Anda di halaman 1dari 3

Polisi Bongkar Mafia Pemalsuaan STNK dan BPKB

Disusun untuk tugas mata kuliah Kejahatan Harta Benda

Berdy Despar Magrhobi. (105010100111052)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS HUKUM MALANG 2011

Pemalsuan STNK dan BPKB


Aparat Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara masih melakukan pengembangan terhadap ketujuh pelaku pemalsuan dokumen surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB). Polisi menduga pemalsuan ini melibatkan orang dalam di Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya. Kasus ini dikembangkan untuk mengetahui apakah ada keterlibatan dengan orang dalam, kata Kepala Bidang Hubungan Masyarkat Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs Baharudin Djafar kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis(25/8). Baharudin meminta kepada warga masyarkat yang membeli kendaraan dengan harga jauh lebih murah dari harga di pasaran diperlukan ketelitian dengan mengecek keaslian suratsurat kendaraan yang ada di Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya. Selama ini kasus curanmor yang berhasil kita ungkap para pelaku menjual kendaraan kepada pembeli dengan harga murah. Padahal, harga di pasaran masih mahal dan ini menimbulkan kecurigaan kita, ujar Baharudin. Mantan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatra Utara ini mengungkapkan, diperlukan perbandingan antara STNK dan BPKB yang palsu dengan yang asli. Ini didasari, STNK dan BPKB yang dipalsukan oleh para pelaku nyaris tidak ada bedanya. Diperlukan perbandingan dengan melakukan pengecekan ke kantor polisi, ujar Baharudin. Sebelumnya, aparat Polrestro Jakarta Utara mengamankan tujuh pelaku pemalsuan STNK dan BPKB. Tujuh tersangka yakni Nano Kasno, Azharudin, Asep Saepudin, Yusup Saipul Anwar, Asep Rosiyaman, dan Maksum. Mereka melakukan pemalsuan STNK dan BPKB di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dari tangan para tersangka, polisi menyita barang bukti(BB) berupa 24 lembar STNK palsu, 4 BPKB palsu, 3 unit mobil, 1 unit komputer, 238 lembar kertas STNK, 47 lembar kertas BPKB, dan berbagai alatpercetakan. Selain itu, disita 11 buah stempel Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) dari wilayah Bogor, Bandung, Garut, Jakarta, dan Banten. Tersangka menjulan STNK Rp 4.000 ribu dan BPKB Rp 1 juta. Pengungkapan kasus ini, bermula ketika polisi membekuk salahs eorang tersangka di kawasan Kepalagading, Jakarta Utara dengan berpura-pura membeli kendaraan. Dari pengakuan tersangka, polisi kembali menciduk enam tersangka lainnya. Akibatnya, para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat-surat dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

ANALISIS KASUS :
Penulis : Sapuji Sumber : http://swarajakarta.com Hari,Tanggal : Sabtu, 27 Agustus 2011 13:21 Pelaku : Nano Kasno, Azharudin, Asep Saepudin, Yusup Saipul Anwar, Asep Rosiyaman, dan

Maksum Alamat : Kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur


Tindak pidana yang dilakukan : Pemalsuan surat-surat Pasal yang dikenakan : Pemalsuan Surat-surat (264 KUHP)

Dari kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemalsuan yang dilakukan oleh pelaku merupakan pemalsuan terhadap surat-surat yang dapat disebut sebagai akta otentik dan hukumannya dapat diperberat. Dimana hal tersebut telah diatur dalam pasal 264 KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) yang telah menentukan syarat-syarat / unsur-unsur perbuatan yang dapat dikenai pemberatan pidana. Yang mana pemalsuan tersebut dilakukan terhadap akta otentik dan pemakaian surat tersebut dapat menimbulkan kerugian. Kasus tersebut disebut sebagai pemalsuan karena mengandung unsur-unsur tindak pidana pemalsuan, yaitu : Membuat atau memalsukan surat otentik, Yang dapat menimbulkan suatu hak, Yang diperuntukan sebagi bukti dari suatu hal, Dengan maksud memakai atau menyuruh orang lain pakai, Pemakaiannya dapat menimbulkan kerugian, Diancam dengan pemalsuan.