Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Histokimia adalah cabang histologi mengenai susunan dan perubahan yg terjadi di jaringan manusia, tumbuhan, dan hewan. Berkaitan dengan ilmu tentang jaringan, Histoteknik adalah metoda atau cara/proses untuk membuat sajian histologi dari spesimen tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap untuk diamati atau dianalisa. 1. Bahan pengajaran dan praktikum mahasiswa, guna mempelajari bentuk dan struktur jaringan tubuh tertentu yang normal. 2. Riset, guna mempelajari perubahan jaringan dan organ tubuh hewan percobaan yang mendapat perlakuan tertentu atau mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jaringan atau organ tubuh tertentu. 3. Membantu menegakkan diagnosa penyakit yang diderita oleh seorang pasien Untuk mencapai ketiga tujuan tersebut sajian histologi yang dibuat harus dapat memberikan gambaran tentang bentuk dan besar serta susunan sel; inti sel dan sitoplasma; badan inklusi (glikogen, tetesan lemak, pigmen dsbnya); susunan serat jaringan ikat; otot dan lain sebagainya sesuai dengan gambaran jaringan tubuh tersebut dalam kondisi hidup. Sajian yang baik dapat membantu mahasiswa memahami struktur histologi jaringan tubuh sesuai dengan kondisi yang sebenarnya pada waktu hidup. Sajian yang baik juga akan memberikan hasil yang benar-benar shahih (valid/akurat) yang sangat dibutuhkan oleh para peneliti untuk menjawab permasalahan yang timbul. Di samping itu sajian yang baik juga diperlukan oleh klinikus untuk menunjang diagnosa penyakit yang diderita oleh pasien. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan histokimia? 2. Apa tujuan dilakukannya pemeriksaan histokimia? 3. Dari mana sajakah sumber jaringan atau organ pemeriksaan histokimia? 4. Bagaimana penatalaksanaan pengambilan jaringan tubuh?

5. Bagaimana penatalaksanaan fiksasi histologis? 6. Bagaimana cara fiksasi histokimia dan apa sajakah syarat-syaratnya?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Memahami defenisi, tujuan, dan penatalaksanaan pemeriksaan histokimia. 2. Untuk mengetahui bentuk dan struktur jaringan tubuh tertentu yang normal dan abnormal. 3. Untuk membantu kita pada saat penelitian sehingga dapat menegakkan diagnosa penyakit yang diderita oleh seorang pasien.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Histokimia Histokimia adalah cabang histologi mengenai susunan dan perubahan yang terjadi di jaringan manusia, tumbuhan, dan hewan.

2.2 Tujuan Pemeriksaan Histokimia Untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapat dalam jaringan. Dengan pereaksi spesifik, zat zat kandungan tersebut akan memberikan warna yang spesifik sehingga mudah dideteksi. 2.3 Sumber Jaringan atau Organ Pemeriksaan Histokimia 1. Manusia Jaringan yang berasal dari manusia tentulah yang paling ideal karena struktur histologi yang harus dipelajari oleh mahasiswa adalah struktur histologi manusia. Jaringan tubuh ini dapat di ambil dari cadaver (jenazah) dengan syarat jaringan atau organ tersebut di ambil kurang dari 3 jam setelah kematian, sebab bila lebih lama sudah terjadi pembusukan atau autolisis. Sayangnya syarat tersebut pada masa kini hampir mustahil dapat dipenuhi. Cara lain adalah mengambil jaringan atau organ tersebut dari kamar operasi. 2. Hewan Jaringan atau organ yang diambil dari hewan merupakan alternatif. Beberapa hewan yang sering dipakai adalah a. Kera, paling menyerupai jaringan tubuh manusia karena sama-sama tergolong mahluk primata b. Kambing, terutama untuk melihat serat Purkinje di jantung c. Babi untuk melihat lobulus klasik hepar dan arteri Hulsen pada limpa. d. Kucing dan anjing

e. Tikus putih (mice) dan rat f. Kelinci Jaringan dapat diambil dari hewan yang difiksasi dalam keadaan hidup (fiksasi supra/ intravital) atau hewan yang telah mati (fiksasi emersi/rendam). 2.4 Isolasi (Pengambilan Jaringan Tubuh) A. Persiapan Sebelum jaringan tubuh diambil beberapa pesiapan perlu dilakukan yang terdiri atas 1. Persiapan alat dan bahan/cairan Perangkat peralatan yang harus dipersiapkan untuk melakukan isolasi atau pengambilan jaringan tubuh terdiri atas peralatan bedah minor (gunting, pinset, scalpel, klem, pemegang jaringan, kassa, dll), meja operasi, lampu, peralatan anestesi (disposible syringe, sungkup/masker anestesi) dan obat anestesi (eter, ketalar, phenobarbital dll) serta perangkat pengawetan jaringan (fiksasi jaringan) seperti wadah untuk fiksasi emersi, cairan fiksasi (Formol salin, Muller, Bouin, Zenker dll), peristaltik pump/syringe pump untuk fiksasi supravital dan lain-lain 2. Persiapan sampel Untuk jaringan yang diambil dari kadaver atau manusia, jaringan segera diambil dan dimasukkan kedalam caian fiksasi. Untuk sampel yang diambil dari hewan, maka hewan perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Hewan yang dipilih haruslah sehat, galurnya harus baik dan jelas, mempunyai status gizi yang baik dan dipelihara sesuai dengan syaratsyarat pemeliharaan hewan coba. Hewan yang digunakan dipilih sesuai dengan tujuan penelitian dan pengajaran. Kera merupakan hewan yang mempunyai struktur tubuh yang mirip dengan manusia. Untuk mempelajari serat purkinje pada jantung dengan lebih jelas dapat digunakan jantung kambing, untuk mempelajari lobulus hati klasik degan lebih baik digunakan hati babi, untuk mempelajari arteri Hulsen pada limpa lebih baik digunakan limpa yang berasal dari babi dan sebagainya. B. Pelaksanaan

Untuk jaringan yang berasal dari kadaver dan dari jaringan operasi, jaringan yang telah diambil langsung dimasukkan kedalam wadah yang berisi cairan fiksasi. Sedangkan untuk jaringan yang berasal dari hewan tahapan pengambilan jaringan adalah sebagai berikut 1. Pembiusan Untuk membius hewan yang akan diambil jaringan tubuhnya dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu a. Pembiusan inhalasi dengan menggunakan eter dan sungkup muka b. Pembiusan dengan menyuntikkan zat anestesi seperti chloralhydrate, ketalar, phenobarbital, dan sebagainya. c. Campuran yaitu pembiusan inhalasi yang diikuti dengan pembiusan lewat suntikan 2. Pembedahan dan isolasi jaringan tubuh Setelah hewan terbius sempurna, proses selanjutnya adalah melakukan operasi dan pengambilan jaringan tubuh yang diinginkan. Jaringan tubuh lalu dipotong-potong didalam cairan fisiologis (NaCl 0.9%) untuk mendapatkan ukuran yang lebih kecil. Hal ini perlu dilakukan agar cairan fiksasi dapat masuk kedalam jaringan dengan mudah dan baik. Potongan jaringan kemudian dimasukkan kedalam wadah-wadah kecil yang telah diberikan label/keterangan. Wadah berisi cairan fiksasi dan jaringan kemudian disimpan ditempat yang sesuai hingga saat pemerosesan jaringan selanjutnya. 3. Fiksasi supravital/intra vital Khusus untuk jaringan tubuh yang difiksasi secara supravital atau intravital, segera setelah hewan terbius sempurna, hewan dibaringkan di atas meja operasi dan diikat agar posisinya stabil. Setelah itu dinding perut dibuka dengan sayatan pada garis tengah dilanjutkan ke samping kiri dan kanan pada sisi atas dan bawah. Diafragma lalu dibuka. Tulang iga dipotong pada costosterno junction. Tulang sternum lalu ditarik ke atas dan difiksasi. Setelah tulang sternum diangkat ke atas akan terlihat jantung. Aurikula atrium kanan dan ventrikel kiri lalu diidentifikasi. Perikardium lalu dibuka. Dinding aurikula atrium kanan digunting dan darah dibiarkan mengalir. Setelah darah mengalir keluar, jarum yang disambung ke slang infus ditusukkan kedalam ventrikel kiri. Peristaltik pump lalu dinyalakan dan cairan infus akan mengalir masuk kedalam ventrikel kiri

menggantikan darah yang hilang lewat atrium kanan. Cairan infus yang pertama mengalir adalah cairan NaCl 0.9% untuk membilas darah dari jaringan tubuh sehingga jaringan tubuh yang akan diambil bebas dari kontaminasi darah. Selanjutnya akan mengalir cairan fiksasi yang akan memfiksasi seluruh jaringan tubuh. Cairan fiksasi dibiarkan mengalir hingga seluruh jaringan terfiksasi sempurna yang ditandai oleh adanya leher dan ekor yang kaku. Selama cairan fiksasi mengalir akan terlihat kedutan pada seluruh otot. Setelah seluruh jaringan terfiksasi sempurna, sisa bekuan darah dibersihkan dari tubuh hewan dengan mencuci dengan air kran. Jaringan tubuh yang diinginkan kemudian diisolasi, dipotong-potong dan dimasukkan kedalam wadah yang berisi cairan fiksasi yang sama dengan cairan fiksasi yang diinfuskan. Wadah yang berisi cairan fiksasi dan jaringan kemudian dilabel dan disimpan hingga saat proses pengolahan jaringan selanjutnya. 2.5 Fiksasi Sajian Histologi Dasar dari pembuatan sajian histologi yang baik adalah melakukan fiksasi yang benar. Kesalahan yang dilakukan pada tahap fiksasi tidak akan pernah dapat diperbaiki lagi pada tahapan selanjutnya. Jadi hasil akhir sajian histologi yang baik sangat tergantung pada cara melakukan fiksasi dengan baik. Tujuan dari fiksasi adalah untuk 1. Mengawetkan jaringan. Fiksasi bertujuan untuk mempertahankan susunan jaringan agar mendekati kondisi seperti sewaktu hidup. 2. Mengeraskan jaringan Fiksasi bertujuan untuk mengeraskan jaringan terutama jaringan lunak agar memudahkan pembuatan irisan tipis. Efek fiksasi terhadap jaringan yang diproses adalah 1. Menghambat proses pembusukan dan autolisis Fiksasi akan menghambat terjadinya pembusukan yang disebabkan oleh kuman-kuman pembusuk yang berasal dari luar tubuh. Waktu pembusukan untuk setiap jaringan atau

organ berbeda-beda tergantung kepada konsistensi dan kandungan unsur-unsur penyusun jaringan tersebut. Jaringan usus dan otak sangat rentan terhadap proses pembusukan dibandingkan jaringan tubuh lainnya. Pembusukan seringkali disertai oleh pembentukan gas yang berbau. Autolisis adalah proses perusakan jaringan tubuh yang disebabkan oleh ensim-ensim proteolitik yang terdapat pada jaringan tersebut. Proses proteolitik ini akan lebih cepat terjadi pada suhu tropik (24-36C). Proses proteolitik lebih mudah terjadi di Jakarta dibandingkan dengan negeri-negeri dingin. Untuk menghindari proses pembusukan dan autolisis, jaringan harus segera dimasukkan kedalam cairan fiksasi segera setelah kematian atau segera setelah diambil dari tubuh. Bila keadaan ini tidak memungkinkan jaringan dapat disimpan sementara di dalam ruangan dengan temperatur yang sangat dingin (Freezer). 2. Pengawetan Sel-sel dan jaringan diawetkan mendekati kondisinya seperti sewaktu hidup. 3. Pengerasan Efek pengerasan akan mempermudah penangan jaringan lunak, misalnya otak 4. Pemadatan koloid Fiksasi akan mengubah konsistensi sel yang setengah cair (Sol) menjadi lebih padat (Gel) 5. Differensiasi optik Fiksasi akan mengubah indeks refraksi berbagai unsur sel dan jaringan sehingga unsurunsur yang belum diwarnai dapat dilihat dengan lebih mudah dibandingkan dengan jaringan yang belum difiksasi. 6. Pengaruh terhadap pewarnaan Sebagian besar cairan fiksasi yang ada mempengaruhi reaksi histokimia karena mengikat bagian reaktif jaringan.

2.6 Fiksasi Histokimia Fiksasi ini digunakan apabila jaringan hendak diwarnai dengan pewarnaan histokimia Cairan fiksasi yang digunakan tidak boleh mengubah atau sedapatnya mengubah seminim mungkin unsur-unsur yang akan didemonstrasikan. Fiksasi histokimia yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Mengawetkan unsur yang akan didemonstrasikan 2. Mengikat atau mengawetkan unsur jaringan khusus, tanpa mempengaruhi gugus reaktif yang digunakan pada visualisasi. 3. Tidak mempengaruhi reagen yang digunakan pada proses visualisasi, misalnya fiksatif glutaraldehida memfiksasi protein jaringan sedemikian rupa dengan suatu coating terdiri atas gugus aldehida reaktif sehingga menghasilkan reaksi PAS atau Schiff positif.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Histokimia adalah cabang histologi mengenai susunan dan perubahan yang terjadi di jaringan manusia, tumbuhan, dan hewan. Tujuan pemeriksaan histokimia adalah untuk mengetahui berbagai macam zat kandungan yang terdapat dalam jaringan. Dengan pereaksi spesifik, zat zat kandungan tersebut akan memberikan warna yang spesifik sehingga mudah dideteksi. Untuk berbagai keperluan misalnya pemeriksaan histokimia cepat, pemotongan sediaan diambil dari jaringan yang telah dikeraskan secara cepat dengan cara pembekuan. Sediaan kemudian di cat khusus untuk membedakan berbagai komponen dari suatu jaringan misalnya inti, sitoplasma, dan kolagen. Sebagian besar cairan fiksasi yang ada mempengaruhi reaksi histokimia karena mengikat bagian reaktif jaringan. Fiksasi histokimia yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Mengawetkan unsur yang akan didemonstrasikan 2. Mengikat atau mengawetkan unsur jaringan khusus, tanpa mempengaruhi gugus reaktif yang digunakan pada visualisasi. 3. Tidak mempengaruhi reagen yang digunakan pada proses visualisasi, misalnya fiksatif glutaraldehida memfiksasi protein jaringan sedemikian rupa dengan suatu coating terdiri atas gugus aldehida reaktif sehingga menghasilkan reaksi PAS atau Schiff positif.

3.2 Saran Setelah disusunnya makalah ini penulis menyarankan: 1. Mempelajari tentang metoda atau cara/proses untuk membuat sajian histologi dari spesimen tertentu melalui suatu rangkaian proses hingga menjadi sajian yang siap untuk diamati atau dianalisa. 2. Lebih mendalami cara melakukan pemeriksaan histokimia agar membantu dalam mendiagnosa suatu penyakit.

DAFTAR PUSTAKA