Anda di halaman 1dari 36

ASUHA KEPERAWATAN HIPOGLIKEMIA

Diposkan oleh Rizki Kurniadi DEFINISI Hipoglikemia (kadar glukosa darah yang abnormal rendah) terjadi kalau kadar glukosa darah turun dibawah 50-60 mg/dl (2,7-3,3 mmol/L). (Brunner and Suddarth, 2002). Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara abnormal rendah.(http://WWW.Medicastore.com, 2005).

ETIOLOGI Hipoglikemia bisa disebabkan oleh : 1. Pelepasan insulin yang berlebihan oleh pankreas 2. Dosis insulin atau obat lainnya yang terlalu tinggi, yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darahnya 3. Kelainan pada kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal 4. Kelainan pada penyimpanan karbohidrat atau pembentukan glukosa hati Secara umum, hipoglikemia dapat dikategorikan sebagai yang berhubungan dengan obat dan yang tidak berhubungan dengan obat. Sebagian besar kasus hipoglikemia terjadi pada penderita diabetes dan berhubungan dengan obat. Hipoglikemia yang tidak berhubungan dengan obat lebih jauh dapat dibagi lagi menjadi : Hipoglikemia karena puasa, dimana hipoglikemia terjadi setelah berpuasa Hipoglikemia reaktif, dimana hipoglikemia terjadi sebagai reaksi terhadap makan, biasanya karbohidrat Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh insulin atau obat lain (sulfonilurea) yang diberikan kepada penderita diabetes untuk menurunkan kadar gula darah. Penderita diabetes berat menahun sangat peka terhadap hipoglikemia berat. Hal ini terjadi karena sel-sel pulau pankreasnya tidak membentuk glukagon secara normal dan kelenjar adrenalnya tidak menghasilkan epinefrin secara normal. Padahal kedua hal tersebut merupakan mekanisme utama tubuh untuk mengatasi kadar gula darah yang rendah. Pentamidin yang digunakan untuk mengobati pneumonia akibat AIDS juga bisa menyebabkan hipoglikemia.

Hipoglikemia kadang terjadi pada penderita kelainan psikis yang secara diam-diam menggunakan insulin atau obat hipoglikemia untuk dirinya. Pemakaian alkohol dalam jumlah banyak tanpa makan dalam waktu yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia yang cukup berat sehingga menyebabkan stupor. Olah raga dalam waktu yang lama pada orang yang sehat jarang menyebabkan hipoglikemia. Puasa yang lama bisa menyebabkan hipoglikemia hanya jika terdapat penyakit lain (terutama penyakit kelenjar hipofisa atau kelenjar adrenal) atau mengkonsumsi sejumlah besar alkohol. Cadangan karbohidrat di hati bisa menurun secara perlahan sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan kadar gula darah yang adekuat. TANDA DAN GEJALA Gejala hipoglikemia dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori : gejela adrenergik dan gejala sistem saraf pusat. *. Hipoglikemia ringan : Ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatik akan terangsang. Pelimpahan adrenalin ke dalam darah menyebabkan gejala seperti : perspirasi, tremor, takikardi, palpitasi dan rasa lapar. * Hipoglikemia sedang : Penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fisik pada sistem saraf pusat mencakup ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, pati rasa didaerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, prilaku yang tidak rasional, penglihatan ganda dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi semua gejala ini (disamping gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemia sedang. * Hipoglikemia berat : Fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikemia yang dideritanya. Gejalanya dapat mencakup prilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran. Pada awalnya tubuh memberikan respon terhadap rendahnya kadar gula darah dengan melepaskan epinefrin (adrenalin) dari kelenjar adrenal dan beberapa ujung saraf. Epinefrin merangsang pelepasan gula dari cadangan tubuh tetapi juga menyebabkan gejala yang menyerupai serangan kecemasan (berkeringat, kegelisahan, gemetaran, pingsang, jantung berdebar-debar dan kadang rasa lapar). Hipoglikemia yang lebih berat menyebabkan berkurangnya glukosa ke otak dan menyebabkan pusing, bingung, lelah, lemah, sakit kepala, prilaku yang tidak biasa, tidak mampu berkonsentrasi, gangguan penglihatan, kejang dan koma. Hipoglikemia yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan otak yang permanen. Gejala yang menyerupai kecemasan maupun gangguan fungsi otak bisa terjadi secara perlahan maupun secara tiba-tiba. Hal ini paling sering terjadi pada orang yang memakai insulin atau obat hipoglikemik peroral. Pada penderita tumor pankreas penghasil insulin, gejalanya terjadi pada pagi hari setelah puasa semalaman, terutama jika cadangan gula darah habis karena melakukan olah raga sebelum sarapan pagi. Pada mulanya hanya terjadi serangan hipoglikemia sewaktu-waktu, tetapi lama-lama serangan lebih sering terjadi dan lebih berat. DIAGNOSA

Gejala hipoglikemia jarang terjadi sebelum kadar gula darah mencapai 50 mg/dL. Diagnosis hipoglikemia ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan hasil pemeriksaan kadar gula darah. Penyebabnya bisa ditentukan berdasarkan riwayat kesehatan penderita, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium sederhana. Jika dicurigai suatu hipoglikemia autoimun, maka dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya antibodi terhadap insulin. Untuk mengetahui adanya tumor penghasil insulin, dilakukan pengukuran kadar insulin dalam darah selama berpuasa (kadang sampai 72 jam). Pemeriksaan CT scan, MRI atau USG sebelum pembedahan, dilakukan untuk menentukan lokasi tumor. PATOFISIOLOGI PERUBAHAN BERHUBUNGAN DENGAN USIA Penurunan reabsorbsi makanan Penurunan metabolisme tubuh Penurunan fungsi organ pencernaan Penurunan produksi enzim Tidak nafsu makan

FAKTOR RESIKO
Terlambat makan Aktifitas berlebih Pola makan yang tidak Benar Jenis makanan

PENGARUH NEGATIF DARI FUNGSI YANG TERGANGGU Lemas Letih Penuruan kesadaran Gelisah Mual-muntah Gangguan nutrisi Dan lain-lain

PENANGANAN

Penanganan harus segera diberikan bila terjadi hipoglikemia. Rekomendasi biasanya berupa pemberian 10 hingga 15 gram gula yang bekerja cepat peroral : 2-4 tablet glukosa yang dapat dibeli diapotik 4-6 ons sari buah atau teh yang manis 6-10 butir permen khusus atau permen manis lainnya 2-3 sendok teh sirup atau madu

PENGKAJIAN KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal Pengkajian : 28 September 2005

I. IDENTITAS Nama Tempat / Tgl. Lahir Jenis Kelamin Status Perkawinan Agama Suku Pendidikan Pekerjaan : Ny. K : Menganti, Banyumas Jawa Tengah / 1930 : Perempuan : Kawin : Islam : Jawa : : Ibu Rumah Tangga

at

: Jl. Stasiun Gg. Keluarga No. 311 Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas Penanggung Jawab Nama : Ny. K Harjosari II Kecamatan Medan Amplas : Anak kandung II. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI : Pusing, lemas, letih dan terkadang kedua kaki sakit. Penyebab Timbul keluhan secara lemas. : Kadar gula darah rendah (hipoglikemia) : Bertahap, timbul jika terlambat makan : Jl. Stasiun Gg. Keluarga No. 311 Kelurahan

mat

bungan

uhan utama lansia

or yang memperberat : Jika sudah lemas kemudian klien makan setelah makan badan klien terasa semakin

ampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya : minum susu bendera.

III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU : Sakit pada kedua kaki (asam urat) dan sakit lambung (maag) : Sakit pada kaki dan sakit lambung dirasakan klien sejak 1 tahun lebih : Makan obat yang dibeli dari Apotik (asam urat : piroxicam, dexamethason dan asam mefenamat. Sakit maag : promaag) : Klien berobat ke klinik saja

pernah diderita

engobatannya

ndakan medisnya

IV. RIWAYAT KAJIAN FISIK : Sehat adalah tidak merasa sakit dan sakit tubuhnya. : Terkadan klien minum kopi. Dulu klien suka makan cabe. Klien masih suka makan makanan yang keras seperti jagung goreng, kacang goreng, peyek dan kerupuk : Klien makan 3 x sehari, terkadang pagi hanya makan roti dan teh manis, klien tidak mempunyai jam makan, makan kalau selera makan dan terkadang klien tidak selera makan / tidur : Pada siang hari klien tidur 1-2 jam dan pada malam hari klien tidur 5-6 jam : BAB 1x sehari dan BAK sebanyak 5-6 x sehari : Klien tidak memiliki kebiasaan berolah raga : Klien kurang melakukan aktifitas karena bila klien melakukan aktifitas yang berat maka klien akan merasa lemas adalah seseorang yang merasa sakit pada

ia terhadap sehat sakit

i melakukan aktifitas

rolah raga

VI. RIWAYAT PSIKOLOGI

Aspek psikologi lansia : Emosi klien dalam keadaan stabil, klien tampak tenang, kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat dan klien melakukan sahalat 5 waktu walaupun terkadang ada yang tinggal, klien juga ikut perwiritan ibu-ibu.

VII. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

sial ekonomi lansia : Klien dulunya bekerja sebagai petani, tetapi sekarang klien tidak bertani karena merasa tubuhnya tidak kuat lagi. Sumber pendapatan dipenuni oleh anak klien yang bekerja di pabrik dan jualan dan tinggal bersama klien VIII. RIWAYAT SPIRITUAL

Aspek spiritual lansia : Klien melakukan sholat 5 waktu, walaupun kadang ada yang tinggal, klien juga ikut perwiritan ibu-ibu

IX. RIWAYAT PSIKOSOSIAL

psikososial lansia : Klien memiliki komunikasi yang baik dengan keluarga yaitu suami, anak dan cucu yang tinggal satu rumah dengan klien, maupun yang tinggal berdekatan dengan rumah klien.

Klien dapat berinteraksi dengan tetangga sekitar rumah dengan baik dan juga ikut dalam kegiatan perwiritan ibu ibu

X. PEMERIKSAAN FISIK : Kesadaran klien compos mentis dan keadaan umum baik Tanda vital : TD : 140 / 70 mmHg RR : 24 x/i HR : 74 x/I T : 37O C BB : 51 kg TB : 147 cm

adaan umum

: Bentuk bulat, simetris dan anatomis. Tidak dijumpai tanda peradangan, rambut menyebar merata dan beruban ta : Klien masih mampu melihat benda dengan jarak 2 M, walaupun agak kabur, konjungtiva anemis inga : Terkadang klien kurang mendengar suara lawan bicaranya dengan suara normal dung : Bentuk anatomis dan simetris, tidak dijumpai adanya perdarahan dan tanda peradangan lut / tenggorokan : Tidak dijumpai perdarahan dan tanda-tanda peradangan, gigi atas sebelah kanan sudah banyak yang tanggal, gigi bawah masih banyak yang utuh nafasan : Pola nafas reguler dengan frekuensi 24 x/I kulasi : Pada extremitas atas dan bawah tidak dijumpai adanya edema domen : Bentuk simetris, peristaltik 10 x/i, nyeri ulu hati tidak ada, lingkar perut 108 cm minasi (BAB/BAK) : BAB 1x sehari dan BAK 5-6 x sehari strointestinal : Di dalam teori di katakan bahwa salah satu perubahan fisik pada lansia adalah perubahan Gastrointestinal di mana di dalam saluran GI ini dinding usus kehilangan kekutan dan elastisitas seiring bertambahnya umur sehingga mengakibatkan gangguan pencernaan dan penyerapan zat gizi sehingga dapat menimbulkan keadaan atau kondisi Hypoglikemia. urologis : Klien tidak mengalami paralysis dan parese skuloskletal : Mobilisasi baik tetapi klien mengurangi mobilisasi karena takut lemas, klien tidak mengalami kiposis dan klien tidak mengalami kesulitan dalam melakukan ROM lit : Elastis kulit berkurang karena faktor usia XI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan kadar gula darah pada tanggal 05 oktober 2005 : 70 mg/dL XII. RIWAYAT TERAPI Piroxicam 20 mg Dexamethason 0,75 mg Asam Mefenamat 500mg

pala

ANALISA DATA NO DATA MASALAH KEPERAWATAN Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

DS : 1 Klien mengatakan lemas, pusing dan letih jika terlambat makan dan bekerja berat - Klien mengatakan terkadang malas makan DO : - Klien tampak lemas dan sering duduk - KGD tanggal 5 oktober 2005 70 mg/dL - Klien menderita penyakit maag - BB : 51 kg dan TB : 147 cm - Konjungtiva tampak pucat - Porsi makanan yang dihabiskan hanya satu sendok nasi - Frekuensi makan 3 x/hari, terkadang pagi hanya makan roti dan teh manis, klien tidak mempunyai jam makan, makan kalau selera makan dan terkadang klien tidak selera makan

DS : Klien mengatakan kadang-kadang nyeri pada 2 kedua kakinya DO : - Klien mengkonsumsi obat Piroxicam 20 mg, Dexamethason 0,75 mg dan Asam Mefenamat 500 mg - Klien memijat kakinya yang sakit

Nyeri akut / kronik

DS : - Klien mengatakan tidak mengetahui penyebab sakit/ Kurang pengetahuan 3 nyeri pada kaki dan lemas yang dialaminya mengenai penyakit, - Klien mengatakan hanya minum obat yang prognosis dan kebutuhan dibelinya di apotik pengobatan DO : Klien bertanya tentang penyakitnya

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan makanan yang kurang d/d klien mengatakan lemas, pusing dan letih jika terlambat makan dan bekerja berat. Klien mengatakan malas makan, KGD pada saat puasa tanggal 5 oktober 2005 70 mg/dL . BB : 51 kg, TB : 147 cm. Klien mengatakan menderita penyakit maag, konjungtiva tampak pucat, porsi makan yang dihabiskan hanya 1 sendok nasi, frekuensi makan 3 kali sehari, terkadang pagi hanya makan roti dan teh manis, klien tidak mempunyai jam makan, makan kalau selera makan dan terkadang klien tidak selera makan 2. Nyeri akut / kronik b/d peningkatan asam urat yang memicu pembentukan kristal d/d klien mengatakan terkadang kedua kakinya terasa nyeri Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya informasi tentang penyakitnya d/d klien tidak mengetahui penyebab penyakitnya dan klien sering bertanya tentang penyakitnya

LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS


Diposkan oleh Rizki Kurniadi 1. Defenisi Diabetes mellitus adalah gangguan metabolik yang dikarakteristikkan oleh hiperglikemi, dan diakibatkan dari kerusakan produksi insulin, sekresi, atau penggunaannya. (Sandra. M. Nettina, 2002) 2. Etiologi Diabetes tipe I (IDDM, Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

Faktor genetik : penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri, tetapi mewarisi suatu predisposisi/kecendrungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I. Faktor immunologi : terdapat suatu respon otoimun yang merupakan repon abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggap seolah-olah jaringan asing. Faktor lingkungan : virus/toksin dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

Diabetes tipe II (NIDDM, Non- Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin selain itu terdapat pula faktor-faktor resiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II. Faktor-faktor ini adalah :

Usia (resistensi insulin cendrung meningkat pada usia diatas 65 tahun) Obesitas Riwayat keluarga Kelompok etnik Gaya hidup Merokok

( Brunner & Suddart, 2002) 3. Patofisiologi


Faktor resiko: Toleransi glukosa terganggu (Intoleransi glukosa) Pola makan dan jenis makan (diet buruk) Kurang aktivitas fisik Faktor psikososial (isolasi diri, depresi Pengambilan glukosa oleh jaringan tidak efektif

Perubahan yang berhubungan


dengan penuaan: Penurunan fungsi pankreas Penurunan kemampuan tubuh bereaksi terhadap insulin Perubahan sekresi insulin Perubahan resistensi insulin Penurunan kemampuan tubuh menyerap karbohidrat (lean body mass)

Konsekuensi fungsional negatif: Kelelahan Iritabilitas Penurunan kemampuan Poliuria Polidipsi Luka pada kulit yang lama sembuh Pandangan kabur

4. Manifestasi Klinis Dari pasien diabetes mellitus sensiri, hal yang sering menyebabkan pasien datang berobat kedokter dan kemudian didiagnosa sebagai diabetes melitus ialah keluhan (Sarwono Waspadji, 1996) Poliuria Polidipsia Polifagia Berat badan menurun Kelainan kulit : gatal, bisul-bisul Kelebihan genekologis: keputihan Kesemutan, rasa baal

Kelemahan tubuh Luka atau bisul-bisul yang tidak sembuh-sembuh Infeksi saluran kemih Visus menurun (Sarwono Waspadji, 1996) 5. Klasifikasi a. Tipe I (IDDM) : pankreas memproduksi sedikit/tidak produksi insulin endogen dan harus diatasi dengan injeksi insulin untuk mengontrol diabetes dan mencegah ketoasidosis b. Tipe II (NIDDM) : penyakit yang diakibatkan dari defek pembuatan insulin dan pelepasan dari sel beta, serta resistensi insulin pada jaringan perifer. c. Diabetes gestasional

Awitan selama kehamilan, terjadi pada trimester ke 2 dan ke 3 Disebabkan oleh hormon yang disekresi plasenta dan menghambat kerja insulin Faktor resiko : obesitas, usia diatas 30 tahun, riwayat diabetes dalam keluarga, pernah melahirkan bayi yang besar > 4,5 Kg Pemeriksaan screning (tes toleransi glukosa) harus dilakukan pada semua wanita hamil dengan usia kehamilan 24-28 minggu.

d. Toleransi glukosa terganggu


Kadar glukosa darah diantara kadar normal dan kadar diabetes Kerentanan terhadap penyakit aterosklerosis diatas normal Komplikasi renal dan retina biasanya tidak signifikant

6. Komplikasi a. Akut

Koma hipoglikemia Ketoasidosis Koma hiperosmolar non ketotik

b. Kronik Makroangiopati mengenai pembuluh darah besar: pada jantung, pada tepi, pada otak Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopat diabetik, nefropati diabetik. Neuropati diabetik

Rentan infeksi, seperti tuberkulosis paru, gingivitis, dan infeksi saluran kemih Kaki diabetik (Arif Mansjoer, 1999) F. Pemeriksaan penunjang Ada perbedaan antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. Uji Diagnostik DM dilakukan pada mereka yang menunjukkan gejala/tanda DM. Sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasi mereka yang tidak bergejala, yang mempunyai resiko DM. Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok dengan salah satu resiko DM sbb: 1.Usia > 45 tahun 2.Berat badan lebih, BBR > 110 % BB idaman atau IMT > 23 kg/m2 3.Hipertensi (>140/90 mmhg) 4.Riwayat DM dalam garis keturunan 5.Riwayat abortus berulang,melahirkan bayi cacat atau BB lahir > 4000 gr 6.Kolesterol HDL < 35 mg/dl atau trigliserida > 250 mg/dl. Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah Sewaktu 2 jam sesudah makan (post prandial, pp). Bila hasilnya belum memastikan diagnosa DM, kemudian diikuti dengan pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Untuk kelompok resiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negatif, perlu pemeriksaan penyaring ulangan setiap tahun. Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994) 3 (tiga) hari sebelum pemeriksaan, makan seperti biasa (karbohidrat cukup) Kegiatan jasmani seperti yang biasa dilakukan Puasa paling sedikit 8 jam, mulai malam hari sebelum pemeriksaan, minum air putih diperbolehkan. Diperiksa kadar glukosa darah puasa. Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa), atau 1,75 gram/kgBB (anak), dilarutkan dalam air 250 ml dan diminum dalam waktu 5 menit. Diperiksa kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa. Selama proses pemeriksaan pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

G. Komplikasi 1. Makroangiopati Pembuluh darah jantung

Pembuluh darah tepi Pembuluh darah otak Pembuluh darah kapiler retina mata Pembuluh darah kapiler ginjal Contoh penyulit dengan mekanisme gabungan:

2. Mikroangiopati

3. Neuropati Kardiopati: penyakit jantung koroner dan kardiomiopati Rentan infeksi, misalnya TB.Paru, gingivitis dan infeksi saluran kemih Kaki diabetik Disfungsi ereksi

8. Penatalaksanaan Medik Tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktifitas insulin dan kadar glukosa darah dan upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler, serta neuropatik. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes ;

Diit Latihan Pemantauan Terapi (jika diperlukan) Pendidikan/penyuluhan tentang DM

a. Penatalaksanaan Diet
Prinsip umum Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini :

Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin, mineral) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai Memenuhi kebutuhan energi Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat

Perencanaan makan

Komposisi

KH : 60-70% Lemak : 20-25% Protein : 10-15 % Jumlah kalori yang disesuaikan dengan pertumbuhan status gizi, umur, status akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Kolesterol < 300 mg/H, kandungan serat 25 gr/H Konsumsi garam dibatasi ( ada hipertensi)

b. Latihan jasmani Dianjurkan latihan jasmani teratur 3-4 kali tiap minggu selama 0,5 jam yang sifatnya sesuai CRIPE ( continous, rytmical, interval, progresive, endurance training).

Continous

Latihan harus berkesinambungan dan dilakukan terus menerus tanpa berhenti. Contoh bila dipilih joging 30 menit, maka selama 30 menit pasien melakukan joging tanpa istirahat.

Rythmical

Latihan olah raga harus dipilih yang berirama, yaitu otot-otot berkontraksi dan rileksasi secara teratur. Contoh jalan kaki : joging, lari, berenang, bersepeda, mendayung, main golf, tenis dan badminton tidak memenuhi syarat karena banyak berhenti

Interval

Latihan dilakukan secara selang-seling antara gerak cepat dan lambat. Contoh jalan cepat diselingi jalan lambat, joging diselingi jalan, dan sebagainya.

Progressive

Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas riogen sampai sedang hingga mencapai 30-60 menit. Sasaran heart rate : 75-85 %

Max heart rate

: 920 umur

Endurance Training

Latihan daya tahan untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi seperti jalan ( jalan santai/cepat, sesuai umur), joging, berenang dan bersepeda. c. Terapi Obat hipoglikemi oral (OHO)

Sulfonilurea

Bekerja dengan cara: - menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan - menurunkan ambang sekresi insulin - menaikkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa

Biguanid

Menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai dibawah normal

Inhibitor glukosidase : obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim glukosidase didalam saluran cerna, sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia pasca prandial.

Insulin sensitizing agent : thoazolidinediones adalah golongan obat yang mempunyai efek farmakologi menaikkan sensetivitas insulin sehingga bisa mengatasi masalah resistensi insulin dan berbagai masalah akibat resistensi insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia. Insulin Indikasi pengunaan insulin pada NIDDM adalah

DM dengan berat badan menuruncepat/kurus Ketoasidosis, asidosis laktat dan koma hiperosmolar DM mengalami stres berat ( infeksi sistemik, operasi berat dan lain-lain) DM dengan kehamilan / DM gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan

DM yang tidak berhasil dikelola dengan obat hipoglikemik oral dosis maksimal atau ada kontra indikasi dengan obat tersebut

d. Penyuluhan Penyuluhan untuk pencegahan primer : Kelompok resiko tinggi Materi penyuluhan : Faktor-faktor yang berpengaruh pada timbulnya diabetes dan usaha untuk mengurangi faktor resiko tersebut Penyuluhan untuk pencegahan skunder : Kelompok pasien diabetes terutama yang baru Materi penyuluhan Apa itu diabetes mellirus Penatalaksanaan diabetes Obat-obat untuk diabetes Perencanaan makan Diabetes dengan kegiatan jasmani/olah raga Materi penyuluhan tingkat lanjutan Mengenai dan mencegah komplikasi akut DM Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain Makan diluar rumah Perencanaan untuk kegiatan-kegiatan khusus Pemeliharaan/ perawatan kaki komplikasi Materi penyuluhan Maksud dan tujuan cara pengobatan pada komplikasi kronik diabetes Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan Kesabaran dan ketangguhan untuk dapat menerima dan memanfaatkan keadaan dengan komplikasi kronik

Penyuluhan untuk pencegahan tersier : Pasien diabetes yang sudah mengalami

PANDUAN PRAKTIS UNTUK DIET PENYAKIT DM a. Makanan yang tidak dianjurkan untuk penderita DM Makanan yang cepat terserap menjadi gula, spt: gula pasir, gula jawa, buahbuahan yang diawetkan dengan gula, dodol, bolu,selai, kue-kue manis, permen, permen cokelat, biscuit, sirup, soft drink, susu kental manis dan es krim.

b. Makanan yang dianjurkan Makanan yang nengandung karbohidrat dan tinggi serat dan tidak terlalu halus, spt: roti biji gandum, ubi jalar, kentang, talas, biscuit berserat, sayur-sayuran, kacangkacangan, dan buah-buahan segar. c. Sumber serat dari sayur-sayuran Kembang kol, tauge, ketimun, rebung, jamur segar, seledri, kangkung, pepaya muda, labu siam, selada, gambas, lobak, cabai hijau besar, labu, terong, tomat dan sawi. d. Buah-buahan yang dianjurkan Buah-buahan yang kurang manis, spt: pepaya, kedondong, salak, pisang, apel. e. Buah-buahan yang dihindari/dibatasi, spt : Sawo, nenas, rambutan, durian, nangka, anggur. Contoh Menu Berdasarkan Daftar Bahan Makanan Penukar KEBUTUHAN BAHAN MAKANAN DALAM PENUKAR DIET 1700 KALORI
SEHARI (P) Nasi/Penukar Ikan/Penukar Daging/Penukar Tempe/Penukar Sayuran A Sayuran B Buah/Penukar Minyak/Penukar 5 2 1 3 S 2 4 4 1 1 S 1 1 2 PAGI (P) 2 1 1 SIANG (P) 2 1 1 S 1 1 2 2 SORE (P) SNACK (P)

Ket : S = Sekehendak CONTOH MENU DM 1700 KALORI


Waktu PAGI Bhn Makanan Penukar Roti Margarin Telur 10.00 SIANG Pisang Nasi Udang Tahu Minyak Sayuran Kelapa 16.00 MALAM Jeruk Duku Nasi Kebutuhan Bahan 2 iris sdm 1 btr 1 buah 11/2 gelas 5 ekor 1 potong sdm 1 gelas 5 sdm 1 buah 16 buah 11/2 gelas Jeruk Duku Nasi Contoh Menu Roti panggang Margarin Telur rebus Teh panas Pisang Nasi Oseng-oseng Udang,tahu,cabe ijo Urap sayuran

Ayam Kacang merah Sayuran Minyak Apel Malang

1 potong 2 sdm 1 gelas sdm 1 buah

Sop ayam + Kacang merah Tumis sayuran Apel

Sumber : * Practice guidelines for medical nutrition therapy provided by dietition for persons with NIDDM. J Am Diet Assoc. 1995. PB PERKENI, 1993: Konsensus pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia Anjuran gizi seimbang pada penderita Diabetes 1. Makanlah aneka ragam makanan. 2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi (capai dan pertahankan berat badan normal). 3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, sebagian dari kebutuhan energi (pilih karbohidrat kompleks dan serat, batasi karbohidrat sederhana) 4. Batasi konsumsi lemak, minyak dan santan sampai seperempat kecukupan energi. 5. Gunakan garam beryodium (gunakan garam secukupnya saja). 6. Makanlah makanan sumber zat besi (Fe) 7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 4 bulan 8. Biasakan makan pagi 9. Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya 10. Lakukan kegiatan fisik dan jasmani secara teratur 11. Hindari minuman beralkohol 12. Makan makanan yang aman bagi kesehatan 13. Bacalah label pada makanan yang dikemas

PENGKAJIAN KEPERAWATAN Pengkajian pasien diabetes mellitus harus berfokus pada hipoglikemia dan hiperglikemia. Luka pada kulit dan ketrampilan perawatan mandiri diabetes serta tindakan untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Pengkajian dilakukan untuk mendeteksi hipoglikemia dan hiperglikemia disertai pemantauan glukosa kapiler yang sering (biasanya diinstruksikan dokter sebelum jamjam makan serta pada saat akan tidur malam). Pengkajian kulit yang cermat, khususnya pada daerah-daerah yang menonjol dan pada ekstremitas bawah, merupakan tindakan yang penting. Pengkajian ini dilakukan untuk memeriksa apakah kulit pasien kering,

pecah-pecah, terluka dan kemerahan. Kepada pasien ditanyakan tentang gejala neuropati, seperti: perasaan kesemutan dsn nyeri atau pati rasa pada kaki. Pengkajian terhadap ketrampilan perawatan diri / mandiri diabetes dilakukan sedini mungkin untuk menentukan apakah pasien memerlukan pengajaran lebih lanjut tentang penyakit diabetes. Pengetahuan tentang diet dapat dikaji dengan bantuan ahli gizi dengan bertanya langsung atau meninjau pilihan pasien terhadap menu, tandatanda, penanganan dan pencegahan keadaan hipoglikemia serta hiperglikemia harus ditanyakan pada pasien. Pengetahuan pasien tentang faktor resiko penyakit makrovaskuler, yang mencakup hipertensi, peningkatan kadar lemak darah, dan kebiasaan merokok, perlu dikaji. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan nutrisi yang tidak adekuat, masukan dibatasi. 2 Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi metabolik, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan energi. 3. Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek obat, xerostomia, kesulitan mengunyah, perubahan pengecapan, oral hygiene tidak adekuat, gigi rusak atau hilang. 4, Kurang pengetahuan tentang masalah dan penanganan penyakit berhubungan dengan kurang mendapat informasi. INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa 1: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan nutrisi yang tidak adekuat. Tujuan keperawatan: Menjamin masukan nutrisi yang adekuat.
Intervensi 1.Timbang berat badan klien (tanyakan berapa berat badan terakhir). sering. 3.Anjurkan klien untuk menghindari kopi, alkohol, dan merokok Rasional 1.Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/keefektifan intervensi. membantu proses pemulihan. 3.Kafein dapat meningkatkan aktivitas lambung, rokok dapat mengurangi sekresi pancreas sehingga menghambat netralisasi asam lambung, juga memacu kerja jantung. 4.Memperbaiki kekurangan dan membantu proses penyembuhan.

2.Anjurkan klien makan makanan porsi sedikit tapi 2.Makanan sedikit menurunkan kelemahan dan

4.Anjurkan mengkonsumsi vitamin B kompleks, tambahan diet lain sesuai indikasi. lansia 5.Membantu klien untuk mengatur pola diet seharihari. 5.Berikan klien petunjuk makanan sehari-hari untuk

Diagnosa 2 : Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, kebutuhan energi meningkat. Tujuan keperawatan : Menunjukkan peningkatan tingkat energi

Intervensi 1.Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas yang dapat ditoleransi\ 2.Anjurkan klien untuk istirahat yang cukup 3.Kaji faktor yang dapat meningkatkan dan mengurangi kelelahan

Rasional 1.Mencegah kelelahan yang berlebihan 2.Mengembalikan energi yang telah terpakai / pengumpulan energi. 3.Membantu dalam pembuatan diagnosa dan kebutuhan terapi ataupun intervensi

4.Diskusikan bersama klien hal-hal apa yang dapat 4.Memberi kesempatan kepada klien untuk bersamamenimbulkan kelelahan sama perawat mengidentifikasi hal-hal / aktivitas yang perlu dihindari.

Diagnosa 3 : Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek obat, xerostomia, kesulitan mengunyah, perubahan pengecapan, oral hygiene tidak adekuat, gigi rusak atau hilang. Tujuan keperawatan : Menjamin perbaikan membran mukosa mulut
Intervensi 1.Beritahu klien bahwa mulut yang kering dapat disebabkan oleh efek obat dan harus dievaluasi sebelum memulai obat simptomatik. atau menhisap permen yang asem dapat merangsang produksi saliva (bila dapat ditoleransi) 3.Anjurkan klien untuk minum 10-12 gelas/hari dengan bahan yang mengandung alkohol. 5.Anjurkan klien untuk menghindari rokok 5.Rokok dapat menimbulkan eksoserbasi pada mulut 6.Anjurkan klien agar teratur dalam melakukan oral hygiene dan dapat mengiritasi membran mukosa mulut. 6.Mulut yang kering dapat meningkatkan resiko kerusakan lidah dan gigi. 3.Membantu memberikan kelembaban pada mukosa mulut. 4.Dapat menimbulkan eksoserbasi pada mulut. 4.Anjurkan klien untuk menghindari mencuci mulut Rasional 1.Memberikan pemahaman kepada klien tentang sebab keringnya mukosa mulut dan pentingnya untuk melakukan evaluasi. untuk mencegah mulut kering

2.Beri tahu klien bahwa mengunyah permen karet 2.Sebagai informasi bagi klien tentang cara lain

Diagnosa 4 : Kurang pengetahuan tentang masalah dan penanganannya berhubungan dengan kurang mendapat informasi. Tujuan keperawatan : Meningkatkan pengetahuan klien tentang pengertian penyakit, faktor yang dapat mendukung munculnya masalah kesehatan yang dihadapi dan penanganannya: Meningkatkan kesadaran klien tentang pengaturan diet dan kebiasaan makan.
Intervensi Rasional 1.Kaji pengetahuan klien tentang masalah kesehatan1.Membantu menentukan hal spesifik yang akan yang dialami. 2.Identifikasi bersama klien kebiasaan yang memungkinkan munculnya masalah 3.Anjurkan klien untuk teratur mengkonsumsi obatobatan penurun glukosa darah sesuai resep (kolaborasi) 4.Berikan klien daftar zat-zat yang harus dihindari (misalnya: kafein, nikotin, permen, coklat, makanan yang manis, dll) 5.Anjurkan klien untuk menyesuaikan diet dengan makanan yang disukai, pola makan dan jumlah yang dibutuhkan. 6.Jelaskan kepada klien informasi tentang diabetes 6.Informasi yang diberikan kepada klien bertujuan mellitus yang meliputi: pengertian, penyebab, gejala klinik dan cara penanggulangannya. untuk memberikan pemahaman tentang hal-hal yang berhubungan dengan DM dan penanganannya. 7.Berikan dorongan kepada klien untuk mematuhi 7.Meningkatkan kesadaran klien tentang pengaturan semua saran-saran yang disampaikan oleh perawat. 8.Berikan klien kesempatan bertanya tentang hal- 8.Memberikan kesempatan kepada klien untuk hal yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi mencari informasi tentang hal-hal yang belum diketahui dan dipahami. diet dan kebiasaan makan. 5.Memberi kesempatan kepada klien untuk bekerjasama dengan perawat dalam pengaturan diet. menjadi topik/materi penyuluhan. 2.Membantu klien mengidentifikasi hubungan kebiasaan dengan masalah yang dihadapi saat ini. 3.Memberikan dorongan kepada klien agar konsisten terhadap program penyembuhan. 4.Memberikan informasi kepada klien dan panduan agar dapat dipatuhi.

DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer, (1999), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3,Jilid I, Media Aesculapius FKUI Jakarta Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan medikal bedah, volume 2. Jakarta: EGC. Doenges, M. E, et all. (1999). Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC

Miller, C.A. (1995). Nursing care of Older Adults, Theory and Practice. Philadelphia : J.B. Lippincott Company Nettina, S.M. (2002), Pedoman Praktek Keperawatan, Penerbit EGC Jakarta Soeparman & Waspadji,. (1998),. Ilmu penyakit dalam, (jilid 1). Jakarta: FK UI Utama, H. (2004). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.s Jakarta: FK UI PB. PERKENI. (2002). Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia.

GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Dr. Suparyanto, M.Kes GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT CAIRAN TUBUH

Cairan tubuh adalah larutan isotonik yang tersusun atas air dan zat terlarut (mineral) Bayi: 75 % BB air Dewasa laki: 60% BB air Dewasa wanita: 50% BB air Orang tua: 50% BB air ICF = 40%, ECF = 20% (ISF =15%, IVF = 5%) Ion Na kation utama ECF Ion K kation utama ICF

KETIDAK SEIMBANGAN VOLUME CAIRAN TUBUH

Defisit volume ECF adalah berkurangnya cairan isotonik plasma (serta hilangnya ion Na dan air yang relatif seimbang) disebut dehidrasi

1. Penurunan 2% : dehidrasi ringan 2. Penurunan 5% : dehidrasi sedang 3. Penurunan 8% : dehidrasi berat CAUSA DEHIDRASI Ekstrarenal:

Gastrointestinal: muntah, diare, ileostomi, fistula biliaris, perdarahan Kulit: diaforesis, luka bakar

Ruang ketiga: obstruksi usus, peritonitis, ascites, pankreatitis, efusi pleura, hipoalbuminuria, fraktur paha

Renal:

Penyakit ginjal: nefritis, GGA, diuretik, DM, defisiensi aldosteron, penyakit Addison

GAMBARAN KLINIS DEHIDRASI


Lesu, lemah dan lelah Anoreksia, haus, hipotensi Mukosa mulut kering, lidah kering, turgor menurun Oligouria Takikardi, pusing, sinkop Kesadaran menurun

PENATALAKSANAAN DEHIDRASI Ketentuan Umum:


Berikan maintenance cairan dan ganti cairan yang hilang Ganti kehilangan cairan yang masih berlangsung, volume per volume Pemberian cairan dibagi rata dalam 24 jam, kecuali keadaan khusus

Kebutuhan volume 24 jam/m2


Maintenance: 1500 ml/m2 BSA (Body Surface Area) Kekurangan volume cairan sedang + maintenance (penurunan BB mendadak <5%) 2400 ml/m2 BSA Kekurangan volume cairan yang berat + maintenance (penurunan BB mendadak >5%) 3000 ml/m2 BSA

KELEBIHAN VOLUME ECF


Edema: penumpukan cairan interstisial yang berlebihan Edema disebabkan oleh 4 mekanisme: Peningkatan tekanan hidrostatis kapiler (gagal gantung kongestif) COP (colloid osmotic presure) yang menurun (hipoalbumin pd sirosis) Peningkatan permiabilitas kapiler pada peradangan Obstruksi aliran limfe (post mastektomi)

1. 2. 3. 4.

GAMBARAN KLINIS OVERLOAD CAIRAN ECF


Destensi vena jugularis Peningkatan tekanan v sentral (>11 cm H2O) Peningkatan tekanan darah Denyut nadi penuh, kuat Melambatnya waktu pengosongan vena tangan (> 3-5 detik) Edeme perifer dan periorbita Asites, efusi pleura

PERUBAHAN LABORATORIUM

Penurunan hematokrit Protein serum rendah Ion Na serum normal, ion Na urine rendah (<10 mEq/24jam) Penambahan 2% = kelebihan ringan Penambahan 5% = kelebihan sedang Penambahan 8% = kelebihan berat

PENATALAKSANAAN

Tergantung penyebabnya prinsip pembatasan asupan ion Na dan cairan Edema paru perlu tindakan cepat, untuk menghindari preload yang besar (beban yang masuk jantung) dengan cara: Posisi fowler, Pemberian diuretik kuat, Pemberian oksigen

KETIDAK SEIMBANGAN OSMOLALITAS

Ketidakseimbangan osmolalitas adalah ketidakseimbangan konsentrasi zat yang terlarut (mineral) dalam cairan tubuh Karena ion Na merupakan partikel utama ECF hipo/hiperosmolalitas mencerminkan hipo/hipernatremia Hiperglikemia kejadian khusus pada kasus DM, akibat defisiensi H. Insulin

HIPONATREMIA

Disebabkan air yang berlebihan atau ion Na yang berkurang (Na+ serum < 135 mEq/L) Menyebabkan pembengkakan sel (karena perpindahan air dari ECF ke ICF) mengancam jiwa jika edem terjadi di sel otak Terapi membuang air yang berlebihan atau menganti ion Na

HIPERNATREMIA

Hipernatremia: kadar Na serum >145 mEq/L menyebabkan hiperosmolalitas (ECF) dehidrasi ICF dan pengerutan sel

Penyebab utamanya:

Kehilangan air (mengandung Na) Penambahan ion Na dengan kekurangan air

PENATALAKSANAAN HIPERNATREMIA

Menurunkan ion Na serum, sebelum mencapai kadar kritis (>160 mEq/L) Hipernatremia dengan normovolemia D5 per oral atau IV Hipernatremia dengan hipervolemik D5 dan diuretik Diabetes insipidus desmopresin

HIPOKALEMIA

Hipokalemia kadar ion K serum <3,5mEq/L ( K ion utama ICF) Hipokalemia berkaitan dengan alkalosis (karena alkalosis menyebabkan ion K berpindah dari ECF ke ICF) Etiologi: asupan K , kehilangan K lewat: saluran cerna, ginjal, luka bakar

EFEK HIPOKALEMIA

Perlu diingat: diuretik, digitalis, hipokalemia merupakan kombinasi yang mematikan, karena diuretik hipokalemia meningkatkan efek digitalis disritmia jantung mati

PENATALAKSANAAN HIPOKALEMIA

Prinsip: memulihkan ke normovolemia Hipokalemia peningkatan asupan ion K per oral atau IV (tidak boleh >20mEq/L), bolus KCl tidak boleh IV dapat menyebabkan henti jantung

HIPERKALEMIA

Hiperkalemia: peningkatan kadar ion K serum >5,5mEq/L Hiperkalemia keadaan darurat medis yang perlu segera dikenali dan ditangani untuk menghindari disritmia dan henti jantung (cardiac arrest)

ETIOLOGI HIPERKALEMIA

Pengambilan darah vena yang buruk lisis sel darah ion K keluar sel Ekskresi tidak memadai: GGA dan GGK Insufisiensi adrenal Hipoaldosteronisme Penyakit Addison Diuretik hemat kalium (spironolakton)

1. 2. 3. 4. 5.

Berpindahnya ion K dari ICF ke ECF

1. Asidosis metabolik (pada gagal ginjal) 2. Kerusakan jaringan (luka bakar luas, cedera remuk berat, perdarahan internal)

Asupan yang berlebihan:

1. Pemberian cepat larutan infus IV yang mengandung ion K 2. Pemberian cepat transfusi darah yang disimpan 3. Makan pengganti garam pada pasien gagal ginjal GAMBARAN KLINIS HIPERKALEMIA Neuromaskuler:

kelemahan otot paralisis flasid pd tungkai bawah lalu ke badan dan lengan, Parestesia wajah, lidah, kaki, dan tangan

Saluran cerna:

Mual, diare, kolik usus

Ginjal:

Oliguria anuria

PENATALAKSANAAN HIPERKALEMIA

Pada ion K sangat tinggi (7-8mEq/L) atau ada perubahan EKG sangat mencolok menunjukan adanya ancaman henti jantung ion K harus dirunkan dalam waktu 5 menit 10 ml kalsium glukonat 10% IV secara perlahan, dengan pemantauan EKG 500 ml glukose 10% dengan insulin dalam waktu 30 menit

Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa oleh: Kuntarti, Skp., M. Biomed Pendahuluan Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya.
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh.
#

Komposisi Cairan Tubuh Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan Clterutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma. Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial, sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan normal, terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali. Perpindahan Substansi Antar Kompartmen Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran, maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. Jika tidak dapat menembusnya, maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut. Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya. Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. Transport aktif membutuhkan energi, sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi. Difusi Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Ficks law of diffusion). Faktor-faktor tersebut adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Osmosis Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan, konsentrasi air akan menurun.Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut, maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. Filtrasi Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan, luas permukaan membran dan permeabilitas membran. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. Peningkatan permeabilitas. Peningkatan luas permukaan difusi. Berat molekul substansi. Jarak yang ditempuh untuk difusi.

Transport aktif Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa Na-K. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. 1. Pengaturan volume cairan ekstrasel. Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang.

Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Water turnover dibagi dalam: 1. eksternal fluid exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan 2. Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. Memeperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam.

ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara: 1. 2. mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR). mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal

Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri.Selain sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. 2. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel.

Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah). Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang tidak merata dari

ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui:

Perubahan osmolaritas di nefron

Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH).

Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH)

peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali normal. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus, osmoreseptor di hypotalamus, dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi

peningkatan volume cairan tubuh, maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan.Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur, suhu lingkungan, diet, stres, dan penyakit. Keseimbangan Asam-Basa Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4; pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH <7,35 dikatakan asidosi, dan jika pH darah >7,45 dikatakan alkalosis. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu: 1. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat. 2. katabolisme zat organik 3. disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain: 1. perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat, sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas. 2. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh 3. mempengaruhi konsentrasi ion K bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai semula dengan cara: 1. mengaktifkan sistem dapar kimia 2. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan 3. mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan Ada 4 sistem dapar: 1. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel 3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat 4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian

mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia. Ketidakseimbangan Asam-Basa Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa, yaitu: 1. Asidosis respiratori, disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. Pembentukkan H2CO3 meningkat, dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H. 2. Alkalosis metabolik, disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi. Pembentukan H2CO3 menurun sehingga pembentukkan ion H menurun. 3. Asidosis metabolik, asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru, diare akut, diabetes melitus, olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat. 4. Alkalosis metabolik., terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam non-karbonat. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H karena muntahmuntah dan minum obat-obat alkalis. Hilangnyaion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat, sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat. untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut, fungsi pernapasan dan ginjal sangat penting. KESIMPULAN Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN pemenuhan KEBUTUHAN DASAR CAIRAN DAN ELEKTROLIT I. PENGKAJIAN Riwayat Keperawatan a. Identitas klien Nama Alamat Umur Jenis kelamin Tingkat pendidikan b. Intake dan output cairan - Intake meliputi : semua cairan yg masuk secara oral dan intravena, naogastrik dan nasointestinal - Output : urin, insensibel water loss, drainase. 1. Uraikan kebiasaan bekemih; 2. Apakah ada perubahan baik dalam jumlah maupun.frekuensi; 3. Bagaimana karakteristik urin 4. Apakah tubuh banyak mengeluarkan cairan, bila ya, melalui apa? Muntah, diare, keringat. Rata-rata asupan dan kehilangan cairan normal perhari untuk orang dewasa Asupan Hasil metabolisme : Makanan ml Total Kehilangan 300 ml Ginjal Paru :1200 1500 ml : 500 600 ml : 400 ml : 100 200 ml : 2200 2700 ml

Masukan per oral : 1100 1400 ml Kulit : 800 1000 Sal GI : 2200 2700 ml Total

c. Evaluasi status hidrasi klien meliputi adanya edema, rasa haus yang berlebihan, kering pada membran mukosa Baca Selengkapnya...

d. Apakah klien sedang dalam proses penyakit yang dapat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit : DM, Kanker, Luka Bakar e. Riwayat pengobatan yang dapat mengancam gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit : Steroid, Diuretik dan Dialisis read more c. Pemeriksaan Fisik 1. Integumen : turgor kulit, edeme, kelemahan otot, sensasi rasa. 2. Kardiovaskuler : distensi vena jugularis, tekanan darah dan bunyi jantung. 3. Mata : cekung, air mata kering. 4. Neurologi : reflek, gangguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran. 5. Gastrointestinal : mukosa mulut kering, mulut, lidah, bising usus. Tanda-tanda klinis dehidrasi Tanda/gejala
Tingkat kesadaran Capillary Refill Membrane mucus Tears Denyut jantung RR Td Pulsa / nadi

Dehidrasi ringan
Sadar 2 detik Normal Normal Normal Normal Normal

Dehidrasi sedang
letargi 2 4 detik Kering berkurang Meningkat meningkat

Dehidrasi berat
Pre koma Lebih 4 detik, akral dingin Kering, pecah-pecah Tidak ada Meningkat tinggi Meningkat dan

hiperpnea Normal tapi hipotensi Menurun bila bangun Terpalpasi lemah Dalam, tdk terpalpasi.

Pemeriksaan Laboratorium 1. Pemeriksaan darah lengkap meliputi Haematokrit Ht dan Haemoglobin. 2. Pemeriksaan serum elektrolit : Kadar kalium, natrium, klorida dan ion bikarbonat. 3. Ph dan berat jenis urine : ph normal : 4,5 8 dan Bj 1.003 1.030 4. Analisa gas darah: 60

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN Lingkup diagnosa utama: 1 2 3 Perubahan volume cairan: kelebihan Perubahan volume cairan: potensial kekerungan Perubahan volume cairan: actual kekurangan

III. Perencanaan dan implementasi Tujuan 1 2 3 4 5 6 mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit mengurangi overload mempertahankan berat jenis dalam batas normal. Menunjukkan prilaku yang dapat meningkatkan keseimbangan cairan dan elektrolit Mencegah komplikasi akiabt pemberian terapi. Kriteria hasil: Turgor kulit elastis Membran mukosa mulut lembab Kelopak mata tidak cekung BB stabil Tidak ada keluhan mual,muntah Frekuensi b a b kurang dari 4 kali, konsistensi lembek INTERVENSI A. Kekurangan volume cairan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kaji status hidrasi: kelopak mata, turgor kulit, membrane mukosa mulut Kaji dan pantau pengeluaran urin dan pemasukan cairan Kaji pemahaman klien tentang perlunya mempertahankan hidrasi serta metode mempertahankan intake cairan. Kaji minuman yang disukai dan tidak disukai. Anjurkan klien membuat buku catatan yg berisi asupan cairan, haluran urin dan BB harian. Timbang BB setiap hari: penurnan 24 % dehidrasi ringan; 59 % dehidrasi sedang. Hindari minuman yang bersifat deuretik: kopi, teh. Berikan cairan dan elektrolit sesuai program (oralit,cairan parenteral bila ada indikasi) Monitor hasil laboratorium: elektrolit, Ht, Albumin serum

10 Monitor tanda-tanda vital 11 Monitor intake dan output cairan 12 Pemberian terapi intra vena B. Kelebihan Volume Cairan 1. Identifikasi factor penyebab (kelebihan asupan natium, asupan protein yg tdk adekut, stasis vena).

2. catat I dan O cairan setiap hari. 3. Batasi asupan natrium 4. Anjurkan klien melakukan aktivitas horizontal (meninggikan kaki, dan aktivitas vertical berdiri dengan kaki bergantian, hindari menyilangkan kaki. 5. letakkan ekstremitas yg edema lebih tinggi dari jantung. 6. pada pasien immobilisasi :ubah posisi setia 2 jam , lakukan ROM. 7. pada klien ang edema berat, timbang bb setiap hari.

iv. Evaluasi a. Output urine seimbang dengan intake cairan b. Karakteristik urine menunjukan fungsi ginjal baik c. Pasien mengkonsumsi cairan sesuai program