BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Appendiks (Umbai cacing) mulai dari caecum (Usus Buntu) dan lumen appendiks ini bermuara ke dalam caecum dinding appendiks mengandung banyak folikel getah bening biasanya appendiks terletak pada iliaca kanan di belakang caecum ( Henderson ; 1992). Appendiks dapat mengalami keradangan pembentukan mukokel, tempat parasit, tumor benigna atau maligna dapat mengalami trauma, pembentukan pistula interna atau eksterna, kelainan kongenital korpus ileum dan kelaina yang lain. Khusus untuk appendiks terdapat cara

prevensi yang hanya mengurangi morbilitas dan mortalitas sebelum menjadi perforasi atau gangren (FKUA ; 1989 ) Tindakan pengobatan terhadap appendiks dapat dilakukan dengan cara operasi (pembedahan ). Pada operasi appendiks dikeluarkan dengan cara appendiktomy yang merupakan suatu tindakan pembedahan

membuang appendiks ( Puruhito ; 1993). Adapun permasalahan yang mungkin timbul setelah dilakukan tindakan pembedahan antara lain : nyeri, keterbatasan aktivitas, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, kecemasan potensial terjadinya infeksi (Ingnatavicus; 1991). Dengan demikian peranan perawat dalam mengatasi dan

menanggulangi hal tersebut sangatlah penting dan dibutuhkan terutama perawatan yang mencakup empat aspek diantaranya : promotif yaitu memberikan penyuluhan tentang menjaga kesehatan dirinya dan menjaga kebersihan diri serta lingkungannya. Upaya kuratif yaitu memberikan perawatan luka operasi secara aseptik untuk mencegah terjadinya infeksi dan mengadakan kaloborasi dengan profesi lain secara mandiri. Upaya rehabilitatif yaitu memberikan pengetahuan atau penyuluhan kepada penderita dan keluarganya mengenai pentingnya mengkonsumsi makanan yang bernilai gizi tinggi kalori dan

1

tinggi protein guna mempercepat proses penyembuhan penyakitnya serta perawatan dirumah setelah penderita pulang.

1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah agar : 1. Perawat senantiasa mengenal tanda dan gejala serta cara mencegah dan mengobati penyakit apendisitis sehingga dapat menerapkan asuhan keperawatan secara langsung kepada penderita apendisitis. 2. Perawat semakin menambah wawasannya secara jelas mengenai penyakit apendisitis, cara pencegahan dan penanggulangannya

sehingga dapat berguna bagi masyarakat. 3. Perawat dapat melakukan studi asuhan keperawatan pada penderita apendisitis.

1.3 Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah: Mengadakan pengamatan langsung pada pasien yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

1.4 Sistematika Penulisan Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan sistematika sebagai berikut: Bab I: Pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II: Merupakan tinjauan teoritis yang menerangkan tenteng teori terjadinya penyakit apendisitis ditinjau dari konsep dasar medik dan konsep dasar keperawatan. Bab III: Berupa pengamatan kasus dan pembahasan kasus penyakit apendisitis. Bab IV: Berisi kesimpulan berdasarkan pada bab-bab terdahulu .

2

BAB 2 TINJAUAN KASUS

2.1 Definisi Appendiks akut adalah peradangan dari appendiks vermiformis yang merupakan penyebab umum dari akut abdomen (Junaidi, dkk, 1982). Appendisitis adalah peradangan dari suatu appendiks. Appendisitis akut adalah keadaan yang disebabkan oleh peradangan yang mendadak pada suatu appendiks ( Baratajaya, 1990). Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). Appendicitis kronik ditandai dengan nyeri abdomen kronik (berlangsung terus menerus) di daerah fossa illiaca dextra, tetapi tidak terlalu parah, dan bersifat continue atau intermittent, nyeri ini terjadi karena lumen appendix mengalami partial obstruksi. Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007). Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa

mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)

2.2 Anatomi fisiologi

3

Tonjolan appendiks pada neonatus berbentuk kerucut yang menonjol pada apek caecum sepanjang 4. karena itu nyeri viseral pada appendiks bermula sekitar umbilikus. Jika arteri ini tersumbat. Perdarahan pada appendiks berasal dari arteri appendikularis yang merupakan artei tanpa kolateral. Pada orang dewasa panjang appendiks rata-rata 9 – 10 cm. terletak posteromedial caecum kirakira 3 cm inferior valvula ileosekalis. retroileal. sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis x. Persarafan para simpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikkularis. subileal atau dipelvis.Embriologi appendiks berhubungan dengan caecum.5 cm. tumbuh dari ujung inferiornya. misalnya trombosis pada infeksi maka appendiks akan mengalami gangren. memberikan gambaran klinis yang tidak sama. Posisi appendiks bisa retrosekal. barium enema pemeriksaan radiografi) 4 . (apendik yang normal.

erepsin dan musin. Hambatan aliran lendir di muara appendiks berperan pada patofisiologi appendiks. Lendir itu secara normal dicurahkan ke dalam bumen dan selanjutnya mengalir ke caecum.3 Etiologi Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia Folikel lympoid Fecalit.Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan tekanan intra lumen. Imunoglobulin sekretor yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks. Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa mengalami bendungan.Appendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml perhari yang bersifat basa mengandung amilase. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang akan menyebabkan edema dan 5 . Imunglobulin itu sangat efektif sebagai perlindungan terhadap infeksi tapi pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem Imunoglobulin tubuh sebab jaringan limfe kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh. benda asing striktur karena Fibrasi karena adanya peradangan sebelumnya atau neoplasma. 2. ialah Ig A.

ulserasi mukosa. 2. adanya fekalit dalam lumen appendiks. sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid). Pemberian barium 4. Ulserasi pada mukosa. Apendisitis akut. 2. 1. Striktur karena Fibrosis pada dinding usus. biasanya ditemukan pada usia tua. stiktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. Berbagai macam penyakit cacing. Appendisitis purulenta difusi. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring. dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial. Tumor. 6. dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis. setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Massa/Tinja/Benda Asing ↓ Obstruksi lumen apendiks ↓ Peradangan 6 . yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Pada saat inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh adanya nyeri epigastrium. b. Obstruksi pada kolon oleh Fekalit (feses yang mengeras) 3. yaitu sudah bertumpuk nanah. 2.4 Klasifikasi Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni : a. Apendisitis kronis.5 Patofisiologi Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak. 5. Adanya benda asing seperti cacing.

kemudian timbul gangguan aliran vena. apendiks yang relatif lebih panjang . Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis. peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat.↓ Sekresi mukus tidak dapat keluar Pembengkakan jaringan limfoid ↓ Peregangan apendiks ↓ Tekanan intra-luminal ↑ Suplai darah terganggu ↓ Hipoksia jaringan ↓ Nyeri Obstruksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung. Bila 7 . dinamakan appendisitis perforasi. maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah. Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus. dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang. sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah. keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut. Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal. makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah. sedangkan arteri belum terganggu.

2.6 WOC (Web Of Coution) 8 . 1982).appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi .

nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah.7 Manifestasi Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas. rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. nyeri 9 .2. Jika dokter menekan daerah ini. Setelah beberapa jam. lalu timbul mual dan muntah. Pada orang tua dan wanita hamil. Demam bisa mencapai 37. yang terdiri dari : Mual. nyeri bisa bertambah tajam. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar. nyerinya bersifat menyeluruh.8° Celsius. penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan. Bila usus buntu pecah.8-38. di semua bagian perut. Pada bayi dan anak-anak.

Badan lemah dan kurang nafsu makan. Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. / Lekositosis bervariasi. di perut terasa nyeri. ada 4 hal yang penting adalah: a. e. Muntah.dan demam bisa menjadi berat. 10 . Burney.nyeri timbul pada daerah sentral (viseral) lalu kemudian menjalar ke tempat appendics yang meradang (parietal). Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. Anoreksia biasanya tanda pertama b. lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit.8 Tanda dan Gejala a. 3) Test rektal. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).9 Pemeriksaan Diagnostik 1) Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya. tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney. d. penderita nampak sakit. Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese. tidak kecuali ada perforasi. dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. 2) Pemeriksaan yang lain Lokalisasi. Apendisitis. mempengaruhi diagnosa penatalaksanaan 2. Jika sudah infiltrat. d. b. Postekal / nyeri terbuka → diare. (Anonim. c. Jika sudah terjadi perforasi. demam → → derajat rendah. Retrosekal / nyeri – punggung / pinggang. 2007) 2. Muntah oleh karena nyeri viseral. c. permulaan . Nyeri. nyeri akan terjadi pada seluruh perut. menghindarkan pergerakan.

Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut. Hal ini penting oleh karena banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam. Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan.Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Hb (hemoglobin) nampak normal.8 Penatalaksanaan Medik Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. 11 . Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. kecuali bila terjadi peritonitis. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. 2. Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif.

Obstruksi usus e.9 Komplikasi a. Peritonitis g.2. Hernia insisional f. Kematian 12 . Infeksi luka b. Infeksi intraabdomen c. Fistula fekal d.

IDENTITAS 1. Penanggung jawab : Tn. Jenis Kelamin 4. Klien kemudian di rujuk untuk rawat inap di Paviliun G1. Kamar :4 I. RIWAYAT SAKIT DAN KESEHATAN 1. Suku/bangsa 7. Agama 6. Bahasa 8. 2. I : 49 Th : Laki .30 No. Klien sudah ke UGD 2x dan diagnosa medis “Apendisitis Kronis”.40 : 00-00-08-xx-xx Tgl/jam pengkajian: 2 Oktober 2012 / 14. Pendidikan 9. RM Diagnosa medis : Appendisitis Kronis Ruangan/kelas : G1 / III No. Umur 3. Riwayat Penyakit Sekarang : Klien datang ke UGD RSAL pada tanggal 24 September 2012 pukul 19. Status 5. Tgl/jam MRS : 24 September 2012/ 23.16 dengan keluhan sakit perut dan tidak bisa flatus serta buang air besar sejak 4 hari.BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH STIKES HANG TUAH SURABAYA Nama Mahasiswa : Fitria Ayu C. Nama 2. Klien juga mengatakan muntah ± 3x/hari sejak 2 hari. Pekerjaan 10. Alamat dan nomor telp 11. Keluhan utama : Klien mengatakan perut bagian kanan bawah terasa nyeri. 13 .laki : Menikah : Islam : Indonesia : Indonesia : SMP : Marinir : Surabaya : Menbanpurmar II.

Pola Aktivitas dan Latihan a. III. Riwayat alergi : Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan maupun obat-obatan. 4. Riwayat Kesehatan Keluarga : Tidak terkaji ( salah satu orang tua meninggal). 2.3. 5. Susunan keluarga (genogram) : Keterangan : Perempuan : Laki . Persepsi Terhadap Kesehatan (keyakinan terhadap kesehatan & sakitnya) Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan cepat pulang agar dapat berkumpul dengan keluarganya. Kemampuan perawatan diri Aktivitas Mandi SMRS 0 1 2 3 4 0 1 MRS 2 3 4 14 . Riwayat Penyakit Dahulu : Klien mengatakan mempunyai riwayat hipertensi dan diabetes melitus.laki : Pasien : Tinggal serumah 6. POLA FUNGSI KESEHATAN 1. Klien mematuhi pengobatan dan perawatan yang diberikan selama dirumah sakit.

00 – 04.00 Jumlah jam tidur : 7 jam Masalah di RS : ( ) tidak ada Di rumah sakit Waktu tidur : Siang . Olahraga : ( ) tidak ( ) ya.00 Jumlah jam tidur : 6 jam ( ) terbangun dini ( ) mimpi buruk ( ) insomnia ( ) lainnya. jalan-jalan 3. Pola Istirahat dan Tidur Di rumah Waktu tidur : Siang . Rekreasi : 1 bulan kadang-kadang mengadakan rekreasi bersama keluarga. Aktivitas sehari-hari : Bekerja sebagai anggota marinir.– Malam 22. sering terbangun 15 . Kebersihan diri Di rumah Mandi : 3 x/hr Di rumah sakit Mandi Gosok gigi Keramas : 2 x/hr : 3 x/hr : 2 x/mgg 2 = dibantu orang lain ) tidak ( ) Kruk ( ) Tongkat ( ) Kursi roda 3 = dibantu orang lain & alat 4 = tergantung/tidak mampu ( ) Pispot disamping tempat tidur Gosok gigi : 3 x/hr Keramas : 3 x/mgg Potong kuku : 2 x/mgg Potong kuku : .Berpakaian/berdandan Skor 0= Eliminasi/toileting mandiri 1= Mobilitas di tempatalat bantu tidur Alat bantu Berpindah : ( Berjalan Naik tangga Berbelanja Memasak Pemeliharaan rumah b. d.– Malam 22. e.00 – 05.x/mgg c.

Pola Eliminasi a. Pola Nutrisi – Metabolik a.... Buang Air Besar Di rumah Frekuensi Konsistensi Warna : 1 x/hari : padat : Kuning Di rumah sakit Frekuensi konsistensi Warna : 1 x/hari : padat : ( ) Kuning ( ) bercampur darah ( ) lainnya.. Pola Minum Di rumah Frekuensi Jenis Jumlah Pantangan Minuman disukai : 4-5 gelas : Air putih : ± 1000 ml :: semua jenis minuman Di rumah sakit Frekuensi : 3-4 gelas Jenis Jumlah : Air putih : ± 800 ml 5. sayur : 1 porsi Diit khusus : NDM 2100kal Bi Makanan disukai : semua jenis makanan Nafsu makan di RS : ( ) normal ( ) bertambah ( ) berkurang ( ) stomatitis ( ) mual ( ) muntah.4.. sayur... lauk pauk : 1 porsi :Di rumah sakit Frekuensi : 3 x/hari Jenis Porsi : Nasi tim. 16 ... ..cc Kesulitan menelan Gigi palsu NG Tube : ( ) ya ( ) tidak ( ) tidak ( ) tidak : ( ) ya : ( ) ya b. Pola Makan Di rumah Frekuensi Jenis Porsi Pantangan : 3 x/hari : Nasi.

tusuk = Nyeri di daerah abdomen kanan bawah (RLQ) = Skala nyeri 4 ( 1 – 10 ).) Konstipasi : ( . P Q R S T : ( ) ya : ( ) tidak : ( ) sesuai ( ) tidak.) tidak (-) Inkontinen b. 17 . kateter .cc/hari : 3-4 x/hari : ± 800 ml : Kuning ( . ( ) tidak ( ) ya = Nyeri karena radang pada apendik = Nyeri seperti di tusuk . terutama pada malam hari 8.) ya ( ..Masalah di RS Kolostomi : ( . Sebab: penundaan operasi dan nyeri Kemampuan interaksi Vertigo Nyeri Bila ya.) hematuria 7..) retensi Alat bantu : ( ) tidak Di rumah sakit Frekuensi Jumlah Warna ( . Pola Kognitif Perseptual Berbicara : ( ) normal ( ) afasia Bahasa sehari-hari ( ) gagap ( ) blocking ( ) Jawa ( ) tidak.) nokturia ( .) inkontinen ( ) ya. = Sewaktu – waktu.produksi . ) sedang ( ) berat ( ) lainnya: ( ) bicara tak jelas : ( ) Indonesia Kemampuan membaca : ( ) bisa Tingkat ansietas : ( ) ringan ( ( ) panik. Buang Air Kecil Di rumah Frekuensi Jumlah Warna Masalah di RS : 4-5 x/hari : ± 1000 ml : Kuning : ( .) Diare ( . Harga diri : Pasien semangat untuk sembuh.) disuria ( . Pola Konsep Diri Gambaran diri : Pasien masih bisa melakukan aktivitasnya sendiri. Ideal diri : Pasien ingin sembuh seperti semula...

Pola Koping Masalah utama selama MRS (penyakit. Pola Nilai – Kepercayaan Agama : Islam Pelaksanaan ibadah : Melaksanakan sholat 5 waktu Pantangan agama : ( ) tidak ( ) ya. Pola Peran – Hubungan Pekerjaan Kualitas bekerja : Anggota marinir : Giat dalam bekerja ( ) tidak Hubungan dengan orang lain : Mudah bersosialisasi Sistem pendukung : ( ) pasangan ( ) tetangga/teman ( ) tidak ada ( ) lainnya. 10. Kemampuan adaptasi: Pasien mudah beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit. Meminta kunjungan Rohaniawan : ( ) ya ( ) tidak 18 . biaya. 9. kecemasan. Peran : Pasien beperan sebagai kepala keluarga dan anggota marinir. dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.Identitas diri : Tidak terganggu. Pola Seksual – Reproduksi Menstruasi terakhir : Masalah menstruasi : Pap Smear terakhir : Pemeriksaan payudara/testis sendiri tiap bulan : ( ) ya Masalah seksual yang berhubungan dengan penyakit : 11. anak Masalah keluarga mengenai perawatan di RS : 12. perawatan diri) : Lamanya waktu perawatan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah. mudah tersinggung dan lain – lain.

f. Tanda-tanda vital a. e. d. Sistem pernafasan (Breath) Hidung Trachea Suara napas Otot bantu napas Irama napas Suara tambahan Sesak : Normal : Normal : Vesikuler : Tidak ada : Reguler : Tidak ada : Tidak ada Bentuk dada : Normochest 3. S1/S2 tunggal : Tinggi. : Tidak ada 4. b. irama : reguler : 130/90 mmHg : 22 x/menit : 170 cm : SMRS 72 Kg. MRS 71 Kg irama : reguler 2.IV. Sistem Kardiovaskuler (Blood) Ictus Cordis Nyeri dada Bunyi jantung Tekanan Darah Edema : Setinggi ICS ke-5 : Tidak ada : Regular . Suhu Nadi Tekanan darah Frekuensi nafas Tinggi Badan Berat Badan : 36 oC : 90 x/menit. PENGKAJIAN PERSISTEM (Review of System) 1. Nadi normal . Sistem Persarafan (Brain) Kesadaran compos mentis Glasgow Coma Scale (GCS): E :4 V : 5 M : 6 Nilai total : 15 Kepala dan wajah : Mata Sklera Conjungctiva : putih : merah muda 19 . c.

pahit : normal Nervus Olfaktorius : Klien mampu membedakan berbagai jenis aroma dengan normal. asin. laring tidak ada masalah . Nervus Vagus Nervus Asesorius : Gerakan faring . Nervus Fasialis : Klien dapat menggerakkan lidah dan tersenyum. : Klien dapat memutarkan lehernya ke kanan dan ke kiri . Nervus Hipoglosus : Gerakan lidah tidak mengalami masalah dan klien masih bisa merasakan rasa makanan . : Klien masih dapat merasakan rasa makanan dengan baik . Nervus Auditorius Nervus Glasofaringeus : Pendengaran klien baik . Nervus Trigeminus :Kulit kepala dan kelopak mata atas dapat digerakan dengan normal. 20 . Nervus Abdusens : Klien dapat menggoyangkan bagian sisi mata . Nervus Optikus Nervus Okulomotorus : Penglihatan klien normal : Klien dapat menggerakan bola mata ke kanan dan ke kiri. semi vertical dan semi horizontal .Pendengaran kiri kanan : : Normal : Normal Penciuman Pengecapan Penglihatan : Normal : manis. Nervus Troklearis : Klien dapat munggerakan bola mata secara berputar . ke atas dan ke bawah.

5 – 5 mmol/L ) ( N : 95 – 108 mmol/L ) ( N pria : 13 – 17 / g % ) 21 . Hemoglobin : 12500 mm3 : 44. Turgor kulit klien normal. 9. 5.83 mg/dl : 19. Natrium 7. Kalium 8.3 g % 3 ( N : 4000 – 10000/mm3) ( N : 40 – 54 %) ( N : 150 – 400ribu/mm3) ( N : 0.5 – 1. 5. 5. BUN 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium: Hematologi (24 September 2012) 1. 5. 6. Sistem Muskuloskeletal (Bone) Extremitas atas dextra 5. 5 Sendi (ROM) kedua tangan dan kaki dapat digerakkan dan tidak ada fraktur. Sistem Pencernaan (Bowel) Bibir normal.2 mmol/L : 3. mukosa bibir normal.5. lidah bersih tidak ada benjolan. 8. Trombosit 4. CI 9. Sistem Perkemihan (Bladder) Adanya nyeri tekan pada bagian perut bagian bawah. akral hangat. Kreatinin 5. 5. 5 Extremitas bawah sinistra 5. Sistem Reproduksi dan genetalia Tidak ada gangguan mengenai reproduksi dan genetalia V. Sistem Integumen CRT < 2 detik.7 % : 200000 mm : 1. ada nyeri tekan Mc.5 mg/dl ) ( N : 10 -24 mg/dl ) ( N : 135 – 145 mmol/L ) ( N : 3. warna kulit coklat. tidak terdapat edema. rambut hitam dan sehat.3 mmol/L : 17. 5.88 mmol/L : 95. 7. Bising usus normal. 5. frekuensi urine ± 800 ml warna kuning. 5 Extremitas atas sinistra 5. 5 Extremitas bawah dextra 5. 5. gusi tidak berdarah.8 mg/dl : 129. Leukosit 2. Burney pada saat palpasi dan tidak ada pembesaran hepar. Hematokrit 3.

Injeksi Actrapid 3 x 16 ui 2. Kaltrofen tablet 3 x 1 4. batu (-). batu (-). ectasis (-).8cm3 Mc. GDA 2. dinding tidak menebal. Buli : ukuran normal. GDA 2. diameter 2. parenkim meningkat. SGPT : 135 mg/dl : 45 u/l : 32 u/l ( N : 76 – 110 mg/dl) ( N : 0 – 37 u/l) ( N : 0 – 40 u/l) Kimia Klinik ( 1 Oktober 2012) 1.Kimia Klinik (25 September 2012) 1. VI. batu (-) Prostat : membesar ringan. echo cortex normal. Ketoprofen 2 x 1 mg (1 tablet 100 gr) 3. CBD normal Ginjal kanan : besar normal. batas echo cortex dan medulla normal. GD 2 Jam PP : 293 mg/dl : 395 mg/dl ( N : 76 – 110 mg/dl) ( N : 80 – 125 mg/dl) Kimia Klinik (4 Oktober 2012) 1. parenkim homogen. dinding tidak menebal. Diet NDM 2100 kalori Bi 22 . tampak bedematus.41cm. Lain-lain: USG Abdomen (25 September 2012) Gall Bladder : besar normal. GDA 2. SGOT 3. nyeri tekan tranduser (+/-). Photo: 3. volume 26. TERAPI 1. GD 2 Jam PP : 145 mg/dl : 121 mg/dl ( N : 76 – 110 mg/dl) ( N : 80 – 125 mg/dl) 2. Burney : appendix.

23 .ANALISA DATA Nama Klien Umur : Tn. P = Nyeri karena radang pada apendik Q = Nyeri di tusuk .Ada distensi abdomen . dan tidak ada gangguan tidur.Rm : Pav G1 / 4 : 00-00-08-xx-xx No 1. MRS : Klien mengalami klien gangguan tidur.Pola istirahat : SMRS : Pola tidur klien kurang lebih 7 jam setiap hari.tusuk R = Nyeri di daerah abdomen kanan bawah (RLQ) S = Skala nyeri 4 ( 1 – 10 ) T = Sewaktu – waktu terutama pada malam hari . DS : Data Penyebab Distensi jaringan usus oleh inflamasi Masalah Gangguan Rasa Nyaman Nyeri .Klien mengatakan nyeri pada perut bagian kanan bawah.Klien tampak pucat . I : 49 Tahun Ruangan/Kamar No.Nyeri tekan pada titik Mc.Klien mengatakan susah tidur DO : . Burney .Klien tampak nyeri kesakitan .

N : 90 x/mnt . RR : 22 x/mnt . .Klien mengatakan sulit tidur dan berkeringat.Leukosit: 12500 mm3 ( N : 4000 – 10000/mm3) 2. dapat menyebabkan tidak mampu mekanisme penderita menggunakan koping yang konstruktif / adaptif. . .Klien tampak gelisah.Tingkat ansietas sedang 24 .Klien mengatakan cemas karena menunggu terlalu lama tindakan operasi. DS : . mudah tersinggung dan lain – lain. TD : 130/90 mmHg . . kecemasan.Pola mekanisme stres dan koping Lamanya waktu perawatan menyebabkan psikologis yang reaksi negatif Tindakan Praoperasi Ansietas berupa marah. . DO : .Klien sering melamun.Tanda – tanda vital : S : 360C .mengatakan jika malam hari susah untuk tidur dan cenderung berkeringat akibat nyeri pada abdomen.

sebab pengunduran jadwal operasi abdomen. 1. Masalah Keperawatan Tanggal Di temukan Teratasi Paraf (Nama) Fitria Gangguan rasa nyaman 02-10-2012 nyeri 2. I : 49 Tahun Ruangan/Kamar No. dan nyeri pada PRIORITAS MASALAH KEPERAWATAN Nama Klien Umur : Tn.Rm : Pav G1 / 4 : 00-00-08-xx-xx No. Ansietas 02-10-2012 Fitria 25 .

RENCANA KEPERAWATAN No. Meningkatkan normalisasi fungsi organ. Perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya abses/peritonitis. mengontrol nyeri . Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional 1. Kaji nyeri. P: Saat berjalan tidak nyeri / terkontrol Q: Tidak seperti di tusuktusuk lagi R: Perut bawah nyeri S: Skala nyeri menunjukkan skala nyeri ringan T: Saat berjalan tidak terasa nyeri 2. kemajuan penyembuhan. dengan 2. menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi telentang 4. Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan asuhan 1. Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat. Tercipta hubungan terapeutik antara pasien dengan klien dan keluarga. memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi kanan 3. 1. Bina hubungan baik dengan nyeri berhubungan keperawatan selama 2 x 24 klien dan keluarga. Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah atau pelvis. 1 . contoh merangsang peristaltik dan kelancaran flatus. beratnya (skala 1 – 10). dengan distensi jaringan jam diharapkan klien dapat usus oleh inflamasi . 2. Klien dapat mengatakan nyeri berkurang bagian tidak karakteristik. Pasien tampak rileks. Dorong ambulansi dini 4. catat lokasi. Berguna dalam pengawasan keefektifan obat. Pertahankan istirahat dengan terasa posisi semi-Fowler 3. kriteria hasil : 1.

Berikan informasi tentang klien dapat respon verbal dan non-verbal pasien. meningkatkan perasaan sakit.3. Ansietas dengan praoperasi berhubungan Setelah di lakukan asuhan 1. Ajarkan dan jelaskan teknik manajemen nyeri non farmako 7. proses penyakit dan antisipasi tindakan 3.Klien tampak rileks . 2. Fokus perhatian kembali. Menghilangkan nyeri mempermudah kerja sama dengan intervensi terapi lain. meningkatkan kemampuan koping 6. Perubahan pada tanda – tanda vital mungkin menunjukkan 2 kecemasan. 7. 2. peningkatan denyut / frekuensi pernapasan . 1.Klien tampak tenang 2. penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan. Terapi meningkatkan relaksasi secara non farmako.Klien dapat melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat di tangani . catat tindakan keperawatan 2 x 24 jam di harapkan mengontrol dengan kriteria: . Kolaborasi dengan dokter dengan pemberian obat : Injeksi Actrapid 3 x 16 ui Ketoprofen 2 x 1 mg (1 tablet 100 gr) Kaltrofen tablet 3 x 1 6. Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas 3. Berikan aktivitas hiburan menurunkan ketidaknyamanan abdomen 5. Evaluasi tingkat ansietas. Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat. Klien mampu tidur / istirahat dengan tepat 5. Dorong ekspresi bebas akan emosi. Catat palpitasi. Skala 1 – 3 4.

4.Klien mampu tidur / istirahat dengan tepat tingkat ansietas yang dialami pasien atau merefleksikan gangguan – gangguan faktor psikologis. misalnya ketidakseimbangan endokrin. Observasi pembicaraan isi : dan pola 4. Dorong / instruksikan metode bimbingan imajinasi / relaksasi mental. kata – kata yang digunakan .. Menyediakan petunjuk mengenai faktor – faktor seperti tingkat ansietas. membuat tubuh ikut membantu proses penyembuhan. repetisi. mengurangi ansietas. dan meditasi. tekanan. musik/tape. Mungkin meningkatkan kemampuan koping. Meningkatkan pelepasan endorfin dan membantu dalam perkembangan kontrol lokus internal. misalnya tempat penggunaan lambat – 5. tertawa 3 . nafas lambat. kemampuan untuk memahami kerusakan otak ataupun kemungkinan perbedaan bahasa 5. cepat/lambat. membayangkan menyenangkan.

30 TTV : TD : 130/90 mmHg N : 90x/menit S : 360C RR : 22x/menit 1 . Diagnosa Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi Waktu/ Tanggal 02-102012 14.Skala nyeri 4 A = Masalah belum 17. .00 Injeksi Actrapid 16 ui GCS : 4-5-6 .TTV : TD : 130/90 mmHg S N RR : 36 0C : 90 x/menit : 22 x/menit karakteristik.15 Menganjurkan istirahat semiFowler teratasi P = Intervensi dilanjutkan 17. lokasi.TINDAKAN KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN No 1.00 Mengkaji nyeri.30 Tindakan Keperawatan TT Waktu / Tanggal 02-102012 Catatan Perkembangan Dan SOAP S = Klien merasa sakit di bagian perut kanan bawah O = . dan beratnya 17. 15.00 dan keluarga.Keadaan umum klien tampak menyeringai menahan sakit TT Bina hubungan baik dengan klien 21.

00 S = Klien mengatakan tidak dapat tidur dan cemas O = .00 Memberikan informasi tentang proses penyakit antisipasi tindakan dan TD : 130/90 mmHg S : 360C N : 90 x/menit RR : 22 x/menit A = Masalah belum teratasi 17.TTV : dan non-verbal pasien. Ansietas berhubungan dengan tindakan praoperasi 02-102012 15.30 Mengevaluasi tingkat ansietas. 16.00 Memberikan obat oral : Ketoprofen Kaltrofen 19. respon verbal 02-102012 21.Tingkat ansietas sedang .18.00 Mengajarkan dan teknik manajemen nyeri farmako non jelaskan 2.00 Injeksi Actrapid 16 ui P = Intervensi dilanjutkan 2 .Keadaan umum tampak gelisah dan melamun .

00 Menginstruksik an metode bimbingan imajinasi / relaksasi mental dengan membayangkan tempat menyenangkan.30 TTV : TD : 130/90 mmHg N : 90x/menit S : 360C RR : 22x/menit 18. penggunaan musik/tape. nafas lambat – lambat. 20. 3 . dan meditasi.17.00 Memberikan obat oral : Ketoprofen Kaltrofen 19.30 Mengobservasi isi dan pola pembicaraan.

Keadaan umum klien dapat mengontrol rasa sakitnya .Skala nyeri 3 08. Diagnosa Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi Waktu/ Tanggal 03-102012 07.00 Injeksi Actrapid 16 ui 12.30 Memberikan obat oral : S N RR Ketoprofen Kaltrofen GCS : 4-5-6 . lokasi.00 Tindakan Keperawatan TT Waktu / Tanggal 03-102012 Catatan Perkembangan Dan SOAP S = Klien mengatakan nyeri berkurang O = . 07.8 0C : 80 x/menit : 20 x/menit TT Bina hubungan baik dengan klien 21. A = Masalah teratasi sebagian P = Intervensi dilanjutkan karakteristik. dan beratnya 11.00 dan keluarga.TTV : TD : 130/90 mmHg : 34.15 TTV : TD : 110/70 mmHg 4 .TINDAKAN KEPERAWATAN DAN CATATAN PERKEMBANGAN No 1.00 Menganjurkan istirahat semiFowler 12.30 Mengkaji nyeri.

80C RR : 20x/menit 18.N : 67x/menit S : 36.00 Mengajarkan dan teknik manajemen nyeri farmako non jelaskan 17.00 Injeksi Actrapid 16 ui 17.30 Memberikan obat oral : Kaltrofen 14.00 Memberikan obat oral : Ketoprofen Kaltrofen 5 .30 TTV : TD : 130/90 mmHg N : 80x/menit S : 34.40C RR : 21x/menit 12.

30 Mengevaluasi tingkat ansietas.15 TTV : TD : 110/70 mmHg N : 67x/menit S : 36.Keadaan umum tampak tenang . 6 .80C N : 80 x/menit RR : 20 x/menit A = Masalah teratasi sebagian P = Intervensi dilanjutkan 12.00 Injeksi Actrapid 16 ui . respon verbal dan non-verbal pasien.40C RR : 21x/menit 12.Tingkat ansietas ringan Ketoprofen Kaltrofen 12.30 Memberikan obat oral : Ketoprofen Kaltrofen 15.30 Memberikan obat oral : 03-102012 21.TTV : TD : 130/90 mmHg S : 34.2.00 S = Klien mengatakan rasa cemas berkurang O = . Ansietas berhubungan dengan tindakan praoperasi 03-102012 07.

00 Injeksi Actrapid 16 ui 17. 20.30 Mengobservasi isi dan pola pembicaraan.00 Menginstruksik an metode bimbingan imajinasi / relaksasi mental 7 .80C RR : 20x/menit 18.16.00 Memberikan informasi tentang proses penyakit antisipasi tindakan dan 17.30 TTV : TD : 130/90 mmHg N : 80x/menit S : 34.00 Memberikan obat oral : Ketoprofen Kaltrofen 19.

dan meditasi. nafas lambat – lambat.dengan membayangkan tempat menyenangkan. 8 . penggunaan musik/tape.

Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren. namun mayoritas kasus terjadi antara usia 11 dan 20 tahun. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan. b. Dapat dialami oleh siapa saja tidak bergantung usia. setelah sembuh akan timbul striktur lokal.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko.perforasi dan peritonitis. yaitu sudah bertumpuk nanah. dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial. Menyerang kedua jenis kelamin. Bila tidak terawat.BAB 4 PENUTUP Kesimpulan Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. biasanya ditemukan pada usia tua. Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni : a. Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus dikaji. (Anonim. angka kematian cukup tinggi. namun antara masa puber dan usia 25 tahun lebih sering pada pria. Appendisitis purulenta difusi. Apendisitis kronis. 2007). tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi.sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring. 9 . dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. Apendisitis akut. Apendisitis. dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis. yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal.

Jakarta: EGC Bilotta.com (diakses pada tanggal 3 Oktober 2012) www. Suzanne C.nbci.emedicine.com (diakses pada tanggal 3 Oktober 2012) www.gov (diakses pada tanggal 3 Oktober 2012) 10 . Marilynn. Jakarta : EGC www. Kimberly A.nih.emedicinehealth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2. Moorhouse Frances Mary. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Edisi 3. 2011. 2001. Geisster C Alice.nlm.Kapita Selecta Penyakit : dengan implikasi keperawatan.medscape. Edisi 2. J. Jakarta: EGC Smeltzer.DAFTAR PUSTAKA Doenges E. 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful