Anda di halaman 1dari 50

SPONDILITIS TUBERKULOSA

Oleh Finna Ernica 07.70.0040

ANATOMI

Tulang belakang terdiri atas : 7 tulang vertebra cervicalis 12 tulang vertebra thoracalis 5 tulang vertebra lumbalis 5 tulang vertebra sacrum 4 tulang vertebra coccygeus

VERTEBRA CERVICALIS
Terbentuk dari 7 ruang tulang vertebra vertebra sevikalis pertama dan kedua dimodifikasikan untuk menyangga dan menggerakan kepala Corpus dari vertebra yang paling atas adalah Atlas dan yang menyatu dengan vertebra dibawah adalah Aksis

VERTEBRA THORACALIS
Terdiri dari 12 ruas tulang vertebra Merupakan regio columna vertebralis yang paling stabil

VERTEBRA LUMBALIS
Terdiri dari 5 ruas tulang vertebra Merupakan bagian columna vertebralis yang terpanjang dan terkuat

VERTEBRA SACRALIS
Berbentuk triangular Kelima ruas tulang bergabung dan tidak memiliki celah atau diskus intervertebra satu sama lainnya

FUNGSI
Dibagi menjadi dua segmen:
Segmen anterior - Sebagai penahan dan peredam gerakan - Terdiri dari corpus vertebra yang dihubungkan satu sama lain oleh discus intervertebralis

Segmen posterior - Berfungsi sebagai pelindung organ dan penentu arah - Terdiri atas arcus vertebra, processus tranversus, processus spinosus, facet sendi superior dan inferior

SPONDILITIS TB
Tuberkulosis tulang belakang Peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif Biasanya kelanjutan dari penyakit primer yang telah bermukim di tubuh

5 STADIUM
1. Stadium Implantasi
Daya tahan tubuh Duplikasi kuman 6- 8 minggu
Biasanya terjadi pada daerah paradiskus sedangkan pada anak terjadi pada daerah sentral vertebra

2. Stadium Destruksi Awal Berlangsung 3 6 minggu Terjadi destruksi pada corpus dan penyempitan pada diskus

3. Stadium Destruksi Lanjut Destruksi masif Ada masa kaseosa dan cold abses yang terjadi 23 bulan setelah stadium destruksi awal Ada sekuestrum Wedging anterior gibbus

4. Stadium Gangguan Neurologis


Derajat I :Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris. Derajat II :Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita masih dapat melakukan pekerjaannya. Derajat III : Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak atau aktivitas penderita serta terdapat hipestesia sampai anastesia Derajat IV :Terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan defekasi dan miksi.

5. Stadium Deformitas Residual


Stadium ini terjadi lebih kurang 35 tahun setelah terjadi stadium implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen karena kerusakan vertebra yang masif disebelah depan.

EPIDEMIOLOGI
Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi Merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan sedang berkembang, terutama di Asia. Sedangkan pada negara berkembang insidennya menurun selama 30 tahun terakhir Berhubungan dengan kualitas pelayanan kesehatan dan kondisi sosial

ETIOLOGI
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri tahan asam cepat mati bila terkena sinar matahari langsung. Tetapi dalam tempat yg lembab, gelap, dan pada suhu kamar, kuman dapat bertahan hidup selama beberapa jam. Dalam tubuh, kuman ini dapat tertidur lama (dorman) selama beberapa tahun.

GEJALA KLINIK
Badan lemah atau lesu Nafsu makan Sub febril dan sakit punggung terutama pada malam hari Pada Tuberkulosis cervical dapat disertai nyeri didaerah belakang kepala, gangguan pernapasan, gangguan menelan, dan abses retrofaring

Keluhan gangguan pergerakan tulang belakang akibat spasme atau gibbus Paraparese Paraplegi

PENEGAKKAN DIAGNOSA

ANAMNESA
Adanya gejala sistemik seperti demam, nafsu makan turun, keringat malam Riwayat batuk lama >3 minggu Adanya kekakuan otot sampai nyeri yang tergantung pada lokasi infeksi Adanya perubahan pola jalan

PEMERIKSAAN FISIK
Adanya deformitas Terdapat abses Terjadi spasme otot dan terbatasnya ruang gerak Gambaran paraparese - paraplegia inferior kedua tungkai yang bersifat UMN dan adanya batas defisit sensorik setinggi tempat gibbus atau lokalisasi nyeri interkostal

GIBBUS DAN ANGULASI

SPONDILOLISTESIS

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. 2. 3. 4. 5. Peningkatan LED dan mungkn disertai leukositosis Uji Mantoux (+) Kultur (+) Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional Pemeriksaan histopatologi dapat ditemukan tuberkel

Pemeriksaan biomolekuler PCR

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Foto thorax Foto polos vertebra CT scan atau MRI dengan meilografi

FOTO THORAX PA NORMAL

DESTRUKSI T12-L1

TERAPI KONSERVATIF
Bed rest Memperbaiki KU Pemasangan brace Obat OAT

OBAT OAT
INH + vit B6
Dewasa 5mg/kgBB/hari dengan dosis maksimal 300mg Anak 10mg/kgBB

Etambutol 15-25mg/kgBB/hari

Rifampisin
Dewasa 300-400mg/hari Anak 10mg/kgBB

Streptomisin
Dosis 15-25mg/kgBB

Pirazinamid
Dosis 20-30mg/kgBB/hari

Asam para amino salisilat


Dosis 8-12mg/kgBB

KATEGORI I
Penderita baru BTA (+) BTA (-) Rontgen (+) Diberikan 2 tahap pengobatan
Tahap I Rifampicin 450mg, Etambutol 750mg, Pirazinamid 1500mg setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali)

Tahap II Rifampicin 450mg dan INH 600mg. Obat diberikan tiga kali seminggu selama 4 bulan (54 kali)

Kategori II
Untuk penderita yang sudah pernah minum obat selama 1 bulan termasuk penderita yang kambuh ataupun gagal Diberikan 2 tahap pengobatan
Tahap I Rifampicin 450mg, Etambutol 750mg, Pirazinamid 1500mg setiap hari selama tiga bulan (90kali),inj Streptomisin 750 mg dua bulan pertama (60 kali)

Tahap II Rifampicin 450mg, etambutol 1250 mg dan INH 600mg. Obat diberikan tiga kali seminggu selama 55 bulan (66 kali)

TERAPI OPERATIF
Cold Abses
Debrideman fokal dengan atau tanpa disertai bone graft Kosto-tranveresektomi

Paraplegia
Kemoterapi Laminektomi Kosto-traveresektomi Oerasi radikal Osteotomi

KOMPLIKASI
1. Cedera corda spinalis (spinal cord injury). 2. Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses paravertebral di torakal ke dalam pleura.

DIAGNOSA BANDING
1. 2. 3. 4. 5. 6. Osteititis pyogenik Kifosis senilis Skoliosis idiopatik Infeksi enterik (contoh typhoid, parathypoid). Tumor/penyakit keganasan . Scheuermanns disease

PROGNOSA
Prognosa pasien dengan spondilitis tuberkulosa sangat tergantung dari usia dan kondisi kesehatan umum pasien, derajat berat dan durasi defisit neurologis serta terapi yang diberikan.