Khusus untuk daerah yang memiliki kompetensi unggulan untuk satu jenis usaha, proporsionalitas pemberian izin mungkin tidak terjadi karena investasi yang masuk justru tertarik dengan kompetensi daerah yang dituju. Kabupaten Purbalingga menjadi bukti di mana jenis usaha yang sangat dominan adalah industri rambut. Alokasi izin yang didominasi oleh industri rambut tidak menghambat perekonomian masyarakat lokal karena usaha turunan dari industri rambut turut tumbuh di masyarakat. Namun, keseimbangan ekonomi idealnya juga menggali potensi lain selain kompetensi industri utama. Perizinan usaha juga harus menjadi instrumen pengaturan tindakan dan perilaku masyarakat. Harus ada keterkaitan antara tujuan pemberian pelayanan perizinan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Terkait dengan korelasi proses reformasi perizinan usaha yang dilakukan daerah pada era otonomi daerah, berdasarkan Laporan Pendahuluan Penataan Sistem Pengaturan Tatalaksana Perizinan Bidang Perekonomian yang disusun oleh Prof Eko Prasojo dkk, kerja sama antara Menpan-RB dan PKPADK FISIP UI memberikan gambaran parameter tata alur pembenahan perizinan. Gambar yang terlihat dalam gambar 2.1 memberikan acuan bahwa arah reformasi,

52

debirokrastisasi, dan deregulasi harus dilakukan secara bersama dan terintegrasi antara pusat dan daerah. Selama ini, ketidakmampuan dan ketidakharmonisan daerah dalam menangkap keinginan dan implementasi aturan main yang dibuat oleh pemerintah pusat dilatarbelakangi oleh kebijakan pusat dan daerah yang tidak sejalan. Pembenahan perizinan usaha pada era desentralisasi tidak hanya memerlukan kesinambungan perizinan usaha antara pusat dan daerah, namun juga memerlukan dukungan dari kelembagaan, personil, teknologi, dan pembiayaan. Kelemahan aspek kelembagaan dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha tidak lepas dari resistensi dinas teknis. Sinergitas dinas teknis, baik dalam hal koordinasi pembagian tugas dan tanggung jawab lainnya harus diselaraskan. Media teknologi informasi yang akan memegang peranan penting untuk mengurangi rentang kendali kantor/badan pelayanan perizinan dengan dinas teknis dari sisi jarak dan waktu. Alih teknologi yang tepat guna juga akan mengurangi praktik bad governance karena kontak langsung pemberi dan pengakses layanan dapat diminimalisir. Penggunaan teknologi selain mengefisienkan pelayanan perizinan usaha, juga akan meminimalisir ongkos pemberian layanan publik. Dukungan personil, baik dari kuantitas dan kualitas juga harus diperhatikan karena proporsi SDM dan beban kerja yang baik akan berimplikasi dengan kualitas layanan. Terakhir, dukungan political will (dana dan kebijakan yang proinvestasi) akan menentukan keberhasilan dari proses perbaikan pelayanan perizinan usaha. Idealnya, pelayanan perizinan usaha juga harus mengedepankan aspek formal pembuatan izin untuk menjadi acuan bagi pelaksana dalam menjalankan tugasnya. Pembuatan izin usaha sebaiknya harus dibuat oleh pejabat yang memang menangani pelayanan perizinan. Dari tiga tempat yang menjadi site penelitian, secara umum keputusan terakhir pemberian izin didelegasikan kepada kepala kantor/badan pelayanan perizinan setempat. Namun, untuk izin industri besar, seperti di Kabupaten Purbalingga, proses izin ditentukan oleh Bupati sebagai administrator tertinggi di lingkup daerah. Keputusan perizinan usaha juga harus menjabarkan dengan jelas hak dan tanggung jawab pemberi dan penerima izin. Substansi keputusan harus mengikuti kaidah peraturan dinas terkait dan juga peraturan yang lebih tinggi.

53

Deregulasi pelayanan perizinan sejatinya menyasar pada bagaimana menerapkan prinsip tata kelola perizinan yang baik agar dapat memberikan pelayanan perizinan yang maksimal kepada pemohon izin. Tata cara pelayanan perizinan harus dapat memuat prosedur yang jelas dan sederhana. Standar pelayanan minimal sebagai acuan pemberian pelayanan publik harus diterapkan dengan baik. Upaya penerapan e-government di Kabupaten Purbalingga dan Kota Makassar yang masih sederhana patut diapresiasi karena dalam praktiknya cukup membantu masyarakat untuk mendapatkan izin usaha. Syarat-syarat administratif untuk mengajukan permohonan izin juga harus dijabarkan dan dikomunikasikan dengan baik agar transparansi dan akuntabilitas dapat tercipta. Dengan demikian, pemohon izin dapat mengetahui apa yang mesti dipersiapkan, termasuk biaya dan lama waktu proses izin yang akan diajukan. Biayanya pun juga harus dijabarkan dengan jelas komponennya, dan tidak boleh overlapping dengan biaya yang lain. Berdasarkan dari hasil penelitian di tiga daerah ini, komponen besaran biaya memang berbeda satu daerah dengan daerah lain. Namun, besaran dan komponen biaya ikut dipengaruhi juga oleh apakah kantor atau badan perizinan diberikan beban PAD dalam menarik retribusi. Bukti pembayaran idealnya harus dibuat dan harus sesuai dengan retribusi yang dibayar oleh pemohon izin. Pengawasan dan pemberian reward and punishment sebagai bagian dari penerapan prinsip good governance harus dijalankan dengan maksimal. Pengawasan tidak hanya terfokus di ranah internal semata, namun juga melibatkan pihak luar seperti masyarakat dan organisasi civil society. Forum formal dan informal yang mempertemukan pemerintah daerah dan pelaku usaha juga menjadi ranah yang baik dalam menyinergiskan hambatan dan kendala yang ditemui para pemohon izin. Aspek pengawasan tidak hanya terkait dengan rutinitas kinerja dari penyelenggaraan pelayanan perizinan apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, evaluasi laporan kinerjanya juga harus dilakukan agar arah deregulasi dan debirokratisasi penyelenggaraan pelayanan perizinan berjalan sesuai dengan arah yang ditentukan pada awal perencanaan serta dapat dipertanggungjawabkan. Apa yang dilakukan oleh Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Sragen dengan membuat indeks kepuasan pelanggan dapat menjadi cerminan bahwa evaluasi dan persepsi masyarakat sangat penting dalam menyempurnakan penyelenggaraan pelayanan perizinan.

54

Guna mewujudkan pelayanan perizinan yang akuntabel dan responsif, memperbaiki aturan main dan sistem kerja tampaknya tidak cukup. Dukungan aparatur pemerintah dan perangkat kerja lain juga harus dimaksimalkan dalam mendapatkan pelayanan yang berkualitas. Ketimpangan daerah satu dengan daerah yang lain dalam mewujudkan pelayanan perizinan yang berkualitas tidak hanya karena faktor minimnya dana semata, tapi kemauan untuk berubah dalam diri aparatur Pemda yang didukung oleh political will dari pimpinan menjadi hal terpenting. Pengembangan kapasitas SDM pegawai untuk menerapkan prinsip pelayanan yang baik dan good governance sangat diperlukan, di samping juga independensi pegawai dalam memberikan pelayanan. Pengembangan pelayanan dengan berbasis kompetensi dan merit sistem harus terus dilaksanakan guna memastikan pegawai yang bekerja adalah orang yang mengerti tugas dan tanggung jawabnya. Hal yang tidak kalah penting adalah integrasi dan dukungan dari dinas teknis untuk menciptakan pelayanan yang responsif. Berdasarkan pengamatan di tiga daerah penelitian ini, resistensi dinas teknis terhadap kantor atau badan pelayanan perizinan sangat memengaruhi waktu pemberian izin.

55

Gambar 2.1 Tata Alur Pembenahan Perizinan di Indonesia Deregulasi dan Debirokrasi

Sumber: Menpan-RB dan PKPADK FISIP UI, 2009, diolah kembali

56

III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Kabupaten Purbalingga a. Geografis Kabupaten Purbalingga temasuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Posisi Kabupaten Purbalingga sendiri berada di sebelah bagian barat daya, tepatnya pada posisi 109 11' BT - 109 35' BT. Luas daerahnya 77.764,122 ha/777,64 km2. Berdasarkan batas administratif, di sebelah utara Kabupaten Purbalingga berbatasan dengan Kabupaten Pemalang; sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Banjarnegara; sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Banyumas; dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banyumas. Secara administratif, Kabupaten Purbalingga terbagi ke dalam 18 kecamatan, 224 desa, dan 15 Kelurahan. Bagian Utara, meliputi Kecamatan Karangreja, Bobotsari, Karanganyar, Rembang, sebagian wilayah Kecamatan Kutasari, Bojongsari dan Mrebet. Bagian Selatan meliputi wilayah Kecamatan Kalimanah, Padamara, Purbalingga, Kemangkon, Bukateja, Kejobong, Pengadegan. Sebagian Wilayah Kecamatan Kutasari, Bojongsari dan Mrebet.

57

Gambar 3.1 Peta Kabupaten Purbalingga

Sumber: http://my.opera.com b. Demografi Pada tahun 2008, jumlah penduduk Kabupaten Purbalingga berjumlah 917.176 jiwa. Persentase untuk penduduk laki-laki adalah 50,4%, sementara persentase perempuan adalah 49,6%. Secara umum, penduduk Kabupaten Purbalingga bersuku Jawa. Perkembangan kota yang semakin pesat seiring dengan kegiatan ekonominya membuat pertambahan penduduk tidak dapat dihindari. Dari mulai tahun 2003 sampai dengan 2008, perkembangan penduduk selalu meningkat. Berikut gambaran perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Purbalingga sejak tahun 2003 sampai dengan 2008.

58

Tabel 3.1 Perkembangan Jumlah Penduduk Kabupaten Purbalingga Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Jumlah Penduduk (jiwa) 855.472 863.818 875.794 882.330 880.015 917.176

Sumber: Bappeda Kab Purbalingga, diolah

c. Potensi Daerah Sebagai kota yang tidak memiliki sumber daya yang melimpah serta prasarana pendukung investasi yang mumpuni seperti pelabuhan, lapangan udara, dan prasarana lainnya, tapi itu tidak membuat Kabupaten Purbalingga miskin potensi investasi. Sebagai daerah yang masih didominasi oleh sektor primer kegiatan ekonominya, ada beberapa potensi unggulan yang dapat digali. Selain industri rambut yang memang sudah menjadi potensi unggulan, berikut ini gambaran potensi daerah yang dimiliki Kabupaten Purbalingga. 1. Pertanian Sektor petanian di Kabupaten Purbalingga masih mendominasi struktur ekonomi secara umum. Persentase sektor pertanian saat ini mencapai 33,06%. Meski demikian, ada kecenderungan terjadi pergeseran dan kenaikan peran beberapa sektor sekunder dan tertier, meski belum signifikan. Subsektor pertanian saat ini meliputi komoditi tanaman bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, sayur-sayuran, buah-buahan, dan hasil-hasil produk turunannya. 2. Industri manufaktur, kerajinan, dan makanan olahan

59

Industri manufaktur di Kabupaten Purbalingga saat ini cukup beragam. Akan tetapi, industri UMKM yang cukup terkenal dan sudah diakui keunggulannya adalah pembuatan knalpot. Sentra industri knalpot berada di Kecamatan Purbalingga. Selain knalpot, industri kerajinan tangan yang bahan bakunya dari bambu, tempurung kelapa, serta pembuatan mebel ukir dan kerajinan kayu juga menjadi industri unggulan. Adapun makanan olahan yang menjadi ciri khas Kabupaten Purbalingga adalah emping mlinjo, kacang goreng (klithik), sale pisang, rengginang, mie Ganyong, dan sebagainya. 3. Perdagangan dan jasa Sektor perdagangan di Kabupaten Purbalingga saat ini berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Perdagangan sandang sangat mendominasi kegiatan usaha di sentral perdagangan, seperti pasar dan pusat keramaian kota. Selain itu, sektor perdagangan kuliner juga cukup dominan di mana pusat kegiatannya dilakukan di alunalun Kota Purbalingga. Perdagangan untuk hasil industri UMKM juga sangat pesat, baik untuk pasar domestik maupun ekspor untuk negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea. 4. Pariwisata Pengembangan objek pariwisata di Kabupaten Purbalingga selama kepemimpinan Bupati yang terakhir saat ini juga tidak kalah dengan pengembangan di sektor industri. Objek wisata Owabong menjadi objek wisata terpopuler di Kabupaten Purbalingga, dan menjadi contoh sukses pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Purbalingga. Tempat ini merupakan pemandian bertaraf internasional yang berada di pedesaan lengkap dengan nuansa sekitar yang alami dan tradisional. Rindangnya pepohonan di sekitar Owabong juga semakin menambah suasana sejuk, dan segarnya mata air yang sudah ribuan tahun menghidupi warga sekitar. Selain Owabong, wisata alam juga dikembangkan oleh Pemerintah Daerah Purbalingga seperti Munjulluhur, Adventures Zone, River World Purbasari, dan Desa Wisata Karangbanjar. 5. Ketenagakerjaan Potensi ketenagakerjaan dalam menunjang investasi di Kabupaten Purbalingga memiliki peranan penting. Tenaga kerja yang ada di Kabupaten Purbalingga lebih didominasi
60

tenaga kerja terampil. Sebagian besar penyerapan tenaga terampil ini diserap oleh indusri rambut dan industri turunannya. Selain itu, tenaga kerja informal yang bergerak di bidang industri rumahan juga sangat banyak, terutama industri unggulan seperti pembuatan knalpot, makanan olahan, dan kerajinan tangan. Tenaga kerja di sektor pertanian juga sangat mendominasi karena kegiatan perekonomian Kabupaten Purbalingga saat ini persentase terbesarnya bidang pertanian.

Tabel 3.2 Tabulasi Peluang Investasi di Purbalingga


No. Komoditi Lokasi Volume Pemanfaatan

Batu Gamping

Kec. Karangmoncol Kec. Rembang

530.000 m3

Bahan baku semen portland, semen alam, keramik, industri kimia

Bahan aditif obat-obatan 2 Kalsit Kec. Rembang 1.226.000 ton Bahan baku keramik 12 Ha

Bahan baku keramik 3 Lempung (aluvial) Kec. Bojongsari Kec. Bukateja Kec. Kaligondang Kec. Kalimanah Kec. Kemangkon Kec. Kutasari 109.080.000 m3 193.500.000 ton 7.095 Ha 15.000 m3 17.500 ton 16 Ha

Lantai Keramik 4 Lempung (sedimen) Kec. Bobotsari 54.525.000 m3

61

Kec. Kaligondang Kec. Karanganyar Kec. Karangmoncol Kec. Rembang

101.170.000 ton 7095 Ha

Kerajinan keramik

Batu Mulia (sekunder)

Kec. Bobotsari Kec. Kaligondang Kec. Karanganyar Kec. Karangmoncol Kec. Purbalingga Kec. Rembang

16.200 m3 60.000 ton 745 Ha

Gomestone Precious stone Ornamental stone Furnitural stone Toolkit Electronic microchip

Batu Mulia (primer)

Kec. Rembang Kec. Karangmoncol Kec. Karangreja

105.000 m3 250.000 ton 70 Ha

Gomestone Precious stone Ornamental stone Furnitural stone Toolkit

Batu Tras

Kec. Karangreja Kec. Karangmoncol Kec. Rembang

11.505.000 m3 16.750.570 ton 450 Ha Electronic microchip

Granit

Kec. Rembang

57.400.000 m

Bahan bangunan

Sabut Kelapa

Kec. Karangmoncol Kec. Kejobong Kec. Pengadegan Kec. Bukateja Kec. Kemangkon

43.393 ton

Lantai Granit Aksesoris rumah tangga

62

Kec. Kutasari

10

Hortikultura (kentang, wortel, kubis, dll)

Kec. Karangreja

275 ton

Bahan baku jok mobil (eksport) Alat rumah tangga Produk olahan segar Produk olahan kering (industri aneka snak)

Lada 11 Kec. Kejobong

Lada bubuk Bahan baku industri jamu

Sumber: http://www.purbalinggakab.go.id B. Kota Makassar a. Geografis Kota Makassar merupakan ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis, Kota Makassar terletak pada koordinat 119 derajat bujur timur dan 5,8 derajat lintang selatan dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari permukaan laut. Adapun luas wilayah Kota Makassar seluruhnya berjumlah kurang lebih 175.77 km2. Di sebelah utara dan timur, kota Makassar berbatasan dengan Kabupaten Maros, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa, dan di sebelah barat berbatasan dengan selat Makassar.

63

Gambar 3.2 Peta Kota Makassar

Sumber: http://ahts.wordpress.com

Secara administratif, Kota Makassar terbagi atas 14 kecamatan, dan memiliki 143 kelurahan. Di antara kecamatan tersebut, ada tujuh kecamatan yang berbatasan dengan pantai, yaitu kecamatan Tamalate, Mariso, Wajo, Ujung Tanah, Tallo, Tamalanrea, dan Biringkanaya. Kecamatan Panakkukang memiliki luas terluas dengan 48,22 km2, sedangkan Kecamatan Mariso memiliki luas terkecil, yaitu 1,82 km2. Berikut gambaran komposisi jumlah dan luas wilayah kecamatan Kota Makassar selengkapnya.

64

Tabel 3.3 Luas Wilayah dan Persentase Terhadap Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kota Makassar

Kecamatan

Luas (km2)

Persentase (%)

Mariso Mamajang Tamalate Rappocini Makassar Ujung Pandang Wajo Bontoala Ujung Tanah Tallo Panakkukang Manggala Biringkanaya Talamanrea Makassar

1.82 2.25 20.21 2.52 2.63 1.99 2.10 5.94 5.83 17.05 48.22 9.23 24.14 31.84 175.77

1.04 1.28 12.07 1.43 1.50 1.13 1.19 3.38 3.32 9.70 27.43 5.25 13.73 18.11 100.00

Sumber: Buku Saku Kota Makassar, 2009


65

b. Demografi Berdasarkan data dari Dinas Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil jumlah penduduk Kota Makassar mencapai 1,5 juta jiwa. Adapun hasil sensus Badan Pusat Statistik Kota Makassar pada tahun 2009, jumlah penduduk sebanyak 1, 2 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk dari tahun 2008 ke 2009 versi Dinas Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil sebesar 200.000 orang, sedangkan BPS Kota Makassar memprediksi pertumbuhan penduduk hanya berkisar 70.000 jiwa.

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Kecamatan di Kota Makassar


Laju Kecamatan Penduduk Pertumbuhan Penduduk 2000-2006 2007 2008 Penduduk Laju Pertumbuhan Penduduk 2007-2008

Tahun

2000

20002006

Mariso Mamajang Tamalate Rappocini Makassar Ujung Pandang Wajo Bontoala

52.803 58.875 144.458 136.725 80.383 27.921 34.137 56.991

0,74 0,03 2,47 1,78 0,15 0,11 0,03 0,97

0,74 0,03 2,47 1,78 0,15 0,11 0,03 0,97

53.852 59.533 150.014 140.822 81.645 28.206 34.504 60.850

54.616 60.394 152.197 142.958 82.907 28.637 35.011 61.809

0,86 0,32 2,16 1,64 0,43 0,39 0,32 1,05

66

Ujung Tanah Tallo Panakkukang Manggala Biringkanaya Talamanrea Makassar

45.801 128.141 129.967 92.524 119.818 84.890 1.193.434

1,18 2,27 0,97 3,83 4,71 1,07 1,79

1,18 2,27 0,97 3,83 4,71 1,07 1,79

47.723 133.426 132479 97.556 126.839 87.817 1.235.239

48.382 135.315 134.548 99.008 128.731 89.134 1.253.656

1,18 2,00 1,21 2,91 3,45 1,55 1,65

Keterangan: 1. Jumlah penduduk tahun 2004 (Hasil Susenas BPS Kota Makassar adalah 1.179.023; Tahun 2005 adalah 1.193.434 jiwa; 2. Jumlah penduduk tahun 2009 (Hasil Susenas BPS Kota Makassar 1,2 juta jiwa, versi Dinas Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil 1,5 juta jiwa)

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Makassar, Makassar dalam Angka 2007

c. Potensi Kota Makassar Secara umum, potensi Kota Makassar sebagai tujuan investasi memang cukup beragam. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memetakan cluster unggulan Kota Makassar. Komoditi/produk/jenis usaha di Kota Makassar yang sangat dominan, antara lain perhotelan, restoran, fotokopi, penjualan tekstil, dan perdagangan umum. Pemerintah Kota Makassar memetakan sektor potensial yang layak untuk dijadikan investasi bagi para PMA dan PMDN.
67

Tabel 3.5 Gambaran Potensi Investasi Kota Makassar Jenis Sektor Potensi Investasi

Agroindustri Pengolahan cokelat, jagung, kopi, dan beras Industri Pengolahan Kayu Industri Tekstil dan Garmen Industri Kimia dan Farmasi Industri Industri Logam, Mesin dan Komponen (mesin industri, alat rumah tangga, alat-alat mesin pertanian) Industri Elektronik dan Peralatan Listrik (perakitan komponen elektronik dan peralatan listrik rumah tangga) Aneka Industri dan Perbengkelan Industri Air bersih Pembangunan Jalan Midle & Outer ring road Pembangunan Jalan dan Jembatan Layang Perhubungan Angkutan Massal Kota (Bus & Metro Mini) Pengembangan Pelabuhan Makassar Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara

68

Perdagangan

Pembangunan & Pengembangan Pasar Tradisional Pembangunan Pasar Induk Beras Pengembangan Pariwisata Bahari dan Pulau-Pulau Kecil

Pariwisata

Pengembangan Fasilitas Akomodasi (Hotel) Restaurant Pengembangan Rumah Potong Hewan

Perikanan dan Kelautan

Pengembangan Perikanan Tangkap Usaha Pengolahan Hasil Perkebunan

Sumber: Investment Guidelines Kota Makassar, diolah

C. Kota Banjarbaru a. Geografi Kota Banjarbaru terletak antara 30 25 40 sampai dengan 30 28 37 lintang selatan dan 1140 41 22 sampai dengan 1140 54 25 bujur timur. Di sebelah utara Kota Banjarbaru berbatasan dengan kecamatan Martapura Kabupaten Banjar, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut, di sebelah Timut berbatasan dengan kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar, dan di sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Gambut Kabupaten Banjar. Luas wilayahnya sendiri mencapai 371,38 km2.

69

Gambar 3.3 Peta Administratif Kota Banjarbaru

Tabel.

Sumber: http://id.banjarbarukota.go.id/posisi_geografis.html

70

Tabel 3.6 Jumlah Kecamatan dan Kelurahan Kota Banjarbaru Kecamatan Kelurahan

Landasan Ulin Timur Landasan Ulin Guntung Payung Syamsudin Noor Guntung Manggis Landasan Ulin Tengah Liang Anggang Landasan Ulin Utara Landasan Ulin Barat Landasan Ulin Selatan Palam Cempaka Bangkal Sungai Tiung Cempaka Loktabat Utara Banjarbaru Utara Mentaos Komet Sungai Ulin

71

Loktabat Selatan Banjarbaru Selatan Kemuning Guntung Paikat Sungai Besar Sumber: Banjarbaru dalam Angka, 2010 b. Demografi Berdasarkan data proyeksi penduduk dan hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2008 jumlah penduduk Kota Banjarbaru adalah 164.216 orang dengan komposisi 83.735 laki-laki dan 80.481 perempuan, atau dengan sex ratio 104 yang berarti jumlah laki-laki lebih banyak daripada jumlah perempuan. Adapun jumlah rumah tangga di Kota Banjarbaru mencapai 43.889 RT.

Tabel 3.7 Jumlah dan Proporsi Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin di Kota Banjarbaru 2009

Sumber: BPS Kota Banjarbaru, 2010

72

c. Potensi Investasi Kota Banjarbaru Sebagai kota yang mengusung sektor jasa, industri, dan perdagangan sebagai dimensi utama pembangunan, Kota Banjarbaru juga memiliki potensi investasi sebagai daya tarik untuk mengundang investor lokal, nasional, atau internasional untuk menanamkan modalnya. Berikut gambaran peluang investasi potensial di Kota Banjarbaru. a. Pembangunan Agrowisata sayur dan buah Sebagai kota yang menggantungkan kehidupan ekonomi dari sektor jasa sekunder dan tertier, Banjarbaru mulai membangun potensi jasa agrowisatanya sebagai potensi utama investasi daerah. Hal ini tidak lepas dari peran Banjarbaru sebagai daerah penyuplai kebutuhan sayur-mayur kurang lebih 60% untuk masyarakat Banjarbaru, Banjarmasin, serta sebagian Kota Martapura. Studi kelayakan telah diadakan untuk menggali potensi ini. Pemda setempat dan Pemerintah Provinsi juga telah menetapkan kesediaan lahannya. Studi kelayakan dan penyediaan lahan juga disesuaikan dengan RUTR Propinsi, yaitu sebagai pusat rekreasi sehingga nantinya tidak tumpang tindih dengan RUTR lainnya. Pembangunan agrowisata buah dan sayuran saat ini difokuskan di Kelurahan Guntung Payung Kecamatan Landasan Ulin. b. Pengambangan Tanaman Hias Potensi sektor pertanian khususnya tanaman hias juga menjadi potensi investasi yang menjanjikan. Seiring meningkatnya daya minat masyarakat terhadap tanaman hias untuk memperindah penataan taman rumah dan interior bangunan ini merupakan peluang yang menjanjikan dalam pengembangan tanaman hias di Kota Banjarbaru. Daya minat masyarakat Banjarbaru terhadap tanaman hias ditandai dengan sering diadakannya pameran-pameran tanaman hias. Peningkatan kebutuhan tanaman hias sendiri di Banjarbaru juga tidak lepas dari menjamurnya sektor pemukiman dan perkantoran yang semakin banyak. Ketersediaan dan penataan taman menjadi potensi pasar yang patut dikembangkan.

73

c. Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Mini dengan Kapasitas Ton TBS per jam Pendirian PKS berkapasitas 5 ton TBS/Jam membutuhkan modal investasi sebesar Rp690.000.000,00 dengan modal kerja untuk satu bulan sebesar Rp117.941.250,00 hasil perhitungan Net Present Value (NPV) berdasarkan aliran kas pada proyek arus kas PKS dengan equity 100% dengan discount factor (DF) 20% menghasilkan jumlah Rp2.212.316.727,00. Nilai IRR ini untuk PKS persen ton/jam adalah 29,04%. Masa pengembalian modal (PBP) akan tercapai selama periode 3,29 tahun. Nilai net B/C yang akan diperoleh PKS ini adalah 1,29, maka investasi ini layak diperhitungkan. d. Pengelolaan Air Minum Kebutuhan air di Kota Banjarbaru saat ini semakin besar. Ironisnya, PDAM Kabupaten Banjar sebagai pengelola air hanya mampu melayani 31,63% dari masyarakat Banjarbaru. Untuk itulah pemerintah daerah membuka kesempatan kepada swasta yang berminat dalam pengelolaan air minum. Sumber air baku Kota Banjarbaru berasal dari irigasi Riam Kanan dan air bawah tanah (ground water). e. Pembangunan Kawasan Industri Untuk kegiatan industri, Pemda setempat telah merencanakan dan membangun kawasan industri sesuai dengan RUTR Propinsi (sebagai pusat industri skala regional). Pada tahun 2003 disusun site plan Kawasan Industri di atas lahan 200 Ha, dan tahun 2004 telah dibangun Gudang Transito dan Grosir. Pembangunan ini memadukan industri dalam satu kawasan sehingga mudah dalam suplai listrik, air, jaringan dan pengolahan limbah. Pemda juga berencana membangun pembangunan Depo Petikemas di Kecamatan Landasan Ulin untuk menunjang kegiatan industri. f. Getah Pepaya Kota Banjarbaru juga memiliki potensi getah pepaya (papain), apalagi saat ini produksi getah pepaya sudah memasuki wilayah perdagangan antarnegara seperti Swedia, Jerman, dan Amerika yang menjadi tujuan rutin dalam bentuk enzim (kristal hasil ekstrakisasi). Kebanyakan di negara tujuan ekspor itu, getah pepaya dipakai untuk industri pembuatan
74

kosmetik, farmasi (obat-obatan), makanan dan minuman, maupun pakan ternak. Potensi daerah ini dapat dijadikan peluang untuk investor yang berorientasikan ekspor. g. Pembangunan Jasa Perhotelan, Retail, dan Waralaba Kota Banjarbaru yang berada pada pada pertemuan terminal regional, Bandara Syamsudin Noor, dan pelabuhan Bandarmasih Trisakti Banjarmasin dengan Kalimantan Tengah dan Timur menjadikannya sebagai kota yang strategis. Kebutuhan penginapan yang modern dan representatif sangat diperlukan. Wacana bahwa wilayah Banjarbaru akan diproyeksikan sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Selatan juga menjadi alasan penting akan potensi kebutuhan jasa perhotelan dan retail, baik sekarang dan pada masa datang. h. Budidaya Penggemukan Sapi Terpadu Peluang usaha di bidang ini juga masih besar. Lokasi yang direkomendasikan Pemda setempat berada di Kecamatan Cempaka karena banyak lahan padang rumput dan berdirinya pabrik tahu sebagai penghasil konsentrat. Dua potensi ini menjadikannya pertimbangan utama dalam memenuhi kebutuhan asupan ternak sapi. i. Pembangunan Pusat Pembibitan Ikan Pemenuhan bibit ikan di Kota Banjarbaru yang masih sangat minim membuat peluang ini patut dicoba. Selama ini, permintaan yang tinggi tidak dapat dipenuhi seluruhnya. Akibatnya, masyarakat petani ikan mendatangkan bibit ikan dari pulau Jawa. Jenis ikan yang diminta adalah patin dan bawal air tawar. Pemda menyediakan lahan bagi pengembangan bibit ikan di Kecamatan Banjarbaru Utara. j. Rumah Sakit Berskala Regional Keterbukaan Pemda kepada swasta untuk mengembangkan rumah sakit di Kota Banjarbaru dapat ditangkap sebagai peluang bisnis. Masih minimnya rumah sakit yang representatif dengan kualitas memadai memberikan kesempatan bagi investor. Letak strategis serta potensi pasar dari daerah lain seperti Martapura, Banjarmasin, dan Kabupaten lain juga menjadi pertimbangan dalam mendirikan rumah sakit. Adanya
75

rumah sakit yang baik akan mendekatkan pelayanan kesehatan masyarakat Kalimantan Selatan karena banyak masyarakat yang berobat ke luar Kalimantan karena keterbatasan saran dan prasarana kesehatan. k. Pengolahan Keramik Potensi deposit bahan baku keramik (kaolin) yang cukup besar di Kecamatan Cempaka menjadi potensi investasi yang juga layak diperhitungkan. Hal ini dipertegas dengan studi kelayakan kaolin untuk pembuatan gerabah untuk cinderamata dan bentuk lainnya.
76

IV REFORMASI PERIZINAN USAHA DI DAERAH

Pelaksanaan otonomi daerah yang telah digulirkan oleh pemerintah sejak tahun 1999 membawa perubahan dalam pelaksanaan pemerintahan dan hubungan antara pusat dan daerah. Salah satu perubahan itu adalah pemberian wewenang yang lebih luas dalam penyelenggaraan beberapa bidang pemerintahan. Seiring dengan bertambah luasnya kewenangan ini, maka aparat birokrasi pemerintahan di daerah dapat mengelola dan menyelenggaraan pelayanan publik dengan lebih baik sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Namun, hingga sekarang ini kualitas pelayanan publik masih diwarnai oleh pelayanan yang sulit untuk diakses, prosedur yang berbelit-belit ketika harus mengurus suatu perizinan tertentu, biaya yang tidak jelas, serta terjadinya praktik pungutan liar (pungli). Ini semua merupakan indikator rendahnya kualitas pelayanan publik di Indonesia. Hal ini juga sebagai akibat dari berbagai permasalahan pelayanan publik yang belum dirasakan oleh rakyat. Di samping hal di atas, ada kecenderungan adanya ketidakadilan dalam pelayanan publik di mana masyarakat yang tergolong miskin sulit mendapatkan pelayanan. Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki uang bisa mendapatkan segala yang diinginkannya dengan mudah. Untuk itu, bila ketidakmerataan dan ketidakadilan ini terus-menerus terjadi, maka pelayanan yang berpihak ini akan memunculkan potensi yang bersifat berbahaya dalam kehidupan berbangsa. Potensi ini antara lain terjadinya disintegrasi bangsa, perbedaan yang lebar antara yang kaya dan miskin dalam konteks pelayanan, peningkatan ekonomi yang lamban, dan pada tahapan tertentu dapat meledak dan merugikan pemda setempat. Untuk mengatasi permasalahan di atas pemerintah Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru berusaha melakukan berbagai upaya agar menghasilkan pelayanan yang lebih cepat, tepat, manusiawi, murah, tidak diskriminatif, dan transparan. Selain berpatokan dari kebijakan pemerintah pusat terkait pelaksanaan pelayanan perizinan satu atap (One Stop Service), masing-masing daerah juga melakukan berbagai penyempurnaan dan inovasi untuk menyempurnakan proses pelayanan perizinan yang lebih responsif dan akuntabel.
77

Peningkatan pelayanan perizinan ini diharapkan akan menjadi katalisator bagi pengembangan potensi dan peluang investasi daerah terutama yang bertumpu pada sumber daya lokal. Berikut gambaran singkat kantor atau badan perizinan di Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru.

A. Kabupaten Purbalingga a. Tujuan Kantor yang kali pertama dibangun dan bertugas secara khusus memberikan layanan perizinan di Kabupaten Purbalingga adalah Kantor Pelayanan Perizinan dan Investasi (KPPI), yang kemudian pada tahun 2003 berubah nama menjadi Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT). Maksud dibentuknya KPPI adalah dalam rangka merespons anggapan negatif dari masyarakat terkait pengurusan perizinan. Pelayanan perizinan yang ditangani oleh banyak instansi mempunyai kesan berbelit-belit dan menyulitkan masyarakat. Hal ini disebabkan dalam proses penyelesaiannya memakan waktu yang lama, persyaratan yang rumit, biaya yang tidak pasti, dan rawan terhadap pungutan liar. Selama ini, pelayanan terkesan tidak efektif dan efisien. Tujuan dibentuknya KPPI adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan perizinan pelayanan lebih

sehingga

mudah, cepat, transparan, dan pasti; 2. Tercapainya target pendapatan asli daerah (PAD); dan 3. Mengembangkan potensi dan peluang investasi daerah

terutama yang tertumpu pada sumber daya lokal.

78

Gambar atas. Kantor KPPT Kab Purbalingga b. Dasar Hukum Pembentukan KPPT Pendirian Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Purbalingga diawali dari terbitnya Surat Keputusan Bupati Purbalingga No.44 Tahun 2003. Pada prinsipnya, keputusan ini mengalihkan pengelolaan Pelayanan Perizinan dan Investasi kepada KPPI Kabupaten Purbalingga. Keputusan ini diperkuat dengan keluarnya Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga No.21 Tahun 2003 Tentang pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pelayanan Perizinan dan Investasi (KPPI). Kemudian terjadi penyempurnaan dengan munculnya Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga No.30 Tahun 2005 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pelayanan Perizinan dan Investasi. Perubahan kembali dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga dengan keluarnya Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga No.7 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Satuan Polisi Pamong Praja dan Lembaga lain. KPPT merupakan unsur pendukung tugas bupati dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perizinan dan investasi yang dipimpin oleh kepala kantor yang bertanggung jawab kepada bupati melalui sekda. KPPT mempunyai tugas pokok membantu bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang perizinan dan investasi berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh bupati. Fungsi KPPT sevara lengkapnya adalah sebagai berikut: 1. Penetapan kebijakan teknis di bidang perizinan dan investasi; 2. Perumusan rencana pengembangan dan penetapan program kerja; 3. Pengoordinasian pelaksanaan kebijakan teknis, pemberian bimbingan, pembinaan, dan pengawasan di bidang perizinan dan investasi; 4. Pelaksanaan pelayanan perizinan dan investasi sesuai dengan kewenangannya; 5. Pengelolaan informasi dan data di bidang perizinan, peluang usaha, dan investasi;

79

6. Pelaksanaan fasilitasi pengembangan kerja sama perbankan dan perusahaan daerah dalam rangka peningkatan penanaman modal; 7. Pelaksanaan fasilitasi pembinaan pengembangan dunia usaha; 8. Pelaksanaan pengembangan pola kemitraan dalam pengembangan dunia usaha di daerah; 9. Fasilitasi pembinaan pengembangan perkreditan dalam rangka penanaman modal dan pengembangan dunia usaha, serta pengembangan lembaga keuangan nonbank; 10. Pelaksanaan urusan ketatausahaan dan kerumahtanggaan; dan 11. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.

c. Visi dan Misi KPPT Kabupaten Purbalingga KPPT Kabupaten Purbalingga memiliki visi terciptanya pelayanan perizinan prima untuk mewujudkan Purbalingga menarik bagi investor. Adapun misinya, yaitu meningkatkan kualitas pelayanan perizinan yang mudah, tepat, cepat, transparan, dan pasti, meningkatkan kepuasan pemohon karyawan dan pemerintah serta fungsi organisasi sebagai penyumbang PAD, dan mengembangkan potensi dan peluang investasi daerah terutama yang bertumpu pada sumber daya lokal. Kerja keras untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat membuat KPPT mendapatkan sertifikasi ISO 9001. Pengakuan yang diberikan ini tidak terlepas dari janjijanji layanan yang dibuat oleh KPPT untuk siap melayani dengan prima (cepat, tepat, mudah, transparan, dan pasti); siap melayani dengan sopan, ramah, dan sepenuh hati; siap melayani secara professional; dan siap

menerima kritik dan saran yang bersifat

80

konstruktif. Gambar atas. Visi KPPT Kab Purbalingga

d. Prosedur Kerja KPPT Kabupaten Purbalingga KPPT adalah lembaga berbentuk kantor dimana pola pelayanan yang diberikan adalah dengan mekanisme satu pintu (One Stop Service). Dengan pola ini,pelayanan perizinan dimulai dari penerimaan berkas permohonan, pemprosesan sampai dengan penandatanganan dokumen izin, ditangani langsung oleh KPPT. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat memperoleh pelayanan yang prima.

Gambar kiri. Sapta Pesona Industri

Prosedur pelayanan perizinan dibuat sesederhana mungkin agar mudah dipahami oleh masyarakat atau pemohon yang ingin mengurus izin yang diperlukannya. Adapun jenis perizinan yang dilayani oleh KPPT Kabupaten Purbalingga dibagi dalam dua kelompok, yaiu kelompok perizinan terstruktur dan tidak terstruktur. Berikut gambaran singkat mekanisme perizinan di KPPT Kabupaten Purbalingga.

81

Gambar 4.1 Perizinan Terstruktur KPPT Kab. Purbalingga

CUSTEMOR SERVICE

PEMOHON KASIR PERTAMA


AreaFrontOffice

Bag.InformasidanAdministrasi Pendaftaran

RapatTimTeknis dilanjutkanDengan cekLapangan

DITOLAK DITERIMA

KEPALA KANTOR

KASI PERIZINAN

Bag.Adm Pemprosesann
AreaBackOffice

Sumber: KPPT Kabupaten Purbalingga, diolah kembali

e. Prosedur pelayanan perizinan terstruktur Untuk mendapatkan izin di Kabupaten Purbalingga berikut prosedur yang harus dilalui oleh pemohon: 1. Pemohon yang datang diterima oleh petugas di bagian informasi untuk diberi penjelasan mengenai prosedur dan persyaratan yang diperlukan; 2. Bagi pemohon yang telah membawa semua persyaratan tersebut di atas, dapat langsung menemui petugas di bagian administrasi pendaftaran untuk mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan dengan melengkapi persyaratan yang diperlukan. Kemudian
82

petugas administrasi pendaftaran memeriksa keabsahan dari semua berkas persayaratan tersebut; 3. Setelah itu, petugas bagian administrasi pendaftaran menyerahkan semua berkas permohonan kepada tim teknis perizinan melalui petugas bagian pemrosesan untuk melakukan kunjungan lapangan yang dilanjutkan dengan rapat pengambilan keputusan. Hasilnya dituangkan dalam suatu berita acara; 4. Apabila hasil rapat tersebut merekomendasikan untuk menerima permohonan, maka pemohon diwajibkan untuk membayar biaya retribusi perizinan kepada kasir. Sebaliknya, bila hasilnya merekomendasikan untuk ditolak, maka pemohon tidak perlu membayar biaya retribusi perizinan; 5. Kemudian tim teknis menyerahkan semua berkas permohonan beserta berita acara, baik yang merekomendasikan diterima, maupun yang merekomendasikan ditolak kepada petugas di bagian pemrosesan untuk dilakukan pencetakan berupa surat keputusan dan pendataan yang langsung masuk dalam database perizinan KPPI; 6. Setelah dilakukan pemrosesan, petugas menyerahkan surat keputusan beserta semua berkas permohonan kepada kepala seksi perizinan untuk dilakukan verifikasi. Apabila sudah lengkap dan disetujui, maka kepala seksi itu akan membubuhkan parafnya pada surat keputusan; dan 7. Setelah itu, surat keputusan tersebut diserahkan kepada kepala kantor untuk ditandatangani. Surat keputusan yang telah ditandatangi tesebut diserahkan kepada petugas di bagian informasi untuk

diserahkan kepada pemohon yang bersangkutan.

83

Gambar atas. Salah satu tahapan prosedur perizinan di KPPT Kab Purbalingga

Gambar 4.2 Permohononan tidak Terstruktur KPPT Kab. Purbalingga

CUSTEMOR SERVICE

PEMOHON KASIR PERTAMA


Bag.InformasidanAdministrasi Pendaftaran

AreaFrontOffice

DITOLAK DITERIMA

KEPALA KANTOR

KASI PERIZINAN

Bag.Adm Pemprosesann
AreaBackOffice

Sumber: KPPT Kabupaten Purbalingga, diolah kembali

f. Perizinan tidak Terstruktur Untuk perizinan yang tidak terstruktur, prosedur yang ditempuh adalah pemohon yang datang diterima oleh petugas di bagian informasi untuk diberi penjelasan mengenai prosedur dan persyaratan yang diperlukan, berikut langkah-langkahnya: 1. Bagi pemohon yang telah membawa semua persyaratan tersebut di atas, dapat langsung menemui petugas di bagian administrasi pendaftaran untuk mengisi formulir pendaftaran
84

yang telah disediakan dengan melengkapi persyaratan yang diperlukan. Kemudian petugas administrasi pendaftaran memeriksa kelengkapan dan keabsahan dari semua berkas persyaratan tersebut; 2. Apabila hasil pemeriksaan tersebut merekomendasikan untuk menerima permohonan, maka pemohon diwajibkan untuk membayar biaya retribusi perizinan kepada kasir. Sebaliknya, bila hasilnya setelah dikonsultasikan dengan pimpinan terkait

direkomendasikan untuk ditolak, maka pemohon tidak perlu membayar biaya retribusi perizinan; 3. Setelah itu, petugas bagian administrasi pendaftaran menyerahkan semua berkas permohonan kepada petugas bagian pemrosesan untuk dilakukan pencetakan berupa surat keputusan dan pendataan yang langsung masuk dalam database perizinan KPPT; 4. Setelah dilakukan pemrosesan, petugas menyerahkan surat keputusan beserta semua berkas permohonan kepada kepala seksi perizinan untuk dilakukan verifikasi. Bila semua persyaratan telah lengkap, benar, dan sah menurut aturan yang berlaku, maka kepala seksi akan membubuhkan parafnya pada surat keputusan; 5. Setelah itu, surat keputusan tersebut diserahkan kepada kepala kantor untuk ditandatangani; dan 6. Surat keputusan yang telah ditandatangi tesebut diserahkan kepada petugas di bagian informasi untuk diserahkan kepada pemohon yang bersangkutan.

g. Jenis layanan Izin KPPT Kabupaten Purbalingga Sebagai pintu gerbang dalam berinvestasi, KPPT Kabupaten Purbalingga memiliki peranan penting dalam mengeluarkan layanan izin. Berikut jenis layanan izin yang diberikan oleh KPPT Kabupaten Purbalingga.

85

Tabel 4.1 Jenis Izin Usaha di Kabupaten Purbalingga Proses No. Jenis Usaha (hari) Berlaku

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Izin Lokasi Izin Pengeringan Izin Gangguan (HO) Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Izin Usaha Perdagangan (IUP) Izin Usaha Industri/Tanda Daftar Industri Tanda Daftar Perusahaan (TDP) Izin Reklame Izin Pertambangan Daerah Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) Izin Usaha Pengangkutan Izin Penggunaan Tanah Pengairan

12 12 10 10 3 3 7 2 7 5 5 7

Selamanya Selamanya 5 Tahun Selamanya Selamanya 5 Tahun Selamanya Selamanya Selamanya 5 Tahun Selamanya 3 Tahun

Sumber: KPPT Kabupaten Purbalingga

86

h. Akses dan Data Informasi Inovasi yang dilakukan oleh KPPT Kabupaten Purbalingga dalam memberikan layanan kepada masyarakat tidak hanya terfokus pada aspek kemudahan dan kecepatan waktu semata. Dari sisi layanan akses informasi dan dukungan teknologi informasi sebagai tools dalam meningkatkan kualitas layanan, KPPT Kabupaten Purbalingga juga melakukan perubahan. Akses informasi lengkap tentang KPPT dapat diakses melalui situs internet dengan alamat

www.kpptpurbalingga.com.

Dukungan

teknologi informasi seperti touch screen (layar sentuh) untuk akses informasi tentang KPPT juga disediakan. Selain itu, untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai KPPT dapat juga diakses melalui media CD interactive. Dengan dukungan infrastruktur ini, diharapkan masyarakat dapat mengakses informasi

mengenai KPPT menjadi lebih mudah dan beragam. Gambar atas. Loket KPPT Kab Purbalingga Di samping penguatan infrastruktur dari sisi akses informasi, KPPT Kabupaten Purbalingga juga melakukan pembenahan untuk sistem informasi. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Perizinan (SIM) sudah dimulai sejak awal berdirinya KPPT tahun 2003 dengan menggunakan bahasa Visual Basic. Pada tahun 2006, dengan tuntutan pengurusan izin yang semakin banyak dan perkembangan teknologi informasi yang cepat, sistem informasi lama di-upgrade menggunakan bahasa Vbnet (aspnet berbasis web dan belum diunggah/upload). Ini sebagai bentuk komitmen KPPT Purbalingga untuk memberikan pelayanan yang cepat dan mudah kepada masyarakat dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.

87

i. Best Practice KPPT Kabupaten Purbalingga Sebagai pintu gerbang investasi di Kabupaten Purbalingga, KPPT dituntut untuk selalu maksimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Keberadaan KPPT sendiri selama ini dimaknai sebagai bagian dari proses reformasi birokrasi sehingga mampu menopang visi dan misi kepala daerah yang menjadikan Kabupaten Purbalingga sebagai kota yang proinvestasi. Beragam inovasi dimunculkan sebagai bentuk keseriusan KPPT sebagai pemimpin dalam proses investasi di Kabupaten Purbalingga. Berikut penulis gambarkan beberapa inovasi yang dilakukan oleh KPPT Kabupaten Purbalingga. Kebijakan one stop service telah diterapkan di Purbalingga tiga tahun lebih awal sebelum konsep tersebut digulirkan Mendagri dengan Permen No.24 2006 Tentang Pembentukan PPTSP. Hal ini merupakan komitmen dari pemerintah daerah setempat untuk memudahkan para investor yang ingin menanamkan modalnya di Kabupaten Purbalingga. Pengurangan, Keringanan, dan Penghapusan Retribusi Perizinan di Bidang Penanaman Modal telah diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Purbalingga pada tahun 2005 melalui Peraturan Bupati No.56 Tahun 2005. Tiga tahun kemudian tepatnya tahun 2008, pemerintah pusat baru melakukan kebijakan yang sama dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No.48 Tahun 2008. Pada tahun 2007, pemerintah Kabupaten Purbalingga menerbitkan

Peraturan Bupati No.53 Tahun 2007 Tentang pembebasan retribusi izin

gangguan, Tanda Daftar Industri, Izin Usaha Perdagangan, dan Wajib Daftar Perusahaan bagi usaha kecil mikro.

Gambar atas. Moto Pelayanan KPPT Kab Purbalingga

88

Selain tiga inovasi di atas, KPPT juga melakukan berbagai terobosan di bidang lainnya, seperti penetapan Standar Pelayanan publik, Penetapan Perda Pelayanan Publik, standar operasional pelayanan publik dan manajemen pengaduan, sosialisasi di berbagai media (tatap muka, leaflet, spanduk, komputer layar sentuh, website, radio, koran, dan televisi). Inovasi dalam hal pelayanan perizinan juga menyentuh aspek penerapan sistem informasi manajemen. Penerapan manajemen di KPPT Kabupaten Purbalingga sudah berstandar ISO 9001-2000. Pendelegasian wewenang pelayanan perizinan IMB tertentu kepada Camat juga mulai dilakukan sebagai bentuk solusi untuk mengurangi rentang kendali yang terlalu panjang dalam proses pengurusan izin usaha.

j. Hambatan Perizinan di KPPT Kabupaten Purbalingga Reformasi yang dilakukan oleh KPPT Kabupaten Purbalingga untuk memperbaiki kualitas perizinan tidak lepas dari kelemahan. Kelamahan yang ada selama ini memamg tidak terlalu menonjol, baik di lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Hanya saja para pengusaha yang ingin membuat izin atau pun memperpanjang izin kadangkala kurang mendapatkan informasi terbaru perihal kebijakan Pemda setempat. Ekspektasi masyarakat kadangkala ketika sudah berada di KPPT Kabupaten Purbalingga berubah karena peraturannya sudah berubah. Hal ini tentu saja berdampak pada biaya dan waktu yang harus disesuaikan dengan peraturan baru. Kelemahan ini memang tidak lepas dari masih belum sempurnanya sosialisasi peraturanperaturan baru perizinan usaha di Kabupaten Purbalingga.

k. Hambatan Umum Iklim Investasi di Kabupaten Purbalingga Pada bagian ini, penulis mencoba memaparkan permasalahan-perrmasalahan kota yang nampak saat penelitian dilakukan. Permasalahan ini dikelompokkan menjadi dua kategori umum, yaitu permasalahan yang mendapat perhatian tinggi, dan permasalahan yang walaupun mendapat perhatian, namun memiliki prioritas yang rendah. Dari dua kategori permasalahan tersebut kemudian diidentifikasi permasalahan eksternal, yaitu permasalahan pembangunan yang diakibatkan oleh kondisi eksternal kota beserta peran dan fungsi Kota Purbalingga dalam
89

konstelasi wilayah yang lebih luas, dan permasalahan internal yang diakibatkan oleh hal-hal yang berasal dari dalam kota. Permasalahan eksternal

1. Perkembangan Pelimpahan Penduduk dan Kegiatan Wilayah Kegiatan roda perekonomian yang terus menggeliat serta penguatan orientasi pelayanan dan perkembangan Kabupaten Purbalingga yang semakin pesat juga meningkatkan potensi terjadinya limpahan penduduk ke Kota Purbalingga yang menjadi pusat pelayanan dan pertumbuhan secara umum. Apabila tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik pemanfaatan ruang dan lingkungan, limpahan penduduk tersebut akan menimbulkan potensi-potensi masalah kota dengan peningkatan kepadatan penduduk, meningkatnya beban kota dalam penyediaan sarana dan prasarana kebutuhan penduduk, meningkatnya intensitas pemanfaatan ruang dan lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan, dan lain-lain. 2. Ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kota yang tidak sesuai dengan peran dan fungsi kota Semakin berkembangnya peran dan fungsi dari Kota Purbalingga dalam konstelasi pengembangan wilayah regional dari provinsi Jawa Tengah membuat peran kota semakin besar. Akan tetapi, peran ini tidak diimbangi dengan prasarana transportasi di mana idealnya Kota Purbalingga memiliki keterhubungan dengan wilayah-wilayah

bawahannya. Kebutuhan prasarana yang memadai ini penting karena peran Kota Purbalingga saat ini sudah menjadi wilayah pendukung kota bagi wilayah sekitarnya, terutama Kabupaten Banyumas yang tergabung dalam kerja sama regional

BARLINGMASCAKEB. 3. Perkembangan Kabupaten Purbalingga mengarahkan kecenderungan orientasi

pemenuhan pelayanan masyarakatnya yang akan semakin menguat ke Kota Purbalingga Saat ini, berkembangnya kegiatan-kegiatan dan jasa-jasa pelayanan di Kabupaten Purbalingga terutama di kawasan kota, orientasi pemenuhan jasa dan pelayanan
90

masyarakat Kabupaten Purbalingga cenderung mengarah ke kota. Dikhawatirkan, perkembangan Kabupaten Purbalingga yang semakin pesat akan menguatkan kecenderungan orientasi pelayanan tersebut. Hal ini akan berimplikasi pada kurang berkembangnya kegiatan-kegiatan dan jasa-jasa pelayanan di tingkat kecamatan. Permasalahan Utama yang bersifat internal

Selain permasalahan yang bersifat eksternal, kompleksitas permasalahan pembangunan Kota Purbalingga secara umum juga muncul dari dalam kota. Penulis mencoba memetakan permasalahan utama yang bersifat eksternal sebagai berikut: 1. Kegiatan Industri yang menyebar di beberapa penjuru kota Pembangunan kota di Kabupaten Purbalingga, terutama dari sisi pertumbuhan industri terkait dengan masih belum tertatanya kawasan industri dengan baik. Banyak lahan pertanian yang dikonversi sebagai tempat untuk memproduksi hasil industri tersebut yang menyebabkan terganggunya pemandangan dan polusi di lingkungan sekitarnya. Selain itu, dengan adanya kegiatan industri yang masih dilakukan di pusat kota menyebabkan kemacetan saat jam masuk dan keluar buruh pabrik berlangsung. Menyebarnya kegiatan industri yang menyebar di beberapa penjuru kota dapat terjadi karena tidak digunakannya Rencana Umum Tata Ruang Kota secara maksimal sebagai dasar pembangunan Kota Purbalingga. Kawasan yang direncanakan untuk lokasi industri pada mulanya, ternyata hanya sebagian kecil yang digunakan untuk kegiatan industri, dan lokasi lainnya belum dibangun sesuai dengan arahan rencana. 2. Belum dibangunnya jalan lingkar Minimnya sarana jalan lingkar di bagian utara dan tenggara Kota Purbalingga membuat penyelesaian masalah kemacetan dan mengurangi kepadatan lalu lintas menjadi terkendala. Selain itu, keterlambatan pembangunan jalan lingkar ini ikut menghambat pembukaan wilayah di bagian selatan, khususnya pengembangan berbagai fasilitas di desa sekitar area itu. 3. Bercampurnya kegiatan industri dengan kawasan permukiman
91

Sampai saat ini, kegiatan industri seperti bulu mata palsu, wig, kuas kosmetik, manekin, serta kayu olahan keramik lokasinya masih menyebar di berbagai kota dan bercampur dengan kawasan permukiman. Alasan utama mengenai diperbolehkannya lokasi industri di areal permukiman dalam rangka untuk mengembangkan industri kecil. Namun, jika industri kecil ini nantinya berkembang menjadi industri besar, bahkan berkualitas ekspor konflik antarkepentingan dua kawasan yang berbeda akan terjadi.

B. Kota Makassar Instansi yang memberikan layanan perizinan di Kota Makassar disebut dengan Kantor Pelayanan Administrasi Perizinan (KPAP). KPAP Kota Makassar sebagai instansi yang memberikan jasa pelayanan publik di sektor perizinan sangat menyadari adanya kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan pentingnya iklim perizinan yang lebih kondusif. Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam meningkatkan sistem pelayanan di sektor perizinan, maka Walikota Makassar menetapkan KPP Kota Makassar sebagai tempat pelayanan perizinan dengan sistem satu atap ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Walikota Makassar No.14 Tahun 2005 tentang tata cara pemberian izin. Perubahan sistem pelayanan menjadi satu atap berimplikasi juga terhadap perubahan nama Kantor Pelayanan Perizinan Kota Makassar menjadi Kantor Pelayanan Administrasi Perizinan (KPAP). Perubahan nama ini didasari atas keluarnya Peraturan Daerah Kota Makassar No.13 Tahun 2005 Tentang pembentukan susunan organisasi dan tata cara kerja Kantor Administrasi Perizinan. Maksud dan tujuan pembentukan KPAP Kota Makassar adalah untuk mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat secara

umum. Kemudian dengan adanya KPAP Kota Makassar ini, penyederhanaan proses, efisiensi, dan ketepatan waktu setiap pelayanan perizinan dapat terpenuhi.

Kemudian tujuan umum dari semua proses


92

itu adalah dalam rangka mewujudkan pelayanan prima dan good governace sebagai pilar penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik. Gambar atas. Suasana Pelayanan KPAP Kota Makassar

Dengan dilaksanakannya pelayanan perizinan yang prima melalui KPAP, maka secara bertahap diharapkan legalitas usaha bagi UKM semakin meningkat yang pada akhirnya memberikan multiplier effect, seperti berkembangnya sektor riil, akses ke lembaga pembiayaan, kondusifnya perdagangan dan investasi, selain juga peningkatan penerimaan PAD Kota Makassar secara umum.

1. Kedudukan dan Fungsi KPAP Kota Makassar a. Kedudukan Adapun kedudukan KPAP Kota Makassar merupakan unsur pendukung dalam pelaksanaan tugas tertentu. KPAP Kota Makassar dipimpin oleh seorang kepala kantor yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah.

b. Tugas KPAP Kota Makassar mempunyai tugas merumuskan, membina, dan mengendalikan kebijakan pelayanan administrasi perizinan. Lingkup tugas ini meliputi perumusan kebijakan, koordinasi, dan pengendalian layanan administrasi penelitian dan penerbitan izin, penerimaan, dan pembukuan, serta pelaporan.

93

c. Fungsi Adapun fungsi KPAP Kota Makassar meliputi, anra lain penyusunan rumusan kebijaksanaan pelaksanaan bidang pelayanan administrasi perizinan dan peningkatan pelayanan izin-izin kepada masyarakat; perumusan kebijaksanaan teknis pelaksanaan bidang penerbitan izin-izin yang telah mendapat rekomendasi dari instansi terkait; penyusunan rumusan kebijaksanaan pelaksanaan pengelolaan pungutan biaya perizinan dan pembukuan; penyusunan rumusan kebijaksanaan pelaksanaan pengelolaan pungutan biaya perizinan dan pembukuan; penyusunan bimbingan dan pengendalian pelaksanaan pengoordinasian dan penyusunan program pendataan izin dan pembuatan laporan izin yang telah diterbitkan; dan pengelolaan administrasi urusan tertentu.

d. Mekanisme Pelayanan Perizinan Kota Makassar Mekanisme pelayanan perizinan yang dilakukan di KPAP Kota Makassar sesuai dengan Peraturan Walikota Makassar No.14 Tahun 2005 Tentang tata cara pemberian izin pemkot Makassar. Keluarnya peraturan ini mengubah mekanisme perizinan menjadi sistem satu atap atau lazim dikenal dengan istilah One Stop Services (OSS). Dengan sistem ini masyarakat pemohon izin tidak lagi harus menempuh birokrasi yang panjang. Pemohon izin hanya berhubungan dengan petugas yang ada di loket front office. Dengan sistem ini, pihak KPAP Kota Makassar mengklaim segala permasalahan perizinan seperti transparansi biaya, kepastian waktu, serta memungkinkannya masyarakat untuk mengajukan komplain dapat diakomodasi. Komplain dapat dilakukan melalui kotak saran atau unit layanan informasi dan keluhan masyarakat yang disediakan. Perubahan mekanisme perizinan menjadi One Stop Service di KPAP Kota Makassar juga berdampak pada perubahan mekanisme keseluruhan. Jika sebelum ada OSS pemohon izin harus mengambil surat izin yang telah jadi di Dinas Teknis terkait, maka setelah ada mekanisme OSS pemohon izin dapat mengambil surat izin yang telah selesai di KPAP. Oleh karena itu, muncul jargon baru di KPAP Kota Makassar, yaitu Berawal dan Berakhir di Sini (KPAP).

94

Gambar 4.3 Bagan Alur Prosedur Perizinan KPAP Kata Makassar

Sumber: Peraturan Walikota Makassar No.14 Tahun 2005, diolah

e. Perbaikan yang Dilakukan untuk Memperbaiki Layanan Perizinan Usaha Dalam rangka memperbaiki kinerja KPAP Kota Makassar agar lebih responsif terhadap permintaan permohonan perizinan, beberapa perbaikan telah dilakukan oleh KPAP. Perbaikan utama yang dilakukan pada tahun 2009 adalah perubahan model layanan yang tadinya

dilakukan dengan manual menjadi berbasis teknologi informasi. Salah satunya pengadaan perangkat komputer untuk layanan front office. Kebijakan ini diambil karena model layanan front office saat ini mulai dari permohonan izin
95

sampai penerimaan izin setelah membayar retribusi dilakukan ditempat yang sama. Gambar atas. Inovasi Scan Dokumen KPAP Kota Makassar

Dari sisi penyediaan informasi mengenai layanan dan jenis perizinan yang diberikan, KPAP Kota Makassar juga melakukan sosialisasi informasi kepada masyarakat terkait dengan alur proses, retribusi, dan waktu penyelesaian perizinan. Penggunaan sistem teknologi informasi juga diterapkan pada KPAP Kota Makassar. Pada saat ini, kondisi penggunaan sistem informasi pelayanan perizinan berbasis teknologi informasi menyajikan informasi tentang layanan mulai regulasi perizinan mencakup seluruh

perizinan dari jenis, tata cara, dan prosedur pelayanan perizinan melalui (info layanan) dan website perizinan Kota Makassar di alamat www.perizinan.makassarkota.go.id. Website perizinan ini juga menampilkan forum interaktif (tanya jawab) yang dapat diakses secara langsung (online) melalui internet oleh masyarakat.

Gambar atas. Touchscreen Informasi Pelayanan KPAP Kota Makassar

96

Tabel 4.2 Perkembangan Jumlah Izin Kota Makassar Tahun 2001-2009 Tahun Jumlah Izin

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009

7086 12857 17492 18812 18619 21492 23492 24769

Sumber: KPAP Kota Makassar, 2009

97

Tabel 4.3 Lama Waktu Pelayanan Perizinan Kota Makassar


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis Perizinan Izin Gangguan (HO) SIUP Besar SIUP Menengah SIUP Kecil TDP Koperasi TDP Perorangan TDP Perseroan Terbatas TDP Perseroan Komenditer Tanda Daftar Industri (TDI) Izin Usaha Industri (IUI) Izin Operasional Bursa Kerja Khusus Izin Jasa Konstruksi Izin Usaha Percetakan Grafika Izin Usaha Perfilman Izin Usaha Pameran Izin Usaha Kepariwisataan Izin Trayek Angkutan Kota Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Maksimal 12 hari Rata-rata waktu yang diperlukan enam hari Waktu Yang Diperlukan

Sumber: KPAP Kota Makassar, 2009


98

Hambatan Perizinan di KPAP Kota Makassar 1. Makassar sebagai kota besar cenderung memiliki jumlah permintaan izin usaha yang lebih tinggi. Kondisi ini menyebabkan hambatan dan keterlambatan dalam proses perizinan. Hal ini bisa terjadi karena dalam proses pemberian layanan perizinan usaha tidak didukung oleh kapasitas dan sumber daya manusia yang cukup. Ketertarikan para investor untuk membuat izin usaha memang dilatarbelakangi potensi Kota Makassar yang besar. Sebagai gerbang emas Indonesia Timur, Kota Makassar memang menjanjikan banyak peluang dan keuntungan dalam berinvestasi. Untuk melakukan investasi tentunya PMA atau PMDN harus membuat surat izin usaha dan izin turunannya untuk mendirikan sebuah kegiatan sebagai prasyarat mutlak. Walaupun sulit dan tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan (waktu dan biaya) para investor ini akan tetap berbondongbondong untuk mengurus izin dalam mendapatkan legitimasi yang sah untuk menjalankan usahanya. 2. Dari sisi lokasi dan tata ruang kantor juga menjadi salah satu kendala dari keberadaan KPAP Kota Makassar. Petugas KPAP sendiri mengakui akan kurang strategisnya lokasi KPAP. Pemberian izin idealnya dilakukan di tempat yang strategis, dan mudah dilhat orang dengan tata ruang yang baik. Kondisi KPAP Kota Makassar saat ini masih belum sempurna. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan bangunan KPAP yang cenderung tidak strategis dan kurang mencukupi dari sisi luas bangunan. Letaknya yang kurang baik karena berada dalam satu area dengan kantor bangunan dinas lain akan membuat sulit pemohon pembuat izin untuk mendatangi KPAP. 3. Dalam hal kelengkapan personel dan sarana penunjang KPAP mengakui ada kelemahan, namun perbaikan akan dilakukan secara bertahap. Asumsi ini terlihat setelah KPAP melakukan studi banding ke daerah (Jembrana dan Gianyar) yang berhasil. Studi banding diharapkan dapat memperbaiki kelemahan serta gap yang terjadi dalam internal organisasi KPAP. Perbaikan kelemahan bukan hanya ditekankan pada perbaikan sistem dan infrastruktur, tapi juga budaya kerja dan peningkatan kapasitas SDM. 4. Kelemahan yang teridentifikasi terkait pelayanan perizinan adalah masih adanya budaya permisif yang terjadi ketika pemberi layanan dengan pengakses pelayanan bertemu.
99

Budaya daerah setempat yang cenderung ingin instan, tapi tidak dapat diimbangi oleh KPAP. Akibatnya, timbul praktik rent seeker yang memanfaatkan gap responsitas layanan permintaan izin. Kolusi, suap, dan bentuk penyuapan lainnya tidak dapat dipungkiri oleh KPAP dan para pelaku usaha terkait. 5. Masalah lain yang turut menjadi penghambat proses berinvestasi di Kota Makassar adalah masih rendahnya insentif investasi dan kepastian hukum bagi investor. Walau ada beberapa kebijakan deregulasi insentif izin oleh pemerintah kota setempat, tapi pengusaha masih merasakan belum maksimal. Kelemahan ini sebenarnya juga telah terindentifikasi, dan menjadi prioritas pembangunan Kota Makassar tahun 2009-2014.

C. Kota Banjarbaru a. Latar Belakang Kelembagaan penyelenggaraan pelayanan perizinan di Kota Banjarbaru dimulai pada tahun 2004 ketika Pemerintah Kota Banjarbaru mendirikan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KP2T). Sebelumnya, bentuk pelayanan perizinan masih diserahkan kepada masing-masing dinas teknis. Pendirian KP2T tidak lepas dari kebutuhan pelayanan perizinan yang cepat dan transparan, serta meminimalkan praktik bad governance yang terjadi antara aparatur pemberi layanan dan pelanggan/pemohon izin. Pada awal dibentuknya, KP2T memiliki kewenangan delapan jenis perizinan. Perubahan dinamika yang semakin kompleks di Kota Banjarbaru dari segi penyelenggaraan pelayanan perizinan melatarbelakangi perubahan status kantor menjadi badan dari keberadaan KP2T. Political will yang cukup kuat dari Walikota setempat serta dukungan dari para pegawai menjadi awal untuk membenahi KP2T. Kegiatan-kegiatan benchmarking dilakukan demi menyempurnakan fungsi dan kapasitas KP2T. Komparasi dilakukan kepada daerah yang dinilai berhasil dalam penyelenggaraan

100

pelayanan perizinan, seperti Kabupaten Sragen, Jembrana, Malang, Yogyakarta, dan Cimahi. Dari semua daerah, tim KP2T mengambil best practice yang dapat diambil dan diaplikasikan. Gambar atas. Tampak Depan BP2T Kota Banjarbaru Demi menciptakan pelayanan yang responsif, berdasarkan surat peraturan Walikota Banjarbaru No.9 Tahun 2008, berdirilah Badan Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP). Penambahan aspek penanaman modal ditujukan agar proses penanaman modal dan pengurusan izin dapat dilakukan lebih mudah jika

ditempatkan dalam satu badan pelayanan. BPMP bertahan kurang lebih satu tahun karena pada awal tahun 2009 BPMP kembali diubah. BPMP diubah Terpadu menjadi Badan Pelayanan Perjinan

(BP2T).

Adapun

pengelolaan

penanaman modal diintegrasikan ke dalam Bappeda Kota Banjarbaru. Gambar atas. Salah satu sudut ruang BP2T

b. Visi dan Misi Pelayanan Perizinan Prima Bebas KKN.

c. Misi Meningkatkan aparatur; Meningkatkan kualitas pelayanan perizinan; Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kompetensi sumber daya

manajemen pelayanan perizinan; dan

Meningkatkan pengawasan dan akuntabilitas dalam pelayanan perizinan.


101

Gambar atas. Papan Reklame di area BP2T

d. Ikrar Pelayanan BP2T Kota Banjarbaru Kami karyawan/karyawati Badan Pelayanan Perizinan Terpadu akan melakukan pelayanan perizinan sesuai dengan indeks kepuasan masyarakat (IKM); Kami karyawan/karyawati Badan Pelayanan Perizinan Terpadu tidak akan menerima pemberian, baik berupa uang atau barang yang kami patut menduga bahwa pemberian ini bersangkut paut dengan proses pelayanan yang kami berikan; Kami karyawan/karyawati Badan Pelayanan Perizinan Terpadu siap menerima sanksi jika secara nyata kami tidak memberikan pelayanan yang memuaskan, dan terbukti melakukan tindakan koruptif dalam proses pelayanan.

102

Tabel 4.4 Jenis Pelayanan Perizinan BP2T Kota Banjarbaru

Sumber: BP2T Kota Banjarbaru, diolah

e. Beberapa Perbaikan BP2T 1. Dari sisi bangunan gedung, terjadi perluasan wilayah kantor dari 80 m2 menjadi 350 m2. Perluasan luas kantor ini sebagai bukti adanya komitmen pemerintah kota pada kelayakan kantor perizinan untuk menampung para pemohon yang akan membuat izin. Sisi tangible adanya kantor yang luas sangat penting karena dari tiga wilayah yang menjadi site penelitian kantor BP2T menjadi kantor yang paling luas. 2. Reformasi paradigma pola pikir juga dilakukan ketika KP2T berubah menjadi BP2T. Hal yang dilakukan dalam membentuk pola pikir ini, antara lain dengan merekrut pegawai dengan sistem kontrak. Pola ini sebenarnya cukup baru dan belum lazim ditemui dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan daerah. Alasan utama ketika
103

rekrutmen pegawai sebagaian besar memakai sistem kontrak agar performance pegawai dalam bekerja tetap terjaga dan tidak seperti kebanyakan citra PNS yang selama ini melekat di benak masyarakat. Pegawai kontrak ini akan menggunakan seluruh kompetensi yang ia miliki agar dapat mendapatkan perpanjangan kontrak ketika kontrak yang dijalani telah berakhir. Perpanjangan kontrak tidak serta-merta hanya berpatokan dari performa yang ditunjukkan ketika evaluasi dilakukan. Akan tetapi, juga menggunakan indikator lainnya dalam menilai pantas tidaknya seorang pegawai mendapatkan perpanjangan kontrak ataupun kontrak baru. 3. Internalisasi budaya organisasi di BP2T juga dilakukan oleh kepala Badan. Sebelum melakukan aktivitas pelayanan kepada masyarakat dibuat jadwal sesi diskusi serta informasi yang layak untuk disampaikan dari seorang Kepala BP2T kepada para bawahannya. Tidak jarang dalam sesi diskusi ini dibahas kemajuan program kerja dengan rancangan kerja yang telah dibuat. Selain itu, internalisasi prinsip-prinsip organisasi swasta juga dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan proses pelayanan. Tidak jarang materi diskusi ini juga mengambil unsur spiritual untuk diterapkan dalam lingkungan kerja BP2T. Secara tidak langsung learning organization tercipta dengan pendekatan antarpersonal. Dampaknya bukan hanya menumbuhkan kekompakan, tapi juga sebagai sarana team building.

f. Inovasi BP2T Kota Banjarbaru 1. Sebagai kota yang bergantung pada industri sekunder dan tertier, terutama sektor jasa BP2T selalu membantu sektor usaha kecil dalam pengurusan izin. Untuk izin UKM, waktu yang dibutuhkan untuk memproses izin BP2T hanya empat hari. Ini sebagai bentuk komitmen BP2T terhadap perkembangan UKM yang cukup signifikan. Dampaknya cukup signifikan karena banyak UKM yang kemudian memformalkan izin usahanya. Izin usaha formal diperlukan untuk akses modal ke lembaga perkreditan seperti bank dan lembaga simpan pinjam lainnya.

104

2. Pemberdayaan sektor swasta dalam meningkatkan kinerja pelayanan juga dilakukan oleh BP2T. Menggandeng salah satu ATPM sepeda motor nasional, BP2T membenahi sarana yang ada di lingkungan BP2T. Sarana seperti kursi dan meja pelayanan dibantu oleh

ATPM Suzuki. Keuntungan yang didapat dari program kerja sama ini cukup baik bagi kedua belah pihak. Pihak Suzuki izin sendiri untuk

mendapatkan

memasang reklame di pintu gerbang kantor BP2T. Gambar atas. Papan Selamat Datang BP2T Kota Banjarbaru 3. Untuk lebih memudahkan para pemilik modal dalam menginvestasikan dananya di Kota Banjarbaru, BP2T membuat terobosan pembuatan izin yang diberi nama Izin Paket. Ketika ingin mendirikan usaha masyarakat harus membuat izin lebih dari satu izin, mulai dari izin SIUP, IMB, sampai Izin Gangguan. Dengan izin paket ini masyarakat cukup mengajukan izin satu kali saja. Selebihnya, BP2T dengan dinas teknis akan mengurus semua izin yang diperlukan untuk mendirikan sebuah tempat usaha. Output surat izin nantinya juga hanya ada satu surat izin, tapi sudah mengakomodasi jenis izin yang semua telah

diajukan. Dengan adanya satu surat izin nantinya lebih memudahkan dan mengefisienkan pemberian perpanjangan izin. Gambar atas. Suasana pelayanan perizinan di BP2T proses dan

105

Alur Pengaduan Kualitas Pelayanan BP2T Kota Banjarbaru Sebagai sebuah badan layanan, BP2T memang memiliki mekanisme pengaduan formal yang dapat digunakan masyarakat jika pelayanan yang diberikan tidak memuaskan. Namun, mekanisme ini tidak seluruhnya diketahui oleh masyarakat. Beberapa narasumber memberikan pendapat ketika mereka memberikan saran dan pengaduan, pada umumnya dilakukan saat terjadi pertemuan dengan pejabat walikota setempat maupun pegawai BP2T. Rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap mekanisme pengaduan ini juga terlihat dari jumlah pengaduan yang tidak terlalu signifikan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tidak adanya flowchart proses mekanisme pengaduan yang terpampang di kantor BP2T semakin mempersulit informasi yang didapatkan oleh masyarakat ketika mengurus izin.

Tabel 4.5 Sistem Pengaduan dari Masyarakat kepada BP2T Kota Banjarbaru

Sumber: Dokumen BP2T Kota Banjarbaru

106

Prosedur pengaduan ini juga dijabarkan secara umum dalam Peraturan Walikota Banjarbaru No.9 Tahun 2008 mengenai Prosedur Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu di Kota Banjarbaru. Pada pasal 10 dijelaskan bahwa pemohon dapat menyampaikan pengaduan melalui petugas pengaduan bila penyelenggaraan pelayanan perizinan tidak memuaskan. Mekanisme pengaduan juga dapat ditempuh melalui berbagai cara, seperti melalui loket ataupun media lain yang disediakan oleh BP2T Kota Banjarbaru. Konten pengaduan dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan. Respons pengaduan masyarakat atas layanan oleh petugas BP2T dalam pasal 10 juga harus ditindaklanjuti selambat-lambatnya tiga hari setelah pengaduan masuk.

Tabel 4.6 Sistem dan Prosedur Pengurusan Perizinan Paralel BP2T Kota Banjarbaru

107

Tabel 4.7 Sistem dan Prosedur Pengurusan Perizinan Fungsional BP2T Kota Banjarbaru

108

Tabel 4.7 Sistem dan Prosedur Pengurusan Nonperizinan Fungsional BP2T Kota Banjarbaru

109

g. Hambatan Pengembangan BP2T Kota Banjarbaru Penyempurnaan penyelenggaraan perizinan di Kota Banjarbaru dalam implementasinya juga tidak lepas dari beberapa kendala. Masalah yang dihadapi tidak hanya terjadi di dalam lingkungan organisasi sendiri, dari luar organisasi pun banyak kendala yang dihadapi untuk memajukan BP2T untuk menjadi lebih responsif dalam melakukan pelayanan. Berikut ini beberapa identifikasi permasalahan yang dihadapi BP2T. 1. Kurangnya dukungan dana Sebagai kota yang belum lama berdiri, Banjarbaru memang dihadapkan pada kurangnya potensi sumber daya alam pada awal berdirinya. Berbeda dengan daerah tetangga dan juga kebanyakan daerah di Kalimantan yang sangat bergantung dengan sumber daya alamnya, Banjarbaru tidak demikian. Hal ini berimplikasi pada sumber dana PAD yang sangat bergantung terhadap retribusi dan pajak. Alokasi dana anggaran untuk pengembangan BP2T pun juga terbatas. Dari sisi rencana dan hal-hal apa saja yang ingin diperbaiki sebenarnya sudah ada, namun minimnya dana yang dianggarkan dalam APBD daerah menjadi kendala utama rencana pengembangan BP2T secara umum. 2. Pemakaian teknologi informasi seperti perangkat IT di BP2T sendiri masih belum maksimal. Masih minimnya penggunaan komputer dan teknologi informasi turut mendorong lambatnya penggunaan IT dalam proses pelayanan. Hal ini juga tidak lepas dari minimnya dana yang diterima BP2T untuk pengadaan IT dan perangkat pendukung lainnya. Akibatnya, proses pelayanan dan database pengarsipan masih menggunakan metode manual. 3. Resistensi dari dinas teknis menyangkut proses regulasi pemberian izin juga menjadi titik lemah kurang maksimalnya kinerja BP2T. Tidak dapat dipungkiri masalah ini sebenarnya juga terjadi di daerah lain pada umumnya akibat tidak penuhnya otonomi yang diberikan kepada BP2T membuat pengembangan organisasi BP2T sendiri ikut terganggu, baik secara langsung atau tidak langsung. 4. Minimnya tenaga SDM untuk mendukung kinerja BP2T juga menjadi kendala utama dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. Kurangnya SDM ini secara tidak
110

langsung juga dipengaruhi oleh dana yang dianggarkan dari PDA. Pola sistem tenaga kerja kontrak yang dipakai dalam merekrut pegawai sebenarnya tidak menjadi masalah jika BP2T ingin menambah personil. Namun, minimnya dana dan pegawai negeri untuk dapat ditempatkan di BP2T turut menjadi kendala proses pengadaan pegawai yang ideal. 5. Pola pembayaran retribusi izin yang masih menggunakan kasir turut menjadi persoalan dalam efektivitas pelayanan. Idealnya, proses pembayaran bekerja sama adalah dengan bank daerah atau lembaga keuangan lainnya. Dengan mengandalkan kasir semata, pembuat izin hanya memiliki alternatif membayar izin hanya satu loket kasir yang ada di BP2T. 6. Regulasi hukum, khususnya perizinan yang masih lambat dengan dinamika masyarakat secara umum turut menjadi kendala proses responsitivitas pelayanan yang diberikan BP2T kepada masyarakat. Kendala peraturan ini turut menghambat pemberian izin itu sendiri. Idealnya, hukum atau peraturan perizinan harus deret ukur dengan dinamika yang terjadi. 7. Dari sisi koordinasi dan perencanaan dengan instansi lain, khususnya Bappeda ikut menghambat pengambangan BP2T sebagai pengungkit pembangunan investasi. Perencanaan yang masih memukul rata program yang akan dijalankan pemkot Banjarbaru menyebabkan tidak ada prioritas program yang ingin dikejar. Idealnya, perencanaan yang dilakukan harus rasional. Selama ini prioritas untuk pengembangan BP2T masih belum maksimal. Perencanaan pukul rata ini pun berimbas pada komitmen pemerintah kota setempat untuk mengembangkan BP2T menjadi lebih baik.

111

V DAMPAK PENERAPAN INOVASI LAYANAN PERIZINAN

Hakikat otonomi daerah adalah revitalisasi pemberdayaan daerah sehingga di sana yang penting adalah mengelola kewenangan dan potensi yang ada dengan berbagai inovasi, tidak bisa hanya monoton. Kalau hanya begitu, sampai kapan pun akan begitu-begitu saja. Tak ada bedanya ada otonomi atau tidak. (Bupati Purbalingga, Triyono Budi Sasongko)

Reformasi birokrasi pelayanan perizinan usaha di setiap daerah pada hakikatnya adalah menciptakan pelayanan yang baik, transparan, dan responsif guna mendukung proses pembangunan. Pelayanan perizinan merupakan salah satu komponen dalam mendorong pembangunan daerah. Adanya perizinan yang responsif akan menjadi daya tarik investor untuk masuk ke daerah. Berdirinya industri-industri PMA dan PMDN di suatu daerah secara langsung atau tidak langsung akan memengaruhi gerak percepatan pembangunan di daerah. Penulis mencoba memaparkan gambaran perkembangan di tiga wilayah penelitian, yaitu Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru. Dampak deregulasi perizinan usaha terhadap perekonomian di daerah akan dilihat melalui tiga aspek utama, yaitu tingkat pertumbuhan usaha, ekonomi, dan sosial. Berikut gambaran selengkapnya.

A. Kabupaten Purbalingga a. Tingkat Pertumbuhan Usaha

Sejak reformasi pelayanan perizinan usaha dicanangkan di Kabupaten Purbalingga pada tahun 2003, pertumbuhan perizinan usaha tampak terlihat dari rentang tahun 2004-2009. Tren perkembangan usaha kecil, menengah, dan besar juga mengalami pertumbuhan secara umum. Insentif yang diberikan dalam proses perizinan usaha membuat banyak masyarakat memformalkan usaha yang mereka miliki. Selain dari kemauan masyarakat, gerak jemput bola dari KPPT Kabupaten Purbalingga untuk membantu masyarakat melakukan pengurusan izin
112

turut memengaruhi kuantitas pertumbuhan perizinan di Kabupaten Purbalingga. Berikut ini gambaran perkembangan perusahaan di Kabupaten Purbalingga dari tahun 2004-2009.

Tabel 5.1 Rekapitulasi Jumlah Penerbitan SIUP KPPT Kabupaten Purbalingga Tahun 2004-2009 Tahun Bentuk 2004 Perusahaan Kecil Perusahaan Menengah Perusahaan Besar Jumlah *)Data sampai bulan Juli 2009 Sumber: Rekapitulasi data pribadi Pejabat KPPT Kab. Purbalingga 586 93 22 701 2005 565 56 24 645 2006 980 70 15 1.065 2007 754 55 24 833 2008 762 92 41 895 2009 *) 350 29 13 392 3.997 395 139 4531 Jumlah

Dari sisi perkembangan PMA, proses reformasi perizinan yang dilakukan di Kabupaten Purbalingga secara umum memberikan dampak yang cukup signifikan, baik dampak langsung maupun tidak langsung. Kuantitas jumlah investor asing yang masuk ke Kabupaten Purbalingga naik pascareformasi perizinan dilakukan. Dari sisi pelayanan yang diberikan oleh pihak KPPT
113

Kabupaten Purbalingga, hampir seluruh pengusaha yang diwawancarai memberikan penilaian positif. Penilaian ini terlihat dari bagaimana transparansi biaya proses perizinan sampai dengan berdirinya unit usaha di. Penilaian ini menunjukkan bahwa reformasi perizinan yang dilakukan berhasil, dan mendapat apresiasi dari kalangan pengusaha. Gambar atas. Nama sebuah pabrik rambut di Kab. Purbalingga

Gambar kiri. Pintu gerbang pabrik rambut Boyang Dampak dari semakin banyak industri yang berdiri di Kabupaten Purbalingga, khususnya industri rambut memberikan dampak ekonomi bagi

masyarakat setempat. Sampai dengan tahun 2009, terdapat 18 industri PMA yang berdiri di Kabupaten Purbalingga. Industri PMA paling besar bergerak di bidang rambut. Dari pengusaha lokal, apreasiasi penanaman modal juga terlihat dari berkembangnya PMDN yang terdapat di Kabupaten Purbalingga. Tercatat sampai dengan tahun 2009 terdapat 18 perusahaan non-PMA yang berorientasi ekspor. Jenis usaha untuk PMDN lebih bervariasi, namun pada umumnya industri yang ada di Kabupaten Purbalingga banyak bergerak di bidang industri rambut dan jenis usaha turunannya. Berikut gambaran jumlah PMA yang ada di Kabupaten Purbalingga.

114

Tabel 5.2 Daftar Perusahaan PMA dan Non-PMA di Kabupaten Purbalingga Nama Perusahaan

PMA 1. PT. Boyang Industrial 2. PT. NYP Wood Work 3. PT. Hanmi Hair International 4. PT. Indokores Sahabat 5. PT. Yuro Mustika 6. PT. Sung Shim International 7. PT. Kesan Baru Sejahtera 8. PT. Milan Indonesia 9. PT. Hyup Sung Indonesia 10. PT. Midas Indonesia 11. PT. Sun Chang Indonesia 12. PT. International Eyelash 13. PT. Hasta Pusaka Sentosa 14. PT. Royal Korindah 15. PT. Wonjin Indonesia

PMDN 1. PT. Cipta Kreasi Megah 2. PT. Tiga Putra Abadi Perkasa 3. PT. Bintang Mas Ceramic 4. PT. Bintang Mas Triasa 5. PT. Citra Serayu Mas 6. PT. Majapura 7. PT. Purbayasa 8. PT. Narayana 9. PT. Braling Albasindo 10. PT. Sun Starindo Wirahusada 11. PT. Braling Wisnu Satrya 12. PT. Indoprima Makmur Laksana 13. PT. Mitra Karya Tri Utama 14. PT. Slamet Langgeng 15. CV. Sin Han Timber

115

16. PT. Interwork 17. PT. Hanjung Bio Energi 18. PT. Citra Kreasi Megah

16. CV. Surya Prima Yudha 17. CV. Wahana Cipta Utama 18. CV. Makmur Sejahtera

Sumber: Bahan presentasi Bupati Purbalingga dalam acara Sidang Panel Kab/Kota Proinvestasi Pemprov Jawa Tengah tahun 2009, Semarang

Berdirinya

pabrik-pabrik

pengolahan

rambut

di

Kabupaten

Purbalingga

juga

menimbulkan multiplier effect kepada penduduk di sekitar pabrik. Terbukanya lahan pekerjaan baru seperti penyediaan kontrakan atau kos-kosan bagi pekerja pabrik banyak ditemui. Banyaknya pekerja pabrik yang berada di Kabupaten Purbalingga saat ini bukan hanya berasal dari penduduk lokal saja, dari daerah sekitar seperti Kabupaten Purwokerto, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten sekitar lainnya. Permintaan yang tidak seimbang antara kebutuhan pekerja dan jumlah tenaga kerja lokal membuat arus ekspansi pekerja di luar daerah masuk ke Kabupaten Purbalingga. Munculnya pekerja di luar Kabupaten Purbalingga selain berdampak pada melonjaknya permintaan tempat tinggal sewa, juga meningkatkan usaha warung makan dan jenis usaha sejenis lainnya, terutama di lokasi pabrik. Jenis usaha-usaha baru ini jelas meningkatkan pendapatan penduduk sekitar.

b. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Purbalingga Dampak tidak langsung dari tumbuhnya industri PMA di Kabupaten Purbalingga juga turut mendorong kenaikan PDRB Kabupaten Purbalingga. Walaupun tidak langsung menjadi pengungkit naiknya PDRB secara keseluruhan, peningkatan daya beli dan pendapatan masyarakat setempat berimplikasi pada kegiatan perekonomian secara umum. Pertumbuhan PDRB dari mulai tahun 2030 mengalami kenaikan yang cukup positif. Artinya, laju pembangunan yang terjadi dapat dirasakan dan dilihat secara kuantitatif.

116

Tabel 5.3 Kinerja Pembangunan Bidang Ekonomi Tahun PDRB Atas Dasar Harga

Jumlah (juta/Rp) 2003 2004 2005 2006 2007 2.297.491,47 2.564.007,54 2.912.447,31 3.408.083,,52 3.887.240,54

Perkembangan (%) 143,10 159,71 181,41 212,28 243,13

Jumlah (Juta Rp) 1.784.728,21 1.844.532,07 1.921.653,92 2.018.808,10 2.143.746,23

Perkembangan (%) 111,17 114,89 119,69 125,75 133,53

Sumber: Bappeda Kabupaten Purbalingga, 2009

c. Pertumbuhan Ekonomi Banyaknya sektor usaha kecil, menengah, dan besar yang ada di Kabupaten Purbalingga turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pertumbuhan ini sejalan dengan perkembangan PDRB dalam lima tahun terakhir yang terus meningkat. Terbukanya lapangan kerja menciptakan daya beli bagi masyarakat setempat. Capaian pertumbuhan ekonomi dalam dua-tiga tahun terakhir (2007-2008) menunjukkan tren yang meningkat. Rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7% selama dua tahun terakhir itu menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi terjadi. Hal ini tentu saja tidak lepas dari banyak berdirinya PMA, khsusnya rambut di Kabupaten Purbalingga.

117

Tabel 5.4 Pertumbuhan Sektor Ekonomui Tahun 2003-2007 Tahun Sektor 2003 Pertanian Pertanian & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Minum Bangunan Perdag, Hotel&Restoran Pengangkutan& Komunikasi Keu. Persew&Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB 3,29 3,14 6,33 3,35 6,33 4,18 7,83 5,06 7,06 6,19 2,16 1,52 3,25 10,59 4,57 2,61 4,12 8,00 2004 1,01 10,55 4,23 9,33 6,74 2,26 2,69 7,82 2005 2,78 9,73 5,37 9,28 8,36 3,72 1,45 4,15 2006 3,07 8,47 6,42 12,42 6,82 4,60 2,04 8,04 2007 4,23 8,82 6,59 0,32 6,93 7,16 5,33 12,10

Sumber: Bappeda Kabupaten Purbalingga, 2009

d. PDRB per Kapita Penilaian dari pembangunan ekonomi di suatu daerah juga dapat dilihat dari pencapaian pendapatan penduduk. Pertumbuhan pendapatan per kapita secara langsung atau tidak langsung
118

juga dipengaruhi oleh berdirinya usaha yang ada di Kabupaten Purbalingga. Peningkatan jenis usaha di Kabupaten Purbalingga dari tahun ke tahun secara tidak langsung juga memengaruhi tingkat pendapatan penduduk. Dari rentang waktu tujuh tahun (2000-2007) peningkatan pendapatan per kapita naik sebesar 123,52% atau 2,24 kali lipat pertumbuhan dibanding sebelumnyanya. Tahun 2003 adalah awal di mana reformasi perizinan usaha dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga.

Tabel 5.5 Jumlah Pendapatan Perkapita Penduduk Kabupaten Purbalingga Tahun Pendapatan Per Kapita Pertumbuhan

2003 2004 2005 2006 2007 2008

2.298.211 2.527.544 2.820.181 3.275.670 3.727.398 5.03.000

11,22 9,98 11,58 16,15 13,79 -

Sumber: Bahan Presentasi Bupati Purbalingga dalam acara sidang panel Kab/Kota Proinvestasi Pemprov Jawa Tengah tahun 2009, Semarang

119

Tabel 5.6 Rekapitulasi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banjarbaru Capaian Kinerja No Indikator 2007 1 2 3 4 5 6 PDRB Harga Konstan PDRB Harga Berlaku Pertumbuhan Ekonomi Inflasi Pendapatan Per Kapita Pengangguran Terbuka 2,099 3,982 5,5 6,52 4,61 3,1 2008 2,261 4,527 5,85 6,50 5,03 3,0

Sumber: Bappeda Kabupaten Purbalingga, 2009

e. Penyerapan Tenaga Kerja Tidak dapat dipungkiri bahwa kemudahan perizinan usaha di Kabupaten Purbalingga membawa pengaruh yang sangat signifikan dalam mengatasi pengangguran. Banyaknya pabrik-pabik industri, khususnya industri rambut sebagai cluster industri unggulan mampu menyerap tenaga kerja lokal. Berdasarkan data yang ada, saat ini pekerja yang terserap dari industri PMA dan PMDN yang berorientasi ekspor berjumlah kurang lebih 34.000 tenaga kerja, dengan mayoritas bekerja di industri rambut. Penyerapan tenaga kerja terbesar masih didominasi oleh berdirinya PMA, kemudian disusul penyerapan tenaga kerja dari PMDN. Angka 34.000 ini adalah data pada tahun 2009 yang disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Dari kalangan
120

pengusaha, data yang disampaikan kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan pemerintah daerah. Jumlah tenaga kerja ini belum termasuk penyerapan tenaga kerja informal dari kegiatan plasma rambut yang disentralkan di desa-desa. Jumlah penyerapan tenaga kerja dari plasma juga cukup tinggi.

Tabel 5.7 Penyerapan Tenaga Kerja Perusahaan yang Berorientasi Ekspor Tahun 2008 No. Jenis Industri Jumlah Tenaga Kerja (orang) 1 2 3 PMA PMDN Plasma PMA 26.722 13.289 11.183

Keterangan: PMA: Penanaman Modal Asing PMDN: Penanaman Modal Dalam Negeri Sumber: Bahan presentasi Bupati Purbalingga dalam acara sidang panel Kab./Kota Proinvestasi Pemprov Jawa Tengah tahun 2009, Semarang
121

f. Tumbuhnya Plasma Pola industri padat karya yang ada di Kabupaten Purbalingga memang menjadi solusi ampuh dalam mengatasi pengangguran terbuka. Lapangan kerja yang tersedia sekarang ini tidak hanya terkonsentrasi di lingkup pabrik semata sebagai kegiatan produksi utama. Multiplayer effect juga dilihat dengan diikutsertakannya masyarakat (ibu rumah tangga pada umumnya) dalam proses produksi. Sistem ini disebut plasma. Saat ini, plasma sudah menyebar ke luar Kabupaten Purbalingga. Wilayah Banyumas dan Purwodadi saat ini juga sudah mulai banyak tumbuh plasma rambut. Penghasilan yang didapat masyarakat dari berdirinya plasma cukup besar. Bagi penduduk yang sudah terbiasa dan ahli mengerjakan plasma rambut, pengahasilannya mencapai satu juta rupiah. Jika masih pemula, penghasilan yang didapatkan hanya berkisar Rp100 ribu. Besarnya pendapatan masyarakat tergantung dari banyaknya produksi yang dihasilkan. Pada prinsipya, konsep plasma adalah pola kemitraan antara pabrik dan masyarakat lokal. Kemitraan ini membuat pabrik tidak perlu merekrut tenaga tetap di pabrik. Konsep plasma berusaha mendekatkan diri pada pasar tenaga kerja nonformal. Masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi karena pengelolaan plasma disentralkan di desa-desa. Salah satu penduduk desa hanya menyediakan tempat, rumahnya, atau tempat lain untuk proses produksi. Pemilik tempat ini nantinya akan mendapatkan fee dari pabrik untuk penyewaan tempat. Di tempat inilah para penduduk melakukan kegiatan produksi yang disebut plasma. Jika pekerjaan belum dapat diselesaikan di tempat plasma tersebut, pekerjaan yang belum terselesaikan dapat dibawa pulang ke rumah. Bahan baku untuk proses produksi plasma diberikan oleh pabrik. Setiap satu atau dua minggu sekali, pabrik akan mengambil hasil produksinya. Jadi, plasma seperti sistem borongan. Kapasitas produksi plasma tidak dibatasi oleh pabrik. Target juga tidak dibebankan kepada pekerja plasma. Berapa pun yang dihasilkan dari plasma diterima oleh pabrik. Namun, jika hasil produksi plasma tidak sesuai dengan kualitas yang ditentukan pabrik, hasil produksi itu akan dikembalikan dan tidak dibayar. Akan tetapi, pada dasarnya cacat produksi selama ini sangat jarang terjadi karena selain sudah terbiasa dengan pekerjaannya. Selain itu, penduduk Kabupaten Purbalingga memang sudah mewarisi keahlian industri rambut secara turun-temurun.

122

Gambar 5.1 Proses Kerja Plasma Kabupaten Purbalingga Pabrik Pengolahan Rambut
Mengambil hasilproduksi (12minggu) Inti Plasma (Ketua)

Menyuplai bahanbaku

Plasma (Penduduk)

Plasma (Penduduk)

Plasma (Penduduk)

Sumber: Penelitian di lapangan, diolah

Kegiatan plasma saat ini diberdayakan di sekitar desa. Tidak tertampungnya seluruh kegiatan pengolahan rambut di pabrik membuat perusahaan PMA di purbalingga memanfaatkan tenaga kerja lokal, khususnya ibu rumah tangga. Fungsi plasma secara umum sebenarnya adalah relokasi kegiatan tahap awal produksi industri rambut yang tadinya dikerjakan di dalam pabrik, kemudian dialihkan ke masyarakat. berlangsung, plasma Selama penulis penelitian konsep effect

melihat multiplier

memberikan

123

kepada ibu-ibu rumah tangga karena tersedianya lapangan kerja dan pendapatan tambahan. Konsep plasma juga mendekatkan proses produksi dari pabrik ke masyarakat. Ongkos produksi dapat ditekan karena biaya transportasi dan makan tidak ditanggung oleh perusahaan. Sampai saat ini, hampir seluruh industri penanaman modal asing di Kabupaten Purbalingga menjalin kerja sama dengan industri plasma pedesaan yang hampir tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Purbalingga. Bahkan, ada beberapa plasma yang terdapat di luar wilayah Kabupaten Purbalingga. Ini membuktikan bahwa multiplier effects adanya industri pengolahan rambut tidak hanya dirasakan oleh masyarakat lokal semata. Masyarakat sekitar Kabupaten Purbalingga juga ikut menikmati dari berdirinya plasma industri rumah tangga ini. Berikut ini gambaran kemitraan beberapa perusahaan penanaman modal asing dengan industri plasma pedesaan di Kabupaten Purbalingga.

Tabel 5.8 Gambaran Kemitraan PMA dan Plasma Rambut di Kabupaten Purbalingga Nama PMA Jumlah Plasma PT. Royal Korindah 131 9 19 3 PT Midas Indonesia 10 1 PT. Tiga Putra Abadi Perkasa 8 Jumlah Tenaga Kerja 4.438 280 565 129 540 42 809 Pengerjaan proses knitting Proses gunting Proses tempel Proses tanam dan gulung Proses gunting Proses tanam Keterangan

124

PT. Hyup Sung Indonesia

15

832

Keterangan: Sampai tahun 2009, jumlah plasma adalah 260 plasma.

Sumber: Profil Industri Kabupaten Purbalingga, 2009

g. Menurunnya Penduduk Miskin Berdirinya banyak industri pabrik di Kabupaten Purbalingga selain memberikan dampak kepada pertumbuhan lapangan kerja dan multiplier effect yang lainnya, dari sisi pengurangan penduduk miskin juga turut membantu. Lapangan kerja yang terbuka bagi masyarakat lokal menciptakan daya beli sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya. Dari rentang waktu 2005-2008, penurunan jumlah angka kemiskinan di Kabupaten Purbalingga dibandingkan dengan wilayah eks Karesidenan Banyumas atau Barlingmascakep lebih cepat. Tren penurunan ini tidak lain karena aktifitas ekonomi di Kabupaten Purbalingga berjalan.

Tabel 5.9 Kinerja Pengurangan Penduduk Miskin (Perbandingan di Eks Karesidenan Banyumas/Barlingmascakeb) No Kabupaten 2005 Jumlah RTS 2008 Turun 2005 Persentase RTS 2008 Turun

1 2

Banyumas Cilacap

172.581 170.433

141.183 150.721

31.398 19.712

43,1 40,0

34,1 34,2

9,0 5,8

125

3 4 5

Banjarnegara Kebumen Purbalingga

112.851 131.465 104.705

85.420 122.209 63.313

27.431 9.256 36.392

50,1 42,2 47,0

36,5 38,5 29,8

13,7 3,7 17,2

Sumber: Bahan Presentasi Bupati Purbalingga dalam acara Sidang Panel Kab./Kota Proinvestasi Pemprov Jawa Tengah Tahun 2009, Semarang

h. Meningkatnya Pembangunan Infrastruktur Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Purbalingga sebagai sarana penunjang kegiatan perekonomian juga terlihat pasca munculnya pabrik rambut PMA berdiri. Dalam mendukung kelancaran arus barang dan jasa, pemerintah kabupaten setempat berkomintmen untuk membangun sarana dan prasarana untuk menarik investasi ke Kabupaten Purbalingga. Pembangunan sarana jalan memang menjadi salah satu keunggulan daya tarik investasi di Kabupaten Purbalingga. Pemerintah berusaha membangun akses jalan ketika pabrik industri berdiri. Selain daya jual dari sisi tenaga kerja dan kemudahan perizinan usaha, sarana jalan menjadi insentif yang diberikan dari pemerintah setempat. Meningkatnya lalu lintas perdagangan barang di Kabupaten Purbalingga sangat penting. Hampir sebagian besar pabrik yang berdiri berorientasi ekspor. Jalan sebagai sarana penunjang lalu lintas barang sangat penting bagi kelancaran usaha. Pada tahun 2008, menurut data yang disampaikan Pemkab Purbalingga, jalan kabupaten dengan kondisi baik mencapai persentase 88,64%. Capaian kinerja pembangunan ini sama dengan tahun 2007.

126

Tabel 5.10 Perkembangan Pendanaan Kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana Jalan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah

Ruas Panjang

25 27.000

37 46.253

33 33.960

34 30.314

34 40.000

24 36.264

27 15.073

187 232.864

Sumber: Bahan paparan Bupati Kab. Purbalingga pada Rakor Forum Pengendalian Pelaksanaan Pembangunan Kab/Kota Eks Karisedenan Banyumas Tahun anggaran 2009.

Tabel 5.11 Kinerja Pembangunan Bidang Infrastruktur

Sumber: Bahan presentasi Bupati Purbalingga dalam acara sidang panel Kab/Kota Proinvestasi Pemprov Jawa Tengah tahun 2009, Semarang

127

i. Listrik dan Air Keluhan yang terjadi di tiga wilayah penelitian terkait infrastruktur energi adalah daya listrik dan kebutuhan air yang masih kurang mencukupi di hampir semua wilayah. Berkembangnya ekonomi berimplikasi pada permintaan daya listrik yang meningkat dari tahun ke tahun. Munculnya industri rambut di Kabupaten Purbalingga memang sangat membutuhkan energi listrik untuk proses operasional pabrik. Korelasi yang terjadi antara produksi listrik dan permintaan daya sebenarnya cukup tinggi. Namun, lonjakan permintaan yang semakin besar dari kalangan dunia usaha tidak berbanding lurus dengan produksi listrik PLN setiap tahunnya. Akan tetapi, pembangunan infrastruktur listrik tetap menjadi prioritas utama dari semua stakeholder. Solusi untuk mengatasi krisis listrik juga sudah dibicarakan antara dunia usaha dan pemerintah.

Tabel 5.12 Produksi Listrik danAir Minum Kabupaten Purbalingga Tahun 2003-2007

Sumber: Bappeda Kabupaten Purbalingga, 2009

128

j. Aspek Sosial Berkembangnya penanaman PMA di Kabupaten Purbalingga, khususnya industri rambut turut memberikan dampak kepada kehidupan sosial masyarakat. Setidaknya aktivitas kota Purbalingga sepanjang penulis amati cukup ramai, baik siang hari ataupun pada malam hari. Sebelum di bawah kepemimpinan Bupati sekarang ini, Kota Purbalingga dijuluki sebagai kota mati. Julukan ini bukan tanpa alasan karena suasana kota ketika memasuki malam hari sudah mulai sepi, dan jarang ada interaksi antarpenduduk. Pusat-pusat kegiatan malam hari, baik tempat hiburan atau sentra kuliner juga tidak seramai saat ini. Namun, dengan perkembangan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Purbalingga, mulai ada perubahan perilaku sosial. Ketika malam hari tiba, sekarang ini banyak muncul pusat-pusat hiburan dan kuliner. Areanya masih berada di alun-alun depan Pendopo Dipokusumo Kabupaten Purbalingga. Banyak pusat jajanan menjamur di sepanjang alun-alun. Berbagai macam kuliner dijual. Masyarakat setempat memanfaatkan pusat keramaian untuk berinteraksi dengan masyarakat lain. Tidak jarang ada juga keluarga yang memanfaatkan ramainya alun-alun kota untuk bercengkerama dan wisata malam. Wisata kuliner malam juga disentralkan di beberapa ruas jalan utama. Ketika malam hari, ada ruas jalan utama yang disulap menjadi sentra makanan dengan bercirikan ornamen khas Cina. Nama pusat kuliner ini adalah Mayong Kya-Kya. Pusat kuliner ini hanya dibuka pada malam hari. Masyarakat dapat memanfaatkan Mayong Kya-Kya sebagai alternatif hiburan dan kuliner selain sentra makanan di sepanjang alun-alun utama.

Gambar atas. Suasana Mayong Kya-Kya di malam hari

129

Perubahan

warna

dinamika

kehidupan

masyarakat Purbalingga pada malam hari menjadi indikasi gerak perekonomian informal juga berjalan. Selain itu, munculnya aktifitas malam hari yang mulai banyak ditemui di sepanjang pusat keramaian juga tidak lepas dari banyaknya pekerja yang datang dari luar Kabupaten Purbalingga. Setelah bekerja, para pekerja biasanya mencari pusat aktivitas seperti kuliner dan sarana hiburan lainnya. Gambar atas. Suasana Mayong Kya-Kya pada siang hari

Selain pusat kuliner, pusat-pusat pertokoan yang buka sampai malam hari ikut memberikan denyut nadi keramaian pada malam hari. Menjamurnya toko pakaian, minimarket, supermarket, dan toko kelontong lainnya memberikan alternatif bagi masyarakat setempat untuk berbelanja selain ke pasar tradisional. Geliat aktivitas kota yang semakin dinamis di Kabupaten Purbalingga juga tidak lepas dari naiknya daya beli masyarakat setempat. Berdirinya pabrikpabrik PMA di Kabupaten Purbalingga memang positif bagi penduduk setempat.

k. Tumbuhnya Kesadaran Sosial Selain semakin menggeliatnya interaksi sosial masyarakat Kabupaten Purbalingga pada malam hari, hal positif dari berdirinya pabrik-pabrik PMA juga berdampak bagi kesadaran masyarakat akan kesehatan. Sebelum adanya pabrik-pabrik industri rambut, pola hidup sanitasi sebagian masyarakat setempat kurang memerhatikan kesehatan. Sebagian masyarakat masih ada yang membuang air besar ke sungai, namun kebiasaan itu mulai berubah ketika pabrik-pabrik rambut mulai didirikan. Untuk buang air besar, masyarakat mulai sadar bahwa mencemari sungai itu tidak baik untuk dirinya dan kesehatan orang lain. Rasa malu juga mulai tumbuh karena tidak jarang sungai yang dipakai untuk buang air berdekatan dengan lokasi pabrik. Banyak warga kini
130

membangun WC atau kamar mandi untuk buang air besar. Berdirinya kos-kosan di sepanjang area pabrik juga menjadi alasan warga pemilik kos untuk membangun WC atau kamar mandi sebagai salah satu fasilitas. Partisipasi masyarakat Kabupaten Purbalingga untuk membangun sanitasi cukup tinggi, walaupun masih ada beberapa penduduk yang memanfaatkan sungai sebagai tempat buang air besar.

Tabel 5.13 Kinerja Pembangunan Bidang Infrastruktur

Sumber: Bahan presentasi Bupati Purbalingga dalam acara sidang panel Kab/Kota Proinvestasi Pemprov Jawa Tengah tahun 2009, Semarang

Perubahan pola pikir budaya masyarakat sejak kehidupan perekonomian meningkat pasca-masuknya berbagai industri PMA dan PMDN juga terlihat. Sebelum banyak pabrik PMA berdiri, sangat sedikit masyarakat Kabupaten Purbalingga yang memiliki kendaraan bermotor. Jalan-jalan utama Kabupaten juga tidak seramai saat ini. Situasi pada saat itu secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh masih sedikitnya penduduk produktif yang bekerja karena lapangan pekerjaan yang kurang.

131

Perkembangan lapangan kerja yang tumbuh di Kabupaten Purbalingga selama ini bukan tanpa mengenai kendala. Saat ini, kebutuhan pekerja di Kabupaten Purbalingga lebih berorientasi pada tenaga kerja wanita. Akibatnya, penyerapan tenaga kerja untuk laki-laki sangat kurang. Persentase pengangguran dari kaum laki-laki yang begitu besar memberikan dampak sosial, yaitu berubahnya fungsi pencari nafkah dari kaum laki-laki dialihkan ke kaum perempuan. Banyak rumah tangga di Kabupaten Purbalingga yang pencari nafkah utamanya adalah kaum perempuan. Ketika buruh perempuan harus bekerja di pabrik-pabrik rambut, suami menggantikan peran seorang istri untuk mengurusi rumah tangga mereka. Peran suami untuk menunjang mobilitas istri dalam bekerja juga terlihat ketika jam masuk dan pulang pabrik. Ketika pagi dan sore tiba, para suami mengantar dan menjemput istri mereka di tempat pabrik. Gambar atas. Suasana kemacetan di depan prabrik rambut

Setiap hari ketika jam masuk dan pulang buruh pabrik berlangsung kemacetan jalan di sepanjang area pabrik yang tidak dapat terelakkan. Banyaknya buruh pabrik yang masuk dan pulang menjadi fenomena sosial tersendiri saat pagi serta sore tiba. Kemacetan ini berdampak pada semua ruas jalan di Kabupaten Purbalingga, dan menghambat mobilitas aktivitas kota sejenak. Kemacetan diakibatkan banyaknya bus pabrik yang mengangkut para buruh yang berangkat dan pulang. Banyaknya para suami yang mengantar dan menjemput istrinya dengan menggunakan sepeda motor turut menambah kemacetan karena mereka biasanya parkir tepat di depan pabrik, serta membentuk pola memanjang di sepanjang badan jalan sekitar pabrik. Belum lagi supir angkot

132

dan bus kota yang turut mengetem di sekitar areal pabrik sehingga menambah kesemrawutan lalu lintas kota.

B. Kota Makassar a. Tumbuhnya Jumlah Usaha Peningkatan Jumlah perizinan usaha di Kota Makassar yang sangat besar dari tahun ke tahun tidak lepas dari potensi daerah yang dimiliki. Letaknya yang strategis serta dukungan sarana infrastruktur yang baik membuat banyak investor bersedia menanamkan modalnya di Kota Makassar. Sebagai pintu masuk wilayah Indonesia Timur, Kota Makassar memang menjelma menjadi wilayah yang potensial bagi dunia usaha. Bukan hanya itu saja, peran wilayah sebagai lokomotif utama pembangunan di kawasan Indonesia Timur membuat eksistensi Kota Makassar semakin menguat. Dari tahun 2002 sampai 2009, jumlah kuantitas perizinan usaha semakin meningkat. Selama rentang waktu tujuh tahun tersebut, jumlah permintaan izin mencapai lebih dari tiga kali lipat. Saat ini, Kota Makassar merupakan daerah dengan permintaan izin paling tinggi di Indonesia. Ini membuktikan bahwa gerak perekonomiannya berlangsung dengan baik. Penetapan Kota Makassar sebagai gerbang emas Indonesia Timur bukan tidak mungkin akan semakin mengukuhkan wilayah ini menjadi basis investasi utama di Indonesia selain pulau Jawa.

Tabel 5.14 Perkembangan Izin SIUP Kota Makassar Tahun 2006-2009

Sumber: Disperindag dan Penanaman Modal Kota Makassar, 2009


133

Kota Makassar sebagai pusat pembangunan kawasan Indonesia Timur memiliki kegiatan investasi dan aktivitas ekonomi yang sangat dinamis. Berdirinya kawasan industri seperti PT KIMA memberikan kemudahan bagi para investor untuk mendirikan usaha. Tren peningkatan industri menengah dan besar pun terjadi dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari rentang tahun 2005 sampai 2008 di mana jumlah perusahaan menengah dan besar terus mengalami peningkatan. Namun, peningkatan industri menengah dan besar di Kota Makassar tidak lepas dari beberapa fasilitas pendukung yang cukup representatif. Fasilitas dan pemusatan Industri ini kepemilikan saham dan pengoperasiannya juga lebih banyak dilakukan oleh pemerintah pusat. Pengelolaan PT Kawasan Industri Makassar (PT KIMA) misalnya, peran pemerintah pusat dalam mengelola kegiatan investasi masih sangat dominan. Kepemilikan saham pemerintah pusat 60%, sedangkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar hanya memiliki 30% dan 10% kepemilikan saham. Minimnya kepemilikan dan peran Pemkot Makassar juga berimplikasi pada proses pembuatan izin usaha dan izin kelengkapan lainnya sebagai prasyarat berdirinya usaha baru. Proses penanaman modal oleh PMA dan PMDN ditangani langsung oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKMD). Namun demikian, peran Pemkot Makassar dalam penerbitan izin juga masih diberikan seperti Izin Lokasi, Sertifikat Hak Atas Tanah, IMB, Izin Gangguan (HO) di luar kawasan Industri dan Izin kerja bagi WNA. Pada prinsipnya, Proses pengelolaan kawasan industri dan penerbitan izin yang tidak hanya dilakukan oleh Pemkot Makassar, tapi juga melibatkan pemerintah pusat itu tidak menghambat tumbuhnya industri PMA dan PMDN. Potensi yang sangat menggiurkan dan sarana fisik investasi yang sangat menunjang menjadi posisi tawar bagi Kota Makassar kepada investor. Selama tahun 2005-2008, tercatat kenaikan industri menengah dan besar terus mengalami kenaikan dengan nilai investasi terakhir pada tahun 2008 di atas satu triliun rupiah. Jumlah kegiatan industri menengah dan besar ini tidak hanya berada pada lokasi kawasan industri PT KIMA, tapi juga industri PMA dan PMDN yang dilakukan di luar area PT KIMA. Berikut ini gambaran jumlah kenaikan industri menengah dan besar di Kota Makassar pada tahun 20052008.

134

Tabel 5.15 Perkembangan Industri Menengah dan Besar Kota Makassar Tahun 2005-2008

Sumber: Disperindag dan Penanaman Modal Kota Makassar, 2009

Tabel 5.16 Pertumbuhan Industri Kecil Kota Makassar Tahun 2004-2008

Sumber: Disperindag dan Penanaman Modal Kota Makassar, 2009

b. Perkembangan Ekonomi Perkembangan jumlah PDRB per kapita yang cukup berarti pada tahun 2008 di atas Rp20 juta memberikan sinyalemen bahwa perekonomian Kota Makassar memiliki pertumbuhan yang cukup baik. Kegiatan perekonomian ini tidak hanya disentralkan pada satu struktur perekonomian semata, tapi didukung juga oleh struktur perekonomian yang lain. Struktur utama yang menjadi penggerak utama perekonomian kota Makassar didominasi oleh sektor

135

perdagangan, restoran, dan hotel. Berikut gambaran struktur perekonomian Kota Makassar selengkapnya.

Gambar 5.2 Struktur Ekonomi Kota Makassar Tahun 2008

Industri Pengolahan 23,71%

Pertambang andan Penggalian 0,01%

Pertanian 1,02%

JasaJasa 11,78% Bankdan Lap Keuangan 10,26%

Listrik,Gas danAir 1,98 % Bangunan 7,61%

Angkutan Perdagangan dan , Komunikasi Restoran& 15,49% Hotel 28,14%

Sumber: RPJMD Kota Makassar, 2009

c. Penyerapan Tenaga Kerja Berikut gambaran proporsi pertumbuhan tenaga kerja yang terserap oleh kegiatan industri di Kota Makassar.

136

Tabel 5.16 Pertumbuhan Tenaga Kerja Industri Kecil, Menengah, dan Besar Kota Makassar Tahun Bidang Industri 2004 Industri Kecil Persentase Pertumbuhan (%) Industri Menengah-Besar Persentase Pertumbuhan (%) 32.417 2005 32.925 11.980 2006 33.220 0,9 12.742 6,3 2007 33.648 1,2 13.209 3,6 2008 33.907 0,7 13.515 2,3

Sumber: Disperindag dan Penanaman Modal Kota Makassar, 2009

d. Infrastruktur Perkembangan fisik yang sangat menonjol di Kota Makassar terkait peningkatan aktivitas kegiatan ekonomi adalah perkembangan pembangunan jalan yang sangat cepat. Berdasarkan pengamatan penelitian di lapangan, pertumbuhan jalan dan sarana fisik seperti gedung dan prasarana lainnya memang tampak terlihat. Berdasarkan data terakhir yang diambil dari bidang penanaman modal Kota Makassar, panjang jalan di Kota Makassar adalah 1.593,46 km. Dilihat dari pengelompokan jalan menurut kelasnya, jalan di Kota Makassar dibagi menjadi 7 kelompok.

137

Tabel 5.17 Gambaran Kelompok Jalan dan Fungsinya Kelompok Jalan Panjang Jalan (km) Jalan Kelas I Jalan Kelas II Jalan Kelas III Jalan Kelas IIIA Jalan Kelas IV Jalan Kelas V Kelas tidak dirinci 221,61 600,78 173,75 121,67 125,32 185,68 164,65 Jalan Arteri Primer Jalan Arteri Sekunder Jalan Kolektor Primer Jalan Kolektor Jalan Lokal Jalan Inspeksi Kanal Fungsi jalan Panjang Jalan (km) 42,29 34,23 83,29 297,69 1.117,83 15,13

Sumber: Buku Saku Kota Makassar, 2009

Pada tahun 2009, konfigurasi jaringan jalan di Kota Makassar direncanakan akan bertambah dengan 2 radial road dan 3 ring road. Radial Road yang dimaksud terdiri dari Center Radial Road, yaitu jalan terusan dari Jl. Mongisnsidi ke arah timur dan South Radial Road yaitu terusan Jl. Veteran ke selatan. Sementara ketiga ring road terdiri dari Inner Ring Road (IRR), Middle Ring Road (MRR), dan Outer Ring Road (CRR). Gambar segmen jalan di bawah ini menunjukkan struktur jalan utama tersebut. Setiap jalan tersebut dibagi dalam beberapa segmen jalan dan Fungsi jaringan jalan Inner Ring Road, Midle Ring Road, Outer Ring Road, Central Radial Road, dan South Radial Road menurut Master Plan JICA.

138

Gambar 5.3 Segmen Jalan di Kota Makassar

Sumber: www.makassar.go.id, 2009

Adapun fungsi jalan disesuaikan dengan fungsi jaringan jalan yang sudah dibuat. Namun, secara umum jalan diperuntukan untuk beberapa aktivitas utama, yaitu mendistribusikan lalu lintas kargo dari dan ke kota, dari lokasi industri KIMA dan terminal kargo, serta
139

menghubungkan subpusat kegiatan aktivitas industri lainnya. Pembangunan jalan dan perencanaannya juga sudah disesuaikan dengan tetap memelihara aktivitas urban dan ruang terbuka.

Tabel 5.18 Panjang Jalan dan Kondisinya pada Tahun 2007-2008 (km) Kondisi Jalan 2007 2008

Baik Sedang Rusak Rusak Ringan Jumlah

645,35 486,02 374,45 87,64 1.593,46

830,38 195,07 97,70 470,30 1.593,46

Sumber: BPS Kota Makassar, 2009

Peningkatan pembangunan fisik Kota Makassar selain jalan juga sangat dirasakan. Pertumbuhan bangunan ini lebih banyak berfungsi sebagai kegiatan perniagaan dan usaha jasa. Aktivitas perbelanjaan ditunjang dengan bangunan mal atau pusat perbelanjaan baru dan lebih representatif. Ekspansi pembangunan aktivitas pariwisata dan perbaikan sarana umum juga dilakukan oleh Pemkot Makassar. Berdirinya Trans Studio dan reklamasi Pantai Losari, serta perbaikan dan penambahan bangunan fisik pantai mengindikasikan komitmen Pemkot Kota Makassar pada industri pariwisata. Kenaikan konsumsi di atas tujuh persen dari tahun 2006 menunjukkan pembangunan fisik kota memang sangat pesat. Pertumbuhan bangunan fisik ini dapat menjadi potensi sekaligus posisi tawar yang menggiurkan bagi para investor. Sekarang pun
140

masuknya investasi ke Kota Makassar juga dilatarbelakangi tersedianya sarana jalan dan fisik kota yang semakin berkembang. Namun, di sisi yang lain, jika pertumbuhan fisik bangunan tidak mampu diimbangi dengan pasokan energi yang cukup, bukan tidak mungkin malah menjadi faktor penghambat bagi kelangsungan pembangunan Kota Makassar.

Tabel 5.19 Nilai PDRB Sektor Lapangan Usaha Bangunan Lapangan Usaha Harga Tahun

2006 Konstan (Miliar Rp) Bangunan Berlaku (%) 885,130 7,540

2007 962,053 7,700

2008 1,130,758 8,090

Sumber: Dinas Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal Kota Makassar, 2009

e. Listrik, Gas, dan Air Perkembangan Kota Makassar yang semakin pesat membutuhkan dukungan energi yang cukup. Listrik dan air sebagai energi dasar sangat penting sifatnya karena selama ini listrik menjadi kendala utama bagi pelaku usaha. Sepenjang pengamatan penulis, sering matinya listik ini sangat mengganggu kinerja pelaku usaha. Banyaknya industri usaha yang bergantung pada listrik tidak jarang tidak dapat beroperasi karena matinya listrik. Usaha warnet, fotokopi, hingga hotel menanggung imbas dari tidak seimbangnya permintaan daya listrik dengan pertumbuhan pasokan listrik. Berbagai cara memang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan ini. PLN Cabang Makassar, Pemerintah Kota Makassar, dan pelaku usaha sebenarnya sudah duduk bersama untuk mencari solusi. Alternatif penggunaan genset untuk menciptakan
141

energy listrik mandiri juga sudah diwacanakan. Namun, pesatnya permintaan energi listrik dari rumah tangga dan tumbuhnya pelaku usaha semakin menguatkan ketimpangan supply and demand. Permasalahan ini sebenarnya juga dialami oleh Kabupaten Purbalingga. Ketimpangan pasokan listrik dengan permintaan industri sangat terasa. Masalah ini dapat mengganggu peningkatan produksi industri di Makassar, dan secara tidak langsung juga mengurangi posisi tawar kota itu yang dikenal sebagai daerah yang proinvestasi. Berikut ini kondisi dan proyeksi tingkat cakupan listrik Kota Makassar.

Tabel 5.20 Kondisi dan Proyeksi Tingkat Cakupan Pelayanan Listrik Kota Makassar Tahun 2008-2014 Tahun Uraian 2008 Kapasitas tersedia (MW) Jumlah Terlayani (Pelanggan) Tingkat Cakupan Pelayanan (%) Sumber: PLN Makassar dalam RPJMD Kota Makassar, 2009 87,00 87,80 88,94 90,48 92,56 95,08 98,07 240,027 246.252 253.598 262,278 272.763 284.843 298.678 160,4 2009 173,0 2010 216,9 2011 302,5 2012 365,9 2013 480,1 2014 535,6

142

Kondisi yang kurang hampir sama juga terjadi pada kebutuhan air bersih. Meningkatnya kegiatan industri, baik sektor pengolahan dan jasa membuat permintaan air bersih sangat besar. Ketimpangan antara kebutuhan air bersih dan tingkat cakupan pelayanan yang dapat diberikan hampir mencapai 25%. Artinya, hanya kurang lebih 75% kebutuhan air bersih yang dapat dilayani oleh PDAM Kota Makassar. Pengurangan kemampuan penyediaan air bersih ini sebenarnya juga disadari oleh Pemkot Makassar sebagai masalah mendasar dalam pembangunan infrastruktur Kota. Masalah abrasi pantai juga menyebabkan kualitas air tanah di Kota Makassar juga semakin buruk. Berdirinya banyak industri jasa seperti hotel dan rumah makan di Kota Makassar harus diimbangi dengan pasokan listrik dan air bersih yang memadai. Berdasarkan data Bappeda Kota Makassar pada tahun 2007 jumlah hotel di Kota Makassar sebanyak 91 hotel. Pada tahun 2008, peningkatan jumlah bangunan hotel sudah mencapai 127 buah.

Tabel 5.21 Kondisi dan Proyeksi Tingkat Cakupan Pelayanan Air Bersih (PDAM) Kota Makassar Tahun 2008-2014 Tahun Uraian 2008 Jumlah Produksi Air (L/dtk) Jumlah Terlayani 140.457 147.957 152.157 157.960 165.457 171.957 180.457 (Pelanggan aktif) Tingkat Cakupan Pelayanan (%) Sumber: PDAM dalam RPJMD Kota Makassar, 2009
143

2009 2.340

2010 2.340

2011 2.340

2012 2.300

2013 2.300

2014 2.840

2.340

73,4

74,1

75,5

76,2

77,1

78,5

81,1

Tabel 5.22 Tingkat Konsumsi Energi Listrik Kota Makassar Lapangan Usaha Tahun

Listrik, Gas, dan Air

2006 220,642

2007 236,384

2008 269,478

Sumber: PDRB Kota Makassar, 2009

Meningkatnya permintaan energi listrik sebenarnya diakui oleh pelaku usaha. Ketua Kadin Kota Makassar memberikan penjelasan bahwa saat ini selain permintaan energi listrik yang tidak dapat dipenuhi seluruhnya, tumbuhnya usaha baru juga turut memicu peningkatan konsumsi listrik dan air di Kota Makassar secara umum. Gambaran ini sebenarnya menunjukkan peningkatan aktivitas masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi. Meningkatnya konsumsi listrik dan air mencerminkan kegiatan aktivitas ekonomi tumbuh. Namun di sisi yang lain, permasalahan daya listrik ini juga mengganggu kinerja pelayanan publik secara umum. Ketika tim penulis melakukan penelitian di Kota Makassar, dalam beberapa hari dalam satu minggu, pemadaman bergilir rutin dilakukan. Pemadaman ini terjadi pada siang hari. KP2T Kota Makassar juga menanggung imbas dari pemadaman bergilir ini. Selain mengganggu proses pengurusan izin usaha, tidak berfungsinya komputer dan sarana penunjang lainnya menimbulkan dampak inefisiensi dari sisi waktu dan responsitas pelayanan perizinan. Dampak ini tentunya dialami langsung oleh pelaku usaha. Berhentinya kegiatan usaha tentu memengaruhi omset dan ketepatan produksi.

144

C. Kota Banjarbaru a. Struktur Ekonomi Kota Banjarbaru adalah kota yang memisahkan diri dari Kabupaten Martapura. Setelah berdiri, kegiatan ekonomi masyarakat tidak lagi bersandar pada sumber daya alam seperti kebanyakan daerah Kalimantan lainnya. Batu bara, intan, dan jenis sumber daya lain tidak dimiliki oleh Kota Banjarbaru. Masyarakat pun mengandalkan kegiatan ekonomi pada sektor jasa sejak pemisahan daerah dilakukan dari Kabupaten Martapura. Bergantungnya masyarakat Kota Banjarbaru terhadap sektor sekunder dan tertier berdampak juga pada sumbangan PAD yang didominasi oleh kedua sektor ini. Sejak tahun 2004, sektor sekunder dan tertier memang menjadi pengungkit utama kegiatan ekonomi masyarakat Kota Banjarbaru. Persentase dari mulai tahun 2004 sampai dengan 2007 menunjukkan bahwa kedua sektor ini secara keseluruhan mencapai di atas 45%. Ini membuktikan bahwa dari tahun ke tahun dominasi kedua sektor ini memegang peranan penting dalam keseluruhan kegiatan ekonomi. Adapun persentase untuk sektor primer pada tahun 2008 mulai mengalami peningkatan. Peningkatan sektor primer ini terjadi karena peran pemerintah yang menggalakkan budidaya tanaman sayuran yang cukup intensif sehingga mampu meningkatkan sektor pertanian. Walaupun demikian, sektor primer di Kota Banjarbaru masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian.

145

Gambar 5.4 Struktur Perekonomian Kota banjarbaru

Sumber: BPS dan Penanaman Modal Kota Banjarbaru, 2010

Pada kelompok sekunder sendiri, sektor yang paling banyak mendominasi dan memberikan kontribusi adalah sektor bangunan. Wacana pemindahan ibukota provinsi Kalimantan Selatan ke Kota Banjarbaru sebenarnya turut memengaruhi penetrasi pengembang untuk membangun perumahan bagi warga setempat. Selain untuk dihuni sendiri, saat ini sektor perumahan juga mulai dipakai untuk kegiatan investasi bisnis. Dengan relokasi ibukota provinsi ke Kota Banjarbaru, nantinya diharapkan harga bangunan akan naik. Para investor pun akan mendapat keuntungan dari naiknya harga properti. Pemilik bangunan seperti perumahan dan gedung perkantoran dalam skala kecil yang semakin meningkat tidak lepas dari wacana relokasi pemindahan ibukota provinsi, selain juga peningkatan aktivitas masyarakat Kota Banjarbaru secara umum. Naiknya sektor bangunan ternyata tidak diikuti oleh sektor industri pengolahan. Sejak tahun 2007, jenis industri ini mengalami penurunan kinerja. Diperkirakan pada tahun 2009 penurunan pada industri ini juga akan terjadi. Sedangkan untuk sektor listrik dan air yang memang sangat diperlukan dalam kegiatan usaha kenaikan yang dicatat tidak terlalu signifikan.
146

Peningkatan yang cukup konsisten justru tergambarkan dari kelompok industri tertier. Sebagaimana tim penulis sebutkan sebelumnya, kelompok tertier memang mendominasi kegiatan perekonomian masyarakat Kota Banjarbaru secara keseluruhan. Dominasi sektor tertier ini dapat dilihat dari aktivitas perdagangan yang cukup meningkat. Aktivitas perdagangan ini terutama terjadi di pasar-pasar yang telah dibangun oleh Pemkot setempat. Konsep pengembangan pasar moderen juga mulai dibuat dalam rangka mengakomodasi peningkatan kegiatan perdagangan. Saat ini Pemkot setempat sudah melakukan beberapa perbaikan dan relokasi pasar agar lebih strategis dan tidak mengganggu kemacetan jalan raya. Konsep pembangunan kota yang juga mengedepankan dimensi perdagangan dan perindustrian membuat pemerintah setempat melakukan perbaikan dan peningkatan sarana penunjang kegiatan ekonomi. Kelompok tertier lainnya yang juga mengalami peningkatan yang cukup pesat adalah sektor restoran dan perhotelan. Peningkatan usaha restoran dapat ditemui hampir di sepanjang jalan utama Kota Banjarbaru. Usaha rumah makan menjadi sangat berkembang, dan terus mengalami peningkatan dilatarbelakangi dari tingginya permintaan masyarakat setempat. Komposisi mata pencaharian penduduk Kota Banjarbaru adalah pegawai negeri sipil, pedagang, baru disusul oleh petani. Penduduk Kota Banjarbaru yang mayoritas pegawai ini lebih suka untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka seperti makan dengan membeli di luar rumah. Sisi kepraktisan ini membuat banyak usaha makanan dan restoran menjamur di sepanjang sudut kota. Peningkatan jumlah bangunan hotel walau tidak terlalu signifikan, namun juga mulai menggeliat. Strategisnya Kota Banjarbaru yang dekat dengan bandara, terminal, dan dilewati jalan utama trans Kalimantan membuat permintaan hunian hotel mengalami peningkatan. Saat ini, sudah ada investor yang akan membangun hotel di Kota Banjarbaru. BP2T memberikan penjelasan bahwa investor yang berminat menanamkan modal di bidang perhotelan selain karena potensinya yang cukup besar, ketersediaan bangunan hotel yang representatif masih minim. Faktor lain yang turut memengaruhi para investor untuk membangun hotel adalah wacana relokasi ibukota Kalimantan Selatan dan letak strategis Kota Banjarbaru di pulau Kalimantan.

147

Tabel 5.23 Perkembangan Jumlah Hotel/Penginapan Kota Banjarbaru Tahun 2004-2008 Tahun Hotel/ Penginapan Jumlah Kamar

2004 2005 2006 2007 2008

19 20 21 21 21

380 387 454 454 454

Sumber: Banjarbaru dalam Angka, 2010

Selain sektor perdagangan, restoran, dan hotel saat ini perkembangan sektor perbankan di Kota Banjarbaru mengalami kenaikan yang cukup siginifikan. Dukungan sektor keuangan dan kemudahan dalam bertransaksi untuk kegiatan ekonomi kelompok jasa sangat penting. Munculnya perbankan nasional di Kota Banjarbaru untuk berekspansi bisnis memberikan indikasi bahwa potensi yang ada memang cukup menjanjikan. Pada tahun 2007, perkembangan sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya memiliki kecenderungan meningkat. Akses kredit dari bank swasta nasional maupun lembaga keuangan lainnya yang semakin mudah dan banyak variasi membuat nilai tambah bagi kegiatan usaha. Banyak masyarakat Kota Banjarbaru yang memformalkan izin usahanya ke BP2T untuk mendapatkan legitimasi usaha sebagai syarat pengajuan kredit. Meningkatnya formalisasi izin usaha oleh masyarakat untuk peningkatan permodalan usaha juga tidak lepas dari dukungan BP2T kepada sektor usaha kecil untuk mandiri

148

dan berdikari. Caranya dengan memperpendek waktu proses formalisasi izin SIUP. Dampaknya cukup berhasil karena dari sisi kuantitas jumlah izin yang dikeluarkan untuk usaha kecil cenderung meningkat.

b. Tumbuhnya Izin Usaha Perkembangan Kota Banjarbaru yang bertumpu pada sektor industri sekunder dan tertier membuat permintaan untuk memformalkan kegiatan usaha cukup banyak dari sisi kuantitas. Dari jumlah surat keputusan izin yang dikeluarkan, sebagian besar perizinan masih didominasi oleh sektor usaha kecil. Berdirinya BP2T Kota Banjarbaru dari beberapa wawancara yang dilakukan oleh tim peneliti memang ikut memengaruhi berdirinya usaha jasa, seperti warnet, rumah makan, hotel, dan jenis usaha jasa turunan lainnya. Dari semua proses perizinan yang dilayani oleh BP2T Kota Banjarbaru, perizinan yang paling dominan adalah izin gangguan (HO) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Dari sisi kontribusi pendapatan untuk PAD, dua izin ini juga memberikan sumbangan terbesar. Pada tahun terakhir ini, sumbangan dari pengurusan izin HO dan IMB mencapai dua miliar rupiah. Maraknya izin IMB dan HO juga tidak lepas dari berkembangnya pembangunan perumahan dan jasa konstruksi lainnya di Kota Banjarbaru. Peningkatan jumlah izin ini diimbangi dengan jumlah retribusi yang diperoleh BP2T untuk PAD pemerintah kota Banjarbaru. BP2T memang dibebankan target PAD dalam menyelenggarakan pelayanan perizinan bagi masyarakat.

149

Tabel 5.24 Perkembangan Jumlah Surat Keputusan Izin dan Penerimaan Retribusi BP2T Kota Banjarbaru
Tahun dan Jumlah

2004 SK Perizinan Retribusi (Rp) 172.926.150 536

2005 1.823

2006 2.138

2007 2.454

2008 3.184

2009 2.352

1.203.603.173 1.780.721.729 2.092.552.217 2.518.877.502 3.004.958.695

Sumber: BP2T Kota Banjarbaru, 2010

Dari sisi perdagangan, data menunjukkan dari tahun 2007 tren secara umum peningkatan perizinan usaha kecil masih mendominasi. Peningkatan untuk memformalkan dari masyarakat setempat, selain kemudahan dan perbaikan yang terus dilakukan untuk menyempurnakan pelayanan perizinan, program insentif juga menjadi pengungkit utama untuk mengurus perizinan.

150

Tabel 5.25 Jumlah Izin Perdagangan Pengusaha Besar, Menengah, dan Kecil Kota Banjarbaru Tahun Jenis Pengusaha 2007 Kecil Menengah Besar Total Izin SK 359 141 88 588 2008 383 150 109 642 2009 252 100 64 416

Total Retribusi

61.170.000

68.965.000

43.960.000

Sumber: BP2T Kota Banjarbaru, 2010

c. Pertumbuhan PDRB Kota Banjarbaru Setelah pisah dari Kabupaten Martapura, Kota Banjarbaru memang dituntut untuk mandiri. Ketergantungan utama pada sektor sekunder dan tertier memang cukup menjadi pengungkit perkembangan PDRB Kota Banjarbaru secara umum. Reformasi birokrasi yang dilakukan termasuk proses penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha turut memberikan dampak secara tidak langsung kepada proses aktivitas ekonomi. Rentang waktu periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, data yang dikeluarkan BPS Kota Banjarbaru menggambarkan nominal PDRB atas dasar harga berlaku meningkat sebesar 172%.

151

Gambar 5.4 Perkembangan Nominal PDRB atas Dasar Harga Berlaku Kota Banjarbaru Tahun 2004-2008 (miliar rupiah)

Sumber: Perkembangan Indikator Pembangunan Kota Banjarbaru Tahun 2004-2008

d. Pertumbuhan Ekonomi Tren perkembangan PDRB Kota Banjarbaru yang terus meningkat selama lima tahun terakhir juga berimplikasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Kota Banjarbaru secara umum. Ratarata peningkatan pertumbuhan ekonomi lima tahun terakhir sekitar 13,52%. Pertumbuhan yang cukup besar ini menjadi indikator bahwa perkembangan Kota Banjarbaru sendiri relatif masif dengan pertumbuhan ekonomi dua digit.

152

Gambar 5.5 Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarbaru Periode 2004-2008

Sumber: BPS Kota Banjarbaru, 2010

Sektor yang paling progresif perkembanganya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara umum adalah sektor bangunan. Tidak dapat dipungkiri, penetrasi pembangunan properti, baik perumahan atau gedung perkantoran memberikan dampak terhadap percepatan pertumbuhan bangunan. Sektor industri pengolahan mengalami pertumbuhan yang paling kecil dalam memberikan kontribusi pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Menurunnya industri pengolahan sebenarnya dapat dimaklumi karena berdasarkan Rencana Tata Ruang Kota Banjarbaru sendiri kegiatan industri nantinya tidak akan dilakukan di area kota. Sebagai kota yang menggantungkan pada industri jasa, penyediaan sarana jasa akan lebih ditekankan dan merelokasi kegiatan industri pada wilayah tertentu. Relokasi ini nantinya juga akan melibatkan Pemda sekitar.

e. PDRB Per Kapita Peningkatan kuantitas PDRB Kota Banjabaru dari tahun ke tahun berbanding lurus dengan pendapatan perkapita masyarakat setempat. Kegiatan ekonomi yang berjalan selama ini mampu
153

menaikkan pendapatan masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan pendapatan per kapita masyarakat akan memperbaiki kualitas hidup masyarakat itu sendiri. Dengan naiknya pendapatan, daya beli masyarakat pasti naik. PDRB per kapita masyarakat Kota Banjarbaru selama periode 2004-2008 meningkat sekitar 50%. Kenaikan ini seiring dengan semakin majunya aktivitas perekonomian, khususnya kelompok sekunder dan tertier. Jika dilihat dari struktur mata pencaharian, mayoritas masyarakat Kota Banjarbaru adalah pegawai negeri dan swasta, namun perkembangan usaha kecil yang cukup pesat, serta usaha menengah dan besar yang juga mengalami kenaikan turut menyerap tenaga kerja dari sektor nonformal. Berdasarkan data survei tahun 2009 oleh BPS, masyarakat Kota Banjarbaru yang bekerja di sektor UKM mencapai 45%.

Tabel 5.25 Jumlah UKM Menurut Kelompok Sektor Di Kota Banjarbaru Tahun 2006-2008

Sumber: BPS Kota Banjarbaru, 2010

154

Korelasi perizinan yang mudah dengan meningkatnya pendapatan memang tidak dapat dilihat langsung seperti Kabupaten Purbalingga. Namun, secara tidak langsung banyak berdiri usaha nonformal yang kemudian dikonversi menjadi formal melalui BP2T kemudian memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. Permintaan kredit yang semakin marak ikut memperluas usaha yang telah dimiliki saat ini. Pemilik modal tentunya membutuhkan tenaga kerja tambahan untuk membantu perluasan usaha yang dilakukan. Responsitas BP2T dalam memberikan izin sebenarnya ikut memengaruhi realisasi pengembangan usaha atau terbentuknya usaha baru. Adanya pelayanan perizinan usaha yang akuntabel dan responsif memberikan efek positif bagi dunia usaha untuk berkembang, seperti penambahan modal.

Tabel 5.26 Perkembangan PDRB Per Kapita Kota Banjarbaru Tahun 2004-2008 Tahun PDRB Per Kapita Per Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 5.981.843 6.616.994 7.525.497 8.118.764 8.950.185 PDRB Perkapita Per Bulan 498.487 551.416 627.152 676.564 745.849

Sumber: Bappeda Kota Banjarbaru, 2010

Ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat pada umumnya, dan Kota Banjarbaru pada khususnya sebenarnya tidak hanya diukur melalui kuantitas kenaikan pendapatan per kapita semata. Aspek pemerataan pendapatan yang diterima oleh masyarakat juga mesti diperhatikan.
155

Pendapatan yang hanya tersentralisasi pada golongan tertentu saja tidak ada artinya walaupun nilainya tinggi. Adapun pemerataan pendapatan di Kota Banjarbaru rentang waktu 2004-2008 memang mengalami fluktuasi ketimpangan. Namun, pada tahun 2008 pendapatannya cenderung merata. Hal ini terlihat dari nilai Indeks Gini Kota Banjarbaru yang berada pada nilai 0,2.

f. Penyerapan Tenaga Kerja Korelasi perkembangan pendapatan per kapita dengan pertumbuhan jumlah tenaga kerja di Kota Banjarbaru menunjukkan keselarasan. Pertumbuhan dua variabel ini jika disandingkan dengan jumlah usaha yang berkembang juga mengalami korelasi yang positif. Artinya, naiknya jumlah usaha yang ada di Kota Banjarbaru turut memengaruhi bertambahnya jumlah pekerja. Dari rentang waktu 2004-2008 proporsi kenaikan jumlah usaha dan jumlah pekerja terus mengalami kenaikan. Jika melihat komposisi jumlah orang yang bekerja, kebanyakan penduduk bekerja di sektor bangunan. Tumbuhnya sektor usaha kecil dan usaha rumahan ikut menyerap tenaga kerja baik formal atau nonformal.

Tabel 5.27 Pertumbuhan Jumlah Usaha dan Pekerja Kota Banjarbaru Tahun Jumlah Jumlah Usaha 2004 2005 2006 2007 2008 1407 1511 2879 3067 3266 Pekerja 2615 2874 4960 6306 6533

Sumber: BPS Kota Banjarbaru, 2010


156

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh BPS Kota Banjarbaru, saat ini tercatat usaha nonformal yang tidak berbadan hukum sebanyak 17.665 usaha. Mayoritas usaha bergerak di luar sektor pertanian. Penyerapan tenaga kerja dari sektor UKM ini juga cukup tinggi, yaitu sebanyak 30.135 pekerja. Penyerapan tenaga kerja dari sektor UKM ini sangat besar karena dari total tenaga kerja yang ada, sebanyak 44,83% penyerapan tenaga kerja berasal dari sektor UKM. Saat ini, jumlah tenaga kerja yang ada di Kota Banjarbaru menurut Sakernas 2008 sebanyak 65.543 orang. Data yang dipublikasikan oleh BPS Kota Banjarbaru menunjukkan bahwa untuk Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menunjukkan peningkatan yang cukup positif. Artinya, partisipasi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Fenomena yang cukup menarik dari Kota Banjarbaru bahwa TPAK menunjukkan persentase penduduk aktif secara ekonomi dibandingkan dengan penduduk usia kerja.

Tabel 5.28 TPAK dan TPT Kota Banjarbaru Tahun 2004-2008 Tahun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja 2004 2005 2006 2007 2008 53,78 59,50 58,17 61,68 63,47 Tingkat Pengangguran 8,71 9,38 9,83 9,41 11,54

Sumber: BPS Kota Banjarbaru, 2010

157

Krisis global yang menghantam dunia pada akhir tahun 2008 ikut memengaruhi tingkat pengangguran di Kota Banjarbaru. Pada tahun 2008, pengangguran di Kota Banjarbaru memang yang tertinggi nilainya dibandingkan tahun sebelumnya. Bertambahnya angka pengangguran di pada tahun 2008 disebabkan ada beberapa perusahaan yang tutup ketika krisis keuangan dunia terjadi. Salah satu perusahaan besar yang telah tutup adalah pabrik pengolahan kayu yang cukup besar di daerah Landasan Ulin. Perusahaan ini cukup banyak menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar. Ketika pabrik itu berhenti beroperasi banyak pekerja yang terkena PHK. Situasi ini berdampak pada angka pengangguran yang tinggi. Selain krisis keuangan dunia, berhentinya pabrik besar seperti pengolahan kayu dan pengolahan intan juga tidak lepas dari faktor lingkungan yang cukup mengganggu. Resistensi yang timbul dari situasi ini adalah meningkatnya angka pengangguran.

g. Menurunnya Jumlah Penduduk Miskin Dampak deregulasi sebuah kebijakan pemerintah daerah dalam melakukan pembangunan salah satunya adalah menurunnya jumlah penduduk miskin. Melihat perkembangan Kota Banjarbaru sejak tahun 2003 garis kemiskinan sudah diperbarui selama tiga kali, yaitu pada tahun 2003, 2005, dan 2007. Perubahan standar garis kemiskinan yang terus meningkat dari tahun ke tahun tidak memengaruhi jumlah penduduk miskin di Kota Banjarbaru. Jika dengan standar garis kemiskinan yang terus meningkat perkembangan tingkat kemiskinan malah menurun, ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan dan daya beli masyarakat cukup tinggi.

158

Gambar 5.5 Perkembangan Garis Kemiskinan Tahun 2003-2007

Sumber: BPS Kota Banjarbaru, 2010

Meningkatnya kegiatan ekonomi Kota Banjarbaru terhadap penurunan angka kemiskinan memang terlihat. Baik langsung maupun tidak langsung, dengan berkembangnya roda perekonomian terutama di sektor sekunder dan tertier ikut berpengaruh pada pengentasan kemiskinan. Banyaknya usaha nonformal dan berkembangnya industri konstruksi dan properti selama lima tahun terakhir turut menjadi pengungkit bagi pengurangan penduduk miskin. Melihat perbandingan antara rumah tangga sasaran (miskin) dan rumah tangga tidak miskin di Kota Banjarbaru adalah 10 berbanding 1. Artinya, dari 10 rumah tangga di Kota Banjarbaru setidaknya hanya terdapat 1 rumah tangga sasaran program layanan dan bantuan sosial.

159

Tabel 5.29 Perkembangan Tingkat Kemiskinan Tahun 2003-2007 Kota Banjarbaru Jumlah Penduduk Tahun Miskin Persentase Penduduk Miskin

2003 2005 2007

8,1 6,6 6,6

5,85 4,53 4,08

Sumber: BPS Kota Banjarbaru, 2010

h. Meningkatnya Pembangunan Infrastruktur Sebagai kota yang akan menuju konsep metropolitan, pembangunan sarana infrastruktur menjadi kebutuhan yang sangat mendasar. Kondisi jalan yang baik dan aman sangat diperlukan dalam rangka kelancaran pembangunan ataupun untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Ketersediaan jalan yang baik juga untuk mendorong proses lalu lintas barang dan jasa. Diharapkan dengan jalan yang memadai, investor juga akan masuk ke daerah sebagai mitra pemerintah dalam melakukan pembangunan lokal.

160

Tabel 5.30 Panjang Jalan Negara, Provinsi, dan Kota Menurut Kondisi Jalan Tahun 2008 (km) Kondisi Jalan Negara Propinsi Kota

Baik Sedang Sedang/Rusak Rusak Rusak Berat Jumlah

26,500 26,500

2,000 6,500 10,500 19,000

383,556 29,899

80,53 11,967 515,175

Sumber: Kota Banjarbaru dalam Angka, 2010

Panjang jalan di Kota Banjarbaru sampai dengan tahun 2008 secara keseluruhan adalah 26,5 km dengan kondisi baik. Panjang jalan ini dimiliki oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan terakhir adalah Pemkot Banjarbaru. Partisipasi masyarakat terhadap pentingnya jalan bagi sarana pembangunan cukup tinggi. Ketika pemerintah kota membangun jalan, tidak ada alokasi dana khusus untuk proses ganti rugi tanah yang akan dijadikan jalan. Tingginya partisipasi dan kerelaan masyarakat tanahnya digunakan untuk pembangunan jalan secara cumacuma menjadi indikasi peran masyarakat dalam menyukseskan pembangunan jalan. Kesadaran untuk membangun jalan muncul karena multiplier effect yang ditimbulkan sangat besar. Muncul usaha-usaha baru di sepanjang jalan ketika ruas itu mulai beroperasi. Munculnya ruas jalan baru oleh Bappeda Kota Banjarbaru nantinya akan dibangun juga rumah kantor (ruko) di sepanjang jalan. Hal ini dilakukan selain karena industri yang dominan di Kota Banjarbaru adalah sekunder dan tertier, lanskap kota yang akan dijadikan sebagai kota metropolitan di kawasan Kalimantan

161

membuat Bappeda Kota Banjarbaru melakukan perencanaan ruas jalan dan sarana pendukungnya sejak dini. Terkait dengan penataan fungsi jalan, Pemkot Banjarbaru juga sudah mulai merelokasi jalan untuk angkutan batubara dengan membangun jalan baru. Sebelum dibangunnya jalan khusus untuk angkutan batubara, pengangkutan batubara masih menggunakan jalan kota. Selain menimbulkan kemacetan dan kerusakan jalan dalam jangka panjang, kemacetan juga ditimbulkan dari aktivitas kendaraan angkutan batubara. Langkah relokasi ini menguntungkan kedua belah pihak, selain lebih cepat dari sisi waktu, kegiatan perekonomian dan sosial kota juga tidak terganggu. Dibangunnya jalan khusus untuk angkutan batubara dan komoditas lainnya juga menjadi komitmen pemerintah setempat terhadap kelancaran aktivitas ekonomi dan penanaman modal usaha di sektor tambang.

i. Listrik dan Air Sebagai kota yang baru membangun, kebutuhan energi untuk menunjang kegiatan perekonomian di Kota Banjarbaru memang sangat vital. Seperti kebanyakan daerah lain, masih kurangnya pasokan energi, terutama listrik yang menjadi kendala utama untuk mengembangkan iklim investasi. Kota Banjarbaru sendiri pertumbuhan sektor listrik, gas, dan air mengalami peningkatan yang fluktuatif. Namun, selama dua tahun terakhir (2007-2008) pertumbuhan ekonomi untuk sektor energi mengalami kenaikan relatif kecil. Kurang tersedianya energi listrik menjadi keluhan utama dari pelaku usaha kecil dan pengusaha. Tidak seimbangnya pasokan dengan permintaan membuat proses kegiatan ekonomi kadangkala terganggu. Usaha seperti percetakan, warnet, dan usaha lain yang menggantungkan sumber listrik sebagai sumber energi utama sering mengeluhkan tidak normalnya pasokan listrik.

162

Tabel 5.31 Pertumbuhan Ekonomi Kota Banjarbaru Tahun 2002-2008 Sektor Ekonomi Tahun

2004 Listrik, gas dan Air Minum 12,47

2005

2006

2007

2008

Rata-Rata 2004-2008

21,33

15,69

22,05

17,58

17,82

Sumber: Bappeda Kota Banjarbaru, 2010

j. Aspek Sosial Karakteristik masyarakat Kota Banjarbaru yang mayoritas pendatang memang memberikan ciri tersendiri dibanding daerah lainnya di Kalimantan. Perbedaan keberagaman suku di Kota Banjarbaru tidak mengurangi kerukunan dan harmonisasi kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Pelaku usaha informal di Kota Banjarbaru juga tidak hanya didominasi oleh masyarakat asli Kalimantan saja, masyarakat pendatang dari suku Jawa dan lintas perbatasan daerah lain juga banyak yang bekerja di Kota Banjarbaru. Karakteristik penduduk ini juga memengaruhi bentuk kegiatan usaha informal seperti kuliner yang cukup lengkap di Kota Banjarbaru. Bentuk usaha yang didominasi kuliner sebenarnya hampir sama dengan Kabupaten Purbalingga. Namun, perbedaan antara dua daerah ini terletak pada bahan dasar yang dipakai. Kota Banjarbaru banyak menggunakan ikan sebagai bahan utama kuliner, sedangkan Kabupaten Purbalingga lebih banyak menggunakan ayam sebagai bahan baku utama kuliner. Sebagai kota jasa, munculnya kegiatan usaha informal penjualan makanan tidak lepas dari mata pencaharian penduduk Kota Banjarbaru yang didominasi pegawai. Mayoritas penduduk setempat (khususnya perempuan) lebih suka menyediakan makanan untuk keluarga
163

dengan cara membeli di luar rumah daripada memasak di dapur. Selain lebih praktis, dari sisi waktu dan pekerjaan yang harus dijalani tidak memungkinkan bagi sebagian ibu rumah tangga untuk memasak di rumah. Kepedulian dunia usaha terhadap kemajuan pendidikan juga tampak dari adanya partisipasi dunia usaha pada pembangunan sarana infrastuktur pendidikan. Perusahaan Pupuk Kaltim sebagai salah satu perusahaan besar memberikan bantuan pembangunan perpustakaan untuk tingkat sekolah dasar di Kota Banjarbaru. Kepedulian ini tentu saja menggambarkan bahwa keseimbangan hubungan antarstakeholder cukup terjalin dengan baik. Namun demikian, penguatan peran yang masih lemah dari kalangan dunia usaha, khususnya keberadaan KADIN di Kota Banjarbaru menjadi pekerjaan rumah yang mesti dibenahi oleh pemerintah dan dunia usaha. Selain berimplikasi pada penguatan peran masing-masing dalam pembangunan, kegiatan CSR yang dilakukan oleh pelaku usaha dapat diintegrasikan dengan rencana pembangunan yang dibuat Pemkot Banjarbaru. Saat ini, penguatan peran dunia usaha dalam pembangunan sosial kemasyarakatan di Kota Banjarbaru masih belum maksimal. Semakin berkembangnya dinamika perekonomian Kota Banjarbaru juga membawa dampak terhadap aktivitas kegiatan sosial ekonomi masyarakat pada malam hari. Bahkan, Kota Banjarbaru pada saat malam hari juga hidup karena kegiatan usaha informal seperti kuliner justru ramai pada malam hari. Hal ini turut memacu ide gagasan Walikota setempat untuk membangun pernak-pernik lampu hias dan taman kota sebagai alternatif wisata lokal. Pada malam hari, lampu-lampu hias yang dipasang di sepanjang jalan utama kota semakin menambah hidup suasana Kota Banjarbaru pada malam hari.

164

VI DIMENSI PERIZINAN DAN KOMPARASI ANTARDAERAH

Perizinan pada dasarnya bukan sekadar urusan administratif semata, namun lebih dari itu menyangkut aspek sosial budaya dan politik masyarakat di sekitarnya (Rustiani, 2001). Setidaknya terdapat tiga dimensi yang terkait dalam upaya membedah fenomena perizinan di Indonesia, yaitu sosial budaya, politik, dan ekonomi. Berikut penjabaran dari masing-masing dimensi tersebut.

Dimensi Sosial Budaya Dilihat dari dimensi sosial budaya, fenomena perizinan usaha ternyata melibatkan banyak relasi, dan membentuk sebuah sistem tersendiri yang cukup rumit. Pembentukan sistem tersendiri ini berjalan melalui sebuah proses yang hampir alamiah di mana proses-proses dalam perizinan usaha, sebagaimana pungutan, dikomunikasikan serta disosialisasikan secara multilevel sehingga menjadi hal yang wajar dilakukan dalam pengurusan berbagai macam izin. Paling tidak terdapat dua faktor dominan yang membentuk budaya ini. Faktor pertama berasal dari pemerintah sebagai pemberi layanan. Etos kerja pegawai pemerintah, terutama pemberi izin yang masih rendah dan masih jauh dari service oriented. Hal ini berkolerasi terhadap pelayanan yang tidak menempatkan kepentingan masyarakat sebagai hal utama. Faktor kedua berasal dari masyarakat sebagai pihak pemohon. Sebagian besar masyarakat masih senang menggunakan cara-cara kompromis ketika harus berhadapan dengan prosedur birokrasi perizinan. Layanan perizinan usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga mendapat dukungan positif, baik dari internal yaitu pegawai-pegawainya dan eksternal yaitu masyarakat sebagai pemohon izin. Dilihat dari dimensi sosial budaya, layanan perizinan usaha di Kabupaten Purbalingga didukung oleh etos kerja pegawai yang cukup tinggi. Sebagai pihak pemberi layanan, pegawai di kantor perizinan memiliki prinsip dasar yang diterapkan dalam pemberian layanan perizinan, yaitu Customer adalah segalanya, Mengubah paradigma pelayanan, Mengubah sikap mental, dan Mendekatkan diri kepada customer. Penerapan
165

keempat prinsip tersebut diakui oleh pegawai menjadi semangat dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, terutama kalangan pengusaha. Selain dari pihak pemerintah sebagai pemberi layanan, masyarakat sebagai pemohon dan penerima izin turut mendukung berjalannya sistem dan prosedur yang telah ditetapkan. Secara umum terlihat karakteristik masyarakat Purbalingga yang taat dengan aturan dan sistem yang berlaku. Fenomena yang mirip terjadi di Kota Banjarbaru di mana jika dilihat dari dimensi sosial budaya, pemerintah maupun masyarakat memberikan dukungan bagi penerapan sistem layanan perizinan yang telah direformasi. Bahkan, bukan sekadar patuh pada prosedur, masyarakat dalam hal ini pengusaha juga turut memberikan masukan dan secara bersama-sama mencari solusi permasalahan terkait dengan perizinan usaha. Namun, yang masih kurang adalah akses pengusaha untuk terlibat dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan dunia usaha. Kondisi sosial budaya yang agak berbeda terjadi di Kota Makassar. Sebagai salah satu kota yang memiliki potensi besar di bidang usaha, Pemkot Makassar dapat dikatakan kurang berhasil dalam melakukan reformasi layanan izin usahanya. Penyebabnya antara lain karena budaya aparatur pemerintah dan masyarakat yang belum secara proaktif menjalankan sistem yang telah dibentuk. Meskipun telah berupaya mereformasi layanan perizinannya, namun praktik suap masih terjadi dalam proses perizinan. Hal ini diakui, baik oleh aparat pemberi layanan izin maupun pengusaha yang mengurus izin. Fenomena ini menunjukkan adanya perilaku moral hazard yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah.

Dimensi Politik Dimensi kedua dalam perizinan usaha adalah dimensi politik. Dimensi ini terkait dengan faktor kekuasaan dan kebijakan pemerintah. Dari sisi politik, perizinan dapat berubah menjadi suatu hal yang negatif ketika pemerintah sebagai pihak pemberi layanan memanfaatkan layanan ini sebagai kesempatan untuk memupuk PAD melalui pengenaan tarif yang terlalu tinggi. Ditambah lagi diskriminasi yang sering dilakukan dengan menyegerakan pihak-pihak yang mampu membayar suap untuk mendapatkan layanan tersebut. Hal ini terjadi ketika tidak adanya transparansi dalam hal sistem, prosedur, biaya, dan waktu pengurusan izin. Pada layanan birokrasi termasuk perizinan, Sjaifudian dkk melihat beberapa kendala, yakni lemah dalam
166

konsistensi dan kemauan politik, tidak disusun secara sistemik dan cenderung reaktif, tindakan politis semata, ekspresi kedermawanan dan mengandung banyak bias. Secara keseluruhan, kelemahan dalam koordinasi dan sistem informasi ini menyebabkan layanan birokrasi menjadi tidak efisien dan membuka peluang kebocoran. Pelayanan publik yang diberikan pemerintah dewasa ini perlu diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dan bukan untuk menyuburkan ketergantungan. Dalam situasi di mana sumber-sumber publik semakin langka keberadaannya, perlu dikembangkan pemberdayaan di kalangan masyarakat dan aparatur karena dapat mengurangi beban pemerintah dalam pelayanan publik. Sebagaimana dikatakan oleh Thoha .... Peran dan posisi birokrasi dalam pelaksanaan pelayanan publik harus diubah. Peran yang selama ini suka mengatur dan minta dilayani, menjadi suka melayani, suka mendengarkan tuntutan, kebutuhan, dan harapanharapan masyarakat. Buruknya layanan birokrasi perizinan salah satunya ditunjukkan oleh persepsi pelaku usaha kecil menengah yang negatif terhadap layanan yang diberikan. Secara umum layanan birokrasi dalam hal perizinan dianggap menjadi faktor paling menentukan dalam penciptaan iklim yang tidak kondusif untuk berusaha.

Dimensi Ekonomi Dimensi ketiga dalam perizinan usaha kecil adalah dimensi ekonomi. Pada era otonomi daerah dewasa ini, pelayanan perizinan masih dibebankan target untuk menarik pungutan dalam menyelenggarakan pelayanan perizinan. Di beberapa daerah, pungutan pelayanan perizinan memang dilakukan karena melihat potensinya yang besar. Namun demikian, pungutan yang besar dan target yang tinggi akan memengaruhi kinerja dan proses pelayanan itu sendiri. Beberapa daerah yang telah melakukan deregulasi dan debirokratisasi pelayanan perizinan sudah tidak menempatkan target pungutan kepada badan atau kantor pelayanan perizinan. Alasannya karena selain memengaruhi persepsi calon investor yang akan masuk ke daerah, biaya tinggi yang ditetapkan juga tidak menjamin praktik budaya permisif tidak akan terjadi.

167

Iklim investasi yang baik tidak lepas dari proses perizinan yang baik, akurat, dan responsif. Sudah selayaknya pelayanan perizinan sebagai bagian dari pelayanan publik menjadi pengungkit dalam melakukan proses percepatan pembangunan di daerah. Peran pembangunan dewasa ini sudah berubah dengan pemerintah yang menjadi aktor utama. Reorientasi pelaksanaan pembangunan yang mengikutsertakan masyarakat dan dunia usaha mutlak diperlukan karena beban dan peran negara semakin lama semakin besar. Dimensi ekonomi adalah kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dan iklim yang kondusif. Young (1998) melihat ada dua hal utama guna memperluas kontribusi usaha terhadap perekonomian nasional. Dari sisi supply yakni memberikan dukungan dan dorongan terhadap pengintegrasian pada pasar yang lebih luas melalui kemudahan dalam berusaha. Deregulasi perizinan diperlukan dalam meminimalisir membengkaknya biaya yang tidak pasti. Selama ini tidak dapat dipungkiri bahwa proses izin di Indonesia, khususnya di daerah masih menjadi kendala utama bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Dari sisi demand, diperlukan perluasan ukuran usaha atau skala ekonominya. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pengurusan izin pada berbagai tahap ternyata secara signifikan berpengaruh terhadap kesulitan usaha kecil memperbesar kapasitas produksi dan pasarnya dalam rangka memperbesar skala ekonominya. Tidak kompetitifnya iklim investasi di Indonesia terkait ekonomi biaya tinggi terlihat dari hasil penelitian Kuncoro tahun 2004 pada industri berorientasi ekspor padat karya di 10 Kab./Kota di Indonesia yang menyimpulkan bahwa biaya tambahan karena korupsi mencapai 7,3% dari biaya perusahaan. Sedangkan penelitian Kuncoro 2001 pada 1.736 perusahaan di 285 Kab./Kota di Indonesia menemukan besarnya biaya tambahan sebagai akibat tindakan korupsi mencapai 10% dari biaya total perusahaan. Besarnya biaya tambahan ini tentu akan mengurangi keuntungan dan efisiensi perusahaan. Temuan ini dipertegas kembali penelitian Ari Kuncoro (2008) yang dilakukan di 37 Kab./Kota di Pulau Jawa, dana suap untuk memuluskan sebuah proses bisnis angkanya mencapai 6,5% dari keseluruhan biaya produksi. Artinya, dari setiap Rp100.000,00 biaya produksi, maka Rp6.500,00 di antaranya merupakan komponen biaya suap. Budaya permisif (korupsi) dan

168

ekonomi biaya tinggi ini bukan hal baru lagi dalam ranah birokrasi, khususnya penyelenggaraan pelayanan perizinan di Indonesia. Dilihat dari dimensi ekonomi, layanan perizinan yang diselenggarakan oleh KPPT Kabupaten Purbalingga menunjukkan biaya yang rendah dan prosedurnya pun cukup transparan. Semua biaya perizinan telah diatur dengan jelas melalui peraturan daerah dan peraturan bupati. Praktik korupsi misalnya berupa suap. Reformasi layanan perizinan usaha di Kota Makassar belum menunjukkan adanya transparansi dan biaya rendah dalam pengurusan izin usaha. Masyarakat masih berpikir pragmatis untuk mendapatkan pelayanan instan sehingga mau mengeluarkan biaya berapa pun yang diminta aparat.

Komparasi Layanan Perizinan Antardaerah Kendala utama permasalahan perizinan di daerah sebelum adanya peraturan one stop service adalah terjadinya inefisiensi di semua lini penyelenggaraan pelayanan. Aspek waktu, biaya, dan banyaknya meja pelayanan yang harus dilalui dalam pembuatan izin semakin memperlama proses pembuatan izin. Waktu dan biaya yang tidak jelas, pungutan liar yang dianggap wajar, serta tidak adanya transparansi biaya perizinan menjadi permasalahan utama yang dihadapi para pembuat izin. Pemerintah daerah pun berlomba-lomba membuat model pelayanan perizinan yang mampu menjawab permasalahan, terutama menyangkut waktu dan biaya dalam proses pembuatan izin. Pada umumnya, daerah-daerah yang telah berhasil melakukan reformasi perizinan usaha memiliki indikator-indikator dalam proses pemberian layanan izin. Keputusan Menpan No.81 Tahun 1993 tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum menjadi rujukan prinsip dasar dalam pelayanan perizinan. Prinsip sederhana, jelas, aman, transparan, efisien, ekonomis, adil, dan tepat waktu menjadi landasan dalam menjawab permasalahan penyelenggaraan perizinan seperti lamanya waktu dan biaya yang tidak transparan. Perbandingan aspek-aspek pemberian izin usaha pada tiga daerah penelitian hanya akan difokuskan pada aspek waktu dan biaya. Berikut perbandingan dari tiga daerah penelitian (Kabupaten Purbalingga, Kota

169

Makassar, dan Kota Banjarbaru) perihal aspek waktu dan biaya penyelenggaraan pelayanan perizinan tersebut. Tabel 6.1 Waktu yang Dibutuhkan untuk Pengurusan Izin pada Tiap Kota Berdasarkan Jenis Izinnya
Jenis Izin Kab. Purbalingga (hari) Makassar (hari) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Surat izinUsaha Perdagangan/SIUP Tanda Daftar Perusahaan/TDP Tanda Daftar Industri/TDI-IUI Tanda Daftar Gudang/TDG Izin Penumpukan Barang Izin Pameran dan Promosi Dagang Izin Reklame IMB Izin Peruntukan Penggunaan Tanah/IPPT 12 10 6 2 10 12 3 8 8 2 9 5 6 6 3 7 3 6 6 6 Banjarbaru (hari) 3 3 3 3 3 2 Kota Kota

10. Izin Lokasi 11. Gangguan/HO 12. Izin Pengelolaan Tambang Bahan Galian C 13. Surat Izin Pengeboran Air Bawah Tanah (SIPA) 14. Izin Eksplorasi Air Bawah Tanah

170

15. Izin Perusahaan Pengeboran Air Bawah Tanah (SIPPAT) a. b. Izin Juru Bor Izin Pengeboran Air Bawah Tanah 7

6 6 5 3 2 2 8 8 2 2 2 5 4 6 5 5 6 14 3 3 1 5 4-8

16. Surat Izin Pertambangan Rakyat Daerah 17. Izin Balai Pengobatan/Rumah Bersalin/BKIA 18. Izin Optikal 19. Izin Perdagangan Eceran Obat/TOB 20. Izin Apotik 21. Izin Laboratorium 22. Izin Praktik Spesialis, Dokter Umum, Dokter Gigi 23. Izin Praktik Bidan 24. Izin Praktik Perawat/Perawat Gigi 25. Izin Pengelolaan Tempat Parkir Khusus 26. Izin Pengelolaan Parkir Tepi jalan Umum 27. Izin Trayek 28. Izin Usaha Pengangkutan Orang dan Barang 29. Izin Usaha Jasa Konstruksi 30. Izin Penyelenggaraan Kursus&PAUD 31. Izin Penelitian Riset/Survei 32. Izin Peternakan Unggas 33. Izin Undian Berhadiah

171

34. Izin

Minta

Sumbangan

kepada

Masyarakat

Menindaklanjuti izin yang Dikeluarkan oleh Gubernur 35. Izin Operasional Sekolah 36. Izin Perhotelan 37. Izin Rumah Makan dan Restoran 38. Izin Hiburan Umum (Permanen) 39. Izin Tempat Rekreasi (Permanen) 40. Izin Tempat Olahraga (Permanen) 3 1 1

Sumber: Data Sekunder Penelitian, diolah

Tabel 6.2 Biaya yang Dibutuhkan untuk Pengurusan Izin pada Tiap Kota Berdasarkan Jenis Izinnya (dalam Rupiah)
Jenis Izin Kab. Purbalingga Kota Makassar 1. 2. 3. Surat izinUsaha Perdagangan/SIUP Tanda Daftar Perusahaan/TDP Tanda Daftar Industri/TDI-IUI 0-350.000 100.000-1.000.000 50.000-150.000 Kota Banjarbaru 35.000-200.000 75.000-150.000 35.000-500.000

4. 5. 6. 7.

Tanda Daftar Gudang/TDG Izin Penumpukan Barang Izin Pameran dan Promosi Dagang Izin Reklame (/m2) Minggu: 3.400-34.000, Bulan: 3.600-

500/m2 2.500 m2 100.000/hari

172

1.000.000, Tahun: 9.000-2.500.000 8. 9. IMB Izin Peruntukan Penggunaan Tanah/IPPT 15.000-300.000/m2 8 300-750/m2 300-1.500/m2 400-750/hari, 6.500/ bulan, 55.000/tahun 12. Izin Pengelolaan Tambang Bahan Galian C 13. Surat Izin Pengeboran Air Bawah Tanah (SIPA) 14. Izin Eksplorasi Air Bawah Tanah 15. Izin Perusahaan Pengeboran Air Bawah Tanah (SIPPAT) c. d. Izin Juru Bor Izin Pengeboran Air Bawah Tanah Umum&Eksplorasi: 500.000, Exploitasi Manual: 150.000-625.000, Mekanik: 250.000-1.250.000 17. Izin Balai Pengobatan/Rumah BersalinBKIA 18. Izin Optikal 19. Izin Perdagangan Eceran Obat/TOB 20. Izin Apotik 21. Izin Laboratorium 22. Izin Praktik Spesialis, Dokter Umum, Dokter Gigi 23. Izin Praktik Bidan 100.000 150.000 - 300.000 150.000 150.000 300.000 300.000 200.000-300.000 250.000 450.000 5.000 500.000/titik 550.000-750.000 400.000/titik 350-3.500

10. Izin Lokasi 11. Gangguan/HO

16. Surat Izin Pertambangan Rakyat Daerah

173

24. Izin Praktik Perawat/Perawat Gigi 25. Izin Pengelolaan Tempat Parkir Khusus 26. Izin Pengelolaan Parkir Tepi jalan Umum 27. Izin trayek 28. Izin Usaha Pengangkutan Orang dan Barang Otobus/Angk Barang: 150.000-700.000, Mobil Penumpang: 100.000-400.000 29. Izin Usaha Jasa Konstruksi Berd. Kual usaha: 150.000-1.500.000, sub bid: 50.000-250.000 30. Izin Penyelenggaraan Kursus&PAUD 31. Izin Penelitian Riset/Survei 32. Izin Peternakan Unggas 33. Izin Undian Berhadiah 34. Izin Minta Sumbangan kepada Masyarakat Menindaklanjuti izin yang Dikeluarkan oleh Gubernur 35. Izin Operasional Sekolah 36. Izin Perhotelan 37. Izin Rumah Makan dan Restoran 38. Izin Hiburan Umum (Permanen) 39. Izin Tempat Rekreasi (Permanen) 40. Izin Tempat Olahraga (Permanen)

100.000 50.000 - 100.000

20.000-100.000 25.000-200.000

150.000-1.000.000

5.000/2 lembar (Leges) 3.000 (Leges) 10.000-250.000

150.000-1.800.000 50.000-200.000 50.000-500.000 100.000-216.000 150.000-500.000

Sumber: Data Sekunder Penelitian, diolah Dari gambaran aspek waktu dan biaya perizinan di tiga wilayah penelitian (Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru), aspek waktu dari yang paling cepat cepat di antara ketiganya adalah Kabupaten Purbalingga dan Kota Makassar. Batas paling lama waktu pelayanan perizinan untuk dua wilayah ini adalah 12 hari, sedangkan Kota Banjarbaru batas
174

pelayanan perizinannya adalah 14 hari. Adapun untuk jenis pelayanan perizinan yang paling banyak dilayani dilakukan oleh Kota Banjarbaru. Jenis izin tidak hanya terkait dengan pelayanan perizinan saja, tapi nonperizinan juga dilayani. Sedangkan untuk Kabupaten Purbalingga dan Kota Makassar, jenis pelayanan hanya diberikan untuk perizinan saja. Dari segi transparansi biaya, Kabupaten Purbalingga dan Kota Banjarbaru sudah mencantumkan biaya untuk setiap izin. Pembuat izin dapat melihat langsung berapa biaya yang harus dibayar melalui informasi yang ada di Kantor Pelayanan Perizinan setempat atau menggunakan media lain, seperti pamflet dan media sejenis lainnya. Adapun di Kota Makassar sampai dengan penelitian dilakukan tidak mencantumkan biaya perizinan. Besaran biaya izin ditentukan oleh dinas teknis terkait. Papan informasi mengenai biaya izin tidak tampak di dalam Kantor Pelayanan Perizinan. Dari sisi pembayaran biaya izin, Kabupaten Purbalingga dan Kota Banjarbaru memiliki mekanisme pembayaran retribusi izin langsung di kantor pelayanan perizinan melalui kasir. Jika Kota Makassar tidak ada transparansi biaya izin, untuk mekanisme pembayaran biaya izin dapat langsung dilakukan di bank daerah setempat (Bank Daerah Sulsel). Kantor pelyanan perizinan Kota Makassar juga menyediakan loket khusus untuk bank daerah Sulsel dalam melayani pembayaran izin. Bukti pembayaran izin ini nantinya yang akan dijadikan legitimasi untuk mengambil izin yang telah selesai diurus. Akses kemudahan pembayaran retribusi izin ini yang tidak dimiliki oleh Kabupaten Purbalingga dan Kota Banjarbaru. Namun di sisi lain, transparansi biaya yang ada di Kota Makassar juga menjadi kelemahan sangat mendasar dalam proses pelayanan perizinan pada era otonomi daerah.

175

Tabel 6.3 Tipologi Pelayanan Perizinan Usaha


Daerah Kabupaten Purbalingga Aspek Kota Makassar Kota Banjarbaru

Terciptanya pelayanan perizinan prima untuk mewujudkan Purbalingga menarik bagi investor. Misi:

Mewujudkan Sulawesi Selatan menjadi pintu gerbang promosi, investasi, perdagangan dan lain sebagainya untuk wilayah Indonesia bagian timur *)

Pelayanan Perizinan Prima Bebas KKN Misi:

Meningkatkan kompetensi sumber daya aparatur;

Meningkatkan kualitas pelayanan perizinan yang mudah, cepat, transparan dan pasti; *) Karena visi dan misi KPAP Kota Makassar tidak ditemukan -

Meningkatkan kualitas pelayanan perizinan;

Visi dan Misi Meningkatkan kepuasan pemohon, karyawan dan pemerintah serta fungsi organisasi sebagai penyumbang PAD; Mengembangkan potensi dan peluang investasi daerah terutama yang bertumpu

dalam dokumen data sekunder, maka aspek ini diturunkan dari visi dan misi umum Restra Kota Makassar.

Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam manajemen pelayanan perizinan;

Meningkatkan pengawasan dan

176

pada sumber daya lokal.

akuntabilitas dalam pelayanan perizinan.

Berperan sebagai inisitor reformasi, khususnya dalam bidang perizinan;

Cukup berperan dalam merubah mekanisme kerja KPAP untuk memberikan

Cukup berperan dalam merevitalisasi BP2T;

Sangat berperan dalam merevitalisasi KPPT agar lebih responsif dalam

pelayanan perizinan usaha; Memiliki visi dan misi untuk membenahi pelayanan

Memiliki visi dan misi membenahi pelayanan perizinan untuk meningkatkan investasi di daerahnya.

Figur Pemimpin Daerah -

meningkatkan masuknya investasi; Memiliki visi dan misi untuk membenahi pelayanan perizinan untuk meningkatkan investasi di daerahnya.

perizinan untuk meningkatkan investasi di daerahnya.

Lokasi Kantor

Memiliki kantor tersendiri untuk melakukan pelayanan perizinan;

Kantor berada dalam satu kompleks dengan instansi pelayanan lainnya;

Memiliki kantor tersendiri untuk melakukan pelayanan perizinan;

Lokasi sangat strategis karena berada di jalan utama kota; Lokasi kantor kurang strategis; Luas dan fisik bangunan kurang representative.

Lokasi kurang strategis karena tidak berada di jalan utama kota;

Luas dan fisik bangunan cukup representatif.

Luas dan fisik bangunan cukup representatif.

177

Pemohon izin mengikuti proses pembuatan izin sesuai ketentuan yang berlaku;

Pemohon izin ada yang mengikuti proses pembuatan izin sesuai ketentuan yang berlaku;

Pemohon izin mengikuti proses pembuatan izin sesuai ketentuan yang berlaku;

Karakter budaya Jawa sangat terasa dalam proses pemberian pelayanan perizinan. Karakter budaya Bugis Makassar cukup terasa dengan

Karakter budaya Jawa cukup terasa karena mayoritas masyarakatnya adalah pendatang dari suku Jawa.

Sosial Budaya

munculnya budaya instan/cepat dalam proses pembuatan izin ( kadang tidak mengikuti proses pembuatan izin sesuai prosedur kerja).

Waktu

Rata-rata pembuatan izin dilakukan 2 sampai 12 hari

Rata-rata pembuatan izin dilakukan 6 hari sampai 12 hari.

Rata-rata pembuatan izin dilakukan 2 hari sampai 14 hari

Biaya

Transparansi biaya pembuatan izin ada; Tarif pembuatan izin antara

Transparansi biaya pembuatan izin tidak ada;

Transparansi biaya pembuatan izin ada;

Rp0,00 s.d. Rp1.500.000,00.

Tarif pembuatan izin tidak dipublikasikan.

Tarif pembuatan izin antara Rp500,00 s.d. Rp1.800.000,00.

Terjadi perubahan gaya hidup; Masyarakat peduli dengan pentingnya

Pembangunan sarana fisik kota sangat terlihat

Pembangunan sarana fisik kota cukup maju

178

sanitasi; Dampak Sosial Masuknya Investor Adanya peningkatan kesadaran pentingnya pendidikan untuk anak; Ada perubahan tugas dan fungsi anggota keluarga (istri) menjadi tulang punggung keluarga. Kadin tidak aktif; Asosiasi pengusaha kontraktor (Gapensi) dan pengusaha industri rambut berperan aktif; Kepemilikan kendaraan bermotor sebagai indikator keberhasilan seseorang;

Korelasi masuknya investor dengan kesadaran pendidikan kurang terlihat;

Pembangunan perumahan berkembang pesat

Adanya relokasi kegiatan industri dari pusat kota ke kawasan industri KIMA guna mengurangi polusi udara, suara, air.

Kantor Kadin ada; Ada pertemuan rutin antara anggota Kadin dengan pemda;

Kantor Kadin ada; Tidak ada pertemuan rutin antara anggota Kadin dengan Pemda;

Peran Kadin dan Lembaga lain Ada pertemuan rutin antara pemerintah dan pengusaha; Keterlibatan Asosiasi pengusaha dalam perumusan kebijakan dan kegiatan di bidang investasi cukup besar. Kecukupan jumlah dan kualitas SDM -

Keterlibatan Kadin dalam pembuatan kebijakan dan kegiatan di bidang investasi masih minim.

Keterlibatan Kadin dalam pembuatan kebijakan dan kegiatan di bidang investasi masih minim.

Kecukupan jumlah dan

Kecukupan jumlah dan kualitas

179

terpenuhi Sumber Daya Manusia Sistem rekrutmen rata-rata pegawai negeri sipil. Kompetensi SDM tercukupi; -

kualitas SDM belum terpenihi Kompetensi SDM belum tercukupi seluruhnya; Sistem rekrutmen rata-rata pegawai negeri sipil. -

SDM belum terpenuhi Kompetensi SDM belum terpenuhi; Sistem rekrutmen rata-rata pegawai kontrak.

Perwakilan Dinas Teknis di Kantor Perizinan Penggunaan Teknologi

Ada

Tidak Ada

Tidak Ada

Penggunaan komputer untuk pelayanan perizinan dan pengelolaan managemen data (front line);

Penggunaan computer untuk pelayanan (front line);

Penggunaan teknologi belum dilakukan secara maksimal karena proses pelayanan dan pengelolaan

Teknologi internet, CD interaktif, dan layar sentuh untuk akses informasi mengenai KPPT; Pengelolaan informasi managemen dengan menggunakan bahasa Vbnet/ aspnet berbasis web. -

Pengembangan SMS Gate Way untuk monitoring pembuatan izin dan pengaduan; Teknologi Scanning untuk database izin yang dikeluarkan; Teknologi website dan layar

manajemen data masih manual.

180

sentuh untuk akses informasi mengenai KPAP. Bentuk Sosialisasi Perizinan Tatap muka, leaflet, spanduk, komputer layar sentuh, website, radio, koran, dan televisi Dukungan Dana APBD Dampak Investasi Tumbuhnya jenis usaha PMA di bidang industri rambut Cukup memadai dari APBD Leaflet, komputer layar sentuh, website, SMS, Media cetak Anggaran kurang memadai dari APBD Tumbuhnya jenis usaha di bidang konstruksi dan jasa Kurang memadai anggaran dari APBD Tumbuhnya jenis usaha di bidang konstruksi dan jasa Leaflet, spanduk, koran

Mekanisme Pengaduan

Tersedia melalui: Telepon; Surat menyurat; Website;

Tersedia melalui: Telepon; SMS Gate Way (proses persiapan);

Tersedia melalui: Telepon; Surat menyurat; Datang langsung ke pusat pengaduan BP2T.

Datang langsung ke pusat pengaduan KPPT. -

Surat menyurat; Website; Datang langsung ke

181

pusat.pengaduan KP2T Memperhatikan kelestarian lingkungan Adanya musyarawarah untuk mencari solusi dampak polusi (suara, air, limbah) dari aktivitas usaha. Koordinasi antara Pemda dan pengusaha Purbalingga Business Forum yang diadakan setiap tahun Koordinasi dilakukan sesuai kebutuhan atau ketika muncul permasalahan. Tidak ada forum yang diselenggarakan secara rutin Izin yang diberikan tidak mengganggu lahan pertanian produktif; Adanya relokasi kegiatan industri di dalam kota melalui penolakan perpanjangan izin lama Adanya izin-izin reklame yang tidak boleh melebihi batas ketentuan untuk menghindari kecelakaan dan keindahan kota

182

Tabel 6.4 Penilaian Aspek Tipologi Perizinan Usaha di Daerah

Penilaian Aspek Tipologi

Tipe

Visi Misi

Figur Pemimpin Daerah

Lokasi Kantor

Karakter Budaya

Waktu

Biaya

Dampak Sosial Masuknya Investor

Peran Kadin dan Lembaga lain

SDM

Perwakilan Dinas Teknis

Penggunaan Teknologi

Bentuk Sosialisasi

Dukungan APBD

Dampak Investasi

Mekanisme Pengaduan

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Cukup

baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Cukup

Kurang

Cukup

Cukup

Baik

Cukup

Baik

Cukup

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Cukup

Baik

Baik

Baik

Cukup

Cukup

Baik

Baik

Cukup

Baik

Cukup

Cukup

Baik

183

Keterangan Tipe A: Kab Purbalingga Tipe B: Kota Makassar Tipe C: Kota Banjarbaru

184

Gambaran Tipologi Perizinan Usaha Berdasarkan penilaian tipologi penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di tiga tempat (Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru), penelitian ini mencoba memetakan karakteristik utama dari masing-masing tipologi. Adapun aspek utama yang menjadi pengungkitnya teridentifikasi antara lain: aspek kepemimpinan, potensi investasi dan peran pengusaha, serta infrastruktur dan mekanisme kerja.

A. Tipologi Figur Kepemimpinan Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga sebagai wilayah yang minim potensi sumber daya alam, selama penyelenggaraan otonomi daerah mampu menjadikan kegiatan investasi sebagai pengungkit kesejahteraan masyarakat lokal. Figur kepemimpinan dari bupati terpilih menjadi faktor utama keberhasilan Kabupaten Purbalingga dalam menyinergikan komitmen

penyelenggaraan pelayanan perizinan yang cepat, murah, dan transparan dengan potensi yang ada. Visi dan misi yang dicanangkan bupati terpilih juga tercermin dari komitmennya untuk memperbaiki dan mengembangkan penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha. Responsifnya pelayanan perizinan yang diberikan oleh Pemda setempat tidak lepas dari keinginan Pemda setempat untuk menjadikan Purbalingga sebagai gerbang kota investasi daerah. Dukungan politik yang diberikan pemangku kebijakan, dalam hal ini kepala daerah, mampu mengubah penyelenggaraan pelayanan perizinan yang proinvestasi. Berbagai inovasi layanan perizinan, baik dalam bentuk insentif atau kemudahan memperoleh izin usaha tidak lepas dari andil pemangku kebijakan. Inovasi dari dukungan Pemda kepada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Purbalingga terlihat ketika inovasi yang sudah diimplementasikan lebih cepat dari inovasi standar pelayanan minimal pelayanan perizinan yang diterbitkan oleh pemerintah pusat. Salah satu inovasi insentif pelayanan yang cukup fenomenal yang diberikan Pemda Kabupaten Purbalingga adalah terbitnya pembebasan retribusi izin. Melalui Peraturan Bupati No.53 Tahun 2007 Tentang Pembebasan Retribusi Izin Gangguan (HO), Tanda Daftar Industri, Izin Usaha
185

Perdagangan, dan Wajib Daftar Perusahaan Bagi Usaha Kecil (Mikro) memberikan manfaat dan apresiasi yang luas oleh para pelaku usaha. Berbagai daya tarik investasi ini yang kemudian membuat para investor, khususnya investor asing merasa nyaman melakukan kegiatan usaha di Kabupaten Purbalingga. Di samping itu, budaya yang tercipta di kalangan pelaku usaha dalam hal pengurusan izin juga sangat kooperatif karena kemudahan yang diberikan. Metode jemput bola yang dilakukan pegawai pelayanan perizinan ikut membantu masyarakat sekaligus proses sosialisasi akan pentingnya pengurusan izin usaha kepada para pelaku usaha. Faktor kepemimpinan yang sangat menonjol di segala bidang pelayanan, khususnya pelayanan perizinan usaha memang memberikan implikasi positif bagi kemajuan Kabupaten Purbalingga secara umum. Para stakeholder, khususnya pengusaha menyatakan hal yang sama. Dukungan fasilitasi, kemudahan perizinan, ketersediaan infrastruktur, sarana dan prasarana, serta bentuk interaksi dua arah yang cukup berimbang menjadi benang merah proses transformasi Kabupaten Purbalingga menjadi kota investasi. Peran pemimpin daerah dalam menerjemahkan fungsi pemerintah dalam kegiatan usaha juga cukup baik. Artinya, peran Pemda Purbalingga sebagai aktor dalam melakukan regulasi, pembinaan, fasilitasi, dan intermediasi cukup terlihat. Sinergitas ini yang coba dibangun oleh pemangku kebijakan sebagai pondasi utama yang terartikulasi dalam langkah-langkah pengembangan kegiatan usaha dan investasi.

B. Tipologi Potensi Daerah dan Peran Pengusaha Letaknya yang sangat strategis membuat Kota Makassar memiliki keunggulan demografis dalam perdagangan di kawasan Indonesia bagian timur. Sebagai gerbang emas Indonesia timur, Kota Makassar memang memiliki peran penting, sekaligus pusat kegiatan investasi asing dan lokal. Geliat kegiatan usaha ini dapat dilihat dari kenaikan kuantitas permintaan izin usaha, baik usaha besar, menengah, dan kecil secara agregat. Letaknya yang strategis serta penyediaan infrastruktur yang memadai membuat Kota Makassar memiliki peran penting secara langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan daerah di sekitarnya.
186

Dalam praktiknya, penyelenggaraan pelayanan perizinan di Kota Makassar juga memiliki peran penting dari sisi legitimasi kegiatan usaha. Jenis usahanya pun tidak hanya terfokus pada satu jenis usaha tertentu saja, namun memiliki jenis usaha yang beragam. Jika membandingkan kualitas pelayanan penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di Kota Makassar,

kecenderungan saat ini persepsi masyarakat memang lebih baik. Masyarakat yang ingin mengajukan izin menjadi lebih tahu kapan izin selesai. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri, praktik budaya permisif yang selama ini menjangkiti penyelenggaraan pelayanan publik di negara ini masih saja ada. Masih ada beberapa orang yang mengurus izin tanpa mengikuti mekanisme dan prosedur yang berlaku. Alasan umum yang ditemui terkait dengan keinginan beberapa orang agar mendapatkan izin secara cepat. Mereka pun rela mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk melakukan hal itu. Di samping itu, dalam proses pelayanan perizinan usaha di Kota Makassar juga masih ada beberapa oknum aparat tidak bertanggung jawab yang menjadi calo izin, dan menawarkan jasanya untuk mengurus proses izin menjadi lebih cepat dari prosedur yang ditetapkan. Jika melihat karakteristik penyelenggaraan pelayanan perizinan di Kota Makassar, tidak dapat dipungkiri permintaan dari masyarakat untuk mengurus izin sangat tinggi. Data agregat yang didapatkan dari kantor pelayanan perizinan Kota Makassar menunjukkan pertumbuhan izin usaha di Kota Makassar dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Perkembangan ini menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia, di samping juga proses perbaikan pelayanan yang dilakukan oleh Pemkot setempat. Namun, beberapa keterangan yang disampaikan oleh narasumber memberikan gambaran bahwa tingginya kuantitas izin usaha di Kota Makassar disebabkan oleh faktor utama potensi daerahnya. Potensi ini dapat dilihat dari letak demografis yang strategis dan infrastruktur yang menunjang kegiatan usaha (pelabuhan, jalan, kawasan industri, dan sebagainya). Namun demikian, kita juga harus melihat bahwa izin yang masuk ke KPAP Kota Makassar sebagian besar adalah para investor nasional dan internasional yang sebelumnya telah membuat izin ke Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) ketika menanamkan modalnya di Kota Makassar. Kedudukan KPAP Kota Makassar dalam rangkaian perizinan investasi yang membutuhkan koordinasi dengan pemerintah pusat hanya memiliki kewenangan untuk memberikan izin pelaksanaan di daerah yang sifatnya teknis. Jadi, jumlah izin yang ada di
187

Kota Makassar tidak dapat direpresentasikan semuanya dikeluarkan oleh KPAP Kota Makassar dari awal sampai dengan keluarnya izin usaha. Berikut ini gambar alur perizinan investasi yang melibatkan BKPM (selaku perwakilan pemerintah pusat) dan posisi KPAP Kota Makassar sebagai perwakilan pemerintah daerah.

Gambar 6.1 Alur Pengajuan Persetujuan/Perizinan dalam Rangka Pendirian Perusahaan PMDN dan PMA

Sumber: Investment Guidelines Kota Makassar, 2009

Berdasarkan pengamatan dan keterangan narasumber, izin yang paling banyak dikeluarkan oleh KPAP Kota Makassar adalah jenis usaha jasa rumahan. Adapun investor yang
188

mengurus izin untuk jenis usaha besar (PMA dan PMDN) sebelumnya sudah melakukan proses pengajuan izin di tingkat pusat melalui BKPM dan lembaga terkait. KPAP Kota Makassar kemudian melengkapi proses rangkaian pengurusan izin ini dari sisi teknis perizinan usaha di tingkat daerah. Hal ini yang kemudian memunculkan praktik rent seeking karena permintaan investor yang tinggi dan ingin cepat menyelesaikan izin usahanya, tidak mengikuti standar prosedur di KPAP Kota Makassar. Signifikansi korelasi antara perbaikan penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha yang dilakukan oleh Pemkot Makassar dan kenaikan jumlah izin usaha dari keterangan berbagai narasumber (khususnya pelaku usaha) tidak terlalu signifikan. Pengungkit utama berkembangnya kegiatan usaha justru dipengaruhi oleh potensi daerah yang memicu para pelaku usaha untuk berlomba-lomba mendirikan usaha di Kota Makassar. Karakteristik ini tentu saja berbeda dengan yang terjadi di Kabupaten Purbalingga. Berkembangnya jumlah usaha dan kegiatan investasi di Kabupaten Purbalingga justru sangat dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan kepala daerah sehingga menciptakan berbagai inovasi pelayanan perizinan usaha. Namun demikian, semangat untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di Kota Makassar terus ditingkatkan dengan adanya berbagai perbaikan dan perubahan yang dilakukan Pemkot setempat. Perbaikan infrastruktur menjadi perhatian utama dari pemangku kebijakan untuk mendukung pelayanan perizinan usaha yang lebih maksimal. Semangat para pengusaha yang tergabung dalam berbagai forum, baik resmi atau tidak resmi juga terus meningkatkan hubungan kepada pemerintah selaku regulator, walaupun prosesnya belum berjalan maksimal.

C. Tipologi Infrastruktur dan Mekanisme Kerja Sebagai kota yang mengandalkan kegiatan usaha di sektor jasa, masyarakat Banjarbaru memang cukup banyak berinteraksi dengan pelayanan perizinan usaha. Dari elaborasi data yang didapatkan di lapangan, karakteristik penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di Kota Banjarbaru dapat dikatakan masih dalam tahap membangun. Artinya, baik dari sisi infrastruktur,

189

penguatan kapasitas organisasi, dan mekanisme sistem kerja yang ada saat ini masih terus ditingkatkan sampai dengan tahap ideal yang ingin dicapai. Wacana relokasi ibukota Kalimantan Selatan dari Banjarmasin ke Banjarbaru ikut memengaruhi rencana kebijakan Pemkot Banjarbaru untuk berbenah. Walaupun dari sisi alokasi dana kantor pelayanan perizinan Kota Banjarbaru tidak mendapatkan dukungan yang maksimal dari Pemkot setempat, proses perbaikan sarana dan prasarana serta mekanisme kerja organisasi tetap dilaksanakan secara maksimal. Ini terbukti dari masuknya sektor swasta yang membantu pengadaan sarana dan prasarana kantor pelayanan perizinan Kota Banjarbaru. Dukungan swasta ini menjadi penting untuk menutupi minimnya alokasi dana dari pemerintah daerah. Faktor kepemimpinan dari kepala kantor pelayanan perizinan terpadu sangat memengaruhi budaya organisasi dan pengembangan organisasi. Standar pelayanan minimum dan pengaturan sumber daya manusia terus diperbaiki dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Aktivitas interaksi antara pemimpin dan pegawai di kantor pelayanan perizinan rutin dilakukan setiap hari, seperti pengarahan kegiatan kerja pegawai, pemberitahuan informasi organisasi, sampai dengan prosesi pembacaan doa bersama.

Format Ideal Perizinan Usaha Pelaksanaan otonomi daerah membawa implikasi pada derajat kewenangan daerah untuk menciptakan dan menyelenggarakan pola perizinan usaha yang mandiri, efisien, dan akuntabel. Orientasi akhir dari terbentuknya pelayanan perizinan yang ideal adalah menjadi salah satu tools dalam menarik para investor untuk menanamkan modalnya di daerah. Terselenggaranya kegiatan usaha akan memberikan dampak terhadap penciptaan lapangan kerja dan sumber dana untuk APBD dari pajak dan retribusi. Faktanya, pola pelayanan perizinan yang dirumuskan pemerintah justru menjadi kontraproduktif bagi sebagian daerah. Selain dari sisi reabilitas perizinan yang tidak pasti karena peraturannya yang terus berubah, karakteristik setiap daerah yang berbeda di Indonesia membuat implementasi format pelayaan perizinan dari pemerintah pusat tidak dapat mengakomodasi semua lokalitas daerah. Lokalitas ini dapat diartikulasikan secara luas, baik sebagai sistem budaya, sistem politik, ekonomi, dan juga sistem sosial.
190

Kelemahan utama yang dikeluhkan oleh daerah (Kab. Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru) ketika proses penelitian ini berlangsung adalah pemerintah pusat memukul rata semua daerah dalam mengimplementasikan peraturan pelayanan perizinan. Kota Makassar misalnya, berpendapat peraturan yang dibuat pemerintah pusat sejatinya dapat juga memberikan ruang bagi daerah agar dapat memodifikasi pelayanan perizinan usahanya. Idealnya, jarak antara kantor pelayanan perizinan dan dinas teknis terkait tidak terpisah. Dinas-dinas teknis yang berkontribusi dalam memberikan legitimasi (pertimbangan dan memberikan izin) ketika proses pengajuan izin berlangsung harus berada dalam satu area dengan kantor pelayanan perizinan. Selain memangkas waktu, rentang kendali antara kantor pelayanan perizinan dan dinas teknis akan menjadi lebih mudah. Format ideal pun ditawarkan dan diwacanakan oleh kantor perizinan usaha Kota Makassar. Pada prinsipnya, dengan direlokasikannya dinas-dinas teknis pendukung untuk pelayanan perizinan usaha ke dalam satu areal (kompleks), maka proses koordinasi dan rentang kendali dapat dilakukan dengan lebih efisien. Waktu pengurusan izin pun akan dapat dipangkas. Adapun gambaran layout kantor pelayanan perizinan usaha yang dikehendaki oleh KPAP Kota Makassar adalah sebagai berikut.

191

Gambar 6.2 Format Ideal Komplek Kantor Perizinan Usaha Usulan KPAP Kota Makassar

Frontliner

DINASTEKNIS

DINASTEKNIS

D
DINASTEKNIS

KANTORPELAYANAN PERIZINANSATU PINTU (ONESTOPSERVICES)

A
DINASTEKNIS

C
Sumber: Hasil Olahan Data Lapangan

Apabila format relokasi kantor pelayanan perizinan usaha ideal Kota Makassar msih sebatas tahap rencana, KPPT Kabupaten Purbalingga sudah menerapkan format yang hampir sama itu. Benang merahnya adalah saat ini pegawai KPPT Kabupaten Purbalingga juga diisi oleh pegawai dari dinas teknis yang mendukung proses pembuatan izin. Di dalam KPPT, pegawaipegawai terbaik yang dimiliki oleh masing-masing dinas teknis pendukung (misalnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan sebagainya) bekerja di dalam satu kantor yang sama (KPPT). Tujuannya sama dengan gagasan yang disampaikan oleh KPAP Kota Makassar, yaitu memperkecil rentang kendali penyelenggaraan izin. Selain memangkas dari sisi waktu dan biaya,

192

koordinasi juga akan berjalan dengan lebih efektif jika seluruh perwakilan dinas teknis tergabung dalam satu kantor.

Gambar 6.3 Format Layout Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Purbalingga

Frontliner

KANTORPELAYANANPERIZINANTERPADU
PERWAKILAN PEGAWAIDINAS TEKNIS PERWAKILAN PEGAWAIDINAS TEKNIS

D
PERWAKILAN PEGAWAIDINAS TEKNIS

A
PERWAKILAN PEGAWAIDINAS TEKNIS

C
Sumber: Hasil olahan data lapangan

193

Adapun format penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di Kota Banjarbaru juga menitikberatkan pada aspek integrasi dinas-dinas teknis dengan kantor pelayanan perizinan. Dengan adanya penyatuan kantor atau perwakilan dari masing-masing dinas teknis akan mengeliminasi jarak dan waktu sehingga pada akhirnya akan meningkatkan efektifitas pelayanan perizinan usaha. Saat ini, fungsi kantor pelayanan perizinan usaha yang ada di Kota Banjarbaru kurang lebih sama dengan kantor pos karena hanya mengurus teknis administrasi. Kondisi ini sama dengan proses penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di Kota Makassar di mana fungsi kantor pelayanan perizinan usaha dimaknai sebagai tempat berawal dan berakhirnya berkas administrasi pengajuan izin. Proses verifikasi berkas administrasi masih dilakukan oleh dinas teknis terkait yang letaknya tidak terintegrasi dengan kantor pelayanan perizinan.

194

Gambar 6.4 Format Ideal Kantor Perizinan BP2T Kota Banjarbaru

Sumber: Hasil Olahan Data Lapangan

Pimpinan kepala BP2T Kota Banjarbaru memberikan pandangan dan impian bahwa untuk ke depannya fungsi BP2T yang lebih banyak berfungsi sebagai kotak pos harus segera dibenahi. Kantor dinas teknis idealnya tidak lagi berada terpisah dengan kantor BP2T, tapi berada dalam satu area kantor sehingga rentang kendali dan proses verifikasi berkas administrasi bisa dilakukan dalam satu kantor. Jenis izin idealnya juga tidak hanya terfokus pada perizinan usaha semata, tapi juga diperbanyak dengan memberikan pelayanan selain perizinan usaha. Dari sisi pendelegasian wewenang dan rentang kendali kewenangan, BP2T dan kantor kecamatan idealnya juga terkoordinasi dalam satu koridor sehingga nantinya tercipta tahapan proses izin yang berjenjang dan saling terkait satu sama lainnya. Kelengkapan berkas administrasi yang melibatkan kepala desa atau lurah selama ini dianggap cukup memperlambat proses pembuatan izin sehingga diperlukan satu pintu untuk mengakomodasi dan mempercepat kelengkapan berkas yang dibutuhkan.
195

Karakteristik penyelenggaraan perizinan usaha yang diinginkan oleh BP2T jika berkaca pada daerah yang berhasil menerapkan pola ini adalah Kabupaten Sragen. Badan layanan ini bertujuan untuk mewujudkan pelayanan prima dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja aparatur pemerintah dalam rangka mendorong kelancaran pemberdayaan ekonomi masyarakat. Desentralisasi kewenangan dalam bentuk konsep small management di tingkat kecamatan dan tingkat desa juga dibuat untuk pengurusan izin-izin yang didesentralisasikan. Badan Pelayanan Terpadu mengurus 59 perizinan dan 10 nonperizinan. Pelayanan publik yang diberikan oleh Badan Pelayanan Perizinan Kabupaten Sragen tidak hanya mengurus izin perizinan usaha semata, tapi juga melayani izin lainnya. Dengan mekanisme pelayanan seperti ini, BP2T mengharapkan pemberian izin dapat berjalan dengan maksimal, baik pelayanan untuk perizinan maupun nonperizinan.

Perbandingan dengan Daerah Lain a. Best Practice Badan Pelayanan Terpadu Kabupaten Sragen Pelaksanaan otonomi daerah yang telah bergulir selama hampir satu dasawarsa telah memberikan ruang sekaligus wahana bagi daerah untuk membangun daerahnya dengan lebih mandiri. Pada praktiknya, ada beberapa daerah yang mampu menangkap desentralisasi menjadi momentum dalam melakukan reformasi birokrasi terkait penyelenggaraan pelayanan publik, Kabupaten Sragen salah satunya. Sebagai daerah dengan komitmen kuat dalam melakukan debirokrasi pelayanan, termasuk penyelenggaraan pelayanan perizinan, Kabupaten Sragen telah berkembang pesat dan tumbuh menjadi daerah yang kaya akan inovasi. Keberhasilan dalam mereformasi pelayanan perizinan membuat Kabupaten tersebut menjadi referensi utama bagi daerah lain untuk mereplikasi inovasi dan bentuk keberhasilan lainnya yang telah dicapai oleh Kabupaten Sragen. Perbaikan pelayanan perizinan dan komitmen (political will) Pemda Sragen yang menjadi salah satu pengungkit peningkatan kesejahteraan masyarakat telah menggugah kesadaran Pemda/Pemkot lain untuk meniru Sragen sebagai salah satu referensi dalam memperbaiki dan membangun sistem penyelenggaraan pelayanan perizinan yang lebih representatif.
196

Berikut ini pemaparan singkat best practice potret keberhasilan Kabupaten Sragen dalam melakukan reformasi birokrasi penyelenggarakan pelayanan perizinan. Dipilihnya Kabupaten Sragen sebagai gambaran keberhasilan pelayanan perizinan usaha tidak lepas dari apresiasi dan penghargaan pemerintah pusat dan pemda lain. Sebagian besar data yang ditampilkan dalam pembahasan ini berasal dari bahan presentasi Kegiatan Penataan Sistem Pengaturan Tatalaksana Perizinan Bidang Perekonomian (Penyusunan Pedoman Deregulasi dan Debirokratisasi Proses Perizinan di Bidang Perekonomian yang disusun oleh Kantor Kementerian Negara PAN dan RB dan PKPADK FISIP UI. Latar belakang proses debirokratisasi penyelenggaraan pelayanan perizinan Kabupaten Sragen diawali dari Keputusan Menpan No.81 tahun1993 tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum. Maksud didirikannya BPT Kabupaten Sragen adalah untuk

menyelenggarakan pelayanan perizinan dan nonperizinan yang prima dan dalam satu pintu. Hal tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi penanaman modal dan investasi dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat Kabupaten Sragen. Adapun prinsip dari pelayanan prima adalah sebagaimana yang tertuang dalam Keputusan Menpan No.81 Tahun 1993, antara lain sederhana, jelas, aman, transparan, effisien, ekonomis, adil dan tepat waktu. Dibentuknya Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Sragen oleh Pemda setempat bertujuan untuk mewujudkan pelayanan prima (khususnya pelayanan perizinan), meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja aparatur Pemda Sragen, mendorong kelancaran pemberdayaan ekonomi rakyat, dan yang tidak kalah penting adalah mengubah image dan kepercayaan masyarakat yang rendah terhadap Pemerintah akibat cara pelayanan yang buruk, diskriminasi pelayanan, serta pungli yang tidak wajar. Berbagai perubahan pun dilakukan oleh Pemda untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam rangka mewujudkan konsep pelayanan terpadu one stop service, Pemda Sragen mengubah format Kantor Perizinan Terpadu (KPT) menjadi Badan Perizinan Terpadu (BPT). Proses debirokratisasi ini dilandasi oleh Perda Kab. Sragen No.15 tahun 2003 yang kemudian diperbaiki dengan keluarnya Perda Kab. Sragen No.4 Tahun 2006. Berikut ini perubahan dan perbedaan struktur organisasi KPT menjadi BPT di Kabupaten Sragen.

197

Gambar 6.5 Perubahan Format KPT menjadi BPT Kabupaten Sragen


Berdasarkan Perda Kab. Sragen Nomor 15 Tahun 2003 Struktur organisasi KPT adalah : a. Kepala Kantor Pelayanan Terpadu b. Kepala Sub Bagian Tata Usaha c. Seksi-seksi: Perizinan Pelayanan Bina Program dan Informasi Berdasarkan Perda Kab. Sragen Nomor 4 Tahun 2006 Struktur organisasi BPT adalah : a. Kepala Badan Pelayanan Terpadu b. Kepala Bagian Tata Usaha c. Kepala Bidang: Pelayanan Umum & Pengaduan Perizinan Jasa Usaha Perizinan Tertentu

Melayani 59 perizinan dan 10 nonperizinan dengan 36 personil Sumber: http://bpt.sragenkab.go.id

Adapun untuk fungsi dinas dalam pelayanan perizinan yang diselenggarakan oleh BPT Kabupaten Sragen memiliki empat tugas utama, antara lain: Memberikan pertimbangan teknis melalui Tim Teknis yang ditunjuk; Membina dan mengawasi pelaksanaan izin di lapangan; Bertanggung jawab terhadap PAD; dan Memberi peringatan dan penindakan pada pelanggaran.

Desentralisasi kewenangan kepada struktur organisasi yang lebih rendah, yaitu untuk ranah kecamatan dan desa juga diatur dan terintegrasi dengan sistem pelayanan yang
198

diselenggarakan oleh BPT Kabupaten Sragen. Konsep small management ini memberikan wewenang kepada kecamatan dan desa untuk menyelenggarakan perizinan sendiri. Berikut pelayanan perizinan yang diselenggarakan di tingkat kecamatan dan desa Kabupaten Sragen.

Tabel 6.6 Daftar Layanan Izin BPT Sragen Tingkat Kecamatan 1. Pembuatan KTP dengan on line system 2. Izin Perhelatan 2. Penetapan SK Pengangkatan 3. Izin Penggunaan/penutupan jalan 4. Izin Pertunjukan/Hiburan 5. Izin Tempat Usaha (skala kecil) 6. Izin Salon (skala kecil) 7. Izin Mendirikan Bangunan 5. Pengaturan & Pemanfaatan 8. Izin Bahan Galian Golongan C 9. Izin Tebang dan Angkut kayu 10. Izin Rumah Makan 11. Izin Bengkel (skala kecil) 12. Penerbitan KK 8. Pembentukan Satgas Desa 13. Melaksanakan pengawasan proyek-proyek pembangunan yang ada diwilayah kecamatan. Kekayaan Desa 6. Pembentukan Badan Usaha Milik Desa 7. Pelaksanaan Pembangunan Pedesaan Pamong Desa Terpilih 3. Pengaturan dan Penyusunan Anggaran Desa 4. Pengaturan Kedudukan Keuangan Lurah & Pamong Desa Tingkat Desa 1. Penetapan SK Pengangkatan Lurah Desa Terpilih

199

14. Membuat rekomendasi DP3 para Kepala Unit Kerja dan Satuan Unit Kerja yang ada di kecamatan. 15. Melantik dan mengambil sumpah Lurah Desa, Pamong Desa, dan anggota BPD. 16. Melaksanakan ujian tertulis Carik Desa

Dengan adanya semangat perubahan yang sedang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Sragen, perubahan ke arah penerapan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik pun dilakukan. Salah satunya dengan menyederhakan mekanisme syarat pengajuan izin dan memperbarui standar waktu pelayananan. Biaya yang dibebankan kepada calon pemohon izin juga disesuaikan dengan peraturan yang berlaku dan bersifat terbuka. Untuk memberikan kemudahan dalam kegiatan usaha kepada pengusaha pemula, Kabupaten Sragen juga memberikan keringanan Pembuatan SIUP dan TDP. Selain itu, bantuan gratis pembuatan SIUP dan TDP juga diberikan untuk semua perizinan di kawasan Industri: pengusaha kecil, besar, dan kegiatan industri ramah lingkungan yang menyerap 100 tenaga kerja di zona industri seluas 720 ha. Pola pemberian subsidi gratis pembuatan SIUP dan TDP untuk pengusaha pemula ini juga dilakukan oleh Kabupaten Purbalingga, Kota Makassar, dan Kota Banjarbaru, walaupun dengan mekanisme yang berbeda. Perbedaan implementasi pelayanan one stop service di Kabupaten sebelum dan sesudah memang mengalami perbedaan. Pemetaaan masalah yang terjadi sebelum adanya reformasi perizinan usaha adalah masalah waktu dan biaya yang tidak jelas, pungli yang tidak wajar, rentang kendali yang panjang karena melalui beberapa instansi, serta pelayanan yang buruk. Pelayanan perizinan yang dilakukan BPT Kabupaten Sragen secara umum terbagi menjadi dua, yakni perizinan dan nonperizinan. Adapun waktu untuk mengurus proses izin, bervariasi antara 1 hari sampai dengan maksimal 12 hari. Berikut deskripsi selengkapnya.
200

Tabel 6.7 Pelayanan Perizinan BPT Kabupaten Sragen Pelayanan Perizinan BPT Kabupaten Sragen
1. Izin Prinsip 2. Izin Lokasi 3. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 4. Izin Gangguan &Izin Tempat Usaha (HO/ ITU) 32. Rekomendasi Pendirian Pusat Kebugaran 5. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) 33. Rekomendasi Pendirian Salon Kecantikan 6. Izin Usaha Industri (IUI) 34. Rekomendasi Pendirian Lembaga Pendidikan 7. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 35. Rekomendasi Praktik Bersama Dokter Spesialis 8. Tanda Daftar Industri (TDI) 36. Tanda Daftar Gudang (TDG) 9. Izin Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum 37. Perizinan Penggunaan Ketel Uap, Minyak untuk 10. Izin Usaha Rumah Makan 11. Izin Usaha Salon Kecantikan 12. Izin Usaha Hotel 39. Perizinan penggunaan Bejana tekan 13. Biro/Agen Perjalanan Wisata 40. Perizinan botol baja 14. Izin Pondok Wisata 41. Perizinan Penggunaan Pesawat Angkat dan Angkut 15. Izin Penutupan Jalan 42. Perizinan Penggunaan Pesawat Tenaga dan Produksi 16. Pajak Reklame 43. Perizinan Penggunaan Instalasi Kebakaran 17. Izin Usaha Huller setiap Ketel 38. Perizinan Penggunaan bejana Uap/Pemanas Air atau ekonomiser yang berdiri sendiri/penguapan 28. Izin Pendirian Toko Obat 29. Izin Pengobatan Tradisional 30. Izin Produksi Makanan&Minuman 31. Rekomendasi Pendirian RS. Swasta

201

18. Izin Praktik bersama Dokter umum/Gigi 19. Izin Pendirian Rumah Bersalin 20. Izin Pendirian Balai Pengobatan 21. Izin Praktik Dokter Spesialis 22. Izin praktik Dokter Umum/Gigi 23. Izin Praktik Bidan 24. Izin Praktik Perawat 25. Izin Pendirian Apotik 26. Izin Pendirian Optik 27. Izin Praktik Tukang Gigi 44. Perizinan Penggunaan Instalasi Listrik 45. Perizinan Penggunaan Instalasi Penyalur Petir 46. Izin Trayek Tetap 47. Izin Usaha Angkutan 48. Izin Kursus 49. Izin Usaha Peternakan 50. Izin Pemotongan Hewan 51. Izin Pendirian Keramba Apung 52. Izin Usaha Jasa Kontruksi 53. Izin Praktik Asisten Apoteker 54. Izin Praktik Perawat Gigi 55. Izin Prakek Fisioterapis 56. Izin Praktik Refraksionis Optision 57. Izin Pendirian Depot Air Minum Isi Ulang 58. Izin Pendirian Rumah Sakit Swasta 59. Izin Pendirian Laboratorium Kesehatan

202

Tabel 6.8 Pelayanan Nonperizinan BPT Kabupaten Sragen Pelayanan Nonperizinan Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Sragen

1. Kartu Keluarga (KK) Kec. Sragen 2. Kartu Penduduk (KTP) Kec. Sragen 3. Pelayanan Akte Kelahiran 4. Pelayanan Akte Kematian 5. Pelayanan Akte Pengangkatan Anak 6. Pelayanan Akte Pengakuan dan Pengasuhan Anak (Khusus WNI Keturunan) 7. Pelayanan Akte Perubahan/Ganti Nama 8. Pelayanan Akte Perkawinan 9. Pelayanan Akte Perceraian 10. Pelayanan informasi dan pengaduan

Laporan materi Presentasi Kegiatan Penataan Sistem Pengaturan Tatalaksana Perizinan Bidang Perekonomian (Penyusunan Pedoman Deregulasi dan Debirokratisasi Proses Perizinan di Bidang Perekonomian) yang disusun oleh Kantor Menteri Negara PAN dan RB dan PKPADK FISIP UI, setelah penerapan one stop service terdapat perbedaan yang signifikan. Pada praktiknya, dari sisi waktu dan biaya menjadi lebih pasti. Pungli juga tidak ada. Seluruh izin juga
203

diproses bersamaan, dan selesai di satu tempat. Waktu yang dijanjikan oleh BPT Kabupaten Sragen untuk mengurus izin juga lebih jelas, yaitu maksimal 12 hari izin sudah selesai semua. Penyelenggaraan izin juga dirasakan lebih cepat, mudah, nyaman, dan transparan. Berdasarkan survei kepuasaan pelanggan, score index yang diperoleh nilainya 81 di mana nilai ini masuk dalam kategori sangat memuaskan. Selain itu, waktu penyelesaian proses izin juga lebih cepat 30% dari waktu yang ditentukan. Keberhasilan ini menjadi cermin bahwa program pelayanan prima yang dibangun dan dikemas oleh Kabupaten Sragen berhasil mengurangi kelemahan yang ada sebelum program one stop service dilaksanakan. Berdasarkan capaian keberhasilan yang diperoleh Pemda Kabupaten Sragen, terdapat kunci sukses yang dinilai menjadi pengungkit utama berjalannya reformasi pelayanan perizinan one stop service. Untuk dapat melayani masyarakat dengan prima, tugas birokrat (BPT) adalah memberikan pelayanan sebagai berikut: 1. BPT perlu kewenangan yang penuh (menerima, memproses, menandatangani); 2. Dinas teknis tetap berfungsi pada tugas substansinya (membina dan mengawasi perizinan); 3. BPT perlu komitmen kepala daerah, dukungan dinas, dan DPRD; 4. BPT perlu merubah sikap mental sebagaimana tata nilai profesional swasta; dan 5. Ada pengertian dengan mengurus izin masyarakat mendapat banyak manfaat.

b. Dampak Positif Keberadaan PBT Kabupaten Sragen Dampak keberadaan Badan Pelayanan Terpadu Kabupaten Sragen ternyata menimbulkan multiplayer effect yang sangat signifikan, antara lain:

204

Tabel 6.9 Multiplayer Effect Keberadaan BPT Sragen Investasi meningkat Penyerapan tenaga kerja di sektor industri meningkat Jumlah perusahaan yang memiliki legalitas usaha Perkembangan jumlah perizinan meningkat (%) Pertumbuhan ekonomi meningkat

2002: 592 M 2003: 703 M 2004: 926 M 2005: 955 M 2006: 1,2 T 2007: 1,3 T

2002: 40.785 2003: 41.785 2004: 44.566 2005: 46.794

2002: 6.373 2003: 6.280

2002: 2.027 2003: 3.170

2004: 4,53 2005: 5,06

2004: 3.332 2004: 7.425 2005: 8.105 2006: 27% 2005: 4.072 2006: 5.274 2007: 4.548 2006: 5,83 2007: 6,08

Ranking I daerah proinvestasi di Jawa Tengah tahun 2005; Peningkatan potensi fiskal (dari urutan 8 terbawah menjadi di atas rata-rata nasional) pada tahun 2003, atau naik 250% dibanding sebelumnya; PAD meningkat dari Rp8,8 M menjadi Rp88,3 M selama 7 tahun; PDRB tahun 2002 2006 meningkat sebesar 57,46%.

205

Model Best Practice Layanan Perizinan Usaha pada Era Otonomi Daerah

Gambar 6.6 Model Best Practice Perizinan Usaha yang Integratif

Temuan, paparan, dan analisis dalam penelitian ini dapat diabstraksikan ke dalam sebuah model best practice perizinan usaha yang integratif. Model ini menjelaskan bagaimana best practice perizinan usaha suatu daerah dapat terbangun pada era otonomi daerah yang memiliki berbagai permasalahan dan harus menghadapi tantangan kompleks. Model ini terdiri dari tiga komponen utama, yaitu komponen modal masyarakat dan karakteristik daerah, komponen modal pemerintahan (governance dalam arti luas), dan komponen model pemerintah pusat.

206

Komponen pertama adalah modal masyarakat dan karakteristik daerah. Letaknya ada di bagian paling bawah model tersebut. Komponen ini berupa modal, kapasitas, kapabilitas, karakteristik khas yang dimiliki daerah tersebut dan melekat pada masyarakat setempat. Di dalamnya terbagi-bagi menjadi enam subkomponen sebagai berikut: a. Ketersediaan dan kualitas tenaga kerja, adanya modal finansial, dan sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut; b. Bahan baku yang tersedia dan sejauh mana proses produksi bisa berjalan dengan baik dalam mendukung rantai produksi perusahaan sehingga menciptakan nilai tambah (value added); c. Kearifan lokal (local wisdom), budaya perusahaan, dan semangat kewirausahaan para pelaku usaha di daerah tersebut; d. Tentu tidak kalah pentingnya adalah terjaganya ketertiban, keamanan, dan cita rasa keramahan masyarakat; e. Komitmen dan kepedulian terhadap lingkungan hidup sehingga setiap aktivitas bermasyarakat, bekerja, berproduksi dalam perusahaan, maupun dalam sektor lain pun harus memerhatikan pelestarian lingkungan. Lebih dalam lagi, bagaimana mampu mewujudkan ekologi hijau (green ecology); f. Seberapa besar pasar yang ada di wilayah tersebut dan kemampuan teknologi yang dimiliki para pelaku usaha.

Komponen kedua adalah modal pemerintahan (governance dalam arti luas). Dalam komponen kedua yang terpenting adalah bagaimana visi dan misi daerah dapat disusun dengan mempertimbangkan interpretasi atas modal pemerintah pusat berupa peraturan-peraturan pemerintah pusat dan intepretasi atas modal masyarakat dan karakteristik kedaerahan yang dimiliki oleh daerah tersebut. Dua arus intepretasi besar ini sangat dinamis. Di satu sisi, peraturan-peraturan pusat kadang secara substansi terlalu umum atau melakukan generalisasi untuk (pukul rata) seluruh wilayah Indonesia. Belum lagi seringnya aturan pusat itu berganti
207

ketika implementasi di daerah belum berjalan dengan sempurna akibatnya minimnya sosialiasi. Hal ini semakin rumit bila peraturan tersebut merupakan produk pertarungan kepentingankepentingan tertentu demi meraih kekuasaan atau melanggengkannya. Sedangkan di sisi yang lain, kemampuan intepretasi pemerintah daerah atas modal masyarakat dan karakteristik wilayah juga tidak kalah penting. Diperlukan kejelian melihat, menganalisis, lalu akhirnya mengejawantahkan modal tersebut ke dalam bentuk visi dan misi daerah. Jadi, visi dan misi daerah merupakan produk akhir dari tarikan-tarikan intepretasi atas peraturan pemerintah pusat dan modal masyarakat dan karakteristik daerah. Hasil akhir visi dan misi daerah tidak bisa serta merta dikatakan sebagai intepretasi yang lebih berat dari salah satu sisi saja, misalnya apakah intepretasi atas peraturan-peraturan pemerintah (central government heavy) atau intepretasi atas masyarakat dan karakteristik daerah (local heavy). Tentu, seberapa besar komposisi di antara keduanya hanya diketahui dan dipahami oleh pemerintahan daerah dengan segenap pranata politik, pelaku usaha, dan masyarakat di daerah tersebut. Ternyata intepretasi atas dua komponen tersebut tidaklah cukup karena dalam penyusunan visi dan misi daerah faktor-faktor yang memengaruhi sangat kompleks. Merujuk pada model di atas, di dalam lingkaran penyusunan visi dan misi daerah dipengaruhi juga oleh subelemen lain yaitu: a. Kekuatan dan pengaruh globalisasi yang paling tidak akan menimbulkan tuntutan pembebasan tarif atau penurunan tarif hingga seminim mungkin, terjadi arus masuk dan keluar barang (free flow of goods) dan jasa (free flow of services), hingga sumber daya manusia (free of natural person/skilled-labor); b. Adanya perdagangan bebas sehingga ditandatanganinya perjanjian bebas antara ASEAN dan China (ASEAN China Free Trade Agreement). Daerah harus lebih lihai dalam menyiasati agar mendapatkan berkah positif dari perdagangan bebas dan ACFTA ini. Walaupun untuk hal terakhir, Indonesia dalam posisi yang lemah dan dirugikan. Artinya, keuntungan yang kita dapatkan jauh lebih kecil dibandingkan yang China dapatkan;

208

c.

Otonomi daerah (power shifting from central to local government) dan pemberian wewenang yang lebih besar kepada daerah sebenarnya bisa menjadi peluang. Daerah bisa mengejawantahkan pemikiran-pemikiran mereka sendiri, dan akhirnya mengimplementasikannya tentu setelah ditetapkan dana visi dan misi daerah;

d.

Tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) berperan penting untuk mengatur tata hubungan antarlembaga sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, mengatur agar tidak ada penyalahgunaan wewenang (abuse of power) di antara para aktor yang terlibat. Dengan demikian, ide-ide tersebut dapat disusun tidak hanya secara sistematis dan secara substantif memenuhi syarat, tetapi juga secara prosedural dan mekanismenya pun jelas. Akhirnya, dengan adanya tata kelola yang baik ini menjamin adanya transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, keadilan, dan independensi di dalam proses pemerintahan daerah.

Dari modal pemerintahan (governance dalam arti luas) lahirlah suatu kreativitas, terobosan-terobosan berupa inovasi yang bertujuan meningkatkan pembangunan daerah. Tidak lain tidak bukan, inovasi ini lahir dari proses di dalam modal pemerintahan setelah mempertimbangkan dinamika intepretasi modal pemerintah pusat dan modal daerah dalam bentuk investasi. Untuk dapat melahirkan inovasi tentunya kita harus melalukan serangkaian investasi. Ada yang berisiko tinggi dengan imbal yang tinggi (high risk, high return), atau investasi dengan risiko sedang atau rendah dengan imbal yang tentu tidak setinggi investasi tipe lainnya. Serangkaian investasi dalam konteks ini adalah bidang usaha ekonomi yang bertujuan untuk mendorong penanaman modal yang lebih tinggi lagi baik secara domestik (dari daerah itu maupun dari luar daerah tersebut) hingga penanaman modal asing dari luar negeri. Inovasi yang terus-menerus, kadang gagal tapi tak sedikit yang berhasil, akhirnya melahirkan best practice dalam perizinan usaha (praktik terbaik reformasi perizinan usaha).

209

Hal terakhir yang tidak bisa ditinggalkan adalah langkah yang dilakukan pelaku pemerintahan. Pelaku usaha di daerah (dalam modal pemerintahan) harus pula

mempertimbangkan atau ditujukan untuk kepentingan stakeholders yang luas. Pemangku kepentingan ini pada intinya adalah publik, bukan individu-individu atau elit-elit tertentu. Dengan demikian, fungsi kontrol juga akan berjalan, yakni, apakah produk dari modal pemerintahan tadi selaras dengan apa yang dicitakan/diharapkan publik. Apabila tidak, bisa dipastikan investasi-investasi yang dilakukan tidak akan berhasil, dan tidak akan menjadi ceritacerita sukses reformasi perizinan usaha.

210

VII PENUTUP

Sewindu pelaksanaan otonomi daerah ternyata menimbulkan kompleksitas hubungan dan pembagian kerja pemerintah pusat dan daerah. Pelimpahan kekuasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan pelayanan perizinan usaha secara umum justru menciptakan ketidakpastian dalam berusaha di daerah. Birokrasi yang sulit, tidak transparansinya biaya perizinan, banyaknya praktik rent seeking, waktu pengurusan izin yang lama, sampai biaya tambahan yang harus dikeluarkan oleh pelaku usaha untuk kelancaran kegiatan usahanya menjadi cermin pelbagai persoalan turunan yang terjadi dalam proses pelayanan perizinan usaha. Dari tiga daerah yang menjadi tempat penelitian, masing-masing menghasilkan tipologi karakteristik yang berbeda dalam hal penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha. Kabupaten Purbalingga sebagai daerah yang tidak memiliki potensi sumber daya yang memadai serta lokasi yang tidak strategis ternyata mampu menangkap momentum otonomi daerah sebagai sebuah keuntungan. Peran pemerintah daerah dalam menciptakan iklim investasi daerah melalui deregulasi pelayanan perizinan mampu menjadi pengungkit kemakmuran bagi masyarakat Kabupaten Purbalingga ke arah yang lebih baik. Dukungan political will dari Bupati terpilih dan penyederhanaan proses pelayanan melalui inovasi-inovasi, serta penerapan best practice telah mengubah proses pemerintahan Kabupaten Purbalingga menjadi lebih hidup. Insentif dan iklim usaha investasi yang baik menjadi daya tarik Kabupaten Purbalingga bagi para PMA, khususnya untuk industri pengolahan rambut. Multiplier effect dari berdirinya industri rambut selain dapat menyerap tenaga kerja formal dan informal dengan mekanisme plasma, yang tidak kalah pentingnya adalah industri turunan serta usaha informal yang juga ikut tumbuh. Di Kabupaten Purbalingga, deregulasi perizinan mampu mengikutsertakan pelaku usaha (PMA dan PMDN) sebagai aktor pembangunan daerah secara langsung. Kota Makassar sebagai gerbang emas investasi Indonesia bagian timur memiliki potensi usaha yang sangat besar di mata para investor. Letaknya yang strategis, dukungan sarana dan prasarana, infrastruktur, dan keaktifan para pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usaha
211

menjadi pengungkit utama tumbuhnya permintaan izin secara kuantitatif. Namun demikian, korelasi proses deregulasi penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha, khususnya dalam pembenahan infrastruktur kantor pelayanan perizinan usaha dengan naiknya jumlah izin dari tahun ke tahun tidak terlalu signifikan di mata para pelaku usaha. Ketertarikan para pelaku usaha untuk melakukan investasi lebih banyak dikarenakan faktor potensi daerah yang sangat menjanjikan. Tidak jarang, demi mendapatkan sebuah izin para calon investor tidak menaati mekanisme proses pengajuan izin baku yang ditetapkan oleh Pemkot Makassar, atau melakukan praktik rent seeking. Adapun terkait dengan pemahaman masyarakat mengenai keterbukaan dalam proses pengajuan izin usaha (dari sisi waktu dan biaya), masyarakat saat ini lebih jelas dan tahu kapan izin yang sedang mereka ajukan akan keluar dibanding sebelum terjadinya perbaikan pelayanan oleh Pemkot Makassar. Karakteristik Kota Banjarbaru sebagai daerah yang sedang membangun membuat proses pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana serta pembentukan mekanisme kerja yang jelas sedang dalam tahap pembangunan. Sebagai daerah yang direncanakan akan menjadi ibukota Kalimantan Selatan menggantikan Banjarmasin, sektor usaha utama yang ada di Kota Banjarbaru adalah usaha jasa. Dukungan keuangan dari Pemda yang masih terbatas diatasi dengan mengikutsertakan sektor swasta sebagai mitra potensial. Pengadaan sebagian sarana dan prasarana yang dimiliki kantor pelayanan perizinan Kota Banjarbaru ikut dibiayai oleh perusahaan swasta. Namun, independensi kinerja dan pemberian izin untuk perusahaan yang membantu pengadaan sarana kantor tetap terjaga. Learning organization di dalam pengelolaan kantor pelayanan perizinan juga tercipta, termasuk peran kepala kantor yang terus melakukan perbaikan dan inovasi untuk memperbaiki kelemahan dari penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha di Kota Banjarbaru. Tiga hal utama yang diinginkan para investor dan pengusaha terkait investasi di daerah, yakni penyederhanaan sistem dan perizinan, penurunan berbagai pungutan yang tumpang tindih, dan transparansi biaya perizinan. Ketiga hal itu menjadi kunci utama dalam menjadikan penyelenggaraan pelayanan perizinan sebagai pengungkit utama menjaring masuknya para pelaku usaha di daerah. Tumpang tindih peraturan pusat dan daerah yang tidak hanya menghambat arus barang dan jasa, tapi juga menciptakan iklim bisnis yang tidak sehat, perlu dieliminasi. Komitmen penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik, deregulasi, dan
212

koordinasi berbagai peraturan pusat dan daerah merupakan starting point untuk memfungsikan penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha sebagai pengungkit kesejahteraan masyarakat lokal melalui kegiatan usaha di daerah. Buku ini sangat relevan dalam konteks perlunya mengkaji fenomena sosial, politik, ekonomi, dan budaya dengan pisau kajian ilmu-ilmu sosial multidispliner. Reformasi perizinan usaha tidak hanya relevan sebagai bagian dari kajian administrasi publik, otonomi daerah, namun juga sebagai kajian ekonomi pembangunan. Secara khusus, bagaimana percepatan pembangunan daerah dapat tercapai dengan memperbaiki iklim usaha, infrastruktur, mekanisme, dan faktorfaktor institusional lainnya. Relevansi hasil kajian ini pun dapat ditarik ke ranah kajian ilmu hubungan internasional, khususnya dalam melihat pengaruh globalisasi, perdagangan bebas dengan mengaitkannya dengan investasi asing ke dalam negeri. Kajian ekonomi politik internasional dapat berperan dengan menganalisis bagaimana hubungan pasar dan negara/pemerintah pusat, maupun daerah dalam menarik investor asing. Sudah barang tentu, aspek diplomasi internasional dan hukum internasional pun dapat masuk dalam ranah kajian ini. Terakhir, tapi tak kalah pentingnya adalah kajian bisnis internasional. Apabila pemerintah pusat dan daerah mampu bekerja sama dalam menarik investor asing, tentu pranata-pranata ekonomi dan politik perlu disiapkan bagi kehadiran perusahaan-perusahaan asing. Dalam kondisi demikian, diperlukan penciptaan lingkungan usaha yang bersabat terhadap investor asing (investor-friendly environment), tanpa harus terkesan menghamba pada kepentingan asing. Di sinilah kajian-kajian ini dapat ditindaklanjuti dengan penelitian lain yang lebih dalam dan spesifik pada fokus yang lain. Pada akhirnya, buku ini dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang otonomi daerah ini.

213

REKOMENDASI BUKU INI

Koordinasi antara kementerian Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan Kementerian dalam Negeri perihal pengaturan penyelenggaraan pelayanan perizinan di daerah harus diselaraskan. Hal ini penting karena dalam praktiknya kurangnya koordinasi aturan antara dua instansi tersebut berakibat terhadap munculnya tumpang tindih (overlapping) pelaksanaan aturan di lapangan.

Diperlukan integrasi dalam memformulasikan peraturan perizinan usaha dan turunan peraturan lainnya. Harmonisasi peraturan pusat dan daerah akan mengurangi ekonomi biaya tinggi dan menjamin kepastian hukum dalam berusaha di daerah.

Perlu dilakukan percepatan implementasi pelayanan satu pintu (one stop service) di semua daerah dalam rangka mencapai standardisasi penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha.

Peningkatan kapasitas aparatur daerah (kualitas dan kuantitas) sangat diperlukan karena ketimpangan jumlah SDM dan beban kerja yang ditanggung masih belum ideal. Mekanismenya dapat diatur melalui peraturan di tingkat pusat atau daerah sebagai wujud political will pemangku kebijakan.

Implementasi format pelayanan perizinan usaha yang dibuat oleh pemerintah pusat tidak dapat dijalankan dengan baik oleh seluruh daerah. Pemerintah pusat sebaiknya membuat tipologi atau format perizinan yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kemampuan daerah.

Terkait dengan koordinasi antarinstansi terkait, terlihat masih ada resistensi dari beberapa dinas teknis dengan kantor/badan pelayanan perizinan. Untuk itu, perlu dibentuk koordinasi baik vertikal maupun horizontal antarinstansi dan kesinambungan pembinaan dinas teknis terkait.

214

Mekanisme kerja pelayanan perizinan (biaya, syarat administrasi, reward and punishment, pengawasan internal dan eksternal, serta prosedur pengaduan) harus dibuat dengan jelas untuk memaksimalkan fungsi pelayanan publik.

Penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha tidak lagi harus dibebani target penerimaan PAD karena akan berimplikasi pada mahalnya tarif retribusi dan psikologis aparatur daerah untuk memenuhi target penerimaan yang dibebankan Pemda/Pemkot.

Debirokratisasi pelayanan perizinan usaha harus diimbangi dengan reformasi hukum sebagai aturan main pemberian pelayanan publik.

Resistensi antara dinas teknis dan kantor/badan pelayanan perizinan usaha membuat pemberian pelayanan perizinan usaha tidak kompetitif dan tidak efisien, khususnya dari segi waktu. Oleh karena itu, integrasi dinas teknis ke dalam kantor/badan pelayanan perizinan usaha seperti di Kabupaten Purbalingga, atau merelokasi dinas teknis menjadi satu kompleks sangat diperlukan untuk mengatasi rentang kendali yang masih panjang dan berbelit-belit.

Partisipasi pihak swasta dalam mendukung penyediaan sarana dan prasarana patut didorong dan dikembangkan sehingga keterbatasan dukungan dana dari Pemda/Pemkot tidak menjadi alasan berhentinya proses reformasi pelayanan perizinan di suatu daerah.

Partisipasi juga diperlukan dari pihak masyarakat dan pengusaha terkait dengan pelaksanaan kajian pemerintah daerah dalam proses analisis pemberian izin kepada calon pengusaha, terutama perusahaan besar.

Program-program safari investasi dan pertemuan formal maupun informal antara pemerintah daerah dan pengusaha harus digalakkan. Salah satunya dengan

mengikutsertakan kemudahan pelayanan perizinan usaha sebagai daya tarik investasi di suatu daerah. Optimalisasi penggunaan teknologi (IT) untuk efisiensi pelayanan dan mengurangi peluang terjadinya korupsi dalam proses pelayanan. Proses pemberian izin yang masih

215

manual (berinteraksi langsung antara aparatur pemerintah daerah dan calon pemohon izin) seringkali menimbulkan praktik rent seeking. Pemerintah harus memikirkan alternatif solusi pemberian izin usaha yang

mempertimbangkan keseimbangan permintaan jumlah tenaga kerja pria dan wanita sehingga tidak terjadi ketimpangan permintaan jumlah pekerja yang tinggi di satu sisi dan pengangguran di sisi lain. Perlu disusun Standar Pelayanan Minimum dan Standard Operating Procedure bagi perizinan untuk menjaga konsisitensi mekanisme kerja yang telah berjalan dengan baik. Selama ini, konsistensi deregulasi perizinan di beberapa daerah mengalami kemunduran seiring proses pergantian kepemimpinan. Proses sosialisasi produk hukum dan inovasi baru dalam penyelenggaraan pelayanan perizinan usaha harus lebih ditingkatkan melalui pelbagai media komunikasi. Selama ini, keluhan regulasi baru dari beberapa pelaku usaha terkait dengan minimnya informasi terbaru, baik dari sisi perubahan regulasi ataupun insentif lain yang mendukung iklim investasi setempat. Diperlukan juga penataan tata ruang untuk proses kegiatan industri PMDN dan PMA oleh pemerintah daerah karena penataan ruang yang di berbagai daerah selama ini masih kurang komprehensif. Masih banyaknya pabrik-pabrik yang beroperasi di kawasan dalam kota menimbulkan kemacetan di jalan-jalan utama dan limbah hasil kegiatan usaha. Pertemuan antara pihak pemerintah dan pengusaha secara rutin merupakan sutau kebutuhan untuk mewujudkan iklim usaha yang kondusif dan mencari solusi atas permasalahan usaha yang terjadi di daerah.

216

DAFTAR PUSTAKA

Buku: Asropi. 2007. Sistem Pelayanan Terpadu: Strategi Perbaikan Iklim Investasi di Daerah. Diterbitkan dalam "Bunga Rampai Administrasi Publik". Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Pemerintah Kota Banjarbaru. 2009. Kota Banjarbaru, Kota 4 Dimensi Mandiri dan Terdepan. Banjar Baru: BappedaPM Bank Indonesia. 2003. Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan: Faktor-Faktor Non Ekonomi Yang Mempengaruhi Iklim Investasi di Sulawesi Selatan. Jakarta: Bank Indonesia Bovaird, Tony. et.al. 2003. Public management and governance. New York and London: Routledge. Cheema, G. Shabbir dan Dennis. A Rondinelli, (Ed). 1983. Decentralization and Development: Policy Implementation in Developing Countries. London: Sage Publications. Davey, Kenneth J. 1988. Pembiayaan Pemerintah Daerah: Praktek-Praktek Internasional dan Relevansinya Bagi Dunia Ketiga. Terjemahan Aminullah dkk. Jakarta: UI Press. Denhardt, Janet V dan Robert B. Denhardt. 2003. The New Public Services: Serving, Not Steering. New York & London: M.E. Sharpe. Dominick, Salvatore. 2004. International Economics. Eight Edition. USA: John Wiley & Sons, Inc. Keynes, John Maynard. 1957. The General Theory of Employment Interest and Money. London: MacMillan & Co. McKevitt, D. 1998. Managing Core Public Services. Blackwell: Oxford. Pemerintah Kabupaten Purbalingga. 2001. Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Purbalingga Tahun 2001-2010. Purbalingga: Bappeda Pemerintah Kota Makassar. 2009. Buku Saku Kota Makassar. Makassar: Bappeda Prasojo, Eko, dkk. 2007. Deregulasi dan Debirokratisasi Perizinan di Indonesia. Depok: Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI. Romora Edward Sitorus. 2007. (Regulasi Sebagai Insentif Bagi Investor) Tinjauan Kelembagaan Sistem Perijinan Investasi Terpadu (One-Stop Shop) dan Pengaruhnya terhadap
217

Reformasi Administrasi Daerah Pasca Desentralisasi, Tulisan diajukan untuk Lomba Karya Ilmiah FSDE Sinaga, Dadjim. Tahun. Iklim Investasi di Indonesia, The 1 st Annual Graduate Student Research And Creativity Symposium. Kota: Penerbit Suharto, Edi. 2008. Analisis Kebijakan Publik. Cetakan Keempat. Bandung: Alfabeta Thoha, Miftah. 1997. Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa. Wibawa, Fahmi. 2007. Panduan Praktis Perijinan Usaha Terpadu. Jakarta: PT Grasindo

Artikel: Beik, Irfan Syauqi. Ekonomi Korupsi, http://www.harian global.com/ 2009. Hamudy. 2010. Menyoal Pelayanan Terpadu, http://bataviase.co.id/ Iklim Investasi Diharapkan Membaik, Harian Kompas, 17 Desember 2009 Kuncoro, Mudrajad. Diskusi Panel Ahli Kompas. Disajikan dalam Seminar Harian Kompas. http://www.mudrajad.com / . 2005 Kuncoro, Mudrajad. Sektor Riil dan UMKM Pasca Inpres No.6/2007, http://mudrajad.com/ Kuncoro, Mudrajad dan Anggi Rahajeng. Daya Tarik Investasi dan Pungli di DIY. http://www.mudrajad.com/ Reformasi Birokrasi. Harian Kontan Laporan Khusus. Edisi Selasa, 28 September 2010. Rustiani, Frida. Policy Paper Perijinan Usaha Kecil Di Indonesia Decentralizing Era). http://usaid.gov/ . 2001 (Licensing In the

Salim, Fahruddin. Paket Kebijakan Ekonomi dan Konsolidasi Fiskal, http://www.gp-ansor.org/ Saronto, Mahatmi dan R. Wrihatnolo, Rekonseptualisasi Perencanaan Pembangunan: Suatu Pemikiran, http://www.bappenas.go.id/ Sinaga, Dadjim. Iklim Investasi di Indonesia, Harian Kompas edisi 27 Oktober 1993 Tambunan, Tulus. Daya Saing Indonesia dalam Menarik Investasi Asing, disampaikan dalam Seminar Bank Indonesia. 2007. 9 Daerah Bintang. Majalah Tempo No.3826. Edisi Khusus Kemerdekaan 17 23 Agustus 2009. http://bpt.sragenkab.go.id/

218

Peraturan Perundang-undangan: Republik Indonesia. Lampiran Peraturan Presiden RI No.5 Tahun 2010 tentang RPJMN Tahun 2010-2014, Buku II Memperkuat Sinergi Antarbidang Pembangunan Bab III Ekonomi. Republik Indonesia. Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Republik Indonesia. Keppres No. 29 Thn 2004 Ttg. Penyelenggaraan Penanaman Modal dalam rangka PMA dan PMDN Melalui Sistem Pelayanan Satu Atap Republik Indonesia. Peraturan Menteri dalam Negeri No.24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Republik Indonesia. Instruksi Presiden Republik Indonesia No.3 Tahun 2006 tanggal 27 Februari 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi Republik Indonesia. Instruksi Presiden Republik Indonesia No.6 Tahun 2007 Tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

219