Anda di halaman 1dari 8

Terapi Kanker Kolorektum Ada beberapa tipe terapi yang bisa dilakukan pada pasien dengan kanker Colorectal.

Penanganan yang dilakukan pada kanker ini berdasarkan pada stadium dari kanker. Ada 4 tipe penanganan utama yang bisa dilakukan pada kanker kolon dan kanker rectal, yaitu: 1. Surgery (Bedah) 2. Radiation therapy (Terapi radiasi) 3. Chemotheray (Kemoterapi) 4. Targeted therapy Pada terapi kanker selalu didasarkan pada stadium kanker, posisi, ukuran dan penyebaran kanker tersebut. Dalam penangannya bisa dilakukan monoterapi atau terapi kombinasi yang mungkin dilakukan pada waktu yang bersamaan atau digunakan setelah terapi lain digunakan. Faktor terpenting dalam penentuan terapi kanker ini adalah stadium dari kanker itu sendiri. Selain itu, ada faktor lain yang ikut berperan, yaitu kesehatan secara umum misalnya efek samping dari terapi, dan kemungkinan penyembuhan penyakit, prognosisnya (extending life), atau meringankan gejala. Bila kanker kolorektum tertangkap pada tahap awal (dengan sedikit menyebar) dapat disembuhkan. Namun, ketika terdeteksi pada tahap-tahap selanjutnya (ketika metastasis jauh yang hadir) itu kurang mungkin disembuhkan. Bedah tetap menjadi penanganan utama, sementara kemoterapi dan / atau radioterapi mungkin disarankan tergantung pada keadaan setiap pasien dan faktor-faktor medis lainnya. 1. Surgery (Bedah) untuk Kanker Colorectal Pembedahan biasanya merupakan pengobatan utama untuk kanker usus stadium awal. Suatu Polipectomi adalah suatu metode yang biasa digunakan oleh dokter (ahli endoskopi) untuk mengangkat polip usus yang dianggap berbahaya (mengarah ke pra-kanker) pada saat dilakukannya kolonoskopi. Bila sudah menjadi kanker, maka perlu dilakukan tindakan operasi yang disebut kolektomi atau reseksi segmental. Biasanya dokter akan mengangkat bagian usus yang terkena kanker (termasuk node getah bening didekatnya), dan kemudian menyambungkan kembali bagian usus yang tersisa. Pada operasi ini, dokter mungkin menganggap perlu untuk membuat lumbang pembuangan tinja sementara (ostomi) di pinggang pasien untuk memberikan waktu pada usus untuk sembuh. Suatu bedah laparoskopi kolostomi menggunakan tehnik yang lebih canggih yang tidak memerlukan sayatan panjang seperti pada operasi pembedahan biasa (open surgery). Beberapa

manfaat dari metode ini adalah rasa sakit sesudah operasi jauh lebih berkurang dan pasien tidak perlu rawat inap terlalu lama di RS. Untuk jenis kanker rektum stadium awal, dokter bisa melakukan pembedahan seperti eksisi local dan reseksi trans-anal local, dengan alat ditempatkan ke dalam anus, tanpa harus membuat sayatan pada kulit.

Pada kasus kanker usus dan kanker rektum tahap II dan III, mungkin memerlukan penanganan/pembedahan yang lebih serius, dengan salah satu metode ini: Reseksi Low Anterior: Metode ini dilakukan bila posisi kanker terletak diatas rectum dekat dengan perbatasan usus besar. Dokter bedah perlu membuat sayatan terbuka pada perut untuk mengangkat bagian yang terkena kanker (beserta kelenjar getah bening terinfeksi), tanpa mempengaruhi Anus. Pada metode ini, pasien masih dapat BAB seperti biasa (melalui anus). Proctectomy dengan colo-anal anastomotosis: Bila letak kanker diantara bagian tengah dan 2/3 bawah dubur, maka seluruh rektum dan usus besar yang melekat pada anus perlu diangkat. Ini disebut anastomosis colo-anal (anastomosis berarti koneksi). Ini adalah operasi yang sulit untuk dilakukan. Untuk itu dokter akan membuat kantong pembuangan tinja sementara (ostomi) hingga ususnya sembuh. Operasi kedua diperlukan kemudian untuk menutup pembukaan ostomi. Reseksi Abdominoperineal (AP): bila kankernya berada pada bagian bawah rectum dekat dengan anus, maka ahli bedah perlu mengangkat juga anusnya. Akibatnya sebuah lubang pembuangan tinja (ostomi) permanent perlu dibuat untuk mengeluarkan tinja/kotoran dari tubuh pasien selanjutnya Eksenterasi panggul: Jika kanker rektum sudah menyebar ke organ terdekat, maka diperlukan suatu pembedahan radikal, yang mungkin melibatkan pengangkatan usus besar, anus ataupun kandung kemih/prostate/rahim yang terinfeksi. Suatu ostomi diperlukan untuk pembuangan tinja permanent. Jika kandung kemih diangkat, sebuah urostomy (pembuka untuk buangan air seni) juga diperlukan.

Efek samping Pembedahan Efek samping dari operasi tergantung pada banyak hal, seperti tingkat operasi dan kesehatan umum seseorang sebelum operasi. Rasa sakit sesudah operasi, umum dirasakan. Efek lain yang mungkin timbul antara lain: pendarahan, pembekuan darah di kaki, dan kerusakan organ terdekat selama operasi. Pada kasus yang jarang terjadi, sambungan usus bisa bocor dan menyebabkan infeksi. Selain itu setelah operasi, kemungkinan bisa timbul jaringan parut pada bagian kulit yang dioperasi. Pembuatan ostomi ataupun urostomi juga kadang bisa menimbulkan rasa ganjil dan stress bagi pasien pada tahap awal. Untuk itu, diperlukan bimbingan dari paramedic sehingga dapat terbiasa menjalani kebiasaan BAB maupun berkemih yang baru. Pembedahan juga bisa berdampak pada kehidupan seksual Anda. Beberapa efek samping yang mungkin timbul antara lain, tidak keluarnya air mani saat orgasme, gangguan ereksi pada pria, serta rasa sakit dan menurunnya gairah seksual pada wanita. 2. Radiation therapy (Terapi radiasi) Radioterapi dalam mengobati kanker usus terutama digunakan ketika sel-sel kankernya sudah menempel ke organ dalam atau ke lapisan dalam perut (abdomen). Dalam hal ini radioterapi digunakan setelah operasi pengangkatan untuk memastikan seluruh sel-sel kanker yang tersisa mati. Radiasi jarang digunakan untuk mengobati kanker usus besar yang telah menyebar (metastasis). Untuk kanker rektum, radiasi sering diberikan baik sebelum atau setelah operasi untuk membantu mencegah kanker kembali muncul (kambuh) pada tempat awal kanker. Terapi ini sering diberikan bersamaan dengan kemoterapi. Sebuah tehnik khusus radioterapi dapat dilakukan pada kasus kanker rektum dengan tumor kecil. Tehnik radio-surgery terapi ini memungkinkan pengangkatan tumor, tanpa perlu melakukan operasi pembedahan terbuka. Tipe-tipe Terapi Radiasi Ada banyak terapi radiasi berbeda yang bisa diberikan pada kanker kolon dan kanker rektum. External-beam radiation therapy: Tipe ini sering digunakan untuk orang dengan kanker kolorektum. Radiasinya difokuskan pada kanker dari mesin yang ada diluar tubuh yang disebut Linear Accelerator. Sebelum terapi dimulai, harus ditentukan secara hati-hati sudut yang tepat untuk memfokuskan sinar radiasi dan dosis yang tepat dari radiasi. Terapi radiasi eksternal seperti x-ray tetapi radiasinya lebih intens. Prosedur ini tidak menyakitkan. Biasanya, terapi diberikan 5 hari

seminggu selama beberapa minggu, tetapi lamanya penggunaan akan menjadi lebih pendek jika diberikan sebelum operasi. Endocavitary radiation therapy: Terapi tipe ini digunakan pada beberapa kanker rektum. Sebuah alat kecil dimasukan ke dalam anus sampai di rektum untuk mengirimkan radiasi dengan intensitas yang tinggi selama beberapa menit. Hal ini diulang selama 3 kali dengan rentang selama 2 minggu untuk dosis yang penuh. Keuntungan dari pendekatan ini adalah radiasi mencapai rektum tanpa melewati kulit dan jaringan lain di abdomen, yang artinya efek samping yang dihasilkan berkurang. Terapi ini dapat membebaskan beberapa orang, khususnya orang tua menghindari operasi besar dan colostomy. Terapi radiasi ini hanya untuk tumor-tumor yang kecil. Kadang-kadang external-beam radiation therapy juga diberikan. Brachytherapy (terapi radiasi internal): Dalam metode ini, pelet kecil atau biji bahan radioaktif ditempatkan langsung ke kankernya dalam jangka pendek dengan tujuan mematikan kankernya tanpa merusak jaringan sehat disekitarnya. Metode ini dilakukan untuk orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak dapat menjalani operasi. Terapi ini umumnya hanya dilakukan sekali dan tidak memerlukan kunjungan rutin untuk beberapa minggu. Efek Samping Terapi Radiasi Efek samping dari terapi radiasi bisa mencakup: Iritasi kulit pada tempat sinar radiasi diarahkan Mual Iritasi rektum, yang dapat menyebabkan diare, nyeri akibat pergerakan usus, darah pada feses Inkontinensia usus (kebocoran feses) Iritasi pada kandung kemih, yang dapat menyebabkan masalah seperti sering merasa harus pergi (disebut frequency), terbakar atau nyeri saat kencing, atau darah pada urin. Kelelahan Masalah seksual (impotensi pada laki-laki dan iritasi vagina pada wanita) Sebagian besar efek samping harus dikurangi setelah terapi selesai dilakukan, tetapi masalah seperti iritasi pada rektum dan kandung kemih mungkin tidak hilang sepenuhnya. 3. Chemotheray (Kemoterapi) Kemoterapi (kemo) melibatkan penggunaan obat-obatan melalui infus ke dalam aliran darah ataupun tablet minum untuk mematikan sel-sel kankernya. Kemo kadang digunakan sebelum operasi untuk mengecilkan kankernya, atau pada kasus kanker usus yang telah bermetastasis ke hati. Kemoterapi dapat diberikan dengan cara yang berbeda.

Kemoterapi sistemik: Kemo ini menggunakan obat yang injeksikan ke dalam vena atau diberikan melalui mulut. Obat ini masuk ke dalam pembuluh darah dan mencapai semua area pada tubuh. Terapi ini digunakan untuk kanker yang bermetastasis. Kemoterapi regional: Pada kemo ini, obat diinjeksikan secara langsung ke dalam arteri mengarah ke bagian tubuh yang ada tumor. Pendekatan ini mengkonsentrasikan dosis kemoterapi mencapai sel kanker. Hal ini mengurangi efek samping dengan membatasi jumlah yang mencapai seluruh tubuh. Hepatic artery infusion, dimana kemoterapi diberikan secara langsung kedalam arteri hepatik, dan ini merupakan contoh dari kemoterapi regional, kadang-kadang digunakan untuk kanker kolon yang telah menyebar ke liver. Kemoterapi dapat digunakan pada waktu yang berbeda selama terapi kanker kolon atau rektum. Adjuvant chemo: Kemo ini digunakan setelah operasi untuk menghilangkan kanker. Terapi ini dapat mencegah kanker kambuh dan membantu pasien kanker kolon dan kanker rektum stadium II dan stadium III hidup lebih lama. Kemo ini bekerja dengan membunuh sejumlah kecil sel-sel kanker yang mungkin tertinggal saat operasi karena terlalu kecil untuk dilihat. Kemoterapi Adjuvant juga bertujuan membunuh sel-sel kanker yang mungkin telah melarikan diri dari tumor utama dan menetap di bagian lain dari tubuh (tapi terlalu kecil untuk dilihat pada tes imaging) Neoadjuvant chemo: Untuk beberapa kanker, kemo diberikan (kadang-kadang bersamaan dengan radiasi) sebelum operasi untuk mencoba mengecilkan kanker dan membuat operasi menjadi lebih mudah. Terapi ini dikenal dengan neoadjuvant treatment dan sering digunakan untuk mengobati kanker rektum. Chemo for advanced cancers: Kemo dapat dilakukan untuk membantu mengecilkan tumor dan meringankan gejala untuk kanker yang sudah menyebar ke organ lain, seperti liver. Walaupun tidak untuk menyembuhkan kanker, kemo ini sering membantu orang hidup lebih lama. Beberapa obat dapat digunakan untuk mengobati kanker kolorektum. Sering, 2 atau lebih obat ini dikombinasikan untuk membuatnya menjadi lebih efektif. Obat kemo merupakan obat yang sangat kuat yang juga mempengaruhi sel-sel normal dalam tubuh. Dokter memberikan obat dalam siklus, dengan masing-masing periode terapi diikuti oleh periode istirahat untuk memberikan tubuh, waktu untuk pulih. Siklus kemoterapi biasanya berlangsung sekitar 2 sampai 4 minggu, dan biasanya orang-orang mendapat setidaknya beberapa siklus pengobatan. Obat yang paling sering digunakan untuk kanker kolorektum meliputi: 5-Fluorouracil (5-FU), yang sering diberikan dengan vitamin seperti obat leucovorin (juga disebut asam folinic), yang membuatnya bekerja lebih baik.

Capecitabine (Xeloda), dalam bentuk pil. Setelah di dalam tubuh, obat ini berubah menjadi 5-FU ketika sampai di tempat tumor. Irinotecan (Camptosar) Oxaliplatin (Eloxatin) Selain itu, ada juga obat kombinasi yang umum digunakan untu terapi adjuvant, yaitu: FOLFOX: 5-FU, leucovorin, and oxaliplatin (paling sering digunakan) 5-FU and leucovorin (obat ini mungkin digunakan jika pasien mempunyai banyak efek samping dengan FOLFOX) Untuk terapi kanker yang sudah menyebar , ada banyak pilihan, termasuk FOLFOX: 5-FU, leucovorin, and oxaliplatin FOLFIRI: 5-FU, leucovorin, and irinotecan FOLFOXIRI (leucovorin, 5-FU, oxaliplatin, and irinotecan) CapeOx: Capecitabine and oxaliplatin 5-FU and leucovorin Capecitabine Irinotecan Kadang-kadang obat kemo ini diberikan bersamaan dengan obat targeted therapy. Untuk kanker rektum, kemo dengan 5-FU atau capecitabine dikombinasikan dengan radiasi mungkin diberikan sebelum operasi (neoadjuvant treatment). Efek samping dari kemoterapi. Obat kemoterapi bekerja dengan menyerang sel-sel yang membelah dengan cepat, itulah sebabnya mereka bekerja melawan sel-sel kanker. Tapi sel-sel lain dalam tubuh, seperti di sumsum tulang, lapisan mulut dan usus, dan folikel rambut, juga membelah dengan cepat. Sel-sel ini juga cenderung akan terpengaruh oleh kemoterapi, yang dapat menyebabkan efek samping tertentu. Efek samping dari kemo tergantung pada tipe dan dosis obat yang diberikan, serta lamanya waktu penggunaan. Efek samping yang umum pada obat ini mencakup: Rambut rontok Luka pada mulut Kehilangan nafsu makan Mual dan muntah Blood counts yang rendah

Kemo juga dapat mempengaruhi sel-sel pembentuk darah dari tulang belakang, menyebabkan rendahnya jumlah sel darah. Hal ini dapat menyebabkan: Meningkatnya kesempatan untuk terjadi infeksi (dari jumlah sel darah putih yang rendah) Mudah terjadi memar atau pendarahan (dari jumlah platelet darah yang rendah)

Kelelahan (dari jumlah sel darah merah yang rendah)

Bersamaan dengan ini, beberapa efek samping lebih spesifik terhadap obat tertentu, misalnya: Hand-foot syndrome dapat terjadi selama pengobatan dengan capecitabine atau 5-FU (ketika diberikan secara infus). Diawali dengan munculnya kemerahan pada tangan dan kaki, yang kemudian dapat berkembang menjadi rasa sakit dan telapak tangan dan telapak kaki menjadi sensitif. Jika memburuk, melepuh atau pengelupasan kulit bisa terjadi, kadang-kadang sampai terbuka, luka menyakitkan. Neuropathy (nyeri akibat kerusakan pada saraf) adalah efek samping yang umum dari oxaliplatin. Gejalanya termasuk mati rasa, kesemutan, dan bahkan rasa sakit di tangan dan kaki. Hal ini juga dapat menyebabkan pasien memiliki kepekaan yang kuat terhadap panas dan dingin di tenggorokan dan esophagus (tabung menghubungkan tenggorokan ke perut). Hal ini dapat menyebabkan masalah (seperti sakit) menelan cairan. Diare adalah efek samping yang umum dari banyak obat-obatan, tetapi bisa sangat buruk dengan irinotecan. Hal ini perlu dirawat segera saat feses pertama dikeluarkan untuk mencegah dehidrasi yang berat. Kebanyakan efek samping jangka pendek dan cenderung hilang setelah pengobatan selesai. Beberapa, seperti mati rasa pada tangan dan kaki, dapat bertahan untuk waktu yang lama. Tapi sering ada cara untuk mengurangi efek samping. Misalnya, obat-obatan dapat diberikan untuk membantu mencegah atau mengurangi mual dan muntah. 4. Targeted therapy Target terapi, kadang disebut sebagai smart drugs, yaitu hanya memfokuskan diri untuk mematikan sel-sel kankernya, sehingga tidak mengganggu sel-sel normal lainnya. Contoh obatobatan target terapi untuk kanker usus, adalah: bevacizumab (Avastin ), panitumumab (vectibix), dan cetuximab (Erbitux). Bevacizumab (Avastin ): obat ini merupakan antibodi monoklonal buatan (versi manusia) untuk menyerang kanker pada akar molekulnya. Antibodi ini menargetkan endotel vaskular faktor pertumbuhan (VEGF), sebuah protein yang membantu tumor membentuk pembuluh darah baru untuk mendapatkan nutrisi (suatu proses yang dikenal sebagai angiogenesis). Bevacizumab paling sering digunakan bersama dengan obat kemoterapi untuk mengobati kanker kolorektum lanjut. Bevacizumab diberikan oleh intravena (IV) infus, biasanya setiap 2 atau 3 minggu. Bevacizumab telah terbukti membantu meningkatkan kelangsungan hidup untuk kanker stadium lanjut ketika ditambahkan dengan kemoterapi, tetapi juga dapat menambah efek samping. Jarang tapi mungkin efek samping yang serius mungkin terjadi termasuk pembekuan darah, pendarahan yang berat, lubang yang terbentuk di usus besar (disebut perforasi), masalah jantung, dan

penyembuhan luka yang lambat. Jika lubang terbentuk di dalam usus, hal ini bisa menyebabkan infeksi parah dan mungkin memerlukan pembedahan untuk memperbaiki. Efek samping yang lebih umum termasuk tekanan darah tinggi, kelelahan, perdarahan, jumlah sel darah putih yang rendah, sakit kepala, luka pada mulut, kehilangan nafsu makan, dan diare. Cetuximab (Erbitux ): Ini adalah antibodi monoklonal yang secara khusus menyerang faktor pertumbuhan epidermal reseptor (EGFR), sebuah molekul yang sering muncul dalam jumlah tinggi pada permukaan sel-sel kanker dan membantu sel ini tumbuh. Cetuximab digunakan pada kanker kolorektum metastatik, baik sebagai bagian dari pengobatan lini pertama atau setelah pengobatan lain dicoba. Paling sering digunakan baik dengan irinotecan atau digunakan sendiri pada orang yang tidak dapat mengunakan irinotecan atau pada kanker yang tidak berefek pada obat tersebut. Sekitar 4 dari 10 kanker kolorektum mengalami mutasi (cacat) pada gen KRAS, yang membuat obat ini tidak efektif. Selain itu cetuximab juga tidak efektif pada mutasi gen BRAF. Cetuximab diberikan secara, biasanya sekali seminggu atau setiap minggu. Jarang tapi efek samping yang serius dari cetuximab adalah reaksi alergi selama infus pertama, yang dapat menyebabkan masalah pada pernapasan dan tekanan darah rendah. Selain itu banyak orang juga mengalami masalah kulit seperti sebagai ruam jerawat-seperti pada wajah dan dada selama pengobatan, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Efek samping lain mungkin termasuk sakit kepala, kelelahan, demam, dan diare. Panitumumab (Vectibix ): panitumumab merupakan antibodi monoklonal yang menyerang sel kanker kolorektum. Seperti cetuximab, obat ini menargetkan protein EGFR. Obat ini digunakan untuk mengobati metastasis kanker kolorektum, biasanya setelah pengobatan lain telah dicoba. Seperti cetuximab, obat ini tidak efektif dalam 4 dari 10 orang dengan kolorektum kanker yang memiliki mutasi pada gen KRAS. Selain itu panitumumab juga tidak efektif pada mutasi gen BRAF. Panitumumab diberikan secara IV, biasanya setiap 2 minggu sekali. Kebanyakan orang mengalami masalah kulit seperti ruam selama pengobatan, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi. Efek samping serius lain yang mungkin terjadi adalah adanya jaringan parut (scar) pada paru-paru dan reaksi alergi terhadap obat. Sensitivitas terhadap sinar matahari, kelelahan, diare, dan perubahan pada kuku jari tangan dan jari kaki juga mungkin terjadi. Target terapi biasanya dilakukan bersamaan dengan kemoterapi untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
CancerHelps. 2012. Colorectal Cancer. http://www.cancerhelps.com/pengobatan-kanker-usus.htm American Cancer Society. Colorectal Cancer. Atlanta, Ga: American Cancer Society; 2012 American Cancer Society. Cancer Facts & Figures 2012 Atlanta, Ga: American Cancer Society; 2012. American Cancer Society. Colorectal Cancer Facts & Figures 2011-2013. Atlanta, Ga: American Cancer Society; 2011.