Anda di halaman 1dari 52

Direktori Pembiayaan

Aksi Mitigasi di Perkotaan: Indonesia EDISI I

Direktori Pembiayaan
Aksi Mitigasi di Perkotaan: Indonesia EDISI I

Penerbit: PAKLIM Program Advis Kebijakan untuk Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim c/o Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Gedung B Lt. 5, Jl. DI Panjaitan Kav.24 Jakarta 13410 Indonesia T +62 21 851 7186 F +62 21 851 6110 E info@paklim.org I www.paklim.org Penulis: Chitra Priambodo Tezza Napitupulu Editor: Natasha Kindangen Noordiana Kamilya S. Verena Streitferdt Disainer: Tri Yudho S. Cetakan ke-1 Juni 2011 Cetakan ke-2 Juli 2011 Cetakan ke-3 Juli 2011 Copyright PAKLIM 2011 Isi merupakan tanggung jawab penulis.

Direktori ini dikonsultasikan dan didukung oleh:

KEMENTERIAN KEUANGAN

BAPPENAS

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Daftar Isi

Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Bab 6 Bab 7

Kota dan Pembiayaan Perubahan Iklim Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Dana Alokasi Khusus (DAK) Pinjaman melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Kemitraan Publik Swasta (KPS) Pinjaman/Hibah Luar Negeri yang Dialirkan Melalui Kementerian sebagai bagian dari APBN Contoh Best Practice Kota Blitar

1 12 14 22 27 32 41

Daftar Istilah
Adaptasi Penyesuaian dalam sistem alam atau manusia sebagai respon terhadap rangsangan iklim aktual atau diharapkan atau dampak dari keduanya, yang mengakibatkan kerusakan atau kerugian (UNFCCC, 2006). Setiap perubahan dari sistem iklim, dari waktu ke waktu, apakah karena variabilitas alami atau karena kegiatan manusia (IPCC, 2001). Dalam konteks skema pembiayaan perubahan iklim (carbon finance), sumber daya yang disediakan untuk aksi/program/proyek yang menghasilkan (atau diharapkan menghasilkan) pengurangan gas rumah kaca (World Bank, 2006). Dalam konteks tindakan mitigasi perubahan iklim, menyusun intervensi untuk mengurangi sumber atau meningkatkan rosot dari gas rumah kaca ke dalam kebijakan nasional, program dan prioritas (UNDP, 2005). Intervensi manusia untuk mengurangi sumber atau meningkatkan rosot dari gas rumah kaca. Contohnya termasuk menggunakan bahan bakar fosil lebih efisien untuk proses industri atau pembangkit listrik (UNFCCC, 2006)

Perubahan Iklim

Pembiayaan atau

Financing

Pengarusutamaan

Mitigasi

Kota dan Pembiayaan Perubahan Iklim

Kota dan Perubahan Iklim


Pemusatan populasi dan kegiatan perekonomian (misalnya transportasi dan aktivitas perindustrian) di perkotaan bertanggung jawab atas konsumsi energi dalam jumlah besar dan merupakan sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang besar pula. Namun demikian otoritas kota berada dalam posisi yang pelik untuk merencanakan dan melaksanakan aksi menanggapi perubahan iklim yaitu: Lebih dari 50% penduduk tinggal di daerah perkotaan dan jumlah ini terus meningkat secara signifikan. Pertumbuhan kota yang cepat menjadi kota besar atau mega kota telah menghalangi perencanaan tata ruang yang layak dan memperburuk dampak dari perubahan iklim. Meskipun pembangunan kota merupakan salah satu permasalahan iklim, namun hal tersebut juga dapat menjadi bagian dari pemecahan masalah. Kebijakan perkotaan yang konsisten dengan target nasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan dengan tujuan pembangunan 'pro-pertumbuhan, pro-poor, dan pro-job' akan memastikan bahwa kota di Indonesia akan menjadi bagian dari solusi permasalahan.

Aksi dan Pembiayaan Mitigasi yang Tepat


Permasalahan lingkungan seperti halnya mitigasi perubahan iklim di perkotaan sering tidak dapat ditangani oleh kebijakan yang terkotak pada bidang tertentu saja. Penanganan yang terfragmentasi dalam hal mitigasi tidak dapat menyelesaikan masalah sebenarnya. Karena itu perubahan iklim oleh pemerintah pusat digolongkan ke dalam kebijakan pengarusutamaan, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terpisah dengan kegiatan pembangunan sektoral di dalam kota.
1

Oleh karena itu, dalam menyusun strategi perubahan iklim perkotaan setiap kota dapat mengadakan analisa tentang sumber-sumber emisi GRK dan potensi pengurangannya dari yang terbesar sampai yang terkecil dengan dana terkecil sampai yang terbesar. Informasi tersebut akan membantu menentukan prioritas aksi kebijakan perkotaan yang mempertimbangkan pengarusutamaan dan konsistensi. Tabel 1.1 menggambarkan aksi mitigasi yang relevan dan sumber pembiayaan yang dapat digunakan untuk pelaksanaannya. Sumbersumber pembiayaan inilah yang akan dideskripsikan di dalam direktori ini. Tabel 1.2 menggambaran perkiraan biaya untuk aksi mitigasi yang relevan yang diambil dari berbagai studi kasus di berbagai kota. Biayanya bukan hanya tergantung pada jumlah penduduk kota tersebut tetapi juga pada struktur kota, kependudukan dan kompleksitas serta sifat berbagai kegiatan.
Tabel 1.1 Aksi mitigasi yang relevan di perkotaan

Sumber dana untuk pembiayaan Akses Pinjaman Luar Negeri melalui Kementeria n

Sektor

APBD (dari DBH, DAU, PAD)

DAK

Investasi Swasta/ KPS

Sampah - Pengelolaan sampah 3R - Composting/ pembuatan kompos terpusat

- Penggantian sistem open dumping ke sanitary landfill - Energi dari sampah pada sistem sanitary landfill Transportasi - Pergantian moda transportasi - Penggunaan bahan bakar fosil yang irit - Kampanye kesadaran masyarakat Energi - Efisiensi energi dalam membangunan kota - Penerangan jalan dengan lampu hemat energi - Penghijauan kota

Perencanaan tata ruang/ penggunaan lahan

Tabel 1.2 Gambaran biaya mitigasi

Sektor Sampah - Pengelolaan sampah 3R: Pengelolaan sampah 3R terpadu berbasis masyarakat - Composting/ pembuatan kompos terpusat

Biaya Investasi/ capex (perkiraan)

Biaya operasional per tahun

Keterangan

300.000 dollar AS

N/A

50.000 dollar AS

30.000 dollar AS

- Penggantian sistem open dumping ke sanitary landfill yang terpadu

500.000700.000 dollar AS

50.000 dollar AS

- Energi dari sampah pada sistem sanitary landfill Transportasi -Pergeseran moda

5 juta dollar AS atau lebih

500.000 dollar AS atau lebih

perkiraan berdasarkan studi kasus di kota Khulna, Bangladesh, populasi: 1,5 juta jiwa perkiraan berdasarkan studi kasus di kota Vientianne, Laos. Populasi: 750.000 jiwa perkiraan berdasarkan studi kasus di kepulauan Samoa dan di kota Passi di Filipina. Populasi kota Passi: 80.000 jiwa perkiraan berdasarkan studi kasus di kota Huzhou, China. populasi: 2,5 juta jiwa biaya bisa berubah sesuai

5 - 10 juta dollar AS/km

1,1 juta dollar AS


4

transportasi

Pengembanga n Bus Rapid Transit (BRT) untuk sarana transportasi umum

dengan kompleksitas lintasan dan panjang BRT yang akan dikembangkan. Contohnya Trans Millenio di Bogota. Columbia: US$ 5,8 juta/km, Trans Jakarta: 2 juta dollar AS /km

- Penggunaan bahan bakar fosil yang irit Pengenalan CNG dan pembangunan stasiun CNG untuk pasokan bahan bakar - kampanye kesadaran masyarakat

350.000 dolar AS - 450.000 dolar AS (untuk stasiun pengisian ulang CNG)

15.000 dolar AS - 20.000 dolar AS (untuk stasiun pengisian ulang CNG)

perkiraan berdasarkan studi kasus di kota Quetta , Pakistan. populasi: 900.000 jiwa biaya bisa berubah sesuai dengan kedalaman dan isi program

N/A

N/A

Energi bervariasi dari 20.000 dollar biaya - Efisiensi AS hingga operasional Energi 200.000 dollar yang negatif dalam AS /bangunan karena membangun (fokus pada penghematan kota sistim energi pencahayaan dan AC) Rencana tata ruang/ penggunaan lahan perkiraan berdasarkan studi kasus di kota-kota di berbagai negara (studi kasus IEA)

Penghijauan kota

N/A

N/A

biaya dapat berubah sesuai dengan jumlah pohon yang akan ditanam, areal yang akan dikembangkan, areal penghijauan serta perencanaan

Sifat dan jenis langkah-langkah mitigasi berbeda-beda dan dapat diklasifikasikan menjadi: 1. Langkah-langkah jangka pendek yang dapat dikembangkan berupa proyek serta dapat dicapai dalam jangka waktu yang pendek (1-3 tahun). 2. Langkah-langkah menengah dengan modal sertabiaya operasional dan perawatan yang cukup besar(jangka waktu menengah, waktu pengembangan 3-5 tahun, pengoperasian dan perawatan > 5 tahun), 3. Langkah-langkah jangka waktu panjang yang berkaitan dengan kebijakan jangka panjang seperti perencanaan tata guna lahan/tata ruang dan transportasi terpadu.
6

Pembiayaan dan Skema Insentif Perubahaan Iklim yang Sedang Dikembangkan


Saat ini ada beberapa bentuk pembiayaan perubahan iklim nasional yang sedang dikembangkan untuk memanfaatkan dana-dana asing terkait aksi mitigasi dan adaptasi: PT Indonesia Green Investment atau Indonesia Green Investment Fund (IGIF) sedang dalam proses pembentukan oleh Pusat Investasi Pemerintah (PIP). PIP dikelola oleh Kementerian Keuangan RI. Keterangan lebih lanjut mengenai IGIF tercantum di Bab 4 mengenai PIP. Indonesian Climate Change Trust Fund (ICCTF) didirikan oleh BAPPENAS untuk memanfaatkan hibah-hibah dalam jumlah kecil yang ada dan komitmen pendanaan dari donor luar negeri dengan cara mengumpulkan sumber pembiayaan tersebut menjadi satu sumber sehingga dapat digunakan untuk membiayai aksi inisiatif karbon rendah dalam skala yang lebih besar. Saat ini ICCTF didukung oleh DFID (US$ 7.5 juta) dan AusAID (US$ 2 juta). Kegiatan-kegiatan yang saat ini dikembangkan dibawah ICCTF adalah bantuan teknis dan kegiatan peningkatan kapasitas. Diharapkan di masa mendatang ICCTF dapat memberikan fasilitasi investasi dalam aksi mitigasi. Manajemen ICCTF terdiri dari Komite Pengarah yang dipimpin oleh BAPPENAS sebagai penyedia kebijakan dan melakukan pengawasan, dan Komite Teknis yang beranggotakan Kementerian Keuangan dan BAPPENAS, yang bertanggung jawab untuk menilai proposal proyek dalam hal pemenuhan persyaratan , kelayakan, kelestarian dan dampak lingkungan. Komite Pengarah tersebut telah menugaskan UNDP sebagai Pengelola Dana Sementara (Interim Fund Manager). ICCTF dirancang dengan dua tahapan pengoperasian: langkah pertama mendukung dana inovasi (Innovation Fund), yang merupakah dana pembelanjaan hibah untuk mendukung proyek-proyek perubahan iklim di kementerian yang tidak tercakup dalam anggaran kementerian. Sementara langkah kedua direncanakan menjadi Dana Transformasi. Dana transformasi adalah pendapatan yang dihasilkan oleh dana
7

investasi bergulir. Namun, dana bergulir untuk investasi ini belum beroperasi. Saat ini dana ICCTF mendanai 3 proyek percontohan inisiatif perubahan iklim, yakni: Pelaksanaan konservasi energi dan pengurangan emisi CO2 di sektor industri yang berfokus pada identifikasi peluang penghematan energi pada industri baja dan kertas, yang dilaksanakan oleh Kementerian Perindustrian; Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Lahan Gambut yang Berkelanjutan yang berfokus pada rencana pengembangan studi untuk mendukung Aksi Mitigasi Nasional yang Tepat/ Nationally Appropriate Mitigation Action (NAMA) terkait dengan pengelolaan lahan gambut yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian; dan Program Kesadaran Masyarakat, Pelatihan dan Pendidikan mengenai PermasalahanPerubahan Iklim bagi Semua Lapisan Masyarakat dalam hal Mitigasi dan Adaptasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum, terutama petani dan nelayan, tentang dampak perubahan iklim, yang dilaksanakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Keterangan: Sudah dipraktekkan Akan ditelaah Gambar 1.1 Pendekatan terhadap Pembiayaan Langkah-langkah Mitigasi Tertentu

Gambar 1.1 mengilustrasikan proses yang dapat diadopsi oleh pemerintah kota guna menyeleksi jenis pembiayaan yang sesuai untuk tiap langkah mitigasi (jangka pendek, menengah dan panjang). Untuk kegiatan jangka pendek yang mensyaratkan pemenuhan standar pelayanan minimum (SPM), maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagai sumber utama pembiayaan. Sedangkan untuk kegiatan mitigasi jangka pendek yang berhubungan dengan program atau target yang ditentukan oleh pemerintah pusat, dapat dialokasikan melalui DAK dari kementerian tertentu. Langkah-langkah mitigasi tertentu juga dapat didukung dengan pinjaman/hibah spesifik yang disalurkan melalui kementerian kepada pemerintah daerah untuk mendukung gerakan nasional, yang dapat melengkapi DAK. Sedangkan untuk kegiatan jangka menengah yang keekonomiannya layak (feasible), dapat menarik partisipasi sektor swasta melalui skema Kemitraan Publik Swasta (KPS/PPP).
9

1.1

Tujuan dan Batasan Pembuatan Direktori

Direktori ini merupakan bagian dari studi perkotaan, perubahan iklim dan pembiayaan yang dilakukan oleh PAKLIM dan CDIA. Direktori ini bertujuan untuk memberikan informasi ringkas mengenai sarana pembiayaan bagi pemerintah kota di Indonesia untuk mendukung aksi mitigasi di tingkat kota, terutama yang berkaitan dengan kegiatan yang membutuhkan investasi komersial dan bukan proyek percontohan. Target pengguna direktori ini adalah para pembuat keputusan dan pejabat pemerintah kota yang terlibat dalam mitigasi di tingkat kota dan mencari pembiayaan untuk rencana aksi mitigasi, termasuk diantaranya pejabat Walikota, BAPPEDA, Badan/Kantor Pengelolaan Lingkungan, Dinas Transportasi, Dinas Cipta Karya, dst. Sesuai dengan permintaan APEKSI dan Kementerian Dalam Negeri, fokus direktori ini juga seyogyanya disebarluaskan kepada khalayak yang lebih luas, sebagai informasi dan referensi yang sangat bermanfaat. Oleh karena itu, mekanisme evaluasi tertentu akan bersama-sama diimplementasikan antara APEKSI dan PAKLIM untuk mengetahui apakah direktori ini juga berguna untuk kota-kota di wilayah lain dan apa saja yang diperlukan untuk perbaikan lebih lanjut.. Direktori ini juga dapat memberikan wawasan berharga bagi pemerintah provinsi/ pusat, masyarakat sipil, dan kelompok-kelompok yang tertarik. Dalam hal insentif, ada berbagai jenis insentif yang disediakan kementerian terkait untuk mendukung tindakan yang dapat dihubungkan dengan aksi mitigasi, misalnya insentif efisiensi energi dari Kementerian ESDM. Meskipun demikian, direktori ini menitikberatkan pada pembiayaan yang dapat ditransfer ke atau diakses oleh kota untuk membiayai aksi mitigasi di kota tersebut.

10

1.2

Struktur Direktori

Direktori ini diawali dengan Bab Pendahuluan yang menjelaskan latar belakang dan tujuan Direktori. Bab selanjutnya secara garis besar dibagi antara sumber pendanaan nasional dan internasional yang menjabarkan tipe, kelayakan, mekanisme dan informasi kontak dari pembiayaan nasional dan internasional untuk aksi mitigasi dan adaptasi.
Pengembangan Kota di Asia/ Cities Development in Asia (CDIA)
CDIA merupakan prakarsa regional yang didirikan pada tahun 2007 oleh Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank) dan pemerintah Jerman, dengan dukungan tambahan dari pemerintah Swedia, Spanyol, dan Austria. Prakarsa ini menyediakan bantuan bagi kota-kota di Asia yang berukuran sedang untuk menjembatani jurang antara perencanaan pembangunan dan pelaksanaan investasi infrastruktur. CDIA menggunakan pendekatan berdasarkan permintaan untuk mendukung identifikasi dan pengembangan proyek investasi perkotaan dalam kerangka perencanaan pembangunan kota yang sudah ada, yang menekankan pada kelestarian lingkungan hidup, pembangunan prokemiskinan, tata kelola pemerintahan yang baik dan perubahan iklim.

PAKLIM
Program Advis Kebijakan untuk Lingkungan dan Perubahan Iklim (PAKLIM) merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Jerman dan Indonesia. Atas nama pemerintah Jerman, Deutsche Gesellschaft fr Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH membantu pihak pemerintah dan swasta di Indonesia dalam implementasi PAKLIM. Sebagian dari program tersebut terfokus pada pengembangan strategi iklim perkotaan yang terintegrasi yang mencakup strategi komprehensif pada adaptasi dan mitigasi, dan integrasinya ke dalam perencanaan pengembangan kota.

11

2
2.1

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)


APBD untuk Pembiayaan Aksi Mitigasi

Pada tingkat kota, APBD adalah salah satu sumber pembiayaan bagi aksi mitigasi perubahan iklim. Aksi mitigasi jangka pendek dan menengah sebaiknya menjadi arusutama dengan proses perencanaan pembangunan, termasuk proses pengambilan keputusan dari bawah ke atas melalui Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) pada Musyawarah Rencana Pembangungan (Musrenbang). Jika Rencana Kerja Pembangunan Daerah telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dibuatlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) guna menyusun alokasi anggaran. Diskusi mengenai kebijakan anggaran umum dan prioritas penting dilakukan untuk memutuskan kegiatan apa saja yang dapat dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan dari sumber pembiayaan lainnya.

2.2

Pilihan Mitigasi/Adaptasi Apa Saja yang Dapat Dibiayai?


Efisiensi Energi Pengelolaan Sampah Transportasi yang berkelanjutan Penghijauan wilayah perkotaan Pengelolaan air limbah Pertanian Ketahanan iklim Pengelolaan Risiko Bencana Tata Guna Lahan & Kehutanan Sarana dan Prasarana Umum

2.3

Mekanisme Pembiayaan
Sifat Dukungan Hibah Jenis Intervensi Peningkatan Kapasitas
12

Pemrakarsa Kota/Kabupaten

Pinjaman Mitigasi Risiko Lainnya : Transfer Pemerintah Pusat

Konsep dan Rencana Sarana dan Prasarana Pengoperasian dan Pengalihan Alih Teknologi

Provinsi Nasional Sektor Swasta

2.4

Studi Kasus

Nama: Trans Jakarta Busway Langkah-langkah mitigasi yang dibiayai: aksi mitigasi melalui pengadaan sarana transportasi umum (Busway) dengan bahan bakar rendah karbon (Armada Busway menggunakan Compressed Natural Gas) sebagai bahan bakar) Peserta: Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta sumber pembiayaan dan jumlah: APBD DKI Jakarta tahun 20042010 sebesar 3,4 triliun rupiah. Hal-hal yang dipelajari dari studi kasus ini: Terdapat temuan bahwa biaya pelaksanaan Busway tidak efisien karena peningkatan jumlah investasi untuk armada busway dibandingkan rencana awal. Temuan lain adalah tidak tersedianya pasokan CNG akibat dari terbatasnya jumlah Stasiun Pengisian Bahan bakar CNG.

13

3
3.1

Dana Alokasi Khusus (DAK)


Apakah DAK itu?

Dana Alokasi Khusus atau DAK merupakan aliran dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten. DAK dialokasikan untuk membantu pembiayaan fasilitas kebutuhan dasar dan infrastruktur dasar yang diprioritaskan pada tingkat nasional, termasuk aksi mitigasi terkait dengan infrastruktur sanitasi, lingkungan hidup, sektor kehutanan dan sektor energi. DAK terkait aksi mitigasi dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini:
Tabel 3.1 DAK terkait aksi mitigasi

Dana Alokasi Khusus (DAK)


Infrastruktur Sanitasi

Alokasi DAK (dalam milyar rupiah)


2010 357,2 2011 419,6

Tindakan mitigasi yang berhubunga n


Infrastruktur umum pengolahan sampah

Kegiatan (Sumber: Peraturan Kementerian Keuangan No. 216 tahun 2010/PMK No 216/PMK.07/2010)
Untuk mendukung pembangunan sanitasi selama RPJM 2010-2014, ketersediaan pengelolaan sampah untuk 80% rumah tangga di perkotaan, dan untuk mengurangi genangan akibat dari banjir/ rob pada 22.500 ha di 100 kota yang strategis (Peraturan Menteri PU No. 15/2010 tentang Petunjuk Teknis DAK Bidang Infrastruktur).

14

Kehutan an

250

400

Lahan & Penggunaan dan Kehutanan

Untuk mendukung rehabilitasi lahan kritis di luar areal konservasi hutan, area hutan primer, area mangrove, pengembangan perkebunan desa dan konservasi lahan gambut. Hal ini dilaksanakan di lokasi-lokasi prioritas yang terpilih 108 lokasi (Peraturan Menteri Kehutanan No P. 03/Menhut-II/2010 www.dephut.go.id/files/P03_ 2010.pdf). Untuk mendukung infrastruktur fisik pada pengelolaan lingkungan khususnya peningkatan kualitas lingkungan hidup, pengurangan polusi air dan udara, serta sampah, dan untuk mendukung pengurangan emisi GRK. Dukungan untuk pengurangan emisi GRK hanya untuk biogas, dan penghijauan perkotaan (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 01/2011 tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan DAK Bidang Lingkungan Hidup).

Lingkun gan Hidup

351,6

400

Penghijauan kota, Pengelolaan air limbah

Catatan *: Sumber: Arah Kebijakan DAK RKP 2011 (BAPPENAS).

15

3.2

Pilihan Mitigasi/Adaptasi Apa Saja yang Dapat Dibiayai?


Efisiensi Energi Pengelolaan Sampah Transportasi Berkelanjutan Penghijauan Wilayah Perkotaan Pengelolaan Air Limbah Pertanian Ketahanan Iklim Pengelolaan Risiko Bencana Tata Guna Lahan & Kehutanan Sarana Prasarana Umum

3.3

Mekanisme Pembiayaan
Sifat Dukungan Hibah Pinjaman Mitigasi Risiko Jenis Intervensi Peningkatan Kapasitas Konsep dan Rencana Sarana dan Prasarana Pengoperasian dan Pengalihan Alih teknologi Pemrakarsa Kota/Kabupaten Provinsi Nasional Sektor Swasta

Lainnya : Transfer Pemerintah

3.4

Kelayakan (Eligibility)

Alokasi DAK untuk masing-masing kota didasarkan pada perhitungan Kriteria Umum, Kriteria Khusus, dan Kriteria Teknis. Kriteria Umum adalah kapasitas fiskal kota berdasarkan selisih antara APBD kota dikurangi pengeluaran untuk gaji. Kriteria Khusus adalah berdasarkan karakteristik khusus kota tersebut, yakni a) terletak di provinsi Papua, Provinsi Papua Barat dan daerah-daerah yang belum berkembang; dan b) karakteristik khusus seperti misalnya terletak di daerah pesisir, perbatasan, daerah rawan, daerah minim pangan, serta daerah wisata.
16

Kriteria Teknis dibuat untuk setiap bidang tertentu melalui pedoman khusus. Contohnya kriteria teknis untuk DAK di bidang lingkungan hidup, yaitu misalnya kepadatan penduduk, panjang sungai, lahan, institusi, area hijau (sejak 2011), volume sampah (sejak 2011). Petunjuk Teknis DAK Lingkungan Hidup dituangkan ke dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup no. 37/2009 sedangkan Petunjuk Teknis DAK bidang infrastruktur, yang juga mencakup persampahan, termaktub di dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no. 15/PRT/M/2010. Kota penerima DAK harus menyediakan 10% dana pendamping yang dialokasikan dalam APBD kota dengan rincian mengenai penggunaan dana tersebut dalam APBD.

3.5

Mekanisme

Langkah 1: - Pemerintah kota menyediakan data tentang kondisi fasilitas dan sarana serta prasarana setempat yang dapat diklasifikasikan sebagai sektor yang diprioritaskan untuk dana alokasi khusus kepada pemerintah pusat (Kementerian Keuangan). Hal ini merupakan langkah dalam DAK yang memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah guna berperan aktif. Untuk proses selebihnya, pengambilan keputusan tetap di bawah pemerintah pusat. - Kementerian Keuangan kemudian menggunakan data untuk menentukan alokasi DAK sesuai dengan sektor dan daerah (lihat Gambar 2.1). Kriteria umum, khusus dan teknis digunakan untuk menentukan alokasi DAK. Langkah 2: - Kementerian Keuangan, melalui Dirjen Perbendaharaan Nasional menyediakan dokumen alokasi anggaran DAK untuk provinsi/ kabupaten dan kota yang telah dialokasikan (lihat Gambar 2.2).

17

- Kementerian terkait yang bertanggung jawab atas sektor-sektor yang diprioritaskan untuk DAK, mempersiapkan pedoman teknis. Langkah 3: - Setelah menerima dokumen alokasi anggaran, pemerintah kota yang diwakili oleh walikota mengatur penggunaan DAK seperti yang telah diajukan dalam Rencana Daerah (RD) dan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Walikota mengeluarkan dokumen pelaksanaan anggaran untuk unit Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bertanggung jawab atas kegiatan anggaran. Langkah 4: - Pemerintah kota wajib mengikuti pedoman teknis yang dikeluarkan oleh kementerian mengenai pengelolaan kegiatan yang dibiayai oleh DAK. Langkah 5: - Pemerintah kota mengajukan laporan pelaksanaan (di bidang teknis) kepada kementerian mengenai DAK. Salinan laporan ini disampaikan sebagai tembusan kepada Kementerian Keuangan, Dirjen Keseimbangan Fiskal, pada akhir tahun fiskal (pada bulan Desember setiap tahunnya). Langkah 6: - Di tiap kuartal (Maret, Juni, September dan Desember), walikota wajib menyerahkan laporan kegiatan, realisasi fisik dan fiskal, dan semua hal kepada Sekjen Kementerian Keuangan. Laporan ini juga diserahkan pada BAPPENAS dan Kementerian Dalam Negeri untuk mendapatkan masukan dari kedua kementerian tersebut. Tingkat provinsi juga menelaah penggunaan DAK di tingkat kota.

18

Gambar 3.1 Proses dan laporan aliran DAK

3.6

Studi Kasus
Nama: DAK untuk pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menghasilkan biogas. Langkah-langkah mitigasi yang dibiayai: IPAL biogas untuk pengolahan air limbah dari industri

tapioka, tahu dan peternakan sapi Peserta: SKPD yang bertanggung jawab: Kantor Lingkungan Hidup Jenis pembiayaan dan jumlah: Pembuatan IPAL biogas limbah tapioka berlokasi di desa Ujunggede, Kec. Ampelgading Kab. Pemalang (Rp 93,5 juta), Pembuatan 4 unit IPAL biogas limbah sapi Kabupaten Pemalang (Rp 82,5 juta) dan 1 unit IPAL biogas limbah tahu di Desa Kauman, Kec. Comal, Kab. Pemalang (Rp 99 juta).
Sumber: PAKLIM, 2010

19

Hal-hal yang dipelajari dari DAK secara umum: - Penggunaan sarana yang dikembangkan dengan DAK tidak optimal, antara lain karena a) kapasitas sumber daya manusia, b) terbatasnya pelatihan dan program peningkatan kapasitas, c) kesiapan kota/kabupaten untuk menyediakan dukungan aktivitas tersebut (misalnya penyediaan listrik, dst). - Kepatuhan: Dilaporkan bahwa kurang dari 50% kota/kabupaten yang melaporkan kegiatan mereka di tahun 2009.

3.7

Kontak
Institusi: Sekretariat Tim Koordinasi Penyusunan Kebijakan, Perencanaan, Pemantauan dan Evaluasi Dana Alokasi Khusus (TKPKP2E-DAK), BAPPENAS Alamat: Jl. Taman Suropati No. 2, Jakarta 10310 Telepon: +62 21 3193 4175 Website: www.tkp2e-dak.org Institusi: Direktorat Bina Program, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum Alamat: Jl. Pattimura No. 20 Jakarta Selatan 12110 Telepon: +62 21 7279 6578 Website: ciptakarya.pu.go.id Institusi: Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PPLP), Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum Alamat: Jl. Pattimura No. 20 Jakarta Selatan 12110 Telepon: +62 21 7279 7175/6 Website: ciptakarya.pu.go.id
20

Informasi Umum mengenai DAK

DAK Infrastuktur Sanitasi

DAK Lingkungan Hidup

Institusi: Kepala Bagian Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Program dan Anggaran Alamat: Kementerian Lingkungan Hidup, Gedung B Lantai 2 Telepon: +62 21 858 0104 Website: www.menlh.go.id

21

4
4.1

Pinjaman melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP)


Pinjaman melalui PIP

Pusat Investasi Pemerintah(PIP) merupakan dana kesejahteraan yang dikelola oleh Kementerian Keuangan Indonesia. Salah satu jasa yang ditawarkan oleh PIP adalah pinjaman jangka menengah dan panjang kepada Pemerintah Daerah, termasuk kota dan kabupaten, untuk membiayai proyek-proyek layanan umum dan sarana prasarana yang sejalan dengan perencanaan pembangunan dan program kota/kabupaten.

4.2

Pilihan Mitigasi/Adaptasi Apa Saja yang Dapat Dibiayai ?


Pertanian Ketahanan Iklim Pengelolaan Risiko Bencana Tata Guna Lahan & Kehutanan Sarana Prasarana Umum

Efisiensi Energi Pengelolaan Sampah Transportasi Berkelanjutan Penghijauan Wilayah Perkotaan Pengelolaan Air Limbah

Sampai saat ini belum ada aksi mitigasi yang dibiayai oleh PIP. Namun pada dasarnya PIP mendukung sektor-sektor spesifik yang mengimplementasikan aksi mitigasi, sebagai berikut: energi terbarukan, pengelolaan sampah dan air limbah, pembangunan sistem transportasi yang ramah lingkungan.

Indonesia Green Investment Fund (IGIF)


Indonesia Green Investment Fund merupakan suatu prakarsa dibawah PIP guna memanfaatkan sumber pembiayaan berbasis swasta dan pasar untuk proyek pengembangan karbon emisi rendah. Dengan modal awal
22

sejumlah kurang lebih 1 milyar dolar AS, PIP mendirikan IGIF sejak awal tahun 2010 namun proses pendiriannya masih sedang berlangsung. IGIF bertujuan untuk mengoptimalkan pendanaan dari International Climate Finance (Pendanaan Iklim Internasional) guna memanfaatkan bisnis karbon rendah. Pada awalnya IGIF berfokus pada energi terbarukan dan tata guna lahan yang berkelanjutan, dapat diukur dan secara komersial layak bagi sektor swasta. Tujuan utama IGIF adalah menarik peran serta sektor swasta dalam pengembangan sarana prasarana rendah karbon melalui KPS. Pembiayaan yang dirancang untuk dialirkan melalui IGIF termasuk gabungan antara hibah, pinjaman lunak dan ekuitas. Selama periode awal pendirian IGIF berbagai sumber dana luar negeri telah berminat untuk berpartisipasi dalam mengalirkan pendanaan kepada IGIF, yaitu: AFD dari Perancis dengan 300-500 juta Euro per tahun untuk 3 tahun mendatang dalam bentuk pinjaman lunak; dana DFID untuk pendirian awal dan pengoperasian IGIF; dan dari donor internasional lainnya, yaitu dari JICA, Korea, dan Islamic Development Bank. Namun karena pendirian IGIF belum sepenuhnya selesai maka pendanaan ini belum dalam bentuk komitmen.

4.3

Mekanisme Pembiayaan
Sifat Dukungan Hibah Jenis Intervensi Pembangunan Kapasitas Konsep dan Rencana Sarana Prasarana Pengoperasian dan Pengalihan Alih Teknologi
23

Pemrakarsa Kota/kabupaten Provinsi Nasional Sektor Swasta

Pinjaman Mitigasi Risiko Lainnya: Investasi Sektor Swasta

4.4
-

Kelayakan (Eligibility)
Untuk pinjaman jangka menengah: durasi waktu pinjaman jangka menengah tidak boleh melebihi jangka waktu masa jabatan walikota/ bupati. Pinjaman adalah untuk membiayai layanan umum tanpa mengharapkan pengembalian dari kota/kabupaten. Untuk pinjaman jangka panjang: waktu pembayaran akan berbasis pada pembayaran per tahundan pinjaman ini adalah untuk membiayai investasi yang harus dikembalikan oleh kota/kabupaten; Baik untuk pinjaman jangka menengah maupun panjang: (i) total pinjaman pemerintah kota/kabupaten tidak lebih dari 75% dari pendapatan umum tahun fiskal sebelumnya, (ii) rasio cakupan hutang tidak lebih dari 2.5, (iii) pemerintah kota/kabupaten tidak memiliki tunggakan pembayaran dari pinjaman yang ada, dan (iv) setiap pinjaman jangka menengah dan panjang harus disetujui oleh DPRD.

4.5

Mekanisme

Gambar 4.1 (halaman 25) mengilustrasikan proses pengajuan pinjaman kepada PIP dan langkah-langkahnya sebagai berikut : Langkah 1: Pemerintah kota mengirimkan surat resmi permohonan pinjaman kepada PIP. Langkah 2 dan 3: PIP meminta pemerintah kota untuk memberikan presentasi kebutuhan pinjaman kepada PIP (yang kemudian ditindaklanjuti dengan presentasi) Langkah 4: Pemerintah kota mengajukan aplikasi pinjaman kepada PIP untuk dievaluasi. Dokumen aplikasi berisi: latar belakang dan tujuan kegiatan
24

yang akan dibiayai oleh pinjaman tersebut, studi kelayakan kegiatan tersebut, skema pembiayaan dan penilaian alokasi risiko. Langkah 5 dan 6: PIP menyetujui atau menolak aplikasi pinjaman tersebut berdasarkan dokumen aplikasi pinjaman. Bila pinjamannya disetujui, PIP mengirimkan tawaran pinjaman kepada Pemerintah Kota.

Gambar 4.1 Proses Pengajuan Pinjaman pada PIP

4.6

Studi Kasus

Nama: Pembangunan Perusahaan Listrik Tenaga Gas untuk dihubungkan pada jaringan listrik di kota Palembang (sudah diajukan) Langkah-langkah mitigasi yang dibiayai: penyediaan listrik dari pembangkit listrik berbahan bakar karbon fosil rendah
25

Peserta: Pemerintah kota Palembang, PIP Jenis pembiayaan dan jumlah: pinjaman sejumlah Rp 152,9 milyar dari Kementerian Keuangan, dikucurkan melalui PIP Proses: - Pemerintah kota Palembang mengirimkan surat resmi permohonan pinjaman kepada PIP. - PIP meminta pemerintah kota (kantor Walikota) untuk memberikan presentasi mengenai kebutuhan pinjaman kepada PIP yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian presentasi. - Pemerintah kota menyerahkan permohonan pinjaman tersebut kepada PIP untuk dievaluasi. Hal yang dipelajari: PIP telah memberikan 3 pinjaman bagi pemerintah daerah (provinsi dan kota) sejak 2009. Permasalahan yang dihadapi dalam proses pinjaman adalah kapasitas pembiayaan pemerintah daerah dan kapasitas pengajuan pinjaman: persiapan dokumen kelayakan yang memadai, dan dokumen-dokumen detail lainnya. Hingga kini, pinjaman-pinjaman tersebut masih belum berhubungan dengan aksi mitigasi, tetapi mekanismenya dapat diadopsi sebagai contoh untuk insitusi-institusi lainnya dibawah Kementerian Keuangan, Dana Investasi Penghijauan (Indonesian Green Investment Fund) yang mana saat ini sedang dikembangkan dalam kerangka PIP.

4.7

Kontak

Institusi Kepala Divisi Portfolio II, Pusat Investasi Pemerintah, Kementerian Keuangan Alamat: Gedung Djuanda I, Lt. 18, Jl. Dr. Wahidin No.1 Jakarta 10710 Telepon +62 21 386 1432 Fax +62 21 386 1479 Website www.pip-indonesia.com Email pip@pip-indonesia.com

26

5
5.1

Kemitraan Publik Swasta (KPS)


Apakah KPS itu?

KPS merupakan metode pemerintah untuk meningkatkan peran serta swasta dalam memberikan pelayanan umum. Dalam sebuah proyek KPS, pemerintah menyusun kemitraan jangka panjang dengan pihak swasta guna mengembangkan, membangun mengoperasikan dan memelihara jasa layanan umum seperti pembangunan, pengoperasian dan perawatan Sanitary Landfill terpadu, atau mengembangkan serta mengoperasikan sistem transportasi massal. Dalam Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2010, pengelolaan sampah telah tercakup dalam sektor yang diprioritaskan untuk dikembangkan sebagai KPS. Ada berbagai macam model KPS yang dapat diterapkan, misalnya membangun memiliki - mengoperasikan (Build-Own_Operate/BOO), membangun memiliki - mengalihkan (Build-Own-Transfer/BOT), mengoperasikan dan memelihara, dan menyewa-membangunmengoperasikan. Tidak ada batasan sehubungan dengan modalitas PPP yang dapat digunakan dalam proyek di Indonesia.

5.2

Pilihan Mitigasi/Adaptasi Apa Saja yang Dapat Dibiayai?


Efisiensi Energi Pertanian Ketahanan Iklim Manajemen Risiko Bencana Tata Guna Lahan & Kehutanan Sarana Prasarana Umum

Pengelolaan Sampah Transportasi Berkelanjutan Penghijauan Kota

Pengelolaan Air Limbah

27

5.3

Mekanisme Pembiayaan
Sifat Dukungan Hibah Jenis Intervensi Peningkatan Kapasitas Konsep dan Perencanaan Sarana Prasarana Pengoperasian dan Pengalihan Pengalihan Teknologi Pemrakarsa Kota/kabupaten Provinsi Nasional Sektor Swasta

Pinjaman Mitigasi Risiko

Lainnya : Investasi Sektor Swasta

5.4
-

Kelayakan
Kegiatan-kegiatan KPS diwajibkan untuk menyediakan pelayanan umum dan mempunyai fitur perbankan dengan kelayakan teknis, komersial, dan ekonomis yang memadai. Sektor-sektor yang layak dalam hukum Indonesia bagi KPS (Peraturan Presiden No. 13 Tahun 2010) yakni pelabuhan udara, pelabuhan laut, jalur kereta api, jalan, penyediaan air/ sistem irigasi, air minum, air limbah, pengelolaan sampah, teknologi informasi dan komunikasi, listrik dan minyak serta gas. Proyek KPS adalah proyek berbasis pada lisensi pemerintah atau persetujuan bersama. Instansi pemerintah yang mengadakan perjanjian KPS atau perihal perijinan badan usaha untuk sebuah proyek KPS (government contracting agency, GCA) adalah instansi pemerintah yang berada pada tingkat nasional, provinsi atau kota/kabupaten (kantor Gubernur pada tingkat provinsi, kantor Bupati pada tingkat Kabupaten dan kantor Walikota pada tingkat Kota) Seleksi badan usaha untuk bermitra dengan instansi pemerintah tersebut harus melalui proses tender terbuka.
28

5.5

Mekanisme

Suatu KPS dapat diidentifikasikan dan disiapkan oleh pemerintah (disebut sebagai proyek permohonan/solicited project) atau dapat diidentifikasikan dan diajukan kepada pemerintah melalui badan usaha/pengembang proyek (disebut sebagai bukan proyek permohonan/unsolicited project). Gambar 5.1 mengilustrasikan proses investasi PPP. Penyaringan proyek mensyaratkan identifikasi dan prioritas akan kebutuhan jasa layanan publik yang layak dan dapat diwujudkan melalui suatu skema KPS. Dalam konsultasi publik, GCA sebaiknya mengundang dan mengumpulkan masukan dari pihak yang bersangkutan, terutama masyarakat yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek, pengembang proyek, dan pemberi pinjaman potensial. Studi kelayakan melakukan evaluasi kelayakan teknis, komersial, dan kontrak, dan memeriksa risiko potensial sebagaimana juga alokasi risiko antara GCA dan pengembang proyek. Studi kelayakan juga harus memeriksa apakah proyek tersebut membutuhkan serta layak menerima dukungan pemerintah, misalnya akuisisi tanah, dukungan atau jaminan ketidakpastian, dukungan keuangan langsung, dsb. Proses pengadaan mencakup semua proses tender mulai dari pra-kualifikasi sampai penandatanganan kontrak. Dalam proses pelaksanaan, perusahaan proyek (badan usaha) telah didirikan, pembiayaan telah diatur, dan pengembangan, pembangunan serta pengoperasian telah diwujudkan. GCA nantinya akan memonitor jalannya pelaksanaan proyek melalui proses pengawasan sebagaimana tercantum dalam kontrak kerjasama antara GCA dan pengembang proyek.

29

Gambar 5.1 Mekanisme proses investasi PPP

Studi Kelayakan - Teknis, Komersial, Kontrak - Perkiraan Resiko - Penentuan Bentuk Kerjasama - Identifikasi Kebutuhan akan Dukungan Pemerintah

Penyaringan Proyek : Identifikasi dan penentuan prioritas

Konsultasi Masyarakat

Pelaksanaan

5.6

Studi Kasus

Nama: Fasilitas ekstraksi dan pembakaran Landfill Gas (LFG) untuk TPA sampah kota. Langkah-langkah mitigasi yang dibiayai: mitigasi gas metan dari Tempat Pembuangan Akhir limbah padat melalui ekstraksi dan pembakaran LFG. Peserta: PT Gikoko Kogyo (selanjutnya disebut Gikoko), dan Pemerintah Kota Bekasi, Palembang, Pontianak dan Makassar. Jenis pinjaman dan jumlah: Investasi untuk setiap lokasi sekitar US$ 5 juta. Proses: - Ide proyek telah didiskusikan dengan pemerintah kota dan proposal sudah diajukan oleh Gikoko kepada Pemerintah Kota (Kantor Walikota sebagai kontak).

30

Pengawasan

Pengadaan

Gikoko bertanggungjawab atas pendanaan pembangunan dan pengoperasian fasilitas ekstraksi dan pembakaran LFG. Sementara pemerintah kota bertugas untuk memiliki dan melanjutkan mengoperasikan TPA tersebut. Tender untuk proyek tersebut dilakukan di Makasar dan Bekasi, dan Gikoko memenangkan tender untuk melaksanakan proyek tersebut.Gikoko ditunjuk secara langsung untuk menjalankan proyek di Palembang dan Pontianak. Proyek-proyek ini juga telah mengajukan permohonan untuk didaftarkan sebagai proyek CDM, karena pendapatan potensial dari kredit karbon diharapkan dapat meningkatkan kelayakan pembiayaan proyek tersebut.

Hal yang dapat dipelajari: Pelaksanaan proyek-proyek tersebut menghadapi kendala yaitu gas metan yang diproduksi lebih rendah daripada yang diharapkan karena permasalahan teknis dan pemerintah kota kesulitan dalam memenuhi komitmen mereka untuk menyediakan limbah organik sesuai target dan mengelola TPA sebagaimana mestinya. Dukungan pemerintah berupa dukungan peluang/jaminan merupakan pilihan untuk aksi penyelamatan proyek sejenis.

5.7

Kontak
Direktorat Pengembangan Kemitraan Publik Swasta, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Jl. Taman Suropati No. 2, Jakarta 10310 +62 21 3193 4175 pkps.bappenas.go.id

Institusi: Alamat: Telepon: Website:

31

Pinjaman/ Hibah Luar Negeri yang Dialirkan Melalui Kementerian sebagai bagian dari APBN
Pinjaman/ hibah luar negeri melalui Kementerian

6.1

Pinjaman/ hibah luar negeri untuk membiayai tindakan-tindakan mitigasi di tingkat Kota/kabupaten merupakan bagian dari APBN karena pinjaman/ hibah tersebut dikelola oleh Kementerian. Berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan, kota/kabupaten tidak boleh menerima pinjaman/ hibah luar negeri secara langsung. Pinjaman luar negeri yang merupakan sub-pinjaman untuk pemerintah daerah disebut sebagai Perjanjian Sub-Pinjaman (SLA). Badan yang bertanggungjawab atas pembayaran pinjaman tersebut adalah Kementerian Keuangan di tingkat nasional, sementara pemerintah Kota / Kabupaten bertanggungjawab atas pembayaran kepada Kementerian Keuangan. Ini yang disebut sebagai pinjaman dua langkah. Beberapa inisiatif kegiatan mitigasi dilaksanakan dengan pinjaman luar negeri yang ada di Kementerian. Pinjaman ini kemudian disalurkan kepada pemerintah kota sebagai hibah. Contohnya program sanitasi TPA Sanitary Landfill, pengembangan program ini dilaksanakan melalui Kementerian Pekerjaan Umum dengan pembiayaan pinjaman luar negeri dari donor, antara lain KfW dan JICA. Kementerian Pekerjaan Umum juga mengelola hibah dari AusAID untuk program sanitasi.

32

6.2

Pilihan Mitigasi/Adaptasi Apa Saja yang Dapat Didanai?


Efisiensi Energi Pengelolaan Sampah Transportasi Berkelanjutan Penghijauan Kota Pertanian Ketahanan Iklim Manajemen Risiko Bencana Tata Guna Lahan & Kehutanan Sarana Prasarana Umum

Pengelolaan Air Limbah

6.3

Mekanisme Pembiayaan
Sifat Dukungan Jenis intervensi Peningkatan Kapasitas Konsep dan Perencanaan Sarana Prasarana Pengoperasian dan Pengalihan Alih Teknologi Pemrakarsa Kota/kabupaten Provinsi Nasional Sektor swasta

Hibah Pinjaman Mitigasi Risiko Lainnya : Investasi Sektor Swasta

6.4
-

Kelayakan
Sejumlah program nasional yang diprakarsai oleh jajaran Kementerian dilaksanakan di tingkat Kota/kabupaten. Pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai
33

program-program tersebut dialirkan melalui dua cara: sebagai bantuan teknis (hibah) dan sebagai sub-pinjaman pada pemerintah Kota/kabupaten. Kota/kabupaten harus memenuhi persyaratan dan kriteria tertentu untuk kelayakan sebuah perjanjian sub-pinjaman, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, Peraturan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) No. 005/ M.PPN/ 06/ 2006, Peraturan Kementerian Keuangan No. 53/ PMK/ 2006 dan Pedoman Teknis Hibah Luar Negeri/ Permohonan Pinjaman Badan Perencanaan Nasional (National Planning Agency Technical Guidance of Foreign Grants/ Loan Application) 2010-2014.

6.5

Mekanisme

Mekanisme tersebut mencakup proses pengajuan dan evaluasi yang terilustrasi dalam Gambar 5.1 dan 5.2. Ilustrasi itu hanya menunjukkan mekanisme dari sudut pandang permohonanpermohonan dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Pusat tanpa menunjukkan interaksi/ mekanisme antara Pemerintah Pusat dengan lembaga donor luar negeri. Sebelum proses pengajuan, Kementerian terkait meluncurkan program nasional yang dibiayai oleh pinjaman luar negeri dimana kegiatan program nasional tersebut dilaksanakan di tingkat nasional melalui perjanjian sub-pinjaman. Kementerian kemudian mengundang partisipasi pemerintah Kota/kabupaten melalui surat resmi. Kota-kota yang proaktif dan responsif akan dievaluasi sesuai dengan kriteria kelayakan teknis suatu program. Berikut proses permohonan sub-pinjaman untuk Kota/kabupaten: Langkah 1: Pemerintah Kota mengirimkan surat persetujuan dari Walikota dan DPRD kepada Kementerian. Surat itu menyatakan
34

kesediaan kota tersebut dan persetujuan atas pinjaman kota untuk mendukung program nasional yang dikelola oleh Kementerian terkait. Langkah 2: Kementerian mengajukan permohonan pinjaman atas nama Pemerintah Kota yang kemudian diserahkan kepada BAPPENAS. Selain formulir permohonan yang telah dilengkapi, dokumen-dokumen berikut harus tersedia: (i) surat persetujuan permohonan pinjaman dari Walikota dan DPRD tingkat kota (ii) Dokumen Studi Kelayakan Kegiatan (DSKK) (iii) Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan (iv) Daftar Isian Pengusulan Kegiatan (DIPK). Langkah 3: BAPPENAS meminta informasi dari Kementerian Keuangan mengenai indikator kapasitas keuangan kota untuk kelengkapan permohonan pinjaman. Indikator kapasitas keuangan Kota/kabupaten tersebut berdasarkan informasi yang diterima oleh Kementerian Keuangan dari Kota/kabupaten. Langkah 4 dan 5: Tergantung pada kelengkapan dokumen (termasuk informasi mengenai indikator keuangan kota), permohonan pinjaman dicatat BAPPENAS dalam Daftar Rencana Pinjaman dan Hibah Luar Negeri Jangka Menengah (DRPHLN-JM). Permohonan pinjaman juga dicatat dalam Daftar Rencana Pinjaman dan Hibah Luar Negeri yang diperbaharui setahun sekali pada bulan November. Langkah 6: Daftar hibah/ pinjaman luar negeri diteruskan ke Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Perbendaharaan Nasional. Langkah 7: Kementerian Keuangan mengirimkan surat resmi permohonan sub-pinjaman kepada Kementerian terkait dengan tembusan kepada Pemerintah Kota.

35

Gambar 6.1 Proses permohonan sub-pinjaman

Proses evaluasi permohonan permohonan sub-pinjaman adalah sebagai berikut: Langkah 1: Pemerintah kota menyerahkan permohonan pinjaman kepada Kementerian Keuangan: Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Permohonan pinjaman terdiri atas: (i) Studi Kelayakan, (ii) detail kegiatan yang akan dibiayai dengan pinjaman tersebut, (iii) catatan APBD 3 tahun terakhir, (iv) APBD saat ini, (v) analisa proyeksi APBD untuk jangka waktu pinjaman termasuk asumsi, (vi) rencana pembiayaan, (vii) surat persetujuan DPRD, (viii) obigasi pembayaran lainnya bila masih ada hutang/ pinjaman lainnya, (ix) surat pernyataan dari Walikota yang berisi pernyataan sebagai berikut: (a) tidak ada pembayaran hutang terbuka untuk hutang/ pinjaman, (b) kota akan mengalokasikan dana pendamping dari APBD kota tersebut, (c) kota akan mengalokasi dana dari APBD untuk pembayaran bulanan selama
36

periode jangka waktu pinjaman, (d) jika kota masih memiliki hutang terbuka, pinjaman alokasi umum/ bagi hasil akan dipotong secara proporsional pada pembayaran cicilan tahunan. Langkah 2: Kementerian Keuangan memeriksa kelengkapan dokumen permohonan pinjaman. Langkah 3: Paling lambat 10 hari setelah permohonan pinjaman diterima, dokumen yang belum lengkap akan dikirim kembali untuk dilengkapi lebih lanjut. Langkah 4: Permohonan pinjaman yang telah lengkap dievaluasi dan proses evaluasi ini memakan waktu 40 hari setelah penerimaan dokumen yang sudah lengkap. Langkah 5: Kementerian Keuangan meneruskan dokumen yang telah lengkap kepada Kementerian Dalam Negeri untuk mendapat masukan serta rekomendasi administrasi dan kebijakan. Masukan dan rekomendasi harus diterima paling lambat 10 hari setelah dokumen ini diterima oleh Kementerian Dalam Negeri. Bila masukan belum juga diterima dalam jangka waktu tersebut, Kementerian Keuangan akan melanjutkan memproses permohonan pinjaman itu tanpa menunggu masukan dan rekomendasi dari Kementerian Dalam Negeri. Langkah 6 dan Langkah 7: Bila pinjaman ditolak, Kementerian Keuangan akan mengirim surat resmi kepada Pemerintah Kota. Bila disetujui, Kementerian Keuangan akan mengeluarkan Daftar Rencana Pinjaman Daerah (DRPD).

37

Gambar 6.2 Proses evaluasi

6.6

Studi Kasus

Nama: Penurunan Emisi di Kota-Kota Pengelolaan Sampah (Emission Reduction in Cities Solid Waste Management) Langkah-langkah mitigasi Sumber: PAKLIM, 2010 yang dibiayai: Penggantian TPA sistem open dumping dengan sistem Sanitary Landfill yang dapat diperluas menjadi Sanitary Landfill dengan Penangkap Metana. Peserta: Pemberi dana: KfW, Kementerian terkait: Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Cipta Karya. Tiga kota yang
38

sudah terdaftar untuk studi kelayakan adalah Malang, Jambi, dan Jombang. Jenis pembiayaan dan jumlah: Bantuan teknis dan pinjaman lunak kepada pemerintah Indonesia (diwakili Kementerian Keuangan) dan pelaksanaan kegiatannya dilakukan oleh Kementerian PU (sebagai executive agency) sejumlah 25 juta Euro. Pemerintah kota akan menerima hibah dan bantuan teknis. Proses: - Direktur Jenderal Cipta Karya memprakarsai program untuk mengembangkan TPA Sanitary Landfill di beberapa kota di Indonesia dimana para donor berkomitmen untuk mengalirkan dana melalui pinjaman dan hibah kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk melaksanakan program tersebut. Pemerintah kota hanya menerima hibah untuk pengembangan fasilitas Sanitary Landfill dan bantuan teknis. - Cipta Karya melakukan kunjungan keliling dan kegiatan pengembangan kapasitas untuk menarik Pemerintah Daerah supaya berpartisipasi. Berdasarkan interaksi selama kunjungan keliling dan evaluasi Cipta Karya mengenai kapasitas kota dan kinerja program pembangunan, Cipta Karya menghubungi Pemerintah Daerah yang tertarik dan memberikan informasi mengenai program yang ditawarkan dan donor yang ada. Pemerintah Daerah yang tertarik harus melakukan kontak proaktif dengan Cipta Karya untuk keterangan lebih lanjut dan berpartisipasi dalam program tersebut. - Salah satu program adalah Penurunan Emisi di Kota-Kota Pengelolaan Sampah. 11 kota terdaftar pada tahap awal, setelah melewati tahap pra-feasibility study di 11 kota tersebut, maka 3 kota (Malang, Jambi, dan Jombang) mendapatkan bantuan untuk pengembangan TPA ke sanitary landfill. 3 kota (Semarang, Malang, dan Sidoarjo) mendapatkan bantuan untuk pemilihan lokasi (site selection) sedangkan sisanya mendapatkan bantuan pengembangan kapasitas (capacity building).

39

Pelajaran yang bisa diambil: Dana hanya akan digunakan untuk membiayai perluasan TPA dengan mengkonstuksi TPA sanitary landfill, instalasi pemilihan, dan instalasi pengomposan; tetapi tidak untuk pengoperasian TPA tersebut. Pinjaman ini merupakan pinjaman pemerintah pusat dan dihibahkan kepada pemerintah daerah. Instansi yang bertanggung jawab untuk pembayaran pinjaman adalah Kementerian Keuangan dan pemakainya adalah Kementerian PU. Meskipun tujuan program tersebut adalah mengembangkan TPA sanitary landfill terpadu, pinjaman ini merupakan katalisator semata yang tidak dapat mencakup pembangunan sistem terpadu secara total. Peran serta pihak swasta dibutuhkan untuk mencapai tujuan program tersebut.

6.7

Kontak
Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan, Badan Perencana Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Jl. Taman Suropati No. 2, Jakarta 10310 +62 21 3193 6207 ext. 1105 +62 21 253 3718 pendanaan.bappenas.go.id Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan Gedung Prijadi Praptosuhardjo II Lt.2 Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4 Jakarta 10710 Indonesia +62 21 384 2234 www.dmo.or.id Direktorat Bina Program, Ditjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum Jl. Pattimura No. 20 Jakarta Selatan 12110 +62 21 7279 6578 ciptakarya.pu.go.id

Institusi Alamat: Telepon Fax Website Institusi Alamat:

Telepon Website Institusi Alamat Telepon Website

40

7
7.1

Contoh Best Practice Kota Blitar


Latar Belakang

Kota Blitar termasuk kota sedang dengan jumlah penduduk 137.000 jiwa dengan komposisi 50% lahan masih terbuka terdiri persawahan, tanah kebon masyarakat, pertokoan, dan perkantoran baik. Kondisi lingkungan mempunyai kecenderungan semakin tertekan berkaitan dengan perubahan iklim, hal ini dapat dilihat dari curah hujan yang terus menurun selama sepuluh tahun terakhir dari rata-rata per tahun 2400 mm/tahun menjadi sekitar 1300 mm/tahun. Beberapa mata air yang ada debitnya terus merosot dan bahkan mengering (environmental deterioration) sehingga perlu segera melakukan langkah antisipasi dalam bentuk program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Untuk program adaptasi, sejak tahun 2009 Kota Blitar telah mengikuti secara aktif Jejaring Kota Asia dalam Ketahanan terhadap Perubahan Iklim (Asian Cities Climate Change Resilience Network ACCCRN). Sedangkan untuk skenerion mitigasi, digunakan Dana Alokasi Khusus dan AusAID dalam menangani penurunan ekpose gas metana dan karbon dioksida. Seluruh program antisipasi dibuat dalam dua skenario yaitu proyek pilot di Kelurahan Pakunden Kecamatan Sukorejo sebagai Climate Village dan di skala kota dalam program Blitar Smart Green City.

41

7.2

Pilihan Mitigasi/ Adaptasi yang Dapat Dibiayai


Efisiensi Energi Pengelolaan Sampah Transportasi Berkelanjutan Penghijauan Kota Pengelolaan Air Limbah Pertanian Ketahanan Iklim Manajemen Risiko Bencana Tata Guna Lahan & Kehutanan Sarana Prasarana Umum

7.3

Jenis Pembiayaan

Persiapan untuk menangani perubahan iklim dilakukan selama 3 tahun dengan Total anggaran yg telah di gunakan mencapai lebih dari Rp 35 miliar meliputi DAK, APBD, APBD Provinsi, Hibah Australia, WASAP D, Bank Dunia, APBN, DBHCT (Cukai Rokok): Kegiatan Penyusunan studi awal kerentanan (vulnerability assessment) Sosialisasi perubahan iklim dan lingkungan hidup Pembangunan instalasi limbah domestik Pembangunan instalasi limbah industri kecil Revitalisasi atau perbaikan mata air dan lingkungannya Peningkatan sarana penanganan sampah Pembangunan sumur resapan Sumber Pembiayaan APBD APBD Bank Dunia (WASAP D) DAK LH, APBN APBD Provinsi AusAID DAK LH Jumlah Rp 100 juta Rp 150 juta Rp 5 miliar Rp 2 miliar Rp 300 juta Rp 1,4 miliar Rp 100 juta

42

Peningkatan SDM (Capacity Building) Pengadaan peralatan laboratorium pemantau udara dan air Pengadaan mobil laboratorium lingkungan Persiapan pembangunan rumah susun untuk mengantisipasi hujan ekstrim pada red area Kali Lahar Pra-studi pembangunan bangunan penampung air yg melimpah di musim hujan Pembangunan Rumah Susun Sewa Sederhana (RSSS) untuk penduduk di bantaran sungai

APBD DAK LH dan DBHCT DAK LH

Rp 75 juta Rp 1,5 miliar Rp 325 juta Rp 300 juta

APBD

Rp 50 juta

APBN

Rp 25 miliar (dalam proses tender di Kementerian PU)

Kota Blitar pada tahun 2012 telah mempersiapkan pembangunan impounding reservoir dengan Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah sekitar 15 M dan mempersiapkan lahan seluas 4 hektar untuk pembangunan sanitary landfill dalam penanangann final disposal persampahan dengan perkiraan biaya Rp 30 miliar. Disamping itu, pemerintah Kota Blitar memulai program restrukturisasi penyediaan air minum secara besar-besaran guna mencapai target pelayanan air bersih perkotaan 80% pada tahun 2015 (MDGs) dengan melakukan intervensi khusus terhadap PDAM guna mengejar ketertinggalan pelayanan air bersih. Secara khusus Kota Blitar juga telah memulai Program Green Village atau Climate Village yang diperkirakan memerlukan dana sekitar Rp 20 miliar selama 4 tahun. Untuk relokasi penduduk red area, telah disetujui oleh Kementerian PU dua twin block dengan alokasi APBN sekitar Rp 25 miliar sehingga antisipasi hujan ekstrim yang sangat rawan untuk masyarakat di bantaran Kali Lahar yang membelah kota Blitar sebagai aliran Gunung Kelud dapat dihindari.
43

7.4

Kontak
Kantor Lingkungan Hidup Kota Blitar Jl. Ciliwung 180, Kota Blitar +62 342 803 289 www.klhkotablitar.net sukawardikamade@yahoo.com

Insitusi Alamat Telepon Website Email

44

Program Advis Kebijakan untuk Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (PAKLIM) Deutsche Gesellschaft fr Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH c/o Kementerian Lingkungan Hidup Gedung B Lt.5, Jl. DI Panjaitan Kav. 24 Jakarta 13410 Indonesia T +62 21 851 7186 F +62 21 851 6110 E info@paklim.org I www.giz.de | www.paklim.org Kantor Jawa Tengah c/o Badan Lingkungan Hidup Komplek DIKLAT, Jl. Setiabudi No. 201 Semarang 50263 Indonesia T +62 24 747 5454 F +62 24 746 2191 Kantor Jawa Timur Jl. Raung No. 17 Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen Malang 65112 Indonesia T +62 341 325 928 F +62 341 352 869