Anda di halaman 1dari 6

Pemicu 3 Blok 15 1. Menurut D.

Miller, karies dental adalah sebuah proses Chemicoparasitic (proses kimia dan Parasit) yang dimana karies disebabkan oleh mikroorganisme yang dihasilkan di dalam mulut. Proses Chemicoparasitic terdiri dari 2 tahap : a. Dekstruksi total pada enamel dan dekalsifikasi dentin (tahap pendahuluan) b. Pelarutan residu yang telah melunak (tahap berikutnya) Peranan Karbohidrat : Tingkat kariogenitas (kemampuan dalam terbentuknya karies) dari makanan berkabohidrat tergantung berdasarkan frekuensi konsumsi (berapa kali makan dalam sehari), bentuk dan komposisi kimia dari makanan yang kita makan. Makanan berkabohidrat yang lengket dan padat lebih memungkinkan terjadinya karies daripada makanan berkabohidrat dalam bentuk cairan. Asam yang mengakibatkan terjadinya proses dekalsifikasi berasal dari fermentasi dari sisa-sisa karbohidrat dan gula yang menempel pada gigi. Prosesnya sebagai berikut : Bakteri + Gula + Gigi = Asam Organik + Karies Peranan Mikroorganisme : Mikroorganisme dapat melarutkan gula dan memproduksi asam yang dapat menyebabkan terjadinya karies. Contohnya : Lactobacillus Acidophilus : terjadinya Karies permukaan Acidogenic Streptococci : lesi karies yang lebih dalam Streptococcus Mutans : karies pada pit dan fissur Actinomyces Viscosus : Karies yang telah mencapai atap pulpa

2. Prinsip dari pembagian lesi karies menurut Mount dan Hume adalah minimal intervention. Artinya, perawatan terhadap karies dengan mengambil jaringan gigi yang terdemineralisasi saja. Pembagian lesi karies menurut Mount dan Hume terbagi atas : a. Menurut lokasi terjadinya lesi - Lokasi 1 : pit dan fisur pada permukaan oklusal dari gigi posterior - Lokasi 2 : pada daerah kontak diantara 2 gigi yang bersebelahan baik gigi posterior maupun gigi anterior pada bagian aproksimal - Lokasi 3 : pada daerah servikal yang berhubungan dengan gingiva termasuk pada permukaan akar gigi yang terekspos b. Menurut ukuran terjadinya lesi - Ukuran 0 : lesi dimulai dari daerah manapun yang masih dapat diindentifikasi dan belum terbentuk kavitas pada permukaannya ; lesi masih dapat disembuhkan

Ukuran 1 : lesi yang terbentuk masih kecil dan memerlukan tindakan operative ; kavitas yang terbentuk dapat disembuhkan dengan remineralisasi. Ukuran 2 : kavitas dengan ukuran sedang. Masih terdapat beberapa struktur gigi untuk menjaga keutuhan dari mahkota dan masih dapat menerima tekanan oklusal yang diberikan Ukuran 3 : kavitas yang terjadi harus dipreparasi dan diperbesar sebagai proteksi pada mahkota yang tersisa untuk menerima tekanan oklusal. Pada dasar cusp terdapat fraktur yang jika tidak dilindungi akan mengakibatkan fraktur pada keseluruhan gigi Ukuran 4 : kavitas yang terjadi sudah meluas ke keseluruhan cusp dari gigi posterior atau daerah insisal dari gigi anterior.

3. Persamaan klasifikasi lesi karies menurut Black dengan Mount & Hume : Black Mount & Hume Keterangan Lokasi 1, Ukuran 2 (1,2) Kavitas berada pada daerah Kelas I oklusal dari gigi posterior dan kavitas yang terbentuk dengan ukuran sedang Lokasi 2, Ukuran 2 (2,2) Kavitas terdapat pada Kelas II permukaan aproksimal dari 2 Kelas III Lokasi 2, Ukuran 4 (2,4) gigi yang berkontak dari gigi Kelas IV anterior maupun gigi posterior dengan ukuran yang sedang (Kelas 2 dan Kelas 3) dan meluas ke insisal (Kelas 4) Lokasi 3, Ukuran 0 (3,0) Kavitas terdapat pada daerah Kelas V Lokasi 3, Ukuran 1 (3,1) servikal : Lokasi 3, Ukuran 2 (3,2) - Untuk gigi yang Lokasi 3, Ukuran 3 (3,3) mengalami erosi/ lesi yang Lokasi 3, Ukuran 4 (3,4) kecil pada permukaan bukal atau lingual (3,0) - Jika diperlukan restorasi pada lesi kecil tersebut (3,1) - Untuk karies yang lebih besar (3,2) - Untuk lesi daerah interproksimal (3,3) - Untuk lesi yang kompleks dan melibatkan lebih dari 2 permukaan gigi 4. Lesi-lesi non karies antara lain : a. Erosi

Definisi : hilangnya permukaan gigi akibat proses kimia tanpa melibatkan bakteri. Umumnya, bentuk dari erosi berupa baji yang disebabkan oleh zat kimia pada daerah sevikal gigi. Etiologi : a. Erosi intrinsik : muncul akibat adanya asam-asam endogen, biasanya karena regugitasi (naiknya makanan dari kerongkongan atau lambung tanpa disertai rasa mual) asam lambung kedalam rongga mulut. Hal ini dapat muncul dalam keadaan : - Gangguan pada saat makan : Anorexia nervosa, Bulimia nervosa - Vomit (muntah) : muntah yang berulang-ulang, muntah yang disebabkan oleh obat-obatan - Pregnancy morning sickness : perasaan muntah yang sering terjadi pada trisemester pertama pada masa kehamilan - Gangguan saluran cerna b. Erosi ekstrinsik, antara lain : - Lingkungan - Makanan, akibat konsumsi yang tinggi terhadap : jeruk, minuman ringan berkarbonasi, dll - Obat-obatan : aspirin, vitamin C, dll b. Abrasi Definisi : hilangnya struktur gigi akibat keausan mekanik yang abnormal Etiologi : 1. Kesalahan dalam melakukan instruksi oral hygiene - Teknik menyikat gigi secara horizontal - Menyikat gigi dengan bulu yang keras - Menggunakan pasta gigi yang abrasif 2. Kebiasaan yang abnormal : sering menggunakan tusuk gigi, mengigit jari tangan c. Abfraksi Definisi : kerusakan permukaan gigi pada permukaan servikal akibat tekanan tensil dan kompresif selama gigi mengalami fleksur atau melengkung Atrisi Definisi : hilangnya struktur gigi karena tekanan mekanis dari gigi antagonis Etiologi : 1. Gigi terkikis karena penggunaannya untuk mengunyah (aktivitas fungsional) 2. Kebiasaan buruk (aktivitas parafungsional) : bruxism, clenching, clicking

d.

5. Pada pemeriksaan klinis menunjukkan gigi 46 : - Tambalan amalgam mengalami fraktur bagian distal sampai 2 mm diatas CEJ - Test vitalitas negatif - Pemeriksaan radiologi terlihat pengisian akar yang hermetis (kedap dan rapat)

Test vitalitas negatif dan pengisian akar yang hermetis menunjukkan bahwa gigi tersebut didiagnosa mengalami karies profunda terbuka non-vital. Pengisian akar yang hermetis bertujuan : 1. Mikrofloara tidak dapat tumbuh 2. Mencegah terjadinya penyakit hiperbarik 3. Merangsang pertumbuhan jaringan sekitar akar gigi Namun, tambalan amalgam pada gigi 46 telah mengalami fraktur bagian distal sehingga tambalan amalgam tersebut harus dibongkar. Pembongkaran tambalan ini dapat menggunakan jenis bur berkecepatan tinggi (high speed) dengan bur bulat dan silindris. Pembongkaran juga harus disertai penyedotan yang kuat agar merkuri yang keluar tidak terhirup oleh dokter maupun pasien. Juga dianjurkan untuk berkumur khlorheksidin sebelum perawatan untuk mengurangi resiko kontaminasi. 6. Jenis restorasi yang dipilih untuk gigi 46 adalah jenis Restorasi Onlay. Indikasi penggunaan restorasi onlay adalah : - Pengganti restorasi amalgam yang rusak - Jika restorasi dibutuhkan sebagai penhubung tonjol bukal dan lingual - Restorasi karies interproksimal gigi posterior - Restorasi gigi posterior yang menerima tekanan oklusal yang kuat. Jenis restorasi ini sangat populer untuk menggantikan restorasi amalgam yang telah rusak. Sehingga pada kasus ini, restorasi onlay adalah tepat. 7. Teknik preparasi overlay sistem adhesif : a. Pemasangan isolator karet b. Akses ke karies dengan menggunakan bur fisur tungsten carbide pendek-kuncup dengan kecepatan tinggi c. Melebarkan kavitas smapai dicapai pertautan enamel-dentin yang sehat d. Memperoleh keyway. Keyway dapat mempengaruhi retensi onlay dan ketahanan terhadap kemungkinan bergesernya restorasi. Keyway dibuat dengan kemiringan minimal 6-10 terhadap sumbu gigi dengan menggunakan bur fisur kuncup dan dijaga agar sumbu bur sejajar dengan sumbu gigi. Seteleh membuat keyway, kavitas dikeringkan untuk memeriksa ada tidaknya sisa karies dan bahwa kavitasnya sedikit membuka dengan sumbu yang benar
e. Pembuatan boks aproksimal

Di bagian ini kavitas harus didalamkan memakai bur bulat kecepatan rendah dan dengan cara yang sama dengan preparasi untuk amalgam dengan jalan membuang dentin karies pada pertautan email-dentin. Ketika dentin karies pada pertautan email-dentin telah dibuang, dinding email dapat dipecahkan dengan pahat dan tepi kavitasnya dihaluskan dengan pahat pemotong tepi gingiva. Preparasi dibuat miring 10oterhadap sumbu gigi dengan bur fisur tunsten carbide kecepatan tinggi.

f.

Pembuangan karies dalam Karies mungkin tertinggal di dinding aksial dan paling baik dibuang dengan bur ukuran medium (ISO 012) dalam kecepatan rendah. Jika dentin karies telah dibuang, periksa kembali untuk memastikan tidak adanya undercut. Jika masih ada undercut, maka undercut tersebut ditutup dengan semen pelapik pada tahap preparasi berikutnya sehingga preparasi mempunyai kemiringan yang dikehendaki. g. Pembuatan bevel Garis sudut aksio-pulpa hendaknya dibevel, baik dengan memakai bur pengakhir kecepatan rendah maupun dengan bur pengakhir kecepatan tinggi yang sesuai. Bevel hendaknya diletakkan di tepi email, agar tepi tipis hasil tuangan dapat dipaskan seandainya kerapatan hasil tuangan dengan gigi tidak baik. Hendaknya bevel tidak diluaskan lebih ke dalam karena akan mengurangi retensi dari suatu restorasi. Bur lain yang dapat digunakan adalah bur fisur kuncup untuk preparasi kavitas. Tepi luar bevel harus halus dan kontinyu untuk mempermudah penyelesaian restorasi dan supaya tepi tumpatannya beradaptasi dengan baik dengan gigi. Bevel biasanya tidak dibuat di dinding aproksimal karena akan menciptakan undercut, mengingat sebagian besar tepi kavitas terletak di bawah bagian gigi yang paling cembung. Akan tetapi dinding gingiva dapat dan harus dibevel. Bur yang paling cocok adalah bur Baker Curson halus dan kuncup dalam kecepatan tinggi. Bevel gingiva sangat penting karena akan mneingkatkan kecekatan tuangan yang biasanya merupakan hal yang paling kritis.

8. 9. Diagnosa pada gigi 14, 15, 24, 25, 34, 35, 44, dan 45 adalah kavitas klas V (klasifikasi G. V. Black) atau karies dengan Lokasi 3, ukuran 2 (3,2) (klasifikasi Mount & Hume). Alasannya karena gigi-gigi tersebut telah mengenai daerah servikal gigi dan telah berbentuk baji. Artinya, ukurannya sudah mencapai ukuran yang besar. 10. Pemilihan bahan restorasi untuk gigi-gigi tersebut adalah GIC. Alasan pemilihannya karena bahan GIC merupakan bahan adhesif yang melakat dengan kuat pada jaringan gigi serta keuntungannya yang mengandung fluoride. Pada pemeriksaan klinis pasien, didapat bahwa kariesnya telah mencapai daerah dentin, pada daerah dentin terdapat tubulus dentin yang mengandung banyak air. Bahan GIC merupakan bahan yang hidrofilik sehingga dapat melekat dengan baik pada permukaan dentin. Berbeda dengan resin komposit yang hidrofobik terhadap air. 11. Prosedur restorasi kelas V dengan GIC : a. Jaringan gigi yang terkena karies dibuang terlebih dahulu dengan menggunakan ekskavator

b. Permukaaan kavitas terlebih dahulu dibersihkan dengan dentine conditioner untuk membuang sisa-sisa debris yang terdapat pada dentin c. Setelah 15-20 detik, bilas permukaan kavitas yang telah dilapisi dentine conditioner dengan air bersih dan cotton pellet sampai bersih d. Aduklah bahan GIC dengan perbandingan 1 : 1 pada paper pad dengan gerakan melipat e. Dengan menggunakan instrumen plastis, oleskan pada permukaan gigi yang akan direstorasi sebelum GIC mencapai keadaan setting f. Tunggulah sampai 24 jam kemudian dipolis dengan bur stone dan enhanced.