Anda di halaman 1dari 6

Pendahuluan Ikatan hidrogen adalah salah satu gaya tarik menarik antar molekul yang terjadi antara dua

muatan listrik parsial dengan polaritas yang berlawanan, dalam hal ini ikatan yang terjadi antara atom hidrogen dari molekul yang satu dengan molekul yang lain yang memiliki atom yang N, O, F, seperti ikatan hidrogen pada antar molekul air, pada struktur protein, asam nukleat dan sebagainya. Struktur wujud zat padat adalah struktur dengan susunan teratur dan wujud zat cair dengan susunan tidak teratur. Kristal es memiliki ikatan hidrogen yang teratur, jika es mencair (entropi naik) maka sebagian ikatan hidrogen akan terputus, sebaliknya jika air membeku atau mengkristal maka ikatan hidrogen akan terbentuk secara teratur dengan bobot jenis es lebih rendah daripada bobot jenis air dengan perkataan lain volume es lebih besar daripada volume air. Pada praktikum ini akan dilakukan percobaan untuk membuktikan terjadinya pembentukan ikatan hidrogen antar molekul air (kristalisasi air), kristalisasi dalam sel darah merah dan pengaruh gliserol terhadap kristalisasi air dalam sel darah merah.

Gambar 1. Ikatan hidrogen yang terjadi antar molekul air, dimana muatan parsial positif berasal dari atom H yang berasal dari salah satu molekul air

Metode Percobaan Bahan dan alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah air destilata 1 L, darah hewan 5 ml, heparin 5g, gliserol 25 ml, gelas ukur 100 ml, kaleng minuman kosong 2 buah, cawan petri, kaca objek, mikroskop 1 buah, pipet hematokrit 100 l @ 3 buah. Percobaan dibagi menjadi dua tahapan yaitu percobaan pertama, sediakan dua buah kaleng kosong bekas minuman yang telah diremukkan sebagian, masingmasing diisi penuh dengan air mengalir, ukur volume air dengan gelas ukur 100 mL. Setelah mengukur volume air pada kedua kaleng tersebut, catatlah sebagai volume awal kedua kaleng tersebut. Air dalam kaleng kemudian dikeluarkan. Masukkan pada kaleng pertama air destilata sampai terisi penuh dan pada kaleng kedua dengan gliserol. Masukkan kedua kaleng ke dalam freezer sampai membeku. Bandingkan volume kaleng air setelah air dibekukan dan sesudah dibekukan, perbedaan volume disebabkan terbentuknya ikatan hidrogen. Percobaan kedua dilakukan dengan menggunakan tiga buah pipet hematokrit yang awalnya masing-masing diisi dengan air destilata, sample darah yang telah diberikan heparin sebagai anti koagulant, sample darah dengan anti koagulant yang ditambahkan dengan glicerol ( 1 mL darah ditambahkan 0,10 mL glicerol hingga menjadi 1,20 mL). Lalu setiap pipet hematokrit diukur panjangnya. Masukkan ketiga pipet hematokrit dalam freezer biarkan membeku atau mengkristal. Segera ukur panjang darah dalam pipet hematokrit dan bandingkan perbedaan panjang sampel darah beku dan sampel darah yang belum dibekukan untuk mengetahui terbentuknya ikatan hidrogen. Biarkan sampel darah yang telah dibekukan mencair kemudian siapkan dua gelas objek bersih. Teteskan sampelsampel darah tersebut pada kaca objek dan amati dibawah mikroskop, bandingkan dengan yang telah dibekukan.

Hasil dan Pembahasan Percobaan pertama didapatkan hasil yaitu Volume awal kaleng pertama (V1) yang berisi aquadest 300 mL dan volume kaleng kedua (V2) yang berisi gliserol 306,5 mL, volume ini terukur pada suhu sebelum dibekukan. Setelah dibekukan V1 menjadi 319,5 mL dan V2 menjadi 306,5 mL. Aquadestilata (Air) merupakan senyawa kimia. Senyawa dapat diartikan sebagai gabungan dari beberapa unsur kimia (atom). Rumus kimia air adalah H2O, yang berarti gabungan dari 2 atom Hidrogen (H) dan 1 atom Oksigen (O). Gabungan dari 2 buah atom atau lebih disebut molekul. H2O dapat kita sebut sebagai satu molekul air. Molekul air bersifat dipole (memiliki 2 kutub), yang bermuatan negatif di oksigen atom, dan positif pada Hidrogen atom. Sehingga terjalin ikatan antara molekul air, yang dikenal dengan ikatan Hidrogen. Air memiliki sifat yang unik dibandingkan dengan zat lain, umumnya benda lain memiliki massa jenis yang besar dalam bentuk padat, tapi tidak dengan air. Pada suhu 4C air memiliki massa jenis terbesar, pada bentuk cair. Bila suhu diturunkan masa jenisnya kembali mengecil, fenomena ini dikenal dengan sifat anomali air. Anomali tersebut telah menjadikan berat jenis es lebih kecil daripada air karena volume es yang lebih besar. Berat air yang masih cair adalah sama dengan es yang telah membeku. Perubahan bentuk dari cair ke padat (beku) tidak akan mengubah berat zat tersebut, akan tetapi volumenya mengalami perubahan yakni membesar. Karena volume es lebih besar maka berat jenisnya menjadi lebih kecil dari air. Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya perubahan volume dari V1 300 mL menjadi 319,5 mL. Air akan mulai membeku jika molekulnya tidak memiliki lagi cukup energi untuk melepaskan diri dari ikatan atom hidrogen (H). Pada 0C mulailah terbentuk ikatan-ikatan yang kuat, dimana setiap atom Oksigen (O) secara tetraedris dikelilingi oleh 4 atom Hidrogen (H). Yang pada mulanya ikatan molekul air tidak erat, akhirnya menjadi suatu kristal yang bolong-bolong (cluster). Akibatnya air dalam fase padat (es) ini mengambil bentuk volume yang besar. Pertambahan volumenya hingga mencapai 10%, massa jenisnya juga berkurang 10% (menjadi

lebih ringan). Diremukkannya kaleng yang digunakan dimaksudkan untuk menjaga agar kaleng volumenya tetap dan tidak rusak atau pecah setelah dibekukkan.

Gambar 2. Ikatan hidrogen antara molekul H2O dalam es

Pada percobaan dengan menggunakan gliserol volume tidak mengalami kenaikan karena gliserol merupakan senyawa anti beku dengan rumus kimia C3H8O3 sehingga volume saat cair dan beku tidak mengalami perubahan. Percobaan dengan darah murni dihasilkan panjang pipet hematrokrit awal saat cair (Vo) 3,7 cm dan setelah beku menjadi 3,8 cm. Pada pipet hematokrit yang terisi aquadest dihasilkan panjang pipet hematrokrit awal 3,9 cm dan setelah beku menjadi 4,26 cm. Pada penambahan gliserol dan serum darah panjang pipet hematrokrit awal 3,65 cm dan setelah beku menjadi 3,65 cm.

Gambar 3. Gambaran Sample darah murni sebelum dibekukan (100x)

Kandungan dalam darah Air 91%, Protein 3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinigen), Mineral 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat,

garam fosfat, magnesium, kalsium, dan zat besi). Bahan organik 0,1% (glukosa, lemak asam urat, kreatinin, kolesterol, dan asam amino). Banyaknya kandungan air dalam darah ini yang menyebabkan meningkatnya volume darah terukur melalui panjang pipet hematokrit meningkat juga pengukuran panjang aquadestilata setelah dibekukan bertambah panjang. Untuk serum darah dengan penambahan gliserol tidak terjadi peningkatan karena gliserol sebagai senyawa anti beku mengikat H2O yang ada dalam darah sehingga tidak terjadi penambahan panjang pipet hematrokrit.

Kesimpulan

Pada percobaan ini menunjukkan adanya ikatan hidrogen yang terjadi pada es yang membeku, tetapi saat es mencair maka ikatan hidrogennya akan terputus. Jika ikatan hidrogen es terbentuk secara teratur maka volume es akan lebih besar dari volume air. Penambahan gliserol memberikan efek anti beku sehingga tidaj terjadi penambahan volume begitupun pada percobaan dengan menggunakan sampel darah dimana 71 % dari kandungan darah adalah air.

Daftar Pustaka Aspandi, S.si. 2011. Air dalam Ilmu Kimia.


http://bungelcuy.wordpress.com/2011/06/02/air-dalam-ilmu-kimia/. Last update 01/10/2012.

Silberberg, Martin S. 2000. Chemistry, The Molecular Nature of Matter and Change. Ulfa, Rahmi. 2011. Pengaruh Asam dan PH pada pemurnian residu gliserol dari hasil samping produksi biodisel. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Zulfikar. 2010. Ikatan Hidrogen.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_sma1/kelas2/ikatan-hidrogen-2/. Last update 01/10/2012.